This chapter dedicated to Megumi Amethyst

Thank you for your support!


Senin, 4 Januari 2016

"Hatchi!"

Di hari pertama sekolah, Hinata sakit. Ketika baru bangun tidur, tenggorokannya sudah sakit, bibir serta mulutnya kering seolah dia tidak minum berhari-hari. Waktu mandinya ia percepat karena tiba-tiba saja semuanya terasa dingin. Hinata mengira dirinya demam, tapi Gaara bilang tubuhnya berada pada suhu normal.

"Mungkin rinitis," gumamnya beberapa saat kemudian sambil merapatkan jaket Gaara yang membalut tubuhnya. Mengenakan pakaian-pakaian Gaara seperti ini membuat Hinata ingin tersenyum lebar. Tapi baru saja kedua ujung bibirnya tertarik, kepalanya kembali pusing.

"Hm," sahut Gaara. Ia mencicipi tehnya lalu mengangguk puas. "Minum ini dulu, aku akan mengambil seragammu," katanya seraya menyerahkan secangkir teh hangat pada Hinata.

Hinata tersenyum sambil menggumamkan "Arigatou". Ia sedang beristirahat di sofa empuk karena Gaara tidak mau sakitnya bertambah parah bila harus membuat sarapan. Untuk sarapan kali ini, mereka memesan dari restoran dekat apartemen yang pemiliknya bersahabat baik dengan Hiashi.

"Nah." Gaara meletakkan seragam Hinata di sandaran kursi. Ia sendiri kembali masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Hinata meletakkan cangkir kemudian mengambil seragamnya untuk dikenakan.

Tapi... ada yang salah.

Kenapa besar sekali?

"Gaara-kun," panggil Hinata.

"Hm?"

"Sepertinya ini bajumu."

Sunyi beberapa detik sampai Gaara keluar dari kamar.

Dengan seragam lengkap.

"Itu punyamu, Nata."

Hinata mengernyit. Jadi? Dia menyusut, dong? "Apa aku tambah kurus?"

Gaara menatapnya dari atas ke bawah kemudian kembali ke atas sebelum menjawab, "Tidak."

"Jadi kenapa bajunya besar sekali?"

"Ku permak."

"Hah?"

Gaara mengendikkan bahu lalu kembali ke kamar untuk mengambil tas keduanya. Ia keluar beberapa saat kemudian lalu menghampiri Hinata di sofa empuk. "Cepat pakai seragammu."

Hinata menggeleng. "Kapan kau permak?"

"Sehari setelah tahun baru."

Hinata memutar otak. Ia ingat pembicaraannya dengan ayahnya, lalu kotak peninggalan ibunya, lalu... ah, waktu itu Gaara memang sempat pergi seharian. Saat bangun hari itu, Hinata sudah menemukan Gaara di sampingnya—ikut terlelap. Gaara punya banyak kegiatan, jadi Hinata tidak mencurigai apa pun. Tapi karena masalah ini, sudah pasti Hinata akan bertanya tiap kali Gaara akan pergi ke suatu tempat.

"A-aku tidak mau, Gaara," Hinata memelas.

"Hanya aku yang bisa tahu tentang dada besarmu." Gaara bersedekap, "Aku tidak mau orang lain tahu. Kau milikku."

Hinata merona mendengar dua kata terakhir yang diucapkan Gaara dengan tegas. Namun fakta mengenai bajunya yang super besar membuat Hinata cemberut. "Tapi ini terlalu besar."

Gaara mengembuskan napas. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia memakaian seragam Hinata, kemudian melapisinya dengan mantel miliknya. Hinata mengerucutkan bibirnya yang kemudian dihadiahi Gaara sebuah kecupan gemas. "Berhenti mengerucutkan bibirmu atau kita tidak jadi ke sekolah."

Hinata kembali merona. Ia segera mengambil tasnya lalu mengikut Gaara keluar apartemen.

.

"Kau apakan sahabatku?" tanya Kiba dengan penuh intimidasi. Jarak wajahnya dengan wajah Gaara hanya sekitar lima senti. Tatapannya menusuk dan tangannya terkepal di atas meja.

"Menurutmu?"

"Kau pasti keterlaluan."

Gaara memutar bola mata. "Kau dan pikiranmu sangat menjijikkan."

"Kau dan perbuatan barbar-mu sangat memuakkan."

"Barbar," Naruto nyeletuk.

