ANGEL'S
REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION
ANUGRAH BIDADARI by SHERLS ASTRELLA
BYUNNERATE
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre: Romance
Rated: T
Warning: Genderswitch! Typos!
Summary: "Kami sering menyebut Ratu sebagai Bidadari Malam. Tiap malam Anda akan melihat Ratu membawa lilin kecil dan berkeliling Hall." "Bagi mereka, engkau adalah Ratu mereka dan terus akan menjadi Ratu mereka tapi bagiku, engkau adalah Ratu yang selalu bersinar di hatiku" "Aku memberikan seluruh cintaku padamu, Chanyeol, rajawaliku yang gagah perkasa."
NO BASH
DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS
Enjoy and Review Juseyooooo
.
.
.
.
"Sekarang semuanya telah berubah."
Itulah yang dikatakan Baekhyun pada dirinya sendiri saat melihat bayangannya di cermin.
Sementara ia duduk diam, pelayan-pelayan sibuk menata khusus bagian menggelung, ada yang khusus memberi hiasan, ada pula yang khusus menyisiri. Baekhyun dibuat pusing karenanya.
Satu-satunya yang bisa dilakukannya hanya duduk diam sampai mereka selesai mendandaninya. Baekhyun benar-benar lega ketika akhirnya mereka selesai.
"Bawa masuk makan siang untuk Paduka," Xiumin memberi perintah pada pelayan-pelayan lainnya.
"Kurasa aku tidak akan makan siang, Xiumin."
"Seperti keinginan Anda, Paduka."
Baekhyun menangkap kekecewaan di wajah Xiumin. Baekhyun ingat Kyungsoo selalu kecewa bila ia menolak memakan apa yang ia siapkan untuknya.
"Tunggu!" Baekhyun cepat-cepat mencegah. Dengan tersenyum, ia melanjutkan, "Aku tidak akan membuat usaha kalian sia-sia. Jadi, aku akan makan. Tetapi, aku tidak ingin sendirian. Tolong panggilkan Jongin dan Mingyu untuk menemaniku."
Walau ia tidak menampakkannya, Baekhyun tahu Xiumin merasa senang. Terlihat dari nada suaranya ketika ia menjawab, "Baik, Paduka!"
Xiumin segera menyuruh pelayan-pelayan itu berangkat dan ia sendiri pergi untuk memanggil kedua Menteri itu.
Baekhyun mendesah. Tenda yang disiapkan untuknya benar-benar besar. Seratus orang masuk ke dalam tenda ini, takkan membuat sesak suasana di dalam tenda. Benar-benar tenda seorang Raja.
Baekhyun duduk di kursi di tengah tenda. Ia diam merenung sampai Xiumin datang melapor,
"Tuan Jongin dan Tuan Mingyu telah tiba, Paduka."
"Persilakan mereka untuk masuk."
"Hamba datang menghadap," kata kedua orang itu sambil membungkuk hormat.
"Duduklah," kata Baekhyun, "Temani aku makan."
Mereka duduk dan pelayan-pelayan mulai berdatangan dengan bermacam-macam makanan yang lezat.
Selama makan siang itu Baekhyun tidak banyak berbicara. Ia terus memusatkan perhatiannya pada pikirannya. Sikapnya itu membuat Jongin dan Mingyu was-was.
Baekhyun menyadarinya. "Adaapa?" tanyanya, "Kalian sudah makan siang?"
"Belum, Paduka," jawab mereka ketakutan.
Baekhyun tersenyum. "Aku meminta kalian menemaniku bukan untuk memberi hukuman pada kalian. Aku selalu merasa harus menghabiskan semua ini bila aku makan sendirian. Ayahku tidak pernah mengajak kalian makan bersama. Aku benar?"
Mereka diam ketakutan.
"Hanya satu yang dapat kukatakan kepada kalian," Baekhyun melanjutkan dengan tegas, "Aku bukan ayahku dan aku membenci segala sikapnya."
Pelayan membawakan hidangan terakhir.
Baekhyun menggerakkan tangannya untuk menyatakan ia tidak mau.
Pelayan itu melayani Jongin dan Mingyu lalu meninggalkan tenda.
"Aku tidak akan memaksa kalian untuk mempercayaiku," Baekhyun mengambil gelasnya yang berisi air jeruk dan meminumnya dengan tenang.
Pelayan-pelayan segera membersihkan meja seusai mereka selesai dengan makan siang mereka.
Baekhyun menuju meja rias dan mencari-cari sesuatu di lacinya.
Kedua menteri itu memandangi Baekhyun dengan penuh ingin tahu.
Baekhyun menulis sesuatu pada selembar kertas lalu kembali pada kedua menterinya.
"Mingyu, kuperintahkan engkau membawa pulang pasukanmu sore ini. Bawa pula kereta kudaku dan para pelayan."
Mereka terkejut tetapi Baekhyun tidak memberi mereka kesempatan untuk membantah.
"Dari sini ke Perenolde membutuhkan waktu berapa lama?"
"Paling cepat satu minggu, Paduka."
"Bukan tiga hari?"
"Dengan kecepatan tinggi, waktu itu bisa tercapai, Paduka. Tetapi kita tidak bisa secepat itu dengan Anda bersama kami. Kami harus berhati-hati dalam setiap langkah kami demi keselamatan Anda."
Baekhyun berpikir keras. "Aku ingin kalian berdua kembali ke Perenolde sore ini juga. Jongin, kuperintahkan engkau untuk menyebar titahku ini pada para Menteri."
Sementara Jongin membaca kertas itu, Baekhyun melanjutkan, "Aku ingin engkau mempersiapkan rapat di Istana tepat minggu depan. Aku ingin kalian berdua juga membuat laporan atas apa yang kalian kerjakan selama ini. Mulai dari ayahku sakit hingga saat ini."
"Bagaimana dengan Anda, Paduka?" Mingyu memberanikan diri untuk bertanya.
"Tinggalkan seekor kuda untukku dan empat prajurit terbaikmu, Mingyu. Aku akan segera berangkat setelah kalian pergi. Satu tugas lagi untukmu, Jongin, aku ingin engkau memberitahu Kyungsoo bahwa aku baik-baik saja dan aku akan segera tiba."
"Maafkan saya, Paduka, tetapi saya tidak menyetujui usul Anda. Rencana ini terlalu berbahaya. Kami mengkhawatirkan keselamatan Anda."
"Apakah engkau kira dengan sekompi pasukan, aku akan selamat?" tanya Baekhyun.
