'CAUSE YOU

Desclaimer Masashi Kishimoto

M

AU, Typo (s), OOC AKUT

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

.

.

.

.


-THREE-


Hinata kecil meremas erat ujung rok spandex ibunya. Melirik takut-takut pada bocah laki-laki didepan sana. Bagaimana tidak takut jika yang menatap, seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup. Makin menyembunyikan tubuhnya dibalik kedua kaki jenjang sang ibu, Hinata kecil tak sadar jika yang menatapnya juga menyorot ingin tahu. Ia tertarik ingin melihat raut dan wajah Hinata sepenuhnya.

"K-kaa-san.. Hinata takut.."Bisik Hinata lirih.

"E-? Tidak kah dia tampan, sayang? Dia seusiamu, Hinata. Benar begitu bukan, Itachi-san?"Itachi mengangguk-angguk semangat dengan telapak tangan memainkan helaian racuk sang adik.

"Um. Sasuke, dia cantik ya? Ah- seandainya aku kembali diusiamu, sudah kupinang ia jadi seorang istri."

"Istri..?" ujar Hinata dan Sasuke bersamaan. Ibu Hinata dan Itachi tertawa melihat keluguan dua bocah tersebut. Sedang yang ditertawakan kini berani saling menatap, menyelami kontrasnya warna mata masing-masing.

"Ne- Itachi-san, terimalah. Bibi dan Hinata yang membuatnya."Itachi menunduk mengamati bingkisan persegi yang disodorkan. Meraih lantas mengintip sedikit isinya. Sebentuk kue dihiasi parutan keju disana sini. Ditambah beberapa kacang mete panggang sebagai pemanis.

"Hua- aromanya saja sudah nikmat. Terima kasih bi. Kau juga, Hina-chan."

"N-ne- Dou-ita- Itachi-n-nii.." Sasuke tertegun menatap rona merah pada kedua pipi pualam Hinata. Penasaran, bagaimana bisa wajah itu berubah warna begitu saja. Hingga tak sadar menunjuk pipi itu dengan jarinya.

Halus sekali.

"A-ah?!" sontak saja Hinata terpekik kaget.

"Kau- kenapa pipimu bisa berubah warna?" Hinata kecil tidak membalas lontaran penuh tanya itu. Terlalu sibuk menyeimbangkan panas pada kedua pipinya yang makin menjadi.

"E-etto-"

Drrrtt!

Hikaru- ibu Hinata- meraih ponselnya dari saku. Agak mendesah gelisah setelah membaca isi pesan yang masuk.

"Hinata. Kita pulang, sayang?"

"U-um.."

"Ayo katakan selamat tinggal?"

"J-jaa Sasuke-k-kun, I-itachi-nii.." Itachi agak gugup mendapati Hinata yang membungkuk sopan. Jelas sekali bocah kecil itu dididik dengan begitu baik hingga bertata krama dengan sempurna meski agak malu-malu.

"Kami permisi, Itachi-san. Terima kasih telah menerima kedatangan kami sebagai warga baru."

"Ah- tidak masalah. Benar bukan, Sasuke?" Sasuke mengangguk sekali tanpa mengalihkan pandangan dari Hinata. Terpesona. "Hina-chan- mampir lagi kesini, yah?"

"U-um.."Hinata kembali mendapatkan rona merahnya.

Sepulang Hinata dan ibunya, Sasuke tak pernah berhenti memikirkan wajah gadis yang bisa berubah warna itu, Dimana ada rasa penasaran bagaimana cara kerjanya. Jadi malamnya ia berlari ke kamar Itachi sambil membawa-bawa buku bergambar dengan napas terengah.

"Nii-san, kapan ia kemari lagi?!" todongnya gemas. Itachi membalik kursi kerjanya, bergumam sembari mengusap-usap dagu. Berpikir lama dengan maksud yang tak lain menjahili Sasuke. Lihat, bocah itu kini berlari kearahnya sambil menarik-narik pakaian Itachi. Mendesak.

"Ne., kau menyukainya?"

"UM. Aku penasaran bagaimana pipinya berubah warna."

"Ahahaha. Jadi kau penasaran pada itu?"Sasuke mengangguk.

"Itu artinya ia sedang malu, Sasuke.."

"Malu?"

"Um. Manis bukan?" Sasuke mengangguk semangat. Mencatat artian perubahan itu dalam ingatan. Jadi- Hinata tadi malu?

