Underneath

Seventeen © Pledis Ent

All Cast © Agensi masing-masing (?)

WARN! : YAOI, Alternate Universe!, OOC, TYPO


.

.

.


Wonwoo tidak percaya ada makhluk sekeras kepala seperti Mingyu, dia jelas tidak memiliki belas kasihan. Dia menjawab semua pertanyaan Wonwoo dengan raut wajah datar tidak terbaca, bahkan cenderung menantang.

Tanpa sadar Wonwoo nyaris meneriakkan pertanyaannya sampai ia menarik napas dan kembali mengendalikan dirinya sendiri. Kemudian Mingyu mengatakan bahwa Wonwoo tidak mengerti, dia sendiri tidak pernah menjelaskan apapun.

Tiba-tiba Wonwoo menyemburkan kalimat, "Aku membencimu."

Wonwoo membelalak saat melihat Mingyu kehilangan kendali pada dirinya tadi, wajahnya berkerut sedikit dan rahangnya berkedut. Bibirnya dikatupkan rapat dan tangannya mengepal. Perasaan bersalah menghantam kepala Wonwoo bagai palu. Ia tidak benar-benar membencinya, sejujurnya ia bahkan belum tahu apa yang sedang dirasakannya.

Melihat perubahan wajahnya, Wonwoo berharap Mingyu marah dan membakar dirinya saja seketika. Setidaknya itu akan membuatnya lebih lega dibanding menatap wajah Mingyu yang kaku dan abadi.

Setelah beberapa lama, senyuman di wajah Mingyu mengembang lebar tapi menakutkan.

"Kau tidak membenciku, aku mengetahui kebencian lebih dari siapapun."

Kalimat itu membuat perasaan bersalah Wonwoo hilang sepenuhnya, dia keras kepala dan tidak mudah terpancing. Wonwoo mulai kesal dan menanyakan hal yang rasanya sudah diketahui jawabannya, "Kau tidak akan membebaskanku bahkan jika ibuku mendobrak masuk ke sini, kan?"

Dia mengangguk. Wonwoo merasakan perutnya jatuh, anggukkannya terasa seperti vonis kematian. Tapi bukan kematian Wonwoo, melainkan kematian jutaan manusia di dunia. Wonwoo merasa buruk karena ia tidak marah, ia juga tidak kesal atau memberontak.

Wonwoo merasa… apa?... mungkin lega. Jelas ia tidak lagi khawatir akan keputusannya, Mingyu tidak akan pernah membebaskannya. Mungkin itu juga artinya Wonwoo tidak lagi perlu merasa bersalah atas amukan ibunya.

Wonwoo bangkit dan menatap wajah Mingyu. Mata hitamnya kosong dan luas, tidak terbaca ataupun tertebak. Tubuhnya bersandar pada kursi dengan tangan masih mengepal.

"Maka tidak ada alasan bagiku untuk terus berbicara denganmu."

Wonwoo mengucapkannya dengan keras, bermaksud terdengar marah. Tapi suaranya yang keluar malah datar, seolah-olah ia masih ragu untuk marah. Dengan cepat ia bangkit dan berbalik, berderap ke pintu dan menghentakannya terbuka.

Askalaphos yang sedang bersandar ke dinding kaget dan terpeleset jatuh. Wonwoo mengabaikannya dan berjalan dengan cepat, membiarkannya berusaha mengejar tubuh kurus Wonwoo. Dengan langkahnya yang pincang dan tulangnya yang tidak pada tempat seharusnya, dia jelas tidak akan mampu mengimbangi langkah cepat Wonwoo.

Sosok manis itu melewati koridor panjang dengan banyak pintu, memilih salah satu pintu dan masuk ke sana. Begitu Wonwoo menginjakkan kaki panjangnya di sana, lilin-lilin menyala dengan terang dan ia kaget.

Ruangan itu berisi puluhan mayat hidup seperti Askalaphos yang duduk melingkar.

Wonwoo keluar dan membanting pintu sambil berusaha tidak berteriak. Kakinya menyusuri lagi dinding hitam koridor sampai akhirnya ia menatap sebuah gerbang besi di hadapannya. Ia mendorong gerbang itu pelan, tidak terkunci.

Mungkinkah ini jalan keluar dari istana? Wonwoo mengernyit. Langsung saja ia masuk dan menemukan dirinya di sebuah tempat asing.

Sebuah taman.

Ralat, sebuah taman Dunia Bawah.

Taman itu dipenuhi tumbuhan-tumbuhan aneh dan menakjubkan. Bunga-bunga yang tidak pernah dilihat Wonwoo sebelumnya memenuhi seluruh taman dalam berbagai warna, biru, kuning, ungu. Ketika ia mendekatkan wajah, bunga-bunga itu terlihat berkilauan.

Wonwoo menyadari kelopak bunga itu terbuat dari batu-batu mulia. Ia mengangkat alis. Terkejut saat merasakan bahwa bunga-bunga itu juga hidup, begitu juga dengan segala pohon yang ada di sini.

