60 SHADES OF GUREN
DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA
STORY IS MINE
WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, YAOI, GAJE AND OTHERS.
(ps : Disini ceritanya Shinya itu anak dari bangsawan Hiragi, tapi yahh dia ga nganggap dirinya itu bangsawan kok, Shinya iitu rendah diri+rendah hati. Dia nganggap dirinya itu orang biasa. Shinya juga tetap anak angkat di cerita ini. Di cerita ini, Shinya itu kayak ga dipeduliin gitu sama keluarganya. Dan satu lagi! Disini pacarnya Shinya itu Mito~)
Inspired by : 50 Shades Of Grey
…
STOOOP!
SAYA PENGANUT DLDR!
(DON'T LIKE DON'T READ~)
.
.
1 minggu sudah Guren dirawat di rumah sakit dan hari ini ia sudah boleh pulang. Lalu bagaimana dengan Shinya? Hh, sayangnya Shinya tidak menjenguk Guren kemarin, karena apa? Yah, salahkanlah Mahiru dan Shinoa yang menarik Shinya secara paksa untuk menemani mereka belanja. Untungnya Shinya sudah mengirim pesan pada Guren kalau ia tidak bisa datang kemarin dan Guren membiarkannya, lagipula..Shinya pasti juga ingin bersenang-senang dengan keluarga kan?
"Nii-san!" Panggil Shinoa.
Shinya yang baru saja selesai mandi dan memakai bajunya mendengus ketika mendengar namanya dipanggil. Ia pun dengan malas berjalan kearah ruang tamu tempat Shinoa berada.
"Ada apa?" Jawab Shinya yang sudah sampai di ruang tamu.
"Ini." Ucap Shinoa sambil menyerahkan sebuah…undangan?
"Undangan? Dari siapa?" Tanya Shinya.
"Dari..Mito-san, katanya itu undangan untuk pesta yang akan diadakanya besok malam. Pesta untuk merayakan keberhasilannya." Jawab Shinoa.
"Ha? Lalu sekarang dia dimana?" Tanya Shinya lagi.
"Sudah pulang. Tadi dia datang hanya untuk menyerahkan undangan itu kemudian ia terburu-buru masuk ke dalam mobil." Jelas Shinoa.
"Mobil?" Tanya Shinya.
"Iya." Jawab Shinoa seadanya.
"Mobil siapa? Lagipula Mito kan tidak bisa mengemudikan mobil." Batin Shinya.
"Kalau tidak salah…di mobil itu ada lambang keluarga…" Shinoa menggantungkan kalimatnya. Ia terlihat sedang berpikir dan mencoba mengingat sesuatu.
"Keluarga?" Tanya Shinya yang kemudian duduk disamping Shinoa.
"Etto..aku lupa, tapi tunggu sebentar! Aku akan mencoba mengingatnya." Jawab Shinoa.
Shinya menghela nafas. Dia pun menunggu Shinoa.
"Ah! Aku ingat! Itu lambang keluarga Norito!" Ucap Shinoa bersemangat.
Shinya membulatkan matanya ketika selesai mendengar ucapan adiknya barusan.
"Itu berarti..Mito dan…Goshi?!" Jerit Shinya dalam hati.
"Kalau aku tidak salah lihat. Yang mengemudikan mobil itu…kalau tidak salah teman Nii-san." Ucap Shinoa.
"Cih." Shinya mendecih. Sekarang dia tidak ingin terlalu memikirkan itu. Dia sedang menikmati hari liburnya di hari minggu, oke?
"Shinya!" Teriak seseorang yang baru saja masuk kedalam apartemen Shinya tanpa mengucap salam.
"Araa~ sepertinya itu, Nee-san." Celetuk Shinoa.
"Aku disini!" Balas Shinya dengan mengeraskan volume suaranya.
Bisa mereka dengar saudari mereka yang satu itu berlari di sepanjang lorong menuju ruang tamu Shinya.
"Hosh..hosh..Shinya.." Ucap Mahiru dengan nafas yang tersenggal-senggal karena dia buru-buru pulang dan dia barusan berlari.
"Oi, tenang dulu..atur nafasmu terlebih dahulu." Balas Shinya.
