ANGEL'S
REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION
ANUGRAH BIDADARI by SHERLS ASTRELLA
BYUNNERATE
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre: Romance
Rated: T
Warning: Genderswitch! Typos!
Summary: "Kami sering menyebut Ratu sebagai Bidadari Malam. Tiap malam Anda akan melihat Ratu membawa lilin kecil dan berkeliling Hall." "Bagi mereka, engkau adalah Ratu mereka dan terus akan menjadi Ratu mereka tapi bagiku, engkau adalah Ratu yang selalu bersinar di hatiku" "Aku memberikan seluruh cintaku padamu, Chanyeol, rajawaliku yang gagah perkasa."
NO BASH
DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS
Enjoy and Review Juseyooooo
.
.
.
.
Chanyeol pusing.
Hari-hari belakangan ini semua yang dilakukannya tidak ada yang beres. Ia tidak dapat memanah dengan tepat. Permainan pedangnya kacau.
Semua perhatiannya hilang. Semuanya tercurah untuk seorang gadis yang dapat mengobrak-abrik ketenangannya. Setan cilik satu itu memang tidak bisa dilepaskan walau hanya sesaat. Selalu saja ada yang mengekorinya.
Chanyeol heran bagaimana gadis itu menarik perhatian para pria hingga ia selalu dikejar mereka seperti lebah dan madu.
"Engkau memikirkan apa?"
Chanyeol menatap Sehun. "Aku tidak tahu."
"Jadi, engkau mengakuinya?"
"Mengakui apa?"
Sehun menyandarkan punggung di pohon dan berkata, "Engkau menyukai Hyunnie."
"Aku!?"
"Semua orang tahu engkau mencintai Hyunnie," kata Sehun, "Malam engkau menarik Hyunnie, engkau menunjukkan kecemburuanmu."
"Aku!?"
"Akui saja engkau cemburu. Semua yang ada disanatahu engkau cemburu padaku."
"Apa yang semalam kalian mimpikan?"
"Kami bermimpi engkau dan Hyunnie menikah." Sehun tersenyum nakal.
Chanyeol mengibaskan tangannya sambil berkata, "Jangan terlalu banyak bermimpi."
"Terserah kalau engkau tidak mau mengakuinya. Tapi, jangan katakan aku tidak memperingatimu, "kata Sehun, "Saat ini banyak yang nekat merebut Hyunniemu. Aku khawatir kalau engkau tidak bergerak cepat, engkau akan kehilangan dia untuk selamanya."
"Untuk apa aku mengkhawatirkannya?"
"Terserah padamu," kata Sehun, "Saat ini beberapa anak muda berencana untuk melamar Hyunnie."
"Melamarnya?" Chanyeol terlonjak kaget.
"Aku mendengarnya sendiri. Mereka akan mengajukannya siang ini."
"Apakah mereka tidak dapat berpikir mereka masih terlalu kecil untuk menikah? Mereka masih anak-anak!"
"Daripada engkau ribut di sini, lebih baik engkau menemui Hyunniemu," Sehun memberi usul.
"Aku baru saja akan menemuinya," Chanyeol meloncat bangkit.
Sehun tersenyum puas dan berseru, "Lamar dia sebelum didahului yang lain!"
Kata-kata itu menimbulkan ide di benak Chanyeol. Mungkin itu jalan yang terbaik.
Mereka tidur dalam satu kamar telah menimbulkan banyak gosip. Pernikahannya dengan gadis itu akan menghentikan gosip-gosip itu dan dapat memulihkan nama baik mereka. Dengan pernikahannya itu pula ia menjadi lebih leluasa untuk mengawasi gadis itu.
Akhirnya Chanyeol harus mengakui kecantikkan Baekhyun. Sejak awal gadis itu telah membuat banyak hal yang membuatnya takjub.
Mula-mula ia marah sambil menangis. Lalu ia terus menghinanya tanpa henti. Chanyeol yakin tak ada pria yang tahan mendengar rentetan hinaan itu selain dirinya. Hanya gadis itu saja yang mampu menahan sakit dan lapar selama berhari-hari.
Chanyeol yakin ia takkan dapat menemukan gadis lain yang seunik setan ciliknya. Setan ciliknya itu sama sekali tidak mengenal rasa takut.
Melihat wajahnya yang cantik seperti boneka, orang takkan menduga hal itu. Matanya yang biru cerah selalu menatap tajam. Rambut panjangnya yang keemasan selalu bersinar lembut.
Tak seorang pun yang tidak takut pada kemarahannya selain dia.
Rupanya gadis itu tidak hanya menarik untuknya saja. Semua orang tertarik dengan kepandaian dan ketangkasannya.
Akhirnya Chanyeol harus mengakui bahwa ia tertarik pada gadis itu dan mencintainya.
Sehun benar kalau sekarang ia tidak segera bertindak, ia bisa kehilangan Hyunnie untuk selama-lamanya.
Chanyeol mempercepat langkahnya. Ia merasa harus menemukan Hyunnie secepat mungkin sebelum ada yang mendahuluinya.
Baekhyun berlari-lari kecil sambil bersenandung. Ia merasa sangat gembira.
Hijaunya pepohonan ini mengingatkannya pada desa Marshwillow tempat ia dibesarkan. Ia merindukan desanya yang hijau.
"Setan cilik!"
Baekhyun jengkel. Chanyeol merusak kegembiraannya untuk kesekian kalinya selama ini berada di tempat ini.
"Adaapa?" tanya Baekhyun acuh.
"Apa yang kaulakukan di sini?" selidik Chanyeol.
"Khawatir aku kabur?" tanya Baekhyun, "Jangan khawatir, aku tidak akan kabur. Masih banyak yang harus kulakukan untuk rakyatmu."
"Aku senang mendengarnya. Kalaupun engkau kabur, aku pasti bisa menemukanmu."
"Aku yakin engkau akan."
Chanyeol menarik tangan Baekhyun. "Berhentilah, aku ingin berbicara denganmu."
"Apa lagi yang harus kita bicarakan?" tanya Baekhyun. "Aku telah setuju untuk tidur di kamarmu. Aku juga telah berjanji tidak akan kabur. Masih adakah yang kurang?"
"Apakah engkau tidak bisa bekerja sama denganku walau hanya sekali?"
"Tidak," jawab Baekhyun tegas, "Aku tidak bisa bekerja sama dengan orang yang kubenci."
"Sebenarnya, apa yang membuatmu marah padaku?" tanya Chanyeol. "Aku telah berulang kali minta maaf padamu atas kekasaranku padamu. Apakah itu belum cukup?"
Baekhyun membuang muka.
"Hanya engkau satu-satunya wanita yang bisa memendam marah lebih dari satu bulan."
"Terima kasih," kata Baekhyun dengan tersenyum.
"Engkau mau memberitahuku?"
"Engkau sudah tahu mengapa aku tidak dapat berhenti membencimu," kata Baekhyun dengan tenang.
"Baiklah," Chanyeol mengalah, "Aku minta maaf atas semua kesalahan, kekasaran serta segala sikapku yang tidak pantas padamu." Chanyeol menatap Baekhyun, "Engkau puas?"
"Belum."
Chanyeol mengangkat tangannya dengan pasrah. "Aku tidak tahu apa yang membuatmu terus membenciku. Aku datang bukan untuk mencari pertengkaran baru. Aku datang untuk melamarmu."
"Melamarku?" tanya Baekhyun tak percaya. "Aku bertanya maukah engkau menjadi istriku?" ulang Chanyeol dengan tegas.
Baekhyun memandangi Chanyeol. "Engkau tidak sedang mabuk?"
"Tidak," sergah Chanyeol. "Aku sadar apa yang kukatakan."
Baekhyun menatap Chanyeol lekat-lekat.
"Engkau bersedia?"
"Tidak!" sahut Baekhyun tegas, "Aku tidak mau menikah denganmu!"
Chanyeol menangkap lengan Baekhyun. "Engkau harus," desisnya.
"Tidak!" bantah Baekhyun, "Engkau tidak dapat memaksaku!"
"Baiklah," Chanyeol mengalah. "Aku memberimu waktu sampai malam ini."
"Hanya malam ini," Chanyeol menegaskan.
"Aku tetap tidak sudi!" seru Baekhyun pada punggung Chanyeol yang menjauh.
"Menikah dengannya?" kata Baekhyun pada dirinya sendiri. "Sampai mati pun aku tak sudi."
Kecuali kemarahannya yang belum sirna, Baekhyun telah mengakui Chanyeol adalah pahlawan. Ia mengagumi keberaniannya. Tapi, perasaan Baekhyun hanya sampai sejauh itu.
