DUA
"Kemana saja kau?" Sakura membungkuk, melayangkan ucapan maaf berkali-kali pada pemuda di hadapannya. "gara-gara kau terlambat, aku jadi dihukum."
Sakura ingin sekali melemparkan sepatu pada pemuda berambut hitam itu. Sasuke baru memberikan pr nya pada Sakura pagi-pagi dan memintanya segera menyelesaikannya. Padahal untuk sampai ke sekolah naik sepeda saja butuh waktu nyaris 1 jam (dan Sasuke mengendarai mobil yang hanya butuh 15 menit), dan saat itu Sakura belum menyelesaikan pekerjaan rumahnya sendiri karena malam sebelumnya Sasuke menghukumnya untuk membersihkan gudang bawah tanah dan sengaja menguncinya.
"Maaf." Tapi toh hanya ini yang bisa diucapkan Sakura pada pria menyebalkan itu. Hukuman yang diberikan guru Kurenai pada yang tidak mengumpulkan pr sederhana; hanya membuat pr dobel. Hanya itu. Sama sekali tidak sebanding dengan hukuman yang diberikan Sasuke padanya;
"Tidak ada makan malam hari ini. Kau tidur di luar." Sakura mengangguk seperti biasa. "sudah, sana pergi."
Tak perlu di suruh dua kali, Sakura segera pergi meninggalkan atap sekolah, tempat rahasia dimana Sasuke bisa dengan mudahnya memintanya mengerjakan pr, tugas kelompok, segala macam kegiatan yang bisa dihibahkannya pada Sakura untuk membuatnya sengsara.
Enam tahun berlalu sejak Itachi pergi ke Amerika. Itachi memang tidak menetap di sana, namun urusan perusahaan Uchiha membuatnya pergi kelilingi dunia, jadi ia tak sempat kembali ke Jepang. Walaupun sibuk Itachi masih menyempatkan diri berbincang lewat e-mail dengan Sakura. Meski Sakura sendiri harus curi-curi waktu untuk menggunakan komputer karena Sasuke melenyapkan segala hal yang dapat membuat Sakura bahagia. Jadi walau bagaimanapun perlakuan Sasuke padanya, asalkan masih dapat berbincang dengan Itachi, Sakura sudah senang.
Selama Itachi pergi Sasuke melampiaskan kebenciannya pada Sakura. Jika mampu pria itu mungkin akan membunuhnya, walau Sakura sendiri tidak yakin. Terakhir kali tangannya terkena setrika, Sasuke buru-buru menariknya berobat. Sakura pikir ini terjadi karena sebenarnya Sasuke takut kalau Itachi sampai tahu apa yang diperbuatnya pada Sakura selama ini. Tapi semakin beranjak dewasa kelakukan Sasuke semakin tidak terkontrol. Saat menginjak umur 17 tahun bulan lalu, Sasuke nyaris saja terlibat narkoba jika Sakura tidak buru-buru membuang benda haram itu. Sasuke marah, tentu saja. Dan hukuman faforitnya adalah membuat Sakura tidur di luar rumah, kalau perlu untuk sebulan penuh supaya gadis itu tidak dekat-dekat rumahnya.
Sakura cukup tahu kebencian Sasuke mampu membunuhnya perlahan-lahan. Terakhir kali berobat dokter memberitahukan tentang paru-parunya yang bermasalah karena berkali-kali terserang udara dingin. Sakura memohon untuk tidak mengatakan pada Sasuke. Karena jika ia tahu mungkin pria itu akan lebih sering mengurungnya di luar rumah, menunggunya mati keesokan paginya.
"Hei jidat! bengong aja." Celetuk Ino membuyarkan lamunan Sakura.
"Apaan sih kau dasar Ino-pig." Balas Sakura pada teman sebangkunya itu.
"Kemana saja kau? Tumben tadi telat?"
"Ketiduran." Jawab Sakura sekenanya. Tidak ada satu orangpun yang tahu soal dirinya dan Sasuke. Biarpun mereka sekelas, mereka tak pernah saling bicara.
