A/N : Terima kasih buat yang udah follow/fav/read dan review. Ini updatenya, dan semoga suka chapter ini. xx
.
.
.
Disclaimer : Bukan punya saya. Kalau punya saya kapal ini sudah canon. /heh
Title : The Knight of the Night
Rating : T saja lah, untuk bahasanya.
Summary : Jika cinta itu buta, maka tidak salah bukan jika Optimus Prime dan Mikaela Barnes saling mencintai? Optimus akan melakukan apapun untuk melindungi Mikaela-nya karena beda species bukan berarti mereka harus berpisah. #MakeThemHappy
Setting : 2 tahun Setelah Transformer Dark of the Moon, beberapa tahun sebelum Transfomer: Age of Extinction.
Warning : tata bahasa kacau, OOC, dan mungkin banyak sekali tipo yang kurang berkenan.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
Siang dan malam Mikaela bekerja untuk memperbaiki Optimus. Ia tidak peduli berapa banyak uang dan tenaga yang ia habiskan untuk Optimus. Ia menikmati apa yang ia lakukan, bukan hanya karena ini adalah pekerjaan yang ia cintai, tetapi juga karena rasa cintanya kepada Optimus yang membuatnya terus bekerja keras.
Ketika petang mulai tiba, satu persatu rekan kerja Mikaela mulai bersiap untuk pulang. Mereka mengemasi baranh-barang yang mereka bawa, menyalakan mobil mereka masing-masing. Baru kemudian, mereka pergi kerumah masing-masing untuk; kencan dengan segelas kopi dan kue jahe yang hangat. Sesuatu yang paling ditunggu semua orang setelah pulang kerja, bukan?
Ia telah memberikan uang $100 kepada bos-nya sebagai bayaran agar ia tidak menggerutu. Selain itu, ia mendapatkan tawaran dari temannya untuk membantu, tetapi ia menolak karena masalah akan menjadi runyam jika sampai ada yang mengetahui jika truk yang ada dibengkel adalah Optimus Prime. Ia memilih untuk tidak menerima resiko apapun, bukannya tidak percaya dengan temannya. Hanya saja, bisa saja mereka diam-diam menghubungi Cemetery Wind untuk menangkap Optimus. Dan sudah pasti Mikaela tidak akan menerima resiko untuk kehilangan Optimus lagi.
"Mikaela, kau yakin tidak ingin ku bantu?" Seorang teman bertanya, namanya Jack.
Mikaela tersenyum, lalu menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku benar-benar menikmati ini," jawabnya dengan ramah. Ia menyibakkan rambutnya, lalu memeriksa komponen dibawah mesin utama.
"Kau benar-benar tidak mau berbagi kesenangan, ya?" Jack bertanya lagi, ikut senang melihat Mikaela yang begitu bersemangat.
Mikaela tidak menjawab, karena suara Jack tertutup oleh suara busi berukuran besar yang terjatuh disampingnya. Ia melihat lagi kedalam, ternyata ada banyak sisa-sisa mortir yang bersarang. Mikaela menjatuhkannya satu persatu, lalu akan menyembunyikan bekas mortir itu nanti sebelum ada yang melihat.
Matahari mulai terbenam diufuk barat, membuat langit San Diego terlihat kemerah-merahan. Awan-awan bergerak mengikuti arah angin yang bersamaan rotasi bumi. Suara lagu dari Linkin Park berjudul Leave Out All the Rest samar-samar terdengar dari pemutar musik milik Mikaela Banes. Ia sudah selesai menambal tanki gas Optimus, dan kini hanya tinggal beberapa bagian. Dan beberapa bagian itu tidak bisa ia selesaikan, mengingat ia butuh logam yang tidak dapat ditemukan di bumi. Logam-logam itu tidak ada disistem periodik, hanya Autobot yang bisamenyelesaikannya.
"Bos, aku akan tinggal malam ini." Suara Mikaela terdengar dari ruangan bos-nya, yang sedang menghitung uang-uangnya. Ia terlihat sedang berhati baik petang ini. Yah, siapa yang tidak senang saat mendapatkan uang melimpah dalam satu hari? Bos Mikaela seperti beradadiatas angin.
