Disclaimer : Bukan punya saya, ok?!
Title : The Knight of the Night
Rating : T saja lah, untuk bahasanya.
Summary : Jika cinta itu buta, maka tidak salah bukan jika Optimus Prime dan Mikaela Barnes saling mencintai? Optimus akan melakukan apapun untuk melindungi Mikaela-nya karena beda species bukan berarti mereka harus berpisah. #MakeThemHappy dan untuk Festival Fandom Barat II.
Setting : 2 tahun Setelah Transformer Dark of the Moon, beberapa tahun sebelum Transfomer: Age of Extinction.
Warning : tata bahasa kacau, OOC, dan mungkin banyak sekali tipo yang kurang berkenan.
.
.
.
Happy Reading!
.
.
.
Mikaela sama sekali tidak bisa menutup matanya agar ia tertidur. Udara dipadang berbatu memang begitu dingin, namun ia tidak memiliki masalah dengan itu karena Bumblebee sudah membuatkan api unggun untuknya. Cahaya remang-remang api yang bergoyang-goyang diterpa hembusan angin sepoi-sepoi membuat Mikaela hanya diam dan berpikir.
Belum jelas apa yang mengganggu Mikaela, yang jelas ia saat ini berdiri—bangkit setelah merasa terlalu lama berbaring hingga punggungnya terasa nyeri. Saat ia berdiri, ia hanya melihat Optimus tengah membicarakan sesuatu dengan Drift. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tetapi Mikaela memutuskan untuk tidak mengganggu.
Jadi, Mikaela hanya berjalan menuju arah timur. Ia melihat cahaya jingga yang muncul, membuat langit malam yang gelap akan segera berakhir. Ia tidak ingat pasti kapan terakhir kali dirinya melihat matahari terbit dan menikmati pandangannya. Akhir-akhir ini, sebelum bertemu Optimus, ia sangat sibuk. Bahkan terlalu sibuk hingga dirinya lupa untuk memakan sarapannya.
Ia hanya duduk sendiri diatas sebuah bukit batu yang tinggi, dengan pikiran yang kacau. Ia mencuri pandangan kearah Optimus yang jaraknya cukup jauh darinya. Ia masih belum bisa sepenuhnya percaya jika perasaannya kepada Optimus itu nyata dan benar-benar terjadi. Ia memang pernah jatuh cinta kepada Sam beberapa tahun lalu, namun rasanya kali ini berbeda. Perasaannya lebih tajam, lebih kuat, hingga ia bersedia jika harus melakukan hal bodoh untuk robot itu.
Oh, ia sudah melakukan hal bodoh.
Jantungnya sealu berdebar kencang sekali saat Optimus memandangnya dengan dua optik yang menghipnotis itu. kakinya selalu gemetaran saat Optimus memanggil namanya. Ia tidak bisa menahan gejolak aneh didalam dirinya yang seolah-olah mengambil kendali seluruh tubuhnya. Ia tidak bisa menjelaskan secara detil tentang apa yang ia rasakan, karena Mikaela memang payah dalam hal rasa-merasa.
Ia bersumpah, lebih mudah berhadapan dengan orang-orang Cemetery Wind. Karena perbedaannya adalah, saat ia berhadapan dengan orang-orang Cemetery Wind, ia tidak harus merasakan perasaan aneh yang menyakitkan yang ia rasakan kepada Optimus. Bukan membandingkan, hanya saja beberapa hal tidak dapat dijelaskan secara harafiah dan mendetail. Ia mengerti benar siapa dirinya, dan siapa Optimus. Terlalu banyak perbedaan diantara mereka.
Ia manusia, dan Optimus adalah robot.
Tapi, apakah Mikaela meminta terlalu banyak? Atau, lebih dari banyak?
Ia tidak bisa menjawab itu. tapi hanya dua kata yang bisa ia katakan untuk situasi rumit itu;
FUCK IT!
