60 SHADES OF GUREN

DISCLAIMER BELONGS TO KAGAMI TAKAYA

STORY IS MINE

WARNINGS: TYPO(S), OOC, ALUR BERANTAKAN, ABAL, YAOI, GAJE AND OTHERS.

(ps : Disini ceritanya Shinya itu anak dari bangsawan Hiragi, tapi yahh dia ga nganggap dirinya itu bangsawan kok, Shinya iitu rendah diri+rendah hati. Dia nganggap dirinya itu orang biasa. Shinya juga tetap anak angkat di cerita ini. Di cerita ini, Shinya itu kayak ga dipeduliin gitu sama keluarganya~)

(pss : ketika membaca chapter ini, kalau bisa sambil mendengarkan lagu ellie goulding – love me like you do)

Inspired by : 50 Shades Of Grey

STOOOP!

SAYA PENGANUT DLDR!

(DON'T LIKE DON'T READ~)

.

.

Guren menaruh beberapa berkas yang perlu di ketik Shinya tepat di hadapan pria itu. Setelah saling melempar senyum, Shinya mulai mengetik isi berkas itu di komputernya.

Beberapa detik memandangi Shinya yang fokus pada pekerjaannya, membuat Guren semakin merasa kalau dirinya benar-benar menginginkan Shinya. Sembari melangkah pergi, Guren pun menyunggingkan senyum, berharap rencana sederhananya akan berhasil.

Empat puluh menit pun berlalu, Shinya melihat sebuah tulisan tangan di lembar berkas terakhirnya. Ia tersenyum tanpa perlu bertanya tulisan tangan siapa itu. Matanya menyapu seisi ruangan dan benar saja, Guren tidak lagi ada di mejanya.

'Will you find me?'

Begitulah kalimat yang tertulis di sudut bawah kertasnya.

Shinya pun memilih untu menyelesaikan mengetik berkas terakhirnya. Hingga beberapa menit kemudian ia mematikan komputernya tanda ia sudah menyelesaikan berkasnya. Sekarang dia harus mencari Guren. Ia tidak tau akan kemana untuk menemukan pria itu, tapi ia tau jika pria itu pasti meninggalkan jejak.

Begitu dia keluar dari ruangannya, metanya menangkap setangkai mawar merah di dekat pintu lift. Segera saja ia berlari dan mengambilnya. Ternyata bukan hanya setangkai mawar, tai juga ada secarik kertas yang menempel di tangkainya.

'Ingat pertemuan pertama kita?'

Shinya otomatis mengangguk pelan saat selesai membaca kalimat pertama tulisan itu.

'Kau gugup, tapi aku berhasil membuatmu jatuh untuk yang pertama kalinya. Pergilah ke lantai dasar, aku menunggumu, Shinya.'

Shinya tersenyum sendiri setelah selesai membaca isi surat tersebut. Ia masuk ke dalam lift untuk pergi ke lantai dasar.

"Sebenarnya kau ingin melakukan apa, Guren?" gumam Shinya.

TING!

Siapa yang tau, disaat pintu lift terbuka, sudah ada seorang wanita dengan blazer hitam putih yang pertama kali Shinya temui di perusahaan ini, dia yang mengantarkan Shinya ke ruangan Guren, dia adalah Shigure. Shinya meghampiri Shigure dengan tatapan bingung.

"Anda tau kenapa saya berada di depan lift?" Tanya Shigure.

"Guren ya?" Jawab Shinya ragu.

"Selamat! Anda sudah jadi orang spesial bagi Guren-sama! Semoga hubungan kalian terus berlanjut." Ucap Shigure sambil tersenyum tipis yang kemudian menyodorkan secarik kertas pada Shinya.

"Kalau begitu silahkan dibaca." Tambah Shigure.

Shigure mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam lift dan ia sempat berucap 'Semoga beruntung, Shinya-san.'

"Arigatou." Lirih Shinya sambil membuka kertas dari Shigure.

'Ingat waktu kau mengobati tanganku yang terluka? Asal kau tau, hanya kau yang peduli padaku, Shinya. Sebagai balasannya, carilah mobilku di tempat parkir biasanya.'

