Kris masih tidak dapat mengendalikan keterkejutannya hingga detik ini. Karena saat setiba dirinya di kediamannya yang nyaman, dirinya dikagetkan dengan sesosok tubuh mungil bocah berusia sekitar 5 tahun dengan surai hitam pekat, senyum mengembang di bibir mungilnya yang unik, dan mata berkantung yang membentuk bulan sabit ketika bibir indah itu melengkuk naik. Tapi bukan itu yang membuatnya sangat terkejut. Tapi karena bocah manis itu memiliki wajah yang sama seperti Tao, sangat mirip. Dan lagi sepasang telinga di atas kepala dan ekor panjang di belakang tubuhnya.
Terlebih lagi, si bocah misterius itu tak mengenakan sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Mempertontonkan tubuh kecil dan kulit langsatnya yang halus, serta dua bongkah jeruk besar yang menggantung di bagian belakang tubuhnya. Seperti bakpau dengan isian daging yang enak, membuat dirinya seketika teringat malam kemarin saat mengobati pantat kecil Tao yang seperti buah persik.
Kris mematung dengan pandangan lurus tertuju bocah menggemaskan yang tak berhenti melompat-lompat di atas ranjangnya dengan berseru senang, ekor kucingnya juga bergerak cepat memperlihatkan betapa senangnya ia saat ini. Sesekali tertawa lucu yang sangat mirip dengan Tao, belum lagi caranya memanggil namanya, lalu wajah itu...
"Tunggu-tunggu" Kris akhirnya bersuara setelah keterdiamannya yang cukup lama.
Tubuh mungil polos itu pun menghentikan hentakkannya, membuat tempat tidur super empuk Kris juga ikut berhenti memantulkan tubuhnya yang ringan. Ekornya bahkan sudah tidak bergerak heboh seperti sebelumnya.
"Ada apa Kris?" kepalanya sedikit miring ke kanan, menatap sosok tinggi tegap Kris dengan mata runcingnya yang lugu.
Kris menggaruk helai pirangnya gusar, kemudian menatap si bocah 'mirip Tao' yang saat ini tengah tersenyum-senyum padanya.
"Kau benar-benar Tao?" suaranya seperti tercekik. Tak percaya akan makhluk mungil menggemaskan yang saat ini terkikik lucu.
"Tentu saja aku Tao!" bocah itu menjawab riang, menunjukkan sederet giginya yang kecil.
"Tap-tapi bagaimana bisa? Bukankah pagi tadi kau masih seukuran kelingking ku?" Kris membawa kakinya mendekat ke tempat tidur dengan mata menyipit. Kembali menelisik sosok lucu yang jujur saja, sedikit menggoda.
Bocah itu tertawa geli, kemudian mendudukkan bokong kecilnya di atas tempat tidur sambil melipat kedua kakinya. Tangan mungilnya melambai pada laki-laki Wu itu dengan riang, kemudian menepuk tempat di sisinya yang kosong. Dan Kris menurutinya dengan ragu, dan menuruti kemauan si bocah untuk duduk di sampingnya.
"Kau tidak percaya? Aku juga!" Tao memekik dengan wajah berseri. "Saat aku bangun dari tidur siang, tubuhku sudah berubah! Aku pikir ini hanya sementara dan ternyata tidak Kris!" ia tiba-tiba bangkit berdiri. "Ini aku Tao! Meski tubuhku belum kembali normal, setidaknya aku tidak sekecil dulu! Lihat!"
Si manis itu benar-benar senang dengan perubahan tubuhnya yang sangat mendadak. Bahkan wajahnya sudah memerah dengan rona bahagia. Tapi saat melihat keterpakuan Kris atas dirinya, si manis mungil itupun menghambur memeluk leher si tampan Wu dan naik keatas pahanya.
"Aku senaaaaang sekali Kris!" pelukannya mengerat.
Kris mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna dengan baik cerita si mungil menggemaskan yang tengah memeluknya, lalu menggerakkan kedua lengan kokohnya untuk balas memeluk tubuh polos nan mungil yang menempel erat pada tubuhnya.
Dan Kris tidak bisa menampik kenyataan yang ada, jika dirinya bahkan amat sangat mengenal Tao hanya dengan cara menyentuh kulit langsat yang terasa sangat halus di tangannya. Ia sangat mengenal sosok manis bersurai sehitam jelaga itu. Mengenal dengan baik lekuk tubuhnya (meski kenyataannya selama ini Tao berwujud sangat mini), dan yang terpenting adalah bagian bokongnya.
Pertama kalinya ia menyentuh bulatan persik itu adalah kemarin malam. Dan saat ini kedua telapak tangan besarnya sudah mendarat di bulatan persik yang empuk itu, yang seketika membuatnya sadar jika bocah yang tengah memeluknya adalah benar-benar Tao.
"Tao? Ini sungguh dirimu?" Kris refleks menarik bahu kecil Tao untuk menatap wajahnya.
Si manis itu menganggukkan kepalanya cepat dengan senyum lebar di bibir mungilnya, hingga helai hitamnya bergerak lucu seiring gerakan kepalanya. Kris menarik sudut bibirnya, membentuk seringai yang kemudian berubah menjadi senyuman lebar.