Mikaela telah bersumpah, ia akan mengikuti kemanapun Optimus pergi. Dan itu bukanlah sumpah yang kosong. Ia bersungguh-sungguh, ia tidak akan melakukan apa saja asalkan Optimus bisa bersamanya. Tak peduli berapa harga yang harus ia bayar. Ia sudah terlalu lama hidup dalam kesendirian, dan ia tidak akan sendiri dengan Optimus disisinya.
Yeah, tepat sekali. Dan ini bukanlah sarkasme.
Disudut lain, Optimus masih berbicara dengan Drift. Ia duduk di atas tebing tinggi, Drift berdiri tidak jauh disampingnya. Optimus melakukan hal yang sama seperti Mikaela, memandang matahari terbit. Itu merupakan hal yang paling ia sukai sejak berada di Bumi. Karena, itu sedikit banyak mengingatkannya akan planet Cybertron yang kini sudah hampir hancur akibat peperangan.
Pikirannya sama kalutnya untuk ukuran robot. Ia tidak bisa menerjemahkan secara pasti apa perintah yang diberikan prosesornya, karena sebanyak apapun perintah yang diberikan, spark-nya selalu terasa aneh. Sungguh, rasanya aneh. Kadang rasanya begitu hangat, hingga cahaya lebih terang muncul. Tetapi kadang cahaya itu sedikit meredup, membuatnya merasa...sakit?
Dan keanehan itu selalu terjadi saat ia bersama Mikaela. Ia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, bahkan selama di Cybertron pun tidak. Ataukah karena ia terlalu sibuk dengan peperangan hingga melupakan kebutuhan batinnya? Ataukah, ia hanya robot yang tidak seharusnya memiliki perasaan? Siapakah dirinya, dan kenapa ini terjadi? Kenapa semua menjadi rumit? Diantara banyak femme-mech—robotperempuan, kenapa ia malah jatuh cinta kepada manusia?
Tidakkah itu terdengar seperti cinta terlarang antara iblis dan malaikat?
Tidak. Sama sekali tidak. Optimus bukanlah iblis, tetapi Mikaela bagaikan malaikat untuknya. Malaikat yang secara tidak langsung mengajarinya bagaimana cara mencintai, dan apa arti sebuah pengorbanan. Mikaela mengajarkan dirinya bagaimana untuk terus mengangkat kepalanya tegak, meskipun ada api yang membara didalam dirinya.
Optimus kurang suka mengakui ini, tapi Mikaela membuatnya merasa seperti manusia.
"Apa kau mendengar yang ku katakan, sensei?" Suara Drift yang beraksen ke-Jepang-an mengganggu lamunannya.
Optimus langsung melemparkan optik-nya kepada Drift. Ia terlihat kesal karena sejak dari ia berbicara mengenai strategi terbaru, Optimus tidak benar-benar mendengarkan. Hal ini membuat Drift bertanya-tanya, pasti ada hal yang mengganggu pikiran pemimpin yang sangat dihormatinya ini.
"Tidak juga. Aku hanya mencari rencana baru jika Lockdown melakukan serangan lagi kepada kita," ujarnya.
Drift mendesah, uap keluar dari mulutnya. "Itu yang sedang kubicarakan," jawabnya.
Optimus tidak menjawab—bukan, tepatnya ia tidak tahu harus menjawab apa. Jadi, ia memutuskan untuk diam dan membiakan Drift mengatakan perkataan selanjutnya. Dan setidaknya, ia akan mendengarkan kali ini. Ia tidak ingin ketahuan bertindak bodoh dihadapan Drift, mengingat situasi yang mereka hadapi sangat genting.
"Kau terlihat aneh sejak tadi, sensei. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" Drift bertanya, namun matanya tidak memandang Optimus. Ia mengalihkan optik birunya kearah Mikaela yang berada agak jauh dibelakang mereka, memandang kearah timur. "Apa tentang gadis itu?" tanya Drift lagi.
"Karena ku, dia ikut menjadi buronan," ujar Optimus penuh sesal.
