ANGEL'S
REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION
ANUGRAH BIDADARI by SHERLS ASTRELLA
BYUNNERATE
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre: Romance
Rated: T
Warning: Genderswitch! Typos!
Summary: "Kami sering menyebut Ratu sebagai Bidadari Malam. Tiap malam Anda akan melihat Ratu membawa lilin kecil dan berkeliling Hall." "Bagi mereka, engkau adalah Ratu mereka dan terus akan menjadi Ratu mereka tapi bagiku, engkau adalah Ratu yang selalu bersinar di hatiku" "Aku memberikan seluruh cintaku padamu, Chanyeol, rajawaliku yang gagah perkasa."
NO BASH
DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS
Enjoy and Review Juseyooooo
.
.
.
.
Setelah Jongin pergi, Baekhyun berkata, "Bawa Donghae ke kamarnya. Kurasa ia butuh banyak istirahat sampai aku selesai dengannya."
"Dan untukmu, Donghae, kuperingatkan untuk tidak mengirim kabar apa pun pada keluargamu. Aku ingin mereka semua ada ketika hartamu kuperiksa. Aku ingin tahu sebesar apa uang negara yang kaucuri selama dua puluh satu tahun engkau menjadi Menteri Keuangan," Baekhyun mendekati pria itu dan berkata pelan tapi tajam.
Prajurit-prajurit itu memberi hormat pada Baekhyun sebelum meninggalkan ruangan luas yang dipenuhi oleh seluruh menteri.
Baekhyun menghadap menteri-menterinya yang lain. "Maafkan atas gangguan tadi. Aku harap kalian mengerti aku tidak ingin menjelaskan apa pun sampai kecurigaanku terbukti. Kusarankan kalian tidak memikirkannya sebab aku akan memberi kalian tugas berat. Sebelum aku melanjutkan, aku perlu menegaskan tindakanku tadi agar kalian tidak khawatir ketika menyelesaikan tugasku."
"Aku tidak akan menahan kalian," kata Baekhyun tegas, "Dan, sampai semua terbukti, aku ingin kalian merahasiakan hal ini dari orang lain."
Baekhyun tersenyum manis dan berkata lembut, "Kalian mengerti?"
Mereka membalas senyuman itu dengan tulus tanpa rasa takut sedikitpun. "Kami mengerti, Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun," kata mereka serempak.
Baekhyun kembali duduk di kursinya yang tinggi, menghadap menteri-menteri yang melihatnya. Baekhyun menengakkan punggung dan berkata tegas,
"Kalian tahu aku berniat merubah pemerintahan otokrasi ayahku. Sebagai langkah awal, aku ingin merubah semua peraturan yang dibuat semasa pemerintahan ayahku. Masing-masing dari kalian kuperintahkan membentuk sebuah badan dengan kalian sebagai kepalanya. Badan ini bertugas menuliskan semua peraturan yang ada dalam lembaga kalian masing-masing dan merubah semua peraturan yang membebankan rakyat. Dalam hal ini aku menegaskan aku berbeda dengan ayahku."
Ratu tersenyum lembut. "Kalian tidak perlu khawatir aku akan menghukum kalian. Aku tahu kalian tidak mengenal dan tidak mempercayaiku. Aku meyakinkan kalian untuk memegang kata-kataku ini."
"Kami percaya pada Anda, Paduka," kata mereka hampir bersamaan.
"Terima kasih," Baekhyun tersenyum manis, "Aku percaya kalian juga menginginkan perbaikan bagi kerajaan ini. Aku percaya kalian akan memilih orang yang benar-benar sesuai dengan bidang yang kalian tangani dan benar-benar ingin memperbaiki negara ini. Tanpa perlu melaporkan siapa saja yang kalian masukkan dalam badan-badan itu, aku percaya kalian dapat menyelesaikan tugas ini kurang dari satu bulan."
"Kami akan berusaha sebaik-baiknya, Paduka."
Baekhyun mengangguk. "Aku ingin laporan terperinci mulai dari peraturan lama hingga peraturan baru yang kalian buat."
"Baik, Paduka."
Baekhyun bangkit diikuti para menteri itu. "Sebelum kalian mulai mengerjakan perintahku, aku berpesan kalian tidak perlu ragu untuk menemuiku bila kalian mengalami kesulitan."
"Kami mengerti, Paduka."
Menteri-menteri itu membungkuk hormat sebelum meninggalkan Ruang Rapat.
Baekhyun mengawasi kepergian mereka hingga orang terakhir. Baekhyun pergi ke jendela yang menghadap gerbang keluar Istana, tapi yang dilihatnya bukan kereta-kereta yang membawa pergi menteri-menterinya. Baekhyun melihat wilayah kerajaannya yang luas yang perlu pertolongannya.
Gadis itu menghela nafas membayangkan orang-orang yang menderita di luarsanakarena kekejaman ayahnya. Ia sendiri telah melihatnya. Mata kepalanya sendiri telah melihat anak-anak yang kurus, orang tua yang sakit-sakitan, kaum pria yang kelelahan bekerja, kaum wanita yang menangis. Mereka semua merintih sedih dan kelaparan.
Banyak yang harus dilakukannya untuk memperbaiki semua ini.
Baekhyun kembali duduk di kursinya. Dibukanya sebuah laporan kerja di hadapannya.
Baekhyun mendesah panjang melihat laporan yang dibuat dengan rasa takut itu. Tiap tulisan menyiratkan perasaan takut akan kesalahan.
Mereka semua takut. Takut ia sama seperti ayahnya.
"Paduka!"
Baekhyun mengangkat kepala dari pekerjaannya.
Jongin memandang ruangan kosong itu dengan heran.
"Mereka telah pergi melakukan tugas mereka," kata Baekhyun, "Aku juga akan memberimu tugas yang sama. Aku ingin engkau membentuk sebuah badan. Pimpin badan itu memeriksa semua peraturan lama dan merubah peraturan lama yang membebani rakyat. Kalau diperlukan peraturan baru, buatlah. Aku ingin laporan terinci paling lambat satu bulan mendatang."
"Hamba mengerti, Paduka."
"Sebelum kau pergi, aku ingin memberimu tambahan tugas."
"Hamba siap melaksanakannya, Paduka."
Baekhyun tersenyum. "Aku ingin semua ahli keuangan itu tinggal di sini."
"Hamba mengerti, Paduka."
Jongin membungkuk hormat lalu pergi.
Baekhyun menumpuk laporan-laporan di hadapannya menjadi satu. Dibawanya tumpukan kertas itu meninggalkan Ruang Rapat.
Prajurit di luar terkejut melihat kehadirannya.
"Ijinkan saya untuk membantu Anda, Paduka," seorang dari mereka berkata.
"Terima kasih."
Prajurit itu mengambil alih tumpukan kertas yang hampir menutupi wajah Baekhyun.
Kepada prajurit yang lain, Baekhyun berkata lembut tapi tegas, "Tolong kau panggilkan Tao, Kepala Rumah Tangga Istana untukku. Aku menunggu di Ruang Kerja."
"Baik, Paduka."
Setelah prajurit itu beranjak pergi, Baekhyun pun pergi ke Ruang Kerja.
Tengah ia sibuk memeriksa lembaran-lembaran tugasnya, Tao datang.
"Hamba datang menghadap, Paduka."
"Duduklah, Tao."
