Jumat, 18 Maret 2016

Sudah dua minggu lebih sejak kedatangan Yuta ke Jepang. Sejak itu pula Gaara tidak pernah pulang ke apartemen. Dia bahkan hampir tidak kelihatan di sekolah. Shino, Kiba, Sasuke, dan Naruto membantu Hinata merahasiakan hal ini dari Hiashi dan Neji. Tidak hanya itu, mereka juga membantu Hinata mengisi waktu-waktu kosongnya yang kini sangat sepi tanpa Gaara. Hinata menjadi jarang berada di apartemen, keempat orang tersebut sibuk bergantian menemani Hinata ke suatu tempat. Atau mungkin hanya berkumpul di suatu rumah untuk mengerjakan PR.

Seperti sekarang ini.

"Sasuke!"

Sasuke mengeraskan volume lagunya dan memperbaiki letak headphone-nya. Kini yang ia dengar hanyalah suara drum dan gitar listrik dari band favoritnya. Namun hal itu tidak bertahan lama; sedetik kemudian headphone tersebut ditarik paksa oleh Naruto. "Hey!"

"Aku memanggilmu dari tadi!"

"Kau tidak lihat aku sedang mendengar lagu?!"

"Persetan dengan lagumu, aku tahu kau menghabiskan marshmallow-ku!"

"Aku tidak tahu kenapa kita menerima mereka berdua di rumah kita yang damai, Shino. Ini terlalu melelahkan untuk telingaku," keluh Kiba yang sedari tadi berkutat dengan PR kimia.

Hinata tersenyum geli. "Kurasa mereka tidak akan seribut itu kalau saja seseorang mengaku dia yang menghabiskan marshmallow itu."

Kiba meneguk ludah. "Kau harus menjadi sahabat yang baik hati, Hinata."

Hinata tertawa kecil.

Sasuke dan Naruto menyelesaikan pertengkaran mereka dengan spin bottle. Siapa yang ditunjuk mulut botol merupakan orang yang menghabiskan marshmallow Naruto. Botol diletakkan di antara keduanya; menyisakan satu tempat kosong yang mengarah pada kelompok Kiba, Hinata, dan Shino.

"Oke, aku akan mulai!" seru Naruto, lalu mengangkat tangannya dan menghadap ke langit-langit sambil berkata, "Wahai kekuatan gaib di luar sana! Jadikanlah botol ini sebagai alat kejujuranmu! Tunjukkanlah kami siapa pencuri itu!"

Sasuke menepuk jidat. "Apa yang kau lakukan?" desisnya.

Tanpa mengubah posisinya, Naruto menjawab dengan bisikan, "Diam, Sasuke, aku butuh konsentrasi."

"Kita akan langsung memutar botolnya."

"Jangan! Belum waktunya."

Sasuke memegang botol. "Akan ku putar sekarang."

Tepat sebelum Sasuke menggerakkan botol tersebut, tangan Naruto menahan. "Belum saatnya."

"Kau bertingkah konyol!"

Kiba tertawa. "Kalian bertingkah konyol!"

"Sekarang, Sasuke!"

Naruto mengangkat tangannya dan Sasuke segera memutar botolnya. Kesunyian mengisi ketika botol berputar-putar mencari tersangka. Naruto menatap botol tersebut tajam, merasa ini menentukan hidup dan mati. Botol mulai memelankan putarannya, dan ketika mulut botol akhirnya menunjuk ke sebuah arah, keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Satu butir keringat Naruto jatuh menyentuh lantai. Ia berbalik perlahan ke arah yang ditunjuk mulut botol, dan ketika ia melihat siapa tersangkanya, tangannya mengepal, "Kibaaaa...!"

Kiba seketika melompat dari sofa dan segera berlari mengitari rumah dengan Naruto yang setia mengikuti. Sasuke memutuskan untuk kembali mendengar lagu sambil menyamankan diri di samping Hinata. Bukan lagi hal asing bagi mereka setiap Sasuke bermanja-manja pada Hinata.

Dimulai dari hari ketika Yuta datang. Hinata sangat terpukul saat Gaara lebih memilih Yuta dibandingkan dirinya. Sasuke, selaku satu-satunya orang yang paling tahu dan mengerti masa lalu Gaara, menjelaskan segalanya. Karena itulah Sasuke merasa bertanggung jawab atas keterpurukan Hinata. Ia menemani Hinata siang dan malam; menghiburnya, dan seketika, mereka saling melekat satu sama lain.

Awalnya Naruto, Kiba, dan Shino merasa aneh—terutama Kiba. Dia yang paling sering mempertanyakan hubungan keduanya dan selalu berusaha memisahkan keduanya. Namun tindakannya itu sia-sia, dan akhirnya hal itu menjadi biasa dan normal. Sasuke tidak pernah menjelaskan hubungan apa yang terjadi di antara mereka, dan Hinata juga tak pernah mempertanyakan hal tersebut.

"Kalian datang besok?" Sasuke bertanya setelah melepas headphone-nya. Ia menyimpan headphone-nya di atas tumpukan buku lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Hinata.

"Untuk apa?"

"Rapat acara prom."

Hinata berpikir sesaat, lalu mengangguk-angguk. "Ya, karena Ino bilang wajib."

Sasuke mendecak. "Ya, ya, aku lupa itu wajib."

"Hey, aku tahu apa yang harus kita lakukan hari ini," kata Kiba sembari mendudukkan diri di lantai—di depan meja yang berhadapan dengan sofa tempat Hinata, Sasuke, dan Shino duduk.

"Kau terdengar seperti Phineas," celetuk Naruto yang ikut duduk di samping Kiba.

Sasuke mengangkat satu alisnya, "Kalian sudah selesai?"

Naruto mengendikkan bahu, "Kiba berjanji akan membelikanku yang baru."

"Oke, oke, kembali ke topik." Kiba berdeham, "Bagaimana kalau kita pergi ke pub malam ini?"

Sasuke melirik jam tangannya. "Sudah jam lima."

"Berarti masih ada waktu untuk mandi," gumam Naruto.

"Aku dan Shino tidak ikut," kata Hinata lembut, disusul anggukan setuju Shino.

Kiba menggeleng keras. "Tidak. Kita semua ikut, oke?"

"Hinata tidak bisa pergi ke pub. Kenapa? Karena—"

"Shino, ayolah. Untuk sekali ini saja," Kiba memohon. Ia menatap Hinata dan Shino dengan mata berkaca-kaca dan kedua tangannya bersatu di depan dadanya.

Hinata menipiskan bibirnya lalu menoleh ke arah Shino. "Baiklah," kemudian kembali pada Kiba, "kita ikut."

"Sweet!" seru Naruto sambil berdiri. "Ayo pulang, Sasuke," lanjutnya sembari mengambil kunci mobil di partisi. Ia melempar salah satu kunci ke arah Sasuke yang langsung ditangkap dengan baik. "Kami kembali jam sembilan."

Kiba menggeleng. "Setengah sembilan."

Sasuke memutar bola mata. Ia bangkit berdiri, mengecup pipi Hinata, lalu meyusul Naruto yang sedari tadi menunggu di pintu. Sebelum keluar, Naruto bertanya, "Kita ke pub mana?"

Kiba tersenyum bangga dan puas seolah-olah telah menunggu pertanyaan itu diajukan sejak lama. "Ame no Itami."

.

Ame no Itami adalah pub yang sudah terkenal sejak lama. Pendirinya yang sudah lama mati mewariskan pub tersebut pada anak-anaknya. Dan hal itu dilakukan secara turun-temurun. Kini, pub tersebut dipegang oleh Nagato, kakak dari si kembar Yahiko dan Konan. Kiba yang cukup dekat dengan Yahiko sering mendapat undangan untuk minum gratis di Ame. Ia selalu menolak, namun tidak hari ini.