Semuanya sangat indah dan inilah pertama kalinya Wonwoo merasa ia telah menemukan taman paling cantik.

Suara langkah kaki di belakang membuat Wonwoo menoleh, Askalaphos tergopoh-gopoh datang dan berusaha menyeret dirinya kembali sambil menggumamkan banyak hal. Semua yang mayat hidup itu gumamkan tumpang tindih sampai Wonwoo tidak dapat mengerti satu katapun yang dikatakannya.

Tiba-tiba saja Askalaphos membeku, Wonwoo menoleh dan langsung mengerti kenapa.

Mingyu sendiri berjalan masuk ke taman itu. Tatapan mata dan raut wajahnya tidak terbaca.

Dia memberi isyarat pada Askalaphos untuk pergi, mayat itu dengan cepat meninggalkan Wonwoo. Tulangnya berderak mengerikan.

Kedua mata hitamnya menatap Wonwoo dan ia baru sadari betapa tingginya badan Mingyu.

"Kau menemukan hadiahku, padahal aku ingin memberikan kejutan."

Wonwoo yakin sekali telinganya rusak, "APA?"

"Kau terkejut? Askalaphos sudah mengerjakan taman ini setelah beberapa lama, aku terus memburunya agar cepat. Tapi well, akhirnya kau sudah melihatnya. Bagaimana?"

Mingyu menatap sosok dihadapannya dengan mata hitamnya dan untuk pertama kalinya, Wonwoo merasa mata itu hangat.

Wonwoo menjawab sejujurnya, "Cantik, melebihi semua taman yang pernah kulihat."

Sosok tinggi dihadapannya mengangkat bahu, "Well, kuharap kau menyukainya. Nah, aku harus pergi sebentar, Soonyoung sudah sampai dan dia ingin menjemputmu."

"Menjemputku?"

Dewa tinggi itu menghela napas, "Ya, setelah percakapan kecil menyenangkan kita tadi, akhirnya aku memutuskan memang sebaiknya aku mengembalikanmu. Kau tidak bisa tinggal di sini terus, kau bahkan tidak bisa makan makanan di sini."

Dia terlihat…. Bagaimana?... putus asa. Setiap kata-katanya terasa dimuntahkan dengan paksa.

Wonwoo jadi merasa buruk lagi.

Mingyu memaksakan senyum di wajahnya yang dingin, "Nah, silahkan nikmati taman ini sebentar. Anggap saja ini kado perpisahan dan um… permintaan maaf mungkin? Kau sendiri yang memutuskan."

Dia melambai pelan dan berlalu meninggalkan Wonwoo sendirian.

Wonwoo berjongkok dan menatap bunga biru cemerlang di depannya, perasaannya campur aduk. Awalnya ia memang membenci Mingyu, Dewa menculiknya, membuat ibunya mencari Wonwoo, membuat manusia mati kelaparan.

Tapi belakangan ini, sikapnya membaik, dia toh tidak menempatkan Wonwoo di penjaranya, tidak membiarkannya kelaparan–walau tetap saja Wonwoo menolak makan, dia juga memastikan Wonwoo mempunyai teman–walaupun sosok teman itu adalah mayat hidup.

Dan yang paling mengejutkan adalah Mingyu membuatkan Wonwoo sebuah taman kecil yang indah.

Melihat Mingyu berwajah putus asa tadi membuat Wonwoo merasa buruk. Tadinya ia memang mendambakan kebebasan, tapi sekarang? Wonwoo bahkan tidak tahu apa yang diinginkannya.

Wonwoo berdiri saat mendengar suara langkah kaki mendekat.

Senyuman Soonyoung tidak pernah terlihat meninggalkan wajahnya yang polos. Sayapnya mengepak-ngepak dengan berisik dan Wonwoo dapat melihat Mingyu menatap sayap di kakinya dengan alis mengkerut. Wonwoo nyaris menertawakannya. Nyaris.

Soonyoung berdeham, "Ok, ayo kita pergi sekarang. Ibumu sudah nyaris membuat gila Raja para dewa dan juga Junhui sudah mengeluh terus-menerus."

Wonwoo merasa ia tidak tahu harus bereaksi apa.

Mingyu berkata, "Aku ingin mengucapkan perpisahan sebentar, kau keluar dulu sana, Soonyoung."

Soonyoung mengangkat bahu, "Oke." Dia keluar tanpa merasa tersinggung, Mungkin itulah sifat dewa kecil itu.

Mingyu berdiri di sebelah Wonwoo dan mereka diam, Wonwoo sendiri masih sibuk dengan pemikiran di dalam kepalanya.

Setelah beberapa lama, Mingyu berkata, "Kau sudah mengingat taman ini? Mungkin kau ingin membuat satu yang seperti ini di atas sana. Mungkin—"

Mingyu berhenti berkata. Wonwoo menatap Mingyu saat ia berusaha mengendalikan raut wajahnya, matanya menjadi dingin dan senyuman miringnya terpasang rapi di wajahnya.