Shinya setengah berlari keluar dari kantornya, tidak peduli orang lain melihatnya terlalu bersemangat. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di area parkiran mobil dan menemukan mobil Audi hitam dengan stiker 'Owari' milik Guren.

Ketika ia sampai di depan mobil Guren, yang di temuinya hanya seorang pria yang memakai kemeja putih dan kalau Shinya tidak salah, dia salah bawahan Guren yang agak akrab dengannya . Pria itu memberikan secarik kertas pada Shinya, setelahnya ia masuk ke dalam mobil Guren dan duduk di kursi pengemudi.

Shinya langsung membaca tulisan di kertas itu.

'Aku jadi ingat makan malam waktu itu, Shinya. Itu pertama kalinya kau ada di mobilku. Sekarang kau juga harus ada di mobil, tapi yang ada bersamamu bukanlah aku.'

Pria itu menghela nafas sebelum masuk ke mobil dan duduk di samping kursi pengemudi.

Ini kali kedua Shinya datang ke restoran dimana Guren mengajaknya makan malam waktu itu. Tapi kali ini bereda situasi, karena saat Shinya datang, restoran itu sangat sepi dan ada seseorang pelayan yang menuggunya di depan pintu utama. Pelayan itu langsung menepuk bahu Shinya dan mengajaknya ke suatu tempat.

"Maaf, tapi aku mau dibawa kemana?" Tanya Shinya bingung.

"Tuan Ichinose mengatakan jika anda datang, anda harus ganti pakaian lebih dahulu." Ucap sang pelayan yang ternyata membawa Shinya ke toilet khusus.

"Silahkan masuk, Tuan. Di dalam sana semuanya sudah tersedia." Tambah si pelayan.

Shinya mengangguk dan melangkahkan kaki kedalam. Sisi kelima belas yang Shinya tau tentang Guren, ia adalah pria yang penuh kejutan.

Yang Shinya dapatkan di dalam toilet adalah sebuah bungkusan yang di dalamnya terdapat sebuah kemeja kotak-kotak berwarna hitam putih dan kaus lengan pendek warna hitam. Ah, ada sebuah celana panjang hitam panjang dan juga sepasang sepatu berwarna putih keluaran terbaru.

"Astaga, dia itu benar-benar ya…sebenarnya apa yang ingin dia lakukan." Gumam Shinya sambil tersenyum.

Shinya langsung mengganti pakaian kantor formalnya dengan pakaian yang sudah di sediakan.

Ternyata, di saku kemejanya, terdapat secarik kertas yang membuat Shinya tersenyum membacanya. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan si pemberi kejutan tak terduga ini.

'Sudah merindukanku, hm? Keluar dan ikuti kemana bunga mawar mengarah.' Begitulah kalimat di kertas itu.

Shinya pun segera keluar dari toilet, meninggalkan pakaian formalnya. Dia terkejut karena sekarang ada kelopak bunga mawar yang berjajar di lantai. Pasti itu yang akan menunjukkan Shinya dimana Guren berada.

"Aku akan menemukanmu, Guren." Gumam Shinya.

Seiring dengan langkahnya mengikuti arah mawar itu, mulai terdengar dentingan piano. Shinya tidak tau darimana suara piano itu dan siapa yang memainkannya, tapi suara piano itu terdengar dari segala arah.

"You're the light, you're the night, you're the colour of my blood.. You're the cure, you're the paint, you're the only thing I wanna touch. Never knew that it could mean so much, so much…"

Shinya tau benar pemilik suara itu. Ia mempercepat langkahnya untuk mengikuti jejak mawar yang mengarah ke tangga atas. Tangga yang sangat mewah. Ada karpet panjang yang tergelar dari puncak tangga sampai anak tangga pertama.

"So love me like you do.."

Dan ketika Shinya sampai di anak tangga teratas, ia bisa melihat jelas sosok yang memunggunginya. Pria dengan jas itam sedang memainkan jarinya di atas tuts piano.

Sama sekali tak ada lampu dan matahari di ruangan atas itu. Yang ada hanyalah cahaya dari api lilin yang mengelilingi piano tempat pria itu berada.

