ANGEL'S
REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION
ANUGRAH BIDADARI by SHERLS ASTRELLA
BYUNNERATE
Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Genre: Romance
Rated: T
Warning: Genderswitch! Typos!
Summary: "Kami sering menyebut Ratu sebagai Bidadari Malam. Tiap malam Anda akan melihat Ratu membawa lilin kecil dan berkeliling Hall." "Bagi mereka, engkau adalah Ratu mereka dan terus akan menjadi Ratu mereka tapi bagiku, engkau adalah Ratu yang selalu bersinar di hatiku" "Aku memberikan seluruh cintaku padamu, Chanyeol, rajawaliku yang gagah perkasa."
NO BASH
DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS
Enjoy and Review Juseyooooo
.
.
.
.
"Menteri Dalam Negeri sudah tiba, Paduka."
"Bawa dia menghadapku."
Prajurit itu kembali keluar. Tetapi, Baekhyun terus memandang halaman Istana.
Akhir-akhir ini Istana menjadi semakin ramai karena kehadiran para tunawisma itu. Setiap hari selalu ada yang pulang dan pergi. Yang menginap di Hall pun tidak sedikit.
Mereka senang tinggal di Istana. Orang-orang Istana pun selalu menerima mereka dengan ramah. Segala kebutuhan mereka tersedia di sini.
Baekhyun telah membuat Istana Azzereath yang selama ini ditakuti, menjadi tempat yang paling menyenangkan untuk ditinggali. Sebagai Ratupun, ia bertindak sebagai tuan rumah yang ramah.
Halaman Istana kini tidak hanya indah tetapi juga menawan dengan banyaknya anak-anak yang bermain di sana. Orang-orang pun dengan bebas bersenda gurau di halaman Istana.
Istana Azzereath yang dingin kini menjadi Istana yang selau ceria. Canda tawa kini selalu menghiasi kehidupan Istana.
"Hamba datang menghadap, Paduka," kata Jongin seraya membungkuk, "Saya menjemput Pangeran Chanyeol sesuai keinginan Anda. Saya mengaku bersalah, Paduka, karena saya tidak berhasil membujuk Pangeran untuk beristirahat sebelum menemui Anda."
"Tidak apa-apa, Jongin. Sekarang engkau bisa meninggalkan kami berdua."
Baekhyun tetap tidak bergerak setelah kepergian Jongin. Matanya terus menatap halaman Istana.
Chanyeol diam memandangi rambut Baekhyun. Rambut itu tampak lebih bersinar keemasan. Rambut emas itu tergerai menutupi pinggang Baekhyun yang kecil. Tubuhnya yang terbungkus gaun ungu cerah tampak ramping.
Gadis itu terus memandang ke depan dengan menyilangkan tangan di depan dadanya. Tidak sepatah katapun yang diucapkannya.
Baekhyun tahu sebelum sebelum menghadapi Chanyeol, ia harus benar-benar mempersiapkan dirinya. Pembicaraannya dengan Chanyeol takkan semudah rapat dengan para Menteri. Mengingat kejadian-kejadian di masa lalu, pembicaraan ini akan menjadi semakin sulit.
Baekhyun menguatkan dirinya sebelum akhirnya ia menatap Chanyeol. Baekhyun senang bisa bertemu orang yang selalu dipikirkannya itu. Tapi, ia membuang jauh-jauh perasaan rindunya.
"Terima kasih Anda sudi datang ke tempat ini. Dalam kesempatan ini pula saya minta maaf karena telah menipu Anda dan rakyat Lasdorf," kata Baekhyun sopan.
"Katakan apa yang sebenarnya kau rencanakan?" balas Chanyeol tajam.
"Saya berencana mengajak Anda berdamai."
"Berdamai," cemooh Chanyeol.
"Saya tahu Anda tidak akan mempercayainya tapi saya ingin Anda tahu saya ingin memperbaiki kehidupan rakyat Vandella. Untuk itu, saya mempunyai dua tawaran untuk Anda."
"Tawaran berdamai?"
Baekhyun mengacuhkan kata-kata yang penuh ejekan itu. "Anda ingin meneruskan pernikahan kita atau tidak?"
Chanyeol terdiam mendengar tawaran yang tidak diduganya itu.
Baekhyun sedih melihat raut wajah dingin Chanyeol. Gadis itu segera memunggungi Chanyeol untuk mencegah pria itu melihat kesedihannya.
Baekhyun menutup matanya ketika berkata, "Semua telah diputuskan."
Sebelum bertanya pada Chanyeol, Baekhyun sudah mengetahui jawaban Chanyeol. Chanyeol membenci ayahnya dan takkan sudi menikah dengannya.
Kali ini Baekhyun menatap Chanyeol dengan tenang.
"Tinggallah di sini untuk beberapa hari sampai semuanya selesai. Sebelum Anda menduduki tahta, saya akan merapikan Istana ini. Saat ini Castil Quarlt'arth sedang ditata ulang untuk tempat penampungan para tunawisma. Sebelum akhir minggu ini segala kegiatan di Hall akan dipindahkan ke sana."
"Castil Quarlt'arth?" tanya Chanyeol tak percaya.
Baekhyun tidak ingin menjelaskan banyak tentang rencananya dengan kastil peristirahatan ayahnya yang megah.
"Semuanya akan beres sebelum penobatan Anda."
Baekhyun menepuk tangannya dua kali lalu prajurit yang menjaga pintu masuk.
"Tolong antarkan Pangeran Chanyeol ke kamarnya."
"Baik, Paduka," kata prajurit itu lalu pada Chanyeol ia berkata, "Mari, Pangeran."
"Silakan beristirahat. Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh," kata Baekhyun sebelum membalikkan badan. Chanyeol melihat punggung Baekhyun dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Tidak banyak yang mereka bicarakan. Mereka lebih banyak bersikap seperti dua orang asing.
