"Hoi Natsu lihatlah ke bawah. Ada wanita aneh mencarimu!" seru Lucy melupakan kemarahannya. Fokus memperhatikan lantai satu yakni keberadaan si misterius. Siapapun dia…. Berharaplah bukan peneror atau penguntit

"Tamu di malam hari? Naiklah ke atas! Kita bicara di sini!" Natsu menaikkan suaranya satu oktaf. Sempat menganggu kedamaian tetangga yang sibuk dengan urusan masing-masing

Dia menaiki tangga tergesa-gesa, masih memegang selembar foto tersebut takut salah orang. Namun setelah menilik dari dekat, dapat dipercayai sosok itu memang Natsu Dragneel asli. Lucy mempersilakannya masuk, kemudian berlalu ke dapur untuk menyediakan teh, ditambah satu cup mie instan dari si salam. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara ketel memasak air guna menyeduh makanan dan minuman itu.

"Ehem…. Ehem!" ala orator siap berpidato, Natsu mengubah posisi duduknya yang berselonjor menjadi bersila. Tak ketinggalan ditemani mie instan, mereka bertiga siap memulai obrolan

"Jadi, ada perlu apa kau mencariku?" tanyanya di sela-sela menyeruput 'benang keriting' tersebut. Mumpung masih hangat, sedangkan udara di luar bertambah dingin

"Se-sebelumnya perkenalkan. Namaku Juvia Lockser dan kamu Natsu-san, ya? Gray-sama sering bercerita tentangmu. Dia juga berkata ingin mengunjungimu di Magnolia. Ma-makanya Juvia kemari, hendak bertanya"

"Santai saja! Aku tidak akan menerkanmu, kok!" lagi pula hubungan apa yang mereka miliki? Pelayan mencari sang majikan? Batin Lucy mengusap dagu bingung. Sejenis drama terbaru kah?

"Gray-sama tak kunjung kemari. Pintu rumahnya terkunci. Telepon diabaikan meski rutin kuhubungi. Mungkin Natsu-san tau sesuatu, karena itulah Juvia datang jauh-jauh"

"Cerita detektif! Kau benar, tadi Gray menemuiku sekitar lima belas menit, lalu pamit dan meninggalkan alamat di Crocus, tapi dia tidak mengatakan apa-apa selain, 'kalau kau mau kunjungilah alamat ini'. Yosh! Besok Minggu ayo lakukan penyelidikan!"

"Sahabatmu pergi. Jangan main-main, Natsu" entah kenapa Lucy khawatir. Rasanya Gray yang tiba-tiba hilang membuat bulu kuduk merinding

Jam menunjukkan pukul delapan tepat. Cup mie instan hanya menyisakan setetes kuah berasa pedas. Natsu pulang ke rumah sebelum kena tanya. Kereta malam sudah lewat sejak sepuluh menit lalu. Lucy yang berbaik hati memperbolehkan Juvia menginap hingga besok, hari penyelidikan mengenai 'kemana Gray Fullbuster pergi?'. Dia benar, sebelas-dua belas mirip cerita detektif. Itu berarti…. Ada banyak misteri yang mesti dipecahkan, bukan?

"Kuharap tidak berlangsung lama. Firasatku benar-benar buruk!"

Jika dia mundur, bagaimana Natsu?

Keesokan harinya….

Mereka bertiga janjian di lantai satu kost Lucy. Membeli tiket jam tujuh pagi jurusan Magnolia-Crocus. Terlebih Natsu sendiri yang mengusulkan, meski dia mati-matian berusaha bangun pagi di hari Minggu, terlambat lima menit juga. Ya…. Bukan masalah besar karena Juvia tidak perhitungan, kalau si pirang memang mengerti kebiasaan pacarnya. Sementara menunggu kereta di peron. Terdengar perbincangan hangat antar muda-mudi itu, sesekali diiringi gelak tawa atau candaan ringan.

Kecuali Lucy, di bawah matanya lingkaran hitam terukir, dengan tubuh bergetar walau tidak kedinginan.

"Wajahmu terlihat tegang" tentu Natsu cemas. Belum sekalipun dia melihat Lucy begitu. Namun sebagai orang yang selalu berpikir positif, palingan gara-gara baru pertama kali menjadi detektif

"Ahahaha…. Benarkah?"

