ANGEL'S

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

ANUGRAH BIDADARI by SHERLS ASTRELLA

BYUNNERATE

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rated: T

Warning: Genderswitch! Typos!

Summary: "Kami sering menyebut Ratu sebagai Bidadari Malam. Tiap malam Anda akan melihat Ratu membawa lilin kecil dan berkeliling Hall." "Bagi mereka, engkau adalah Ratu mereka dan terus akan menjadi Ratu mereka tapi bagiku, engkau adalah Ratu yang selalu bersinar di hatiku" "Aku memberikan seluruh cintaku padamu, Chanyeol, rajawaliku yang gagah perkasa."

NO BASH

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

.

.

Tak lama kemudian kereta berhenti di depan pintu Istana. Dua orang prajurit sudah bersiap untuk membantu Baekhyun.

"Bagaimana perjalanan Anda, Paduka?" sambut Tao.

"Baru kali ini aku harus lari dari orang banyak karena ketahuan," kata Baekhyun menahan geli, "Aku merasa seperti pencuri."

"Benarkah itu?" tanya Tao tidak percaya.

"Benar, Tao. Kami tidak menyangka ada yang mengenali Paduka di sana. Kami telah memilih tempat yang cukup jauh dari Istana," Jongin menerangkan.

"Saya bersyukur Anda baik-baik saja, Paduka."

"Jangan memberitahu Kyungsoo. Aku tidak ingin dia khawatir."

"Tentu, Paduka. Ketika mengetahui Anda pergi, ia sangat cemas."

"Aku akan menemuinya agar ia tidak cemas lagi."

Baekhyun berlari ke kamarnya.

"Paduka! Mengapa Anda melakukan tindakan berbahaya seperti itu?"

Serbuan yang didapatnya ketika ia tiba, membuat Baekhyun tersenyum, "Aku harus melakukannya, Kyungsoo. Engkau tidak perlu cemas. Aku pergi dengan beberapa prajurit."

Kyungsoo tidak dapat berbuat apa-apa. "Jungkook, ambilkan baju ganti untuk Paduka!" perintahnya.

Baekhyun tidak membantah sedikitpun ketika para pelayan sibuk membantunya mengganti gaun. Mereka menyiapkan air mandi yang hangat dan wangi untuknya. Mereka pula yang mengenakan gaun sutra lain yang indah pada dirinya dan menghiasi rambut panjangnya dengan manik-manik yang indah.

Hingga mereka selesai dengan dirinya, Baekhyun diam berpikr.

"Terima kasih, Kyungsoo," Baekhyun bersiap pergi lagi setelah rambutnya selesai disisir rapi.

"Anda mau ke mana lagi?"

"Jangan khawatir. Aku ingin menemui Jongin."

"Anda harus beristirahat. Anda sudah terlalu lama bekerja."

Baekhyun beranjak ke pintu sebelum dicegah Kyungsoo. "Selamat tinggal," katanya ketika membuka pintu.

"Jangan lupa untuk makan malam!"

Baekhyun tersenyum mendengar seruan itu, "Kali ini aku takkan lupa, Kyungsoo," katanya perlahan sambil menuju Hall.

Tao masih sibuk mengatur Hall ketika Baekhyun datang.

"Di mana Jongin dan Kwangsoo serta Jongdae?"

"Jongdae pergi ke pusat kota untuk mengumumkan titah Anda sedangkan Tuan Jongin dan Tuan Kwangsoo saya minta untuk beristirahat. Apakah Anda memerlukan mereka, Paduka? Saya akan memanggil mereka untuk Anda."

"Tidak perlu, Tao. Biarkan mereka beristirahat. Suruhlah seorang prajurit untuk menemuiku di Ruang Kerjaku."

"Baik, Paduka."

Baekhyun kembali ke Ruang Kerjanya dan menulis sesuatu pada secarik kertas.

"Hamba datang memenuhi panggilan Anda, Paduka."

Baekhyun menghampiri prajurit itu. "Antarkan surat ini pada Menteri Keamanan."

"Baik, Paduka."

Setelah prajurit itu pergi, Baekhyun menemui penjaga pintu Ruang Kerjanya. "Salah satu dari kalian, panggilkan Seokjin untukku."

"Baik, Paduka."

Sesaat kemudian Seokjin sudah menghadap Baekhyun.

"Apakah semua ahli keuangan itu masih ada di sini?"

"Tidak, Paduka. Siang tadi beberapa di antara mereka meninggalkan Istana."

"Bila malam ini mereka makan di Ruang Makan cukup?"

Seokjin berpikir sebentar lalu berkata, "Cukup, Paduka."

"Siapkan makan malam di sana. Aku akan makan bersama mereka."

"Baik, Paduka."

"Bila Jongin dan Kwangsoo masih di sini, aku ingin mereka turut bersamaku."

"Saya akan memberitahu mereka, Paduka."

Baekhyun kembali menekuni pekerjaannya membuat keputusan baru untuk memperbaiki kehidupan rakyat.

Ketika hari mulai gelap, seorang pelayan datang untuk menutup jendela-jendela dan menghidupkan lilin. Ia tahu kesibukan Baekhyun, karena itu ia tidak mengusik gadis itu.

Hingga hari menjadi gelap, Baekhyun masih sibuk di ruangannya dengan tumpukan tebal laporan para menterinya dan surat-surat keputusannya.

"Makan malam sudah disiapkan, Paduka."

Baekhyun mengangkat kepalanya. "Aku akan segera ke sana."

Pelayan itu membungkuk dan pergi.

Baekhyun merapikan meja kerjanya. Lalu meraih secarik kertas dan pergi ke Ruang Makan.

"Selamat malam, Paduka."

"Selamat malam, Jongin, Kwangsoo."

"Anda akan mengumumkannya sekarang, Paduka?"

"Benar. Aku tidak dapat menunda hal ini lebih lama lagi, Kwangsoo. Aku akan mengatakannya seusai makan malam."

"Saya melihat Anda bekerja terlalu keras, Paduka. Beristirahatlah demi kesehatan Anda. Bila Anda sakit, siapa yang akan memperbaiki kehidupan rakyat?"

Baekhyun tersenyum. "Engkau mirip Kyungsoo, Jongin." Sebelum pria itu menanggapi, Baekhyun berkata, "Bagaimana perkembangan tugas yang kuberikan pada kalian?"

"Saya hampir selesai, Paduka. Kami telah menyusun semuanya. Sekarang kami sedang memeriksa ulang semuanya."

"Karena undang-undang kami berhubungan dengan negara lain, kami sedikit mengalami hambatan karena hampir semua keputusan itu masih dilaksanakan. Tetapi, kami telah menghubungi negara-negara tersebut dan meminta mereka tetap mau bekerja sama dengan kita bila keputusan baru itu dilaksanakan. Mereka mengetahui perubahan yang terjadi di kerajaan kita dan mereka mendukung Anda sepenuhnya. Kami sedang membuat laporannya."