"Tidak. Terakhir kali kau tinggal, kau meninggalkan tempat ini terbuka tanpa penjagaan," bantah sang bos. Ia meletakkan uang-uangnya kedalam dompetnya.
Mikaela mengerang, mencoba mengelak dengan penjelasan selogis mungkin. "Errgh, aku bisa jelaskan itu," jawab Mikaela. Ia mencoba berpikir, mencari alasan yang tepat untuk ia gunakan. Ia jelas tidak bisa mengadu kepada bosnya mengenai Cemetery Wind.
"Hm?" Bos-nya mengangkat sebelah alisnya ragu. Ia meragukan apapun yang akan keluar dari mulut Mikaela.
Mikaela nampak berpikir lagi, menghindari kontak mata. Dibelakang, ia bisa merasakan Optimus tengah memandanginya. Sebuah alasan pun akhirnya muncul, "kau akan kehilangan tembakan besarmu jika kau tidak mengijinkanku tinggal, dan memperbaiki truk itu."
"Aku bisa menyuruh yang lain." Bos-nya terus membantah, masih meragukan Mikaela.
Mikaela mendesah. "Mesinnya rumit, percayalah. Aku bisa memperbaikinya untuk...mu," jawabnya. Ia terdengar sedikit terpaksa mengucapkan kata terakhir itu. Itu adalah sebuah kebohongan, ia tidak menyelesaikan truk itu untuk bos-nya. Melainkan, ia memperbaiki truk itu untuk dirinya sendiri, dan untuk cintanya yang tak terelakkan kepada Optimus, tentu saja.
"Jadi kau rela tidak mendapat uang lembur demi truk itu?"
Mikaela memutar kepalanya sedikit, melihat Optimus dengan ujung matanya yang indah. Ujung bibirnya tertarik, membentuk senyuman yang menawan. "Aku bersedia melakukan apapun untuk truk itu," jawabnya dengan pelan, namun dapat didengar oleh bos-nya. Tidak cukup keras untuk didengar oleh Optimus.
"Baiklah. Kau mungkin gadis paling gila yang pernah ku temui, young lady." Sang bos menjawab sambil berdiri. "Tapi dengan satu syarat."
"Apa saja," Mikaela langsung menyahut dengan semangat. Mikaela ingin meringis, namun ia menahannya hingga giginya putih terlihat jelas, bersinar.
"Tidak ada uang lembur. Dan jangan sampai ada kekacauan." Nada bicaranya lebih keras dan tegas. Mikaela tahu benar jika bosnya sedang benar-benar serius dengan ucapannya. Sebaiknya Mikaela mendengarkan, dan tidak mengacau, atau membiarkan orang lain mengacau.
"Aku bisa mengatasi itu." Mikaela menjawab dengan tegas, lalu membiarkan bos-nya melewati dirinya, dan berhenti didepan pintu.
"Bagus," sahut bos-nya. "Sekarang aku akan pulang, dan kuharap kau menepati perkataanmu itu."
Mikaela tersenyum. "Kau bisa memegang janjiku, bos-ku sayang," jawab Mikaela. Optimus bisa mendengar ini dengan jelas.
Bos-nya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat Mikaela memanggilnya seperti itu. Ia cantik, memiliki tubuh yang indah dengan kulit kecoklatan yang eksotis. Pandangan matanya yang indah dapat menyihir jutaan lelaku, dan pengetahuannya tentang mesin yang luas pantas diacungi lebih dari satu jempol. Maksudnya, siapa lelaki yang tidak terpesona saat dipanggil sayang oleh gadis secantik Mikaela Banes?
Beeep beeep beeep beeep beeeep
Sebuah suara alarm kendaraan mesin terdengar begitu keras dari bengkel. Hal ini mengejutkan Mikaela dan si-bos yang sejak tadi masih berunding untuk bisnis. Mikaela yang berada didekat pintu langsung berlari keluar ruangan untuk melihat apa yang terjadi. Ia mengira, ada seseorang yang berani mencuri mobil dibengkel ini, tetapi dugaannya salah.