"Dasar kau ini, kebanyakan belajar sih!" Ino tersenyum nakal dan mencubit pipi Sakura dengan gemas. Sebenarnya Sasuke sudah memutus uang sekolah Sakura, tapi berkat kerja kerasnya Sakura masih bisa sekolah dengan uang beasiswa. Semua ini tak dikatakannya kepada Itachi, ia tak ingin menambah masalah Itachi dengan masalah keuangannya. Semenjak Itachi pergi, semua urusan di Jepang diatur Sasuke, termasuk pelayan dan Sakura sendiri. Nyaris bisa dikatakan hidup Sakura berada di tangan Sasuke.
"Mau bagaimana lagi? Kalau tidak begitu aku tak bisa sekolah hehe." Sakura berbohong dengan mengatakan bahwa ia yatim-piatu dan tinggal di panti asuhan, jadi semua orang mengerti setiap kali orang tuanya tak bisa hadis di acara besar. Dan oleh karena itu pula Sakura bisa menghindar tiap kali ada kerja kelompok di rumahnya.
Ino tersenyum sayang pada sahabatnya. "ngomong-ngomong partner lab biologi siapa ya? Ah, aku ingin sekali bisa bersama Sasuke atau Shikamaru." Sakura berjengit mendengar nama itu.
"Aku mah sama siapapun boleh."
"Kau ini pintar, terang saja begitu. Kalau boleh memilih mah aku juga akan bersamamu, jidat. Tapi guru Ieruka membaginya jadi kelompok cewek-cowok. Aku butuh pria sepandai Sasuke atau Shikamaru." Ujar Ino sambil memainkan pensilnya. "urgh, kenapa pula harus ada kerja kelompok sih."
Sebenarnya Sakura berpikiran sama. Kerja kelompok berarti waktu belajarnya makin sedikit. Dan sangat mungkin Sasuke akan mengalihkan tugasnya pada Sakura. Itu berarti kerja dobel. Dan jika ia tak belajar dengan benar, masa depannya sangat mungkin terputus begitu saja.
Sakura mendengus kesal. Kenapa hidup harus sebegini kerasnya padanya sih?
Pintu dibuka dan anak-anak kembali ke tempat duduk. "Oke anak-anak, partner lab kalian akan diputuskan hari ini. Ingat, ini untuk sepanjang tahun ajaran…" guru Ieruka mengerling pada pria yang tidur di ujung kelas. Sebelum ia sempat berteriak, pintu kelas di buka lagi. Dua orang pria masuk ke dalam.
"Maaf terlambat sensei, hehe." Ujar pria berambut kuning cerah sambil menggaruk-garuk kepala. Pria satu lagi yang berambut hitam kelam tidak berkata apa-apa, ia melewati Ieruka dan langsung duduk di kursi belakang Sakura.
"Dasar kalian ini…" Iruka menarik nafas panjang.
Sudah biasa bagi guru-guru Konoha High School bahwa kelas akselerasi memang terlampau 'unik'. Shikamaru Nara yang kerjanya hanya tidur di sekolah, tapi peringkat satu se-Konoha. Di bawahnya ada Sakura Haruno, murid yatim-piatu yang penurut dan disukai semua guru. Beberapa peringkat di bawahnya ada Sasuke Uchiha, putra ternama keluarga Uchiha yang sebenarnya sama pandainya dengan Shikamaru, tapi ia terlalu sering membolos untuk mengerjakan ulangan atau tugas-tugasnya. Dan Naruto Uzumaki yang tingkah polahnya konyol. Anehnya ia satu-satunya pria yang bisa bersahabat dekat dengan Sasuke si tukang bikin onar. Dan masih banyak lagi anak-anak dengan talenta sempurna yang memiliki sikap diatas normal.