Kenapa?

Satu pertanyaan berlanjut pada pertanyaan yang lain.


Hinata menenggak minuman yang didapatnya dari salah satu vending machine . Merogoh sakunya yang bergetar, sambil menoleh kesana kemari, mencari-cari hotel yang dimaksud Lee. Berdecak kasar karena belum juga ketemu. Melirik jam di ponselnya, ia meringis. Sudah masuk pukul dua belas lebih seperempat! Hey, ia masih harus sekolah besok!

Dengan gerakan lemah, gadis itu menggeser tombol hijau. Menempelkan benda itu ke telinga, namun segera dijauhkannya kembali.

Meringis memegangi cupingnya yang tertembus hantaman suara Sasuke di sebrang.

"Kau dimana?!"

"Ditempat Naruto."

"Jangan bohong! Naruto barusaja menghubungiku."

"Eh?"

"Katakan. Sekarang. Juga."

"Huft ya ya ya.."

"..."

"Jangan berteriak lagi! kupingku sakit, Sasuke!"

"Hn."

Panggilan diputus.

"Huh! Dasar pantat ayam, baka!" teriaknya sambil meremas kuat ponsel dalam genggaman.

Tut tut

"Eh?"

PLASH!

Low batt.

"Ck! Mati segala, lagi." Agak kasar, Hinata memasukkan kembali ponselnya kedalam saku. Menenggak minumannya hingga tandas, melempar asal botol yang semula berisi minuman jus itu hingga masuk dengan sempurna kedalam tong sampah. Mulai menyalakan mesin motornya lagi, melesat pergi.

.

.

.

"L-laki-laki tidak boleh menangis.."Hinata berbisik sambil berjongkok menyejari bocah laki-laki yang terduduk menangis menyender pada pohon tua. Bocah itu menutupi seluruh wajahnya dilipatan tangan, terisak lirih.

"H-hey?" Hinata barusaja akan menyentuh bocah itu dengan jari telunjuk, ketika si bocah menegakkan tubuhnya. Matanya basah oleh air mata namun nyalang penuh amarah.

"Kenapa begitu?! Aku kehilangan ibuku! Bagaimana aku tidak menangis!" Hinata agak terjengkang. Buru-buru berdiri dan mengambil jarak selangkah menjauh. Ketakutan. Jelas saja, ia dimarahi dan dibentak oleh seorang yang bahkan belum ia kenal siapa namanya. Namun dengan tekad entah dari mana, ia masih berdiri disana meski agak gemetar.

"K-kau mau ini? Kaa-san ku bilang, kalau sedang sedih, m-makanan manis bisa membuat tersenyum lagi.." Bocah pirang mengamati kue mini berlapiskan krim cantik dengan hiasan buah jeruk diatasnya. Hinata memang dibekali berpotong-potong kue itu oleh Hikaru tadi. Berhubung masih bersisa, jadi ia ingat dan berinisiatif membaginya.

"Apa itu dari Bonbon bakery?"Hinata menunduk mengamati kotak bekalnya. Balas mengangguk.

"Um. K-kau tahu tempat itu?"

"Um. Aku~ suka tempat itu." Hinata berani mengambil langkahnya lagi. Lain dengan yang tadi, kini kaki kecilnya maju kedepan mendekati Naruto. Tas sekolahnya bergerak-gerak mengikuti. Kembali menurunkan tubuhnya, duduk melipat kedua kakinya kebelakang menghadap si pirang.

"Ne? Benarkah? A-aku juga suka."

"Kalau boleh, aku mau kue itu."tunjuk Naruto dengan dagu.

"T-tentu. Kau boleh memakannya." Lemah, Hinata mendorong kotak bekalnya kearah Naruto.

"Namaku Naruto. Uzumaki Naruto. Senang bertemu denganmu."

"Hi-Hinata. Hyuuga Hinata. S-senang bertemu denganmu j-juga, Naruto.."

Kawaii..

"Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Kau murid pindahan ya?"

"I-iya.. aku- a-aku barusaja pindah dua hari yang lalu.." Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengunyah kue pemberian Hinata. Meski jejak air matanya masih ada, namun bocah lelaki itu tak lagi terisak. Justru kini tersenyum cerah hingga pipi Hinata merona malu.