"Hanya itu? kau yakin?" Drift memincingkan optiknya penuh curiga.
Optimus belum menjawab, masih memilah-milah kata yang tepat untuk menjawab Drift. Ia bisa dengan mudah mengungkapkan perasaannya kepada orang lain, tetapi ia cukup sulit untuk mengakui apapun yang ia rasakan kepada dirinya. Terlalu banyak yang harus dipertimbangkan didalam prosesornya, dan untuk kali ini setidaknya ia harus bisa mengendalikan pikirannya seperti ia memimpin armada perang.
"Ya." Optimus menjawab dengan singkat.
Drift, yang mempunyai intuisi tajam dapat merasakan memang ada sesuatu yang spesial antara pemimpinnya dan gadis itu. Namun, ia tidak berani menyimpulkan lebih jauh, karena bukti yang belum cukup. Ia mungkin akan mencoba memancing Optimus untuk bicara, dengan kata-katanya yang—menurut sebagian besar Autobot—konyol. Sebenarnya tidak konyol, ia hanya mencoba menjadi serigala bijak.
"Selama ia bersama kita, aku yakin dia akan aman. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah mencari tempat persembuyian yang bagus dan menyusun taktik yang ampuh," jawab Drift. Ia menyilangkan kedua tangannya setinggi dada.
"Aku tahu. Hanya saja, dia masih sangat muda," ujarnya diam. Optimus menoleh kearah Mikaela, lalu memandang kedepan lagi. "Aku tidak ingin ia mati karena masalah yang bahkan tidak dipahaminya," sambung Optimus.
Mendengar perkataan itu, Drift memberikan seringai aneh. Ia pun berjalan mendekat kearah Optimus, lalu duduk dihadapan robot alfa itu. Drift mencoba mengejar pandangan Optimus dengan kedua matanya. Seringainya belum juga hilang, membuatnya terlihat seperti detektif yang akan menginterogasi tahanan.
Selama ia bergabung dengan Autobot, ia tidak pernah melihat Optimus begitu bimbang seperti ini. Ia tahu jika pemimpinnya ini sangat sensitif, tapi juga keras kepala dalam beberapa hal. Ia—Optimus bersedia berkorban untuk siapa saja yang baginya berarti, atau siapa saja memberikan kesan didalam spark nya. Tentu yang dilakukannya kepada Mikaela pasti lebih dari sekadar balas budi.
Drift tahu benar itu. Ia memahami itu, melalui syair-syair haiku yang indah.
"Sepertinya kau telah menemukan Sparkmate-mu, sensei. Fajar datang menganugerahkan kehangatan, harapan, atau cinta. Tangan takdir mengijinkanmu memilih," ucap Drift. Optimus memandang Drift dengan pandangan penuh tanda tanya. Ia sama sekali tidak paham dengan pandangan menuduh dari Drift itu. Sesuatu pasti sedang meracuni pikirannya yang aneh itu, dan sebaiknya Optimus diam atau Drift akan menyumpulkan yang aneh-aneh.
"Aku tidak mengerti dengan pemikiranmu, Drift. Kau mengigau," Optimus berkata. Ia berusaha mengelak, tapi Drift sudah mengetahui itu. Optimus berpikir, mungkin Ratchet lah yang memberitahukannya, atau mungkin ia mengambil kesimpulan dari ucapan Ratchet kepada Mikaela semalam. Belum lagi, kini Crosshair meledeknya dan Mikaela beberapa kali.
Selain itu, Drift melihat Mikaela tersipu malu saat Ratchet mengatakan Mikaela ingin kawin dengan Optimus. Okay, itu memang aneh. Tapi Ratchet selalu tahu apa yang ia katakan, walaupun kadang ia begitu ceplas-ceplos. Belum lagi Crosshair, si keren yang menyebalkan. "Aku tidak mengigau, aku memberitahumu jika kau telah jatuh cinta," sangkal Drift dengan enteng.
