Underneath
Seventeen © Pledis Ent
All Cast © Agensi masing-masing (?)
WARN! : YAOI, Alternate Universe!, OOC, TYPO
.
.
.
Wonwoo tidak menyangka ada yang sekejam itu membunuh bunga-bunga yang ia tumbuhkan kemarin. Begitu Wonwoo memijakkan kakinya ke padang rumput yang sama, Ia menemukan semua bunganya sudah mati dan kering.
Semua air yang ada di dalam tubuh mereka disedot habis sampai mereka layu, semua pekerjaannya kemarin sia-sia. Semua teman yang ditumbuhkannya kemarin sudah tiada.
Tanpa sadar Wonwoo mendudukkan dirinya di antara bangkai teman-temannya. Angin berhembus dengan kurang ajar kali ini, menampar pelan wajahnya dan menerbangkan kelopak bunga kering sampai bertebaran kemana-mana.
Wonwoo pernah bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia tidak bosan begini? Setiap hari hanya akan mencari tempat kosong, menumbuhkan bunga dan bermain. Tapi bukannya itu pekerjaan seorang dewa minor? Melakukan apa yang membuatnya senang.
Toh ia tidak mungkin menghancurkan dunia dengan bakatnya. Kemungkinannya kecil ia bisa membunuh manusia, kecuali Wonwoo menumbuhkan bunga di seluruh pembuluh darahnya.
Ia berpikir jika menumbuhkan bunga lagi akan menyenangkan, kali ini Wonwoo bertekad untuk menemukan siapapun yang membunuh bunga-bunganya kemarin.
Mungkin Wonwoo mau menumbuhkan bunga ke seluruh tubuhnya dan menanamnya dalam-dalam ke tanah seperti akar pohon.
Namun Wonwoo merasakan sebuah bayangan gelap di belakangnya, tapi ia bahkan tidak bisa melihat siapa yang mengendap-endap di sana. Ada sebuah sihir yang juga bekerja di sini, sebuah sihir yang jelas berlawanan dengan milik Wonwoo.
Apakah dia yang membunuh bunga-bunganya kemarin? Apa yang bisa dilakukannya?
Ia terus menumbuhkan bunga seolah tidak ada yang salah, mungkin saja penyerang itu akan membunuhnya juga walaupun secara teknis Wonwoo tidak bisa mati. Siapapun itu bisa saja membuat Wonwoo cacat dengan memotong bagian tubuhnya atau juga menyedot seluruh air di dalam tubuhnya sampai habis, itu tidak akan membunuh Wonwoo tapi bisa saja membuatnya menderita selama berabad-abad ke depan.
Tanpa sadar satu hari berlangsung dengan cepat, seolah Seokmin sendiri memutuskan untuk cepat-cepat istirahat. Mungkin memang begitu karena suasana di Olympus sedang memanas dan semua dewa, titan dan makhluk abadi lainnya memilih berlindung.
Mereka kedatangan dewa baru, Doyoon yang ingin mengklaim tahtanya di Olympus. Siapa dia sebenarnya? Well, tidak ada yang jelas mengerti situasi di atas sana. Beberapa peri pohon mengatakan bahwa dia adalah anak Jeonghan, tapi bukan anak Seungcheol.
Jadi Jeonghan bisa melahirkan anak sendiri? Well, yang ini juga membingungkan. Beberapa bahkan mengatakan Jeonghan melempar bayi Doyoon keluar jendela istana dan menyebabkan wajah dan kaki Doyoon tidak simetri, artinya dia jelek.
Yang jelas si Jeonghan ini menolak keberadaan Doyoon di Olympus dan Doyoon menghadiahkan ibunya sebuah singgasana. Masalahnya adalah singgasana yang dihadiahkan pada Jeonghan itu mengikatnya dan menolak membebaskan Jeonghan dengan cara apapun.
Semua dewa Olympia sedang panik, mereka membujuk, merayu, mengancam, bahkan sampai berusaha membunuh Doyoon. Tapi Doyoon bahkan tidak tergerak hatinya untuk membebaskan Jeonghan, Jeonghan jelas murka dan Seungcheol tidak melakukan apapun untuk membantu istrinya yang tercinta itu.
Wonwoo tidak pernah memperdulikan semua itu, ia bukan dewa Olympia. Hanya dewa minor, jika mereka berperang, ia hanya tinggal sembunyi dan menunggu semuanya selesai. Wonwoo agak prihatin dengan ibunya, Jihoon.
Jihoon terlihat sangat pusing dengan keadaan ini, jelas saja tidak ada satu dewa atau dewi Olympia pun dapat duduk tenang di singgasana mereka jika Jeonghan terus meraung, memberontak dan menyihiri siapapun yang berani mendekat.
Itulah kelemahan makhluk abadi, mereka pikir mereka bisa berkuasa atas segalanya. Mereka akan marah jika ada yang mengalahkan mereka, tingkat kepercayaan diri mereka sangat tinggi.
Wonwoo kembali berlutut untuk menumbuhkan bunga putih. Ia menikmati suasana tenang, karena bahkan sebentar lagi ketenangan akan sulit didapatkan.
Tiba-tiba angin berhembus, membawa sebuah bau aneh. Bau yang mirip campuran sesuatu yang beku dan bau kekeringan. Wonwoo mengerutkan alis, jelas ada sesuatu di sini. Ia berdiri dan menatap sekeliling, mewaspadai setiap gerakan di padang itu.