"Kita harus merahasiakan ini," kata Naruto.

Shino melirik arlojinya. "Sudah jam sembilan. Kita sudah tidur biasanya."

"Tou-san dan Kaa-san pasti mengamuk kalau tahu aku ke pub," Naruto kembali membuka suara.

Kiba mengerutkan dahi. "Jadi siapa yang selalu menemani Gaara ke pub?"

"Kita akan masuk atau tidak?" sela Hinata yang masih sedikit sensitif dengan nama Gaara.

"Kau sangat bersemangat, Hinata," ujar Kiba. Ia merenggangkan tubuhnya tanpa alasan lalu berseru dengan cengiran di wajah, "Ayo!"

Sasuke memutar bola mata. Ia merangkul Hinata lalu menariknya masuk. "Aku tidak tahu kenapa dia harus melakukan itu," ujarnya pelan.

"Dia memang selalu melebih-lebihkan segala sesuatu."

"Seperti Naruto."

Hinata mengagguk. "Yup."

Di dalam, suara musik yang mengentak-entak menulikan telinga Hinata. Bau keringat, alkohol, parfum, dan rokok yang bercampur menjadi satu menusuk penciumannya dan membuatnya terbatuk-batuk beberapa saat. Cahaya yang begitu minim menjadikan ruangan gelap ini sesak. Sasuke, menjadi orang yang paling setia di samping Hinata, menuntunnya melewati kumpulan orang yang melompat-lompat tak jelas, menuju ke sudut ruangan yang sedikit lebih tenang. "Dari luar tidak terdengar apa pun," komentar Sasuke setelah mereka duduk.

"Yup, itu yang hebat dari pub ini," kata Kiba yang tiba-tiba muncul bersama Naruto dan Shino. "Gedung kedap suara, fasilitas kelas atas, dan undangan gratis. Minum sepuasmu karena semuanya gratis!"

"Kau pernah ke pub sebelumnya, Kiba?" Hinata bertanya dengan kerutan di dahi. Ia merasa suaranya akan habis jika harus berteriak setiap berbicara sepanjang malam.

Kiba membuka mulutnya, namun tidak mengatakan apa pun. Mulutnya tertutup perlahan dan ia larut dalam pikirannya beberapa saat. "Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepala.

"Jadi kenapa kau begitu bersemangat?" tanya Naruto yang sedari tadi menutup telinganya.

"Mungkin karena ini gratis," Kiba menjawab, lalu mengendikkan bahu.

"Yo, kawan!" seru Yahiko yang langsung disambut heboh oleh Kiba. "Aku membawakan kalian minuman spesial malam ini," katanya, disusul masuknya seorang gadis cantik dengan dandanan berlebihan berbalutkan sedikit kain. Di tangannya terdapat nampan berisi tiga botol minuman alkohol berbeda jenis dan lima gelas kecil. Setelah semuanya diletakkan di meja, Yahiko kembali berseru, "Bacardi 151, Grappa, and Spirytus Vodka, baby!"

"Kita bisa pulang sekarang," kata Shino sambil berdiri.

"Wow, wow, wow, tenang, kawan," kata Yahiko sembari menahan Shino agar kembali duduk. "Tidak perlu terburu-buru. Malam ini kau harus minum sepuasmu karena semuanya gratis!" serunya lagi, suaranya meninggi di tiap kata.

"Itu yang ku katakan tadi!" teriak Kiba histeris. Mereka saling adu kepalan sebelum keluar untuk bergabung dengan kumpulan orang yang menari berlebihan.

"Aku benci bocah itu," gumam Shino pelan.

"Well, mungkin kita harus mencoba satu per satu minumannya," usul Naruto.

"Um, kurasa itu bukan ide yang bagus," kata Hinata.

Naruto mengibaskan tangannya lalu membuka botol vodka dan menuangnya ke masing-masing gelas. "Sekali ini saja, Hinata. Kau tidak akan semabuk itu."

Tiga jam kemudian

"Go, Hinata!" teriak Naruto menyemangati Hinata yang sibuk dengan tariannya. Tubuhnya bergerak lincah mengikuti irama musik. Wajahnya merah, dan sebelah tangannya memegang gelas berisi minuman beralkohol.

Sasuke menghela napas berat. Hanya satu gelas penuh vodka dan Hinata berubah menjadi orang lain. Naruto mempunyai kadar toleransi alkohol yang cukup tinggi, sehingga butuh beberapa gelas kemudian sebelum ia berubah seperti Hinata. Kiba tidak jauh beda. Yang kini masih sadar hanyalah Shino dan dirinya. Sasuke meneguk habis wiski-nya sebelum berdiri. "Waktunya pulang."

Shino—yang sudah merasa jenuh sedari tadi—mengangguk setuju sambil berdiri. Mereka melangkah menuju kumpulan orang yang sibuk mengentak-entakkan tubuh ke sana kemari. Shino mengambil Kiba yang sedikit jauh dari Naruto dan Hinata, sedangkan Sasuke berjalan menuju Hinata tanpa memedulikan Naruto.

"Hinata, waktunya pulang," ujar Sasuke agak keras sembari menahan tubuh Hinata agar berhenti bergerak.

Hinata awalnya tidak mau berhenti bergerak, namun pada akhirnya menurut dan mulai memelankan gerakan tubuhnya. Hinata kembali meneguk isi gelasnya, tetapi segera dicegah Sasuke. Ia mengambil gelas Hinata dan memberikannya pada orang lain yang masih sibuk menari. Hinata terdiam sebentar setelah gelasnya diambil, namun sedetik kemudian memasang senyum lebar lalu mulai menempelkan tubuhnya pada Sasuke. "Hey, tampan," katanya dengan suara serak, Sasuke mengangkat kedua alisnya.

Tangan Hinata bergerak untuk meraba dada Sasuke, tangan lainnya meremas pelan lengan atas Sasuke yang berotot. Ketika Hinata berjinjit untuk mendapatkan ciuman, Sasuke menahannya, "Kau sedang apa, Hinata?"

"Kau tidak ingin melakukan sesuatu denganku?" Hinata bertanya dengan nada seduktif.

Sasuke mengangkat satu alisnya. "Aku cukup yakin Gaara belum pernah melihat sisi liarmu ini."

Hinata tertawa lepas sambil menggeleng-geleng. "Tidak akan pernah," katanya.

"Yo, Sasuke!" Naruto berujar sembari merangkul Sasuke.

Sasuke menatap Naruto sinis. "Waktunya pulang, Dobe."

Naruto menggeleng. "Nah, kau tidak cukup bersenang-senang. Kau harus mabuk sebelum pulang!"

"Yeah!" seru Hinata.

Sasuke menggeleng tegas. "Kita pulang sekarang."

Dua jam kemudian

Shino menghela napas berat. Kini hanya dirinya sendiri yang tidak dalam pengaruh alkohol. Sasuke—setelah dipaksa oleh Naruto—mengikuti lomba minum bir terbanyak yang terdiri atas tiga babak. Sasuke berhasil memenangkan perlombaan tersebut, namun kesadarannya sendiri telah hilang. Ia kini bergabung dengan yang lainnya.

Melirik arloji, Shino kembali menghela napas. Sudah jam dua lewat, dan mereka harus berangkat ke sekolah jam sembilan pagi, yang berarti mereka harus bangun sekitar jam tujuh atau setengah delapan pagi. Shino memijat kepalanya yang mulai sakit.

"Yo, man!"

Shino mengangkat wajahnya. Seorang laki-laki dengan penampilan punk yang sangat esentrik segera duduk di sampingnya. Rambutnya berwarna pink, celana jinsnya robek di bagian lutut, paha, dan betis, tangannya memegang sebotol bir. Bajunya hanya sebatas dada, memamerkan otot perutnya yang terlihat berkilau karena keringat. Shino memutuskan untuk diam.

