Senin, 28 Desember 2015
Gaara terbangun saat mendengar bel berbunyi. Ia berdiri, memindahkan Hinata ke kamar, memakai sweater abu-abu yang ia dapat dari lemari, lalu melihat siapa yang datang melalui layar video dengan sistem interkom di samping lift yang memperlihatkan empat manusia bergender laki-laki dengan tampang badass.
Gaara menekan tombol untuk mempersilakan mereka masuk, kemudian melangkah ke dapur untuk mencari minuman. Saat ia sedang menuang jus jeruk ke dalam gelas Doraemon kesukaannya, lift berdenting. Gaara melirik jam.
07.36
"Apa Gaara tinggal di sini?"
"Tidak," Gaara menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto mengabaikan jawaban Gaara. Mereka berempat berpencar untuk melihat-lihat sekeliling. Gaara melarang ke-empatnya untuk masuk ke kamar utama karena Hinata masih tidur. Gantungan yang sebelumnya hanya menanggung beban mantel Gaara dan Hinata kini dipenuhi mantel-mantel dan topi-topi asing. Mengambil ponsel, Gaara duduk di sofa empuk lalu menyalakan TV.
Suara TV dan jus jeruk menemani paginya hari ini. Terkadang ia melirik teman-temannya yang sibuk menganalisa tiap benda dan perabotan yang ada. Salju masih turun hari ini, matahari seolah menyerah menyinari bumi. Gaara melirik celana selutut longgar dan sandal hotel yang dipakainya. Dingin.
"Jacuzzi?! Tidak mungkin!"
Mendengar teriakan Naruto, ketiganya—Sasuke, Kiba, Shino—segera meninggalkan spot masing-masing dan berlari menuju Naruto. Gaara bisa mendengar decakan-decakan kagum dari mereka bertiga yang tidak pernah memiliki jacuzzi pribadi di rumah mereka. Satu alasan mengapa Gaara memilih jacuzzi dibandingkan bath-up yang lebih sederhana.
"Gar," Kiba memanggil. Gaara menoleh dengan pandangan bertanya, gelas berada dalam genggamannya. "Kami berendam, ya?" tanya Kiba disertai cengiran. Suhu udara hari ini agak lebih dingin dari kemarin-kemarin. Jadi, berendam air panas di jacuzzi mahal dengan pemandangan kota Tokyo merupakan tawaran yang sangat menggiurkan.
Meletakkan gelas Doraemon-nya di meja, Gaara menjawab dengan muka datar, "Tidak."
Kiba meringis. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil berkata, "Ayolah."
"Kita bisa berendam berlima," celetuk Naruto.
"Tidak. Tunggu sampai aku dan Hinata sudah pernah menggunakannya."
Dengan lesu, mereka berjalan ke sofa empuk dan bergabung bersama Gaara menonton acara yang tidak jelas. Mereka diam seperti itu sampai Naruto merasa dia tidak bisa lagi menahan diri. Ia berdiri di hadapan Gaara.
"Dengar, Marvin Gaye," Gaara mengernyit mendengar panggilan Naruto untuknya. "Aku tahu kau sudah menikah tapi bukan berarti kau lebih dewasa dari kami semua. Jangan menjadi sok keren dan berwibawa padahal nyatanya kau hanya cowok berengsek yang terobsesi pada gadis berdada besar!"
Gaara melengkungkan tempat-alisnya-seharusnya-berada dan menatap Naruto penuh tanya. Ia tahu Naruto bukan marah kerena itu, pasti ada alasan lain. Gaara tahu itu.
"Tenang, Naruto, katakan apa maksudmu," kata Sasuke.
"Aku lapar! Apa kau tahu alasanku kemari? Aku lapar!"
Nah, kan?
"Dengar—"
Pintu kamar utama terbuka dan Hinata yang masih setengah sadar berjalan keluar menuju dapur tanpa memerhatikan para lelaki yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan mulut menganga. Mata mereka mengikuti tiap langkah dan gerak gerik Hinata menuju dapur. Setelah Hinata menghilang dari balik dapur, semua mata tertuju pada Gaara.
"No way," Kiba berbisik tidak percaya, Shino memijit keningnya sambil menggeleng-geleng tidak percaya, Naruto melupakan rasa laparnya.
"Apa tadi itu kemejamu?" Hanya Sasuke yang bersikap biasa.
Gaara menampilkan seringai. "Kalian tidak boleh membocorkan hal ini pada ayah Hinata." Ia berdiri, menyusul Hinata ke dapur.
Masih di tengah jalan, Gaara berhenti karena Hinata sudah muncul dengan segelas teh hangat di genggamannya. Gaara mengambil satu langkah lebih dekat sambil berucap pelan, "Honey."
