Sabtu, 28 November 2015

Kiba dan Shino seharusnya datang sebagai anggota keluarga Hyuga. Namun sayang beribu sayang, tanggal 28 bertepatan dengan tanggal kematian tarantula Shino. Bagi Shino, mengunjungi Taran tiap bulan merupakan hal wajib bagi keduanya. Terutama bagi Kiba, sang pembunuh.

Jadi di sinilah mereka. Berdiri di hadapan batu nisan bertuliskan 'Taran', nama tarantula Shino.

"Kau tahu, kalau saja kau tidak pembunuh Taran, mungkin dia bisa berteman baik dengan Tula."

Kiba menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Maaf."

"Jangan meminta maaf padaku, minta maaf pada Taran."

Kiba menghela napas. Bukan salahnya ia membunuh Taran. Waktu itu, saat Shino tidak di rumah karena harus membawa Akamaru ke rumah sakit, Taran tidak sengaja lolos dari kandangnya. Kiba yang merasa nyawanya terancam tentu saja berusaha menyelamatkan diri.

Awalnya Taran tidak melakukan hal-hal berbahaya. Ia hanya berjalan mengelilingi apertemen dan lebih sering berhenti di pojokan. Namun ia secara tiba-tiba melakukan penyerangan. Kiba melakukan perlawanan. Terjadi pertarungan sengit antara Kiba dan Taran.

Kiba membuat benteng dari rak sepatu dan sepatu-sandal adalah senjatanya. Ia melempar satu per satu sepatu yang ada di rak. Tidak bermaksud membunuh, hanya bermaksud menjauhkan. Namun saat Kiba melempar sepatu kebanggaan Shino yang baru dibelinya kemarin, Taran maju untuk menyerang dan—TES!

Itu tidak disengaja dan Kiba sudah mengatakan hal itu berkali-kali pada Shino.

Kiba ingat saat itu tiba-tiba saja hujan turun dan lampu padam. Di saat yang sama, Shino membuka pintu diiringi bunyi petir yang menggelegar. Mirip adegan film kriminal di mana sang pembunuh akhirnya datang untuk membunuh korban terakhirnya.

Lampu padam, hujan deras, bunyi petir, serta Shino dengan jubahnya yang basah berujar, "Aku mencium kematian."

Kiba bersumpah saat itu ia gemetar ketakutan di bawah meja makan dan untuk pertama kalinya ia berdoa dan meminta pengampunan dosa pada siapa pun di atas sana. Langkah kaki Shino yang begitu mengerikan membuat Kiba memanggil-manggil nama ibunya seperti anak kecil yang dikejar mimpi buruk.

Di saat Shino menggeser kursi dan Kiba semakin memejamkan matanya sambil merapal doa, Hinata datang dan lampu menyala. "Kibamaru? Shino-kun?"

Di hari itu juga Kiba menangis tersedu-sedu di pelukan Hinata dan Hinata terpaksa menginap selama satu minggu karena Kiba tidak mau ditinggal sendiri dengan Shino. Mereka mengadakan pemakaman yang hanya dihadiri oleh mereka bertiga. Shino sendiri yang mengukir nisannya.

Setelah Akamaru pulang dari rumah sakit, Kiba dengan rela melepaskan Hinata dan berusaha menghadapi Shino sendirian. Ia menyesal saat itu berpura-pura sakit karena sedang malas bergerak untuk membawa Akamaru ke rumah sakit.

Kiba merinding mengingat kejadian itu.

Setelah acara mengunjungi makam selesai, mereka pulang ke rumah. Sekitar setengah sembilan malam, Gaara dan Hinata datang membawa makan malam untuk mereka berdua.

"Tidak biasanya kau yang datang. Biasanya Hinata datang dengan Neji," kata Kiba setelah mempersilakan keduanya masuk.

"Neji di penjara."

Kiba menoleh tertarik. "Oh ya? Atas dasar apa?"

"Upaya pembunuhan?"

Kiba tertawa lepas. Kalau sudah begitu, dia tahu apa yang mungkin telah terjadi selama dia berdoa di pemakaman. "Hiashi-jiisan tidak membayar uang jaminannya?"

"Pihak kepolisian baru mengizinkan Nii-san keluar besok," jawab Hinata.

"Hari ini kami menginap. Aku malas menyetir pulang."