Sosok manis itu menghela napas, "Mungkin aku tidak bisa membuat yang seperti ini."

Mingyu tiba-tiba berjalan menjauh dan kembali dengan sebuah delima di tangannya. Dia mengulurkan buah itu kepada Wonwoo dengan senyum miringnya, "Ini untukmu, sebuah kenangan dari Dunia Bawah."

Wonwoo menerimanya tanpa berkata apa-apa.

Mingyu berkata lagi, "Pergilah, Semoga kau senang di atas sana." Raja Dunia Bawah itu mendorong tubuh kurus Wonwoo pelan ke arah pintu.

Wonwoo menatap Mingyu lagi, berusaha mengingat wajahnya, "Kau akan senang di sini?"

Yang Wonwoo tatap terkekeh sebentar, "Kau bercanda. Ini Dunia Bawah, bukan tempatnya kesenangan, kau tahu."

Lalu Wonwoo tersenyum, "Benar juga. Jadi... selamat tinggal?"

Mingyu hanya mengangkat bahu tanpa berkata apapun. Dan Wonwoo melangkahkan kakinya keluar pintu.

.

.

.

Wonwoo menatap padang rumput di depannya yang sudah dipenuhi bunga, warnanya hitam dan coklat tua. Ia lalu menghela napas dan duduk.

Jihoon telah mengizinkan tanaman tumbuh lagi. Seungcheol sudah tidak sakit kepala setelah dunianya utuh lagi. Jeonghan kembali ke pekerjaan purna waktunya sebagai pemburu anak selingkuhan Seungcheol. Junhui kembali ke laut yang tenang selama beberapa saat.

Jisoo berperang seperti biasa. Seungkwan juga terus mematut dirinya seperti biasa–mengeluh jika ada yang kurang pas pada wajahnya. Doyoon juga sibuk dan jarang mengunjungi Olympus. Soonyoung terus kesana kemari dengan sayap di kedua kakinya yang berisik walaupun Wonwoo tidak menemuinya selama beberapa waktu.

Pada dasarnya, semuanya bahagia.

Sudah lama semenjak Wonwoo meninggalkan Dunia Bawah dan Mingyu, tapi jelas ada sesuatu yang berubah pada sosok tersebut. Wonwoo tidak lagi berkeinginan menumbuhkan bunga berwarna terang, kamarnya yang berwarna merah pun rasanya terlalu memusingkan sampai akhirnya ia menggantinya menjadi lebih gelap.

Rasanya ada sesuatu yang kurang, ada sebagian dirinya yang tertinggal di Dunia Bawah.

Wonwoo memejamkan mata dan taman buatan Mingyu itu muncul lagi di benaknya, setiap detailnya masih membuat ia kagum sampai sekarang. Wonwoo kembali menghela napas, merasa kosong.

Kemudian wajah Mingyu masuk ke dalam kepalanya. Dia adalah satu-satunya dewa yang tidak Wonwoo ketahui kabarnya, tapi ia juga tidak sebodoh itu untuk bertanya pada ibunya.

Kadang memang ia tergoda untuk mencoba memulai percakapan mengenai Mingyu, tapi bahkan wajah Jihoon akan mengerut marah jika ibunya mendengar kata Dunia Bawah.

Wonwoo jadi penasaran, bagaimana keadaan Mingyu, apakah dia kembali ke dirinya semula, apakah dia berubah juga, apakah dia bahkan masih mengingat Wonwoo.

Tanpa sadar Wonwoo mengeluarkan delima dan memainkan buah tersebut di tangannya. Ia ingin mengunjungi Dunia Bawah lagi, mengetahui apa yang terjadi pada Mingyu.

Ia masih menatap delima di tangannya, merasa bingung sebentar.

Setelah tekadnya sudah bulat, Wonwoo memakannya.

"KAU DALAM MASALAH BESAR, WONWOO."

Wonwoo tersentak saat mendengar suara Seokmin menggelegar. Sosok itu berwujud di sebelahnya dalam baju besinya yang keemasan.

Seokmin bahkan tidak menyapanya, "Aku melihatmu memakan delima itu, ibumu akan marah besar."

Wonwoo mengangguk, "Aku tahu."

Ia menghela napas, "Kupikir Mingyu adalah orang yang keras kepala, ternyata kau juga begitu. Astaga. Akan ada perang lagi."

Wonwoo malah tersenyum padanya dan menggumam, "Mungkin tidak, aku akan membujuk ibuku."

Seokmin menggelengkan kepalanya, "Jelas tidak. Ah tapi terserahlah, hanya saja bilang padanya bahwa aku tidak ada sangkut pautnya. Tolong jangan datangi aku lagi."

