Selasa, 10 November 2015

Gaara menyusun kembali dokumen-dokumen yang baru saja ia baca.

Ia hanya memiliki waktu satu minggu untuk membuktikan bahwa ia sanggup menjabat sebagai Direktur Sabaku Corp. Dalam waktu satu minggu itu, jadwalnya penuh dengan rapat bersama perusahaan-perusahaan lain, serta berbagai macam dokumen dan laporan yang harus ia baca dan tanda tangani.

Selesai merapikan meja dan mematikan laptop, Gaara mematikan lampu ruangan lalu berjalan keluar dan mengunci kantornya—yang sebelumnya milik ayahnya.

Gaara tersenyum kecil, mengingat apa yang terjadi kemarin, lalu mengecek arloji.

22.34

Ah, sepertinya tidak ada lagi waktu untuk mengerjakan PR.

Gaara mendesah kesal, menyesal tidak mengikuti perintah Temari—yang lebih berpengalaman darinya—untuk sekalian membawa buku pelajarannya ke kantor.

Ia mengendarai mobil sport-nya dalam diam. Matanya fokus pada jalanan yang belum sepi. Karena waktu belum menunjukkan tengah malam, kemacetan masih berlangsung selama perjalanan Gaara ke rumah. Ia sedikit mempercepat laju mobilnya, menyalip mobil-mobil lain, agar sampai di rumah tepat waktu untuk mengerjakan PR.

Hei, walaupun berandalan, Gaara masih tetap mengerjakan PR-nya di rumah. Karura tidak memberi toleransi pada anak malas.

"Gaara-chan!" begitulah kira-kira sambutan mami Karura setiap kali ia sampai di rumah.

"Ah, anak Kaa-chan sudah besar!" seru Karura lagi sambil berlari menuju anak bungsunya dan memeluknya erat.

"Kaa-chan, aku harus mengerjakan PR," kata Gaara, berusaha melepaskan pelukan erat ibunya.

"PR-mu sudah diselesaikan Kankuro," Gaara terkejut, "duduklah sebentar dan ceritakan tentang gadis yang akan kau lamar ini."

Gaara hanya mengikuti Karura untuk duduk di sofa, yang juga ditempati oleh Temari. Ayahnya sudah berangkat ke Jerman tadi pagi.

Pikirannya melayang pada PR-nya dan Kankuro.

PR dan Kankuro tidak bisa ditempatkan bersama-sama dalam satu kalimat.

Kini kecemasan melanda Gaara.

Kankuro 'kan bodoh?

Diberkatilah jiwa Gaara yang tidak pernah menaruh kepercayaan sedikitpun pada kakak kandungnya.

"Jadi?" Karura menatap anaknya dengan penasaran. Senyum jahil terukir di wajah cantiknya yang sudah mulai menua.

Gaara kembali pada dunia nyata.

"Apa?"

"Ish! Kamu mikirin apa, sih? Dia, ya?"

Gaara terdiam sebentar sebelum akhirnya mengerti apa yang dibicarakan ibunya dan mengucapkan 'oh' sebagai respon.

Padahal Gaara lagi cemas tentang PR-nya yang malang.

"Nah! Akhirnya nyambung ke Kaa-chan. Sekarang ceritakan tentang dia."

Gaara berpikir sebentar. Di hadapannya ada dua wanita. Yang pasti, ia tidak bisa membanggakan dada Hinata di hadapan mereka berdua. Pasti mereka akan tersinggung dengan fakta bahwa Hinata memiliki dada yang lebih besar dari mereka. Dan juga, Temari tidak akan membiarkannya hidup setelah mengatakan itu.

Jadi mau ngomong apa?

Gaara kembali memikirkan hal lain tentang Hinata selain dadanya.

"Manis."

Tidak terlalu buruk.

"Kyaaa berarti Kaa-chan punya cucu yang manis, dong?" Karura berujar histeris.

Gaara tersenyum penuh arti. "Kaa-chan akan mendapatkan cucu secepatnya," katanya, senang dengan respon ibunya yang langsung mengarah ke cucu.

Yang artinya... ada proses.

Dan proses itu dilakukan di ranjang.

Atau tempat lain, terserah Gaara mau di mana.

"Ada apa dengan seringaimu?" tanya Temari ketus saat melihat seringai mesum yang ditampilkan Gaara.

Oh, tanpa sadar pemikiran liarnya membuatnya menyeringai, toh.

"Tidak apa-apa," jawab Gaara santai sambil melebarkan seringaiannya.

"Mes-"

"Tema," Karura memotong ucapan Temari, "sebentar lagi mereka akan menikah, tidak apa-apa memikirkan hal-hal seperti itu."

Eh? Biasanya Karura berpihak pada Temari.

Gaara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, setuju dengan pernyataan ibunya.

"Posisinya banyak lho, Gar, kau bisa mencoba semuanya. Asal-"

"Kaa-chan! Kau membuatnya semakin bejat!"

Gaara menyeringai. Ibunya mendukung fantasinya. "Aku mau tidur."

Di kamarnya, masih ada Kankuro yang berkutat dengan PR fisika-nya. Kebanyakan Kankuro hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal karena tidak bisa mengerjakan soal-soal yang ada di hadapannya.