"Bilang saja kau ingin berduaan dengan Hinata."

"Jangan bilang-bilang."

Kiba mengangkat bahu. "Asalkan kau membantuku saat ujian."

"Itu mudah."

Mereka melakukan 'tos lelaki' sebelum Kiba melanjutkan acara makannya.

.

Minggu, 27 Desember2015

Ujian semester telah dilewati. Neji sudah berjanji tidak akan pernah lagi mencoba membunuh Gaara. Tula, tarantula baru Shino, diberi kandang tanpa cela—kecuali beberapa lubang sebagai ventilasi—untuk mencegah kejadian yang menimpa Taran terulang kembali.

Salju bulan Desember menutupi jalan dan rumah-rumah. Penghangat ruangan kini harus bekerja keras menjalankan tugasnya. Pakaian-pakaian hangat di toko mulai menipis persediaannya saat orang-orang kalangan atas memilih untuk mengganti mantel lamanya dengan yang baru.

Suasana natal di mana-mana, berhubung natal baru lewat dua hari yang lalu. Pohon natal masih di pajang, masih terhias dengan lampu-lampu natal, sedangkan yang lain memilih untuk kembali mengemasnya dan menggantinya dengan suasana tahun baru.

Hari yang paling dinanti-nantikan akhirnya datang. Acara memilih, mencoba, dan membeli gaun pernikahan sudah selesai. Gaara memilih tuksedo putih sebagai busananya. Hiashi dan Katashi lebih memilih tuksedo hitam. Kankuro memprotes pilihan Gaara karena menganggap Gaara yang tidak suci hanya cocok dengan warna hitam atau warna-warna dosa lainnya. Karura marah, sempat mengusir Kankuro namun dihentikan oleh Katashi.

Mikoto memutuskan untuk menggantikan posisi yang seharusnya diisi Hana di saat-saat seperti ini. Matanya berkaca-kaca melihat Hinata yang berdiri di hadapan cermin besar dengan gaun pengantin yang melekat pas di tubuhnya. Ia sudah lama mendambakan anak perempuan. Sayangnya, kedua anak yang keluar dari rahimnya semua bergender laki-laki.

Ruang tata rias terlihat penuh dengan banyaknya aksesoris dan baju-baju yang berhamburan.

"Hina-chan?"

Hinata menoleh.

"Ah, kau cantik sekali," puji Mikoto, "mirip sekali dengan Hana."

Hinata tersenyum. Rona merah tidak lupa hinggap di pipinya. "Arigatou, Baa-san."

Mikoto menampilkan senyum terbaiknya dan berjalan menuju Hinata untuk memberi pelukan. "Kau sudah siap?"

Hinata menggeleng.

Mikoto tertawa lalu melepaskan pelukannya. "Gaara sudah menunggu. Lebih baik cepat keluar."

"A-aku gugup."

"Ibumu juga begitu dulu. Dia bahkan kabur dan pergi ke taman untuk menenangkan diri," Mikoto tertawa mengingat kelakuan sahabatnya. "Tapi ayahmu mengejarnya dan akhirnya mereka menikah di taman."

Hinata tidak percaya dengan apa yang didengarnya, tapi itu cukup menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ibunya lebih gugup dari dirinya saat ini. Walaupun Ibunya gagal mengendalikan diri, Hinata yakin ia bisa.

Pintu terbuka dan Tenten menyembulkan kepalanya. "Kau siap, Hinata?"

Hinata berbalik dan mengangguk dengan senyum malu-malu tersungging di wajahnya. Tenten membalas senyumnya lalu membuka pintu lebar-lebar agar Hinata bisa keluar dengan gaun besarnya.

Tenten mengiringnya menuju pintu depan restoran. Pintu yang sengaja dibuat sedikit kabur itu entah mengapa membuat Hinata gugup. Ia meremas gaunnya saat melihat bayang-bayang banyaknya tamu yang datang.

Pintu dibukakan dari dalam. Di sana, ayahnya sudah menunggu dengan senyum bahagia. Tangannya menjulur menunggu Hinata menggapainya.

Sebelum Hinata melangkah masuk, Tenten menyempatkan diri untuk menepuk bahunya dari belakang dan berbisik, "Happy birthday, Nata."

.