Wonwoo baru akan memanggil ibunya ketika sebuah kegelapan menutupi semua indranya. Kegelapan pekat itu berkeliling sampai Wonwoo kehilangan segala jejak dirinya, lalu sebuah ketakutan muncul di kepalanya. Gelombang ketakutan yang berasal dari luar, membuatnya meringkuk dan memejamkan mata serapat-rapatnya.
Kemudian, Wonwoo merasakan tubuh kurusnya terjatuh.
.
.
.
Wonwoo terbangun di sebuah kamar besar dan mewah yang sayangnya berwarna hitam suram, tirai yang menutupi jendela berwarna abu-abu suram, seprai tempat tidur berwarna hitam, bahkan rendanya berwarna hitam.
Seluruh dinding juga berwarna hitam, Wonwoo rasanya bisa gila melihat warna hitam ini. Wonwoo menemukan sebuah pot berisi bunga, tapi ia segera mundur setelah menemukan bunga itu berwarna hitam dan menguarkan bau lembab.
Ini jelas bukan dunia manusia, mungkinkah ini dunia bawah? Wonwoo mendekati salah satu jendela kayu berwarna hitam dan melihat keluar.
Ia melihat sebuah sungai putih dengan berbagai tumbuhan liar yang tidak pernah ia lihat di sekelilingnya. Gelembung-gelembung putih terbentuk dan pecah dalam waktu singkat, arusnya bergerak pelan dan terlihat mengundang. Itu Lethe, Wonwoo yakin akan hal tersebut. Berarti ini memang sedang berada di Dunia Bawah.
Kemudian pintu kamar itu terbuka dengan keras, sesosok laki-laki muncul di sana. Tunggu dulu, itu bukan laki-laki pada umumnya, maksudnya, bukan manusia pada umumnya. Kulitnya berwarna kuning seperti kertas yang sudah disimpan terlalu lama.
Dia nyaris tidak memiliki daging yang tersisa di tubuhnya. Kulitnya menggantung dan tulangnya menonjol. Ketika dia mendongak, rongga matanya kosong dan mulutnya tidak bergerak dari seringai mengerikan abadinya. Wonwoo berjenggit dan nyaris terjungkal ke belakang.
Dia tidak berbicara tapi memberi isyarat agar Wonwoo mengikutinya. Oke, ini mulai menakutkan baginya.
Wonwoo menghela napas panjang, pasti ada sebuah penjelasan di balik ini semua. Ia mengikuti sosok menyeramkan itu keluar kamar dan sebisa mungkin membuat jarak yang agak jauh. Bukan bermaksud jahat, tapi sosok itu menguarkan bau… apa bahasa sopannya? Oh iya, bau kematian.
Ia bisa mendengar tulangnya berderak dengan setiap gerakan yang dia buat dan itu membuat Wonwoo seketika merinding.
Dia membawa Wonwoo menyusuri lorong gelap dan berbau jamur, semuanya berwarna hitam atau abu-abu. Siapapun pemiliknya, sudah jelas dia bukan orang periang. Berbagai lukisan aneh dan menakutkan menghiasi lorong panjang itu.
Wonwoo berdeham sebentar, "Ehm, tuan–ehm?"
"Askalaphos."
"Huh?" Wonwoo bingung, kenapa juga namanya sesusah itu?
"Tentu saja itu namaku, maksudku dulu saat aku masih menjadi manusia. Yah, walaupun kehidupanku dulu tidak sepanjang yang kuharapkan tapi aku tidak menyesal. Sebenarnya, aku malah merasa lebih beruntung karena masih bisa berada di sini sebagai pelayan."
Dia mendesah panjang, seolah masih memikirkan kehidupan dulunya. Ini aneh, jelas menjadi pelayan dalam bentuk mayat bukanlah sesuatu yang bisa Wonwoo anggap beruntung. Mungkin memang begitulah cara berpikir makhluk-makhluk di sini.
Wonwoo kembali diam dan mengikutinya sambil berusaha bernapas lewat mulut. Ia juga tidak berani memberi terlalu banyak jarak karena ia sudah mendengar banyak suara-suara aneh di sepanjang lorong gelap itu.
Askalaphos berhenti mendadak dan Wonwoo nyaris menabraknya. Ia berhasil mengendalikan langkah beberapa senti sebelum menubruknya dan membuat tulangnya yang rapuh menjadi patah. Wonwoo menatap sebuah pintu ganda besar yang berjarak beberapa senti dari kepalanya.
Dia berbalik menatap Wonwoo dan berkata, "Tuanku sudah menunggu."
"Siapa?"
"Sebaiknya kau cepat."
Dia membukakan pintu ganda itu dan mendorong tubuh Wonwoo pelan. Wonwoo berbalik sekilas, "Tuanmu tidak akan membunuhku, kan? Tidak bermaksud menyinggung, tapi aku belum mau mati."
Dia tersenyum lebih lebar untuk pertama kalinya dan dua buah taring terlihat jelas pada rangkaian giginya. Dia berbisik pelan, "Dulunya aku juga belum mau mati."
Askalaphos menutup pintu ganda itu. Wonwoo tidak mempunyai pilihan lain selain melangkah masuk.
Begitu ia melangkahkan kakinya mendekat, tiba-tiba seluruh ruangan menjadi terang. Perlu beberapa detik baginya untuk menyesuaikan diri sebelum sadar bahwa puluhan lilin di ruangan itu menyala dengan serentak.
