Kamis, 31 Desember 2015

Untuk liburan, Gaara tidak memilih luar kota. Entah mengapa apartemen mewahnya sudah menjadi segala yang ia butuhkan untuk liburan. Well, alasan sebenarnya adalah karena ada Hinata di sisinya.

Cuddle. Kata yang tidak pernah hinggap dalam kamus Gaara dan hanya pernah ia lihat sekilas di internet. Gaara baru tahu rasanya lebih menyenangkan dari bercinta. Hanya melekat satu sama lain, saling memberi kecupan, bercanda atau membicarakan sesuatu bersama di bawah hangatnya selimut, dan ditambah dengan menonton film atau ditemani sepaket pizza.

Ia memandang kota Tokyo yang baru saja memulai aktivitasnya. Hinata ada di pelukannya, berendam bersamanya dalam jacuzzi yang hangat. Mereka tidak berpakaian, dan Gaara menemukan dirinya bahkan tidak tergoda pada tubuh polos Hinata.

Drrt drrt.

Gaara mengambil ponselnya.

Naruto: Mlm thn br di rmhku, bro.

Gaara: Nah.

Lalu kembali menyimpan ponselnya.

"Dari siapa?"

Gaara menarik Hinata agar semakin melekat padanya. "Naruto," jawabnya, "dia mengajak kita untuk malam tahun baru di rumahnya."

Hinata mengangkat kepalanya. "Ide bagus. Mau ku bantu memilih pakaian?"

Kalimat 'Aku sudah menolaknya' ditelan Gaara mentah-mentah. "Oke."

Mereka berdiri, meninggalkan kenyamanan jacuzzi dan pemandangan kota Tokyo untuk berpakaian. Hinata berjanji membuatkan sarapan lezat ala chef untuk mereka berdua tadi malam. Jadi, Gaara—seperti biasa—menunggu Hinata di dapur dan mengikuti ke mana pun Hinata melangkah.

Gaara kembali mengambil ponselnya.

Naruto: Ayolah, yg lain sdh setuju.

Naruto: Kt semua bakal ngumpul. Shino & Kiba jg sdh setuju.

Naruto: Sisa kalian berdua.

Gaara berpikir sebentar. Jika Naruto bilang semua, maka setiap keluarga besar akan datang. Keluarganya dan keluarga Hinata akan datang. Dan Gaara teringat pada kejadian tiga hari yang lalu. Ia sudah hampir mengetik penolakan, tapi kemudian pertanyaan Hinata mampir ke pikirannya.

Mau ku bantu memilih pakaian?

Lalu jawabannya.

Oke.

Gaara menepuk jidat. Ia melirik Hinata sebentar yang sedang asik dengan masakannya sebelum membalas.

Gaara: Oke.

Naruto: HA. Aku akn berterimakasih pd Hinata nnt.

Gaara mengernyitkan dahi. Apa sekarang dia semudah itu untuk dibaca? Atau Naruto memasang CCTV di apartemennya?

Gaara segera meliuk-liukkan kepalanya ke langit-langit untuk mencari kamera.

"Kau baik-baik saja?"

Gaara membeku. Tingkahnya pasti sangat bodoh di mata Hinata. Ia mengangguk-angguk sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Kalau begitu coba ini," kata Hinata sambil menyodorkan sendok pada Gaara.

Gaara mencicipi. Seperti biasa, rasanya pas. Gaara mengangguk, dan Hinata menampilkan cengiran senang. Gaara mendekat, mencium pipi Hinata dengan gemas, sebelum memeluknya erat-erat.

"A-aku harus memasak."

"Oh, ya?"

Hinata mengangguk.

"Kurasa makanan tidak terlalu penting."

Hinata tertawa. "Kita bisa makan sambil nonton di sofa empuk."

Gaara berpikir sebentar sebelum melepaskan Hinata. "Aku tunggu di sofa empuk," katanya lalu memberi kecupan di sudut bibir Hinata.

Hinata merona. Gaara semakin manis akhir-akhir ini. Mereka tidak pernah lagi melakukan hal yang lebih dari berciuman. Mereka lebih sering menikmati kebersamaan mereka dengan bercerita atau berpelukan dalam diam.