Pernikahannya berlangsung lancar. Hinata tidak menyangka, selesai mengucapkan janji suci dan—sekali lagi—berciuman dengan Gaara, dari pintu yang tadi dimasukinya, sebuah kue ulang tahun dibawakan oleh Kiba dan Shino. Ada juga Naruto dengan suara emasnya menyanyikan lagu Happy Birthday untuknya.

Hinata merasa terharu. Jika saja Tenten tidak memberinya selamat, ia mungkin lupa hari ini ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk dengan persiapan pernikahannya hingga lupa bahwa hari ini dia juga akan merayakan hari ulang tahunnya.

Hinata bisa merasakan pelukan dan kecupan yang diberikan Gaara untuknya saat air matanya mengalir. Sebelum melepaskan pelukannya, Gaara membisikkan doa untuk Hinata khusus di hari bahagianya.

Hiashi melepas borgol Neji saat Neji berjanji tidak akan memukul Gaara. Ia menepatinya dengan hanya memberi ucapan selamat pada Hinata tanpa menyentuh Gaara sedikitpun. Mungkin kelancaran acara juga dipelopori oleh inisiatif Hiashi untuk memborgol Neji agar dapat mencegahnya melakukan tindakan bodoh.

"Aku ada sesuatu untukmu," kata Gaara. Posisinya yang memeluk Hinata dari belakang memudahkannya untuk menghirup aroma khas Hinata di lehernya.

"Mana?" tagih Hinata antusias. Matanya berbinar senang dan ia segera menolehkan kepalanya ke arah Gaara.

Gaara terkekeh pelan sebelum mengecup bibir istrinya. "Nanti, ada di mobil."

Acara potong kue dan saling suap-menyuapi sudah selesai. Tamu-tamu yang hadir mulai pulang saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka menyempatkan diri terlebih dahulu untuk memberi selamat pada kedua mempelai.

Neji memandang dari kejauhan. Ada rasa tidak rela di hatinya melihat Hinata bermesraan dengan Gaara. Ia belum rela melepaskan Hinata kecilnya bersama orang lain.

Hinata yang lemah lembut berhasil mencairkan es di hati Neji. Untuk pertama kalinya, ia menyayangi seseorang. Oleh karena itu, melepaskan Hinata adalah hal tersulit yang harus ia lakukan.

Sebuah tepukan di kepalanya membuatnya sadar dari lamunan.

"Tenang, Hanabi masih ada," kata Tenten sembari menarik kursi ke samping Neji dan duduk di sana. Di kedua tangannya terdapat martini. Ia menyodorkan yang satunya ke Neji dan segera diteguk habis oleh Neji.

"Kau tidak boleh mabuk, tampan." Tenten terkekeh.

"Segelas martini tidak akan membuatku mabuk," kata Neji dengan nada angkuh. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Tenten dan menutup mata.

"Mau cerita?" tawar Tenten.

Neji mengembuskan napas sebelum menjawab, "Aku tidak rela. Dia masih terlalu kecil untuk pergi."

Tenten tersenyum. "Dia sudah besar, baka. Lagian ada masalah apa kau dengan Hanabi?"

Bayangan Hanabi kecil yang memukul laptopya dengan palu, menggunting baju-bajunya di lemari, bermain dengan gergaji di halaman belakang, dan beberapa hal lain yang tidak dapat disebutkan melintas di pikiran Neji. Ia merinding.

"Semua terjadi saat dia masih kecil."

"Pasti nakal."

"Lebih dari itu."

"Ayolah, dia masih kecil."

Tidak. Laptop itu adalah laptop pemberian Hiashi di ulang tahunnya yang ke dua belas tahun. Waktu itu Hanabi sudah berumur empat tahun.

Neji baru pulang dari sekolah saat sebuah pemandangan mengerikan tersaji di hadapannya. Laptop yang baru berada di tangannya selama delapan bulan kini tidak berbentuk lagi. Hanabi masih sibuk dengan palunya, memukul meja, kursi, pintu, dan lain-lain. Kerugian yang ditanggung Hiashi waktu itu cukup besar, termasuk laptop Neji.

Mundur sedikit, ada Hanabi yang masih berumur dua tahun bermain di halaman belakang. Awalnya semua normal-normal saja. Tapi tiba-tiba Hanabi datang dari kebun bunga membawa gergaji dan mengejar semua orang yang berada di halaman belakang. Kerugian yang ditanggung lebih besar karena semua tanaman rusak dan dua orang terluka akibat berusaha menghentikan Hanabi.