Mahiru mengatur nafasnya kemudian berjalan kearah Shinya dan Shinoa. Dia menatap Shinya dan Shinoa bergantian dan kemudian dengan enaknya dia mendudukkan dirinya diantara Shinya dan Shinoa, kemudian kembali menatap mereka bergantian sampai akhirnya ia berhenti dan menatap lurus ke depan.
"Shinya, kau harus mendengarkanku." Ucap Mahiru.
"Ha?" Shinya mengangkat sebelah alisnya.
"Jujo Mito bukanlah gadis yang baik." Jelas Mahiru singkat.
"Tunggu dulu. Aku tidak mengerti maksudmu." Ucap Shinya sambil mengubah posisi duduk menyamping menghadap Mahiru.
"Jujo . .baik." Ulang Mahiru dengan penekanan disetiap katanya.
"Begini, tadi aku baru saja dari toko buku dan kau tau apa yang ku lihat? Aku melihat Mito dan Goshi bergandengan tangan masuk ke dalam toko buku. Dan aku mencoba mendengarkan pembicaraan mereka dari balik rak buku dan kau tau lagi apa yang kudengar? Aku mendengar Mito akan melakukan sesuatu padamu di pestanya nanti dan aku mendengar Goshi menanyakan hubunganmu dengan Mito, lalu kau tau apa jawaban Mito? Jawabannya adalah..dia hanya memanfaatkanmu, Shinya! Dia memanfaatkanmu karena kau adalah seorang Hiragi! Dia ingin memanfaatkanmu demi kepentingannya! Dia bilang, dia hanya memiliki perasaan padamu waktu DULU. Dia juga bilang, setelah pesta itu selesai, dia akan membuangmu Shinya!" Jelas Mahiru panjang lebar.
"HAH?! JADI ITU MAKSUDNYA DIA MENGUNDANG KITA KE PESTANYA?!" Teriak Shinoa.
"Kau benar, Shinoa. Dia hanya ingin mempermalukan Hiragi dengan cara mempermalukan Shinya." Jawab Mahiru.
Shinya benar-benar terkejut dengan penjelasan Mahiru. Tangannya terkepal sendiri tanpa disadarinya. Sementara Mahiru yang melihat perubahan ekspresi Shinya langsung mencoba menenangkannya.
"Shinya…kau boleh marah tapi kumohon jangan lampiaskan kemarahanmu." Ucap Mahiru.
"Nii-san, kau harus tenang." Tambah Shinoa.
Mahiru melirik Shinoa dan membisikkan sesuatu padanya. Shinoa tersenyum licik setelah mendengar perkataan kakaknya.
"Nii-san, kau tenang saja. Kami akan mengurus semuanya." Ucap Shinoa.
Shinya yang mendengar itu bingung, tapi ia mengangguk pelan. Sekarang emosinya mulai mereda.
"Nah, sekarang ayo kita makan!" Ucap Mahiru semangat yang kemudian bangkit lalu menarik Shinya dan Shinoa ke ruang makan.
-60 SHADES OF GUREN-
Pukul 7 tepat, Shinya, Mahiru dan Shinoa sudah masuk ke dalam rumah Mito. Ramai? Tentu saja, berisi sekitar 15 sampai 25 mahasiswa dari universitas Shinya dan Mito lalu selebihnya adalah teman-teman Mito di dunia designer. Ketika Shinya, Mahiru dan Shinoa masuk, semua pandangan langsung tertuju pada mereka. Malam ini Shinya mengenakan kemeja berlengan panjang warna biru tua dengan corak berwarna hitam miliknya, dulu kemeja itu dibelikan Mahiru saat mereka masih bertunangan. Sementara Shinoa dan Mahiru? Mereka sama-sama memakai gaun berwarna violet, warnanya sama , tapi coraknya berbeda.
"Hei, itu keluarga Hiragi!"
"Hei! Itu Shinya-sama! Dia bersama Mahiru-sama dan..kalau aku tidak salah itu, Shinoa-sama?"
"Kyaaa! Shinya-sama kakkoi!"
"Mahiru-sama cantik sekali.."
"Sudah kuduga, aura bangsawan itu memang berbeda."
"Hee~ tumben sekali keluarga Hiragi datang."