Atmosfer awkward memenuhi ruangan saat Hinata memindai seluruh ruangan—menatap empat orang asing yang tidak seharusnya di sini—lalu menatap Gaara kemudian melihat penampilannya. Matanya membulat dan wajahnya merah padam. Sebelum Hinata berteriak atau menangis atau pingsan atau melakukan hal-hal yang mungkin dilakukannya di saat-saat seperti ini, Gaara menyelamatkan istrinya; memeluknya, kemudian menggiringnya kembali ke kamar setelah melemparkan sandal pada ke-empat temannya.
"A-aku malu…" kata Hinata dengan suara lirih dan mata memanas.
"Ssshh," Gaara mengambil gelas di tangan Hinata, meletakkannya di meja TV, kemudian mengecup keningnya. "Mandilah, aku akan menunggu di sini, oke?"
Hinata merasakan keinginan kuat untuk mengubur dirinya hidup-hidup. Apa yang dia pikirkan? Berjalan keluar dengan hanya dilapisi kemeja kebesaran Gaara? Kenapa dia lupa bahwa teman-temannya akan datang hari ini? Kenapa—Argh! Hinata tidak mau keluar kamar lagi.
Ia bisa merasakan Gaara mengusap-usap lengan atasnya sebelum mendorongnya ke kamar mandi.
"Keluarlah kalau sudah selesai," kata Gaara. Ia tahu Hinata kemungkinan besar akan mengurung dirinya di kamar mandi sampai ajalnya menjemput. Jadi, Gaara keluar, dengan hanya satu sandal di kaki kiri dan sandal lain dipegang Naruto.
"Jangan pernah membicarakan hal ini."
"Kita sudah p—"
Sebelum Naruto sempat mengatakan hal bodoh di hadapan Kiba dan Shino, Gaara menyela, "Naruto! Aku tidak bercanda sekarang ini. Kalau ada dari kalian yang berani membahas hal ini baik di depan maupun di belakangku, kalian mati."
Semuanya mengangguk kecuali Sasuke. "Bagaimana kau tahu kami membicarakan ini di belakangmu?"
"Jangan coba-coba, Uchiha."
"Sisi dirimu yang ini terlalu manis untuk ku telan, jadi aku akan membiarkanmu membusuk," kata Naruto lalu meneguk jus jeruk Gaara.
"Hah?"
"Oke, oke, kita akan melakukan janji kelingking."
"Terimakasih atas usulan yang menjijikkan, Kiba," Sasuke berujar sarkastik.
"Jadi kau lebih memilih meludah di tanganmu? Karena itu lebih menjijikkan."
"Kita bisa membuat perjanjian tertulis," usul Shino.
"Ide bagus," Gaara menyetujui. Ia berjalan ke kamar untuk mengambil kertas dan pulpen, menanyakan keadaan Hinata di kamar mandi, kemudian kembali menemui ke-empat temannya. "Hanya di antara kita berlima."
"Kau sangat protektif pada Hinata," Kiba menyeringai, "aku suka itu."
"Sekarang kau yang terlihat menjijikkan."
Kiba menatap sinis Sasuke.
"Kalian berdua yang menjijikkan," Gaara menunjuk keduanya dengan pulpen. Ia menulis perjanjian di kertas, menanda-tanganinya, mengopernya ke yang lain, kemudian kembali pada dirinya untuk disimpan. "Akan ku buat kopiannya."
Sasuke memutar bola mata. "Aku akan bersiap-siap di meja makan."
Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Untuk apa?"
"Untuk makan."
"Ide bagus."
Naruto menyusul Sasuke, sedangkan Shino dan Kiba tetap memilih TV dan mengganti salurannya untuk menonton Disney Channel. Gaara bergabung beberapa saat kemudian. "Kalian punya kebiasaan yang sama," katanya, mengambil gelasnya di meja, kemudian mengernyit saat melihat isinya yang kosong.
"Siapa? Hinata?"
Gaara mendesah sambil meletakkan gelasnya kembali di meja lalu mengangguk. "Disney."
Kiba mengangguk mengerti. "Kami tidak bisa lama," Gaara memberikan pandangan bertanya. "Harus ke pemakaman," jawabnya.
"Oh," ucapnya, "Hinata bilang kita semua akan ikut."
"Itu akan bagus untuk Taran," kata Shino.
Gaara berdiri untuk kembali ke kamar.
"M-mereka… belum pulang?" Hinata bertanya tepat setelah Gaara membuka pintu. Ia sudah mengenakan pakaian lengkap; kaos hitam yang panjang lengannya sampai siku dan legging hitam.
Gaara menggeleng, Hinata mendesah. Ia menunduk saat Gaara duduk di sampingnya. "Serba hitam," komentarnya.
Hinata mengangkat bahu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Gaara. "Kita bisa di kamar seharian."
Gaara terkekeh. Ia mengecup puncak kepala Hinata lalu berujar, "Naruto lapar."
"Dia bisa pesan makanan."
"Semua orang tahu masakanmu yang terbaik."
Hinata merona. "K-kau bisa terus s-seperti ini."
"Hm?"
"Lupakan."
Gaara memeluknya erat kemudian mengecup pelipisnya. "Akan ku balas nanti, tapi sekarang aku juga lapar," bisiknya.