"God! Tuhan! Aku tidak percaya ini!" Si tampan kembali memeluk tubuh mungil Tao. Kali ini lebih erat.
Si manis itu tertawa senang, balas memeluk erat leher Kris erat. Kemudian tawanya berubah geli ketika Kris mengusap-usapkan rambutnya di bahu polos Tao, hingga si mungil itu menjerit geli. Kris pun melepaskan pelukannya, masih dengan bibir melengkung dan sepasang auburn-nya yang berkilat, ia menelisik tubuh mungil di atas pangkuannya itu.
Tubuh Tao terasa amat kecil dan mungil di dekapannya, terlihat menggemaskan dan juga menggoda. Ukuran tubuhnya jauh lebih besar dari sosoknya sebelumnya yang hanya seukuran jari kelingkingnya, dan kini Tao yang berukuran berkali-kali lipat membuatnya sadar jika...
Netranya membola ketika pandangannya jatuh pada bagian bawah tubuh Tao yang tak tertutup apapun.
"Kenapa kau tidak memakai baju!?"
Tao menundukkan kepalanya melihat tubuh polosnya sendiri, lalu kembali menatap Kris yang terlihat sangat terkejut, dan tampak menghindari untuk mengarahkan pandangannya ke bawah sana. Si manis itu mengangkat bahu ringan.
"Saat bangun aku sudah seperti ini. Tapi tidak apa, aku senaaaaaaaa~ng sekali hari ini!"
Mau tak mau Kris ikut tertawa senang karenanya. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan Tao saat ini, karena hal seperti ini sudah di tunggu a tunggu nya sejak beberapa minggu yang lalu. Meski tubuhnya belum kembali ke ukuran normal, tapi Tao terlihat cukup puas dengan progres tubuhnya. Dan Tao percaya dengan apa yang di katakan Kris, jika orangtuanya tidak mungkin memberinya hukuman bertubuh mungil seumur hidup.
"Terima kasih Kris~" bergerak memeluk leher si tampan Wu lagi. Tao menggesek-gesekkan kepalanya di leher lelaki tampan itu hingga membuat si empunya harus menangkap kepala Tao, yang kemudian ia jauhkan sedikit dari lehernya agar dapat melihat wajah manisnya yang sedang bahagia.
Tersenyum lembut, Kris mengecup pipi gembil Tao yang membuat si manis itu terkekeh.
"Aku ikut senang. Semoga setelah ini tubuh mu cepat kembali ke ukuran normal" di usap-usapnya gemas pipi Tao.
"Uhm! Semoga tidak lama lagi tubuhku kembali normal!" mata runcingnya menyipit lucu ketika tersenyum, dengan kedua tangan berada di atas tangan besar Kris yang belum melepaskan pipinya.
"Kita harus merayakan ini. Kau ingin makan sesuatu? Kita bisa pesan makanan" tanya Kris, menggunakan tangan kanannya untuk menyingkirkan poni yang menutupi dahi Tao.
"Oh! Aku ingin makan pizza! Yang banyak kejunya!"
"Oke, akan aku pesankan 1 loyang pizza ukuran extra untukmu"
"Yuhuuuuu~~ aku menyayangimu Kris!"
Kris tertawa senang, membalas pelukan Tao di lehernya. Mengusap punggung polos si manis bertubuh bocah di pangkuannya. Tapi secara tidak sengaja satu tangannya mendarat di bongkahan persik empuk nan lembut yang terasa dingin karena alat pendingin di kamarnya.
Oh sial,
Jujur saja, tangan kanannya menjadi kaku berada disana. Dan Kris ragu untuk menggerakkan tangannya. Di sisi lain ia sangat ingin mengusap bongkahan lembut itu, tapi di sisi lain ia takut jika tidak bisa berpikir jernih.
"Kris, kau bau sekali" Tao melepaskan pelukannya dengan wajah berkerut lucu, jari telunjuk dan ibu jarinya menghimpit hidung mancung nya. Kris terkekeh.
"Tentu saja aku bau, aku baru saja pulang kerja, ingat?" tangan besarnya pindah mengusak sayang helai halus Tao.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama? Ide bagus! Aku belum mandi dengan ukuran baru tubuhku!" Tao terlihat sangat bersemangat.
"Mandi bersama?"
"Iya!"
"Eeh..."
Tidak tahu harus menolak atau menyetujui. Walau sebenarnya mereka sering kali mandi bersama ketika Tao masih berukuran sangat mini, dan si manis itu hanya akan duduk di atas mainan bebek ketika Kris berendam di bath up. Waktu itu tubuhnya sangat mini, dan meskipun telanjang Kris tidak akan terpengaruh melihatnya. Tapi bagaimana jika ukuran tubuh Tao tidak se-mini dulu?
"Ayo Kris~ ayo kita mandi~ aku ingin bermain busa! Dulu tubuhku kecil sekali dan kau tidak pernah mengijinkan. Ayolah~" Tao merengek di atas pangkuannya.