Optimus seperti tercekik pegitu mendengar perkataan Drift itu. ia sudah tidak bisa lagi mengelak, Drift membuatnya mau tidak mau harus mengaku. Tapi, apakah benar jika dirinya telah jatuh cinta kepada Mikaela? Ia tidak tahu.
Astaga, Drift benar-benar terdengar seperti mak comblang.
"Mungkin kau benar," jawab Optimus. "Kupikir, ia merasakan hal yang sama." Optimus menambahkan.
Drift tersenyum tipis, mengetahui kemenangan dipihaknya. "Lalu, apa yang membuat kalian berhenti?"
Baik, Drift, itu pertanyaan bagus. Bagus sekali. Tentu banyak hal yang harus membuat mereka harus berhenti! But fuck it!
Optimus memandang telapak tangannya, menyadari hal paling menonjol diantara mereka. optimus menyadari itu, tapi ia akan menyerahkan keputusan seutuhnya kepada Mikaela. Ia yang akan memilih langkah apa yang akan mereka ambil. Tetapi pertama-tama, sebaiknya mereka berbicara lebih dulu. "Tanpa aku sebutkan, kau tahu apa yang menonjol," jawabnya.
Drift berdiri, berjalan menjauh dari Optimus untuk bergabung bersama Crosshair dan lainnya. Tapi, sebelum langkahnya lebih jauh lagi, ia berhenti dan meletakkan tangannya di pundak Optimus. Senyuman tipis menghiasi wajahnya yang penuh kedamaian, mencoba menenangkan Optimus. Kali ini bukan sebagai bawahan kepada pemimpinnya, melainkan sebagai teman lama, yang memberikan nasihat bijak.
"Kenapa tidak mencoba membicarakan ini dengannya? Jika pikiranmu benar, ia pasti sudah menunggu," ujarnya. Setelah mengatakan itu, Drift berjalan menjauh dan membiarkan Optimus. Ia membiarkan bos-nya memikirkan apa-apa yang harus dibicarakan dengan Mikaela. Lagipula, Drift tahu jika baik Optimus maupun Mikaela memiliki rasa ketertarikan satu sama lain.
Bagaimana dia tahu?
Well, kau bisa menyebutnya intuisi. Atau semacamnya.
-ooOOoo-
Matahari sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit, namun masih malu menunjukkan wajahnya yang bersinar. Mikaela telah selesai mengisi ulang magazin dari M16A1 yang mungkin akan berguna nanti. Pelontar granat yang terpasang rifle nya sudah ia isi dengan granat. Yang harus ia lakukan kini hanyalah menunggu apapun langkah yang akan diambi Autobot. Ia sudah siap untuk menendang beberapa bokong orang-orang Cemetery Wind.
Tapi rasanya ia begitu lapar, ia bahkan tidak ingat kapan dan apa makanan yang ia makan. Ia tidak mempunyai banyak uang selain dua lembar uang lima dolar, yang berarti hanya ada sepuluh dolar. Yah, setidaknya itu cukup untuk membeli makanan untuk sarapan dan makan siangnya nanti. Ia juga bisa meminta tolong kepada Bumblebee untuk mengantarnya ke makanan cepat saji terdekat.
Untuk saat ini, ia hanya duduk dibawah sinar matahari pagi yang menyehatkan. Ia mengeluarkan foto yang ia cetak dari dalam sakunya, melihatnya selama beberapa menit. Setiap kali ia melihat foto itu, rasanya hatinya menjadi hangat. Ia sangat ingin melihat senyuman Optimus yang langka sekali lagi, setidaknya untuk penyegar hatinya dan sebagai lampu yang menerangi hatinya.
"Mikaela." Sebuah suara yang familiar memanggil namanya.
Mikaela melompat kaget, hingga tanpa sengaja foto itu ikut terlempar dari tangannya. Ia melihat foto itu terjatuh tepat dibawah kaki Optimus, membuat Mikaela benar-benar ingin menghajar wajahnya sendiri. Ia seharusnya memegang foto itu lebih erat, jadi ia tidak harus menahan wajah malu dihadapan Optimus. Apalagi robot itu bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa, membuat Mikaela semakin penasaran dengan apa yang terjadi didalam helmnya.