Dan…begitulah bisik-bisik yang ditujukan pada Shinya, Mahiru dan Shinoa, tapi mereka menanggapinya dengan santai, kenapa? Karena mereka sudah biasa dengan hal itu.
"Ah! Shinya!" Panggil Mito sambil setengah berlari kearah Hiragi bersaudara.
Shinya hanya tersenyum tipis ketika Mito sudah berada di hadapannya. Dia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, hanya saja ia jadi lebih dingin pada Mito.
"Konbanwa, Shinoa-chan, Mahiru-sama." Sapa Mito pada Shinoa dan Mahiru. Shinoa yang disapa hanya membalasnya dengan senyuman, Sementara Mahiru? Ia lebih memilih untuk mengabaikan Mito.
"Ah, aku juga mengundang Yuichiro-kun dan Mikaela-kun, mereka ada di halaman belakang." Tambah Mito. (Disini ceritanya Tim Shinoa itu kouhai mereka)
"Kalau begitu aku akan kesana, sampai jumpa nanti, Nii-san, Nee-san." Ucap Shinoa yang kemudian pergi menyusul teman-temannya.
"Aku akan menyusul Shinoa." Sahut Mahiru. Tapi sebelum ia pergi, ia membisikkan sesuatu pada Shinya.
"Kau jangan khawatir, kami akan mengurus semuanya." Bisik Mahiru tepat di telinga Shinya dan tambahnya, dia sempat mengecup pipi Shinya lalu dia pergi menyusul.
Shinya hanya tersenyum geli melihat tingkah saudarinya itu. Sementara Mito, ia memandang tak suka pada Mahiru.
"Kau mau kuambilkan sesuatu, Shinya?" Tawar Mito.
"Terserahmu saja." Jawab Shinya dengan ekspresi datarnya.
"Mou~ jangan datar seperti itu saat berada di pesta, Shinya." Ucap Mito sambil menyikut pelan lengan Shinya.
Shinya hanya tersenyum. Senyum paksa lebih tepatnya.
"Yo! Shinya-sama! Mito-chan!" Seseorang menyapa—ah bukan, lebih tepatnya berteriak kemudian dia sudah berada diantara Shinya dan Mito.
"Ah! Aku ucapkan selamat sekali lagi atas keberhasilanmu, Mito-chan!" Ucap Goshi sambil tersenyum penuh maksud pada Mito.
"Ahaha~ sudah berkali-kali kau mengatakan itu, Goshi." Balas Mito yang terkekeh pelan.
"Ini dia orang brengseknya." Batin Shinya sambil melirik Goshi.
"Wohoo, Shinya-sama." Goshi mengalihkan pandangannya pada Shinya, menatap pria itu dari atas sampai bawah sambil tersenyum jahil.
"Ha? Apa?" Balas Shinya cuek.
"Tumben sekali kau memakai pakaian yang diberikan Mahiru-sama." Goshi merangkul Shinya sambil tetap tersenyum jahil.
"Memangnya kenapa? Gitu-gitu dia juga pernah jadi orang spesial di hatiku, Goshi." Balas Shinya sambil tersenyum mengejek.
Shinya sengaja berkata begitu karena dia ingin melihat bagaimana reaksi Mito, tapi yang di katakannya tidak sepenuhnya bohong sih.
"A-ahaha~" Goshi tertawa canggung sambil melirik Mito yang langsung pergi meninggalkan mereka.
"Kau mau mencoba membuat Mito-chan cemburu ya, Shinya-sama?" Tanya Goshi.
"Tidak juga, aku hanya menguji." Jawab Shinya.
"Eh? Aku tidak mengerti." Goshi menaikkan sebelah alisnya.
"Yah, tidak perlu dimengerti juga sih." Balas Shinya.
"Baiklah…kalau begitu ayo kita kesana, Shinya-sama!" Goshi menarik Shinya kearah mini bar yang berada di halaman belakang dan pas sekali menghadap kearah panggung.
"Kyaa! Shinya-sama kakkoi!"
"Shinya-sama! Aku menyukaimu!"
"Shinya-sama!"
"Hiragi Shinya-sama!"