"Aku berharap menteri-menteri lain juga hampir selesai."

"Mereka juga hampir selesai, Paduka," kata Jongin dengan tersenyum, "Kami terpengaruh oleh semangat Anda. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk Anda."

"Tidak, Jongin. Kalian bisa melakukan tugas besar ini dengan cepat karena sejak dulu kalian tahu mana yang salah dan mana yang harus diubah. Sejak dulu kalian telah mempunyai gambaran tentang peraturan yang lebih baik, tetapi kalian tidak berani mengatakannya. Sekarang kalian mengingatnya kembali dan menyempurnakannya."

Tidak seorang pun dari mereka yang bisa membantah Baekhyun karena saat itu mereka sudah tiba di Ruang Makan. Prajurit membuka pintu dan mengumumkan kedatangan Baekhyun.

Mereka segera berdiri dan berkata, "Selamat malam, Paduka Ratu Baekhyun."

"Selamat malam," balas Baekhyun, "Silakan duduk, Tuan-tuan."

Selama makan malam berlangsung, Baekhyun tidak menyebutkan siapa saja yang telah berhasil melalui penyeleksian keduanya. Ia mengajak mereka membicarakan hal selain itu.

Setelah pelayan membawa pergi hidangan penutup, Baekhyun berkata,

"Dalam kesempatan ini saya akan mengumumkan nama-nama mereka yang telah lolos pemilihan kedua."

"Ijinkan saya untuk menggantikan Anda, Paduka."

"Silakan." Baekhyun kembali duduk.

Jongin berdiri dan mulai menyebut satu per satu nama yang tertera di kertas.

Sesaat Ruang Makan menjadi ramai setelah Jongin selesai membaca nama-nama itu. Baekhyun menanti ruangan menjadi sepi sebelum ia berkata,

"Selamat pada kalian yang berhasil. Bagi yang belum berhasil, jangan putus asa. Berusahalah terus. Mereka yang nama-namanya disebutkan Jongin, aku tunggu di Ruang Pertemuan besok setelah makan pagi."

Baekhyun beranjak bangkit. "Selamat malam, Tuan-tuan."

Jongin dan Kwangsoo segera mengikuti Baekhyun.

"Paduka, Anda akan bekerja lagi?"

"Kalian tidak perlu mencemaskanku," Baekhyun menerangkan, "Aku ingin malam ini kalian menginap di sini tetapi bila kalian merindukan keluarga kalian, aku tidak melarang. Selamat malam."

Baekhyun membuka pintu Ruang Kerja dan menghilang di baliknya.

Jongin dan Kwangsoo hanya dapat berpandang-pandangan sambil mengangkat bahu.

Baekhyun mirip ayahnya bila sedang bekerja. Mereka bekerja siang malam tanpa henti dan tanpa kenal lelah.

Mereka tidak tahu Baekhyun melakukannya di samping untuk rakyatnya juga untuk mencegah dirinya memikirkan Chanyeol.

Setelah makan pagi usai, Baekhyun berada di Ruang Pertemuan. Tak lama ia menanti ke 36 ahli keuangan itu datang.

"Selamat pagi," sapa Baekhyun.

"Selamat pagi, Paduka Ratu."

"Silakan duduk. Kita akan segera memulai rapat kecil kita."

Mereka duduk mengitari meja panjang.

Baekhyun menatap mereka semua dan memulai rapat.

"Saya memilih kalian bukan tidak berdasar. Saya percaya pada kemampuan kalian. Itulah sebabnya saya memilih kalian. Kalian, yang terpilih, akan saya beri tugas. Kalian saat ini bukan lagi sebagai saingan tetapi sebagai satu kelompok orang yang bekerja sama."

"Tugas kalian adalah menghitung jumlah pemasukan dan pengeluaran selama 20 tahun terakhir ini. Di hadapan saya ini telah tercantum macam-macam pajak berikut besarnya dan jumlah penduduk selama kurun waktu 20 tahun terakhir."

"Untuk melakukan tugas ini, aku ingin kalian tetap tinggal di Istana. Agar keluarga kalian tidak cemas, tulislah surat pada mereka dan berikan pada pelayan. Mereka akan mengumpulkan surat-surat kalian dan mengantarnya."

"Untuk kelancaran tugas ini, aku mempersilakan kalian menggunakan ruangan ini sebagai tempat kerja kalian. Sebelum kalian memulainya, aku ingin menegaskan kalian bekerja sebagai satu kesatuan. Sebuah kesatuan pasti memiliki pemimpin. Oleh karena itu, aku menunjuk Hoseok menjadi pemimpin kalian. Ada yang tidak setuju?"

"Kami setuju, Paduka."

"Kalian bisa memulai tugas kalian sekarang. Bila kalian mengalami kesulitan, jangan ragu untuk bertanya padaku."

"Kami mengerti, Paduka."

Baekhyun meninggalkan Ruang Pertemuan dan segera menuju Ruang Kerja.

"Kalian berdua masuklah, aku mempunyai tugas untuk kalian."

Kedua prajurit penjaga pintu Ruang Kerja itu mengikuti Baekhyun.

Baekhyun mengeluarkan dua tumpuk kertas dari lacinya.

"Masing-masing dari kalian kuperintahkan menyebar sepuluh surat. Tunggulah sebentar jawaban para Menteri itu. Bila tugas ini sudah selesai, segeralah kembali."

Mereka menerima surat-surat itu lalu berkata, "Hamba akan melakukan tugas sebaik-baiknya."

Kedua prajurit itu baru saja pergi ketika seorang pelayan muncul.

"Kepala Penjara Vandella datang menghadap, Paduka."

"Suruh dia masuk."

Kepala Penjara itu membungkuk dan berkata, "Selamat pagi, Paduka Ratu. Saya datang membawa nama-nama penghuni penjara di seluruh Vandella seperti yang Anda minta."

Pria kurus ceking itu menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya.

"Duduklah," kata Baekhyun, "Aku akan mempelajarinya sebentar."

Baekhyun membalik-balik kertas itu.

"Saya sudah mengelompokkan antara yang dipenjara karena melanggar hukum dan yang dipenjara karena tidak membayar pajak maupun yang menentang Paduka Raja Kris."

Baekhyun tidak terkejut melihat yang dipenjara karena melanggar hukum lebih sedikit dari yang tidak bersalah. Ia sudah dapat menduganya sebelum menerima laporan ini.

Baekhyun bersyukur nama-nama itu dipisahkan pada lembar yang berbeda sehingga bisa menghemat waktunya. Ia segera membagi-bagi berkas-berkas itu menjadi dua kelompok, bersalah dan tidak bersalah.

"Nama-nama ini sudah kaukelompokkan berdasarkan tempat mereka dipenjara?"