Saat ia berada tempat servis, mata indahnya menangkap hampir semua alarm mobil disana berbunyi. Bunyi 'beep-beep' itu benar-benar memekakan telinga. Mikaela menebar pandangan keseluruh sudut ruangan, namun melihat satu-satunya alarm yang tidak berbunyi adalah dari Truk Optimus. Ia bisa menyimpulkan sebuah dugaan sementara. Ia melempar pandangan kesal dan curiga.
Ia melirik Optimus, lalu mendesah. "Kau ini kenapa, Optimus?" ia bergumam, memutar matanya.
"Demi Tuhan, ada apa dengan mobil-mobil ini?" Bos-nya berteriak. "Mikaela, kau harus menghentikan semua suara ini, telingaku rasanya pecah."
"Baiklah. Akan ku urus mobil-mobil ini, sebaiknya kau pulang saja." Mikaela memerintah, ia sudah berdiri di samping Optimus, sudah akan membuka pintunya.
"Eeergh, mobil-mobil tua sialan!" Pekik sang bos, lalu berlari keluar sembari menutup telinga. Ia masuk kedalam mobil, lalu pulang kerumahnya. "Jika kalian bukan ladang penghasilanku, kalian pasti sudah jadi rongsokkan di pembuangan kota!" Ia bergumam.
Mikaela membuka pintu sebelah kanan, lalu mencoba mematikan alarm secara manual. Tetapi, sebelum melakukannya, ia duduk dikursi kemudi dengan kedua tangannya terlipat setinggi dada. Ia menatap kesal kearah Optimus. Ia tahu jika itu ulah Optimus, namun ia tidak paham apa maksud dan tujuan Optimus melakukan itu. Ia tidak ingat ada bagian sensor keamanan yang rusak.
Apa dia mencoba bercanda?
Mikaela berdeham keras. "Kau akan melakukan itu semalaman, Mr Prime?" Sarkasme terdengar dari nada bicara Mikaela.
"Aku tidak bisa mengendalikan sistem keamananku," Optimus menjawab.
Mikaela memutar matanya, ditambah erangan. "Aku tidak yakin," jawabnya. Mikaela merebahkan tubuhnya dikursi jok. Menghembuskan nafas panjang, matanya terpejam lalu terbuka lagi. Suasana menjadi hening ketika Optimus membuat mobil-mobil itu diam. "Sistem keamananmu tidak akan berreaksi jika tidak ada gangguan. Aku sudah mengeceknya," tambah Mikaela. Dan ini adalah argumen tak terbantahkan.
Mikaela bergerak turun, lalu Optimus bertransformasi kebentuk aslinya. Optimus sudah menghentikan suara 'beep-beep' yang mengganggu itu dengan mudahnya. Suasana menjadi lebih tenang dari sebelumnya. Dan, kali ini, hanya mereka berdua yang berada didalam bengkel saat itu, hingga suasana begitu sepi dan damai. Mikaela mengambil bor listrik, dan peralatan untuk las. Ia berbalik, melihat Optimus yang sama sekali mengacuhkan pandangannya dari Mikaela, seakan-akan seperti menahan sesuatu. Hal ini membuat gadis montir ini bertanya-tanya.
"Bagaimana keadaanmu?" Mikaela bertanya, membuka pembicaraan.
"Baik." Jawaban yang singkat, tegas dan jelas.
"Apa semua baik-baik saja?" Mikaela bertanya lagi.
"Ya." Lebih singkat dari yang sebelumnya.
"...baik," sahut Mikaela. Ia terlihat skeptis.
Mikaela Banes mengejar pandangan Optimus yang nampak menghindari dirinya. Ekspresinya menjadi aneh, agak tidak terbaca. Dan ini bukanlah ekspresi yang biasa ditunjukkan oleh Optimus Prime kepada orang lain. Jelas ini aneh bagi Mikaela, mengingat bertahun-tahun ia mengenal Optimus, tapi ia tidak pernah melihatnya seperti ini.
Mikaela tidak tahu apa yang salah, namun situasi mereka saat ini benar-benar canggung.
