ANGEL'S

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

ANUGRAH BIDADARI by SHERLS ASTRELLA

BYUNNERATE

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rated: T

Warning: Genderswitch! Typos!

Summary: "Kami sering menyebut Ratu sebagai Bidadari Malam. Tiap malam Anda akan melihat Ratu membawa lilin kecil dan berkeliling Hall." "Bagi mereka, engkau adalah Ratu mereka dan terus akan menjadi Ratu mereka tapi bagiku, engkau adalah Ratu yang selalu bersinar di hatiku" "Aku memberikan seluruh cintaku padamu, Chanyeol, rajawaliku yang gagah perkasa."

NO BASH

DON'T READ IF YOU DON'T LIKE THIS

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

.

.

Baekhyun terjaga.

Baekhyun tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur. Hari beranjak malam ketika Kyungsoo memberinya obat dan menyuruhnya tidur. Sekarang matahari telah menerangi ruang tidurnya.

"Jadi, apa yang sekarang mereka lakukan?"

Baekhyun menajamkan pendengarannya.

"Hari ini para Menteri membuka sidang. Mereka akan mengadilinya. Mereka juga mengikutsertakan Pangeran untuk membuktikan keterlibatan Pangeran."

"Menurutmu, Jongdae, apakah Pangeran terlibat dengan usaha pembunuhan ini?"

Baekhyun terbelalak kaget mendengarnya. Ia meninggalkan tempat tidurnya.

Baekhyun membuka pintu yang menghubungkan ruang duduk dan ruang tidur kamarnya. Ia berlari menuju pintu depan.

"Paduka Ratu!" Kyungsoo terlonjak kaget. "Anda mau ke mana?"

Baekhyun menghilang di balik pintu.

"Cepat kejar dia!" teriak Xiumin panik.

Jongdae melompat dan segera mengejar Baekhyun.

Baekhyun memegang dadanya yang terasa sakit. Nafasnya tersenggal-senggal tapi ia tidak berhenti.

Siapa pun orang itu, Baekhyun ingin menolongnya. Baekhyun melihat orang itu sebelum ia jatuh. ia melihat kepanikan di wajahnya. Rasa panik itu tidak akan muncul pada seorang pembunuh.

Baekhyun yakin ada orang yang menyuruhnya. Para menterinya tidak akan mempedulikan hal itu. Siapa yang disuruh dan siapa yang menyuruh tidak akan mereka pedulikan.

Baekhyun terus berlari sambil berpegangan pada tembok hingga ia tiba di Ruang Tahta.

"HENTIKAN!"

Semua yang ada di dalam Ruang Tahta membelalak kaget melihat Baekhyun.

Baekhyun melihat seorang pria yang terikat di tengah ruangan.

"Beraninya kalian melakukan sesuatu di luar sepengetahuanku!"

"Paduka!" seru Jongdae cemas.

Nafas Baekhyun tersenggal-senggal ketika ia memasuki ruangan. Badannya limbung. Wajahnya pucat pasi.

Jongdae mendekati Baekhyun tapi gadis itu menepis tangannya.

"Maafkan kami, Paduka. Kami tidak ingin merepotkan Anda."

"Bebaskan dia!"

"Paduka!" Menteri-menteri itu terkejut, "Ia berusaha membunuh Anda."

"Aku perintahkan lepaskan dia!" seruan Baekhyun memenuhi ruangan.

Semua menatap Baekhyun.

Baekhyun murka melihat tidak ada yang bergerak.

"Dia tidak bersalah! Dia tidak diperintah oleh Chanyeol untuk membunuhku! Bagaimana kalian pantas disebut menteri bila tidak dapat melihat kebenaran!?"

Para prajurit segera membuka ikatan orang itu.

"Pergilah," kata Baekhyun lembut pada orang itu.

Pria itu melihat Baekhyun dengan ketakutan.

Sekali lagi Baekhyun berkata lembut, "Cepat pergilah."

Pria itu berdiri dan berlari menuju pintu. Prajurit segera menghadang pintu.

"Cukup!" bentak Baekhyun murka, "Biarkan dia pergi!"

Prajurit-prajurit itu memandang para menteri.

"BIARKAN DIA PERGI!" seru Baekhyun dengan seluruh kekuatannya.

Tiba-tiba Baekhyun batuk.

Semua terkejut melihat Baekhyun memuntahkan darah merah segar.

"Paduka Ratu…"

Baekhyun menutup mulutnya dan berusaha menghentikan batuknya yang semakin parah. Tiba-tiba gadis itu jatuh. Darah membasahi gaunnya dan menodai rambutnya yang keemasan. Tangannya yang berlumuran darah, membuat lantai menjadi merah.

Baekhyun melihat pria itu masih berada di Ruang Tahta. Baekhyun menahan badannya dengan kedua tangannya yang bergetar hebat.

Pandangan Baekhyun melembut ketika berkata, "Pe…per…r…g…i…lah… Kee…l…ua…rr…g…am…mmu p…pa…st…i… m…menn…ce…mma…ska…nnmu…."