Hiashi sempat sakit berhari-hari waktu itu. Ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada putri keduanya. Ia juga sempat membawa Hanabi ke rumah sakit untuk pemeriksaan mental. Namun kata dokter, itu akan membaik seiring berjalannya waktu.

Kata-kata itu terbukti benar. Saat Hanabi berada di tahun keduanya di taman kanak-kanak, ia mulai membaik. Tidak ada lagi tindakan liar dari Hanabi. Namun luka yang ia torehkan di hati Neji membekas selamanya.

"Aku tidak mau memikirkannya."

Tenten tertawa. Ia bertemu Neji saat duduk di bangku SMA kelas dua. Saat itu mereka belum dekat. Mendekati kelulusan, mereka menjadi akrab karena selalu bersama mengikuti tambahan pelajaran. Dari awal mengenal Neji, Tenten sudah tahu Neji tidak menyukai Hanabi—tapi tetap menyayanginya—karena yang selalu ia banggakan hanya Hinata.

Setiap pertanyaan yang berhubungan dengan Hanabi selalu dihindari Neji. Dia tidak mau cerita dan Tenten tidak memaksa. Mungkin suatu saat nanti Neji akan menceritakannya secara suka rela.

"Well, kurasa tinggal aku dan kau, Neji-nii."

Neji mendelik mendengar suara Hanabi di samping kanannya. Ia menoleh dan menemukan Hanabi dalam posisi melipat tangan di dada dan kaki disilangkan dengan mata tertuju pada pasangan mesra di atas panggung. "Sebentar lagi aku akan menyusul."

Hanabi mengendikkan bahu. "Setidaknya kau bisa memanjakanku terlebih dahulu."

Neji memutar bola mata dan Tenten tertawa.

.

Sesuai janji Gaara, ada sebuah kotak yang dibungkus dengan kertas kado dan pita merah yang melingkarinya di mobil. Hinata segera mengambil kotak itu ke dalam pelukannya dan sudah melepas pitanyanya saat suara Gaara yang baru masuk dalam mobil menginterupsi, "Buka di rumah saja."

Hinata menurut. Ia sudah berganti pakaian menjadi dress sederhana berwarna cream berbalutkan mantel berbulu warna putih. High heels-nya ia tinggalkan dan memilih flat shoes warna hitam sebagai gantinya. Wajahnya sudah kembali natural seperti biasanya. Hinata mendesah lega saat make-up yang ditorehkan di wajahnya akhirnya terhapus dan memberikan kesegaran di wajahnya.

Hinata duduk gelisah karena penasaran. Maksudnya... Gaara? Gaara Sabaku memberinya hadiah? Bukankah itu mustahil? Hadiah apa kira-kira? Sepatu baru? Tumpukan novel? Anak anjing?

Hinata menggigit bibir di tebakan terakhirnya yang tidak mungkin.

Gaara terkekeh dengan tingkah laku Hinata. Ia menarik Hinata mendekat, merangkulnya, mencumbunya sebentar sebelum sopir pribadinya menghentikan mobil di depan sebuah apartemen yang dijanjikan Katashi.

Pintu dibukakan bagi keduanya. Hinata menolak bantuan Gaara untuk membawakan kadonya. Seorang butler memberikan sebuah kunci pada Gaara dan mengatakan seluruh pakaian mereka sudah lengkap di lemari. Gaara mengangguk kemudian menarik Hinata ke dalam apartemen.

Di dalam lift, Hinata bertanya, "Kita ke mana?"

"Lihat saja."

Lift berdenting setelah mencapai lantai teratas. Pintu terbuka dan menampilkan pemandangan mewah suite apertemen yang hanya bisa dilihat Hinata melalui film-film. Hiashi hobi dengan nuansa tradisional, jadi hal-hal seperti ini tidak menarik baginya.