Yap! Begitulah teriakan-teriakan dari para gadis ketika Shinya sedang berbincang-bincang dengan Goshi. Sementara orang yang mereka teriaki hanya tersenyum tipis tanpa menjawab satu pun teriakan mereka dan kembali berbincang.
Oh, Shinya. Tak sadarkah kau seseorang sedang memperhatikanmu dari tadi?
Semenjak masuk sampai saat ini, Shinya tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh seseorang dan orang itu juga tiak sadar jika dirinya sedang diperhatikan, walaupun sebentar.
"Shinya." Panggil seseorang yang Shinya hapal benar itu suara siapa.
"Hm?" Balas Shinya sambil meneguk minumannya.
"Apa yang ku katakana tentang alcohol?" Tanya Mahiru sambil menatap Shinya tajam.
"Hm? Ara araa~ jangan marah begitu, aku kan tidak sering meminumnya, Nee-chan" Jawab Shinya sambil meletakkan gelas minumannya. Benar sekali! Minuman yang di minum Shinya barusan adalah minuman beralkohol.
"Terserahmu. Tapi jika kau mabuk, aku tidak mau membantumu." Balas Mahiru yang sedetik kemudian tersenyum geli mengingat panggil Shinya padanya tadi. Bagaimanapun juga, dia lebih tua dari Shinya beberapa bulan.
"Oya~ jarang-jarang aku melihat Mahiru-sama dan Shinya-sama begitu akrab." Celetuk Goshi.
"Urusai." Ucap Shinya dan Mahiru bersamaan.
Goshi yang mendengar itu hanya terkekeh pelan.
"Ah, Shinya. Aku harus kembali. Acara inti akan segera dimulai." Mahiru menepuk bahu Shinya sambil tersenyum penuh maksud padanya kemudian pergi meninggalkan mereka.
Shinya hanya membalasnya dengan senyuman. Dia tau maksud saudarinya itu, bahwa rencana Mito akan segera dimulai. Dia sih sebenarnya tiddak begitu ambil pusing dengan rencana Mito. Jika Mito ingin berpisah, Shinya juga akan menyetujuinya, lagi pula dia merasa bahwa perasaannya pada Mito sudah tidak ada.
"Ah, Shinya-sama. Aku mau ke toilet sebentar." Goshi berdiri dari duduknya kemudian menatap Shinya yang sepertinya setengah mabuk.
"Hm." Shinya hanya membalasnya dengan sebuah gumaman.
Goshi langsung pergi dari sana meninggalkan Shinya sendirian yang masih meminum minumannya.
"Konbanwa, Minna-san~" Suara mic yang berasal dari panggung kecil itu membuat Shinya membalikkan tubuhnya menatap seorang gadis berambut merah panjang yang tengah berbicara disana.
"Aku ingin mengucapkan terimakasih banyak karena sudah mau datang di pesta sederhanaku ini, sekali lagi terimakasih banyak." Ucap Mito sambil setengah membungkuk.
"Aku juga mengucapkan terimakasih pada semua keluargaku, teman-temanku dan juga kekasihku yang sudah mendukungku dan membantuku meraih impianku selama ini." Lanjut Mito yang kemudian menatap Shinya dan melemparkan senyuman sekilas.
Suara tepuk tangan terdengar ketika Mito perkataan Mito berhenti dan beberapa mata langsung tertuju Shinya yang dengan cueknya tetap memasang ekspresi datarnya.
"Karena keluargaku sedang tidak berada disini, mungkin aku akan memberikan kesempatan untuk beberapa orang temanku untuk mengucapkan sesuatu yang ingin dikatakan." Tambah Mito.
Dan bisa dilihat, beberapa orang langsung naik keatas panggung dan menyampaikan kata-kata yang ingin mereka sampaikan. Sementara Shinya mulai bosan dan kembali membalikkan tubuhnya mengahdap ke bar.
"Beruntung sekali orang yang jadi kekasih Mito-san." Ucap sang bartender pada Shinya sambil mengelap beberapa gelas wine.
"Heh, kau salah. Buktinya saat ini kekasihnya sedang menyendiri sambil berbincang-bincang dengan seorangbartender." Balas Shinya.
