60 SHADES OF GUREN
DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA
STORY IS MINE
WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, YAOI, GAJE AND OTHERS.
(ps : Disini ceritanya Shinya itu anak dari bangsawan Hiragi, tapi yahh dia ga nganggap dirinya itu bangsawan kok, Shinya iitu rendah diri+rendah hati. Dia nganggap dirinya itu orang biasa. Shinya juga tetap anak angkat di cerita ini. Di cerita ini, Shinya itu kayak ga dipeduliin gitu sama keluarganya. Dan satu lagi! Disini pacarnya Shinya itu Mito~)
(pss : Mahiru masih hidup dan disini dia masih jadi pacar Guren)
Inspired by : 50 Shades Of Grey
…
STOOOP!
SAYA PENGANUT DLDR!
(DON'T LIKE DON'T READ~)
.
.
Shinya bertepuk tangan paling keras ketika Mito memenangkan perlombaan designernya. Yah, dari dulu Mito memang bercita-cita menjadi seorang designer dan setelah ini dia sah menjadi designer(ceritanya Mito kayak ngikutin perlombaan perancang busana gitu). Tapi yang di herankan kenapa anak dari salah seorang bangsawan malah menjadi designer? Itu karena Mito memilih untuk hidup mandiri. Dia tidak mau dia cap sebagai anak yang tidak mandiri, hanya karena dia seorang anak bangsawan dari keluarga Jujo. Lagi pula ini memanglah impiannya dari kecil.
Shinya berdiri di barisan paling depan, sedangkan Guren memilih untuk berada di barisan paling belakang. Sangat tidak lucu jika seorang pimpinan perusahaan seperti Guren menonton perlombaan seperti ini. Dan dari gerak-gerik Shinya, ia tau bahwa gadis itu adalah kekasih Shinya.
"Ichinose-san?" Celetuk seseorang disamping Guren.
Guren menoleh kepada orang yang baru saja memanggil nama belakangnya. Ia langsung memasang wajah datar nan dingin kepada siapapun, kecuali Shinya.
Sekarang ia berhadapan dengan pria berambut blonde yang sepertinya…kalau ia tidak salah adalah salah satu anak bangsawan juga. Pria itu mengenakan kaos berlengan panjang berwarna navy, juga celana panjang berwarna abu-abu.
"Ya?" Guren berdehem pelan.
"Goshi. Norito Goshi." Ucap Goshi sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Sudah kuduga dia memang salah satu anak bangsawan juga." Batin Guren.
Guren menjabatnya singkat, kemudian menatap kearah panggung lagi. Lebih tepatnya ia mencari keberadaan orang tersayang—eh maksudnya orang kepercayaannya. Tapi yang ia lihat justru seorang gadis berambut merah tengah menarik paksa Shinya ke belakang panggung.
Seketika ia merasa ada yang tidak beres, ia takut Mito…ah biarlah, gadis itukan kekasih Shinya, terserah dia mau melakukan apa. Guren bukanlah siapa-siapa, ia tidak berhak ikut campur sekalipun ia adalah atasan Shinya. Tempat ini bukanlah kantor.
"Tenang saja. Mito tidak akan menyakiti Shinya-sama. Dia kan menyayangi Shinya-sama." Ucap Goshi.
"Shinya…-sama?" Guren mengangkat sebelah alisnya.
"Hiragi Shinya. Bagaimanapun juga dia adalah seorang bangsawan tinggi kan?" Balas Goshi.
"Ah iya, aku lupa kalau dia Hiragi." Batin Guren.
"Tunggu dulu. Bagaimana kau tau aku sedang memikirkan Shinya?" Tanya Guren.
"A-ahaha, soalnya mata anda tidak lepas dari dia sedari tadi." Goshi tersenyum penuh kemenangan.
"Jadi..benar kan?" Tambahnya.
"Mungkin." Jawab Guren.
"Ettoo.. sambil menunggu Shinya-sama kembali, apa anda mau minum kopi sebentar mungkin? Dengan saya." Tawar Goshi.
"Baiklah." Guren menerima tawaran tersebut.
Entah kenapa Guren merasa harus menerima tawaran tersebut. Goshi adalah sahabat Shinya, berarti ia tau banyak tentang Shinya.
Apa salah jika Guren menanyakan tentang Shinya pada Goshi? Guren hanya ingin tau apa kesukaan pria itu dan bagaimana sifatnya.
Seiring langkah mereka ke café terdekat Guren pun berucap.
"Goshi." Panggil Guren.
"Ya?" Jawab Goshi.
"Bagaimana jika kita sambil membicarakan Shinya? Yah, aku belum mengenal dia sepenuhnya." Guren tersenyum canggung
Goshi mengangguk mengerti. Ia tau bahwa pria disampingnya ini mulai tertarik dengan Shinya dan sedang berusaha mencari tau lebih banyak hal tentang pria itu. Goshi juga tau bahwa semuanya memang berjalan sesuai perkiraannya dari awal.