Pria itu dengan ketakutan berlari menuju pintu.

Jongdae mendekati Baekhyun.

"B…bi…a…r…r…ka…n… d…di…a… p…pper…g…i…"

"Tentu, Paduka."

Baekhyun jatuh pingsan di pelukan Jongdae.

Mingyu segera bertindak. "Cepat ikuti pria itu. Ia akan membawa kita pada majikannya."

Jongdae mengangkat Baekhyun. "Aku akan membawa Paduka ke kamarnya."

"Panggil dokter."

Chanyeol mematung. Sepatah katapun tidak terlontar dari mulutnya. Ia diam melihat Baekhyun dibopong pergi.

Tak lama kemudian dokter datang. Ia memberi Baekhyun obat penenang sebelum meninggalkan Istana Azzereath.

Sepanjang hari itu Baekhyun terus tertidur. Ia baru bangun keesokan harinya.

Sinar matahari yang menyilaukan membuatnya memejamkan mata untuk sesaat. Setelah beberapa saat Baekhyun terbiasa dengan sinar yang menyilaukan itu.

Baekhyun melihat Xiumin memasuki ruang tidurnya.

"Xiumin…"

"Anda sudah bangun, Paduka?" Xiumin mendekati Baekhyun.

"Hari apa ini? Sekarang pukul berapa?"

"Hari ini hari Selasa dan saat ini sudah pukul sembilan pagi."

"Aku harus ke Ruang Rapat."

"Jangan melakukan itu, Paduka!" seru Xiumin kaget, "Dokter berpesan Anda harus berada di tempat tidur sampai Anda benar-benar pulih."

Seruan kaget Xiumin membuat Kyungsoo datang. "Ada apa?"

"Paduka ingin ke Ruang Rapat," Xiumin melaporkan.

"Hari ini aku ada rapat dengan para menteri," Baekhyun memberitahu.

"Dokter menegaskan Anda tidak boleh meninggalkan tempat tidur, Paduka," kata Kyungsoo, "Tindakan Anda kemarin membuat goresan luka di paru-paru Anda membesar. Nyawa Anda berada dalam bahaya bila Anda bertindak seperti kemarin. Dokter menekankan kami untuk mencegah Anda berbicara banyak dan berbuat banyak. Ia khawatir semua itu akan memparah luka di paru-paru Anda."

"Aku pun merasa sangat lelah bila engkau menentangku, Kyungsoo," kata Baekhyun lemah.

"Tidak seorang pun yang akan hadir, Paduka," kata Kyungsoo, "Mereka tahu Anda terlalu lemah untuk rapat."

Baekhyun tersenyum misterius. "Kemarin malam saat aku terjaga, aku memerintahkan prajurit untuk memberitahu mereka bahwa rapat hari ini tetap berjalan."

"Anda harus ingat kata dokter, Paduka."

"Hari ini aku tidak akan berbicara. Rapat hari ini aku akan mendengarkan."

"Biarlah Pangeran menggantikan Anda."

"Harus aku yang memimpin rapat kali ini," Baekhyun menyingkap selimutnya.

Xiumin cepat-cepat membantu Baekhyun.

Kyungsoo mengambilkan mantel gadis itu. "Tidak ada yang bisa mencegah Anda," katanya ketika mengenakan mantel itu pada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum.

"Jongdae!" panggil Kyungsoo.

Baekhyun memandang Kyungsoo dengan heran.

"Ada apa?"

"Gendong Paduka ke Ruang Rapat." Kyungsoo tersenyum pada Baekhyun, "Anda tidak harus berjalan untuk ke sana."

Baekhyun tertawa geli. Tiba-tiba ia mulai batuk.

"Paduka," kata Xiumin cemas sambil menepuk punggung Baekhyun.

Nafas Baekhyun tersenggal-senggal setelahnya.

"Anda benar-benar dapat melakukannya?" tanya Xiumin cemas, "Mengapa Anda tidak menyuruh Jongdae meminta mereka kembali?"

Baekhyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya dengan lemah. Kemudian menatap Jongdae.

Jongdae segera mendekat. "Maafkan saya, Paduka."

Baekhyun melingkarkan lengannya di leher pria tengah baya itu.

"Kurasa aku harus mengganti jabatanmu, Jongdae. Mulai hari ini aku mengganti kedudukanmu dari Kepala Pengawal Istana menjadi Pembopong pribadiku."

Jongdae tersenyum lalu ia membawa Baekhyun meninggalkan Kamar Tidur Utama.

Kyungsoo menatap cemas kepergian mereka tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Beberapa saat kemudian Baekhyun telah duduk di kursi tingginya di Ruang Rapat. Baekhyun duduk menanti kedatangan para menteri.

Beberapa saat kemudian terdengar keributan di luar Ruang Rapat.

"Undang mereka untuk masuk," kata Baekhyun lemah.

"Baik, Paduka."

Jongdae segera keluar.

"Apakah Paduka Ratu sanggup memimpin rapat?"