Bocah Huang itu saat ini bergerak-gerak di atas pahanya dengan senangnya. Tak tahu jika gerakannya itu membuat kedua bongkahan bulatnya bergesekkan dengan titik teramat sensitif di bawah sana yang sangat peka terhadap sentuhan sekecil apapun. Jadi jangan salahkan Kris jika lelaki tampan itu kini terlihat begitu tegang dengan wajah kaku dan kedua tangannya yang berlabuh di pinggang Tao.
"Ya ya ya Kris~ kita berendam sambil bermain busa ya?" melemparkan tatapan legendarisnya yang tak terbantahkan. Tao dan kitten eyesnya memang selalu dapat memenangkan keteguhan seorang Kris Wu.
Tatapan mata berbinar, ekspresi memohon yang menggemaskan, dan kedua telinga kucingnya yang merunduk ke samping, tak lupa ekornya yang bergerak lamban kanan dan kiri.
"Pleaseeee~?" mengedipkan mata cepat, sambil menipiskan bibir lucunya.
Kris menghela nafas berat, memejamkan mata sembari mengangguk yang seketika di respon oleh pekikan senang bocah 'kucing' di pangkuannya. Berusaha mencegah Tao agar tidak kembali menggerak-gerakkan tubuh -bokong- nya heboh di atas pangkuannya.
"Baiklah... " Kris meraih pinggang Tao, mendekapnya ke pelukan hangatnya. Menngendong si bocah Huang di dadanya sembari bangkit berdiri. Si manis itu balas memeluk leher Kris dengan senyum di bibirnya.
"Aku akan mengisi bathup untukmu, dan setelah itu aku ganti baju dulu. Oke?" berjalan kearah kamar mandi, membuka pintunya saat Tao mengangguk cepat.
"Oke!"
Kris tersenyum geli, mengusap helai kelam si manis di gendongannya. Kris menurunkan bocah itu di samping bathup, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku, sembari mendaratkan pantatnya di tepian bathup. Membuka kran air hangat, mengisi bathup hingga penuh, lalu meraih sebuah botol sabun cair aroma terapi yang tersedia di sisi kanan bathup.
Tao memperhatikan dengan ekor bergoyang antusias, senyum tak luntur di bibir lucunya yang berwarna segar. Menoleh pada Kris, dan tatapan mereka bertemu. Laki-laki Wu itu tersenyum, mengoyak surai hitamnya yang sudah berantakan.
Setelah membuat isi bath-tub berbusa dengan cara mengaduk air dengan tangan kanannya, Kris beranjak keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaian.
Sebenarnya bukan karena dirinya enggan untuk mandi bersama dengan Tao, tapi Kris hanya takut jika ia kelepasan saat melihat tubuh kecil Tao yang terlihat halus, apalagi dengan telinga dan ekor kucingnya. Membuat si manis itu jauh lebih menggemaskan dan sangat imut, apalagi saat dia merajuk.
Kris mengganti pakaian kerjanya dengan bathrobe hitam yang tersimpan di lemari terpisah, menghela nafas untuk meyakinkan diri, lalu meraih kenop pintu kamar mandi.
"Uwaaaaaa~~~!"
Pekikan senang itu menyambut Kris yang baru saja membuka pintu kamar mandi. Ketegangannya seketika lenyap saat meliat keceriaan Tao yang sedang bermain busa di dalam bath-tub dengan tawa lucunya. Bocah itu membawa segumpal busa di kedua tangannya ke depan wajahnya, lalu meniup busa itu dengan pipi yang menggembung lucu.
Busa itupun menjelma menjadi gelembung-gelembung sabun berukuran kecil yang bertebangan di udara. Tao tertawa lagi.
"Cepat masuk Kris!" si manis itu bersorak memanggilnya. Satu tangannya melambai pelan. Memberi isyarat kepada pria jangkung itu untuk segera mendekat.
Kris bergerak masuk dan menutup pintu kamar mandi. Ia tertawa saat melihat tingkah lucu Tao yang sangat menghibur. Tak lupa melepaskan bathrobe yang di kenakannya lebih dulu, dan menggantungkannya pada closet yang berada di dekat wastafel. Tak tahu jika sepasang Netra segelap malam tak sengaja tertuju kearahnya dengan tatapan lugu.
Tapi senyum yang terukir di bibir lucu Tao perlahan lenyap saat pikiran polosnya terusik dengan pemandangan Kris yang telanjang bulat. Merasa pandangannya tidak bisa beralih. Melihat otot-otot yang membentuk lengan dan perutnya, dadanya lebar terlihat nyaman, hingga tanpa sengaja pandangannya jatuh ke bagian bawah tubuh Kris.
Oh tidak... Apa yang sedang kau lihat itu Zitao?
Wajah manis itu perlahan memerah saat menyadari bagian apa yang terlihat oleh kedua matanya. Benda yang menggantung di antara paha Kris itu benar-benar membuatnya pikirannya kacau, hingga secepat kilat membuang wajahnya dan tanpa sadar menenggelamkan tubuhnya hingga merendam sebagian kepalanya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Berendam lah yang benar Zi" Kris bergerak masuk ke dalam bathup, duduk tepat di belakang tubuh kecil itu.