"Kiba, posisimu saat ini akan meyakinkan semua orang bahwa kau homo. Kenapa? Karena kau terlihat seperti ingin mencium Gaara."

Kiba menyeringai mendengar komentar Shino. "Oh, kau benar. Aku memang akan menciumnya."

"Akan ku ladeni," Gaara menantang.

Kiba sudah akan mendekatkan wajahnya tapi Hinata menamparnya dan membuatnya mundur ke belakang. Tatapan bertanya ia layangkan pada Hinata. Sambil memegang pipi kirinya yang merah, Kiba bertanya, "Untuk apa itu?"

"Ny-nyamuk."

Kiba mengerutkan kening. "Aku tahu tidak ada nyamuk di musim dingin."

"Mm, b-bukankah mereka sudah berevolusi?"

"Kau lebih membela Gaara daripada sahabatmu?"

"Well, aku suaminya."

Bel masuk kelas berbunyi membuat Kiba menahan lidahnya. Sebelum kembali ke tempat duduk, Kiba memberikan tatapan menusuk ke arah Gaara. "Jangan menularkan sifat berengsekmu pada Hinata, berengksek." Ia mendobrak meja, lalu menarik Shino ke tempat duduknya.

Kakashi melangkah masuk bersamaan dengan Hinata bersin.

"Pulang nanti kita ke dokter," kata Gaara pelan.

Hinata mengangguk lemah. Kepalanya terasa berat dan tidur merupakan tawaran yang sangat menggiurkan. Tapi Hinata tidak bisa melewatkan pelajaran fisika dengan bersembunyi di ruang UKS. Otaknya tidak selancar Shikamaru dalam bidang ini.

"Kau mau ke UKS?"

Hinata kembali menggeleng, mulai merasa itu tindakan yang buruk karena membuat kepalanya semakin sakit dan pusing.

Gaara menegakkan tubuhnya, lalu menempelkan punggung tangan kanannya di kening Hinata. "Kau demam, Nata."

Gaara memberitahu Sasuke untuk mencacat hari ini demi Hinata. Sasuke, yang catatannya hanya satu lembar terpakai, menghela napas dan mengangguk malas. Tangannya yang sedari tadi menganggur kini ia gunakan untuk mencatat rumus-rumus yang ada di papan.

"Kau bisa percaya pada Sasuke," kata Gaara, namun Hinata masih enggan beranjak dari tempat duduknya. "Kesehatanmu akan semakin buruk, Nata."

Hinata menghela napas, kali ini menurut pada suaminya.

Setelah meminta izin pada Kakashi, Gaara membantu Hinata berjalan keluar kelas. Sesampainya di luar kelas, Gaara langsung menggendong Hinata ala bridal style, untuk meringankan sakit kepala yang dialami Hinata.

Hinata mengernyit ketika kaki Gaara tidak melangkah menuju UKS, melainkan tempat parkir. "Kita mau ke mana?" tanyanya dengan suara serak.

"Rumah sakit. Aku tidak tahan melihatmu seperti ini," jawab Gaara. Ia membuka pintu dengan kunci otomatis lalu secara perlahan meletakkan Hinata di kursi penumpang. Ia mengecup kening Hinata lama sebelum menutup pintu dan masuk melalui pintu kemudi.

Gaara menyalakan mesin, menatap sebentar pada Hinata yang sudah terlelap sebelum mulai menjalankan mobil sport-nya.

.

"Saya tidak akan memberikan obat apa pun, hanya vitamin untuk menambah daya tahan tubuh," kata Yakumo. "Minum sekali sehari, sebelum makan juga bisa. Usahakan minum di pagi hari." Ia menuliskan resep di kertas sebelum menyodorkannya pada Gaara. "Simpan ini, jadi setiap kali habis Anda bisa membelinya kembali."

Gaara mengernyit. "Dia harus meminum ini seumur hidupnya?"

Yakumo berpikir sebentar. "Sesuai yang Hinata-san katakan, ini penyakit yang datang setiap pergantian musim. Rinitis. Jadi saran saya yang lain, minum ini seminggu sebelum pergantian musim, atau apabila Anda mulai merasa sakit."

Hinata mengangguk mengerti.

"Apa dia tidak bisa sembuh total? Maksudku, tidak mengalami penyakit ini setiap pergantian musim?"

Kali ini Yakumo mengembuskan napas. "Well, baiklah. Minum vitamin ini dalam kurun waktu tiga bulan paling cepat. Jika Anda masih sakit saat pergantian musim selanjutnya, berarti pemakaiannya perlu diperpanjang. Paling lama setengah tahun.