"Tidak, Mingyu. Sebuah kereta emas telah menarik perhatian apalagi dengan banyak pasukan. Engkau juga harus ingat aku baru saja meninggalkan Lasdorf. Tentunya saat ini mereka sedang mengawasi kita dan bersiap-siap untuk menculikku kembali. Aku telah mengetahui persembunyian mereka. Bagi mereka, aku terlalu berbahaya untuk dilepas di tengah-tengah kalian."
Mingyu ingin mengatakan sesuatu tetapi Baekhyun mendahuluinya,
"Jangan menyarankan aku untuk menyerang mereka. Aku tidak akan pernah menyerang mereka. Mereka berjuang untuk kemakmuran mereka. Bukan untuk menggulingkan pemerintah. Di samping itu, saat ini yang terpenting adalah menyelesaikan masalah pergantian tahta ini."
Mereka diam memikirkan rencana Baekhyun.
Baekhyun tidak memberi mereka kesempatan untuk berpikir terlalu lama. "Hari mulai siang. Kembalilah kalian untuk beristirahat. Pukullimasore nanti kembalilah kalian ke Perenolde. Dan, bila kalian masih mengkhawatirkan keselamatanku, tinggalkan empat jendral terbaikmu, Mingyu."
Kedua menteri itu terbiasa untuk tidak membantah titah Raja. "Kami mengerti, Paduka," kata mereka. Sekali lagi mereka membungkuk hormat dan meninggalkan tenda Baekhyun.
Xiumin masuk tak lama setelah kepergian kedua pria itu.
"Sore ini kembalilah ke Perenolde bersama pasukan yang lain," kata Baekhyun, "Katakan pada Kyungsoo untuk tidak mencemaskanku. Aku akan segera tiba."
"Anda tidak pulang bersama kami, Paduka?"
"Aku akan pulang setelah kalian berangkat."
"Biarlah saya ikut dengan Anda, Paduka. Saya ingin terus melayani Anda."
"Engkau akan melakukannya, Xiumin. Tapi tidak saat ini. Banyak yang ingin kulakukan sepanjang perjalanan pulang nanti. Aku ingin engkau kembali ke Azzereath."
"Keinginan Anda adalah tugas bagi saya, Paduka."
Baekhyun mengeluh. Semua orang tidak ada yang berani membantahnya. Mereka semua takut padanya. Kalau ada yang salah di mata mereka, mereka hanya berani bertanya. lalu diam lagi setelah mendapat jawaban. Untuk mengatakan tidak setuju pun mereka takut dan didahului kata 'maaf'.
"Apakah sedemikian kejamnya ayahku hingga kalian takut pada keturunannya?" tanya Baekhyun, "Apakah aku sekejam dia di mata kalian?"
"T…tidak, Paduka."
"Aku tahu, Xiumin," Baekhyun berkata lembut untuk menenangkan ketakutan wanita itu, "Di dalam tubuhku mengalir darah serigala itu. Aku mempunyai jiwa kejam serigala itu dan kalian takut padaku. Anak serigala adalah serigala, bukan?"
Xiumin ingin membantah tapi Baekhyun sudah berkata, "Beristirahatlah, Xiumin. Tak sampai tiga jam lagi engkau akan kembali ke Perenolde dan sebelum itu engkau harus berbenah."
Xiumin pergi tanpa sempat menjawab pertanyaan Baekhyun.
Baekhyun merasa awal-awal pemerintahannya ini akan menjadi tugas yang sangat berat. Dan yang terberat adalah membuat mereka percaya padanya.
Satu jam kemudian kesibukan perkemahan di tepi Thamasha itu mulai terlihat.
Prajurit-prajurit mulai membongkar tenda. Pelayan-pelayan membereskan barang-barang. Kusir kuda menyiapkan keretanya. Para Jenderal mengatur pasukan. Sementara itu Baekhyun hanya boleh duduk diam di dalam tendanya.
Baekhyun bersyukur atas kecermatan Kyungsoo. Wanita tua itu membawakan baju berkuda untuknya lengkap dengan segala perlengkapannya. Baju itu akan membuat segalanya menjadi lebih mudah untuk Baekhyun.
Tepat ketika para pasukan sudah bersiap-siap untuk berangkat, Baekhyun selesai berganti baju.
Mingyu, Jongin serta pasukan lainnya berbaris rapi di depan tenda Baekhyun. Mereka hendak berpamitan pada gadis itu sebelum mereka pergi.
Baekhyun melangkah keluar dari tendanya. Ia menemukan dirinya menghadapi orang-orang yang sedang terpana.
"Adaapa?" tanya Baekhyun, "Adayang tidak beres?"
"Ti…tidak, Paduka," Mingyu cepat-cepat menjawab, "Kami…"
"Kami tidak menduga Anda sekecil ini," Jongin memberanikan diri untuk berterus terang.
Baekhyun tertawa geli.
Gadis itu tidak menyadari ia tampak bersinar saat itu. Baju berkudanya membungkus ketat tubuhnya dan menonjolkan kerampingannya.
Sepatu bot kulit hitam yang bertumit membungkus kakinya yang telah terbalut celana berkuda putih, hingga ke lutut. Baju merah yang membungkus tubuhnya tampak sangat serasi dengan kulit putihnya. Ujung sarung tangan putihnya tersembunyi di balik lengan bajunya yang panjang. Tangannya menggenggam erat cemeti hitam.
Rambut panjangnya tersembunyi di balik topi hitamnya. Rambutnya yang terjuntai keluar tertimpa sinar matahari sore dan bersinar indah seperti perhiasan yang tak ternilai harganya.
Wajah cantiknya bersinar ceria. Matanya memandang lembut. Senyum manis tersungging di wajahnya yang berseri.
Gadis itu berdiri tegak dan menampakkan wibawanya sebagai seorang Ratu.
"Kalian membuatku geli," kata Baekhyun, "Apakah kalian berpikir aku sebesar gajah hingga kalian terkejut ketika aku tiba-tiba menjadi tidak lebih besar dari semut? Hidup makmur seperti ini dapat membuat aku bertambah gemuk tetapi waktu dua bulan lebih belum cukup untuk membuatku tampak subur seperti gajah."
"Sudahlah," Baekhyun menghentikan tawa gelinya, "Segeralah kembali ke Perenolde sebelum hari gelap. Jangan buat keluarga kalian menanti dengan cemas lebih lama lagi."
"Kami berangkat, Paduka."
Baekhyun melambaikan tangannya sampai mereka jauh.
"Kita juga harus segera berbenah dan kembali ke Perenolde."
"Baik, Paduka."