Setelah Tao duduk di hadapannya, Baekhyun baru berkata, "Mulai hari ini, Istana akan dipenuhi orang. Semua ahli keuangan di negeri ini kukumpulkan di sini. Aku ingin engkau mengatur tempat untuk mereka. Tempatkan mereka hanya di lantai dua. Bila perlu satu kamar untuk dua orang. Aku yakin kamar-kamar yang luas ini cukup untuk lebih dari satu orang."
"Anda benar, Paduka. Kamar-kamar di Istana sangat luas. Demikian pula tempat tidurnya. Takkan ada masalah bila dua orang tinggal di satu kamar."
"Mengenai teman sekamar itu, aku ingin orang yang berasal dari tempat sama ditempatkan dalam satu kamar. Aku tidak mau tamu-tamuku merasa tidak nyaman di sini," Baekhyun menegaskan.
"Baik, Paduka," kata Tao sambil mengangguk.
"Kalau memang sudah tidak cukup, tempatkan mereka di lantai empat."
"Di lantai empat, Paduka?" tanya Tao heran, "Bukankah itu berarti mereka akan terpencar?"
"Aku ingin lantai satu dan lantai tiga dibiarkan seperti itu. Lantai dua dengan kamarnya yang mencapai dua ratus kamar akan cukup untuk mereka."
Tao berpikir keras.
"Untuk sementara waktu ini biarkan mereka makan di Ruang Makan. Selanjutnya, bila jumlah mereka telah banyak, siapkan di Hall lantai dua."
Tao hanya memandang wajah cantik Ratunya itu. "Apakah mungkin jumlah mereka mencapai empat ratus orang?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Baekhyun mengerti apa yang ada di pikiran pria tua itu. Ayahnya adalah seorang Raja yang curang. Ia selalu melebih-lebihkan jumlah pajak yang harus dibayar seseorang. Karena ia tidak ingin ada yang tahu kecurangannya, ia menghancurkan masa depan ahli keuangan di negeri ini dan membuat tak seorang pun ingin menjadi ahli keuangan.
Tapi Baekhyun juga tahu masih banyak ahli keuangan di kerajaan ini.
"Bila telah ada yang datang, jangan lupa untuk mendatanya," Baekhyun melanjutkan, "Satu tambahan tugas lagi. Tempatkan Donghae di salah satu kamar di lantai tiga dan aku ingin penjagaannya diperketat."
"Hamba akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, Paduka."
Baekhyun tersenyum puas.
.
.
.
.
Seperti yang telah diramalkan Baekhyun sendiri, hari-hari berikutnya menjadi hari yang panjang dan melelahkan baginya.
Sepanjang hari ia duduk di meja kerjanya untuk mempelajari laporan ke dua puluh menterinya. Laporan dari awal mereka menjabat sampai saat ini lebih tebal dari bayangan Baekhyun. Tetapi ia tidak mengeluh.
Baekhyun mensyukuri kesibukannya itu. Dengan kesibukannya, ia dapat melupakan Chanyeol dan malam hari ia sudah terlalu lelah untuk mengenang Chanyeol.
Seperti Baekhyun, semua Menteri juga sibuk, kesibukan para Menteri yang luar biasa ini menarik perhatian para kuli koran.
Siapa yang tidak tertarik oleh para Menteri yang tiba-tiba mengacak-acak kantor mereka untuk membuka undang-undang lama?
Siapa yang tidak ingin tahu melihat ke dua puluh kantor itu beserta karyawan-karyawannya bersidang terus tanpa henti?
Tindakan Baekhyun membuat warga Vandella bertanya-tanya khususnya warga Perenolde. Seperti belum puas membangkitkan keheranan rakyatnya, Baekhyun membuat kejutan lagi dengan pengumumannya.
Semua koran memuat titah Baekhyun dengan huruf besar-besar dan diletakkan di halaman depan. Bunyi titahnya:
Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun mengundang semua ahli keuangan Kerajaan Vandella untuk datang ke Istana Azzereath. Paduka Ratu akan mengadakan pemilihan untuk mengambil seorang ahli keuangan terbaik yang akan menjadi penasehatnya. Para ahli keuangan yang berminat harap segera menuju Istana Azzereath untuk segera mendaftarkan diri. Paduka Ratu hanya memberi waktu kurang dari satu minggu untuk mereka yang tinggal di sekitar Perenolde dan satu setengah minggu untuk mereka yang tinggal di luar radius 400 mil dari Perenolde.
Semua orang sibuk membicarakan kedua titah Baekhyun di rapat pertamanya. Koran-koran menyoroti kedua titah itu.
Tanpa mereka sadari, keingintahuan mereka yang besar membuat mereka menulis lebih banyak dan lebih berani daripada sebelumnya. Koran-koran mulai dapat menjawab keingintahuan rakyat.
Sebagai orang yang pertama menyadarinya, Baekhyun gembira. Ia tersenyum senang melihat koran telah berani berpendapat. Mereka berani menulis:Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Ratu?
Baekhyun yakin mereka tidak menyadari keberadaan kalimat itu. Kalimat yang pada masa pemerintahan ayahnya dianggap tidak mempercayai Raja. Tetapi setelah koran dicetak dan mereka membacanya, mereka pasti menyadari kalimat yang dulu bisa menyebabkan hukuman pancung itu.
Sebelum ada yang menemuinya untuk minta maaf, Baekhyun segera menyebar ucapan selamat pada koran-koran.
"Koran Anda bagus sekali isinya. Saya senang atas kemajuan ini. Teruslah berkembang dengan bebas! Jadilah koran yang benar-benar dapat memberi informasi pada rakyat."
Demikian kata-kata yang Baekhyun tulis pada surat-suratnya.
Menjelang siang hari, kata-kata yang penuh dukungan itu telah tersebar di semua penerbitan koran. Kedatangan surat itu mula-mula menakutkan para pemilik penerbitan koran, tetapi mereka bersorak sorai setelah membaca isinya yang penuh dukungan dan kepuasan. Mereka merasa seperti mendapat sinar kehidupan baru dalam kerja mereka memberi informasi pada rakyat.
Di hari-hari selanjutnya, Baekhyun yakin ia bisa tersenyum puas ketika membaca koran. Ia tidak perlu lagi merasa muak membaca koran yang isinya tidak berguna.
Baru dua hal hasil rapat pertama Baekhyun dengan Menteri-menterinya, yang diketahui rakyat. Bila mereka tahu Baekhyun mengurung Menteri Keuangan di Istananya, rakyat pasti akan menjadi semakin ramai.
Hingga hari ketiga keberadaan Donghae di Istana, tak seorang pun yang tahu. Keluarga Donghae sendiri tidak tahu apa-apa.
Untuk menenangkan keluarga Donghae, Baekhyun mengirim Tao ke rumah Donghae. Melalui Tao, Baekhyun mengatakan saat ini Donghae diperlukan di Istana dan untuk beberapa waktu ia tidak dapat menghubungi keluarganya.
Keluarga Donghae mempercayainya dan tidak ambil pusing walau sudah lama tidak ada kabar dari Donghae. Semua percaya Baekhyun membutuhkan bantuan Donghae untuk menghitung kas negara.
Tak seorang pun di luar Istana yang tahu Baekhyun menghitung sendiri uang yang dimiliki Vandella. Untuk melakukan pekerjaan itu, Baekhyun meminta seluruh penghuni Istana menulis macam-macam pajak yang dibebankan ayahnya berikut jumlahnya.