Hinata tersenyum senang. Ia mengangguk, kemudian mengikuti langkah Gaara keluar.
.
Semuanya bersikap biasa, seolah-olah kejadian memalukan sebelumnya tidak pernah terjadi. Jadi, Hinata juga bersikap biasa, fokus pada masakannya. Gaara tidak pernah pergi dari sisinya. Ia serius bermain game di iPad-nya, tapi tetap mengikuti ke mana pun Hinata pergi. Setiap Hinata memanggilnya untuk mencicipi masakan, Gaara dengan segera melupakan game-nya, memberikan perhatian penuh pada Hinata seorang, kemudian mangambil apel dari kulkas saat iPad-nya hilang entah ke mana.
Setelah selesai, Hinata menghidangkan masakannya di meja makan dibantu Gaara. Di meja makan sudah ada Sasuke dan Naruto—yang sedang bermain game di iPad Gaara—yang sudah siap menerima makanan apa pun yang dibuat Hinata. Kiba dan Shino menyusul sesaat kemudian.
"Apa ini?" tanya Naruto. Ia mengendus aroma masakan Hinata kemudian menutup mata. "Enak," gumamnya.
"Bacon-Cheddar Grits," Gaara menjawab. "Hinata mendapatkannya dari internet."
"Itu manis sekali, Gaara, aku tidak menyangka kau jadi sejinak ini."
Gaara mendelik pada Sasuke. "Maksudmu?"
Sebelum Sasuke sempat menjawab, Hinata menutup mulutnya dengan spatula. "Kita bisa makan sekarang," katanya dengan senyum manis.
Semua duduk. Sasuke memberi pandangan tanya pada Hinata yang dibalas Hinata dengan senyum penuh arti. Dia tidak akan membiarkan Sasuke merusak Gaara-nya yang versi ini.
…Gaara-nya?
Hinata menggigit bibir sambil melirik Gaara saat julukan itu mampir ke pikirannya.
"Aku pernah belajar masak," Naruto memulai. Ia memasukkan satu sendok penuh ke dalam mulut dan berujar tersendat-sendat, "Waktu itu ulang tahun Kaa-chan, dan aku mau membuat kejutan dengan membuat Kue Red Velvet." Naruto menelan makanannya. "Aku mengikuti semua langkahnya di internet—itu sangat jarang terjadi, jadi kurasa aku pantas mendapatkan penghargaan—dan hasilnya sangat memuaskan."
Kiba mengangguk-angguk. "Jadi?"
"Masalahnya, yang memuaskan hanya di luarnya saja. Saat Kaa-chan memakannya, dia langsung memuntahkannya. Saat ku coba, ternyata rasanya seperti gabus."
Hanya Kiba yang tertawa.
Yeah, sebagian besar karena Shino pernah melakukan hal yang sama.
"Itu sama saja kau tidak mengikuti langkahnya dengan baik," kata Kiba.
Shino berdeham. Ia tentu tahu alasan Kiba tertawa. "Jadi kalian semua ikut ke pemakaman?"
Kali ini Hinata turut bergabung. "Aku dan Gaara sudah pasti ikut."
Gaara membuka mulutnya. Saat Hinata sudah menyuapinya, ia membuka suara. "Sasuke dan Naruto juga."
Naruto mengangguk tidak peduli. Lagian apa salahnya datang ke pemakaman?
"Tidak bisa malam saja? Aku masih mau melihat-lihat di sini," kata Kiba dengan nada memohon.
Shino menghela napas sebelum mengiyakan. Di tengah-tengah percakapan tentang orang yang disukai Kiba, ponsel Gaara berdering. Ibunya mengatakan hari ini tidak bisa datang karena Kankuro sakit. Gaara sempat protes mengapa orang seperti Kankuro harus diperhatikan, namun Kankuro sendiri menyela dengan teriakan kesal semacam "Dia ibuku!" atau "Pergi kau ke neraka!" atau dua-duanya.
Gaara yang memang tidak suka Kankuro semakin kesal karena sekarang Kankuro memonopoli ibunya. Hinata bertanya ada apa dan Gaara menjawab sesuai kenyataan. Hinata tersenyum mengerti. Mereka menghabiskan makanan mereka lalu Hinata dibantu Kiba membereskan semua piring kotor untuk dicuci.
"Jangan berani-berani mengambil Hinata."
Uh-oh. Itu bukan Gaara. Itu Kiba.
"Atas alasan apa?"
Kiba meletakkan piring terakhir di wastafel. "Dengar, Marvin Gaye,"—Gaara mulai sangat terganggu dengan panggilan itu yang entah sejak kapan dilekatkan padanya—"kau sudah menikah dengan Hinata yang berarti kau harus memberi banyak waktu untukku berdua dengan sahabatku, karena aku akan jarang bertemu dengannya lagi."
Gaara menyeringai. "Aku yakin itu bukan alasan sebenarnya. Kau hanya tidak mau mencuci piring sendirian."