Aku kan sudah lulus! gerutunya dalam hati.

Baru saja ia mau mencari kembali jawaban PR Gaara di internet, pintu terbuka.

"Bersenang-senang dengan fisika?"

Kankuro mendecih. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. "Aku sudah kerja setengahnya."

Gaara mengangkat tempat-di-mana-alisnya-harusnya-berada seraya tetap berdiri di depan pintu, tidak mempersilakan Kankuro keluar.

Apanya yang selesai?

"Setengahnya lagi?"

Kankuro melipat tangannya di depan dada. "Aku tidak hidup di dunia ini untuk berurusan dengan rumus dan angka."

Gaara mengendikkan bahunya mendengar jawaban Kankuro. "Uang juga angka," sindirnya.

Kankuro memutar bola matanya. "Itu berbeda. Sekarang minggir," perintahnya.

Gaara bergeming.

Kankuro menghela napas berat. "Kau mau apa, ha?"

Gaara mengangkat ujung bibirnya sedikit, mendengar pertanyaan Kankuro yang dari tadi ia tunggu.

Gaara masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu di belakangnya dan menguncinya.

Kankuro mengangkat salah satu alisnya, curiga.

"Ini sangat rahasia."

"Oke."

"Cukup kita berdua yang tahu."

"Oke, Gaara, apa yang kau mau?" Kankuro berujar tidak sabar.

"Aku mau kau mencari biodata mengenai Hinata Hyuga. Aku mau tahu tentang semua orang yang dekat dengannya; keluarga, teman, bahkan orang yang dia sukai, kalau pun ada.

"Aku mau tahu dia tinggal di mana dan cetak biru rumahnya. Kau harus memeriksa tiap sisi dan sudut rumahnya, lihat apa ada CCTV atau tidak, dan-"

"CCTV?"

"Supaya aku bisa menyelinap di rumahnya kapan-kapan. Jangan memotongku. Dan aku-"

Tapi Kankuro tidak pernah mendengar. "Kalian akan menikah, untuk apa menyelinap?"

"Diam saja dan dengar!"

Kankuro diam.

"Dan aku mau tahu tentang hal-hal yang ia sukai. Mulai dari makanan, minuman, hewan peliharaan, benda-benda, warna, lelaki idaman, dan lain-lain."

Gaara menutup pidatonya dengan anggukan puas.

"Dan dari mana aku bisa mengetahui itu semua?"

Gaara mendecak kesal. "Aku mau semuanya ada di kantorku hari Jumat."

Kankuro membelalakkan matanya. Ia bahkan tidak tahu gadis mana yang dimaksud Gaara!

"Jumat depan."

Kankuro mengembuskan napas lega dan mengelus-ngelus dadanya. "Oke, aku akan coba."

"Itu harus. Aku harus tahu semuanya."

Kankuro mengabaikan perkataan Gaara dan melangkah keluar kamar.

.

Hinata menunduk. Wajahnya merah padam. Tangannya saling bertautan, saling meremas, berusaha menenangkan dirinya. Bibir bawahnya ia gigit kuat untuk menahan erangan yang hampir keluar.

"Aku mau kau mendesah."

Hinata menggeleng lemah mendengar permintaan orang di hadapannya.

Big mistake.

"Akh-"

Hinata kembali menggigit bibirnya kala satu erangan telah lolos dari mulutnya.

Orang di hadapannya—Gaara menyeringai lebar melihat reaksi Hinata terhadap remasannya yang semakin kuat. "Kau menggairahkan kalau mendesah, Hina."

Gaara menempelkan keningnya dengan kening Hinata, memerhatikan perubahan raut wajahnya saat ia mengeraskan atau melembutkan remasannya.

"Aku mau dari dalam."

Hinata membelalakkan matanya. "J-jangan..."

Gaara mengabaikan permintaan Hinata dan membuka kancing teratas seragamnya. "Tenang," katanya sembari membuka kancing kedua Hinata.

"S-sabaku-"

"Gaara. Sabaku juga akan menjadi margamu nanti."

Rasanya Hinata ingin pingsan mendengar perkataan Gaara.

Kancing ketiga sudah terbuka, sehingga kini bra putih milik Hinata, yang menyembunyikan kedua payudara mulusnya terlihat.

Hinata menutup matanya rapat-rapat agar ia tidak melihat mata Gaara yang menatap dadanya dengan intens. Bibir bawahnya ia gigit kuat-kuat sampai ia khawatir bibirnya akan berdarah.

Gaara sudah akan menaikkan bra Hinata, ketika ia tiba-tiba berhenti.

"Jangan melihat," katanya, dingin, pada kedua pasang mata yang dari tadi memerhatikan gerak-geriknya.

Naruto mengacak rambutnya, frustasi. "Ayolah! Terlihat mulus dari sini!"

"Makanya jangan lihat."

"Kau egois!"

"Aku tidak suka berbagi. Sekarang berbalik."

"Kami menjagamu dalam waktu lima menit ini. Kalau kau tidak mengizinkan kami melihat lebih jauh, kau akan melewatkan waktu sepuluh menit tanpa penjagaan."

