A/N : HOLA! Saya update lagi! Ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, yang pertama saya minta maaf karena chapter kemarin sangat kacau, banyak tipo dan masih banyak lagi. Yang kedua, saya juga mau bilang kalau fic ini akan selesai 2 atau 3 chapter lagi, tergantung sama kondisi selanjutnya. So, buat reader/review yang punya saran, monggo silakan ditulis :)

WolfShad'z

.

.

Disclaimer : Bukan punya saya, ok?!

Title : The Knight of the Night

Rating : T saja lah, untuk bahasanya.

Summary : Jika cinta itu buta, maka tidak salah bukan jika Optimus Prime dan Mikaela Barnes saling mencintai? Optimus akan melakukan apapun untuk melindungi Mikaela-nya karena beda species bukan berarti mereka harus berpisah. #MakeThemHappy dan untuk Festival Fandom Barat II.

Setting : 2 tahun Setelah Transformer Dark of the Moon, beberapa tahun sebelum Transfomer: Age of Extinction.

Warning : tata bahasa kacau, OOC, dan mungkin banyak sekali tipo yang kurang berkenan.

.

.

.

Happy Reading!

.

.

"Dasar perusak suasana," batin Mikaela. Ia menelan ludah berkali-kali, namun belum cukup untuk menghilangkan rasa terkejutnya. Keringat mulai menetes dari tubuhnya, diikuti dengan nafas yang tertahan didalam paru-parunya. Ia bersembunyi dibelakang kaki Optimus.

Mikaela dapat melihat dengan jelas, ada robot yang tingginya hampir sama dengan Optimus, hanya saja volume tubuh Optimus lebih berisi daripada robot yang ia dengar mempunyai nama Lockdown ini. Ia mempunyai warna dominan hitam, dengan sedikit sekali warna silver ditubuhnya. Sebelum wajahnya terbentuk, kepalanya dapat berubah menjadi sebuah sniper raksasa. Optiknya berwarna hijau alien, dan merupakan pandangan yang cocok untuk robot maniak.

"Mikaela, pergi dari sini." Mikaela mendengar Optimus memberinya perintah. Ia memandang Mikaela, ekspresinya seakan-akan memohon. Mikaela tidak menimpalinya, hanya memandang Optimus seakan mengatakan 'aku tidak akan meninggalkanmu!'

"Kau benar-benar membuat malu planet kita, Prime." Lockdown sudah berbicara sebelum Mikaela membantah. Pandangannya menjadi teralihkan, dari Optimus menuju Lockdown. Saat ia menamatkan penglihatannya, ia baru menyadari jika diwajahnya sangat banyak luka.

"Apa tujuanmu kemari?" Optimus bertanya, wajahnya dipenuhi dengan amarah.

"Dia ingin kau kembali." Optimus mendengar Lockdown berbicara seakan-akan tengah memberinya perintah.

"Siapa yang mengirimmu?" Optimus bertanya lagi.

Kakinya yang jenjang berjalan mendekati Optimus. Sebuah pedang sudah ia keluarkan dari balik punggungnya. Ia sudah siap menghadapi Optimus. "Penciptamu ingin kau kembali. Adalah tugasku untuk membawamu kembali," ia menegaskan.

"Aku tidak akan meninggalkan Bumi sebelum Decepticons benar-benar menyerah!" Optimus membentak, ia menodongkan pedangnya tepat didepan wajah Lockdown.

Terdapat perubahan drastis dari wajah Lockdown yang tadinya santai. Ia menjadi marah, hingga uap keluar dari hidungnya. "Autobot. Decepticon. Kalian seperti anak-anak, membuat kerusuhan di alam semesta. Dan aku yang harus membereskannya," ia menampel pedang Optimus dengan pedangnya.

Optimus tidak mau kalah dengan Lockdown. Ia menurunkan pedang yang ujungnya panas, bisa melelehkan besi, atau apapun yang disentuhnya. Ia menghembuskan nafas berat, hingga uap keluar dari hidungnya. "Kita semua bekerja untuk seseorang, Prime." Suara yang keluar dari mulutnya begitu dalam, dan mengerikan.

"AKU TIDAK BEKERJA UNTUK SIAPAPUN!" Optimus membentak. Ia menghempaskan pedangnya diudara, sepenuhnya menyangkal ucapan Lockdown. Optimus tidak bekerja untuk siapapun, ia bekerja untuk apapun kebenaran.

Lockdown nampak terhibur dengan pernyataan tegas Optimus. Ia menyeringai. "Itu yang ada didalam kepalamu, Prime. Kau pikir, dirimu dilahirkan? Tidak. Kau dibuat."

Optimus tidak menjawab, ia tidak yakin itu pertanyaan atau sebuah pernyataan. Ia hanya memandang Lockdown, dan menunggu kata-kata yang akan ia ucapkan. Namun, apa yang dikatakan Lockdown membuatnya berpikir. Siapa dirinya yang sebenarnya?