Kalau ia disuruh memilih antara menikah dengan Chanyeol atau membiarkan Krystal merebut Chanyeol, ia pasti akan memilih membiarkan Krystal menikah dengan Chanyeol. Ia mengagumi Chanyeol tetapi tidak tertarik untuk menikah dengannya.
Baekhyun melupakan pinangan Chanyeol. Apapun yang terjadi, ia tetap akan mengatakan "TIDAK!"
Dengan hati riang, ia kembali menari-nari di hutan. Di hutan itu ia mengenang kembali desa Marshwillownya yang hijau. Ia benar-benar ingin kembali ke desanya sebelum ia dipaksa meninggalkannya.
Baekhyun terus bermain di hutan sampai siang.
Seperti biasa, di siang hari ia membantu para wanita memintal benang. Sore hari ia membantu mereka menyiapkan makan malam.
Baekhyun ingin makan malam bersama mereka, tetapi Chanyeol tidak memperbolehkannya. Seusai membersihkan diri dan membantu para wanita, Chanyeol memaksanya naik ke Chanyeol,ia sudah lelah bertengkar.
Lebih baik terlebih untuk malam ini, Baekhyun segera naik ke atas dan duduk diam di kamar sampai pagi.
Tidak seperti biasanya malam itu Chanyeol segera masuk ke kamar. Chanyeol tidak segera menanyai Baekhyun. Ia menyibukkan diri di meja kerjanya.
Baekhyun tidak mempedulikannya, ia duduk di pojok ranjang dan terus menyulam. Ia ingin segera menyelesaikan taplaknya. Baekhyun yakin malam ini juga taplaknya bisa selesai. Yang belum diselesaikannya hanya awan-awan kecil dan burung-burung yang terbang di angkasa.
Tiba-tiba Baekhyun merasa ada yang mengawasinya. Baekhyun mengangkat kepalanya dan terkejut melihat Chanyeol tengah memperhatikannya.
"Kelihatannya engkau sibuk sekali."
Baekhyun meletakkan sulamannya. Ia tahu saatnya telah tiba.
Chanyeol duduk di samping Baekhyun. "Bagaimana?" tanyanya lembut.
"Dengan sangat menyesal," kata Baekhyun lambat-lambat, "Aku tetap tidak dapat menikah denganmu."
Baekhyun telah berkata tenang agar tidak membangkitkan kemarahan Chanyeol tetapi pria itu marah juga.
"Apakah engkau tidak bisa berhenti membenciku? Sebenarnya apa dosaku padamu?"
"Engkau tahu sendiri," balas Baekhyun tidak mau kalah, "Aku yakin engkau tidak terlalu bodoh untuk mengetahuinya."
"Apakah engkau masih marah padaku karena aku membunuh orang itu?" Chanyeol mencengkeram lengan Baekhyun.
"Engkau tahu sendiri."
"Apakah engkau tidak punya pikiran lain selain itu?" tanya Chanyeol tidak percaya. Kemudian dengan nada yang lebih lembut ia melanjutkan, "Dalam peperangan, kita tidak peduli siapa yang bersalah siapa yang tidak. Tidak ada hukum dalam peperangan. Begitu pula dalam perjuanganku melawan Raja Kris. Kalau kita tidak membunuh, kita yang akan dibunuh. Itulah hukum perang."
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tajam.
"Aku akan memberimu waktu lagi. Pikirkanlah kata-kataku ini. Besok pagi aku akan menanyaimu lagi," kata Chanyeol dengan kelembutan yang membuat Baekhyun heran. Tapi gadis itu tidak heran ketika Chanyeol menciumnya dengan lembut sebelum berkata, "Selamat malam."
Baekhyun tetap duduk meringkuk ketika Chanyeol sudah membaringkan diri di sisi kaki ranjang.
Gara-gara apa yang dikatakan Chanyeol, Baekhyun tidak dapat tidur. Ia terus berpikir apakah yang dikatakan Chanyeol itu benar?
Ada pepatah Latin yang menyebut tidak ada hukum dalam perang. Tapi, Baekhyun tidak habis pikir mengapa orang bisa membunuh semudah itu.
Apakah nyawa itu tidak berharga lagi dalam perang?
Mereka tahu bisa terbunuh, tapi mengapa mereka mau berkorban?
Mengapa demi perang orang mau mengorbankan segala-galanya?
Apakah keuntungan perang?
Perang hanya membuat ibu pertiwi bersimbah darah. Mayat-mayat bergelimpangan. Kalau hasil dari peperangan itu adalah kemenangan, itu bagus. Tapi kalau kalah…
Apa gunanya mengorbankan nyawa kalau ada cara lain untuk mencapai tujuan?
Chanyeol sendiri bisa menempuh jalan lain yang lebih aman untuk mencapai cita-citanya. Ia bisa menikahi Yoona. Kalau Raja Kris mati, Yoona akan naik tahta. Ia juga akan menjadi raja dengan sendirinya.
Baekhyun yakin Chanyeol dapat melakukannya. Ia adalah pria tampan yang menarik. Tak mungkin Yoona tidak menyukainya.
Tapi…
Baekhyun tidak mengerti jalan pikiran orang-orang ini. Ia dibesarkan di desa yang damai, adil, tentram, dan makmur. Ia tahu ia tidak akan pernah dapat memahami jalan pikiran orang-orang di negara ini.
Baekhyun tidak dapat tidur. Ia ingin ke bawah berkumpul dengan orang-orang di luarsana.
Melihat Chanyeol yang tidur di dekatnya, Baekhyun mengurungkan niatnya. Walau pria itu tidur nyenyak, bukan berarti ia tidak tahu sekitarnya.
Pernah suatu malam Baekhyun terjaga dari tidurnya. Baekhyun tidak tahu apa yang membuatnya terbangun. Samar-samar Baekhyun mendengar suara-suara yang menakutkan dirinya. Baekhyun tidak berani membayangkan apa yang bersuara itu.
"Apa yang membuatmu terjaga?"
Baekhyun lega mendengar suara lembut itu. "Aku tidak tahu," katanya, "Aku seperti mendengar suara-suara yang menakutkan."
Chanyeol berdiri dan memeriksa keadaan di dalam maupun di luar ruangan luas itu. Ia kembali pada Baekhyun sesudahnya.
"Tidak ada apa-apa," katanya, "Mungkin engkau bermimpi."
"Mungkin," kata Baekhyun ragu-ragu.
Chanyeol duduk di sisi Baekhyun. "Tidurlah kembali. Aku akan di sini sampai engkau tertidur."
Baekhyun merasakan Chanyeol mengenggam tangannya erat-erat dan memberikan rasa aman padanya.
Baekhyun tahu Chanyeol tidak pernah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Gerakan kecil darinya bisa membuatnya curiga.
Saat ini malam sudah larut dan Baekhyun tidak ingin mengganggu tidur Chanyeol. Ia berbaring walau tidak yakin bisa tidur.
Kata-kata Chanyeol terus menghantui pikirannya. Pikirannya terus melayang jauh tanpa bisa membuatnya tertidur.
Malam yang semakin larut membuat pikiran Baekhyun semakin larut, semakin melayang jauh.
Baekhyun tidak ingat kapan ia tertidur, tetapi saat ia terjaga, ruangan itu sudah terang.
Chanyeol berdiri memandanginya sambil tersenyum. "Engkau tidur juga akhirnya. Kupikir engkau akan terus terjaga sampai pagi."
"Sang rembulan membiusku," sahut Baekhyun sekenanya.
"Basuhlah mukamu. Engkau tampak kusut sekali."
Baekhyun meninggalkan tempat tidur menuju jendela. "Engkau keberatan bila aku membantu mereka?"
"Lakukan apa yang kausuka."
Baekhyun segera merapikan tempat tidurnya lalu meninggalkan Chanyeol dengan hati riang.
Chanyeol tersenyum melihat kegembiraan gadis itu. Ia tidak nampak telah berpikir terus sepanjang malam.
Chanyeol segera mengganti bajunya dan bergabung dengan rakyatnya untuk sarapan pagi. Ia berniat mengulangi pertanyaannya setelah makan pagi.
Baekhyun tidak nampak terbebani sepanjang pagi itu hingga Chanyeol mengajaknya berbicara di dalam hutan.
"Aku masih belum mengerti," kata Baekhyun sebelum Chanyeol memulai.
"Apa yang belum kaumengerti?" tanya Chanyeol dengan sabar.
"Mereka tahu bisa terbunuh dalam perang, mengapa mereka mau maju kemedanperang?"
