A/N : Ya Ampun, saya gak nyangka bakal ada yang baca, fav, dan follow fic ini :") Thank you guys, kalian bikin saya semangat xx saya akan kasih yang so sweet (re: mungkin agak nista) chapter depan. Dan serius, saya berterima kasih buat reader/reviewer serta untuk Terror Bird dan Fujimaki Hirano yang sudah mau meng-follow, dan fav cerita khayalan tingkat tinggi ini.

WolfShad'z xx

.

.

Disclaimer : Bukan punya saya. Kalau punya saya kapal ini sudah canon. /heh

Title : The Knight of the Night

Rating : T saja lah, untuk bahasanya.

Summary : Jika cinta itu buta, maka tidak salah bukan jika Optimus Prime dan Mikaela Barnes saling mencintai? Optimus akan melakukan apapun untuk melindungi Mikaela-nya karena beda species bukan berarti mereka harus berpisah. #MakeThemHappy

Setting : 2 tahun Setelah Transformer Dark of the Moon, beberapa tahun sebelum Transfomer: Age of Extinction.

Warning : tata bahasa kacau, OOC, dan mungkin banyak sekali tipo yang kurang berkenan.

Sinar matahari pagi bersinar menerobos kaca depan truk Optimus yang kali ini sudah berada masih terbaring di kursi kemudi, langsung membuka matanya begitu merasakan silaunya sinar matahari menjilati wajah cantiknya. Ia tidak begitu mengingat betul apa yang telah terjadi semalam kecuali kedatangan orang-orang dari Cemetery Wind yang berusaha membunuhnya, lalu mobilnya terjerembab di jurang untuk menghindari tabrakan maut dengan truk tua jelek.

Ia hampir tidak mengingat seluruh kejadian semalam. Tapi, ia ingat betul jika terakhir kali ia sadar, dirinya berada didalam mobilnya, menunggu datangnya tabrakan antara moncong mobilnya dan dasar jurang. Atau mungkin, memang kepalanya terlalu pusing untuk mengingat-ingat semuanya.

Yang menurutnya paling aneh adalah, ia tidak bersama siapapun, tetapi truk ini berjalan dengan sendirinya. Ia juga melihat lambang aneh di bagian tengah kemudi yang sudah hampir berkarat. Ia tidak asing dengan lambang itu, karena memang terlihat sangat familiar. Ini pastinya hanyalah khayalan Mikaela belaka.

Kecuali..

"Oh my God! Ini benar-benar terjadi?" Ia menyentak dirinya sendiri.

"Mikaela Banes, kau sudah sadar?" Ia mendengar truk itu berbicara melalui radio.

Nafas Mikaela tertahan. Itu terjadi, semuanya nyata. Dan kini ia berada didalam Optimus Prime yang sedang dalam mode truk. "Op-Optimus? Optimus Prime?" Mikaela akhirnya nekat memastikan jika ini adalah Optimus.

"Ya, aku Optimus Prime." Optimus menjawab, Mikaela bisa mendengar suara khas robot menggema.

"Astaga! Aku pasti sudah mati, kan?" Mikaela menanyakan pertanyaan bodoh.

"Tidak, Mikaela. Tanda-tanda vitalmu sudah mulai kembali normal, jadi kau masih hidup," jawab sang robot alfa. "Bagaimana perasaanmu?"

Apa Mikaela baik-baik saja? Tentu saja tidak!

Pertama, ia masih dalam tugas lembur untuk menyelesaikan mobil Ford milik orang Michigan. Kedua, ada sekelompok orang yang datang untuk mencari informasi tentang Optimus Prime kepadanya. Ketiga, ia hampir mati tertembak. Keempat, ia meninggalkan bengkel dalam kondisi terbuka. Kelima, ia ditembaki dengan peluru tajam. Keenam, ia hampir mati terjun bebas di jurang. Ketujuh, ia bangun disebuah truk yang mengemudi sendiri. Kedelapan, ia tidak tahu ini sebuah mukjizat atau kutukan.

Ia senang bertemu dengan Optimus lagi setelah sekian lama. Jika ia bisa, ia akan memeluknya dengan erat. Tapi apa daya, itu adalah hal yang agak sulit dilakukan. Terlalu banyak hal yang menghalangi cinta mereka. Mikaela bahkan hanya setinggi mata kaki Optimus.

Lantas apa Mikaela peduli dengan itu semua?