Terlihat sebuah meja besar berbentuk bundar dan berwarna hitam dengan banyak hidangan aneh di atasnya. Kemudian dua buah kursi berwarna hitam dengan dudukan berwarna merah darah. Mawar-mawar hitam bertebaran di mana-mana, kelopak kering juga muncul di seluruh ruangan. Semua piring dan gelas terbuat dari perak.
Kedua kaki panjangnya otomatis membawanya mendekat dan duduk di salah satu kursi yang pertama ia raih. Kemudian, ia merasakan angin bertiup dan sesosok dewa muncul pada kursi di hadapannya. Dewa ini mengenakan jubah kombinasi antara hitam dan merah.
Bukan merah lembut yang disukai Wonwoo, tapi merah darah. Terlihat menakutkan di balik cahaya lilin, mata hitamnya seperti lubang. Wonwoo bergidik dan seketika itu juga ia kehilangan kemampuannya untuk berbicara.
Wonwoo memakukan tatapannya pada wajah dewa itu. Rambutnya hitam legam mengkilap, hidungnya mancung, senyum miringnya menakutkan, dan wajahnya bersegi. Dia menatap Wonwoo dengan mata lubangnya sebelum berkata, "Well, mungkin ini sedikit terlalu dramatis."
Suaranya mengejutkan sekali. Wonwoo berpikir bahwa suaranya akan terdengar menakutkan, tapi sebaliknya, ada keramahan dan kehangatan aneh di dalam suaranya.
Dia berkata lagi, "Ini jelas bukan cara terbaik untuk berkenalan." Dewa itu menaikkan kakinya ke atas meja, jelas tidak sopan. Wonwoo yakin jika ibunya akan memarahi siapapun yang menaikkan kakinya ke atas meja, apalagi meja makan.
Wonwoo akhirnya berhasil bergumam dengan nada takut, "Kau... bisa mengembalikanku ke atas, kan?"
Dia tertawa dengan kejam, seolah-olah Wonwoo menanyakan hal bodoh. "Jelas tidak."
Wonwoo merasakan sedikit amarah saat sebelum membalas jawabannya, "Kenapa aku ada di sini?"
"Well, bukankah sudah jelas? Aku menculikmu."
Ini aneh, belum pernah ada penculik yang terlihat tenang dan terkendali. Sosok berjubah hitam itu bahkan seolah bangga dengan keterampilan menculiknya.
"Kenapa?" Wonwoo berusaha mempertahankan suaranya untuk tetap datar.
"Aku juga tidak tahu. Aku sedang melihatmu menumbuhkan bunga untuk yang kedua kalinya dan tiba-tiba terpikir olehku mungkin menculikmu akan terlihat menyenangkan."
"Apa? Hanya itu? Kau bisa mengembalikanku ke tempatku sebelumnya." Wonwoo tidak percaya ternyata sosok dewa itu juga tidak waras.
Dia terkekeh pelan, "Well, kurasa tidak akan semudah itu. Akan kujelaskan peraturan di sini sebentar. Kau bebas menjelajahi istana ini, tapi tidak keluar dari sini. Coba kabur dan aku yakin para arwah akan membunuhmu atau setidaknya menyakitimu, jadi kusarankan agar kau menjaga jari kakimu agar tidak keluar garis. Setiap malam aku akan menemuimu di sini. Tidak hadir, maka aku sendiri yang akan menemuimu dan percayalah itu akan menjadi pertemuan menyakitkan."
Dewa di hadapannya terlihat senang setelah mengatakannya, jelas dia bukan orang yang baik.
Wonwoo bingung, "Malam?"
"Oh benar, di sini tidak ada matahari. Tenang saja, Askalaphos akan menjemputmu jika tiba saatnya." Dia menggaruk ujung hidungnya dan mengisyaratkan sosok dihadapannya untuk makan, "Sekarang, makan malam."
Wonwoo mungkin sedang diculik dan kepalanya sakit memikirkan apa yang terjadi, tapi jelas Wonwoo mengetahui satu hal. Memakan makanan Dunia Bawah itu terlarang, ia bisa tidak kembali lagi ke atas nanti. Jadi ia hanya menggeleng dan bersedekap.
Dewa itu tertawa, "Kau konyol, tapi aku suka makhluk konyol. Kau tidak mau makan, terserah."
Sosok berambut hitam itu mulai makan dan Wonwoo menatapnya dengan bengis untuk beberapa lama. Jarang menemukan sesuatu atau sesosok dewa yang bisa untuk dibenci, biasanya Wonwoo baik.
Sosok berjubah hitam itu mendongak dan berkata, "Untuk makhluk yang selalu bermain dengan bunga, tatapanmu cukup berani. Tapi aku tidak takut, percayalah aku tahu apa itu ketakutan dan aku bisa mengirimkan ketakutan pada siapapun dengan sangat mengerikan."
Tunggu dulu, dari caranya berbicara, kulitnya yang menakutkan, kemampuannya mengirimkan ketakutan.
Wonwoo tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Mingyu?"
Sosok itu membeku kaget.
Ok, menyebutkan nama dewa di depan dewa itu sendiri jelas bukan ide bagus. Mingyu langsung bangkit dan menjentikkan jarinya. Seluruh meja hilang bersamaan dengan kursinya sehingga Wonwoo terpaksa harus berdiri.