"Karena cinta mereka," jawab Chanyeol, "Karena cinta dan kesetiaan mereka pada pimpinan mereka. Sama seperti kita yang siap mengorbankan segalanya untuk tanah air kita. Kita melakukannya karena apa? Kita melakukannya karena kita mencintai tanah air kita."
Baekhyun merenungkan kata-kata itu sebelum berkata, "Sekarang aku mengerti."
"Lalu bagaimana jawabanmu?'
"Aku tetap menolaknya," kata Baekhyun tegas.
"Mengapa?" tanya Chanyeol heran, "Apakah engkau masih membenciku?"
"Tidak. Sekarang aku dapat mengerti tindakanmu," kata Baekhyun, "Tapi aku tetap menolak menikah denganmu. Alasanku adalah aku baru mengenalmu."
"Itu bukan masalah," kata Chanyeol, "Setelah kita menikah, kita bisa berteman sampai kita saling mengenal."
"Maafkan aku," kata Baekhyun, "Aku tidak dapat menikah tanpa alasan yang jelas."
"Engkau ingin tahu alasannya?" Chanyeol terlihat tidak sabar lagi, "Baik, aku akan memberitahumu. Aku menikahimu agar aku mendapat dukungan lebih dari rakyat."
"Dukungan?"
"Untuk melawan Raja Kris, aku membutuhkan setiap dukungan yang bisa kudapatkan. Dengan menikahi pelayan kesayangan putri mahkota, aku yakin akan semakin banyak orang yang memihakku."
"Apakah engkau tidak dapat memikirkan jalan lain selain perang?"
"Apakah ada jalan lain untuk menggulingkan Raja Kris?"
"Engkau bisa menikahi Putri Yoona. Kalau ia naik tahta, engkau dengan sendirinya akan menjadi raja."
"Kaupikir itu bisa?" ejek Chanyeol, "Apa tidak pernah terpikir olehmu seorang putri mahkota tidak dapat menentukan sendiri calon suaminya?"
Baekhyun diam termenung.
"Hanya dengan perang saja Raja bisa kugulingkan. Dan, aku bisa memperoleh lebih banyak dukungan dengan menikahimu."
Baekhyun tetap diam.
"Apakah engkau tidak berpikir pernikahan ini akan menyelamatkan rakyat dari sengsara? Dengan dukungan yang besar, aku pasti bisa menggulingkan Raja Kris," kata Chanyeol penuh semangat. "Engkau dan aku memiliki cita-cita yang sama yaitu membuat rakyat sejahtera. Aku tidak salah bukan?"
Baekhyun diam. Matanya memandang jauh.
Chanyeol memberi gadis itu kesempatan untuk berpikir.
Baekhyun tampak ragu-ragu sebelum akhirnya dengan tegas ia berkata, "Aku bersedia."
"Bagus," kata Chanyeol puas. "Sekarang juga kita menikah."
"Apa!?" tanya Baekhyun terkejut.
"Aku sudah menyiapkan segalanya," kata Chanyeol. Chanyeol menarik Baekhyun menemui Yixing.
Sepertinya Yixing tahu apa tugasnya. Begitu melihat Chanyeol membawa Baekhyun, ia segera menyambut gadis itu. Yixing mengeluarkan gaun putih sederhana dari sebuah peti dan menyuruh Baekhyun mengenakannya. Sementara Baekhyun merapikan gaunnya, Yixing membersihkan cadar pengantin.
Baekhyun heran bagaimana Chanyeol bisa menyiapkan gaun pengantin secepat ini.
Ternyata Baekhyun tidak perlu bertanya. Yixing telah menceritakan semuanya sambil mendandani Baekhyun.
Orang tua Chanyeol ternyata juga pemberontak. Merekalah yang mula-mula mendirikan benteng ini. Selama bertahun-tahun mereka mengobarkan semangat rakyat untuk melawan pemerintah Raja Kris yang kejam. Sayang Raja Kris berhasil menangkap mereka. Ia menjatuhkan hukuman mati pada mereka.
Saat itu Chanyeol baru dua belas tahun. Dan, sejak itu pula ia memulai pemberontakan terhadap Raja Kris. Ia menyempurnakan benteng yang dibangun orang tuanya. Untuk menghidupi rakyat yang tinggal di sini, ia sering menyerbu pasukan kerajaan yang bertugas menarik pajak.
Tindakannya membuat rakyat mencintai dan menghormatinya. Tapi juga membuat Raja Kris murka. Raja memerintahkan prajuritnya menangkap Chanyeol. Tapi, ia tidak pernah berhasil.
Mata-mata Chanyeol banyak. Banyak yang mau memberitahunya bila ada yang Raja rencanakan untuk menangkapnya.
Selama bertahun-tahun Chanyeol menjadi buronan Raja tanpa pernah sekali pun tertangkap. Chanyeol terus menyempurnakan strateginya agar Raja kewalahan.
Semua orang membenci Raja Kris. Raja tega memeras rakyatnya dengan bermacam-macam pajak yang tinggi hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Ia bahkan tega membunuh siapa saja yang berani mengatakan 'tidak' padanya.
Semua orang di Kerajaan Vandella berharap Raja Kris segera mati dan Chanyeol naik tahta. Mereka tidak mengharapkan orang lain selain Chanyeol.
Baekhyun mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia tertarik ketika mengetahui gaun pengantin yang dikenakannya adalah milik ibu Chanyeol. Baekhyun merasa terhormat bisa mengenakan gaun yang berharga ini.
Yixing memberinya serangkaian bunga hutan yang indah.
"Sayang di sini tidak ada bunga lili atau mawar yang akan melengkapi kecantikanmu."
Baekhyun tidak menanggapi. Ia membiarkan Yixing membimbingnya ke ruang tengah tempat Chanyeol telah menantinya.
Chanyeol tampak sangat tampan dalam jas hitamnya yang halus. Jasnya sehitam rambutnya yang disisir rapi.
"Engkau mirip pengantin jaman pertengahan," bisik Chanyeol ketika menggandeng Baekhyun menghadap Pastor.
Baekhyun tidak tahu bagaimana Chanyeol bisa menyiapkan segalanya secepat jalannya upacara pernikahan. Baekhyun juga tidak mengerti mengapa Chanyeol seperti menyembunyikan perkawinan mereka. Kalau ia memang membutuhkan tambahan dukungan, ia pasti akan mengundang orang banyak dalam upacara ini.
"Pangeran! Pangeran!"
Upacara terhenti karena panggilan yang penuh kecemasan itu.
Sehun segera bertindak dengan membuka pintu. Ia berbicara sebentar dengan orang itu lalu membisikkan sesuatu pada Chanyeol.
"Maafkan saya, Bapa, tampaknya kita terpaksa menghentikan upacara ini untuk sejenak."
"Silakan," jawab Pastor itu.
Chanyeol segera menemui orang di luar itu.
Baekhyun menatap Sehun dengan penuh ingin tahu.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi," kata Sehun.
Sesaat kemudian Chanyeol masuk kembali. Ia tampak sangat cemas.
Baekhyun ingin tahu masalah apa yang membuat Chanyeol menunda hal yang paling didesakkan padanya itu.
"Maafkan aku, ada urusan yang harus segera kutangani," kata Chanyeol pada Baekhyun.
"Maafkan kami, Bapa, tampaknya kita tidak bisa melanjutkan upacara mendesak yang harus saya lakukan."
"Silakan," kata Pastor.
Sehun segera mengikuti Chanyeol.
Baekhyun memandang Pastor lalu pada Chanyeol yang menghilang di balik pintu. Terakhir pada Yixing.
"Sepertinya ada masalah penting yang sangat mendesak," kata Yixing.
"Entahlah," kata Baekhyun.
Baekhyun segera kembali ke kamarnya dan mengganti gaunnya.
Ketika berada di luar, Baekhyun melihat Chanyeol berbicara dengan serius dengan beberapa orang. Dari kejauhan tampak Chanyeol sangat cemas.
Baekhyun tidak tahu apa yang terjadi, ia hanya berharap semuanya baik-baik saja.
"Engkau puas?"
Baekhyun terkejut mendengar pertanyaan sinis itu.
"Ini ulahmu, bukan? Aku yakin sekali."
"Apa maksud Anda, Krystal?" tanya Baekhyun heran.
"Jangan pura-pura!" bentak Krystal, "Pasukan kerajaan mengepung kita. Pasti engkau yang memberitahu mereka."
"APA!?" pekik Baekhyun kaget.
"Mereka bergerak menyerbu ke tempat ini," Krystal mengulangi beritanya.
"Kurang ajar," desis Baekhyun murka.
"Mau ke mana engkau?" Krystal menahan Baekhyun.
Baekhyun menepiskan tangan Krystal dan berlari ke kuda yang dilihatnya. Baekhyun segera melompat ke atas kuda dan memacunya secepat mungkin.