Keempat pasukan terbaik yang ditinggalkan Mingyu untuk mengawalnya, mulai membongkar tenda Baekhyun.
Segala perabot yang ada di dalam tenda itu telah dibawa kembali pasukan tadi. Sekarang yang tertinggal hanya sebuah tenda kosong.
Gaun-gaun Baekhyun juga telah dibawa pulang semua. Baekhyunlah yang memerintahkan hal itu. Ia menolak membawa baju ganti karena itu akan merepotkan rencananya.
Hari mulai gelap ketika Baekhyun menaiki kuda hitam yang ditinggalkan untuknya.
"Ke mana kita akan pergi, Paduka?" tanya Jenderal Hansol.
"Kita akan meninggalkan tempat ini," kata Baekhyun, "Semakin larut kita melewati daerah pemberontak, semakin baik. Malam-malam seperti ini mereka tidak akan mengenali kita."
"Kami mengerti, Paduka."
Segera dua orang menempatkan diri di kanan kiri Baekhyun dan yang lain mengekor di belakang Baekhyun.
Seperti perhitungan Baekhyun, suasana sekitar Lasdorf sangat sepi. Tak tampak seorang pun hingga mereka berada jauh dari tempat itu.
Melihat hari semakin larut, Baekhyun berkata, "Kita harus cepat-cepat mencapaikotaterdekat."
"Jidoor terletak di sekitar tempat ini, Paduka," kata Jenderal Jisoo, "Kita bisa mencapainya dalam lima belas menit."
"Kita kesana," Baekhyun memutuskan, "Tunjukkan jalannya padaku, Jisoo."
Jisoo memimpin mereka ke Jidoor.
Di kota kecil itu Baekhyun memutuskan akan tinggal untuk malam ini tidak mempunyai penginapan mewah, tapi Baekhyun tidak mengeluh. Ia tahu ia tidak bisa mengharapkan kemewahan dari kehidupan rakyatnya yang menderita.
Jisoo memesan tiga kamar yang berjajar untuk mereka. Kamar Baekhyun di tengah dan kedua kamar lain untuk mereka.
Malah sudah larut ketika mereka tiba di penginapan. Baekhyun tidak ingin membuat para Jenderal yang mengawalnya lelah. Ia tahu tugas mereka berat. Ia pun segera masuk kamarnya seusai makan malam.
Pagi setelah makan pagi, mereka melanjutkan perjalanan.
Setelah melihat kehidupan rakyat Lasdorf, Baekhyun tidak terkejut melihat kehidupan di Jidoor. Rakyat tampak letih dan lemah. Mereka seperti sudah berhari-hari tidak makan. Hanya mereka yang cerdik yang bisa bertahan dalam situasi seperti ini.
Baekhyun melihat sendiri bagaimana orang kaya di Jidoor menolak membantu rakyat yang lain. Bagi mereka, mengumpulkan uang sepenny adalah sangat sulit. Terlalu berharga uang satu penny untuk diberikan pada orang miskin.
Hari ini mereka kaya, tetapi belum tentu dengan hari esok. Kekayaan di negara ini tidak pernah terjamin. Raja yang serakah itu selalu merebutnya dengan kejam.
Baekhyun ingin menyumbangkan uang yang dimilikinya pada mereka, tetapi ia tidak melakukannya. Baekhyun tahu ia hanya akan menarik perhatian bila ia melakukannya.
Saat ini setiap orang sibuk mencari kekayaan sendiri untuk dapat membayar pajak. Semua tahu tidak membayar pajak berarti melawan Raja. Hukumannya adalah masuk penjara. Bahkan, bisa saja hukuman mati.
Situasi Vandella saat ini benar-benar kacau. Semua saling menekan dan saling bersaing dalam mengumpulkan uang. Tidak ada lagi yang peduli pada sesama mereka.
Baekhyun mendesah panjang.
"Apakah ada yang salah, Paduka?" tanya Hansol cemas.
"Kehidupan rakyat benar-benar parah," jawab Baekhyun, "Semuanya lebih buruk dari bayanganku. Rakyat ini benar-benar membutuhkan raja yang baik."
"Saya menyarankan kita segera kembali ke Perenolde secepatnya, Paduka."
"Bila engkau bermaksud mengatakan semakin cepat aku mengambil alih pemerintahan semakin baik, Wonwoo," kata Baekhyun, "Aku sependapat denganmu."
Walaupun Baekhyun telah berkata seperti itu, ia tetap memacu kudanya dengan lambat. Setiap kali memasuki daerah pemukiman, ia berjalan lambat. Tetapi, ia memacu kudanya dengan kencang di jalan antara dua kota.
Keempat Jenderal itu tampak senang mengawal Baekhyun. Gadis itu tidak banyak menuntut seperti layaknya seorang Ratu. Ia lebih banyak mempelajari sekitarnya.
Mereka tiba di Perenolde dua hari lebih cepat dari perhitungan Baekhyun.
Ketika memasuki Perenolde, Baekhyun tidak melihat perbedaankotaini dengan kota-kota lainnya. Tetapi, ketika ia semakin dalam beradadi Perenolde, ia mulai melihat ciri ibukota. Gedung-gedung tinggi berjulang tetapi tidak dapat menyaingi istana megah yang menjulang ke langit.
Sepuluh mil di luar Perenolde, Baekhyun dapat melihat megahnya Istana Azzereath. Dan, semakin dekat semakin indah Azzereath.
Sangat disayangkan oleh Baekhyun di sekeliling istana megah ini terdapat kehidupan yang memprihatinkan. Istana ini berdiri angkuh menatap kehidupan di luar dirinya yang penuh penderitaan.
"Tak lama lagi semua akan berubah," Baekhyun meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah melihat sendiri penderitaan rakyatnya, Baekhyun mengubah rencananya. Ia mengerti ia tidak dapat dengan mudah mengalihkan tahta pada orang lain seperti mainan. Ia harus memperbaiki kesalahan ayahnya. Walau ia membenci ayahnya, sebagai keturunannya ia merasa harus mewakili serigala itu meminta maaf.
Pintu gerbang istana yang menjulang tinggi tertutup rapat seperti tidak mau menerima kehadiran orang lain. Dua prajurit berdiri tegak menjaga pintu gerbang.
"Buka pintu!" perintah Jenderal Hansol.
Kedua prajurit itu membuka pintu gerbang dan dengan penuh ingin tahu memperhatikan Baekhyun yang dikawal keempat Jenderal terbaik Vandella.
Baekhyun tersenyum ramah dan berkata, "Terima kasih." Kemudian ia memacu kudanya memasuki halaman Istana yang luas.
