'CAUSE YOU

Desclaimer Masashi Kishimoto

M

AU, Typo (s), OOC AKUT

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

.

.

.

.


-FOUR-


"K-kenapa kau harus memukulinya, Naruto-kun.."

"Dia mengejekmu, Hinata. Aku benci mendengar mereka mengejekmu. Apalagi dengan beraninya, di depan mataku." Hinata menghela napas. Telaten, membalut luka-luka pada tubuh Naruto, juga mengompres lebam-lebam yang ada. Sesekali Naruto meringis kesakitan, namun berusaha tetap terlihat baik. Mengeluarkan cengiran khasnya, meski yang ada justru agak aneh.

"Daijoubu, Naruto-kun.. m-mereka kan teman-temanmu sendi-"

"Aku tidak peduli!"Hinata tersentak menatap Naruto dalam, tersenyum lemah. Gadis berusia 13 tahun itu dengan halus merangkum kedua sisi wajah Naruto yang membiru menyedihkan dibeberapa tampat. Biji matanya bergerak-gerak nalangsa. Pelan menarik Naruto dalam pelukannya.

"Tenanglah.." bisiknya lirih. Hinata tahu betul Naruto memiliki tempramen buruk. Pemuda pirang itu sering sekali berkelahi karena masalah sepele . Malah terkadang hanya sekedar melepas kemarahannya pada sang ayah yang jauh berada di negeri orang.

"Entah kepada siapa lagi aku bisa mengadu selain kepadamu, Hinata.."

"..."

" Jangan pergi dariku.."

"Aku tak kan pergi kemanapun."

"Berjanjilah untukku."

"Umh. Aku- berjanji padamu, Naruto-kun.."


Kasar Naruto menyeka bening air mata, mengingat sepintas kejadiannya dimasa lalu. Masa dimana kelembutan melekat erat pada diri Hinata. Keanggunan serta perangainya yang begitu hangat. Tak ada raut keras seperti sekarang. Semua terganti, semua tertindas, semua terkikis. Jauh dilubuk hati si pirang, ia begitu merindu. Ia menginginkan Hinatanya yang dulu.

Namun apa daya, gadis itu memilih mengubah semuanya. Membentengi seluruh sikap lemahnya tanpa celah. Membelenggu dirinya sendiri, hingga tak ada yang mengenalinya sebagai Hinata si pemalu, si feminim, si ramah, si pemaaf, dan si – si lainnya. Hanya dalam kurun waktu satu tahun!

"Hinata.." Naruto makin memacu kecepatan berkendaranya. Menghiraukan amarah pejalan kaki dan kendaraan lain karena nyawanya serasa terancam. Bahkan menerobos lampu merah. Pemuda pirang itu sesekali menggeram karena tahu jarak ke tempat Hinata berada sekarang begitu jauh.

Bagaimana ia bisa yakin Hinata disana?

Satu kata. Satu Nama. Hanya- Sasuke.


"S-sasuke-kun? Ne- Sasuke-kun!"

"Ah- i-iya?"

"S-sudah selesai 'kah?" Sasuke melepas pegangannya pada rambut Hinata. Berganti meremas lembut kedua bahu mungil anak gadis itu

"Um." Hinata meraih gumpalan rambutnya. Meremas-remas gulungan yang ada dengan gerakan lucu. Ini kali pertama ada yang mengikat rambutnya selain Hikaru, wajar saja Hinata agak merasa aneh. Lagi, bentuk ikatan rambutnya tak serapih sang ibu. Banyak helaiannya yang tak terbawa. Meski begitu, ia tetap menghargai niat dan usaha Sasuke.

"Hinata-"

"Hm?"

"Aku akan menggerakkan Uchiha beberapa hari lagi.."

"Menggerakkan? A-aku tak mengerti, Sasuke-kun.."

"Ah- tak apa. Aku hanya ingin kau tetap bersamaku. Hanya kau dan Naruto yang kupercaya."


Ckiiit!

Naruto mencengkram kuat stir mobil. Gugup gemetar. Bagaimana tempat yang paling dibencinya kembali ia kunjungi. Lokasi yang mengubur sang ibu beserta semua kehangatan telapak tangan dan hatinya yang lembut.

