Senin, 23 November 2015
BRAK
"Mana Hinata?"
Semuanya bungkam. Mata mereka saling melirik satu sama lain. Beberapa pura-pura tidak mendengar, dan yang lainnya takut untuk membuka mulut.
"Aku tanya," Gaara menajamkan matanya dan keningnya semakin mengkerut, "mana Hinata?!"
"D-dia—tadi aku melihatnya pergi ke halaman belakang dengan K-Kiba dan Shino," Karin, sepupu Naruto, menjawab dengan suara bergetar.
"Oh? Kiba? Shino?"
Karin mengangguk.
"Sudah saatnya mengamuk."
Dengan kesal, Gaara membanting pintu kelas dan berjalan tergesa-gesa menuju halaman belakang sekolah. Ia tidak memedulikan murid-murid yang ia tabrak, bukan, lebih tepatnya murid-murid tersebut tidak memedulikan diri mereka yang ditabrak.
Gaara mempercepat langkah kakinya. Pikirannya kalut, matanya berkilat cemburu.
Di belakangnya, Sasuke dan Naruto mengejar. Jika Gaara berkata ia akan mengamuk, ia benar-benar akan mengamuk, dan hanya akan berhenti jika lawannya sudah tidak bernyawa.
Mungkin benar apa kata Neji, Gaara itu psikopat.
"Gaara!" seru Kiba dengan senyum cerah di wajahnya, tidak menyadari hidupnya di ambang kematian.
Setelah sampai di hadapan Kiba—yang masih tersenyum cerah—Gaara segera menarik kerah seragam Kiba dan menatapnya tajam. Senyum Kiba secara perlahan menghilang, digantikan dengan raut bingung di wajahnya.
"Apa aku membuat kesalahan?"
"Kesalahan? Kau bertanya tentang kesalahan?!"
Kiba mengangguk. Emang dia nanya apa lagi?
Jujur, setahu Kiba dia tidak pernah melakukan suatu kesalahan pada Gaara, karena itu sama saja mengundang maut.
Di belakang Shino, yang berdiri di belakang Kiba, berdiri Hinata yang sedang ketakutan menatap adegan di hadapannya.
"Kau mencuri milikku!"
Kiba mengangkat salah satu alisnya, membuat Gaara semakin marah karena ia tidak punya alis. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik."
Gaara menyeringai psikopat. "Tidak ada yang baik-baik saat aku mengamuk."
Selesai mengucapkan kalimat itu, Gaara mencoba untuk meninju rahang kiri Kiba, tapi seseorang menahan tangannya.
"Berhenti, Gaara."
Gaara menoleh.
"Tach?!"
"Apa yang kau lakukan di sini?!" Sasuke bertanya dengan nada frustasi, tangannya menjambak rambut ravennya.
"Aku guru magang di sini," Tach menjawab, "mulai sekarang." Matanya dan mata Gaara saling beradu. Keduanya saling menatap tajam, tidak ada yang mau mengalah.
"Bukan berarti aku tunduk padamu. Sekarang lepaskan tanganku!"
"Tidak biasanya kau lepas kendali. Segitiga itu benar, kita bisa membicarakan ini baik-baik."
"Segitiga?"
"Tidak ada yang baik-baik sekarang."
"G-Gaara-kun..."
Amarah Gaara lenyap seketika saat ia mendengar suara lembut—yang hampir menyerupai suara ibunya—memanggil namanya. Ia menoleh ke arah Hinata yang sedang berdiri di sampingnya, takut-takut. "Ya, sayang?"
Naruto sweatdrop.
"Um..."
Gaara melepaskan tangannya secara paksa dari Tach dan melepaskan cengkramannya pada kerah seragam Kiba. Ia menghadap Hinata sepenuhnya. "Ada apa?"
BRUK
Naruto pingsan, tidak tahan melihat adegan 'Gaara jinak' di hadapannya.
Mata Hinata berkedip-kedip menatap Naruto yang pingsan. Raut bingung terpancar jelas di wajah manisnya.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik dagunya, memaksanya berpaling dari pemandangan nista itu, membuatnya menatap mata jade si rambut merah yang masih sabar menunggu jawabannya.
"K-kenapa... kau marah?" Hinata bertanya lambat-lambat dengan suara bergetar. Ia takut pertanyaannya akan memancing kembali amarah Gaara.
"Saskeh! Berhenti menendang Naruto atau aku akan menghukummu!"
"Astaga, Shino! Tarantula!"
Suara-suara di sekitar mereka diabaikan Gaara. Ia menghela napas saat menatap mata Hinata yang sedikit berair. Mungkin takut Kiba akan dibunuh Gaara.
"Aku tidak marah lagi," kata Gaara. Ia menangkup kedua pipi Hinata dan menatapnya lembut.
Hinata terpukau.
Angin yang berembus pelan menambah kesan dramatis antara Gaara dan Hinata.
"Asalkan kau tidak jauh dariku, aku tidak akan lepas kendali lagi," tambahnya. Ibu jarinya mengusap-usap pipi Hinata yang sedikit merona.
Hinata menelan ludahnya dengan susah payah. "A-aku..." Tangannya terangkat naik di kedua sisi Gaara, lalu ia berjalan mendekat. "... tidak akan pernah jauh darimu lagi."
Hinata mengucapkannya tanpa gagap. Dan yang Hinata tahu selanjutya, ia mendekap tubuh Gaara, erat, seakan tidak mau terpisah lagi darinya.
Gaara terdiam.
Tidak lama kemudian, ia tersenyum lembut, dan balas mendekap Hinata. Dekapannya lebih erat dari Hinata. Bahkan ia melupakan fakta dada Hinata yang sedang menempel erat padanya.
Yang sekarang ini ia rasakan hanyalah kehangatan.
Dan ia ingin terus merasakan kehangatan itu. Yang hanya datang dari Hinata seorang.
Tepat pukul 11.23 siang, Gaara memutuskan bahwa ia jatuh cinta pada Hinata Hyuga. Gadis yang sekarang berstatus sebagai tunangannya. Gadis yang sedang berada dalam dekapannya. Gadis yang-
"Jika kalian masih ingin melanjutkan, silakan pergi ke ruang UKS. Ku dengar Shishine pergi."
Suara Tach menyadarkan Hinata yang segera melepaskan pelukannya. Wajahnya merah padam, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merutuki kebodohannya.
Gaara menghadiahi Tach tatapan tajam.
"Shizune," Kiba membenarkan.