Jawabannya adalah, fuck it. Mikaela mencintai Optimus Prime, seperti layaknya seorang kekasih.

Fuck it.

Mikaela tidak peduli apa kata orang. Karena orang tidak mengerti apa yang dirasakan oleh Mikaela terhadap robot alien ini. Cinta akan selalu menang, ha!

"Er, entahlah. Sedikit pening," ia menjawab sambil menggelengkan kepalanya.

"Recharge—tidurlah. Kau akan baik-baik saja," perintahnya.

"Tidak, aku sudah merasa lebih baik," Mikaela berkata. Ia menarik nafas lagi sebelum akhirnya berkata, "Jadi, bagaimana bisa kau menemukanku?" Mikaela bertanya, sedikit penasaran bagaimana Optimus bisa menemukannya. Ia sudah bertahun-tahun tidak berhubungan dengan para Autobot, dan sekarang Optimus muncul didepan matanya.

Apakah Mikaela senang? Tentu saja Mikaela merasa senang lebih dari apapun. Kejadian yang hampir membunuhnya malah membuatnya bertemu dengan robot yang ia cintai. Ditambah, sekarang hanya berdua dengannya, tanpa Autobot ataupun Sam. Hanya Mikaela dan Optimus.

Optimus tidak menjawab—masih belum menjawab. Ia hanya memutar rodanya kekiri, menuju ketempat yang agak bebas dari penduduk ataupun jauh dari pemukiman. Akan sangat beresiko jika sampai ada yang melihat mereka dan melapor ke Cemetery Wind. Karena, keadaan Optimus saat ini dapat dikatakan sedang dalam tidak baik untuk bertempur. Untuk berjalan dimode truk saja rasanya begitu sulit, ia terluka parah akibat jebakan-jebakan dari manusia-manusia yang tidak tahu terima kasih itu.

"Optimus," Mikaela memanggilnya lagi. kali ini terdengar seperti Mikaela ingin mengatakan sesuatu.

"Ya?" Ia menjawab singkat melalui radionya. Suara khas mesin yang dalam dan berat menggema didalam.

"Aku senang sekali bertemu denganmu lagi, walaupun dengan cara yang.. Well, mengerikan," ujarnya setengah berbisik. Mikaela tersenyum, menyentuh setir itu dengan tangannya—memberikan sentuhan lembut. Optimus bisa merasakan suhu hangat yang keluar dari Mikaela di dalam dirinya. "Aku merindukanmu, Optimus Prime," Bisik Mikaela lagi.

Jujur saja, Optimus sedikit terkejut mendengar perkataan Mikaela. Yah, bisa dikatakan ia sedikit banyak juga memendam perasaan yang sama terhadap gadis penggemar berat otomotif ini. Sentuhan hangat dari Mikaela, mengalir melalui logam-logam yang bisa menghantarkan panas. Kabel-kabel—Otot Optimus terasa aneh, seperti gemetar namun sedikit sulit untuk dideskripsikan dalam bahasa manusia. Meskipun dalam bentuk truk, Optimus tidak bisa untuk tidak tersenyum.

Ada alasan kenapa Optimus mencari Mikaela Banes.

Setelah berkelana selama beberapa puluh menit, Optimus berhenti didepan sebuah gudang tua kosong. Mikaela mengerti apa artinya, jadi ia langsung turun dari truk. Ia melihat kearah sekitar, merasa tidak asing dengan tempat ini. Ia melihat sebuah gudang besar tua berwarna merah kusam, dengan pintu kayu yang di kunci dengan gembok besar. Diatasnya terdapat cerobong asap, dan genting yang nampak sudah tidak pernah diganti sejak puluhan tahun lalu. Tidak ada pemukiman ataupun kendaraan yang melintas—tempat yang sempurna untuk bersembunyi.

Jika ia tidak salah ingat, pasti ini adalah tempat saat dimana ayahnya mengajaknya berjalan-jalan saat akhir pekan ketika ia masih kecil dulu. Tempat ini masih terlihat sama, kecuali cat yang semakin memudar dan kayu yang lapuk termakan jaman. Mikaela penasaran, kenapa Optimus berhenti.