Lockdown merasa puas dengan membuat Optimus lengah. Ia mengalihkan pandangannya kepada orang-orang dari Cemetery Wind. Nampak Savoy begitu menikmati konflik antar Lockdown dan Optimus. Ia menunggu saat-saat pertarungan robot raksasa itu dimulai, karena pasti akan menyenangkan. Bukan perkelahian yang kita lihat setiap hari, bukan?

"Lakukan apa yang harus kalian lakukan, manusia. Aku akan mengurus Prime,"perintahnya kepada Savoy. Optik Optimus hampir mendelik mendengarnya, ia menjadi marah.

"Bunuh gadis itu. Tidak boleh ada saksi," perintah Savoy kepada anak buahnya.

Tanpa banyak bertanya, orang-orangnya langsung menodongkan pistol M4A1 kepada Mikaela. Nafas Mikaela menjadi tertahan, tidak dapat berkata apa-apa, ia hanya bisa berjalan mundur dengan pikiran yang tiada hentinya mengumpat. Ia terlalu jauh dari jangkauan mobil milik bengkel, sementara orang-orang berseragam serba hitam itu semakin dekat.

"Tahan dulu, manusia!" Optimus menodongkan cannon blaster dihadapan pasukan Cemetery Wind. Dan saat itu juga, mereka berhenti. Nampaknya mereka takut dengan meriam yang bisa menghancurkan mereka sekejap itu.

"AAARRGH!" suara seorang perempuan, diiringi oleh tembakan pistol Desert Eagle terdengar oleh Optimus. Ia mengenal pemilik suara itu, jadi ia langsung menoleh kearah Mikaela. Optimus melihat Mikaela terjatuh, sembari memegangi tangannya.

"Mikaela!" Optimus berteriak. Ditempat yang berbeda, Savoy menyeringai seraya menurunkan pistolnya, ia terkekeh. Suara tawanya itu semakin memancing kemarahan Optimus, hingga robot Alfa itu melemparkan pandangan penuh amarah kepada Savoy.

"Aku baik. Hanya tergores," ujar Mikaela. Ia meremas lengan kanannya yang tergores cukup dalam gara-gara pistol yang dapat menembak sampai sejauh 200 meter itu.

"Aku akan menghancurkan kalian!" Optimus berteriak.

Ia akan menyalakan blaster dilengannya, namun Lockdown mengganggunya dengan menghuyungkan pedangnya kedada Optimus. Ia terlempar sejauh beberapa meter, pedangnya mendarat agak jauh dari tangan Optimus. Ia beruntung karena pedang Lockdown tidak sampai menghancurkan spark chamber—tulang rusuk jika dalam bahasa manusia—milik Optimus.

"Optimus!" Mikaela berteriak.

"Diam, manusia! Kau berisik!" Pekik Lockdown. Ia mengarahkan misil kearah Mikaela, membuatnya tidak bisa berbuat apapun. Ia tahu jika Lockdown nampak sama saja seperti Megatron yang tidak segan-segan menembak makhluk hidup lain.

Begitu menyadari Mikaela dalam bahaya, Optimus langsung bangkit dengan cara yang keren. Ia menghantam wajah Lockdown dengan tinjunya, hingga cairan berwarna hijau keluar dari mulutnya. Ia—Optimus juga melemparkan peledak, hingga manusia-manusia jahat dibawahnya terlempar dan terluka parah. Savoy terlempar beberapa meter dari tempat ia berdiri. Punggungnya menghantam mobil Porsche yang datang untuk diservis pagi sebelumnya.

Ia mengambil pedangnya secepat yang ia bisa, lalu ia melayangkan pedangnya keara Lockdown. Optimus menargetkan pedangnya untuk merobek Lockdown yang sudah mengacau di bumi, namun dengan mengejutkan pedangnya ditangkis oleh Lockdown sendiri. Para manusia yang berada di pihak Cemetery Wind yang masih sanggup berdiri membantu Lockdown dengan menembakkan senjata laras panjangnya kearah Optimus. Beberapa diantaranya menggunakan M16A1 yang sudah dipasangi dengan M203, yang mana dapat melemparkan granat. Jelas ini bukanlah hal yang baik untuk Optimus karena ia belum benar-benar dalam keadaan baik.

"Mikaela, tetap bersamaku." Optimus berkata, cukup keras untuk didengar oleh Mikaela.

Mendengar perkataan itu, rasanya hati Mikaela seperti bunga yang bermekaran diluar musim. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melemparkan senyum manisnya. Dengan wajah tersipu-sipu (walaupun pada saat yang sangat tidak cocok) ia menjawab, "selalu, Optimus. Selalu," jawabnya tegas.

