Dedicated to maplemalfoy and Guest
Sabtu, 20 Februari 2016
"Tidak ada yang ketinggalan?"
"Selama ponselku ada, maka tidak ada yang ketinggalan."
Toneri mengembuskan napas. Kopernya sudah dimasukkan ke dalam bagasi sejak dua jam yang lalu. Yuta mempunyai banyak sekali keperluan yang menyebabkan penerbangan mereka ditunda. Kamora Palace kini terlihat kosong setelah sebagian besar barang Yuta dipindahkan ke Jepang.
Mereka masuk ke dalam pesawat dan segera lepas landas. Perjalanan dari Jerman ke Jepang membutuhkan waktu lebih dari satu hari. Toneri sudah mengatur waktu agar mereka tiba sebelum malam. Sayangnya mereka mungkin akan tiba malam karena penundaan yang dilakukan Yuta tadi. Satu hal yang Toneri benci apabila harus berpergian dengan sepupunya.
"Ceritakan aku tentang Hinata dan alasan mengapa kau menyukainya," kata Yuta lalu menyesap martininya sambil menatap Toneri dalam. Ia sangat tahu tipe Toneri yang sangat kelas atas. Hal ini tidak membuatnya khawatir, tapi kau harus mengenal musuhmu cukup baik untuk mengalahkannya, bukan?
"Dia tidak seperti dirimu intinya," jawab Toneri singkat.
Yuta menyipitkan mata sesaat sebelum mengubah raut wajahnya kembali tenang. "Berarti dia sangat buruk."
Toneri mendengus. "Kau hampir tersinggung saat kubilang dia tidak seperti dirimu karena kau tahu kau adalah orang terburuk yang pernah ada," katanya dengan nada deduktif.
Yuta menyimpan martininya dan melipat tangan di depan dada. "Asal kau tahu, aku ikut bersamamu karena kau butuh bantuanku."
"Jadi kau tidak peduli jika Gaara bersama orang lain?"
Yuta mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia menatap awan-awan yang bergerak di hadapannya sambil memikirkan kehidupannya.
Dulu dia adalah gadis terkejam di sekolahnya. Dia tidak pernah peduli dengan perasaan orang lain dan tidak pernah memedulikan perkataan orang lain. Wajahnya yang keras dan datar membuat semua orang segan padanya. Sebagian besar orang tidak mau berteman dengannya karena sikapnya yang kasar, sisanya tidak ingin mendapat masalah.
Ia mengakui dirinya memang seburuk yang Toneri katakan. Di antara sekian banyak orang, hanya Toneri yang betah bersamanya, meski Yuta tahu lelaki itu juga tidak betah di saat yang bersamaan. Toneri juga orang pertama yang mengajaknya berteman dan tahan menghadapi sikap kasarnya.
Gaara adalah orang pertama yang dapat mengubahnya menjadi sedikit lebih baik. Ketika bersama Gaara, Yuta lupa menjadi egois. Ketika bersama Gaara, Yuta bisa berkata-kata manis. Ia menjadi gadis yang selalu ia benci; gadis yang senang berpura-pura. Tapi entah mengapa, Yuta menyukai sisinya yang satu itu. Sisi yang hanya ada saat ia bersama Gaara.
Lamunannya yang panjang itu tanpa sengaja membuatnya jatuh tidur. Toneri membangunkannya ketika mereka sudah tiba di Tokyo. Yuta mengaku mencintai Kamora Palace, namun hatinya selalu merindukan kehangatan Tokyo.
Mereka turun dari pesawat dan langsung dijemput sebuah limusin. Barang-barang mereka di bagasi dibawa oleh mobil lain. Yuta tersenyum kecil melihat fasilitas yang disediakan Toneri. Selama ini Toneri selalu berusaha menyembunyikan kekayaannya. Dia tidak suka dengan hal-hal berbau glamour. Namun demi Yuta, ia berani keluar dari zona nyamannya.
"Aku melakukan ini hanya untuk formalitas, bukan untuk kesenanganmu," kata Toneri sebelum masuk ke dalam mobil.
Yuta tersenyum angkuh. "Terserah padamu," ujarnya pelan sambil memakai kacamata hitam. Ia menyusul masuk ke dalam mobil setelah memastikan semua barangnya sudah keluar dari bagasi pesawat. Meski kaya, Yuta sangat protektif terhadap apa pun yang menjadi miliknya. Termasuk Gaara.
