'CAUSE YOU
Desclaimer Masashi Kishimoto
M
AU, Typo (s), OOC AKUT
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
.
.
.
-SEVEN-
Naruto diam menyaksikan apa yang terjadi. Raut wajah pilu dengan kepalan kuat meninju sesaknya hati. Ngilu. Tak ada yang bisa ia lakukan karena pada kenyataannya Hinata dalam keadaan menjauh serta patut dijauhi. Ada benang tipis yang sengaja Naruto ulur namun tak kan pernah diputusnya. Bukan, Naruto menyangkal jika ini CINTA. Karena pada dasarnya ini lebih dari itu. Rasa butuh pada sosok gadis indigo bernama Hyuuga Hinata.
Hyuuga Hinata.
Hanya Hyuuga Hinata yang Naruto punya. Mengertinya bagai Tuhan.
Berlebihan?
.
.
.
Sasuke, Hinata, Naruto. Ketiganya melangkah beriringan. Memadu satu tawa bersama. Satu rasa bahagia yang serupa. Hinata mengeratkan pegangan kedua telapak tangan berbeda pemilik. Tersenyum lebar dengan rona merahnya yang manis dan menggemaskan. Umurnya 14 tahun saat itu.
"Hinata-chan?"
"Ya?"
"Mau temani aku bertemu Kaa-san?" Hinata nampak gelisah seketika. Diliriknya Sasuke yang menatapnya lantas mengangguk mengerti. Hinata balas tersenyum. Naruto yang tahu ada udang dibalik batu, menyipit curiga. Resah hinggap. Ada apa sebenarnya.
Adakah yang ia lewatkan?
Hey, Naruto jelas tak suka keadaan seperti ini. Terkucilkan.
"Hinata?"
"Ah- umh, tentu Naruto-kun."
"Aku tak kan memaksamu jika ada rencana lain.."
"i-iie.. aku akan menemanimu." Naruto tersenyum miris. Hanya kepada Hinata ia lemah dan meminta. Hanya untuk secuil kasih yang teramat berarti. Betapa menderitanya. OH! Naruto bisa saja mengeluarkan sisi naifnya. Berkata untuk membatalkan ajakan tadi. Namun ini lain, berontak hatinya ingin melakukan tindak egoisme.
Naruto benci tapi- inilah yang ia mau..
"Naruto-kun.."
"Hm?"
"Pukul berapa?"
"Bersiap saja. Aku akan datang." Hinata mengangguk-anggukkan kepala.
"Aku mengerti," Hinata berhenti, menghadap Naruto dan Sasuke. Menatap lekat-lekat dua wajah yang dikasihinya dengan penuh cinta. Hinata, sungguh Hinata ingin menaungi dua anak kesepian didepannya. Ingin selalu mengukir sebuah kata atau makna bahwa semua baik-baik saja. semua selalu dalam keadaan aman. Meski sosok ayah sebagai pelindung tak parnah ada. Meski sosok seorang ibu telah tiada. Meski sosok kakak, saudara sedarah dan secinta hilang begitu saja tertelan kerasnya skenario yang Kuasa.
Hinata berjanji untuk selalu mengukir kebahagiaan Naruto dan Sasuke. Membagi dan terus belajar bagaimana menyalurkan perhatian hangat yang sesungguhnya.
Ia bukan seorang ibu, ia bukan seorang ayah, ia bukan juga seorang kakak laki-laki. Tapi TUHAN! Ijinkan ia menjadi seseorang yang berarti. Bagi dua adam kesepian ini..
"Akan kutunggu.." Naruto mengangguk dengan cengirannya yang khas. Berhubung jalur ke pemakaman umum kompleks mereka lebih dekat dari rumah Hinata, jadi setelah berganti pakaian, Naruto akan kembali mengambil jalur ini.
"Hey, Sasuke. Tunggu!" Hinata menatap sayu dua kawan terbaiknya. Entah kenapa, Hinata selalu suka keakraban Sasuke dan Naruto. Sepintas saling bermusuhan namun nyatanya? Ada yang erat dan tebal saling mengikat. Hinata percaya, selalu percaya- bahwa Sasuke dan Naruto merupakan takdir Tuhan untuk saling mengisi kekosongan diantara keduanya.
Dan Hinata-
Bagi Sasuke dan Naruto...
Hinata ialah wadah kekosongan mereka.
.
.
.
"Apa saja yang kau beli?" Hinata menghela napas lelah. Membiarkan Sasuke menumpukan dagunya diatas puncak kepala, membiarkan Sasuke menancap-nancapkan keruncingan dagunya disana ketika ia bicara.
"Sayuran." Balasnya ketus. Hinata benar-benar tak habis pikir dengan tingkah manja Sasuke sekarang. Mengejarnya keluar dari cafe, membuntutinya sampai ke parkiran dan kini, mencegahnya untuk naik kendaraan pribadi milik Tenten yang ia bawa. Sebuah mobil BMW keluaran- cukup lama.
