'CAUSE YOU
Desclaimer Masashi Kishimoto
M
AU, Typo (s), OOC AKUT
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
.
.
.
-FIVE-
Persisnya sebelas tahun lalu...
Meski pemalu dan suka menyendiri, banyak yang mau mengenalku. Banyak yang mau berbagi waktunya padaku. Mereka tak mempermasalahkan sikapku yang tertutup. Mereka tak peduli pada diriku yang suka bersembunyi dari keramaian. Mereka mengertikanku apa adanya karena inilah diriku. Inilah aku. Aku hanyalah bocah biasa dengan nama yang sederhana~
"Hinata! Kami ingin berkunjung ke rumahmu. Boleh?"
"T-tentu saja..."
"Yeay...!"
Selamat datang waktu..
Tak kutahu, hari itu Tuhan tengah menyalamiku dengan kenyataan...
Ada Seki, Tanaka, dan Ryouta. Kami berempat saling bergandeng tangan memasuki gang rumahku. Bernyanyi-nyanyi kecil. Semua lagu yang kami semua tahu lirik serta nadanya. Tak ada yang mendahului, kami seirama dan serasa. Namun kadang pula Seki lupa beberapa kata hingga kami tertawa bersama.
Masuk sedikit, maka rumahku akan terlihat. Rumah sederhana bercat biru muda. Ada banyak bunga yang ditanam Kaa-san disana. Ah- betapa indahnya. Aku selalu betah menatap taman yang Kaa-san buat sendiri. Warna warni yang tertata dengan cantik. Bukan hanya aku yang mengaguminya. Bahkan tak sedikit tetangga memuji keahlian kaa-san yang satu itu.
"Hinata, itu mobil siapa?"
"M-mobil?"aku sadar, dipekarangan rumah ada sebuah mobil. Mobil? Sangat jarang sekali sebuah mobil masuk kedaerah ini. belum lagi yang se-mengkilap dan se-mewah itu. Diliputi berjuta tanya, kakiku bergerak sendiri. Tak sadar, kulepas kedua genggaman dimasing-masing lengan. Aku tahu mereka diam saja dengan tingkahku. Lebih kepada mengamati.
Meski aneh, namun rasanya ada yang mengganjal. Sebuah rasa sesak dan tidak enak. Gelisah dan cemas mendesak pelipisku berkeringat dingin.
"PERGI!"
"Dimana, Hinata! DIMANA!"kudengar suara-suara serak teriak itu makin menyentak telinga seiring langkahku yang mendekat. Gejolak debar jantungku menyundul permukaan, kutekan dengan takut-takut.
Tuhan, kudengar Kaa-san menangis.
Tuhan, kudengar Kaa-san berteriak.
Tuhan, kudengar Kaa-san kesakitan.
Katakan siapa yang datang itu, Tuhan...
Kenapa ia melukai Kaa-san...
Kuintip celah pintu yang terbuka. Kutatap lama situasi yang terjadi. Banyak perabotan rumah yang jatuh berserakan. Pecahan benda-benda kaca yang Kaa-san koleksi. Kubulatkan mata menatap seorang pria menjulang mencengram rambut Kaa-san yang indah. Menariknya kasar hingga biji mataku makin membulat, menemukan beberapa helaiannya tercecar ke lantai.
"KATAKAN! DIMANA HINATA, HIKARU!"
"Untuk, apa! Untuk apa kau mencarinya? Huh? Ia milikku!" ringis Kaa-san berusaha melepas cengkraman yang ada.
"Ia juga milikku!"
"Bukankah kau bisa mendapatkannya lagi dari wanita itu! Jawab aku, Hiashi!"
Tuhan, boleh kukatakan suara Kaa-san seolah akan habis?
"Cih! Aku sudah bercerai dengannya."
"..."diantara keheningan yang mereka buat, kutekadkan membuka pintu yang sebenarnya telah terbuka membuat celah.
"K-kaa-san...?"
"!"
Aku berdiri mematung ketika sorot mata pria itu nampak menyelidik menemukanku dihadapannya. Dengan gerakan lemah ia melepaskan cengkraman rambut Kaa-san. Berjalan kearahku dengan gerakan pasti.
"JANGAN KAU SENTUH DIA, HIASHI!"