Mikaela berbalik, memandang Optimus yang sedang bertransformasi. Ia melihat sebuah live action keren dimana Optimus bertransformasi dari sebuah truk menjadi robot raksasa. Tatkala ia melihat Optimus terlihat begitu buruk. Awalnya, Mikaela hanya berpikir jika Optimus menyamar sebagai truk tua jelek untuk mengelabuhi Cemetery Wind. Tetapi, setelah melihat Optimus kembali ke wujud aslinya, ia menjadi tahu jika itu bukanlah penyamaran. Melainkan, Optimus benar-benar sedang terluka parah.

Optimus mencoba berdiri, tetapi ia malah oling—kesulitan menyangga berat tubuhnya. Kaca yang berada didadanya retak, satunya menghilang. Bagian tabung perut terdapat sebuah mortir yang sudah tidak aktif, nampaknya itu baru saja bersarang beberapa hari yang lalu. Dan helm nya, dibagian kanan berlubang, menunjukkan prosesor—otak berwarna biru. Terdapat cairan aneh yang keluar beberapa kali disana, Mikaela menduga itu adalah darah. Lalu dibagian pelat wajahnya, sobek tepat dibawah optik nya, hingga mesin didalamnya terlihat. Saat ia mencoba berdiri, ia malah terbatuk hingga beberapa bagian tubuhnya terlempar.

"Astaga, Optimus! Apa yang terjadi padamu?" Mikaela berteriak kaget, ia berlari mendekat kearah Optimus tanpa mempedulikan logam-logam yang terlempar itu bisa saja mengenainya.

"Jebakan yang dipasang manusia," Ia menjawab, menyangga tubuhnya dengan tangan kanannya. Sekepulan uap keluar dari hidungnya, membuat dirinya seperti banteng.

"Jebakan manusia? Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa mereka memasang jebakan?"

Mikaela memandang optik Optimus yang nampak marah. Mikaela paham betul bagaimana rasanya membela sesuatu, tetapi sesuatu itu malah balik melawannya. Dan kalian percayalah, itu bukanlah perasaan yang menyenangkan. Itu adalah perasaan yang paling menyakitkan daripada yang menyakitkan.

"Mereka memburu kami, seperti hewan buruan. Memasang jebakan untuk menangkap kami semua," jawab Optimus. Nadanya meninggi, namun lebih ditahan.

"Tunggu dulu, manusia memburumu, lalu semalam ada yang memburuku untuk mencari keberadaanmu. Apa itu berarti ada yang tidak suka dengan keberadaanmu?" Ia bertanya, otaknya menyambungkan kejadian-kejadian beruntun.

"Setelah apa yang kami lakukan, mereka memburu kami!" Optimus mengerang marah, ia meninju tanah yang ia injak hingga menimbulkan lubang besar. "Aku harus tahu kenapa!" Ia mengerang lebih marah lagi, menghancurkan tiang lampu yang ada didepannya secara brutal, seperti manusia menghancurkan tanaman pengganggu.

Mikaela langsung menunduk, kali ini khawatir jika kemarahan Optimus akan semakin menjadi-jadi. Jujur, saat ia marah terlihat sangat mengerikan. Selain sebagai robot yang ia cintai, dimata Mikaela, Optimus adalah sosok pemimpin yang patut diikuti. Ia memiliki jiwa kepemimpinan dengan mengesampingkan ia seorang Prime. Mikaela mungkin tidak mengenal sosok Orion Pax, sosok sebelum Optimus Prime. Tapi ia sembilan puluh sembilan persen yakin jika Orion pastilah juga sosok yang baik, yang akan melakukan apapun yang harus ia lakukan demi sesuatu yang ia percayai.

Yah, wajar saja ia marah. Sangat wajar, dan Mikaela amat bisa memahami itu. "Okay, okay. Tenang, Optimus, tenang." Mikaela mencoba menenangkan kemarahan Optimus.

"Bagaimana aku bisa tenang, mereka memburu kami. Mereka menghancurkan sistemku, dan aku tidak tahu bagaimana nasib para Autobot yang lain," Optimus mengerang lebih marah lagi. Mikaela terduduk melihat kemarahan Optimus yang begitu mengerikan. "AKU HARUS TAHU ALASANNYA!"

Mikaela berdiri, ia berjalan mendekat kearah Optimus, meskipun agak gemetaran. Kemarahan Optimus lebih mengerikan daripada Megatron. Jika diibaratkan, kemarahan Optimus seperti marahnya seekor serigala. Mereka—serigala terlihat tenang, tetapi jika mereka sedang marah, mereka tidak segan-segan mencabik-cabik apapun yang ada disekitar mereka. Tak peduli siapa dan apapun yang ada disamping mereka.

