'CAUSE YOU
Desclaimer Masashi Kishimoto
M
AU, Typo (s), OOC AKUT
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
.
.
.
-SIX-
Tuhan,
Hanya kepada cinta aku berlutut..
Hanya kepada hati aku berendam tangis..
.
.
.
.
" Lepaskan , aku!"
Gadis itu reflek berbalik sambil menaikkan kedua lengannya keatas. Menghindari arah cengkram Naruto yang justru mengudara. Pelan mundur dengan riak air matanya yang mulai tak lagi tertampung. Berulang kali ia menatap Naruto dan Sasuke bergantian. Luka dan kecewa dirasanya tanpa ampun.
Titik-titik hujan membasahi bumi. Mulai deras seiring waktu. Hinata menyisir rambutnya yang menghalangi, kebelakang. Mengusap wajahnya yang basah dengan isak yang coba ditahan.
"Kenapa baru sekarang..." bisiknya serak.
Sasuke menunduk. Tahu akan kata-kata Hinata bermaksud padanya. Merasa tak mendapatkan jawaban, Hinata makin memundurkan dirinya dan berbalik pergi. Naruto baru akan menyusul ketika bahunya tercengkram kuat.
"..."
"..." tanpa sepatah katapun mereka sadar. Inilah waktu dimana Hinata harus menenangkan diri.
.
.
.
Hentak suara heals nya menggema di lorong. Semua terpana. Semua takjub tak berkedip. Pakaian super minim gemerlap berwarna hitamnya, menerawang hampir polos. Belahan payudaranya yang menggiurkan, paha mulusnya yang menggoda, perut ramping dan datar, kaki jenjang tak bernoda, bibir seksi berpoles lipstik pucat, garis mata yang dibuat tajam serta kuat, softlense bening, tak lupa helai rambutnya yang tergerai dibuat agak bergelombang diujung.
Semua terlihat- mahal...
"Terima kasih untuk pakaiannya, Tenten. Kau selalu tahu seleraku."
"Tentu."
Tenten pun tak kalah saing. Ia dengan segala keseksiannya, nampak tak tanggung-tanggung untuk diperlihatkan. Semua hampir terekspos sempurna. Jauh lebih berani.
"Let's play, honey.."
"Hn."
Hinata tersenyum miring. Ia memang butuh semua keremangan malam ini. Ia butuh pelampiasan mengenai sakit hatinya.
Memasuki klub lebih dalam lagi, tak sedikit yang mencuri pandang ke arah Hinata. Menggoda merayu, minta ditemani. Satu yang Hinata lakukan untuk sekedar menanggapi. Smirk.
Melangkah anggun dan pasti ke arah meja bar. Menaiki salah satu kursi tinggi yang tersedia. Memesan vodka sambil sesekali melirik suasana klub yang penuh dan sesak. Semua asik berdansa. Senggol sana senggol sini, acuh tak peduli. Entah itu sengaja, maupun ada niatan didalamnya. Tenten ada diantaranya. Gadis cepol China itu langsung dikerubungi banyak pria, tepat ketika langkah kakinya masuk bergabung. Hinata memperhatikannya sebentar lantas berbalik- berpangku dagu, menunggu minumannya datang.
"Sudah terlalu lama, Dj Hina tak kemari..."
"Hn. Aku bahkan tak ingat pernah kemari, Hidan.." pria itu terkekeh geli mendengar candaan Hinata yang menyakitkan. Meletakkan pesanan gadis itu dengan satu kedipan jahil dan menggoda.
"Seperti biasa, kau nampak- begitu lezat.."
"CIH!"
"Ahahaha. Selalu kau, yang berhasil menolak rayuanku."
"Hey, pak tua! Sadari umurmu itu!"
"Ssttt.. tak kan ada yang percaya omonganmu itu, sayang.." Hinata menatap Hidan sambil menaikkan sebelah alisnya. Ada kerutan kesal disana. Jelas, karena pria itu dengan berani menempelkan jempolnya di bibir Hinata. Mencuri-curi kesempatan.
"Ehhem! Bisa lepaskan benda menjijikkan ini, tuan?"