"Eh? Jadi anda…" Ucap bartender tadi. Jujur ia cukup terkejut mendengar perkataan Shinya.
Shinya hanya mengangguk pelan sambil tetap memasang ekspresi bosannya.
"Tapi kelihatannya hubungan kalian sedang buruk ya, Tuan?" Tanya sang bartender hati-hati.
"Begitulah." Jaawab Shinya seadanya.
Shinya meneguk habis minumannya dan dia masih ingin lagi. Entah iblis apa yang merasukinya sampai-sampai melanggar perkataan sang..kakak.
"Aku ingin satu lagi." Ucap Shinya sambil menatap sang bartender.
"Wah wah, anda sudah minum 4 gelas, Tuan." Sang bartender hanya tersenyum geli melihat pria di hadapannya ini.
"Bukan urusanmu, …." Shinya menggantungkan kalimatnya dan kemudian melihat Name Tag sang bartender.
"Kusanagi..Izumo.." Lanjut Shinya.
Eh? Tapi tunggu dulu. Kusanagi Izumo? Shinya kembali memperhatikan pria bernama Kusanagi Izumo yang nyasar dari fandom K Project yang parahnya satu seiyuu dengan Ferid dan tiba-tiba berada di fandom Ons dan profesinya tetap menjadi bartender.(poor you, Kusanagi-san)
"Yare yare…sudah kuduga anda pasti lupa. Padahal kita satu perusahaan, Hiragi Shinya-sama." Ucap Kusanagi.
"Ah iya! Aku ingat! Tapi sekarang bukan waktunya mempermasalahkan itu." Balas Shinya.
"Baiklah. Anda ingin apa?" Tanya Kusanagi.
"Mungkin…segelas martini." Jawab Shinya.
"Apa campuran yang anda inginkan?" Tanya Kusanagi lagi.
"Hmm, gin dicampur dengan vermouth." Jawab Shinya.
"Baiklah, akan segera saya siapkan, Tuan." Balas Kusanagi yang kemudian membuatkan pesanan Shinya.
Padahal sudah 4 gelas, tapi dia tidak merasa mabuk sama sekali dan dia juga jarang minum-minum seperti ini, paling hanya saat pesta keluarga, itu pun paling banyak hanya 2 gelas. Apa karena dia patah hati? Tidak tidak, dia bahkan tidak merasakan sakit dihatinya saat dirinya dikhianati oleh Mito. Yang jelas Shinya bukan peminum berat, oke?
"Silahkan." Ucap Kusanagi sambil menaruh minuman pesanan Shinya.
Setelah mengucap terimakasih Shinya mulai meminum minumannya, tentu saja tidak sekali teguk, bisa-bisa kerongkongannya terbakar karena melakukan hal bodoh itu.
"Mungkin kali ini aku akan memanggil kekasihku yang berada disana untuk naik keatas sini. Hei, ayo kemari…" Mito sudah kembali berbicara tapi dia menggantungkan kalimatnya..
Shinya tidak begitu peduli, dia asik memutar-mutar gelasnya perlahan.
"Norito Goshi." Sambung Mito yang membuat para tamu pesta agak terkejut.
Sementara Shinya? Ha! Ha! Ha! Ha! Dia hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Mito barusan.
Bisa dilihat saudara-saudara, Norito Goshi berjalan mendekat kearah panggung sambil membawa sebuket bunga mawar dan kemudian naik keatas panggung lalu memberikan buket bunga tersebut pada Mito.
"Eh? Goshi-sama?"
"Bukannya kekasihnya, Shinya-sama ya?"
"Kapa mereka putus? Buktinya tadi Mito-san masih menatap Shinya-sama sekilas saat menyebutkan kekasih."
"Sepertiya ada yang tidak beres."
"Aneh sekali ya."
Begitulah bisik-bisik dari para tamu pesta.
"Terimakasih sudah mendukungku, Goshi. Terimaksih banyak atas semuanya." Mito kembali berbicara dan kemudian memeluk Goshi.
Para tamu pesta hanya bertepuk tangan saat melihat Mito memeluk Goshi, sebenarnya mereka masih terkejut, yah..tapi apa boleh buat.
Sementara itu Shinya kembali meneguk minumannya, kali ini adalah tegukan terakhir.
