Menghela nafas panjang, si mungil Tao yang duduk dengan kaki lurus ke depan menghadap mangkuk kecil berisi susu strawberry miliknya, terlihat lesu dengan wajah manisnya yang tertekuk. Si mungil itu menundukkan kepala, melihat pantulan wajahnya pada permukaan susu berwarna merah muda. Sesekali ia meletakkan sisi wajahnya di pinggiran mangkuk kecil itu dengan pandangan menerawang.
Sementara di tempat yang sama, di meja kaca itu Kris tengah mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Si tampan Wu itu terlihat fokus menekuni layar laptop di hadapannya. Selagi jari-jari tangan kirinya mengetik(Kris seorang kidal), tangan kanannya membawa lembaran dokumen penting. Karena pekerjaan itulah membuat Kris yang biasanya sangat perhatian pada Tao, kini tak menyadari perubahan gelagat si mungil menggemaskan yang terlihat gelisah.
Tao mengerucutkan bibirnya yang unik seperti bebek ketika melemparkan pandangannya pada jam dinding di kamar tersebut, kemudian menoleh pada Kris, lalu menghela nafas panjang. Dan sepertinya meski tengah sibuk, lelaki tampan bersurai abu-abu muda itu cukup peka ketika helaan nafas si mungil itu di hembuskan.
"Ada apa? Kau tidak suka susunya Taozi?" tanya Kris perhatian. Menghentikan gerakan jemarinya dan menatap si mungil yang telinga kucingnya layu, serta ekor yang bergerak lemas di belakang tubuhnya.
Tao menggelengkan kepalanya pelan. "Susunya lezat, aku suka" jawabnya dengan suara yang cukup pelan. Kris mengernyit samar.
"Lalu kenapa wajahmu murung hm?"
Kris meletakkan dokumen yang di bawah ya diatas keyboard laptop, lalu meraih tubuh mini Tao dengan tangan besarnya yang hangat. Si mungil itu mengangkat wajahnya menatap Kris, kemudian memeluk ibu jarinya seraya menempelkan sisi wajahnya. Membuat Kris yang semula khawatir akan sikap pendiam Tao dapat menipiskan rasa khawatir itu, dan menjadi senyum samar di sudut bibirnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan hm?" tanyanya lagi, mengusa sisi wajah Tao dengan jari telunjuk tangan kanannya. Membuat si mungil menggemaskan itu memejamkan mata dengan kepala tertoleh ke samping menikmati usapan lembut itu.
Kris meletakkan tubuh mini Tao diatas tepian layar laptop, mengharuskan makhluk imut itu duduk dengan kaki menjuntai ke bawah.
"Bagaimana jika tubuhku tidak bisa kembali ke ukuran semula?" sepasang mutiara hitam indah itu akhirnya bertemu dengan hazel Kris yang menatap lekat. Ekspresi wajahnya yang seperti menahan tangis membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
Alih-alih membuat Kris ikut sedih, lelaki tampan Wu itu malah harus menahan reaksi gemasnya pada si mini Tao yang sedang merajuk.
"Kau pasti kembali normal Tao. Apa yang membuatmu secemas ini?"
"Habis..." Tao mengusap matanya yang mulai basah. "...kata Mama hukuman ku akan segera lenyap setelah aku menyesali perbuatan ku. Tapi ini sudah 3 minggu aku berada disini dan tidak ada perubahan" suaranya bergetar menahan tangis.
Kris tersenyum lembut, mengusap kepala dengan helai yang teramat halus itu dengan ujung jari telunjuknya. Bermaksut memanjakannya.
"Kau pasti akan kembali normal, orangtua mu tidak akan setega itu memberi hukuman padamu untuk seumur hidupmu bertubuh kecil kan?"
Kepala dengan sepasang telinga kucing itu mengangguk kecil, kemudian menangkap jari panjang Kris yang bergerak mengusap kepalanya, memeluknya seperti koala yang menempel pada batang pohon. Kris terkekeh melihat tingkah menggemaskan makhluk mungil di hadapannya itu, hingga akhirnya ia meraih tubuh mini Tao dan menghujaninya dengan ciuman yang suskses membuat si imut menggemaskan itu tergelak karena geli.
Bagaimanapun ukuran tubuhnya terlalu kecil untuk menerima ciumab Kris, yang tentu saja itu artinya ciuman tersebut menghujani tubuh mininya.
"Boleh aku meminta pancake Kris?" tanyanya memohon dengan mata berbinar. Berhasil menghentikan aksi brutal Kris yang menciumi tubuh kecilnya dengan menahan bibir tebal itu menggunakan kedua tangan kecilnya.
Yang sebenarnya hal itu tidak berefek apapun pada si Wu.
"Tentu, kau mau pancake dengan madu atau susu?"
"Madu!" Tao memekik senang.
"Baiklah, akan ku buatkan spesial untukmu"
Tao mengernyit serta memiringkan kepalanya imut. "Memang kau bisa memasak?"
Kris mendengus, membawa tubuh mini Tao masuk ke dalam saku piyamanya. "Sebelum Bibi Fei bekerja disini, aku memasak makananku sendiri" ujarnya sembari melangkah meninggalkan kamar.
"Sungguh? Apa masakanmu lezat?"
"Tentu saja"
"Boleh aku mencicipinya?"
"Ya. Setelah tubuhmu kembali ke ukuran normal, aku akan membuatkan sesuatu untukmu"
"Janji?"
"Janji pria"
Tao tertawa senang . Kini mereka telah berada di dapur. Dan Kris sebagai Tuan Rumah sangat mengenal bagian penting di dalam rumahnya itu dengan baik, meski ia lebih sibuk bekerja di banding memasuki dapur, hal itu tak membuatnya kesulitan untuk menemukan bahan baku membuat pancake seperti yang di inginkan Tao. Bahkan ia terlihat terampil membuat adonan pancake, yang di sertai tatapan antusias Tao yang memperhatikan bagaimana kedua tangan lelaki itu bekerja.