"Rileks, Lucy. Kita tidak pergi untuk meregang nyawa, melainkan mencari tau kenapa Gray menghilang. Mau sedikit bercerita? Keteganganmu pasti berkurang banyak, kujamin itu"

"Seperti katamu, aku harus rileks. Terima kasih atas sarannya, Natsu"

Lagi pula kami bersama, tidak sendiri! Lucy mengepalkan tangannya, mengumpulkan keberanian yang tersembunyi di relung hati. Dia pun berpendapat, identitas peneror akan terbongkar cepat atau lambat. Ini demi Natsu, supaya Jellal, Sting, Wendy, Gajeel, Loke kembali menaruh kepercayaan, walau membahas si playboy agak membuat malas. Lebih baik dibuang ke laut saja. Mereka tidak butuh pengecut sekaligus pengkhianat.

"Kereta sudah tiba di staisiun Crocus. Bagi para penumpang, harap turun dengan hati-hati. Sekali lagi saya ulangi…." suara speaker menggema di sekeliling. Natsu turun duluan dipapah Lucy : mabuk kendaraannya kambuh, disusul Juvia yang berjalan di belakang

Baiklah. Tujuan mereka sekarang adalah alamat di mana Gray tinggal. Tanpa perlu bertanya kesana-kemari, Juvia mengantar ke rumah kontrakan di pinggir jalan. Natsu yang tidak sabar mengetuk pintu keras, sambil berteriak memanggil entah berapa kali banyaknya. Tetangga sebelah sampai marah-marah, melempar panci ke pucuk salam yang kini meringis kesakitan. Dengan cepat Lucy mengambil alih, memutar-mutar kenop berlawanan arah.

"Sia-sia, terkunci! Juvia ini rumah kontrakan, bukan? Ayo temui orangnya dan minta kunci cadangan"

CKLEK!

"Lihat, terbuka! Tunggu apa lagi? Kita masuk dan mulai menyelidiki!" mungkinkah Natsu punya tangan ajaib atau sejenisnya? Daripada berimajinasi aneh-aneh. Mereka berdua menyusul dipimpin si salam

"Hmmm…. Seperti rumah lainnya. Ada rak sepatu. Pot bunga. Dapur. Ruang tamu. Kamar mandi" menepuk jidat heran, Lucy memberitau Natsu jika informasi semacam itu tidak penting. Sesaat melupakan Juvia yang mendadak lenyap

"Maaf Lucy. Aku bercanda! Omong-omong Juvia kemana?"

"Giliran dia yang hilang! Kita berpencar, aku ke kamar tidur dan kamu ke bagian dapur, oke?" niatnya menjadi pemimpin luntur seketika. Lagi-lagi Lucy yang bertindak, walau dia benar dan lebih terencana, sih

Nyalinya sedikit terkumpul mengelilingi rumah yang gelap gulita itu. Sewaktu ingin menyalakan lampu tidak terjadi apa-apa, mungkin karena Gray belum bayar listrik. Lucy memasuki kamar berukuran 3x4 tersebut, dengan dua pasang hordeng menutupi kaca jendela. Benar-benar kurang cahaya, apa dia vampire era modern?! Sedang asyik menggerutu, tanpa sengaja kaos kaki putihnya menginjak 'benda' lengket dekat meja belajar.

"Me… merah….?" saus tomat? Jus?! Lucy mencoleknya sedikit, mendapati bau amis yang terasa tidak asing. Kalau bukan darah, maka apa? Perlahan-lahan pula, sepasang karamel itu menatap ke bawah, sangat…. Lambat

"KYAAAAA….!"

BRUKKK!

Dari jarak tiga meter, Natsu dan Juvia dapat mendengar teriakan Lucy yang membahana. Mereka memasuki kamar tempatnya menyelidiki. Tak kalah terkejut melihat mayat Gray terbujur kaku, sedikit mengumbar bau busuk juga dingin ketika disentuh. Menelpon polisi tentu pilihan terbaik, tapi kedua anak muda itu masih sibuk dengan asumsi masing-masing. Meski otak udang si salam tak mampu memikirkan apa-apa.

"Menurut Juvia Gray-sama bunuh diri! Rumahnya pun terkunci dan sulit dihubungi" pendapat itu semakin diperkuat, saat Natsu menemukan puluhan kertas berlumuran darah. Beberapa di antaranya sulit dibaca. Namun cukup jelas untukditerka

"Hari kematianmu sudah dekat, Wendy Marvell. Hari kematianmu sudah dekat, Sting Eucliffe. Hari kematianmu sudah dekat, Gajeel Redfox. Jauhi Natsu atau kau akan celaka, Jellal…. FERNANDES?!" surat tanpa darah itu terjatuh. Dia baru tau dan jelas sangat terkejut

"Siapa mereka? Teman-temanmu di sekolah?"