"Oooooh.. Aku mengerti," Mikaela bersuara. Ia mengangkat kepalanya, matanya memincing tajam kearah Optimus dan seringai terbentuk diwajahnya. Ia nampak sedang melucu dengan cara menggoda Optimus dengan bakat 'merayu' alamiah yang dimilikinya. "Kau pasti cemburu, kan, Optimus?"
Optimus tidak menjawab, hanya melirik Mikaela dengan optik birunya yang indah. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dia mungkin sedikit tidak terima saat memanggil bos-nya sayang, tapi bukan itu yang sebenarnya terjadi. ia hanya tidak paham dengan perasaan aneh yang ia alami.
Mikaela menjadi tergoda untuk menggoda Optimus lebih jauh lagi. "Ah, sudah kuduga. Kau pasti cemburu karena aku memanggil bos-ku sayang, bukan?" Mikaela terkekeh, ia tentu tidak berharap Optimus benar-benar cemburu. Meskipun kenyataannya, ia menebak 30% isi helm—kepala Optimus.
"That is not funny." Suaranya tegas, tidak bergetar.
"Tunggu, apa dia benar-benar..." Mikaela berpikir. "Tidak. Tentu saja tidak," sangkal otaknya.
"Kau tidak akan mengerti." Optimus menyambung perkataannya.
Apa yang tidak Mikaela mengerti?
"Apa yang kau bicarakan?"
Optimus tidak menjawab, lagi-lagi hanya diam diiringi hembusan nafas yang berat. Mikaela menjadi semakin terjebak kedalam situasi yang sama sekali tidak ia pahami. Apa yang dibicarakan Optimus? Apa yang tidak ia mengerti? Apa ia melakukan sesuatu yang menggores perasaan Optimus?
Mikaela mengangkat bahunya, membiarkan Optimus dengan pikirannya yang rumit itu. Ia mungkin tidak akan mengerti apa yang dirasakan Optimus, tapi Mikaela berjanji, setidaknya ia akan selalu ada disisi Optimus jika ia butuh tempat untuk bersandar—tidak secara harafiah tentunya. Dan ia juga tahu, jika semakin dekat ia dengan Optimus, semakin besar bahaya yang mengincarnya.
Tapi Mikaela tidak peduli. Selama Optimus ada disisinya, tidak ada bahaya yang tidak dapat ia lewati. Bersama Optimus ia merasa aman, disampingnya Mikaela merasa nyaman. Dan itu sudah lebih dari cukup.
"Aku mungkin tidak bisa mengerti, Optimus." Mikaela berkata, ia menyentuh tangan baja Optimus. "Tapi, setidaknya aku akan mendengarkanmu," sambung Mikaela sembari tersenyum.
Optimus mengangkat kepalanya, memandang Mikaela yang tengah tersenyum. Bibirnya tertarik tipis—Ia tersenyum. Terlalu tipis untuk disebut senyuman. "Aku menghormati itu. Terima kasih, Mikaela."
"Sekarang, aku akan melanjutkan pekerjaanku. Pertama-tama aku akan membersihkan prosesormu." Mikaela berkata, sembari berjalan. Ia mendorong tangga setinggi 3 meter kehadapan Optimus yang tengah berlutut. Ia akan menyatukan bagian helm yang terbuka dengan las, dan baja yang dapat ia temukan di San Diego.
Robot itu mengangguk, tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya Mikaela harapan terbaiknya, harapan yang membuatnya terus bertahan hidup selain mengalahkan para Decepticon dan rekan-rekan seperjuangannya—Autobot.
-oooOOoo-
Savoy tiba di markas KSI, untuk menemui Attinger dan memberikan laporan. Matanya masih terasa sakit karena beberapa serbuk besi masuk cukup jauh kedalam matanya. Ia beruntung tidak menjadi buta karena ulah Mikaela. Harus diakui, ia sama sekali tidak menduga tindakkan Mikaela yang begitu berani; bahkan membahayakan nyawanya sendiri.
Untung saja, Optimus datang dan menyelamatkan Mikaela dari kecelakaan maut itu. Hingga ia bisa selamat tanpa luka sedikitpun. Semuanya benar-benar tidak terduga. Sisi buruknya tentu lebih berpihak kepada Savoy. Ia kehilangan cukup banyak orang-orangnya, dan mobil seharga jutaan dolar. Hal ini membuatnya semakin berambisi untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Savoy!" Attinger berteriak, berjalan keluar dari kantornya menuju ke tangan kanannya. Ia sudah tidak sabar mendengar berita yang akan disampaikan Savoy.