"Aku mencintaimu, Sasuke!"

Gaara berdecak sebal mendengar ucapan Sasuke. Matanya menatap sinis si bungsu Uchiha sekilas, sebelum kembali menatap Hinata.

"Kapan-kapan saja," katanya sambil merapikan kembali baju Hinata. "Tunggu saat hanya ada kau, aku, dan Naruto."

Mata Naruto berbinar. "Aku tidak menyangka kau menyayangiku, Gaara."

"Aku bukan homo sepertimu."

"Siapa bilang aku homo?"

"Kau baru saja bilang kau mencintai Sasuke."

Sasuke memutar bola matanya. "Kita semua homo."

Semua mata menatap Sasuke.

"Homo sapiens."

Gaara kembali menatap Hinata yang kembali menatap lantai. Ia mengembuskan napas lelah. "Tatap aku, Hinata."

Hinata mengangkat kepalanya takut-takut. Saat matanya bertemu dengan mata Gaara, ia kembali mencoba menundukkan kepalanya.

Hanya mencoba.

Sebelum ia sempat menundukkan kepalanya lagi, Gaara sudah menahan dagunya agar tetap menatap ke arahnya.

"Mulai sekarang kita pacaran."

"Tidak romantis."

Gaara mengabaikan ucapan Naruto yang menyebalkan di telinganya. "Kau mau, kan?"

"A-aku-"

"Aku tidak menerima penolakan."

"Jadi kenapa kau bertanya?"

"Diam, Naruto!"

Naruto bungkam.

Gaara mengatur nafasnya, berusaha menenangkan pikirannya dan menghilangkan bayangan di mana ia sedang mencekik Naruto.

"Jadi, kita pacaran, oke?"

Hinata mengangguk.

"Kau tidak boleh berpisah denganku, kecuali saat kau di rumah—tentu saja—tapi di lain tempat, aku harus selalu ada di sampingmu."

Hinata mengangguk.

"Kau tidak boleh dekat dengan manusia bergender laki-laki, terutama yang bernama Kiba."

"T-tapi-"

"Tidak ada tapi-tapian."

"Tujuh menit lagi masuk."

"M-mereka sahabatku," Hinata berujar lambat-lambat.

Gaara menyisir rambut merahnya ke belakang. "Kau tidak bisa jauh dari mereka?"

Hinata mengangguk.

"Hm, oke. Asalkan aku selalu ada."

Hinata mengangguk lagi.

"Enam menit."

"Kita kembali sekarang," kata Gaara, melepaskan kukungannya pada Hinata.

Lupa dijelaskan, mereka sekarang berada di dalam salah satu gudang Konoha Gakuen yang terkenal angker.

Hm, sebenarnya itu hanyalah bualan Naruto agar tidak ada yang berani mendekati gudang ini kecuali mereka bertiga. Mereka butuh privasi, ya know.

"A-ano..." Hinata menarik ujung lengan baju Gaara.

Gaara menoleh. "Hm?"

"E-eto..." Hinata kembali memainkan jarinya untuk mengusir kegugupan. "Aku–k-kami selalu mengadakan makan malam bersama t-tiap Jumat."

Gaara mengangkat alisnya kemudian sadar ia tidak punya alis.

"A-aku, um, kalau kalian mau, k-kali-"

"Aku mau! Aku mau!"

"Diam, Naruto!"

Naruto menunduk lemas.

"Um... j-jadi?"

"Lima."

"Aku tidak tahu aku akan menemui keluargamu secepat ini," Gaara berujar dramatis.

Hinata menggeleng. "B-bukan di rumahku."

"Jadi di mana?"

"A-apartemen K-Kiba-kun."

Hening sesaat.

"Aku tidak suka apa yang aku dengar."

"K-kami hanya m-makan malam."

"Oke, kami ikut."

"YES!"

"Empat."

"Jam berapa?"

"Enam."

"Makanan gratis selalu yang terbaik," Naruto berujar bahagia.

"A-aku yang m-memasak. A-apa kalian tidak k-keberatan?"

"Tentu tidak," Gaara mengingat sesuatu. "Jadi waktu kita bertemu, Jumat lalu, kau sedang dalam perjalanan ke apartemen Kiba?"

Hinata menggeleng. "A-aku tidak bisa w-waktu itu."

Gaara manggut-manggut, tidak tertarik untuk bertanya mengenai alasan Hinata tidak bisa datang waktu itu. I mean, who cares?

"Dua menit."

"Oke, oke, aku bosan mendengarmu menghitung waktu, Sasuke. Ayo kembali ke kelas."

Gaara menggandeng tangan Hinata keluar dari gudang, diikuti dengan Sasuke dan Naruto.

.

"Woaaaah masakanmu yang terbaik Hina-chan!"

Gaara menatap Naruto tajam.

"Aku selalu bangga memiliki sahabat sepertimu, Nata-chan."

Kali ini ke arah Kiba, yang sedang mengacak-acak rambut Hinata.

"A-arigatou, Kiba-kun, Naruto-kun."