"Hinata.. Kau Hinata?"guratan wajahnya berubah lembut. Bahkan ia menarik kedua sudut bibirnya keatas. Aku terpana untuk beberapa saat. Seakan aku menatap senyumku sendiri. Garis lengkung bibir itu begitu sama dengan yang kumiliki.
Rambutnya yang panjang diikat dengan rapi. Aroma tubuhnya kuat namun hangat dan menyenangkan. Kutatap terus ia, sambil mendongak. Kuremas tali tas gendongku karena ada getar disana.
"K-kenapa paman menyakiti K-kaa-san..."
"Hinata aku ini-"
"Jangan dengarkan dia, Hinata!"
"DIAM KAU! Hinata, aku ini Tou-"
"HIASHI!"
"K-kau bukan Tou-sama..."
"..."
"..."
"K-Kaa-san bilang, Tou-sama begitu lembut dan penyayang. K-kaa-san bilang, Tou-sama begitu perhatian bahkan menunggu kelahiranku. K-kaa-san bilang, Tou-sama tak pernah berteriak karena begitu t-tenang.. Kaa-san bilang, Tou-sama.."
"T-tou-sama sudah tidak ada..."kulihat ia tersentak bahkan memundurkan selangkah tubuhnya kebelakang. Kulihat ia menunduk menutupi sisi wajahnya yang berair mata. Apa pria itu menangis?
Tuhan, meski kusangkal namun aku yakin sekali ia ayahku. Kami tidak mirip memang, namun rasa ini terlalu mengganggu. Sorot mata itu menyiksa hatiku. Tuhan, jika tak kulihat ia menyakiti Kaa-san, pasti aku sudah berlari memeluknya.
"Hikaru- kau membesarkannya dengan terlalu baik.." ujarnya lirih. Aku tak mengerti.
"..."
"Tapi denganku, kuyakin anak itu akan jauh lebih baik. Kehidupannya akan jauh lebih layak. Bersiaplah. Nikmati waktumu dengannya. Jangan terkejut jika kau temukan ia hilang begitu saja..."
.
.
.
.
Pindah. Jauh. Bersembunyi.
Uchiha Sasuke. Hyuuga Hinata. Naruto Uzumaki.
.
.
.
.
"Biar kubantu." Hinata melirik Sasuke yang kini juga telah berbalutkan sarung tangan khusus untuk mencuci piring. Tak peduli pada ekspresi terkejut sekaligus penolakan yang gadis itu tujukkan. Menghela napas, Hinata mengangguk angguk setelahnya. Jika Sasuke yang membalur busa pada cucian kotor, gantian Hinata yang yang membilas. Sesekali pemuda itu jahil menempelkan busanya pada lengan Hinata. Namun yang membuatnya lucu adalah, ia melakukannya dengan raut datar bagai robot. Kaku seakan terkontrol dengan sendirinya. Mau tak mau tentu saja Hinata harus menggeleng sambil menahan tawanya. Sesekali juga membalas perbuatan Sasuke.
"Kau setuju dengan rencana Naruto?"
"Hm?"
"..."
"Ah- aku memang sudah begitu lama tak mengunjungi kediamanku yang dulu. Kalau begitu, aku juga bertanya padamu, kau setuju dengan rencana Naruto?"
"Tentu. Nii-san pasti akan senang.." Hinata melirik Sasuke, kembali mengangguk. Lemah. "Tapi- aku mengkhawatirkanmu, Hinata.."
"Naruto pasti punya niat baik untuk ini semua.." Hinata tersenyum lebar, menatap lurus kedepan. Ada sebuah jendela yang terkunci namun tirainya belum tertutup, selagi mencuci piring, kita juga bisa sekaligus melihat pekarangan rumah Naruto yang luas dan ditanami berbagai pohon dan bunga.
"Hinata?"
"Hm?" amethyst itu melebar. Sasuke menekan lembut bibirnya di atas bibir Hinata. Cukup lama hingga lidahnya mulai menelusuri permukaan. Memiringkan kepala demi melahapnya lebih jauh. Sensasi bibir Hinata memang luar biasa. Ranum, merekah- dengan segala kegilaan aroma mint yang menguar manis. Sasuke tak menuntut lebih. Hanya ciuman lembut namun penuh penghayatan.
"!"
