Selasa, 24 November 2015

Waktu masih menunjukkan pukul empat subuh saat Gaara membuka matanya. Di pelukannya, Hinata masih tertidur. Gaara tidak pernah terbiasa tidur lebih dari tiga jam. Jadi ini termasuk rekor baru baginya yang tidur selama enam jam.

Gaara akui, tidurnya cukup pulas semalam. Ia tidak bermimpi, tubuhnya benar-benar beristirahat. Dinginnya udara dari AC membuat Gaara mengeratkan pelukannya pada Hinata yang terlihat sangat nyaman dengan posisinya. Gaara mengecup kening Hinata, pelan, tidak mau menganggu si putri tidur.

Di luar, hujan turun. Awalnya gerimis, tapi makin lama makin deras. Suara ribut akibat tetesan hujan yang memukul atap seng tidak mengusik tidur Hinata. Suhu kamar semakin dingin karena tercampur suhu dari luar yang masuk melalui cela-cela ventilasi.

Gaara mengecup hidung mancung nan mungil Hinata kemudian berpindah ke pipi gembulnya. Gaara merasa seperti seorang suami yang sedang memanjakan istrinya. Tidak puas dengan pipi, Gaara juga mengecup kening dan pelipis Hinata.

Merasa terganggu, Hinata menggeliat. Gaara melepaskan pelukannya agar Hinata dapat bergerak sesukanya. Well, kalau ditahan kemungkinan besar Hinata akan bangun, dan Gaara tidak mau membangunkan calon istrinya. Hinata berbalik, sekarang membelakangi Gaara.

Mengelus rambut indigo Hinata yang terbentang di hadapannya, Gaara mendekat, mendekap Hinata dari belakang.

Aroma lavender menusuk hidungnya yang menempel di rambut Hinata. Aroma yang menenangkan itu secara perlahan membawanya ke alam mimpi. Di mimpinya, pernikahan sedang dijalankan, namun ia sendiri tidak ada di sana.

.

Tok tok

Pintu diketuk sebelum seseorang melangkah masuk dengan pelan. Hanabi, si pelaku, berjalan tanpa suara agar tidak mengganggu sejoli yang sedang tidur nyenyak di hadapannya. Jam masih menunjuk angka lima, tapi Hanabi harus bergegas sebelum Neji datang.

"Nee-chan..."

"Hm?" Hinata menyahut asal.

"Bangun, nanti Neji-nii datang."

"Hm."

Hanabi berdecak kesal. Ia menggoyangkan bahu Hinata cukup keras sebagai alat bantu. "Bangun, Nee-chan!" bisiknya setengah berteriak.

Hinata yang terganggu menggeliat kemudian berbalik membelakangi Hanabi. Gaara yang merasakan pergerakan dari Hinata semakin mempererat pelukannya. Posisi mereka yang terlalu intim dan romantis membuat Hanabi semakin kesal.

"Nee-chan!" kali ini Hanabi berteriak.

Terdengar suara derap kaki sebelum suara Neji menyusul dari balik pintu. "Hanabi? Kenapa ribut-ribut?"

Mata Gaara terbuka lebar setelah mendengar suara Neji. Pintu terayun terbuka saat Gaara dengan secepat kilat melepaskan pelukannya dan bersembunyi di bawah tempat tidur. Neji muncul dari balik pintu dan mendapati Hinata menggeliat karena terganggu dengan gerakan Gaara barusan.

"Aku mendengar suara jatuh."

Gaara merutuk dalam hati. Kepalanya pusing karena bangun tiba-tiba, jantungnya berdetak cepat tidak karuan. Ia mengusap keningnya yang tiba-tiba lembab.

"E-etto..." Hanabi berpikir keras. "Um, itu hanya suara kakiku. Aku terlalu kesal karena Nee-chan tidak mau bangun." Kebohongan itu meluncur dengan mulusnya dari mulut Hanabi.

"Hm?" Hinata menyahut saat mendengar namanya disebut-sebut.

"Alasanmu tidak masuk akal. Ini masih jam lima."

Hanabi meneguk ludah. "T-tapi aku harus buru-buru. Hari ini ada pengumpulan tugas."

Di bawah tempat tidur, Gaara menunggu. Menyimak dengan baik setiap kata-kata yang keluar dari mulut Hanabi dan tanggapan yang diberikan Neji.

Neji tidak percaya, tapi tetap menerima alasan tersebut. Pengumpulan tugas memang selalu dilakukan pagi-pagi sebelum bel masuk berbunyi. Hanabi yang notabene-nya malas mengerjakan tugas, selalu datang lebih pagi untuk mengerjakannya di sekolah. "Ya sudah. Hinata cepat bangun, kita berangkat lebih awal."