"Aku masih ingat kemarin beliau tampak sangat pucat dan lemah."

"Apakah baik bila rapat tetap berlangsung?"

"Paduka Ratu telah menanti Anda di dalam."

Para Menteri itu terkejut.

Jongdae membuka pintu lebar-lebar.

Seorang gadis dalam mantel coklatnya duduk di kursi tinggi. Ia tersenyum lemah pada mereka. Wajahnya yang pucat tidak menghilangkan kecantikkannya.

"Selamat siang," sapa Baekhyun lemah.

"Selamat siang, Paduka," balas mereka.

Mereka menatap Baekhyun dengan cemas. Tubuh kecil yang duduk di kursi itu tampak lemah. Wajah pucat Baekhyun mengkhawatirkan mereka. Nafasnya terlihat pendek. Ia seperti kesulitan untuk menghirup udara.

"Silakan kalian memulai laporan kalian," kata Baekhyun lemah.

Jongdae memandang semua menteri itu dan berharap mereka mengerti apa yang harus dilakukan.

Mereka mengetahui keadaan Baekhyun yang lemah. Tanpa membuang waktu, mereka segera melaporkan pelaksanaan semua keputusan Baekhyun dan undang-undang baru. Bergantian mereka berdiri dan membacakan laporan mereka.

Baekhyun mendengarkan dengan penuh perhatian.

Duduk dan mendengarkan dengan penuh perhatian, membuatnya merasa sangat lelah. Baekhyun tidak menyukai keadaannya yang lemah seperti ini. Tubuhnya hanya menghambat kegiatannya yang banyak.

Jongdae melihat nafas Baekhyun semakin pendek. Gadis itu tersenggal-senggal dan wajahnya semakin pucat. Keringat dingin bercucuran di dahinya.

Para Menteri juga melihatnya. Mereka menatap Baekhyun dengan cemas.

"Anda baik-baik saja, Paduka?" tanya mereka cemas.

Baekhyun menggelengkan kepalanya dengan lemah. Ia merasa terlalu lemah untuk berbicara.

"Sebaiknya Anda beristirahat demi kesehatan Anda."

"Biarlah rapat ini dihentikan sampai di sini. Kami tidak akan bisa mencurahkan seluruh perhatian kami pada rapat ini bila Anda seperti ini. Jangan sampai keadaan Anda menjadi semakin parah karena rapat ini."

"Rakyat Vandella membutuhkan Anda, Paduka. Anda harus memperhatikan kesehatan Anda."

"Kesehatan Anda di atas segala-galanya."

"Rapat ini bisa kita lanjutkan bila keadaan Anda telah membaik."

Baekhyun terharu ketika memandang para menterinya.

"Mereka benar, Paduka. Sebaiknya Anda kembali ke kamar Anda," kata Jongdae.

Baekhyun mengulurkan tangannya dan Jongdae menyambutnya dengan menggendong Baekhyun.

"Masalah kemarin…"

"Jangan khawatir, Paduka," sahut Mingyu, "Kami telah melakukan penyelidikan. Hari ini kami akan membuka sidang untuk memeriksa kejadian hari Minggu itu."

"Anda tidak perlu turun tangan," tambah Niel, "Pangeran Chanyeol bisa menggantikan Anda dalam persidangan itu."

"Benar," sahut Jinwoo, "Pangeran pasti bisa."

"Pangeran Chanyeol mendorong kami untuk segera menyelesaikan masalah ini," sambung Mingyu.

"Ia ingin segera menangkap orang di balik usaha pembunuhan terhadap Anda ini," Jongin menekankan.

Baekhyun tersenyum. Ia tahu Chanyeol pasti akan melakukannya. Bukan karena mengkhawatirkannya tetapi karena ingin membersihkan nama dari tuduhan itu. Dan kesadaran itu membuat hatinya sakit.

"Kami pasti akan melaporkan hasil persidangan itu pada Anda," Mingyu menegaskan.

Baekhyun tersenyum lembut pada mereka seperti matanya yang bersinar penuh kerinduan. "Kalian sangat memperhatikan aku. Kalian selalu mengerjakan tugas dengan baik. Aku sangat senang mempunyai menteri seperti kalian. Aku takkan melupakan kalian."

Baekhyun mengangkat kepalanya dan berkata, "Antarkan aku, Jongdae."

"Baik, Paduka."

Jongdae membawa Baekhyun meninggalkan Ruang Rapat.

"Mengapa aku merasa Paduka Ratu seperti akan meninggalkan kita untuk selama-lamanya?"

"Jangan berbicara seperti itu, Niel!" hardik Jinwoo.

Kwangsoo berkata, "Kita semua tidak ingin Paduka Ratu pergi."

"Paduka Ratu juga tidak akan meninggalkan kita," kata Hoseok.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh," potong Mingyu, "Kita harus segera melanjutkan pemeriksaan dan membuka persidangan."

Baekhyun sudah sangat lemah ketika Jongdae membaringkannya di tempat tidur.

Kyungsoo segera menghilang bersama Xiumin tetapi tak lama kemudian mereka muncul bersama senampan makanan.