Wajahnya pucat pasi. Terakhir ia datang, Minato- ayah Naruto- menariknya paksa, tentu dengan beberapa pukulan yang tak ringan rasanya di kulit. Seakan ikut terbawa bayangan masa lalunya, Naruto mengusap bahu. Disana letak sang ayah mencengkramnya kuat, begitu nyeri hingga berbekas serupa telapak tangan meski kini telah hilang. Tentu saja. Tapi luka lain-

Masih ada dan berbekas.

"Aku takut, Hinata.." Naruto meringis seorang diri. Sakit di hatinya terlalu berdenyut. Melirik kesana kemari , begitu sepi dan hening. Biji sapphire nya menelusuri area pemakaman khusus tersebut. Pemakaman yang di spesialkan hanya untuk kalangan elit. Tak ada kendaraan selain kendaraan miliknya sampai sang biji menyipit menemukan satu, dipojok dekat pohon besar.

Tak salah lagi, itu mobil Sasuke.

Tak berpikir dua kali untuk keluar dari mobil, segera pemuda itu masuk melewati pintu pagar menjulang terbuka, untuk sampai ke area makam yang sesungguhnya. Beruntung hari menunjukkan cerahnya meski udara dingin berhembus sedang. Jika malam tiba, area ini akan berkabut dengan suhu yang tidak biasa.

Menapaki jalannya yang bergerinjal batu-batu kecil serta rerumputan hijau rapi, Naruto terus berupaya mencapai lokasi Sasuke. Pemakaman Uchiha ada di sebelah timur sedang pemakaman Uzumaki ada di sebelah utara.

Ratusan jejak kakinya membawa sang Uzumaki sampai pada tujuannya.

Itu Sasuke. Berdiri menunduk mengamati satu buah nisan yang Naruto yakini milik Kakaknya, Uchiha Itachi. Sebuah kecelakaan naas yang menimpa keluarga itu, benar-benar menarik simpati siapapun. Bagaimana Sasuke menjadi seorang Uchiha terakhir dalam hitungan jam. Tak ada yang selamat, tak ada yang tertolong. Sasuke sebatang kara.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana Uchiha Sasuke menghidupi dirinya?

Sasuke itu jenius. Sepeninggalan seluruh anggota keluarganya, ia telah berusia 14 tahun. Dididik khusus dari Itachi mengenai seluk beluk berdirinya suatu perusahaan. Mengenalkan arti dari peluang, untuk mencapai kesuksesan.

Jangan berpikir Sasuke menerima itu begitu saja. Diusianya yang begitu belia, tentu ia menolaknya mentah-mentah. Merasa hal seperti itu tak kan digunakannya sekarang-sekarang. Tapi berterima kasihlah pada Itachi. Ia membujuk ini itu. Rayuan serta nasihat mengalir dengan sabar hingga Sasuke menerima beberapa. Dan lihat, semua usaha Itachi terbayar. Sasuke menerapkan apa yang diterimanya dengan baik. Sangat baik malah. Uchiha group masih berjalan dengan seorang pemimpin perusahaan muda dan jenius.

"Dimana Hinata?" Sasuke melirik Naruto. Mendengus.

"Aku tidak tahu."

"Katakan berengsek!" Sasuke diam saja, bahkan dengan semua cengkraman penuh emosi Naruto di kerah bajunya.

"Aku tak kan mengatakan apapun, karena memang aku tak tahu ia kemana." Balasnya ringan dan tenang.

"Ia kesini bersamamu, kan!"

"Ya.." Naruto perlahan melepas cengkramannya. Mundur beberapa langkah lantas berlari. \

Jangan bilang kalau-

Naruto mengepal kuat, makin cepat mengayuh langkah kakinya.

Lari lari dan terus berlari. Tak peduli jika ia melewati ratusan makam tanpa ada rasa hormat sama sekali.

.

.

.

.

"Hiks.. hiks.."

"Sasuke-kun? Naruto-kun, ada apa?" Hinata mengusap-usap raven Sasuke sambil menatap Naruto meminta penjelasan. Gadis itu takut jika kedua sahabatnya berkelahi seperti yang sudah sudah.