Ia—Attinger melihat Savoy benar-benar kacau. Matanya memerah, wajahnya seperti habis pulang dari medan perang dengan mata merah dan beberapa luka. Bagian jubahnya sedikit terbakar, tapi ia terlihat baik-baik saja. "What the fuck?" Attinger bertanya.
" Mereka lolos. Aku hampir membunuh Banes, tapi Prime tiba-tiba muncul," jawabnya dengan jujur.
Attinger mendelik marah. "IDIOT! BAGAIMANA KAU BISA MEMBIARKAN MEREKA LOLOS!" Suaranya meninggi, penuh amarah.
"Prime menghancurkan dua mobil dan menewaskan 6 orang-orangku." Ia menyambung kalimatnya tanpa ada nada yang bergetar. "Mereka terjun ke jurang, dan aku tidak bisa mengejarnya." Ia menambahkan.
SLAAAPP
Attinger menamparnya dengan keras. Savoy sama sekali tidak menduga hal ini sedikitpun. Tamparan Attinger begitu keras, membuat wajahnya terlempar kekanan. Ia jelas merasa terhina dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Attinger. Ia hampir mati terkena mortir dari Optimus, dan inikah balasan yang didapatnya?
"BODOH! BENAR-BENAR BODOH! PENGECUT!" Attinger memekik. "Untuk membunuh seorang gadis saja kalian tidak becus, apalagi membunuh Prime!"
"Jaga perkataanmu, Attinger!" Savoy memekik balik, ia tidak terima dicap pengecut, meski oleh Attinger. Ia menodongkan pistol dileher Attinger, hingga ia mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. "Aku melakukan tugasku dengan baik sampai Prime tiba-tiba datang diluar dugaanku dan mengacaukan semua. Aku hampir terbunuh, sementara kau hanya duduk dikursimu seperti idiot. Siapa yang pengecut, huh?" Nadanya begitu dingin dan berbahaya.
"Tenang, Savoy. Tenang, ini adalah bisnis. Kau harus tenang," ujarnya, Attinger mencoba meredakan ketegangan yang ia buat. "Bukan seperti ini cara bermainnya, kau akan kehilangan uang yang besar," jawabnya.
"Kau tidak seharusnya merasa yang paling berkuasa, Attinger. Tanpaku, kau mungkin tidak akan bisa mendapatkan klien untuk Seed Galvatron." Savoy bersuara, hampir mendesis berbahaya. Ia menurunkan pistolnya, dan memasukkannya kembali kedalam saku pistol. "Sekarang, biarkan aku menyelesaikan tugasku, dan diamlah," ia menyambung.
Savoy berjalan mundur, membiarkan Attinger memikirkan ucapannya yang memang keterlaluan. Ia—Attinger merogoh saku-nya, mengambil sebuah alat aneh."Hubungi Lockdown, dia bisa membantumu menangkap Prime," Attinger menyarankan. Savoy menyeringai, sementara tangannya menerima sebuah alat pemancar yang tadi diambil Attinger dari sakunya. Ia melihatnya beberapa detik, lalu meninggalkan Attinger. Savoy tahu apa yang harus dilakukannya.
Savoy berjalan menjauh dari Attinger, berjalan penuh amarah. Ia memanggil orang-orangnya, lalu bersiap untuk melakukan perburuan lagi. Kali ini ia sudah menghubungi Lockdown untuk membantunya menangkap Prime. Ia tidak boleh membiarkan mereka lolos lagi. Tidak boleh.
Ia menekan tombolnya, menunggu selama beberapa detik sampai alat pemancar pesan itu terhubung di Knight Ship—kapal luar angkasa yang dipimpin oleh Lockdown.
"Prime berada di San Diego. Dia tidak akan bisa kabur lebih jauh dengan kondisi seperti itu. Aku bisa mengirimkan koordinatnya," ujarnya. Ia berbicara langsung dengan Lockdown melalui alat komunikasi khusus yang diberikan oleh Attinger beberapa detik.