"Touch me like you do.."

Shinya berjalan mendekat dengan air mata yang hamper menetes. Suara pianonya terdengar melemah dan tepat saat Shinya berada di belakangnya, Guren berdiri dan membalikkan badan menghadap Shinya dan tersenyum sekilas.

"What are you waiting for?" Guren bernyanyi sambil setegah bertanya.

Shinya tak bisa menahan diri untuk mencium Guren saat itu juga.

CUP

Sayangnya Gurenlah yang memulai dan sudah pasti di bahas oleh Shinya. Shinya mengalungkan lengan di leher Guren, ia membiarkan punggungnya ditelusuri oleh jemari Guren. Sungguh ia tidak menduga kejutan dari Guren kali ini. Pria itu memang benar-benar penuh dengan kejutan.

Shinya melepaskan tautan mereka ketika dia mulai kehabisan nafas.

"Aku mencintaimu, Shinya. Sangat-sangat mencintaimu." Ucap Guren sambil tersenyum lembut.

"Aku juga mencintaimu, Guren. Sangat-sangat mencintaimu." Balas Shinya.

Guren menggenggam tanganShinya dan menarik Shinya kearah tangga. Bukan tangga mewah seperti tadi, melainkan tangga besi biasa. Shinya hanya mengikuti kemana Guren akan membawanya.

"Aku tidak perlu sejuta hari untuk mengenalmu." Ucap Guren.

Shinya menaikkan sebelah alisnya tanda ia bingung karena tiba-tiba Guren berkata begitu.

"Aku tidak perlu punya berton-ton emas, kalau kau bisa jadi sebuah emas yang berharga untuk hidupku, Shinya. Aku tidak perlu kemanapun jika nyatanya kau selalu menungguku. Kau selalu ada untukku." Tambahnya.

Akhirnya Shinya tau dia akan dibawa kemana, ini adalah tangga menuju ke atap restoran yang sangat luas, secara restoran ini juga sangat besar.

CEKLEK (Bener ga?)

"Aku mencintaimu, Shinya dan aku tau kalau kau juga mencintaiku."

Mereka sudah berada di atas atap restoran yang sangat luas sekarang.

"Dan untuk semua hal yang sudah kita lakukan. Maukah kau selalu tetap berada di sisiku apapun yang terjadi dan maukah kau….?" Tambah Guren.

"Guren! Kenapa kau memarkirkan benda itu disini?!" Shinya benar-benar terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Guren tertawa pelan nelihat ekspresi terkejut Shinya kearah helikopternya. Ya, helikopter Guren sengaja ia parkir diatas gedung restoran itu. Karena itu adalah salah satu kejutan untuk Shinya.

Jika pria itu menjawab ya, maka sebagai hadiahnya Guren akan mengajaknya menaiki helikopter itu.

"Kau belum menjawab pertanyaanku Shinya." Ucap Guren.

Shinya tersenyum sekilas lalu menatap Guren.

"Jadi, maukah kau….?" Guren mengulurkan tangannya pada Shinya.

"Tentu saja aku mau!" Shinya menerima uluran tangan Guren dan menggenggamnya.

Dengan jawaban itu, Guren menarik lengan Shinya. Mereka berlari kearah helikopter berwarna abu-abu itu.

Guren masuk ke kursi pengemudi dan Shinya sudah pasti duduk di sebelahnya. Mereka saling melempar senyum sambil memasang sabuk pengaman dan juga headclip di kepala.

"Dari yang kudengar, kau juga bisa menerbangkan helikopter eh, Shinya?" Celetuk Guren.

"Apa yang seorang Hiragi Shinya tidak bisa?" Shinya tersenyum mengejek pada Guren.

"Kalau begitu kau siap?" Tanya Guren.

"Aku selalu siap!" Jaawab Shinya dengan semangat.

Guren menekan sebuah tombol dan beberapa lampu di helikopter menyala dan bisa di dengar bunyi baling-baling yang berputar. Pria itu menarik pedal rem lepas kendali, karena bentuknya sama seperti pedal rem di mobil.