"Juga, Anda tidak boleh lelah di saat-saat pergantian musim. Stress apalagi. Stress dapat menurunkan kekebalan tubuh, sehingga memudahkan penyakit untuk masuk," katanya pada Hinata. Ia menekan telunjuknya di atas kertas yang bertuliskan nama vitamin yang ia anjurkan. "Anda juga dapat mengkonsumsi vitamin ini apabila Anda merasa akan terserang flu atau penyakit berat lainnya."

Gaara manggut-manggut. Ia menggenggam kertas tersebut lalu berdiri dan membantu Hinata berdiri. Setelah mengucapkan terimakasih pada Yakumo, mereka kembali ke tempat parkir dan berkendara menuju apotek.

Apotek cukup penuh, tapi tidak membuat Gaara mengantri. Berpasang-pasang mata menatap Gaara dengan pandangan aneh. Sebagian besar karena seragam yang Gaara kenakan dengan waktu sekarang ini tidak memungkinkan dirinya berkeliaran di apotek.

Tapi Gaara tidak peduli. Setelah ia mendapatkan apa yang ia perlukan, kakinya melangkah menuju toko terdekat untuk membeli sebotol air mineral. Ia kembali ke mobil dan menyuruh Hinata untuk segera meminum vitaminnya. Setelah Hinata selesai, Gaara melanjutkan perjalanan menuju Sabaku Mansion.

Di gerbang, ia ditahan oleh Kotetsu. "Aku tidak bolos, Hinata sakit," kata Gaara kesal.

Kotetsu tidak percaya, namun tetap mempersilakan tuan mudanya masuk.

Karura menyambut putranya di depan pintu. Wajahnya cemas menatap Hinata yang berada dalam gendongan Gaara. "Hinata sakit apa?" tanyanya. Kekhawatiran terdengar jelas dalam suaranya.

"Demam." Gaara membawa Hinata menuju kamarnya. Selama ibunya mengecek keadaan Hinata lebih lanjut, Gaara berganti pakaian.

"Kau tidak kembali ke sekolah?" tanya Karura, kali ini berkacak pinggang.

Gaara mengendikkan bahu. "Malas."

Karura menggeleng-geleng. Ia ingin marah, tapi hatinya melembut melihat Gaara yang sangat perhatian pada Hinata, mengingatkannya akan kenangan masa muda. Ia tersenyum bangga pada putranya sebelum melangkah keluar kamar, memberi waktu sendiri bagi keduanya.

.

Hinata bangun dalam pelukan Gaara. Selama perjalanan dari rumah sakit ke mansion Gaara, ia tidak sepenuhnya sadar. Matanya hanya bisa terpejam dan tubuhnya lemas. Hinata menduga tadi Gaara menyuruhnya meminum vitamin, karena kini tubuhnya tidak selemas sebelumnya.

"Sudah bangun?" Gaara menjauhkan dirinya sedikit, namun Hinata menarik kaosnya sehingga menimbulkan kekehan pelan dari Gaara. Ia kembali mendekat, kemudian membawa Hinata dalam pelukannya yang lebih erat.

"Kau bisa terus sakit." Hinata mengernyit, namun tersipu mendengar kalimat Gaara selanjutnya, "Karena aku suka kalau kalu bermanja padaku."

Hinata menyembunyikan wajahnya di dada Gaara, menikmati getaran yang ditimbulkan oleh tawa Gaara. "Aku lapar," katanya, menginterupsi tawa Gaara.

"Lapar?" Gaara mengecup puncak kepala Hinata sebelum beranjak dari tempat tidur. "Tunggu di sini," katanya sebelum menghilang di balik pintu kamar.

Matahari yang bersinar terang di luar memberitahu Hinata bahwa hari sudah siang. Ia bangkit duduk, tersenyum saat merasakan kepalanya tidak berat lagi. Kakinya melangkah menuju jendela besar dalam kamar Gaara, yang hanya menyediakan pemandangan halaman depan rumah Gaara yang luas.

"Kenapa bangun?"

Hinata menoleh. Ia tersenyum sopan pada Karura. "Saya sudah merasa agak sehat, Kaa-san."

Karura tersenyum lembut kemudian mengundang Hinata untuk duduk bersamanya di tempat tidur. "Makan siangmu mungkin agak lama," kata Karura. Ia tersenyum lebar ketika melanjutkan, "Gaara sedang belajar membuat bubur."