"Y-ya, begitulah! Kau benar, kemungkinan besar Gray bunuh diri. Dia kehabisan darah untuk menuliskan surat-surat ini, lalu sebelum meninggal susah payah menemuiku di Magnolia. Wajahnya juga pucat seperti kena anemia, bahkan ada cutter"

"Gray-sama menggunakan cutter dan mengiris lengannya, kemudian menuliskan surat darah tersebut. Tapi kenapa yang ini memakai pulpen?"

"Tandanya belum bahaya. Jika mendapat surat darah kecelakaan pasti menghampiri. Padahal Gray tidak perlu mengancam dan membahayakan diri sendiri…." berluap perasaan kesal, Natsu meremas kertas tersebut hingga remuk. Sejak kapan dia bertindak bodoh?!

"Masih ada kemungkinan lain. Pertama-tama kita bawa Lucy ke klinik terdekat dan…."

GRAPP!

Jari-jemari Lucy keburu menghentikan Natsu, sebelum mereka menggotong agar diperiksa dokter. Juvia berlutut sambil mencondongkan telinga ke arah bibir cherry-nya. Samar-samar terdengar suara gumaman, dia ingin memberitau beberapa hal entah apa itu. Si salam yang terbiasa kurang peka mendadak punya inisatif. Segera mengambil segelas air putih di dapur, membiarkannya minum tiga tegukan cepat.

"Hah… Hah… Hah… Natsu… Juvia… Gray… Gray mati karena dibunuh! Ini kasus pembunuhan!" Juvia terpekik kaget. Anak itu justru melongo macam orang kampung menang undian. Masalahnya darimana Lucy tau?

"Aku bermimpi ada seorang berambut putih menelepon pembunuh! Dia berkata, 'bunuh Gray tanpa jejak. Juvia hanya milikku!'. Selanjutnya darah berceceran di mana-mana, lalu mengucapkan 'sampai jumpa' di akhir"

"Laki-laki berambut putih?" kepala pirangnya mengangguk yakin. Juvia teringat seseorang, teman SMA di Crocus sekaligus sahabat baru Gray

"Itu Lyon-san! Tapi kurasa mustahil. Dia meninggal tiga bulan lalu karena kecelakaan mobil, sedangkan Gray-sama..."

"Tiga bulan lalu katamu? Bertepatan dengan teror tersebut dimulai! Hey Juvia, mungkin pembunuhnya terlambat datang dan baru kemarin membunuh Gray" jika sang pelaku abal-abalan. Lucy pikir Lyon cukup pintar untuk menghubungi yang benar-benar menekuni profesi itu

"Tunggu, teror? Natsu-san. Juvia pikir jika Gray-sama dibunuh saat teror dimulai. Dia menemuimu dalam wujud hantu. Menjadi arwah penasaran demi bertemu sahabatnya"

"Sudahlah, daripada terus berpikir lebih baik kita ke taman kota. Sebentar lagi jam dua belas"

Memang berhubungan apa? Gray meninggal. Mayatnya ditemukan dan tidak mengubah fakta apa pun, Lucy ingin menyuruh Natsu agar menelepon polisi. Tugas mereka selesai sampai di sini. Motif, pelaku, misteri lain adalah tanggung jawab pihak keamanan. Sepanjang perjalanan dia hanya berucap, 'intuisiku mengharuskan kita ke taman kota', akhirnya pun dibiarkan berbuat sesuka hati. Asalkan Juvia tidak keberatan.

"Ramai sekali! Omong-omong kita sudah lama, ya, tidak kencan di taman kota"

"Jangan bercanda! Kau kemari untuk mengajakku kencan? Jawab dulu pertanyaanku, Natsu, Natsu!" yang dipanggil mengindahkan total. Dia berjalan menghampiri sekumpulan anak kecil mengelilingi pohon apel

"Ada surat tergantung! Kira-kira apa isinya?" tanya salah satu dari mereka penasaran. Natsu yang nekat memanjat pohon cekatan. Tanpa kesulitan berarti kembali turun membawa 'wasiat' tersebut

"Pasti ulah orang iseng. Kau ditipu"

"Tunggu sebentar. Aku akan membacanya"

Kepada, Natsu

Jika kau menemukan surat ini, artinya aku sudah berpulang ke surga. Terima kasih banyak telah menemuiku di Crocus. Hampir setahun berpisah, kupikir kamu lupa karena memiliki teman-teman baru. Syukurlah hanya amnesia. Ini waktu yang tepat untuk memberitaumu sebuah kebenaran, kenapa kita berpisah secara mendadak.