Hinata duduk kemudian mengangguk cuek sambil mengucek-ngucek matanya. Neji lalu memutuskan untuk keluar dan memberi waktu bagi Hinata untuk bersiap-siap.

Gaara keluar setelah mendengar suara pintu tertutup. "Itu hampir."

Hanabi memutar bola mata. "Salah kalian!" seru Hanabi. "Sudah ku bangunkan dari tadi," tambahnya dengan muka cemberut.

Gaara tidak memedulikan kemarahan Hanabi dan mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah seolah itu hanyalah hal sepele. "Sudah, kami akan bersiap-siap."

Geram, Hanabi keluar dari kamar sambil membanting pintu.

"Ku pikir kalian akan akrab," komentar Hinata setelah sadar sepenuhnya. Ia melewatkan momen-momen menegangkan yang baru terjadi. Yang ia tangkap barusan hanyalah Hanabi yang marah pada Gaara.

"Neji menyuruhmu bersiap-siap," kata Gaara. Ia membuka kaosnya dan mengambil handuk Hinata.

"Kau bawa seragam?"

Gaara yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi berbalik. "Ya, kenapa?"

Hinata menggeleng pelan.

Gaara tersenyum kecil sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

Sudah pada kodratnya manusia dengan gender laki-laki selalu mandi dengan waktu kurang dari sepuluh menit. Bahkan biasanya kurang dari lima menit. Hinata yang terbiasa dengan gaya Neji dan Hiashi yang selalu lambat karena rambut panjang mereka, terkejut melihat Gaara yang sudah selesai mandi dalam kurun waktu enam menit.

"Apa?"

Hinata menggeleng, mengambil seragamnya di tempat tidur, dan meninggalkan Gaara yang masih berbalutkan handuk ungunya di luar. Setelah terdiam cukup lama di dalam kamar mandi, Hinata memutuskan untuk kembali keluar dan menimbulkan tatapan bertanya dari si bungsu Sabaku.

"Eto... H-handukku?"

Gaara dengan tempat-alisnya-seharusnya-berada terangkat, melirik ke arah handuk Hinata yang menutupi daerah intimnya. Tetes-tetes air yang jatuh dari rambut basahnya mengalir menuruni dada bidangnya yang berbentuk, membuat Hinata meneguk ludah.

"Kau mau sekarang?"

Hinata mengangguk.

Hinata bahkan tidak yakin apa yang ia pikirkan sama dengan apa yang Gaara tanyakan.

"Oke," kata Gaara lalu membuka handuknya.

.

Sebelum kabur lewat jendela, Gaara sempat menjelaskan skenario yang akan mereka jalani pagi ini. Tas berukuran sedang dengan label nike tersimpan di bawah tempat tidur Hinata. Jarum pendek menunjuk angka enam saat Gaara menklakson mobil dari luar.

"Siapa pagi-pagi ribut begini?" Neji bertanya sembari berjalan menuju pintu.

Hanabi memutar bola mata. Hinata menyibukkan diri dengan mengecek isi tas sekolahnya. Hiashi membalikkan halaman korannya. Neji kembali dengan membawa Gaara di belakangnya.

"Tou-san," sapa Gaara pada Hiashi yang sedang sibuk membaca berita penculikan di koran.

Hiashi mendongak. "Ah, Gaara," katanya, "aku tidak tahu kau akan menjemput Hinata."

Menutup koran, Hiashi mempersilakan Gaara duduk, yang kemudian ditolak Gaara secara halus dengan alasan masih ingin menjemput Naruto dan Sasuke. Hiashi bertanya tentang itu, dan Gaara menjelaskan secara singkat. Setelah Hinata siap, mereka berangkat.

"Sasuke itu... Sasuke Uchiha, kan?" tanya Hiashi pada Neji sembari kembali membuka koran.

Neji mengangkat bahu. "Aku belum pernah bertemu dengan mereka."

Hiashi mengangguk beberapa kali. "Mungkin aku harus mengadakan reuni," gumamnya.

"Oh ya, Hanabi, bukankah kau terburu-buru?" tanya Neji pada Hanabi yang asik menonton TV.

"Ha?"

Neji menghentikan aksi merapikan isi tasnya dan fokus pada Hanabi. "Kau bilang hari ini ada pengumpulan tugas," kata Neji dengan sedikit nada bertanya.

Hanabi kemudian mengingat kebohongannya tadi pagi. "Oh, ya, ya. Mereka bilang tidak jadi."

"Begitukah?" Hanabi mengangguk mantap. "Kalau begitu cepat, hari ini jadwal kuliahku pagi."

"Oke," sahut Hanabi tapi tidak bergeming dari tempatnya. Dia tidak mengerti mengapa ulangan drama Korea favoritnya harus pagi-pagi.

Mematikan TV, Neji berujar, "Kalau masih mau nonton lebih baik tidak usah sekolah."