Seperti seorang bayi, Baekhyun membiarkan makanan terus disuapkan ke mulutnya. Baekhyun merasa terlalu lemah untuk melawan. Ia sangat lelah dan ingin segera beristirahat.

Kyungsoo menyuapkan makanan hingga pada suapan yang terakhir.

Xiumin segera menyediakan obat Baekhyun setelahnya. Ia mengangkat tubuh lemah Baekhyun dan berkata, "Minumlah, Paduka. Setelah itu Anda harus tidur."

Baekhyun meminum obatnya tanpa berkata apa-apa.

Xiumin kembali membaringkannya. Wanita itu merapikan selimutnya lalu merapikan kembali meja di samping tempat tidur Baekhyun dari piring-piring.

"Tidurlah yang nyenyak. Kami ada di ruang duduk bila Anda membutuhkan kami," kata Kyungsoo.

Dengan pandangan matanya, Baekhyun tersenyum melihat kepergian mereka.

Belum lama Baekhyun terbaring, dokter datang.

Baekhyun membuka matanya mendengar langkah-langkah kaki di dekatnya dan suara orang berbicara.

Seorang pria berjenggot putih tersenyum padanya.

"Bagaimana keadaanku?"

"Dengan sangat menyesal, saya mengatakan keadaan Anda tidak membaik sejak kemarin. Pelayan Anda memberitahu tadi pagi Anda menghadiri rapat. Itu adalah tindakan yang dapat membahayakan Anda."

Baekhyun tersenyum lemah. "Kalau bukan aku, siapa yang dapat melakukannya?"

"Saya tahu Anda adalah gadis yang tangkas. Anda tidak pernah bisa dibuat diam, bukan?"

"Anda telah mengetahuinya."

"Saya pikir satu-satunya yang bisa membuat Anda diam adalah memberi obat tidur pada Anda."

"Kupikir obat tidur juga tidak bermanfaat banyak. Aku tidak pernah tidur selama yang diharapkan setelah minum obat tidur. Anda bisa menanyakannya pada Kyungsoo."

"Pelayan Anda telah memberitahu saya kalau kemarin malam Anda terjaga dan memulai kesibukan Anda. Ia terpaksa memberi Anda obat tidur lebih banyak agar Anda benar-benar tidur sampai pagi. Sepertinya saya harus memperbesar dosisnya."

"Apakah Anda yakin bisa berhasil?" tanya Baekhyun, "Terlalu banyak yang harus saya lakukan hingga alam bawah sadar saya pun tahu saya tidak bisa tidur terlalu lama."

"Anda harus banyak beristirahat, Paduka," Dokter mengingatkan. "Celaka!" seru Dokter kaget.

Baekhyun kebingungan.

"Berbicara dengan Anda sangat menyenangkan tetapi saya tidak boleh mengajak Anda terlalu banyak berbicara. Anda harus banyak menghemat nafas Anda sampai luka di paru-paru Anda sembuh."

Baekhyun tersenyum.

"Selamat beristirahat, Paduka. Besok saya akan kembali untuk memeriksa keadaan Anda."

"Terima kasih, Dokter."

Pria tua itu segera meninggalkan Baekhyun sendirian di kamarnya.

Baekhyun tidak kembali tidur seperti saran Dokter. Ia menanti kedatangan Jongdae yang telah berjanji akan segera memberitahunya hasil pemeriksaan para Menteri.

Seusai pelayan membersihkan Baekhyun dan mengganti perbannya, Jongdae datang menghadap.

"Bagaimana persidangannya?" tanya Baekhyun.

"Persidangan berjalan dengan lancar, Paduka. Pangeran Chanyeol yang memimpin sidang itu," Jongdae memulai laporannya, "Sebenarnya setelah Anda melepaskan pria itu, Mingyu menyuruh prajurit mengikuti pria itu."

"Menurut Mingyu, pria itu akan segera menemui orang yang menyuruhnya setelah meninggalkan Istana. Dugaan Mingyu benar. Pria itu tidak segera pulang tetapi menemui tuannya."

"Setelah mendapat laporan prajurit, Mingyu segera memerintahkan penangkapan keluarga Yunho."

Baekhyun terkejut tetapi ia tidak berkata apa-apa.

"Dalam sidang tadi, pria itu mengakui ia melakukannya karena diperintah Duke Yunho. Duke mulanya tidak mengakui perbuatannya itu. Tetapi, Pangeran Chanyeol berhasil membuat putrinya mengaku. Pangeran mencabut gelar Duke Yunho dan memenjarakan mereka di penjara Perenolde. Baru saja kemenakan Duke diangkat menjadi Duke Yunho yang baru."

"Pria itu?"

"Pangeran mengatakan pria itu juga bersalah karena telah mau melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Anda tidak perlu khawatir, Paduka. Pangeran memberinya keringanan. Ia tidak dipenjara selama Duke Yunho dan Putri Yoona."

"Terima kasih, Jongdae. Engkau tidak lupa memberitahuku."