"Ah- kesengajaanku..." Hidan menarik jempolnya kembali. Mengecup mesra serta mengulumnya berlebihan.
"Kau- menjijikkan.."
"Tapi banyak yang mengantri serta memujaku, sayang..'
"CIH!" Hinata tak lagi menanggapi Hidan, karena pria itu sendiri mulai sibuk melayani pesanan lain. Namun tak sekali dua kali Hidan memberi kode, entah kecupan, kedipan, wajah keenakkan, jilatan bibir, dan- lain sebagainya. Hinata cukup terhibur hingga kekehan gelinya tak sadar menyertai. Mulai menyesap minumannya dengan gerakkan sensual.
"I-itu, DJ Hina..."
"Maksudmu, DJ yang itu?" Hinata terganggu. Agak menyentak gelasnya keatas meja, gadis itu berbalik menatap dua gadis 'SOK SEKSI' dibelakang sana.
"Hooo- lihat siapa ini. Disc jockey ku yang tercinta, hm? Sudah lama sekali aku tak melihatmu, sayang..." amarahnya menguap. Ia kedapatan dua orang rupawan. Satu diantaranya hampir sebaya, Gaara Sabaku. Ia cukup tahu pemuda merah itu, karena sering melihatnya selama di klub. Dulu. Seorang penakluk wanita, katanya. Entah sudah berapa wanita yang berhasil menemukan tubuh Gaara terekspos sepenuhnya. Satu lagi, Jiraya. Selaku pemilik klub. Pria yang menyapa sekaligus memberi satu kecupan ringan di pipinya tadi.
"Yo! Bermainlah untuk kami,sayang. Gelar DJ terfavorit masih ada padamu. Ah- dan folder rahasiamu masih tersimpan disana."
"Hn. Jika anda memaksa... Jiraya-sama."
"Jawabanmu selalu menyenangkan hatiku, sayang..." Hinata mendengus geli. Turun dari kursinya, diekori mata Gaara yang menatapnya menilai dan ingin tahu.
"Kau ingat, DJ Hina- Gaara?"
"Tentu. Wajah secantik dan tubuh semenawan itu tak kan kulupa..."
"Hmh.. kau benar."
Sepanjang langkahnya yang mempesona, Hinata dijadikan sorotan lampu. Semua menatapnya ingin tahu. Tak sedikit yang terpekik, terkejut. Menunjuk-nunjuk Hinata dengan tatapan berbinar.
"Itu DJ Hina.. astaga! Ia kembali!"
Satu suara disambut sejuta kemeriahan. Semua bersorak mengagungkan namanya. Menyambut kedatangannya dengan antusias.
Dan ia sampai juga dihadapan meja kuasanya. Menatap satu persatu sound system yang telah lama ia tinggali sambil mengenakan satu buah headphone . Ada CD Decks (CD Player), Turntable, DJ Mixer, Perangkat Komputer, dan Serato Scratch Live DVS. Lihai mencari-cari folder yang tertutup rapat didalam laptop. Beberapa musik disimpannya disana. Hasil olah mencampur-campur adukkan aliran. Genre Musik yang Hinata anut sendiri adalah Trance dan House music. Namun, mengenal namanya- Hinata lebih terkenal pada aliran Trance.
Trance berarti suatu keadaan ketika di alam bawah sadar. Sesuai namanya, musik trance ini mampu menghipnotis, menyalurkan perasaan sedih dan senang dengan begitu baik. Sensasi emosional ini tercipta melalui kombinasi berbagai ritme dan layer musik, dengan melodi dan vokal yang repetitif. Ah- jangan lupakan alurnya yang naik turun. Tak tanggung-tanggung Hinata sendiri mengambil gaya bermusik seorang pe DJ aliran Trance handal asal Hamburg- Jerman, Neelix. Tidak sepenuhnya- hanya saja sebagian besar inspirasinya berasal dari sana.
"Night, Minna! DJ Hina disini!"
Penonton makin antusias. Tak sanggup menahan gelora panas di tubuh. Aliran darah Hinata terpacu mendengar seruan hebat sebagai sahutan. Senyumnya mengembang. Mekar, merekah. Terus berkumandang dengan microphone yang tersedia.