Sosok bermata tajam itu sekarang menjulang di hadapan Wonwoo dengan senyumnya yang mengerikan, taringnya terpampang bebas. Wonwoo jadi bertanya-tanya mungkinkah taring itu akan merobek kulitnya? Memotong bagian tubuhnya? Jelas Wonwoo kini sudah panik.
Mungkin menyebut namanya bukan ide yang baik, nama memiliki kekuatan yang hebat. Apalagi nama dewa yang berkuasa.
Mingyu menyeringai dengan lebar dan berkata, "Well, ini jelas makan malam yang menyenangkan sampai kau menyebut namaku. Askalaphos!"
Si manusia berkulit sewarna kertas tadi membuka pintu dengan cepat. Dia menarik Wonwoo dan menyeret sosok manis itu ke belakang, semua tulangnya berderak menakutkan saat dia melakukannya, Wonwoo hanya sempat menatap Mingyu sebentar sebelum melihatnya menghilang menjadi pusaran hitam.
Seringainya adalah yang terakhir pergi dan itu membuat sekujur tubuh Wonwoo merinding.
Begitu ia diseret keluar ruangan tadi, seluruh lilin di sana padam serentak dan meninggalkan kegelapan mutlak. Wonwoo bergidik dan berjalan mengimbangi si Askalaphos itu.
Dia mengembalikan Wonwoo ke ruangan tadi dan menutup pintunya dengan sekali sentakan keras. Anehnya, Wonwoo merasa sedih sekarang. Bagaimana tidak? Ia diculik, ia jelas tahu jika ia sedang berada di dunia bawah tapi ia tidak bisa melakukan apapun.
Jihoon pasti khawatir dan jika tahu anaknya telah diculik, kemungkinan ia akan murka semakin besar dan entah apa yang bisa dilakukannya jika ia marah. Di sini juga suram, tidak ada bunga ataupun warna terang. Jelas Mingyu bukanlah orang periang, Wonwoo tahu itu.
Tanpa sadar Wonwoo merangkak naik ke tempat tidur hitam itu dan berbaring. Ia membenamkan kepalanya pada bantal yang secara mengejutkan terasa nyaman. Pikirannya melayang lagi.
Jadi Mingyu menculiknya dan meletakkannya di sebuah kamar luas dan suram di Dunia Bawah. Mingyu memberikan Wonwoo seorang teman berupa mayat hidup dengan nama yang sulit disebutkan.
Ia juga memerintahkannya untuk muncul di setiap makan malam, tapi kemudian Wonwoo tidak bisa makan. Tapi tadi Mingyu seketika marah ketika ia menyebutkan namanya, kenapa?
Kepalanya rasanya teraduk-aduk, pikirannya kacau dan tubuh kurusnya lelah. Mungkin itu alasan kenapa Wonwoo tertidur dengan cepat, tapi ternyata ia malah bermimpi buruk.
.
.
.
Wonwoo menemukan dirinya berada di sebuah singgasana bercahaya dengan gambar matahari di belakangnya. Sesosok titan duduk di sana dengan dahi mengkerut. Wajahnya berwibawa, matanya bersinar keemasan dan hidungnya amat tajam. Tiba-tiba Wonwoo mengenal siapa dia, Seokmin.
Ia bergumam sendiri secara acak dan tidak jelas, "Terbang mendekat, sampai gerbang, masih jauh, lebih jauh dari yang kupikirkan."
Kemudian Wonwoo mendengar pintu didobrak terbuka dengan keras dan melihat ibunya berjalan masuk. Tunik dan rambut kecoklatannya berantakan, wajahnya terlihat lelah tapi matanya memancarkan sesuatu yang berbeda.
Wonwoo berusaha berteriak padanya, memberitahu atau setidaknya memanggil ibunya, tapi suara beratnya tidak mau keluar. Ia bahkan tidak bisa bergerak, hanya bisa menyaksikan dan mendengarkan.
Jihoon tidak berbasa-basi, "Kau melihat putraku?"
Seokmin memamerkan senyum cemerlangnya, "Ah, Jihoon. Sudah lama semenjak aku melihatmu terakhir kali."
"Aku sedang tidak punya waktu berlebih, Seokmin." Jihoon mengentakkan kakinya dengan kasar.
Seokmin terkekeh sebentar, "Ok, jadi ada yang bisa kulakukan untukmu?"
"Beritahu aku di mana terakhir kali kau melihat putraku."
"Well…" Seokmin terdiam.
Jihoon mengerang sebentar sebelum bertanya lagi, "Well? apa? Astaga, kau kan matahari, kau tidak mungkin melewatkan sesuatu."
"Well, dia, ehm, dia sekarang jelas tidak ada di dunia."
"Maksudmu?"
"Dia, ehm, bagaimana aku harus mengatakannya? Oh, dia diculik."
Jihoon berapi-api, "APA?!" Suara teriakkannya terdengar sangat lantang sampai-sampai Seokmin sendiri terlompat di singgasananya.
"Kurasa pertanyaan yang benar adalah siapa?" Seokmin mencicit.
"Sebaiknya kau memberitahuku siapa yang berani melakukannya sebelum aku menjadikanmu pohon bersinar." Jihoon menggerakkan jari mengancam pada Seokmin.
"Santai." Seokmin mengangkat tangannya dengan gerakan melindungi diri sendiri sebelum melanjutkan, "Hmm. Seseorang dari Dunia Bawah, dia ehm, well, kurang bersahabat denganku."
"Mingyu." Jihoon menggumamkan sebuah nama sebelum berderap keluar dari ruangan Seokmin.