Hanabi memasang muka cemberut kemudian menyusul Neji keluar.

.

Kelas yang ribut di jam pelajarannya sudah menjadi hal biasa bagi Kakashi. Pelajarannya selalu selesai lebih awal sehingga memungkinkan murid-muridnya untuk rileks selama 25 menit.

Pintu yang diketuk tidak terdengar lagi, sehingga kemunculan tiba-tiba wakil kepala sekolah langsung membuat kelas sunyi.

"Ada pengumuman," katanya setelah meminta waktu dari Kakashi. "Ujian semester dimulai Jumat ini dan berakhir Jumat depan," lanjutnya.

Seorang murid berambut biru muda dengan name-tag Suigetsu mengangkat tangan, "Seingatku ujian selalu dimulai hari Senin."

Gaara yang merasa telinganya terganggu pertanyaan bodoh mengangkat kepalanya.

Anko selaku wakil kepala sekolah sekaligus guru kimia merasa kecewa. "Kau seperti murid baru saja."

Murid lain tertawa saat Anko menceramahi Suigetsu. Ada juga yang ikut mencemooh betapa bodohnya Suigetsu. Di tengah keributan, Hinata bertanya dengan suara pelan, "Masih ngantuk?"

Gaara menggeleng. Lagian dari tadi dia tidak tidur. Punggungnya ia sandarkan di sandaran kursi dan telinganya fokus mendengarkan penjelasan Anko. Sebejat-bejatnya Gaara, pelajaran masih prioritas utamanya.

"Jadwal ujian ada di bawah," kata Anko, mengakhiri penjelasannya. Ia keluar bersamaan dengan bunyinya bel pergantian pelajaran.

Kakashi yang keluar dari kelas tidak diperhatikan siswa-siswi lain yang sibuk membicarakan ujian semester.

"Oke, pertama-tama kita harus mendemokan hal ini," Suigetsu mengambil peran provokator.

"Getsu, kau lebih bodoh dari Naruto."

"Jaga mulutmu, Shika!"

"Terima kenyataannya, Naruto."

Gaara menidurkan kepalanya di bahu Hinata. Asuma-sensei jarang masuk. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya merokok di luar lingkungan sekolah. Paling dia akan memberikan soal untuk ujian sejarah nanti. Dapat dipastikan soal latihan yang ia berikan sama dengan soal ujian nanti. Memejamkan mata, Gaara menikmati senandung kecil Hinata selama menggambar.

"Gar," panggil Naruto.

"Tidak."

Naruto mengacak rambut frustasi. "Apa gairahmu sudah berkurang?"

Hinata yang tidak mengerti tetap melanjutkan aktivitasnya.

Gaara mengangkat bahu, lalu dengan cuek menyelipkan wajahnya di lipatan leher Hinata.

Naruto mendecak kesal. Kalau sudah begini, Gaara susah dibujuk. Menyenggol Sasuke di sampingnya untuk meminta bantuan, Naruto dihadiahi tatapan membunuh dari Sasuke yang merasa tidurnya terganggu. Naruto menyipitkan mata dan mengembuskan napas. Bosan adalah satu kata yang menggambarkan keadaannya saat ini.

Hinata yang memerhatikan Naruto merasa iba. "Gaara-kun," panggilnya. Gaara menyahut pelan sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Hinata. "Naruto kenapa?"

Masih cuek, Gaara mengangkat bahu. "Sabtu nanti mau kencan?"

Hinata merona.

"Kau tidak ada pelajaran tambahan, kan?"

Sekolah mereka tidak terlalu mengutamakan pelajaran, lebih kepada minat para siswa. Mata pelajaran dalam sehari hanya tiga. Pelajaran ke-empat adalah optional. Kegiatannya mirip ekstrakulikuler dan para siswa tidak diwajibkan untuk ikut. Biasanya siswa yang tidak ikut langsung pulang, beberapa akan tetap tinggal di sekolah untuk mengerjakan PR bersama. Untuk siswa dengan kecerdasan di atas rata-rata akan meminta pelajaran tambahan. Hari Sabtu diliburkan. Biasanya juga dijadikan hari ekskul.

Hinata mengikuti semua kegiatannya, tapi semua jauh dari kata 'olahraga'. Akhir-akhir ini dia tidak mengikutinya, toh itu tidak wajib. Mendekati hari kelulusan, Hinata memilih untuk bergabung dengan Shikamaru mengikuti pelajaran tambahan.

Menggeleng kecil, Hinata membuka suara, "K-kita ke mana?"

Gaara mengangkat kepalanya dan menatap Hinata dengan tatapan menggoda. "Jadi sudah setuju?"

Hinata semakin merona, Gaara terkekeh pelan.