"Aku selalu tahu kami akan baik-baik saja selama kau masih ada. Kenapa? Karena-"

BRAK

"Dia pacarku."

"Aku merasa diabaikan."

"Tenang, Gaara, kami tahu" kata Sasuke sambil melahap onigiri buatan Hinata.

"Hinata," Yang dipanggil menoleh. "Kau duduk di sampingku." Hinata mengangguk, lalu kembali sibuk dengan masakannya.

"Tomatnya kurang, aku mau tomat segar."

"Dia bukan pelayan, dia pacarku."

"A-akan kupotongkan."

"Hinata! Duduk."

Hinata menelan ludah, kemudian dengan taat mengikuti perintah Gaara.

Melihat Hinata—akhirnya—duduk manis di samping Gaara, Naruto membuka suara, "Jadi, kalian tinggal berdua?" Ia mengarahkan sumpitnya ke arah Kiba dan Shino bergantian.

Kiba mengangguk. "Ceritanya panjang."

Karena desakan Naruto, Kiba akhirnya menceritakan alasan dirinya dan Shino tinggal bersama dalam satu apartemen.

Ia memulainya dari hubungan ketiga orang tua mereka; Hyuga, Inuzuka, dan Aburame, sudah bekerja sama sejak lama di Osaka. Ketiganya dekat, sebagai rekan bisnis, teman, dan keluarga. Hal tersebut menurun pada anak-anak mereka yang sudah bersama-sama sejak kecil. Hubungan tersebut bertambah erat karena tidak satu pun dari mereka yang mau terpisahkan.

Sampai saat Hinata harus pindah ke Tokyo untuk melanjutkan pendidikan SMA-nya.

Kiba tidak mau Hinata pergi sendirian dan ia juga tidak mau meninggalkan Shino sendirian. Dilema tersebut membawa mereka pada keputusan Hiashi, ayah Hinata. Ia memutuskan untuk bertanggung jawab atas biaya hidup Kiba dan Shino di Tokyo. Dengan itu, orang tua mereka membelikan sebuah apartemen sederhana, namun berkesan mewah untuk ditinggali keduanya.

Apartemen tersebut cukup luas untuk ditinggali lebih dari dua orang. Ada empat kamar di apartemen tersebut, dan salah satunya adalah milik Hinata—karena ia sering menginap di sana. Hiashi tidak keberatan dengan hal itu karena persahabatan mereka lebih seperti keluarga. Dan juga, Hiashi percaya pada Kiba dan Shino. Meskipun begitu, ia tetap memasang CCTV di setiap sudut apartemen.

"Hinata sering menginap?" Gaara bertanya tepat setelah Kiba menyelesaikan ceritanya yang panjang lebar.

Makanan di meja sudah hampir habis, hanya tersisa sedikit, dan biasanya diberikan pada Akamaru.

Kiba mengangguk menjawab pertanyaan Gaara. "Oh ya, Hinata, aku sudah mengambil pakaianmu di laundry kemarin. Ada di lemari, sudah kulipat."

"Ari-"

Gaara memotong ucapan terimakasih Hinata. "Biasanya berapa lama dia menginap?"

Kiba menempelkan ujung sumpitnya di dagu dengan pose berpikir, "Kalau libur ia menghabiskan semua waktunya di sini. Kalau sekolah... Hm, jarang," Kiba mengendikkan bahu untuk mengakhiri jawabannya.

Mata Gaara kini beralih menatap Hinata. "Kau tahu itu berbahaya kalau tinggal dengan dua lelaki?"

"T-tapi-"

"Jangan mencari alasan," potong Gaara. "Kau tahu tentang BDSM?"

"Uhuk-uhuk!" Kiba tersedak.

Hinata menggeleng.

"Itu bukan hal yang bagus," kata Gaara.

"Itu a-"

Hinata mencoba untuk bertanya, tetapi Kiba memotongnya dengan cepat, "Kau tidak perlu tahu Hinata!"

"BDSM adalah-"

"Kurasa itu bukanlah topik yang mau dibicarakan saat sedang makan."

Gaara menatap Shino—pelaku yang memotong pidatonya—dengan tatapan sinis.

"Selesai makan kalau begitu," kata Gaara, cuek, dengan pandangan yang masih fokus pada Shino.

Mereka menyelesaikan sisa makanan mereka dalam diam. Setelah semuanya selesai, Kiba dan Hinata membereskan peralatan makan untuk dicuci. Tetapi Gaara datang dan menyeret Hinata menjauh dari Kiba.

"Siapa yang akan membantuku?"

"Bayanganmu."

Jadilah Shino yang menggantikan Hinata. Selama mereka sibuk mencuci piring dan membersihkan meja, Gaara berusaha mencari tempat tersembunyi untuk berdua dengan Hinata.

Well, di apartemen Kiba tidak ada tempat yang tersembunyi. Semuanya sudah dipasangi CCTV berkat Hiashi.

"Aku benci tempat ini."

Sudah seharusnya, nak.

Karena tidak mendapatkan apa yang ia mau, Gaara dengan sangat terpaksa ikut bercengkerama di ruang tamu. Saat semua orang tertawa bersama dan bersenang-senang, matanya fokus pada satu titik.