"Hinata, boleh aku menyenderkan kepalaku di bahumu"

"Eh?"

"Kemarilah.."Naruto menepuk-nepuk lahan sisi kanannya yang kosong. Meminta Hinata untuk datang dan duduk disampingnya.

Tanpa banyak bicara, Hinata kecil merangkak mendekati pohon. Duduk sambil memeluk lututnya. Melirik-lirik Naruto yang telah menyenderkan kepala. Wangi jeruk dari surai itu mengingatkan Hinata pada jus yang diminumnya sebelum berangkat sekolah tadi.

"Berjanjilah besok kau akan kemari lagi. Aku menunggumu.."

"U-umh.."


Ting tong.

Cklek!

"Kau membuatku khawatir, bodoh!"

"Harusnya aku yang bilang begitu, Hinata!" Hinata terkekeh, candaannya barusan menurunkan kerutan kesal Sasuke yang menakutkan. Ia dengan agak setengah terpaksa, mengikuti instruksi dagu Sasuke untuk masuk kedalam apartemen yang barusaja dua hari lalu ia tinggali.

"Hah- aku lelah sekali, kami –sama..."

BRUK-!

Gadis itu menjatuhkan dirinya telungkup diatas sofa empuk dengan sekali hentakan keras. Sasuke geleng-geleng lantas mendekati dapur meraih dua cangkir berbahan kramik dan dua kemasan minuman instan. Menyeduh serbuknya dengan kucuran air panas, mengaduk hingga aroma susu coklat menguar lembut. Tak hanya itu, ia juga membawa beberapa cemilan kecil kesukaan Hinata yang selalu disediakannya dalam lemari.

"Lee menyebalkan. Sialan! Pembohong! Aku bodoh sekali percaya kata-katanya. Cih! Hotel apanya! Lihat nanti, akan kuberi pelajaran si batok mengkilap yang satu itu." Hinata meracau tidak jelas sambil memukul mukuli sofa.

"Kenapa kau tak kembali kesini?!"

"Aku malas." Asal sekenanya. Hinata perlahan bangkit dari sofa, meraih minuman hangat yang disodorkan Sasuke. "UH- wanginya.." Hinata tersenyum lebar sambil menyesapi minumannya.

"Hn."

"Aku tak pernah tahu susu bisa seenak ini, Sasuke.."

"Kalau kau terus berada disini, kujamin minuman itu akan selalu tersedia."

"Cih! Aku tak bisa disogok hanya dengan segelas susu." Jelas saja ungkapan Hinata menarik sudut kanan bibir Sasuke. Pemuda itu tahu betul Hinata akan berucap demikian.

"Kau mau mandi?"

"Um. Aku berkeringat meski anginnya begitu dingin tadi." Balas Hinata bangkit dari sofa setelah meletakkan minumannya diatas meja. Meraih handuk yang tergantung dekat pintu dan masuk begitu saja kedalam kamar mandi. Meninggalkan Sasuke yang menyesapi minumannya.

Minuman milik Hinata.

"Rasanya lebih manis punyamu.." Sasuke memainkan telunjuknya di bibir gelas, meraba-raba letak dimana Hinata menyentuhkan bibirnya tadi. "Aku iri padamu, gelas.."

.

.

.

Cklek.

Meski samar wangi sabun menguar mengikuti tubuh Hinata yang barusaja keluar dari kamar mandi.

"Film horror?"

"Hn." Sudah jelas kan? Lihat saja bagaimana hantu dalam layar televisi itu melayang-layang menakuti tokoh utamanya. Dasar Hinata, baka!

"Oh. Kupikir, sinetron." Sasuke mendelik, Hinata terkekeh geli sambil mengacak rambutnya yang basah dengan handuk.

"Kemarilah." Hinata mengangguk, melangkahkan kaki telanjangnya mendekati Sasuke di ruang TV. Mencomot seenaknya- setoples makan ringan yang semula bertengger diatas paha pemuda itu.

"Bajumu yang ini terlalu kecil, Sasuke.."

"Hn."

"CK!" Hinata menaikkan kedua kakinya ke sofa melirik Sasuke, mendengus. Bisa-bisanya pemuda itu menghiraukan keluhannya.

DRRTTT!

"Kau tak mau mengangkatnya, Sasuke?"