"Umhh. Tak ada tomat untukku?"
"Tak ada tomat untuk seorang pembohong."
"Kau masih-"
"Aku-benci-seorang-pembohong." Sasuke meminggirkan tumpuannya. Agak menganga menahan sakit. Melepas kepergian Hinata dengan kecewa. Punggul kecil dengan sua bahu mungil mulai menjauh.
Haruskah ia membiarkan Hinata pergi begitu saja? meninggalkannya lagi dalam hampa berlapiskan kenyataan yang palsu? Tidak, Sasuke tak akan lagi sembunyi!
TIDAK AKAN!
Hinata baru memasukkan kepalanya sampai sebuah tarikan keras menyentak tubuh sintal yang ia punya untuk kembali keluar. Hinata terkejut? TIDAK! Tapi-
HINATA TERKEJUT BUKAN MAIN.
Sasuke mendorongnya kuat ke sisi mobil.
"Lihat dan biarkan aku melakukan ini. Setidaknya biasakan rasanya."
"H-huh?"
Sasuke maju memagut bibir pucat Hinata dengan gerakan pasti dan tergesa. Segera menyesap kuat-kuat apa yang ia damba dan impikan setiap menitnya. Gerakannya kian tak terkendali. Meski ada rontaan minta lepas. Meski serbuan tinju lumayan keras menghantam dada bidangnya Sasuke belum mau berhenti. Hinata harus tahu perasaannnya selama ini. Mau atau tidak.
"Sasu!"
GRAB
DUAGH!
"Ku umumkan bahwa mulai sekarang, kita musuh Uchiha Sasuke." Hinata membelalak hebat. Menatap Sasuke yang tersungkur jatuh dan Naruto yang terengah, secara bergantian. Bibir agak membengkaknya membuka sedikit.
"Naruto, kau-"
"Ikut, aku. Biar mobil ini kuurus nanti."
"Lepp-!"
"HINATA!" Hinata sempat tersentak kaget sampai memundurkan tubuhnya sedikit akan bentakan serta kerasnya cengkraman Naruto, namun dua detik setelahnya segera berontak lagi. Ia bukan benda dan ia tak kan mau ditarik secara kasar begini.
Tidak bisa diterima.
"Lepaskan dia, berengsek!" Hinata terpekik. Sasuke barusaja menarik kerah baju belakang Naruto secepat kilat. Dan sebuah layang tinju mendarat telak mengenai wajah si pemuda kuning.
"Ayo bertarung.." lirihnya menantang. Hey, jelas saja Naruto terpancing.
.
.
CAUSE YOU
.
.
Pipi Kiri Sasuke membiru. Pipi Kanan Naruto bernasib serupa. Pipi Kiri dan Kanan Hinata merah padam.
"Jangan harap aku akan diam." Hinata melenggang pergi. Menaiki mobilnya yang sedari tadi menunggu untuk ditumpangi. Lihat saja, pintunya terbuka lebar-lebar semenjak insiden tarikan paksa Sasuke dan Naruto barusan. Hinata mendelik menang kebelakang. Kedua belah pipinya masih memerah marah. Meninggalkan dua pemuda tampan meringis kesakitan. Kali kesekian Naruto dan Sasuke saling melirik pada perih tamparan di wajah masing-masing. Tahu dan sadar kesakitan mereka sama kadarnya.
"Urusan kita belum selesai, Dobe."
"Tentu saja, Teme. Aku belum membalas soal ciumanmu pada Hinata tadi."
"Ah- yayaya."
.
.
.
"Cantik." Hinata merona malu. Sudah tentu ia mendengar bisikkan tak sadar Naruto tadi. Telinganya masih sangat berfungsi.
"A-ayo kita berangkat, Naruto-kun."
"Tentu.." Hinata telah mengganti seragam sailor abu garis hitamnya dengan gaun hitam sepanjang pertengahan betis. Rambutnya ia ikat longgar dengan pita merah sebagai hiasan. Sederhana namun begitu manis dan lucu. tiba-tiba saja Naruto merasakan pipinya memanas tanpa alasan.
"Bunga itu- untuk ibuku?" Hinata mengangguk.
Ada sebuket bunga mawar putih. Hinata sengaja memetik beberapa tangkai dan dirangkainya dari taman Hikaru untuk ia bawa.
"Arigatou..."
"Um." Naruto menarik Hinata, menggenggam jemari mungil sang gadis dengan erat dan hati-hati. yah, satu kebiasan yang begitu manis. keduanya mengambil langkah seiringan. Naruto sengaja menyempitkan jarak kedua kakinya supaya kaki-kaki pendek Hinata mampu menyejari. Dan Hinata sengaja melebarkan sedikit kakinya untuk tak terlalu membebani cara Naruto melangkah yang biasa. Saling mengerti. Saling memahami.