"Shizune," ulang Tach, tidak memedulikan tatapan tajam dari Gaara. "Ku dengar dia pergi lama. Aku akan memberi kalian izin."
"Mereka masih di bawah umur," kata Sasuke. Tangannya sibuk memukul-mukul wajah Naruto—yang masih pingsan—dengan sepatu miliknya.
"Kalau cemburu bilang," Tach menatap Sasuke, kesal.
Gaara tidak peduli lagi pada perselisihan kakak beradik itu. Ia bahkan tidak peduli pada Naruto yang masih pingsan atau Shino yang sedang berusaha menangkap tarantula bersama Kiba.
Kini perhatiannya kembali fokus pada Hinata.
"Ayo ke kelas," ajaknya pada Hinata yang masih menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya.
Hinata mengintip dari sela-sela jarinya. Ia dapat melihat Gaara yang sedang menatapnya lembut. Hinata mengangguk, mengiyakan ajakan Gaara, lalu menurunkan kedua tangannya.
"Begitu lebih baik," kata Gaara, lalu menggandeng tangan Hinata menuju gedung sekolah.
Naruto bangun, tapi dengan segera kembali pingsan saat melihat Gaara, yang sedang merangkul Hinata, berjalan menjauh.
"Tinggalkan saja dia di situ, sebentar lagi masuk. Aku harus mengajar dan kau tidak boleh membolos," Tach berkata seraya mengencangkan ikatan rambutnya.
Sasuke berdiri setelah memakai kembali sepatunya. "Kau benar-benar magang di sini? Untuk apa? Bagaimana dengan Akatsuki?"
"Akatsuki untuk sementara ku serahkan pada Deidey, sementara tujuanku magang di sini hanya untuk mengisi waktu luangku," Tach menjawab dengan santai. Ia berjalan meninggalkan Sasuke yang masih diam di tempatnya, tidak mau dekat dengan Tach.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menoleh ke arah Sasuke. "By the way, aku mengambil mata pelajaran Bahasa Inggris—tentu saja—dan itu adalah jadwal pelajaranmu selanjutnya. Aku tidak menoleransi keterlambatan, bahkan jika kau adikku. I donut care," katanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Sasuke menatap Tach dengan pandangan muak. Ia menendang paha atas Naruto untuk melampiaskan kekesalannya. Bel masuk berbunyi membuatnya mau tak mau menyusul kakaknya masuk ke gedung sekolah.
Meninggalkan Naruto.
Di tengah-tengah halaman belakang sekolah dengan muka yang kotor penuh jejak sepatu milik Sasuke.
"Shino, di sana!"
"Sebaiknya kau tidak membunuh yang ini, Kiba."
Well, setidaknya dia tidak sendiri.
.
Gaara memarkirkan mobilnya di basement gedung Perusahaan Hyuga. Di kursi penumpang, ada Hinata yang sedang sibuk dengan makanannya; bertanya-tanya siapa yang memasukkan mentimun di kotak makan siangnya, menggumamkan ketidak-sukaannya pada mentimun, tapi tetap memakannnya.
Gaara terkekeh melihat tingkah Hinata. "Sudah selesai?"
Hinata menoleh ke arah Gaara, kemudian sadar mereka sudah ada di basement gedung perusahaan ayahnya. "Aku bisa lanjutkan nanti," Hinata menjawab sembari merapikan kotak makan siangnya.
Hyuga dan Sabaku seharusnya sudah bekerja sama sejak dulu. Namun, karena keduanya merupakan produk rambut yang terbaik, sulit bagi kedua belah pihak untuk menjalin kerja sama. Ditambah dengan kesombongan dan ego kedua Direktur, semuanya semakin sulit.
Hyuga merupakan perusahaan penghasil produk shampo terbaik sepanjang masa. Terbukti dari rambut para Hyuga yang terawat sampai ujungnya. Bercabang, ketombe, kusut, kering, kasar, tidak pernah ada dalam kamus Hyuga.
Sabaku merupakan penghasil produk pewarna rambut terbaik; tidak membuat rambut rusak dan selalu memberikan warna berkilau. Hal itu juga terbukti dari anggota-anggota keluarga Sabaku yang semuanya mewarnai rambut. Tidak termasuk Gaara yang merah alami, entah mengapa. Katashi sempat menuduh Karura berselingkuh, namun melihat sifat Gaara yang sangat mirip dengannya dan wajah yang seperti kopian dirinya (versi psikopat), Katashi akhirnya menerima kenyataan bahwa Gaara adalah anaknya.
Hinata sudah akan membuka pintu ketika tiba-tiba pintu terkunci.
Ia menoleh dan menatap Gaara, bingung.
"Kemarilah," kata Gaara sambil menepuk-nepuk kedua pahanya.
Wajah Hinata memerah. "U-untuk a-apa?"
Tuh, kan. Gagapnya kambuh lagi.
"Kita akan melakukan sesuatu," jawab Gaara, masih sabar menunggu Hinata.
"T-tapi bukankahTou-san mengatakan kita harus datang setelah pulang sekolah? Itu berarti sekarang kita tidak boleh terlambat. N-nanti-"
"Aku sudah bilang pada Tou-san kita akan datang jam tiga. Tadi mereka bilang klub basket dipindahkan hari ini, tapi tidak jadi. Jadi kalau kita datang sekarang, aku akan dicurigai berbohong dan aku tidak suka itu."
Gaara Sabaku; salah satu spesies manusia bergender laki-laki yang tidak mau dikatakan berbohong saat sedang berbohong.
Hinata menunduk, berpura-pura lupa apa yang tadi Gaara minta ia lakukan. Tangannya saling meremas, khawatir Gaara akan mengi-
"Cepatlah kemari."
Damn.
Hinata mengangkat kepalanya. Ia dapat melihat Gaara yang masih setia menunggunya. "A-aku haru-"
Kalimat Hinata terpotong saat Gaara, dengan tidak sabaran, mengangkatnya dan meletakkannya di pangkuannya. Kaki Hinata memanjang dari tempatnya duduk, di pangkuan Gaara, ke jok penumpang. Roknya yang sedikit tersingkap memperlihatkan paha mulusnya.
Wajah Hinata berubah warna dalam sekejab. Matanya menatap sekeliling basement, khawatir ada orang yang dikenalnya lewat dan melihat keadaannya saat ini.
Sepertinya Hinata tidak tahu mobil ini tidak tembus pandang. Atau itu hanya alasan untuk mengalihkan pikirannya dari kenyataan dia berada di pangkuan Gaara.