Mata Hinata berbinar. Sejenak, ia melupakan kado ulang tahunnya, menggantung mantelnya, dan berjalan mengelilingi ruangan. Kamarnya ada tiga, yang paling besar adalah kamar utama. Ada jendela besar—mirip seperti di Capricorn Hotel—yang menyajikan pemandangan kota Tokyo dari atas. Sofanya empuk, di kamar mandi ada Jacuzzi besar yang bisa memuat empat orang di dalamnya. Di dindingnya terdapat semacam tempat menyimpan ponsel. Ukurannya besar, bisa untuk tab.

Dari kamar mandi, Hinata beralih ke dapur, dekat ruang makan. Peralatannya lengkap dan semuanya berkilauan. Hinata merasa hidup di dalam istana. Ia memang suka dengan hal-hal sederhana, tapi siapa pun yang menginjakkan kaki di sini juga akan terpesona sepertinya.

"Sudah lihat-lihatnya?"

Hinata berbalik pada Gaara yang menyandar di kusen pintu dapur. Bibirnya menampilkan senyum lembut dan tangan kanannya terulur, menanti Hinata untuk menyambutnya. Hinata membalas senyum Gaara namun menolak uluran tangannya dan menggantinya dengan pelukan.

Awalnya Gaara terkejut, namun segera membalas pelukan Hinata dan menyembunyikan wajahnya di leher Hinata. "Kau bisa buka hadiahmu sekarang," bisik Gaara dan segera menyesali tindakannya saat Hinata dengan segera melepas pelukannya dan berteriak, "Hadiahku!"

Hinata berlari ke kamar utama tempat ia meninggalkan hadiahnya. Senyumnya terukir saat ia melihat hadiahnya dan segera melompat ke tempat tidur. Ia memangku kotak tersebut, diam sebentar untuk menatapnya. Dengan slow motion, Hinata mengangkat tutup kotak dan—

Lingerie?

Kening Hinata berkerut. Ia mendongak saat mendengar suara pintu dikunci. Gaara menyimpan kunci dalam saku celananya dan berbalik menghadap Hinata. Gugup mengahmpiri Hinata. "A-aku..."

"Kau suka hadiahnya?"

Hinata melirik lingerie putih transparan dalam kotak lalu menatap Gaara tanpa mempertemukan mata mereka. "E-etto..."

Gaara menyeringai. "Kau mau memakainya sekarang?"

Hinata melebarkan matanya dan membalas tatapan Gaara. "T-tidak p-p-perlu, aku—"

"Tapi aku mau kau mencobanya sekarang," kata Gaara dengan nada menuntut.

Hinata bergeming. Tangannya mencengkeram pinggir kotak dan bibir bawahnya ia gigit. Tiba-tiba kamar menjadi panas dan keringat membasahi punggungnya.

Melihat Hinata yang diam, Gaara melebarkan seringainya. Saat ia baru saja melepas kancing teratas kemejanya, Hinata melompat turun dari tempat tidur. "A-a-aku lapar."

Gaara mengangkat kedua tempat-di-mana-alisnya-seharusnya-berada. "Lapar? Aku juga."

Bagus, Hinata.

Hinata menelan ludah saat Gaara sudah berhasil membuka kemejanya. Ia meremas ujung dress-nya dan berpikir keras. "B-bukan, maksudku—"

Sebelum Hinata sempat mengutarakan alasan lain untuk menghindar, Gaara sudah menerjangnya ke tempat tidur dan menahan kedua tangannya di sisi kepalanya. Gaara mengecup pipi Hinata. "Aku juga lapar, Hinata," desisnya lalu melumat bibir Hinata dengan cepat. Ia menurunkan tangan Hinata dan mengurung pergerakannya dengan siku sementara kedua tangannya menahan leher dan kepala Hinata untuk memperdalam ciumannya.

Hinata menggeliat. Ia merasa sangat tidak berdaya dengan seluruh anggota geraknya ditahan oleh Gaara. Kakinya dijepit kaki Gaara dan tangannya tidak bisa bergerak banyak. Hinata menarik napas dalam saat Gaara melepas ciumannya sebentar sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya.

Tangan Gaara mulai merayap turun. Merangkum wajah Hinata sebelum menyusup ke bawah dan membelai punggungnya. Hinata membuka matanya dan berusaha lepas dari kukungan Gaara.

Gaara menggeram, melepaskan ciumannya lalu beralih ke leher mulusnya. Hinata kembali menutup mata dan mendesah pelan saat Gaara menghisap pelan lehernya kemudian memberikan gigitan-gigitan kecil. Gaara menurunkan resleting gaunnya dan melepasnya bersamaan dengan Gaara yang melepas lehernya.