Untuk menghilangkan kecurigaan rakyat akibat hilangnya Donghae, Baekhyun memerintahkan Gary, wakil Menteri Keuangan, menggantikan tugas-tugas Donghae. Kepadanya Baekhyun tidak menjelaskan apa-apa tentang keberadaan Donghae di Azzereath. Ia hanya meminta Gary melakukan pekerjaan yang sama seperti menter-menteri lainnya.
Begitu sibuknya Baekhyun hingga ia sering melalaikan dirinya sendiri. Tidak ada lagi waktu istirahat untuknya.
Langkah besar yang diambil Baekhyun di awal pemerintahannya ini mengguncang warga Vandella. Mulai dari Perenolde hingga ke daerah perbatasan. Mereka yang dulu tidak tertarik untuk mengetahui apa yang dilakukan rajanya menjadi terbangkitkan untuk mengikuti perkembangan suasana ibukota.
Guncangan ini sampai pula di tempat Chanyeol dan menjadi yang paling besar.
Suatu pagi yang serah terdengar suara kuda mendekat beserta teriakan, "Pangeran! Pangeran!"
"Ada apa, Taehyun?" tanya Chanyeol, "Apakah engkau sudah mengetahui bagaimana keadaannya?"
"Gawat, Pangeran. Benar-benar gawat."
Chanyeol segera menarik Taehyun ke kamarnya.
Sehun yang mendengar pembicaraan singkat itu mengikuti Chanyeol.
Chanyeol menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu berkata, "Ceritakan apa yang kaudapatkan di sana?"
"Gadis itu, Pangeran," Taehyun berkata antara takjub dan takut, "Gadis itu…"
"Cepat katakan, kenapa dia," Chanyeol tidak sabar lagi.
"Ia adalah Ratu Vandella."
Baik Chanyeol maupun Sehun terhenyak kaget. Mereka menatap Taehyun dengan tak percaya.
"Kau yakin?" tanya Chanyeol.
"Ia adalah Yang Mulia Paduka Ratu Kerajaan Vandella, Pangeran," Taehyun meyakinkan, "Hamba sendiri yang mendengar ia berkata seperti itu di Gedung Parlemen."
Taehyun segera menceritakan apa yang terjadi selama ia berada di Perenolde. Ia menceritakan bagaimana ia menyamar menjadi wartawan demi mendapatkan informasi untuk Chanyeol.
"Saat itu saya berpikir Anda pasti senang kalau saya memberi Anda informasi apa yang dilakukan Raja Kris di Gedung Parlemen setelah sekian lama menghilang. Saya tidak menduga akan bertemu Hyunnie di sana. Mulanya saya tidak percaya ia adalah Hyunnie tapi ia sangat mirip dengan Hyunnie. Akhirnya saya bertanya padanya siapa dia. Dengan tegas ia menjawab, ' Saya Baekhyun, Ratu Kerajaan Vandella'."
"Kurang ajar," geram Chanyeol, "Setan cilik itu telah menipuku."
"Baekhyun…" gumam Sehun, "Aku merasa pernah mendengar nama itu."
"Ia adalah putri Raja Kris yang dibawa pergi Ratu Luhan bertahun-tahun lalu," Taehyun memberitahu.
"Benar!" seru Sehun, "Aku ingat dulu Ratu Luhan membawa pergi putrinya yang baru lahir dan membuat Vandella gempar kecuali Raja Kris. Rupanya ia telah mencari putrinya sebelum ia mati dan berjaga-jaga agar tidak terjadi perebutan tahta. Cukup beralasan mengapa ia tidak pernah mengumumkan Yoona sebagai pewaris tahta."
"Saya rasa tidak. Menurut isu yang beredar di Perenolde, hingga Raja Kris meninggal, ia tidak pernah memerintahkan pencarian terhadap putrinya. Para menterilah yang mencari mereka."
"Menteri yang setia," ejek Chanyeol, "Aku heran mengapa mereka baru mengumumkan hal ini setelah sepuluh bulan serigala itu mati."
"Karena mereka mengalami kesulitan dalam menemukan tempat tinggal Ratu, Pangeran. Ratu menghilang tanpa jejak."
"Benar-benar budak yang setia," ejek Chanyeol, "Aku heran mengapa mereka mau menahan berita kematian serigala itu sampai sang Putri kembali?"
"Saya tidak tahu tentang itu, Pangeran."
"Kejadian itu terjadi enam belas tahun yang lalu, berarti…" Tiba-tiba Sehun berseru takjub, "Gadis itu masih sangat muda!"
"Setan cilik itu masih anak-anak," Chanyeol membetulkan.
"Aku tak percaya sekarang kita mempunyai Ratu semuda itu."
"Ratu muda yang bodoh. Apa yang bisa dilakukan oleh anak-anak sepertinya?"
"Banyak, Pangeran," jawab Taehyun, "Ketika saya hendak kembali ke sini, terdengar kabar Ratu memanggil semua menterinya. Saya pikir Anda akan tertarik untuk mengetahui apa rencana Ratu. Karena itu saya menunda kepulangan saya."
"Ratu memanggil semua menterinya untuk memerintahkan mereka membongkar semua peraturan lama. Ratu ingin membuat peraturan baru. Ratu juga menyebarkan pengumuman panggilan terhadap semua ahli keuangan Vandella. Ratu meminta mereka datang ke Azzereath karena ia akan memilih ahli keuangan terbaik."
"Gebrakan yang mengejutkan," ejek Chanyeol.
"Benar, Paduka," sahut Taehyun, "Ratu membuat seluruh Perenolde gempar. Koran-koranpun menjadi berani untuk mengupasnya. Lihatlah ini."
Chanyeol membaca kalimat yang ditunjuk Taehyun dan berkomentar, "Berani juga mereka meragukan kemampuan keturunan serigala itu."
"Itu belum apa-apa dibandingkan dengan koran-koran ini, Pangeran. Saya dengar Ratu memberi dukungan pada tiap koran untuk terus berkembang."
"Rencana licik apalagi yang dibuatnya? Ia memang licik. Harus kuakui ia cukup cerdik dalam mendapatkan simpati rakyat," kata Chanyeol sinis.
"Beristirahatlah dulu, Taehyun. Lalu kembalilah ke Perenolde dan terus kabari aku apa yang terjadi. Jangan katakan hal ini pada yang lain. Aku tak ingin mereka khawatir Ratu sial itu menyerbu kita sewaktu-waktu."
"Saya kita dalam waktu dekat ini, hal itu tidak akan terjadi. Saat ini Ratu sibuk dengan kas negara. Bahkan, ia meminta Donghae tinggal di Istana."
"Aku tetap ingin engkau tutup mulut, Taehyun," kata Chanyeol tegas.
"Baik, Pangeran."
"Beristirahatlah lalu segera kembali ke Perenolde."
Taehyun segera meninggalkan kamar Chanyeol.
"Biacaramu terlalu sinis, Chanyeol. Mengapa engkau mencurigai dia? Belum tentu ia selicik dugaanmu. Mungkin saja setelah melihat apa yang terjadi di sini, ia ingin memperbaiki pemerintahan ayahnya."
"Aku percaya pada diriku sendiri. Aku tidak mungkin salah," Chanyeol murka, "Ia pasti menyesal bila bertemu denganku. Aku akan membuatnya menyesal telah menipuku dan rakyatku. Aku ingin sekali membunuhnya."
"Ia tidak sepenuhnya membohongi kita. Setidaknya ia masih memberikan nama aslinya."