"Hn." Sasuke melirik sekilas kesamping. Pada ponselnya yang terus bergetar , namun enggan untuk mengangkat panggilan yang masuk. Gantian, ia melirik Hinata. Gadis itu jelas menautkan alisnya agak bingung.

"Itu- dari Naruto?"

"Hn."

"Biar aku yang angkat! Ponselku mati dan-" Sasuke mendorong Hinata yang memajukan tubuhnya hendak meraih benda itu. Menimpa keelokkannya yang kini terbaring telentang. Setoples makanan itu tumpah berserakan mengenai karpet berbulu, karena Hinata bahkan belum sempat menaruhnya. Sasuke sendiri tak sadar apa yang membuatnya mampu berbuat demikian. Ini hanya sebentuk gerak refleknya, mengungkap betapa ia tak suka dengan yang Hinata lakukan barusan.

"Kenapa, Hinata?!"

"Sasuke. Bangun! Kau- berat!" Hinata mencengkram bahu Sasuke yang justru makin menimpa- kan tubuhnya diatas tubuh gadis itu. Hinata menemukan kedua payudaranya terhimpit, tertekan, keras dan bidangnya dada Sasuke.

BRUK!

Sasuke menjatuhkan diri sepenuhnya sekarang. Memeluk erat Hinata dengan napasnya yang terengah tiba-tiba.

"Jangan pergi..."

"Sasuk-"

"Onegai!" teriakan tertahan tepat dicuping serta getar tubuh besar itu membuat sang gadis segera menurunkan kelopak matanya. Memejamkan mata. Hinata merasakan bening bulir hangat jatuh dari pelupuk mata Sasuke. Menyentak kulit bahunya yang terbuka. Gadis itu terenyuh. Sasuke makin dan makin mengeratkan pelukannya seakan ia begitu takut.

"Kau merindukannya..?" bisik Hinata lirih. Mengusap helai rambut Sasuke dengan sayang. Balas melingkarkan kedua lengannya, memeluk Sasuke dalam hening.

"Sangat.."

"Tidurlah.. aku tak kan kemanapun.."

"Berjanjilah!"

"Aku janji." Secepat kilat Sasuke mengganti posisinya. Memiringkan tubuhnya juga Hinata serta memeluk dalam hangat yang menyenangkan.

.

.

.

"SIALAN!"

PRANG!

Naruto terengah-engah. Barusaja ia menghancurkan seisi meja makan dengan beringas. Melirik kearah ruang tamu, mendapati paper bag bertuliskan Bonbon bakery teronggok begitu saja.

"Bodoh!" Naruto bahkan dengan kesal menendang kursi kayu hingga jatuh terpental beberapa meter.

"Kenapa kau tak masuk saja, baka! Biarkan Sakura mengetahui bahwa kau tinggal bersamaku! Sialan! Aku muak , padamu, Hinata!" pelan, Naruto jatuh diatas kericuhan yang dibuatnya sendiri. Rasanya begitu lelah hingga batinnya tersiksa.


"Hinata bersamaku."

"Aku akan menjemput-"

"Biarkan ia bersamaku. Bagilah ia denganku juga."

"Akulah pahlawannya, Sasuke. Aku berhak memilikinya."

"Cih! Kau hanya mengambil posisiku, Naruto. Hanya sebuah kelicikkan belaka."

"Jangan macam-macam padanya, atau kubunuh kau."

"Apa yang kau maksud dengan macam-macam adalah saling bersentuhan?"

"..."

"I'm sorry buddy, but i can't.."

"Kau-"

TUT TUT TUT


"ARGGHH!"Berkali-kali Naruto mencoba menghubunginya lagi, namun nyatanya tak satupun panggilannya terangkat. Belum lagi, ponsel Hinata tidak bisa dihubungi. Sialan! Bayang-bayang apa saja yang mungkin Sasuke lakukan pada Hinata terlalu mengusik. Meski kantuk dan lelah merayapi menggerogoti seluruh hati dan tubuhnya, namun sulit jika pikiranmu terbang melayang di tempat lain.

"Hinata..."

Naruto bisa saja meraih Hinata dengan menghampiri apartemen Sasuke sekarang juga. Tapi satu hal menahan ia untuk tetap di rumah. Satu hal yang begitu menyebalkan.

Apa Hinata akan bersedia ikut dengannya?