Wonwoo dapat melihat Seokmin menghela napas disana, "Pemaksa."
Pertama, Wonwoo bisa mendengar ibunya memanggil nama miliknya. Suara Jihoon bergetar dan tidak jelas, seolah dia sudah berteriak berjam-jam. Wonwoo ingin membalasnya, ingin mencoba memberitahukan tempat ini, tapi tenggorokkannya terkunci.
Wonwoo bisa melihat sebuah ruangan terang dengan dua belas singgasana. Beberapa Olympian duduk di singgasana mereka masing-masing dan sedang sibuk. Wonwoo bisa melihat Doyoon menempati salah satu singgasana yang dulunya kosong dan Jeonghan memelototinya dari singgasana utama, rupanya kesepakatan sudah dicapai.
Seungcheol sedang duduk dengan santai dan memejamkan mata, Junhui tidak terlihat di manapun–mungkin dia sedang menikmati berenang di laut. Jisoo sedang mengorek darah kering dari perisainya dan Seungkwan sedang menatap bayangannya di cermin dan menggumamkan betapa cantiknya dia. Doyoon duduk dengan santai sambil mengerucutkan bibir.
Tiba-tiba pintu ganda di depan terbuka keras dan Wonwoo bisa melihat ibunya berderap masuk. Jihoon menghadap Seungcheol dengan berani, Seungcheol sendiri terlonjak.
Jeonghan bereaksi lebih cepat dari suaminya yang kaget, "Apa-apaan ini?!"
"Putraku hilang."
"Ok.." Seungcheol ketara sekali bingung.
"Dia berada di suatu tempat yang tidak bisa kujangkau, Seungcheol. Dunia Bawah."
"Ok.. terus?"
Jihoon terlihat akan meledak, "DIA PUTRAKU, KAU OTAK UDANG. MINGYU JELAS-JELAS MENCULIKNYA."
"Well, kalau begitu aku tidak bisa membantu."
Jihoon meraung marah. Ini jelas pertama kalinya Wonwoo melihat ibunya hilang kendali seperti ini. Dia berkata dengan nada mengancam, "Aku mau putraku kembali, besok siang di padang biasa dia bermain. Jika sampai saat itu putraku masih berada di tangan Mingyu, aku tidak akan mengizinkan satu tumbuhan pun hidup, manusia akan kelaparan dan mati."
Dia berbalik dan keluar ruangan dengan marah.
Seungcheol masih dalam tampang shocknya saat Jeonghan memutuskan untuk turun tangan. Dia memanggil Soonyoung yang seketika muncul sambil melompat-lompat.
Jeonghan berkata, "Pergi ke Mingyu dan minta putra Jihoon kembali, siapa namanya? Ah, aku lupa. Sana, cepat."
Soonyoung hilang dalam kilatan cahaya dan bunyi sayap mengepak. Semua dewa bahkan tampak tidak terganggu, Jisoo hanya kembali membersihkan perisainya, Seungkwan kembali bercermin.
Beberapa menit, Soonyoung kembali. Dia berkata dengan nada riang, "Pesan dari Mingyu, ehm, Aku tidak akan mengembalikan anak Jihoon, masa bodo dia mau membunuh semua tumbuhan, akan kubuka gerbang pembatas dan membiarkan arwah-arwah membanjiri dunia."
Seungcheol meraung, "Astaga, tidak bisakah aku mendapat satu abad tenang? Baru saja masalah Doyoon selesai dan sekarang Jihoon akan membuat manusia kelaparan dan Mingyu akan membanjiri dunia dengan arwah. Kepalaku sakit saat memikirkan duniaku yang indah akan porak poranda."
Kemudian Seungcheol bangkit dengan marah dan Wonwoo seketika merasakan sensasi seperti sedang terjatuh.
Kepalanya sakit saat ia menemukan dirinya berada di kamar hitam itu lagi, yang tadi hanyalah mimpi. Benarkah?
Ia rasa makan malam nanti adalah saat terbaik untuk mengetahui jawabannya.
Apakah Wonwoo jadi menunggu saat-saat makan malam tiba? Tidak bisa dipercaya.
.
.
.
Suasana dalam pertemuan Olympia kacau. Jihoon marah besar dan terus-terusan menuntut untuk Seungcheol mendobrak ke Dunia Bawah, Junhui menggeleng-gelengkan kepalanya dan menutup telinga.
Jisoo terlihat tidak perduli seperti biasanya, semenjak dia menemukan Thanatos, rasanya dia kembali ke sosoknya yang biasa, yaitu tidak ramah dan mencintai pembunuhan. Soonyoung, untuk pertama kalinya duduk tenang di singgasananya dan membaca sebuah daftar panjang.
Jeonghan hanya memijat pelipisnya dengan tampang lelah, dia pasti mengalami saat-saat buruk sekarang. Biasanya dia akan berteriak saat suaminya selingkuh atau selalu memikirkan bagaimana cara menyingkirkan anak suaminya. Seungkwan mengeluh jika dia terus mendengarkan suara Jihoon, dia akan kekurangan waktu untuk tidur cantik.
Sayangnya Mingyu tidak bisa mendengar pertemuan itu, ia juga tidak sudi ikut pertemuan konyol begitu. Sosok berkulit gelap itu hanya sedang duduk di kantornya dan menikmati drama keluarga besarnya, sambil membiarkan kursi memijat pundaknya.
Soonyoung tiba-tiba menghilang dari sana, dan pintu kantor miliknya diketuk.