Chanyeol tidak tertarik untuk mendengarnya, tapi Sehun tetap melanjutkan.
"Ia menyuruh kita memanggilnya Hyunnie. Panggilan itu dari namanya, Baekhyun. Nama yang menyenangkan untuk didengar seperti mengandung sinar bintang yang cerah."
"Berhentilah menyebut-nyebutnya. Aku muak mendengarnya!"
"Engkau boleh marah, Chanyeol. Tapi engkau tidak bisa membohongiku."
"Cukup!" bentak Chanyeol.
Sehun hanya mengangkat bahunya. Ia tahu Chanyeol benar- benar murka saat ini. Ia juga tahu takkan ada yang berani mengusik Chanyeol dalam hari-hari belakangan ini termasuk Krystal.
Sejak Hyunnie kembali bersama para pasukan itu, Chanyeol sangat cemas. Ia mengirim pasukan untuk mengintai pasukan kerajaan dan mencari kesempatan untuk menculik Hyunnie kembali.
Setelah tidak berhasil merebut Hyunnie, Chanyeol mengirim Taehyun untuk mencari tahu keberadaan Hyunnie.
Orang yang paling bersorak dengan hilangnya Hyunnie adalah Krystal. Wanita itu seperti mendapatkan kembali kesempatan untuk berdua dengan Chanyeol.
Krystal semakin berani. Bahkan, ia meminta Chanyeol mengajaknya tidur di kamarnya seperti yang ia lakukan pada Hyunnie. Chanyeol dengan dingin menolaknya.
Suasana di Vandella tengah berubah. Demikian pula suasana hati Chanyeol. Tapi, tidak suasana rakyat Lasdorf.
Meskipun mereka membaca koran yang menyerukan perubahan yang dilakukan Baekhyun, mereka tidak akan tahu Baekhyun adalah gadis yang sama dengan Hyunnie. Rakyat kecil ini baru akan gempar bila tahu gadis yang dulu mereka puja adalah Ratu Vandella.
Tujuh ratus mil dari tempat itu Baekhyun tetap meneruskan kesibukannya. Siang malam ia terus terlihat di Ruang Kerjanya dengan tumpukan kertas yang tinggi.
Terlalu banyak yang harus dilakukannya hingga ia sering melupakan waktu. Setiap kali hari menjadi gelap, Baekhyun berkata, "Waktuku cepat berlalu."
Waktu yang terus berganti dengan cepat, mendorong Baekhyun untuk bekerja lebih cepat lagi. Lebih banyak yang diselesaikan Baekhyun, semakin puas hatinya.
Kesibukan yang ada di Azzereath tidak hanya terjadi pada Baekhyun saja. Seluruh pelayan Istana ikut disibukkan oleh kedatangan para ahli keuangan yang datang memenuhi panggilan Baekhyun.
Orang yang pertama kali terkejut dengan banyaknya ahli keuangan yang datang adalah Tao. Saat ia mencatat nama ke lima puluh, ia segera menemui Baekhyun.
"Luar biasa, Paduka," serunya tak percaya, "Lihatlah ini. Ini nama ke lima puluh yang saya catat."
Baekhyun tertawa geli. "Berilah dia hadiah, Tao, sebagai penghargaan menjadi orang ke lima puluh."
"Anda seperti akan mengadakan perlombaan, Paduka."
"Engkaulah yang membuatnya seperti itu, Tao," Baekhyun tersenyum geli, "Aku berjanji minggu depan engkau akan lebih terkejut."
"Anda benar, Paduka, mereka masih banyak."
"Aku sudah mengatakannya padamu," Baekhyun mengingatkan dengan lembut, "Lebih baik sekarang engkau kembali ke bawah. Aku yakin sudah banyak yang menanti engkau memasukkan nama mereka dalam daftar peserta lombamu."
Melihat wajah Tao yang seperti anak kecil yang sedang marah, Baekhyun tertawa geli. "Pergilah menemui para peserta lombamu sebelum mereka membatalkan niatnya untuk mengikuti lombamu."
Tao tersenyum ketika ia membungkuk. Ia masih tersenyum ketika kembali ke Hall.
Baekhyun tersenyum melihat kepergian Tao lalu kembali menekuni pekerjaannya. Membaca laporan telah diselesaikannya berhari-hari lalu. Sekarang yang menjadi pekerjaannya adalah menyusun hal-hal yang harus segera dilakukannya setelah membaca laporan kedua puluh menterinya serta membuat keputusan-keputusan baru.
Segala hal baik yang terlintas dalam pikirannya segera ditulisnya dan dipisah-pisahkannya. Sangat banyak hal yang terlintas dalam pikiran Baekhyun hingga ia bingung mana yang harus dilakukannya lebih dulu.
Di tengah-tengah kesibukannya, Baekhyun masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan masalah Donghae dan menerima menteri-menterinya yang datang untuk menanyakan sarannya.
Sejak mengurung Donghae di salah satu kamar Istana, Baekhyun tidak pernah bertemu dengannya lagi. Namun, dari prajurit yang menjaga kamar tempat Donghae berada, ia mengetahui Donghae gelisah menanti hasil pemeriksaan Baekhyun terhadap dirinya.
Ketika hari terakhir yang ditentukan tiba, Baekhyun memanggil Jongin ke Istana. Dari hasil pendataan Tao, Baekhyun mengetahui jumlah orang yang datang.
Pagi hari setelah makan pagi, Baekhyun meminta Tao menyuruh pelayan menyiapkan kertas dan pena di Ruang Rapat.
Pelayan-pelayan Istana segera melaksanakan perintah Baekhyun itu. Mereka tidak mau kalah dengan Baekhyun yang juga sibuk menyiapkan segala-galanya untuk pertemuannya yang pertama dengan semua ahli keuangan Vandella itu.
Kesibukan di dalam Istana yang terjadi sejak pagi itu membuat para tamu Baekhyun tahu saat pemilihan telah tiba. Mereka pun sibuk mempersiapkan diri.
Menjelang siang, pelayan telah menyiapkan segalanya seperti perintah Baekhyun.
Tao memanggil seluruh tamu Istana itu ke Ruang Rapat tempat Baekhyun dan Jongin telah menanti.
Sambil menunggu mereka semua berkumpul, Baekhyun berbincang-bincang dengan beberapa orang. Ketika semua telah berkumpul, Baekhyun tetap berbincang-bincang.
Jongin juga menyibukkan diri dengan bercakap-cakap dengan mereka. Ia telah diberitahu Baekhyun untuk membiarkan mereka menunggu.
"Aku ingin tahu sampai di mana batas kesabaran mereka," kata Baekhyun sebelum seorang pun memasuki Ruang Rapat.
Setelah hampir setengah jam menanti, orang banyak itu mulai gelisah. Mereka mulai mengkhawatirkan rencana Ratu mereka.
"Di mana Paduka Ratu, Jongin?"
"Sejak tadi kami menanti di sini."
"Beliau sudah ada di sini sebelum kalian datang," Jongin berkata sambil melihat seorang gadis muda yang tengah berbicara dengan seorang pria tua.
"Dia!?" Mereka terkejut ketika melihat Baekhyun.
Kemudian mereka mendekati Baekhyun dan berlutut, "Maafkan kami, Paduka Ratu. Kami tidak menyapa Anda sebagaimana mestinya."
Dalam waktu singkat semua yang hadir ikut berlutut dan memohon maaf.