Kris meraih bocah itu mendekat, membalikkan tubuhnya hingga mereka berhadapan. Mendudukkan Tao di atas pahanya seperti biasa, tapi si manis itu malah menundukkan kepala.
"Bagaimana? Kau suka ini?" di usapnya pipi ranum Tao. Kepala berhiaskan sepasang telinga itu mengangguk.
"Apa busanya kurang?"
"Tidak, ini cukup. Terima kasih" perlahan mengangkat wajahnya, malu-malu mengembangkan senyum di bibir uniknya. Kris balas tersenyum.
Tangan besar lelaki itu menyingkirkan anak poni yang menutupi dahi Tao, mengusapnya ke belakang, lalu memberi kecupan panjang di sana. Tao otomatis memejamkan matanya. Meresapi kelembutan bibir Kris yang menyapa dahinya dengan hangat.
Kris menarik tubuhnya sedikit menjauh. Hanya untuk mendapati wajah Tao yang sudah serupa dengan besi terbakar. Merah membara.
Bibir ranum pria itu melengkung ke atas sedikit. Membuat Tao tak yakin apakah Kris sedang tersenyum atau menyeringai ke arahnya.
"Aku selalu bertanya-tanya Taozi.." Kris berkata sembari menyentuh telinga kucing Tao yang basah. "Makhluk apa sebenarnya kau ini?"
Ditanya seperti itu membuat Tao hanya bergeming di dalam bath-tub. Manik hitamnya mengerjap sejenak. Sementara pikirannya masih belum bisa mencerna pertanyaan yang diutarakan Kris barusan.
"Uh-itu.."
Kris terkekeh geli sewaktu melihat Tao yang gugup dan bingung hendak menjawab apa mengenai pertanyaannya barusan. Kedua bola mata Tao bergerak resah. Berupaya menghindari kontak mata dengan pria tampan di depannya itu.
"I see.." Kris bergerak maju. Mendekatkan wajahnya pada wajah Tao yang disisipi rona merah bak apel matang. Lalu mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Tao.
"Kau pasti ibu peri buatku.." tukas Kris kemudian. Usai kecupan terakhir ia daratkan pada bibir kucing Tao.
Tao sontak mengernyit. Dan memiringkan kepalanya ke satu sisi. Menampilkan ekspresi menggemaskan tanpa sadar.
"Apa aku terlihat seperti ibu-ibu buatmu?" tanyanya polos. Membuat Kris tergelak dengan kalimat tanya Zitao.
Merasa seperti dipermainkan oleh lelaki dewasa di depannya itu. Tao memberengutkan bibirnya sebal. Memamerkan muka kesalnya ke arah Kris yang masih setia dengan tawanya.
"Oh-oh.. bukan begitu maksudku." Kris menghentikan tawanya dalam hitungan detik. Satu tangannya terulur lagi. Meraih tubuh anak-anak Tao dan membawanya ke dalam dekapan hangat. "Aku hanya senang menggodamu. Kau menggemaskan."
Ciuman-ciuman kecil kembali hadir menerpa sekujur permukaan wajah Tao. Mulai dari hidung, lalu merambat ke pipi, dahi, kembali ke pipi, lalu dagu. Dan tentu saja yang menjadi favorit Kris adalah bibir ranum Tao yang serasa manis saat ia kecup lembut.
Tao terkikik geli. Tangannya bahkan sudah bersarang di dada Kris kalau-kalau serangan dari bibir pria itu mulai menggelitikinya.
"It tickles.." erang Tao kemudian. Tepat saat kecupan Kris mulai berani merambati leher karamelnya.
Kris menghentikan kegiatannya sejenak, dan kembali memeluk Tao sembari memainkan jarinya di rambut basah bocah kucing itu.
"Kris.."
"Hmm.. hmm"
"Apa kau tahu cara agar aku bisa kembali ke tubuh normalku?" tanya Tao lirih. Pandangannya meredup, sedangkan tangannya memainkan busa sabun tanpa minat.
"Kenapa kau buru-buru sekali ingin kembali ke ukuran normalmu, huh?"
Tao menghela napas. Ditatapnya wajah rupawan Kris yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya sendiri. "Karena aku tidak mau kau menganggapku seperti anak kecil terus. Dan menahan dirimu terlalu lama." ujarnya. Membuat Kris nyaris meloloskan dengusan geli.
"Huh?"
"Uh, aku sudah tahu dari awal, Kris." sambungnya lagi. Tao bahkan sampai menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tahu bahwa wajahnya sudah pasti bersemu dengan begitu hebatnya. "Aku sudah tahu semuanya. Termasuk.."
Greb
Tangan Kris bergerak cepat menarik keluar tangan Tao yang berada di dalam air. Mengeluarkan tangan mungil itu sebelum Tao sempat menyentuh sesuatu di dalam sana yang sudah setengah tegang semenjak tadi.
Kris menggeram lirih. Napas pria itu terdengar berderu cepat. Bersamaan dengan suara degupan jantungnya yang juga bertalu-talu.
Rona merah di wajah Tao sudah tak bisa disamakan dengan apapun lagi. Kris malah menyangka jika dari kedua telinga kucing Tao ada uap imajiner yang menyembur keluar.