Dan kalian tahu apa yang ia pandangi.

"Jadi, Gaara, sejak kapan kau suka pada Hinata?"

Aset semua manusia bergender perempuan; payudara.

"Woy, Gaara!"

Bagaimana dada Hinata bisa begitu besar? Tunggu, bra warna apa yang sedang ia kenakan sekarang?

"Gaara!"

Ia tidak sabar menyusu pada Hinata. Membayangkan Hinata berada di bawahnya, mendesahkan namanya, menggeliat kare-"

"GAARA!"

Gaara mengedip-ngedipkan matanya.

"Apa?"

Naruto mengerang frustasi. "Kita pulang sekarang."

Gaara mengangguk, cuek, lalu beranjak menuju pintu, mengikuti kedua temannya.

Saat sudah sampai di luar pintu apartemen, ia menyadari sesuatu. Ia berbalik untuk menghadapi gadis berambut indigo yang sedang menatapnya bingung.

"Kau menginap?"

Hinata mengangguk pelan.

"Aku juga menginap," Gaara kembali masuk ke dalam apartemen, tapi pergerakannya ditahan oleh Kiba.

"Begini, Gaara, apartemen ini dipenuhi dengan CCTV yang dipasang oleh Hiashi-jiisan. Jadi kami tidak boleh berbuat macam-macam, dan itu juga berlaku untukmu."

Ouch.

Gaara menggeram. Matanya kembali fokus pada Hinata. "Jangan selingkuh."

Hinata menampilkan senyum manisnya lalu mengangguk. "Hati-hati di jalan."

Kiba menutup pintu, meninggalkan Gaara yang tersenyum kecil.

"Gar, aku lebih suka kau membunuh orang daripada tersenyum."

.

Jumat, 20 November 2015

"Gaaaraaaa~"

Gaara mendecih. "Apa yang kau lakukan di sini?" Gaara bertanya dengan sinis sambil tetap fokus pada dokumen di tangannya. Sekarang ia sudah resmi menjabat sebagai Direktur Sabaku Corp.

Kankuro memasang tampang terkejut yang dibuat-buat, "Oh? Tidak boleh?" Ia lalu mengubah ekspresinya menjadi sedih dan kecewa, "Padahal aku baru sa-"

Gaara dengan segera berdiri dari kursinya dan memotong ucapan Kankuro, "Mana? Mana?" Tangannya terulur, meminta berkas yang ada di tangan Kankuro.

Kankuro tersenyum sombong. Dagunya ia angkat, tubuhnya ia sandarkan di pintu. "Gaara, Gaara, Gaara," ia berdeham, "kau harus membayar mahal untuk ini," ia memain-mainkan berkas di tangannya.

"Minta apa saja yang kau mau, kemarikan," perintah Gaara, tangannya masih menjulur pada Kankuro.

Kankuro menatap Gaara datar. "Yang butuh siapa?"

Gaara mengerang frustasi lalu berjalan menuju Kankuro, mengambil berkas di tangannya dengan kasar, meninggalkan Kankuro dengan senyum kemenangan.

"Dia suka warna biru?!" tanya Gaara setelah membaca berkas di tangannya. "Tapi aku suka warna merah!"

Kankuro memutar bola matanya. "Kau pintar, tapi tidak pintar," Gaara mengernyitkan dahinya. "Memangnya kenapa kalau dia suka warna biru?"

"Biru dan merah selalu berlawanan."

Kankuro menghampiri Gaara yang sedang terpuruk. Ia memegang kedua bahu adiknya, mengguncangnya sedikit, lalu berkata, "Bukankah itu bagus? Kalian akan melegenda; untuk pertama kalinya biru dan merah bersatu. Dan itu kalian. Gaara dan Hinata."

Gaara menatap Kankurou, dalam. "Kalau dia tidak menyukaiku?"

Hinata memang tidak menyukaimu, nak.

Well, belum.

Kankuro mengendikkan bahu. "Paksa saja," katanya, "tapi aku yakin kalian akan bahagia," lanjutnya, berusaha menghibur Gaara.

Oh, Kankurou, tidak tahukah kau betapa salahnya dirimu?

.

Sabtu, 21 November 2015

Hinata membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan menutup mata. Matahari sudah kembali ke peraduannya sejak satu jam yang lalu.

Minggu yang berat. Sangat.

Warna biru kamarnya tidak membantu menenangkan pikirannya. Bermeditasi juga tidak mempan. Menyendiri apa lagi. Ia selalu terbayang dengan sentuhan Gaara di tubuhnya. Terutama di bagian dadanya, daerah yang paling sering disentuh Gaara.

Hinata menggelengkan kepalanya.

Jangan mengingat dirinya, Hinata memperingatkan dirinya sendiri.

"Nee-chan kenapa?"

Ah, Hinata terlalu tenggelam dalam pikirannya sehingga melupakan kehadiran Hanabi, yang dari tadi setia menemaninya.

"Tidak apa-apa, hanya banyak pikiran."

Hanabi mengangguk-angguk mendengar jawaban Hinata. Ia merangkak naik lalu tidur tengkurap di samping Hinata. Hening menyelimuti mereka sampai Hanabi mengangkat kepalanya secara tiba-tiba. Hinata menatapnya bingung.