Baekhyun tersenyum ramah dan berkata, "Berdirilah kalian semua. Masih banyak yang harus dilakukan daripada mempermasalahkan sopan santun."
"Baik, Paduka," kata mereka serempak. Dengan hampir bersamaan, mereka berdiri.
"Dari kalian yang ada di sini, aku ingin memilih beberapa orang yang benar-benar ahli dalam hal pembukuan uang," Baekhyun menegaskan, "Sebagai pemilihan pertama, aku akan memberi pertanyaan mudah. Jawabannya tidak perlu dikatakan, tetapi tulis di kertas dan berikan pada Jongin. Kalian mengerti?"
"Kami mengerti, Paduka."
"Pertanyaannya adalah bila kalian mempunyai uang lebih banyak dari impian kalian, apa yang akan kalian lakukan? Kutunggu jawabannya dalam lima menit."
Baekhyun menuju kursi tingginya di ujung meja rapat dan melihat orang-orang yang mulai menulis jawaban mereka.
Tak lama kemudian, Jongin menyerahkan tumpukan kertas jawaban itu pada Baekhyun.
"Terima kasih, Jongin."
Baekhyun mulai melihat lembar teratas. Gadis itu hanya melihat sebentar lalu menyingkirkannya. Ia mengambil lembar yang lain dan segera menyingkirkannya.
Jongin tidak terkejut maupun heran dengan kerja Baekhyun yang cepat. Gadis itu memang tangkas. Dalam satu minggu, ia sudah membuat banyak perubahan yang dilakukan raja lain dalam sepuluh tahun.
Dalam waktu singkat di hadapan Baekhyun telah ada dua tumpuk kertas. Baekhyun mendesah panjang ketika menyerahkan setumpuk kepada Jongin.
"Mereka tidak berhasil."
Baekhyun kecewa melihat tumpukan kertas itu.
Jongin melihat jawaban itu lalu dengan heran ia menatap Baekhyun.
"Aku membutuhkan orang yang selalu tanggap dengan perubahan bukan yang mengikuti masa lalu," Baekhyun menjelaskan, "Sayang, beberapa dari mereka masih mengira aku sama dengan ayahku. Sudah banyak koran yang menuliskan keinginanku, tapi mereka tidak tahu. Aku sengaja tidak mengatakannya pada mereka untuk melihat siapa yang selalu mengikuti perubahan jaman."
Jongin mengerti keinginan Baekhyun.
Tumpukan kertas yang diberikan Baekhyun itu pada intinya mengatakan, "Aku akan memberikan uangku pada Raja agar ia senang." Sedang tumpukan yang lain intinya berisi, "Aku akan menggunakannya untuk memperbaiki kehidupan rakyat."
Jongin mengumumkan hasil pemilihan pertama.
Setelah semua yang gagal pergi, Baekhyun berdiri dengan tumpukan kertas baru.
"Pertanyaan yang kedua adalah kalian harus menyelesaikan hitungan ini," Baekhyun berkata tegas.
Jongin mengambil kertas itu dari Baekhyun dan membagikannya.
Selagi Jongin membagikan soal kedua, Baekhyun berkata, "Silakan menggunakan meja rapat. Aku hanya memberi waktu lima belas menit untuk hitungan mudah itu. Kumpulkan pada Jongdae."
Jongin mendekati Baekhyun. "Soal telah saya bagikan, Paduka."
"Sekarang ikutlah denganku. Banyak yang harus kita selesaikan."
Baekhyun menuju meja yang baru dipindahkan ke sudut ruangan itu pagi tadi. Di meja itu tampak setumpuk kertas berisi hitungan.
Jongin duduk di depan Baekhyun.
"Periksalah ini. Apakah benar ini semua pajak yang ditarik ayahku?"
Selagi Jongin memeriksa, Baekhyun mengawasi orang-orang yang sibuk menghitung itu.
Jongin mengangkat kepala dari kertas itu.
"Selain pajak tanah, pajak pendapatan, apakah ayahku juga menarik pajak hasil panen, pajak barang, pajak rumah, pajak ternak, pajak kendaraan, dan semua macam pajak yang ada di situ?"
"Benar, Paduka."
Beberapa orang yang telah selesai memberikan hasil perhitungan mereka pada Kepala Keamanan Istana yang mengawasi mereka.
"Bolehkan saya mengajukan pertanyaan, Paduka?"
"Silakan."
"Mengapa Anda membuat soal yang berbeda-beda?"
"Aku ingin tahu kemampuan mereka yang sebenarnya. Aku membutuhkan orang yang dapat bekerja cepat dan teliti."
"Waktu telah habis!" Jongdae mengumumkan, "Anda dipersilakan beristirahat di kamar Anda masing-masing."
Semua berdiri. Beberapa mengeluh panjang. Yang lain tersenyum senang. Ada juga yang berbisik-bisik. Suasana sepi Ruang Rapat menjadi riuh.
"Seperti anak-anak sekolah yang sedang ujian," gumam Jongin.
"Aku membuatnya seperti itu," sahut Baekhyun dengan senyum manisnya.
Jongdae mendekat. "Semua jawaban telah saya kumpulkan, Paduka."
"Terima kasih, Jongdae. Maukah engkau membawakannya ke Ruang Kerjaku?"
"Dengan senang hati, Paduka."
"Mari kita berangkat, Jongin," Baekhyun mengambil tumpukan tugasnya.
"Ijinkan saya membantu Anda, Paduka," Jongin mengulurkan tangan.
"Terima kasih, Jongin," Baekhyun menyerahkan bawaannya.
Baekhyun meninggalkan Ruang Rapat dikawal kedua orang itu,
Penjaga pintu membukakan pintu untuk mereka.
Jongdae dan Jongin meletakkan kertas-kertas itu di meja.
"Aku tidak ingin merepotkanmu, Jongdae, tapi aku ingin meja kecil di Ruang Rapat itu dikembalikan ke tempat asalnya."
"Keinginan Anda adalah tugas bagi saya," Jongdae membungkuk hormat dan meninggalkan tempat itu.
"Menteri Luar Negeri datang menghadap, Paduka."
"Suruh dia masuk."
"Hamba datang memenuhi panggilan Anda, Paduka," Kwangsoo membungkuk hormat.
"Engkau datang tepat waktu, Kwangsoo. Kemarilah dan bantu kami memeriksa jawaban-jawaban ini."
"Baik, Paduka."
Kwangsoo duduk di samping Jongin.
Baekhyun menyerahkan kepada mereka masing-masing selembar kertas. "Ini adalah jawaban untuk semua soal ini. Perhatikan baik-baik soalnya. Ada lima belas jenis soal di sini."
"Kami akan berhati-hati, Paduka."
Ketiganya segera tenggelam dalam kesibukan mereka. Di antara mereka bertiga, Baekhyunlah yang paling cepat. Gadis itu membuat semua soal itu. Gadis itu pula yang membuat jawabannya. Ia telah ingat semua jawaban, semua angka yang berderet-deret itu.
Selama hari-hari terakhir ini Baekhyun terbiasa bekerja cepat. Tak heran ia menjadi tangkas dalam segala hal namun penuh perhitungan.
Dari 8454 orang yang telah tiba, 157 orang yang lolos dalam pemilihan pertama. Dari pemilihan kedua, yang lolos hanya 36 orang.
Baekhyun memandang kertas yang berisi jawaban yang benar itu.