Hinata segera duduk dan mencari selimut untuk menutupi tubuhnya. "G-Gaara-kun..."

"Hm?" Gaara membuka ikat pinggangnya dan membuangnya di lantai. Ia menatap Hinata seperti predator menatap mangsanya.

"T-tou-san b-bilang..."

"Tou-san bilang?"

"A-aku tidak boleh hamil," kata Hinata sambil meremas selimut yang melapisi tubuhnya.

"Jadi?"

"J-jadi... K-kita tidak b-boleh melakukan i-ini, kan?"

Gaara menaiki tempat tidur dengan posisi lutut menahan kaki Hinata dan kedua tangan yang menopang tubuhnya berada di samping paha Hinata.

Hinata menaikkan selimutnya.

"Hinata, sayang," Gaara mendesis tepat di depan wajah Hinata. "Kau hanya tidak boleh hamil, kan?"

Hinata tidak mengerti maksud kata 'hanya' dalam kalimat Gaara tapi tetap mengangguk.

"Nah." Gaara berdiri, mengambil sesuatu dari laci nakas. "Itulah gunanya pengaman."

Mata Hinata membulat dan mulutnya terbuka tertutup tanpa ada suara yang keluar. Melihat seringai Gaara, Hinata tahu dia tidak bisa lagi mengelak.

.

Sekitar jam tiga pagi, Hinata bangun. Ia merasa sangat haus setelah malam panjangnya dengan Gaara. Tubuh mereka masih polos dan hanya tertutupi selimut. Lengan Gaara masih memeluknya dengan posesif walau tidak sekuat tadi.

Hinata menyingkirkan lengan Gaara secara perlahan lalu berjalan keluar kamar dengan hanya berbalutkan kemeja kebesaran milik Gaara yang ia temukan paling dekat dengan tempat tidur. Kemeja Gaara cukup panjang untuk menutupi tubuhnya sampai di atas lutut. Ia menyalakan lampu, kemudian mencari gelas untuk dipakai.

Setelah meneguk segelas air putih, Hinata memutuskan untuk bersantai sebentar di sofa empuk—begitu panggilan yang diberikan Hinata—sambil menonton TV. Tayangan malam yang ada hanya acara komedi dan film-film lama. Hinata mengganti-ganti saluran kemudian berhenti di Disney Channel.

Hinata tidak memerhatikan tayangan animasi di hadapannya. Ia merindukan kamarnya, rumahnya, keluarganya. Ia rindu mendengar derap kaki Neji yang berpatroli tiap malam untuk melihat apakah Hanabi menyeludupkan seorang cowok atau apakah dirinya masih membaca novel dengan bantuan senter.

Ia rindu dengan ayahnya yang hanya—selalu—menggeleng-geleng tiap kali ada yang berulah dan menyerahkan semuanya pada Neji. Ia rindu Hanabi yang selalu menyusup ke dalam kamarnya untuk makan biskuit sambil membaca komik kesukaannya. Tapi yang paling terutama, ia rindu ibunya.

Ia rindu pelukan ibunya saat ia menangis karena Neji melarangnya memanjat pohon. Ia rindu ibunya yang mengusap air matanya saat ia menangis karena jatuh memanjat pohon—walau selebihnya karena marahan Neji—akibat tidak mendengarkan Neji. Ia rindu senyum ibunya tiap kali ia berbuat hal baik.

Hinata tidak pernah menangis saat memikirkan ibunya. Dulu ibunya sakit keras dan menderita. Sekarang ibunya ada di tempat yang lebih baik—Hinata yakin itu—dan tidak perlu lagi menderita. Ia hanya menangis jika merasa rindu, dan itu yang dilakukannya sekarang.

Beberapa menit berlalu dan suara TV berubah menjadi lullaby untuk Hinata. Saat alam mimpi sudah hampir menjangkaunya, ia merasakan selimut melapisi tubuhnya. Alam mimpi kembali menjauh, tapi Hinata enggan membuka mata. Ia bisa mendengar TV dimatikan, dan seseorang ikut bergabung dengannya di sofa.