"Tambahkan gulanya, aku mau yang manis Kris!"
"Gigimu bisa sakit jika terlalu manis"
"Tidak tidak! Aku tidak pernah sakit gigi!"
"Baiklah"
Tao terlihat sangat senang saat Kris mengabulkan permintaannya untuk menambahkan gula pada adonan pancake nya. Berkali-kali ia memuji kemahiran Kris membuat adonan tanoa bantuan Bibi Fei, mengingat jika sudah hampir tengah malam dab kondisi rumah itu benar-benar sepi. Dan tiba saatnya Kris harus memanaskan teflon untuk mencetak pancake, dengan api sedang, ia bersiap menuangkan adonan ke dalam teflon.
Lagi-lagi mengundang rasa takjub Tao yang kini bertepuk tangan senang melihat pancake pertama yang hampir matang. Bahkan karena terlalu antusias, ia tak hentinya bergerak di dalam saku piyama Kris, membuat lelaki Wu itu harus mengalihkan pandangannya dari penggorengan ke sosok mini Tao. Untuk yang cetakan yang ketiga, Tao yang tak bisa berhenti bergerak tak sengaja kehilangan keseimbangannya hingga terjungkal dari saku piyama Kris dan mendarat diatas penggorengan yang panas.
"Aaahhh! Panas! Panas!"
Teriakan nyaring itu terdengar cukup keras. Kris tergesa meletakkan mangkuk berisi adonan pancake di meja pantry, dan meraih tubuh mini Tao yang ada diatas penggorengan. Makhluk mungil itu menangis keras karena pantatnya yang mencium panasnya permukaan penggorengan, membuat Kris cukup bingung harus melakukan apa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melepas pakaian yang di kenakan Tao dengan sangat mudah, dan membawanya ke bak cuci piring.
"Aaahh~ dingin~" Tao menghela lega begiu air kran yang dingin membasahi bagian pantatnya yang memerah sempurna.
"Masih terasa sakit?" tanya Kris, dengan mata tertuju pada bulatan pantat Tao yang menungging tepat di bawah guyuran air kran.
Tao yang memeluk ibu jari Kris sebagai pegangan hanya menggelengkan kepalanya, matanya terpejam menikmati sensasi dingin yang menerpa pantat kecilnya yang bulat. Tapi entah apa yang di pikirkan Kris, karena si tampan itu tak kunjung mengalihkan pandangannya dari 2 bulatan menggemaskan milik Tao yang masih memerah.
Jika Tao tidak merengek agar pantatnya selesai di basuh, mungkin Kris tidak akan bergerak sedikitpun.
"Tunggu disini, ku ambilkan kotak obat" ucapnya, menurunkan tubuh mini Tao diatas meja kayu yang ada di dapur, kemudian melesat ke sisi lain ruangan memasak itu untuk mengambil kotak obat yang telah tersedia.
Tao menggunakan satu tangannya untuk mengipasi pantatnya yang kembali terasa panas setelah sensasi dinginnya air hilang. Rasa sakit di area privatnya itu membuatnya menangis dalam diam, hingga Kris kembali membawa kotak obat dan menyuruhnya utuk berbaring tengkurap. Dan Tao menurutinya, melipat kedua tangannya sebagai sanggahan dagu, dan sedikit menunggingkan pantatnya keatas -tepat di depan wajah Kris-, wajahnya tertoleh ke samping memperhatikan Kris yang tengah membuka sebuah tube kecil.
"Pelan-pelan, itu sakit sekali" pintanya dengan mata berlinang.
"Aku akan lembut, tenanglah" kata Kris menenangkan.
Ia pun menekan perlahan tube di tangannya hingga mengeluarkab setitik cairan bening yang kental, yang ia letakkan di ujung jari telunjuknya. Kemudian dengan hati-hati mengoleskan krim tersebut pada pantat Tao yang siap di depan wajahnya. Membuat Kris terdiam dengan menelan ludah. Jika permintaan Tao yang memintanya agar cepat mengoleskan krim itu, mungkin Kris tidak akan tersadar dari lamunannya akan pantat bulat menggiurkan milik Tao.
"Uwaah~ dingin~" si mungil itu spontan menggoyangkan pantat bulatnya ke kanan dan ke kiri ketika krim di ujung jari Kris menyentuh kulitnya yang panas.
Kris mengutuk dalam hati. Bagaimana mungkin dirinya bisa tergoda pantat bulat kecil milik Tao? Bahkan saat ini lelaki itu tak kunjung menyudahi kegiatan tangannya untuk meratakan krim di bongkahan bulat menggemaskan itu. Sesekali menekannya lembut, merasakan tekstur kulitnya yang halus, dan juga kekenyalan pantat Tao yang sama seperti pantat bayi.
Kris menyukai pantat indah itu. Sungguh.
Dan ia berharap jika nanti Tao telah kembali ke ukuran normal, dirinya dapat kembali menyentuh pantat menggiurkan itu secara nyata.
Oh Kris tidak sanggup membayangkannya. Pantat Tao versi mini saja sudah membuatnya berpikiran kotor, bagaimana nanti jika dirinya benar-benar melihat pantat bulat Tao yang versi normal? Bisa-bisa ia memperkosa sosok menggemaskan itu nanti.
END
Agar lebih terasa feelnya, di mohon untuk melihat fanart Kristao yang dimana Tao ada di dalam telur dan menjadi hadiah ultah Kris, yang kemudian berakhir di penggorengan dan Kris harus mengobati pantat Tao.
Regards, Skylar