"Oh," ia menghembuskan nafas pendek sembari memandang lembaran foto itu. "Hai?" ujar Mikaela.
Optimus yang menyadari sesuatu dari Mikaela terjatuh didepan kakinya, langsung membungkuk dan mengambilnya. Tangannya yang besar memungut foto itu diatas tanah berpasir, yang mempermudah Optimus untuk mengambilnya. Ia mengontraskan optiknya, untuk memperjelas pandangan terhadap foto itu. sementara Mikaela memandang Optimus dengan nafas tertahan.
Senyum di pelat wajahnya tidak bisa tertahan begitu ia melihat foto itu. Ia tidak begitu ingat kapan dan siapa yang mengambil foto mereka. Yang jelas, didalam foto itu, Optimus memberikan senyuman yang jarang itu kepada Mikaela. Sementara gadis itu, membalasnya dengan sebuah senyuman yang lebih hangat, melelehkan spark-nya. Optimus memberikan senyuman begitu melihat senyum Mikaela.
"Aku tidak ingat jika ada yang mengambil foto kita," ujar Optimus. Ia berusaha membuka percakapan dengan Mikaela.
Mikaela tidak bisa menahan diri untuk tidak merona, jadi ia menghentak-hentakkan kakinya sebagai manuver agar Optimus tidak melihat wajahnya yang memerah. "Er, ya, benar. Mungkin Sam yang mengambilnya," jawab Mikaela gemetaran. "Itu percakapan empat mata pertama kita," tambahnya.
Optimus tersenyum amat tipis lagi, memandang Mikaela penuh arti. "Benar. Kau masih sangat muda saat itu," ucap Optimus.
"Apa itu berarti sekarang aku tua?" Mikaela terkekeh sendiri.
Optimus tidak menjawab, ia hanya memberikan senyuman kepada Mikaela. Senyuman Optimus benar-benar menggetarkan, sungguh. "Kadar glukosamu rendah. Kupikir sebaiknya kau mencari sesuatu untuk mengisi ulang tenagamu," ucap Optimus.
"Ah, kau terdengar seperti Ratchet." Mikaela mencemooh Optimus, ia meringis sendiri. Optimus menyerahkan foto itu kembali kepada Mikaela, dan diterimanya dengan tangan yang gemetaran. Semoga Optimus tidak bisa mendeteksi kadar feromon seperti Ratchet. Mikaela tidak ingin menahan rasa malunya lagi.
Lima detik kemudian, Optimus sudah bertransformasi kedalam bentuk truk berwarna biru dengan lidah api berwarna merah. Kaca depannya begitu gelap, namun jika dilihat dari dalam akan terlihat sangat terang. Tanpa diperintah, Mikaela langsung masuk sembari membawa M16A1 beserta amunisi dan granatnya, dan duduk dikursi penumpang.
Yah, ia tahu selama ada Optimus ia akan aman. Tapi ia tidak ingin mengambil resiko lebih lanjut jika kejadian seperti semalam akan terulang kembali. Jika senjata laras panjang keren itu tidak bisa menjauhkannya dari Lockdown, setidaknya ia bisa membantu menghabisi orang-orang Savoy. Kapan lagi ia bisa memegang senjata keren melawan penjahat? Bukan hal yang bisa kita lakukan setiap hari, bukan?
Truk Optimus mulai berjalan perlahan-lahan melewati gurun berbatu yang gersang. Melalui jalur berkelok-kelok, bersamaan dengan itu setirnya berputar kekanan kekiri untuk menghindari tabrakan dengan batu-batu besar. Mereka melintas didepan Drift, Crosshair, Bumblebee, Hound dan Ratchet. Nampaknya, mereka tengah melakukan permainan aneh dari planet mereka. Permainan yang tidak dipahami oleh Mikaela, namun terlihat menyenangkan.