"Sudah, Paduka. Setiap tahun Paduka Raja Kris meminta laporan penghuni penjara dari masing-masing penjara yang sudah dikelompokkan seperti itu. Saya hanya perlu menyatukan mereka dan menyerahkannya pada Anda."

"Ternyata serigala itu ada baiknya juga," Baekhyun berkata pada dirinya sendiri.

"Aku menugaskanmu berkeliling tiap penjara dan membacakan titahku ini," Baekhyun mengeluarkan selembar kertas dari lacinya yang sudah ditandatanganinya.

Kepala Penjara itu melihat isinya yang berbunyi:

Atas titah dari Ratu Kerajaan Vandella, nama-nama yang tersebut di bawah ini mulai saat ini dinyatakan tidak bersalah. Oleh karena itu, mereka dibebaskan dari penjara dan semua yang menjadi milik mereka dikembalikan.

"Nama yang harus kausebutkan adalah nama yang ada di kertas ini. Bila engkau menyelesaikan tugasmu di satu penjara, segera kirim daftar namanya kepadaku."

"Baik, Paduka."

"Satu hal yang tidak boleh kaulakukan adalah mewakilkan tugas ini pada orang lain. Aku percaya engkau dapat melaksanakannya dengan baik."

"Saya akan berusaha menjalankan titah Anda sebaik-baiknya, Paduka."

Baekhyun tersenyum puas melihat kepergian pria itu. Satu tugas lagi telah dilakukannya. Sekarang ia menanti kabar dari Menteri-menterinya sebelum menjalankan setumpuk keputusan yang sudah dibuatnya.

Menjelang sore, kedua prajurit yang diutus Baekhyun datang. Mereka menyerahkan surat balasan para Menteri itu pada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum puas setelah membaca surat-surat balasan itu. Para Menterinya hampir menyelesaikan tugas mereka dan itu artinya Baekhyun bisa segera mengadakan rapat.

.

.

.

.

Dua hari setelah pengumuman titah Baekhyun, Hall Istana mulai ramai. Bangsawan-bangsawan mulai berdatangan untuk menyerahkan bantuan mereka. Orang-orang kaya pun tak mau ketinggalan.

Baekhyun menyadari ini semua berkat koran yang dengan gencar mengabarkan dirinya yang menyamar menjadi gadis desa untuk memberi bantuan sendiri pada rakyat. Sayangnya, menurut Baekhyun, koran-koran itu terlalu memujinya. Karena dalam koran dikatakan ia mau melupakan kedudukannya demi menyuapkan nasi pada orang tua yang lumpuh.

Walaupun begitu, Baekhyun berterima kasih pada mereka. Berkat mereka penyebaran kegiatan amalnya menjadi cepat.

Bantuan sudah banyak yang terkumpul di Hall. Prajurit-prajurit Vandella terus mengantarkan bantuan ke kota-kota di seluruh Vandella. Bahkan, penduduk Perenolde turut membantu mengantarkan bantuan ke daerah-daerah di luar Perenolde.

"Ratu Baekhyun Menggerakkan Mega Bantuan untuk Rakyat Vandella." Demikian judul salah satu koran.

Sekali lagi Baekhyun membuat gempar rakyatnya. Tak seorang pun dari rakyat Vandella yang menduga Ratu mereka yang keturunan langsung Raja Kris yang kejam, sebaik ini. Ratu telah menunjukkan ketulusannya dengan membuang harga dirinya sebagai Ratu saat ia mengunjungi pemukiman penduduk miskin pada hari pertama ia menyalurkan bantuan.

Rakyat juga mengetahui Baekhyun telah mengeluarkan mereka yang tak bersalah dari penjara. Banyak di antara mereka yang keheranan ketika dibebaskan. Ketika mereka tahu apa yang terjadi, mereka sangat bersyukur pada Tuhan yang mengirim Ratu sebaik Baekhyun pada mereka.

Dalam waktu kurang dari dua minggu pemerintahannya, Baekhyun membuat rakyat menganggapnya sebagai anugerah yang luar biasa. Ia yang semula ditakuti kini menjadi pujaan tiap orang. Rakyat memuja dan menyanjungnya.

Walaupun begitu, Baekhyun tak melihat adanya seseorang yang datang ke Istana untuk mengambil bantuan. Tempat penerimaan bantuan sangat ramai, tapi tempat pengambilannya sangat sepi.

"Mereka tidak berani masuk?" tanya Baekhyun heran.

"Benar, Paduka. Tampaknya mereka takut Anda mempunyai rencana tertentu. Perlukah kami membujuk mereka?"

"Jangan," Baekhyun cepat-cepat mencegah. "Aku khawatir mereka semakin curiga bila kau melakukan itu."

"Apakah yang harus kami perbuat, Paduka?"

Baekhyun mengawasi kerumunan orang jauh di depan gerbang Istana. Mereka sejak tadi hanya menggerombol di sana. Tidak maju juga tidak mundur. Jumlah mereka terus bertambah, tapi tidak keberanian mereka.

"Baiklah," kata Baekhyun tiba-tiba, "Aku yang akan menanganinya sendiri."

"Jangan, Paduka," cegah Jongdae.

"Percayakan padaku, Jongdae. Sekarang perintahkan prajurit membukagerbang belakang. Aku akan tiba di sana dalam waktu lima menit."

.

.

.

.

"Mengapa kalian berkumpul di sini?"

"Kami ingin masuk ke sana, tapi kami tidak berani."

"Ya, aku mengerti perasaan kalian. Aku pun demikian ketika pertama kali diundang oleh Ratu. Di sana aku disambut dengan baik."

"Anda lebih kaya dari kami, Nona," seseorang menyelentuk, "Paduka Raja sangat benci pada kami, orang miskin karena kami tidak pernah mampu membayar pajak. Apalagi putrinya. Siapa tahu ia mengundang kami semua untuk dibunuh?"

Baekhyun tidak menanggapi. Ia berjalan ke tempat ia menyembunyikan bola. Di sana, ia pura-pura tersandung bola itu.

"Bola sialan!" umpat Baekhyun, "Siapa yang meletakannya di sini?"

Beberapa anak yang mendengar umpatan itu mendekati Baekhyun.

Dalam hati Baekhyun tersenyum senang tapi di luar, ia tetap menahan amarah. Baekhyunmengambil bola itu dan melemparnya sekuat tenaga ke arah gerbang istana seraya berkata, "Pergi jauh dan jangan mengangguku lagi."

Lagi-lagi dalam hati Baekhyun tersenyum senang karena rencananya berhasil. Anak-anak itu berlari mengejar bola yang terus menggelinding ke gerbang Istana. Baekhyun pura-pura terkejut melihatnya.

"Gawat!" serunya.

"Lihat! Ini semua kesalahanmu. Apa yang harus kami lakukan kalau mereka dibunuh?" Orang-orang itu menyalahkan Baekhyun.