"Nanti ku jemput," kata Gaara, "dan urusan kita ke mana itu rahasia," tambahnya, kemudian mengecup pipi Hinata dengan gemas.

.

Tumpukan dokumen di mejanya sudah berkurang berkat bantuan sekretarisnya kemarin. Tinggal dua dokumen yang harus disortir dan Gaara bisa pulang. Gaara membutuhkan cuti seminggu untuk fokus pada ujiannya. Ia sudah menelpon ayahnya tadi siang dan ayahnya setuju. Katashi juga bilang hari ini dia akan pulang karena urusan di Jerman sudah selesai.

Cahaya matahari sore menyinari kantor Gaara. Walaupun ingin menyalakan lampu, Gaara tidak mau mengganggu si putri tidur yang sedang terlelap dengan nyaman di sofa kantornya. Pakaian sekolah masih melekat di tubuh keduanya. Baju ganti ada di lemari kantornya, tapi Gaara merasa tidak solid jika harus membiarkan Hinata seorang diri berbalutkan baju sekolah.

Dokumen terakhir selesai. Gaara mematikan laptop kemudian merapikan mejanya yang sedikit berantakan. Ada tumpukan kertas berisi sketsa wajahnya yang sedang bekerja dalam berbagai ekspresi hasil gambaran Hinata. Gaara merapikan dan memasukkannya ke dalam laci.

Setelah itu, Gaara menghampiri Hinata yang terselimuti jas kerjanya. Menyusupkan satu tangan di balik rok Hinata, Gaara mengelus paha Hinata naik turun dengan irama teratur.

Ia menunduk, mengecup kening Hinata kemudian berbisik, "Bangun, Nata."

Hinata menggeliat merasakan embusan napas Gaara di telinganya. Ia membuka matanya perlahan dan menemukan mata azure milik Gaara menatap balik ke arahnya. Hinata mengusap matanya kemudian bangkit duduk dibantu Gaara. Ia menurunkan kedua kakinya. Mencari-cari sepatunya kemudian menyerah saat melihat sepatunya di samping pintu.

"Sudah puas tidurnya?" Hinata menggeleng kecil. Gaara duduk di samping Hinata kemudian menarik kepala Hinata untuk bersandar di dadanya, namun ditolak Hinata dengan alasan posisinya tidak nyaman.

"Kau seksi kalau baru bangun tidur," komentar Gaara disertai seringai mesum.

Hinata yang masih mengantuk mengabaikan komentar Gaara dan menguap kecil. Ia memperbaiki posisi duduknya kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.

Gaara mendekat. Mengecup pipi Hinata lalu turun ke lehernya. Ia menjilat, menghisap, dan menggigit kecil leher Hinata sehingga menciptakan ruam kemerahan. Hinata yang merasa tidak nyaman menarik kepalanya menjauh dari Gaara. Namun Gaara menahannya dan kembali melanjutkan aktivitasnya.

"G-Gaara-kun..." panggil Hinata lirih.

Gaara menidurkan Hinata di sofa. Bibirnya tetap aktif memberi kissmark di leher Hinata, yang perlahan turun ke dadanya. Hinata mendesah merasakan remasan pelan di dadanya. Ia menggeliat, sedikit mendorong Gaara agar menjauh darinya.

Mengabaikan Hinata sepenuhnya, Gaara mulai membuka satu per satu kancing seragam Hinata. Udara sejuk dari pendingin ruangan tidak lagi terasa bagi keduanya. Setelah sukses membuka seragam Hinata, kedua tangan Gaara merayap di punggung Hinata dan membuka pengait branya. Kini kedua payudara Hinata bebas tanpa penghalang.

Dengan tidak sabaran, Gaara menerjang payudara kiri Hinata. Menghisap puting merahnya kuat-kuat menimbulkan jeritan tertahan dari Hinata. Tangan kirinya meremas kuat payudara kanan Hinata.

Hinata menjerit saat Gaara dengan sengaja menggigit putingnya sebelum beralih ke payudara kanannya. Kedua tangannya ia gunakan untuk meremas rambut merah Gaara. Peluh membasahi tubuhnya. Bibir bawahnya ia gigit keras-keras untuk menahan desahan demi desahan.

Tangan Gaara turun ke bawah, menyingkap rok sekolah Hinata dan mengusap pelan paha dalam Hinata. Kedua kakinya ia letakkan di antara kedua paha Hinata, mencegahnya menutup. Tepat saat Gaara akan menurunkan celana dalam Hinata, pintu diketuk.

Keduanya membeku. Suara ketukan kembali terdengar membuat Hinata mendorong Gaara dan merapikan pakaiannya yang berantakan. Setelah memastikan Hinata berpenampilan normal, Gaara membuka pintu dengan kesal dan mendapati ayahnya memandang dengan satu alis terangkat.

"Aku mengganggu?"