Sebenarnya ayahku tidak bertugas ke luar kota. Ibu memutusukan supaya berpisah saja denganmu, karena psikolog mendiagnosis, 'Gray Fullbuster mengalami ketergantungan terhadap orang lain'. Pasti kau menanggapiku biasa saja, tetapi selama puluhan tahun berteman, aku sadar terobsesi padamu. Ketika adik kelas mengajakmu ke café, atau ada siswi yang menggodamu di kelas, ketahuilah, sahabatmu ini takut ditinggalkan.

Hahaha…. Kau boleh menyebutku gila, bahkan ayah dan ibu membuang anaknya sendiri. Aku gangguan jiwa berat, karena itulah, kehilanganmu membuatku takut menghadapi hari esok, seterus dan seterusnya. Menjengkelkan memang, tapi aku tak berdaya. Setelah berpisah penyakit itu semakin parah. Lucy pacarmu kucekik karena mengira, dia mencuci otakmu sehingga melupakanku.

Datanglah ke pemakaman. Aku ingin menyampaikan beberapa hal, sangat penting.

KRESEK….

"Juvia. Hubungilah polisi dan suruh mereka memakamkan Gray. Kita akan mengikuti prosesnya sampai selesai. Ini penting"

"Peneror-nya hantu, ya... Aku pikir Gray melakukan semua itu"

Sore tiba menyapa Crocus. Mayat Gray dikebumikan dan pastor sudah selesai membaca doa. Menurut kepercayaan masing-masing mereka berdoa. Selembar surat itu ditaruh di atas pusara, dan benarlah, lelaki yang menjadi arwah penasaran tersebut muncul di hadapannya, tersenyum simpul, melambaikan tangan mengucapkan 'halo'.

"Maaf karena sudah menyusahkanmu selama ini, Natsu. Begitupun Juvia yang kubuat khawatir, termasuk Lucy karena lehermu kucekik. Tolong jaga dia, oke?"

"Baiklah. Aku memaafkanmu atas tindakan kemarin, bahkan tanpa kau suruh si bodoh ini pasti kujaga"

"Sampai jumpa. Aku selalu mengawasimu di surga"

"Gray. Meskipun kita sempat berpisah, aku tetap menganggapmu sahabat terbaik. Terima kasih kau takut kehilanganku, merasa cemas, kangen. Semua hanyalah bentuk kasih yang coba diungkapkan. Mau salah atau benar tetap harus dihargai. Sampai jumpa"

Perpisahan yang berlangsung singkat namun pilu. Natsu menangkapnya, air mata Gray dalam ungkapan bahagia, terakhir kali sebelum mereka melambaikan tangan, melepas kepergian dan tersenyum getir. Dering hand phone Lucy menganggu suasana khidmat itu, SMS dari Jellal berisi, 'datanglah ke rumah sakit jam enam sore. Kalau mau masuk tunggu aba-aba, jangan sembarangan menyelonong!'.

"Kami harus pulang ke Magnolia. Bagaimana kalau Juvia ikut saja? Kau kesepian bukan tanpa seorang pun? Sekalian bertemu teman baru"

"Semakin ramai justru tambah seru. Ikut bersama kami, oke?"

"Hiks… Hiks…. Terima kasih, Juvia senang"

Mungkin kabar baik.

Di rumah sakit Magnolia….

Kamar nomor 709 gelap gulita, ditambah langit mulai berubah warna menjadi hitam pekat. Erza terbangun seusai terjebak dalam koma, seminggu lebih. Mengitari sekeliling ruangan dengan tatapan heran lewat ekor mata. Lagi pula ini di mana? Banyak bintang menyala dan sofa tertutupi kain putih, batinnya menghela nafas pasrah. Beginikah gambaran surga? Indah sekali, dia tidak menyesal meninggal sekalipun.

NGIETTT….

BLAM!

"Eh, di surga ada pintu ya? Mungkin malaikat datang mengadili"

"Selamat datang di gerbang kematian, Erza Scarlet. Aku akan mengadili seluruh dosamu, apakah kau pantas masuk surga atau terkurung di neraka"

"Baiklah kita mulai saja. Dosamu adalah sering ingkar janji. Memberi harapan palsu pada seorang lelaki. Berciuman padahal tidak resmi pacaran. Marah-marah. Membantah orangtua. Berbohong dan yang paling parah ialah, membuat khawatir"

"Ba-bagaimana bisa aku menyebabkan malaikat khawatir? Maksudmu kecewa?"