"Tenang," kata Baekhyun tenang, "Aku akan menolong mereka. Para prajurit itu patuh padaku."

Baekhyun berjalan ke gerbang Istana sementara itu orang-orang di belakangnya mengikuti di jarak yang cukup jauh.

Bola menggelinding terus hingga memasuki halaman Istana. Anak-anak kecil itu terus mengejar tapi mereka dihadang penjaga pintu gerbang. Orang tua mereka berteriak panik di belakang Baekhyun.

"Biarkan mereka masuk!" seru Baekhyun.

Penjaga pintu gerbang mengijinkan mereka masuk.

"Mengapa engkau membiarkan mereka masuk?" Orang-orang itu menuntut Baekhyun.

"Jangan khawatir, aku yakin mereka baik-baik saja."

"Kalau terjadi sesuatu pada mereka, engkau harus bertanggung jawab!"

"Tentu saja," jawab Baekhyun tenang.

Saat itu pula anak-anak tadi muncul. Mereka tampak senang. Mulut mereka penuh dengan makanan. Teman-teman mereka yang lain mendekat melihat hal itu. Mereka bercakap-cakap lalu bersama-sama masuk ke Istana.

Para orang tua yang panik itu segera mencegah anak mereka hingga tanpa sadar mereka juga telah memasuki Istana.

Baekhyun masuk dengan tersenyum. "Anak-anak berani memasuki Istana, mengapa kita tidak?"

Orang-orang itu terkejut saat menyadari mereka telah berada di halaman Istana. Mereka hendak keluar tapi saat itu pula muncul pelayan-pelayan Istana dari segala penjuru.

"Jangan takut," kata Baekhyun lembut, "Aku akan melindungi kalian. Aku menjamin keselamatan kalian."

Baekhyun tetap tersenyum lembut ketika melihat wajah takut mereka. Ia terus berjalan memasuki Istana.

"Selamat datang," sambut penjaga pintu sambil membuka pintu utama lebar-lebar.

Orang-orang itu terheran-heran melihat di Hall telah disiapkan berbagai macam makanan yang lezat-lezat.

Anak-anak yang tidak punya kekhawatiran apa-apa, melesat ke meja makan dan menyantap semua yang ada.

Sekelompok orang mendekati anak-anak itu dan mencegah mereka makan lebih banyak lagi. "Jangan dimakan! Siapa tahu ini beracun," kata mereka.

Baekhyun mendekati sebuah meja dan mengambil sepotong biskuit. Ia memakannya lalu berkata, "Ini enak sekali. Tidak mungkin ada racunnya."

Beberapa orang terpengaruh tindakan Baekhyun. Mereka mulai mengambil makanan walau dengan takut-takut. Melihat teman-teman mereka makan dengan lahap, yang lain menyusul. Orang-orang miskin yang selalu kelaparan itu melupakan segalanya. Saat itu yang penting bagi mereka adalah mengisi perut mereka yang berbunyi.

Makanan terus berpindah dengan cepat, tapi yang ada di hadapan mereka tidak kunjung habis.

Pelayan-pelayan Istana terus membawakan makanan dan sesekali berkata sopan, "Silakan makan."

Baekhyun senang melihat pemandangan di depannya. Akhirnya para fakir miskin itu dapat mengenyangkan perut mereka.

"Anda tidak makan, Nona?"

"Tidak, Tuan. Silakan Anda melanjutkan, saya sudah kenyang. Ini semua disiapkan khusus untuk kalian."

"Tidak apa-apa, Nona. Makanan ini masih banyak. Ia terus mengalir seperti sungai," celetuk yang lain.

"Sungai yang nikmat dan mengenyangkan," timpal yang lain.

Baekhyun tersenyum.

"Paduka!"

"Ada apa, Jongdae?"

"Para menteri sudah tiba, Paduka."

"Baiklah, aku mengerti. Tolong temani para tamu kita sementara aku menemui mereka."

"Baik, Paduka."

"Maafkan saya, saudara-saudara. Saya tidak dapat menemani kalian lebih lama lagi. Ada yang harus saya lakukan."

Orang-orang itu menatap Baekhyun lekat-lekat.

Baekhyun tersenyum dan sambil mengangguk kecil, ia meninggalkan Hall.

"D… dia…"

"Gadis itu Ratu Baekhyun."

"Aku tidak percaya!"

"Ratu sendiri yang mengajak kita masuk! Aku tidak percaya!"

"Aku merasa bersalah telah mencurigainya."

"Ia sama sekali tidak marah telah kita tuding seperti itu. Itu artinya ia benar-benar bermaksud baik."

Suasana Hall menjadi ramai.

Jongdae tersenyum geli mendengar apa yang dibicarakan mereka.

"Memang tak seorang pun menduga ia adalah Ratu," gumamnya.

Bukan karena Baekhyun tidak pantas menjadi Ratu, orang-orang sukar mengenalinya sebagai Ratu. Baekhyun mewarisi ketegasan dan wibawa ayahnya. Tetapi, ia juga mewarisi sifat lembut ibunya. Sifat lembut itu lebih nampak pada dirinya dan dengan raut wajahnya yang masih sangat muda, semua orang mengira ia adalah gadis cantik yang lembut seperti seorang bidadari.

Kedudukannya di Kerajaan Vandella ini sangat tinggi. Ia adalah pemimpin dari kerajaan ini dan demi dia, semua orang mau melakukan apa saja. Kepadanya semua nasib rakyat ini terletak.

Tetapi, tingkahnya tidak menunjukkan kedudukannya. Ia lebih banyak berkelakuan seperti gadis pada usianya yang selalu gembira. Di balik itu semua, Baekhyun menyimpan kekuatan yang luar biasa.

Kekuatan menentukan yang baik dan yang salah.

Kekuatan mengambil keputusan yang tepat.

Kekuatan memberi perintah.

Kekuatan bertindak tegas.

Kekuatan yang menunjukkan ia adalah seorang Ratu yang tegas dan penuh wibawa serta bijaksana.

Kekuatan itulah yang selalu dia tampakkan saat memberi titah pada orang lain.

Kekuatan itu pula yang membuat semua orang mau memberi lebih dari yang diminta gadis itu.

"Selamat pagi, Tuan-tuan," kata Baekhyun sambil tersenyum ramah, "Maaf saya membuat Anda menunggu."

Menteri-menteri itu berdiri. "Selamat pagi Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun," balas mereka.

Baekhyun duduk di kursi tingginya dan berkata,

"Aku senang kalian bisa menyelesaikan tugas yang kuberikan dua minggu lebih cepat dari waktu yang kuberikan. Hari ini aku meminta kalian datang untuk melaporkan hasil kerja kalian dan untuk membicarakan beberapa hal."

"Agar segalanya lebih cepat, aku meminta kalian menyerahkan laporan kalian padaku sekarang juga. Tidak perlu berdiri, berikan saja pada orang di samping kalian."