"Dengan senang hati." Goshi tersenyum penuh kemenangan untuk yang kedua kalinya.
-60 SHADES OF GUREN-
Keesokan harinya, tidak banyak hal yang dilakukan Guren di kantor. Ia benar-benar fokus pada pekerjaannya, sehingga ia tidak sempat mengobrol banyak dengan Shinya.
Guren sudah tau banyak tentang pria itu, seperti warna kesukaannya, kebiasaannya ketika libur, atau makanan favoritnya dan bahkan dia juga sudah tau bahwa Shinya adalah anak angkat Hiragi. Ia tentu berterima kasih pada Goshi, belum lagi Goshi juga menceritakan tentang Mito dan Shinya.
Guren merasa Mito bukanlah gadis yang baik untuk Shinya, tapi mungkin ia salah. Guren tidak mau memusingkan hal itu. Ia pun kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Sayangnya, ketika ia baru melangkah ke dalam rumahnya, suara pecahan botol terdengar dari arah dapur. Tidak salah lagi, pasti ulah kekasihnya.
Tidak ada yang tau mengenai hubungannya, dan ia juga tidak terlalu menganggap hubungannya itu serius.
"MAHIRU!" Teriak Guren.
"Araa~ konbanwa, Guren~" Mahiru menjawab dengan senyuman mengejek sambil melempar satu per satu botol sake milik Guren ke lantai.
"Senang melihatku disini?" Tanya Mahiru.
"Mahiru, hentikan itu!" Ucap Guren dengan volume yang cukup tinggi.
Mahiru tersenyum miring dan kembali melempar botol-botol sake hingga pecah. Lantai dapur Guren sudah banjir dengan air sake dan sejenisnya.
Guren segera menarik Mahiru dan mendorong kekasihnya itu ke dinding. Dan itu bukan kali pertamanya Mahiru melakukan itu dan bukan berarti Guren bisa membiarkannya begitu saja.
"Kau puas, hah?!" Bentak Guren.
"AKU BENAR-BENAR PUAS!" Mahiru balik membentak Guren.
"Kenapa kau lakukan itu?!" Ucap Guren.
"Aku tidak mau kau begini lagi, Guren. Aku menyayangimu! Aku peduli padamu! Jadi berhentilah seperti ini!" Balas Mahiru.
"Tapi kau tau aku memasang sudah begitu kan!" Bentak Guren lagi.
"Minuman seperti itu tidak akan membuatmu bahagia, Guren. Kau pasti bisa berhenti meminumnya!" Balas Mahiru.
"Hidupku sudah benar-benar susah, Mahiru. Jangan menambah kesusahanku dengan memecahkan semua botol itu! Aku tau itu berbahaya, tapi bagiku…itu salah satu penenang!" Guren membentak Mahiru lebih kasar dari sebelumnya.
Mahiru merasakan matanya semakin panas dan tanpa sadar dia menangis karena suara Guren yang membentaknya lebih kasar.
Guren tersenyum miring menatap Mahiru.
"Kurasa sampai disini saja, Hiragi Mahiru." Ucap Guren lalu berjalan mundur menjauhi gadis itu.
"Barusan apa yang kau katakan, Guren?" Tanya Mahiru.
"Kubilang sampai disini saja!" Balas Guren.
" .tidak! Kau..meninggalkanku begitu saja?! Aku peduli padamu, tapi kau—" Ucapan Mahiru terpotong.
"Aku tidak mau mendengar alasan apapun. Jadi sekarang kumohon keluarlah, Mahiru..-sama." Ucap Guren.
Iya, Mahiru-sama adalah panggilan Guren pada Mahiru sebelum mereka punya hubungan seperti ini.
Mahiru yang dipanggil begitu tersentak dan kemudian menunduk.
"Baiklah..kalau begitu." Ucap Mahiru pelan dan kemudian melewati Guren.
Ia berlari ke ruang tamu dan mengambil tasnya. Ia berjalan ke pintu depan sambil menyeka air matanya. Dan entah sejak kapan Guren sudah berada di pintu dan membukakan pintunya.
"Mungkin tanpaku kau akan bahagia kan, Guren? Ah tentu saja, bukankah kau lebih bahagia ketika bersama saudaraku itu?" Ucap Mahiru sambil menatap Guren masih dengan tangisannya.
Guren hanya tersenyum mengejek sambil memberikan tatapan 'CEPAT KELUAR!'. Mahiru yang melihat tatapan itu langsung keluar dari rumah Guren. Dan baru saja satu langkah Mahiru keluar dari rumah Guren. Guren langsung menutup pintunya dengan kasar.
"Merepotkan." Gumam Guren kemudian mengunci pintu dan naik ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Guren tidak ambil pusing dengan air sake dan pecahan botol di dapurnya. Secara itu akan dibersihkan oleh para maid.