Hinata terjebak antara perasaan terharu, kagum, dan ingin tertawa. Karura membantunya memilih dengan mengeluarkan tawanya yang lembut. Mereka membicarakan beberapa hal kemudian, bahkan Karura mengambil album foto berisi foto-foto Gaara pada waktu kecil.

"Ini saat ulang tahun Kankuro yang ke sepuluh," kata Karura sambil menunjuk foto Gaara tanpa baju. Dan celana. Di situ Gaara masih berumur tiga tahun dan sedikit menggumpal.

"Popoknya warna merah?"

"Dulu dia suka segala sesuatu yang berwarna merah, jadi kami selalu melapisi popoknya dengan kantung plastik merah."

Hinata tertawa. Tangannya membalik-balik foto. Ada foto Gaara dengan pakaian Superman, ada yang di-make-up menjadi boneka, dan bahkan foto Gaara ketika ia menangis.

"Sebagian besar foto diambil oleh Temari. Dulu Gaara lahir gemuk, dan Kankuro terus mengajaknya bermain agar berat badannya turun." Karura tersenyum mengingat Kankuro yang tidak mengenal lelah untuk mengajak Gaara bermain.

"Oh ya?"

Karura mengangguk. "Dia bilang keluarga Sabaku tidak boleh ada yang gemuk, meski masih kecil. Kankuro juga menyuruh Gaara untuk hanya memakan sayur-sayuran dan buah-buahan. Itulah mengapa Gaara sedikit tidak suka padanya."

Hinata tertawa kecil. "Apa itu berhasil?"

"Hm, Gaara sudah mempunyai berat badan yang normal pada umur lima tahun, jadi, ya, itu berhasil."

Ah, mungkin Hinata harus berterimakasih pada Kankuro yang membuat Gaara gemuk menjadi seksi.

Tunggu, apa?

Hinata bersemu pada pemikirannya sendiri.

"Ah, ini foto Gaara saat lima tahun." Karura menunjuk satu foto yang membuat Hinata menahan napas.

Foto itu berisi Gaara dan sebuah boneka. Hinata mengenal boneka itu, karena ada satu foto yang berisi dirinya, ibunya, dan boneka itu. Hinata merasa kepalanya kembali berat. Perasaan yang sama ia rasakan ketika ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ia buat sendiri ketika melihat foto peninggalan ibunya.

Sebelum ia sempat bertanya, Gaara melangkah masuk dengan nampan di tangan. "Apa yang kalian lihat?"

Karura segera membereskan album foto di tempat tidur. Gaara besar tidak suka aib Gaara kecilnya dibuka, begitu kata Karura pada Hinata."Tidak ada." Karura berdiri. "Nikmati makan siangmu, Hinata-chan," tambahnya sebelum melangkah keluar.

Hinata memaksakan sebuah senyum.

Gaara masih menatap pintu tempat ibunya keluar beberapa saat sebelum berkata, "Apapun yang Kaa-chan katakan, jangan percaya."

Kali ini senyum Hinata tidak terpaksa. Ia menerima ciuman Gaara di bibirnya sebelum memulai makan siangnya.

.

Hinata menemukan dirinya tidak bisa tidur di malam hari. Selain karena memikirkan boneka beruang yang ditemani Gaara berfoto, ia juga memiliki perasaan buruk. Perasaan kehilangan yang hanya ia rasakan saat ibunya mengembuskan napas

Kini ia tahu boneka tersebut milik Gaara. Ia tidak ingat kejadian yang membuatnya bisa berfoto dengan boneka milik Gaara. Dan kalau memang ia dan Gaara pernah bertemu, mengapa Gaara tidak mengingatnya?

Ia kembali mempertanyakan alasan ibunya meninggalkan foto tersebut tanpa keterangan lebih lanjut. Apa makna foto tersebut? Apa yang sebenarnya diinginkan ibunya?

Hinata menghela napas ketika perasaannya semakin buruk. Ia mengeratkan pelukannya pada Gaara yang dibalas Gaara lebih erat dalam tidurnya. Ia menutup mata, berdoa agar tidak ada lagi yang diambil darinya.

.

Rabu, 6 Januari 2016
10.45 pm
Kamora Palace, Jerman

Gadis itu berkutat dengan laptopnya dengan alis berkerut. Tidak lama kemudian ia mengerang, kemudian membanting laptopnya di sofa tempatnya duduk. Ia melipat tangan di depan dada, menatap jengkel pada pemuda yang duduk di hadapannya. "Apa maumu?"

