.: Author : DragonPhoenix96
.: Cast : Kris Wu Yifan,Park Chanyeol [ KrisYeol ], Slight Hunhan
.: Disclaimer :.
Para Uke Milik Seme(?) dan Mereka milik keluarga mereka masing masing dan Tuhan, Author hanya punya Alur Cerita FF ini yang yah…*silahkan nilai sendiri*
.: Warning :.
Typo yang mungkin bisa terjadi,mungkin ada yang sedikit OOC tanpa Author sadari, ,BoyXBoy, Blood, Rated M, A Bit of NC 18+, a lil of Rape, Don't Like Don't Read
.
Don't be Silent Reader juseyo! :'(
*nangis meluk Chanyeol* *di bakar Kris*.
.
.
.
.
.
.
Kris menghela nafasnya panjang dan memijat keningnya pelan. Ia mulai mengecek sedikit demi sedikit laporan yang ia terima. Ia juga mulai menyeruput sedikit teh yang tadi sudah disediakan oleh maid-nya.
"That God Damnit whiteland …masih tak terima kalau dia kalah rupanya hnn…",gumam Kris pelan. Whiteland company—perusahaan yang sebelumnya menguasai seluruh kanada terpaksa harus menyerahkan sebagian wilayahnya pada dirinya dikarenakan kalah dalam permainan poker dimana ia ditantang oleh CEO dari whiteland.
Ia menghela nafas lagi dan melirik jam yang berada di ruangannya. Sudah setengah jam lebih semenjak ia menyuruh Chanyeol untuk memakan sarapannya. Ia menyandarkan badannya ke kursi yang kini ia duduki dan kembali menarik nafas dan menghelanya dengan sangat panjang.
"Yeah….sepertinya aku harus mengecek Chanyeol sekarang…."
/-/-/-/-/-/-/
"Haaahh…Haaah…",seorang namja tampak terengah engah dan melihat ke daerah di sekitarnya. Matanya melihatnya jam yang melingkar di tangannya dan kembali menarik nafasnya panjang dan lama.
"Yaaaa….Baek hyung…."
Namja itu sedikit terkejut dengan suara seseorang dibelakangnya yang memanggilnya. Ia pun menoleh dan matanya mulai berbinar saat mengetahui siapa yang memanggilnya tadi.
"Aaahh…Zitao….."
"Apa aku telat ?",Tanya namja panda itu. Baekhyun—namja yang tadi mengecek jam—hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Justru aku yang takut kalau aku yang telat…",kata Baekhyun,"aku tahu kok seorang CEO kan pasti sangat sibuk…"
Tao hanya tertawa pelan,"Ah…tenang saja…..toh aku sedang berlibur sebulan ini….sekalian bertemu dengan kekasihku…ah bukan bukan bukan….tunanganku…."
BLUSH
Baekhyun mulai merona dan mengalihkan pandangannya kea rah yang lain. "A—Ah…entahlah…a—akuu…..aku masih belum merasa pantas untuk hal itu…."
"Eh ? Waeyo ?",Tanya Zitao pelan."Bukankah baba sudah menerima mu ? Mama juga demikian…"
Baekhyun hanya diam dan tak menjawab. Tao hanya mengelus rambut Baekhyun pelan.
"I—Ini….Ini soal appa ku, Zitao….",kata Baekhyun pelan,"Akuuu…aku tak yakin akan berhasil nanti membujuk appa untuk memberikan restu…"
Zitao tersenyum tipis,"Tak apa apa…..kau tak perlu terburu buru…."
"Ma—Maksudku…kau tahu kan betapa ia membenci tipikal tipikal orang sepertimu…."
"Yang memimpin sebuah Negara menggantikan peran pemerintah maksudmu ?",Tanya Zitao pelan,
Baekhyun mengangguk dengan pelan pula,"Ma—Maaf bu—bukannya berarti akuuu..—"
"Kau sendiri bagaimana ?"
"Eh ?",Baekhyun menatap Tao bingung.
"Apa kau membenciku ?"
Baekhyun terdiam,
"Baekhyun Hyung…jawab aku….",kata Zitao lembut.
Baekhyun memeluk Zitao tiba tiba,"Te—Tentu saja tidak…."
Tao tersenyum tipis—tangannya mengelus rambut Baekhyun,"Tak apa Baekhyun…..memang banyak para CEO yang bangsat tapi percayalah hyung…aku tak akan seperti itu…."
"Kau janji…",Baekhyun menatap Zitao. Namja yang ditatap hanya tersenyum.
Tao mengangguk pelan. "Yah Aku janji….."
/-/-/-/-/-/-/
Tok Tok
Kris mengetuk pintu kamar Chanyeol pelan,"Chanyeol-ah…kau sudah selesai ?"
Krieet
Kris membuka pintu kamar tersebut perlahan.
'Ah…ternyata dia tertidur lagi…',batin Kris.
Tangan Kris mengelus rambut Chanyeol. Chanyeol terlihat sangat manis dimata Kris bahan melebihi dari foto yang diberikan padanya kala itu oleh mereka.
"Maaf ya….aku membuatmu ketakutan sepertinya…",gumam Kris pelan dengan nada sedikit menyesal. Ia merasa salah mendekati Chanyeol dengan cara ini—yang sejujurnya tak ia sukai. Namun ia yakin setidaknya Chayeol tahu betapa keras dan berbahayanya dunia saat ini.
Yang ia tahu Chanyeol hanya menjalankan semua kegiatan Park Corporation dari balik layar—atau lebih tepatnya layar computer—sisanya semua dilakukan oleh appa-nya. Sungguh taka da yang bisa membayangkan kalau ia merupakan penerus Park Corporation yang menguasai semenanjung korea yang tak pernah sedikit pun belajar tentang strategi dan politik. Yah, walaupun mungkin juga dalam waktu senggangnya bisa saja ia belajar mencari materi….
Kris menghela nafas lagi—mengingat tanggung jawab dirinya dengan janji itu. Matanya tak pernah terlepas dari wajah Chanyeol yang tengah terlelap. Tangannya tanpa sadar mengelus rambut halus Chanyeol.
"Jaljayo….Chanyeol baby…."
.
.
.
.
.
.: To Be Continued :.
.
.
.
.
.
.