"Kurasa ia kelelahan, Hinata. Ia meringisi kepalanya terus."

"K-kau sakit, Sasuke-kun?" Sasuke mengangkat wajah penuh air matanya. Tampangnya kusut dengan dasi longgar , kemeja berantakan dan jas yang teronggok di atas tanah.

"Tidak... seperti kata Naruto, aku hanya kelelahan. Menjadi pemimpin perusahaan benar-benar menguras tenaga.. " Sasuke menarik garis senyumnya keatas, diikuti Naruto. Keduanya jelas memberi tanda pada Hinata bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua baik-baik saja. semua aman terkendali. Mau tak mau gadis itu terenyuh. Menekan dadanya menahan haru. Menatap Naruto dan Sasuke bergantian. Sebening air mata jatuh secara tak sadar.

"Ne, Hinata..." Naruto dan Sasuke saling berpandangan. Mengangguk bersama.

"Kami menyayangimu.."

.

.

.

.

DEGH!

Keduanya menghentikan langkah serta saling berdiri menghadap . Hinata mengenakkan gaun selutut berwarna hitam pekat berenda dengan bagian bawahnya yang mengembang beraksen brukat sambil memeluk sebuah mantel abu-abu. Rambutnya tergerai cantik, bergerak searah hembusan angin.

Amethystnya nampak terkejut menemukan kehadiran Naruto yang tiba-tiba. Lagi, ditempat yang ia tahu betul, begitu pemuda itu hindari. Ini sangat- mustahil.

"Naruto.."

"..." Naruto menatap makam ibunya dari kejauhan. Ada sebuket bunga - nampak segar tetimpa cahaya.

"Ah- maaf. Bukannya aku lancang karena datang tanpa seijinmu, Naruto. Selagi aku disini, aku ingin mengobrol sedikit dengan ibumu. Mengabari anaknya yang tumbuh dengan baik bersamaku." Hinata tersenyum lemah. Ada jejak air mata disana. Naruto mengepal kuat.

"..."

"Kau- kenapa kau disini. Kau bolos ya!" Hinata berkacak pinggang marah. Sekilas mirip sekali dengan Kushina-Ibu Naruto . Bahkan pemuda itu tak sadar menganga dalam sekian detik.

"Naru-"

BRUK!

"H-hey!"

"..." meski Hinata ingin menjauhkan tubuh besar itu dari tubuhnya, namun gemetar ini sama dengan gemetar Sasuke semalam. Rasanya terlalu jahat jika ia melepas bahkan mendorongnya.

"Naruto.."

"Aku membutuhkanmu. Hanya dirimu. Tak ada Sakura dan gadis manapun. Aku menyerah." Hinata harus menahan air matanya dengan sekuat tenaga dengan semua kata yang terlontar manis dari bibir tipis seorang Uzumaki Naruto. Betapa hatinya menghangat dalam sekejap. Hinata baru akan bersuara ketika satu lagi kehangatan menyelimuti bagian belakang tubuhnya. Kehangatan dengan aroma yang begitu khas dan maskulin. Ini aroma tubuh Sasuke.

Menoleh kebelakang, benar saja. Disana berdiri dengan kokoh, Sasuke. Ikut merengkuh tubuh ramping Hinata yang tinggginya tak seberapa.

"Kami menyayangimu."


Hinata mendongak keatas. Dari taman rumah Naruto, langit nampak teduh dengan sinarnya yang tak menyilaukan. Ditambah lagi, satu pohon besar menaunginya dalam bayang-bayang hitam bercelah. Helai indigonya bergerak sedikit. Angin memainkannya halus, tanpa permisi. Gaun hitam masih melekati tubuh. Kedua telapak tangannya, lembut membelai dua surai dengan dua warna yang berbeda. Pelan, menunduk menemukan dua kepala melelapkan diri diatas pangkuannya. Sisi kiri, Naruto. Sedang sisi yang lain, Sasuke. Begitu manja dan manis. Ini pernah terjadi. Ini dulunya sering terjadi. Hinata tersenyum mengenang memorinya dimasa lalu.