"Bukan begini," komentar Gaara setelah melihat posisi Hinata.
Hinata, dengan wajah merah padam, menatapnya bingung.
Dengan gerakan secepat kilat, tangan Gaara sudah berada di dalam rok sekolah Hinata, dan menarik keluar celana dalam berwarna toska yang dikenakan Hinata.
"Gaara-kun!" pekik Hinata saat akhirnya sadar akan situasinya saat ini. Ia mencoba menghentikan gerakan Gaara, namun terlambat. Celana dalam miliknya sudah dilepas dan dilempar ke jok belakang oleh Gaara.
"G-Gaara-"
Mata Hinata membulat saat Gaara mengangkat kaki kirinya, sehingga tubuh Hinata yang tadi menyamping, otomatis berputar menghadap Gaara, dengan kedua kaki yang Gaara letakkan di kedua sisi jok pengemudi, membuat Hinata dalam posisi mengangkang menghadap ke arahnya. Proses perubahan posisi tadi sempat mengekspos milikHinata dan membuat Gaara sedikit tegang.
Hinata memekik saat Gaara menariknya mendekat, sehingga membuat rok sekolahnya tersingkap sampai ke atas paha. Gaara menempelkan keningnya di kening Hinata, menikmati perubahan warna pada wajah Hinata. Ia menatap bibir merah ranum milik Hinata dan tanpa sadar menjilat bibir atasnya sendiri.
Hinata tidak tahan dengan tatapan Gaara yang begitu intens padanya. Ia mencoba untuk menurunkan kepalanya, ingin menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Gaara. Namun Gaara menahan kepalanya agar tetap menghadap ke arahnya.
Hinata memejamkan matanya rapat-rapat. Di bawah sana, ia dapat merasakan milik Gaara yang sudah setegah mengeras, tepat di selangkangannya yang tidak tertutupi apapun. "G-Gaara-kun..."
Gaara menyibakkan rambut Hinata ke belakang, menyangkutkannya di belakang telinganya yang putih bersih, lalu kembali menatap Hinata. "Hm?"
"M-mau a-a-a-pa?" Oke, sekarang gagapnya bertambah parah.
Gaara kembali fokus pada mata Hinata, "Mau apa, hm?" Hinata mengangguk pelan. "Kau pernah berciuman?"
Hinata membelalak. Ia menggeleng cepat. "Kalau begitu, aku akan membuat first kiss-mu menjadi first kiss terbaik yang pernah kau alami," Gaara tersenyum kecil,"yang artinya bukan di sini," tambahnya, lalu mulai merayapkan kedua tangannya di paha mulus Hinata, mengusap-usapnya naik turun, membuat Hinata merinding.
"Di sini, kita akan melakukan sesuatu yang lebih keren. Kau-"
"B-bagaimana kalau ada yang m-melihat?" Hinata berusaha menghentikan aksi Gaara. Jantungnya berdegup kencang. Bulu-bulu halusnya berdiri, merinding, merasa aneh pada sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
Mengerutkan kening, Gaara melihat sekeliling basement yang sepi. "Kurasa kau benar."
Hinata mengembuskan napas, lega, berpikir bahwa apapun yang akan dilakukan Gaara berakhir di sini. Tapi, seketika rasa leganya tergantikan dengan perasaan takut, cemas, dan waspada saat melihat semua jendela mobil Gaara menjadi sangat gelap dan menghalang pandangan Hinata akan dunia luar.
Ia menatap Gaara yang sedang menyeringai dengan mata membulat. "Kenapa? Dengan begini tidak ada yang bisa melihat kita," kata Gaara lalu mengedipkan sebelah matanya dengan nakal pada Hinata.
"T-tapi-"
"Terima saja, Hinata," kata Gaara. "Lagian aku tidak akan memerawanimu di sini. Sekarang, kita hanya akan bersenang-senang."
Tepat setelah itu, Gaara mencumbu lehernya, memberikan tanda kepemilikan di sekitar bahunya, lalu meluncur turun menuju belahan dadanya.
"G-Gaara... J-jangan..." rintih Hinata saat kedua tangan Gaara sudah beralih membuka kancing bajunya.
"Jangan?" Gaara mengangkat kepalanya. "Aku hanya ingin melihatnya tanpa penghalang."
"Kau sudah sering melihatnya," kata Hinata membela diri. Tangannya mencengkram seragam milik Gaara hingga kusut.
"Belum puas," Gaara berujar manja. Ia mengeluarkan kedua payudara Hinata dari bra-nya lalu menatapnya takjub. "Kau lebih cantik tanpa pakaian," godanya.
"Ugh..." Hinata menunduk malu, kemudian menyembunyikan wajahnya di lipatan leher Gaara. Ia dapat mencium wangi mentimun dari sabun Gaara di lehernya.
Gaara terkekeh. "Hei, kita bermain di bawah, bukan di atas."
Hinata membelalak lalu segera mengangkat kepalanya. "A-aku tidak mau."
Gaara menangkup kedua payudara Hinata lalu memerasnya pelan. "Permainannya begini, apapun yang kau lakukan nanti, jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, itu salahmu."
"Hah?" Hinata memiringkan kepalanya, tanda bingung, membuat Gaara menjadi gemas dan memperkuat remasannya, menimbulkan suara pekikan kecil dari Hinata.
Gaara mendekatkan wajahnya di telinga Hinata lalu berbisik, "Kita mulai, oke?"
Tanpa aba-aba, tangan Gaara yang sebelumnya berada di dada Hinata, kini berpindah di selangkangan Hinata yang terekspos, mengelus gundukan kecil pusat rangsangan wanita, lalu menekannya perlahan.
"Akh-" Hinata memekik. Badannya melengkung ke belakang, sehingga menimbulkan bunyi 'PIP' keras saat badannya membentur stir dan membunyikan klakson.
"Ssshh... tenang," Gaara berujar pelan. Ia menggapai kembali tubuh Hinata agar menempel padanya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih bermain dengan klitoris Hinata.
Hinata menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan, keningnya kembali bersentuhan dengan milik Gaara, matanya tertutup rapat, tangannya sibuk meremas-remas seragam Gaara yang sudah kusut, sedangkan badannya menggeliat tak karuan dalam dekapan Gaara.
"Hinata, tatap aku." Gaara semakin memainkan klitoris Hinata, membuat gerakan Hinata semakin liar.
"S-sudah-" Hinata meringis, berharap siksaan seksual yang diberikan padanya oleh Gaara akan segera berakhir.