Pemuda di hadapannya tersenyum. "Kau masih membenci kekalahan, Yuta?" Ia menggeleng-geleng kecil.

Yuta menyipitkan mata. "Katakan apa maumu, Toneri," ujarnya dingin

Ruangan yang besar itu hanya diisi oleh mereka berdua. Dua gelas wine beserta botolnya diletakkan di atas meja rendah yang memisahkan keduanya. Bunyi kayu yang terbakar di perapian mengisi keheningan.

Toneri menutup laptopnya sambil mengembuskan napas. "Aku tidak tahu harus menyebut ini kabar baik atau kabar buruk." Yuta diam sebagai tanda bagi Toneri untuk melanjutkan, "Jika apapun yang kau urus di sini sudah selesai, lebih baik kau segera pulang ke Jepang."

Yuta mengernyit mendengar nama negara tersebut. "Apa ada sesuatu yang terjadi pada Gaara?"

"Aku akan membiarkanmu memilih judul," kata Toneri. Ia memajukan dirinya dan memasang raut serius. "Gaara menikah."

"Apa?!"

"Aku mengenal gadis yang dia nikahi." Toneri mengambil sebuah dokumen dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Yuta. "Data-datanya sudah lengkap."

Yuta mengambil dokumen tersebut dengan alis berkerut. Ia membukanya, membaca setiap kata dengan teliti sebelum meletakkannya di meja. Ia menyandarkan tubuhnya sambil melipat tangan di depan dada, masih menatap dokumen di atas meja. "Aku tidak mengerti apa yang Gaara lihat darinya selain dia berdada besar."

Toneri tersenyum. "Dia mempunyai sesuatu yang tidak kau punya."

Yuta mengangkat kedua alisnya. "Apa itu?"

Toneri mengendikkan bahu. "Aku juga tertarik padanya, dan Gaara sangat menghambat hubunganku dengannya."

Jam berdentang menunjukkan waktu tepat pukul sebelas. Yuta menyeringai. "Kau ingin aku membantumu, Ootsutsuki-san?"

Toneri memutar bola mata. "Kau ikut atau tidak?"

Yuta tertawa. "Karena Gaara hanya boleh mencintaiku dan karena aku benci kekalahan, ya, aku ikut," jawabnya. "Tapi sebelumnya beritahu aku sedikit tentang hubungan keduanya."

Toneri meniru gaya Yuta. "Kemarin dulu Hinata sakit dan Gaara memberinya perhatian ekstra. Dia membawa Hinata ke rumah sakit, membelikannya obat, bahkan belajar memasak hanya untuk Hinata." Toneri mengembuskan napas. "Kesimpulanku, Gaara benar-benar menyukainya."

"Dari mana kau tahu dia belajar memasak?"

Toneri mengangkat bahu. "Aku kena orang."

Yuta mengangguk-angguk. "Bakal sulit, tapi akan ku coba."

Toneri tersenyum penuh kemenangan. "Kau sepupu yang pengertian, Yuta."

Yuta tidak membalas perkataan Toneri. Ia menerawang, memikirkan Gaara yang mungkin sedang bersama Hinata sekarang. Matanya terpejam saat rasa cemburu menguasainya. "Ini benar-benar kabar buruk."

TBC

.

Menulis chapter ini butuh perjuangan karena kesibukan membuat saya terserang WB dan kehilangan alur. Saya sangat bersyukur mempunyai reader setia yang mau meluangkan waktunya untuk menagih TB lewat PM setiap saya telat update. Makasih :')

Oke, sekarang pertanyaannya, siapa Yuta? Terus gimana hubungan Gaara dan Hinata nanti?

Well, chapter ke depannya mulai serius, mulai banyak konflik, dll. Saya gak sabar nulis endingnya, karena saya punya rencana jahat untuk kalian semua *smirk*

Buat chap depan, GaaHina nya kurang, mungkin cuma satu scene. Tapi tenang, scene nya pasti hot ;)

Special thanks to:

Bii, Rameen, Hana, Erni Eyeks, Guest, Asyah Hatsune, ana, nesia9765, uzumaki ren, NJ21, si peak, anita. indah. 777, Rapita Azzalia, Megumi Amethyst, Ayra Uzumaki, icaraissa11, Morita Naomi

Review, please?