Ia tak kan mau memaksa gadis itu. Ia tak kan mau menukarkan segala kehangatan dan kenyamanan Hinata hanya untuk suatu pemaksaan. Yang ada Hinata akan menjauh, bahkan mungkin membencinya.

"Kembalillah segera.."

.

.

.

"Kau bertambah berat, Hinata."

"Salahmu membopongku segala. Padahal cukup bangunkan aku. Toh aku bukan kerbau!" Hinata berusaha menahan tawanya menatap pantulan wajah Sasuke di cermin. Jelas sekali Sasuke tengah kesal mendengar balas ucapannya. Namun didetik berikutnya ia acuh saja, lantas meraih sikat dan pasta gigi. Mulai menggosok-gosokkan benda berbulu itu didalam mulut. Mengikuti Hinata yang kini hampir selesai dengan ritualnya.

"Mengenai pertanyaanmu semalam, kurasa aku bisa menyanggupinya."

"Benarkah?"

"Um. Aku- aku juga merindukan Itachi-nii.."

"Kalau begitu bersiaplah!" Hinata menunduk memuntahkan air kumurannya di wastafel. Rasa serta aroma mint yang dingin menyapa membekas di rongga mulutnya. Dalam hening, Sasuke mengamati kegiatan Hinata yang menurutnya lucu dan menarik. Betah berlama-lama meletakkan matanya menatap gadis tomboy itu.

"Tentu."

"Aku akan menelpon pihak sekolah untuk memberi kita berdua ijin."

"Hn. Kuserahkan urusan itu padamu."

.

.

.

.

Tebak siapa yang absen bersamaan di kelas 11 A 3? Kasak kusuk terdengar disana sini. Menduga-duga adakah alasan khusus dibaliknya, atau hanya sebuah kebetulan? Dan coba tebak siapa yang tengah uring-uringan tidak jelas?

Naruto sekarang dalam keadaan yang jauh dari kata baik. Tidak penampilan, tidak juga dengan sikap. Semua yang menyapa dibalasnya dengan acuh tak peduli. Yang tak sengaja menabraknya karena berjalan tak tentu arah, habis kena omelan. Padahal dia yang salah. Satu hal yang luar biasa, dimana si pirang menghiraukan seruan Sakura. Bahkan menutup dirinya untuk tak bertemu dan menatap si pinky secara langsung.

Naruto bak beruang.

"Sialan! Kau menculiknya, teme? Licik." Gumamnya menggeretakkan gigi. Mencengkram kuat pensil hingga patang menjadi dua potongan yang sama.

BRAK-

Naruto dengan cepat memasukkan alat tulisnya kedalam tas. Berdiri hingga kursinya bergoyang jatuh kesamping. Tak peduli pada semua yang menatapnya heran. Akan kemana Naruto? Disaat pelajaran berlangsung, ketika semua mata tertuju menerima penerangaan, justru dengan enteng Naruto mengangkat tasnya, pergi.

Iruka mengepal kuat dengan empat siku-siku terbalik muncul diberbagai sisi kepala.

Kalau saja, pemilik sekolah ini bukan keluarganya, tak kan kubiarkan bocah itu pergi begitu saja.

Pemuda itu melangkah lebar-lebar. Menyambar kuncinya dari saku, setengah berlari menuju mobilnya diparkiran.

"Tak kan kubiarkan.." alisnya menaut tajam dengan geraman tertahan. Menginjak gas kuat-kuat hingga mobil mewah itu berlari melajukkan dirinya. Kini ia sudah tak peduli, memaksa pun akan ia lakukan, jika itu berarti Hinata-nya diambil. Dari lantai dua, Sakura menemukan pemuda kuning itu. Menatapnya lama lantas menunduk sedih.

Naruto...

Naruto tak segan-segan menekan klakson. Ia ingin semua memberinya jalan! Titik. Tak ada seorang atau sebenda apapun boleh menghalanginya.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

"N-Naruto-kun? Kau yang membawaku k-kemari?"

"Ah? Itu- iya. I-iya. Aku menggendongmu tadi. Hehe."

"A-arigatou, Naruto-kun..."

.

.

.

A/N : SUDAH DIPUTUSKAN.

Perbandingan penampilan Sasuhina : Naruhina, 55% : 45% ^^ hehe.

Ah- arigatou minna! semua yang sudah mendukung fic dengan Hinata yang OOC parahhhhh!

Ikutin terussss...