"Berhenti!" Krystal menghadang Baekhyun, "Takkan kubiarkan engkau lolos!"
Baekhyun membelokkan kudanya dan memacunya kuat-kuat menerobos hutan.
Krystal terkejut melihat kenekatan Baekhyun. Ia segera berlari menemui Chanyeol.
"Chanyeol! Chanyeol!" teriaknya.
"Pergilah, Krystal, aku sibuk," kata Chanyeol.
"Kali ini engkau harus mendengarkanku!" Krystal mulai merengek.
Chanyeol terus menyibukkan diri.
"Wanita itu mata-mata!" seru Krystal, "Sekarang ia kabur!"
"Apa katamu?"
"Mata-mata itu kabur! Ia pasti memberitahu siasat kita pada pasukan kerajaan!"
"Apa!?" Chanyeol terkejut.
"Pasti dia yang memberitahu pasukan tempat kita."
Chanyeol meninggalkan bawahan-bawahannya dan segera melompat ke atas kuda.
"Pangeran!" seru mereka.
"Teruskan penyerbuan tanpa aku!" perintah Chanyeol.
Chanyeol memacu kudanya secepat mungkin. Ia melihat Baekhyun sekitar tiga puluh meter di depannya.
Gadis itu dengan lincah mengarahkan kudanya melewati ranting-ranting pohon. Tangannya yang satu sibuk melindungi wajahnya dari debu dan tangannya yang lain memacu kudanya cepat-cepat.
"Setan cilik!" teriak Chanyeol.
Baekhyun terus memacu kudanya.
Chanyeol berusaha memperpendek jarak mereka tapi tiap kali ia berhasil, jarak mereka kembali menjauh. Chanyeol geram melihat ketangkasan Baekhyun dalam mengendalikan kudanya. Gadis itu seperti tahu apa yang harus dilakukannya agar jarak mereka tetap jauh.
"Berhenti!" Angin membawa pergi teriakan Chanyeol.
Samar-samar Baekhyun dapat mendengar langkah kuda di belakangnya. Ia juga mendengar teriakan-teriakan Chanyeol, tapi ia tidak mau berhenti. Baekhyun terus mempercepat kudanya sambil berdoa ia tidak terlambat.
Hampir dua bulan Baekhyun berada di tempat ini. Waktu itu sudah lebih dari cukup baginya untuk mengenali kawasan hutan ini. Ia tahu jalan terpendek untuk memutus laju kedua kubu itu sebelum mereka bertemu.
Baekhyun tidak mau ada perang. Ia membenci segala yang berbau perang.
Cepatnya laju kuda Baekhyun membuat gelungan rambut gadis itu terurai. Walau rambut pirangnya berkibar-kibar seperti gaunnya, Baekhyun tak peduli. Ia hanya ingin segera tiba.
"Berhenti, setan cilik!"
Baekhyun semakin mempercepat kudanya. Saat ini tidak ada lagi yang dipedulikannya selain mencegah pecahnya perang antara kedua musuh ini.
Dari kejauhan Baekhyun melihat kedua pasukan itu bergerak mendekat dengan cepat dari jarak sekitar limaratus meter.
Dalam hati Baekhyun terus berdoa ia bisa tiba sebelum terlambat.
Setelah melewati rimbunan pohon, Baekhyun segera membelokkan kudanya ke arah pasukan kerajaan.
"Mundur!" teriak Baekhyun sambil memberi tanda dengan tangannya.
Tiga puluh meter di belakang Baekhyun, Chanyeol mendengar gadis itu terus meneriakkan kata "Mundur" sambil memberi tanda dengan lambaian tangannya.
Baekhyun kesal melihat pasukan itu tidak juga berhenti bergerak. "AKU PERINTAHKAN TARIK PASUKAN!" Baekhyun berteriak sekuat tenaganya.
Chanyeol memperlambat laju kudanya melihat pasukan kerajaan tiba-tiba berhenti bergerak. Tetapi, Baekhyun terus memacu kudanya ke arah pasukan kerajaan.
Dengan gerak tangannya, Chanyeol memerintahkan pasukannya berhenti.
Dari tempatnya, Chanyeol melihat Baekhyun terus memacu kuda menerobos puluhan ribu pasukan kerajaan itu. Pasukan yang terdepan segera berbelok mengikuti Baekhyun.
Tak seorang pun di antara merekapernahmelihat para pasukan yang bergerak mundur dengan teratur dan indah itu. Cara mundur mereka unik. Mirip segerombol penari yang berbelok secara teratur dari depan hingga yang terakhir.
Dengan bubarnya pasukan kerajaan, Chanyeol pun memerintahkan pasukannya untuk mundur.
"Ia pasti mata-mata!" komentar itu yang pertama kali terlontar dari mulut Krystal setelah mengetahui apa yang terjadi.
"Tutup mulutmu, Krystal!" sergah Chanyeol, "Jangan lupa, ia adalah pelayan kesayangan Yoona. Pasti mereka datang untuk menyelamatkannya."
"Tapi sekarang ia bersama mereka, bukan?" protes Krystal, "Ia pasti akan membocorkan tempat ini pada mereka."
"Dengar, Krystal," Chanyeol memperingati dengan tajam, "Ia tidak suka perang."
"Dia…"
Sehun segera menutup mulut Krystal. "Sebaiknya engkau diam saja, Krystal. Hyunnie bukan gadis seperti itu. Ia pasti melakukan semua ini untuk menghindari perang."
"Pasti!" Sehun menegaskan.
.
.
.
.
"Beraninya kalian," geram Baekhyun murka.
Gadis itu menatap tajam setiap orang di depannya. Ia seperti akan menelan mereka semua dengan matanya.
Semua orang menunduk ketakutan. Tak seorang pun yang berani menatap Baekhyun apalagi menentangnya.
"Siapa yang menyuruh kalian melanggar perintahku!"
Tak seorang pun yang berani membuka mulut.
Baekhyun menyilangkan tangan di depan dadanya dan menatap tajam satu per satu prajurit di hadapannya. Ia menanti munculnya orang yang mengaku bertanggung jawab atas penyerbuan ini.
Tak seorang pun luput dari tatapan murka Baekhyun dan tak seorang pun yang berani mengangkat kepalanya.
"Ma… maafkan hamba, Paduka," kata Jongin ketakutan, "Ham… hamba y…yang me…merintahkan mereka."
"Beraninya engkau melanggar perintahku!" bentak Baekhyun. "Aku memerintahkan kalian diam di tempat sampai aku datang!"
"Saya mengaku bersalah, Paduka," Jongin berlutut di hadapan Baekhyun, "Hamba siap menerima hukuman."
Baekhyun menatap Jongin dengan penuh kemurkaan.
"Sebelumnya saya ingin Anda mengetahui semua ini terjadi karena saya mengkhawatirkan keselamatan Anda, Paduka. Saya menanti di Thamasha seperti yang Anda perintahkan. Tetapi, Anda berada disana lebih lama dari yang Anda janjikan. Saya khawatir mereka melukai Anda. Karena itu, saya meminta Mingyu menyiapkan pasukan untuk menyerang mereka."
Baekhyun menghela napasnya. Pandangannya menjadi lembut. Baekhyun berlutut di depan Jongin.
"Oh, Jongin…" kata Baekhyun lembut sambil memeluk pria tua itu, "Maafkan aku."
Jongin terkejut. "Pa… Paduka, Anda tidak pantas melakukan ini."
Baekhyun tersenyum selembut pandangannya. Ia menarik berdiri Jongin lalu berkata, "Lupakan semua kepantasan itu."
"Anda adalah Ratu kami dan kami adalah bawahan Anda."
"Kata 'Ratu' itu hanya menunjukkan tugas, tidak lebih dari itu," kata Baekhyun tegas, "Ratu maupun Raja tetap saja seorang manusia."
"Paduka…"
Baekhyun mengangkat tangan menghentikan Jongin.
"Maafkan aku," Baekhyun mengumumkan penyesalannya dengan ketegasan yang lembut, "Seharusnya aku tahu kalian mengkhawatirkan aku. Aku tidak pantas memarahi kalian."
Kata-kata itu menegakkan kepala setiap orang.
"Aku mengakui kesalahanku dan aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi," kata Baekhyun, "Karena aku sudah tahu mengapa kalian melanggar perintahku, aku pun ingin kalian tahu mengapa aku marah-marah. Aku mengkhawatirkan kalian juga. Aku tidak ingin seorang pun di antara kalian mati hanya karena aku. Aku tahu bagaimana perasaan keluarga kalian bila kalian gugur karena aku. Cukup sekali saja aku mengorbankan nyawa orang."