"Saya tidak akan melupakan janji saya pada Anda, Paduka."

"Aku ingin engkau berjanji lagi padaku."

"Hamba siap melakukan apa pun untuk Anda, Paduka."

Baekhyun tersenyum. "Aku senang mempunyai prajurit seperti engkau. Azzereath patut berbangga atas kesetiaanmu."

Jongdae ingin mengatakan sesuatu tetapi Baekhyun mendahului.

"Aku ingin engkau mengantarkan sebuah surat pada Jongin hari ini juga." Baekhyun mengulurkan tangan ke meja di samping tempat tidurnya. Ia mengambil surat yang baru ditulisnya dan menyerahkannya pada Jongdae.

"Berjanjilah surat itu akan tiba di tangan Jongin malam ini juga."

"Hamba akan melakukan tugas sebaik-baiknya."

Baekhyun menutup matanya. "Aku lelah, Jongdae. Aku ingin beristirahat."

"Hamba mengerti, Paduka. Hamba tidak akan menganggu Anda lagi. Selamat beristirahat."

Baekhyun mengawasi kepergian Jongdae.

Baekhyun tidak pernah menyangka Duke Yunho dan putrinya akan merencanakan pembunuhan terhadapnya.

"Rupanya aku terlalu sibuk hingga melupakan mereka," katanya pada dirinya sendiri.

Yoona adalah Ratu Vandella bila ia tidak ada. Ambisi Duke Yunho untuk menjadikan putrinya sebagai Ratu Vandella telah terlihat ketika mereka bertemu.

Di mata Duke, Baekhyun yang dibesarkan di desa terpencil, tidak pantas menjadi Ratu Vandella. Yoona, putrinya yang telah mendapatkan pendidikan terbaik di negeri ini yang pantas memerintah kerajaan ini.

Duke Yunho sangat cerdik. Ia memanfaatkan keberadaan Chanyeol di Istana Azzereath. Ia ingin Chanyeol yang dipersalahkan dalam usaha pembunuhan ini. Ia berhasil andaikata Baekhyun tidak segera bertindak.

Sayangnya, Baekhyun telah mempercayai Chanyeol dan ia mencintai pria itu. Baekhyun takkan membiarkan orang-orang menuduh Chanyeol tanpa bukti yang kuat.

Rakyat Vandella tahu antara Chanyeol dan Baekhyun terdapat permusuhan yang kental. Permusuhan itu adalah peninggalan Raja Kris.

Semua mata akan tertuju pada Chanyeol bila Baekhyun terbunuh saat pria itu ada di Istana. Apalagi saat itu Baekhyun tengah berlari menuju Chanyeol.

Semua itu terkesan Chanyeol sengaja memanggil Baekhyun untuk menjauhkannya dari kerumunan orang banyak. Dan, ketika Baekhyun sedang berlari, panah dilepaskan.

Rencana yang sangat sempurna. Dengan kematian Baekhyun, Yoona akan menjadi Ratu Vandella. Dan, Duke akan tersenyum sangat puas. Sekali bertindak, ia membuang dua penghalang besarnya, Baekhyun dan Chanyeol, dan memenuhi impiannya, menjadikan putrinya sebagai Ratu Vandella.

Tidak akan ada orang yang berani melawan setelah Chanyeol – pahlawan yang paling dipuja rakyat Vandella – dihukum mati.

Baekhyun merasa lega. Hasil persidangan telah keluar. Semua yang bersalah telah mendapat ganjarannya.

Tidak ada saat yang paling melegakan Baekhyun selain saat ini. Semua tugasnya telah usai dan ia bisa pergi dengan tenang.

.

.

.

.

"YANG MULIA PADUKA RATU BAEKHYUN MENGHILANG!" seru para Menteri kaget.

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kwangsoo panik. "Uskup Agung telah datang. Beberapa saat lagi ia akan tiba di Katedral Kerasithui."

Menteri-menteri itu berpandang-pandangan dengan cemas.

"Bagaimana Ratu menghilang?" tanya Mingyu.

"Saya tidak tahu," jawab Jongdae, "Kemarin malam saya masih berbicara dengannya. Beberapa pelayan juga sempat berbicara dengan Paduka Ratu sebelum Ratu tidur."

"Apakah ia tidak diculik?" tanya Jinwoo.

"Tidak," jawab Jongdae, "Sejak hari Minggu saya memperketat penjagaan di Istana khususnya di Kamar Tidur Utama."

"Kau yakin?"

"Saya sangat yakin."

"Bagaimana mungkin Ratu bisa menghilang? Apakah kalian telah mencarinya di seluruh Istana? Mungkin saja Paduka Ratu berada di suatu tempat di Istana ini."

"Mulai pagi tadi kami terus mencari di seluruh pelosok Istana, tetapi hingga kini kami tidak menemukannya."

"Apakah tidak ada yang melihat kepergian Ratu?"

"Tidak."

"Apakah mungkin seseorang pergi tanpa meninggalkan jejak?"