Mikaela semakin dekat dengan Optimus yang marah. Ia tahu jika ia bisa dengan mudahnya terlindas oleh robot alfa itu, tapi harus ada yang menenangkan kemarahan Optimus. "Optimus, dengarkan aku! Kau harus tenang, kau tidak akan menyelesaikan masalah dengan kemarahan. Tarik nafas, dan hembuskan, lalu tenangkan dirimu," ujarnya. Ia memperagakan gerakannya, dan melihat Optimus mengikutinya, walaupun ia memalingkan wajahnya dari Mikaela.

"Kau sudah tenang, sekarang?"

Optimus menghembuskan nafas besar, lagi-lagi sampai keluar uap dari hidungnya. Ia memejamkan matanya, lalu duduk ditanah yang injak. Ia tidak berani memandang Mikaela yang sejak tadi mencari kontak mata dengannya. "Aku minta maaf. Karenaku, orang-orang itu ikut memburumu," ia berkata, nadanya lemah tetapi terdengar tetap serius. Ia melemparkan pandangan penuh penyesalan kepada Mikaela, ekspresi marahnya masih ada tetapi didominasi oleh penyesalan.

"Optimus, kau pikir aku akan membiarkan mereka memburumu, dan mendapatkan informasi mengenaimu dariku dengan mudahnya?" Mikaela berkata, ia menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. "Setelah apa yang kau lakukan untuk kami semua, apa kau benar-benar berpikir aku akan menyerah terhadapmu begitu saja? Lebih baik aku mati, Optimus, daripada melihatmu mati." sahut Mikaela, nadanya tegas seakan memberi sebuah tamparan keras kepada Optimus.

"Kau bisa saja terbunuh," bantah Optimus. Suaranya agak meninggi, tetapi terlihat tertahan. "Kau tidak harus terlibat lagi." Ia menyambungnya, kali ini suaranya bergetar, masih tertahan.

Mikaela duduk disebelah Optimus. Ia melihat buku-buku jari Optimus yang terbuat dari logam mengalami beberapa goresan yang cukup parah. Mikaela meletakkan tangannya diatas tangan logam itu, lalu mendongak dengan senyuman diwajahnya. "Tapi kau datang, Optimus. Kau adalah penyelamatku," suaranya begitu dalam, hingga Optimus mau tidak mau harus memandangnya. Ia melihat sebuah senyuman diwajah Mikaela, senyuman yang ia rindukan.

Satu hal yang ada dipikiran Mikaela adalah, ia tidak tahu kenapa dan bagaimana Optimus bisa menemukannya. Tidak logis jika jawabannya adalah 'aku kebetulan melintas.' Karena tidak ada sesuatu yang merupakan kebetulan di dunia ini. Benar, kan?

Optik birunya menangkap seorang wanita muda yang cantik sedang tersenyum kepadanya. Senyumnya begitu tulus, ia bisa merasakannya dari getaran yang keluar dari tubuh Mikaela. "Terima kasih, Optimus."

Optimus tersenyum, merasa senang masih ada manusia yang menghargainya. Ia merasakan spark-nya menghangat, bersinar lebih terang dari dalam dadanya. Jika ia bisa, ia akan menggenggam balik tangan Mikaela seperti yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih. Tapi ia tahu jika ada perbedaan yang menonjol diantara mereka, walaupun perbedaan itu tidak benar-benar menghalangi perasaan Optimus terhadap Mikaela. Jadi, ia hanya membiarkan semuanya mengalir.

Optimus tiba-tiba teringat jika ia harus mencari teman-teman satu planetnya. Ia harus mencari mereka secepat yang bisa sebelum manusia menemukan mereka lebih dulu. Ia sudah mencoba menghubungi semua autobot, tetapi tidak bisa. Sistem pemancarnya rusak parah, jadi ia harus mencarinya secara manual. "Aku tidak bisa menemukan para Autobot. Mereka yang bisa memperbaikiku." Ia mencoba berdiri untuk berdiri dan bertransformasi, tetapi tidak bisa. Yang ada, ia malah oling hampir menimpa Mikaela yang tidak jauh darinya. "Aku harus mencari mereka," sambungnya.