"Kau benar-benar memalukan! Gaahh!" Lockdown berteriak, melayangkan pedangnya kearah Optimus.

Optimus menahan serangannya, penutup wajahnya terbuka. "Kebebasan adalah hak semua makhluk hidup!" Ucapnya, lalu berteriak seraya memberikan sebuah tebasan diperut Lockdown.

"ARRGGHH!" Lockdown berteriak. Ia menembakkan peledak kepada Optimus, ia hampir terlempar tapi bisa menahan diri.

Hujan peluru menghujani bengkel yang sudah hampir hancur. Bosnya tidak akan menyukai ini. sementara itu, malam semakin larut. Namun ditengah situasi seperti ini, sangat tidak mungkin Mikaela merasakan kantuk. Mikaela tidak bisa tinggal diam. Ia harus membantu Optimus untuk—setidaknya menyingkirkan manusia-manusia yang mengganggu pertempuran dua robot raksasa. Ini adalah kesempatannya karena Cemetery Wind disibukkan oleh Optimus yang mencoba menembakkan mortir kearah mereka. Kepala Mikaela menoleh kekanan dan kekiri, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai pengalih perhatian.

Disekitarnya, ia melihat ada tabung gas yang biasa ia gunakan untuk mengelas dan korek api disebelahnya. Lalu disamping kiri, ada satu tabung berisi gasolin yang masih tersegel. Lalu, agak jauh dari sana ada sebuah kolam sedalam 1 meter yang digunakan untuk memeriksa ban-ban kendaraan besar. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah setidaknya dua menit untuk menjalankan rencananya. Tapi, apakah itu cukup?

Well, ia harus mencoba.

Mikaela yang masih belum berdiri langsung merayap menuju mesin las. Bagian pembakarnya masih tergeletak tidak jauh dari tangga yang roboh disamping meja. Ia bangkit untuk meraih korek apinya, memantikkan penggeseknya hingga api berwarna oranye keluar. Tangan yang satunya menyalakan tombol power yang berada di sistem kembali. Dalam waktu beberapa detik, semburan gas keluar dari pembakar las. Mikaela menodongkan korek apinya agak jauh dari mesin las itu, lalu muncullah api biru yang amat panas dengan tekanan yang tinggi.

Rencana satu sudah dijalankan. Kini ia hanya harus menjalankan rencana selanjutnya, meskipun agak sulit, dan mungkin akan menyita waktu lama. Tapi ia tidak bisa membiarkan Optimus yang kuwalahan dengan Lockdown dan juga manusia-manusia pengkhianat itu. Mikaela pun meraih kunci busi dan obeng.

"Hey, old man!" Mikaela mencemooh Savoy. Nampaknya, ia mempunyai ide yang cemerlang. Ia melempar kunci busi yang berlumuran oli kearah Savoy, mengenai pundaknya. Jubahnya yang bagus menjadi kotor.

Mikaela berhasil membuat Savoy terpancing, karena ia terlihat marah dengan wajah sudah semerah cabe Meksiko. Ia melihat kearah Mikaela dengan dengan pandangan yang mengerikan. "Kau mengotori jubahku," ujarnya dengan sok.

"Ayo, lawan yang seukuran kalian!" Pekiknya. Dibalik punggungnya, ia menjatuhkan pembakar las-nya dibawah, bergerak tanpa kendali. Ia mencoba menahan panas yang hampir mengenai kakinya. Ia melempar obeng itu kearah Savoy lagi.

"Kau benar-benar cari mati!" Ucapnya penuh kemarahan. Ia mengokang pistolnya, dan mulai menembaki Mikaela.

Mikaela berlari secara zig-zag agar peluru-peluru tajam itu tidak mengenai tubuhnya. Bukan hal yang mudah untuk dilakukan, tetapi patut dicoba. Ia mencoba berlindung di balik mobil Ford milik orang yang belum sempat ia selesaikan. Mikaela tertahan disana, nafasnya tersengal-sengal. Rencana pertamanya gagal, mengingat tidak hanya Savoy yang terpancing, melainkan juga orang-orang Cemetery Wind lainnya. Kini ia benar-benar harus mencari ide lain.

"Bagus sekali, Mikaela! Bagus sekali! Kau terperangkap rencanamu sendiri," ujarnya kepada dirinya sendiri.

Optimus masih bertarung dengan Lockdown. Mikaela bisa mendengar suara desingan pedang, dan suara Optimus yang nampak dihajar habis-habisan. Ia harus mencari cara untuk membuat Optimus mempunyai—setidaknya—satu kesempatan untuk menyerang. Dari wajahnya, Lockdown merasa jika dirinya menang atas Optimus. Hanya Optimus yang bisa mengeluarkannya dalam situasi mengerikan ini.