Salju tidak turun hari ini. Setelah sarapan nanti Hinata akan meminta Gaara menemaninya ke toko buku. Tiba-tiba ia teringat dengan hadiah ulang tahun Gaara. Wajahnya memanas dan Hinata segera mengusir ingatan itu dan mematikan kompor. Ia mengambil dua piring, dua gelas berisi jus jeruk, meletakkannya di nampan, kemudian menyusul Gaara ke sofa empuk.

Di sofa empuk, ada Gaara yang tiduran sambil bermain game. Hinata tersenyum sambil meletakkan nampannya di meja. Gaara bangkit duduk dan Hinata mengisi tempat kosong di sampingnya. "Kita nonton apa?"

Gaara beranjak. Ia melangkah menuju TV dan mencari kaset film yang ia inginkan. Setelah mencari beberapa saat, Gaara memasukkan kaset pilihannya ke dalam pemutar DVD. "Twenty Two Jump Street."

Merasa familiar dengan judulnya, Hinata berusaha menggali ingatannya. Hal pertama yang muncul di kepalanya adalah Neji, lalu kalimat yang dikatakan Neji, "Itu film dewasa. Kau tidak boleh menontonnya."

Hinata hampir menghentikan Gaara, namun ia berpikir. Bukankah dirinya sendiri sudah melakukan hal-hal dewasa? Apa salahnya? Dengan alasan tersebut, Hinata membiarkan film berputar dengan Gaara di sampingnya dan makanan di tangannya.

"Nanti temani aku ke toko buku?"

"Hm."

"Apa kau juga mau pergi ke suatu tempat?"

"Tidak."

Hinata mengangguk. Seperti biasa, TV hanya menjadi suara latar bagi mereka berdua. Schmidt sedang diserang gurita saat keduanya saling menceritakan kebiasaan buruk masing-masing. Hinata akhirnya tahu lingkaran hitam yang selalu menghiasi mata cantik Gaara berasal dari insomnia. Sedangkan Hinata sendiri mengaku memiliki kebiasaan bangun tengah malam.

"Bagaimana dengan kejadian paling memalukan yang pernah kau alami?"

Gaara mengernyit. Kejadian memalukan?

"Aku pernah. Waktu itu aku masih kelas dua SD, dan um…" Hinata mengetuk-ngetukkan sendok di dagunya sambil berpikir. "Ah, aku lupa namanya. Pokoknya dia membuat celanaku basah karena menumpahkan air di kursiku. Seharian penuh aku dikira buang air kecil di celana."

Hinata menggeleng-geleng. Kini berbicara pada Gaara lebih seperti berbicara pada Kiba atau Hanabi. Dan itu artinya dia menjadi sedikit cerewet dari yang biasanya. Ia menoleh pada Gaara beberapa saat kemudian. "Bagaimana denganmu?"

Ini pertama kalinya seseorang bertanya tentang masa lalunya. Ia mencoba mengingat, tapi tidak menemukan apa pun. Saat ia berusaha lebih keras, ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Hal ini terasa ganjil. Gaara tidak pernah merasa sekosong ini.

Gaara meletakkan piringnya di meja dan mematikan TV. Hinata memberinya pandangan bertanya. "Kau baik-baik saja?" Ia menggigit bibir, merasa telah mengatakan hal yang salah.

Gaara menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya perlahan sebelum mengangguk. Dia butuh udara segar.

"Apa ada sesuatu?"

Gaara menggeleng sambil berdiri. "Pakai mantelmu, kita ke toko buku sekarang."

.

Udara segar terbukti mampu menyegarkan pikiran Gaara. Sesekali ia memijat kepalanya yang terasa pening. Ia hampir melupakan Hinata sepenuhnya jika saja Hinata tidak meremas pelan tangannya. Gaara tersentak kemudian menoleh. "Kau baik-baik saja?"

Wajahnya mencerminkan kecemasan. Gaara menyesal telah membuat Hinata khawatir. Ini bukan apa-apa, Gaara meyakinkan dirinya sendiri. Ia membalas remasan Hinata sambil berkata dengan senyum kecil yang dipaksakan, "Aku baik-baik saja. Sekarang, di mana toko buku yang mau kau datangi?"