"Kita akan mengurus sekolahmu terlebih dahulu. Aku sudah melacak kelas Gaara. Mansionnya masih sama, tapi Gaara tinggal di apartemen bersama Hinata," kata Toneri beberapa saat setelah mobil melaju meninggalkan bandara. Ia mengambil ponselnya di saku dan mencari sesuatu. "Aku baru mendapatkan alamat apartemennya kemarin," tambahnya sambil memberikan ponselnya pada Yuta.
Yuta mengambil ponsel tersebut lalu mengangkat kacamatanya ke atas kepala. Dalam ponsel tersebut terdapat sebuah file yang berisi semua data-data pribadi Gaara dan Hinata. Yuta membacanya dengan seksama tanpa mengeluarkan suara atau komentar apa pun. Ia mengembalikan ponsel tersebut tidak lama kemudian. "Ini mudah. Aku mengenal Gaara dengan baik untuk mengetahui sifat aslinya."
Toneri mengangguk singkat. "Oke, tapi bagaimana jika semuanya tidak sesuai rencanamu?"
"Seperti?"
"Dia sudah jatuh cinta?"
Yuta tersenyum miring. "Cinta adalah hal yang konyol. Dia membuatmu menjadi dan melakukan hal-hal yang kau benci. Menjijikkan."
"Kau membicarakan dirimu sendiri."
Yuta mengendikkan bahu. "Yes, I do."
.
Mansion Toneri, seperti yang sudah diduga Yuta, sangat sepi; mati. Orang tua Toneri hampir tidak pernah pulang ke Jepang. Mereka lebih memilih sibuk dalam pekerjaan dan tidak memedulikan Toneri sama sekali. Yuta bahkan tidak ingat wajah paman dan bibinya itu. Mereka hanya pernah bertemu sekali.
Toneri sendiri tidak terlalu peduli dengan orang tuanya. Selama ia mempunyai apa yang ia inginkan, kasih sayang orang tua tidaklah berarti baginya. Mereka memiliki kehidupan yang persis sama. Bedanya, Yuta mengharapkan perhatian kedua orang tuanya.
"The perks of being rich," ketus Yuta dengan nada benci yang kental. Ia menidurkan dirinya di sofa lalu memanggil salah satu pelayan untuk membawakannya segelas wine.
Toneri mengendikkan bahu. "Tou-san dan Kaa-san akan pulang besok untuk bertemu denganmu," katanya, "yang berarti aku akan bekerja seharian di toko buku. Kau harus meminta orang tuaku mengurus sekolahmu di sini."
Yuta mengerutkan dahi. "Kenapa bukan kau?"
"Aku tidak bisa mengambil resiko Hinata melihatku."
"Seperti dia mengenalku saja."
"Dia akan bertanya, dan mungkin dia akan mengingatmu karena kalian pernah satu sekolah dulu."
Pelayan tersebut kembali dengan dua gelas dan sebotol wine asli dari Yunani. Ia meletakkannya di meja, lalu membungkuk sebelum pergi. Yuta mengangkat sebelah alisnya, "Kau dari Yunani?"
Toneri mengangguk. "Berlibur sebentar di sana sebelum bertemu denganmu." Ia membuka tutup botol dan menuangkan cairan ungu itu ke dalam kedua gelas tersebut. "Vinsanto Santorini, wine asli yang hanya dijual di sana. Mereka tidak pernah mencoba untuk mengekspornya," katanya lalu memberikan salah satu gelas pada Yuta.
Yuta bangkit duduk lalu mengambil gelas tersebut dari tangan Toneri dan segera mencicipinya. Ia mengangguk-angguk mengenai rasanya, enggan memberi pujian.
"Ingat, kau harus bersikap manis pada kedua orang tuaku besok."
Yuta meletakkan gelasnya yang sudah kosong. "Dengar, Toneri, kau yang membutuhkanku di sini, jadi kau lebih baik mengurus semuanya sendiri," katanya sebelum beranjak dari sofa dan masuk ke kamar.
.
Selasa, 23 Februari 2016
"Gaara?"
"Hm?"
"Aku tidak mengerti soal nomor dua belas."
Meja pendek di depan sofa empuk —yang sedang ditiduri Gaara—kini penuh dengan buku-buku Hinata. Ujian fisika dilaksanakan Senin depan, dan Hinata cukup positif dia akan lulus jika belajar mulai hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, yang berarti ini waktu Gaara untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan memang itu yang sedang ia lakukan.