Dan saat ini mereka sudah mengudara dengan Guren yang tak henti-hentinya tersenyum dan terkadang ia tertawa karena melihat tingkah Shinya yang sangat exited. Sebenarnya ini bukan kali pertama Shinya menaiki helikopter, dia adalah keluarga bangsawan, ingat? Tapi tetap saja dia jarang menaiki helikopter pribadi milik keluarganya.

Guren sengaja tidak menutup jendela helikopternya. Ia ingin Shinya merasa bebas dan lepas, belum lagi ia tau kalau Shinya sedang di hadapkan dengan gadis-gadis dari bangsawan lain yang membuatnya sakit kepala, kalian ingin tau darimana dia mengetahuinya? Nanti saja kita bahas.

"Hei, Guren. Kita akan kemana?" Tanya Shinya.

"Kita akan….ke pulau khusus milikku." Jawab Guren yang langsung membuat Shinya tercengang.

"Sungguh?" Tanya Shinya.

"Tentu saja, ada apartemen yang terletak di tengah-tengah pulau itu dan mungkin…kita.." Jawab Guren sambil menyeringai.

"Ara ara~ aku mengerti." Balas Shinya.

Sisi ke enam belas yang Shinya dapatkan hari ini, Guren adalah seorang pria yang mesum. Shinya jadi terkekeh sendiri jika memikirkannya.

Satu malam di pulau khusus milik Guren adalah suatu yang amat menyenangkan bagi Shinya. Ia tidak akan melupakan hari itu sedikit pun, sekalipun sekarang ia sudah kembali ke rumahnya. Shiya merasa amat bebas. Guren telah memberikannya banyak kejutan yang tak terkira.

TING TONG(?)

Shinya tersenyum tipis ketika mendengar bunyi bel apartemennya. Ia akan membiarkan Mahiru atau Shinoa yang membukanya, sementara ia duduk di meja sambil membaca buku. Ia sedang berada di dalam perpustakaan pribadi miliknya yang berada di apartemennya ini.

TING TONG

Bel itu kembali berbunyi.

TING TONG

Ah, lagi-lagi bel itu kembali berbunyi.

Langsung saja seorang gadis berjalan kearah pintu dan membukanya. Bisa di lihat ekspresi terkejut diantara kedua belah pihak.

"A-aa, Selamat siang, Mahiru-sama." Itu adalah Guren. Ia tidak mengira kalau Mahiru akan berada di apartemen Shinya dan membukakan pintu untuknya.

"Mau apa kemari?" Tanya Mahiru sinis.

"Shinya menyuruhku untuk datang." Jawab Guren seadanya.

Mahiru hanya diam, tapi dari gestur tubuhnya ia membiarkan Guren untuk masuk.

Baru saja Guren melangkahkan kaki untuk masuk, tiba-tiba saja seorang gadis lain muncul.

"Hee~ ternyata Ichinose Guren-san." Celetuk Shinoa yang entah sejak kapan sudah berada di samping Guren.

"Ah, Shinoa. Tolong antarkan dia ke tempat Shinya." Perintah Mahiru pada adiknya itu.

"Ryoukai, Nee-san!" Ucap Shinoa sambil menghormat.

"Kalau begitu, ikut aku, Guren-san." Ucap Shinoa yang berjalan lebih dahulu.

"Sejak kapan kalian tinggal disini, Shinoa?" Tanya Guren yang saat ini tengah mengikuti Shinoa.

"Hm? Sejak…empat hari yang lalu." Jawab Shinoa.

Kalian tau kenapa Guren bisa dengan enaknya bicara dengan Shinoa? Itu karena mereka sudah mengenal sebelumnya. Kapan? Saat pesta Mito waktu itu. Ingatkah kalian ketika Guren sedang memperhatikan Shinya ternyata ada orang lain yang memperhatikannya? Orang itu adalah Shinoa. Sebelum dia dan mahiru ke panggung Shinoa sempat menemui Guren dan berbincang dengannya. Mereka memutuskan untuk bertukar semua informasi tentaang apapun yang terjadi pada Shinya. Karena itu Guren tau kalau waktu itu Shinya sedang pusing akibat gadis-gadis yang di kenalkan padanya.