Wonwoo tertawa, hidungnya mengkerut lucu, lalu berdiri. "Mungkin tidak bisa, aku tidak berpikir bahwa menemuinya sekarang adalah ide yang bagus."

Seokmin mengangguk, "Benar, sebaiknya kau terus di sini sampai aku terbenam. Setelah ibumu menjemput, dia pasti lebih baik suasana hatinya."

"Aku tidak berpikir begitu." Wonwoo bergumam.

"Lalu?" Seokmin bingung.

"Nah, kau bisa memberitahuku jalan tercepat ke Dunia Bawah?"

.

.

.

Mingyu mengerung marah, tidak satupun dari bawahannya yang dapat bekerja dengan benar.

Entah bagaimana Askalaphos dikutuk menjadi cicak oleh Jihoon, mungkin karena dia adalah mayat hidup tidak beruntung yang menjadi teman Wonwoo.

Ah, nama itu. Wonwoo.

Setiap kali ia memikirkannya, Mingyu merasa dirinya kosong lagi.

Mingyu menghela napas panjang dan menatap barisan arwah yang menunggu penghakiman. Ini pertama kalinya ia keluar istana semenjak Wonwoo pergi. Berusaha kembali ke dirinya yang dulu, jika ia masih bahkan mengingat bagaimana dirinya yang dulu.

Daedalus sudah membantunya merapikan sebagian besar Dunia Bawah sementara Mingyu bergelung di dalam istana sambil bermuram durja. Tapi setelah beberapa lama, ia akhirnya mulai beranjak keluar.

Ia juga meminta Daedalus mengurus Askalaphos yang berbentuk cicak. Tidak ada cara mengembalikan cicak Askalaphos ke dalam bentuk mayat hidupnya.

Keluarga besarnya kembali penuh dengan drama. Junhui dan Jeonghan merencanakan pemberontakkan pada Seungcheol.

Dewa dan dewi kembar anak Seungcheol dan titan Leto muncul dan bermaksud mengklaim tahta. Munculnya dewi beraura menakutkan Soojung dari kepala Seungcheol yang membuat Jisoo marah. Lalu, mundurnya Somi dari tahta untuk Chan–anak setengah dewa Seungcheol(lagi).

Mingyu menatap ke arah kejauhan dengan jelas ketika melihat sekilas sayap mengepak.

Benar saja, Soonyoung muncul dengan senyumnya.

Sosok kelewat bahagia itu berhenti beberapa senti di depan Mingyu dan berkata dengan nada ringan, "Waktunya pertemuan titik balik matahari musim dingin. Mau ikut?"

"Yeah. Aku suka drama." Mingyu menjawab sebelum menyeringai.

.

.

.

Yang Mingyu tahu tidak ada satupun dewa-dewi yang marah padanya, Oke, mungkin hanya Jihoon. Sosok mungil itu mendamprat Mingyu saat ia baru saja muncul di Olympus, tapi Mingyu tidak membalasnya dan membiarkan Jihoon lelah. Dia akhirnya menyerah dan duduk dengan diam.

Seungcheol memeluk Mingyu dan memanggilnya dengan sebutan saudara dengan nada kelewat ramah sampai mengesalkan. Junhui hanya mengangguk kecil dan duduk di singgasananya dengan diam–pikirannya sedang bekerja.

Jihoon duduk di seberang dan masih menatap Mingyu dengan mata membara.

Seungcheol berdeham, "Jadi, ada kabar terbaru?"

Jihoon menguap dan bergumam, "Tidak ada kabar baru semenjak putraku kembali."

Sebuah sentakan pelan meninju tepat tengah perut Mingyu. Ia hanya memasang wajah datar.

Seungcheol memutar bola mata, "Dan itu sudah terjadi lama sekali, kuyakin ada sesuatu yang berubah? Junhui?"

Junhui memutar trisulanya dengan tampang bosan, "Di laut? Tidak. Di darat? Aku tidak tahu."

Seungcheol terlihat nyaris marah, "Jeonghan?"

Jeonghan mengerutkan alis. Ini pertama kalinya dia dipanggil oleh suaminya. Jeonghan mengangkat alis saat berkata, "Tidak, kecuali semua singgasana sudah terisi penuh sekarang, suamiku. Minseok, Sohee, Soojung, Chan, siapa lagi anak selingkuhanmu yang aku tidak tahu?"

Seungcheol melambaikan tangannya kesal dan mengabaikan Jeonghan. Mingyu menangkap tatapan Jeonghan dan Junhui yang begitu mencurigakan, mereka merencanakan sesuatu. Mingyu suka drama.

"Minseok? Sohee?"

Minseok yang sedang memaikan lira-nya tersentak dan menatap ayahnya dengan pandangan asing. Dia menggeleng pelan.

Sohee yang beraura perak bergumam, "Beberapa waktu lalu aku menemukan jejak monster, saat aku mengikutinya, jejak itu menghilang."

Seungcheol mengerutkan alis, "Kau tahu kira-kira itu apa?"