Gaara melirik Hinata. "Kau tidak mengerti soal mana pun."
Hinata mengerucutkan bibir. "Setidaknya aku mencoba."
Gaara tersenyum, menyimpan ponselnya lalu bangkit dari sofa. Ia mengecup bibir Hinata sekilas sebelum meneliti buku Hinata. Setelah membaca soal, Gaara berpikir, inilah alasan mengapa semua bukunya ada di rumah Sasuke. Tanpa pikir panjang, Gaara menutup buku lalu merapikan kertas-kertas berisi coretan-coretan angka milik Hinata.
"Um, Gaara?"
"Ya?"
"Kau sedang apa?"
"Mengatur bukumu karena belajar adalah hal yang menyebalkan."
"Tapi—"
Gaara meletakkan jari telunjuknya di bibir Hinata. "Bagaimana kalau kita melakukan hal lain?"
Hinata mengernyitkan dahi. "Seperti?"
Gaara tersenyum misterius. Ia berdiri dan melangkah ke kamar, lalu kembali bersama sebuah penutup mata. "Kau tidak boleh melihat, hanya boleh menerima," kata Gaara sambil memakaikan benda tersebut pada Hinata.
"Um, t-terdengar tidak menyenangkan," ujar Hinata gugup. Gaara selalu mempunyai permainan-permainan aneh yang selalu berujung di ranjang. Hinata curiga ini juga salah satunya.
"Memang akan sangat menyenangkan," gumam Gaara. Ia mendudukkan Hinata di sofa lalu beranjak ke dapur. Ia kembali dengan sejumlah permen dan cokelat. Ada juga segelas es batu. "Ingat, kau hanya boleh menerima."
Hinata mengangguk ragu. Tangannya berkeringat karena gugup. Ia bisa mendengar Gaara melakukan sesuatu sebelum merasakan benda manis di dorong masuk ke mulutnya. Permen. Selanjutnya cokelat, lalu es batu. Dan begitu seterusnya. Hinata bertanya-tanya apakah ia terlihat kurus sampai Gaara membuatnya makan makanan manis di tengah malam.
Beberapa saat kemudian permainan mulai berubah. Tidak ada lagi manis makanan, hanya ada manis bibir Gaara. Hinata menahan dada Gaara yang semakin menghimpitnya, namun Gaara menahan kedua tangan Hinata dalam satu genggaman dan mengalungkannya di lehernya.
"G-Gaara, besok sekolah—"
"Nobody cares," potong Gaara lalu menggendong Hinata ala bridal style, membawanya ke kamar, mengunci pintu, dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
.
Senin, 29 Februari 2016
Yuta melihat penampilannya di cermin sekali lagi. Seragam sekolahnya ini mengingatkannya akan masa lalunya bersama Gaara. Pemikiran itu membuatnya kesal. Sekarang ada orang lain yang mengambil posisinya di samping Gaara. Yuta tahu perebutan ini akan sangat mudah. Gadis itu belum mengenal Gaara dengan cukup baik. Gaara sangat mudah dimanipulasi. Pikirannya yang labil membuat keputusan yang diambilnya tidak pernah tetap dan tidak pernah bertahan lama. Terutama bila menyangkut perasaan.
Terdengar ketukan di pintu kamarnya. Sebelum menerima persetujuan dari Yuta, pintu terbuka dan menunjukkan Toneri dengan kemeja biasa yang selalu ia pakai jika akan bekerja di toko buku. "Kau sudah siap?" tanyanya sambil menilai penampilan Yuta dari atas ke bawah.
Yuta mengambil tas sekolahnya yang hanya berisi ponsel dan tempat pensil. "Yup. Ayo berangkat."
Toneri mengangguk sekali lalu mengantar Yuta ke pintu depan. Setelah Yuta masuk ke dalam mobil, ia memberi isyarat agar Yuta menurunkan kaca jendela. "Setelah kau sampai di rumah, telepon aku."
"Dan jika aku tidak pulang ke rumah?"
Toneri menyeringai. "Mission complete."
Yuta meniru seringai Toneri. Ia menaikkan kaca jendela dan mobil segera melaju menuju jalan raya yang sudah mulai sibuk. Dulu ia tidak melewati jalan ini ketika pergi ke sekolah. Dulu ia memiliki rumah yang tidak jauh dari sekolah, juga tidak jauh dari rumah Gaara. Mereka selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.