Karena kedatangan Baekhyun dua hari lebih cepat dari yang direncanakan, tidak ada pesta penyambutan untuknya. Baekhyun tidak peduli akan hal itu.
Gadis itu menghentikan kudanya di tangga masuk.
Seumur hidup Baekhyun tidak pernah membayangkan akan tinggal di bangunan setinggi dan semegah ini. Istana Azzereath lebih megah dari yang Baekhyun bayangkan tetapi juga lebih dingin dari bayangan Baekhyun.
Baekhyun turun dari kudanya dan menapaki tangga menuju pintu masuk.
"Tahan!" dua prajurit menghadang jalan Baekhyun dengan tombak mereka yang runcing. "Siapa kau? Mau apa masuk ke sini?"
Baekhyun tersenyum. Mereka tidak mengetahui siapa dirinya.
"Apa yang kalian lakukan?" Jenderal Wonwoo memarahi mereka, "Mengapa kalian menghadang jalan Paduka?"
"Mereka tidak mengenaliku, Wonwoo," Baekhyun mengingatkan, "Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Azzereath."
"Tapi mereka tidak berhak menghadang jalan Anda, Paduka."
"Apakah kalian akan mengenaliku kalau aku tiba-tiba muncul tanpa memberitahu kalian siapa aku?"
"Tentu saja tidak, Paduka," jawab Jenderal Jisoo.
"Jadi," kata Baekhyun, "Kalian tidak boleh memarahi mereka."
"Kami mengerti, Paduka," sahut mereka.
"Ijinkan saya memperkenalkan diri pada Anda, Tuan-tuan," kata Baekhyun, "Nama saya Baekhyun. Saya datang dari desa Marshwillow, Roma."
Kedua prajurit itu terkejut mendengar nama 'Baekhyun'. mereka cepat-cepat berlutut dan berkata, "Maafkan kelancangan kami, Paduka. Kami patut dihukum."
"Berdirilah. Jangan mudah mengatakan patut dihukum," Baekhyun menasehati, "Belum tentu setiap kesalahan adalah kesalahan kalian. Seperti kali ini, kalian sama sekali tidak bersalah. Kalian hanya tidak mengenaliku."
"Terima kasih atas kebaikan Anda, Paduka." Mereka pun berdiri.
"Aku menyerah," kata Baekhyun, "Aku tidak tahu bagaimana lagi membuat kalian berhenti bersikap sekaku ini."
"Sejujurnya, Paduka, Andalah yang harus merubah pandangan Anda," kata Jenderal Werner tanpa rasa takut.
Keempat Jenderal itu telah mengenal watak Baekhyun dalam perjalanan pulang ini. Mereka yang terus mengawal Baekhyun tahu Baekhyun tidak mudah marah. Gadis itu mengharapkan orang-orang tidak terlalu memujanya walau ia adalah seorang Ratu.
"Aku?"
"Anda adalah Ratu. Sudah sepantasnya kami menyanjung Anda," jawab Jisoo.
Baekhyun mengeluh panjang dan melangkah masuk.
Tindakan pertama yang dilakukan Baekhyun setelah ia berada di dalam Istana adalah melepas topinya. Baekhyun merapikan rambutnya dengan tangannya.
"Benar-benar istana orang serakah," gumam Baekhyun.
Semua yang ada di dalam Istana bersinar cerah. Semuanya terbuat dari bahan-bahan terbaik. Tak satu pun yang tampak buruk. Semuanya bersinar angkuh.
"Selamat datang, Paduka."
Baekhyun menatap Jongin dengan heran. "Bukankah engkau seharusnya menyusun laporan?"
"Saya telah menyuruh orang lain untuk mengerjakannya selama saya mengatur penyambutan Anda di sini."
"Tetapi sekarang itu tidak perlu lagi," sambung Baekhyun.
"Anda datang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Bagaimana perjalanan Anda, Paduka?"
"Semua lancar. Tidak ada gangguan sedikit pun. Bagaimana dengan perjalananmu?"
"Ketika melewati Lasdorf, kami melihat beberapa orang mengawasi kami tetapi mereka membiarkan kami terus berlalu."
"Tepat seperti harapanku," sahut Baekhyun, "Sekarang kita harus menyelesaikan tugas pertamaku."
"Paduka!"
Baekhyun tidak terkejut melihat Kyungsoo berlari ke arahnya. Wanita tua itu menubruk dan memeluknya. Baekhyun mengrenyit kesakitan merasakan kuatnya pelukan wanita gemuk itu. Ia merasa seperti akan diremukkan Kyungsoo.
"Anda membuat saya cemas. Sudah dua bulan Anda berada di Lasdorf. Saya khawatir mereka mencelakakan Anda."
"Sekarang aku ada di sini, bukan?"
"Ya, tapi Anda terus membuat saya cemas hari-hari terakhir ini. Saya takut setengah mati ketika Tuan Jongin mengatakan Anda kembali dikawal empat Jenderal."
"Jangan terlalu khawatir, Kyungsoo. Aku baik-baik saja. Selama perjalananku, tidak ada yang menggangguku."
"Anda harus beristirahat. Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh ini."
"Tidak, Kyungsoo. Aku harus menyelesaikan sesuatu dulu."
"Sesuatu apa?" Kyungsoo tidak senang dibantah.
"Pengumuman kematian ayahku," jawab Baekhyun dengan tersenyum. Kemudian pada Jongin ia berkata, "Aku melihat kita mempunyai gedung Parlemen tapi aku tak melihat orang-orangnya. Ke mana perginya mereka?"
"Mereka ada tetapi selama Raja Kris berkuasa, mereka tidak berfungsi. Paduka Raja Kris menghentikan semua kegiatan mereka. Paduka menolak semua bantahan terhadap perintah-perintah dan keputusan-keputusannya."
"Aku ingin engkau memanggil mereka kembali, Jongin. Buatkan janjiku dengan mereka untuk besok pada saat makan malam. Aku ingin atas nama Raja Kris. Sebarkan pada para anggota dewan untuk hadir pada acara makan malam di Gedung Parlemen bersama Raja Kris."
"Baik, Paduka."
"Aku menekankan untuk tidak menyebut namaku. Biarlah esok aku yang akan memberitahu mereka apa yang telah terjadi selama ini."
"Apakah itu tidak terlalu berlebihan, Paduka?"
"Tidak, Jongin. Aku tahu ayahku tidak pernah bersedia makan malam dengan bawahannya. Kalau ia tiba-tiba mengatakan akan makan malam dengan anggota dewan di Gedung Parlemen, aku yakin perhatian banyak orang akan terpancing. Akan banyak koran yang mencatat kejadian itu nanti dan aku tidak perlu membuang waktu untuk menyebarkan hal ini di seluruh Vandella."