Chanyeol tak menduga semua kata-kata Baekhyun. Gadis itu berbeda dengan gadis di Lasdorf.
Baekhyun kini lebih cantik dan juga lebih anggun serta berwibawa. Ia bukan lagi gadis yang selalu mengajaknya bertengkar.
"Saya sangat senang dapat bertemu Anda, Pangeran. Saya tidak pernah menyangka akan bertemu Anda di Istana. Sudah sejak dulu saya ingin bertemu Anda."
"Apakah aku setenar itu?" tanya Chanyeol dingin.
"Benar, Pangeran. Paduka Ratu sering mengatakan kekagumannya pada Anda. Ia merasa bangga Vandella mempunyai pahlawan seberani Anda."
Chanyeol tidak mempercayai apa yang didengarnya.
"Paduka Ratu mengatakan ingin mengajak Anda bekerja sama untuk membangun kembali Vandella. Beliau yakin Anda pasti tahu segala hal yang baik untuk Vandella. Tapi, kami berkata Ratu juga pantas memimpin Vandella. Anda berdua pantas untuk menjadi pemimpin Vandella."
Prajurit itu tiba-tiba menutup mulutnya. "Maafkan saya, Pangeran. Akhir-akhir ini kami semua terbiasa bersikap terbuka."
"Paduka Ratu menyuruh kami bersikap jujur. Ia selalu berkata kesopanan kami padanya hanya untuk menunjukkan hormat kami padanya. Dan, ia tidak berhak mengurung kebebasan kami dalam bentuk apa pun. Ratu selalu menekankan hal itu pada kami. Ia tidak ingin terlalu disanjung tetapi kami selalu memujanya. Karena itu, di sini kami bisa akrab dengan Ratu dan pada saat yang bersamaan kami juga menghormatinya."
"Banyak yang dilakukan Ratu untuk mengakrabkan diri dengan kami semua. Setiap hari Ratu bekerja tanpa henti terutama pada hari-hari pertama dulu. Setelah Ratu membuka Istana untuk umum, setiap hari Minggu Ratu menghentikan semua kegiatan di Istana. Setiap hari Minggu kami mengadakan pesta sederhana di halaman. Saat itu Ratu tidak menginginkan penghormatan padanya dalam bentuk apapun. Saat itu Ratu ingin dianggap sebagai rakyat biasa."
"Saya berharap Anda tinggal di sini sampai hari Minggu. Kami akan senang sekali bila Anda mau. Kami semua selalu berharap dapat bertemu Anda."
Chanyeol tidak menanggapi.
Prajurit itu berhenti di sebuah pintu dan membukanya. "Inilah kamar Anda, Pangeran. Kamar teman Anda tepat di sebelah kamar ini. Selamat beristirahat, Pangeran. Paduka Ratu ingin Anda menganggap Istana sebagai rumah Anda."
Prajurit itu membungkuk lalu pergi.
Chanyeol memasuki kamarnya dengan enggan.
Banyak hal yang menghantui pikirannya. Ia tidak ingin menemui Sehun seperti janjinya sebelum menemui Baekhyun. Saat ini ia ingin menyendiri.
Chanyeol tidak heran Sehun tidak mencarinya. Ia yakin pria itu sedang tidur nyenyak di sebelahnya. Sesaat setelah kereta mereka memenuhi Istana, ia sudah menguap lebar-lebar.
Baekhyun benar-benar berbeda. Tapi gadis itu masih tetap penuh misteri. Seperti dulu, di mata birunya yang cerah, tersimpan banyak rencana. Entah apa yang direncanakannya kali ini tapi Chanyeol tetap akan mewaspadai gadis itu.
Mungkin sekarang ia tidak menunjukkannya, tapi Chanyeol yakin suatu saat nanti gadis itu akan menunjukkannya. Suatu saat nanti pasti Baekhyun menunjukkannya.
Teringat kembali akan Baekhyun, Chanyeol mengutuki dirinya. Ia tidak dapat memungkiri keinginannya untuk menarik gadis itu ke pelukannya dan menciumnya sampai ia puas. Chanyeol benci. Ia masih merindukan gadis serigala itu sedangkan itu adalah hal yang paling ingin dibunuhnya.
Chanyeol mengutuki Baekhyun yang menimbulkan kesan dingin di antara mereka. Kalau gadis itu menebarkan sikap permusuhannya, ia takkan seperti ini. Perasaannya tidak akan kacau oleh keinginan untuk menghancurkan sikap dingin dan menjaga jarak itu.
Rencana yang apa yang disusun Baekhyun untuknya? Apapun itu, ia tidak akan berhasil. Kalau Baekhyun mengira ia dapat memperalat dirinya, ia salah. Terutama kalau ia ingin mengangkatnya sebagai Raja untuk menarik perhatian rakyat.
Timbul kembali keinginan Chanyeol untuk mencekik gadis yang telah menipunya itu.
Pada pertemuan mereka yang baru saja berlalu, Chanyeol melupakan keinginannya karena sikap Baekhyun yang tidak diduganya. Pada pertemuan kedua mereka, Chanyeol yakin ia harus mengendalikan diri agar tidak mencekik leher cantik itu.
Dan, saat itu Baekhyun harus berhati-hati padanya.
Sore hari seorang pelayan datang menemui Chanyeol.
"Paduka Ratu ingin Anda hadir dalam pertemuan di Ruang Hijau."
"Pertemuan apa?"
"Pertemuan dengan masyarakat."
Chanyeol keheranan.
"Setiap sore selama satu jam, Paduka meluangkan waktu untuk bertemu masyarakat. Dalam jamuan minum teh itu, Paduka mendengarkan masalah-masalah rakyat. Banyak yang datang dari jauh untuk mengeluh pada Paduka Ratu. Sekarangpun Paduka Ratu sudah berada di antara mereka."