Oh shit..
Kapan terakhir kali Kris berpikir bahwa Tao adalah makhluk paling menggemaskan yang pernah ia temui?
"Ma-maaf.." Tao berujar cepat. Terkejut dengan aksinya yang nyaris saja berakhir fatal. Tanpa sadar matanya ternyata sudah basah tergenangi air mata. Tubuh mungilnya gemetar hebat. Sementara satu tangannya yang masih dipegang erat oleh Kris perlahan melorot jatuh. Menimbulkan riak air berlebih hingga menyiprati bagian kepalanya serta Kris.
Tao segera memundurkan dirinya menjauh. Gerakannya yang brutal di dalam bak mandi, membuat air dari dalam wadah yang ia gunakan untuk berendam itu meluber hingga tumpah membasahi lantai. Tao menutup mulutnya menggunakan tangan kala mendapati Kris yang membisu di depannya. Ekor panjangnya yang kuyup bergerak resah. Hal yang kerap Tao lakukan ketika ia merasa ketakutan.
Tidak semestinya ia berlaku tak senonoh seperti itu kepada Kris.
Tidak kalau Kris ternyata tak menginginkannya.
Uh, melihat Kris yang menolak dirinya tadi saja, sudah membuat Tao malu luar biasa. Sampai rasanya Tao ingin menangis detik itu juga.
"Maaf, Kris.." isak Tao selanjutnya. Wajahnya kini sudah banjir dengan air mata. "..aku tidak bermaksud seperti itu. A-aku tidak sengaja ingin menyentuh..." dan kembali hening. Karena Tao sudah terlalu malu untuk melanjutkan kata-katanya.
Kris ikut mendongakkan kepalanya. Memandang Tao yang duduk memojok menggunakan keping auburn-nya yang berkilat.
Pria muda itu memajukan tubuhnya. Merayap mendekat, menghampiri Tao sembari merangkak pelan. Kris menyorongkan kepalanya ke arah Tao. Menempelkan ujung hidung pada pucuk kepala Tao yang mengeluarkan aroma seperti sabun aroma terapi miliknya. Wangi green tea dan mint menguar samar. Menerpa indera penciuman Kris.
Kris tersenyum, lalu mengecup pelan dan lama dahi Tao yang berkedut bingung.
"You're driving me wild Zi.." desau Kris pelan, "You and your cuteness.."
Kris menggerakkan jemarinya lagi untuk yang kesekian kalinya. Telunjuknya menyentuh dagu Tao. Membuat bocah itu mau tak mau mendongakkan kepalanya demi mendapati binar auburn Kris yang menyala indah. "Aku sangat menyukaimu, Zi.." desaunya halus. Bersamaan dengan tatapannya yang menyendu.
Tao menggigit bibir bawahnya resah saat menyadari wajah Kris sudah sangat dekat daripada sebelumnya. Pria itu mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, dan tersenyum tipis. Sebuah senyum yang lebih pantas dibilang sebagai seringaian.
Cup
Dan kemudian Tao sudah tidak sadar, sejak kapan bibir Kris sudah menempel hangat di bibirnya sendiri.
Cup
Cup
Atau sejak kapan pria tinggi itu sudah memberinya kecupan lembut, sebelum akhirnya ganti dengan lumatan menuntut—
Cup
Cup
—masih dengan keadaan mereka berdua yang berendam di dalam bak mandi.
"Uh...Kris..." Tao merasakan sekujur tubuhnya memanas. Ia menggeliat tidak nyaman. Kris yang menyadari hal itu segera menghentikan kegiatannya.
"Panas..." erang Tao tidak nyaman.
"Apa yang terjadi Tao? Kau tidak apa-apa?" Kris panik melihat Tao.
Meskipun ia berada didalam bathup rasa panas itu tak kunjung hilang. Tao terus menggeliat berusaha mengusir rasa panas itu. Ia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.
"Ta—Tao..." Kris menatap perubahan tubuh Tao.
Tubuh Tao yang semula berukuran seperti anak usia 5 tahun, perlahan menunjukkan perbedaan. Tubuhnya mulai membesar seperti orang dewasa.
Tao perlahan membuka matanya dan menatap tangannya yang kini sudah berukuran normal.
"Kris? Tubuhku?"
"Ka—kau menjadi dewasa..?" kata Kris yang tidak percaya dengan kejadian yang ia lihat.
"Telingaku?!" Tao langsung menyentuh telinganya. Masih sama. Bahkan ekor kucingnya pun tidak menghilang. Hanya tubuhnya saja yang menjadi besar.
"Telinga dan ekor kucingku masih ada.." ucap Tao dengan nada sedih.
Wajah Kris kembali menegang. Dengan ukuran Tao yang sekarang membesar, otomatis bathup akan penuh dengan tubuh keduanya. Dan yang menjadi entah kesialan atau keberuntungan untuk Kris, ekor Tao tidak sengaja mengenai bagian privasinya.
"Ada apa Kris?" kali ini Tao yang bertanya. Ia tak sadar didalam air sana ekornya menyentuh sesuatu yang membuat Kris menahan diri.