"Optimus, aku bisa sedikit membantumu dengan itu," Mikaela berkata sambil mendongak, memandang wajah Optimus yang piringan logam wajahnya sobek, tepat dibawah optik biru yang bersinar itu.

"Tidak, aku harus mencari mereka, dan memastikan mereka baik-baik saja." Optimus masih keras kepala, mencoba bangkit dan bertransformasi, namun hasilnya gagal. Semakin ia bergerak, semakin banyak bagian tubuhnya yang terlempar keluar.

"Kau tidak akan bisa mencari mereka dengan kondisi seperti itu. Biarkan aku membantumu," teriak Mikaela. Ia mendekati Optimus lagi, menyentuh tangannya.

Optimus memandang Mikaela sebentar, lalu mendesah. Ia tidak punya pilihan lain selain menurut, keadaannya sangat buruk sekali. "Baiklah," ia menjawab pasrah. Ia akhirnya duduk pasrah, sementara senyuman Mikaela semakin melebar begitu mendengar Optimus menurut. Mikaela tahu dirinya terdengar seperti seorang ibu yang mengomeli anaknya, tapi siapa peduli? Selama Optimus bisa kembali ke kondisinya yang normal, ia akan melakukan apa saja.

"Good," ia berselebrasi ringan. "Aku akan mencari sesuatu didalam, aku bisa memperbaiki sebagian dulu sampai kau bisa bertransformasi lalu memperbaiki sisanya di bengkel," jelas Mikaela dengan senang. Dan ini jelas sebuah tembakan besar—memperbaiki Optimus Prime.

"Aku berhutang padamu," Optimus berkata, sambil mengangguk.

"Tidak, Optimus. Aku yang berhutang banyak hal padamu," jawabnya. Senyumnya semakin lebar lagi, dan Optimus merasa dirinya semakin jatuh kedalam pesona Mikaela. Ia adalah manusia tercantik yang pernah ia lihat sejak kedatangannya yang pertama di Bumi. Sejak saat itu pula,ia tetap menjaga pandangannya terhadap satu wanita saja.

Apakah itu cinta pada pandangan pertama? Well, tidak sepenuhnya benar. Pertama kali Optimus bertemu dengan Mikaela, ia hanya sebatas mengagumi kecerdasannya,dan pengetahuannya yang luas tentang otomotif. Lalu, lambat laun, tidak bisa dipungkiri jika perasaan yang awalnya hanya sebatas kagum biasa, menjadi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak ia diciptakan. Perasaan itu aneh, membuatnya merasa seperti manusia, namun juga alien robot pada saat yang bersamaan.

Optimus memandang Mikaela dengan senyuman tipis. Senyum pertamanya sejak dua tahun terakhir ini. Ia juga melihat Mikaela menghantam gembok yang mengunci pintu gudang setinggi empat meter itu dengan batu, sehingga gemboknya terbuka. Mikaela menarik selotnya, lalu membuka pintu hingga bagian dalam gudang terlihat. Lantas, hal ini membuat Optimus bergumam kepada dirinya sendiri, "dia manusia perempuan tertangguh yang pernah kulihat."

Dugaannya benar, tidak banyak peralatan yang bisa ia temukan disana, tapi setidaknya cukup untuk memasang dan merakit ulang beberapa bagian sampai Optimus bisa bertransformasi lagi. Atau, sebagai solusi terakhir, ia bisa menyuruh rekan satu bengkelnya untuk mengirim mobil derek. Jika ia bisa kembali ke bengkel, kemungkinan ia bisa memperbaiki Optimus sepenuhnya menjadi bertambah. Yang terpenting, ia bisa memperbaiki sistem komunikasi dan radiatornya, jadi Optimus bisa bergerak dan bertransformasi.

Mikaela mengambil semua yang diperlukan, namun sayang sekali ia tidak bisa menemukan bor listrik. Padahal, benda itu adalah yang paling diperlukan. "Jadi, Optimus, apa kau siap?" Ia menenteng peralatan-peralatan berat.

"Ayo kita selesaikan," jawabnya singkat, tanpa ekspresi.

Mikaela meletakkan peralatan-peralatan itu ditanah. Ia mengambil tang, dan korek api gas yang ia temukan didalam gudang. Tang, dan jepitan besar untuk mengambil peluru yang masuk kedalam helm Optimus. Lalu ia membawa obeng ukuran besar yang biasa digunakan untuk memperbaiki mesin-mesin besar, untuk memberbaiki mur-mur yang mengendur. Lalu korek mungkin sebagai alternatif lain untuk menyambungkan dua kabel—otot yang putus.