"Keluarga yang mereka tinggalkan telah kami urus, Paduka," lapor Mingyu, "Mayat-mayat mereka juga telah kami kuburkan dengan layak."
"Terima kasih, Mingyu."
"Adalah tugas saya melayani Anda, Paduka," Mingyu merendahkan diri.
"Kalian bisa bubar sekarang," Baekhyun menutup pertemuannya, "Karena aku sudah berada di sini, kita bisa kembali ke Perenolde. Kalau tidak ada halangan, kita kembali sore ini, kalian setuju?"
Para prajurit itu berbisik-bisik. Beberapa di antara mereka memberanikan diri berkata, "Setuju!" Segera prajurit yang lain mengikuti.
"Setuju!" teriak mereka serempak.
Baekhyun tersenyum. "Berarti sudah diputuskan," katanya, "Kalian bisa melakukan yang lain sampai saatnya tiba."
Para prajurit bersikap tegap dan secara serempak memberi hormat pada Baekhyun kemudian mereka bubar.
"Anda juga bisa beristirahat, Paduka."
"Tidak, Jongin. Banyak yang harus kukerjakan."
"Anda akan membuat kami berada dalam kesulitan kalau Anda masih mengenakan gaun usang itu setibanya Anda di Istana."
Teringat pelayan tuanya yang setia, Baekhyun tertawa. "Aku yakin Kyungsoo telah memberimu ancaman."
"Anda tahu persis, Paduka."
"Baiklah, Mingyu. Aku tidak akan membuat engkau mengalami kesulitan."
Jongin memanggil seorang prajurit. "Suruh Xiumin mempersiapkan segala sesuatu untuk Paduka."
Prajurit itu membungkuk lalu pergi.
"Mari, Paduka," kata Jongin, "Silakan mengikuti saya."
Mingyu dan Jongin mengawal Baekhyun ke tenda besar yang ada di tengah-tengah kumpulan tenda itu.
Seorang wanita muda muncul dari dalam tenda untuk menyambut Baekhyun.
"Selamat beristirahat, Paduka," kata mereka bersamaan.
Baekhyun tersenyum dan memasuki tenda.
"Dia mirip sekali dengan Paduka Raja Kris."
"Hanya dalam beberapa hal, Mingyu."
.
.
.
.
Baekhyun mendesah panjang.
Semuanya tepat seperti yang diduganya. Seperti dulu, mereka menjemputnya dengan segala sesuatu yang lengkap dan mewah. Kereta kuda emas, gaun-gaun indah serta pelayan-pelayan. Semua disiapkan khusus untuknya, Yang Mulia Paduka Ratu Kerajaan Vandella.
Siapa yang menyangka gadis miskin sepertinya tiba-tiba menjadi Ratu? Baekhyun pun tidak pernah menginginkannya apalagi memimpikannya.
Hal ini memang mustahil. Gadis yang hidupnya selalu kekurangan tiba-tiba diangkat menjadi Ratu sebuah kerajaan besar. Tapi apa yang terjadi pada Baekhyun adalah nyata. Sekarang Baekhyun menjadi gadis kaya. Melebihi kekayaan setiap orang di kerajaan ini.
Keajaiban ini terjadi padanya karena darah biru yang mengalir padanya. Darah biru yang mengalir padanya sangat kental dan bercahaya.
Ibu maupun ayahnya bukan orang biasa. Mereka adalah Raja dan Ratu dari Kerajaan Vandella. Tapi selama bertahun-tahun mereka hidup terpisah.
Dari cerita ibunya, Baekhyun tahu betapa kejamnya ayahnya. Bahkan, kepada putranya sendiri ia tega. Walaupun Baekboom, kakaknya masih tiga tahun, tetapi bila ia melakukan hal yang tak disukai Raja Kris, ia mendapat pukulan tak peduli sekecil apa hal itu.
Raja Kris ingin Baekboom bersikap sempurna sebagaimana layaknya seorang Putra Mahkota. Sempurna dalam tindakan maupun kata-kata. Tetapi, sempurna menurut caranya.
Ratu Luhan tidak berani bertindak apa-apa untuk melindungi putranya. Ia sendiri sering merasakan pukulan Raja yang ringan tangan itu.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, Ratu Luhan membenci Raja. Kalau bukan karena dijodohkan orang tuanya, ia tidak akan menikahi Raja Kris sekali pun ia adalah pria terakhir di dunia ini. Ratu tidak berani menolak juga tidak berani kabur. Ia bukan wanita penakut tetapi ia tidak berani melawan demi keselamatan keluarganya.
Bila ia melawan, Ratu tahu Raja akan menghancurkan keluarganya. Pria itu tidak akan segan-segan melakukan segala tindakan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ratu Luhan tahu suaminya adalah iblis terkejam dari antara para raja iblis.
Demi orang tuanya pula ia terus menahan keinginannya untuk meninggalkan Istana Azzereath. Setelah orang tuanya meninggal, Ratu semakin ingin pergi tetapi ia tidak melakukannya. Saat itu ia baru saja melahirkan Baekboom dan ia tidak tega meninggalkannya.
Banyak pengorbanan yang diberikan Ratu kepada keluarganya. Demi Baekboom, satu-satunya orang yang dicintainya setelah orang tuanya meninggal, Ratu bertahan di Istana dingin yang suram itu.
Bertahun-tahun kemudian Ratu melahirkan anak keduanya. Kali ini ia melahirkan seorang anak perempuan yang cantik. Setelah melihat sendiri apa yang terjadi pada Baekboom, Ratu yakin Raja juga tidak akan segan memukul anak perempuannya yang mungil.
Ratu dilanda kebimbangan antara meninggalkan Vandella untuk menyelamatkan Baekhyun dan menetap di Istana untuk menjaga Baekboom. Ia sangat mencintai kedua anaknya dan tidak tega meninggalkan seorang pun di antara mereka.
Sekejam-kejamnya Raja Kris, Ratu yakin ia takkan membunuh Putra Mahkotanya sendiri. Berpegang pada keyakinan itu, Ratu akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Vandella selama-lamanya.
Dengan berat hati, Ratu meninggalkan Baekboom di malam-malam buta bersama Baekhyun yang masih bayi dan pelayannya yang setia, Kyungsoo.
Negara yang menjadi tujuan Ratu adalah Roma. Ratu tahu suaminya takkan berani menyerang kota suci Roma kecuali ia ingin dimusuhi Raja-raja Eropa. DisanaRaja Kris tidak dapat menemukan mereka.
Pada tahun pertama pelarian mereka, mereka bisa hidup enak berkat perhiasan-perhiasan mahal Ratu.
Walaupun begitu mereka tidak hidup bermewah-mewah. Asalkan mereka bisa makan, itu sudah cukup. Ratu tahu ia harus menghemat segala yang dimilikinya untuk putrinya yang masih kecil.
Berkat uang simpanan Ratu itulah Baekhyun tumbuh menjadi gadis cantik yang selalu ceria. Hidupnya tidak bergelimangan kemewahan tetapi bergelimangan kebahagiaan. Baekhyun terus tumbuh tanpa mengetahui siapa ayahnya dan siapa dirinya yang sebenarnya. Baekhyun hanya tahu ia adalah anak desa.
Sering Baekhyun menanyakan ayahnya tapi Ratu tidak mau memberitahu. Baik Ratu maupun Kyungsoo merahasiakan hal itu dari Baekhyun. Mereka hanya menjawab pertanyaan Baekhyun dengan berkata, "Aku akan mengatakannya suatu saat nanti."
Sering pula Baekhyun melihat ibunya sedang melamun. Ia tampak sangat sedih merindukan seseorang.
Baekhyun yang tidak tahu apa-apa sering bertanya, "Mengapa Mama sedih? Mama memikirkan Papa?"
Ratu selalu menjawab pertanyaan polos itu dengan tersenyum sedih.
Seiring dengan tumbuhnya Baekhyun, pikiran gadis itu menjadi lebih dewasa. Baekhyun pun mulai berpikir ayahnya meninggalkan ibunya hingga sekarang ibunya selalu merindukannya. Sejak itu Baekhyun tidak pernah menanyakan ayahnya lagi. Sejak saat itu pula muncul kebenciannya pada ayah yang tak pernah dilihatnya.
Tahun demi tahun terus berganti. Tak terasa sudah sembilan tahun Ratu meninggalkan Istana. Tetapi, sejak mereka pergi hingga saat ini tidak pernah terdengar kabar Raja Kris mencari mereka. Ratu sangat lega karenanya. Kehidupan yang tenang dapat terus dijalaninya. Kecuali mengkhawatirkan Baekboom, tidak ada lagi yang membuat Ratu cemas.