Kehidupannya cukup baik saat itu. Semuanya terasa sempurna bagi Yuta. Sampai ia mengetahui obsesi Gaara pada pernikahan. Yuta tidak suka pernikahan. Yang ia tahu, pernikahan tidak membuatnya bahagia. Kedua orang tuanya menikah, namun jarang bertemu, selalu sibuk di kantor.
Yuta tidak mau mengalami hal-hal tersebut. Masa kecilnya yang kelam membuatnya tumbuh seperti monster. Ketika Gaara melamarnya, ia ketakukan. Ia takut sifat aslinya akan keluar seiring berjalannya waktu dan Gaara akan berbalik membencinya. Yuta tidak mau hal itu terjadi.
Di saat yang sama, kedua orang tuanya bercerai. Yuta dipaksa ikut ke Jerman bersama ayahnya. Ibunya yang memang tidak pernah menginginkan seorang anak tidak merasa keberatan. Baginya, Yuta hanya sebuah beban.
Lamunan Yuta pecah ketika sekolah yang sangat familiar terpampang di hadapannya. Yuta tersenyum miring. Waktunya melaksanakan misi. Setelah mobil berhenti dan pintu dibukakan, Yuta turun. Banyak orang memaku pandangannya pada Yuta, tetapi Yuta tidak peduli.
Ia melangkah menuju kantor guru untuk bertemu kepala sekolah. Kepala sekolah tidak berbicara banyak, ia hanya memberi jadwal pelajaran dan kunci loker, lalu menyerahkan Yuta pada Kakashi, wali kelasnya.
"Well, Yuta, senang melihatmu kembali," kata Kakashi ketika mereka keluar dari kantor guru.
"Semua orang pasti merasa begitu," balas Yuta dengan nada angkuh.
Kakashi menggeleng pelan.
Bel masuk berbunyi dan murid-murid berlarian masuk ke dalam kelas. Beberapa berhenti di tengah jalan ketika melihat Yuta. Mata mereka menggambarkan keterkejutan diwarnai sedikit ketakutan. Beberapa tidak segan-segan melemparkan tatapan benci. Yuta tersenyum angkuh. Some things never change.
Koridor sudah sepi ketika mereka sampai ke depan kelas. Ketika Kakashi masuk, Yuta dapat mendengar kelas yang sangat ribut seperti pasar. Bahkan ada yang berteriak mengusir Kakashi karena mereka belum siap ujian hari ini.
Kakashi dengan sabar menenangkan kelas sebelum berkata, "Hari ini kita kedatangan murid baru, well, tidak bisa dibilang baru karena kalian semua mungkin mengenalnya."
"Aku mungkin kenal kalau di seorang gadis bertubuh seksi," celetuk Suigetsu yang dibalas lemparan sandal oleh Ino.
"Pertanyaannya adalah, dari mana Ino mendapatkan sandal?" Naruto bersuara.
"Aku punya banyak barang di sini," jawab Ino sambil melipat tangan di depan dada.
Kakashi mengembuskan napas lelah. Ia menenangkan kelas sekali lagi sebelum memanggil Yuta masuk. Yuta memasang senyum palsu terbaiknya. "Well, kalau kalian lupa, namaku Yuta Kamora, dan, hm, senang bertemu kalian kembali."
Reaksi yang diberikan kelas sangat beragam. Di antaranya, ada Sasuke dan Naruto yang membulatkan mata. Mereka bertukar tatap, lalu mengalihkan pandangan ke arah Gaara yang terdiam. Postur tubuhnya sangat kaku, aura ketegangan terpancar dengan jelas.
Di depan, Yuta tersenyum kecil ke arah Gaara. Sasuke mengepalkan tangannya, dan Naruto terlihat frustasi. Mereka mengenal Gaara cukup baik untuk mengetahui sifat aslinya. Dan mereka berharap dan berdoa agar mereka salah menilai Gaara selama ini.
.
.
Gaara pernah jatuh cinta.
Pada sebuah boneka panda yang ia menangkan di Arcade.
Waktu itu Gaara masih berumur lima tahun. Ia merasa sangat senang berhasil memenangkan suatu permainan di salah satu stan Arcade. Penjaga stan memberinya sebuah boneka beruang cokelat yang dinamakannya Pindy.
Pindy mungkin hanya boneka panda biasa. Tapi bagi Gaara, Pindy sangat berharga baginya. Kemana pun Gaara pergi, Pindy pasti bersamanya. Bahkan jika bumi terbelah, benda-benda di langit jatuh, tsunami menyerang, atau singkatnya dunia kiamat, Gaara akan memastikan Pindy bersamanya.