Hinata mengembuskan napas lelah. "Kalian bisa bertengkar di tempat lain."
"Honey—"
"Kau juga bisa memanggilnya Salt, Flour, Oil, Pepper, dan lain-lain, Gaara."
Gaara menggertakkan giginya. Penyuka anjing di hadapannya mulai membuatnya muak.
Hinata yang melihat Gaara sudah mulai ter-upgrade sendiri menjadi binatang buas, memilih untuk menekan cancel sebelum semuanya terlambat. "Gaara-kun, mungkin k-kau bisa menemaniku keluar sebentar."
Gaara mengangguk, Hinata mengembuskan napas lega.
"Lalu siapa yang membantuku?"
"Bayanganmu."
.
"Kita mau ke mana?"
Oke, Hinata tidak berpikir sejauh ini. Ia hanya ingin mencegah Gaara berubah dan ajakan itu mengalir begitu saja. Ia bahkan tidak memikirkan satu alasan pun untuk diberikan pada Gaara saat mereka sedang memakai mantel maupun berada dalam lift. Dan kini setelah mereka sudah berada di luar, Hinata menemukan dirinya membeku, baik tubuh maupun pikirannya.
Ia menggigit bibirnya saat tidak satu pun alasan masuk akal mampir ke otaknya. "Um…" Hinata mengembuskan napas dan menciptakan kepulan asap. "A-aku hanya mau b-berdua d-denganmu," jawabnya malu-malu.
Oke, mungkin tidak sepenuhnya benar, tapi setelah mengatakan itu entah mengapa Hinata merasa memang itulah yang ingin ia lakukan.
Awalnya Gaara diam. Kemudian senyum mulai menghiasi wajahnya. Lalu senyum itu melebar sampai mirip cengiran. Hinata mengerjap.
"Sepertinya kelicikanku sudah tertular padamu." Gaara memperbaiki topi Hinata kemudian mengambil tangan Hinata lalu menggandengnya. Mereka jalan dalam diam dan kaki mereka membawa mereka ke sebuah kafe dengan papan nama 'Galit'.
"Galit?" Hinata bertanya. Galit adalah bahasa Filipina yang berarti anger, amarah.
Papan nama yang sangat tidak cocok dengan bagian dalam kafe yang sangat manis dan menenangkan. Gaara hanya pergi ke klub-klub malam dan tidak pernah menginjakkan kaki ke kafe-kafe seperti ini. Sedangkan Hinata? Ayolah, kalian semua mengenal Neji.
Mereka melangkah menuju kasir untuk memesan. Di tembok di atas kasir, ada sebuah figura besar seorang wanita paruh baya yang tidak tersenyum dan menatap kamera dengan pandangan tajam. Di sampingnya ada tulisan yang menjelaskan tentang wanita tersebut dan asal-usul nama kafe (yang sudah jelas menimbulkan keheranan). Hinata membacanya.
Thania Legaya adalah wanita pemarah dari Filipina yang tidak mempunyai catatan kriminal namun pernah di penjara sekali hanya karena membentak seorang petugas ketika sedang mengembara di Jepang. Setelah keluar dari penjara, ia memutuskan untuk membuat kue tar dengan resep sendiri. Ia kemudian menikah dengan seorang yang baik hati asal Amerika dan melahirkan seorang anak perempuan. Sifatnya yang pemarah membuatnya mati lebih cepat dari yang seharusnya. Kue tar-nya terkenal tidak lama setelah kematiannya. Anak perempuannya memutuskan untuk membuka kafe dengan papan nama Galit untuk mengenang mendiang ibunya.
Hinata selesai membaca tepat setelah Gaara selesai membayar kue tar mereka.
Mereka keluar dari kafe karena Gaara merasa tidak betah. Mereka pergi menuju taman setelah sebelumnya mampir ke minimart untuk membeli air minum. Hinata menikmati kue tar-nya, sedangkan Gaara memberikan miliknya pada Hinata setelah mencicipi sedikit.
Hinata menatap sebuah keluarga kecil yang sedang membuat boneka salju. Sang ayah tiba-tiba terpeleset dan menghancurkan boneka salju tersebut. Semuanya diam dan Hinata sempat berpikir bahwa salah satu—bahkan mungkin semua—anaknya akan menangis. Tapi sebaliknya, mereka berteriak, "WAR!" lalu mulai membangun benteng dengan cepat. Tiga lawan satu. Sang ibu mengambil pihak suaminya.
Tangan kiri Gaara melingkari pundak Hinata. Ia membawa Hinata lebih dekat padanya lalu mengecup keningnya. Ia tahu Hinata sedang menatap keluarga harmonis yang sedang perang bola salju. Ketika sang ayah berhasil mengalahkan salah satu anaknya, ia mengecup pipi istrinya dan Gaara kembali memikirkan kata-kata Sasuke.
Aku tidak menyangka kau jadi sejinak ini.