-60 SHADES OF GUREN-
"Ohayou, Shinya." Sapa Guren sambil menaruh mawar baru kedalam vas di meja Shinya.
"Ah, ohayou, Guren." Balas Shinya tersenyum tipis.
Melihat Shinya tersenyum, membuat Guren jadi ikut tersenyum. Guren tak mau memikirkan tentang Mahiru, ia sudah tidak ada hubungan dengan Mahiru.
"Hei, Shinya." Panggil Guren.
"Ya?" Jawab Shinya.
"Boleh aku menceritakan sesuatu padamu?" Tanya Guren.
Shinya mengangguk pelan dan membiarkan Guren duduk di kursi di hadapannya. Mata pria itu terlihat memerah dan wajahnya sangat lesu. Pasti ada sesuatu semalam dan itu pasti adalah buruk. Guren menjelaskan semua yang terjadi tadi malam dan bisa dilihat ekspresi Shinya setelah Guren selesai bercerita.
"Aaa, pantas saja Mahiru kemarin menangis." Ucap Shinya.
"Dia mendatangimu?" Tanya Guren.
"Iya, dia mendatangiku sambil menangis tapi aku belum sempat menanyakan sebabnya." Jawab Shinya. Yang dikatakannya memang benar, kemarin malam mahiru mendatanginya.
"Kau sepertinya dekat dengannya." Balas Guren.
"Eh? Tidak terlalu. Dia biasanya dingin padaku, tapi kemarin dia berubah tiba-tiba, jadi seperti..seorang adik yang manja pada kakaknya." Jawab Shinya.
"Hei, Shinya. Menurutmu..orang lain melihat hidupku mewah, mereka pikir aku hanya menghamburkan uang, tapi nyatanya tidak. Aku kesepian, meskipun perusahaan ini sudah berkembang dengan pesat, keluargaku tetap tidak mau menemuiku lagi. Mereka tidak peduli padaku. tetap saja aku kesepian. Lagipula aku juga tidak punya teman. Orang-orang dikantor ini bersikap baik padaku agar mereka tetap bekerja disini. Benar kan? Ucap Guren tiba-tiba.
"Tidak. Aku bersikap baik padamu karena aku memang peduli. Mungkin aku tidak tau apa yang terjadi pada keluargamu, tapi percayalah…semua masalah ada jalan keluarnya." Jelas Shinya.
"Hei, kau…yakin tidak tau tentang keluargaku?" Guren memasang wajah cukup terkejut.
"Eh? Itukan masalah pribadi. Jadi..tidak mungkin aku—" Ucapan Shinya langsung dipotong Guren.
"Bukan, Shinya. Itu bukan masalah pribadi. Semua orang tau masalah itu karena berita tersebut sudah disiarkan dimana-mana. Apa kau tidak pernah mendengarnya?" Sambung Guren.
"Sepertinya tidak." Jawab Shinya.
"Hh, aneh sekali orang bangsawan sepertimu tidak mengetahui berita tentang pelayannya.." Gumam Guren.
"Eh?" Shinya mengangkat sebelah alisnya.
"Kau ini benar-benar dari keluarga Hiragi, Shinya?" Tanya Guren.
"Ahaha~ kalau boleh jujur, sebenarnya aku hanya anak angkat dari keluarga Hiragi dan…lagipula aku tidak tinggal bersama keluargaku." Jawab Shinya.
"Benar juga…" Balas Guren.
"Tapi..maksudmu 'pelayan'?" Kali ini Shinya benar-benar bingung.
"Keluarga Ichinose adalah…pelayan keluarga Hiragi, Shinya. Keluarga Ichinose sepertiku ini hanya dianggap sampah oleh Hiragi." Jelas Guren singkat.
"A-aku tidak bermaksud…tapi aku tidak akan menganggap kalian seperti itu." Balas Shinya sambil tersenyum tipis.
"Baiklah..sepertinya kau harus bertanya pada keluargamu untuk tau masalah itu." Guren berdiri dan membenarkan dasinya.
Setelah berucap seperti itu, Guren berjalan kearah jendela besar. Ia membukanya dan menatap lurus ke depan. Sementara Shinya masih dilanda kebingungan, kenapa bisa ia tidak tau bahwa permasalahan Guren dan keluarganya?
Apa mungkin saat itu dia sedang fokus dengan belajarnya? Atau karena saat itu dia memilih untuk tidak terlibat lebih jauh dengan Hiragi?
Tak lama, Shinya mendengar suara sesenggukan yang samar. Ia menatap Guren dan ia yakin ia tidak salah lihat kalau pria bermanik ungu itu tengah menangis.
Hal keempat yang Shinya temukan dari sisi Guren, yaitu..pria itu bisa menangis sebagaimana manusia pada umunya.