Lelaki itu duduk di samping Shino, meneguk birnya, kemudian bertanya, "Siapa namamu, kawan?"

Shino berdeham, "Shino."

Lelaki itu bertepuk tangan sekali lalu tertawa. "Kita mempunyai nama yang mirip." Ia kembali meneguk birnya sebelum melanjutkan, "Namaku Shinto, mirip, kan?"

Shino mengangguk kaku. Time to go. "Maaf, aku harus pergi mengambil teman-temanku," katanya sambil berdiri.

Shinto mengibas-ngibaskan tangannya, sambil memajukan bibir bawahnya sedikit ke depan. "Tidak perlu kaku begitu," balasnya. Ia kembali meneguk birnya. "Hati-hati dengan orang mabuk, Shinto tanpa t," lanjutnya lalu tertawa.

Shino mengangguk singkat sebelum melarikan diri dari Shinto. Ia menembus orang-orang yang tidak berkurang sejak lima jam lalu. Malah Shino melihat ruangan ini lebih sesak dari sebelumnya. Ia melihat Kiba yang sedang bercerita heboh, lalu mengembuskan napas lega melihat orang-orang yang mendengar ceritanya adalah Hinata, Sasuke, dan Naruto. Setidaknya ini tidak menyulitkan proses pencarian.

Ketiganya tertawa mendengar cerita Kiba yang tidak dapat didengar Shino. Ia melangkah, mendorong beberapa orang yang menghalangi jalannya, dan kembali menghela napas berat setelah sampai di hadapan keempat sahabatnya yang masih sibuk tertawa.

"Shino! Aku merindukanmu," kata Kiba sembari merentangkan tangannya ke depan.

Shino menjaga jarak, lalu berujar tegas, "Kita harus pulang sekarang." Keempatnya terdiam; tidak ada tanda-tanda akan berdiri. Mereka saling melempar lirikan satu sama lain sebelum tertawa lepas, seolah-olah apa yang dikatakan Shino merupakan lelucon terbaik sepanjang tahun. Shino mengepalkan tangannya, "Sekarang," tegasnya sekali lagi.

"Oke, oke," kata Naruto. "Santai, Shino, waktu kita banyak di sini, bahkan ada yang berterbangan di langit," lanjutnya sambil menengadah disusul Kiba.

"Mungkin Shino benar," Hinata membuka suara, "kita harus pulang sekarang."

Sasuke mengendikkan bahu berkali-kali hingga terlihat tak normal. "Oke."

Mereka berempat berdiri, Shino mengangguk puas. Kiba mulai melangkahkan kakinya, namun segera oleng dan hampir jatuh jika saja Shino tidak menahannya. Kiba tersenyum lebar sambil menatap Shino, "Ide bagus, kita akan berjalan sambil berangkulan!"

Naruto, tanpa diajak, segera merangkul Kiba dan Hinata, lalu Hinata menarik Sasuke. Mereka mulai melangkah dan bernyanyi bersama, pamit pada Yahiko yang sibuk dengan para jalang, lalu kembali bernyanyi, keluar, dan menyusuri trotoar Tokyo menuju rumah. Shino sempat menghentikan mereka dan mengatakan bahwa mereka membawa mobil, tapi mereka terlalu sibuk bernyanyi. Sasuke tidak bernyanyi, tapi ia tetap tidak menghiraukan Shino.

"Hey, Saskeh! Aku ingin tahu tentang hubunganmu dengan Hinata. Itu sangat mengganggu kau tahu," kata Kiba, Naruto mengangguk setuju.

Sasuke kembali mengendikkan bahunya berkali-kali. "Aku hanya menganggapnya kembaranku, maksudku, kita mirip, kan?"

Kiba dan Naruto berhenti melangkah membuat Shino mengembuskan napas lelah. Mereka diam sesaat sambil menatap Sasuke dan Hinata dengan mata disipitkan. Tidak lama kemudian, mereka mengangguk. "Mirip, mirip," gumam Naruto lalu kembali melangkah.

"Kalian tahu, tadi aku bertemu seseorang yang mirip Shino," Hinata ikut bercerita.

Shino mengangkat sebelah alisnya, Naruto bertanya, "Siapa?"

"Um, rambutnya pink dan celananya robek-robek. Bajunya juga kurang bahan."

"Lalu kenapa dia bisa mirip dengan Shino?" Kiba bertanya dengan alis berkerut.

"Karenaaa," Hinata tertawa sebelum melanjutkan dengan seruan, "namanya Shinto!" Naruto dan Kiba tertawa sambil mengangguk-angguk setuju. "Aku menyuruhnya menemui Shino tadi." Shino menepuk jidat. "Kau sudah kenalan dengannya, Shino?"

"Ya," jawab Shino singkat.

"Ahh~" Hinata mengembuskan napas lega. "Kalian pasti langsung cocok."

Shino menggelengkan kepalanya. Apartemennya masih jauh, dan Shino sudah memperkirakan mereka akan sampai sekitar pukul tiga pagi. Shino hanya berharap mereka tidak terlambat ke sekolah besok. Kakashi-sensei dan Ino pasti tidak segan-segan memberi hukuman. Shino sekali lagi mengembuskan napas lelah sembari menuntun rombongannya belok kanan di perempatan.

.

"Helo, Yuta, bagaimana kabarmu?"

Yuta memutar bola mata. "Aku tidak butuh basa-basi, Toneri."

Toneri mengendikkan bahu sambil mendudukkan diri di sofa yang berhadapan dengan Yuta. "Aku hanya ingin tahu, kau berhasil atau tidak?"

"Sstt," Yuta meletakkan jari telunjuknya di depan mulut, "Suaramu bisa membangunkan si singa merah."

Toneri tersenyum kecil. "Kau mengusirku dari mansion-ku sendiri, lalu bercinta dengan musuhku."

Yuta mengendikkan bahu. "Itu tugasku."

"Aku mau ini berhasil, Yuta. Aku tidak mau Hinata jatuh ke tangannya lagi."

Yuta mengembuskan napas sambil melipat tangan di depan dada. "Toneri, apa kau bodoh? Gaara bukan lagi ancaman untukmu. Kalau kau bisa mendapatkan detail informasi hubungan keduanya, seharusnya kau tahu siapa ancaman barumu sekarang."

Toneri mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Si charming Uchiha itu dalam perjalanan merebut Princess-mu, bodoh."

"Sasuke?"

"Kau berkembang dengan cepat, tapi tidak terlalu cepat."

Toneri memajukan tubuhnya. "Apa yang dia lakukan?"

Yuta memiringkan kepalanya. "Aku tidak tahu, Toneri, apa yang kau pikir tidak bisa dia lakukan?" Toneri mengepalkan tangannya. Ia berdiri dan berjalan tergesa-gesa menuju pintu, meninggalkan Yuta dengan seringai terbaiknya. "Once an evil, always an evil," gumamnya sembari berdiri dari sofa. Pintu depan yang tertutup keras membuatnya tertawa senang. "Kau tidak bisa meminta bantuan pada rubah, Toneri. Seharusnya kau yang paling memahami hukum rimba."

Yuta melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Ia masuk dengan perlahan, tidak ingin membangunkan Gaara. Tangannya bergerak membuka jubah tidurnya, mengekspos tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Ia menghampiri Gaara, duduk di sampingnya, lalu mengelus surai merahnya. "Gaara," panggilnya lembut.

Gaara menggeliat pelan sebelum membuka mata. "Kau belum tidur?"

Yuta tersenyum nakal. "Aku hanya ingin tahu apa kau mau ronde kelima."

Mata Gaara yang masih mengantuk mulai berkabut mendengar kalimat tersebut. Ia bangkit duduk dan mencium bibir Yuta penuh nafsu, sedangkan tangannya bergerak meraba kedua payudara Yuta. "Jam berapa ini? Besok kita harus sekolah."