Dia bahkan langsung masuk tanpa menunggu perintah dari Mingyu. Senyum Soonyoung lebar saat ia berkata, "Pesan baru dari Jihoon, ini sudah yang ke lima puluh tujuh kalinya dalam hari ini. Pesannya adalah, ehm, kembalikan anakku atau aku sendiri yang akan datang dan merobek Dunia Bawah-mu."
Mingyu mengangguk dan Soonyoung bertanya lagi, "Kau tidak ingin membalas?"
Sosok yang ditanyai menggeleng dan memberi isyarat keluar. Soonyoung kembali berkata, "Baiklah, terima kasih." Kemudian melompat keluar dengan sayapnya yang berisik.
.
.
.
Mingyu harus memaksa dirinya berpura-pura menguap saat Wonwoo bertanya tentang dunia atas. Dia jelas sudah tahu apa yang terjadi dan apa yang ibunya lakukan, jadi Mingyu tidak merasa perlu repot-repot menjelaskan.
Wonwoo tetap tidak menyentuh makanannya dan kali ini ia lebih terkendali dari saat pertama kali Mingyu melihatnya. Dia tidak lagi menatap marah dan sekarang nada suaranya lebih terkendali saat menanyakan tentang ibunya.
Mingyu hanya mengangkat bahu dan mengunyah makanan lebih cepat untuk menahan makian. Tapi Wonwoo jelas tidak menyerah secepat itu, Sosok yang lebih pendek mengerucutkan bibirnya dan menghela napas panjang.
Makhluk manis itu bertanya lagi, "Jadi, bagaimana dengan Dunia Atas dan ibuku?"
Yang sudah ditanyai berkali-kali mulai kehilangan kesabaran, ini jelas akan lebih sulit. Semua juga tahu Mingyu mudah sekali marah. Ia mengabaikannya dan menanyakan hal lain kepada Wonwoo, "Kau sudah bercakap-cakap dengan Askalaphos? Dia menyebut-nyebut hadiah?"
"Tidak dan tidak. Kau mau menjawab pertanyaanku yang tadi?"
Mingyu nyaris meledak marah, tapi ia segera menelan amarahnya pada detik-detik terakhir. Wonwoo jelas bukan dewa yang mudah menyerah, dia mengendalikan dirinya lebih baik daripada Mingyu. Ini jelas mengesalkan, bukankah seharusnya Mingyu jadi yang terbaik?
Mingyu menggerakan dagunya dan mengisyaratkannya untuk makan, Wonwoo menatap Mingyu seolah ia gila. Ok, Mingyu nyaris menyerah. Ia menghela napas panjang sekali lagi, "Apa tadi pertanyaannya?"
Wonwoo tersenyum simpul, "Bagaimana Dunia Atas? Orangtuaku?"
Butuh beberapa detik terbuang hanya untuk berpikir apakah Mingyu sebaiknya jujur atau berbohong. Ia bisa saja bilang segalanya baik-baik saja, ibunya sehat dan masih menanam gandum. Tapi ada sesuatu yang menghalanginya untuk mengatakan kebohongan, ini jelas aneh.
Setelah perdebatan singkat, Mingyu akhirnya memutuskan untuk jujur. Sosok itu menjawab sambil menggertakkan gigi, "Tidak baik. Ibumu menolak menumbuhkan satu tanaman pun, seluruh hewan dan manusia kelaparan. Ibumu juga tidak baik, dia marah, depresi, dan entahlah. Seungcheol sakit kepala karena dunianya hancur. Ibumu mengirimkan sekitar seratus dua puluh tiga ancaman setiap hari melalui Soonyoung, semuanya berisi sama. Kembalikan putraku atau kubuat manusia tetap kelaparan."
Mingyu terkekeh saat melihat wajah Wonwoo yang kaget dan mulutnya menganga. Ia kira Wonwoo sudah tahu, makanya ia menanyakan hal itu pada Mingyu, untuk menghinanya.
Jadi Mingyu melanjutkan lagi, "Aku tidak menjawab ancamannya dengan ancaman yang sama, tapi aku sudah bertekad. Jika dia terus mengancamku, aku akan membuka gerbang Dunia Bawah dan membanjiri dunia dengan arwah. Nah, bagaimana itu kedengarannya?"
Wonwoo terlihat lebih terkejut lagi, mungkin ia tidak menyangka dunia akan hancur dalam waktu dekat. Mingyu menatapnya lekat-lekat, mengamati setiap perubahan raut wajah yang ada pada sosok yang entah kenapa terlihat lucu itu.
Sosok berkulit putih menelan ludah dan menarik napas beberapa kali, Wonwoo terlihat berusaha mengendalikan dirinya sendiri. Setelah beberapa detik ia berkata, "Bukannya lebih mudah jika kau mengembalikanku saja?"
Mingyu memutar bola mata dan menggerutu, "Aku tidak lihat lebih mudah yang kau maksud."
Wonwoo jelas tidak mengerti kenapa Mingyu bahkan rela untuk membalas Jihoon nantinya, ia juga jelas tidak mengerti kenapa Mingyu tidak mau mengembalikannya, dan juga jelas sekali Wonwoo tidak mau mencoba mengerti. Ia beranggapan bahwa Mingyu adalah dewa gila, walaupun mungkin saja dia benar.
Wonwoo berdeham dan baru akan membantah ketika Mingyu menyuruhnya diam dengan tatapan matanya dan bergumam dengan cepat, "Kau tidak akan mengerti, kau masih kecil."