Hinata menyunggingkan senyum. Ia segera berbalik untuk menunjuk arah. Walau wajahnya tersenyum, tapi hatinya khawatir. Ia tahu ada yang salah dengan perkataannya. Mungkin hal-hal yang menyangkut masa lalu tidak baik untuk Gaara. Hinata menggigit bibirnya saat mengingat kembali ekspresi Gaara beberapa saat yang lalu.

Kosong, kemudian berubah sakit, seolah ada pisau yang tiba-tiba menusuknya tepat di jantung. Lalu Gaara tidak mendengar pertanyaan-pertanyaannya. Dia menjawab setelah Hinata memberi sedikit rangsangan pada indera perabanya. Mereka jalan dalam diam sampai Hinata menarik Gaara masuk ke dalam sebuah toko buku yang, well, lumayan besar.

Bel berbunyi menyambut kedatangan Hinata dan Gaara. Toneri Ootsutsuki, orang yang dekat dengan Hinata selain Kiba dan Shino—dan kini Gaara—menyambut dengan senyum ramah. "Selamat datang, Hinata-chan."

Hinata membalas dengan senyum manis. "Lama tidak berjumpa, Toneri-kun," katanya. Gaara menggoyangkan tangan Hinata yang digenggamnya sebagai kode. Hinata menyentakkan kepalanya ke samping. "D-dan ini…um…."

"Gaara Sabaku, suami Hinata."

Hinata meringis.

"Suami?" Toneri mengangkat kedua alisnya sambil menatap Gaara dan Hinata bergantian. "Serius? Kau menikah secepat ini?" Hinata mengangguk. "Kau bahkan belum lulus SMA!"

Gaara meletakkan tangannya di bahu Toneri. "Minggir, Tomeric," katanya sambil menyingkirkan Toneri dari jalannya dan Hinata. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Hinata dan menariknya menjauh tanpa memutuskan tatapan sinis yang ia berikan pada Toneri.

"Namanya Toneri, Gaara-kun."

Gaara mengendikkan bahu tidak peduli. Hinata membawanya ke rak novel, kemudian menyuruhnya berkeliling untuk melihat-lihat kalau bosan. Dan Gaara memang bosan. Jadi ia menuruti Hinata, berkeliling di sekitar toko buku lalu berhenti di bagian peta.

Matanya berhenti di Jerman. Tangannya terulur, mengusap kata itu, lalu seperti tersengat listrik ia segera menarik tangannya.

Tidak.

Dia tidak boleh kembali ke masa lalu.

"Namamu Gaara?"

Gaara segera menoleh dan menemukan Toneri berdiri dengan alis terangkat. "Apa maumu?"

Mengendikkan bahu, Toneri mendekat pada Gaara dan ikut menatap peta yang tadi diperhatikan Gaara. Wajahnya berubah serius, dan untuk beberapa saat seringai licik tampil di wajahnya. "Dunia ini memang sempit," gumamnya.

"Apa?"

Lalu senyum palsu hadir di wajah Toneri. "Ah, tidak, aku hanya bilang tadi aku melihat Hinata di kasir." Ia memberi senyum sopan, membungkuk sedikit sebagai salam sebelum berlalu.

Gaara menatap kepergian Toneri dengan pandangan curiga. Ia lalu teringat kata-kata Toneri tadi dan segera berjalan ke kasir. Hinata memang di sana, tapi belum melaksanakan pembayaran. Seperti memiliki ikatan batin dengan Gaara, Hinata berbalik ke arahnya dan tersenyum. "Kau membeli sesuatu?"

Gaara menggeleng. Ia sempat melihat sekeliling untuk mencari keberadaan Toneri sebelum mengeluarkan dompet lalu membayar buku yang ingin dibeli Hinata. "Aku mau minum kopi, kita ke kafe sebentar, ya?"

Hinata mengangguk. Mereka keluar dari toko lalu menyeberang ke sisi jalan yang lain sebelum menghilang di balik pintu kafe.

Toneri berdiri di sana. Memerhatikan segalanya dengan wajah datar, namun berbagai rencana sudah tersusun di kepalanya.