Mikaela tidak berlari kearah gasolin seperti yang ia rencanakan. Kenapa? Karena setelah ia berpikir ulang, kolam itu tidak cukup dalam untuk menahan ledakan. Tapi itu bukan berarti idenya kering begitu saja. Ia punya rencana lain.

Ia berjalan mengendap-endap dibelakang salah satu orang Cemetery Wind. Mikaela mengambil sebuah kunci pipa, lalu berjalan merayap tanpa suara. Saat ia sudah cukup dekat dengan orang itu, ia menghantamkan kunci pipa yang berat dan besar itu dikakinya. Prajurit yang bernasib sial itu terjatuh, tangannya yang menyangga senapan itu terlepas, hingga kecil kemungkinannya untuk menembak Mikaela. Dengan cepat Mikaela langsung menghantam wajah prajurit itu hingga ia tak sadarkan diri.

Sebagai gantinya, ia mengambil M16A1 dari prajurit yang tak sadarkan diri itu. Tak hanya itu, granat yang menempel di bulletproof armor nya juga ia ambil. Kali ini, ia siap untuk membalas perbuatan Savoy.

"LET'S PARTY MOTHERFUCKER!" Mikaela berteriak seraya menembak secara acak kearah orang-orang Cemetery Wind yang sibuk menembaki Optimus. Satu persatu mereka tumbang oleh peluru tajam yang mengenai tubuh mereka. Melihat usahanya tidak sia-sia, Mikaela menjadi tertawa (atau lebih tepatnya berteriak) seperti seorang maniak.

Ia mengokang pelempar granat yang menempel, kemudian membidikkannya kearah wajah Lockdown. Tapi mereka bergerak terlalu cepat, ia tidak bisa menembak karena terlalu beresiko. Ia harus mengalihkan perhatiannya.

"Hei, Lockdown!" Teriak Mikaela.

Lockdown tidak menjawab, tapi ia melihat kearah Mikaela. Optiknya seperti menunjukkan rasa kaget begitu melihat dua buah granat melayang tepat didepan wajahnya. Dalam hitungan detik, granat itu menghantam wajah Lockdown dan meledak. Optimus sempat kaget, namun ia memanfaatkan kesempatan itu untuk menjauhkan Lockdown dari Mikaela. Ia tidak ingin gadisnya terluka lagi.

"Itu karena mencuri momentum indahku semalam, bitch!" Ia berkata sambil menunjuk wajah Lockdown yang terkena ledakan granat lempar.

Sebagai sentuhan terakhir, ia—Optimus menendang Lockdown dan menembakkan mortir kedalam tubuh Lockdown yang berongga. Lockdown terlempar, hampir kalah. Tapi Cemetery Wind masih belum selesai, mereka yang tidak tertembak oleh Mikaela menembaki Optimus dengan brutal. Savoy mengambil RPG dari mobilnya, lalu membidikkan itu kearah Optimus. Mikaela melihat itu, ia mencoba menembak Savoy namun pelurunya tinggal sedikit, sudah jelas tidak akan membantu. Ia juga lupa tidak mengambil magazin dari prajurit tadi.

Mikaela tidak punya lain selain meledakkan tempat itu dengan menjalankan rencana A. Ia membidik tabung gasolin yang letaknya cukup jauh darinya, namun cukup dekat dari pembawa RPG. Tidak jauh dari tabung gasolin itu, pembakar las-nya masih menyala. Yang perlu ia lakukan hanyalah membuat tabung itu bocor.

"Optimus, minggir!" Mikaela berteriak, mencoba memperingatkan karena robot itu menghalangi target sasarannya.

Ia melihat Mikaela sudah membidik sesuatu, dan apapun yang akan dilakukannya, Optimus curiga jika itu pasti melibatkan ledakan. "MIKAELA, JANGAN!" Optimus memperingatkan.

BOOOM

-ooOOoo-

Sebuah ledakan membuat Mikaela terlontar, ia masih sadar namun tidak tahu apa yang terjadi. Ledakan itu berasal dari tiga sumber; yang pertama adalah ledakan yang dibuat oleh Mikaela. Yang kedua berasal dari RPG Savoy yang meledak sebelum mengenai Optimus. Mikaela tidak mengetahuinya secara pasti apa yang membuat RPG itu meledak sebelum mengenai target. Apakah ada yang menghentikan RPG itu? Selain itu, bersamaan dengan ledakan itu, ia melihat Lockdown melarikan diri.

"MIKAELA!" Optimus berteriak, suaranya begitu nyaring. Optiknya tidak melihat keberadaan Mikaela disekitarnya. Optimus berteriak penuh kemarahan.

Tempat ia berdiri dipenuhi oleh asap, samar-samar ia bisa mendengar suara helikopter. Ia juga tidak melihat tanda-tanda Savoy maupun Lockdown. Hal ini membuatnya menjadi khawatir dan cemas, namun ia belum berani keluar karena sebuah kekhawatiran jika Decepticons ikut campur.