Namun sepertinya Kris sudah tidak bisa menahannya lagi. Toh lagipula Tao sudah mengetahui semuanya.
Kris menarik tangan Tao, membuat keduanya kini saling menempel erat. Tao mengerjapkan matanya bingung.
"Aku sudah menahan ini terlalu lama Tao, dan sekarang adalah batas ketahananku" kata Kris dengan napas memburu.
Kris mulai mencium bibir Tao yang terasa memabukkan baginya. Tangannya membelai pelan punggung Tao, membuat Tao sedikit mendesah dalam ciuman mereka. Tao mengalungkan lengannya pada leher Kris. Ciuman ringan itu berubah menjadi lumatan yang panas. Kris menggoda lidah Tao dengan lidahnya. Membuat bunyi kecipak yang merdu.
Keterbatasan oksigen membuat Tao terpaksa menyudahi ciuman panasnya dengan Kris. Ia mengambil napas sebanyak-banyaknya. Ia menatap mata Kris yang penuh dengan kilatan napsu.
"Kris~"
Tao mendesah saat jari Kris membelai nipplenya yang menegang.
"Panggil namaku seperti itu baby~" ucap Kris pelan.
"Wow.. mama tidak tahu kalau anak mama yang nakal bisa se-agresif ini"
Tao otomatis langsung mendorong Kris cukup kencang membuat pria tampan itu mengaduh sakit karena punggungnya terbentuk tepian bathup.
"Mama...?!" teriak Tao yang melihat mama nya tengah menatapnya dan Kris dengan pandangan biasa.
"Aigo~ kau tetap tidak berubah sayang. Hentikan kebiasaanmu berteriak seperti itu"
Wanita cantik yang Tao panggil mama itu menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Jadi? Apa dia pria pilihanmu sayang?" tanya mama Tao mengabaikan kenyataan bahwa keduanya masih didalam bathup dan tidak memakai sehelai benang pun.
"Tu—tunggu sebentar. Anda siapa? Dan bagaimana anda bisa masuk ke dalam sini?" tanya Kris yang masih syok dengan kedatangan wanita cantik ini.
Wanita itu tersenyum sangat cantik. Rambut hitam panjangnya bergerak seirama dengan gerak-geriknya. "Kurasa sebaiknya kalian memakai pakaian terlebih dahulu. Aku akan menunggu kalian didepan~"
"Jadi kalian sudah melakukan sex?" tanya mama Tao frontal.
Kris dan Tao sudah berpakaian rapi saat ini. Beruntung bagi Tao karena kali ini dirinya tak perlu memakai memakai selembar kain untuk menutupi tubuh mininya. Tubuhnya yang sudah kembali ke ukuran normal membuatnya dapat mengenakkan pakaian Kris yang memang tak jauh berbeda dengan ukurannya. Setidaknya sepotong t-shirt putih polos dan celana pendek diatas lutut yang santai.
Dan saat ini mereka sudah duduk di ruang tamu di kediaman Kris yang sepi Duduk berhadapan dengan sang Mama Huang yang dengan santainya -serta sebuah senyuman di bibir merahnya- mengucapkan pertanyaan memalukan yang membuat Tao juga Kris tergugu seketika. Jangan lupakan wajah keduanya yang memerah.
"Mama?!"
"Kenapa? Sewaktu mama seumuranmu, mama sudah melakukannya dengan papa mu" ucapnya enteng.
"Apa ada yang bisa menjelaskan situasi sekarang?" kata Kris yang tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini.
"Baiklah akan mama jelaskan. Seperti yang kau ketahui Kris, kami bukanlah manusia seperti mu. Kami adalah siluman atau mungkin bisa dibilang dewa. Leluhur kami adalah dewa kucing. Jumlah kami yang sedikit membuat kami harus tinggal menjauh dari manusia"
"Tunggu, dewa kucing? Kenapa aku sama sekali tidak ingat siapa dan bagaimana masa lalu ku?" potong Tao.
"Itu karena hukuman yang diberikan para tetua kepadamu Tao~"
"Hukuman? Hukuman apa?"
"Para tetua menghukummu kedunia manusia. Mereka juga mengambil sebagian ingatanmu"
"Ka-kalau boleh aku tahu, kenapa Tao bisa dihukum?" tanya Kris yang juga penasaran.
"Karena dia telah merusak tempat sesaji untuk para leluhur" jawab Mama Tao cepat. Melirik tajam pada putranya yang duduk di samping Kris dengan bibir manyun dan telinga yang merunduk lesu.
"Tapi ma... Aku kan tidak sengaja, Baekhyun yang mengajak ku bermain waktu itu!"
"Baekhyun juga mendapat hukuman. Dengan begini kau akan tahu jika dirimu sudah dewasa Tao sayang"
"Lalu kapan masa hukumanku akan berakhir?" Tao menatap sang Ibu dengan mata berkaca-kaca andalannya.
"Hukuman mu sudah lama berakhir. Mama yang sengaja membuat ekor dan telingamu tetap seperti itu"
"APA!? Ke-kenapa Ma?" shock. Wajah lesunya seketika berubah terkejut dengan mata melebar lucu.