"Tidak."

"Soonyoung?"

Soonyoung menatap Seungcheol dan tersenyum, "Akan kuberikan kau daftar seratus tujuh belas ribu hal yang berubah selama setahun."

Seungcheol mengangguk, "Baiklah. Soojung?"

Dewi itu menggeleng.

"Mingyu?"

"Nah. Tidak ada."

Seungcheol terlihat marah, "Apa gunanya pertemuan ini?!"

Mingyu menjawab dengan nada mengesalkan, "Tidak tahu, kenapa kau repot-repot mencari perubahan?"

"ENTAHLAH. MUNGKIN AGAR AKU TAHU JIKA ADA YANG AKAN MEMBERONTAK."

Seungcheol berteriak marah dan menatap Jeonghan dengan sangar. Dewa yang satu itu tetap diam walaupun matanya memancarkan ketakutan. Junhui menatap Seungcheol hati-hati, menunggu dia memekikan namanya juga.

Seungcheol berkata lagi, "Apa menurutmu yang kupikirkan saat bangun pagi dan mendengar seekor burung berkata padaku bahwa kau akan memberontak, istriku?"

Jeonghan menatap Seungcheol hati-hati, "Kau mempercayai burung itu?"

Di luar sana, petir menyambar dan seluruh dewa dan dewi tahu, seekor burung sudah dikutuk oleh Jeonghan.

Seungcheol menatap Jeonghan lagi, "Kau mengutuknya. Kau menyatakan kebenaran sekarang? Nah, siapa lagi yang ikut denganmu?"

Ok, jelas Seungcheol tidak tahu Junhui ada sangkut-pautnya tentang pemberontakan ini.

Petir menyambar lagi, lebih keras dan lebih terang. Seungcheol melambaikan tangan, mengusir semua dewa-dewi pergi. Tidak ada yang menunggu perintah kedua kali, semua langsung berdiri dan pergi dari sana.

Sial, padahal Mingyu menyukai drama.

.

.

.

Mingyu kembali ke Dunia Bawah dengan bersungut-sungut dan merosot ke singgasananya dengan cepat. Dulu ia senang jika mendapat waktu kosong, tapi sekarang rasanya istana itu terlalu sepi.

Dulu ia tidak memperbolehkan satu makhluk pun berbicara dengan keras, tapi sekarang rasanya bisikan mereka malah menambah keheningan mutlak. Dulu ia juga tidak memperbolehkan para pelayan untuk berdiri di sampingnya, mereka berisik, tapi sekarang Mingyu malah menginginkan suara berisik itu.

Mungkin sebaiknya ia mencoba untuk mengitari istana saja. Mingyu bangkit dan berjalan dengan pikiran kosong ke seluruh koridor istana. Beberapa pelayan terkejut dan langsung hening begitu melihat sosok tinggi gelap itu.

Mingyu menemukan Daedalus sedang memasukkan cicak Askalaphos ke dalam sebuah wadah. Lalu meninggalkannya dan terus berjalan.

Tanpa sadar, kaki jenjangnya membawa dirinya ke arah gerbang belakang istana. Gerbang itu menghubungkan istana dengan taman kecil yang dulu dibuatnya untuk Wonwoo. Sudah lama sekali rasanya semenjak ia melihat Wonwoo di taman itu.

Tangan Mingyu bergetar ketika ia mencoba untuk mendorong gerbangnya terbuka.

Rasanya taman itu masih sama, hanya saja terlihat sangat kosong. Beberapa bunga sudah layu dan kelopaknya bertebaran. Warna-warna terang bunga itu masih sama, tapi terasa berbeda.

Mingyu menghela napas panjang dan menghirup wangi bunga itu, merasa tambah buruk.

"Ternyata kau tidak merawat taman itu, ya?"

Leher Mingyu berderak saat akan berbalik. Wonwoo muncul di sana dengan senyuman dan tatapan tidak percayanya.

Mingyu kehilangan suaranya sebentar sebelum berdeham dan mampu memuntahkan jawaban, "Tidak juga. Taman ini kehilangan perawat setelah Askalaphos menjadi cicak."

"Ah, kasihan. Padahal aku ingin menemuinya."

Wonwoo terlihat kecewa saat dia berjalan masuk ke dalam taman.

Mingyu menatapnya, "Kenapa kau di sini?"

"Aku memakan delima itu, aku tidak bisa meninggalkan Dunia Bawah, kan?" Wonwoo menjawab enteng.

"APA?"

"Begitulah. Aku sadar sepenuhnya atas apa yang kulakukan."

Mingyu membelalak, "Dengar, aku senang sekali kau di sini. Tapi astaga, kurasa aku akan dapat masalah lagi."

Wonwoo menatap Mingyu sebentar sebelum mengulas sebuah senyum simpul. Matanya berbinar saat beringsut mendekati sosok yang lebih tinggi perlahan dan berhenti tepat beberapa senti di depan wajah Mingyu. Wonwoo perlu sedikit mendongak untuk menatap langsung mata Mingyu tapi ia tetap melakukannya dengan tersenyum.