"Jadi kau lebih suka sofa?" Suara Gaara menyapa telinganya. Saat Gaara memeluknya erat, Hinata balas memeluk, kemudian mencari tempat nyaman di dada Gaara.

"Sofa empuk," gumam Hinata.

"Biasanya orang memberi nama, seperti Ductile."

Hinata tertawa pelan. Kantuk yang sempat menyerangnya mulai menghilang. "Itu lentur."

"Itu nama."

Gaara mengecup puncak kepala Hinata dan mengelus-elus rambutnya. Mereka begitu beberapa saat sampai suara Hinata memecah kesunyian. "Aku belum mematikan lampu dapur."

"Hm," sahut Gaara, "sudah ku matikan," lalu menjawab.

"Kita akan tidur di sini?"

"As your wish."

Hinata menampilkan cengiran. Dia suka versi Gaara yang ini. Mungkin Gaara bisa terus seperti ini tanpa perlu meng-upgrade dirinya menjadi binatang buas yang haus darah. Berlebihan, tapi sebagai mangsa, Hinata pantas berpikir demikian.

"Nanti Sasuke dan Naruto akan datang."

"Kiba dan Shino-kun juga?"

Gaara mengangkat bahu. "Kaa-san dan Tou-san juga katanya."

"Hm, mungkin Akamaru juga akan ikut."

"Tula juga."

"Hari ini tanggal 28, kau mau ikut ke pemakaman?"

"Apa kita akan tidur?"

Hinata tertawa. "Yang terakhir."

Gaara berpikir sebentar. "Nanti kita akan pergi bersama."

Hinata menenggelamkan wajahnya di dada Gaara. Ia merasa tenang dan sejenak melupakan segala kerinduan yang tadi sempat menggerogoti hatinya. Ia tidak menyangka hal seperti ini—kemunculan Gaara, menikah muda, hidup di apertemen mewah—bisa terjadi dalam hidupnya yang sebelumnya hanya berupa satu garis lurus.

Setelah berpikir lebih jauh, mungkin kedatangan Gaara tidak terlalu buruk. Ia memberikan warna pada hidup Hinata. Walau kebanyakan warna-warna tidak bagus yang sering dihindari Hinata, tapi setidaknya sedikit berwarna.

Salju yang turun di luar menutupi jalanan dan rumah-rumah. Dalam kesunyian subuh yang tenang, Hinata memikirkan pernikahan yang baru saja ia jalani dan umurnya yang bertambah satu tahun kemarin. Hidup sudah pasti akan berakhir suatu saat nanti. Jadi sebelum itu, Hinata memilih untuk menikmatinya, sama seperti ibunya menikmati teh di halaman belakang sambil menontonnya membuat boneka salju.

TBC

Yosh! Selamat tahun baru ho-ho-ho! xD

Maafkan keterlambatan saya dalam meng-update hehehe…

Hm, apa yang harus saya katakan? Yup! No explicit content! Gak bermaksud sih, Cuma rasanya adegan malam pertama gk terlalu hot. Mereka libur, kok. Jadi Gaara bebas berbuat sesukanya #ketawaiblis

Um, soal pasangan Sasuke… sudah saya temukan, dan tidak akan saya katakan. Trs pertanyaan-pertanyaan lain yg belum terjawab di sini akan dijawab di chapter-chapter berikutnya hehe :D

AND krn sy baik sy tdk akan berjanji kpn tepatnya sy update biar para pembaca gk merasa di-PHP-in #nyinggungshiorinsan (Yg nunggu Lawless angkat tangan!)

Special thaks to:

candybar-honey, Green Oshu, Daisy352 RahilsanXD, Eve Seven, Tithaa Sabaku, heoalienjoong, chibi beary, Asyah Hatsune, Lawchan-Ai, aoi-kasai, Arum Junnie, EmikoRyuuzaki-chan, .777, Gevannysepta, author babi, Lady Bloodie, NJ21, hyuga hime chan RJN (btw makasih buat sarannya :3), wujisung, Ega EXOkpopers, yurivisan, WassupK, Jester Rin, nabila, RoseeAnn, Akiame Kyuuran, Vya-chan, baby3145, kazeyuki, taramraraw, lenacchi, Morita Naomi, icaraissa11

Dan sangat spesial untuk permanentt yang telah memerhatikan kesalahan sy :') Sudah sy edit, kok, makasih ya :')

Review, please?