"Optimus! Aku baik," jawabnya. Ia masih telentang, menyesuaikan nafasnya yang kacau. Mendengar itu, Optimus menghela nafas lega. "Ok, itu adalah rencana yang benar-benar buruk," ia bergumam sendiri.

Dibalik asap itu, samar-samar ia melihat helikopter mendarat dihalaman parkir. Nafasnya tertahan begitu melihat helikopter itu berubah wujud menjadi sebuah robot yang tingginya hampir sama dengan Optimus. Mikaela tidak tahu misil milik siapa yang meledak lebih dulu, tapi ia yakin benar jika itu bukanlah dari RPG.

Robot itu masuk menuju bengkel yang lebih pantas disebut medan pertarungan. Mikaela mengerjapkan matanya beberapa kali, melihat bayangan siluet robot berbentuk aneh. Ia membawa pedang, dan dikepalanya seperti mahkota, atau penutup kepala yang mengingatkannya seperti samurai dari Jepang. Apapun itu, Mikaela tidak mau mati hari ini. Jadi, ia mengambil senjata milik prajurit yang sudah terbujur kaku dengan tubuh penuh darah. Mikaela mengokang pelempar granatnya, dan membidik robot itu tanpa gentar.

Robot itu nampaknya melihat keberadaan Mikaela. Jadi ia berjalan mendekat, melewati orang-orang yang sudah tidak berdaya lagi. Bahkan, Savoy pingsan dibawah puing-puing seng. Mikaela bisa mendengar suara pistol raksasa, nampaknya robot itu benar-benar mengira jika Mikaela salah satu dari Cemetery Wind.

Mikaela berjalan mundur, namun robot itu semakin mendekat. Empat detik kemudian, ia sudah berada dihadapan Mikaela. Ia menodongkan senjata yang bisa meledakkan kepalanya sekali tembak. Mikaela menjatuhkan senjatanya, dan mengangkat tangan. Tidak ada jalan baginya untuk melawan. Ia melihat wajah robot itu dengan jelas, ia memiliki optik biru dan penutup kepala seperti samurai di Jepang. Ia tidak pernah melihat robot dihadapannya ini, tapi Mikaela tahu jika dia-yang-ada-dihadapannya adalah Autobot.

"Kau Autobot," ucap Mikaela. Ia menurunkan senapannya.

"Dan kau adalah manusia—" suaranya yang memiliki aksen terpotong oleh Optimus.

"Drift."

"Sensei!" Robot bernama Drift itu berputar ke sumber suara, lalu membungkuk."Maaf aku datang terlambat," Drift berkata kepada Optimus.

"Who the fuck is 'sensei'?" Mikaela bertanya.

"Shut up, human!" ia memperingatkan Mikaela, menodongkan misil dari pergelangan tangannya kepada Mikaela. Gadis muda itu terduduk, menjauhkan dirinya dari robot biru muda itu.

"Drift, hentikan." Optimus memperingatkan Drift. Ia berjalan keluar, keadaannya buruk. "Ini Mikaela Banes, yang pernah ikut saat pertempuran pertama, dan saat pertarungan di Mesir. Dia yang memperbaiki aku selama ini. Aku berhutang kepadanya," tambahnya dengan serius.

"Mikaela, ini Drift. Dia yang menggantikanku selama aku tidak ada." Optimus menambahkan lagi.

"Oh," ucap Drift dan Mikaela bersamaan.

Drift memasukkan kembali misil-misil yang tadi sudah ia bidikkan kepada Mikaela, lalu berlutut dihadapan Mikaela hingga wajahnya hanya berjarak tiga meter dari Mikaela. Robot bernama Drift itu tersenyum dengan ramah. "Aku minta maaf atas perlakuan yang kurang menyenangkan. Namaku adalah Drift," sambungnya dengan ramah.

"Namaku Mikaea Banes, senang bertemu denganmu." Mikaela menjawabnya, lalu berdiri. "Kenapa aku belum pernah meihatmu sebelumnya?" Mikaela bertanya.

Drift bangkit kembali, dengan senyuman yang belum memudar, ia berkata lagi, "itu karena kita belum saling mengenal."

"Dimana yang Autobots yang lain?" Optimus bertanya, mengabaikan ucapan Drift yang memang kelewatan bijak. Ia cukup aneh untuk porsi seorang (atau sebuah) robot.

"Akan lebih baik jika kau melihatnya sendiri nanti," ucapnya. Mikaela menangkap ada kilatan sesal diwajahnya.

Optimus mengerti maksud dari Drift, lantas ia langsung bertransformasi ke alternate mode. "Mikaela, ambil senjata dan amunisi yang bisa kau ambil bawa dari mereka. Untuk berjaga-jaga saja," saran Optimus.