-60 SHADES OF GUREN-
"Eh? Tentang keluarga Ichinose?" Ucap seorang perempuan yang tengah duduk di sofa ruang tamu Shinya.
"Iya, kau tau, Shinoa?" Balas Shinya.
"Tentu saja aku tau. Nii-san pasti tidak tau karena waktu itu Nii-san menarik diri dari Hiragi." Jelas perempuan yang diketahui bernama Shinoa dan berstatus sebagai anak bungsu dari keluarga Hiragi dan sudah pasti adiknya Shinya.
"Beri tau aku." Ucap Shinya.
"Hh, keluarga Ichinose itu adalah keluarga yang melayani bangsawan Hiragi. Entah sejak kapan, tapi yang jelas hal itu sudah terjadi secara turum temurun." Jawab Shinoa.
"Kau tau..Ichinose Guren?" Tanya Shinya.
"Tentu saja, Ichinose Guren kan pernah jadi kekasih Nee-san." Jawab Shinoa.
"Bukan itu, maksudku…masalah tentang keluarga Ichinose Guren." Ucap Shinya.
"Ichinose Guren, ya….Hhh, begini.. 10 tahun yang lalu, terjadi kecelakaan dan kecelakaan itu menimpa keluarga Ichinose Guren. Saat itu, Ichinose Guren tengah mengemudikan mobil yang mereka kendarai, di dalam mobil itu ada dia, ayah dan ibunya. Tapi sayangnya, tiba-tiba saja mobil mereka melewati pembatas jalan dan jatuh kedalam jurang. Semua penumpangnya mati dan hanya Ichinose Gurenlah yang selamat. Sayangnya keluarga Ichinose yang saat itu emosinya tidak stabil terus menyalahkan Ichinose Guren, mereka juga menganggapnya sebagai pembunuh dan meminta agar dia tidak kembali ke keluarga Ichinose" Jelas Shinoa.
Shinya membulatkan matanya setelah selesai mendengar penjelasan Shinoa. Dia tidak menyangka kejadian menimpa seorang Ichinose Guren 10 tahun silam. Dan sekarang pria itu sudah bangkit dan menjadi pimpinan perusahaan ternama. Sekarang Shinya tau bahwa Guren sangatlah terluka dan rapuh.
Segera saja Shinya mengambil ponselnya dan menekan nomor Guren. Ia tau apa yang harus dilakukannya, meski ia tidak tau apakah Guren akan senang atau tidak.
"Guren?" Panggil Shinya.
'Shinya, ada apa? Tiba-tiba menelponku?' Jawab Guren dari seberang sana.
"Boleh aku..kerumahmu?" Ucap Shinya ragu.
'Eh? Ini sudah malam Shinya dan..kalau kekasihMU itu tau, dia bisa—' Ucapan Guren dipotong.
"Ayolah… aku sudah mengetahuinya." Jawab Shinya.
'Baiklah, akan kujemput' Ucap Guren.
-60 SHADES OF GUREN-
"Yah, semua orang berpikr begitu.." Ucap Guren sambil menahan air matanya.
Shinya mengelus punggung pria itu.
"Tapi aku percaya, itu semua memang kecelakaan." Balas Shinya sambil tersenyum.
"Padahal mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.." Kali ini air mata Guren turun membasahi pipinya.
Shinya langsung memeluk Guren dan Guren memberontak dari pelukan Shinya, tapi ia tidak bisa. Ketika menangis, tubuhnya jadi lemah dan bergetar. Luka goresan di tangannya juga makin terasa.
"Guren, berhenti menyakiti dirimu sendiri." Ucap Shinya. Jujur saja, ia merasa jadi ingin ikut menangis.
"Kalau kau terus menggoreskan pisau ditanganmu, itu hanya membuatmu tambah terluka. Karena rasa sakit akan terasa hidup di dalam jiwa dan terus berputar di kepalamu." Sekarang Shinya tau kenapa pria itu menggoreskan pisau dilengannya.
Guren menangis karena kelemahannya. Ia sadar, apa yang dikatakan Shinya itu benar. Rasa sakit akan terus berada di jiwa dan kepala, sekalipun ia lampiaskan dengan cara apapun.
Sebenarnya, hati Shinya benar-benar sakit melihat pria itu menangis dan luka-luka ditangannya juga terus bertambah. Ia tidak mau Guren menyakiti dirinya sendiri.
Malam ini Shinya tau sisi kelima Guren, yaitu ia penakut. Ia terlalu takut kehilangan seseorang di sekitarnya. Belum lagi itu adalah orang yang disayanginya.
Dan sisi keenam Guren, adalah ia bukan pembunuh, tidak seperti yang dikatakan keluarga Ichinose padanya. Guren sama sekali tidak bersalah dalam kecelakaan itu. Dunia membutuhkannya, lebih tepatnya Shinya membutuhkannya.