"Hamba mengerti, Paduka."
"Saya tidak setuju!" bantah Kyungsoo, "Anda baru tiba tetapi sudah akan bekerja. Kapan Anda beristirahat?"
"Hari ini sampai besok malam," jawab Baekhyun.
"Itu tidak cukup! Anda terlalu lelah."
"Tolong jangan membantahku, Kyungsoo. Aku harus segera mengumumkan kabar kematian ayahku. Semakin cepat semakin baik."
"Tapi…"
Baekhyun mengangkat tangannya menghentikan bicara Kyungsoo. "Sebarkan sekarang juga, Jongin."
"Baik, Paduka."
Baekhyun menarik tangan Kyungsoo dan berkata, "Tunjukkan padaku di mana tempat tidurku." Melihat Kyungsoo ingin berkata sesuatu, Baekhyun mendahului, "Apakah engkau tidak ingin melayaniku?"
"Itu adalah hal yang paling saya inginkan di dunia ini."
Baekhyun tersenyum geli dan terus mengikuti langkah pelayan tuanya yang setia sekaligus ibu asuhnya itu.
.
.
.
.
Suasana di Gedung Parlemen ramai.
Di dalam orang-orang sibuk membicarakan kejadian tak terduga ini. Di luar para wartawan bersiap-siap untuk meliput kejadian ini dari awal sampai akhir.
Semua orang ingin tahu mengapa Raja Kris tiba-tiba menyatakan diri setelah sekian lama tak pernah muncul. Apalagi Raja Kris muncul di Gedung Parlemen yang dibencinya dan hendak makan malam dengan orang-orang yang direndahkannya.
Hal luar biasa ini segera tersebar cepat di Perenolde dan memancing keingintahuan warga.
Semua ingin tahu Raja Kris muncul di Parlemen untuk menduga ia datang untuk membubarkan yang menduga ia akan mengumumkan Yoona sebagai pewaris tahtanya.
Banyak anggota dewan yang berdiri di depan Gedung menanti kedatangan Raja Kris. Mereka menanti dengan cemas.
Dari jauh tampak kereta emas mendekat. Kereta itu berhenti tepat di depan pintu.
Prajurit-prajurit pengawal Raja segera turun dari kudanya. Seorang di antara mereka membuka pintu dan seorang lain mengulurkan tangan untuk membantu Raja turun.
Sebuah tangan kecil yang terbungkus kain sutra putih terulur dari dalam. Tangan itu menyambut uluran tangan prajurit itu. Kemudian dari dalam kereta muncul seorang gadis.
Orang-orang berbisik-bisik melihat gadis itu. Semua ingin tahu siapa dia. Semua bertanya-tanya mengapa Raja Kris membawanya. Pertanyaan itu hilang ketika gadis itu berdiri di samping kereta.
Semua yang ada disanamenatap gadis itu dengan penuh ingin tahu. Mereka tidak mengenal gadis itu tetapi mereka mengenali mahkota yang dikenakan gadis itu. Mereka mengenali jubah kebesaran Raja yang dikenakan gadis itu.
Baekhyun tersenyum ramah pada orang di hadapannya lalu melangkah masuk.
Anggota dewan sampai lupa menyambut Baekhyun karena herannya.
Merasakan suasana sekitarnya, Baekhyun tersenyum. Ia telah memutuskan akan mengatakan segalanya di dalam.
"Selamat datang, Paduka," Jongin yang telah lama menanti, menyambut Baekhyun.
"Semua sudah siap?"
"Sesuai perintah Anda, Paduka. Semua anggota dewan telah hadir."
Jongin mengantar Baekhyun ke tempat yang telah disiapkan untuk gadis itu.
"Paduka, apakah Anda akan terus membiarkan mereka kebingungan seperti ini?"
"Tidak, Jongin. Tetapi aku akan membiarkan mereka berpikir dulu."
Jongin menarik kursi untuk Baekhyun.
"Terima kasih, Jongin."
Seperti perkataannya, Baekhyun membiarkan semua orang bertanya-tanya selama makan malam itu. Ia mengajak bicara orang-orang di sekitarnya tetapi tidak menyebut siapa dirinya.
Walau kebingungan, mereka menjawab tiap pertanyaan Baekhyun. Baekhyun tidak menanyakan masalah kerajaan ataupun rakyat Vandella. Ia bertanya tentang kehidupan mereka sendiri, tentang keluarga mereka.
Baekhyun ingin menjalin hubungan baik dengan mereka sebelum ia mengumumkan siapa dirinya.
Sikap Baekhyun menimbulkan suasana aneh di gedung itu. Orang-orang bertanya-tanya siapakah dia dengan penuh ingin tahu, tetapi keramahan Baekhyun membuat mereka ikut terbawa dalam suasana hangat.
Baekhyun berbicara dengan santainya seperti mereka semua adalah temannya. Bahkan, Baekhyun sesekali mengajak mereka bergurau.
Keramahan Baekhyun lambat laun mencairkan suasana keheranan orang-orang itu. Ia membuat mereka melupakan keingintahuan mereka dengan pesonanya.
Jongin tersenyum melihat suasana hangat itu. "Tampaknya Vandella akan mengalami kecerahan," katanya pada dirinya sendiri.
Sebagai keturunan langsung raja yang teramat kejam, keramahan Baekhyun sangat mengejutkan. Sedikit pun tidak nampak bahwa ia adalah putri Raja Kris yang selama ini ditakuti rakyat dan keluarganya sendiri.
Sebagai orang yang dibesarkan di pedesaan pun, Baekhyun tetap mengejutkan. Gadis itu seperti terbiasa dengan kerumunan orang banyak seperti ini. Kalau orang melihatnya yang penuh wibawa seperti ini, takkan ada yang percaya ia dibesarkan di sebuah desa kecil di pinggirankota.
Hingga makan malam usai, Baekhyun tak menyebutkan apa-apa tentang dirinya.
Jongin bergegas bangkit untuk membantu Baekhyun berdiri dan mengantar gadis itu hingga di pintu masuk.
Seorang prajurit telah membuka pintu kereta dan bersiap-siap untuk membantu Baekhyun.
Tiba-tiba Baekhyun berhenti dan berbalik.
"Maafkan saya," katanya menyesal, "Saya lupa memberitahu Anda berita duka yang penting. Raja Kris telah meninggal sepuluh bulan yang lalu dan ia secara diam-diam telah dimakamkan."