Pelan Naruto melirik Hinata yang tersenyum sumringah menatap kedepan.
"Kau begitu berharga.."
"Hm?"
"Ah- t-tidak." Naruto gelagapan. Membuang wajahnya kesisi lain.
.
.
.
Sasuke melempar ponselnya ke sisi entah sebelah mana ranjang. Menyusul menjatuhkan tubuhnya lumayan keras. Ada bunyi helaan napas kasar sampai rasanya benar-benar keluar dari hati. Sasuke menutup wajahnya sebagian. Membayangkan lagi sepintas kejadian tadi. Tepatnya, diparkiran supermarket 24 jam. Tentang adegan ciuman itu dan- perkelahian hebatnya. Sungguh pertengkaran sekeras tadi baru sekali ini terjadi.
Semakin dewasa justru kian kekanakan.
"Dobe... akulah pahlawannya... yang pembohong itu kau." Sasuke bangkit, terduduk dengan posisi kepala menekuk suram. Mengamati telapak kaki berbalutkan sepasang sandal kain. Meremas sejumput rambut bagian depan, mencengkramnya pelan.'
.
.
.
"Hmm hmm hm hmm hmm..."
Senandung ringan dari salah satu karya Tuhan. Sasuke bersyukur memiliki satu. Tentu Sasuke bersyukur. Ah ralat- ia teramat bersyukur. Diliriknya Hinata yang menengadah pada langit sore yang teduh. Wajah tenang itu-
Agh- sulit menjelaskan kecantikan Hinata saat ini.
"Ada yang kau pikirkan?"
"Umh."
"Apa?"
"Naruto-kun.." Sasuke diam menerima belaian kasih Hinata di helai rambutnya yang mencuat. Otak dan matanya berpikir untuk sesaat.
"Di pemakaman tadi, Naruto-kun lagi-lagi menangis. Kenapa? Kenapa rasanya begitu sakit melihat Naruto-kun menangis? Apa yang bisa kulakukan untuk tak lagi melihatnya menangis, Sasuke-kun.." Sasuke bangkit dari posisi ternyamannya. ia mengerti keinginan Hinata . ia sangat tahu betapa Hinata menyayangi Naruto dan dirinya. Kedua lengannya terulur. Membiarkan Hinata menangisi nasib Naruto yang kesepian tanpa seorang ibu. Tubuh mungil dalam dekapannya bergetar. Hinata beberapa kali coba menahan dengan menggigiti jari jemarinya namun sadar tak kan berhasil.
"Naruto-kun merindukan ibunya, Sasuke-kun..."
"Aku mengerti.."
"Tidak, Sasuke-kun. Kita berdua tidak mengerti. Karena keluarga kita utuh..."
"Hmh. Kau benar. Aku- aku tak mengerti perasaan Naruto.."
Sore pukul lima. Hinata dan Sasuke pulang ke rumah masing-masing. Setelah bermain air sebentar di sebuah sungai yang entah apa namanya. Gaun Hitam yang masih Hinata kenakan basah kuyup dibagian ujungnya. Padahal niatan awal mereka ke sungai hanya untuk membersihakan wajah Hinata yang berbekas tangis. Tapi hancur ketika Sasuke menariknya turun dan bermain.
Tap tap tap
Orang-orang berlarian. Hinata bahkan kedapatan tubuhnya terdorong mulus dan akan jatuh kalau saja Sauske tak menangkpnya segera.
"Kebakarannya hebat.." Hinata yang mendengar seruan seorang penduduk kompleksnya mulai mempercepat langkah. Melepas pegangan Sasuke karena ia-merasa-takut-tanpa-kejelasan. Tiba-tiba saja tubuh Hinata serasa ringan. Mampu berlari cepat tanpa peduli jika ia menubruki orang-orang disepanjang jalannya.
"Hinata!" Sasuke berlari menyusul. Hinata berada jauh didepan. Tak satupun seruannya menghentikan tubuh mungil itu untuk berdam lebih dulu.
"Hinata!"
Kerumunan kian banyak dan menggerombol mengelilingi setiap inchi rumahnya. Rumah Hinata Hyuuga. Kaki-kaki Hinata lemas seketika.
.
.
.
Yang Hinata tahu, sang ibu telah tiada. Dimana-mana ada kobaran api yang belum padam sepenuhnya. banyak mobil pemadam kebakaran dengan sirinenya yang memekakkan telinga. Hinata berdiri dengan tubuh berbalutkan pakaiannya yang telah kering. Memandang kejadian naas tersebut tanpa berkedip.
"Kaa-san!"
.
.
.
.
TBC