"Aku akan memperbaiki prosesormu dulu, kulihat disana—"

"Whoaaa..!" Mikaela berteriak begitu Optimus langsung mengangkatnya keatas bahunya. Ia kaget karena nampaknya Optimus terlalu bersemangat. ia mungkin tidak tahan dengan rasa sakitnya. "Easy, big guy," teriaknya, langsung terkekeh sendiri.

Mikaela mulai berdiri, ia mendongak kedalam isi helm Optimus. Ia melihat sebuah inti yang rumit, berwarna biru dengan serat optik yang saling terhubung satu sama lain. Mikaela menduga, ini pasti otak dari Optimus. Bentuknya berbeda dengan yang dimiliki manusia, tetapi struktur serat optik yang terhubung satu sama lain itu seperti jaringan didalam otak manusia.

"Oh, jadi begini isi kepala Optimus. Aku jadi penasaran bagaimana isi hatinya," ia membatin. Tertawa sendiri, lalu mengumpat. "Oh, you're an asshole, Mikaela," ucapnya kepada dirinya sendiri.

"Aku mendeteksi getaran tidak wajar darimu. Apa kau baik-baik saja?" Optimus mengganggu Mikaela hingga pikirannya yang aneh buyar. "Apa mungkin kau merasa terganggu dengan...isi kepalaku," sambungnya.

Mikaela terkekeh, mengusap wajahnya yang berkeringat. "Tidak, sama sekali tidak. Harus ku akui, jika kau terlihat buruk dengan kondisi ini, kau benar-benar harus memberikan pelajaran kepada mereka, Optimus." Mikaela berkata, seraya menarik peluru panjang yang bersarang.

"Aku bersumpah untuk tidak membunuh manusia, tetapi jika sampai mereka melakukan hal yang sama kepada teman-teman Autobot-ku, aku akan merobek-robek mereka," sahut Optimus. Ia menghantam tanah dengan tinjunya lagi, Mikaela hampir terjatuh.

"Tenang, Optimus. Jangan sampai aku salah tarik!" Mikaela memperingatkan, ia bergantung-gantung hampir terjatuh. Optimus menangkapnya, lalu meletakkan Mikaela kembali diatas bahunya. "Terima kasih," ujarnya dengan sarkasme.

Mikaela mengecek lagi bagian-bagian tubuh Optimus yang rusak dan terpisah. Ia tidak bisa memasangnya di sini karena kurangnya peralatan. Ia harus kembali ke bengkel, dan memperbaiki Optimus. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah hanya mencabut peluru dan kulit mortir yang bersarang ditubuh dan kepalanya. Untuk perbaikan selanjutnya, ia juga memerlukan beberapa perangkat seperti komponen-komponen untuk komputer, dan juga magnet yang besar.

Ia mungkin bisa memperbaiki empat puluh persen dari kerusakan Optimus, dan sisanya butuh peralatan yang lebih canggih dan sukar untuk didapat. Untuk itu, yang terpenting adalah bisa memperbaiki sistem pemancarnya, lalu para Autobot akan datang dan memperbaikinya seutuhnya.

Dua jam berlalu, dan Mikaela sudah memperbaiki sedikit bagian. Jika ia tidak salah perhitungan, Optimus mungkin belum bisa sepenuhnya bergerak normal, tetapi cukup untuk membuatnya bertransformasi dan kembali ke bengkel.

"Kita akan kembali ke bengkelku. Kau bisa bertransformasi?"

"Aku akan mencobanya," jawab Optimus. Ia bangkit, lalu bertransformasi ke mode truk tua jelek yang hampir ditabrak Mikaela semalam. Kali ini berhasil, walaupun nampak ada asap keluar dari beberapa bagian. Mikaela menyadari keadaan Optimus benar-benar parah, tapi ia bisa membuatnya tampak lebih baik jika ia berada dibengkelnya.

-oOOOo-

"Mikaela! Astaga, apa yang terjadi?" Suara bos-nya langsung terdengar dari jarak empat meter setelah ia turun dari truk. "Kupikir aku menyuruhmu tinggal dan memperbaiki Ford tua itu." Bos-nya terdengar marah.