Pelayan pria itu membantu Chanyeol mempersiapkan diri lalu mengantarnya ke Ruang Hijau.
Ketika Chanyeol tiba di sana, Baekhyun sedang duduk di sebuah kursi tinggi sambil memangku kedua tangannya. Ia tampak sangat cantik dengan senyum manis yang tersungging di wajahnya yang ceria. Rambutnya yang digelung tinggi, membuat gadis itu tampak lebih dewasa.
Chanyeol jengkel ketika ia menyadari tidak ada gadis yang lebih anggun daripada Baekhyun saat ini.
Gaun yang dikenakannya sangat sederhana. Gadis itu juga tidak mengenakan hiasan rambut. Baekhyun seperti ingin menyesuaikan diri dengan tamu-tamunya.
Sikap ramah dan terbuka Baekhyun membuat suasana di dalam ruangan itu hangat. Tidak ada kesan rakyat menghadap Ratunya. Yang terkesan hanya suasana hangat yang penuh kekeluargaan.
Sebagai tuan rumah, Baekhyun sangat ramah. Tanpa mempedulikan kedudukannya, ia mau melayani tamu-tamunya.
"Pangeran Chanyeol sudah datang, Paduka."
Semua menoleh pada Chanyeol.
Baekhyun tersenyum dan berkata, "Selamat datang, Pangeran. Kami tengah membicarakan Anda. Mari, silakan duduk."
Baekhyun berdiri dan memberi tempat untuk Chanyeol. Baekhyun merasakan pandangan dingin Chanyeol ketika ia menuangkan teh untuknya.
"Silakan duduk di sini, Paduka." Mereka yang duduk di kursi panjang saling berdempetan untuk memberi Baekhyun tempat.
"Terima kasih."
Baekhyun baru saja duduk berdesak-desakan ketika orang-orang itu mulai berbicara dengan Chanyeol.
Dalam pertemuan kali ini Baekhyun hanya menjadi pendengar. Ia pendengar yang baik. Tidak mengatapan apa-apa tetapi menyimpan banyak hal dalam pikirannya.
Dalam hatinya, Baekhyun tersenyum. Ia bahagia atas keputusannya yang baginya paling baik.
Chanyeol tidak menyadari kursi yang sekarang didudukinya adalah kursi untuk Raja Vandella. Baekhyun tidak tahu apa yang akan dikatakan pria itu bila ia mengetahuinya. Yang Baekhyun ketahui saat ini adalah keputusannya tepat.
Dengan penuh perhatian Chanyeol mendengarkan kata-kata rakyat dan menanggapinya dengan bijaksana. Pria itu selalu tahu apa yang harus dikatakannya atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
Baekhyun tidak mau terlalu memperhatikan Chanyeol. Ia tidak mau Chanyeol berpikir buruk tentangnya. Baekhyun ingin semuanya berlangsung dengan baik tanpa ganjalan di hati pada saatnya.
Apapun alasan Chanyeol dulu memaksa menikah dengannya, Baekhyun tidak mau mempedulikannya lagi. Memikirkannya hanya membuat hati terasa makin sakit.
Dulu Chanyeol ingin memanfaatkannya untuk menggalang kekuatan melawan ayahnya. Sekarang Baekhyun senang. Tidak perlu ada perang untuk mengganti pemerintahan otoriter ayahnya.
Aneh!
Semua ini aneh!
Ketika berada di Lasdorf, Baekhyun merasa gila karena kebenciannya yang mendalam pada Chanyeol. Kini Baekhyun merasa gila karena cintanya yang mendalam pada Chanyeol.
Apa yang dikatakan orang-orang memang benar. Batas antara benci dan cinta tidak sampai setipis kertas.
Tapi apa yang dapat dilakukan Baekhyun terhadap perasannya itu? Baekhyun tahu sejak awal Chanyeol ingin memanfaatkannya. Dan, setelah tahu ia adalah putri orang yang telah membunuh orang tuanya, ia takkan memaafkannya. Baekhyun tahu Chanyeol membencinya.
Kebencian Chanyeol pada Baekhyun berbeda dengan kebencian Baekhyun pada Chanyeol. Baekhyun tahu pria itu benar-benar membencinya hingga terasa pada seluruh cara dia ketika melihat dan berbicara dengannya.
Tidak ada gunanya mempertahankan permusuhan ini.
Tepat satu jam Baekhyun berada di Ruang Hijau, gadis itu berdiri.
"Maafkan saya. Saya tidak bisa menemani Anda lebih lama lagi. Bila kalian ingin, silakan melanjutkan tanpa saya."
Chanyeol mengawasi kepergian Baekhyun tanpa berbicara apa-apa.
Dari pelayan yang melayaninya tadi, Chanyeol tahu Baekhyun selalu sibuk. Tiada hentinya ia berada di Ruang Kerja.
Di malam hari saat semua orang tidur, Baekhyun masih terjaga. Lewat tengah malam gadis itu baru beranjak dari meja kerjanya. Sebelum memasuki ruang tidurnya, Baekhyun masih mengelilingi Hall untuk memeriksa keadaan rakyat yang tidur di sana.
Pelayan itu berkata, "Kami sering menyebut Ratu sebagai Bidadari Malam. Tiap malam Anda akan melihat Ratu membawa lilin kecil dan berkeliling Hall."
Chanyeol tidak mengerti mengapa malam ini ia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang-layang dan matanya sukar tertutup.
Samar-samar Chanyeol mendengar langkah-langkah ringan.
Chanyeol mencari mantel di lemari dan menuju Hall.
Di ujung lorong, Chanyeol melihat Baekhyun tengah menyelimuti seseorang. Hampir tiap langkah, gadis itu berhenti untuk membenahi selimut banyak orang itu.
Tanpa disadarinya, Chanyeol tersenyum melihat pemandangan itu.