"Shinya." Panggil Guren yang tangisnya mulai berhenti.
"Y-ya, Guren?" Jawab Shinya.
"Arigatou." Ucap Guren.
Shinya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Setelah itu Guren melepaskan pelukan Shinya dan menatap mata pria itu lekat-lekat.
"Bisakah kau janji padaku, Shinya?" Tanya Guren.
"Tentu." Shinya tersenyum sambil balas menatap Guren. Dia langsung menghapus air mata Guren dengan jemarinya. Guren pun balas tersenyum tipis.
"Kau janji tidak akan meninggalkanku?" Guren berucap sambil menunduk.
"Aku tidak ingin..merasa kehilangan lagi." Tambahnya.
"Aku janji, Guren. Aku janji tidak akan pergi." Balas Shinya.
Shinya dan Guren terburu-buru masuk kedalam mobil Guren. Ya, semalam Shinya tertidur dalam pelukan Guren. Jadi, sebelum pergi ke kantor, Guren harus berhenti di toko baju untuk membelikan Shinya pakaian. Tidak mungkin kan jika Shinya memakai baju yang semalam dipakainya.
Perlu diketahu bahwa saat ini Shinya sedang duduk tidak tenang di dalam mobil Guren. Ia tidak mengikuti Guren ke dalam toko dengan alasan yang cukup jelas.
Secara, Shinya masih terkejut dengan kejadian tadi pagi. Dia tidak peduli jika Guren adalah atasannya, yang jelas ia tidak mau mengikuti pria itu kedalam toko baju.
Kenapa Shinya jadi begitu? Karena dia merasa bersalah dalam suatu hal tadi pagi. Dia membalas ciuman Guren dan itu adalah kesalahan besar. Shinya lupa akan hadirnya Mito dan juga statusnya dengan gadis itu.
FLASHBACK -ON-
Shinya membuka matanya dan merasakan tangan hangat melingkar di pinggangnya. Dia menoleh, melihat seseorang pria yang masih memejamkan matanya penuh kedamaian. Lalu dia menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.
Setelah melepaskan pelukan itu, Shinya bangkit dan tak lama kemudian, pria disampingnya tadi terbangun dan menatap Shinya lalu mengucapkan selamat pagi padanya. Shinya tersenyum lalu balas mengucapkan selamat pagi. Dan sedetik kemudian dia tersadar, seharusnya dia tidak disini.
"Guren, sepertinya aku harus pulang sekarang—" Ucapan Shinya langsung dipotong.
"Kita bisa berangkat bersama kan?" Guren menggeleng pelan.
"Tapi, baju—" Ucapan Shinya dipotong lagi.
"Kemarin kau sudah menemaniku sampai tertidur, jadi sekarang kita berangkat bersama dan masalah baju? Nanti kita bisa berhenti di toko baju. Anggap saja sebagai balas budi, ya?" Jelas Guren.
Shinya menggigit bibir bawahnya, namun akhirnya dia mengangguk ragu. Lagipula kalau dia pulang, dia bisa saja terlambat ke kantor.
Shinya menatap Guren yang berdiri dan berjalan mendekatinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Shinya mundur ketika Guren berjalan semakin dekat.
"G-guren?" Panggil Shinya yang saat ini sudah tidak bisa bergerak lagi. Punggungnya sudah menyentuh tembok dan Guren sudah menghalanginya untuk lari.
"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak menggingit bibirmu lagi, Shinya." Jawab Guren sambil menyeringai.
Shinya merasakan jantungnya berdegup kencang dan pada saat itu juga ia menyadari apa yang sedang terjadi. Seorang Ichinose Guren mendekatkan wajahnya dan langsung mengeliminasi jarak diantara mereka.
"Eh?" Batin Shinya.
Shinya bisa merasakan betapa hangatnya bibir Guren. Dia dalam keadaan yang bingung sekarang. Dan perlahan tapi pasti Shinya memejamkan matanya dan membalas ciuman Guren.
Tak lama, mereka menyudahi ciuman mereka. Dan Guren membisikkan sesuatu yang bisa memutar balikkan dunia Shinya.
"Aku mencintaimu, Shinya." Bisik Guren
FLASHBACK –OFF-
Setelah mengingat kejadian itu, Shinya jadi tau sisi ketujuh dan kedelapan Guren.
Hal ketujuhnya adalah pria itu sudah merebut ciuman pertamanya. Bahkan dia belum pernah mencium Mito.
"Aku mencintaimu, Shinya."
Kalimat itu kembali terulang dalam pikiran Shinya, tepat disaat Guren masuk ke dalam mobil dan memberinya satu set pakaian baru. Ketika Guren menyodorkan bungkusan yang berisi pakaian itu ke Shinya, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan dan terjadilah aksi saling menatap.