Kwangsoo semakin panik. "Bagaimana ini? Beberapa saat lagi Bapa Paus akan tiba di sini."

"Apakah kita harus menundanya?"

"Tidak," sahut Kwangsoo, "Kita tidak bisa. Demi permintaan Ratu Baekhyun, Bapa Paus telah menyempatkan diri untuk datang. Tidak mungkin kita membatalkannya."

"Kita tidak bisa membatalkan acara ini," sambung Hoseok, "Para undangan sudah tiba dan semuanya telah dipersiapkan dengan matang."

"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kwangsoo panik.

Ruang di belakang altar Katedral Kerasithui menjadi ramai.

"Jangan khawatir!"

Semua memandang Jongin yang terengah-engah di ambang pintu.

"Maaf aku terlambat. Aku baru saja berangkat ke sini ketika aku teringat aku harus ke Istana mengambil surat pernyataan Paduka Ratu."

"Ratu menghilang, Jongin," Jinwoo memberitahu dengan panik.

Jongin terkejut.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa membatalkan rencana ini."

"Jangan panik, Kwangsoo," kata Jongin, "Paduka Ratu telah memintaku menggantikannya dalam acara ini."

Semua menatap tajam Jongin. "Kau tahu di mana Ratu berada?"

"Tidak," jawab Jongin, "Ratu tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menyuruhku menggantikannya dalam acara ini. Ketika membacanya, aku pikir Ratu benar. Ia terlalu lemah untuk hadir dalam acara ini tetapi ia tidak bisa membatalkannya. Sedikitpun aku tidak berpikir Ratu akan menghilang."

"Apa yang harus kita katakan pada Bapa Paus?"

"Menurutku, sebaiknya kita mengatakan Ratu sakit sehingga ia tidak dapat memberikan pernyataan turun tahtanya ini."

"Turun tahta?" seru semua yang ada di ruang kecil itu terkejut.

"Kalian belum tahu?" tanya Jongin heran.

"Hanya engkau saja yang tahu?" Mereka balas bertanya.

"Aku pikir Ratu telah memberitahu rencananya ini pada kalian."

"Apa yang Ratu rencanakan?" tanya mereka tidak sabar.

"Ratu ingin Pangeran Chanyeol menggantikannya memerintah Vandella. Ratu berkata Pangeran Chanyeol lebih pantas daripada dia. Ratu tidak mengetahui Vandella sebaik Pangeran. Pangeran dibesarkan di Vandella sedangkan Ratu di luar negeri. Bagi Ratu, daerah-daerah Vandella sangat asing."

"Bagaimana Ratu bisa berpikir seperti itu?"

"Membantahnya sekarang tidak ada gunanya lagi," kata Jongin sedih, "Aku telah mencoba menghentikan Ratu tetapi ia tetap melanjutkannya. Ia sendiri yang mengirim surat pada Bapa Paus untuk datang ke sini dan menobatkan Pangeran menjadi Raja Vandella. Ratu pula yang menyebarkan undangan pada kerajaan-kerajaan lain dan pada bangsawan-bangsawan Vandella."

"Aku yakin Ratu tidak memberitahu rencananya ini pada mereka kecuali pada Sri Paus."

"Ratu suka memberi kejutan," Jongin sependapat.

"Bapa Paus telah tiba," lapor seorang prajurit.

Menteri-menteri itu terlonjak kaget. Mereka cepat-cepat keluar dari pintu belakang untuk menyambut Bapa Paus.

"Saya mewakili Paduka Ratu meminta maaf," kata Kwangsoo, "Saat ini Ratu sakit sehingga ia tidak dapat menyambut Anda."

Bapa Paus tersenyum penuh kasih. "Saya mengerti. Semoga Ratumu segera sembuh."

Kwangsoo mengantar Bapa Paus ke dalam Katedral.

Sebelum Bapa Paus memulai upacara penobatan Chanyeol, Jongin membacakan surat pernyataan turun tahta Baekhyun.

Hari ini dalam kesempatan ini, saya, Baekhyun menyatakan diri turun tahta. Untuk selanjutnya, pemerintahan Vandella akan dipegang oleh Pangeran Chanyeol, pria yang saya ketahui akan membawa Vandella ke arah perbaikan yang lebih baik daripada saya, orang asing di Vandella. Dengan segala hormat, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan Anda semua selama pemerintahan saya. Saya berharap Anda terus mendukung kerajaan Vandella. Semoga Pangeran Chanyeol dapat membawa Vandella pada kehidupan yang lebih baik.

"Demikian pernyataan Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun," Jongin mengakhiri.

Suara riuh memenuhi Katedral Kerasithui. Semua orang terkejut mendengar pernyataan itu. Semua orang tidak menyangka.

Kedudukan Baekhyun sebagai Ratu Vandella sangat kuat. Rakyat tidak mengharapkan Baekhyun turun tahta. Rakyat mendukungnya dan mencintainya.

Rakyat Vandella telah melupakan kenyataan bahwa Baekhyun adalah putri Raja yang mereka benci. Mereka hanya tahu Baekhyun adalah ratu mereka, bidadari mereka yang cantik dan penuh kasih.