"Aku mau curhat, nee, tentang..." Hanabi memberi jeda, wajahnya merona.

"Tentang?" Hinata menatap Hanabi penasaran.

"Tentang-"

"HINATA!"

Hinata dan Hanabi saling berpandangan. Hinata segera mendudukkan dirinya, masih diam, bingung. Tidak biasanya Neji berteriak seperti itu.

"Sepertinya nee-chan harus turun."

Hinata mengangguk lalu keluar dari kamar dengan perlahan. Langkahnya pelan dan penuh keragu-raguan. Ia tidak siap dengan apa yang akan terjadi.

"HINA -oh, di situ kau. Kemari cepat!" perintah Neji. Ia berdiri di samping Hiashi yang sedang duduk di sofa, berhadapan dengan seseorang.

Hinata mengangguk, lalu kembali melangkahkan kakinya ke ruang tamu.

Tiba-tiba langkahnya terhenti.

"G-gaara... kun?"

"Oh, kau mengenalnya? Sekarang dengar apa yang dia katakan! Ulangi, bocah!"

"Tenang, Neji," Hiashi menenangkan.

"Baik," Gaara berdeham, ia menatap Hiashi tanpa ragu-ragu. "Saya, Gaara Sabaku, ingin melamar putri anda, Hinata Hyuga, sebagai-"

"Kau dengar itu, Hinata?!" tanya Neji pada Hinata yang terdiam dengan wajah merah padam.

"Neji, kembali ke kamarmu," kata Hiashi, matanya fokus pada Gaara.

"Tapi-"

"Jangan membantah."

Neji mengumpat pelan lalu berjalan naik menuju kamarnya.

"Hinata, kemarilah," panggil Hiashi, sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.

Hinata berjalan ke samping Hiashi dengan kepala tertunduk dalam, menghindari tatapan Gaara yang sedari tadi memerhatikannya.

"Kau kenal dia?" tanya Hiashi pada Hinata.

Hinata mengangguk.

Hiashi menghela nafas kecewa. "Dia siapamu?" Hiashi kembali bertanya. Suaranya tetap tenang, walaupun pikirannya campur-aduk.

"T-tema-"

"Ehem!"

Hinata mendesah pasrah. "P-pacarku."

Hiashi terdiam menatap Hinata. Setelah mendapat kesadarannya kembali, ia menegakkan tubuhnya lalu menatap Gaara tajam.

"Aku memperbolehkan kalian pacaran, tapi tidak ada pernikahan."

Hinata mengembuskan napas lega mendengar pernyataan ayahnya yang diutarakan dengan suara tegas. Dan itu berarti, argumen apapun yang dikeluarkan Gaara, tidak akan mengubah keputusan Hiashi.

Yup! Hinata yakin itu.

Gaara terdiam. Ia menundukkan kepalanya. "Sayangnya saya tidak bisa menerima keputusan anda."

Hiashi menyipitkan matanya. "Angkat kepalamu dan ulangi."

Gaara mengangkat kepalanya dan menatap Hiashi. "Saya tidak bisa menerima keputusan anda."

Hiashi tersenyum meremehkan. "Apa pun yang akan kau katakan tidak akan mengubah keputusanku."

Di dalam kamar, Neji bersenandung ria sambil menguping pembicaraan di ruang tamu. Rasakan itu, bangsat!

"Kalau tidak ada lagi yang perlu kau katakan, Neji bisa menunjukkan jalan keluar."

Dalam sekejap Neji sudah berada di ruang tamu, dengan senyuman iblis, menatap Gaara.

Gaara menatap Neji, jengkel, lalu kembali menatap Hiashi. "Saya masih tidak bisa menerima keputusan anda, Hiashi-sama."

"Tidak ada gunanya, bocah, kau tidak akan pernah bisa mengambil putriku."

Dalam hati Hinata berteriak senang mengetahui ayahnya tidak akan melepaskannya.

"Saya hanya akan mengatakan satu hal sebelum pergi."

"Katakan."

"Saya adalah Direktur Perusahaan Sabaku di Tokyo."

"Aku menerima lamaranmu."

"APA?!"

Hiashi dan Gaara bangkit berdiri bersama-sama dan saling berjabat tangan, tidak memedulikan teriakan Neji dan Hinata. "Senang menerimamu sebagai menantuku."

Gaara mengangguk singkat. "Saya akan lebih senang lagi untuk menjalin kerja sama antar perusahaan dengan anda."

Hinata menatap Neji meminta pertolongan dan Neji menangkap sinyalnya.

"Tapi, Jii-san-"

"Neji, argumenmu tidak diperlukan," Hiashi tersenyum ramah pada Gaara."Kita akan membicarakan selebihnya Senin nanti di kantorku, setelah pulang sekolah. Kau bisa membawa Hinata."

"Saya dengan senang hati melakukannya, Hiashi-sama." Mereka kini berjalan menuju pintu keluar.

Hiashi tertawa hambar. "Jangan terlalu formal. Panggil aku Tou-san."

"Baiklah, Tou-san."