"Siapa yang akan tidur malam ini!?" kali ini semua penonton menolak mentah-mentah. Siapa juga yang akan melelapkan diri dengan hentakan musik yang akan didengar nanti. Terlalu membuang-buang waktu.
"So. Keep calm and listen. Shake your body, guys..!" Hinata bersiap. Setelan lagu yang dipilihnya telah menggaung. Intro dengan tempo lambat. Makin cepat dan semakin cepat. Para pengunjung memejamkan mata, mengikuti alunan serta alurnya yang naik turun. Bergoyang, berteriak keasikkan.
Makin menggila dan terus menggila. Hinata menarik sudut bibirnya keatas. Ada rasa bangga, tahu semua menyukai hasil kerjanya. Ikut bergoyang sambil sesekali menari-narikan jemarinya diatas turntable.
"Enjoy, Tonight!"
.
.
.
.
Yang Hinata tahu, sang ibu telah tiada. Dimana-mana ada kobaran api yang belum padam sepenuhnya. banyak mobil pemadam kebakaran dengan sirinenya yang memekakkan telinga. Hinata berdiri dengan tubuh berbalutkan pakaiannya yang telah kering. Memandang kejadian naas tersebut tanpa berkedip.
"Kaa-san!"
.
.
.
"Kaa-san... kaa-san..." Hinata bergerak gelisah. Tubuhnya bergetar, mencengkram selimut tebal yang menutupi tubuh.
"Hinata? Hey, wake up- honey.."
"U-umh.."
"Hinata...?"
"T-tenten.." gadis cepol China itu tersenyum lemah. Sekarang pukul delapan pagi dan lihat, tak ada satupun dari mereka yang berganti pakaian. Kantung mata menghiasi keduanya. Bagai panda. Hinata bahkan menahan tawanya sejak sadar keadaan.
"Kau nampak buruk sekali, Tenten."
"Jangan mengejekku sebelum kau lihat sendiri rupamu sekarang..."
"Ahahaha. Aku yakin jauh labih baik darimu."
"Huh... terserah.."
"Kau ahaha-"
BRUKK!
Hinata masih mempertahankan tawanya. Bahkan mengeras, meski satu bantal telah menabraki wajahnya dua kali. Tak mau berhenti juga, kini gadis cantik itu berguling-guling diatas kasur. Ada kelegaan yang tak mampu dijelaskan. Melalui tawa ini, melalui semua ringan suaranya.
"Tenten, kau mau kemana?"
"Mandi."
"Kau marah?"
"Ya."
"Huh, aku tak tahu harus bagaimana membawamu kemari jika tak ada makhluk tampan itu.." Hinata tersedak roti isi. Buru-buru meraih gelas berisi air putihnya. Menenggak hingga tandas tak bersisa. Ia sadar, ia lupa satu hal yang TERAMAT penting.
"M-makhluk?"
"Gaara Sabaku."
"Gaara..?"
"Hn."
"M-membawaku?"
"Hn."
"..."
"Kau mabuk, Hinata! Baru kali ini aku melihatmu sampai seperti itu." Hinata menggaruk tengkuknya menghindari tatapan mematikan Tenten. Bukan apa-apa, hanya saja cara pandang Tenten terlalu menusuk. Seolah mengorek hati untuk berucap dengan sendirinya.
"Jangan memandangiku seperti itu, Tenten."
"AKU, memandangmu seperti biasa, Hinata. Hanya saja, kali ini memang ada yang salah. Kau-bersalah. Kau tersugesti oleh ulahmu sendiri."
"T-tidak.."
"Kalau begitu ceritakan. Sedepresi apakah masalahmu. Dan jangan kau pikir aku tak lihat bekas air mata ketika kau datang, malam tadi. Kau- menangis?"
"Tadi malam hujan, Tenten. Kau salah lihat.." elak Hinata, menyuap kembali sarapannya. Mengunyah pelan dan masih tak berani bersitatap dengan Tenten.
"Baiklah. Aku tak memaksa. Tapi paling tidak, yakinkan aku untuk tak terlalu mengkhawatirkanmu.." Hinata mendengus kesal. Menarik napasnya dalam sebelum angkat bicara.