Natal tahun ke sembilan itu semua berubah. Ratu tiba-tiba jatuh sakit. Kehidupan yang penuh kerja keras membuat tubuhnya sakit-sakitan. Sebagai orang yang sejak lahir hidup dalam kemewahan, Ratu tidak terbiasa hidup sederhana bahkan serba kekurangan seperti ini.
Uang yang sengaja disimpan Ratu untuk masa depan Baekhyun terpaksa digunakan untuk mengobati Ratu. Ratu tidak setuju menggunakan uang simpanannya itu tetapi Kyungsoo tetap menggunakannya. Kata Kyungsoo, uang bisa dicari tetapi nyawa tidak.
Baekhyun yang tidak tahu menahu tentang uang simpanan ibunya, diam saja. Ia hanya bisa terus berdoa dan menjaga ibunya.
Baik Ratu maupun Kyungsoo tidak ingin pendidikan Baekhyun terhenti karena masalah ini. Mereka pun mendesak Baekhyun agar tidak meninggalkan pelajarannya demi menjaga Ratu.
Sebagai anak yang tahu balas budi, Baekhyun menurutinya. Ia tahu untuk bisa membesarkannya, ibunya telah bekerja keras. Semasa ibunya masih sehat dulu, hampir tiap saat Baekhyun melihat ibunya dan Kyungsoo menenun kain seperti orang-orang desa Marshwillow lainnya. Mereka menenun hingga larut untuk membiayai hidup mereka terutama Baekhyun yang sedang tumbuh.
Ratu ingin memberikan yang terbaik bagi putrinya. Ia ingin Baekhyun tumbuh sehat seperti gadis lainnya.
Sejak saat itulah hidup mereka menjadi lebih sulit. Seluruh uang yang mereka miliki digunakan untuk mengobati Ratu. Tetapi, kesehatan Ratu terus memburuk.
Kyungsoo, pelayan ibunya yang setia bekerja lebih keras untuk mengobati Ratu dan membesarkan Baekhyun. Tidak lagi istirahat untuknya. Di saat mempunyai waktu luang, ia membantu para tetangga mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ia telah bekerja dengan sangat keras tetapi uang yang dihasilkannya tidak pernah cukup untuk hidup mereka.
Walaupun masih anak-anak, Baekhyun mengetahui kesulitan yang dialami keluarganya. Di balik kesibukan belajarnya, ia sering membantu Kyungsoo memintal dan menenun.
Baekhyun juga tahu uang hasil kerja keras mereka tidak cukup untuk membeli semua kebutuhan mereka. Baekhyun meminta Kyungsoo menggunakan semua uang itu untuk menyembuhkan ibunya.
"Demi kesembuhan Mama, aku mau mengorbankan apa saja."
Itulah yang selalu dikatakannya pada Kyungsoo.
Kyungsoo sendiri juga mau melakukan apa saja demi kesembuhan Ratu tetapi ia juga mempunyai kewajiban untuk membesarkan Baekhyun.
Baekhyun terus mendesak Kyungsoo hingga wanita itu tidak mampu melawan keinginannya lagi.
Walaupun kesehatan Ratu terus memburuk, mereka tidak berhenti berusaha. Mereka terus menahan lapar untuk membeli obat bagi Ratu. Mereka terus berusaha memberikan makanan yang terbaik untuk Ratu.
Ratu tidak pernah tahu untuk dirinya, Kyungsoo sering meminjam uang pada tetangga.
Penduduk desa Marshwillow tidak ada yang kaya, tetapi mereka tetap mau membantu. Ratu dan Kyungsoo adalah orang asing di tempat itu tetapi mereka telah dianggap penduduk sebagai bagian dari desa Marshwillow. Demikian pula Baekhyun yang tumbuh besar disana.
Perjuangan Ratu menghadapi penyakitnya akhirnya berakhir pada suatu musim gugur yang dingin. Setelah selama dua tahun bergelut dengan penyakitnya, Ratu menghembuskan nafas terakhirnya di suatu pagi yang hujan lebat.
Seperti kehilangan anggota keluarga mereka, seluruh penduduk desa Marshwillow bersedih atas kepergian Ratu. Berita kematian Ratu yang tersebar cepat di desa kecil itu mengundang penduduk untuk membantu pemakaman Ratu.
Hingga ia mati, Ratu tidak pernah mengatakan siapakah dirinya yang sebenarnya. Baik Baekhyun maupun penduduk Marshwillow mengenal Ratu sebagai seorang wanita lembut yang bernama Luhan.
Setelah pemakaman ibunya, Baekhyun baru mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu padanya, Ratu telah menulissuratwasiat dan menitipkannya pada hanya boleh diberikan pada Baekhyun bila ia telah meninggal. Dalamsuratitu, Ratu mengatakan segala sesuatu yang selama ini dirahasiakannya dari Baekhyun.
Mulanya Baekhyun tidak percaya ia adalah Putri Kerajaan. Setelah mendengar cerita Kyungsoo, barulah ia percaya. Hal itu tidak membuatnya sombong, melainkan membuatnya makin rendah hati. Kebenciannya pada ayahnya yang sudah tumbuh kian menjadi-jadi.
Seperti ibunya, Baekhyun tidak berkeinginan untuk kembali ke Vandella. Walaupun ingin bertemu Baekboom, Baekhyun tetap bersikeras untuk tinggal di Marshwillow yang dicintainya.
Kyungsoo tidak bisa berbuat apa-apa untuk memaksa Baekhyun pulang. Baekhyun adalah majikan dan Putri Kerajaan tanah airnya.
Walaupun tahu hidupnya akan lebih terjamin bila ia kembali pada ayahnya, Baekhyun memilih tinggal di sisi pusara ibunya.
Baekhyun tidak pernah merasa dirinya adalah seorang Putri. Ia adalah gadis desa. Ia dibesarkan sebagai seorang gadis desa yang hidupnya serba kesulitan, bukan sebagai Putri.
Setelah mengetahui rahasia itu, Baekhyun mulai menduga ibunya sering melamun bukan memikirkan ayahnya tetapi memikirkan Baekboom yang berada dalam cengkeraman ayahnya. Baekhyun tahu ibunya dengan sangat berat hati meninggalkan kakaknya dalam kekejian ayahnya. Baekhyun juga tahu bagaimana tindakan ayahnya pada Baekboom hingga membuat ibunya terpaksa meninggalkan Baekboom untuk menyelamatkannya.
Kebencian yang mendalam pada ayah yang kejam, membuat Baekhyun semakin ingin melupakan jati dirinya. Ia tak peduli apakah ia seorang putri atau bukan. Ia hanya tahu ia adalah gadis desa.
Waktu terus berjalan. Baekhyun melupakan rahasia itu. Dalam pikiran maupun dalam tingkah lakunya, ia tidak pernah lagi mengingat maupun teringat akan siapa dirinya. Baekhyun sudah benar-benar melupakan hal itu ketika Kwangsoo, Menteri Luar Negeri Vandella muncul.
Saat itu Baekhyun sedang menanti Kyungsoo yang pergi berbelanja. Sambil menanti, ia menyibukkan diri dengan menyulam. Di tengah kesibukannya itulah tiba-tiba pintu diketuk orang.
"Tidak mungkin Kyungsoo yang datang," pikir Baekhyun, "Ia tidak perlu mengetuk pintu kalau ingin masuk."
Baekhyun menuju pintu sambil bertanya-tanya siapa yang datang. Sejak ibunya dikubur, hampir tidak ada lagi penduduk Marshwillow yang mengunjungi mereka. Penduduk tahu dengan segala keterbatasan yang ada, mereka tidak dapat menjamu tamu. Penduduk tidak ingin merepotkan Kyungsoo maupun Baekhyun.
Baekhyun terpana melihat seorang pria setengah baya berdiri di ambang pintu dengan bajunya yang indah mengkilat. Ia diapit dua pria lain yang lebih muda dan lebih sederhana pakaiannya.
Baekhyun melihat mereka semua dari atas ke bawah. Pria yang di tengah mengenakan jas yang rapi sedang yang di tepi mengenakan baju prajurit dengan warna biru untuk atasannya dan putih untuk celananya.
Mereka membuat Baekhyun bersikap waspada. Baekhyun tidak tahu siapa mereka, tetapi mereka telah menimbulkan kecurigaannya.
"Anda mencari siapa, Tuan?"
"Saya Kwangsoo, Menteri Luar Negeri Kerajaan Vandella. Saya datang untuk menjemput Yang Mulia Paduka Ratu Luhan dan Yang Mulia Tuan Puteri Baekhyun."
