'CAUSE YOU

Desclaimer Masashi Kishimoto

M

AU, Typo (s), OOC AKUT

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

.

.

.

.


-TWO-


Hinata memarkir motor sportnya di garasi. Salah satu tempat yang ia kenali dengan begitu baik. Puluhan? Ratusan? Rasanya telah ribuan kali ia memarkir kendaraan beroda duanya disana. Mendengus melirik satu buah motor lain dengan dua paduan warna agak mencolok- hitam metalik dan kuning- yang telah dimodif sedemikian rupa. Tak hanya motor, bertengger manis dua buah mobil kelas super yang keberadaanya masih dianggap begitu spesial diatas kasar dan hitamnya papan jalanan. Sebut saja Lykan Hypersport dan Bugatti Veyron.

Hinata membuka helmnya cepat, menggantungkan salah satu benda pelindung tersebut diatas kaca spion kiri. Keringat dingin menempeli pelipis juga tengkuk hingga anak rambutnya agak basah. Mengerucut sedikit, lantas turun dari dudukkannya.

Drrrtt drrrtt

Hinata menyambar ponselnya dari saku. Menarik sudut bibirnya keatas- meski sedikit, setelah tahu siapa pengirimnya. Sasuke.

Sudah sampai?

Ya.

Memasukan benda itu kembali kedalam saku, memulai langkahnya mendekati kediaman bergaya Mediterania klasik dengan tiga lantai menjulang keatas. Agak terkejut menemukan Kyuubi- peliharaan Naruto- berlari menerjangnya dari belakang. Untung gadis itu tak sampai jatuh tersungkur mencium teras.

"Ouch! Kini kau berhasil membuatku terkejut, Kyuu-kun.."

"AW AW! Ek-ek-ek.." lihat, dia ber*gekkering sekarang. Hinata sempat memejamkan matanya kuat-kuat karena suara lengkingan hewan itu terlalu menyiksa diawal. Sudah tahu binatang apa? Hinata agak meringis mengaku Naruto memelihara seekor rubah. Tapi toh, binatang itu begitu setia pada majikannya, mungkin lebih kepada karena faktor pemeliharaan yang sudah sedari lama. Perhitungan Hinata mungkin sekitar lima tahunan. Dimulai sejak- entahlah, bayi?

"Ayahmu didalam?" rubah itu diam saja. Tumben. Menatap Hinata dengan ekspresinya yang lucu. Gemas, gadis itu mengusap-usap wajah Kyuubi hingga hewan itu menutup matanya senang.

"Kurasa aku harus memastikannya sendiri." Hinata bangun dari posisi jongkoknya. Berdiri, berbalik dan terpekik menemukan Naruto tengah berkacak pinggang dengan senyum miring menggoda.

"Terkejut?"

"Cih!"

"Aku tahu kau akan datang." Hinata membenarkan kalimat itu dalam hati, namun memberi ekspresi menantang seakan mematahkan dugaan Naruto."Jangan mengelak, Hinata. Ekspresimu lucu sekali, kau tahu? Harusnya tadi kurekam atau kupotret saja sekalian."

"Baiklah. Aku lebih baik kembali ke-"

"Jangan macam-macam." Potong Naruto cepat. Menarik lengan Hinata kedalam rumahnya.

"Lagi-lagi bersikap otoriter."

"Hmh.." diam-diam Naruto menarik sudut bibirnya keatas.. Merubah genggaman tadi, menautkan jari jemari besarnya pada milik Hinata. Gadis itu tak menolak. Toh, mereka sering melakukannya.

"Duduklah. Aku ambilkan minum dulu." Hinata mengangguk. Melepas jaketnya, menampilkan kaus longgar berwarna hijau toska tanpa lengan. Menyender pada sandaran sofa empuk, setelah memperbaiki gumpalan asal yang Sasuke buat tadi. Sebab helm yang ia kenakan, karya si bungsu Uchiha kini hancur.

"Ingin makan sesuatu?"

"Tidak. Aku kenyang dengan pai yang kubuat dengan Sasuke tadi.."

"..."

Hinata merogoh-rogoh saku jaketnya, mencari benda tipis berukuran tujuh inchi. Ketemu. Mulai menyalakan layar, membentuk pola sebagai kunci keamanannya dan menemukan satu buah pesan balasan.

"Jadi kau benar-benar membuatkan si teme, pai?"

"Hn. Yeah.." balas Hinata sekenanya. Biji amethyst cantik itu asik menelusuri jempolnya diatas tuts tuts keyPad.

Aku akan menculikmu lain kali

Coba saja.