Mikaela mengguk lalu berdiri, ia berjalan pelan kearah meja yang sudah setengah hancur. Namun, ia melihat foto yang berhasil ia cetak dihari pertama kedatangannya bersama Optimus beberapa hari lalu. Foto itu sudah terbakar dibagian ujung, namun bagian gambar intinya masih baik. Jadi, ia memungutnya, memasukkannya kedalam saku celana jeans-nya.

Itu adalah fotonya bersama Optimus.

Ia mencari-cari dimana kamera yang ia temukan tempo hari, namun yang ia temukan hanyalah sebuah kamera yang sudah rusak tertimpa kunci pipa. Mikaela mendesah, karena itu hanya membuat dirinya tidak bisa melihat foto langka dimana Optimus tersenyum. Jadi sebagai alternatif lain, ia mengambil memory card yang berada di slot drive. Ia menyimpannya, dengan harapan kartu memori 16GB itu masih bisa berfungsi. Lagi pula, ia juga belum melihat semua foto disana. Ia juga mengambil amunisi sebanyak yang ia bisa, dan juga granat dengan kekhawatiran akan ada pertempuran lainnya, seperti yang dikhawatirkan Optimus. Dan ia tidak ingin diam saja tidak bersenjata tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mikaela duduk dikursi penumpang didalam alternate mode Optimus, M16A1 yang sudah terpasang pelontar granat berada disebelahnya. Setumpuk amunisi ada disana dengan banyak sekali granat, ia menggunakan kemejanya sebagai wadah perlengkapan itu, sehingga ia hanya menggunakan kaos. Ia duduk memandang keluar jendela, tangannya menopang kepala yang nampak sedang berpikir tentang sesuatu. Matanya melihat hamparan gurun berbatu yang gersang. Mereka sudah berkendara selama beberapa jam dengan kecepatan penuh. Ia sama sekali tidak lelah, tetapi apa yang ia alami hari ini cukup membuat adrenalinnya terpacu.

Ia benar-benar kesal, benci dan marah kepada robot bernama Lockdown dan orang-orang Cemetery Wind itu. Mereka sudah mengganggu momen-momen romatisnya bersama Optimus malam tadi. Maksudnya, kapan lagi ia akan mendapat momentum indah seperti kemarin. Bahkan, mereka mengganggu tepat disaat Mikaela akan mencium Optimus.

"Son of a bitch!"

Lengannya yang tegores peluru kaliber 50 masih terasa perih, namun sudah ia balut dengan kain yang ia dapatkan dengan cara menyobek kemeja bagian bawah. Ya, Mikaela tahu jika dirinya butuh makanan, dan pakaian atau obat-obatan jika beruntung. Tapi ia tidak mempunyai banyak uang, hanya sepuluh dolar yang ada dikantongnya. Itu pun karena keberuntungannya karena diberi tip oleh orang asing yang meminta bantuannya memperbaiki ban yang bocor.

Tapi semua itu seakan terbayar lunas karena ia bisa bergabung dengan Autobot sekali lagi. ia bersumpah, tidak akan keberatan jika harus mengulangi pertempuran lagi. Tapi kali ini, ia tidak ingin melihat Optimus mati lagi. Adalah hal bagus saat ia melihat di berita jika Optimus selamat setelah pertempuran Chicago, dan ia senang juga mengetahui Optimus akhirnya bisa merobek Megatron. Ia tidak tahu banyak tentang pertempuran itu, tapi ia bersyukur tidak ada korban dari Autobot.

Well, ia belum mendengar tentang Ironhide.

"Mikaela." Optimus memanggilnya, membuat Mikaela tersadar dari lamunannya. "Bagaimana keadaanmu?"

Mikaela tidak tahu harus memandang kemana, jadi ia memandang kearah kaca spion yang nampak sedang memandangnya. "Ah, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir tentang aku," jawabnya ditambahi dengan senyuman.

"Aku akan membawamu bersama Autobot. Mungkin hari-harimu akan sedikit sulit, tapi ini untuk keselamatanmu," kata Optimus. Nadanya terdengar khawatir, tapi Mikaela tidak berani mengasumsikan lebih jauh.

Mikaela terkekeh pelan. Ia menepuk pahanya pelan, sambil menggelengkan kepala. Ia pun berkata, "Optimus, aku sudah pernah mengalami ini, dua kali. Tentu aku bisa mengatasi yang ketiga kalinya, atau seterusnya," tuturnya.

"Akan kupastikan yang keempat dan seterusnya tidak akan pernah terjadi padamu lagi." Optimus menegaskan, dan ini membuat Mikaela semakin kagum dengan Optimus. Tidak, tapi cinta.

Mikaela tidak bisa menghentikan dirinya untuk tersenyum. Tidak bisa dipungkiri, Optimus membuatnya merasa jika dirinya menjadi prioritas utamanya. "Aku sudah bilang, Optimus. Aku akan tetap bersamamu," ujarnya.