"Bawa dia kepadaku, atau tidak ada Seed," ancamnya. Suara khas robot menggema.
"Aku mengerti," jawab Savoy. "Aku akan memancingnya ke jurang, kau bisa mengambil sisanya." sambung Savoy.
Lockdown sudah tidak menjawab apapun. Ia telah meng-offline kan sistem komunikasinya, lalu memerintahkan armada-nya untuk segera membantu Savoy untuk menangkap Optimus. Lockdown menduga, akan ada pertempuran sengit diantara mereka. Siap atau tidak, ia akan datang; paling lambat selama dua belas jam kedepan.
-ooOOOoo-
Enam jam berlalu, Mikaela masih belum selesai dengan pekerjaannya—mengelas kepala Optimus Prime. Gadis berbaju putih itu kini berdiri tepat didepan pelat wajah Optimus, wajahnya tertutup oleh masker khusus agar matanya tidak rusak. Optimus bisa melihat keringat bercucuran ditubuh Mikaela, sensornya menangkap jika tanda-tanda vital Mikaela menurun. Ia bisa menyimpulkan jika Mikaela bekerja terlalu keras, hingga ia sama sekali lupa tidak istirahat untuk makan, ataupun tidur.
"Mikaela, kau harus mengisi ulang tenagamu—recharge," Optimus bersuara pelan. suaranya agak berbisik, dapat didengar dengan jelas ditelinga Mikaela. Suaranya begitu dalam, berat dan indah. Ia tidak tahu kenapa robot alien bisa memiliki suara seindah itu.
Mikaela menghentikan aksi mengelas-nya yang sudah selesai. Ia membuka pelindung wajah berwarna hitam yang menutupi rupanya yang cantik. Ia memandang langsung kearah Optimus, hanya dengan jarak setengah meter. Itu adalah jarak yang amat dekat antara manusia dan robot.
Mikaela tersenyum, lalu menjawab, "Aku tidak mengantuk."
"Tanda-tanda vitalmu menurun," sahut Optimus. "Kau kelelahan, Mikaela." Ia menambahkan, memandang kedalam mata Mikaela. Optimus tidak bisa menahan sesuatu didalam dadanya yang sejak tadi berpacu dengan keras. Ini adalah sesuatu yang diluar kendalinya, dan Mikaela Banes-lah yang menyebabkan perasaannya campur aduk.
"Ayolah, Optimus. Aku baik-baik saja," sambar Mikaela, ia mencoba untuk tetap santai meskipun darahnya terpompa begitu cepat. Ia tidak bisa tubuhnya yang gemetaran karena dirinya begitu dekat dengan Optimus. "Lagipula, aku sangat menikmati ini," tambahnya.
"Aku minta maaf. Karena aku, kau hampir terbunuh. Dan aku khawatir, mereka mungkin belum selesai dengan itu," ucapnya. Optimus menyalahkan dirinya sendiri atas segala sesuatu yang telah terjadi. Ia merasa paling bertanggung jawab atas semua kekacauan yang terjadi di Bumi.
Ia merasa, sebelum Transformers datang, Bumi baik-baik saja. Tetapi, setelah mereka datang, semuanya menjadi berubah. Manusia menjadi ketakutan, teror Decepticons mengancam. Autobots tentu akan melakukan apapun untuk melindungi Bumi, tapi itu tidak membuat semuanya kembali seperti semula. Kini Bumi mungkin telah diincar oleh para musuh-musuh Autobot diluar sana. Optimus merasa dirinya yang paling bertanggung jawab.
"Tidak, Optimus. Aku menikmati setiap detik yang berharga ini, dan aku tidak ingin membuang-buangnya dengan tertidur," jawabnya pelan. "Bersamamu adalah kebahagiaan terindah dalam hidupku, dan aku tidak ingin melewatkannya barang sedetik pun," tambahnya. Ini adalah pengakuan yang tegas, dan jelas. Optimus seharusnya bisa sedikit peka.