.

Hinata tidak bisa bersikap biasa. Dia tahu sikapnya mungkin sudah terlihat aneh, tapi dia berharap Gaara tidak menyadarinya. Ini semua berhubungan dengan apa yang dikatakan Toneri. Hinata sedang memilih-milih novel terakhir yang ingin dibelinya ketika Toneri tiba-tiba datang menghampirinya.

"Hinata-chan," sapa Toneri.

Hinata menampilkan senyum terbaiknya. "Toneri-kun," tirunya.

Toneri tertawa pelan, lalu berdeham sebelum berkata, "Sudah berapa lama kau kenal dengan Gaara?"

Tangannya yang sempat terulur untuk mengambil novel pilihannya berhenti di tengah jalan. Ia berbalik, menghadap Toneri dengan pertanyaan di wajahnya. "Maksudnya?"

"Sebagai teman yang baik, aku hanya ingin tahu sudah berapa lama kau mengenal Gaara."

Hinata berpikir. Ia sudah mengetahui siapa Gaara sejak baru masuk SMA. Bagaimana pun, Gaara sangat mencolok dengan kelakuan buruknya di sekolah. Bahkan Hinata yakin tidak ada yang tidak mengenal Gaara di sekolahnya. Tapi dia baru mengenal, benar-benar mengenal Gaara sekitar satu bulan yang lalu. Toneri tidak perlu mengetahui detailnya, jadi Hinata menjawab, "Sudah lama."

"Sudah lama?"

Hinata mengangguk. Firasatnya buruk.

"Aku rasa Gaara bukanlah orang yang baik," Toneri memulai. "Dari wajahnya, aku tahu dia tidak benar-benar menyukaimu. Masih ada orang lain yang menempati hatinya. Dan walau pun dia memang menyukaimu, orang itu masih tetap menduduki seperempat hatinya. Ini hanya dugaan setelah analisis singkatku, tapi aku percaya, saat orang itu kembali dalam hidupnya, dia akan meninggalkan dirimu." Toneri berbalik, namun masih melanjutkan, "Jangan jatuh terlalu dalam, Hinata. Kalau dia jurang, lebih baik kau mengikat tali ke seluruh tubuhmu sebelum melompat turun, supaya seseorang bisa menarikmu naik saat kau sudah jatuh terlalu dalam dan hanya kegelapan yang bisa kau lihat."

Hinata mencengkeram cangkirnya kuat-kuat.

"Kau kedinginan?"

Hinata mengangkat kepalanya.

Toneri merupakan lulusan psikologi. Dia bisa membaca seseorang dengan cepat, dan biasanya tepat. Hinata selalu merasa nyaman jika bersama Toneri, karena selain hebat dalam membaca seseorang, dia juga sangat peka. Toneri tahu kapan dia merasa nyaman dan kapan dia merasa tidak nyaman. Jadi Hinata tidak perlu repot-repot memberi kode yang mungkin sulit dimngerti bagi laki-laki lain selain Toneri.

Di hadapannya ada Gaara, dengan wajah cemas dan tanda tanya di matanya. Semuanya terasa benar, namun perkataan Toneri menghalangi Hinata untuk merasakan hal itu. Hinata tidak dapat melihat apa yang dilihat Toneri dalam Gaara. Ia tidak dapat melihat siapa yang membayangi Gaara selama ini.

Hinata memasang senyum terpaksa sebelum menjawab, "Sedikit."

Gaara tersenyum, dan Hinata ingin sekali tesenyum bersama Gaara. "Mungkin aku bisa menghangatkanmu di rumah nanti." Gaara mengedipkan sebelah matanya.

Hinata merona. Ia menunduk, kembali memikirkan kata-kata Toneri. Tidak mungkin itu benar. Mungkin kali ini Toneri salah—lagi. Toneri juga pernah salah karena dia hanyalah manusia biasa. Tidak bisa selalu benar. Jadi Hinata yakin Toneri pasti salah tentang Gaara.

Dan kalau memang benar, Hinata ingin menjadi egois dan menikmati ini semua sebelum seseorang itu datang dan mengambil Gaara darinya.

.