"Ternyata- memang rasanya, telah jauh berbeda."Sasuke meninggalkan Hinata yang melongo parah. Bahkan gadis itu lupa bagaimana caranya berkedip. Apa katanya? Sasuke berkata seolah ia pernah mencicipi bibir Hinata. Sungguh, Hinata bukan si pikun yang akan melupakan kejadian semacam itu. Jadi ia yakin betul ini kali pertama Sasuke menciumnya. Tapi- dari pernyataannya tadi..
"Hoi!" Hinata berjengit bahkan reflek menampar pipi Naruto. "Agh~! Betapa teganya dirimu, Hinata!"
"Kau mengagetkanku, bodoh!" Naruto meringisi pipinya menelisik Hinata yang terengah tiba-tiba.
"Biasanya, orang kaget sampai segitunya, berarti tengah melakukan sesuatu yang tidak benar- hm? Apa yang kau lakukan..."sengaja Naruto berbisik meniup-niup kecil telinga kanan Hinata. Jahil.
"Jangan berlagak seolah-olah kau seorang dukun, Naruto." Hinata mendengus. Melepas sarung tangannya agak kasar, lantas menggantung benda itu disamping yang Sasuke pakai tadi. Meninggalkan Naruto yang mengepal kuat. Memorinya jelas telah merekam apa yang gadis itu lakukan bersama Sasuke tadi. Semua nyata, tak ada unsur kesalahpahaman, semisal ada debu masuk ke mata. .
Hinata menggigiti ujung pensilnya dengan kerutan di dahi. Sesekali menggaruk pipi atau puncak kepala. Berpikir keras. Tak jarang juga kedua tungkai kakinya berpindah-pindah posisi. Kadang menyilang. Kadang melebar. Kadang menutup. Kadang menyila keatas kursi.
"Gezz- menyebalkan sekali.."
Lebih tepatnya Sasuke yang menyebalkan!
"Perlu bantuan?"
"!" Hinata tahu ia sempat terlonjak tadi. Namun segera ditahannya untuk tak mengeluarkan pekikan. Tanpa menoleh- masih tetap fokus pada deretan angka, didorongnya kepala Naruto dari sisi cuping kanan. Bisikkan tadi tentu saja mengganggu.
"Lebih bodoh mana, kau dan aku.."
"Kejamnya.."
"Naruto. Kusarankan kau kembali ke kamarmu. Tak lama lagi Sasuke pasti akan kemari, sadar kau menghilang."
"Tapi aku ingin menidurimu.."
"CIH!" Naruto terkekeh geli. Jahil kembali menurunkan tubuhnya, membungkuk- mengendus telinga Hinata sampai akhirnya menyesap dan menggigiti. "Hentikan, Naruto!" pemuda itu tak tinggal diam. Segera ia menangkap tubuh Hinata. Menutup seluruh rontaan kasar yang gadis itu tujukkan. Berhubung tubuhnya yang tinggi besar, ia dengan mudah menaklukkan Hinata. Bahkan menghentikkan histeris suaranya dengan bekapan.
"Kau mengganggunya, dobe.." Naruto melepas hisapan. Berbalik, mengagungkan smirk nya.
"Siapa yang sebenarnya pengganggu disini?"
"..."
"..."
"Tak ada satupun dari kalian yang tidak menggangguku." Sasuke dan Naruto melongo menemukan Hinata bangkit dari kursi membawa serta ponselnya. Nampaknya gadis itu tengah menerima satu panggilan hingga menjauhi keduanya.
"Hey. Kau mau kemana, Hinata. Hey!"
"Urusai, Naruto..." Naruto mendengus, sedang Sasuke meliriknya tak suka- masih pada posisinya yang menyender pada daun pintu sambil bersidekap.
.
.
.
.
.
"Ah- tawaranmu benar-benar tepat waktu, Tenten. Aku akan kesana."
"..."
"Ya. Tidak masalah. Ini masih pukul sembilan. Aku masih bisa berkendara dengan bebas." Liriknya pada jam dinding.
"..."
"Baiklah. Bye."
"Kau mau kemana?"
"Bukan urusanmu, Sasuke." Menggeretakkan gigi, secepat kilat Sasuke menarik Hinata untuk segera menghentikkan langkahnya. Mencengkram lengan itu kuat. Menatap Hinata tajam sekaligus dingin.