Mereka semua berhenti begitu pemancar mereka mendapatkan pesan jika Optimus akan mengantar Mikaela kesuatu tempat. Pesan itu berisi, "Aku akan mengawal Mikaela untuk membeli perlengkapannya. Ratchet, kau bertugas mengawasi Drift dan Bumblebee."
Ratchet menjawabnya dengan setuju. Umurnya hampir sama dengan Optimus, atau mungkin beberapa juta tahun lebih muda dari Optimus. Jadi, untuk mengawasi Bumblebee dan Drift merupakan tugas yang pantas untuknya. Ia benar-benar robot yang sangat peduli dengan kesehatan, dan kurang menyukai kekerasan. Hampir sama dengan Drift, tetapi Drift lebih badass.
"Semoga kencanmu menyenangkan bos!" Hound berteriak, disusul dengan Crosshair.
"Yeah, kencan, pacaran, atau sparkling. Jangan berikan energon wine padanya jika tidak ingin sedikit diluar kendali," Crosshair berteriak, disertai ledekan dan gelak tawa yang aneh. Ia sedikit rebel dibanding yang lainnya. Mikaela seakan-akan ingin menampar wajahnya sendiri saat mendengarnya.
Drift mendesah. Ia tidak mengerti kenapa Crosshair mempunyai sedikit sekali rasa hormat kepada Optimus. Padahal, ia adalah tipe pemimpin idola semua robot, atau bahkan manusia. Agak sulit menemukan pemimpin seperti Optimus Prime dewasa ini. "Kalian benar-benar menggelikan," Drift berkomentar.
Mikaela dan Optimus mengabaikan para Autobot yang terdengar seperti anak-anak remaja yang bergosip satu sama lain. Sementara didalam pikiran Optimus, hanya bisa mengutuk teman-teman seperjuangannya yang membuat dirinya malu. Tapi Optimus tahu cara lebih baik daripada mengumpat, yakni diam dan tidak mengatakan apapun. Yah, jual mahal, atau semacamnya. Atau manuver mengelak.
"Sepertinya Ratchet memperbaikimu dengan sempurna," puji Mikaela, memecahkan keheningan yang canggung. Ia melihat kondisi dan rupa alternate mode Optimus kembali seperti saat mereka bertemu dulu. Hanya saja, kali ini lebih keren dengan lidah api yang menyala. Mikaela menyukai desain yang hot itu. "Aku selalu menyukai desain lidah api itu. Membuatmu terlihat lebih mengagumkan," sambung Mikaela.
"Ironhide yang menyarankannya," ujar Optimus, nadanya sedikit berat.
"Ah, ya. Si Ahli Senjata. Aku bertanya-tanya dimana dia sekarang," kata Mikaela. Ia seakan-akan bergumam sendiri.
"Dia sudah offline," jawab Optimus.
Mikaela mengangkat sebelah alisnya, ia tidak paham dengan ucapan Optimus. Apa Ironhide sudah...
"Tunggu, maksudmu dia...meninggal?" tanya Mikaela. Ia sedikit bingung bagaimana menanyakannya. Mikaela tahu jika Optimus sedikit sensitive untuk masalah seperti ini, jadi ia harus berkata selembut mungkin. Mikaela tidak ingin membuat Optimus tersinggung, apalagi sampai kesal. Tapi kapan? Kenapa Mikaela tidak mengetahuinya.
"Ya, dia sudah meninggal." Optimus berkata tegas, penuh kemarahan. "Sentinel Prime yang membunuhnya," ucap Optimus, getir.
"Oh," ucap Mikaela. "Aku minta maaf," ujarnya.
"It's alright. Setidaknya, ia tidak harus merasakan perang lagi," ujarnya dengan penuh emosi yang mendalam. Sudah banyak teman-teman Autobot-nya yang gugur di medan perang, dan ini juga yang membuatnya semakin tangguh dan terus berjuang agar perang berakhir jadi tidak ada lagi korban. Namun nampaknya tangan masalah masih enggan melepaskan pelukannya dari tubuh para Autobot. Belum selesai urusannya dengan Decepticons, sekarang Lockdown ikut campur dengan para manusia yang turut membantu.