23.22

Malam tahun baru di rumah Naruto memang menyenangkan. Kushina, ibu Naruto merupakan wanita campuran Belanda dan Jepang. Sedangkan ayahnya merupakan campuran Perancis dan Jepang. Awal Gaara mengenal Naruto, cowok berambut pirang itu masih memanggil kedua orang tuanya dengan mama dan papa. Sampai sekarang pun masih, namun hanya di hadapan kedua orang tuanya. Saat menceritakan tentang orang tuanya, Naruto akan menggunakan Tou-san dan Kaa-san.

"Mama membuat kue tart, kalian mau coba?"

Hinata teringat kue tart di kafe Galit.

"Kau terdengar manja sekali, Naruto."

Oke, satu alasan mengapa Naruto selalu menggunakan Kaa-san dan Tou-san saat menceritakan kedua orang tuanya; Sasuke dan mulut manis-nya.

Naruto mencibir. "Mama belum setuju dipanggil Kaa-san."

Hinata tertawa kecil. Dia setuju dengan perkataan Sasuke sebelumnya. Selain terdengar manja, Naruto terdengar seperti bukan dirinya. Aneh, tapi lucu.

Beberapa kembang api mulai terdengar. Hanabi sibuk membantu Tach dan Kankuro memasang kembang api di kayu-kayu yang sengaja dipasang di sekeliling halaman mansion. Beberapa kali Temari mendatangi Tach, membicarakan sesuatu sebentar sebelum kembali lagi ke dalam untuk membantu para ibu yang sibuk membuat cemilan di dapur.

Gaara menyipitkan mata.

"Bukankah ibumu juga campuran Jepang? Kenapa tidak mau?" Kiba bertanya.

Naruto mengendikkan bahu. "Mungkin karena besar di Belanda."

Bahasa Jepang Kushina sangat baik walau beberapa kata masih diikuti dengan logat asing yang Hinata duga sebagai logat Belanda. Hinata merasakan kecupan sayang dari Gaara di pipinya. "Mau tart?"

Hinata menggeleng.

"Aku suka mendengar orang Perancis berbicara," kata Kiba. "Lembut, jadi kemungkinan besar istriku nanti orang Perancis."

Sasuke memutar bola mata, bosan mendengar Kiba mengulang hal itu terus-menerus sejak berkenalan dengan Minato, ayah Naruto. "Kau bahkan tidak bisa berbahasa Perancis."

"Itu mudah. Pasti mirip dengan Bahasa Jerman."

"Mungkin lebih mirip Bahasa Spanyol," Shino memberitahu.

Kiba menepuk jidat. "Aku tidak bisa Bahasa Spanyol."

"Bahasa Belanda mirip dengan Bahasa Jerman, jadi mungkin kau bisa mencari istri keturunan Belanda seperti mamaku."

Shino menggeleng. "Pengucapannya mirip, ada juga yang sama, tapi penulisanya beda."

Naruto mengerutkan kening. "Kau ini apa? Ahli bahasa?"

"Kalian bisa berhenti berdebat? Sekarang waktunya makan kue tart buatanku," kata Kushina sambil meletakkan satu piring besar tart. "Dan apa kalian hanya akan duduk-duduk di sini dan tidak membantu ketiga orang itu memasang kembang api?"

Kiba menggeleng. "Hanya mereka bertiga yang paling semangat menyambut tahun baru."

Hinata ingin membuka mulut untuk menunjukkan ketidak-setujuannya, tapi Naruto menyela lebih cepat, "Papa di mana?"

"Di ruang tamu, gosip bisnis."

Kushina kembali ke dapur setelah memastikan mereka berenam memakan kue tart-nya—masing-masing sepotong. Hanabi mendatangi Hinata beberapa saat kemudian untuk mengabarkan bahwa semua kembang api sudah terpasang. Tapi tentu saja itu hanya alasan. Hanabi datang untuk kue tart.

Kankuro dan Tach menyusul beberapa saat kemudian. Dan juga Temari.

"Apa kalian berhubungan?"