Baekhyun adalah ratu yang selalu bersinar di hati rakyat Vandella.

Uskup Agung segera memulai upacara penobatan Chanyeol.

Semua orang terdiam hingga Uskup Agung memasangkan mahkota Kerajaan Vandella yang gemerlapan di kepala Chanyeol.

Sebagai pengganti Baekhyun, Jongin memasangkan jubah kebesaran Raja pada pria itu.

"Mulai saat ini kami, rakyat Vandella mengakui Anda sebagai Raja kami, pemimpin kami," kata Jongin.

Semua orang memberi selamat pada Chanyeol. Semua berpikir Chanyeol bahagia karena keinginannya untuk memerintah Vandella telah tercapai.

Tapi tak seorang pun yang tahu perasaan Chanyeol.

Sejak mendengar berita menghilangnya Baekhyun, hatinya terus bergolak cemas. Ia bingung atas semua yang terjadi. Ia tidak tahu lagi apa yang direncanakan Baekhyun.

Baekhyun seperti tidak ingin menunjukkan bahwa ia memberikan tahta pada Chanyeol. Baekhyun ingin rakyat tahu Chanyeol mendapatkan tahta Vandella karena perjuangannya. Baekhyun tidak ingin membuat pandangan rakyat terhadap Chanyeol turun karena ialah yang memasangkan jubah kebesaran Raja pada pria itu.

Setelah melihat sendiri bagaimana Baekhyun berusaha menyelamatkan orang yang telah memanahnya, Chanyeol melihat Baekhyun sungguh-sungguh mencintai rakyatnya. Saat itu Chanyeol akhirnya tahu Baekhyun berbeda dengan apa yang dibayangkannya.

Keyakinannya itu diperkuat dengan berita yang muncul di koran-koran keesokan harinya.

Semua koran secara besar-besaran menceritakan kehidupan Baekhyun sebelum menjadi Ratu Vandella. Mereka menuliskan bagaimana Baekhyun menolak pulang ke Vandella walaupun itu demi menjadi Ratu yang membuat hidupnya lebih bahagia daripada hidup penuh kesulitan di desa Marshwillow.

Kyungsoo telah bercerita banyak pada koran-koran bagaimana Baekhyun membenci ayahnya hingga ingin melupakan jati dirinya sebagai Putri Kerajaan.

Bila boleh memilih, Baekhyun pasti memilih menjadi rakyat biasa. Namun, demi rakyat Vandella yang menderita, gadis itu kembali.

Keinginannya untuk hidup sebagai rakyat biasa sangat kuat. Setelah memperbaiki semuanya, ia memberikan tahta pada orang yang menurutnya pantas. Tetapi, Baekhyun tidak menyadari dirinya sendiri pantas memerintah Vandella.

Dengan pendidikannya sebagai anak desa terpencil, Baekhyun membuat semua orang kagum padanya. Menteri-menteri telah lama mengagumi Baekhyun dan mereka terus mengagumi gadis itu hingga kini.

Kekaguman dunia pada Baekhyun yang pandai sangat besar. Semua tidak percaya Baekhyun dibesarkan di desa kecil tetapi Kyungsoo, sang pelayan membuat mereka percaya. Kyungsoo adalah saksi kehidupan Baekhyun yang penuh kesusahan di masa lalu.

Baekhyun menghilang seperti angin tetapi semua orang tetap mengenangnya. Dunia mengenangnya sebagai Ratu muda yang sangat cantik. Rakyat Vandella mengenang Baekhyun sebagai bidadari cantik yang memberikan banyak anugerah kepada mereka.

Bidadari itu akan terus tersimpan di dalam hati rakyat.

Kepergian Baekhyun yang tanpa jejak membuat rakyat berpikir gadis itu benar-benar seorang bidadari. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia kembali ke tempatnya. Ia meninggalkan Kyungsoo di tempat kelahiran wanita itu.

Chanyeol tidak mau mempercayai semua itu. Ia yakin Baekhyun masih ada di dunia ini di suatu tempat. Entah di mana pun itu. Gadis itu masih ada.

Mengingat kondisinya yang sangat lemah, Chanyeol yakin gadis itu tidak jauh.

Siang hari seusai penobatannya, seorang pelayan mengantarkan surat padanya.

"Ada surat untuk Anda, Paduka."

Chanyeol membukanya tanpa banyak berbicara.

Saya mengucapkan selamat atas penobatan Anda, Pangeran. Saya percaya Anda akan menjadi Raja yang baik bagi Kerajaan ini.

Baekhyun

"Baekhyun!" kata Chanyeol terkejut. "Di mana dia?"

"Hamba tidak tahu, Pangeran."

"Surat ini," Chanyeol mengibaskan surat di tangannya, "Bagaimana surat ini bisa sampai padamu? Baekhyun yang memberikannya padamu?"

"Benar, Paduka Ratu yang memberikan surat itu pada saya."