"Ia akan bergabung dengan teman-temanku yang telah gugur didalam kehidupan yang damai," ujarnya. "Itu yang dikatakan Drift," sambung Optimus.
Mikaela tersenyum tulus, ia meletakkan tangannya disetir hingga kehangatan kembali mengalir di kabel-kabel—otot syaraf Optimus. Ia mengusap setir itu dengan lembut, seakan-akan mencoba memberikan ketenangan kepada Optimus. "Drift benar," ucap Mikaela setuju, disertai anggukan setuju.
Mereka berkendara dalam diam selama hampir seperempat jam. Optimus memutarkan lagu dari radio-nya untuk membunuh kebosanan Mikaela. Gadis itu tidak mengerti bagaimana bisa Optimus bisa mendapatkan lagi-lagu yang nikmat didengarkan seperti Air Supply, sampai Michael Learns To Rock. Mungkin selama ini dia menangkap singal radio untuk membunuh kebosanan? Atau mungkin dia menyukainya? Ah, entahlah.
Berbicara mengenai kebosanan, bagaimana cara Optimus bersembunyi selama ini? Maksudnya, bagaimana ia mengelabuhi kamera keamanan dijalan raya, atau polisi lalu lintas yang mendapatinya melaju kencang? Atau bagaimana Optimus saat terpaksa harus dikejar polisi karena melanggar lalu lintas? Tidakkah itu aneh, dan terlalu menarik perhatian jika ada truk tanpa sopir berkeliaran di Amerika. Jika Optimus membiarkan itu terjadi, mungkin ia akan menjadi hot topic di dunia maya dengan title 'truk keren tanpa pengendara tertangkap kamera,' yang kemudian akan dirilis menjadi film horor.
Oh tidak. Yang benar saja. "Uh, Optimus," panggil Mikaela, nampak dari wajahnya jika sesuatu tengah mengganggu pikirannya.
"Ya?"
"Bagaimana kau menghindari kamera keamanan dan polisi lalu lintas? Maksudku, tidakkah itu mencolok jika manusia melihat truk tanpa sopir?" Tanya Mikaela. Dan itu, adalah pertanyaan yang logis.
"Aku menggunakan holoform untuk mengelabuhi manusia, dan itu berhasil," jawab Optimus dengan jujur.
Mikaela mengangguk, namun masih belum puas dengan pertanyaannya. Masih banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Optimus. Sangat banyak, dan holoform hanyalah bagian kecilnya saja. "Bukankah hologram hanya bisa digunakan saat malam atau dalam kegelapan saja?"
"Holoform buatan manusia, ya. Tapi teknologi di Cybertron jauh lebih maju dibandingkan dengan teknologi manusia, jadi kami—Transformers yang berada di Bumi bisa menggunakan holoform. Baik siang, ataupun malam, itu tidaklah masalah besar." Optimus menjelaskan, mendapati mata Mikaela yang berbinar-binar penuh ketertarikan saat mendengar penjelasan Optimus.
"Oh, menarik. Bisa kau tunjukkan holoform-mu padaku, jika kau tidak keberatan?" Pinta Mikaela. Ia bertanya-tanya seperti apa holoform Optimus Prime. Mungkinkah holoform itu berupa manusia tampan dengan postur tubuh yang tinggi, terbentuk dengan atletis. Yang berada didalam bayangan Mikaela adalah aktor tampan Hugh Jackman.
"Tentu," sahut Optimus.
Terjadi keheningan selama beberapa saat, namun setelah agak sedikit lama sebuah suara aneh terdengar. Mikaela mencari dimana arah suara itu, namun saat ia menoleh ia melihat ada sebuah sensor yang bergerak-gerak seperti sedang menggambar sesuatu. Dan disanalah, terdapat seseorang duduk tepat disebelah Mikaela, membuatnya hampir terperanjat.