Menyeringai, Gaara menekan-nekan klitoris Hinata dengan kuat. "Tidak sampai kau menatapku."
Hinata memperkuat remasannya pada baju Gaara, sehingga Gaara khawatir seragamnya akan sobek sewaktu-waktu.
Tidakapa,initandakepemilikanHinatauntukku,pikir Gaara sambil melebarkan seringainya.
Hinata membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya sedikit kabur karena terlalu lama dipaksa terpejam. Di bawah sana, Gaara sudah mulai menghentikan gerakan tangannya. Ia kini menatap Hinata yang juga—berusaha—menatapnya.
"Suka?" Hinata menggeleng. Terkekeh, Gaara kembali berujar, "Tubuhmu berkata lain. Lihat, putingmu mengeras," katanya, laku menyentil puting kanan Hinata dengan pelan.
"S-sudah..."
Gaara tersenyum licik. Ia mengangkat tangan Hinata ke atas, lalu mengikatnya dengan dasi miliknya, yang entah sejak kapan telah ia tanggalkan. Selesai mengikat kedua tangan Hinata, ia mengikat sisa dasi tersebut ke pegangan tangan mobil.
"Selesai!" seru Gaara senang.
"G-Gaara-"
"Sssh," Gaara menutup mulut Hinata, menghentikan perkataannya. "Dasimu di mana? Tas?" Hinata mengangguk, walau masih bingung akan tindakan Gaara.
Masih menutup mulut Hinata dengan tangan kanan, tangan kiri Gaara sibuk mengobrak-abrik isi tas Hinata. Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Gaara memindahkan tangan kanannya dari mulut Hinata, dan segera menempatkan dasi tersebut di antara bibir atas dan bibir bawah Hinata, lalu mengikatnya ke belakang. Hasilnya, mulut Hinata dalam keadaan sedikit terbuka, namun tidak memungkinkan Hinata untuk berbicara.
Tapi Gaara sudah memastikan suara desahan Hinata akan lebih terdengar menggairahkan.
"Nah, ingat yang pernah kukatakan tentang BDSM?" Hinata mengangguk dalam diam. "Salahkan Shino yang memotongku. Sekarang kau akan merasakannya secara langsung."
Hinata menggeliat tak nyaman dengan keadaannya saat ini. Kedua tangannya ia gesek-gesekkan, berharap ikatan Gaara cukup longgar untuk meloloskan kedua pergelangan tangannya. Namun, Gaara juga sudah memastikan ikatannya tidak bisa dilepas siapa pun, kecuali dirinya sendiri.
Gaara mendorong tubuh Hinata menjauh dari selangkangannya. Ia membuka resleting celananya, kemudian menurunkan celana dalam hitamnya, memperlihatkan—memamerkan kejantanannya, yang sudah tegang dari tadi pada Hinata.
Hinata membulatkan matanya menatap ukuran milik Gaara yang di atas normal. Juga, ini pertama kalinya ia melihat sesuatu yang bernama penis.
Gaara menyeringai melihat Hinata yang menatap miliknya dengan mata yang terbuka lebar. Ia mengangkat rok Hinata sampai di bawah dadanya, sehingga lebih mengekspos kewanitaan Hinata yang sudah basah.
"Engh..." Hinata mendesah, merasakan ibu jari Gaara yang kembali membelai klitorisnya. Hinata mencengkeram erat dasi Gaara yang mengikat tangannya. Badannya melengkung, kepalanya menengadah tiap kali Gaara menekan titik sensitifnya.
Gaara menikmati pergerakan Hinata. Respon Hinata terhadap sentuhannya sangat menggairahkan bagi Gaara. Mulai dari perubahan warna wajah Hinata, gerak-geriknya, kedua payudaranya yang ikut bergoyang mengikuti pergerakan Hinata, serta desahan-desahan tertahan yang dikeluarkan Hinata.
Hidangan pembuka yang dilakukan Gaara akan berhenti setelah Hinata mencapai orgasme pertamanya, yang—sepertinya—tidak lama lagi datang, lalu dilanjutkan dengan hidangan utama, yang merupakan tujuan Gaara sebenarnya. Gaara masih memikirkan mengenai hidangan penutup apa yang akan diberikan pada Hinata, saat Hinata berteriak keras, menyambut orgasme pertamanya.
Napasnya terputus-putus, badannya kehilangan tenaga dan ia sangat ingin dilepaskan dari tali yang mengikat tangannya agar ia dapat bersandar pada Gaara untuk mengisi ulang tenaganya.
Gaara meletakkan jari telunjuknya di belahan vagina Hinata; menggerakkannya dengan gerakan sensual yang menggoda, membuat Hinata menggeliat tak nyaman. Gaara menarik jarinya, menatap cairan cinta milik Hinata yang melengket di jarinya, lalu memasukkan jarinya ke dalam mulut.
"Um," Gaara menggumam saat merasakan cairan Hinata dalam mulutnya. Lidahnya bergerak membersihkan jarinya dari cairan Hinata. "Kau manis."
Hinata menatap Gaara dengan sayu. Ia tahu Gaara belum selesai.
"Sekarang hidangan utamanya."
Tuh 'kan.
Tanpa diduga Hinata, Gaara melepaskan kedua ikatannya. Hinata, yang memang merasa lelah, langsung menumpukan badannya di atas Gaara. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Gaara yang masih terbalut seragam sekolah.
Well, sebenarnya yang terbuka dari Gaara hanyalah bagian resleting. Selebihnya, Gaara masih memakai pakaiannya secara utuh, sedangkan Hinata terlihat kacau tapi seksi di saat yang bersamaan dengan pakaian yang berantakan; memperlihatkan dada dan kewanitaannya.
Hidup memang tidak adil.
"Jangan tidur, Hinata," kata Gaara sambil berusaha mengangkat kepala Hinata, yang melekat erat dengan dadanya.
Hinata menggeleng sambil memejamkan mata. Gaara tidak tahu itu jawaban untuk Hinata tidak tidur atau Hinata tidak mau lagi.
Gaara memilih Hinata belum puas yang bahkan tidak ada di pilihan.
Mungkin Hinata seorang masochist.
Dibekali pemikiran dangkal tersebut, Gaara mengangkat kepala Hinata dengan kasar lalu menempelkan kening mereka berdua. Matanya menatap tajam mata Hinata yang sayu karena lelah. Tapi, Gaara menganggap itu tatapan meminta untuk dipuaskan.
"Sudah siap?" tanya Gaara. Lidahnya menjulur dan menjilat hidung mancung Hinata. "Angkat badanmu," perintahnya.