Wanita cantik itu tersenyum, mengalihkan tatapannya pada Kris yang sejak tadi diam menyimak. Dan si tampan itu tak mengerti kenapa Ibu dari makhlukyang di sukainya menunjukkan gelagat yang, errr... sedikit aneh?
Tapi percayalah. Senyum Ny. Huang terlihat memiliki maksut terselubung.
"Jadi, Tuan... "
"Kris, Kris Wu"
"Tuan Kris" Ny. Huang tersenyum lagi. "Apa putra ku merepotkan selama dia tinggal disini?"
Kris menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak... Sama sekali tidak. Tao anak yang baik"
"Sungguh? Lalu apa menurut mu Tao menarik?"
"Maaf?"
"Mama~~!" Tao merajuk agar Ibu nya itu tidak melanjutkan obrolan aneh merka.
"Ehm..." Kris gugup.
"Oh ayolah" Ny. Huang mengibaskan tangan kanannya di depan wajahnya. "Selama ini aku mengawasi kalian berdua. Aku tahu apa yang terjadi di tempat ini boy"
Tersenyum cantik, wanita itu tak peduli jika kedua pria berbeda usia di hadapannya tengah menatapnya dengan mata melotot.
"Aku tahu kau memiliki perasaan khusus pada Tao, dan Tao...kau sangat bergantung dengan laki-laki tampan yang sialnya sangat sexy ini, kan?"
"Berhenti mengucapkan kata-kata memalukan ma!" Tao hanya malu, sungguh.
"Diamlah sayang. Mama sedang mencari tahu tentang calon menantu mama ini"
"Tunggu tunggu! Calon menantu?" Kris menatap wanita cantik di hadapannya dengan wajah kebingungan. Sungguh ia tak mengerti kemana arah pembicaraan kedua makhluk yang berbeda 'spesies' dengannya itu.
"Jangan bereaksi seperti kau akan menolak ini Tuan Kris Wu" Ny. Huang mendesah kecil.
"Tidak, oh! M-maksut ku..."
"Intinya! Apa kau tertarik pada Tao?"
Melirikpemuda manis bertelinga kucing yang duduk di samping kirinya melalui ekor matanya. Kris tidak mengelak jika dirinya sangat samat tertarik pada si manis yang seksi itu. Bahkan tidak hanya tertarik, karena entah sejak kapan ia jadi sangat ingin memiliki Tao yang begitu manis.
"Aku sudah tahu jawabannya dari wajah mu Tuan" kata Ny. Huang tersenyum. Kris berdeham kecil, suaranya mendadak menjadi agak serak.
"Baiklah..." Ny. Huang bangkit berdiri. Di ikuti tatapan Kris dan Tao, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil seperti kotak cicin yang berwarna merah muda. Meletakkan kotak itu diatas meja yang memisahkan jarak mereka.
"Dengarkan mama, Tao"
Si manis Huang pun mengangkat wajahnya menatap sang Ibu.
"seperti yang kau tahu, hukuman mu sudah berakhir hari ini"
"YEAAA-"
"Tapi"
Menunda untuk bersorak senang, Tao kembali memasang wajah memelas.
"Tapi... Mama dan Baba tidak mengizin kan mu untuk pulang sebelum kau... Mendapatkan calon menantu idaman untuk kami"
Oh Dewa...apalagi kali ini?
"Tapi ma-"
"Seorang pria tampan, harus tinggi, berpikiran luas, yang bisa menjaga anak-anak seperti mu. Dan yang terpenting setia"
"Ma-"
"Dan kau juga tidak di izinkan pulang sebelum memberikan cucu untuk mama dan baba"
"WHAT!?" kali ini Kris dan Tao merespon kompak.
"Oh ayolah...kau Tuan Kris Wu. Aku tahu sebesar apa keinginan mu untuk mencicipi tubuh Tao ku. Kau tidak lupa apa yang akan kalian berdua lakukan saat di kamar mandi tadi, bukan?"
Tao menutup wajahnya yang matang sempurna dengan kedua tangannya. Dan Kris, si tampan itu duduk canggung di tempatnya. Menghindari tatapan menggoda Ny. Huang yang membuatnya benar-benar terpojok.
"Dan... Karena sekarang aku sudah memiliki calon menantu. Bisakah kalian memberi ku cucudengan cepat?"
Tao benar-benar tidak bisa menunjukkan wajahnya pada Kris saat ini.
"Maaf Nyonya... Tapi, bukankah Tao itu... "
"Laki-laki?"
Kris mengangguk. "Ya"
"Kami bukan manusia seperti mu, ingat? Saat anak-anak sudah beranjak dewasa, khususnya untuk anak-anak yang androgynus, mereka di beri kesempatan untuk memilih. Dan Tao, dia bisa memberi seorang cucu atau bahkan lima cucu untuk ku dan suami ku"
"Jadi..."
"Tepat sekali. Kalian bisa menikah dan setelah itu buatkan aku cucu yang manis~"
"Tidak mungkin Kris mau menikahi makhluk seperti ku ma!" wajah Tao saat ini telihat lucu. Antara ingin menangis dan kesal.