Mereka tidak bisa terpisahkan. Seperti yang dipercayai Hiashi, tidak ada yang bisa memisahkan pasangan yang saling mencintai. Meskipun yang dicintai adalah sebuah boneka—yang mustahil memiliki perasaan.
Dari kecil, Gaara memiliki obsesi pada pernikahan. Semua orang berhak memiliki kepercayaan, dan Gaara percaya, pernikahan adalah salah satu hal yang wajib dilakukan jika kau menyukai sesuatu atau pun seseorang. Tapi seiring berjalannya waktu, Gaara mengerti bahwa benda tak bisa dinikahi. Namun kepercayaannya pada pernikahan tetap sama dan tidak bisa diganggu-gugat.
Sore itu, keluarga Sabaku memilih untuk menikmati kembang api di taman dekat Shibuya. Entah untuk merayakan apa, semua orang hanya datang berkumpul untuk melihat kembang api warna-warni yang diletuskan ke langit.
Gaara tidak pernah suka kembang api. Ia takut. Gaara kecil takut pada letusan. Tapi Gaara kecil tidak takut pada kegelapan, maupun kesendirian. Dengan itu, Gaara memutuskan memisahkan diri dari keluarganya dan menyelenggarakan pernikahannya dengan Pindy di tepi danau, di bawah pohon sakura.
Ya, pernikahan itu hanya dihadiri oleh Gaara sebagai mempelai laki-laki, Pindy sebagai mempelai perempuan, rumput yang bergoyang, angin yang berembus, serta suara gemericik air danau akibat ikan-ikan yang turut bersuka cita atas pernikahan Gaara dan Pindy.
Namun jika diperhatikan baik-baik, seorang gadis kecil juga turut serta menjadi tamu tak diundang dalam pernikahan Gaara dan Pindy. Gadis itu hanya bersembunyi; menatap dalam diam selama berlangsungnya pernikahan.
Gaara merasa kurang. Ia tahu, dalam pernikahan diperlukan cincin. Tapi, sekarang ia tidak punya cincin untuk diberikan pada Pindy.
Setelah pernikahan selesai diselenggarakan, Gaara membawa Pindy menuju toko perhiasan. Pegawai-pegawai yang bekerja di sana menatap Gaara dengan pandangan gemas. Beberapa perempuan yang lewat mencubit pipi Gaara. Tapi Gaara tidak terpengaruh. Tidak. Dia tidak akan pernah selingkuh dari Pindy.
Sayang beribu sayang, cincin seukuran jari manusia tidak cocok untuk Pindy. Gaara merasa sedih, namun tidak menyerah. Kembang api masih mewarnai langit dan merusak gendang telinga Gaara.
Gaara yakin keluarganya masih sibuk dengan jajanan di sekitar taman, jadi ia memutuskan membawa Pindy ke toko perhiasan lain. Kali ini toko perhiasan yang khusus untuk cincin besar, seukuran dengan tangan Pindy. Well, begitulah yang dipikirkan Gaara.
Cincin besar itu adalah gelang. Gaara membeli dua; satu untuknya berwarna merah, dan satu untuk Pindy berwarna putih. Gelang-cincin itu pas untuk mereka berdua, dan Gaara merasa senang. Ia memutuskan akan mengajak Pindy untuk berjalan-jalan besok. Namun sekarang, ia harus mencari keluarganya, yang mungkin sedang mencarinya.
Esoknya, sesuai yang dikatakan Gaara, ia sudah membawa Pindy jalan-jalan sejak pagi-pagi buta. Mereka tidak pergi terlalu jauh dari rumah, tapi tidak juga terlalu dekat dengan rumah. Bagaimana pun, ini adalah kencan pertamanya dengan Pindy sebagai suami istri, dan ia tidak mau diganggu oleh siapapun.
Gaara memilih berjalan-jalan di sekitar Shibuya yang tidak pernah sepi. Gaara kecil bertanya-tanya apa yang orang-orang tersebut lakukan di pagi buta seperti ini, meski pertanyaan itu lebih cocok ditujukan padanya.
Lalu Sadako itu muncul. Sadako itu berambut cokelat. Sadako itu memiliki aura membunuh. Sadako itu pasti malaikat pencabut nyawa.
"Laki-laki tidak bermain boneka!" bentak Sadako itu lalu mendorong Gaara hingga jatuh.