Dalam waktu singkat berkas-berkas laporan itu berjalan dari satu tangan ke tangan lain hingga tiba di tangan Baekhyun.

Baekhyun menumpuk laporan-laporan yang masing-masing tebalnya hampir tiga sentimeter itu. Kemudian ia berkata,

"Aku akan mempelajari laporan-laporan ini sebelum membicarakannya dengan kalian. Sekarang yang akan kita bicarakan adalah keputusan-keputusan yang telah kubuat tapi belum kulaksanakan. Aku ingin meminta pendapat kalian tentang hal ini."

Baekhyun mengambil lembar teratas dari kertas-kertas yang dibawanya ketika memasuki Ruang Rapat tadi.

"Ada banyak yang ingin kubicarakan dengan kalian. Yang pertama akan kita bicarakan adalah mengenai Donghae."

Baekhyun melihat Gary.

"Sudah saatnya engkau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada atasanmu itu, Gary. Sebelumnya aku memintamu untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun termasuk keluarga Donghae."

"Hamba mengerti, Paduka."

Baekhyun tersenyum puas sebelum melanjutkan, "Donghae tidak membantuku seperti yang dikatakan koran-koran. Ia kutahan di sini atas tindakannya yang melanggar hukum. Kecurigaanku telah terbukti. Aku telah menghitung kekayaannya yang seharusnya dan membandingkannya dengan kekayaan yang dimilikinya. Hasilnya adalah ia mencuri uang negara selama ia menjabat sebagai Menteri Keuangan."

Menteri-menteri berbisik membicarakan pengumuman Baekhyun.

Siapa yang menyangka Menteri kesayangan Raja Kris itu mencuri uang negara? Selama pemerintahan Raja Kris, Donghae selalu membuat Raja senang. Ia selalu tepat waktu menyetor pajak. Ia adalah tangan kanan Raja yang sekejam Raja Kris sendiri dalam menarik pajak.

"Aku tidak akan membuka sidang sebelum para ahli keuangan membuktikannya. Dalam waktu dekat ini Hoseok akan memberikan hasil perhitungannya. Saat itu akan terbukti jumlah uang yang selama ini telah dicuri Donghae. Sampai saat itu tiba, aku tetap ingin kalian merahasiakan hal ini."

"Kami mengerti, Paduka."

"Masalah lain yang ingin kubicarakan adalah mengenai keputusan-keputusanku. Aku telah mengelompokannya sesuai dengan bidang kalian masing-masing."

Baekhyun berdiri untuk membagikan surat-surat keputusannya.

"Bacalah dan beritahu aku bila ada yang tidak kalian setujui."

Sementara mereka membacanya, Baekhyun kembali ke kursinya dan berkata, "Keputusan-keputusanku ini sangat erat dengan bidang kalian masing-masing dan undang-undang yang kalian perbaharui itu. Aku sengaja menunda pelaksanannya untuk disesuaikan dengan Undang-undang yang baru. Bila kalian telah setuju dan merasa tidak ada yang perlu diperbaiki, segera lakukan hal itu."

"Permisi, Paduka. Ada yang ingin saya tanyakan."

"Silakan, Gary."

"Anda menurunkan pajak hingga tingkat terendah. Apakah hal ini tidak akan mengurangi pendapatan kita?"

"Pasti akan mengurangi pemasukan kita. Hal itu tidak perlu diragukan lagi. Tetapi, aku telah menghitung semuanya. Uang yang kita miliki saat ini sangat cukup untuk membiayai segala pengeluaran kita dalam beberapa tahun ke depan. Ingatlah, Gary, ayahku menarik pajak yang sangat tinggi selama lima puluh tiga tahun ia memerintah dan ia sangat kikir dalam membelanjakannya."

"Anda mengatakan uang negara dicuri Donghae. Bukankah itu…"

"Aku akan membuat Donghae mengembalikan sebesar yang ia curi pada rakyat. Kalian tidak perlu merisaukan hal ini. Donghae cukup pintar untuk mengetahui ketelitian ayahku. Ia tidak mencuri apa yang harus dia berikan pada ayahku tapi ia mencuri dari rakyat sendiri. Dengan kekuasaannya sebagai Menteri Keuangan yang bertanggung jawab atas segala penarikan pajak, Donghae meminta sedikit lebih banyak dari yang ditetapkan ayahku, yaitu sekitar seperdua puluh bagian. Kelebihannya itu adalah untuknya dan agar ayahku tidak marah bila mengetahuinya, ia memberikan sebagian kecil dari kelebihan itu."

"Apakah uang yang kita miliki cukup untuk membeli bahan baku dari luar negeri dan memberi bantuan pada rakyat untuk mengembangkan industri?" tanya Jinwoo khawatir.

Baekhyun menatap Menteri Ekonominya itu.

"Sebelum aku memutuskan hal itu, Jinwoo, aku telah memperhitungkan segalanya. Aku telah membuat perhitungan kasar atas uang yang kita miliki. Aku juga telah membuat uraian pengeluaran yang akan timbul karena keputusan-keputusanku itu."

Baekhyun mengangkat seberkas dokumen. "Inilah perhitungan kasarku. Kepastian yang lebih tepat akan keluar setelah Hoseok dan para ahli keuangan lainnya selesai dengan tugas mereka. Kalian hanya perlu melakukan tugas di tangan kalian itu. Jangan mengkhawatirkan dananya. Kekayaan kita cukup untuk semua itu."

"Sungguh sangat disayangkan Raja saja yang semakin kaya di negeri ini sedangkan rakyat semakin miskin. Aku akan merubah semua itu. Aku, dengan dukungan kalian, akan memperbaiki keadaan ini," kata Baekhyun bersungguh-sungguh.

"Setelah semua pembaharuan ini dilaksanakan, aku yakin lima tahun lagi rakyat sudah makmur. Saat itu kita secara bertahap akan menaikkan pajak untuk memperbesar pemasukan kita. Jangan membebani rakyat dengan pajak-pajak yang tinggi selama masa perbaikan ini. Kita harus menyesuaikan pajak dengan keadaan rakyat. Pajak bukan untuk Raja tapi untuk rakyat," Baekhyun menegaskan.

"Saya mengerti, Paduka. Saya akan segera mengumumkan keputusan Anda tentang perpajakan ini."

Baekhyun mengangguk puas. "Untuk kedamaian rakyat ini pula aku akan memperbaiki hubungan dengan para pemberontak itu."

Semua mengerti terlonjak kaget tapi Baekhyun tetap melanjutkan,

"Setelah masalah-masalah pembaharuan ini selesai, aku akan mengundang pemimpinnya ke sini. Dan, hingga saat itu tiba, aku ingin peperangan dengan mereka dihentikan. Aku berharap minggu depan aku telah menyelesaikan pekerjaanku mempelajari Undang-undang yang kalian buat ini dan mengesahkannya."