Optimus tersenyum, ia merasakan hal yang sama dengan Mikaela. Tetapi ia tetap menjaga sopan santun dan etikanya dengan bersikap se-formal mungkin. Setidaknya, itu yang ia pikirkan, walaupun sebenarnya ia mengatakan yang sejujur-jujurnya. "Aku merasa terhormat," jawabnya.
"Kau bertanya bagaimana aku bisa menemukanmu," Optimus bersuara lagi sebelum Mikaela mendominasi percakapan lagi. "Jawabannya adalah, aku memang tengah mencarimu, Mikaela."
Mikaela terkejut. Itu bukanlah jawaban yang ia duga. Tetapi mendengarnya membuat hatinya merasa senang bukan kepalang. Ia datang dari jauh hanya untuk mencari dirinya? Apa maksudnya?
"Dan, apa yang membuatmu kembali?" Mikaela bertanya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah tanpa alasan. Ia menunduk hingga rambut menutupi separuh wajahnya.
"Aku tahu jika cepat atau lambat mereka akan datang mencarimu. Aku tidak bisa membiarkan mereka menangkapmu untuk sesuatu yang bahkan tidak kau mengerti," jawabnya dengan jujur.
Jadi, selama ini Optimus mencarinya? Tapi, kenapa? Apa pengaruhnya jika Mikaela mati? Toh, Mikaela juga sudah tidak berhubungan dengan Autobot lagi sejak putus dengan Sam. Rasanya, aneh saja saat Optimus tiba-tiba datang. Apakah itu berarti, Mikaela mempunyai ruang tersendiri didalam spark Optimus?
Kau ingin tahu jawabannya, bukan?
Jawabannya adalah, ya. Optimus memberikan ruangan khusus didalam spark-nya untuk Mikaela. Dan ia bersumpah untuk menjaga ruangan itu sampai yang paling akhir.
Optik biru Optimus bertemu dengan mata Mikaela. Pandangan mereka terkunci selama beberapa menit. Semakin Optimus memandang Mikaela, semakin dalam ia tenggelam didalam pesona manusia ini. Rasanya, seperti ada yang menarik dirinya jatuh lebih dalam kesebuah jurang tanpa dasar. Ia mencoba menahan dirinya, namun gravitasi jurang tersebut lebih kuat daripada tenaganya. Usahanya untuk kembali ke permukaan seakan sia-sia, tidak ada untungnya. Ia telah kalah.
Optimus hanya membiarkan dirinya semakin jatuh cinta kepada Mikaela. Ia hanya mencoba mengikuti kemana takdir akan membawanya.
Mikaela tanpa sadar sudah menyentuh pelat wajah Optimus. Tangga khusus yang ia injak berdecit seraya ia semakin dekat dengan Optimus. Robot itu memejamkan matanya saat merasakan kehangatan yang keluar dari tubuh Mikaela menyentuh pelat wajahnya. Rasanya, sebuah perasaan baru menyelimuti jiwanya. Perasaan yang membuatnya merasa tenang, damai dan hangat dalam waktu yang bersamaan.
"Aku benar-benar tidak peduli apa yang akan terjadi, Optimus. Aku hanya ingin berada disisimu selamanya," ucap Mikaela pelan. ia melepaskan tangannya dari pelat wajah Mikaela, dan kulit baja-nya kembali dingin.
Optimus membuka matanya, ia tidak bisa menahan rasa yang menggeliat didalam dirinya. Ia benar-benar jatuh cinta kepada manusia ini, dan ia tidak bisa menghentikannya. Optimus akhirnya melihat Mikaela, wajahnya tertutup oleh rambut. Senyumnya masih terlihat begitu tulus.
Optimus mengangkat tangannya yang besar, ia berusaha menyingkirkan rambut itu agar tidak menghalangi wajah ayu pujaan hatinya. Ia perlahan-lahan menyibakkan rambut Mikaela kebelakang, ia ingin melihat wajah cantik itu selagi ia bisa. Meskipun tangannya terbuat dari bahan metalik, tetapi sentuhannya begitu lembut. Seakan-akan, Optimus tidak ingin sedikitpun menggores kulit mulus itu dengan tangannya. Ia ingin sekali mengatakan betapa ia telah jatuh cinta kepadanya, tapi ia tidak pernah sempat.