Kemudian tiba-tiba saja sosok kurus itu melingkarkan tangannya ke sekeliling leher jenjang Mingyu dan juga merapatkan dirinya. Wonwoo memeluk Mingyu. APA?

Mingyu belum pernah membiarkan siapapun memeluk dirinya, bahkan tidak juga oleh ibunya. Pada dasarnya ia bukan dewa yang begitu suka terlibat dengan berbagai cara menunjukkan kasih sayang.

Tapi kali ini Mingyu tidak memisahkan dirinya dengan Wonwoo karena ia merasa ini benar. Ia membiarkan Wonwoo merengkuh lehernya beberapa lama sampai makhluk manis itu memutuskan sendiri untuk melepaskannya.

Wonwoo menatap wajah Mingyu dan tersenyum gugup, "Well, kudengar kau mengatakan kau dalam masalah lagi?"

.

.

.

Keadaan di Dunia Bawah sedikit berubah. Soonyoung mulai bolak-balik kantor Mingyu lagi, Wonwoo menghabiskan waktunya di taman, kadang juga di kantor milik Mingyu. Tidak ada banyak hal penting yang dapat mereka bicarakan, bahkan mereka lebih sering melemparkan ejekkan kepada satu sama lain. Tentu saja tidak boleh ada yang tersinggung.

Jihoon mengamuk (lagi). Dia mengirimkan Soonyoung ratusan kali ke Dunia Bawah hanya untuk menyampaikan ancaman yang kurang lebih sama.

Kali ini Mingyu sedang bersama Wonwoo dan sedang memprotes panggilan 'makhluk suram' yang ingin ia gunakan pada Mingyu. Soonyoung masuk sambil melompat-lompat kecil, senyum jahilnya tidak pernah lepas dari bibirnya.

Tongkatnya yang dinamakan Caduceus berada di dalam genggaman tangannya dan ia berdeham dengan gaya mengumumkan hal penting.

"Tuan Mingyu, sebuah pesan telah datang. Dari Jihoon. Bunyinya begini, Dear Mingyu, aku bercanda. Aku tidak mengucapkan kata dear untuk dewa yang tidak kusukai. Kau sebaiknya mengembalikan putraku lagi, kau sudah melihat apa yang bisa kulakukan, bukan? Ya, benar. Aku mungkin akan menghancurkan dunia jika aku marah."

Soonyoung tersenyum lebar lagi, "Nah, Tuan Mingyu. Kau mau membalas?"

Mingyu menatap Wonwoo, ia pikir membalas secara kasar pada ibunya sekarang bukanlah hal yang bagus. Matanya yang jernih menatap Mingyu seolah sosok manis itu sedang bertanya padanya.

Mingyu tidak jago dalam bahasa isyarat atau apalah sebutannya, jadi ia tidak mengerti.

Mingyu mengangkat alis dan berkata pada Soonyoung, "Kupikir aku mau membalas, dengarkan baik-baik. Dear Jihoon, aku bercanda. Aku dewa yang suram, mengucapkan kata dear bukanlah hal yang akan kulakukan, terutama padamu. Begini ya, aku menyarankan kau untuk berhenti mengirimkan Soonyoung sebanyak ratusan kali ke Dunia Bawah, aku bosan melihat tampangnya dan juga kesal mendengar sayapnya. Rasanya dia mengikutiku kemanapun aku pergi. Ya, dia bahkan mengikutiku ke toilet. Putramu aman, nyaman, tentram, dan bahagia di sini. Dia makan dengan cukup, berpakaian lebih mewah dari biasanya, memiliki segudang perhiasan dan batu-batu mulia yang cantik, dan sebagainya. Saranku adalah sebaiknya kau menghentikan aksi mogok menumbuhkan tanaman itu. Kau sudah tahu ancaman terakhirku, kan? Aku tidak keberatan membuat dunia cantik kalian tenggelam ke dalam lautan mayat hidup. Jadi memikirkannya saja jangan. Oh, lagipula ini bukan salahku. Makhluk aneh ini yang datang dan memutuskan untuk memperpanjang kunjungannya ke Dunia Bawah. Ok, cukup. Salam, Mingyu."

Mingyu menatap Wonwoo yang terlihat seperti menahan tawa. Ia menatap Mingyu dan berkata dengan nada mengancam, "Kau menyebutku makhluk aneh?"

Mingyu mengangkat bahu, "Kau menyebutku suram."

Soonyoung mengeluh, "Maaf, tapi aku sedang tidak ingin melihat pertengkaran cinta macam ini. Nah, Tuan Mingyu. Kau mengirimkan pesan lebih panjang dari pesan-pesan yang pernah kau kirim."

Mingyu berpura-pura terkejut dengan berlebihan, "Benarkah?"