Sister-complex. Beberapa saudara laki-laki tidak menyadari hal ini hingga saudara perempuan mereka akhirnya menunjukkan tanda-tanda memiliki hubungan khusus dengan seseorang—terutama laki-laki. Sebelumnya, Gaara tidak mengerti mengapa Neji selalu overprotective pada Hinata. Dan kini, saat melihat Temari memasang cengiran sambil menggandeng tangan Tach, Gaara paham.

"Hadiah akhir tahun," Temari menjawab lalu tertawa. "Tahun ini hadiahmu mungkin seorang kakak ipar."

Gaara mengernyitkan kening. No. "Aku belum setuju."

Senyum gembira di wajah Temari berganti dengan wajah sinis. "Aku tidak butuh persetujuanmu, Gaara. Kau juga, Kankuro." Temari memelototi Kankuro yang mengangkat tangan untuk menyela. "Dengar, aku sudah dewasa, dan lebih tua dari kalian, jadi jangan coba-coba mengatur hidupku."

"Well, dengar, Tach tidak cocok untukmu, namanya seperti nama kantung plastik."

Sasuke bersorak mendukung Gaara.

"Gaara, yang pertama," Temari mengacungkan jari telunjuknya, "kantung plastik tidak punya nama. Yang kedua," kemudian menambahkan jari tengahnya, "Aku tidak memanggilnya Tach, tapi Itachi."

"Dia tidak suka namanya," Sasuke membela.

"Sasuke," Itachi mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikan Sasuke yang sepertinya masih ingin banyak bicara. "Tolong, jangan masuk ke arena perang lain dan fokus ke arena perangmu sendiri."

"Oh, ya?"

"Sstt," Hanabi menghentikan, tidak tahan mendengar perdebatan tanpa arah dan tidak jelas yang sudah berlangsung sejak mereka semua di dalam perut. Hanabi merasa kiasannya benar. Maksudnya, dia baru saja sampai di sini dan sudah melihat Sasuke berdebat dengan Naruto tentang cara menghasilkan bayi kembar yang sempurna.

Menjijikkan.

Lalu dilanjutkan dengan Kankuro yang menyulut pedebatan lain mengenai cewek mana yang lebih seksi; California atau Canada yang membuatnya menyingkir untuk membantu Tach memasang kembang api. Dan, sekarang ini.

Tidakkah mereka sadar masalah yang mereka perdebatkan semua tidak masuk akal? Tidak penting? Bahkan tidak harus ditanggapi?

"Anak kecil tidak usah ikut campur."

Hanabi mengembuskan napas keras. Ia sudah cukup bersabar. Kali ini, ia turut serta.

Dan Hinata cuma bisa menguap di pelukan Gaara.

23. 46

"Sekitar lima belas menit lagi tahun baru, dan kau sudah mengantuk?"

Hinata mengangguk. "Mereka ribut sekali," katanya sambil mencibir.

Gaara terkekeh. Ia mengecup puncak kepala Hinata kemudian menariknya berdiri. "Kita jalan-jalan."

Hinata mengaitkan jari-jari mereka dan tersenyum senang saat Gaara mengeratkan genggamannya. "Ke mana?"

"Kamar."

Hinata menghentikan langkahnya, Gaara tertawa. "Bercanda. Aku hanya mau menjauh dari mereka."

Gaara melepaskan genggamannya lalu merangkul Hinata. Mereka berjalan menuju pohon maple yang daunnya ditumpuki salju. Hari ini salju tidak turun, bagus karena salju yang turun akan mengganggu acara tahun baru.

Mereka duduk di bawah pohon. Saling berpelukan; menempel satu sama lain, seolah mereka akan terpisahkan dalam waktu dekat. Mereka tidak menghitung waktu, seolah tahu di akhir hitungan ada perpisahan. Mereka hanya membiarkan semuanya mengalir. Menutup mata dan menarik napas untuk menghadapi yang terburuk.

Dari kejauhan, suara keluarga mereka yang menghitung mundur terdengar. Gaara bisa membayangkan para laki-laki sedang siap sedia menyalakan kembang api. Ketika angka 'satu' disebut dan kembang api meletus, salju pertama di tahun baru jatuh tepat di hidung Gaara.

Gaara membuka mata dan melihat hujan salju telah dimulai tepat pada pergantian tahun.