"You're so beautiful." Optimus berkata, pelan setengah berbisik. Mikaela tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona seperti lobster rebus dari Optimus. Ia –Optimus juga menangkap ada peningkatan hormon di tubuh Mikaela. Sensornya mengatakan jika gadis ini tengah bergetar, merasa salah tingkah. "Kau adalah manusia perempuan paling cantik yang pernah kulihat sejak kedatanganku ke Bumi, Mikaela."
Mikaela tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih sibuk tersipu-sipu oleh ucapan Optimus. Ia sama sekali tidak menyangka jika ternyata robot ini bisa sangat romantis. Ia hanya bisa tersenyum, sembari menatap optik biru Optimus yang bersinar begitu indah. Menyinari ruang-ruang hatinya.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga tanpa wajah Mikaela sudah begitu dekat dengan wajah Optimus. Pelat wajahnya bisa merasakan hembusan nafas hangat dari wajah Mikaela, yang saat ia pandang sudah memejamkan matanya. Optimus agak kurang tahu apa yang terjadi, tapi ia pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya. Yang harus ia lakukan hanyalah mengikuti apa yang dikatakan oleh hatinya.
Sebagai gantinya, Mikaela dapat merasakan uap dan dinginnya kerak—kulit Optimus secara bersamaan. Ia tahu ini adalah hal gila; mencium alien robot yang jauh lebih besar darinya. Tapi, semua itu terjadi begitu saja tanpa bisa Mikaela prediksi sebelumnya. Namun ia tidak peduli jika Optimus adalah robot yang jauh lebih besar dari dirinya, dengan struktur tubuh yang sangat berbeda. Cinta itu buta, dan cinta itu bisa mengalahkan segalanya.
BOOOM
Saat wajah mereka sudah hampir bersentuhan, mereka dikagetkan oleh suara ledakan dari luar. Ledakan itu begitu kuat, hingga lantai yang diinjak Optimus bergetar. Tangga tempat Mikaela berdiri menjadi goyah, membuatnya terjun kebawah dengan bebas. Dengan sigap, Optimus langsung menangkap Mikaela dengan tangannya. Ia menangkap Mikaela tepat waktu, karena sedetik saja ia terlambat, ia akan menghantam lantai yang keras dan dingin.
"Mikaela! Kau baik-baik saja?"
Mikaela tidak menjawab secara langsung, ia hanya mengangguk sekali dengan mantap. Optimus mengalihkan pandangannya, tetapi ekspresinya langsung berubah penuh kemarahan. Optiknya menciut, menandakan ia benar-benar marah dengan apa yang ia lihat. Seharusnya ia bisa tahu jika akan ada serangan yang datang. Tetapi, sensor darurat nya belum sempat diperbaiki oleh Mikaela karena terbatasnya bahan di Bumi. Jadi ia tidak bisa melihat atau merasakan serangan yang datang.
"Lockdown." Optimus memanggil nama robot yang ada dihadapannya dengan amarah. Dibawah Lockdown, ada segerombolan orang yang kemarin memburu Mikaela—Cemetery Wind. Ia tidak mengerti kenapa ada manusia yang bekerja sama dengan Lockdown, dan Optimus semakin marah melihatnya.
"Halo, Prime." Ia balik menyapa, dengan nada seakan mencemooh.
"Calling all nearby Autobots. Calling all nearby Autobots." Sistem pemancarnya mengirimkan pesan kepada Autobots—siapapun yang bisa menerimanya. Ia yakin benar tidak bisa menghabisi Lockdown dan orang-orang itu dengan kondisi yang masih terluka. Ia tidak punya pilihan selain memanggil bantuan.
TO BE CONTINUE...
.
.
.
A/N : Okay, forgive me guys karena update ini agak kacau. Yah, saya dikejar deadline, ditambah kesibukan di bulan puasa semakin bertambah. So, inilah dia hasil jerih payah saya :') maaf juga kalau feels nya kurang :" Dan maaf juga karena fic ini terlalu gajelas xD
As always, kesalahan selalu punya saya. Jika ada pertanyaan, silakan ditanyakan.
WolfShad'z xx