Tidak mudah bagi Optimus untuk menerima pernyataan Mikaela jika ia akan tetap bersama dirinya. Bukan karena ia tidak ingin bersama Mikaela, tapi lebih karena ia tidak ingin melihat Mikaela menjadi seorang penyintas bersama robot raksasa. Optimus mengkhawatirkan Mikaela pada level yang lebih dalam; yang mungkin agak sulit dipahami sekali.

Selain itu, Optimus memang bisa menjanjikan keamanan dan keselamatan Mikaela. Tapi, bagaimana dengan kehidupannya? Bagaimana kehidupan Mikaela setelahnya? Bagaimana dengan kehidupan asmaranya? Bagaimana dengan kesehariannya? Ia tentu tidak bisa membawa kemanapun kakinya melangkah, atau kemanapun rodanya berputar. Ia tidak bisa memberikan apapun selain cintanya.

"DIA KEMBALI!" Suara robot berteriak, membuat pandangan Mikaela langsung teralihkan keatas sebuah bukit batu besar. Ia melihat robot yang berisi dengan tubuh yang tidak setinggi Optimus. Ia berlari-lari seperti balerina tua yang gemuk, lalu meluncur dari atas bukit batu itu seperti anak kecil yang meluncur dari prosotan. "OPTIMUS IS BACK!" Ia berteriak lagi.

Disamping truk Optimus, ia melihat mobil ala ke Decepticon-an dengan warna seperti Drift. Ia tidak ingat jika Drift berubah menjadi mobil, karena yang ia ingat beberapa jam lalu ia masih berbentuk helikopter. Mikaela kemudian melihatnya kembali berubah menjadi kewujud aslinya, robot samurai. Ia tidak begitu mengenal Drift, tapi sepertinya ia robot yang baik.

"Yeh, selamat datang kembali bos," sambutan lain dari robot berwarna hijau. Ia sama seperti Hound, memiliki serat-serat aneh diwajahnya, hingga tampak seperti sebuah kumis. Ia juga terlihat seperti robot yang mengenakan jas jubah yang panjang, dikepalanya terdapat sejenis kacamata pelindung, Harus diakui, robot bernama Crosshair ini memang keren.

Mereka berhenti dibawah tebing batu besar, bersamaan dengan itu Mikaela turun dari truk bersamaan dengan M16A1 dan perlengkapan lainnya. Ia kini dikelilingi oleh empat robot raksasa, yang mengingatkannya saat pertama kali ia bertemu dengan Optimus. Namun, melihat sedikit sekali Autobot, ia bertanya-tanya mengenai Ironhide. Ia baru sadar, biasanya robot yang ia andalkan adalah Ironhide, yang mana merupakan Letnan I Optimus.

Tak lama kemudian, dua mobil lagi muncul. Kali ini Mikaela sangat mengenalnya; yang pertama adalah si mobil Chevy Camaro berwarna kuning dan hitam. Dan yang kedua adalah mobil besar Hummer H2 dengan warna hijau. Ia—Mikaela tersenyum melihat Bumblebee dan Ratchet tiba. Ia benar-benar merindukan bocah pramuka dan dokter robot itu. sungguh.

Ketika mereka sampai, mereka langsung berubah kewujud asli mereka masing-masing. Keduanya memberi anggukan, dan sedikit ucapan selamat datang kepada bos-nya yang menghilang selama beberapa tahun belakangan. "Senang kau kembali, old friend," sambut Ratchet.

Bumblebee tidak berbicara, ia hanya memberi sebuah anggukan kepada pemimpin yang paling ia hormati sedunia; Optimus Prime. Kemudian, optik birunya yang menggemaskan memandang Mikaela dengan sedkit kilatan keterkejutan. Ia tidak mengerti kenapa Mikaela bisa berada disini.

"Hello, Michael-a," sapanya. "Kau merindukanku?"

"Hai, bee. Senang melihatmu lagi," sapa Mikaela balik.

"Mikaela, kau terlihat sedikit kelelahan." Suara Ratchet membuat Mikaela mengalihkan pandangannya dari Bumblebee, dan memandang optik birunya.

"Ah, ya ada sedikit ketegangan," jawab Mikaela. "Senang bertemu lagi," sambutnya. Ratchet hanya mengangguk sekali dengan senyum tipis.

Ia ingat betul, terakhir kali ia berbincang dengan Ratchet, robot itu dengan frontal mengatakan jika dirinya...ah, sudahlah. Mikaela bersyukur karena Ratchet tidak mempermalukan Mikaela lagi hari ini, mengingat sensor kedokterannya pasti menangkap gelombang-gelombang getaran aneh dari tubuh Mikaela untuk Optimus. Karena, jika Ratchet mengatakannya, akan ada kecanggungan luar biasa antara Mikaela dan Optimus.