Mikaela terkagum begitu melihat sosok holoform Optimus. Yakni sosok hologram manusia dengan postur tubuh tegap, berisi dan atletis. Mempunyai kharisma dan mata biru yang indah namun terkesan telalu alien, rambutnya tidak begitu tebal dan tidak begitu tipis berwarna hitam dengan sedikit warna biru. Ia juga memiliki facial hair yang rapi diwajahnya. Sementara tubuhnya terbalut jaket berwarna biru bermotif lidah api, dengan celana biru yang sangat mirip dengan warnanya. Wajahnya begit tampan, seperti pria berusia tiga puluh tahunan.
"Wow, kau benar-benar hot, Optimus!"
Pengemudi holoform itu menoleh kearah Mikaela, tersenyum tipis. Mikaela terasa meleleh saat melihatnya tersenyum seperti itu. Rasanya, cintanya kepada Optimus semakin menjadi-jadi. Apalagi setelah melihat holoform yang sangat tampan itu. Astaga, kaki-kaki jenjang Mikaela gemetaran!
"Oh, terima kasih," ujar si pengendara. Suaranya masih dengan suara Optimus.
-oooOOooo-
"Sir, Prime berhasil terlacak." Seorang wanita muda berkata sambil membenarkan microphone nya yang melenceng. Ia lantas memanggil Attinger yang terlihat gusar, karena tidak satupun drone yang ia kirimkan berhasil menangkap keberadaan Optimus, maupun Prime. Tapi, mendengar ucapan itu, semangatnya kembali membara. Kilatan penuh ambisi kembai terlihat dimatanya.
Ia mendekat kearah salah satu karyawannya itu. Matanya memandang langsung kearah layar komputer flat 21 inch itu. Otot-otot diwajahnya terlihat, tampak jika ia sedang mengalami ketegangan yang membuatnya tidak bisa rileks. "Dimana dia?" Attinger bertanya.
"Dia terlihat dipinggiran Texas, sir." Si karyawan menjawab dengan jujur. Tangannya menunjuk kolom yang bertuliskan koordinat menurut letak geografisnya.
"Giussepe!" Panggil Attinger marah dari dalam lab.
"Ya, pak?" Giussepe datang dengan tergopoh-gopoh. Ia langsung menghadap langsung kepada pimpinannya dengan wajah siap menjalankan apapun yang akan diperintahkan.
"Kumpulkan orang-orangmu, dan tangkap Prime! Aku ingin kalian semua menyelesaikan ini secepatnya!" Bentak Attinger, sembari memukulkan tangannya dimeja, seperti orang yang kehilangan kewarasannya.
"Tapi, bagaimana dengan Savoy, sir?" Tanya Giussepe.
"Savoy masih menjalani perawatan. Sekarang adalah giliranmu untuk membunuh gadis itu, dan dapatkan Prime. Aku akan menyuruh Lockdown agar menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin." Attinger berkata sembari mengusap keringat dikeningnya. "Kita menarik terlalu banyak perhatian," tambahnya.
"Siap, pak. Aku akan bersiap." Giussepe menjawab dengan tegas. Tangannya mengambil microphone dari sakunya, lalu memasangkan benda itu ditelinganya. Seraya itu, ia memerintahkan orang-orang Cemetery Wind untuk bergerak. Karena, untuk sementara waktu, ia yang memimpin, menggantikan Savoy.
Giussepe tidak akan gagal, itu yang ada didalam pikirannya.
TO BE CONTINUE!
.
.
.
A/N : Okay, maaf karena ini agak kacau. Saya bener-bener udah berusaha bikin yang terbaik, dan maaf jika agak boring. Cobaan saya buat update ini benar-benar lumayan. Banyak perjuangannya :" Tapi saya janji epic battle di chap terakhir akan lebih seru dan well, romantis tentunya.
Stay tune~
As always, kritik saran selalu diterima xx