"Minumlah." Hinata meraih minuman yang disodorkan. Sebuah minuman kaleng dingin sejenis bir, lantas bergumam terima kasih. Naruto mengangguk sekali. Menduduki kursi tepat disamping Hinata. Ikut menyenderkan kepalanya ke senderan, melirik gadis yang bahkan belum juga mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

"Kau benar-benar kenyang?"

"Hm?"

"Aku tanya apa kau benar-benar kenyang?" Hinata mengangguk agak bingung.

"I~ya?"

"Hmh. Begitu..."

".."

"Hinata, perutku sakit.." rengeknya manja.

"Ramen?"

"Kurasa." Hinata mendengus. Menepuk paha sebagai gerakan non verbal menyuruh Naruto meletakkan kepala diatasnya. Pemuda itu segera membaringkan tubuhnya, bergerak cepat mengikuti instruksi. Menyamankan diri dengan menempelkan wajahnya pada perut ramping Hinata. Meletakkan minuman diatas meja, gadis itu juga tak lupa menaruh ponselnya.

"Bagian mana?"

"Sini.." arah Naruto pada salah satu bagian perutnya. Hinata memutar bola mata, bosan. Mulai meraba-raba perut sixpack Naruto, sesuai tempat yang tadi pemuda kuning itu tunjuk. Mengusapnya lembut.

"Bernyanyilah.."

"Hn."

Hey, gadis cantik..

Apakah kau kekasihku?

Berikan aku penawarmu.

Tangan lembutmu meresapi kulit kasarku..

Belai aku dalam hangatnya.

Kecup aku, kasih..

Beri yang kau punya

Biarkan aku memilikinya seorang sa-

"Kau tahu, aku paling tak tahan dengan lagu itu." Hinata mendengus. Mau nya apa sih!

"Bukankah kau begitu menggilai liriknya?"

"Terlalu gila malah." Hinata menunduk menemukan Naruto menggeser posisi tubuhnya hingga kini telentang. Mengernyit kesal. Jemari Hinata masih bertengger pada perut Naruto, berhenti mengusap. Saling menatap dalam hening hingga pemuda kuning itu menarik tengkuk Hinata mendekat. Mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Hinata yang kecil. Melumat dan memagutnya lembut. Bertarung lidah hingga berebut saliva lawannya. Berdecap menggaung indah. Hinata itu tak tinggal diam, ia menaikkan rabaan telapak tangannya, membelai dada bidang Naruto. Merasakan kehangatan, degup jantung serta rongga paru-parunya yang naik turun.

"Hinata.." Gadis itu tersenyum dalam ciuman maut yang Naruto beri. Melepas pagutan Naruto tanpa permisi didua detik setelahnya. Jelas saja pemuda itu kecewa.

"Aku mengantuk. Bangunlah." Hinata sudah akan bangkit bahkan sebelum Naruto memberi persetujuan.

"Tidur di kamarku."

"Hn."


"Hinata-chan!"

"Eh? Ohayou, Sakura-chan."

"Agak telat, yah?"

"Um. Hehe." Sakura balas tersenyum lebar. Keduanya mulai larut dalam obrolan ringan sembari menyusuri koridor mengenai acara televisi malam tadi. Hinata mengaku tidak menonton apa yang Sakura tonton. Namun menyesal karena itu berarti ia telah melewatkan konser group band favorite nya yang ditayangkan secara live.

"Agh! Harusnya kau lihat bagaimana Gaara- Eh? Ohayou, Naruto." Pemuda kuning itu tersentak, menoleh pada siapa yang menghentikan langkahnya. Tersenyum lebar agak gugup sambari mengantungi kunci mobilkedalam saku celana.

"Yosh! Aku duluan. Naruto. Jaga Sakura dan antar ke kelas dengan utuh." Naruto mendengus namun mengangguk mengiyakan. Shappire nya mengekori Hinata yang menjauh dan hilang ditikungan.

"Mau jalan-jalan sebentar?" Sakura mengangguk senang.

.

.

.

"Ish kembalikan, Kiba!" Hinata beringas mengejar Kiba yang jahil membawa ikat rambutnya. Beberapa siswa laki-laki bahkan sampai bengong menatap tampilan Hinata dengan geraian rambutnya yang berkilauan. Didetik dan dimenit-menit gadis tomboy menjelma bak bidadari.

Kalau tidak ada tatapan maut yang Hinata tujukan, mungkin seluruh adam yang menghuni kelasnya sudah memberikan godaan ini itu.

"Kau sungguh menyebalkan, Kiba!"