"Level feromonmu mengatakan jika kau ingin kawin dengan Optimus," sanggahnya secara reflek.

"Selamat, bos, ampaknya kau punya pengagum rahasia, bos. Aku benar-benar iri," sahut Crosshair. Ia tertawa geli setelahnya, dan semakin menjadi-jadi setelah melihat ekspresi aneh dari Mikaela dan Optimus.

Mikaela memandang keatas, tanpa sadar jika Optimus juga tengah melihatnya. Saat mata mereka saling bertemu, mereka mengalihkan pandangannya satu sama lain. Mikaela melangkah beberapa langkah menjauh dari Optimus untuk mengantisipasi tanggapan yang aneh-aneh dari para Autobot. Ia tidak tahu kenapa Ratchet selalu berkata demikian setiap kali bertemu.

Ia melemparkan pandangan kepada Ratchet, yang nampak terhibur karena membuat Optimus dan Mikaela terjebak kecanggungan. Wajahnya merona merah, dan ia tidak bisa menahannya. Lantas, Mikaela memandang Ratchet sembari bergumam, "Ratchet, you really son of a—" ucapannya terhenti.

"Dimana yang lainnya?" Optimus mengalihkan pembicaraan dari topik yang tidak begitu enak dibicarakan secara umum itu menuju sesuatu yang lebih penting.

"Sayangnya, kita adalah enam Autobot terakhir di Bumi." Drift menjawab.

Mikaela tertegun mendengarnya. Terakhir kali ia melihat Autobot, mereka berjumlah lebih dari enam. Selain itu, ia tidak melihat ada Ironhide, Arcee maupun si kembar diantara mereka. Mikaela tidak tahu jika Ironhide dibunuh dengan brutal oleh Sentinel Prime. Ia melihat kemarahan diwajah Optimus, nampak begitu jelas seakan-akan ia bisa meledakkan seluruh panet hanya untuk melampiaskan amarahnya.

"Manusia-manusia, sekumpulan musang pengkhianat yang licik!" Hound mengutuk para manusia-manusia.

Drift mendengarkan kegusaran Hound dengan kedamaian. Ia menarik nafas panjang, "Hound, kau akan menemukan petunjuk didalam dirimu. Loyalty is but a flower in the winds of fear and temptation." Mikaela hanya bisa memiringkan kepala mendengarnya. Robot bernama Drift ini benar-benar aneh.

"Apa yang kau bicarakan?!"

"Itu adalah Haiku." Drift menjawab dengan tenang.

Ia—Optimus, tidak mempedulikan perdebatan antara Drift melawan Hound. Ia terlalu dipenuhi amarah, dan akhirnya meninju tanah yang ia injak, hingga bergetar dan menimbulkan lubang besar yang tidak wajah. Ia berteriak, penuh amarah yang tidak lagi bisa ia bendung. Jujur saja, Mikaela agak takut saat Optimus marah, karena memang lebih mengerikan daripada kemarahan Megatron. Seperti kata pepatah, marahnya orang sabar lebih mengerikan.

"Autobots, aku telah bersumpah untuk tidak manusia..."

"Kesalahan besar." Crosshair mengganggu.

"...tapi saat aku menemukan siapa dibalik ini...dia akan mati." Optimus berpidato singkat. Terdapat kemarahan dinadanya, dan Mikaela sepenuhnya mengerti bagaimana perasaan itu. Jika ia berada diposisi Optimus, ia akan sama marahnya. Dan ia juga akan bersumpah untuk membunuh siapapun yang mendalangi kegilaan ini.

"Hoo-ah!" Hound malah mengompori Optimus.

Mikaela tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan Optimus tenang dengan sendirinya. Kali ini ia tidak bisa menenangkan kemarahan Optimus, mengingat ini adalah kesalahan yang dibuat kaumnya. Mikaela tidak ingin menambah kemarahan Optimus, jadi ia menjauh dari robot alfa itu sebentar. Ia juga butuh waktu untuk mencerna kembali apa yang tengat terjadi.

TO BE CONTINUE...

.

.

.

A/N : Whoah! Chapter ini sama chap sebelumnya adalah chap favorit saya ehehe. Okay, emang gak banyak romance nya di chapter ini, tapi akan saya usahakan lebih banyak romance di chapter berikutnya...jika itu yang dimaksud reader. Nghahahaha..

Actions?

Tenang. Masih ada 2 chapter. Dan keduanya akan saya kasih epic battle antara Autobot vs Galvatron vs Lockdown vs Steeljaws. Dan yeah, setelah epic battle selesai (yang artinya chapter terakhir), terus lanjut nonton TF 4 deh :D

So, kalau ada kritik saran dan masukan silakan dimasukan kedalam kolom review.

WolfShad'z xx