Mereka lalu tertawa bersama. Setelah sedikit berbincang di luar, Hiashi kembali masuk ke dalam mansion dengan raut bahagia yang tercetak jelas di wajahnya.

"Apa?" Hiashi bertanya pada kedua remaja yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya.

"Itu sama saja Jii-san menjual Hinata!" seru Neji setelah terdiam beberapa saat. Hinata mengangguk setuju.

Hiashi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pertama, ini bukan perjodohan karena uang, mereka berpacaran, jadi tidak ada unsur pemaksaan di sini."

"T-tapi-"

"Kedua, aku hanya menerima lamaran bocah itu, bukan menjual Hinata. Argumen yang ia keluarkan cukup kuat, jadi hatiku sedikit tergerak."

Hiashi melangkah menuju dapur untuk makan malam. "Hina, panggil Hanabi," katanya yang dibalas dengan anggukan Hinata.

"Ya, hati Jii-san tergerak setelah dia mengatakan bahwa dia adalah direktur Perusahaan Sabaku di Tokyo."

"Siapa yang tidak?"

"Aku!"

"Neji berhenti berteriak, Hinata yang mau menikah bukan kau."

"Tapi aku merasakan penderitaan yang akan ia alami."

"Penderitaan apa?"

Hiashi menatap Hanabi yang baru datang. "Tidak ada," katanya, menjawab pertanyaan Hanabi. "Duduklah, kita harus merayakan sesuatu."

Mereka memulai makan dalam diam. Hinata sibuk dengan pikirannya mengenai Gaara, Neji sibuk memikirkan jalan untuk membunuh Gaara tanpa terlihat seperti pembunuhan, Hiashi sibuk membayangkan uang dan cucu yang manis, sedangkan Hanabi? Ia menatap ketiganya dengan bingung.

"Jadi apa aku akan memiliki keponakan?"

.

"Bersulang!"

Segera setelah Naruto mengatakan hal itu, ruangan tersebut penuh dengan suara dentingan gelas yang saling beradu.

"Aku tidak menyangka kau diterima. Setahuku, Hiashi Hyuga adalah orang yang sulit," kata Sasuke lalu meletakkan gelasnya di meja. Ia mengatakan itu karena ayahnya berteman baik dengan Hiashi.

Gaara terkekeh. "Dia cukup keras. Tapi lembek pada uang."

Mereka tertawa bersama, lebih didominasi oleh suara Naruto. Mereka sekarang sedang berada dalam salah satu bar di pusat Tokyo, yang dipesan privat oleh Gaara untuk merayakan keberhasilannya.

"Yo, you all!"

"Itachi!" Naruto berseru lalu melangkah menuju Itachi, berniat memeluk. Namun, Itachi menahan pergerakannya.

"Tach, that's my name," kata Itachi sambil melipat tangannya di depan dada.

Sasuke memutar kedua bola matanya, sedangkan Gaara tertawa pelan.

"Ah, aku lupa," kata Naruto lalu tertawa. Ia dan Ita—Tach berpelukan, kemudian kembali berjalan menuju meja.

"Kapan kau datang?" tanya Gaara sambil menatap Tach yang sudah duduk di hadapannya. Tangannya menuang bir di gelasnya sampai penuh, lalu menuangnya juga di gelas Tach.

"Baru sampai kemarin malam," Tach menjawab lalu meneguk habis birnya. "Saskeh tidak memberitahu kalian?"

"Berhenti menyebut namaku seperti itu, menjijikkan."

Tach terkekeh. "Aku juga merindukanmu," Sasuke memutar kedua bola matanya. "Jadi perayaan apa ini?"

"Siapa yang mengundangnya?"

Gaara mengabaikan pertanyaan Sasuke dan menjawab pertanyaan Tach, "Lamaranku diterima."

"FHOOOO-" Tach menyemburkan birnya di wajah Naruto. "Serius?! Jelaskan tentang gadis yang beruntung ini!"

Naruto mengelap wajahnya dengan jaket Sasuke yang Sasuke titip di sampingnya.

"Naruto! Kau menjijikkan!"

"Itu salah Itac-"

Ucapan Naruto terpotong tiba-tiba oleh tangan Tach yang menutup mulutnya. "Tach," katanya pelan.

Naruto mengangguk tanda mengerti. Tach lalu melepaskan Naruto dan kembali fokus pada Gaara, menunggu penjelasan.

Hening sesaat.

"Dadanya besar."

Selanjutnya ruangan tersebut dipenuhi dengan canda tawa mereka bertiga selama Gaara menjelaskan tentang gadis yang akan dinikahinya. Tentu saja Sasuke tidak termasuk. Semuanya akan terasa menyebalkan baginya jika Itachi ada di sekitarnya.

"Bersulang!"

.

"Aku tidak bisa mencerna hal ini dengan baik."

Hinata mengembuskan napas lelah untuk ke-sekian kalinya hari ini. "Bagaimana denganku, Kiba-kun?"

Sekarang ini, mereka sedang melakukan skype, atas permintaan Hinata yang sedang membutuhkan teman curhat.