"Kita sampai~" Ucap Shinoa.

Ternyata mereka sudah sampai di depan pintu berwarna biru yang senada dengan langit musim panas. Shinoa langsung membuka pintu tanpa permisi terlebih dahulu dan melangkah masuk.

"Nii-san~~" Panggil Shinoa yang kemudian mendekat kearah kakaknya itu.

"Hm?" Shinya tak mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang di bacanya.

"Ada tamu untukmu." Balas Shinya.

"Yasudah, suruh saja dia masuk dan menemuiku disini." Ucap Shinya sambil membalik lembar buku ke halaman selanjutnya.

Shinoa hanya mendengus dan kemudian kembali mendekat kearah Guren yang dari tadi diam di pintu.

"Ah, Nii-san, tadi ponselmu berdering berkali-kali." Ucap Shinoa

"Lalu?" Balas Shinya. Yah beginilah dia, jika sudah membaca buku bisa lupa diri.

"Aishh, yang menelponmu adalah Ayah." Ucap Shinoa.

Shinya hanya membalasnya dengan menjawab 'Oh' tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

"Ah, kau bisa masuk, Guren-san." Ucap Shinoa pada Guren yang dari tadi berdiri di pintu mendengarkan obrolan Shinya dan Shinoa.

Tepat setelah itu Shinoa melangkah keluar dari perpustakaan pribadi sang kakak. Guren pun melangkah masuk lalu menutup pintu. Ia melangkah kearah Shinya yang sedang seriusnya membaca buku. Jika disaat begini, barulah Shinya terlihat seperti seorang bangsawan terhormat dari keluarga Hiragi.

"Shinya." Panggil Guren yang kemudian duduk di kursi di hadapan Shinya. Sayangnya ada meja yang menjadi pembatas mereka.

"Hm?" Balas Shinya tanpa mengalihkan pandangan.

Guren kembali memperhatikan Shinya. Rambutnya yang agak berantakan karena angin yang berhembus dari jendela yang berada di belakangnya, mata sebiru langit di musim panas, kaus berlengan pendek berwarna putih yang pas dibadannya, celana panjang hitam dan..sebuah arloji silver melingkar pas ditangannya. Dia tidak terlalu memikirkan arloji itu, bisa saja sebelum dia datang tadi Shinya baru saja pulang entah darimana.

"Shinya." Guren kembali memanggil pria yang sedang berkutat dengan buku di dahadapannya ini dan sayang hanya dib alas sebuah gumaman.

"Hm?"

Sekarang Guren memperhatikan buku-buku yang di tumpuk diatas meja. Ia mengambil salah satu buku dan membaca judulnya. Dia agak terkejut ketika mengetahui bahwa setengah dari bacaan Shinya adalah buku bacaan yang rumit. Bahkan dia menemukan buku berbahasa Prancis disitu.

"Hei, Shinya. Aku baru tau kalau suka dengan bacaan yang rumit seperti ini." Ucap Guren yang kembali di tanggapi dengan gumaman.

"Hmm"

"Shinya! Aku sedang bicara!" Guren menarik buku yang sedang di baca Shinya dan melihatnya.

"Aladdin?" Guren menaikkan sebelah alisnya lalu menatap Shinya.

"Kau masih suka membaca dongeng bocah seperti ini?" Tanya Guren.

"Aku suka ceritanya kok." Jawab Shinya sambil mengerucutkan bibirnya.

"Kalau begitu, kenapa kau menyuruhku kesini?" Tanya Guren lagi.

Bukannya menjawab, Shinya memperhatikan Guren. Hari ini pria itu mengenakan kemeja lengan pendek hijau, celana panjang hitam dan sepatu berwarna hitam putih.

"Aku ingin mengajakmu makan malam bersama disini." Barulah Shinya menjawab sambil tersenyum.

"Makan malam?" Ulang Guren.

Shinya mengangguk tanpa menghapus senyumannya.

"Hh, baiklah." Guren menerima tawaran Shinya kemudian membalas senyuman pria itu.