"Ayo manis, kejar ak-"

"CK! Kembalikan padanya, Inuzuka." Pantas saja bulu kuduk Kiba merinding, menoleh dengan gerakan patah-patah kebelakang, ia berhasil menemukan sumbernya. Uchiha Sasuke. Berdiri tepat dibelakang Hinata, diambang pintu. Nampaknya pemuda itu barusaja kembali dari toilet.

"Hn. Seperti biasa, kau selalu mengganggu kesenangan orang lain, Sasuke." gumamnya kesal, sedang meski Sasuke mendengar, ia tak peduli sama sekali.

"Kore." Hinata menarik sudut bibir kanannya keatas. Menyeringai menang. Menyambar ikat rambutnya, menaikkan sebelah alis, ia mendaratkan cubitan penuh siksa disisi perut Kiba. Sontak saja pemuda bertato segitiga merah terbalik di pipi itu uring-uringan menahan ngilu dan perih luar biasa.

"Hiaish!" gemas, Hinata memelintirnya lebih dalam.

"Rasakan! Kau seharusnya-"

"Hinata. Ikut aku."

"Aku belum puas, Sasuke."

"Hinata!" Sasuke sedang dalam mood yang tidak baik. Hinata tahu itu dan dengan patuh mengikuti langkah besarnya dibelakang, meninggalkan Kiba yang merengek-rengek kesakitan pada Lee.

.

.

.

.

"Ada ap-"

"Kemarikan ikat rambut itu." Hinata patuh mengulurkan ikat rambutnya.

"Berbaliklah." Lagi-lagi Hinata patuh saja. Sasuke mulai menarik juntaian rambut Hinata keatas. Menyisiri kehalusannya dengan jari jemari. Membentuk ikatan longgar yang manis.

"Aku tak suka orang-orang melihat kau dengan rambut tergerai."

"Aku tahu, aku pasti seperti sadako. .."

"Hn. Seperti sadako. Jadi Cukup, hantui aku saja." Hinata mengangguk anggukkan kepala meski tak sepenuhnya mengerti.

"UH? Sasuke..." Hinata terdorong halus ke dinding. Dengan gerakan lembut, Sasuke menyapukan lidahnya di tengkuk Hinata. Menjilati keringat yang menguar aroma seksi darinya. Menyesap dan menggigitinya pelan hingga berbekas merah. Hinata berusaha melawan namun Sasuke makin mengeratkan kedua pergelangan tangannya untuk terus menempel pada dinding. Bahkan tubuh tegapnya makin meringseki punggung Hinata. Gemetar hangat sang gadis, serta dengup jantung keras Sasuke menyatu erat.

Kembali menjilati bekas sesapannya, lidah itu bergerak menggelitiki telinga belakang Hinata. Mengulum daun telinganya yang kecil, menyedot dan kembali menggigitinya gemas.

"Sasuke.."

"Diamlah sebentar.." Hinata memejamkan matanya kuat-kuat kala lidah itu bergerak lagi kedepan dan turun. Menyesap urat nadinya yang berdenyut. Menyeringai setelah tahu efeknya pada si tunggal Hyuuga . Gadis itu agak lemas sekarang.

"Sudah." Sasuke mengakhiri kegiatan tersebut dengan satu buah kecupan ringan yang lembut, di sesapannya yang terakhir. Onyx nya menelusuri jejak air liur yang mengkilat basah dengan bangga. Lagi, dengan beberapa tanda agak kemerahan disana.

"Lain kal-"

Duagh!

Sasuke melirik cepat pada siku Hinata yang menonjok ulu hatinya.

"Aish! Ittai.."

"Dasar Mesum! Rasakan!"

.

.

.

Delapan belas murid dalam satu kelas. Suasana belajar mengajar nampak biasa. Menerangkan, mengangguk-menggeleng, mengerjakan soal, mengoreksi dan tada- sejumlah angka didapat. Besar kecil menentukan kedepannya. Menentukan statusmu sebagai si berkualitas atau sebaliknya. Bermain angka-

Hinata bertopang dagu sambil menuliskan rumus, melirik Sasuke yang juga bertopang dagu sambil memejamkan mata. Dan kalau dilihat baik-baik, ada sepasang headset menyumpali telinganya yang agak tertutup rambut. Posisinya yang tak terlalu terlihat, memang begitu strategis.

"Dasar jenius.." gumamnya.

Disudut lain, Hinata bisa lihat Sakura menunduk dengan telapak tangan dibawah meja, bergerak-gerak. Jelas sekali jempolnya tengah bermain diatas tuts KeyPad ponsel.