Walaupun tidak pernah benar-benar membuat keonaran di sekolah, tapi Sakura tahu bagaiamana Sasuke dengan geng-nya menghabiskan waktu di bar, bersenang-senang, minum minuman keras dan sesekali Sakura harus sabar menghadapi Sasuke yang teler. Jika pria itu kebanyakan minum, ia akan menelepon Sakura dan Sakura harus mencari supir yang mau menjemput pria itu dari bar. Lucu, dari semua orang yang bisa Sasuke percaya untuk membawanya pulang ke rumah dalam keadaan tak berdaya, malah Sakura yang dipilihnya, orang yang selalu ditindasnya.
Mungkin karean Sasuke tahu Sakura tak akan mungkin berbuat jahat padanya. Selain karena nasibnya tergantung pada Sasuke, juga karena janji gadis itu pada Itachi untuk bisa akur dengan Sasuke.
Meski diam-diam setiap Sasuke mabuk ingin sekali Sakura meninggalkannya di jalan atau melemparkannya ke kolam renang, agar ia tahu rasa. Sakura terkikik pada pemikiran itu hingga tak sadar namanya dipanggil. Ino segera mencolek bahunya.
"Sakura Haruno dengan…" jantung Sakura berdegup, sebenarnya ia ingin dapat partner seperti Shikamaru yang malas namun bertanggung jawab, atau Neji Hyuuga yang serius dan rajin. "…Sasuke Uchiha."
Nyaris seluruh kelas mendesah. Yang laki-laki ingin berpasangan dengannya yang notabene duduk di peringkat dua, dan yang perempuan ingin dapat kesempatan dengan Uchiha tampan idola sekolah. Sakura sendiri nyaris menggebrak meja saking kesalnya.
Tidak cukup tinggal serumah, kini harus mengerjakan tugas bersama?
Sasuke menedang keras kursi Sakura hingga gadis itu mendelik jengkel ke belakang. Sasuke terkekeh padanya, seperti Lucifer baru bangkit dari neraka.
Sasuke tahu bagaimana Sakura juga membencinya. Awalnya gadis itu tidak banyak bersikap dan menurut saja. Namun sejak mereka masuk SMA, Sasuke sering mendengarnya mengeluh saat dirinya tengah berada dalam keadaan setengah sadar habis mabuk. Dan dalam beberapa keadaan Sakura bisa mendelik jengkel padanya, seperti di kelas tadi. Tapi hanya itu. Sakura tidak pernah benar-benar melawannya.
Bahkan setelah enam tahun pun gadis itu masih bertahan di rumah ini? Makin lama Sasuke makin jengkel dengan sikapnya. Ia tahu Itachi masih memonitoring keadaan di rumah meskipun nun jauh di sana, makanya ia menyiksa Sakura perlahan-lahan supaya gadis itu sendiri yang memutuskan untuk pergi. Sasuke tidak akan melukainya secara fisik, karena ia ingin Sakura merasakan sakit hatinya, bukan fisik gara-gara kematian orang tua mereka. Sayangnya, sampai sekarang hal itu belum terwujud.
Sasuke membuka pintu kamar Sakura tanpa mengetuk, toh ia sudah sering keluar masuk kamar gadis itu. Di tangannya ada setumpuk pr yang sudah membusuk sejak seminggu yang lalu. Sasuke sama sekali tak berniat mengerjakan, untuk apa belajar toh ia sudah pasti akan jadi penerus Uchiha corporation bersama kakaknya. Sayangnya betapapun pintarnya Sasuke, Itachi masih mengharuskannya untuk setidaknya lulus SMA untuk bergabung dengannya di perusahaan. Untung saja KHS ada program akselerasi. Jadi mau tidak mau Sasuke harus sabar menunggu setahun lagi di sekolah konyol itu.
Bukannya tak mengerti pelajaran, tapi ia malas mengerjakan hal-hal rendah macam itu. Ia lebih suka melakukan tele-conference dengan Itachi dan membahas ekonomi dunia. Dan ia tahu Itachi tahu keadaan sekolahnya namun tidak mengatakan apapun. Itu berarti Itachi memperbolehkannya bersikap seenaknya. Lagipula kadang-kadang Sasuke harus membolos sekolah karena menghadiri dewan perusahaan yang mengurus usaha keluarganya di Jepang.