Yuta menggeleng. "Aku berjanji kita akan bangun tepat waktu besok pagi."

Gaara tersenyum miring. "Kau sudah tidak bisa menahan nafsumu, Yuta?" tanyanya. Salah satu tangannya turun menuju liang sanggama Yuta, dan segera memasukkan dua jari ke dalamnya.

Yuta mendesah keras merasakan jari-jari Gaara bergerak liar dalam dirinya. Gaara selalu menjadikannya alat pemuas seks, dan itu yang Yuta sukai. Saat berhubungan dengannya, Gaara selalu seenaknya, mengendalikan Yuta sepenuhnya. Yuta senang diperlakukan demikian, namun hanya jika itu Gaara. Ia tidak tahu alasannya, tapi ia menduga mungkin karena ia terlalu lelah menjadi orang yang selalu mengendalikan.

Gaara menidurkan Yuta dan mempersiapkan dirinya. Yuta tidak perlu menunggu lama untuk merasakan batang Gaara dalam dirinya. Gaara, seperti biasa, bergerak cepat untuk mencapai klimaksnya. Yuta mendesah keras, dan menjadikan rambut Gaara sebagai pelampiasannya.

Gaara melepaskan dirinya, lalu membalik tubuh Yuta. Ia memasukkan dirinya dan bergerak lebih liar dari permainan sebelumnya. Ia lalu berhenti, dan memasukkan miliknya ke lubang Yuta yang lain. "Ah, aku selalu merindukan lubangmu yang satu ini," kata Gaara lalu mulai kembali bergerak.

Yuta memejamkan matanya menahan sakit. Gaara mempercepat gerakannya, Yuta semakin mengeratkan pegangannya pada seprei. Ia merintih kesakitan, namun hal itu membuat Gaara semakin liar. Tidak lama kemudian, cairan hangat mengalir dalam lubang dubur Yuta, sedangkan setengahnya tumpah keluar bersamaan saat Gaara melepas batangnya.

"Aku mencintaimu," racau Gaara setelah menjatuhkan dirinya di tempat tidur dengan mata terpejam.

Yuta tersenyum kecil. Ia mengecup bibir Gaara pelan lalu membalas, "Aku juga mencintaimu." Ia lalu menyelimuti Gaara dan dirinya, kemudian menyamankan diri di samping Gaara.

Tidak lama kemudian Gaara memeluknya, dan Yuta kembali memasang senyum bahagia. Namun hal itu tidak bertahan lama ketika Gaara menggumamkan sebuah nama; "Hinata."

.

Sabtu, 19 Maret 2016

Dip dip dip

Kiba melenguh. Ia berbalik ke kiri dan menutup telinganya dengan bantal.

Tong teng tong

Kali ini Naruto dan Hinata juga ikut terganggu.

Shino menghela napas. Apa yang ia takutkan semalam terjadi. Sudah pukul delapan lewat tiga puluh dua menit dan berbagai cara yang Shino lakukan belum ada yang berhasil membangunkan keempatnya. Sebagai final karena keputusasaan, Shino mengambil satu ember air.

Byur

"Mama!" seru Naruto sambil tersentak duduk, sedangkan yang lain hanya tersentak duduk tanpa berseru apa pun.

"Atap bocor lagi?" tanya Kiba pada Shino yang berdiri sambil memegang ember. Kiba menyipitkan mata," Tunggu, kau yang menyiram kami?" Shino tidak menjawab, ia hanya mengambil jam dinding dan memasangnya di hadapan Kiba.

Satu

Dua

Tiga

"Terlambat!" seru Kiba dan Naruto bersamaan.

Hinata masih menggaruk kedua matanya sambil terus bergumam "Di mana aku," atau "Kepalaku terasa sakit," atau "Kenapa basah?" Sasuke memutuskan untuk menggendong Hinata ke kamar. Di kamar, Sasuke masih berusaha menyadarkan Hinata, dan ketika Hinata akhirnya sadar apa yang sedang menimpa dirinya saat ini, ia panik.

"Hey, kau tidak boleh panik, oke?" Hinata mengangguk cepat. "Percepat waktu mandimu, kita masih punya waktu." Saat mengatakan hal itu, pikiran Sasuke menuju ke mobilnya.

Seketika rumah ribut dengan teriakan-teriakan "Cepat!" atau suara muntahan yang datang dari berbagai sisi rumah. Shino merasa bersyukur Akamaru sedang dititipkan di tetangga karena ia selalu menyerang Naruto di setiap kesempatan. Shino hanya berdiri di ruang keluarga dengan tangan terlipat di depan dada. Ia menunggu dengan sabar sembari melihat teman-temannya berlarian ke sana kemari sambil berteriak-teriak tidak jelas.

"Shino, cepat, tutup pintu!" teriak Naruto sembari berlari menuju pintu bersama dengan yang lainnya.

Shino menghela napas lalu menyusul yang lainnya keluar. Di luar, Sasuke, Naruto, dan Kiba terdiam dengan wajah paling dongkol yang bisa mereka tampilkan. Di tangan Sasuke dan Naruto terdapat kunci mobil yang sedang dalam posisi siap digunakan. "Di mana mobilku?!" teriak Naruto frustasi.

"Oke, Shino, apa yang terjadi?" Kiba bertanya.

"Aku mencoba menghentikan kalian, tapi kalian sudah terlalu mabuk."

Naruto menepuk jidatnya berkali-kali.

"Jadi, kita naik apa?" Hinata bertanya sambil menggigit bibirnya.

"Hey, Hinata, ini pertama kalinya aku melihatmu dengan rambut terikat," kata Naruto.

Hinata bersemu. "M-mungkin lebih baik kulepas." Ia sudah akan melepas rambutnya jika saja Naruto, Sasuke, dan Kiba berteriak, "Jangan!" secara bersamaan.

"Begitu lebih baik, Nata," kata Kiba lembut. Naruto dan Sasuke mengangguk setuju. Hinata membalas senyum Kiba. Mereka begitu selama beberapa detik sampai Kiba menggeleng cepat lalu berkata, "Kembali ke masalah," katanya. Ia melihat sebuah taksi baru belok dari perempatan dan sedang berjalan menuju mereka. Kiba menangis haru. "Kita naik taksi," katanya cepat, lalu berdiri di pinggir trotoar untuk menghentikan taksi tersebut.

Taksi berhenti, semua masuk, dan perjalanan dimulai. Supir taksi tersebut merupakan pria paruh baya yang rambutnya sudah memutih setengah. Wajahnya terlihat ramah, dan ia tidak keberatan dengan tuntutan Kiba yang terus-menerus berseru untuk menambah kecepatan. Mereka melaju dengan kecepatan setengah-setengah, karena Tokyo bukanlah kota yang sepi. Dan ketika sekolah sudah dekat, mereka terjebak macet yang lebih mirip tempat parkir massal. "Ini akhirnya, anak-anak. Kalian harus berlari, sekolah kalian sudah tidak terlalu jauh dari sini."

Kiba, yang duduk di depan, segera menoleh. "Hinata? Kau bisa?"

Tanpa pikir panjang, Hinata mengangguk.

Shino melirik arlojinya. "Kita sudah terlambat sepuluh menit."

"Bukan saatnya untuk hal-hal negatif, Shino!" seru Kiba. Yang lain turun, sedangkan Kiba mengambil dompet untuk membayar.

"Tidak perlu, nak," kata si sopir taksi sembari menahan tangan Kiba yang sedang merogoh isi dompet. "Kalian harus menyimpan uang kalian untuk kuliah nanti."

Dengan mata berkaca-kaca, Kiba memeluk si supir taksi erat. "Arigatou gozaimasu," katanya pelan dengan penuh ketulusan. Setelah itu ia segera keluar dan mulai berlari bersama yang lainnya.

"Lari, anak-anak!" seru si sopir taksi.