Dengan susah payah, Hinata mengangkat badannya. Tingginya diatur Gaara, sehingga cukup menyulitkan Hinata yang posisi duduknya tidak menguntungkan. Tangannya yang menahan berat badannya diletakkan di bahu Gaara.
Dengan tangan kiri, Gaara memegang pinggul Hinata, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memposisikan kejantanannya di belahan vagina Hinata.
"Gaa-"
"Ingat peraturannya? Apapun yang terjadi nanti, itu semua salahmu."
"T-tapi-"
"Aku tidak akan memerawanimu, sudah kubilang tadi."
Gaara memulai permainannya. Ujung kejantanannya ia gesek-gesekkan dari belahan Hinata ke klitorisnya. Di situ, ia menekan-nekan klitoris Hinata dengan kasar, menggerakkan pinggulnya, seolah-olah sedang melakukan hubungan intim dengan Hinata.
Hinata melenguh namun segera ia tahan dengan cara menggigit bibir bawahnya. Kakinya mulai gemetar, tangannya sudah berpindah ke belakang leher Gaara; memeluknya, meremas rambut merahnya, dan menjadikannya penyangga berat badannya.
Gaara terus menggerakkan tubuhnya. Tarikan kasar di rambutnya tidak ia acuhkan. Ia fokus menganalisa, agar saat Hinata akan mencapai klimaks keduanya, ia bisa berhenti tepat waktu.
Hinata mencoba menurunkan kepalanya, tapi selalu ditahan oleh Gaara. Kening mereka tetap menempel. Tubuh Hinata sudah bersimbah keringat dan ia merasa pegal pada kakinya. Tapi setiap kali tubuhnya akan jatuh, Gaara selalu memposisikan kejantanannya tepat di belahannya.
Dan akhirnya Hinata mengerti maksud perkataan Gaara: Apapun yang terjadi nanti, itu semua salahmu.
Jika Hinata tidak bisa menahan berat badannya lagi, keperawanannya akan diambil oleh Gaara dengan cara yang licik. Tubuhnya bergetar hebat, Hinata tahu perasaan ini. Ia tahu sebentar lagi ia akan datang. Sedikit lagi.
Sedikit lagi...
Lalu semuanya hilang.
Hinata membuka matanya dengan cepat dan mendapati Gaara yang sedang menyeringai melihat reaksinya.
"Sampai di sini saja," kata Gaara. Ia kembali menidurkan miliknya agar Hinata dapat duduk di pangkuannya.
Hinata masih diam, menatap Gaara dengan pandangan tak percaya. Perasaan ini, perasaan tertahan yang ia rasakan saat ini, sangat menyiksa. Ia ingin meminta untuk diselesaikan, terutama saat merasakan penis Gaara yang hangat di belahan kewanitaannya. Tapi ia tahu Gaara akan bertindak lebih jauh jika ia memintanya. Ia tahu itu.
Melihat dilema yang terpancar jelas di mata Hinata yang sedang melamun, Gaara tersenyum kecil. Dia menikmatinya ternyata.
Gaara mendekap Hinata, menaruh kepala Hinata di lipatan lehernya, lalu mengusap lembut punggung Hinata agar ia bisa rileks. "Kita lanjutkan kapan-kapan," bisiknya pelan.
Hinata menggumam, mengeluh karena Gaara memberikannya perasaan tak nyaman di bawah sana, membuat Gaara tertawa kecil. Tangannya ia lingkarkan di leher Gaara, balas mendekapnya.
"Jangan tidur, Nata," Gaara memilih menggunakan nama panggilan Kiba untuk Hinata, "kita masih mau ketemu dengan Tou-san."
Hinata mengangkat kepalanya dan menatap Gaara dengan mata sipit. Rambutnya sedikit berantakan, beberapa helai melengket di kulitnya yang mulus karena keringat. Bibirnya dikerucutkan, cemberut. "Dia Tou-san-ku," ujarnya dengan nada merajuk.
Gaara terkekeh lalu mengecup kening Hinata.
Tidak ada anak perempuan yang ingin dipisahkan dari ayahnya. Sudah hukumnya, anak perempuan akan lebih dekat dengan sosok sang ayah, sedangkan anak laki-laki akan lebih dekat dengan sosok sang ibu. Dan Gaara-pun, yang merupakan anak bungsu, tidak mau bila ibunya diambil orang lain atau ibunya dipanggil 'ibu' oleh orang lain. Terutama Kankuro. Gaara tidak suka Kankuro.
"Ternyata kau juga bisa merajuk," goda Gaara.
Wajah Hinata merona, menyadari sifat tersembunyinya keluar tanpa sadar.
"A-ano..."
"Hm?" Gaara menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Hinata. Wangi sabun Hinata bercampur keringat tertangkap oleh indra penciumannya.
"Kapan kita turun?"
"Setengah jam lagi." Hembusan napasnya saat berbicara menggelitik leher Hinata.
Mereka diam dalam posisi itu. Keheningan yang menemani mereka tidak terasa canggung, melainkan menenangkan. Hinata membelai surai merah Gaara selama Gaara sibuk menikmati wangi di lehernya. Warnanya yang sedikit nyentrik membuat Hinata bertanya-tanya apakah itu asli atau bukan, mengingat Sabaku merupakan penghasil produk pewarna rambut terbaik.
"Gaara-kun," panggil Hinata.
"Hm?"
"Rambutmu asli?"
"Aku tidak suka wig."
Misunderstanding.
"Bukan, warnanya."
Gaara mengangkat kepalanya. Keningnya berkerut. Ia berpikir.
Dalam keadaan sedekat ini, Hinata menyadari sesuatu.
Alis Gaara mana?
"Ya, sepertinya."
Giliran Hinata yang mengerutkan keningnya. "Kenapa begitu?"
Gaara mengendikkan bahu. "Aku juga tidak tahu, mengingat keluargaku penghasil produk pewarna rambut terbaik," Hinata manggut-manggut setuju, "juga, ketidakberadaan alisku membuatku sedikit ragu warna rambutku memang asli atau tidak."
Hinata diam menatap Gaara yang juga balas menatapnya.
Hening sesaat.
Gaara menghela napas. "Aku juga tidak tahu, Nata, dari kecil alisku memang tidak ada."
Hinata masih menunggu.
"Aku lahir prematur," tambahnya.
Hinata ber'oh' tanpa suara sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lalu apa Saso-nii juga asli?"