Seorang Ratu yang kedudukannya sangat tinggi dan penuh gemerlapan, turun untuk memberikan kasihnya pada rakyat.
Chanyeol terus berdiri di ujung lorong sampai Baekhyun menuju ke arahnya.
"Anda belum tidur?" tanya Baekhyun keheranan.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Chanyeol, "Mengapa engkau belum tidur?"
"Banyak yang harus diselesaikan."
"Sudah banyak yang kauselesaikan. Apa yang kurang?"
Baekhyun tersenyum.
"Rencanamu itu…"
"Kita telah sepakat dalam hal itu," potong Baekhyun. "Saya akan menyerahkan tahta pada Anda."
"Bagaimana denganmu?"
"Jangan mengkhawatirkan saya. Masih banyak yang dapat saya lakukan."
"Bagaimana dengan pernikahan kita?"
Baekhyun menghela napas dan terus berjalan. "Pernikahan kita hanya hampir resmi secara agama. Andaikan kita menyelesaikan pemberkatan pernikahan dan mengakhirinya dengan penandatanganan surat pernikahan…"
"Tapi itu juga tidak akan membuat pernikahan kita resmi secara hukum. Nama yang ada bukan nama saya. Tak ada yang mengetahui pernikahan itu selain kita, Sehun serta Yixing. Saya yakin hanya Sehun yang tahu saya adalah Hyunnie."
"Engkau mencintaiku?"
Tiba-tiba Baekhyun berhenti dan menatap Chanyeol lekat-lekat.
Chanyeol tidak tahu bagaimana menjawabnya. Ia sendiri terkejut dengan pertanyaan itu.
"Saat ini yang paling saya cintai adalah rakyat." Baekhyun melangkahkan kakinya.
Chanyeol segera mengikuti Baekhyun. "Kalau aku menjadi Raja, bagaimana denganmu?"
"Saya rasa kita telah membicarakan hal itu," jawab Baekhyun.
"Bagaimana dengan rakyat?"
"Rakyat mencintai Anda. Mereka pasti senang bila Anda memerintah mereka. Saya telah membuka jalan bagi Anda untuk memulai pemerintahan. Anda tidak perlu mencemaskan apa pun."
"Engkau telah membuka jalan tetapi apakah yang kulakukan akan sama dengan yang kaurencanakan?"
"Para Menteri akan membantu Anda. Mereka tahu apa yang saya inginkan. Mereka telah bersumpah pada saya akan terus memberikan yang terbaik bagi Vandella."
Chanyeol terdiam.
Semua telah diatur Baekhyun sedemikian rapi hingga tidak mungkin dibatalkan lagi. Baekhyun telah memperhitungkan segalanya. Segala kekurangan rencananya telah ditutupnya dengan rapat hingga tak ada yang bisa merusaknya.
Baekhyun berhenti dan membuka pintu.
"Selamat malam, Pangeran."
Chanyeol kebingungan.
"Ini kamar Anda, Pangeran," Baekhyun mengingatkan dengan tersenyum geli.
"Semoga Anda dapat tidur nyenyak." Baekhyun berbalik dan melangkah pergi.
"Baekhyun!" Chanyeol menarik tangan gadis itu. Chanyeol menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Tindakannya itu membuat Baekhyun cemas. Ia takut api lilin di tangannya mengenai baju Chanyeol.
Chanyeol menatap lekat-lekat wajah cantik Baekhyun. Ia tidak akan menemukan wajah secantik dan semanis ini di manapun. Dengan lembut, ia mencium bibir Baekhyun kemudian menghilang di balik pintu.
Baekhyun terpaku.
Jantungnya berdebar sangat kencang. Seluruh darah di tubuhnya seperti menggelegar. Wajahnya terasa panas.
Baekhyun merasa seperti demam.
Berminggu-minggu ia merindukan kehangatan dan rasa aman di dalam pelukan Chanyeol. Tetapi, ia tidak berani memimpikannya.
Baekhyun tahu bila Chanyeol memeluk atau menciumnya, ia akan semakin sukar meninggalkan pria itu. Sedangkan demi rakyat Vandella, ia harus menjauh dari Chanyeol.
Baekhyun tahu apa yang harus segera dilakukannya. Ia akan meminta Jongin membantunya.
Hari-hari berikutnya akan menjadi saat yang paling sulit bagi Baekhyun.
.
.
.
.
Chanyeol mengawasi Baekhyun.
Seperti yang pernah dikatakan padanya, pada hari Minggu Baekhyun menghentikan semua kesibukannya. Sejak pagi gadis itu sudah tampak di halaman dengan gaunnya yang sederhana.
Pada hari-hari biasa, Baekhyun menghabiskan banyak waktunya di Ruang Kerja. Mereka jarang bertemu. Hanya pada saat makan pagi dan waktu minum teh, mereka bertemu.
Sehun yang keheranan karena tidak melihat Baekhyun pada saat makan siang, pernah bertanya, "Mengapa Paduka Ratu tidak makan bersama kami? Apakah ia hanya bisa makan pagi bersama kami?"
"Tidak, Tuan," jawab pelayan, "Paduka Ratu selalu mengatakan sebentar bila kami panggil. Dan, akhirnya Paduka lupa untuk makan. Sekarang kami langsung mengirim makan siang Paduka ke Ruang Kerja dan Paduka tidak akan lupa untuk makan."
Chanyeol diam saja. Ia tahu bila Baekhyun sibuk, ia akan melupakan segala-galanya.
Melihat kesibukan Baekhyun, Chanyeol tetap tidak mempercayai gadis itu. Ia yakin ada rencana lain di balik semua ini. Sikap Baekhyun juga semakin memperkuat dugaannya.
Gadis itu selalu menjauh tiap melihatnya. Ia seperti menjaga jarak antara mereka sambil membangun benteng yang tebal. Sikapnya itu seperti takut Chanyeol membongkar rencananya.