"Saya tidak setuju, Paduka!" Mingyu mengangkat tangannya, "Para pemberontak itu tidak menyukai Raja Kris. Saya khawatir mereka tidak menyukai Anda pula. Pemimpin mereka mungkin akan menggunakan undangan itu untuk membunuh Anda."

Dalam hati Baekhyun percaya hal itu bisa terjadi tapi ia berkata,

"Aku berada di antara mereka hampir dua bulan, Mingyu. Aku tahu mereka berjuang demi kemakmuran rakyat. Mereka membenci ayahku atas kekejamannya. Bila mereka juga membenciku itu adalah wajar. Aku adalah putri serigala yang mereka benci. Tetapi, pemimpin mereka pandai. Ia pasti tahu apa dampaknya bila ia membunuhku. Ia pasti mengerti hal itu."

"Mingyu benar, Paduka. Bila kekhawatiran itu terjadi, bagaimana nasib kami rakyat Vandella? Siapa yang akan melanjutkan perbaikan ini?" kata yang lain hampir bersamaan.

"Bila kita memutuskan terus berperang dengan mereka, apa kata rakyat?" tanya Baekhyun tegas.

Semua terdiam.

"Dalam masa-masa pembaharuan ini, jangan mengeluarkan biaya yang tidak berguna seperti untuk perang. Apa yang kita dapatkan dengan perang? Tujuan kita dan pemberontak itu sama, menciptakan kehidupan yang adil dan makmur. Aku tidak akan mengorbankan rakyat untuk perang bodoh ini."

"Paduka…"

"Aku mengerti kekhawatiran kalian. Tapi, untuk kali ini aku tidak ingin dibantah," Baekhyun menegaskan, "Aku tahu apa yang kulakukan. Dan, aku tahu mereka pasti tahu apa yang telah kita lakukan untuk memperbaiki keadaan yang kacau ini. Pemimpin mereka juga tidak akan membunuhku tanpa alasan kuat."

"Anda harus memperhitungkan semuanya masak-masak, Paduka," Mingyu mengingatkan.

"Telah kulakukan, Mingyu. Aku tidak akan menarik keputusanku ini walau kalian tidak setuju. Bila memang mereka membunuhku, biarlah itu terjadi. Apa artinya sebuah nyawa ini dibandingkan mereka yang menderita?"

Sebelum ada yang membantahnya lagi, Baekhyun cepat-cepat melanjutkan, "Bila tidak ada lagi pertanyaan, kalian bisa mengatakan segala yang terlupakan olehku dalam keputusan itu."

Para menteri mendesah panjang. Dalam hal ketegasan, Baekhyun seperti ayahnya, membuat orang lain tahu ia bersungguh-sungguh.

"Satu tugas lagi untuk kalian semua, aku ingin kita membina hubungan baik dengan semua negara lain. Kita membutuhkan dukungan luar negeri dalam masa-masa ini."

"Kami mengerti, Paduka."

"Silakan mengatakan apa yang terlupakan olehku."

Semua termenung melihat kertas-kertas di hadapan mereka. Baekhyun pun tidak mau duduk berdiam diri. Gadis itu mengambil seberkas laporan dan mempelajarinya.

Lama ia menanti, tapi tidak ada yang mengangkat tangan untuk melaporkan apa yang terlupakan olehnya.

"Mengapa kalian diam saja?" tanya Baekhyun heran.

"Saya merasa tidak ada yang perlu diperbaiki maupun ditambahkan, Paduka," kata Jongin jujur. "Bagi saya, semuanya telah Anda putuskan tanpa ada yang terlewat."

"Saya pun merasa seperti itu, Paduka."

"Yang lain?"

"Tidak ada, Paduka."

"Baiklah, rapat kita hari ini selesai. Aku akan membutuhkan kalian bila aku telah membaca semua laporan kalian. Aku akan selalu terbuka untuk menerima pertanyaan kalian."

Baekhyun berdiri diikuti menteri-menterinya.

"Selamat siang."

"Selamat siang, Paduka Ratu."

Baekhyun meninggalkan ruangan itu diikuti para menteri. Kepada prajurit yang menjaga pintu, Baekhyun berkata, "Tolong kalian letakkan tumpukan berkas itu di Ruang Kerja."

"Baik, Paduka."

Baekhyun kembali ke Hall. Ia melihat orang banyak itu tampak gembira. Mereka mendapatkan makanan dan barang-barang lain yang selama ini tidak pernah mereka mimpikan.

Terlihat kerumunan wanita yang sibuk memilih gaun dan kerumunan anak-anak yang memilih mainan.

Perbedaan hidup Raja Kris dan rakyat Vandella benar-benar tampak jelas.

Badan mereka yang kotor dan kebersihan Istana Azzereath yang selalu gemerlap. Baju mereka yang compang-camping dengan benda-benda Istana yang mewah.

Semuanya menggambarkan dengan jelas ketimpangan yang ada.

Diam-diam Baekhyun meninggalkan Hall. Ia merasa tindakannya tepat. Ia tidak bisa menyerahkan tahta pada orang lain sebelum ia memperbaiki kesalahan ayahnya. Tetapi ia tidak bisa bersantai-santai dalam hal ini.

.

.

.

.

"Lihat ini!"

Chanyeol hanya membuang wajah. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakan Sehun.

"Ratu Baekhyun turun dari tempatnya yang tinggi untuk mengusap wajah rakyat. Ini judul berita utama koran lima hari yang lalu. Lihatlah ini pula Ratu mengumumkan pada rakyat untuk mau mengambil sendiri bantuan di Istana Azzereath dan untuk mereka yang kaya, Ratu meminta mereka untuk turut menyumbang."

Chanyeol mengacuhkannya.

Sehun meneruskan membaca koran.

Letak Lasdorf yang tersembunyi membuat daerah ini selalu ketinggalan berita. Koran yang datang selalu koran beberapa hari yang lalu.

Seluruh rakyat Chanyeol sudah tahu apa saja yang dilakukan Baekhyun dan mereka sukar mempercayainya. Tapi, mereka tidak tahu Baekhyun adalah Hyunnie.

Sejak Taehyun melaporkan hasil pengintaiannya, Sehun selalu memuji-muji Baekhyun di hadapan Chanyeol. Berlainan dengan Chanyeol, Sehun mempercayai segala maksud baik Baekhyun. ia menyukai segala yang dilakukan gadis itu untuk Baekhyun.

"Lihat ini!" lagi-lagi Sehun berseru tak percaya, "Ratu menyumbangkan gaun-gaunnya! Aku tak percaya Ratu sekaya dia memberikan gaun-gaun terbaiknya untuk rakyat."

Chanyeol bosan. Dalam hari-hari terakhir ini Sehun benar-benar membuatnya muak dan bosan.