Hal kedelapan yang Shinya tau tentang Guren adalah pria itu menyukainya. Jujur saja, Shinya juga hampir merasakan hal yang sama.
"Hei, Shinya?" Panggil Guren membuyarkan lamunan Shinya.
"Ya, Guren?" Shinya mengangkat sebelah alisnya.
"Sebegitu enaknya memegang tanganku? Sampai-sampai kau tidak melepasnya dari tadi." Ucap Guren.
BLUSHHHHHHHHH
Shinya menatap tangan mereka yang bersentuhan. Lebih tepatnya tangannya masih memegang tangan Guren. Segera saja Shinya menarik tangannya beserta bungkusan tadi dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Wajahnya sudah pasti merah padam. Terlebih lagi Guren sempat tertawa kecil dan berhasil membuat jantung Shinya berdegup lebih kencang.
-60 SHADES OF GUREN-
Sesampainya dikantor, Shinya izin pada Guren untuk ke toilet sebentar untuk mengganti bajunya. Sementara Guren? Ia malah lebih memilih untuk menunggu Shinya di depan pintu toilet. Setelah selesai mengganti bajunya, Shinya keluar dari toilet dan dia cukup terkejut karena Guren menunggunya di depan toilet.
Saat mereka sudah sampai di lantai paling atas, tempat ruangan mereka berada. Shinya dikejutkan dengan seorang perempuan yang berdiri di dekat pintu ruangan mereka.
Perempuan itu menatap Guren tajam dan menarik Shinya. Dia mau bicara empat mata dengan Shinya.
"Kemarin kau kemana?" Tanya Mito.
"A-ah, itu.." Jawab Shinya terbata.
"Kemarin aku dari apartemenmu dan disana ada Shinoa dan Mahiru. Saat aku bertanya pada Shinoa, dia tidak mau memberitahukannya, lalu aku mencoba menghubungimu, tapi apa? Kau masih tidak bisa dihubungi Shinya! Aku juga sudah mengirim pesan padamu, tapi kau tidak membalas satupun!" Kali ini Mito menaikkan volume suaranya.
"Aku pergi kerumah Guren dan akhirnya aku ketiduran disana." Jelas Shinya singkat.
Mito membelalakkan mata. Tangan Mito pun mengepal dengan sendirinya. Emosinya meledak ketika mendengar nama Guren, tapi setidaknya ia lega karena tau Shinya tidak berbohong.
"Lalu, kenapa Mahiru ada di apartemenmu?" Mito menundukkan kepalanya.
Shinya menghela nafas kasar. Ia tau kalau Mito tidak menyukai Mahiru, karena apa? Mito bilang, ia membenci Mahiru karena sudah merebut Shinya darinya, lalu dengan enaknya memutuskan Shinya. Jadi itu alasannya membenci Mahiru.
"Kenapa..Shinya?" Ulang Mito.
"Dia sedang ada masalah di rumah, jadi dia ketempatku. Memangnya kenapa? Mahiru adalah saudaraku, jadi tak mungkin aku membiarkannya kan." Ucap Shinya sambil berbohong.
"Baiklah…kalau begitu, sampai jumpa." Ucap Mito lalu pergi meninggalkan Shinya. Ia segera angkat kaki dari gedung itu.
"Merepotkan." Gumam Shinya yang kemudian masuk kedalam ruangannya dan Guren.
-60 SHADES OF GUREN-
Saat ini Shinya sedang duduk di meja makan bersama Mahiru dan Shinoa. Shinoa dan Mahiru memaksanya untuk makan bersama, lagipula Shinya tidak keberatan, dia malah senang. Ah, tapi kenapa Shinoa ikut-ikutan menginap di apartemen Shinya? Itu karena dia bilang, dia bosan di rumah.
"Jadi? Bagaimana pekerjaanmu, Nii-san?" Tanya Shinoa di sela-selan kegiatan makannya.
"Hm? Aku cukup menyukai pekerjaanku saat ini." Jawab Shinya.
"Baguslah kalau begitu." Balas Shinoa.
"Etto.. Shinya?" Panggil Mahiru.
"Ya?" Sahut Shinya.
"Mungkin ini hanya menurutku saja, tapi sepertinya..hubunganmu dan Mito mem..buruk?" Ucap Mahiru.
"Yah, begitulah." Shinya kembali melahap takoyaki buatan Mahiru dan Shinoa yang dibuatkan khusus untuknya.
Mahiru tidak membalas ucapan Shinya tapi dia malah tersenyum.
"Menyenangkan ya, bisa makan bersama keluarga." Ucap Mahiru tiba-tiba.
"Eh?" Ucap Mahiru dan Shinoa bersamaan.
"Yang kukatakan itu benar kan? Pasti menyenangkan bisa makan bersama keluarga." Balas Mahiru.
Shinya dan Shinoa mengangguk menyetujui ucapan Mahiru.