"Kecil?" Sosok yang lebih pendek mengangkat alisnya.
Oke, ini salah. Jelas Wonwoo dewa dan dia tidak sekecil itu. Dia bahkan lebih dewasa dari yang dapat Mingyu pikirkan, pikirannya berbeda.
Mingyu baru akan membalasnya ketika pintu terbuka dengan keras dan Daedalus tergopoh-gopoh masuk. Wajahnya terlihat takut dan guratan-guratan di kulit mayatnya terlihat lebih ketara, giginya menyeringai aneh. Dia mendekati Mingyu dan berbisik, "Tuan, ada masalah."
Mingyu langsung menepukkan tangan dan Askalaphos masuk.
"Bawa dia kembali ke kamarnya." Mingyu menunjuk Wonwoo. Askalaphos membungkuk dan mulai menarik lengan bawah dewa itu. Mingyu menggertakkan gigi pelan saat melihatnya diseret pergi.
Daedalus menatap Mingyu dengan rongga mata kosongnya dan berkata, "Kau mau mulai membereskan masalahnya, Tuan?"
Mingyu menghela napas, ini akan menjadi waktu yang panjang sampai makan malam berikutnya.
.
.
.
Jihoon benar-benar gila. Dia ternyata serius dengan ucapannya dan itu begitu mengejutkan. Olympian gila satu itu tidak membiarkan satu batang tanaman pun tumbuh, bahkan semua rumput seketika mati. Mingyu mengerang saat berpikir mungkin sudah saatnya untuk menyiapkan arwah yang akan dilepas.
Soonyoung muncul lebih sering ketimbang seharusnya, mengirimkan ancaman dan permohonan. Tidak hanya dari Jihoon, tapi dari dewa-dewi lainnya. Mereka jelas juga kesal, oh seperti Mingyu akan perduli saja pada mereka.
Ketika akhirnya Soonyoung kembali untuk yang ke dua ratus tujuh belas kalinya, Mingyu menyuruhnya tinggal sebentar. Dia baru saja mengirimkan pesan dari Junhui yang hanya berisi tiga kata, kau harus mengembalikannya.
Mingyu mengabaikan pesannya sama seperti pesan-pesan lainnya, ini mulai menjengkelkan juga lama-lama.
Soonyoung menatap Mingyu dengan mata sipitnya yang berusaha dibuat lebar, dia bertanya dengan senyum jahilnya, "Kenapa kau menyuruhku tinggal?"
Mingyu menghela napas dan mengubur kepalanya ke dalam telapak tangan sebelum menarik napas dan menjawab, "Menurutmu apa aku sebaiknya mengembalikan Wonwoo?"
Soonyoung berpikir dia salah dengar, "Apa?"
Mingyu akui ia memang jarang meminta saran, bahkan ia jarang mengajukan pertanyaan. Mingyu tidak merasa bertanya pada mereka itu perlu, sampai saat ini. Sejujurnya, ia sendiri bingung dengan apa yang diinginkannya.
Ini pertama kalinya ia sendiri tidak benar-benar tahu apa yang diinginkannya, pertama kalinya juga Mingyu tidak memikirkan akibat dari perbuatannya.
Soonyoung mengedip-ngedip bingung sebelum menjawab dengan terbata-bata, "Mungkin... Kau bisa menghindari perang… Dia juga tidak bisa tinggal di sini terus."
Mingyu menghela napas panjang lagi, ternyata ini pertama kalinya ia bisa berpikir jernih tentang Wonwoo. Jelas sosok itu tidak bisa tinggal di sini, dia tidak akan mau tinggal di sini.
Sosok yang sedang duduk mengangguk, "Baiklah, mungkin aku akan memikirkan keputusanku selama beberapa hari."
Soonyoung kaget, "Beberapa hari? Well, bukannya aku ingin tidak sopan tapi seluruh dunia atas dalam keadaan nyaris kiamat lho."
"Aku tahu, begitu juga dunia atas kalian akan kiamat jika aku membuka gerbang Dunia Bawah kan? Nah, pergilah."
Soonyoung mendengus kesal sebelum berbalik dan keluar dengan sayap pada kedua kakinya yang berisik, meninggalkan pintu terbuka lagi.
Mingyu menggeram kesal.
.
.
.
Ternyata yang kesal bukan hanya Mingyu. Saat akhirnya makan malam tiba, Wonwoo datang dengan sedikit cemberut. Mingyu mengangkat alis pada Askalaphos dan mendapat jawaban berupa gelengan kepala. Mungkin Wonwoo mengalami waktu-waktu yang membosankan.
Wonwoo duduk dengan mata disipitkan dan tangan terlipat di depan dadanya. Dia bahkan tidak menunggu dewa dihadapannya berbicara sebelum menggumam, "Kau membuat dunia atas berantakan, tahu."
Mingyu mengangkat bahu dan mulai makan, "Aku tahu."
"Kau aneh."
"Benar, semua bilang begitu. Mungkin itu alasan ayahmu yang terkasih melarangku mengunjungi Olympus dan menentang pembangunan singgasanaku di sana."
Anehnya, bibir Wonwoo mendatar. Dia terlihat terkejut, astaga, Mingyu pikir yang tadi bukanlah sebuah rahasia. Wonwoo pasti tidak menyangka ayahnya telah mengusir Mingyu. Ia mengangkat alis dan berhenti mengunyah hanya untuk bertanya, "Kau tidak tahu?"