"Apa aku terlalu berubah untuk kalian..."

.

.

.

Mereka hanyalah tiga bocah biasa yang tumbuh bersama. Mengenal kata remaja dengan sendirinya. Saling berbagi mengisi kesepian, mengakar dimasing-masing tubuh dan hati. Mengerti akan jalur hidup yang menyedihkan, tak membuat mereka goyah. Saling menguatkan, saling menopang, saling percaya.

.

.

.


"Sasuke,, lagi-lagi kau memotongnya asal!" Naruto melirik kemarahan Hinata, sedang dirinya tengah mengaduk-aduk sup dalam panci. Terkekeh geli melihat raut wajah Sasuke yang merengut sedih karena dimarahi.

"Jangan menertawaiku, dobe."

"Jangan terlalu percaya diri, teme. Hahaha. Sana, urus tomatmu dengan benar." Sasuke mendengus. Diam-diam Hinata menarik sudut bibirnya keatas. Akhirnya kedua pemuda itu saling melempar ejekannya kembali. Serasa sudah lama sekali Hinata tak menemukan kejadian seperti ini.

"Ne, Hinata. Kami minta hadiah kami karena membantumu membuatkan makan malam."

"Huh?"

.

.

.

"Ne- Hinata, kami meminta hadiah kami karena membantumu membuatkan makan malam."

"E-eh? Tapi- t-tapi kan, kalian yang m- "

"Kami hanya minta ini."

.

.

.

CUPH!

Hinata membuka kembali kedua matanya yang semula terpejam, menerima dua kecupan disisi kiri dan kanan pipinya. Ia tak menolak, ia tak berontak. Rasanya memang terlalu ekstrim menerima perlakuan seperti ini, mengingat usia mereka telah menginjak angka 17 tahun. Tentunya mereka telah mengenal batas mana yang tak boleh dilewati. Namun apa daya, mengenang satu buah memeori saja efeknya bisa begitu dahsyat. Lihatlah dua pemuda itu kini menorehkan senyum bangganya.

"Hinata, kurasa supnya sudah matang." Hinata meraih uluran sendok Naruto untuk mencicipi. Mulai menyeruput kuah setelah meniupnya sedikit. Menyecapnya sambil berpikir.

"Hmh. Kurang garam sedikit, Naruto. Kemarikan garamnya." Gesit Naruto menyodorkan garam dalam toples. Terus mengamati kegiatan Hinata yang menerka-nerka, begitu juga dengan Sasuke.

Mulai mengaduk sup serta sekali lagi menyesap kuahnya .

"Yosh! Sempurna."

"Aku ingin mencobanya."

"Aku pun." Hinata mendengus. Dengan sabar, menyuapi masing-masing satu sendok kuah sup. Nampaknya tak ada masalah, semua mengangguk setuju dengan rasa yang Hinata buat."

"Enak."

"Hm." Ujar Sasuke menambahkan.

"Sasuke, tolong angkat."

"Hn." Sasuke siap dengan dua sarung tangan mengangkat kedua sisi gagang panci. Membawa sup tersebut keatas meja makan. Naruto menyusul bersama Hinata dengan membawa serta beberapa menu pelengkap.

"Huaaa sugoiii!" Naruto menjilat ludahnya sendiri. Makanan yang tersaji terlalu menggugah selera. Segera melepas apronnya, diikuti Hinata dan Sasuke. "Mari makan!"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : minna. Ini pair sudah saya tekankan bahkan di summary. NaruHinaSasu. Dan porsi penampilan dalam fic 55% untuk SasuHina dan 45% untuk NaruHina. Pasti akan ada saja adegan kedua pairing itu di fic ini. Saya gak tahu endingnya bakal naruhina atau Sasuhina, karena ini barusaja dimulai. kalau kemarin condong pada Sasuhina di chap keli ini mungkin lebih banyak naruhinanya. hhe-

Yosh! saya gak mau adanya perang pair disini. Karena saya tahu, baik Naruhina maupun Sasuhina cinta damai bukan? Minna, saya mohon pengertiannya sekalian. Demi Hime kita tercinta..

Arigatou gozaimasu!