Di balik punggung Gaara, Hinata mengintip.

Katashi memberi senyum ramah pada Hinata yang dibalas Hinata dengan senyum kikuk. "Kenapa Tou-san ke sini?"

Katashi mengangkat bahu. "Hanya bertanya-tanya kenapa anakku belum juga pulang ke rumah."

Gaara tahu itu hanya alasan. "Apa ada sesuatu?"

"Kurasa kita bisa membicarakannya di dalam," jawab Katashi lalu mendorong Gaara ke samping agar ia bisa masuk.

"Hm, kurasa aku bisa menduga apa yang kalian lakukan di ruangan gelap seperti ini." Katashi melipat tangan di depan dada sambil mengangguk-angguk.

Hinata menenggelamkan wajahnya di punggung Gaara. Dengan cuek, Gaara menutup pintu lalu menyalakan lampu, kemudian menarik Hinata untuk kembali duduk di sofa tempat mereka baru saja melakukan adegan panas. Katashi memilih sofa seberang yang memang selalu menjadi singgasananya setiap menerima tamu.

"Kita bisa langsung ke intinya," pria paruh baya itu menatap Hinata yang duduk dengan kaku. "Tapi sebelumnya aku ingin mengenal calon menantuku."

Gaara mendecak sebal. "Tou-san," geramnya.

"Nafsu yang tertahan memang menyebalkan," gumam Katashi. "Begini, hari Sabtu jangan kemana-mana. Ayah Hinata mengadakan reuni dan mewajibkan semua anggota keluarga untuk ikut."

"Kami ada kencan," protes Gaara.

"Minggu 'kan bisa."

"Tidak bisa!"

"Kau mau batal nikah?"

Gaara diam.

Katashi mengembuskan napas lelah. Perjalanan dari Jerman ke Jepang cukup menguras tenaganya. Dan kini anak bungsunya ikut-ikutan menguras tenaganya. "Acaranya jam tujuh malam di Capricorn Hotel. Lantai dua, restoran Italia."

.

Sabtu, 28 November 2015

Hotel yang tidak pernah sepi. Jika berbicara tentang keramaian, Shibuya adalah saingannya. Hotel terbesar di Tokyo, berada dekat pantai yang menjanjikan pemandangan indah siang dan malam. Cabangnya ada di mana-mana, namun yang paling terkenal adalah yang ada di kota Tokyo. Direkturnya adalah Francis R. Dubois, salah satu kolega Katashi di Prancis.

Hotel yang terkenal karena gaya zaman delapan puluhan ini juga menyajikan berbagai hidangan lezat. Penyajian dan pelayanannya dipastikan sempurna. Harganya khusus kalangan atas.

Hinata berbalutkan gaun cocktail ivory berjalan masuk ke dalam lift bersama Neji. Seharusnya mereka berdua sudah bisa berkumpul dengan yang lainnya jika saja Hinata tidak melupakan tasnya di mobil. Lift yang awalnya hanya dihuni oleh mereka berdua beranjak ramai saat lift singgah di lantai satu untuk mengambil penumpang.

Seharusnya hari ini ia pergi berkencan dengan Gaara. Hanya saja, ayahnya yang notabene-nya pemaksa, mengurungnya di salon selama berjam-jam.

'Mengurung' dalam artian Hinata dikawal tiga bodyguard yang akan mencegahnya kabur dari salon.

Lift berdenting sekali dan pintu membuka. Hanya beberapa orang yang keluar dari lift, termasuk Neji dan Hinata, sedangkan yang lainnya tinggal dan bergabung dengan penumpang yang baru masuk. Memang tidak pernah sepi.

Neji menggandeng tangan Hinata menuju ruang VIP di restoran Italia dengan papan nama 'Hyuga' di samping kanan pintunya. Ruangan dengan desain kontemporer itu sudah penuh dengan tamu undangan. Hinata tidak terkejut melihat Sasuke dan Gaara. Hanya saja...

Naruto diundang, ya?

"Tidak. Aku tidak diundang, makanya aku datang," jawabnya dengan tawa saat Neji bertanya.

Ruangan itu bernuansa cokelat tua dan muda, serta warna cream di beberapa perabotan. Ruangan yang tidak terlalu luas itu diterangi oleh lampu kristal yang menghasilkan cahaya kuning di tengah langit-langit ruangan. Di satu sisi ruangan ada jendela besar seukuran dinding ruangan yang menyajikan pemandangan pantai.

Gaara mengambil tempat di samping Hinata. Memuji penampilannya hari ini, membuat Hinata merona malu. Hinata juga cukup kagum pada penampilan Gaara hari ini. Setelan tuksedotriple black yang sangat pas di tubuh Gaara dipadukan dengan celana panjang hitam dan sepatu pantofel. Rambutnya acak-acakan seperti biasa. Namun dengan pakaian formalnya saat ini, Gaara menjadi terlihatsexy.