Buku-buku jari tangan Baekhyun memutih mendengarnya. Gadis itu membusungkan dadanya dan menatap pria di depannya. "Mereka tidak ada di sini," katanya tegas.
Walaupun Raja Kris mengirim jemputan untuk mereka, Baekhyun takkan mau kembali. Ibunya telah bersusah payah untuk dapat berada di sini. Dan, sebagai anak berbakti, Baekhyun takkan membuat usaha ibunya menjadi sia-sia.
"Mata-mata kami memberitahu mereka berdua tinggal di sini," kata Kwangsoo keheranan.
"Sayang sekali, Tuan, mereka tidak ada di sini."
"Ya, sayang sekali," Kwangsoo tampak sangat sedih, "Mungkin mereka sudah pindah atau mata-mata kami yang salah."
"Mungkin saja," Baekhyun menyetujui.
"Terima kasih, Nona. Maaf kami telah menganggu Anda."
Baekhyun yakin mereka akan kembali ke Vandella dengan tangan kosong apabila saat itu Kyungsoo tidak muncul.
Sejak ibunya masuk Istana, Kyungsoo dan Kwangsoo berkenalan. Kyungsoo tidak mungkin melupakan Kwangsoo. Kwangsoo juga tidak mungkin melupakan pelayan ibunya itu.
"Apa kabar, Tuan Kwangsoo?" sapa Kyungsoo, "Lama kita tidak bertemu."
"Kyungsoo?" tanya Kwangsoo tak percaya, "Engkau tinggal di sini?"
"Tentu saja," jawab Kyungsoo tanpa menyadari kesalahannya, "Sejak meninggalkan Vandella, aku tinggal di tempat ini."
"Berarti Paduka Ratu dan Tuan Puteri ada di sini," gumam Kwangsoo. Tiba-tiba pria itu berbalik dan menatap Baekhyun lekat-lekat.
Baekhyun tetap bersikap tenang.
Kwangsoo mencermati tiap lekuk wajah Baekhyun. Semakin dilihat, semakin tampak kemiripannya dengan Ratu Luhan sewaktu ia masih muda. Hanya saja mata biru gadis ini lebih cerah dan rambutnya lebih bersinar cerah. Selain itu, ia benar-benar seperti gambaran diri Ratu di waktu muda.
Kwangsoo memandang Kyungsoo dengan penuh pertanyaan di matanya.
"Benar, ia adalah…" Kyungsoo tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Matanya bertemu dengan wajah Baekhyun yang menyuruhnya menutup mulut.
Sayangnya, Kwangsoo sudah dapat menebak siapa gadis yang membukakan pintu itu.
Baekhyun yang sudah menebak hal itu, segera menyingkir ke dalam rumah. Ia menyadari kemiripannya dengan ibunya. Tak perlu orang lain untuk mengatakan mereka mirip. Baekhyun tak mau mendengar siapa dirinya yang sesungguhnya.
Kwangsoo bingung melihat kepergian gadis itu.
Kyungsoo merasa bersalah atas kejadian itu. "Silakan masuk, Tuan. Saya ingin mengetahui apa yang membuat Anda datang ke sini."
Kwangsoo memandangi keadaan di dalam rumah kecil itu. Ruangan-ruangannya sangat kecil dan hampir kosong. Tidak nampak sofa-sofa yang indah, lukisan-lukisan. Semuanya tidak mencerminkangayahidup keluarga kerajaan tetapi mencerminkan kehidupan orang miskin yang penuh penderitaan.
Dinding-dinding kayunya tampak lapuk dan disanasini mulai tumbuh lumut. Atapnya lebih mengenaskan lagi. Atapnya tampak sangat lemah dan sewaktu-waktu siap runtuh.
Tak pernah disangka Kwangsoo kehidupan Ratu dan Putri kerajaannya sedemikian buruknya. Mereka benar-benar melarat seperti layaknya orang miskin.
"Silakan duduk, Tuan," kata Kyungsoo, "Maaf tempat kami kotor."
Kwangsoo mendengar deritan kursi kayunya ketika ia duduk. Kwangsoo melihat sekeliling seperti mencari seseorang. "Di mana Paduka Ratu?"
Kyungsoo menunduk sedih. "Ia meninggallimatahun lalu."
"Oh," itulah yang pertama kali terloncat dari mulut Kwangsoo. "Aku turut berduka cita."
"Terima kasih, Tuan."
"Sejak itu engkau sendiri yang membesarkan Tuan Puteri?" Kwangsoo tiba-tiba bertanya.
Kyungsoo tersenyum. "Tepatnya tidak." Melihat wajah heran Kwangsoo, Kyungsoo melanjutkan, "Nona tidak membiarkan dirinya merepotkan orang lain. Ia ikut berusaha untuk menghidupi keluarga kecil kami ini."
Kwangsoo terpekur menatap lantai kayu di kakinya.
"Apa yang membuat Anda datang?"
"Berita duka juga," jawab Kwangsoo.
"Berita duka?"
"Yang Mulia Paduka Raja Kris telah meninggal."
"Apa!?" Kyungsoo terkejut, "Kapan itu terjadi?"
"Berbulan-bulan lalu. Kira-kira tujuh sampai delapan bulan lalu."
"Oh…" gumam Kyungsoo. "Aku sama sekali tidak menyangkanya."
"Kami semua juga tidak pernah menduga Paduka pergi secepat ini. Sebulan sebelum beliau meninggal, ia sakit. Kami semua itu hanya sakit biasa. Tapi, siapa menduga Tuhan berkata lain."
"Tentunya sekarang tahta kerajaan sedang kosong," komentar Kyungsoo tanpa pikir panjang. Tiba-tiba Kyungsoo teringat akan Baekboom. Ia baru saja akan membetulkan kata-katanya ketika Kwangsoo berkata,
"Karena itulah kami datang ke sini."
Kyungsoo keheranan. "Bukankah ada Pangeran Baekboom?"
"Sayang sekali Pangeran juga sudah meninggal."
"Apa!?" Kyungsoo terkejut. "Pangeran malang, ia masih terlalu muda untuk mati."
"Ya, sayang sekali," Kwangsoo setuju.
"Saya khawatir Anda tidak berhasil, Tuan."
"Maksudmu?"
"Nona… ehm… maksudku Tuan Puteri tidak mau kembali ke Vandella. Seperti ibunya, sedikit pun ia tidak ingin kembali ke Vandella. Ia membenci Raja Kris."
Kwangsoo sedih mendengarnya. "Kau harus membantuku, Kyungsoo. Hanya engkau yang paling dekat dengannya. Bujuklah dia."
"Saya rasa percuma, Tuan," kata Kyungsoo, "Maaf saya tidak bisa membantu."
"Engkau harus bisa membantuku."
"Saya benar-benar tidak bisa, Tuan Kwangsoo."
"Kau harus."
"Aku menolak!"
Kwangsoo terkejut. Baekhyun tiba-tiba muncul di ruangan itu. Gadis itu seperti sudah mendengar semuanya.
"Maafkan aku," kata Baekhyun, "Aku tidak bermaksud mendengar pembicaraan kalian. Tetapi, rumah ini kecil dan di mana pun aku berada, aku dapat mendengar pembicaraan kalian."
"Saya mohon kembalilah ke Vandella, Yang Mulia. Rakyat Vandella membutuhkan Anda."
"Jangan memohon padaku. Aku takkan mengubah jawabanku," kata Baekhyun tegas.
"Rakyat Vandella sedang menderita, Yang Mulia. Saat ini mereka membutuhkan bantuan Anda. Hanya Anda yang bisa menyelamatkan mereka dari penderitaan ini."
"Salahkan serigala itu!" Baekhyun bosan dibujuk, "Salahkan kekejamannya hingga tega membunuh putra kandungnya sendiri."
"Pangeran Baekboom meninggal bukan karena dibunuh Paduka. Ia yang membunuh dirinya sendiri," kata Kwangsoo, "Ia bunuh diri."
"Baekboom bunuh diri karena serigala itu, bukan?"
Kwangsoo terdiam.
"Jangan pernah berpikir aku tidak tahu apa-apa tentang kekejaman serigala itu. Aku tahu bagaimana ia memperlakukan Baekboom. Aku dapat merasakan kebencian Baekboom karena terus didesak untuk bersikap sempura. Serigala itu memaksa Baekboom bersikap sempurna seperti Pangeran kejam tapi Baekboom tidak sanggup."
Kwangsoo benar-benar tidak dapat membantah. Apa yang dikatakan Baekhyun benar. Semua penghuni Istana tahu Pangeran Baekboom tertekan oleh keinginan dan kekejaman ayahnya hingga akhirnya ia memilih mati.