Gaara tahu apa yang dimaksud Sasuke, tapi Gaara juga tidak menyangka ia bisa berubah menjadi seperti ini. Ia tidak pernah berbuat hal-hal manis seperti ini. Dan dia bahkan tidak terlalu memikirkan dada Hinata lagi. Well, setelah dipikir-pikir, Gaara merindukan dada Hinata.
Tap
Hinata tersentak. Ia melirik tangan Gaara yang menampung dada kirinya lalu menatap Gaara yang masih menatap keluarga harmonis itu. Wajah Hinata berbah warna. "G-Gaara-kun…"
"Dengan pakaian setebal ini, aku tidak bisa merasakan dadamu." Gaara mulai meremas dada Hinata.
Hinata meringis. Kenapa Gaara senang melakukannya di tempat umum? Atau tempat di mana ada segelintir orang yang mungkin saja melihat apa yang sedang dilakukan Gaara? Kenapa tidak di rumah saja? Di apartemen mewah mereka yang menyediakan privasi. Bukankah Gaara bisa melakukan apa saja yang dia inginkan jika sedang berada di apartemen?
Hinata hampir tersedak pemikirannya sendiri.
Pertanyaan utama; sejak kapan Hinata menjadi mesum?
"G-Gaara-kun, k-kita pulang saja."
Padahal Hinata baru mencicipi rasa manis seorang Gaara. Tapi sayang itu semua harus berakhir dengan rasa hambar yang membuat mual.
Gaara masih meremas dada Hinata beberapa kali sebelum akhirnya melepaskannya. Ia tersenyum kecil. "Ayo."
.
Tayangan How I Met Your Mother menjadi tontonan mereka di siang hari. Waktu makan siang sudah dekat dan Naruto ingat mereka baru makan sekitar tiga jam yang lalu. Matahari yang biasanya sudah terik di jam-jam seperti ini seolah kehilangan kekuatannya. Naruto sedang membayangkan makan siang sambil berendam di jacuzzi saat Sasuke tiba-tiba membuka suara.
"Aku tidak mau menonton acara ini seharian. Naruto, kemarikan remotnya."
Naruto mengangkat kedua alisnya. "Aku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
Sasuke memutar bola mata. "Kau pikir?"
Naruto melipat kedua tangannya. "Jangan asal menuduh, Sasuke."
"Oh, ya?" Sasuke men-scan Naruto dari atas sampai bawah. Sesaat, suara Kiba memakan kacang menjadi suara latar. "Berdiri."
Mengernyitkan kening, Naruto berkata, "Kenapa tidak kau?"
"Jangan mencari masalah, Naruto. Aku tahu kebiasaan burukmu."
Naruto merasa kesal. Walaupun dia selalu menyembunyikan remot tiap nonton bersama, tapi sekarang bukan dia yang memegangnya. Sayang sekali, Sasuke membuat segalanya sulit. "Kau yang mencari masalah, Teme."
"Masalah selesai kalau kau berdiri sekarang."
"Bagaimana kalau aku menolak?"
Perang mata terjadi. Saat Ted Mosby tertawa, Sasuke mendesis, "Sudah cukup." Kemudian menyerang Naruto dengan brutal.
Naruto melawan. Ia menendang Sasuke hingga jatuh dari sofa kemudian berdiri. Ia melakukan sedikit perenggangan lalu kembali menantang Sasuke. Seperti binatang buas, Sasuke kembali menyerang Naruto. Mereka bergulat di lantai, berguling-guling, saling mendorong, menekan, menjepit, berteriak, dan lain-lain.
"Kembalikan remotnya, Naruto!"
"Dalam mimpimu, Sasuke!"
Kiba yang merasa suara keduanya menganggu mengambil remot dari bawah pantatnya dan memperbesar suara TV. Ia kembali meletakkannya ke tempat semula kemudian melanjutkan acara makan kacangnya. Kiba menoleh saat merasakan tatapan Shino. "Apa?"
Shino menggeleng.
Lift berdenting dan suara Gaara mengalahkan suara TV. "Apa yang kalian lakukan?!"
Hinata melongo. Tidak ada yang pecah, tapi keadaan Sasuke dan Naruto sangat tidak karuan—Sasuke berada di atas Naruto dan keduanya saling mencengkeram baju lawan, rambut keduanya juga sangat berantakan. Mereka berhenti bergulat, lalu menatap Gaara dan Hinata. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah melepaskan baju masing-masing.
Sekali lagi suara Kiba dan kacangnya menjadi suara latar.
"Apa yang kalian pikir kalian lakukan?"
Naruto mendorong Sasuke agar dia bisa berdiri. Telunjuknya menunjuk Sasuke. "Dia menuduhku menyembunyikan remot."
"Kau memang menyembunyikan remot, bangsat!"
"Oh, ya? Kalau begitu kenapa salurannya berganti menjadi Disney Channel?!" Sekarang telunjuknya mengarah pada TV.