Oke, Hinata sudah tertular Gaara.

Tujuh lewat tiga puluh makanan pembuka telah disajikan. Beraneka macam potongan buah-buahan disajikan dalam dua piring besar berbentuk kapal dengan masing-masing saus pelengkap di kedua ujung piring. Naruto yang tidak peduli tata krama saat lapar langsung mengambil beberapa potong buah ke piringnya tanpa menawarkannya pada para orang tua terlebih dahulu.

"Itachi di mana?" tanya Fugaku pada Sasuke di sebelahnya. Mikoto mengambil beberapa potong buah untuk dirinya dan suaminya dalam satu piring. Gaara yang tidak mau kalah melakukan hal yang sama.

Sasuke mengangkat bahu. "Dia bilang agak telat. Ada urusan katanya," jawabnya cuek.

Di sebelah kursi kosong tempat Itachi seharusnya berada, ada Karura dan Katashi yang saling suap menyuapi. Sekali lagi, Gaara yang tidak mau kalah melakukan hal yang sama. Ia menaikkan levelnya dengan menggunakan garpu yang sama.

Hiashi yang merasa terkucilkan karena tidak memiliki pasangan merasa menyesal telah mengadakan pesta reuni. Kankuro yang merasa style hidup Naruto yang liar cocok dengannya, meminta Temari bertukar tempat dengannya yang segera disetujui Temari. Neji yang duduk dengan kursi kosong sibuk menelpon Tenten yang tak kunjung datang.

"Kau tahu, bajumu kurang turun ke bawah," bisik Gaara dengan seringai mesum.

Hinata hampir tersedak jika saja ia tidak bisa mengontrol dirinya. "G-Gaara-kun," panggil Hinata kemudian menggenggam tangan Gaara—memintanya untuk berhenti dalam diam.

Gaara tersenyum senang dan dengan senang hati pula menerima suapan anggur dari Hinata.

.

Tach dengan jubah Akatsuki kebanggaannya berjalan masuk menuju lift yang penuh dengan manusia berbeda gender. Ia berdiri dengan tenang di sudut lift, tidak peduli dengan tatapan kagum beberapa gadis atau tatapan aneh dari seorang anak kecil.

"Apa kau akan membunuh?" tanya anak itu setelah memerhatikan Tach cukup lama.

Ibu dari anak tersebut segera membungkam mulut anaknya dan meminta maaf pada Tach. Tersenyum ramah, Tach mengucapkan 'Tidak apa-apa' tanpa suara.

"Kau ramah."

Pintu lift akhirnya menutup setelah kapasitas penumpang telah tercapai. Tach menoleh dan mendapati seorang gadis cantik berambut cokelat dengan gaun one shoulder orchid menatapnya dengan pandangan menilai. Tach yang merasa tertarik segera memperkenalkan diri.

"Namaku Tach Uchiha, Direktur Perusahaan Akatsuki."

"Tenten," balas gadis itu dengan cuek. "Pertama, kombinasi nama yang aneh. Kedua, aku sudah punya pacar," tambahnya.

Lift berdenting sekali dan Tach melirik ke penanda digital untuk melihat angka yang tertera di sana. "Tidak keluar?" tanyanya pada Tenten.

"Tujuanku lantai dua."

"Sama."

"Aku tidak tanya."

Menarik.

Pintu lift kembali menutup dan membawa penumpangnya menuju lantai berikutnya.

"Gadis cuek cukup menantang bagiku."

Tenten memutar bola matanya. Ia melipat tangan di depan dada lalu berkata, "Pacarku juga menantang untukmu."

Tach tersenyum kecil. Lift kembali berdenting dan mereka melangkah keluar bersamaan dan melangkah menuju restoran yang sama. "VIP?"

Tenten mengangguk cuek. Ia melirik jam tangannya sebentar dan sadar ia sudah terlambat 40 menit. "Aku harus cepat," gumamnya sembari mempercepat langkahnya.

Papan nama 'Hyuga' ada di depan mata. Tenten merasa bersyukur tidak perlu berjalan jauh dengan stiletto putihnya yang melelahkan. Salah seorang pelayan membukakan pintu dan segera diberikan senyum hangat oleh Tenten. Di dalam, Tenten dapat melihat makanan pembuka yang sudah habis setengah. Matanya bertabrakan dengan Neji yang menatap lega ke arahnya.

"Itachi! Kau lama sekali!" seru Mikoto.

Tenten mengernyit bingung lalu menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat Tach berdiri dengan senyum sok kerennya. "Tach, Mom," katanya sambil berjalan masuk mendahului Tenten.

"Nama bodohmu itu tidak cocok dengan margamu," komentar Fugaku.