Setiap malam ia selalu mendengar langkah-langkah kaki Baekhyun ketika melewati kamarnya. Tapi sejak malam itu, Chanyeol tidak pernah dengan sengaja menemui Baekhyun lagi.
Chanyeol merasa murka tiap kali melihat gadis itu. Ia yakin Baekhyun menyerahkan tahta padanya untuk mendapatkan perhatian rakyat dan juga untuk memanfaatkannya.
Semua menteri setia pada Baekhyun. Apa yang kelak dikatakan Chanyeol tidak akan mereka lakukan. Baekhyun dengan bantuan para menterinya yang setia, membuatnya menjadi raja boneka. Mereka akan memanfaatkannya untuk memeras rakyat.
Bila rakyat membencinya, Baekhyun akan muncul lagi. Dengan segala tindakannya saat ini, rakyat pasti mengelu-elukan kemunculannya. Setelah itu, Baekhyun akan menyingkirkannya dan menindas rakyat Vandella seperti yang dilakukan ayahnya.
Baekhyun sangat cerdik. Ia tahu bahaya terbesar adalah cinta rakyat pada Chanyeol. Karena itu, ia membuat rakyat membenci Chanyeol sebelum ia menunjukkan wajah di balik bulu dombanya.
Chanyeol mengakui kecerdasan Baekhyun, tapi ia takkan membuat gadis itu berhasil.
Satu-satunya orang di antara mereka yang setiap saat semakin mengagumi Baekhyun adalah Sehun. Hampir setiap saat Sehun memuji Baekhyun.
Chanyeol menyesal membawanya sebagai teman.
Ketika Chanyeol memberitahu Baekhyun akan menyerahkan tahta padanya, Sehun berkomentar, "Ratu tahu engkau pantas menjadi Raja Vandella."
Pendapat itu tidak berubah walau Chanyeol telah mengatakan siasat Baekhyun yang sebenarnya.
Selalu, setiap melihat Baekhyun, Chanyeol mengawasi gadis itu. Pagi ini pun ia tidak melepaskan pandangan dari Baekhyun.
Hari Minggu, semua kesibukan terpusat di halaman Istana. Istana sendiri sangat sepi.
Orang-orang yang biasanya berada di Hall, telah dipindahkan Baekhyun ke Castil Quarlt'arth sejak kemarin.
Seperti yang dikatakan Baekhyun pada Chanyeol, hari Sabtu Hall lantai pertama bersih. Semua kesibukan yang biasanya ada di Hall, dipindahkan ke Castil Quarlt'arth dalam sehari itu.
Ketika pemindahan dilakukan, warga Perenolde yang pertama kali gempar. Hari ini, seluruh rakyat Vandella gempar.
Rakyat Vandella tahu Castil Quarlt'arth adalah kastil kesayangan Raja Kris. Castil itu dibangun Raja Kris sebagai hadiah pernikahannya untuk Ratu Luhan.
Castil Quarlt'arth berada di tepi sebuah danau besar dengan pemandangan yang indah. Seindah kastil itu sendiri dan segala perabot mewah di dalamnya.
Setelah Ratu Luhan menghilang, Raja Kris sering mengunjungi kastil itu. Pangeran Baekboom tinggal di kastil itu selama berbulan-bulan dalam satu tahun.
Pada awalnya, Baekhyun ingin memberikan kastil itu pada rakyat. Setelah ia memikirkannya masak-masak, ia tidak melanjutkannya.
Baekhyun tahu rakyat akan menjadi malas bila ia selalu memberi mereka. Baekhyun tidak ingin rakyat Vandella seperti itu. Ia hanya ingin membantu rakyat dalam tahun-tahun pertama masa perbaikan ini.
Saat ini pemukiman untuk rakyat miskin tengah dibangun. Pemukiman itu dibangun di dekat daerah yang subur untuk pertanian.
Sebelum tahun depan, pondok-pondok sederhana itu akan selesai. Mereka yang saat ini tinggal di Castil Quarlt'arth akan dipindahkan ke sana. Di tempat baru itu, mereka harus berusaha untuk hidup sendiri. Sedangkan rakyat lain yang telah mempunyai rumah, diberi bantuan untuk memperbaiki rumahnya.
Bantuan itu tidak hanya berasal dari Istana Azzereath saja. Banyak warga Vandella yang turut memberi bantuan. Bantuan dari negara lain juga terus mengalir.
Untuk mengawasi penyaluran bantuan, Baekhyun membentuk badan khusus. Anggotanya ia pilih setelah mendapat saran-saran dari orang di sekitarnya. Setiap hari ia mendapatkan laporan dari mereka.
Satu bulan lebih sudah Baekhyun menjadi Ratu yang memerintah Vandella. Banyak yang telah berubah dalam masa yang singkat itu.
Kehidupan rakyat mengalami kemajuan. Banyak penduduk yang mulai terangkat dari kemiskinan. Rumah-rumah yang tidak layak huni mulai berkurang. Setiap hari banyak rumah yang selesai diperbaiki.
Pemukiman yang dibuat Baekhyun juga telah menunjukkan hasil. Banyak pondok-pondok baru yang selesai dan ditempati penduduk.
Semua itu karena kerja keras rakyat Vandella. Baekhyun membuat keputusan dan mereka melaksanakannya dengan giat. Mereka sangat mendukung segala tindakan Baekhyun dan berusaha memberikan yang terbaik bagi ratu cantik itu.
Pajak yang rendah membuat rakyat dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Lahan-lahan pertanian yang dulu terbengkalai, mulai terawat lagi.
Para tahanan yang dibebaskan Baekhyun, telah melanjutkan pekerjaan mereka.
Kota-kota mulai berseri. Wajah-wajah lelah dan kelaparan telah hilang. Sebagai gantinya, terlihat wajah-wajah cerita dan suasana kota yang ramai.