"Berapa yang kau bayar?" tanya Sasuke.

Kiba menggeleng. "Tidak ada."

"Gratis?" Naruto ikut bertanya.

"Oh, yeah, baby!" seru Kiba.

Mereka tidak pernah memelankan laju lari mereka, dan Sasuke tidak sekali pun melepaskan genggamannya pada Hinata. Tidak lama kemudian Naruto dan Kiba berteriak histeris mellihat gerbang yang terbuka lebar. "Gerbangnya masih terbuka!" seru Naruto sambil mengusap air matanya.

"Gerbangnya selalu terbuka di hari Sabtu," timpal Shino.

"Bukan saatnya untuk hal-hal negatif, Shino!" seru Kiba.

Mereka berlari melewati gerbang, lalu menuju gedung sekolah. Ketika sampai di depan tangga, Hinata berhenti. "Aku tidak bisa."

Mereka berhenti dan Kiba segera memegang kedua pundak Hinata. "Kau bisa, Hinata."

Hinata menggeleng lemah.

Sasuke mengembuskan napas. Tanpa berkata apa-apa, ia segera menggendong Hinata ala bridal style lalu berseru, "Lari!"

Kiba mengangguk singkat, kemudian kembali berlari. Di puncak tangga, ia dan Naruto berseru menyemangati Sasuke yang berjuang di tangga. Setelah sampai, Sasuke segera menurunkan Hinata secara perlahan dan jatuh di lantai.

"Sasuke, bukan saatnya, kita harus tetap bergerak," ujar Naruto putus asa.

Shino kembali melirik arlojinya. "Kita sudah terlambat lima belas menit."

"Shino!" seru Kiba.

"Sasuke-kun, kita harus tetap berlari," kata Hinata pelan, suaranya mengandung nada bersalah.

Sasuke mengangguk, lalu berdiri, dan mereka kembali berlari menuju kelas. Ketika pintu kelas mereka sudah terlihat, segalanya menjadi slow motion. Mereka dapat mendengar suara malaikat bernyanyi di sekitar mereka, dan ada awan-awan di sekitar mereka. Kiba menjulurkan tangannya, siap membuka pintu.

Brak

Pintu terbuka, mereka masuk ke dalam kelas lalu mengatur napas. Kakashi dan Ino yang sedang berdiri di depan menatap mereka dengan alis terangkat, begitu pula dengan teman sekelas mereka yang lain, tak terkecuali Gaara.

"Hyuga? Kau bersama mereka?" Kakashi bertanya bingung. Hinata menatap Sasuke yang menatapnya balik, lalu kembali menatap Kakashi. Ia kehabisan napas untuk berbicara, jadi ia hanya mengangguk singkat. "Oke, sayangnya aku harus memberi kalian hukuman sebelum masuk kelas."

Kiba mengerutkan dahi. "Hah?"

"Sudah kuduga," gumam Shino.

"Kalian harus membersihkan kebun belakang," lanjut Kakashi.

Mereka diam beberapa saat; berusaha mencerna segalanya. Kiba yang paling pertama bergerak untuk melangkah keluar. Sasuke merangkul Hinata dan menariknya keluar, sedangkan Naruto mendorong tubuh Shino yang kaku. Pintu ditutup, kelas seketika ribut.

"Kau tahu, Hinata terlihat lebih manis jika rambutnya diikat," kata seseorang di barisan belakang.

"Sasuke dan Hinata pacaran?" suara lain berkata.

"Tapi Hinata sama Gaara, kan?"

"Kau lihat sendiri Gaara sama Yuta."

Ino menepuk meja dan menenangkan kelas. "Kita lanjutkan."

Yuta menyandarkan kepalanya di bahu Gaara. "Dia menyingkirkanmu seperti sampah," bisiknya pelan.

Gaara tidak menjawab. Pikirannya dipenuhi gambaran tangan Sasuke yang menggenggam erat tangan Hinata, Sasuke yang merangkul Hinata dan bagaimana Hinata menyandarkan kepalanya dengan lemah ke dada Sasuke seperti yang selalu dilakukannya ketika mereka akan segera tidur. Tangannya mengepal kuat ketika memikirkan hubungan Sasuke dan Hinata yang mungkin sudah lebih dari pacaran.

Perkataan Ino dan Kakashi tidak lagi didengar Gaara. Ia mulai gelisah, dan pikirannya hanya dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan atas hubungan Sasuke dan Hinata. Gaara memejamkan matanya sesaat lalu membukanya perlahan. Ia berdiri, melangkah keluar tanpa memedulikan panggilan Kakashi dan tatapan marah dari Yuta.

.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Naruto bertanya.

Kebun belakang tidak begitu kotor, jadi mereka memutuskan untuk pergi ke taman dan beristirahat di bawah pohon tempat Hinata, Kiba, dan Shino biasa makan siang. Cuaca musim semi yang bersahabat membuat mereka merasa sangat nyaman dan membuat dua dari mereka tertidur.

"Kau bisa mengikuti jejak Kiba dan Hinata, mereka tidur cukup pulas," sahut Sasuke sambil menyisir rambut Hinata yang tidur di pahanya. Mereka melirik Kiba yang tidur dengan tangan direntangkan serta kaki dan mulut terbuka lebar. Yup, sangat pulas.

"Atau kita bisa kabur dan mengambil mobil di Ame," usul Naruto.

Sasuke diam dan berpikir sesaat. "Ide bagus," ujarnya sambil mengangguk sekali.

"Sasuke," panggil Shino pelan.

Sasuke tidak menjawab, karena apa yang ingin diberitahu Shino sedang berjalan menuju mereka. Ia berdiri, Naruto datang tanpa diperintah dan segera menggantikan tempatnya. Tidak ada yang perlu memberitahu, Sasuke sudah tahu siapa yang ingin didatangi Gaara.

Gaara berhenti melangkah, begitu pula Sasuke.

"Hey, Gaara, bagaimana kabarmu dengan Yuta?" tanya Sasuke.

Gaara tersenyum miring. "Sebelum aku bercerita, kau tidak mau memberitahuku hubunganmu dengan Hinata?"

Sasuke mengeraskan rahangnya. Ia mengembuskan napas pelan, memasukkan kedua tangannya di saku, lalu memulai aksi provokasinya. "Dengar, Gaara. Aku yang paling mengenalmu, jadi aku tahu dengan baik bagaimana sifat aslimu. Yuta selalu menjadi masalah dalam hidupmu, aku juga tahu itu. Yang tidak kuketahui adalah," Sasuke mengambil dua langkah ke depan, membuatnya hanya berjarak sekitar sepuluh senti dari Gaara. "Yuta akan kembali dan kau yang sama sekali tidak bisa berubah," lanjutnya dengan nada dingin.

"Bukan itu pertanyaanku," kata Gaara dengan suara tertahan. Sesekali matanya melirik ke belakang pundak Sasuke, membuat Sasuke menyeringai diam-diam.

"Aku tahu," ujar Sasuke. "Aku tahu apa yang ingin kau ketahui, Sabaku. Tapi sebelum ku ceritakan, akan ku beritahu kau sesuatu: aku sangat kecewa padamu. Kau meninggalkan istrimu untuk wanita jalang seperti Yuta? Oke, kuterima itu. Masih ingin mencari tahu tentang kehidupan calon mantan istrimu setelah mencampakkannya? Oke, aku juga terima itu. Tapi, mencurigai sahabatmu mempunyai hubungan tertentu dengan calon mantan istrimu?" Sasuke menggeleng sambil tertawa meremehkan. "Aku kecewa, Sabaku."

Gaara mengeraskan rahangnya. "Aku tidak punya waktu untuk curhatanmu, Uchiha."

"Kalau begitu kau tahu lebih baik dari siapa pun bahwa kami tidak punya waktu untuk orang sepertimu." Sasuke mundur, kembali ke bawah pohon untuk menggendong Hinata.