Kiba yang merasa tidak melakukan apa-apa, berteriak pada Hinata, "Nata, Phineas and Ferb the Movie!"
Hinata dengan cepat melupakan Sasuke dan Naruto dan segera bergabung dengan Kiba.
Naruto dan Sasuke saling bertatapan.
"Kiba sialan!"
.
Pertempuran absurd yang hanya diakibatkan oleh remot akhirnya berakhir saat Gaara memanggil room service untuk membawakan menu makan siang. Naruto menolak untuk pulang, ia mau menginap demi menikmati jacuzzi. Tentu saja Gaara tidak mengizinkan.
Sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka mengunjungi makam Taran dan Naruto tidak bisa menemukan alasan mengapa dirinya merasa sangat kecewa pada orang-orang di sekitarnya. Maksudnya, dia bahkan membeli bunga hanya untuk seekor tarantula yang sudah mati!
Tapi kekecewaannya terangkat setelah Shino mengucapkan 'terimakasih' dengan dramatis. Kini ia mengerti bagaimana semua orang memandangnya selama ini.
Gaara dan Hinata pulang untuk beristirahat. Sekitar pukul tujuh malam, keluarga dari kedua mempelai datang untuk makan malam bersama. Dengan terpaksa, Gaara menelan semua nafsunya yang selalu muncul setiap matahari terbenam.
Makan malam berjalan lancer. Hiashi tidak berhenti memberi Gaara tatapan I'm-watching-you sedangkan Karura terus menggoda Gaara untuk menceritakan kisah malam pertamanya setelah sebelumnya mengumumkan bahwa Kankuro sembuh lebih cepat dari biasanya. Gaara terjebak, tapi masih bisa mengembuskan napas karena Neji tidak di sini.
Katashi menyeringai melihat kegugupan anaknya.
"Aku memutuskan untuk tidak melakukannya sampai kita berdua lulus SMA."
Bohong.
"Ah, Gaara-chan, kau gentle sekali." Karura memeluk Gaara, mengusap air mata terharu yang keluar dari sudut mata kirinya.
Hiashi menampilkan senyum bangganya.
Dan itu segera hilang saat Kankuro berujar, "Jadi Hinata dapat hickey dari mana?"
Terkadang hidup begitu sulit untuk dimengerti. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup kita yang mustahil untuk kita mengerti. Terkadang, kita hanya perlu membiarkannya mengalir. Kita tidak perlu menanyakannya, tidak perlu memikirkannya, kita hanya perlu menarik napas dan bersiap pada segala kemungkinan.
Gaara tidak percaya dengan akhir dunia, itu terlalu sulit untuk dibayangkan. Saat seseorang mati, Gaara hanya menganggapnya sebagai bagian dari hidup. Suatu saat kita semua akan merasakannya; mengembuskan napas terakhir dan bergabung dengan tanah. Semuanya normal.
Namun, di saat-saat tertentu, Gaara berpikir. Bagaimana rasanya kematian? Bagaimana rasanya tidak bernapas? Dan apa yang terjadi jika ia mati? Apa rohnya akan pergi ke suatu tempat? Apa Surga dan Neraka memang nyata?
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya kini membanjiri kepalanya. Telinganya seolah tuli, badannya mati rasa. Semuanya berjalan lambat, dan Gaara bisa melihat cahaya putih menyinari dirinya. Gaara masih bisa mendengar jantungnya berdetak, tapi tiba-tiba perasaan takut menghampirinya. Perasaan takut tersebut seolah mengaktifkan semua sel-sel tubuhnya yang sempat berhenti bekerja.
Telinganya mendengar gebrakan meja. Kemudian umpatan Katashi dan Karura yang berteriak histeris. Lalu matanya melihat Hinata yang membantu Katashi menahan Hiashi. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang dan cahaya putih menghilang dalam sekejap, dan kini Gaara diperhadapkan pada sebuah situasi.
Kenapa semua hal aneh terjadi dalam satu hari?
Gaara menepis pertanyaan itu dari pikirannya dan segera berdiri untuk menghindari serangan Hiashi.
"Hiashi, mereka sudah menikah!"
"Aku sudah memberimu peraturan!"
"Aku menggunakan pengaman!"
Semua bungkam mendengar kejujuran Gaara.
"Kami sudah sah, jadi kami bisa melakukan hal-hal dewasa yang kami inginkan. Aku tidak melanggar peraturan Tou-san karena aku menggunakan pengaman agar Hinata tidak hamil."
Gaara menarik napas. Suasana sudah lebih tenang. Dan Gaara sudah siap menjelaskan semuanya.
Tapi seperti sebelumnya, hidup memang sulit untuk dimengerti. Gaara mengakui itu semua saat Kankuro menyela dengan—sekali lagi—pertanyaan bodoh, "Bagaimana kalau pengamannya rusak?"
Semua mata tertuju pada Kankuro. "Kalian tahu, Gaara sering kehilangan kendali saat sedang melampiaskan nafsunya," tambahnya disertai kendikkan bahu.