Suasana menjadi ramai karena pemberitahuan Baekhyun itu.
"Sebagai wakilnya, saya mewakilinya meminta maaf atas semua yang dilakukannya semasa ia hidup."
"Siapakah Anda, Nona?" seorang pria bertanya pada Baekhyun.
Baekhyun mengenali pria itu. Ia pernah melihatnya di benteng Chanyeol.
"Nama saya Baekhyun, anak kedua sekaligus putri tunggal Paduka Raja Kris dan Paduka Ratu Luhan, Ratu Kerajaan Vandella yang baru," jawab Baekhyun tegas, "Penobatan saya dilaksanakan oleh Uskup Vandella serta disaksikan oleh Jongin dan Kwangsoo sebagai wakil dari seluruh masyarakat Vandella dan luar kerajaan."
Baekhyun merasakan suasana tegang di sekitarnya. Ia tersenyum lembut dan berkata, "Terima kasih atas makan malam yang menyenangkan ini. Saya berharap kita mempunyai kesempatan lagi di lain waktu."
Seorang prajurit membantu Baekhyun naik kereta. Kemudian kereta melaju kembali ke Istana Azzereath yang megah.
Baekhyun tahu ia telah membuat mereka semua terkejut. Ia lega karena telah mengumumkan kabar kematian ayahnya dan menyatakan diri sebagai Ratu.
Kedua orang tuanya hidup terpisah. Setelah mereka meninggal pun, mereka terpisah.
Pagi ini Baekhyun telah mengunjungi makam ayahnya dan Baekboom untuk menunjukkan baktinya pada keluarganya. Baekhyun pergi berdua dengan Kyungsoo dengan dikawal beberapa prajurit.
Tak seorang pun yang memperhatikan mereka saat itu. Tetapi setelah malam ini, Baekhyun akan menjadi pusat perhatian. Baekhyun menyadari hal itu.
Kereta berhenti di depan tangga masuk.
Lagi-lagi seorang pengawal Baekhyun mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu. Dalam sehari ini Baekhyun telah terbiasa dengan hal itu dan ia tidak banyak mengomentarinya.
Baekhyun memasuki Istana yang selalu cemerlang setiap saat.
"Anda sudah datang, Paduka?"
Baekhyun hanya berpaling sebentar lalu kembali menatap lukisan di depannya.
"Siapa yang Anda pandangi, Paduka?"
"Baekboom, Kyungsoo," jawab Baekhyun.
"Pangeran Baekboom sangat tampan. Saya senang terus memandangnya."
"Engkau benar, Kyungsoo. Tetapi ia juga sangat menderita," kata Baekhyun sedih.
"Bagaimana perjamuannya?" Kyungsoo mengalihkan pembicaraan.
"Lancar seperti yang kuharapkan."
"Besok pasti mereka terkejut."
"Tidak perlu menunggu besok untuk membuat setiap orang tahu akan berita besar ini. Aku yakin tengah malam nanti hampir semua orang tahu apa yang telah terjadi."
"Anda terlalu melebih-lebihkan, Paduka."
"Tidak, Kyungsoo. Percayalah padaku." Baekhyun meyakinkan, "Peristiwa ini akan menjadi berita besar di koran."
Baekhyun melanjutkan perjalanannya ke kamar.
Kamar tidur utama yang ditempati Baekhyun sangat megah. Tempat tidurnya luas dan empuk. Langit-langitnya tinggi dengan jendela-jendela yang tinggi dan pintu besar. Permadani merah terhampar di seluruh ruangan itu dan menimbulkan suara bergemerisik tiap kali Baekhyun melangkah.
Sepuluh pelayan telah bersiap-siap di dalam kamar untuk melayani Baekhyun.
Melihat kedatangan Baekhyun, mereka segera mendatangi gadis menyiapkan gaun tidur membantu Baekhyun melepaskan mengambil mahkota dari kepala Baekhyun.
Baekhyun benar-benar seorang Ratu saat ini. Cukup dengan kata-kata, semua keinginannya terkabulkan.
Usai melayani Baekhyun, pelayan-pelayan itu meninggalkan kamar.
Baekhyun memandang langit-langit kamarnya dan membayangkan reaksi rakyat esok. Baekhyun dapat membayangkan wajah-wajah terkejut rakyatnya tetapi ia tidak dapat membayangkan tindakan Chanyeol bila ia mengetahui hal ini.
Chanyeol tidak hanya terkejut tetapi juga murka. Baekhyun telah menipu pria itu dan pria itu paling tidak suka ditipu.
Setelah selama satu bulan lebih tidur sekamar dengan Chanyeol, Baekhyun merasa kesepian di kamar yang besar ini. Ia telah terbiasa dengan ucapan selamat tidur Chanyeol.
Baekhyun menghapus segala kenangan itu dari benaknya. Sekarang bukan saatnya ia memikirkan dirinya sendiri. Banyak yang harus dilakukannya esok hari. Tugas-tugas telah menantinya.
"Tidak buruk," gumam Baekhyun. Gadis itu tersenyum melihat sederet tulisan besar di halaman pertama koran. "Sang Putri telah kembali. Aku suka judul ini."
"Anda telah membuat setiap orang terkejut, Paduka."
"Aku sependapat denganmu, Xiumin. Sayangnya, mereka terlalu menyanjungku. Lihatlah apa yang mereka tulis."
Baekhyun membaca surat kabar keras-keras.
SANG PUTRI TELAH KEMBALI
Putri Baekhyun yang menghilang bertahun-tahun lalu telah kembali. Untuk pertama kali beliau menyatakan diri di Gedung Parlemen setelah sebelumnya membuat para anggota dewan bertanya-tanya. Dalam kesempatan itu pula Putri Baekhyun mengumumkan kematian Raja Kris. Putri juga menyatakan diri sebagai Ratu Vandella yang baru, menggantikan ayahnya.
Warga Vandella berduka cita atas kepergian Raja Kris yang arif. Segenap warga berdoa untuknya. Dalam kesempatan in pula warga mengucapkan selamat pada Putri Baekhyun atas penobatan dirinya. Semoga Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun dianugerahi umur panjang untuk memerintah negeri ini.
Ratu Baekhyun yang tampil dengan pesonanya, memikat setiap anggota dewan dan semua orang yang ada di Gedung Parlemen. Dengan keanggunan dan wibawanya, Ratu membuat semua orang mengaguminya.
Suasana hangat yang tercipta di Gedung Parlemen menunjukkan keramahan Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun. Ratu cantik yang memikat ini tampaknya akan membawa rakyat Vandella pada kemakmuran.