Gaara salah, Sadako itu penghancur hubungan.
Tidak sampai di situ, Sadako Penghancur Hubungan mengambil Pindy dari pelukan Gaara, lalu menginjak-injaknya di tanah.
Gaara menatap Pindy dalam diam. Wajahnya tidak menunjukkan emosi, tapi dalam hati ia menangis.
Lalu Sadako lain muncul. Kali ini berambut indigo. Sadako yang lain itu mendorong Sadako Penghancur Hubungan, kemudian mengambil Pindy—yang sudah kotor dan robek di beberapa sisi—dari tanah.
Gaara memutuskan, Sadako yang lain itu merupakan Sadako yang baik hati.
Kedua Sadako itu berselisih. Gaara tetap menonton dalam diam. Ia mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi memilih untuk menatap Pindy, dan mengabaikan kedua Sadako tersebut.
Sampai tiba-tiba, Sadako Baik Hati berlari menjauh, dan Sadako Penghancur Hubungan menyusulnya.
Gaara ditinggal sendirian.
Sadako Baik Hati membawa Pindy bersamanya.
Gaara tidak tahu Pindy dibawa kemana. Gaara hanya bisa duduk di pinggir jalan, menunggu di sana sampai matahari sudah setengah jalan menuju singgasananya, lalu tetap menunggu saat matahari telah kembali ke peraduannya.
Beberapa orang memberikannya makanan, berpikir mungkin dia adalah anak yang dibuang. Beberapa orang yang lain hanya menatapnya iba. Beberapa yang lain berpura-pura tidak melihat.
Gaara masih di sana. Menunggu.
Gaara tidak pernah menangis. Itu bukanlah dirinya. Menangis tidak pernah ada dalam kamusnya. Baginya, menangis hanya untuk orang yang lemah. Dan Gaara tidak mau menjadi lemah.
Dua belas jam terlewati, dengan Gaara yang tetap menunggu di pinggir jalan. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Biasanya Shibuya tetap ramai, tapi entah karena apa, kali ini Shibuya terasa sepi. Hanya beberapa orang dan kendaraan yang berlalu-lalang.
Itu seperti Gaara memang ingin dibiarkan sendirian. Dalam kegelapan.
Gaara menunduk, menyerah pada keadaan. Ia yakin mami Karura sedang aibuk mencarinya. Tidak perlu waktu lama sampai Karura menemukan dirinya di sini.
"Hei."
Gaara mendongak.
Sadako Baik Hati telah kembali, dengan Pindy dalam pelukannya.
"Maaf membuatmu menunggu."
Suara Sadako itu sangat lembut dan menggemaskan, khas anak-anak berumur lima tahunan. Ia berjongkok, tersenyum lebar pada Gaara sambil menyodorkan Pindy padanya.
Gaara mengambil Pindy. Menatapnya rindu, lalu memeluknya. Pindy dipenuhi wangi lavender, Pindy juga sudah bersih, dan Pindy tidak robek lagi. Gaara berasumsi Sadako Baik Hati-lah yang memperbaikinya.
Sadako itu kembali berdiri tegak. Ia masih memberikan senyuman lebar pada Gaara, sampai-sampai matanya tidak kelihatan. Gaara hanya memerhatikan Sadako itu dalam diam saat Sadako Baik Hati itu berlari menjauh—kembali meninggalkan Gaara.
Sadako itu berlari menuju seseorang. Seseorang yang sangat mirip dengannya. Seseorang itu menggendongnya dan memeluknya, lalu kembali menurunkannya.
Gaara bertanya-tanya apakah Sadako memang memiliki seorang ibu.
Sadako dan ibunya menoleh pada Gaara, yang masih menatap dalam diam. Mereka melambai, tersenyum ramah, lalu berjalan menjauh sambil bergandengan tangan.
Gaara menatap Pindy dan memutuskan untuk pulang. Ia memeluk Pindy erat, takut seseorang akan mengambilnya kembali. Tapi Gaara tersenyum. Senyum kecil yang hampir tidak terlihat.
Di depan rumah, Karura sudah menunggunya. Wajahnya tidak terlihat cemas, ia tahu Gaara akan kembali. Ia percaya pada anak-anaknya.
"Kencannya bagaimana?"
Itu yang ditanyakan Karura saat Gaara memeluknya. Gaara tidak menjawab, hanya memeluk Karura yang tersenyum lembut.
Gaara pernah jatuh cinta.
Pada seorang Sadako Baik Hati, yang menolong Pindy-nya.