Shinya mengalihkan pandangannya pandangannya pada pintu yang baru saja diketuk perlahan dan sekarang sudah ada sosok gadis bernama Mahiru yang membawakan makanan untuk Shinya.

"Are? Padahal aku tidak meminta lho, Nee-chan." Ucap Shinya sambil tersenyum jahil ketika Mahiru meletakkan piring yang isinya adalah dua potong cake getau chocolate favorit Shinya.

"Habisnya aku sudah menyuruhmu untuk memakannya, lalu kau bilang 'Masukkan saja kedalam lemari es, aku lebih suka memakannya jika beku.' Dan sekarang aku baru mengeluarkannya setelah dua jam di lemari es." Balas Mahiru sambil sesekali menirukan cara bicara Shinya.

"Aku juga lupa kalau tadi aku pergi membeli cake." Gumam Shinya.

"Sekarang makan itu." Ucap Mahiru kemudain keluar dari sana.

"Tak kusangka kalau kalian akrab." Celetuk Guren.

"Ahaha~ jarang-jarang dia mau akrab denganku. Bahkan sampai merengek-rengek untuk tinggal disini." Balas Shinya yang kemudian mulai memakan cakenya.

"Hei, sepotong lagi untukmu." Tambahnya ketika melihat Guren malah diam.

"Hei, Shinya. Kau punya buku tentang sejarah para keluarga bangsawan?" Guren malah bertanya daripada menyentuh cake itu.

"Hm? Tentu saja aku punya. Malahan aku di suruh untuk menghapal semua isi buku itu oleh Ayah." Jawab Shinya sambil membuka laci mejanya dan mengeluarkan buku tebal yang sudah terlihat tua.

Guren mengambil buku itu dan mulai membacanya. Setelah lima menit membaca, barulah Guren memakan cakenya dan lanjut membaca sambil memakan cake. Shinya yang melihat itu tersenyum tipis lalu lanjut membaca kisah Aladdin tadi, tentunya sambil memakan cake.

Dua puluh menit sudah mereka habiskan dengan membaca buku. Sekarang mereka sudah berhenti membaca, hitung-hitung mengistirahatkan mata mereka.

"Tunggu dulu, tadi kau bilang kau di suruh untuk menghapal semua isi buku ini?" Tanya Guren.

"Hm. Aku di suruh untuk menghapalnya." Jawab Shinya.

"Dan?" Tanya Guren lagi.

"Dan tentu saja aku sudah menghapal semuanya." Jawab Shinya enteng.

Guren langsung tercengang dengan jawaban Shinya. Buku setebal itu mampu di hapal oleh Shinya? Yang benar saja.

"Kureto-nii, Seishiro-nii, Nee-chan dan Shinoa-chan juga sudah menghapal semua isi buku ini." Tambah Shinya.

Guren menghela nafasnya. Dia tidak akan mengerti jalan pikiran Shinya, tapi dia akan mencoba memahaminya.

"Ah, sudah sore. Ayo kita keluar." Ucap Shinya setelah melirik arlojinya lalu bangkit dari duduknya.

Guren ikut bangkit dan menatap tangannya yang sudah di genggam Shinya dan menariknya keluar dari ruang perpustakaan. Shinya menarik Guren ke dapur dan berjalan mendekat kearah mini bar yang ada di dapurnya.

"Kau duduklah disitu. Aku segera kembali." Perintah Shinya kemudian ia berjalan kearah ruang tamu tempat Mahiru dan Shinoa sedang menonton televisi.

Guren hanya menurut dan duduk di kursi yang ada di mini bar tersebut.

"Nee~ Ayo kita masak bersama." Celetuk Shinya.

"Ayo!" Shinoa langsung berdiri dan dengan semangat menerima ajakan Shinya.

"Ayolah, Mahiru. Jarang-jarang kita begini." Shinya menarik Mahiru dan mengajak kedua saudarinya itu ke dapur.

Guren melihat kedatangan Shinya bersama kedua saudarinya itu. Dia sempat melirik kearah Mahiru.

"Jadi? Kita akan makan apa? Ada usul?" Tanya Shinoa.