"Araa~ selamat malam semuanya!" Tiba-tiba mucul lah Mahiru dan Shinoa dari belakang panggung.
Shinya yang mendengar itu hampir saja menyemburkan minumannya, tapi tidak jadi. Dia langsung membalikkan tubuhnya menghadap kearah panggung lagi.
"Apa yang mereka lakukan?!" Pekik Shinya dalam hati.
Semua tamu, termasuk Mito dan Goshi terkejut karena tiba-tiba saja tuan putrid dari Hiragi muncul.
"Kami akan jadi host malam ini!" Shinoa dan Mahiru berjalan ke depan panggung lalu berdiri disamping Mito dan Goshi.
"Jadi…sejak kapan kalian berpacaran?" Pertanyaan dari Shinoa sukses membungkam mulut Mito dan Goshi.
"Ehhh, benar juga. Sejak kapan kalian berpacaran, Mito-chan?" Ucap Mahiru sambil tersenyum.
"Jadi ini maksud mereka dengan 'serahkan semuanya pada kami'?" Shinya berucap pelan.
"L-li-lima bulan yang la-lalu." Mito menjawab pertanyaan Shinoa dengan terbata-bata.
"Heee~ bukankah saat itu Mito-san masih berpacaran dengan Shinya-nii?" Balas Shinoa sambil tersenyum.
"Ka-kami sudah putus. Kau bisa tanyakan langsung pada Shinya!" Mito menaikkan volume suaranya.
"Apakah itu benar, Shinya-nii?" Tanya Mahiru sambil menatap Shinya.
Shinya hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Entahlah dia tak tau harus menjawab apa.
"Apa katanya tadi? 'Shinya-nii'?" Batin Shinya.
"Hmm mungkin Shinya-nii sulit untuk menjawab." Ucap Shinoa.
"Kalau begitu kalian mau mendengarkan sesuatu? Sesuatu yang akan membuat kalian terkejut dan membuat kalian bersemangat. Kalian mau?" Tanya Mahiru kepada para tamu.
"Kami mau!" Para tamu pesta menjawab dengan semangat.
"Baiklah, ini dia." Mahiru mengeluarkan ponselnya dari saku dressnya dan kemudian mendekatkan mic kearah speaker ponselnya lalu memutar sebuah rekaman.
Yap! Semua tamu membelalakkan matanya ketika rekaman itu selesai. Lalu mereka menatap tajam kearah Mito. Isi rekaman yang diputar Mahiru adalah rekaman percakapan Mito dan Goshi di toko buku kemarin. Untung saja dia merekamnya sebagai barang bukti.
"Wuhuuu~ apa maksud dari rekaman itu ya, Mito-san?" Shinoa tersenyum mengejek.
"I-itu…" Mito tak tau harus menjawab apa.
"Aku hanya memanfaatkan Shinya karena dia seorang Hiragi. Aku akan mempermalukan Hiragi degan cara mempermalukan Shinya di pesta nanti." Mahiru menirukan gaya bicara Mito yang membuat para tamu terkekeh.
"Kau benar! Shinya memang cocok mendapatkannya, Mito-chan." Kali ini Shinoa menambahkan dengan mengikuti cara bicara Goshi.
"Jadi? Bagaimana? Apakah kalian masih percaya seorang Jujo Mito adalah gadis yang baik?" Tanya Mahiru.
Yang terdengar saat ini hanyalah sorakan mengejek dari para tamu untuk Mito dan Goshi, lalu kemudian para tamu meninggalkan mereka di panggung.
"Kalian.." Ucap Mito lirih.
Sedetik kemudian tangan Mito terayun kearah Shinoa, ia bermaksud menamparnya. Tapi baru saja tangannya akan mengenai pipi Shinoa, Mahiru sudah menahannya terlebih dulu. Mahiru meremas pergelangan tangan Mito sampai Mito berteriak kesakitan.
"Jangan sentuh adikku." Ucap Mahiru dingin sambil melepaskan tangan Mito. Jelas saja Mahiru punya tenaga sekuat itu, secara semua anggota keluarga Hiragi diWAJIBkan mengikuti pelatihan bela diri yang keras.