Salju yang turun di atasnya dingin. Beku, sudah seharusnya. Namun, Gaara merasa salju kali ini berbeda. Hujan salju ini seperti membawa pesan.

Gaara tidak percaya takdir. Gaara tidak percaya perihal benang merah. Gaara tidak percaya jodoh. Gaara tidak percaya pada apa pun yang seperti itu.

Ia hanya mengikuti arus kehidupan. Tidak mengharapkan apa-apa, tidak menduga apa-apa. Dia menjalani hidup tanpa pertanyaan mengenai hari esok.

Tapi kali ini, ia ingin berharap hari esok tidak berubah buruk.

.

Jumat, 1 Januari 2016

"Karena ini hari terakhir kau mengemas barang, aku akan memberikanmu sesuatu."

Hinata memutuskan untuk pulang ke rumahnya semalam. Gaara tentu saja ikut. Walau Hiashi keberatan, tapi ia tidak cemas. CCTV di kamar Hinata ditambah dan diletakkan di berbagai sisi sehingga Hiashi bisa melihat setiap sudut dan cela kamar. Oh, sudah pasti. Hiashi tidak tidur semalam.

Beberapa baju dan aksesoris miliknya belum dibawa ke apartemen. Hinata hanya mengambil baju-bajunya saja dan meninggalkan beberapa benda di kamarnya. Itu akan menjadi kenangan.

Gaara pergi ke suatu tempat dan berjanji akan menjemput Hinata nanti. Setelah dos terakhir telah dinaikkan ke mobil pengantar barang, Hiashi memanggilnya ke kantor dan mengatakan ingin memberi sesuatu.

"Ini kotak peninggalan ibumu."

Hinata terenyak. Ibunya…?

Hiashi menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Rasanya sangat berat saat harus mengingat mendiang istrinya. Wajahnya memandang ke kotak di tangannya, tidak berani menatap mata putrinya yang paling mirip dengan istrinya. "Dia memintaku untuk memberikan ini padamu saat kau sudah akan meninggalkan rumah. Entah itu untuk kuliah di luar negeri, atau menikah.

"Tou-san tidak tahu apa isinya, yang pasti berharga bagi ibumu, dan mungkin berharga bagimu. Tou-san pernah sekali ingin membukanya, tapi Tou-san menghargai ibumu. Dia ingin hanya kau yang tahu, dan aku akan mengikuti keinginannya."

Hinata merasa ingin menangis. Ia tidak tahu apakah ia terharu karena ayahnya yang sangat mencintai ibunya sehingga mau berlaku demikian, atau karena ia sedih dan rindu karena ibunya tidak lagi ada di sini.

Hinata menerima kotak kecil itu dengan tangan gemetar. Mungkin di apartemen nanti, dia akan membukanya bersama Gaara. Tapi Hinata segera menggeleng. Dia harus sendiri saat membuka kotak ini.

.

Hinata menyimpan kotak peninggalan ibunya di laci meja rias saat Gaara berada di apartemen. Namun, setelah makan siang, Gaara kembali pergi ke suatu tempat yang diyakini Hinata sebagai tempat yang sama. Hinata tidak tahu apa yang dilakukan Gaara, dan untuk sekarang ini Hinata tidak peduli.

Dengan tidak adanya Gaara di rumah, ia bisa membuka kotak peninggalan ibunya.

Hinata membereskan meja makan sebelum pergi ke kamar dan menguncinya. Ia harus mengantisipasi kedatangan Gaara yang tiba-tiba. Setelah kotak itu kembali berada dalam genggamannya, Hinata menarik napas sembari mendudukkan diri di depan tempat tidur.

Tou-san tidak tahu apa isinya, yang pasti berharga bagi ibumu, dan mungkin berharga bagimu.

Apa yang begitu berharga?

Hinata tidak ingin bersikap seperti di film-film dengan membuka tutup kotak secara perlahan. Hinata membukanya dengan cepat, sangat cepat malah. Ia berpikir isinya akan berupa benda mahal yang hanya dimiliki ibunya dan ingin diwariskan padanya seorang.

Tapi bukan.

Isinya jauh dari yang diperkirakan Hinata.