"Steak."

"Omelete." Itu adalah usul dari Shinya dan Mahiru.

"Lalu? Guren-san, kau punya usul?" Tanya Shinoa pada Guren.

"Hm? Mungkin kari." Jawab Guren.

"Kalau begitu ayo kita masak!" Ucap Shinoa dengan penuh semangat.

"Kita bagi tugas. Nee-chan lebih pandai memasak steak disbanding aku. Jadi kau bagian steak ya? Lalu..karena kau cukup ceroboh dibagian memasak, jadi kau siapkan omelettenya, Shinoa dan aku akan memasak kari untuk tamu kita. Lalu kau tidak punya usul, Shinoa?" Ucap Shinya.

"Hm? Sepertinya aku juga ingin kari." Balas Shinoa.

Shinya mengangguk singkat. Sementara Mahiru mengambil bahan-bahan makanan. Yap! Urusan masak-memasak, Shinya dan Mahiru jagonya di keluarga Hiragi. Dulu Shinoa juga pernah memasak omelette dengan temannya, Sangu Mitsuba. Dan kalian tau apa akhirnya? Wajan yang mereka pakai untuk memasak omelette malah hangus dan omelettenyamalah tebakar.

"Ittadakimasu~" Ucap mereka berempat secara serentak lalu mulai memakan makanannya.

Suasana makan kali ini cukup ramai akibat Shinoa dan Guren yang sesekali saling mengejek, tapi sayangnya Mahiru tetap diam sedari tadi. Shinya tau alasan saudarinya yang satu itu diam, itu pasti karena ada Guren. Tiba-tiba saja suasana sempat hening beberapa saat.

"Oh ayolah, berhenti memasang wajah di tekuk begitu, Mahiru." Ucap Shinya yang sudah tak tahan dengan ekspresi gadis di hadapannya itu.

"Ha?" Mahiru malah bingung.

"Hh, aku tau kau pasti merasa risih karena disini ada Guren. Tapi sudahlah, jangan terus-terusan bertengkar, sebegitu enaknyakah bertengkar itu? Aku tau kalian punya masalah tapi setidaknya selesaikan lalu kalian bisa jadi teman kan?" Shinya betul-betul jengah dengan ekspresi saudarinya itu yang sedari tadi diam saja. Bahkan saat Sinya bertanyapun hanya dijawab sangat singkat.

Guren dan Mahiru yang mendengar itu tersentak. Kemudian mereka berpikir kalau ucapan Shinya itu ada benarnya, dulu mereka juga teman baik. Mungkin tidak masalah untuk kembali berteman kan?

"Bagaimana?" Tanya Shinya.

Mahiru menganggukkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya pada Guren dengan maksud berjabat tangan.

"Kalau begitu, mohon bantuannya, Guren." Ucap Mahiru dengan senyuman tipis.

"Begitupula aku, Mahiru…" Guren menerima jabatan tangan Mahiru lalu membalas senyuman Mahiru dengan senyum tipisnya.

"Tidak. Cukup Mahiru saja." Balas Mahiru yang di balas anggukan pelan dari Guren.

Shinya dan Shinoa saling melirik lalu tersenyum melihat saudari mereka itu.

Sepuluh menit berlalu, mereka sudah selesai makan dan sekarang mereka berempat sudah duduk di karpet sambil bermain kartu. Bagi yang kalah, wajahnya akan di coret dengan tepung, begitulah hukumannya.

Wajah Shinya, Guren dan Shinoa sudah benar-benar penuh dengan tepung saat ini. Salahkanlah Mahiru yang terlalu ahli bermain kartu, dia bahkan baru tiga kali kalah.

"Aku menyerah!" Ucap Shinya lalu meletakkan kartunya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.

Guren dan Shinoa ikut menyerah dan menyusul Shinya ke kamar mandi. Sementara Mahiru hanya membersihkan coretan tepung dengan tisu. Saat mereka bertiga akan kembali ke ruang tamu, Guren menarik Shinya ke dapur.

"Hm? Kau ingin sesuatu, Guren?" Tanya Shinya.