Sebulan lalu perekonomian Vandella terhenti. Semua uang yang ada di masyarakat terus mengalir ke Istana dan tidak kembali lagi ke masyarakat. Sekarang uang terus berputar.
Seperti yang pernah dikatakan Baekhyun pada para menterinya, uang kerajaan lebih dari cukup untuk membenahi kehidupan rakyat.
Dalam satu tahun, Raja Kris mampu mengumpulkan uang bermilyar-milyar dan mengeluarkannya kurang dari satu juta. Bila dihitung dalam Poundsterling – mata uang yang saat itu paling mahal – pendapatan murni Vandella dalam satu tahun lebih dari 398 milyar. Jumlah itu sangat besar dan cukup untuk mendanai hidup rakyat Vandella yang lebih dari 78 juta dalam satu bulan.
Raja Kris telah memerintah Vandella dengan kekejamannya selama 53 tahun. Uang yang dikumpulkannya sangat banyak. Semua itu tersimpan dalam Bank Vandella.
Jumlah uang yang sangat besar itu cukup untuk mendanai kehidupan rakyat Vandella selama lebih dari lima tahun tanpa membuat Istana bangkrut.
Tetapi, Baekhyun takkan melakukannya. Ia membantu rakyat untuk bangkit dari kemiskinan ini. Setelah itu mereka harus berusaha sendiri untuk hidup.
Ia telah membuka jalan untuk rakyatnya dalam mencapai kemakmuran. Keputusan-keputusannya dan undang-undang yang dibuatnya tidak lagi sekejam dulu. Mereka lebih lunak tetapi tetap tegas. Pemukiman yang dibangunnyapun dapat meningkatkan kemakmuran Vandella.
Rumah-rumah itu dibangunnya di atas lahan yang berpotensi. Lahan yang selama pemerintahan Raja Kris tidak pernah disentuh.
Dalam waktu satu bulan, Baekhyun membuat perubahan yang dilakukan raja lain dalam waktu sepuluh tahun. Baekhyun membuat kagum para menterinya. Dalam waktu satu bulanpula Baekhyun terus membuat Vandella gempar. Setiap hari selalu ada berita yang membuat Vandella gempar.
Seperti ketika koran menuliskan apa yang sebenarnya terjadi pada Donghae. Tak seorangpun menduga Donghae, menteri yang paling dicintai Raja Kris telah mencuri uang negara.
Sidang Baekhyun dengan para menterinya, memutuskan Donghae dipenjara. Mengingat jasa-jasanya pada Vandella selama dua puluh satu menjadi Menteri Keuangan, Baekhyun memberinya keringanan. Donghae tetap dipenjara tetapi tidak selama yang diusulkan Hakim Agung Vandella.
Baekhyun memecat Donghae dari jabatannya dan memenjarakan pria itu di penjara Perenolde selama lima tahun.
Sementara itu keluarga Donghae diperintahkan Baekhyun untuk mengembalikan apa yang mereka curi dari rakyat. Rakyat telah menderita karena kekejaman Raja Kris. Dan, Donghae memperberat penderitaan rakyat dengan ketamakannya.
Sebagai pengganti Donghae, Baekhyun atas usul menteri-menterinya, mengangkat Hoseok menjadi Menteri Keuangan yang baru.
Sejak minggu lalu, saat Baekhyun membuka sidang terhadap Donghae, keluarga Donghae terus melakukan titah Baekhyun. Mereka mengembalikan harta mereka pada rakyat. Mereka banyak menyalurkan bantuan.
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang mengungkit masalah Donghae. Semua telah melupakannya sebab masih banyak kejutan Baekhyun yang lain. Seperti pemindahan para tunawisma dan segala kesibukan Hall ke Castil Quarlt'arth.
Kepada Niel, Menteri Kependudukan yang bertugas mengawasi pembangunan pemukiman baru, Baekhyun memerintahkan selalu melaporkan perkembangan pembangunan itu. Tiap ada pondok yang selesai, Baekhyun menyuruhnya segera melapor agar bisa segera ditempati.
Hari Minggu ini adalah hari istimewa. Hari ini dalam pesta di Istana, tidak hanya ada Ratu Vandella tapi juga pahlawan Vandella. Sejak pagi halaman Istana dipenuhi orang-orang.
Sepintas penjagaan Istana terlihat longgar. Tetapi, penjagaan diperketat. Istana ditutup rapat-rapat dan pasukan Istana berjaga-jaga di halaman dengan mengenakan baju biasa. Di sisi Baekhyun pun selalu ada beberapa pelayan yang selain membantunya juga melindunginya.
Atas titah Baekhyun, sarapan pagi mereka buat di halaman.
Ketika Baekhyun sibuk membantu pelayan membuat sarapan, Chanyeol menghadapi banyak pemujanya. Tetapi, matanya terus menatap Baekhyun.
Chanyeol melihat Sehun mendekati Baekhyun. Mereka berbincang-bincang dengan akrab. Baekhyun tampak berseri ketika berbicara dengan pria itu. Ia tertawa riang bersama Sehun.
Kecemburuan membakar hati Chanyeol. Ia tidak mau melihat pria lain di dekat Baekhyun. Tetapi, ia juga tidak mau mendekati gadis itu.
Hari ini Baekhyun membaurkan diri dengan rakyat. Mereka yang tidak mengenalinya, tidak akan tahu ia adalah Ratu Vandella.
Dengan berjalannya waktu, orang-orang yang datang semakin banyak. Hari ini tidak hanya rakyat yang berdatangan tapi juga para Menteri dan bangsawan-bangsawan. Semua berdatangan ke Istana untuk menyambut keberadaan Chanyeol di Istana.
Hari ini yang menjadi pusat perhatian adalah Chanyeol.
Baekhyun tersenyum senang melihat Chanyeol dengan tangkas menanggapi setiap pertanyaan rakyat.