.
Tahun-tahun terlewati, Gaara selalu memikirkan Sadako itu. Tak terlintas di pikiran Gaara untuk mengganti julukannya. Baginya, Sadako sudah cukup.
Saat ia mulai memasuki sekolah menengah pertama, ia mulai melakukan pergerakan. Dirinya sudah besar, Gaara tahu itu, Gaara tahu ia sudah bisa mencari informasi mengenai gadis itu.
Ia meminta pada Katashi untuk mencari tahu tentang Sadako. Katashi bingung, tapi menurut. Ia memberikan gambar Sadako asli dan membuat Gaara tidak bisa tidur selama seminggu karena ketakutan dan mimpi buruk.
Lalu Gaara menjelaskan lebih spesifik tentang Sadako yang ia maksud. Spesifiknya: berambut indigo, mirip Sadako, baik hati, suaranya lembut, dan senyumnya manis.
Katashi ingat ia sempat berpikir akan mengalami penuaan dini karena desakan Gaara untuk mencari tahu tentang seorang gadis yang informasi spesifiknya sama sekali tidak spesifik.
Kankuro juga ingat Gaara berusaha menulis lagu tentang Sadako tersebut lalu merekamnya sendiri dan ngotot ingin disebarkan ke seluruh dunia agar Sadako yang ia maksud dapat mendengar panggilannya.
Temari juga ingat, lagu Gaara sangat datar, rata-rata semua bernada mi, dan kata di akhir lagu bernada do rendah yang hampir meleset ke nada lain.
Bahkan Karura tidak bisa lupa bagaimana suara dan ekspresi Gaara saat menyanyikan lagu tersebut. Keduanya sama-sama datar. Tidak memiliki emosi sedikit pun.
Gaara masih baik-baik saja saat itu, walau pun kewarasaanya sempat menghilang karena obsesinya pada Sadako Baik Hati. Ia bersumpah di hadapan keluarganya akan menikahi Sadako tersebut sedetik setelah ia menemukannya.
Lalu kecelakaan itu terjadi.
Kecelakaan itu tidak membuatnya amnesia, tidak membuatnya koma, atau pun merusak salah satu organ tubuhnya.
Namun, kecelakaan itu membuat Gaara melupakan sesuatu.
Sadako Baik Hati.
Gaara tahu dia melupakan sesuatu dan ingin mencari tahu. Ia merasa kurang, hampa, dan tidak bisa berpikir jernih. Saat itu ia masih kelas tiga SMP. Obat-obatan, rokok, alkohol, tidak dapat dihindari lagi. Saat menginjak kelas satu SMA, Gaara sempat melakukan seks bebas dan menjadi psikopat. Itulah yang membuat semua orang takut padanya.
Sampai gadis itu datang.
Murid pindahan, dari Kyoto, Yuta Kamora.
Gadis itu berhasil membuat Gaara berubah. Ia berhasil membuat Gaara sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah. Ia berhasil membuat Gaara berhenti menggunakan obat-obatan, merokok, bahkan seks bebas. Karena jika nafsunya perlu disalurkan, Yuta akan selalu ada di sampingnya.
Mereka selalu bersama. Tidak pernah terpisahkan. Keluarga Gaara mengenal Yuta, dan begitu pun sebaliknya. Mereka selalu bergandengan di sekolah.
Selalu tertawa bersama.
Selalu bercengkerama bersama.
Selalu melewati gadis berambut indigo yang mirip sadako.
Gaara yang pada dasarnya memang terobsesi pada pernikahan segera melamar Yuta. Tapi, sayang beribu sayang Tomoko, ayah Yuta, menolak lamarannya dengan alasan mereka berdua masih terlalu kecil.
Lalu Yuta pergi. Setelah enam bulan bersama, Yuta pergi ke Jerman meninggalkan Gaara sendirian
Tapi Gaara tidak berubah kembali menjadi monster. Tidak. Dia tidak lagi melakukan hal-hal seperti yang dulu ia lakukan. Ia tidak mau kembali merusak hidupnya.
Meskipun demikian, Gaara memiliki obsesi lain selain pernikahan. Dada besar. Ya, ia terobsesi pada dada besar. Tangannya yang selalu menjamah dada Yuta yang besar, merindukan sensasi itu. Ia ingin merasakannya lagi. Tak jarang Gaara membayar perempuan-perempuan nakal berdada besar yang ia temui di bar untuk memuaskan nafsunya.