Kini Gaara tahu. Gaara tahu kemana orang mati akan pergi.
Ke tanah.
.
Sekitar pukul dua pagi, Gaara merasakan ketidak-hadiran Hinata di sampingnya. Ia bangun, lalu melangkah ke dapur—satu-satunya ruangan dengan lampu menyala—tanpa memedulikan dirinya yang shirtless. Hinata sedang membuat teh, ia berdiri membelakangi Gaara.
Gaara mendekat lalu mendekap Hinata dari belakang. Hinata terkesiap, tapi kembali melanjutkan kegiatannya setelah Gaara mengecup lehernya. Hari yang melelahkan ditutup keduanya dengan permainan di tempat tidur. Sekali lagi Hinata berjalan keluar dengan pakaian miliknya. Bedanya, kali ini dia memakai kaos.
"Mau teh?" tawar Hinata.
Gaara menggeleng. "Aku membutuhkanmu di tempat tidur."
Hinata menyesap sedikit tehnya sebelum bergerak ke sofa empuk. Gaara masih melengket padanya. "Hari ini cukup aneh, kan?"
Gaara mengembuskan napas, tapi tetap mengangguk. Pikirannya melayang ke Kankuro yang sekarang sedang berada di rumah sakit. Perasaan bersalah hampir menghampirinya namun segera ia tepis dengan kalimat kekanak-kanakan; Dia yang salah.
Ketika Hinata meletakkan gelasnya di meja, Gaara menarik wajahnya agar berpaling ke arahnya. Gaara menatap mata Hinata dengan intens sebelum perlahan-lahan mendekatkan wajahnya dan kembali mencicipi rasa manis bibir Hinata. Kali ini rasa manis itu tercampur dengan rasa jahe yang memang selalu dicampurkan Hinata dalam tehnya.
Gaara menyesap bibir Hinata perlahan, kemudian melumatnya sebentar sebelum mulai memasukkan lidahnya. Hinata mengerang, dan Gaara tahu Hinata juga menginginkannya.
Di dua percintaan mereka sebelumnya, Gaara hanya memaksa. Tadi, Gaara meminta karena ingin mengalihkan pikirannya dari segala keanehan satu hari ini. Hinata tidak menolak, tapi tetap tidak membalas semua perlakuannya.
Gaara memberi kecupan-kecupan kecil sepanjang rahang Hinata. Ia mencari nadi Hinata, kemudian menggigit dan menghisapnya pelan. Hinata semakin memejamkan matanya dan desahan tertahan keluar dari mulutnya. Tangannya bergerak naik lalu memeluk leher Gaara.
Merasa sofa empuk terlalu sempit, Gaara menggendong Hinata menuju kamar ala bridal style sambil menyatukan kembali bibir mereka. Gaara meletakkan Hinata secara perlahan di tempat tidur tanpa repot-repot menutup pintu. Tangannya menahan berat badannya agar tidak menindih Hinata. Ia melepaskan bibir Hinata dan mengalihkan bibirnya ke tulang selangka Hinata dan memberi beberapa tanda kepemilikan di sana.
Hinata kembali mendesah. Tangannya baru akan memeluk Gaara saat Gaara menyusupkan kedua tangannya di belakang Hinata dan menariknya bangkit. Gaara mengecup sudut bibir Hinata sebelum menarik kaosnya dan dalam sekejap Hinata polos tanpa pakaian.
Gaara kembali menidurkan Hinata, menggerakkan kedua tangannya untuk menjamah tiap bagian tubuh Hinata yang sudah ia jamah sebelumnya. Namun sekarang semuanya terasa beda. Ia bisa merasakan kulit Hinata di tangannya. Ia bisa merasakan getaran di dada Hinata saat Gaara menyentuh titik sensitifnya.
Dada Hinata menjadi tujuan Gaara selanjutnya. Ia meremasnya perlahan sebelum mulai menyusu pada dada kirinya. Hinata melenguh. Ia menggeliat merasakan lidah Gaara bermain di puncak dadanya. "Gaara…"
Gaara menghentikan kegiatannya dan menangkup wajah Hinata dengan kedua tangannya. "Buka matamu, Hinata."
Hinata menggeleng. Tapi Gaara bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia mencium singkat bibir Hinata lalu mengulangi perintahnya, "Buka matamu, Hinata."
Hinata mengerang, merasa tidak ada pilihan lain yang disediakan Gaara. Ia membuka matanya perlahan. Wajah Gaara terlihat kabur sesaat karena matanya yang terlalu lama terpejam. Setelah mengerjap beberapa saat, Hinata membalas tatapan Gaara tepat di mata.
Jade yang memukau berhasil menghipnotis Hinata. Mata Gaara berkilat nafsu, namun Hinata dapat melihat kasih sayang dalam tatapannya. Gaara seolah terekspos, seolah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Hinata. Menahan napas, Hinata menelan ludah.