Bengkel yang ia tinggalkan semalam masih dalam keadaan yang sama. Nampaknya Cemetery Wind terlalu sibuk mengejarnya hingga lupa tidak menghancurkan bengkel besar itu. Ini adalah satu hal yang patut di syukurkan, karena ia tidak harus mencari pekerjaan lainnya. Atau ini sebagai pelajaran bagi sang bos untuk tidak meninggalkan Mikaela sendiri.

"Maaf, bos. Tapi aku baru saja mendapat tembakan besar," jawabnya. Ia menunjuk truk Optimus yang ada dibelakangnya, tanpa berbalik. Optimus diam-diam menguping pembicaraan mereka. ia tidak paham arti tembakan besar yang dimaksud di Mikaela.

Jika yang dimaksud adalah bekas tembakan yang besar, Optimus paham.

Sang bos melihat kearah Optimus, wajahnya mengernyit. "Ew, itu truk yang jelek. Berapa bayaran yang ditawarkan?" Ia bertanya, antara sekadar ingin tahu dan sangat ingin tahu. Tangannya yang menggenggam pulpen hitam menunjuk-nunjuk Optimus.

Mikaela melirik Optimus, lalu menyeringai. "Lebih dari yang bisa diberikan uang," jawabnya. Dan itu adalah kejujuran, tentu saja. Uang tidak akan mempertemukannya denga Optimus Prime, dan uang tidak akan bisa menggantikan perasaannya kepada robot tertampan yang pernah ia lihat dalam hidup.

Sang bos tidak mengerti, ia hanya mengangkat bahu saja disertai alis yang terangkat. "Aku tidak paham apa yang kau bicarakan, tapi jika truk itu memang menjanjikan, sebaiknya mulai kau kerjakan sekarang." Ia memerintah, sambil menunjuk Mikaela dengan jari telunjuknya. Ia terlihat sedang menahan emosi, tidak terima karena membiarkan bengkelnya terbuka semalaman. Tapi, ia mungkin akan lebih marah jika mengetahui Mikaela adalah buronan Cemetery Wind, dan kali ini sedang membawa Optimus dibengkelnya.

"Demi Tuhan, aku baru saja pergi beberapa jam tapi tempat ini sudah seperti kapal pecah." Mikaela mendengar bos-nya bergumam, seraya berjalan masuk kedalam ruangannya.

"Hei, bos! Dimana pizza yang kau janjikan?" Mikaela berteriak.

"Di begasi mobil." Ia balik berteriak, lalu menghantamkan pintunya dengan keras. Mikaela hanya tertawa. "Sebaiknya kau berterima kasih aku masih membelikanmu pizza!" Pekiknya lagi.

Gadis berbaju biru itu kembali berjalan kearah Optimus, ia menyentuh moncong bumpernya dan berkata. Sentuhan itu bukan sentuhan biasa, namun memiliki makna tersendiri. Ia membayangkan sedang menyentuh wajah Optimus, dengan lembut. "Tetap di posisi ini. Aku akan menyelesaikan ini secepat yang kubisa," ujarnya.

"Aku mengerti," Ia menjawab melalui radionya. "Tapi, Mikaela, apa maksud dari tembakan besar yang kau bicarakan tadi?" Optimus bertanyya, sekadar memenuhi rasa ingin tahunya.

"Sesuatu yang berarti, Optimus," Mikaela menjawab sambil tersenyum. Ia menyandarkan dirinya di Optimus, seakan-akan berusaha memberikan pelukan. "Sesuatu yang sudah sepatutnya kuperjuangkan," sambungnya.

Optimus tidak bergeming, sesuai perintah Mikaela. Tetapi ia tersenyum. Sekarang ia punya banyak hal yang harus dikatakan kepada Mikaela-nya. Amat sangat banyak sekali.

TO BE CONTINUE...

.

.

.

.

A/N : Fiuuhh! Chapter ini cukup susah buat ditulis, dan saya mungkin gak akan update sampe tanggal 5 an karena mau keluar kota :( Tapi kalau misalkan saya dapet koneksi dan ada laptop, akan saya update kok.

As always, kesalahan selalu punya saya. Jika ada kritik/saran yang ingin disampaikan, monggo silakan. Tapi, alangkah baiknya jika disampaikan dengan bahasa yang baik karena review flame akan segera dihapus xx

With Love,

WolfShad'z, xx