Mahiru dan Shinoa kemudian meninggalkan pasangan itu disana dengan Mito yang masih kesakitan.
-60 SHADES OF GUREN-
Shinya berjalan sempoyongan saat akan keluar dari rumah Mito. Ahh dia sudah merasakan efeknya sekarang, tapi dia tidak mabuk berat. Tanpa sengaja dia menabrak punggung seseorang.
"Ah, gomen." Ucap Shinya.
Orang yang ditabraknya tadi membalikkan tubuhnya menghadap Shinya dan menariknya menuju halaman samping rumah Mito.
"Ahh, kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Shinya yang pandangannya agak kabur.
"Aku ingin bicara denganmu." Ucap orang tadi dengan suara berat.
"Eh? Sepertinya aku mengenal suara ini." Batin Shinya.
Seketika itu juga Shinya mencoba memfokuskan pandangannya dan berhasil! Dia bisa melihat sosok di depannya.
"Guren?!" Shinya benar-benar terkejut walau kepalanya semakin terasa berat.
"Apa?" Balas Guren.
"Kau..kenapa bisa disini?" Tanya Shinya yang berusaha menahan pusing dikepalanya.
"Goshi mengundangku." Jawab Guren.
"Oh." Balas Shinya.
"Tapi tumben sekali pimpinan sepertimu datang ke pesta seperti ini." Ejek Shinya sambil memperhatikan Guren.
"Masih mengenakan jas seperti biasa, eh?" Batin Shinya.
"Aku juga bingung kenapa dia mengundangku kesini, tapi dia bilang disini ada kau. Yah, walau baru kemarin aku keluar dari rumah sakit, entah kenapa aku langsung semangat untuk datang kesini karena ada kau." Jelas Guren.
"Kenapa harus ada aku?" Tanya Shinya.
Guren menatap Shinya sekilas kemudian menggeleng pelan.
"Jangan tanyakan padaku. Tanya saja pada hatiku." Guren mengalihkan pandangannya.
Shinya terkejut memang mendengar perkataan Guren tapi kemudian dia tersenyum. Sekarang dia tau sisi ke-11. Pria itu ingin selalu berada dimanapun dirinya berada.
"Hei, kau mabuk, Shinya?" Tanya Guren yang kemudian mendekat kearah Shinya.
"Ah, tidak.." Shinya mencoba berbohong.
"Dasar. Di saat seperti ini pun kau mau berbohong." Guren menarik Shinya kedalam pelukannya.
"Kenapa memelukku?" Tanya Shinya yang kemudian membalas pelukan Guren.
"Entah. Aku ingin." Jawab Guren.
"Shinya!" Teriak seseorang, tapi sayangnya tak dibalas oleh Shinya.
"Ayo pulang! Kau kira apa yang kau lakukan disi—" Omelan Mahiru terhenti ketika berjalan mendekat kearah Shinya dan melihat orang yang memeluk Shinya.
"Eh? Mahiru ya? Ah maaf." Ucap Shinya kemudian melepaskn pelukan Guren lalu menghadap kearah Mahiru.
"Guren…" Ucap Mahiru pelan sambil menatap Guren.
"Ah, ayo kita pulang." Ucap Shinya kemudian berjalan kearah Mahiru tapi tidak jadi karena Guren menarik lengannya.
"Dia akan pulang bersamaku." Ucap Guren sambil balas menatap Mahiru.
"Hhh, baiklah. Mana kunci mobilnya, Shinya?" Mahiru sedang tidak ingin berdebat jadi dia lebih memilih untuk langsung pulang.
Shinya melemparkan kunci mobilnya pada Mahiru yang dengan mudahnya ditangkap oleh Mahiru.
"Jangan pulang terlalu lama!" Teriak Mahiru ketika Shinya dan Guren sudah berjalan agak jauh.
"Ryoukai, Nee-chan!" Balas Shinya.
Mahiru dan Shinoa memilih masuk kedalam mobil dan akan menunggu Shinya dirumah.
-60 SHADES OF GUREN-
"Hei, Guren~" Panggil Shinya.
"Hm?" Guren sedang fokus pada jalanan di depannya. Benar sekali! Guren sedang mengemudi saat ini.