"Tindakannya ini menunjukkan niatnya yang benar-benar tulus," komentar Sehun, "Aku ingin tahu apa yang disidangkannya dengan para Menteri hari ini. Taehyun mengabarkan mereka bersidang hari ini, bukan?"

Chanyeol mengangguk malas.

"Dia gadis yang luar biasa. Ia pasti akan membawa kita pada kemakmuran," Sehun berkata mantap.

"Chanyeol, engkau akan meneruskan pemberontakanmu?"

"Sementara ini aku akan diam melihat keadaan. Aku yakin tak lama lagi ia akan menunjukkan taringnya yang sesungguhnya."

"Dan engkau akan mulai peperangan lagi," tebak Sehun.

"Tepat!" sahut Chanyeol tegas.

"Aku tidak mengerti, Chanyeol. Mengapa engkau tidak bisa mempercayainya? Paduka Ratu telah menunjukkan niat baiknya dan engkau tetap tidak mempercayainya."

"Paduka Ratu?" Chanyeol mengejek, "Sejak kapan engkau menghormatinya sebagai Ratu?"

"Sejak aku mempercayainya," jawab Sehun dengan tersenyum.

Chanyeol mendengus kesal. "Dia tidak pantas kauhormati setinggi itu. Percayalah padaku, ia adalah serigala berbulu domba."

"Ia memperbaiki pemerintahan ayahnya. Apakah ia akan memperbaiki hubungan pemerintah denganmu?" Sehun bertanya-tanya pada dirinya sendiri. "Kalau ia mengajakmu berdamai, engkau mau menerimanya?"

"Aku akan membunuhnya," geram Chanyeol, "Sekarang hentikan omong kosongmu itu. Aku benar-benar muak mendengarnya!"

Sehun mengangkat bahunya dengan pasrah.

.

.

.

.

"Aku bosan, Chanyeol. Tidak bisakah engkau membiarkan aku membaca dengan tenang?" gerutu Sehun, "Setiap kali aku membaca koran, engkau selalu memulai ejekan-ejekanmu itu. Kalau engkau cemburu pada Ratu Baekhyun, katakan saja. Kita harus mengakui sekarang ia lebih terkenal daripada engkau."

"Aku tidak akan cemburu padanya."

"Terserah engkau," Sehun tidak peduli.

Keadaan telah berubah banyak dalam hari-hari terakhir ini di seluruh wilayah Vandella juga pada diri Sehun dan Chanyeol.

Kalau dulu Chanyeol yang bosan mendengar Sehun memuji Baekhyun, sekarang Sehunlah yang bosan mendengar hinaan-hinaan Chanyeol.

Keputusan-keputusan Baekhyun terus memperbaiki keadaan rakyat dan membuat rakyat mulai mempercayai serta mencintainya. Tetapi, kecurigaan Chanyeol tidak juga berkurang.

Sehun tidak tahu apa yang membuat pria itu sekeras ini. Biasanya, Chanyeollah yang paling mudah berubah mengikuti suasana. Sekarang ia tegar seperti batu dengan keputusannya.

"Kalau cinta sudah ditipu, beginilah akibatnya," kata Sehun pada dirinya sendiri dan terus membaca.

Dalam pekan-pekan terakhir sejak Baekhyun memulai pemerintahannya, koran-koran terus menyoroti dirinya. Koran-koran tanpa ragu mengupas semua tindakannya yang selalu mengejutkan rakyat.

Tidak ada lagi yang menyamakan Baekhyun dengan ayahnya. Semua tahu Baekhyun berbeda dengan ayahnya. Ia setegas ayahnya tetapi selembut bidadari.

Kedudukannya yang tinggi serta paras wajahnya yang cantik dan didukung usianya yang masih muda, membuat para bangsawan pria berusaha mendekatinya.

"Sebaiknya engkau berhenti membencinya atau kau akan kehilangan dia selama-lamanya, Chanyeol. Ketika aku pergi ke Thamasha, aku mendengar orang-orang berkata, 'Ratu adalah gadis yang sangat menarik. Andai dia bukan seorang Ratu, aku pasti melamarnya.' Kau akan sangat menyesal bila itu terjadi. Apalagi bukan hanya rakyat Vandella yang mengatakannya."

"Aku tidak akan menyesali pernikahannya," kata Chanyeol tegas.

"Sungguh?"

"Aku berbicara dengan seluruh kemantapanku."

"Aku lega mendengarnya. Aku juga tertarik padanya. Sekarang aku tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa untuk menikahinya."

"Mengapa harus khawatir?"

"Kau hampir menikahinya," kata Sehun pasrah. Tiba-tiba pria itu melonjak kaget, "Kalau pernikahanmu tidak diganggu, engkau telah menikah dengan Ratu! Dan, engkau sekarang telah menjadi Raja Vandella!"

"Aku beruntung tidak menikahi setan cilik itu," sahut Chanyeol dingin.

Sehun mengangkat bahunya. "Terserah padamu, tapi jangan marah kalau aku menikahinya."

"Aku turut bahagia karenanya," kata Chanyeol dingin.

Sehun mengacuhkannya dan kembali membaca hingga ia menemukan berita yang menarik.

Selalu, setiap ia menemukan berita yang menarik, ia selalu berseru, "Lihat ini!" Dan Chanyeol menyahutinya dengan seribu macam hinaan.

Sejak ditinggalkan Baekhyun, keadaan di Lasdorf banyak berubah seperti keadaan Vandella umumnya.

Berkat peninggalan Baekhyun, kehidupan rakyat Lasdorf lebih makmur. Terlihat dengan semakin besarnya penghasilan rakyat dalam satu hari. Membaca bukan lagi hambatan bagi mereka.

Dengan berubahnya sistem pemerintahan Vandella, untuk sementara waktu Chanyeol menyibukkan diri dengan melakukan apa yang harus dilakukannya sejak dulu dan sudah dimulai Baekhyun.

Chanyeol menjadi guru bagi rakyatnya. Setiap hari ia meluangkan waktu untuk mereka di samping mengolok Baekhyun di hadapan Sehun.

Sering Sehun berpikir apakah rakyat Lasdorf menyetujui sikap Chanyeol bila mereka tahu Ratu Baekhyun adalah Hyunnie. Tetapi, berulang kali ia berpikir itu tidak mungkin terjadi. Chanyeol takkan membiarkan rakyatnya tahu siapa Ratu mereka.

"Pangeran! Pangeran!"

Chanyeol berdiri mendengar seruan panik itu dan menuju jendela. Ia melihat ke bawah dengan cemas.

Seseorang berlari menuju bangunan tempat ia berada dan beberapa meter di belakangnya seseorang di atas kuda digiring mendekat oleh pasukannya.

Chanyeol segera menemui mereka.

"Pangeran!"

"Apa yang terjadi, Jimin?"