Naruto segera membangunkan Kiba, dan Kiba masih setengah sadar ketika ditarik berjalan. Mereka melangkah melewati Gaara yang mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.

.

Jumat, 25 Maret 2016

Suasana santai mengelilingi atmosfer rumah Kiba dan Shino. Mereka menjadikan tempat ini sebagai tempaat favorit untuk menghabiskan waktu bersama. Sasuke, seperti biasa, tidur di sofa sambil mendengar lagu rock dari headphone-nya. Naruto dan Kiba bermain shogi. Well, sebenarnya Shino dan Naruto karena Kiba tidak akan bergerak tanpa persetujuan Shino. Hinata sendiri sedang menyiapkan makan malam.

"Aku maju? Tidak? Oh, oke," terdengar suara Kiba dari ruang depan.

Hinata menggeleng pelan. Ia mematikan kompor dan menyajikan masakannya di piring. Ia melangkah ke depan lalu duduk di sofa—samping kepala Sasuke. "Makanannya sudah siap."

"Hm," gumam Kiba pelan. Wajahnya dengan serius menatap papan permainan meski bukan dia yang memainkannya.

"Kau sudah memutuskan?" tanya Sasuke sambil melepas headphone-nya dan bangkit duduk.

Hinata mengangkat kedua alisnya. "Putuskan apa?"

"Cerai atau tidak."

Hinata terdiam. Ia berharap Gaara berubah, atau mungkin menjelaskan pilihannya agar ia tidak perlu terjebak antara bertahan dan melepaskan. Saat melihat Gaara yang langsung melengket pada Yuta, Hinata hancur. Ia patah hati dan yang ingin dilakukannya hanyalah menangis dan menangis. Ia putus asa, namun beruntung memilliki teman-teman yang setia berada di sisinya. Tapi saat malam tiba, memori-memori bersama dirinya dan Gaara sering kembali, berputar, dan membuatnya larut dalam kesedihan.

"Aku meletakkan surat cerai di laci kamarmu," tambah Sasuke.

Hinata mengerutkan dahi. "Kau optimis aku akan cerai?"

Sasuke menggeleng pelan. "Hanya saja—kalau kau mau—itu akan membuat prosesnya lebih cepat—kurasa."

"Gaara cukup rumit."

Sasuke tersenyum kecil. "Yeah." Mereka diam sesaat sebelum Sasuke melanjutkan, "Dengar, aku tidak bermaksud memaksamu cerai atau menghasutmu untuk melakukan hal itu. Hanya saja, terkadang, well, kau harus bersikap egois. Kau harus memikirkan dirimu sendiri dan memikirkan kebahagiaanmu. Pada akhirnya semua keputusan ada di tanganmu, dan keputusan apa pun itu akan kami terima."

Hinata tersenyum geli. "Kau cukup bijak ternyata."

Sasuke tersenyum malas. "Jangan mudah merasa kasihan, Hinata. Gaara tidak sebaik yang kau kira. Kalau kau ingin dia berubah, kau harus memberinya pelajaran yang akan dia sesali seumur hidup."

"Skak-mat!" seru Naruto.

"Shino!" teriak Kiba putus asa.

Hinata tersenyum. "Akan ku pikirkan," ujarnya pada Sasuke yang dibalas dengan tepukan pelan di bahunya.

"Aku tidak akan membantumu," kata Kiba ketus sambil berdiri dan berjalan menuju meja makan, meninggalkan Naruto sendirian membereskan papan shogi.

"Shino kalah?" Sasuke mengerutkan dahinya.

Naruto menoleh ke arah Sasuke dan menyengir lebar. "Dan Kiba marah padanya."

"Aku tidak marah!" teriak Kiba dari ruang makan. "Aku kecewa! Kalian harus tahu bedanya marah dan kecewa!" tambahnya, diselingi nada putus asa dan sakit hati.

"Sepertinya Kiba mempunyai masalah yang lebih besar dari Hinata," kata Sasuke. Ia bangkit berdiri dan menarik Hinata bersamanya.

"Hey, Shino, kau sedang memberi makan Tula?" Naruto bertanya sembari melangkah menghampiri Shino.

"Seharusnya, tapi kurasa Tula kabur," jawab Shino sambil menatap lekat lubang besar di sisi kanan kandang Tula.

Hening menyelimuti beberapa saat sebelum teriakan histeris dari Kiba menggema ke seluruh ruangan. Ia berlari ke arah Hinata yang shock, menggendongnya, dan segera membawanya keluar apartemen. Sasuke dan Naruto segera menyusul. Mereka menutup pintu—meninggalkan Shino sendirian di dalam.

Di luar, Kiba meraba seluruh tubuh Hinata. Memeriksa setiap helai rambutnya, dan menyuruh Hinata mengecek lebih lanjut sementara ia mengecek diri sendiri. Sasuke dan Naruto mengikuti langkah Kiba mengecek diri sendiri. Setelah memastikan dirinya aman, Kiba berbalik pada Hinata, memegang pundaknya dan berkata, "Hinata, ini masalah hidup dan mati." Kiba meneguk ludah, "Jika aku mati hari ini, atau kami semua mati hari ini, aku mau kau bertahan. Aku mau kau tetap kuat dan tidak pernah menyerah."

Naruto mengangguk sedih, sedangkan Sasuke hanya menatap bingung. Kiba melanjutkan, "Ingat, kau tidak boleh lemah. Kau harus sabar menghadapinya meski dia punya banyak kebutuhan yang harus dipenuhi." Kiba menutup pidatonya dengan tangisan pilu sambil memeluk Hinata erat.

Naruto mengerutkan dahi. "Siapa dia?"

"Akamaru," jawab Kiba di sela-sela tangisnya.

Sasuke memutar bola mata. "Cepat, kita harus membantu Shino mencari Tula," katanya sambil melepas paksa Kiba dari Hinata.

Mereka berdua segera masuk dan Naruto menyusul paling terakhir. Namun tidak sampai dua detik, Naruto menyembulkan kepalanya dari dalam. "Kau ada perlu, Gaara?"

Hinata tersentak, lalu berbalik. Napasnya tertahan melihat Gaara yang berdiri tepat di belakangnya. Ia segera mundur, mendekat pada Naruto di samping pintu.

"Aku hanya ingin bicara pada Hinata," jawab Gaara pelan, sangat pelan seolah suaranya dapat menyebabkan gempa bumi.

Well, gempa itu sudah terjadi dalam diri Hinata.

Hinata menatap Naruto putus asa, yang, secara tidak langsung memberitahu Naruto agar ia tidak ditinggal sendiri. Namun Naruto mengartikan tatapan tersebut sebagai permohonan Hinata agar segera ditinggal berdua. Ia menatap Gaara, lalu kembali pada Hinata, dan kembali lagi pada Gaara. "Jangan culik dia," ujarnya tegas lalu menutup pintu.

"Jangan—" Hinata memukul-mukul pintu dengan salah satu tangannya, sedangkan tangan lainnya berusaha memutar kenop pintu. Hasilnya nihil; pintu terkunci dari dalam. Hinata memejamkan mata sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia mengatur napas sebelum berbalik menghadap Gaara. "Hai," cicitnya.

Gaara menggaruk belakang kepalanya dengan sebelah tangan sementara tangan lainnya menjulurkan sebuket bunga tulip putih yang berarti permintaan maaf. Matanya menatap lantai, namun secara perlahan naik untuk melihat reaksi Hinata.

Hinata terdiam, bingung harus bersikap bagaimana. Ia berpikir untuk berpura-pura tidak melihat Gaara, kemudian berjalan menjauh seolah-olah Gaara hanyalah sebuah patung tak berguna yang baru diantar ke apartemennya. Tapi ia lalu meringis dalam hati. Bukankah dia sudah mengucapkan "hai"?