"Ah, tidak jadi." Balas Shinya. Matanya sudah sangat berat saat ini.
Begitu pula Guren. Matanya juga sudah sangat berat saat ini. Sedangkan rumahnya masih jauh, begitu pula dengan rumah Shinya. Jadi, Guren memutuskan untuk menginap disalah satu hotel kecil.
"Kau mau kemana, Guren?" Tanya Shinya saat melihat Guren akan keuar.
"Ayo, kita akan menginap disin semalam. Rumahmu juga masih jauh, Shinya." Jawab Guren.
Shinya tersenyum lalu keluar dari mobil dan mngikuti Guren masuk kedalam hotel.
Fyuhh~saat ini mereka sudah berada di dalam kamar dan Shinya sudah lebih dahulu tidur dikasur. Sementara Guren memilih untuk tidur di sofa. Guren melihat wajah Shinya yang tidak tenang seperti biasanya.
Ketika pria itu akan mematikan lampu, Shinya tiba-tiba terbangun kemudian duduk dan menatap Guren dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Guren, tidurlah disampingku." Ucap Shinya.
"Tidurlah, Shinya." Guren mendekati Shinya.
"Ayolah, tidur disampingku. Tidur disofa tidak enak kan?" Balas Shinya.
Guren tersenyum kemudian menyentuh pipi Shinya.
"Sudahlah, cepat tidur." Ucap Guren.
Baru saja Guren akan melangkah, tapi Shinya sudah menarik lengannya dan dikarenakan Guren yang tidak fokus dia jatuh diatas tubuh Shinya dengan kedua tangan menahan beratnya.
Shinya langsung mencium Guren. Guren cukup terkejut dengan serangan Shinya, tapi dengan segera pria itu membalasnya. Shinya pun mengalungkan lengannya kebalik leher Guren. Mereka berciuman cukup lama sampai akhirnya Shinya melepaskan ciumannya karena kehabisan pasokan udara.
"Kau agresif sekali, Shinya~" Ucap Guren sambil menyeringai.
Shinya hanya tersenyum geli melihat seringaian Guren. Guren kemudian mencium leher Shinya sampai akhirnya terciptalah tanda kemerahan yang menunjukkan bahwa Shinya adalah milik Guren.
"Kau juga, Guren." Balas Shinya ketika Guren sudah selesai membuat tanda di lehernya. Shinya tau sisi ke-12 Guren. Pria itu adalah pencium yang agresif.
Perlahan-lahan Shinya melepaskan kemeja putih Guren, begitupula Guren yang sudah melepaskan kemeja Shinya. Setelah itu Guren berbaring disamping Shinya.
"Sebegitu menariknya kah aku?" Celetuk Guren saat melihat Shinya memandangi tubuh Guren.
"Sepertinya begitu." Jawab Shinya.
Selanjutnya mereka melakukan—yah pasti pada tau yak an?—
-60 SHADES OF GUREN-
Sudah pukul 3 pagi dan keduanya masih terbangun dengan nafas yang belum teratur. Kalian pasti tau apa yang sudah terjadi kann?
"Kau tau, Guren?" Tanya Shinya.
"Aku tau." Jawab Guren.
"Memangnya kau tau apa yang akan ku katakan?" Tanya Shinya lagi.
"Kau pasti ingin bilang kalau kau lebih suka aku yang sekarang." Jawab Guren sambil menatap Shinya yang berbaring disampingnya.
"Dengan kata lain, aku lebih suka kau yang polos dibalik selimut ini, Guren~" Shinya tersenyum manis saat matanya bertemu dengan mata Guren.
"Dan aku jadi tau sisi ketiga belasmu." Tambah Shinya.
"Ketiga belas? Memangnya apa?" Tanya Guren.
"Kau itu sempurna, entah dalam balutan jas atau tanpa jas itu sekalipun." Jawab Shinya.
Guren terkekeh kecil mendengar jawaban Shinya. Lalu dia memeluk Shinya.
"Aku mencintaimu, Shinya dan selamanya akan selalu begitu." Ucap Guren.
"Aku juga mencintaimu, Guren." Balas Shinya.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Author's Note : Halo! Chapter 3 dah update nih, gimana? Review ya! JAA~
Mind to Review~?