Wonwoo tertawa dengan suaranya yang cukup berat sampai hidungnya mengkerut, dan Mingyu merasa ada sesuatu yang menghangat di dalam dirinya.

"Ya. Begitulah. Kau akan dikenakan biaya tambahan."

Mingyu melambaikan tangan asal, "Kau kan bisa minta ke bagian keuangan. Tunggu dulu."

Ia menahan Soonyoung yang sudah membungkuk dan bersiap melompat keluar.

Soonyoung berbalik dengan wajah kesal, dia tidak suka jika harus menunda pekerjaan. Dewa rajin.

Mingyu menatap Wonwoo yang sama bingungnya dengan Soonyoung dan berkata, "Kau mau mengirimkan sesuatu untuk ibumu, makhluk aneh?"

Wonwoo mengumamkan kalimat pelan dengan nada kesal yang tidak bisa ditangkap oleh Mingyu sebelum berkata, "Ide bagus. Halo ibu. Begini, Mingyu si makhluk suram yang menyenangkan ini ada benarnya. Mungkin sebaiknya ibu berhenti mengirimkan gelombang bencana pada manusia. Hmm.. apa lagi ya? Oh iya, kali ini aku tidak diculik loh. Aku hanya merasa kosong di atas sana, jadi aku memutuskan untuk makan delima yang diberikan Mingyu sebagai kenang-kenangan waktu itu. Walaupun aku tahu bahwa kau melarangku makan makanan dunia bawah, tapi aku toh tetap melakukannya. Sejujurnya, aku malah merindukan tempat ini lebih dari yang seharusnya. Ibu tenang saja, lagipula Mingyu ini kaya kok. Aku bisa meminta apapun padanya dan dia akan memberikanku segalanya. Aku sudah meminta kamar dengan warna terang untukku. Nah, itu saja. Aku pasti akan merindukanmu."

Mingyu mengangkat alis menatap Wonwoo, "Merindukan tempat ini lebih dari yang seharusnya? Memang seharusnya itu yang seperti apa?"

Wonwoo mengangkat bahu, "Entah. Aku juga tidak tahu."

Soonyoung mencatat semuanya sebelum mendongak dan bertanya, "Ada lagi?"

"Tidak." Mereka berdua menjawab serentak. Hal itu menimbulkan sentakan aneh untuk Mingyu.

Soonyoung tersenyum sebelum melompat keluar, melupakan fakta bahwa pintu kantor itu tidak ditutup (untuk yang kesekian kalinya).

Ia baru akan membentak siapapun sebelum Wonwoo sadar dan menutupkan pintu untuknya.

Mingyu menatap wajahnya penuh arti dan Wonwoo hanya tersenyum simpul.

.

.

.

Seungcheol marah besar, lagi. Jihoon mengamuk di pertemuan dan akhirnya mereka mencapai sebuah kesepakatan. Karena Seungcheol sudah tidak tahan lagi dengan gambaran dunianya dalam bencana lagi, ia akhirnya memutuskan sesuatu yang baik. Atau setidaknya begitu.

Mingyu masih ingat kata-kata Seungcheol berdenging di kepalanya saat itu, "Kalian berdua benar-benar menyebalkan. Nah, dengarlah. Wonwoo akan menghabiskan sepertiga tahun dari waktunya di Dunia Bawah bersama Mingyu––Diam Jihoon, ini untuk kebaikan semua––Lalu, duapertiga sisanya akan dia habiskan di Dunia Atas bersamamu. Nah, aku tidak mau peduli lagi jika ada peperangan karena ini. Aku akan menghukum siapapun yang berani-berani menghancurkan duniaku lagi. Nah Soonyoung, pastikan kau mencatat hal ini dan mengirimkannya ke Mingyu dalam bentuk pesan bersuara. Dan aku tidak perduli masalah biaya tambahan, minta saja ke Jeonghan. Oh iya, Mingyu saudaraku. Besok sudah tepat sepertiga tahun semenjak kau menculik Wonwoo."

Setelah pesan itu berakhir, Mingyu menatap Wonwoo dan tersenyum, "Well, setidaknya kau akan memiliki akses khusus ke Dunia Bawah, makhluk aneh."

Wonwoo mengangguk, "Aku akan merindukanmu, kurasa."

.

.

.

Setelah Wonwoo pergi menghabiskan waktunya di Dunia Atas, Mingyu tidak bermuram durja lagi. Sekarang ia jelas memiliki sesuatu yang ditunggu-tunggu dan ia melakukan segalanya sebaik mungkin selama delapan bulan.

Mingyu memperbaiki Dunia Bawah, mulai memperbaiki tempat para arwah, dan juga istananya. Ia sudah memastikan kamar Wonwoo berwarna terang, juga memastikan taman miliknya tidak diganggu oleh siapapun.