Bodoh, bodoh, bodoh, gerutu Hinata dalam hati.

"Kau tidak akan menerima bunganya?" tanya Gaara pelan.

Hinata tersentak dari pikirannya. Ia mengambil buket bunga tersebut tanpa mengucapkan apa-apa. Ia memerhatikan Gaara diam-diam; kakinya bergoyang gugup, dan ia tidak berhenti menyisir rambutnya ke belakang. Hinata menahan senyumnya.

"Jadi...," Gaara memulai, "apa yang terjadi di dalam?"

"Tu—" Hinata berdeham, "Tula kabur."

Gaara mengangguk-angguk. "Aku ingin membicarakan sesuatu."

Hinata meremas pelan buket bunganya dan menggigit pipi dalamnya. "Tentang apa?"

Gaara terdiam sesaat. Ia menatap Hinata tepat di mata lalu menjawab ragu, "Kita?"

Tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam. Hinata mengalihkan pandangannya dari Gaara dan hanya menatap pintu sesaat. Ia lalu mengetuk perlahan, dan dibuka tak lama kemudian oleh Naruto. "Ada apa?" tanya Hinata pelan.

Naruto menoleh ke belakang sebelum kembali menatap Hinata. "Kiba membunuh Tula," katanya, "lagi."

.

Pemakaman tarantula kedua Shino lebih ramai dari sebelumnya. Gaara yang kebetulan di sana terpaksa ikut karena pembicaraannya dengan Hinata belum selesai. Suasana pemakaman semakin mencekam ketika hujan turun dan petir menggelegar di mana-mana. Semuanya berdiri mengelilingi sebuah kuburan kecil sehingga mengharuskan mereka saling berdempetan.

Shino berlutut, memegang nisan bertuliskan "Tula" dengan erat. Naruto yang berdiri di antara Kiba dan Hinata berbisik kecil, "Bagaimana Shino bisa mengukir nisan dalam waktu singkat?"

Hinata mengendikkan bahu, sedangkan Kiba berspekulasi, "Kurasa dia sudah menyiapkannya sejak lama."

Naruto mengerutkan dahi. "Itu mengerikan."

Kiba mengangguk-angguk. "Kau tidak tahu nisan siapa saja yang sudah dia ukir."

Naruto diam, merasa bulu-bulunya merinding dan ludahnya tersangkut di leher. Kiba diam-diam tertawa kecil, sedangkan Hinata hanya menahan senyum. Well, sepertinya dia mulai tertular kejahilan Kiba.

"Hinata," panggil Gaara pelan.

Tangan Hinata saling meremas mendengar Gaara memanggil namanya. Ia menoleh sedikit sambil menjawab, "Ya?"

"Kau ikut ke apartemen?"

"Tidak," teriak Kiba sambil berbisik.

Gaara memberikan death glare yang dibalas Kiba dengan tatapan sinis. Ia kembali pada Hinata. "Pembicaraan kita belum selesai," katanya.

"T-tidak," jawab Hinata.

Kiba menjulurkan lidahnya pada Gaara lalu meyeringai. Gaara memejamkan matanya sesaat sebelum membukanya kembali dan menatap Hinata. "Please?"

Hinata menggigit bibir. Ia tidak tahu apakah ini permulaan yang baru atau akhir dari segalanya. Hatinya ingin semuanya kembali seperti semula, tapi pikirannya menolak. Mungkin memang lebih baik jika mereka membicarakannya dan menyelesaikan semuanya malam ini. Hinata melirik Sasuke, meminta persetujuannya. Sasuke menghela napas lalu mengangguk singkat. Hinata membalas anggukannya, kemudian kembali pada Gaara, "Baiklah."

.

Hinata tak menyangka ia akan kembali ke apartemen bersama Gaara di sisinya. Ia tidak pernah lagi kembali sejak Kiba memaksanya pindah beberapa hari yang lalu. Semua barang-barang—termasuk pakaiannya sudah dipindahkan secara perlahan ke apartemen Kiba, dan selama proses pemindahan tersebut, Hinata juga melihat pakaian Gaara yang semakin berkurang.

Mereka berdua masuk, melangkah dengan canggung dan masing-masing melempar lirikan. Hanya cahaya dari jendela besar yang menerangi ruangan. Tak satu pun dari mereka yang mengambil inisiatif menyalakan lampu. Gaara duduk di sofa empuk, sedangkan Hinata tetap berdiri. "Kau tidak duduk?"

Hinata menggeleng. "Tidak perlu."

Gaara mengusap-usap pahanya dengan gugup lalu kembali berdiri, "Aku akan mengambil minuman."

Ia melangkah, namun segera dihentikan Hinata, "Gaara, apartemen ini sudah kosong."

Gaara menunduk, lalu melangkah kembali ke sofa empuk. Ia hanya berdiri diam menatap Hinata tanpa tanda-tanda akan duduk. "Kita akan bicara seperti ini?"

Hinata mengangguk singkat. "Ya."

Gaara menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Aku ingin membicarakan Yuta," katanya, matanya menatap Hinata seolah meminta persetujuan.

Hinata membalas tatapan Gaara dengan mata berkilat kecewa. "Baiklah."

Gaara mengangguk singkat. "Aku..." ia memulai, "aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku tidak tahu alasan aku kembali padanya. Dia seperti mempunyai gravitasi yang besar terhadapku, dan aku tidak bisa menolak hal itu.

"Tapi aku masih sering memikirkanmu. Entah mengapa aku lebih sering melihat wajahmu dari pada Yuta. Dan terkadang aku merasa sepi meski ada Yuta bersamaku. Semuanya terasa beda, aku merasa kurang."

Hinata menggigit bibir bawahnya. Apakah ini berarti Gaara masih mencintainya? Apa ini berarti mereka akan kembali bersama? Hinata sempat menaikkan harapannya, namun kata-kata Sasuke terngiang di kepalanya; "Jangan mudah merasa kasihan, Hinata. Gaara tidak sebaik yang kau kira. Kalau kau ingin dia berubah, kau harus memberinya pelajaran yang akan dia sesali seumur hidup."

Hinata menahan napasnya memikirkan kata-kata Sasuke. Apa semua yang baru saja dikatakan Gaara hanya perasaan sementara? Ia harus mengambil keputusan saat ini juga; menerima atau melepas. Hinata ingin menerima kembali keberadaan Gaara dalam hidupnya, namun ia tidak tahu apakah semuanya akan kembali sama seperti sebelum Yuta datang. Ia ingin melepas, namun takut itu adalah keputusan yang akan ia sesali seumur hidup.

Di saat-saat seperti ini, Hinata berharap Sasuke ada di sampingnya untuk memberi jawaban yang tepat. Ia harus berpikir logis dan egois; ia harus berpikir seperti Sasuke. Jika ia menerima Gaara kembali, mungkin ia tidak akan menyesal, tapi hubungan itu akan selalu menyimpan kepahitan dari masa lalu. Hubungan itu akan berubah tawar dan Hinata cukup yakin ia tidak akan bisa benar-benar merasa bahagia. Jika ia akhirnya melepas Gaara, mungkin ia akan menyesal, tapi pada akhirnya ia terbebas dari rasa pahit. Ia bisa memulai hubungan baru yang, meski sulit, namun memberikan Hinata kesempatan baru untuk merasa bahagia.

Well, Hinata sudah menemukan jawabannya, dan ia menjadi sangat gugup mengetahui hal itu. Ia mempersiapkan diri, lalu berkata, "Aku tidak bisa—bukan, aku tidak mau. Aku tidak mau lagi bersamamu," ujarnya tegas setengah bergetar.

Mata Gaara melebar beberapa saat, menunjukkan keterkejutannya atas jawaban Hinata. "Kenapa?"

"Karena aku tidak pantas mendapatkan orang sepertimu."