"Tidak tahu, dia lahir lebih dulu dariku," Gaara menjawab dengan cuek. "Hari ini kau cukup cerewet," ujarnya lagi.
Hinata kembali merona. Pada dasarnya dia memang sedikit cerewet jika bersama dengan orang yang dekat dengannya. Ia tidak menyangka dirinya yang sebelumnya takut pada Gaara bisa bertanya sebanyak ini. "M-maaf."
"Aku suka," Gaara kembali mengecup kening Hinata, lalu kembali menempelkan kening mereka. Jade bertemu amethyst. "Mau menikah tanggal berapa?"
Hinata sedikit merona mendengar pertanyaan Gaara yang terdengar sangat halus dan sedikit ke-suami-an. "D-dua tujuh?" usul Hinata.
"Aku sudah duga kau akan memilih tanggal ulang tahunmu."
Eh?
Tunggu.
Kok Gaara tahu?
"Tahu dari mana?" Tentu saja Hinata akan bertanya.
Gaara gelagapan. Shit.
"E-eto..." Sekarang Gaara gagap? "Um, Kiba yang memberitahuku," kata Gaara sambil menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Dia tidak boleh membiarkan Hinata tahu perihal dokumen berisi data pribadinya di kantor Gaara.
Melihat Gaara yang menggaruk kepalanya, Hinata berencana ingin mempromosikan shampo keluaran terbaru milik perusahaan Hyuga. Shampo ini tidak akan merusak warna rambut—jika rambut sang empunya memang diwarnai—dan dapat memberikan kesan bercahaya, serta membuat rambut lebih kuat dan tidak berketombe.
Tapi kemudian Hinata menepis pemikirannya itu.
Bunyi alaram memecah keheningan di antara mereka.
Sejak kapan Gaara memasang alaram? Sejak memasuki mobil, tentu saja.
"Sudah waktunya turun," kata Gaara lalu membuka pintu.
Tapi Hinata menahannya dengan cepat. "G-Gaara..."
Oh, Gaara lupa dengan keadaan mereka saat ini.
.
"Kalian sudah menetapkan kapan kalian akan menikah?"
Sekarang mereka sudah berada di dalam kantor Hiashi yang bernuansa ungu. Gaara sempat bertanya kenapa warna ruangan Hiashi didominasi warna ungu, bukannya hitam seperti warna bapak-bapak pada umumnya. Hiashi hanya menjawab bahwa warna itu adalah pilihan Hinata kecil yang dulu sering berkunjung di kantornya setiap liburan ke Tokyo. Kemudian percakapan mereka tentang Hinata berlanjut, tanpa memedulikan objek pembicaraan mereka yang merasa tersisihkan.
Gaara mengangguk. "Dua puluh tujuh Desember."
Hiashi mengangguk puas mendengar jawaban Gaara. Itu menandakan Gaara dan dirinya memiliki hubungan spesial sehingga memiliki pemikiran yang sama.
Bahkan jika Gaara mengusulkan tanggal lain mereka tetap akan menikah tanggal dua puluh tujuh.
Singkatnya, Hiashi akan melakukan pemaksaan.
"Aku akan memberikan peraturan."
Peraturan dibuat untuk dilanggar.
Kalian tahu itu pikiran siapa.
"Pertama, Hinata tidak boleh hamil selama masa sekolah."
Gaara dan Hinata mengangguk setuju.
Hening.
"Kedua?"
"Tidak ada peraturan kedua."
Itu cukup menjengkelkan bagi Gaara.
"Oke, tentukan di mana kalian akan menikah, pukul berapa, biaya-nya berapa, apa saja yang diperlukan, banyak tamu yang akan diundang, dan aku mau semuanya secara detail," kata Hiashi. "Untuk daftar tamu, mungkin sebagian undanganku, selebihnya kalian diskusikan sendiri," tambahnya.
"Kami tidak mengundang banyak orang. Tapi mungkin ayahku ingin mengundang beberapa temannya."
Hiashi mengangguk singkat mendengar ucapan Gaara. Ia mengambil agenda miliknya dan menuliskan hal-hal yang harus ia urus beberapa hari ke depan demi persiapan pernikahan putrinya.
"Hinata akan pergi bersamaku dan Neji mencari gaun pengantin. Selama itu," Hiashi menunjuk Gaara dengan pulpen di tangannya, "kau tidak boleh bertemu dengannya atau memata-matainya."
Gaara ragu ia bisa melakukan itu tapi tetap mengangguk setuju.
"Kalau kau tidak keberatan, Gaara, apakah rambutmu asli?"
Like father, like daughter.
"Ya, asli," jawab Gaara. Ia cukup yakin Hiashi dan Hinata memiliki sifat yang sama: sama-sama suka bertanya.
"Hm, seingatku warna rambut Katashi maupun Karura tidak ada yang seperti rambutmu," kata Hiashi dengan nada menyelidik.
"Oh, Tou-san kenal orang tua ku?"
Sekali lagi Hinata merasa tersisihkan.
"Katashi adalah rivalku dalam memperebutkan Mikoto Uchiha saat masa SMA dulu."
"Hah?" Gaara dan Hinata berseru bersamaan.
Mikoto... Bukannya ibu Sasuke?
"Yah..." Hiashi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Sayangnya Fugaku yang mendapatkannya," lanjutnya, diikuti dengan helaan napas.
"Lalu?" Hinata bertanya penasaran.
"Lalu aku bertemu ibumu, dan aku jatuh cinta padanya."
Mata Hinata berbinar-binar mendengar perkataan Hiashi.
"Bagaimana dengan ayahku?"
Hiashi menatap Gaara. "Aku hanya tahu, saat aku bertemu lagi dengannya lagi kau sedang di perut," jawab Hiashi. "Seingatku juga kau prematur. Aku sempat menertawaimu karena tidak punya alis," Hiashi terkekeh mengingat masa lalu.
Gaara mengernyit tidak suka.
"Sebelum kalian pulang," Hiashi menunduk, mengambil kantung plastik hitam berisi dua porsi Ramen Takeuchi yang baru saja dibelinya tadi, "bawakan ini untuk Kiba dan Shino," katanya sambil menyodorkan kantung plastik itu pada Hinata.
"Buat apa?" Gaara bertanya dengan nada tidak suka yang kentara.
"Buat dimakan."
Nice, Hiashi.
"Aku juga ingin bertemu Katashi. Dia ada waktu?"
"Dia sedang di Jerman, aku tidak tahu kapan kembali."
"Oh, tidak apa-apa," aku akan memaksanya, lanjut Hiashi dalam hati. "Hati-hati di jalan."