Secara tidak langsung, Sasuke sudah bekerja meski belum lulus sekolah. Siapa juga mau mengerjakan pr kalkulus tidak penting kalau uang sudah mengalir sendiri ke kantung? Siapa juga mau repot-repot belajar pascal jika bisa merakit robot sendiri? Ya, Sasuke jauh lebih tertarik mempelajari apa yang tdiak didapatkannya di sekolah. IQnya sendiri nyaris mendekali si tukang tidur Nara itu.
Sasuke mendengus melihat kamar yang kosong. Di dengarnya suara dari dalam kamar mandi, berarti gadis berambut pink menyebalkan itu masih sibuk mengurusi dirinya. Dihempaskannya buku-bukunya secara asal di tempat tidur Sakura. Gadis itu bisa mengerti apa yang diinginkannya. Sasuke sudah siap meninggalkan kamar saat pintu kamar mandi berderit terbuka. Entah refleks apa yang mendorong Sasuke untuk berputar ke belakang.
Mata mereka bertemu. Sakura membelalak melihat Uchiha muda ada di kamarnya, dan terlebih lagi… dia baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk.
"Keluar!" bentak Sakura. Sasuke terlalu terpaku pada tempatnya, ini pertama kalinya ia melihat Sakura yang hanya dibalut handuk. Ia tak pernah tertarik pada gadis itu. Sejak hormon remajanya mengusiknya, ia bisa bermain dengan wanita manapun yang dikehendakinya di bar. Tanpa bayarpun mereka melempar diri mereka sendiri untuknya.
Jadi kenapa saat ini bagian tubuh bawahnya berdenyut-denyut menyakitkan melihat gadis itu berdiri dengan handuk? melihat tubuh basahnya bersinar di bawah lampu…
"Keluar, Sasuke!" Sakura mendorong Sasuke dan membanting pintu di depannya. Suara pintu dikunci membangunkan Sasuke dari bayangannya.
Overdosis kafein mungkin sudah membuat sebagian otakku rusak. Yakinnya dalam hati.
Sakura nyaris tidak tidur semalaman. Pr yang dilemparkan si pemalas Sasuke itu banyak sekali, dan deadlinenya hanya semalam. Bayangkan, hanya 10 jam sebelum sekolah masuk! Dan itu dipotong jam belajar Sakura, waktunya mengerjaan pr nya sendiri, dan tentu saja melakukan kewajibannya sebagai pelayan. Sebelum si pemalas itu bangun dan memakan sarapan paginya dengan santai, Sakura sudah mengayuh sepeda secepat mungkin ke sekolah agar tidak terlambat. Sebelum pergi Sakura sudah menumpuk prnya di meja makan agar kejadian seperti kemarin tidak terulang. Karena kemarin hujan lebat jadi Sasuke memperbolehkannya tidur dirumah, meski tetap tanpa makan malam.
"Hukumanmu ditunda, bukan dihapus." Ujarnya dingin saat Sakura bertanya padanya. Jika saja seminggu ini hujan terus sampai akhir minggu, Sakura tidak harus tidur di luar. Karena minggu ini penuh ulangan dan ia tidak mau sampai terkena flu.
Sakura memarkir sepedanya dan baru menyadari satu hal; ban belakangnya kempes. Menggerutu, karena tidak mungkin sepeda itu bisa digunakannya untuk pulang. Dan lebih tidak mungkin berjalan kaki mengingat jauhnya jarak rumah ke sekolah. Naik angkutan umum? Bah, uang jajan saja Sakura tidak punya. Sasuke tidak pernah membiarkannya benar-benar kelaparan, saat menerima hukumanpun setidaknya Sasuke mengijinkan Sakura makan pagi dan siang. Dan untuk itu Sakura selalu membawa bekal. Kadang-kadang Sasuke juga minta dibuatkan untuk menghindari para fansnya mengerubunginya di kafetaria.