"Aku menginginkanmu." Jawab Guren sambil menyeringai.

"Kau tau kit tidak bisa hari ini, bagaimana jika lain hari?" Ucap Shinya.

"Boleh saja, tapi aku ingin mendapat ciumanmu terlebih dahulu sebelum aku pulang." Balas Guren yang tangannya sudah melingkar di pinggang Shinya.

"Boleh saja." Shinya tersenyum pada Guren.

Shinya melingkarkan lengannya pada leher Guren ketika Guren mengecup bibirnya. Ah, lama-lama kecupan itu jadi ciuman panas yang jika dilanjutkan, pasti kalian tau apa yang akan terjadi kan?

Guren melepaskan ciumannya ketika mereka berdua sudah kehabisan oksigen. Guren tersenyum sekilas dan memeluk Shinya erat. Sudah pasti Shinya membalas pelukan itu tak kalah erat.

"Sebenarnya aku belum ingin melepasmu." Ucap Guren ketika ia melepas pelukannya.

"Sama halnya denganku." Balas Shinya.

"Kalau begitu aku akan pulang." Ucap Guren.

Shinya mengangguk lalu berjalan bersama Guren menuju pintu depan. Mereka berdua heran ketika pintu depan sudah terbuka. Shinya mempercepat langkahnya ke into lalu mengecek keadaaan sekitar, siapa tau ada orang lain yang masuk tanpa sepengetahuannya, tapi sepertinya tidak ada.

"Ada sesuatu?" Tanya Guren.

Shinya langsung mengalihkan pandangannya ke garasi ketika mendengar pintu garasinya di buka. Bisa dilihat kalau itu adalah Mahiru.

"Ah, Shinya. Aku mau membeli sesuatu, jadi aku minta kunci mobilmu." Ucap Mahiru.

"Kau mau membeli apa?" Tanya Shinya.

"Himitsu~" Jawab Mahiru.

"Hh, terserah dan berhati-hatilah." Shinya merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobil dan melemparnya kearah Mahiru yang langsung di tangkap oleh Mahiru.

"Jangan tidur terlalu lama, Shinya." Ucap Guren sambil menepuk kepala Shinya lalu berjalan kearah mobilnya.

Guren sempat berhenti ketika mendengas suara mobil yang di gas. Dia menatap mobil yang baru saja melewatinya.

"Chevrolet Camaro berwarna navy tipe tinggi dan itu adalah keluaran terbaru." Batin Guren tercengang. Bahkan mobilnya bukanlah tandingan mobil itu, oke? Itu adalah mobil sport nan mewah yang tidak semua orang bisa memilikinya.

"Shinya, yang tadi itu mobilmu?" Tanya Guren.

"Hm? Kenapa? Terkejut?" Balas Shinya sambil tersenyum jahil.

"Ah, aku lupa kalau kau ini adalah seorang bangsawan." Ucap Guren.

Shinya hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Guren.

"Kalau begitu aku pergi!" Guren mengeraskan suaranya ketika dia akan masuk kedalam mobil.

"Hati-hati di jalan!" Balas Shinya sambil tersenyum ketika melihat mobil Guren menghilang dari pandangannya.

"Are?" Shinya menaikkan sebelah alisnya ketika mobilnya sudah kembali dan sekarang tengah di masukkan ke dalam garasi.

Shinya malas menebak, jadi dia memilih untuk naik ke kamarnya dan tidur.

.

.

.

TO BE CONTINUED

Author's Note : Yo! Author udah update! Yeayy, Arigatou Gomzaimasu untuk reviewnya. Nanti aku buat khusus untuk balesan review deh, kayaknya setelah chapter terakhir*ditabok* soalnya author tetap sekolah di saat puasa begini, tapi author udah baca review kalian kok. Ah iya, gak sabar nih nunggu manga chapter 47 dirilis, huuww~ rilisnya masih lama, tanggal 4 Juli. Eh iya! Tanggal 7 nanti Mit-chan Otanjoubi Omedettou kan? Ahh~~ ga sabar _ kalau gitu sekian deh, tinggalkan jejak dengan review ya!

Mind to Review~?