"Andai saja Kureto-nii, Seishiro-nii dan ayah…tidak sesibuk ini, pasti..kita akan bersenang-senang dan bisa makan bersama." Ucap Mahiru.
"Ahh, jangan terlalu dipikirkan, Nee-san. Sekarang yang ada hanya aku, Shinya-nii dan Nee-san, lebih baik kita tetap menjaga hubungan kita. Jangan sampai kita tidak bisa berkomunikasi seperti bersama Kureto-nii, Seishiro-nii dan Ayah. Ayo kita bersenang-senang bersama!" Ucap Shinoa sambil tersenyum senang. Dia kelihatannya sangat bersemangat sekali.
"Hm! Ayo kita bersenang-senang bersama!" Ucap Shinya sambil tersenyum kearah Shinoa dan Mahiru.
"Hai'!" Ucap Mahiru dan Shinoa bersamaan.
Keesokan harinya, Guren baru saja melangkahkan kakinya keluar dari rumah, tapi tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya. Belum sempat Guren meronta, orang itu langsung menendang perut Guren dan memukul pipinya. Guren pun jatuh tersungkur ke tanah dan ia mendongak untuk melihat siapa pelakunya. Seorang pria berambut putih atau perak dengan mata merah sedang memandanginya penuh emosi.
"Kau…" Ucap Guren.
Pria itu menarik kerah Guren sekuat tenaga, membuat Guren berdiri secara paksa.
"Oyaa~ kau tidak mengenalku? Hidoi~ kau melupakan temanmu sendiri." Ucap pria tadi.
"Heh, sejak kapan aku punya teman?" Ucap Guren sambil tersenyum mengejek.
"Ahaha~ masih seperti dulu ya, Ichinose Guren? Kalau begitu perkenalkan, aku Ferid Bathory, teman satu universitasmu dulu." Balas pria itu yang diketahui bernama Ferid.
"Ah, ternyata orang ini. Salah satu orang licik yang terobsesi dengan Mahiru." Batin Guren.
"Ah, aku ingat. Kau adalah salah satu orang terlicik yang begitu terobsesi dengan Mahiru-sama, eh? Ucap Guren.
"Araa~ akhirnya kau mengingatnya." Balas Ferid.
"Apa maumu kesini?" Tanya Guren.
"Aku ingin melampiaskan kemarahanku karena kau sudah memutuskan Mahiru-samaKU dan kau membuatnya menangis." Jawab Ferid sambil menekankan kata 'KU'.
"Heh, balas dendam? Kelakuan yang bodoh sekali." Balas Guren.
Dan pada akhirnya apa? Guren habis babak belur akibat Ferid. Dia bukannya tidak bisa melawan, tapi dia masih ingin hidup walaupun sebentar. Kenapa? Itu karena keluarga Ferid cukup dekat dengan keluarga Hiragi, jika Guren melawan dan membuat Ferid sampai terkapar tak sadarkan diri, Ferid bisa saja memberi tau Ayah Mahiru tentang hubungannya dengan anaknya, Ayahnya pasti marah besar dan bisa saja Guren jadi buronan keluarga Hiragi karena itu.
"Ah iya! Jika kau masih hidup nanti dan mau membalas apa yang sudah kulakukan, kau bisa mencariku di ujung jalan. Tapi ingat, itu hanya berlaku jika kau masih hidu, Ichinose Guren." Ucap Ferid dan kemudian meninggalkan Guren.
Rumah Guren jauh dari keramaian dan para maid akan datang jam 8 nanti. Guren menyerah, ia memmbiarkan dirinya terkapar di depan rumahnya. Keadaannya saat ini benar-benar kacau, bahkan berjalanpun ia tak sanggup. Perlahan-lahan matanya terpejam, dan akhirnya ia pingsan.
Shinya merasa sangat bosan karena tak ada Guren diruangannya. Pria itu tidak masuk dengan alasan yang tidak jelas.
'Itsudemo close to you. Soba ni ite tada koe wo kikasete. Dare yori I miss you. Todoketai hohoemi wo agetai.'
Shinya segera mengeluarkan ponselnya yang berdering dari dalam saku dan melihat sekilas nama si pemanggil.
"Mahiru…tumben sekali." Pikirnya. Kemudian dia langsung mengangkat panggilan dari Mahiru.
"Moshi-moshi, Mahiru?" Panggil Shinya.
'Ara~ gomen kalau aku mengganggu.' Jawab Mahiru.
"Tidak, kau tidak mengganggu. Aku juga sedang tidak ada kerjaan." Balas Shinya.
'Begini, aku Cuma mau bertanya kau mau apa untuk makan malam nanti? Aku dan Shinoa sedang berbelanja bahan makanan.' Ucap Mahiru.
"Ramen?" Usul Shinya.