Isinya hanya sebuah foto. Sebuah foto yang menampakkan wajah ibunya yang sedang tersenyum, dirinya versi lima tahunan yang tersenyum lebih lebar, dan sebuah boneka yang terlihat seperti baru dijahit.

Hinata tidak ingat pernah memiliki boneka itu. Semua boneka dan barang lain miliknya selalu ia jaga dengan baik sehingga masih ada sampai sekarang. Tapi boneka ini tidak ada dalam gudang besar ayahnya yang sebagian besar berisi benda miliknya, Hanabi, dan Neji.

Hinata menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur. Berpikir.

Dari sisi ibunya, apa yang berharga?

Hinata mengacak rambutnya saat mengigat ibunya adalah orang yang penuh misteri. Ia menyandarkan kepalanya, lalu menutup mata. Masih berpikir.

Ia memutar otaknya. Ia berusaha mengingat kenangan-kenangan singkat yang mungkin sudah pudar di tempat penyimpanan memorinya. Ia berusaha berpikir dari sisi ibunya. Kalau dia adalah ibunya, apa yang berharga dari foto ini?

Setelah beberapa saat, ia menyerah. Ia kembali meletakkan kotak itu di laci meja rias kemudian menguncinya dan menyimpan kuncinya di laci lain. Ia merasa lelah dan memutuskan untuk tidur. Setelah membuka kunci kamar, ia merebahkan dirinya di tempat tidur, masih berpikir.

Kenapa foto itu begitu berharga? Boneka siapa itu? Di mana bonekanya sekarang? Di mana pemiliknya sekarang? Apa pesan yang ingin disampaikan ibunya?

Otaknya begitu kelelahan akibat pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat ia jawab. Hinata merasa pening, dan memutuskan ia benar-benar harus tidur sekarang. Hinata masuk ke alam mimpi tak lama kemudian. Di mimpinya, ia mendengar suara Neji membentak seseorang.

"Laki-laki tidak bermain boneka!"

TBC

Yosh! Tepat sehari sebelum ultah Gaara, hehehe…

Di beberapa review sebelumnya, ada yang sangat mengusik saya; pertanyaan dan pernyataan tentang konflik. Well, konflik sudah pasti ada, setiap cerita klo mau menarik pasti ada konflik, begitu juga dengan cerita ini. Konfliknya akan muncul perlahan-lahan, dan di sini mungkin udah kelihatan.

Pertanyann dari saya: Toneri itu siapa? Ada apa dengan masa lalu Gaara? Siapa pemilik boneka itu? Siapa yang dibentak Neji? Kenapa foto itu berharga bagi ibu Hinata?

Nobody knows! Hahaha *evil laugh*

Sebenarnya kemarin tuh baru ingat ada janji buat update fic. Kebetulan hari ini sy free, jadi sy lanjutin deh, hehehe:D

Mungkin akan ad yg nanya knp updatenya gk pas ultah Gaara aja. Jawabannya, ya, krn sy janjinya sebelum ultah Gaara xD Selain itu ultah Hina-chan kan dilewatin jg, masa ultah Gaara dirayain? Gk adil xD

Trs fic ini bkn utk fokus pada adegan" 'itu'nya hanya krn fic ini rate M. Fic ini rate M krn Gaara itu mesum bgt dan so psti ada adegan dewasanya.

Trs", chap 3 kemarin sdh sy edit krn sy punya banyak ide lain yg tdk sesuai dgn deskripsi di chap 3, hahaha xD

A/N-nya mungkin kepanjangan, yah, tapi biarlah. Ini terakhir kali loh sy update, ke depannya itu sy usahain aja, soalnya bakal sibuk. Sy gk janji" lagi tapi sy bener" bakal cr waktu buat ngelanjutin dan nyelesaiin fic ini.

Special thanks to:

hikarishe, ana, sahi, Morita Naomi, Megumi Amethyst, nesia9765, icaraissa11, Asyah Hatsune, Green Oshu, AsahinaUchiHaruno, Gevannysepta, AmaranthA, anita. Indah. 777, keita, MickyMin, RahilsanXD, Erni Eyexs

Review, please?