"Dua-duanya. Ya…. Lagi pula manusia memang makhluk berdosa. Namun kebaikanmu menyentuh hati malaikat ini. Terima kasih telah mencintai seorang lelaki yang rapuh, egois dan selalu membuat kesal. Tetap bersabar walau diterpa cobaan. Setia kawan meski tau bahaya mengancam. Tegar di tengah ombak. Berdiri tegap melawan arus takdir. Bangkit meski jatuh berkali-kali. Kau wanita terhebat"

"…."

"Sayangnya malaikat ini belum mau melepaskanmu. Erza, kau pernah berjanji pada seseorang, suatu hari nanti ingin melihatnya, bintang-gemintang di langit malam. Dia selalu menanti, menanti dan menanti tanpa takut dikhianati"

"Erza. Gantungan bintang di langit kamar adalah hadiah sekaligus permintaan maaf. Malaikat ini terlalu mencintai sampai takut kehilanganmu. Mementingkan ego sendiri demi hal yang menurutnya baik. Semua untukmu seorang, tetapi dia malah melukai orang itu. Dia benar-benar lemah, payah, pengecut…."

"Namun bagiku, orang itu keren dengan segala kekurangannya. Aku ingin minta maaf sudah bertindak egois. Andai kami bisa bertemu sekali saja…."

HUG!

Tangan kekar itu memeluk wanita ringkih di sampingnya, erat. Lampu menyala dalam hitungan kelima. Erza dikejutkan para sahabat yang berdiri di depan pintu, membawa sekotak kue stroberi kesukaan scarlet. Terlihatlah siapa sang malaikat, yaitu Jellal sendiri dengan kelereng hazzle berurai air mata.

"Surprise!" seru mereka bersamaan, berbondong-bondong menyalami Erza yang terkejut. Dia pikir sudah bahagia di surga. Ternyata masih hidup, bernafas!

"SURPRISE, SURPRISE!" suara bartionnya berteriak kencang terlambat tiga menit. Semua menoleh sambil tertawa renyah. Natsu menggaruk kepala yang tidak gatal merasa malu

"Wendy, Sting, Gajeel, kukira kalian…."

"Cukup Lucy. Tampang kagetmu membuat kami semakin merasa bersalah! Natsu. Berterima kasihlah pada lelaki berambut raven. Anehnya juga bukan hanya aku yang bermimpi begitu, Wendy, Gajeel, Sting juga Loke sama! Ajaib ya" jelas Sting panjang lebar

"Kami bertiga minta maaf karena mengkhianati dan menuduhmu. Ta-tapi kalau Natsu-senpai, e-eh maksudku Natsu tidak mau memaafkan bukan masalah"

"Kau bicara apa Wendy? Tentu aku menerima kalian! Anggaplah untuk mempererat persahabatan kita! Sayang, ya, Loke tidak ikutan"

"Loke malu karena pergi tanpa bilang-bilang. Dia sebatas titip salam. Oh iya, aku membawa kamera bagaimana kalau kita berfoto?" tawar Gajeel yang disetujui penghuni kamar. Mereka asal mengambil posisi. Tiga detik kemudian blitz kamera menangkap kebahagiaan tersebut

"Aku baru sadar ada wanita berambut biru ikut foto dan, hey! Seseorang merangkulnya" berkerumun bak semut hitam, mereka berebut melihat penampakan itu. Natsu menyungging seulas senyum. Ternyata Gray tidak mau kelewatan

"Ah iya perkenalkan namanya Juvia. Kuharap kalian mau berteman baik dengan dia"

"Teman baru! Tentu kami menyambutnya tulus, Natsu. Kau tinggal di mana? Kelas berapa?" pertanyaan Sting memberondong. Juvia sampai bingung harus menjawab yang mana

Malam yang diakhiri kebahagiaan untuk mereka, termasuk Gray tentunya.

Tamat.

Balasan review :

Aoi Shiki : Review yang itu lho yang siapa sih pelaku, itu udah dibalas atau jadinya double? Yap semua udah terungkap jelas kan sekarang? Jerza juga gak kalah romantis lho, hehehe. Natsu kan populer hahaha jadi banyak yang cariin. Maaf harusnya udah update dr kemarin tapi lupa buka ffn. Thx ya udah review.