"Biarkan mereka menanti," kata Baekhyun, "Besok baru kita umumkan. Sampai saat itu tiba, jangan mengatakan hasilnya pada siapa pun."
"Kami mengerti, Paduka."
"Mendekatlah!"
Jongin dan Kwangsoo berdiri di samping Baekhyun.
"Ini adalah hasil perhitungan kasarku," Baekhyun mengangkat selembar kertas, "Kuingin kalian memberitahu mana yang salah, mana yang terlewat."
"Ini, Paduka," Jongin menunjuk sederet angka, "Jumlah yang ditarik lebih besar dari ini."
Baekhyun menghitung kembali hasil perhitungannya. Baik Jongin maupun Kwangsoo tidak henti-hentinya memberi bantuan pada gadis itu. Tiap ada yang salah, mereka tak ragu untuk memberitahu. Mereka juga tidak segan memuji pekerjaan Baekhyun.
Baekhyun juga dengan senang hati menerima pendapat kedua menterinya.
"Sudah saatnya beristirahat!"
Baekhyun terkejut melihat pelayan tuanya yang setia membawa nampan penuh berisi makanan. "Apa yang kaulakukan di sini, Kyungsoo?" Baekhyun memandang seorang wanita, "Jungkook, bukankah aku memberimu tugas untuk mencegahnya bekerja?"
"Maafkan saya, Paduka Ratu, tapi saya pikir Kyungsoo benar. Telah seharian Anda bekerja bahkan Anda sampai melewatkan waktu makan siang. Sekarang terlalu terlambat untuk makan, tetapi tidak untuk waktu minum teh."
Baekhyun hanya menghela nafas. "Letakkan saja di meja lalu antar Kyungsoo kembali ke kamarnya."
"Anda harus beristirahat, Paduka," Kyungsoo menasehati, "Sepanjang minggu ini saya melihat Anda bekerja terlalu keras. Kalau Anda jatuh sakit, siapa yang akan melakukan perbaikan hidup rakyat."
"Selain itu saya tidak suka berdiam diri," Kyungsoo mengingatkan.
Baekhyun diam memandang wajah keriput pelayan tua itu. Dalam benak gadis itu telah muncul gagasan baru.
Rakyat membutuhkan bantuannya saat ini juga. Bukan nanti bukan juga esok, tapi sekarang. Segala perubahan yang dilakukannya membutuhkan waktu lama untuk benar-benar berjalan. Saat ini detik ini pula rakyat mengharapkan batuan.
"Jungkook," kata Baekhyun tegas, "Panggil Jongdae, Tao juga Seokjin saat ini juga."
"Baik, Paduka," Jungkook beranjak pergi.
"Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Kyungsoo keheranan.
"Memberimu pekerjaan," jawab Baekhyun tenang, "Sekarang engkau duduk saja menanti mereka." Baekhyun berpaling pada kedua menteri di kanan kirinya itu, "Mari kita lanjutkan," katanya.
Tak lama kemudian Jungkook datang dengan ketiga pria itu.
"Kami datang menghadap, Paduka," mereka melapor.
"Seokjin, Tao, Jongdae, aku punya tugas untuk kalian," Baekhyun memulai, "Seokjin, ajak pelayan-pelayan Istana membantu Kyungsoo membongkar semua gaun-gaunku juga gaun ibuku dan memilih yang baik untuk diberikan pada rakyat."
Kyungsoo terkejut tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk membantah.
"Kyungsoo, pimpin pelayan-pelayan Istana memilih gaun-gaunku itu lalu bawa ke Hall lantai pertama. Tao, siapkan beberapa kereta kuda untuk membawa gaun-gaun itu. Dan engkau Jongdae, bawa prajuritmu untuk membagikan gaun-gaun itu pada rakyat. Ajak juga para pelayan, kalau engkau kekurangan orang. Untukmu, Jungkook, bantu Kyungsoo dan cegah ia ikut mengangkat kopor-kopor itu."
"Paduka!" Kyungsoo menyahut, "Saya tidak setuju! Gaun-gaun itu menyimpan banyak kenangan. Kalau semua disumbangkan, apa yang tersisa?"
"Aku tahu apa yang kaupikirkan," Baekhyun berkata lembut, "Mama pasti mengerti keinginanku ini. Ia pasti senang gaun-gaunnya berguna untuk rakyat. Aku juga akan senang sekali kalau milikku dapat membantu rakyat yang menderita. Ini adalah langkah kecil yang dapat kulakukan saat ini selagi yang besar masih direncanakan."
"Aku ingin bangsawan-bangsawan lain dan mereka yang kaya membantu rakyat. Tapi, yang lebih dulu melakukannya harus aku, mereka akan mengikutiku. Aku takkan melarang bila kalian ikut membantu. Bantuan yang sangat kecil tetapi penuh keikhlasan akan sangat berarti daripada bantuan besar yang hampa."
"Jongdae, bila engkau sampai di kota, umumkan pada rakyat yang mampu untuk ikutmenyumbang dan pada yang tidak mampu untuk mau datang ke Istana mengambil bantuan. Tao, kalau engkau selesai menyiapkan kereta, aturlah Hall menjadi dua bagian. Satu untuk penerimaan bantuan dan satu untuk pemberian bantuan. Mulai besok Hall dibuka untuk umum dan kalian tetap berkeliling menyalurkan bantuan, tapi tidak di sini melainkan di kota-kota lain. Mungkin di kota-kota lain juga perlu pengumuman, aku akan membuatnya."
Baekhyun mengambil secartik kertas dan mulai menulis.
"Jongdae," panggil Baekhyun seusai menandatangani pengumumannya, "Ini untuk dibacakan di ibukota dan ini di kota-kota lain. Ingat, aku hanya membuat dua. Bila ada pengumuman yang lain, cari dan periksa. Aku tidak mau hal ini digunakan oleh orang-orang tamak untuk mengumpulkan harta."
"Baik, Paduka."
Melihat kelima orang itu masih tidak bergerak, Baekhyun berkata, "Apa yang kalian tunggu?"
"Kami akan melakukan tugas sebaik-baiknya, Paduka," kata mereka serempak sambil membungkuk.
Baekhyun melihat kedua menterinya bergantian. "Kyungsoo benar, kita butuh istirahat." Baekhyun berdiri dan menuju sofa di depan meja kerjanya itu. Baekhyun menuang teh dan memberikannya pada Jongin dan Kwangsoo.
"Terima kasih, Paduka."
Baekhyun tersenyum, "Katakanlah padaku bagaimana kehidupan rakyat selama ini sejauh yang kalian ketahui."
"Rakyat hidup menderita, Paduka. Raja menarik pajak terlalu banyak dan terlalu besar. Sulit bagi rakyat miskin untuk bertahan hidup, banyak orang yang kelaparan di desa-desa. Di di kota, hanya mereka yang kaya yang mampu bertahan hidup. Bangsawan tidak lagi mengalami masa kejayaan. Pajak terlalu tinggi."
"Sulit untuk menjadi kaya," Kwangsoo menambahkan, "Lebih mudah untuk jatuh miskin. Pajak perdagangan pun sangat tinggi."
"Tak ada yang berani menentang Raja. Siapa yang tidak mau membayar pajak akan dipenjara. Raja juga tidak segan-segan membunuh orang yang tidak disukainya. Penjara dipenuhi orang-orang yang menangis menderita. Janda-janda meratapi anak-anaknya. Anak-anak kelaparan."