"Sakura?" Sakura menoleh dan mendapati kakak kelasnya yang berambut merah menyala tersenyum padanya.
"Sasori-senpai. Ohayou." Senyumnya. Kakak kelas yang dikenalnya saat pertama masuk sekolah ini sangat baik padanya. Selain baik hati dan ramah, Sasori juga ketua OSIS yang berkali-kali meminta Sakura untuk ikut. Tapi Sakura selalu menolaknya. Sudah cukup banyak kegiatannya di sekolah dan dirumah untuk mengikuti kegiatan organisasi atau ekstrakulikuler sekolah.
"Ada apa? Ban mu kempes?" Sakura mengangguk. "tunggu sebentar, akan kucarikan pompa ban. Rasanya kami punya si Sekretariat OSIS." Bukan main, mungkin aku bisa menemukan pintu ke mana saja di Sekretariat OSIS yang konon katanya kelengkapannya mengalahkan toserba itu.
"Tidak usah, biar aku sendiri yang ambil,"
"Kau yakin? Sekretnya belum diganti lampunya, jadi masih gelap jam segini. Nanti terjatuh atau apa…" Sakura menggeleng yakin.
"Tidak usah, aku ambil nanti pulang sekolah saja."
"Hm, saya ada urusan pulang sekolah dan kuncinya hanya saya yang pegang. Begini saja, kutemani kau mencarinya sekarang." Sakura mengangguk dan mengikuti Sasori ke ruang Sekretariat OSIS.
Benar saja, ruangan yang terpisah dari gedung utama sekolah itu masih sangat gelap. Penjaga sekolah baru akan datang setelah istirahat pertama untuk mengganti bohlam lampunya. Sakura dan Sasori menyalakan HP masing-masing untuk menelusuri dalam gelap.
"Kalau tidak salah ada di sekitar rak buku." Ujar Sasori mengarahkan Hpnya ke arah rak buku besar di hadapan mereka. Sakura berjalan ke sana dan mulai mencari-carinya. Untung saja benda itu tidak terkubur di bawah berbagai kertas yang ditumpuk asal di lantai. Sakura mengabari Sasori dan mereka berdua langsung meninggalkan ruangan besar yang gelap itu.
"Baru pertama kali ini aku ke Sekret OSIS." Terang Sakura saat Sasori mengunci pintu.
"Benarkah? Bagaimana pendapatmu?"
"Seperti yang dikatakan banyak orang. Kelengkapannya nyaris mengalahkan toserba." Sasori tertawa mendengarkan.
"Tidak banyak anggota kompeten yang mau bertanggungjawab membersihkan Sekret sih. Kebanyakan hanya mampir meletakkan sejumlah angket, proposal, dan sebagian eskul dengan mudahnya menitipkan barang-barang mereka. Sudah seperti gudang saja." Akunya sambil berjalan.
"Oh ya? Kupikir OSIS kita sangat hebat, buktinya pentas seni kemarin berjalan meriah sekali."
"Oh itu, kau kenal Sasuke Uchiha? Kalau tidak salah kalian sekelas kan? Tahun kemarin dia satu-satunya anggota yang paling bisa diandalkan. Baru kelas 1 tapi sudah bisa menghandle sebuah acara sendirian… kalau tidak kulihat sendiri aku tak akan percaya."
Sakura terdiam mendengarnya. Beberapa waktu yang lalu memang Sasuke marah-marah karena Itachi menyuruhnya terlibat dalam kepanitiaan sekolah untuk mengolah skill berorganisasinya. Sasuke tak habis pikir siapa yang mengatakan tentang open recruitment pensi sekolah. Untung saja Itachi tak mengatakan orang itu adalah Sakura.