"Kembalilah ke Vandella. Katakan pada yang memerintahkanmu bahwa aku menolak untuk kembali."
"Tidak ada yang menyuruh kami, Yang Mulia."
Baekhyun tidak tertarik mendengarnya.
"Bukan Raja Kris yang memerintahkan kalian untuk mencari kami?" tanya Kyungsoo keheranan.
"Paduka Raja tidak pernah menyuruh kami," jawab Kwangsoo, "Bahkan, sejak Paduka Raja tahu ia tidak bisa sembuh, Paduka tidak menyuruh kami. Kami sendirilah yang memerintahkan diri kami sendiri untuk mencari Anda semua. Hingga Paduka meninggal, ia tidak tahu kami telah memulai pencarian ini."
"Kau telah melihat sendiri kenyataannya, bukan? Ia tidak mau peduli pada kami. Ia tidak mengharapkan kami kembali."
Lagi-lagi Kwangsoo tidak bisa berkata apa-apa.
Kyungsoo tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu kerasnya hati Baekhyun bila gadis itu telah memutuskan sesuatu. Ia tidak punya hak untuk memerintah Baekhyun sekali pun ia telah menjadi ibu gadis itu selamalimatahun terakhir ini.
"Saat ini Vandella sedang terjadi kekosongan tahta. Kami…"
"Siapa yang selama ini memegang pemerintahan?" potong Baekhyun.
"Kami, para Menteri."
"Kalau begitu kalian bisa terus mengatur Vandella tanpa aku."
"Kami tidak bisa berbuat banyak tanpa seorang Raja, Yang Mulia. Di Vandella, rajalah yang berhak memutuskan segalanya."
"Angkat saja Raja yang baru," usul Baekhyun.
"Kami…"
"Selain aku," potong Baekhyun.
Kwangsoo tampak murung. "Tidak bisa, Yang Mulia."
"Mengapa?" tanya Baekhyun keheranan, "Tidak mungkin serigala itu tidak menunjuk pewarisnya yang baru setelah Baekboom meninggal."
"Andaikan saja itu terjadi, Yang Mulia," Kwangsoo menyesal, "Hingga beliau meninggal, ia tidak pernah menunjuk penggantinya. Di Vandella ada isu yang tersebar Putri Yoona, anak tunggal keluarga Yunho yang mempunyai hubungan dekat dengan Raja, akan naik tahta bila Paduka meninggal. Hal itu benar bila Anda tidak ada."
"Bersikaplah seperti aku telah meninggal."
"Itu adalah tradisi, Yang Mulia. Kami tidak berani menentangnya. Rakyat Vandella pasti memberontak bila kami melanggar tradisi ini. Karena itulah hingga hari ini kami belum mengumumkan kematian Paduka. Kami tidak ingin terjadi perebutan kekuasaan. Kami juga tidak ingin membuat pemberontak kerajaan melakukan kudeta."
"Pemberontak?" Kyungsoo tertarik pada cerita Kwangsoo.
"Sebenarnya sejak dulu sudah ada gerakan pemberontakan terhadap Raja tapi gerakan itu baru kentara tak lama setelah kalian pergi. Pemimpin pemberontak itu telah menjadi pahlawan rakyat Vandella yang miskin dan menderita. Kami yakin demi pahlawan mereka itu, mereka sanggup mengorbankan apa saja terlebih setelah mengetahui Paduka telah meninggal. Kami menghindari hal itu. Kami tidak ingin terjadi perang antara pasukan kerajaan dengan rakyat."
"Angkatlah sang pahlawan menjadi raja dan semua masalah selesai," usul Baekhyun, "Rakyat takkan marah karenanya."
"Sudah kami jelaskan, Yang Mulia, tradisi membuat kami tidak bisa berbuat lain. Selama Anda masih ada, tidak ada yang berhak menduduki tahta kerajaan."
"Apakah Anda tidak ingin pulang ke Vandella, Nona?" Kyungsoo akhirnya ikut membujuk, "Walaupun Anda hanya tinggal sehari di Vandella, Anda tetap lahir di Vandella. Dalam diri Anda mengalir darah Raja Kris. Saya yakin Ratu pun sebenarnya ingin kembali ke Vandella, tanah airnya."
Baekhyun menangkap maksud lain di balik pernyataan itu. Dengan lembut ia berkata, "Kembalilah ke Vandella bila engkau ingin, Kyungsoo. Aku tetap tinggal di sini."
"Saya telah berjanji pada Ratu untuk tidak meninggalkan Anda."
"Kalau begitu aku memerintahkanmu untuk kembali ke Vandella."
"Saya tidak dapat meninggalkan Anda, Nona. Bila Anda tinggal di sini, saya tidak mau kembali. Sekali pun Anda memaksa, saya tetap akan tinggal di sisi Anda untuk melayani Anda."
"Kau harus, Kyungsoo. Aku tahu engkau selalu merindukan keluargamu, kota tempat engkau dilahirkan. Engkau selalu merindukan Vandella."
"Kyungsoo benar, Paduka. Anda harus kembali ke Vandella. Hanya Anda yang bisa menjadi Raja kecuali Anda turun tahta dan menyerahkannya pada orang lain."
Baekhyun diam merenung kemudian ia berkata, "Baiklah. Aku ikut kalian."
Setelah mendapat keputusan akhir Baekhyun, Kwangsoo segera mengirim utusan untuk memberitahu para Menteri Vandella. Ia meminta mereka menyiapkan segala perlengkapan untuk penobatan Baekhyun.
Di sebuah desa kecil di tepi perbatasan Vandella, Jongin, Menteri Dalam Negeri Vandella telah menantinya untuk upacara penobatan.
Upacara penobatan itu berlangsung sederhana. Uskup Vandella yang menobatkan Baekhyun dengan Kwangsoo dan Jongin sebagai saksinya.
Saat itu yang ada di dalam benak Altamya adalah kembali ke Vandella untuk mengumumkan kematian ayahnya, menyatakan diri sebagai raja baru lalu turun tahta dan menyerahkannya pada Yoona. Terakhir, kembali ke Roma.
Baekhyun sama sekali tidak punya niat untuk mengunjungi markas para pemberontak itu. Bahkan, ia tidak tahu akan mereka melalui tempat itu.
Saat akan melalui Lasdorf, kawasan pemberontak, pasukan pengawal Baekhyun memperketat penjagaan. Kecurigaan Baekhyun timbul dan ia memaksa kedua menteri itu mengatakan apa yang terjadi.
Hingga kini Baekhyun tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba memutuskan untuk mengunjungi benteng pemberontak itu.
Setelah mengetahui yang sebenarnya, Baekhyun mengirim Kwangsoo beserta Kyungsoo kembali ke Istana Azzereath. Sementara itu Jongin dimintanya untuk menantinya di Thamasha.
Mereka berdua tidak setuju pada rencananya. Tetapi, di Vandella titah Raja adalah titah yang tidak dapat dilawan. Baekhyun meyakinkan mereka dengan menjelaskan rencananya.
Saat itu hampir bersamaan dengan kembalinya Yoona dari perjalanannya ke luar negeri. Baekhyun memanfaatkan kesempatan itu.
Seorang prajurit diperintahkannya untuk menyebar isu itu. Beberapa hari kemudian Baekhyun melewati sarang musuh. Sesuai dengan perhitungannya, para pemberontak itu menculiknya.
Satu-satunya yang salah dalam perhitungan Baekhyun adalah waktu. Baekhyun meminta Jongin memberinya waktu satu bulan untuk mengetahui kehidupan pemberontak itu sebelum ia memulai pemerintahannya.
Ternyata waktu yang digunakan Baekhyun lebih dari satu bulan bahkan hampir dua bulan.
Baekhyun memang berniat memperpanjang masa tinggalnya di benteng itu dengan membuat mereka menduga ia adalah pelayan Yoona. Ia berharap perpanjangan waktu itu bisa membuat mereka mempercayainya dan mau bercerita banyak padanya. Tetapi, Baekhyun tidak berniat membuat pasukannya khawatir.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Waw, ternyata ada yang ngeremake novel Sherls Astrella lagi loh judulnya Pelarian yang di remake sama byunbaek92. Silahkan dibaca juga yaaa^^
Aku belum baca juga yang ituuu. Muehehhe.
So, apakah kalian sudah mengerti jalan ceritanya?
Ini mungkin sedikit ga sampai 10 chapter kok. Paling selesai di 7-8 chapter. Doakan saja yaa biar satu chapter itu banyak. Hehe. Words semuanya cuma sampe 48K+
Sehari baca juga kelar:D
So, review?
Byunnerate