Gaara dan Hinata mengangguk singkat dan melangkah keluar ruangan. Hiashi menunggu beberapa saat sampai suara langkah kaki mereka hilang sepenuhnya. Merasa sudah aman, Hiashi mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Neji, aku mau detail kegiatan Gaara dan Hinata hari ini."
"Apa sesuatu terjadi?"
"Aku hanya curiga. Seragam Gaara kusut dan Hinata terlihat le-"
Tuut tuut.
Hiashi menyimpan ponselnya dengan perlahan. "Sepertinya aku salah melapor."
Mobil yang ditumpangi Gaara dan Hinata melaju keluar dari basement. Dari atas Hiashi dapat melihat jendela mobil Gaara semuanya tertutup, kecuali pada bagian depan dan samping tempat duduk pengemudi dan penumpang bagian depan.
"Mungkin Gaara akan dimakamkan besok."
.
"Aku tidak menyangka kita tidak ketahuan."
Hening.
"Padahal kita berdua berantakan."
Hening.
"Nata?"
Gaara menoleh.
Ah, sudah tidur ternyata.
Gaara menghela napas lalu menyunggingkan senyum kecil.
Jalan menuju mansion Hinata dari apartemen Kiba dan Shino cukup ramai karena adanya pusat perbelanjaan dua blok setelah apartemen Kiba. Heh, jalan ke mansion Gaara akan lebih macet dari ini, berhubung rumah Gaara berdekatakan dengan Shibuya.
Tubuh Hinata jatuh ke samping kiri, menyandar di jendela. Wajahnya terlihat lelah dan badannya sedikit menggigil. Saat lampu menunjukkan warna merah, Gaara menyempatkan diri untuk memakaian jas kantornya di Hinata. Ada gunanya menyimpan barang-barang untuk pekerjaaanmu di mobil.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore lewat tujuh menit saat mereka sampai di mansion Hinata. Di depan pintu, sudah berdiri Neji dengan katana di tangannya. Di sampingnya, ada Hanabi dengan kameranya, siap merekam apapun yang akan terjadi.
Gaara mendekati keduanya dengan Hinata di pundaknya.
"Jelaskan, Uchiha."
Err.
Gaara berdeham. "Sabaku."
Neji berdeham. "Aku hanya mengetes kemampuanku tadi." Bohong.
"Jelaskan, Sabaku," ulang Neji.
"Dia kelelahan makanya tertidur. Kalau kau curiga, kau bisa cek bahwa dia masih perawan."
"Whoaaa~"
"Hanabi, masuk ke dalam."
Hanabi diam di tempat.
"Katana ini," Neji memamerkan katana Hiashi, "akan memotong milikmu jika kau gunakan tidak pada waktunya."
"Oke."
Perang mata yang awkward terjadi, membuat Hanabi menghela napas. "Lebih baik membiarkan Nee-chan masuk terlebih dahulu."
"Jelaskan kenapa bajumu kusut."
"Klub basket yang tiba-tiba."
"Kenapa Hinata kelelahan?"
"Terlalu lama menungguku."
Nice, Gaara.
"Kau akan mati, Sabaku." Neji berbalik, masuk ke dalam mansion tanpa ada niatan untuk menolong Gaara mengangkat Hinata.
Gaara menatap si adik ipar, Hanabi. "Hari ini boleh aku menginap?"
Hanabi memasang cengirannya. "Tentu, aku akan mengatur agar kau bisa menyelinap."
Dan untuk pertama kalinya, Gaara merasa sangat terharu.
.
Hinata terbangun saat merasakan embusan napas pelan di lehernya yang menggelitik. Matanya masih menyesuaikan diri dalam kegelapan saat ia menyadari ada tangan besar yang melingkari perutnya. Dengan panik, Hinata berbalik dengan cepat dan mendapati Gaara yang sudah terusik tidurnya.
"Kau selalu bangun tengah malam?" Suaranya serak, sexy.
Hinata masih diam. Matanya sudah tidak merasa kantuk lagi. Otaknya berusaha memproses apa yang sedang terjadi padanya saat ini adalah mimpi atau bukan.
"Tidurlah lagi," Gaara mengecup kening Hinata dan kembali memeluknya dari belakang.
"Kau bisa menyelinap?" Hinata bertanya dengan suara pelan.
"Hanabi cukup membantu."
Hinata terkikik. Adiknya memang sangat ingin seorang kakak ipar dari Hinata.
"Kalian berdua akan dekat."
Gaara tersenyum. Wajahnya ia sembunyikan di antara helaian rambut Hinata. "Aku tahu."
Mereka berdua tertawa pelan. Beberapa candaan masih keluar dari mulut mereka, sebelum akhirnya Hinata kembali tidur dengan tenang.
Gaara selalu suka dengan wajah tidur Hinata.
Begitu damai dan menenangkan.
Mengingatkan Gaara pada seseorang.
Seseorang yang pernah menenangkan hatinya.
Siapa?
TBC
Yay, akhirnya update hehe… Sebenarnya saya ada janji dengan salah satu reader akan update minggu lalu. Tapi berhubung ultah Sasuke sudah dekat, jadi saya memutuskan untuk update hari ini saja. Gomenesai
Ada yang sudah membaca Gaara Hiden? Ternyata, Gaara tidak jadi menikah. Para tetua mempertimbangakan Shikadai menjadi penerus kazekage berikutnya hohoho…
Big thanks to: gh, virgo24, NJ21, Dechin, yuu sari-himeChan, Rumput Liar, Miyuki Rei chan, WassupK, nabila. nurmalasari1, yassir2374, ookami-yan, ontakutub, Hinata Lovers, yo, nelsonthen52, Sabaku kecil, Sabaku, wujisung, Guest, TKsit, anita. indah. 777, nadya ulfa, namell, Rahilsan, Lady Bloodie, tara, Guest, flo, heoalienjoong, triwik 97, Fujiwara Hana, akasuna no hataruno teng tong
Buat beberapa pertanyaan:
Gaara cuma mau nikahin Hinata karena dadanya besar? Sebenarnya, ya, tapi nanti pasti aka nada percikan-percikan cinta #ea
Wanita berdada besar lainnya? Itu akan dijawab di beberapa chapter ke depan.