Tach tidak memedulikan komentar ayahnya. Ia menyampirkan jubah kebanggaannya di sandaran kursi sebelum mengecup pipi Mikoto dan duduk di samping Fugaku.

"Kau beruntung makanan pembukanya belum dihabiskan si rambut duren," ujar Hiashi pada Tenten.

"Maaf terlambat."

Hiashi mengangguk mengerti. Rumah Tenten memang jauh dari pusat kota. Keterlambatannya ini masih bisa ditoleransi. Sekarang dengan adanya Tenten, Hiashi semakin merasa dikucilkan.

"Kau terlihat manis," puji Neji.

Tenten menyengir. Ia duduk lalu mengecup pipi Neji sekilas. "Kau merindukanku?"

"Sangat."

Gaara yang dari tadi memerhatikan gerak-gerik Neji dan Tenten berkomentar, "Kita juga harus begitu."

Hinata menghela napas. Mulai lagi.

"Jadi Tema, kenapa belum punya pacar?" tanya Mikoto. Ia sudah berpindah tempat duduk di samping Karura untuk bergosip.

Temari tersenyum kikuk. "Hanya malas."

"Jangan begitu," Mikoto berujar menggoda pada Temari yang salah tingkah. "Itachi single, kok," promosinya.

"Tach, Mom."

"Dia juga sudah punya perusahaan sendiri. Sudah begitu, dia hanya tua setahun darimu," Mikoto melanjutkan promosinya. "Tidak usah pedulikan nama jeleknya yang ia buat sendiri. Kalau kau mau mendesahkan nama Itachi, dia pasti tidak keberatan."

Temari merona, Tach menyeringai, Sasuke tersedak.

Kedua ibu itu tertawa. Mikoto mengusir Sasuke dan menyuruh Itachi untuk duduk di sampingnya. Karura melakukan hal yang sama dengan menyuruh Temari bertukar tempat dengan Katashi. Dari jauh Hiashi menyeringai senang karena kini para bapak-bapak telah terpisah dari sang istri.

Gaara memanggil Katashi dan dibalas Katashi dengan pandangan bertanya dan alis terangkat. "Tou-san tidak mempromosikanku?"

Katashi memilih untuk mengabaikan Gaara.

Para pelayan masuk untuk mengambil piring-piring kotor dan menggantinya dengan piring bersih. Makanan utama dihidangkan. Makanan utama terdiri dari tiga menu; Spaghetti, Pizza, dan Lasagna. Khas Italia.

Naruto yang paling pertama mengambil potongan pizza. Ia sempat menceritakan tentang pertemuan pertamanya dengan pizza kemudian berlanjut ke ramen yang sama sekali tidak berhubungan dengan cerita sebelumnya. Hinata menawarkan pizza pada Gaara, namun ditolak Gaara yang lebih memilih lasagna. Seperti sebelumnya, mereka makan di piring yang sama.

"Enak?"

Hinata mengangguk.

"Ada sesuatu," gumam Gaara lalu membersihkan saus di ujung bibir HInata dengan jempolnya.

Hinata terdiam. Matanya tidak lepas dari Gaara yang sedang menjilat jempolnya. "Ayo pergi," ajaknya.

"Eh? Tapi makanannya?"

"Nanti saja."

Gaara menarik Hinata untuk berdiri kemudian menyeretnya keluar setelah meminta izin pada Hiashi.

.

Jejak kaki dan sepatu pantofel yang saling berdampingan terlihat di atas pasir yang basah sebelum tersapu ombak. Hinata menenteng high heels-nya di tangan kiri sedangkan tangan kanannya melingkar di pinggang Gaara. Sama seperti Hinata, Gaara melingkarkan tangan kirinya di pundak Hinata yang terbuka dan kepalanya ia sandarkan di puncak kepala Hinata.

Mereka berjalan menuju batu besar yang tidak terlalu jauh dari ombak. Gaara membantu Hinata untuk naik kemudian segera menyusul setelah memastikan Hinata tidak akan jatuh. Selesai mengatur posisi agar nyaman, Gaara kembali menarik Hinata untuk menempel padanya.

Hinata tersenyum. Ia menikmati semua perlakuan Gaara hari ini. Untuk pertama kalinya Gaara tidak terlalu mesum dan tidak terlalu memikirkan hal yang berhubungan dengan tempat tidur. Hinata tidak tahu seorang Gaara Sabaku bisa menjadi selembut ini.

"Kau dingin?" tanya Gaara saat angin malam menerpa wajahnya.

Hinata mengangguk kecil dalam pelukan Gaara. Ia bisa merasakan pergerakan dari Gaara sebelum merasakan jas Gaara menutupi bagian tubuhnya yang terbuka. Hinata juga bisa merasakan pelukan Gaara yang semakin erat.

"Ini namanya kencan."