"Engkau orang terakhir yang melihat Baekhyun," kata Chanyeol, "Engkau pasti tahu ke mana dia pergi!"

"Tidak, Paduka. Paduka Ratu Baekhyun memanggil saya beberapa saat sebelum para pelayan datang. Beliau meminta saya menyerahkan surat ini pada Anda setelah Anda pulang dari Katedral Kerasithui."

Chanyeol sedih. Satu-satunya orang yang dikiranya dapat menjadi petunjuk di mana Baekhyun berada, ternyata bukan orang terakhir yang melihat Baekhyun. Orang terakhir yang melihat Baekhyun adalah pelayan-pelayan gadis itu.

Hingga hari ini mereka mengatakan mereka terus berada di sisi Baekhyun hingga gadis itu tertidur. Setelah itu tidak ada lagi yang melihat Baekhyun.

Kemunculan Baekhyun mengejutkan Vandella. Kepergiannya pun mengejutkan. Semasa ia memerintah, ia juga membuat banyak kejutan. Baekhyun adalah gadis yang senang memberi kejutan.

Cara Baekhyun masuk ke dalam kehidupan Chanyeol mengejutkan. Caranya keluar dari kehidupan Chanyeol juga mengejutkan.

Semakin mengingat keadaannya yang lemah, semakin ingin Chanyeol menemukan Baekhyun.

Chanyeol yakin Baekhyun belum jauh dari Istana Azzereath. Ia telah memerintahkan seluruh pelosok Perenolde diperiksa. Tetapi, hasilnya nihil.

Tidak seorang pun melihat Baekhyun.

Pernah suatu kali Chanyeol memergoki Tao menolak seorang tamu.

"Mengapa engkau menolaknya, Tao?" tanya Chanyeol murka, "Engkau tidak berhak melakukan itu. Akulah yang memutuskan akan menerimanya atau tidak."

"Maafkan saya, Paduka," kata Tao, "Yang Mulia Paduka Ratu Baekhyun memberi saya wewenang untuk menolak segala bentuk lamaran terhadapnya."

Chanyeol terkejut.

"Seminggu setelah Ratu memerintah, banyak surat lamaran yang datang. Banyak juga utusan yang datang hendak melamar Paduka Ratu, tetapi Paduka Ratu menolak semuanya. Paduka Ratu berkata, ia tidak bisa menikah dengan siapapun sebelum rakyat Vandella makmur. Beliau meminta saya mengatakan itu pada mereka sebagai jawabannya."

Chanyeol semakin ingin menemukan Baekhyun. Chanyeol tidak ingin pria lain mendapatkan Baekhyun. Ia tidak dapat hidup bila tahu ia tidak dapat memiliki gadis itu.

Sekarang Chanyeol merasa menyesal. Andai dulu ia tidak segera memutuskan untuk menyambut serangan pasukan kerajaan, sekarang Baekhyun adalah istrinya yang resmi baik secara hukum maupun agama.

Baekhyun salah bila mengatakan pernikahan mereka tetap tidak resmi secara hukum bila mereka telah menandatangani surat pernikahan. Hukum tahu siapa yang dinikahi Chanyeol. Semua orang tahu. Tidak akan ada yang peduli nama apa yang tertera di surat pernikahan mereka. Mereka adalah suami istri!

Bila saat itu Chanyeol tidak memutuskan untuk menikahi Baekhyun secara diam-diam, kini semua orang di Lasdorf juga di luar Lasdorf tahu Baekhyun adalah istrinya. Dan, tak seorang pun berusaha mendapatkan gadis itu.

Sekarang gadis itu berada di tempat yang jauh darinya. Chanyeol tidak bisa menjaga Baekhyun dari pria lain yang berusaha merebutnya. Chanyeol tidak dapat terus berada di sisi Baekhyun.

Akhirnya Sehun tersenyum puas melihat kegalauan hati Chanyeol.

"Aku telah berulang kali memperingatimu tetapi engkau tidak mau mendengarkan. Engkau memilih membunuh Ratu daripada mengakui engkau masih mencintainya," kata Sehun pada suatu saat.

Chanyeol benar-benar mati kutu sekarang. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hidupnya seperti neraka karena kepergian Baekhyun. Ia tidak bisa melupakan Baekhyun. Ia tidak akan pernah bisa melupakan setan ciliknya yang cantik itu.

Seluruh yang ada di dalam Istana ini membuatnya kembali teringat pada Baekhyun.

Di Kamar Tidur Utama yang kini menjadi tempat tidurnya, selalu tercium wangi Baekhyun. Wangi yang sama yang tercium di kamarnya setelah Baekhyun kembali pada pasukannya.

Setiap Chanyeol berbaring di ranjang, ia selalu mencium wangi Baekhyun dan merindukan Baekhyun.

Chanyeol tidak tahu mengapa Baekhyun tega meninggalkannya dengan cara seperti ini. Mengapa Baekhyun tega membuat seluruh rakyat yang dicintainya mengkhawatirkannya.

Hingga dua bulan kepergiannya, semua orang masih mengingatnya.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.