Gaara diam sesaat sebelum menjambak rambutnya lalu kembali menatap Hinata putus asa. "Aku bisa berubah, aku berjanji."

Hinata menggigit bibirnya kuat-kuat sambil menatap Gaara dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik napas sebelum berkata, "Sasuke bilang kau—"

"Sasuke bilang?" potong Gaara cepat dengan suara berat dan dalam. Matanya berubah tajam dan kedua tangannya mengepal kuat. "Sasuke bilang?!"

Hinata mundur beberapa langkah, merasa terancam dengan aura Gaara yang sarat kebencian. Ia cukup yakin kebencian itu bukan diarahkan padanya, yang mengundangnya untuk bertanya, "Kau membenci Sasuke?"

Gaara menyeringai. "Sepenuh hatiku, Hinata."

Setelah Gaara mengatakan itu, Hinata melihat segalanya dengan jelas. Sasuke mungkin sudah menyadari hal ini dan memperingatkan Hinata sebelumnya agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Gaara menginginkan dirinya kembali kemungkinan besar karena dipicu oleh rasa cemburu yang ia alami saat melihat dirinya dan Sasuke bersama. Gaara bersikap egois, maka Hinata juga.

Ia berdiri tegak, lalu berkata dengan tegas, "Kita cerai."

Mata Gaara sekali lagi membelalak, namun segera berubah menjadi tatapan marah dan penuh benci. "Jadi kau lebih memilih Sasuke dari pada aku? Apa Sasuke sudah mencuci otakmu? Apa dia sudah pernah tidur denganmu? Dia lebih memuaskanmu dari padaku?!"

Plak

"Jaga mulutmu, Sabaku!" bentak Hinata. Napasnya tersengal—mungkin bentakan serta tamparan pertama yang pernah ia lakukan. Matanya menatap marah pada Gaara yang kini tenggelam dalam pikirannya. "Kau yang memilih Yuta, jadi kau yang memilih jalan ini. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi, dan aku mengharapkan hal yang sama darimu," ujarnya lalu beranjak menuju kamar.

Ia sedang membuka-buka laci lemari untuk mencari surat cerai yang disimpan Sasuke ketika Gaara berteriak dari ruang depan, "Oh, ya? Jadi semuanya salahku? Oke! Aku terima itu, Hyuga. Dan aku senang kau memutuskan untuk berpisah dariku karena selama ini kau hanya membebani diriku. Kau hanya beban! Kau dengar itu, Hyuuga?! Beban yang sangat menyusahkan!"

Hinata menghapus kasar air matanya lalu membanting laci lemari setelah mendapatkan surat cerai yang ia inginkan. Ia berjalan keluar kamar dan berhenti tepat di hadapan Gaara sambil mengangkat surat tersebut di samping wajahnya. "Kita selesaikan malam ini, Sabaku," ujar Hinata bergetar namun penuh tekad.

Gaara menatap Hinata dan surat cerai tersebut bergantian. Ragu sempat terpancar dari matanya, tapi segera hilang di detik berikutnya. "Fine," balasnya. Ia mengambil surat tersebut dari tangan Hinata dengan kasar lalu melangkah menuju meja kerjanya untuk mengambil pulpen. Setelah menandatanganinya, ia meletakkan pulpen tersebut dengan sekuat tenaga sehingga menimbulkan sedikit retakan di meja kerjanya yang dilapisi kaca. Ia mengambil kunci mobilnya di meja depan sofa empuk lalu berjalan menuju pintu lift. Setelah menekan tombol, ia berbalik ke arah Hinata yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kuharap barang-barangmu tidak ada lagi di sini, Hyuga, karena aku dan Yuta akan segera pindah ke sini."

Lift berdenting, Gaara segera melangkah masuk, menekan tombol ke basemen lalu memaku tatapannya pada Hinata yang juga menatapnya. Hinata menangis dalam diam, dan tepat sebelum lift tertutup, air mata Gaara turun melewati pipinya.

TBC

.

Setahun yang lalu ada yang request fic rate M di saya, dan pas mandi, adegan GaaHina ketemu pertama kalinya di chap 1 muncul di kepala saya. Waktu itu saya masih bingung mau nulis rate M gimana, soalnya saat membaca dan menulis itu beda banget. Pas baca fic saya emang suka yang ekplisit, tapi saat nulis saya lebih prefer ke implisit, walau adegan di atas gak terlalu implisit.

Biasanya saya nulis cerita itu tanpa arah, belum tahu gimana akhirnya, konflik apa yang muncul, saya gak tahu. Saya hanya ikut sama alurnya aja. Tapi TB adalah fic pertama yang saya buat kerangkanya dari awal sampai akhir. Saya udah netapin chap ini gimana, chap itu gimana, jadi semuanya udah teratur.

Tapi ternyata gak semudah itu nulisnya. Saya punya ide-ide baru yang pengen saya masukkin ke dalam TB. Jadilah filler seperti pada New Beginning dan Another Screts. Bedanya, Another Secrets itu filler yang terpaksa saya tulis. Saya akui pas baca chap itu mood saya turun banget dan saya sempat berpikiran untuk berhenti nulis TB.

Selama rentang waktu sebelum update New Student, saya banyak baca cerita di wattpad, salah satunya The Bad Boy In Glasses oleh mikaelanay (recommended banget!) dan di situ saya tertarik sama authornya. Jadi saya baca profilnya, dan di situ dia ada kasih words of wisdom for writers:Just write what you want to read, it'll make you happy.

Saya bener-bener tergerak waktu itu, saya tiba-tiba sadar bahwa apa yang selama ini saya tulis itu hanya sebatas kebutuhan cerita. Di situ saya mulai dapat feel buat nulis TB lagi. Saya sebenarnya buntu di New Student karena gak tahu mau nulis apa. Saya bukan penulis yang udah pro jadi bisa improvisasi di sana-sini. Saya masih belajar, bahkan kebanyakan cerita yang saya baca di wattpad itu tentang tips-tips kepenulisan (hihihi).

Tapi thanks buat mikaelanay, sekarang improvisasi bagi saya itu mudah banget. Dan karena pikiran saya bercabang-cabang, gak bisa fokus pada satu cerita saja, saya memutuskan untuk membuat cerita lain di luar karakter Naruto untuk nyalurin ide-ide yang numpuk di otak saya.

Sebenarnya saya malas nulis A/N sepanjang ini, tapi saya rasa kalian perlu tahu kebenarannya (eaa). Ide-ide TB lagi ngalir kenceng sekarang dan seharusnya udah bisa selesai bulan lalu kalau aja mama saya gak manggil-manggil terus minta bantuan wkwkwk. Kalo ada yang masih ingat Russia, well, saya belum tahu endingnya gimana jadi yaaa saya belum mau update.

Setelah chap ini, masih ada 3 chap dari TB, jadi total 13 chapter. Pas nulis chap kedua saya juga udah nulis tentang masa lalu Gaara yang di chap kemarin. Jadi kalo ada yang beda-beda dikit maklumin aja, ya? Nanti saya edit setelah TB selesai hehehe :D

Special thanks to:

Me Yuki Hina, Green Oshu, Lisna Wati716, yuunhi, heoalienjoong, icaraissa11, ayanara47, AsaHinaUchiHaruno, NamikazeRael, Ashura Darkname, Lyvero, HHS Hyuuga L, YoungLavender, Ayra901, Ozel-Hime, hinataholic, dec chan, by hinata centric, Ria missouri, si peak, anishl, Guest, Guest, Guest, Guest (oke, saya gak tahu kalian orang yang sama apa enggak xD), maplemalfoy, Chintya Lie (thanks banget buat pemberitahuannya, nanti bakal saya edit kalo TB udah selesai :D), Sabaku rennee, KimRyeona19, dan silent readers

Review again, will ya? Danke!