"Aku bahkan tidak tahu kapan kau menyukainya," kata Kiba dengan wajah muram. Pikirannya kacau setelah mendengar sahabat baiknya akan menikah.

"Aku... tidak menyukainya," Hinata berujar lambat-lambat.

Kiba membelalakkan matanya. "Maksudmu?! Kau tidak menyukainya?! Jadi kalian pacaran atas dasar apa?!" Kiba bertanya histeris.

"Zaman sekarang pacaran tidak selalu didasa-"

"Diam, Shino! Aku tidak butuh pendapatmu sekarang."

"Sshh jangan bertengkar," Hinata berusaha menenangkan. "Aku akan ceritakan dari awal."

.

Neji menggerakkan tubuhnya dengan cepat. Desahan-desahan nikmat menggema di ruangan kecil itu. Keringat telah membasahi tubuh mereka berdua. Terus seperti itu sampai keduanya mencapai puncak kenikmatan.

"Tenten..."

Neji menundukkan kepalanya dan menempelkan bibirnya dengan bibir Tenten; menghisap, melumat, dan mengajak lidahnya untuk saling bertaut. Ciuman itu lama dan panas sampai mereka terpaksa berpisah karena kebutuhan oksigen.

"Itu cukup lamah, kan? Heh..." Neji menyeringai melihat wajah kelelahan Tenten, meski napasnya juga memburu.

"Hm, lumayan," Neji terkekeh mendengar jawaban kekasihnya. "Jadi apa yang terjadi sampai kau datang malam-malam begini?"

Setelah makan malam, Neji memutuskan untuk pergi menemui Tenten dan menceritakan kekesalannya sekaligus melepas rindu. Mereka berdua sibuk dengan kuliah, jadi sangat jarang mereka bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini.

"Hinata akan menikah."

"Apa?!" Tenten mendorong tubuh Neji agar ia bisa duduk. Matanya menatap Neji lekat-lekat. "Kenapa bisa?"

"Ada bocah berambut merah yang terobsesi pada Hinata, lalu ter-"

"Tunggu!" Tenten memotong penjelasan Neji. "Hiashi-jiisan menerimanya?"

Neji mengangguk, Tenten mendesah kecewa. "Bocah itu menjabat sebagai Direktur Perusahaan Sabaku di Tokyo," kata Neji. Mereka berdua kembali tidur dengan posisi Neji tidur telentang dan Tenten memeluk Neji dari samping.

"Pantas saja," timpal Tenten. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Neji yang lembab dan berotot.

"Aku akan membunuhnya."

"Apa dia tampan?"

"Hm, jelek, seperti psikopat."

Tenten tertawa pelan. "Huh... Aku tidak menyangka Hina-chan mendahului kita."

"Kita akan segera menikah setelah lulus kuliah. Aku dapat jatah di Kyoto oleh Jii-san."

Mata Tenten berbinar. Ia mendongak untuk menatap Neji. "Benarkah?"

Neji mengangguk. "Sekarang tidur," perintahnya lalu mengecup kening Tenten penuh sayang.

.

Tidak ada yang bisa memisahkan pasangan yang saling mencintai. Baik orang ketiga, perbedaan pendapat, kekecewaan, bahkan kematian.

Itu yang dipercayai Hiashi. Walaupun istrinya sudah lama meninggalkannya, ia tidak memiliki kemauan untuk mencari istri baru bagi kedua anaknya. Ia tidak peduli bila ia sibuk sampai tidak pulang ke rumah berhari-hari. Ia percaya Neji akan melindungi kedua putrinya, dan Hinata sudah berperan sebagai ibu bagi Hanabi. Keluarga mereka sudah berkecukupan dan tidak ada satupun dari mereka yang keberatan dengan keputusan Hiashi.

Ibu jarinya mengusap-usap foto di tangannya. Matanya memancarkan kerinduan pada salah satu sosok di foto tersebut. Bibirnya membentuk sebuah senyuman lembut, sarat akan kasih sayang.

"Apa aku telah melakukan hal yang benar?" Ia bertanya pada ruangan kosong dan gelap itu. Matanya yang tertuju pada foto istrinya seperti menerawang; mengingat, memutar kembali memori kebersamaan mereka.

"Hana?"

TBC

Sesuai janji saya update kilat! Kalian pasti bangga sama saya :') #eleh

Makasih semua yang sudah nyempetin diri buat review, mem-follow, dan mem-favorit cerita ini hehe:D Yang login sudah saya balas lewat review, dan untungnya rata-rata login xD

Rumput Liar, nana, puchan, Guest, lenacchi: ini sudah diupdate Review kalian di chapter selanjutnya masih saya tunggu :D

Chapter 3 mengandung explicit contents, dan, untuk menghormati reader-reader yang beragama Islam, update-nya saya tunda sampai bulan depan, hehe, gpp kan? Tapi kalau vote-nya menang di update, maka akan saya update secepatnya

Oh ya, karena saya orangnya humoris, jadi fic ini tidak akan memiliki adegan-adegan yang bisa membuat reader menangis, karena itu bukan keahlian saya :D Tapi kalau nangis juga gpp deh, itu artinya saya berhasil :')

So, review again?

Thank you