Soal nama bapaknya Gaara, yang saya dapat di wiki itu Rasa. Rei gk tw darimana. Sabaku memang julukan, I know, let it go~ *ditampar
Hinata cinta sama Gaara? Hm, mungkin di sini sudah ketahuan. Neji gk suka Gaara? Karena overprotektif. Alasan Hiashi? Sebenarnya memang krn uang xD Dan krn pairing favorit saya SasuHina dan GaaHina jadi di sini tidak ada SasuHina xD
Hinata terlalu lemah? Gaara terlalu berkuasa? Nanti juga akan dijelaskan di beberapa chapter ke depan. Selalu ada alasan kenapa mereka bersikap seperti itu. Karena sebenarnya Hinata itu cerewet kalau sama keluarganya, di chapter ini sudah dijelaskan.
Yup, sekian dari saya.
Oh ya, dibawah ada sedikit cerita singkat buat ultah Saskeh xD
Enjoy!
Omake: First Day As a Teacher
Itachi melangkahkan kakinya ke dalam kelas dengan Sasuke yang mengikut dari belakang. Tidak memedulikan Itachi, Sasuke segera berjalan menuju bangkunya di depan Gaara dan Hinata.
"Ehem," Itachi berdehem. "Good morning," sapanya ramah pada murid-murid di hadapannya.
Cih, tentu saja. Guru Bahasa Inggris, gerutu Sasuke dalam hati.
"Good morning," sapaan balik itu penuh dengan kekaguman dan sedikit unsur malu-malu. Ya, tentu saja yang membalas hanyalah murid perempuan.
Itachi tersenyum memaklumi. Mungkin aku terlalu tampan, pikirnya.
"Aku akan memperkenalkan diri," Itachi memulai. "Namaku Tach Uchiha-"
"Tsk."
"-anak pertama dari Keluarga Uchiha yang terkenal dengan produk kecantikannya," Itachi tetap melanjutkan, tidak memedulikan decakan kesal dari Sasuke. "Sekarang aku mendirikan suatu perusahaan bernama Akatsuki, yang khusus menjual jubah hitam dengan awan-awan merah, yang juga, sedang trendi sekarang ini."
Tiba-tiba saja kelas menjadi gelap dan muncul sebuah laptop dan LCD proyektor di meja Tach. Proyektor tersebut menampilkan gambar-gambar jubah yang tadi dikatakan Tach.
Tach-pun sekarang sudah memakai jubah yang sama dengan yang ditampilkan di proyektor.
"Harganya terjangkau, bisa dipesan online, dan banyak pilihan ukuran. Kalian cukup mengunjungi website ini," kini gambar di proyektor berubah menjadi alamat website official Akatsuki Corp.
www. aka-tach-suki .com
Don't forget to buy-ttebayo!
Sasuke memutar bola matanya. Naruto pasti turut andil dalam hal ini.
"Oke, cukup promosinya," Tach membereskan laptop dan proyektornya, lalu membuangnya di tempat sampah.
"Sekarang, apakah ada yang ingin bertanya padaku?" Tach kembali menampilkan senyum ramahnya.
Sakura mengangkat tangan. "Apa Sensei sudah menikah?"
"Be-"
"Sensei aniki Sasuke-kun, kan?" kali ini Ino.
"Ya-"
"Sensei masih perjaka?" Tenten tak mau kalah.
"Kurasa-"
"Yang lebih panjang milik Sensei atau Sasuke-kun?" Karin bertanya dengan mata berapi-api.
"Ten-"
BRAK
Kelas mendadak sunyi. Semua menoleh pada sumber suara; Sasuke Uchiha.
Sasuke menatap semua manusia yang ada dalam kelas. Ia berdeham, menenangkan dirinya, lalu kembali duduk. Kaki kirinya ia letakkan di atas kaki kanannya, tangannya ia lipat di depan dada, dagunya ia angkat tinggi, sebelum berkata dengan penuh percaya diri.
"Milikku lebih panjang lima senti."
"Woaaaahhhh, Sasukeee-kuuun!" teriak fans-fans Sasuke yang merasa bangga dengan fakta yang baru diutarakan Sasuke.
Kelas kembali ribut dengan teriakan-teriakan fans Sasuke yang ingin melihat miliknya secara live, beberapa menangis histeris, ada yang mengirim surat berisi fakta 'milik' Sasuke pada perusahaan surat kabar melalui merpati, Gaara dan Hinata yang sedang dilanda asmara, serta Kiba dan Shino yang baru sampai di kelas.
"Diam!" bentak Itachi, merasa marah karena kini pusat perhatian sepenuhnya pada Sasuke.
Kiba yang salah membaca keadaan segera menangis histeris. Ia berjalan menuju Tach, yang menatapnya bingung—tentu saja—lalu berdeham. "Aku... aku tidak..." Kiba berujar dramatis sambil mengusap air matanya. Ia mengatur napasnya, menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan cepat. Tangannya ia gunakan untuk mengipas-ngipaskan wajahnya, mirip dengan seseorang yang baru saja memenangkan undian.
Tidak memedulikan kelas yang mendadak sangat sepi serta tatapan bingung dari kawan-kawannnya, Kiba berseru, "Arigatou!" lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Hinata sudah akan menghampiri Kiba saat Gaara menahan tangannya dan memberikan tatapan 'jangan mempermalukan dirimu' pada Hinata. Tidak mau membuat Gaara marah, Hinata segera menuruti perintah tak tertulis dan tak terucapkan dari Gaara.
"Segitiga, kembalilah ke tempat dudukmu," kata Tach, ragu-ragu, setelah melihat lantai yang basah karena air mata Kiba. Sungguh! Ini membingungkan!
Menghela napas lelah, Shino melangkah masuk ke dalam kelas untuk menghampiri Kiba.
Tapi...
"Sasuke Uchiha?"
Tidak, tatapan Shino tidak mengarah ke Sasuke.
Tatapannya mengarah ke tempat sampah...
"Oi, aku di sini."
...tempat laptop Sasuke berada.
"Bukan," Shino mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke, telunjuknya ia arahkan ke tempat sampah, "ini laptopmu, kan?"
Berusaha lari dari kenyataan, Tach berpura-pura peduli pada Kiba.
Sasuke berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah Shino dengan slow motion.
Di situ, di tempat sampah, terbaring laptop birunya, dengan keadaan retak di layar karena tertimpa proyektor milik Naruto.
Sasuke mengepalkan tangannya dengan kuat. Rahangnya mengeras, giginya saling beradu menimbulkan suara gemeletak.
"ITACH-"
PLAK
Suara tamparan itu menggema dalam kelas.
"Tach, namaku Tach, BAKA!"
-FIN-
Happy birthday, Sasuke...