Ia juga mempersiapkan kejutan kecil untuk Wonwoo, pernikahan. Semenjak itulah Mingyu memiliki semacam kebiasaan baru, menghitung hari sampai Wonwoo datang lagi.

Besok adalah tepat delapan bulan setelah kepergian Wonwoo ke atas. Makhluk manis itu akan muncul besok dan Mingyu menghabiskan lebih banyak waktu dengan detail pernikahan, juga mengantisipasi jika Wonwoo menolak.

Hal itu membuatnya tidur lebih malam dari biasanya dan tenaganya terkuras. Jadi, Mingyu tidur bagai mayat dan terbangun besoknya saat siang.

Mingyu menatap kalender, seharusnya Wonwoo sudah sampai. Setelah bersiap-siap, ia bergegas ke kantor miliknya. Wonwoo tidak ada di sana, tidak juga di kamarnya yang cantik, tidak juga berada di ruang singgasana.

Mingyu menanyakan Daedalus dan ia berkata ia yakin sekali sudah melihat Wonwoo tadi. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah taman istana itu. Mingyu berjalan secepat mungkin ke sana.

Beberapa langkah dari sana, ia dapat melihat pintu gerbang yang terbuka seolah menariknya untuk mendekat. Mingyu menatap taman itu dari gerbang yang terbuka, melihat langsung apa yang ditebaknya.

Wonwoo di sana, dengan jari-jari lembutnya dia menyentuhkan bunga-bunga untuk tumbuh. Ia membuat pohon-pohon bergoyang, ia juga membuat angin bertiup entah dari mana.

Taman itu terlihat bercahaya dan hangat, sesuatu yang jarang ditemukan di Dunia Bawah. Setiap bunga yang disentuhnya menjadi bercahaya dan mekar lebih lebar lagi.

Tanpa sadar Mingyu terpaku menatap Wonwoo sampai ia selesai dengan kegiatannya. Begitu sosok kurus itu melihat seluruh taman itu sekali lagi untuk memastikan, Mingyu berjalan masuk.

Wonwoo bahkan tidak terkejut melihat sosok yang baru masuk tadi, ia hanya menyipitkan matanya dan bergumam, "Kau lupa merawat taman ini lagi, Makhluk Suram?"

Mingyu menatapnya tidak percaya, "Ada banyak hal lain yang sedang kukerjakan, Makhluk Aneh."

Wonwoo beringsut mendekati Mingyu dan memasang senyum, "Contohnya?"

Mingyu pura-pura berpikir, "Hmm. Mungkin perbaikan Dunia Bawah, mendekorasi kamarmu, memperbaiki istanaku. Banyak hal."

Ia menyipitkan mata lagi tapi senyumnya masih tercetak di wajahnya, "Aku juga mendengar kau sibuk merencanakan pernikahan."

Mingyu mendadak tidak nyambung, "Tunggu dulu, siapa yang bilang? Astaga, Daedalus."

Senyum manis itu melebar, "Benar, ya?"

Mingyu mengangguk dan menjawab tergagap, menggaruk rambut hitam mengkilapnya. "Well, aku tahu ini mungkin mengejutkan… aku memang tidak memberitahumu waktu itu… aku bahkan baru memikirkannya belakangan ini… bukan artinya aku tidak pernah memikirkannya… tapi… ah, sudahlah. Jadi bagaimana? Tidak apa-apa jika kau mau menolak, aku tidak akan marah atau apa kok."

Wonwoo diam, senyumnya masih mengembang.

Setelah beberapa detik dalam keadaan hening menakutkan–bagi Mingyu, Wonwoo menjawab dengan pelan, "Aku tidak mau kue tingkat berwarna hitam, ya."

Mingyu membeku terkejut saat sosok manis itu mendekat dan kembali melingkarkan tangannya di leher tinggi Mingyu. Dan kali ini Mingyu membalas pelukannya.

.

.

.


END

.

.

.

Ini end, serius end.

Fast apdet! Sesuai janji aku, karna ada yang bisa nebak member lainnya disini dan itu bener. Aku gak nyangka kalian sepeka itu, padahal semuanya di fic ini OOC loh :')

Nah ini yang paling sulit, siapa yang bisa nebak semua peran baru disini? Termasuk Minseok, Sohee, dan Soojung?

Aku sayang kalian, walopun fic ini banyak kurangnya. Makasih yang udah mau baca, review, follow, fav, numpang lewat dan nebak peran-peran disini. Sampe ada yang belajar tentang mitologi yunani dari fic ini juga. Sampe ada yang buka wiki demi paham cerita ini, makasih bangettt aku terharu pas baca review-review kalian. Walopun gak ngerti tapi tetep baca dan review fic ini, Duhhhhhh aku sayang kalian! /apasih/

Dan maaf juga gak bisa ngebalesin review satu-satu ya. *peluk satu-satu*

Tapi aku berencana bikin kelanjutannya. Mungkin akan berlanjut, tapi belum tau juga... Hehehehehehe

Last, Mind to RnR?