"Semoga hari ini tidak hujan."
"Aku pun berharap demikian," sahut Baekhyun, "Pergantian musim selalu membuatku khawatir."
"Pergantian musim panas selalu menjengkelkan saya."
Baekhyun tertawa geli. "Aku akan selalu ingat ketika engkau baru menjemur baju-baju dan hujan deras tiba-tiba turun."
"Saat itu adalah saat yang paling menyebalkan," Kyungsoo menekankan.
"Melihat langit yang cerah seperti ini, kupikir hari akan cerah."
"Aku setuju denganmu, Jungkook," sahut Xiumin.
"Andai hujan turun, apakah Istana mampu menampung orang sebanyak ini?"
"Dapat, Sehun," jawab Baekhyun, "Benarkan itu, Tao?"
"Tentu, Paduka. Istana sangat luas."
"Untuk kali ini aku bersyukur pada ketamakan serigala itu. Bila bukan karenanya, kita tidak akan dapat berkumpul di sini. Hari ini jumlah yang hadir jauh lebih banyak dari biasanya."
"Mereka ingin berjumpa dengan Anda dan Pangeran Chanyeol."
"Anda berdua dipuja-puja rakyat."
Tiba-tiba Sehun menyahut, "Mengapa kalian tidak menikah?"
Baekhyun menatap Sehun lalu melihat Chanyeol yang duduk jauh di seberang.
"Benar, Paduka. Anda mencintai rakyat dan Pangeran juga ingin memberikan yang terbaik untuk rakyat. Anda berdua pasti akan menjadi pasangan yang cocok."
Baekhyun tersenyum melihat Kyungsoo. "Kau benar, Kyungsoo." Sebelum wanita itu bersorak atas jawabannya, Baekhyun melanjutkan, "Tetapi, kalian tahu apa yang kuinginkan."
Orang-orang di sekeliling Baekhyun kecewa ketika bersama-sama mengatakan kalimat yang sering diucapkan Baekhyun. "Anda tidak akan memperhatikan diri Anda sebelum rakyat makmur."
Baekhyun tersenyum. "Kalian telah mengetahuinya."
"Paduka, saat ini kehidupan rakyat Vandella mulai mengalami perbaikan. Anda bisa memikirkan diri Anda."
Baekhyun menatap orang-orang itu. "Mengapa aku merasa kalian seperti seorang ibu yang membujuk anaknya untuk menikah?"
"Kami melakukan ini untuk kebaikan Anda, Paduka."
"Apakah Anda mencintai Pangeran?"
Baekhyun terkejut. "Bagaimana kalian punya pikiran seperti itu?"
"Jangan berkata seperti itu. Kami, pelayan Istana, tahu kedatangan Anda terlambat dua bulan karena Anda tinggal di Lasdorf."
Baekhyun tidak menyahuti orang-orang yang berusaha membujuknya itu.
Di kejauhan Chanyeol tidak melepaskan pandangan dari Baekhyun. Gadis itu selalu bersinar dimanapun ia berada. Tak seorang pun yang memiliki rambut seemas Baekhyun. Tak seorangpun semenawan, seanggun Baekhyun.
Tak heran bila ia dikerumuni banyak orang. Mereka mendengarkan apa kata Baekhyun dengan penuh perhatian.
Di antara mereka seperti tidak ada batas antara Ratu dan bawahannya. Mereka seperti sekelompok rakyat yang sibuk berbincang-bincang.
"Siapa yang Anda lihat, Pangeran?" tanya Wonwoo.
"Sejak tadi Anda tidak memperhatikan kami," timpal Jisoo.
"Anda belum menjawab pertanyaan terakhir kami."
"Maaf, apa pertanyaan kalian tadi?"
"Kami bertanya bagaimana cara Anda menyerang lalu menghilang? Kami tidak pernah dapat menangkap Anda. Kami tidak pernah dapat menduga kapan dan di mana Anda muncul. Anda selalu muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba," ulang Jenderal Jisoo.
"Anda muncul seperti hantu," tambah Jenderal Hansol.
Chanyeol tidak mendengarkan mereka. Perhatiannya terpusat lagi pada Baekhyun.
Jenderal Wonwoo mengikuti pandangan Chanyeol. Ia tersenyum ketika tahu apa yang membuat Chanyeol tidak menaruh perhatian pada percakapan mereka.
Ratu adalah gadis cantik yang selalu dikerumuni orang. Tua muda, pria wanita, semua ada di sekeliling Ratu yang menawan itu.
Sedangkan Chanyeol dikelilingi jenderal-jenderal Vandella yang ingin mengetahui siasat perang pria itu. Siasat perang Chanyeol telah lama membuat mereka kewalahan dan kagum. Sekarang mereka mempunyai kesempatan untuk menanyakannya. Tapi, Chanyeol tidak memperhatikan.
"Paduka Ratu!" seru Wonwoo.
Baekhyun memandang ke arah asalnya suara itu.
"Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun, datanglah ke sini. Kami ingin berbicara dengan Anda."
Baekhyun bangkit. "Berhentilah menjadi ibu," katanya sambil tersenyum. Lalu ia meninggalkan kerumunan orang itu.
"Paduka Ratu!" Kali ini yang memanggil bukan hanya Wonwoo. Semua yang di sekeliling Chanyeol memanggil gadis itu.
"Aku datang. Aku datang," kata Baekhyun. Baekhyun tidak tahu apa yang membuat para pejabat militer Vandella itu tidak sabar menantinya. Ia berlari mendekati mereka.
Sebuah panah melesat cepat dan berhenti di dada Baekhyun.
Semua orang berteriak terkejut. "Paduka Ratu!"
Jongdae segera melompat menangkap tubuh Baekhyun. "Paduka! Paduka Ratu!" panggilnya cemas.