Tapi Gaara tidak bisa melupakan Yuta. Ia menginginkan Yuta. Ia merindukan Yuta. Dan ia bertanya-tanya mengapa Yuta meninggalkannya tanpa memberitahu terlebih dahulu.
Gaara sepenuhnya lupa pada Sadako Baik Hati. Ia juga sudah lupa pada Pindy. Kini Yuta-lah yang mendominasi pikirannya.
Sampai pertemuannya dengan Hinata.
Saat itu hujan, dan ia bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh Hinata yang menggiurkan. Ia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya. Atau itulah yang ia ingat.
Dada Hinata mirip dengan dada Yuta. Besar. Berisi. Padat. Dan Gaara suka itu. Malam setelah pertemuan mereka, Gaara ingin menikah. Ia ingin menikahi Hinata yang baru saja ditemuinya. Dan ia tidak sabar untuk menunggu hari di mana ia benar-benar akan menikah. Dalam sekejap, Yuta menghilang dari pikirannya, digantikan oleh Hinata.
Hm, mungkin Gaara memiliki penyakit cepat lupa.
Atau itu hanya ketidak-peduliaan.
Who cares?
Yang penting ia bahagia.
Sampai Yuta kembali lagi hari ini.
Gaara pernah berjanji pada dirinya agar tidak pernah kembali ke masa lalu. Tapi Gaara lupa, ia memiliki dua masa lalu; satu yang tidak diingatnya namun sangat ingin ia ingat, satu lagi diingatnya namun sangat ingin ia lupakan.
Gaara memikirkan janjinya. Masa lalu mana yang ia janji tidak akan pernah kembali lagi? Dulu ia yakin, yang ia maksud adalah masa lalunya bersama Yuta. Tapi setelah dia kembali... Gaara tidak lagi yakin dengan janjinya.
Semua memori masa lalunya bersamaYuta berputar dalam pikirannya bagaikan kaset rusak. Tidak bisa hilang, tidak bisa berhenti. Meski ia pernah mengatakan bahwa ia mencintai Hinata, tapi ia tidak tahu bahwa Yuta-lah yang mengisi sebagian besar hatinya.
Tangannya yang digenggam Hinata ia lepaskan. Wajahnya berubah dingin, dan matanya terkunci dengan tatapan Yuta. Hinata memanggilnya, namun tak dihiraukannya. Dunianya akan kembali seperti dulu.
Dunia yang hanya mampu menampung dirinya dan Yuta.
TBC
Holaaa~
Phew, setelah semester yang panjang dan super sibuk ini, saya akhirnya bisa update! Mulai sekarang saya bakal buat deadline mungkin ya, soalnya kalo nggak yaa kayak gini nih, digantung begitu lama~ Padahal diri sendiri juga penasaran wkwkwkwk xD
Ada dua chapter yang saya gabungkan di sini. Awalnya mau saya pisah, tapi rasanya klo dalam satu chapter aja lebih nyambung and bagus and panjang, hehehe... Saya gk tahu kapan lagi bisa update, tapi saya bakal buat jadwal biar gk terlalu lama.
Di chap ini akhirnya semua udah kelihatan, tinggal kita lihat gimana Hinata-nya wkwkwk...
Special thanks to:
Rapita Azzalia, ana, srilestsri, Lisna Wati716, HHS Hyuuga L, heoalienjoong, AsahinaUchiHaruno, Megumi Amythyst, IkaS18, Green Oshu, hiru nesaan, Lady Bloodie, anita. indah. 777, nurul. hikakey, si peak, nishlchan, mikyu, Lyvero, icaraissa11, nayasant. japaneze, Morita Naomi, Guest, anita, Sabaku rennee, OnadVia, syifakazeyuki, maplemalfoy
Note: Saya sebagai author juga punya kehidupan di luar ffn. Saya punya kesibukan tersendiri dan kadang, biar ide udah mengalir begitu deras dan pengen cepet-cepet nulis, saya gak bisa karena gak punya waktu. Saya memaklumi semua review kalian yang maksa saya update (krn sy jg gitu ke author lain jd mungkin karma kali ya wkwk) dan sy berterimakasih pada kalian semua yang sabar menunggu terutama Guest, entah siapa dirimu, tapi saya nulis chap ini cepat" karena takut review kamu muncul lagi wkwkwk xD. Terus ada maplemalfoy yang bersedia mengirimi saya PM, chapter ini saya persembahkan untuk kalian berduaJ