Sejujurnya Sakura baru tahu kalau ternyata soft skill Sasuke bukan hanya bualan semata. Pria itu benar-benar mampu menghandle sesuatu walau hanya seorang diri. Jika Sasuke sudah berdiri di depan sebuah proyek besar yang dia inginkan, maka hal itu sudah pasti jalan. Sakura ingat bagaimana dulu waktu umur 10 tahun Itachi menantangnya menyelesaikan 1000 potong puzzle dalam semalam, dan Sasuke mengerjakannya dalam waktu satu jam.
"Sakura? Kau melamun?"
"Oh, maaf senpai. Kurang tidur semalam." Sakura mulai memompa ban sepedanya, dibantu Sasori. Tepat sekali saat bel berbunyi kegiatan pompa-memompa sudah selesai. Dikembalikannya pompa ban itu pada pria berambut merah itu dan mengucapkan terimakasih.
"Sampaikan salamku pada Sasuke ya. Akan ada kepanitiaan study tur bulan depan, kuharap dia bisa ikut lagi. Dia tak pernah menjawab telepon dariku sih."
Diam-diam Sakura menjawab dalam hati; tentu saja tidak akan pernah dijawab, saking kesalnya Sasuke dibanjiri telepon oleh Sasori yang ngotot menariknya masuk OSIS, Sasuke melempar Hpnya sendiri dari lantai dua.
Terdengar berlebihan memang, tapi bukan Sasuke Uchiha namanya kalau melampiaskan kemarahannya dengan cara biasa seperti orang normal.
Sakura menopang dahinya yang mengkerut pusing. Untuk kesekian kalinya laki-laki ini masih saja bisa minum di minggu hectic seperti ini. Mungkin sudah saatnya Sakura memberitahu Itachi, sebelum Sasuke mati karena alkohol membanjiri pembuluh darahnya.
"Kenapa sih kau ini tak bisa jadi normal?" keluh Sakura susah payah membopong pria yang lebih berat darinya itu ke tempat tidur. Terang saja ia kesal, pasalnya kamar Sasuke di lantai dua. Dan ingin sekali Sakura menyeretnya di lantai dan membiarkannya begitu saja.
"Untung saja kau masih punya aku." Ujarnya lagi. Karena Sakura yakin jika orang lain yang berada di posisinya, jika perempuan pasti mengambil keuntungan darinya dan jika laki-laki sangat mungkin meninggalkannya seperti anak kucing di pinggir jalan.
"Ya… untung aku masih punya kau." Samar-samar Sasuke menjawab saat Sakura menghempaskannya ke tempat tidurnya. Kamar Sasuke belum berubah dari sejak terakhir kali Sakura berbaring di tempat tidurnya enam tahun yang lalu.
Sakura bernafas lega, berat sekali harus memapah Sasuke sepanjang tangga. Belum lagi hari ini ada pelajaran olahraga, nyari menghabiskan seluruh energi Sakura. Ditariknya selimut menutupi Sasuke, agar pria itu tidak kena flu. Walaupun Sasuke sendiri tidak peduli jika harus membiarkan Sakura tidur diluar tanpa sehelai selimutpun. Bagaimanapun, toh pemuda menyebalkan itu tetap Tuan Mudanya. Sasuke sudah mengalah untuk membiarkannya tinggal dan mendapat semua kenyamanan di rumah besar Uchiha…
Sakura berlutut di samping ranjangnya, mengamati Tuan Mudanya. Jika saja dia pria normal. Sasuke memiliki segalanya; kekayaan, kepandaian, soft skills dan hard skills, pandai di bidang olahraga apapun, dan tentu saja ia tampan. Jika ada tamu perusahaan datang, Sasuke berubah sikap 180 derajat jadi seperti Itachi. Di umurnya yang ke tujuh belas, Sasuke sudah bisa berdiri sendiri. Jika bukan karena Itachi mungkin Sasuke sudah pergi menyusul kakaknya ke Amerika dan meninggalkan Sakura.