Tangan Baekhyun bergetar ketika ia memegang panah di dadanya. Bibirnya bergetar ketika ia tersenyum. Baekhyun seperti ingin mengucapkan sesuatu.
"Tangkap orang itu!" seru para Jenderal panik.
Tanpa diperintah orang-orang di halaman Istana telah bergerak untuk menangkap orang yang melepas panah itu.
"J…Jon…d…da…e…e… j…ja…n…ng…a…n… m…me…" Baekhyun jatuh pingsan sebelum menyelesaikan kata-katanya.
"Paduka!" seru Jongdae.
"Panggil dokter! Cepat panggil dokter!" seru Tao.
"Siapkan kamar Paduka!"
"Bawa Paduka ke kamarnya!"
Teriakan-teriakan panik memenuhi halaman Istana. Semua kebingungan, terkejut, dan khawatir. Semua berlari ke dalam Istana. Semua panik.
Jongdae segera membopong tubuh Baekhyun dan berlari ke kamar gadis itu.
Chanyeol diam terpaku di tempatnya. Ia melihat Baekhyun menatapnya ketika panah itu menancap di dadanya. Ia melihat mata gadis itu bersinar meminta bantuannya sebelum jatuh. Chanyeol terkejut dengan kejadian sesaat yang merubah suasana hari Minggu ini.
Dokter datang ketika Jongdae baru membaringkan Baekhyun di tempat tidur.
Pelayan-pelayan Istana berlari-lari mengantar dokter ke Kamar Tidur Utama. Mereka menarik dokter itu ke lantai tiga tempat Baekhyun berbaring.
Lorong depan kamar Baekhyun dipenuhi orang. Di dalam kamar gadis itu juga banyak pelayan wanita.
Semua mengkhawatirkan keselamatan Baekhyun.
Satu jam lebih dokter berada di dalam sebelum akhirnya ia keluar.
"Bagaimana keadaan Paduka?" sambut mereka.
"Panah itu menancap tidak terlalu dalam. Dalam waktu singkat, Paduka akan membaik."
Jawaban itu sedikit melegakan orang-orang itu.
Setelah kepergian dokter, Jongdae memerintahkan pasukan mengawasi Istana secara ketat. Rakyat dimintanya untuk pulang. Pintu gerbang Istana ditutup rapat setelahnya.
Jongdae khawatir orang yang mau membunuh Baekhyun datang.
Pria yang terlihat memanah Baekhyun, telah ditahan di penjara bawah tanah Istana. Ia menanti keadaan Baekhyun.
Para menteri dan jenderal berkumpul di dalam Kamar Tidur Utama. Mereka percaya Baekhyun dapat sembuh. Semua orang percaya.
"A… apa… yang kalian lakukan di sini?"
Semua terkejut mendengar suara lemah itu.
"Terima kasih, Tuhan. Anda sudah sadar," pinta Kyungsoo.
"Bagaimana keadaan Anda, Paduka?"
"Aku merasa lemah, Jongdae. Dadaku terasa sakit setiap kali aku berbicara."
"Dokter mengatakan ujung panah itu menggores paru-paru Anda. Ia menyarankan Anda banyak beristirahat," Kyungsoo memberitahu.
"Saya mengaku bersalah, Paduka. Saya tidak dapat menjalankan tugas dengan baik. Saya patut dihukum."
"Ini bukan kesalahanmu, Jongdae. Kejadian ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Entah mengapa pada hari istimewa ini semua terjadi."
Semua orang berpandang-pandangan.
Nafas Baekhyun tersenggal-senggal. Ia seperti kehilangan semua kekuatannya.
"Anda harus beristirahat, Paduka," kata Kyungsoo.
Baekhyun tersenyum lemah. "Kau harus berterima kasih padanya, Jongdae. Kalau bukan karenanya, aku tidak akan mau beristirahat seperti ini."
"Jangan terlalu banyak berbicara, Paduka. Anda akan memperparah luka Anda."
Baekhyun tersenyum melihat menteri-menterinya.
"Keluarlah kalian. Biarkan Paduka beristirahat," kata Kyungsoo.
"Selamat beristirahat, Paduka," kata mereka.
Mereka meninggalkan Kamar Tidur Utama dan berkumpul di Ruang Rapat.
"Apakah menurutmu Pangeran yang melakukannya?"
"Tidak mungkin, Mingyu."
"Mungkin saja, Jongin. Sejak Pangeran masuk Istana, ia dan Paduka Ratu seperti saling menjauhi. Paduka Ratu berkata ingin mengajak Pangeran berdamai, tapi sejak Pangeran memasuki Istana, mereka tidak pernah berunding."
"Mengapa kejadian ini muncul saat Pangeran ada?"
"Mengapa hari-hari yang lalu tidak pernah terjadi?"
"Bila Pangeran ingin membunuh Paduka Ratu, ia tentu sudah melakukannya sejak lama. Ia takkan melakukannya saat Ratu berada di antara orang banyak. Kalau aku adalah Pangeran, aku akan membunuhnya saat aku berdua dengan Ratu."
"Kalau berdua, Ratu tidak akan mendapatkan pertolongan," timpal Jongin.
"Bila bukan Pangeran, siapa yang ingin membunuh Ratu? Siapa yang membenci Ratu?"
Mereka saling menatap dengan bingung.
"Menurut saya, kita harus memeriksa orang ini dan menanti keputusan Ratu."
"Aku setuju denganmu, Jongdae. Tapi menurutku kita tidak perlu menanti Ratu pulih. Masalah ini adalah masalah gawat. Ratu pasti mengerti."
"Kalau Ratu mengetahui masalah ini, ia pasti tidak akan berdiam diri. Ia akan memperburuk keadaannya."
"Hingga Ratu pulih, kita harus memperketat penjagaan Istana."
"Mulai saat ini saya akan selalu berada di sisi Paduka," janji Jongdae.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