Mengamati yang lain lagi, Hinata kedapatan pemandangan lucu dimana Kiba masih memegangi sisi perutnya. Meringis sesekali sedang tangan yang lain, rajin menuliskan hal serupa dengan yang Hinata tulis.

"Kasihan.." Hinata boleh bergumam kasihan, namun lihat ekspresinya. Tersenyum lebar bak iblis kegirangan. Matanya menyipit memperjelas letak kesakitan Kiba.

TRAK-

Hinata tersentak.

"YOSH! Cukup untuk hari ini. Tugas dikumpulkan seminggu lagi, serta persiapkan diri kalian untuk kuis besok. Selamat siang."

"Siang.." Asuma sensei berbalik meninggalkan kelas yang seluruh muridnya membungkuk hormat secara serentak. Selang beberapa detik, bel pulang berbunyi, Hinata merogoh saku mendapati ponselnya bergetar. Mengernyit menemukan satu buah pesan singkat dari Naruto.

"Hinata-chan... Naruto mengajakku pergi sepulang ini. Kau mau ikut?"

Hinata menoleh pada Sakura. Mengamati lawan bicaranya yang telah selesai membereskan meja dan kini berdiri menenteng tas di bahu.

Terjawab sudah, dengan siapa Sakura berkomunikasi tadi.

"Ah- tidak. Aku harus kesuatu tempat. Hhe-"

"Begitu kah? Sayang sekali, padahal aku ingin kau ikut."

"Pergilah, Sakura. Maaf, aku tidak bisa mengcancel ini."

"Hmh..baiklah, aku duluan. Jaa-"

"Jaa.." Hinata terus mengamati Sakura yang telah hilang dibalik pintu kelas, beralih mengamati lagi pesan singkat dari Naruto.

Doakan aku..

Gadis itu tersenyum setelahnya. Tak sadar sepasang mata terus mengamatinya dari kejauhan.

Pasti.


Hinata memasuki kediaman Naruto sambil menenteng sebuah paper bag bertuliskan Bonbon Bakery. Tersenyum lebar sambil terus bersenandung kecil. Ia ingat Naruto selalu suka roti-roti yang dibuat tempat itu sejak dulu. Berhubung beberapa hari yang lalu Hinata menolak ajakannya, mungkin dengan ini Naruto akan senang.

Pukul sebelas malam, Naruto pasti ngomel ngomel. Hinata barusaja selesai mengerjakan tugas kelompok yang diberi Asuma sensei meski baru setengahnya. Kembali soal Naruto, pemuda satu itu paling tak suka jika Hinata pulang terlalu larut. Bahkan sekarang saja Hinata bisa membayangkan bagaimana si pirang akan memulai pidato dan wawancaranya nanti. Memikirkannya, Hinata geleng-geleng dengan kekehan geli.

"Tadai-"

Hinata menyesal. Kenapa tidak sekalian saja ia menerima tawaran Tenten menginap. Si cepol china itu khawatir terjadi sesuatu di jalan jika Hinata nekat pulang. Lagi, Hinata membawa motor. Hilang sudah bayang-bayang akan Naruto yang mengomelinya ini itu. Toh, si pirang tengah asik memagut bibir Sakura yang duduk diatas pangkuannya. Sofa yang kemarin ia dan Naruto gunakan. Decapan menggaung mesra disertai lenguhan-lenguhan nikmat.

Hinata sadar satu hal. Ia tak boleh berada di rumah Naruto! Tak ada seorangpun yang boleh tahu ia tinggal dengan si pirang. Untuk Sasuke, ia pengecualian. Jadi dengan hati-hati ia berbalik mudur. Kembali keluar.

"Huh..! Kenapa tidak bilang-bilang dulu si! Baka! Baka! Baka! Kalau aku ketahuan, bagaimana! Dasar!" Hinata mencak mencak. Sambil memeriksa ponselnya yang ternyata memang tak ada satupun pesan peringatan dari Naruto masuk. Sialan!

Menyalakan motornya kembali, dengan cepat ia melesat meninggalkan kediaman Naruto yang megah.

"Sepertinya aku harus menginap di hotel malam ini. Hah- uangku yang malang.."

.

.

.

.

TBC

Perbandingan Naruhina : Sasuhina sama. Untuk sekarang. Author sendiri belum yakin buat condong kearah salah satunya. Maklum, selama ini aku buat fic SH terus. Ehehehe. mungkin setelah beberapa chapter akan kelihatan bedanya.

Yosh ini chap 2 nya.

MAKASIH SEMUA YANG UDAH BACA... HUA GAK NYANGKA nyampe di follow sama fav. hehehehe

Salam ketjup

Nononyan