"Untuk semua itu sudah berakhir," kata Kwangsoo bersemangat, "Anda hadir di sini sebagai bidadari kami. Anda memberikan banyak kebahagiaan. Anda menghidupkan suasana suram ini dan kerajaan yang menderita ini. Banyak anugerah yang Anda berikan tapi Andalah anugerah terbesar kami."
"Terima kasih, Kwangsoo. Aku senang mendengarnya. Aku berharap semua orang juga berpikiran seperti itu. Sayangnya, banyak yang takut dan membenciku."
"Kami tidak membenci Anda, Paduka," hibur Jongin, "Suatu saat nanti rakyat akan mengetahui ketulusan Anda dan mereka akan mencintai Anda."
Baekhyun tersenyum lalu bangkit. "Aku tidak bisa duduk-duduk saja di sini. Aku ingin membantu mereka. Kalau kalian lelah, kalian boleh beristirahat. Aku tidak mengharapkan kalian ikut denganku."
Jongin dan Kwangsoo berpandang-pandangan.
"Bagaimana menurutmu?"
"Bagaimana lagi, Kwangsoo? Paduka gadis yang tangkas. Ia bekerja tanpa henti tapi tak terlihat lelah. Apakah kita harus kalah?"
"Baik! Kita ikut Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun."
Mereka segera mengejar Baekhyun yang telah berada di Hall dan bersiap-siap naik wagon ke kota.
.
.
.
.
"Kami tidak setuju!"
Baekhyun keheranan melihat orang-orang yang dengan tegas menolaknya. "Mengapa tidak?" tanyanya heran, "Tidak ada yang salah bila aku ikut kalian."
"Keselamatan Anda terancam, Paduka," ujar Jongdae, "Kita akan bertemu langsung dengan rakyat. Kemungkinan adanya pemberontak di antara mereka sangat besar. Bila rakyat mengetahui Anda bersama kami, mereka mungkin akan menjadi tidak teratur. Saat itu kami akan kesulitan melindungi Anda. Walaupun seluruh pasukan Istana dikerahkan untuk menjaga Anda, kami tidak dapat melawan rakyat banyak. Selain itu Anda pasti melarang kami mencelakakan rakyat."
Baekhyun tersenyum. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Jongdae. Mereka tidak akan tahu aku ada di antara kalian. Mereka belum bertemu denganku dan hari ini adalah pertama kalinya kita akan menyalurkan bantuan. Tak seorangpun yang mengetahuinya selain kita karena aku baru saja memutuskannya."
"Jongdae benar, Paduka. Perhatian kami nanti akan lebih tertuju pada rakyat daripada untuk Anda."
"Aku tahu, Jongin. Aku telah memikirkannya."
"Biarkan kami sendiri yang melakukannya, Paduka. Kami bisa melakukannya."
"Aku percaya padamu, Tao." Baekhyun diam berpikir lalu ia tersenyum. "Aku tahu bagaimana agar kalian tidak khawatir. Tunggulah aku di sini."
Baekhyun berlari ke dalam.
Orang-orang yang ditinggalkan gadis itu berpandangan-pandangan dengan heran.
Kyungsoo dan para pelayan wanita masih sibuk membongkar gaun-gaun Baekhyun di ruang ganti kamar gadis itu. Mereka tak menyadari kedatangan Baekhyun.
"Tunggu sebentar!" cegah Baekhyun.
"Ada apa, Paduka?" tanya Kyungsoo heran.
"Tidak ada apa-apa, Kyungsoo. Aku hanya ingin mengambil gaun ibuku yang kaupegang itu."
Kyungsoo menyerahkan gaun itu dengan keheranan. "Untuk apa gaun ini, Paduka?"
Baekhyun membentangkan gaun itu di depannya. "Engkau akan tahu, Kyungsoo." Lalu gadis itu menghilang ke kamar tidurnya.
Baekhyun tersenyum puas ketika melihat dirinya di cermin. Gaun hijau tua itu sudah kuno dan membuatnya tampak puritan. Dan, tak ada yang mengenalinya sebagai Ratu Vandella. Siapa yang akan menyangka gadis dalam baju kuno ini adalah seorang Ratu?
"Aku tak ingin menyia-nyiakan pekerjaan kalian, tapi ini akan membuatku semakin mirip gadis desa yang kuno," gumam Baekhyun ketika ia melepas gelungan rambutnya yang berhiaskan muntiara-muntiara murni yang berkilauan.
Rambut keemasan yang panjang itu tergerai hingga hampir mencapai lutut Baekhyun. Sejak ibunya meninggal, Baekhyun terus memanjangkan rambutnya. Rambut kesayangannya itu menyimpan kenangan-kenangan indah saat ibunya masih hidup.
Ketika menyisir rambutnya, Baekhyun teringat ibunya yang suka membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Tanpa disadarinya, Baekhyun menitikkan air mata.
"Sekarang aku menduduki tahta kerajaan ini, Mama. Aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahan serigala itu," janji Baekhyun.
Dihapusnya air matanya lalu ia segera kembali ke Hall.
Semua yang sibuk memindahkan barang ke wagon, keheranan melihat Baekhyun.
"Aku mirip gadis desa?" tanya Baekhyun sambil tersenyum.
Mereka hanya bisa menatap Baekhyun lekat-lekat. Dengan gaun hijau tuanya yang sudah kusam itu, Baekhyun tidak nampak seperti seorang ratu. Gaun polos itu terbuat dari kain katun biasa dengan lengannya yang panjang dan kerahnya yang menutup rapat leher Baekhyun yang indah. Dengan rambut panjang yang tergerai, Baekhyun mirip gadis perawan jaman kuno.
"Tampaknya kita harus mengalah, Jongdae."
"Anda benar, Tuan Kwangsoo."
Baekhyun tersenyum puas. "Mana kereta yang sudah siap?"
"Kereta ini yang hampir siap untuk diberangkatkan, Paduka," jawab Tao, "Kami menanti bingkisan terakhir. Itu dia datang!"
Pelayan memasukkan sebungkus gaun terakhir ke dalam wagon.
"Ayo kita berangkat!" Baekhyun memanggil Jongin dan Kwangsoo. Lalu ia menerima uluran tangan dua prajurit di dalam wagon.
Kwangsoo menatap Jongdae. "Engkau yang kami andalkan."
"Jangan khawatir, saya tidak akan pergi dari sisi Paduka."
Kusir kuda segera membawa wagon meninggalkan Azzereath setelah semua naik.
Semua yang ada di dalam kereta mencemaskan keselamatan Baekhyun. Hanya gadis itu sendiri yang tidak tampak cemas. Gadis itu tampak gembira.
Senyum gembiranya berubah menjadi senyum ramah ketika kereta berhenti di sebuah pemukiman miskin.
Penduduk tempat itu keheranan melihat datangnya wagon besar itu dan mereka lebih keheranan ketika seorang prajurit berseru,
"Kami datang membawa bantuan untuk kalian. Bila kalian mau, antrilah di sini."
Penduduk berbisik-bisik.
Baekhyun segera bertindak. Sebelum ada yang menyadari tindakannya, ia meloncat turun. Gadis itu membawa sesuatu dalam keranjang dan berjalan mendekati orang tua yang tengah berbaring lemah di depan rumah reyot.
Orang-orang yang di dalam wagon terkejut. Mereka berteriak, "Pa…" Tiba-tiba mereka menutup mulut rapat-rapat. Mereka sadar kata-kata yang biasa mereka sebut untuk memanggil Baekhyun itu bisa membuat celaka gadis itu.