"Aku kemari karena kau ada disini. Aku kemari karena takkan kubiarkan Naruto menyentuhmu."
"..."
"..."
"Berhenti me-"
"Kalau kau membandingkanku dengan Naruto karena masa lalu, berarti kelakuanmu ini benar-benar salah..."
"Masa la-"
"Aku-yang-menyelamatkanmu."
"A-apa?"
Sasuke melempar berkas yang sedari tadi digenggamnya. Ia sudah tidak peduli. Itachi bahkan tersentak menemukan adiknya bisa berbuat demikian. Dalam hening ruang berAC yang tenang dan senyap, Itachi menatap Sasuke lama- sedang anak laki-laki itu mengalihkan wajahnya kesisi jendela besar yang mengibas tirai akibat hembusan angin lembut.
"Pergilah.."
"..."
Tanpa menunggu perintah yang kedua, segera Sasuke berlari meninggalkan ruang kerja Itachi. Pemuda tampan itu-Itachi- menghela napas dengan torehan senyum halus.
"Kau telah menemukan yang penting dalam hidupmu, Hm? Berjuanglah untuk menjaganya.."
.
.
.
.
"Naruto-kun pasti kesakitan lagi.." Hinata dengan sabar mengorek-ngorek batu. Memilah mana yang akan dibawa dan dimaksud Jiraya sensei. Tugas geografi. Katanya. Gaun selutut berwarna kuning cerahnya telah basah dibagian ujung. Tersapu aliran sungai yang mengalir dengan cukup tenang. Rambutnyapun demikian sama nasibnya. Faktor membungkuk. Lagi- tak ada Sasuke, tak ada yang membantunya mengikat.
"A-apa Naruto-kun baik-baik saja..?" harusnya ia mencari batu dengan Naruto. Harusnya ia sekarang bersama anak lelaki bersurai kuning itu. Namun nyatanya yang terjadi, ayah pemuda itu datang dan merusak semua kesenangan yang ada. Menarik Naruto paksa untuk segera pulang tanpa tedeng aling-aling. Ah- jangan lupakan kekasaran pria itu.
Hinata juga tak bisa meminta Sasuke datang karena ia tahu si Emo tengah belajar bersama Itachi yang entah mengenai materi apa- Hinata tak tahu menahu.
"Ah- ketemu. Ini untuk Sasu- KYA!" Hinata tergelincir batu. Jatuh dengan posisi telentang yang otomatis mengakibatkan kepalanya terhantam batu yang lain.
"Aku yang membawamu ketepian! Aku yang menungguimu disana, namun kau tak kunjung sadar. Aku meninggalkan Itachi-nii karena tahu kau akan ke sungai seorang diri!" Sasuke berujar berapi-api. Terengah dengan bola matanya yang bergerak-gerak cepat.
"Tapi Naruto- "
"Ia mengambil posisiku! Ia menggantikanku!"
"Naruto bilang-" Hinata masih saja menggeleng. Lemah tak percaya. Baru ia akan berbalik, si pirang datang dengan wajahnya yang berubah bingung menemukan atmosfir aneh.
"!"
"Hinata?"
"..."
"..."
"Naruto, kau bohong padaku?"
"A-apa?"
"Yang menyelamatkanku dulu- Sasuke-k-kun...?" Naruto serasa hatinya ngilu. Ketakutan serta debaran jantungnya begitu nyeri. Hinata paling benci pada pembohong- sekecil apapun kebohongan yang dibuat.
"Hinata, ini tak seperti-"
"Aku paling benci, seorang pembohong!" potong Hinata menahan hentakan suaranya yang keras. "Tentu kau tahu betul soal itu..."
"Hinata-"
" Tou-san membohongiku, Naruto! Ia tak pernah mati bahkan hingga detik ini. Kaa-san membohongiku, dengan janjinya untuk terus bersamaku! Seki, Tanaka, dan Ryouta. Mereka berbohong untuk menjadi temanku selamanya...~! Kenapa semua senang membohongiku..."
.
.
.
.
TBC
CERITA HINATA AKAN TERUS BERLANJUT.
Arigatou minna.. untuk yang menunggu dan ingat mengenai cerita tertunda ini. Author sedang tertimbun waktu ini dan itu *curcol.
I lop yu pul minna! Ehe-