Dengan pendidikan yang diperolehnya di kota suci Vatikan, Ratu akan membawa rakyat pada kehidupan yang lebih baik. Kepandaian Ratu Baekhyun tidak diragukan lagi.
Sangat disayangkan Paduka Ratu Luhan, ibunda Ratu Baekhyun, telah meninggal dunia dikotasuci Vatikan. Ratu yang setia itu telah meninggalkan ktia selama-lamanya. Tetapi, kita yakin Raja dan Ratu akan senantiasa melindungi kerajaan Vandella. Dengan putri mereka yang cantik sebagai Ratu, Vandella akan mengalami masa-masa kejayaan.
Baekhyun tertawa geli. "Tidakkan itu berlebihan, Xiumin? Mereka memuja-mujaku seperti aku adalah dewi."
"Mereka tidak berlebihan, Paduka. Anda cantik seperti yang dikatakan dalam koran."
"Engkau jangan terbawa mereka, Xiumin."
"Saya bersungguh-sungguh, Paduka," Xiumin meyakinkan, "Tak seorangpun di kerajaan ini yang mempunyai mata biru secerah mata Anda ataupun rambut yang bersinar keemasan seperti Anda."
"Sayangnya, Xiumin," Baekhyun menyesali, "Kalian terlalu memujaku. Lihat saja koran ini. Bagiku ini bukan berita tetapi acara penyanjungan. Koran ini sama sekali tidak mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak menyebutkan bagaimana aku membuat tiap orang kebingungan, ketakutan, dan perasaan lain karena sikapku. Mereka terus menyanjungku dan ayahku."
Baekhyun mendesah panjang.
"Kalian benar-benar tidak bebas selama pemerintahan ayahku. Tidak hanya rakyat yang tertindas, tetapi juga koran. Koran yang seharusnya mengatakan yang sebenarnya, jadi tidak berguna. Koran-koran hanya bisa memuat berita-berita palsu dan sanjungan-sanjungan terhadap rajanya. Sebenarnya kalian bersorak atas kematian serigala itu, tapi kalian mengatakan berduka. Kalian was-was terhadapku dan takut aku sama seperti serigala itu, tetapi kalian mengatakan Vandella akan mengalami kejayaan di bawah pemerintahanku."
"Kalian benar-benar takut padaku," Baekhyun berkata dengan sedih. "Kalian memutuskan segalanya dengan cepat hanya untuk menyanjungku dan membuatku gembira. Kalian tidak akan pernah percaya kalau aku membenci serigala itu dari lubuk hatiku yang terdalam."
"Kami percaya, Paduka," kata Xiumin, "Sebelum Anda tiba di sini, Kyungsoo telah bercerita banyak tentang Anda. Ia menceritakan pula bagaimana Anda dengan tegas menolak kembali ke Kerajaan ayah Anda. Anda tidak mau kembali kekuasaan orang yang dibenci Anda sekali pun orang itu telah meninggal. Tetapi, demi kami, rakyat Vandella, Anda bersedia kembali."
Baekhyun tersenyum tetapi matanya bersinar sedih. Gadis itu berjalan ke jendela dan memandang seluruh wilayah kerajaannya yang terhampar di depannya.
"Andaikan kalian semua percaya padaku."
"Kami mempercayai Anda, Paduka."
Baekhyun tiba-tiba berbalik. "Aku tahu, Xiumin. Bila tidak, engkau takkan berani menyanggahku."
Xiumin tersenyum. "Kami tahu Anda tidak sama dengan ayah Anda."
"Serigala itu," gumam Baekhyun, "Ia telah menjadi lembar hitam Kerajaan Vandella."
Tiba-tiba pintu diketuk seseorang.
Xiumin segera membuka pintu.
"Lapor, Paduka," seorang prajurit masuk, "Duke Yunho datang menemui Anda untuk mengucapkan selamat atas pengangkatan diri Anda menjadi Ratu Vandella."
Baekhyun menatap kedua orang di hadapannya dan berkata, "Pagi ini akan menjadi pagi yang melelahkan bagiku."
"Saya akan meminta Duke kembali bila Anda keberatan, Paduka," kata prajurit itu.
"Terima kasih atas kesediaanmu, tapi kurasa aku harus menemuinya katakan padaku di mana ia dan putrinya berada?"
"Bagaimana Anda tahu, Paduka?" pertanyaan itu terlompat begitu saja dari mulut prajurit yang keheranan itu. Saat itu juga ia menyadari kelancangannya, ia cepat-cepat berkata, "Maafkan ke…"
"Putrinya adalah mantan pewaris tahta," jawab Baekhyun, "Tetapi itu kalau aku tidak ada. Mereka tentu datang berdua untuk mendapatkan perhatian dariku."
Baekhyun segera berlalu sebelum prajurit itu melanjutkan kata-katanya yang sengaja dipotong Baekhyun.
Prajurit itu menatap Xiumin dengan bingung.
"Pergilah!" kata Xiumin, "Antar Paduka."
Prajurit itu bergegas menyusul Baekhyun.
"Jangan mudah merasa bersalah hanya karena tidak sengaja bertanya tanpa disuruh," Baekhyun memberi nasehat dengan lembut, "Bertanya bukan hal yang patut dimasukkan dalam daftar kesalahan. Mengerti?"
"Hamba mengerti, Paduka."
Baekhyun tersenyum.
Prajurit segera membukakan pintu Ruang Tamu ketika melihat Baekhyun mendekat.
Dua orang yang duduk di dalam seger berdiri untuk menyambut kedatangan Baekhyun.
"Selamat pagi, Duke Yunho, Lady Yoona. Apa yang membuat datang sepagi ini."
"Kami datang untuk mengucapkan selamat atas pengangkatan diri Anda, Paduka."
"Terima kasih, Duke. Anda bersedia datang sepagi ini hanya untuk mengatakan hal sekecil ini."
"Kami merasa sudah menjadi kewajiban kami untuk mengucapkan selamat pada Anda, Paduka," kata Yoona.
Baekhyun tahu sesungguhnya Yoona merasa enggan untuk menemuinya. Yoona merasa Baekhyun merebut tahtanya.
"Aku merasa tersanjung, Lady Prsicha. Aku juga telah menyesal telah merebut tahtamu."
Yoona terkejut. Ia cepat-cepat berkata, "Anda sama sekali…"
"Tidak, Yoona," potong Baekhyun, "Semua orang tahu engkaulah yang akan naik tahta bila Raja Kris meninggal. Tentu sudah banyak yang kalian korbankan untuk mempersiapkan hal ini."