"Ada utusan Ratu Baekhyun!" kata Jimin setengah tak percaya, "Ia datang membawa bendera perdamaian."

Chanyeol melihat pria tua di atas kuda yang dalam keadaan terikat. Tangannya menggenggam bendera putih, tanda menyerah itu.

"Hamba diutus Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun untuk menemui Anda, Pangeran."

Chanyeol mendengus puas. Akhirnya gadis itu akan melakukan sesuatu terhadapnya. Dan ia ingin tahu rencana licik apa yang sedang direncanakan setan cilik itu.

"Bawa dia masuk," perintah Chanyeol.

"Pangeran!" seru Jimin cemas.

"Aku dapat menanganinya sendiri," kata Chanyeol tegas.

Orang-orang yang mengawal Jongin menurunkan pria itu dari atas kuda dan membawanya ke ruang utama.

"Tinggalkan kami berdua!"

"Baik, Pangeran."

Sepeninggal mereka, Chanyeol melepaskan ikatan Jongin.

"Terima kasih, Pangeran."

"Apa yang ingin kausampaikan?" tanya Chanyeol sinis.

Jongin tidak terkejut menerima sambutan dingin itu. Baekhyun telah memperingatinya sebelum melepas kepergiannya.

"Ratu ingin mengundang Anda untuk datang ke Istana Azzereath untuk berdamai."

Melihat pandangan Chanyeol tetap sinis, Jongin melanjutkan, "Ratu sangat menyesal tidak dapat datang sendiri ke sini. Banyak hal yang harus diselesaikannya. Hari ini beliau membuka sidang untuk Donghae."

"Donghae?" tanya Chanyeol heran.

"Ratu sangat luar biasa! Dalam waktu singkat, ia tahu Donghae telah mencuri uang rakyat. Perhitungan Ratu sendiri dengan perhitungan para ahli keuangan tidak jauh berbeda. Hari ini Ratu menggelar persidangannya bersama para Menteri."

Chanyeol memandang Jongin dengan sinis.

"Khusus hamba, hamba mendapat tugas untuk menjemput Anda. Ratu berkata sayalah wakilnya yang paling tinggi di dalam Kerajaan Vandella. Ratu menghormati Anda namun ia tidak dapat menemui Anda sendiri."

"Sebenarnya apa yang direncanakan Ratumu? Ingin menarik perhatian rakyat dengan menghukum menteri kesayangan ayahnya?"

Jongin menghela nafas. Baekhyun juga telah memperingatinya tentang pandangan sinis Chanyeol terhadapnya.

"Ratu berencana untuk mengubah kerajaan ini. Ia ingin membuang semua peninggalan ayahnya dan menggantinya dengan yang baik. Termasuk memperbaiki hubungan pemerintah dengan Anda."

"Katakan padanya aku menolak."

"Ratu telah menduganya," kata Jongin.

Chanyeol membuang muka dengan angkuh.

"Ia tidak memaksa Anda bila Anda menolak," kata Jongin jujur, "Tetapi, saya memohon Anda sudi datang ke Azzereath."

"Anjing yang setia," ejek Chanyeol.

Jongin bersikap seperti tidak mendengarnya.

"Saya minta maaf atas kejadian beberapa bulan lalu. Ratu tidak memerintahkan kami untuk menyerang tempat ini. Ia tidak tahu penyerangan itu. Ratu memerintahkan kami untuk bertahan di Thamasha sampai beliau datang. Sayalah yang memerintahkannya. Saya melakukan itu karena saya menghawatirkan keselamatan Ratu. Ratu tidak berniat untuk memperpanjang permusuhan kerajaan dengan Anda."

Chanyeol tidak menanggapi.

"Saya mohon, Pangeran. Ratu bisa jatuh sakit bila ia memaksakan diri datang ke Lasdorf. Saat ini ia sangat lelah. Setiap saat ia terus bekerja tanpa mau berhenti. Tidak seorangpun yang bisa menghentikannya."

"Kaupikir aku bisa?"

"Anda juga tidak dapat, Pangeran," Jongin mengakui, "Tapi Anda sudi datang ke Azzereath, kami sangat berterima kasih."

"Sebagai gadis yang dibesarkan di desa miskin, Ratu tahu bagaimana kesulitan rakyat Vandella. Ia berkeinginan untuk memperbaiki semua itu. Dalam diri Ratu terdapat sifat keras Raja Kris. Ia selalu berkata, 'Aku tidak akan berhenti sebelum semuanya selesai. Banyak yang harus dilakukan.' Ratu ingin segera menyelesaikan segalanya dan tanpa ia sadari, ia telah merusak tubuhnya. Ratu masih terlalu muda untuk mengerti hal itu."

"Kami semua mengkhawatirkan kesehatan Ratu bila ia harus menempuh perjalanan panjang ini. Ratu tidak ingin memaksa Anda untuk datang ke Azzereath tapi kami memohon pada Anda. Tak seorang pun di Azzereath bisa membayangkan apa yang terjadi bila Ratu tiba-tiba sakit. Saat ini adalah masa paling sulit dan Ratu sangat dibutuhkan Vandella."

"Betapa setianya kalian pada keturunan serigala itu."

Jongin tidak tersinggung mendengar kata-kata sinis itu. "Ratu Baekhyun lebih menyerupai ibunya daripada ayahnya. Anda mungkin tidak percaya, tetapi ini benar. Ratu Baekhyun sangat membenci ayahnya. Ia tidak mau memerintah Vandella yang merupakan warisan ayahnya. Tapi, ia tetap melakukannya demi rakyat Vandella. Kami tahu Ratu mencintai rakyat dan kami pun mencintai Ratu."

Chanyeol diam membisu.

Jongin putus asa melihat pandangan angkuh pria itu. "Paduka Ratu benar, ia tidak bisa dipaksa," pikirnya sedih.

"Aku ikut," Chanyeol pada akhirnya memutuskan, "Aku ingin tahu apa yang direncanakan setan cilik itu terhadapku."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

THANKS TO:

whey.K (Kamu setia banget selalu review di ff remake aku mumumu:33), enoanggraeni250712,
Baeks06 (Kamu juga selalu revieww, makasih ya;vv), baekidora, ByunJaehyunee(Kamu selalu reviewww, thanks banget;vvv), parkbaexh614, parkbaekhyun276, exindira, Chanbaekhunlove, yousee, ohbyunpark, nne, cara mengatasi(Sekedar pemberitahuan, tidak akan ada NC;vv), ChanBMine(Kamu muncul lagi di review aku, jangan bosen bosen ya:pp), erry-shi, yoogeurt, gentaca, byunbaek92(Hihi^^ makasih cinguu udh mau read and review:33 semangat buat kita ya:999), Kurniaa286, Dazzlingcloud, Dhararere, Mrkxy.

Makasih untuk yang terus review^^

See you next chap:*

Byunnerate