"Tidak, belum pernah ada yang menceritakannya padaku."
"Bahkan ibumu?"
Wonwoo menarik nafas sebelum berkata, "Well, sebenarnya aku jarang bertemu dengannya. Dia sibuk dan sebagainya, lagipula aku juga tidak banyak membicarakan dewa-dewi lain."
"Masuk akal." Mingyu mengangguk dan lanjut makan, membiarkan keheningan menggantung layaknya kabut di sekitar mereka.
Wonwoo berdeham lagi dan mengajukan pertanyaan. Kali ini dengan nada lebih pelan dan berat, "Jadi, kenapa kau menculikku? Ok, bukan. Kenapa kau menolak mengembalikanku?"
Mingyu mengangkat alis lagi, "Jujur, aku juga tidak tahu. Hanya saja aku merasa itu benar."
"Apa?"
Mingyu menguap, menunjukkan deratan gigi tajamnya. "Kau sudah mendengarnya."
Wonwoo mengerutkan alis, "Kau tidak bisa dipercaya."
"Memang." Mingyu menyuapkan sesendok makanan. Wonwoo terlihat terpana, pasti belum pernah ada yang berkata seenaknya kepadanya. Ada perasaan senang di dalam diri Mingyu saat tahu ia menjadi yang pertama, walaupun bukan hal yang baik.
Tiba-tiba Wonwoo mengatupkan bibir dan terlihat marah, "Apakah kau rela melihat banyak orang meninggal?"
Mingyu mengernyit, dia mau bermain logika? Ok.
"Yap. Mereka akan meninggal cepat atau lambat."
"Kau tidak memiliki rasa kasihan?"
"Rasa kasihanku dan yang lain berbeda. Aku mengasihani yang hidup, bukan yang mati."
Nada suara Wonwoo meninggi, "Apakah kau bahkan tidak memikirkan perang?!"
Mingyu menguap dengan sengaja, ingin melihat sampai mana batas kesabaran Wonwoo. Ia menjawab dengan nada malas, "Bukannya semua saudaraku senang terlibat drama?"
Wonwoo nyaris bangkit dari kursinya dan mungkin akan meninju wajah tampan Mingyu. "Bayangkan betapa hancurnya dunia! Pikirkan!"
Mingyu mengangkat bahu sambil berkata, "Dunia Atas. Duniaku akan tetap terjaga."
Sosok berkulit putih itu mengembuskan napas dan memasang tampang pasrah, kemudian dia terlihat tenggelam pada kursinya. Wajahnya sedikit memerah dan matanya menyipit.
Mingyu kembali berkata, "Itu saja? Kupikir kau akan meledak lebih lama lagi."
Wonwoo melotot dan kembali bersedekap sambil bergumam pada dirinya sendiri. Mingyu menangkap beberapa kata seperti tidak bisa dipercaya, dewa aneh, terlalu suram.
Tanpa sadar Mingyu menghela napas, "Kau tidak akan mengerti."
Matanya membara marah, "Kalau begitu ceritakan!"
"Uhm. Tidak. Aku tidak merasa kau akan mengerti bahkan jika kuceritakan."
Wonwoo mendesis, "Aku membencimu."
Oke, dua kata itu cukup untuk membuat Mingyu kehilangan kendali. Tangannya bergetar dan ia menggertakkan rahang dengan keras, berusaha menjaga kendali pada dirinya. Wonwoo terlihat kaget dengan ucapannya sendiri, ini mungkin pertama kalinya dia mengucapkan itu.
Mingyu bangkit dengan pelan sambil bergumam mematikan, "Kau tidak membenciku, aku mengetahui kebencian lebih dari siapapun."
Sosok dihadapannya terlihat takut, tapi masih menjawab, "Kau tidak akan membebaskanku bahkan jika ibuku mendobrak masuk ke sini, kan?"
Mingyu mengangguk.
Wonwoo bangkit, "Maka tidak ada alasan bagiku untuk terus berbicara denganmu."
Sosok itu berbalik dan berderap keluar, mengagetkan Askalaphos sampai mayat itu terjatuh.
Mingyu menghela napas dan memijit pelipisnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Aku gak nyangka semua peran member disini bisa ditebak, bahkan Jisoo pun ketebak dan itu benar. Padahal Jisoo itu menurutku yang paling OOC, Duh! Peka banget! :')
Yap, Jeonghan itu disini jadi Hera, dia itu pasangannya Seungcheol.
Oh ya, dan juga ada yang gak ngerti ya. Mungkin ada yang bingung sama silsilah keluarga mereka, jadi sebenernya Bunda Rhea itu ibu dari mereka (Seungcheol, Junhui, Mingyu, Jihoon, Jeonghan.) tapi Seungcheol nikah sama Jeonghan, dan Seungcheol juga selingkuh sama Jihoon dan anaknya itu Wonwoo. dan masih banyak selingkuhan Seungcheol yang lainnya (?) Karna para dewa dewi di mitologi yunani itu emang begitu. Hohohohoho.
Makasih yang udah baca, review, follow, fav, ataupun numpang lewat. Walopun gak gitu ngerti sama ceritanya juga tetep mau review, aku terharu banget :') Aku tunggu reviewnya lagi ya.
Ayo main tebak-tebakan lagi! Siapa yang bisa nebak peran member lainnya disini? Kalo ketebak semua dan benar aku akan apdet lebih cepet dari ini :3
Mind to RnR?