Duke tertawa. "Anda sangat terbuka, Paduka."
"Aku menyukai kejujuran, Duke. Bagiku kejujuran lebih berharga daripada pujian yang tinggi," Baekhyun menegaskan.
"Tentu, Paduka. Di dunia ini apa yang dapat mengalahkan kejujuran?"
"Tidak ada, Duke. Kita semua mengetahuinya," kata Baekhyun, "Sangat disayangkan kerajaan ini lama terpuruk dalam kepura-puraan."
"Anda terlalu melebihkan, Paduka."
"Aku tidak tahu apa-apa tentang kerajaan ini, tapi aku tidak buta untuk mengetahuinya," Baekhyun mengingatkan dengan lembut.
"Ayah saya benar, Paduka. Anda terlalu melebih-lebihkan."
Baekhyun menatap lekat-lekat kedua orang itu lalu ia tersenyum. "Seharusnya aku menyadarinya dari tadi. Sebagai ayah dan anak kalian sangat mirip, membuatku iri."
Pandangan Baekhyun menembus mata hijau kedua orang itu. Raut wajah mereka tidak terlalu menyenangkan untuk dipandang. Mata mereka bersinar licik dan seperti ingin selalu berpura-pura.
Keduanya terdiam.
"Bagi kalian, aku adalah orang asing di tempat ini. Tetapi, jangan melupakan siapa aku. Aku lahir di sini sebagai keturunan serigala yang kalian takuti itu. Mungkin aku buta tentang kerajaan ini, tapi aku bisa menjadi seperti ayahku. Dalam tubuhku mengalir darahnya, jangan lupa itu."
"Tentu tidak, Paduka," sahut Yoona ketakutan, "Anda tidak buta sama sekali tentang Vandella. Saya yakin Anda akan membawa Vandella pada kejayaannya."
Baekhyun menatap Yoona lekat-lekat. Ia tahu wanita itu lebih tua darinya tetapi tidak lebih tegas darinya. Kalau Baekhyun menjadi Yoona, ia pasti tidak akan ketakutan hanya karena sedikit diperingati gadis yang jauh lebih muda darinya.
Pintu diketuk seseorang kemudian seorang prajurit muncul.
"Maaf menganggu Anda, Paduka," kata prajurit itu, "Saya hendak melaporkan bahwa para Menteri telah tiba."
"Terima kasih. Tolong katakan pada mereka, aku akan segera datang."
"Baik, Paduka."
"Maafkan saya, Duke Yunho, Lady Yoona. Saya tidak bisa menemani Anda lebih lama lagi."
"Kami mengerti, Paduka. Lagipula kami juga hendak pamit."
"Saya berharap kita mempunyai kesempatan untuk bertemu lagi, Duke."
"Saya juga berharap, Paduka."
Baekhyun tersenyum melihat kepergian mereka lalu ia meninggalkan Ruang Tamu dan bergegas menemui para Menterinya.
Semua menteri telah duduk di meja perundingan. Mereka berbincang-bincang sambil menanti kedatangan Baekhyun. Mereka semua terdiam ketika Baekhyun memasuki Ruang Rapat dan cepat-cepat bangkit.
Baekhyun menuju kursi tingginya di salah satu ujung meja kotak itu.
"Selamat pagi, Tuan-tuan," sapa Baekhyun, "Maafkan keterlambatan saya."
"Selamat pagi, Paduka."
"Silakan duduk," kata Baekhyun, "Kita akan segera memulai rapat pertama kita ini. Sebagai perkenalanku dengan kalian, aku takkan menyebut siapa aku dan bagaimana asal usulku. Aku yakin kalian telah mengetahuinya. Aku hanya akan mengatakan rencana-rencanaku di awal pemerintahanku ini."
"Seperti yang kita ketahui, kehidupan rakyat sangat menderita. Itulah yang pertama-tama akan kita ubah. Aku ingin memajukan kemakmuran rakyat sebelum melangkah lebih jauh. Untuk itu aku ingin membeli bahan-bahan kebutuhan hidup sebanyak-banyaknya untuk dibagikan kepada rakyat. Apakah ada yang tidak setuju?"
"Maafkan kelancangan saya, Paduka. Menurut perhitungan saya, kas kita tidak cukup untuk melakukan itu."
"Tidak, Donghae. Lihatlah Istana ini. Apa yang ada di dalamnya lebih dari cukup untuk meningkatkan kehidupan rakyat."
"Penduduk Vandella sangat banyak, Paduka. Kas kita terus menipis karena kurangnya pajak yang masuk. Bila ditambah beban pembelian itu, saya khawatir kas kita akan kosong. Anda harus memperhitungkan hal itu, Paduka," Donghae bersikeras, "Dana kita tidak cukup untuk membeli barang-barang kebutuhan untuk dibagikan pada rakyat. Kita bisa jatuh miskin karenanya."
"Tidak mungkin! Kemarin aku telah menghitung jumlah uang yang kita miliki cukup untuk membiayai hidup rakyat. Bahkan, lebih dari yang kuminta!" ujar Ratu.
"Tapi…"
"Cukup!" potong Baekhyun tajam, "Jangan mencoba membantahku! Aku tahu ayahku tidak mungkin menghamburkan uangnya. Ia lebih suka menimbun kekayaan daripada berfoya-foya."
"Daulat, Paduka," Menteri Keuangan itu membela pendapatnya.
"Penjaga!" Ratu cantik itu sudah tidak menahan diri, "Jaga dia! Tanpa ijin dariku, ia tidak boleh meninggalkan istana ini!"
"Baik, Paduka." Dua prajurit yang berjaga-jaga di dalam Ruang Rapat segera memegang erat-erat tangan Donghae. Donghae berusaha melawan. Kedua prajurit itu terpaksa memunting tangan Donghae ke belakang punggungnya.
"Jangan karena aku tidak dibesarkan di sini, engkau menyangka aku tidak tahu apa-apa tentang ayahku. Ayahku orang yang kikir," Ratu mengingatkan. Lalu dengan lembut ia berkata, "Siapkan kamar. Donghae akan menginap di sini untuk waktu yang lama."
"Baik, Paduka."
Donghae memucat ketakutan.
"Anda tidak boleh melakukan itu, Paduka."
"Simpan pendapatmu itu, Jongin. Sekarang lebih baik engkau mengumpulkan semua ahli keuangan di kerajaan ini."
Jongin memandang heran, namun ia tetap berkata, "Baik, Paduka."
"Aku berharap sebelum dua minggu mendatang semua telah berkumpul di sini."
"Baik, Paduka."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