Jongdae melompat turun dan segera mengejar Baekhyun.
Baekhyun berlutut di sisi orang tua itu. Ia mengeluarkan makanan yang ada di dalam keranjang dan memberikannya sambil berkata, "Terimalah, Tuan. Saya membawanya untuk Anda. Jangan membiarkan Anda dan keluarga Anda kelaparan."
Baekhyun melihat anak-anak kecil yang kurus kering di sisi pria tua itu. Ia tersenyum ramah pada mereka dan berkata, "Saya yakin kalian mau mencoba kue-kue yang lezat ini."
Anak-anak kecil itu tanpa ragu mengambil sendiri apa yang ada di keranjang Baekhyun. Mereka terlalu lapar untuk memikirkan siapa Baekhyun dan mengapa ia datang membawa makanan.
Pria tua itu tidak tahan melihat anak-anaknya makan selahap itu. Ia mengulurkan tangan mengambil roti yang diulurkan Baekhyun padanya.
Melihat mereka makan dengan lahap, Baekhyun tersenyum senang. Penduduk lain yang juga kelaparan tidak dapat menahan air liur mereka. Perut mereka merengek minta makan melihat teman-teman mereka makan dengan lahap. Mereka segera menyerbu Baekhyun.
Jongdae segera melindungi Baekhyun. "Kalian bisa mengambil makanan sebanyak-banyaknya di kereta!"
Orang banyak itu beralih ke kereta.
"Paduka membuktikan perbuatan lebih berguna daripada kata-kata," kata Jongin lalu ia melompat turun diikuti prajurit lain.
Dalam waktu singkat mereka sibuk menurunkan makanan dari kereta untuk diberikan pada warga. Mereka sibuk mengatasi tangan banyak yang terulur itu. Beberapa orang berusaha masuk ke kereta untuk mengambil sendiri makanan dan membuat prajurit kebingungan.
"Tenang! Semua pasti mendapatkan!"
Teriakan-teriakan itu terdengar di sekitar kereta.
Baekhyun melihat kereta yang dikerumuni orang yang sedang berebutan itu. Ia berdiri dan berjalan ke sana untuk membantu mereka.
Jongdae segera menyusul gadis itu untuk melindunginya dari kerumunan orang banyak. Jongdae turut membantu menurunkan barang-barang dan membagikannya pada orang-orang.
Karena semua mencegah ia turun tangan, Baekhyun hanya bisa duduk di antara orang-orang itu dan berbincang-bincang dengan mereka. Sambil berbincang-bincang, Baekhyun memberikan obat-obatan kepada mereka yang membutuhkan. Gadis itu juga tidak segan merawat mereka yang terluka.
Jongdae yang berjanji untuk terus berada di sisi Baekhyun, mengambilkan segala yang diperlukan gadis itu.
"Anda pusing?" tanya Baekhyun penuh perhatian, "Sejak tadi saya melihat Anda terus memegang dahi."
"Tidak, Nona."
Baekhyun tersenyum. "Jongdae, tolong kau carikan obat untuk Tuan ini."
"Baik, Nona."
Baekhyun merasa pria itu terus menatapnya tetapi ia tidak mempedulikannya. Dalam hari-hari terakhir ini, Baekhyun sudah biasa menjadi pusat perhatian. Gadis itu meneruskan kesibukannya menjadi dokter untuk orang-orang miskin itu.
Pria itu terus berusaha mengenali Baekhyun. Ia merasa pernah bertemu gadis itu. Di suatu waktu dan di suatu tempat. Ia terus berpikir keras.
"Anda membuat saya khawatir, Tuan. Apakah Anda sakit? Kalau Anda merasa tidak sehat, silakan mengatakannya. Saya akan mencari dokter untuk Anda."
Pria itu terus menatap Baekhyun. Mata biru yang penuh perhatian itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang dengan tegas berkata…
"Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun!" seru pria itu, "Tidak salah lagi. Anda pasti Paduka Ratu. Saya pernah melihat Anda di Gedung Parlemen ketika Anda mengumumkan kematian Raja Kris."
Baekhyun terkejut. Mungkinkah pria itu adalah salah satu wartawan yang dulu mengikui jalannya kegiatan di Gedung Parlemen.
Tetapi, Jongdae lebih terkejut lagi. Ia cepat-cepat menghampiri Baekhyun dan membantu gadis itu berdiri.
Orang-orang berpandang-pandangan tak percaya.
"Anda pasti Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun," kata pria itu percaya diri.
"Sebaiknya kita segera kembali, Paduka," bisik Jongdae.
Baekhyun tersenyum manis pada pria itu lalu mengikuti Jongdae ke kereta.
Melihat keributan itu, pasukan segera bersiap-siap kembali ke Azzereath.
"Paduka! Paduka!"
Orang-orang itu berseru memanggil Baekhyun dan berusaha mendekati gadis itu. Namun, pasukan segera menghadang mereka.
"Paduka! Paduka!" Orang-orang itu melambai-lambaikan tangan kepada Baekhyun. "Paduka, terima kasih! Terima kasih atas kebaikan hati Anda!"
"Mari, Paduka," Jongin dan Kwangsoo dengan tidak sabar mengulurkan tangannya.
Pasukan yang sedikit itu mulai tidak sanggup menghadapi rakyat yang terus memaksa mendekati Baekhyun.
"Kita kembali ke Istana Azzereath!" seru Jongdae.
Segera pasukan itu melompat ke kereta. Kusir kuda melajukan kereta dengan kencang.
"Terima kasih, Paduka! Terima kasih!"
Dari dalam kereta, Baekhyun melihat mereka berlutut di tanah dan menyembah-nyembah sambil terus meneriakkan ucapan terima kasih mereka. Hingga mereka jauh pun suara-suara itu masih terdengar.
"Maafkan aku," kata Baekhyun, "Aku tidak bermaksud membuat kalian kewalahan."
"Sudah menjadi tugas kami untuk melindungi Anda, Paduka," jawab mereka hampir bersamaan.
"Aku senang mempunyai orang-orang sesetia kalian. Kalian selalu menjaga dan melindungiku. Aku takkan melupakan hal ini."
"Anda terlalu berlebihan, Paduka. Tugas kami adalah terus menjaga dan melindungi Anda," kata Jongdae.
Baekhyun hanya tersenyum.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
THANKS TO
whey.K (Kamu setia banget selalu review di ff remake aku mumumu:33), enoanggraeni250712,
Baeks06 (Kamu juga selalu revieww, makasih ya;vv), baekidora, ByunJaehyunee(Kamu selalu reviewww, thanks banget;vvv), parkbaexh614, parkbaekhyun276, exindira, Chanbaekhunlove, yousee, ohbyunpark, nne, cara mengatasi(Sekedar pemberitahuan, tidak akan ada NC;vv), ChanBMine(Kamu muncul lagi di review aku, jangan bosen bosen ya:pp), erry-shi, yoogeurt, gentaca, byunbaek92(Hihi^^ makasih cinguu udh mau read and review:33 semangat buat kita ya:999).
BTW, aku mau nanya dengan words yang lebih dari 5K+ ini kalian bosen ga bacanya? atau mau aku kurangin aja? soalnya takutnya bosen gituuuu~~ tolong dijawab ya. ceritanya selesai di chapter 8.
So, review?
See you next chap^^
Byunnerate