Hinata tidak setuju. Berjalan-jalan di pantai selama lima menit kemudian duduk berdua di atas batu besar apakah termasuk kencan? Tapi karena Hinata adalah Hinata, maka ia mengangguk setuju.

"Kita harus sering-sering kencan seperti ini."

Hinata melebarkan senyumnya lalu mendongak. "Boleh. Sabtu depan bagaimana?"

"Terlalu biasa," katanya sambil menoleh pada Hinata, "Jumat sore ku jemput bagaimana?"

Hinata terkikik geli. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona Sabaku," ujarnya lalu menggesekkan hidungnya ke hidung Hinata dengan gemas.

Hinata menghentikan tawanya. Wajah mereka yang sangat dekat membuat Hinata menyadari betapa tampan Gaara sebenarnya. Selama ini Gaara hanya selalu menganggunya atau melakukan hal-hal yang berhubungan dengan 17 tahun ke atas. Gaara tidak pernah seromantis ini.

Hinata mengelus pipi Gaara. "Ya, aku mau," jawabnya.

Gaara tersenyum. Ia mendekat kemudian mengecup bibir Hinata untuk pertama kalinya. Hinata menutup matanya, menikmati sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Gaara memperdalam ciumannya dengan menahan leher Hinata dan meminta izin Hinata untuk membuka mulut. Hinata memenuhi. Tangannya yang sebelumnya menangkup pipi Gaara kini memeluk leher Gaara.

Gaara tidak mengingkari janjinya. First kiss-nya memang menjadi first kiss terbaik yang akan selalu ia kenang. Hinata dapat merasakan Gaara tersenyum sebelum melepaskan ciumannya. Hinata balas tersenyum dan mereka kembali berciuman.

.

"Hey..."

Semua asyik bercerita. Terlalu sibuk dengan urusan masing-masing untuk peduli pada Naruto yang menempel di jendela. Bahkan Kankuro sibuk dengan spaghetti-nya.

"Aku tidak percaya..."

Kankuro menoleh pada Naruto. "Ada apa, Nar?"

"Mereka..."

"Mereka apa?"

"Aku tidak percaya..."

Kankuro mengernyitkan dahi. Ia meletakkan garpunya, membersihkan mulutnya dengan serbet, lalu berjalan ke samping Naruto.

"Kau lihat apa?"

Naruto menunjuk ke arah objek yang dari tadi menarik perhatiannya. Sesaat setelah Kankuro melihatnya ia juga ikut menempel di jendela.

"Kalian ngapain, sih?" tanya Tenten yang mulai risih dengan kelakuan keduanya.

"Mereka..." gumam Kankuro.

"Mereka?"

"Mereka berciuman..."

Tenten bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela.

"Hinata?"

Saat ketiganya berbalik, suasana sudah hening dan kursi Neji sudah kosong.

TBC

Yay! Akhirnya selesai wkwkwk xD

Selama nulis chapter ini banyak ide-ide lain yang masuk ke otak, jadi anggap saja dua fic yang baru-baru saya publish itu sebagai selingan dan sebagai tanda saya masih hidup xD #ditampar

Chap kali ini agak pendek, gpp ya hehe :D Kalau mau dipanjangin nanti kesannya terlalu dipaksa hehe…

Makasih yang udah review di dua fic sebelumnya, kalian selalu sukses bikin saya garuk-garuk kepala karena nagih TB terus ahahaha xD

Oh ya, ada yang baca Itachi Shinden? Katanya ya, Itachi itu ada pacar. Sy blm smpat nyari jd klo ad yg udh bca bagi" ya hehe :D

Klo ad yg ngerasa humornya kurang, maafkanlah hamba T_T Ini genre nya drama, tapi sy janji tetap memasukkan unsur humornya. Soalnya sy cuma ahli buat cerita humor jd di setiap cerita saya pasti ada unsur humornya hehe #plak

Untuk yang bertanya tentang Sasuke, tidak. Sasuke tidak homo. Saya lagi mencarikan dirinya pacar, ada yg mau memberi saran?

Mungkin sekian dari saya untuk chapter ini :D

Special thanks to:

ShieLNaruHina44, heoalienjoong, Ne Maki Lucis Caelum, onyx dark blue, Eve Seven, tithaasabaku, triwik97, anita. indah. 777, NJ21, Lady Bloodie, EmikoRyuuzaki-chan, AANnabelle, hikarisyifaa, akasuna no hataruno teng tong, Arum Junnie, RahilsanXD, Fujiwara Hana, Guest, WassupK, Hana Yuki no Hime, kiranakim, azhuichan, Uchiha Chibby, Dechin, rizu7777, ronauli, Gevannysepta, Nanairo Zoacha, Asyah Hatsune, viananeesan, Kucing Merah, chibi beary

Review, please?