'Baiklah kalau begitu! Shinoa juga mengusulkan ramen. Kalau begitu..sampai jumpa lagi, Shinya! Jaa ne!' Balas Mahiru yang kemudian memutuskan sambungan.
"Hh, mereka itu.." Batin Shinya. Ia kembali menyimpan ponselnya kedalam saku.
Shinya menghembuskan nafas kasar dan menatap ke meja Guren yang benar-benar kosong. Tak sadar ia berdiri dan melangkahkan kaki kesana. Shinya duduk di kursi putar yang biasa di duduki Guren. Shinya terkekeh dan berputar pelan di kursi itu.
KRING KRING!
Tiba-tiba telpon kantor di meja Guren berdering. Meski ragu, Shinya mengangkatnya dengan cepat, takut telpon itu cukup penting. Mungkin saja itu telpon dari Guren kan?
"Halo? Ada yang bisa—" Ucap Shinya terpotong. (dipotong terus aelaahh)
'S-shin..ya..' Sahut pemanggil di seberang sana yang tanpa perlu ditebak Shinya.
"GUREN?!" Teriak Shinya ketika mendengar suara pria itu yang amat lemah.
'Shinya…' Panggil Guren.
"Guren, kau ada dimana?" Jawab Shinya.
'A-aku sedang dirumah sakit. Aku membutuhkanmu, S-shinya..' Ucap Shinya.
"Baiklah, aku akan kesana. Tapi kau harus memberitahuku kau berada dirumah sakit mana, Guren?" Tanya Shinya.
'A-aku..' Jawab Guren.
"Guren?" Panggil Shinya.
'…..' Tak ada jawaban dari Guren.
"Guren kau masih—" Ucapan Shinya terpotong lagi tapi kali ini bukan Guren yang memotongya.
TUUT TUUT
Shinya mendengus dan menutu telponnya. Mungkin Guren pingsan atau ia tidak kuat bicara lagi, karena kondisinya bisa dipastikan sangat lemah.
Shinya segera berlari dan tanpa banyak petunjuk ia bergegas ke rumah sakit yang dekat dengan rumah Guren, karena kemungkinan besar pria itu berada disana. Sedetik kemudian ia teringat ucapan Mito kemarin tapi…Ck, persetan dengan ucapan Mito. Saat ini ia harus mendampingi Guren, salah satu orang yang disayanginya.
Eh? Berarti Guren sudah masuk dalam daftar orang yang Shinya sayangi kan?
-60 SHADES OF GUREN-
Saat ini Shinya tengah menemani Guren di kamar tempat Guren dirawat. Ia meringis ketika melihat ada selang infus di punggung tangan dan kabel yang menyambung dari alat pendeteksi detak jantung ke dada Guren.
"Kau bilang kau membutuhkanku kan, Guren?" Gumam Shinya.
Sekarang Shinya tau sisi kesembilan Guren, yaitu..Guren membutuhkan Shinya.
Shinya duduk di kursi yang ada disamping ranjang Guren. Tadi ia sudah bertanya pada salah satu maid Guren, tapi ia tidak begitu tau apa yang terjadi, yang ia tau hanyalah Guren dipukuli oleh orang tak dikenal. Tadi dokter juga bilang bahwa Guren banyak kehilangan darah, tulang hidungnya juga sedikit retak, jantungnya juga melemah.
"Guren, cepatlah buka matamu." Ucap Shinya sambil memegang tangan Guren.
Dua jam berlalu dan Shinya memilih untuk tidur, dia tidak mau pulang sebelum Guren terbangun. Saat ini Shinya tidak peduli dengan Shinoa dan Mahiru yang ada di apartemennya. Dia hanya ingin Guren tau bahwa dirinya sudah berada disampingnya. Ia ingin membuktikan kalau dirinya ada disaat Guren membutuhkan.
Jemari Guren perlahan bergerak tanpa perlu Shinya tau. Pria itu mencoba untuk terus tidur, tapi ia merasa ada sesuatu yang bergerak di rambutnya. Mungkin itu hanya perasaannya, pikir Shinya.
"Shinya.." Guren langsung membuka mata lebar-lebar saat menyadari bahwa yang tertidur itu Shinya.
"Gomen, kau pasti menungguku kan?" Tambah Guren.
Guren tersenyum tipis melihat orang yang ia butuhkan berada disisinya. Guren mengelus rambut Shinya dengan perlahan. Guren tidak pernah ada orang lain yang sepeduli ini, yang rela menemaninya, yang rela meninggalkan urusannya hanya untuk menjenguknya.
Pria itu sudah lupa yang namanya dipedulikan, dia sudah kehilangan banyak kasih sayang selama ini.
"Aku mencintaimu, Shinya.." Gumam Guren sambil menyentuh pipi Shinya.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Author's Note : Halo! Chapter 2 dah update nih, gimana? Kasih pendapat kalian di review yaaa~
Mind to Review~?