"Aku mau. Aku akan menikahi mu saat ini juga kalau perlu" Kris menyahut cepat. Mengarahkan auburn miliknya pada pemuda menggemaskan yang duduk di sampingnya.
"Aah, bagus sekali! Aku suka laki-laki egresif!" Ny. Huang berkata senang. "Aku tahu tuan Kris Wu tidak akan mengecewakan mertuanya ini!"
"Oh Dewa... " Tao meratap menahan malu.
"Kau tidak mencintai ku Tao-er?"
"Bukan! M-maksut ku bukan begitu! Maksut ku, a-aku..."
"Tao anak yang pemalu Kris. Tapi yang jelas, Tao juga ingin menikah dengan mu, kalau tidak untuk apa dia bertahan lama di rumah mu ini kan?"
"Sungguh? Kau juga merasakan hal yang sama padaku?" Kris menatap sepasang netra gelap milik Tao. Si manis itu menunduk, menganggukkan kepalanya samar.
Ia terlalu malu saat ini.
"Yeay! Sebentar lagi aku memiliki cucu! Oh Tuhan...aku benar-bebar sudah tidak sabar!"
Nyonya Huang tersenyum senang melihat calon menantu nya -Kris- dan putranya yang saat ini bersikap malu-malu.
"Dan ingat. Setelah kalian memberi ku cucu,setidaknya minimal satu. Kau bisa mengajak Kris berkunjung ke rumah kita, Tao. Gunaka benda yang ada di dalam kotak ini, jadi simpalah dengan baik"
"Lalu telinga dan ekor ku bagaimana?" Tao bertanya putus asa.
"Jangan sedih sayang. Ekor dan telinga mu akan hilang dengan sendirinya setelah kalian melakukan sex pertama"
"Jadi nikmati lah malam kalian, mama tidak akan mengintip kali ini!"
Wush~
Sosok cantik berambut hitam panjang itu mendadak lenyap dari pandangan Kris dan Tao. Seperti angis yang berhembus, tanpa jejak. Membuat keduanya melongo, lalu saling bertatapan.
Cukup lama. Hingga Kris tersenyum geli, lalu kemudian tertawa.
"Apanya yang lucu?" tanya Tao kesal. Kris menutupi mulutnya, menahan agar tidak tertawa.
"Maaf, tapi Ibu mu sangat berbeda. Kau tahu?"
"Sekarang kau tahu kenapa aku bisa nakal dan di hukum. Kau pikir sifat ini menurun dari siapa?"
Tertawa kecil, hingga Kris memutus jarak di sofa itu dengan menggeser tubuhnya lebih dekat. mengusap telinga kucing Tao lembut, lalu mendekatkan wajahnya yang tampan luar biasa pada wajah manis Tao yang sudah memerah.
"Kau dengar perintah Ibu mu tadi?" bertanya dengan suara yang dibuat rendah, Kris menurunkan usapannya pada bagian bawah tubuh Tao. Tepatnya pada ekor hitam yang menjuntai di atas belahan pantat si Huang yang manis.
Slap!
"Nyaaaaaahhh~~~" Tao melengkungkan tubuhnya merasakan ekornya yang di tarik lembut oleh tangan besar Kris. Mengusap area sensitifnya itu dengan gerakan lambat yang menggoda.
"K-Kriisshh~~~"
Mengecup bibir unik kemerahan Tao, Kris bergerak menggendong tubuh ramping itu dengan gaya koala. Memerangkap bibir kissable Tao yang manis, dan tak berhenti menggoda ekornya yang lemas, Kris berjalan membawa makhluk menggemaskan di dalam gendongannya itu menuju kamar nya.
Yang sudah menjadi milik mereka sejak hari pertama Tao muncul di hadapannya dalam sosok mungil yang menggemaskan.
Karena itu, malam ini biarkan Kris membantu Tao untuk sepenuhnya bebas dari hukuman. Menghilangkan ekor dan telinga kucing itu dengan cara yang sudah lama ia bayangkan pada tubuh seksi pemuda manis yang menggemaskan itu.
Kali ini dirinya tidak akan berbasa-basi lagi. Dan dirinya akan bekerja keras untuk membuat Tao tetap merengek serta mengaum lucu seperti kucing yang sedang birahi.
::END::
Astaga astaga astaga! Gw ngakak pas bagian Dewa Kucing itu! XDDD
Sumpah bukan gw yang bikin bagian itu! Aduh ya Gusti! XDDD
Oke oke, ehem! Ff ini dibuat udah lama, tapi mendadak stuck pas bagian di kamar mandi *lol*. Akhirnya gw minta sumbangan ketikan ke autumpanda-senpai, yang ternyata ga di ketik sampai end. Dan akhirnya gw nodong Lovara-senpai xDDD
Dan yah beginilah cerita absurd ini berakhir. Hasil dari ketikan 3 author xD
Mau sekuel? Silahkan minta ke Petrichor Wu. Dia jago bikin NC tema begini. AHAHAHAHAHAHAHAHAHA *ketawa iblis*
Terima kasih banyak untuk para senpai's yang sudah membantu ff ini. I love you! 3
See ya in another fanfic! :3
Regards, Skylar