Wajah mereka sangat dekat. Kening dan hidung keduanya bersentuhan, mereka menghirup udara yang sama. Bibir keduanya bergesekan saat Gaara berkata, "Aku rasa aku menyukaimu."
Hinata mengangkat tangannya untuk membelai pipi Gaara. Ia masih tenggelam dalam keindahan jade milik Gaara, namun telinganya masih mendengarkan. "Aku menyukaimu, secara keseluruhan. Mungkin terlalu cepat, tapi aku menyukaimu."
Hinata terdiam. Ia ingin menjawab dan ia tahu ia harus menjawab. Tapi Hinata mendapati dirinya diam, meresapi tiap kata yang keluar dari bibir Gaara. Merasakan kulit Gaara yang melekat erat dengan kulitnya. Ia membuka mulut, sempat mengurungkan niat saat bibirnya kembali bergesekan dengan Gaara.
"A-aku…" Gaara menahan napas. "Aku juga menyukaimu."
Dan Gaara tidak perlu mendengarkan selebihnya. Ia mengecup bibir Hinata lalu bangkit untuk membuka celananya. Tidak menunggu waktu lama sampai keduanya kembali menyatu. Hinata menutup matanya rapat-rapat saat merasakan Gaara di dalamnya. Memenuhi dirinya.
Gaara sendiri mengerang. Merasakan miliknya diapit kuat oleh Hinata. Dia belum pernah berhenti sebelum ini. Saat pertama melakukannya, dia berhenti hanya untuk mengurangi rasa sakit Hinata. Dia belum pernah meresapi semua ini sebelumnya.
Hinata melingkarkan tangannya di leher Gaara dan Gaara mulai memompa. Awalnya perlahan, namun mulai kehilangan tempo saat suara Hinata memenuhi ruangan. Keduanya bergoyang, saling mengerang, saling merasakan satu sama lain.
Mungkin perasaan yang Gaara rasakan terlalu cepat sampai ia sendiri tidak memercayainya. Namun Hinata juga tidak percaya dia merasa yakin dengan ucapannya sendiri. Mungkin semuanya terlalu cepat. Mungkin semuanya tidak bisa dipercaya. Mungkin ini semua tidak nyata.
Tapi saat Hinata melenguh ketika mencapai puncak kenikmatannya, Gaara merasa semua ini benar. Ia merasa perasaan keduanya benar, normal, tidak ada yang terlalu cepat atau tidak nyata.
Gaara mendapat keyakinan semua ini akan berjalan dengan baik. Saat ia menyusul Hinata menuju puncak kenikmatan, Gaara merasa ia membuka sebuah buku. Ia merasa seolah membuka lembaran baru hidup keduanya. Ia merasa baru memulai cerita keduanya, malam ini, sekarang ini. Ia merasa buku berisi masa lalunya tertutup dan ia berjalan menuju tempat baru. Tempat di mana semuanya baru, masih segar dan harum. Sebuah tempat yang menyediakan kebahagiaan murni.
Sebuah awal yang baru.
.
The End?
Nah, TBC!
Just a filler! Hehe… Ini hanya selingan sebelum penantian yang panjang untuk chapter selanjutnya. Saya akan sibuk untuk beberapa hari ke depan, tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk meng-update chap selanjutnya sebelum ulang tahun Gaara. Jadi mungkin bulan ini saya bakal rajin update (amin)
Nah, filler ini saya buat karena saya pengen. Kalo sesuai dengan kerangka cerita, rasanya semua terlalu cepat, dan saya tidak bisa terlalu bersenang-senang hehe :D Jadi filler ini saya ketik hanya dalam satu hari, dan saya sangat menikmatinya, jadi semoga para reader juga menikmatinya ^^
Mungkin adegan "itu"nya gak terlalu menghanyutkan, tapi karena saya menikmati segalanya jadi saya akan memaksa para reader untuk menikmatinya bersama saya hohoho xD
Dan juga, ada yg mengira chap kmrn sdh hrsnya the end krn GaaHina udh nikah? Well, ceritanya msh panjang, soalnya ini masterpiece kedua saya setelah MYFML wkwkwk..
Sesuai judul, this year is a new beginning. So, work hard, keep your promises, tell the truth, count your Blessing's, love one another, and have fun!
See ya in the next chapter!
Special thanks to:
nesia9765, Asyah Hatsune, Megumi Amethyst, Tithaa Sabaku, Morita Naomi, mikyu, HipHipHuraHura, icaraissa11, Erni Eyexs, anita. indah. 777, lis391, IkaS18, AsahinaUchiHaruno, munya munya, Guest, NJ21, Green Onshu, Love-4J-Love, Gevannysepta
Dan beberapa orang lainnya yang tidak dapat saya sebutkan (mungkin) krn ffn lagi error dan rasanya jumlah review yg masuk di email salah. Mungkin setelah ffn baikan saya akan mengedit chap ini lg:) Makasih juga buat yg memfav dan memfollow cerita ini maupun sy sendiri :') You guys are the best *thumbs up*
Review, please?