"Everything is Fine. No matter. And Don't Worry about me."
"Meski kau bilang begitu, aku belum bisa tenang.."
"Agh! Terserah kau saja, Tenten.." erang Hinata frustasi.
.
.
.
.
Gadis cantik itu menatap satu persatu sayuran segar dengan sorot mengantuk. Ia baru tidur empat jam, dan benar-benar membutuhkan kasur sekarang. Dalam hati agak menggerutu karena Tenten justru tengah bermimpi lagi sekarang. Salahkan status penumpangnya.
"Huh.. rasanya aku bisa pingsan, jika terus begini.." Hinata memegangi kepalanya yang terasa berat. Menguap sekali, mengerang setelahnya. "Agh.. pusing..."
GRAB
"Aku akan menunda pertanyaan, tapi tak ada penolakkan. Ikut aku, Hinata."
"S-Sasuke?"
.
.
.
.
Tenten, mau tahu apa masalahku?
Aku- a-aku mencintai pemuda yang salah selama ini...
"Biar aku yang menemaninya, Sasuke..."pemuda emo itu menoleh pada Naruto. Sudah terlalu biasa menemukan Naruto yang babak belur. Lihatlah, segala lebam disekitar wajah dan goresan luka disudut bibirnya.
"Kenapa aku yang harus pergi?"
"Hinata akan jauh lebih aman bersamaku. Setidaknya aku tak pernah menjanjikannya sesuatu hal yang tak bisa ditepati seperti dirimu."
"Tapi Hinata tahu aku akan belajar bersama Itachi!"bela Sasuke menaikkan suaranya,
"Sadar, Sasuke! Hinata mengharapkan kehadiranmu."
"Ya lalu, aku sekarang disini!"
"Akan jauh lebih baik jika kau benar-benar tidak datang. Jangan menggantungkan hatinya."
.
.
.
.
Sasuke bertopang dagu. Ada kerutan kesal karena gadis itu justru melelapkan diri dihadapannya. Lihatlah air liur bahkan menetes sempurna. Sasuke dengan lembut menarik sweeter Hinata yang turun. Bukan apa-apa, gadis itu hanya mengenakkan tank top dibaliknya. Tentu ia sadar betul sejak tadi ada saja yang mencuri pandang kearah mereka. Tepatnya kearah kulit Hinata yang putih bersih.
"Hinata, aku tebak semalam kau berada di klub malam itu 'kan?"
"..."
"Maaf.." pelan Sasuke mengusap helai rambut Hinata yang agak kusut. Ada kasih sayang disana. Semua pengunjung kafe yang melihatpun bisa tahu. Terlalu jelas.
Sasuke tak peduli. Ia hanya ingin menyentuh rasa sakit gadis itu sekarang. Membelai tangis yang jatuh semalam. Merengkuh getar tubuhnya yang menyakitkan.
"Aku tak tahu harus bagaimana lagi menahan perasaan ini. Rasanya aku ingin mengikatmu. Benar-benar mengikatmu." Bisik Sasuke tanpa sadar.
.
.
.
.
.
TBC
Aku menyukai Naruto
Karena ia penyelamatku.
A/N:
Holla minna! Hua- up kali ini termasuk cepet yah? Ya ya ya? Tapi wordnya- ehhem, mohon dimaklumi.. author lagi ketiban masalah. namanya juga manusia. *GakAdaYangNanya
Yosh, kali ini Nono hanya ingin memperjelas status BITTER. Belum ada kepastian kapan di up, masih sibuk mengatasi kekacauan alur yang ada. Hey! Apa gak ada yang sadar kalo fic itu alurnya berantakkan, bertabrakkan dan lain sebagainya? Ahahahaha*miris . termasuk untuk khususnya disini, salah satu penyemangatku- DE CHAN-Gomen ne, belum bisa dilanjut... Nee masih kurang yakin... hihi *watados
Yo! Itu aja, chap kali ini semoga kalian suka. Tak lupa mengucpkan terimaaaaaa kasih untuk semua dukungan. dan OH IYA! Gaara cuma selingan aja ko ^^Nono pamit..
Salam ketjup
nononyan