Kadang, lelaki yang tengah tertidur ini baik padanya. Saat Sakura diganggu berandalan, ia akan melindunginya. Saat Sakura nyaris menangis karena semua kesulitan biaya tanpa jalan keluar, Sasuke akan mengurusnya diam-diam. Meski mungkin semua itu dilakukannya karena janjinya untuk menjaga Sakura pada Itachi, tetap saja hal itu membuat Sakura bertahan untuk tidak menyerah. Saat Sasuke menarik biaya akademiknya, Sakura jadi termotivasi untuk terus belajar. Diam-diam Sakura berpikir mungkin Sasuke memang menjaga Sakura, dengan caranya sendiri.
"Sakura…" Sasuke melenguh dalam tidurnya. Kontan muka Sakura memerah. Semenjak hormon pubertasnya beberapa waktu lalu, pria yang selalu hadir dalam bayangnya, anehnya, adalah Sasuke. Bukan pria sempurna seperti Itachi. Atau yang ramah seperti Sasori.
Tapi Sasuke Uchiha yang arogan dan menyebalkan.
Meski bukan siksaan fisik, tapi tetap saja semua tekanan mental dan psikis yang diberikan pemuda itu menyakitinya. Dia selalu membayangkan seperti apa hidup seandainaya Tuan Mudanya itu bukan lelaki brengsek yang suka menyiksanya. Pasti Sasuke akan jadi potret pria yang sempurna. Satu hal yang membuatnya terus bertahan mau menjemput Sasuke saat mabuk adalah pria itu menyebut namanya dengan lembut, sesuatu yang tidak pernah dilakukannya saat sadar. Biasanya Sakura pergi setelah mendengar namanya disebut, tapi kali ini ia bertahan pada posisinya, penasaran.
"Ya?" Sasuke membuka matanya yang setengah terpejam, memandang Sakura. Ia meraih pipi Sakura, mengelusnya dengan lembut. Jantung Sakura berdetak sangat kencang. Rasanya tubuhnya mati rasa saat Sasuke bangun dan menatapnya dalam-dalam.
Dan kejadian berikutnya diluar dugaannya, di luar mimpi terliarnya sekalipun. Sasuke menunduk dan mencium bibirnya. Awalnya itu hanya bibir yang saling menempel, namun lama-kelamaan Sasuke menekannya dan bibirnya mulai bergerak memagut bibir Sakura.
Bagai dihipnotis, tubuh Sakura tak bisa bergerak sama sekali. Tuan mudanya itu memperdalam ciumannya, mengigit bibir Sakura hingga ia memekik dan memanfaatkan kesempatan untuk memasukkan lidahnya. Sakura refleks mundur dan mendorong Tuan Mudanya. Wajahnya memerah. Begitu lidah Sasuke menyentuh lidahnya, dirinya seperti dialiri kejutan listrik.
Sasuke menatapnya bingung. Sakura buru-buru bangkit dan meninggalkan kamar Sasuke. Dibantingnya pintu kamarnya sendiri, ia segera jatuh di baliknya.
Apa itu tadi? Jari-jari Sakura yang gemetaran menyentuh bibirnya. Bisa dirasakannya bibirnya basah. Sakura mengigit bibirnya, sensasi ciuman tadi masih menyisakan kejutan listrik di dirinya.
Uchiha Sasuke baru saja menciumnya. Ia baru saja berciuman dengan pria yang jadi sumber kesengsaraannya, yang jauh di lubuk hatinya, sudah menarik perhatiannya 10 tahun lalu, sejak pertama ia melihatnya.
Sakura Haruno berumur 7 tahun saat pertama kali melihat Tuan Muda Sasuke. Dan mau tidak mau Sakura mengakui, bahwa itu cinta pertamanya.
Dan ciuman pertamanya baru saja diambil cinta pertamanya.
A/N : banyak yang melihat kemiripan cerita ini dengan cerita lainnya, tapi bakal beda kok. Ditunggu saja chapter-chapter berikutnya…
Review?
