TIGA
"Nah Sakura, ini rumah barumu."
Sakura kecil berumur 7 tahun turun dari gendongan ayahnya. Matanya berbinar senang; rumah ini jauh lebih besar dari rumahnya yang dulu. Dan yang lebih hebat lagi, ia punya kamar sendiri. Di rumahnya yang dulu mereka harus puas tidur bertiga dalam satu kamar.
"Sungguh? Kita akan tinggal di sini?" Mebuki Haruno mengangguk dan mengelus sayang kepalanya. Sakura tersenyum lebar dan berlari mengelilingi rumah barunya. Semuanya terlihat jauh lebih indah dari rumah sebelumnya. Sebelum ia sadar ia sudah berada di pekarangan belakang. Sungguh luas pekarangan itu. Penasaran akan batasnya, Sakura masuk jauh ke dalam pepohonan di belakang rumahnya.
Pemandangan di hutan seperti dongeng-dongeng yang sering diceritakan ibunya. Sinar matahari menerobos masuk dari celah-celah dedaunan, burung-burung bersahut-sahutan. Tanpa pikir panjang Sakura berjalan terus, tak peduli arah dan tujuan lagi. Ia begitu takjub akan keadaan hutan yang belum pernah dilihatnya.
"Weasel!" pekiknya. Dikejarnya hewan yang selama ini hanya dilihatnya di buku-buku cerita itu. Sakura begitu asyik mengejarnya hingga ia terpeleset dan jatuh terperosok. Memekik keras, akhirnya tubuhnya berhenti terguling.
Sakura merasakan nyeri hebat di sekujur tubuhnya. Matanya membuka perlahan-lahan. Dunia serasa berputar, pandangannya kabur. "Uugh…" Sakura mencoba bangun dan menginspeksi luka-lukanya.
Baju baru yang dibelika Okaa-san padanya robek dimana-mana. Lututnya terluka, darah merah membasahi luka yang terbuka itu. Ia menoleh ke sekitarnya. Ia terjatuh cukup dalam, dan rasanya tidak mungkin mendaki bukit itu lagi dengan keadaan seperti ini. Oh Kami, bagaimana ini?
Sakura nyaris menangis saat didengarnya suara orang di atas sana.
"Kau tidak apa-apa?" ditengadahkan kepalanya pada siluet manusia di atas bukit. Lalu orang itu melompat turun dan mendarat di depannya.
Anak laki-laki bemata sehitam malam.
"Hei, kau tidak apa-apa? Apa kau ini bisu?" ujar anak itu lagi. Sakura buru-buru mengangguk pada bocah laki-laki yang tampak seumuran dengannya itu. Anak itu mendengus dan dengan kasar menarik lutut Sakura.
"A-apa yang kau…"
"Berisik." Dia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, yang baru Sakura sadari pakaiannya begitu mewah dan bersih, lalu membalutkannya pada luka Sakura. Sakura mengigit bibirnya untuk menahan pekikan rasa sakit. Setidaknya saat luka itu tertutup, ia tidak perlu melihat luka mengerikan itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya si bocah lelaki.
"A-aku mengejar weasel…" anak laki-laki itu menaikkan satu alisnya. Weasel? Dalam kamus lain, nama kakaknya bisa berarti weasel. Mungkinkah gadis kecil ini teman kakaknya? Ah, tapi Itachi belum pulang sejak dua tahun yang lalu. Pasti yang dimaksud gadis ini hewan aneh yang sering berkeliaran di hutan ini.
"Dasar bodoh." Ujarnya. Sakura membelalak menatap anak laki-laki di hadapannya. Sudah menarik kakinya dengan kasar, masih bisa juga anak itu memanggilnya bodoh? Dasar laki-laki kasar. Pikir Sakura marah.
"Kau sendiri, apa yang kau lakukan?" seru Sakura ketus.
"Aku? Ini pekarangan rumahku." Sakura mengingat-ingat jika ia melihat ada rumah lain di sekitar rumahnya. Rasanya tidak. Lantas dari mana anak laki-laki menyebalkan ini? Anak laki-laki itu berputar dan memunggunginya. "ayo naik."
Sakura terdiam. Apa anak laki-laki ini akan menggendongnya seperti yang biasa tou-san lakukan padanya? Tapi… tubuh anak itu hanya lebih tinggi dan lebih besar sedikit dari Sakura!
"Kau bisa menggendongku?" Anak itu menoleh padanya, mendengus jengkel.
"Bisa atau tidak itu urusan nanti."
"T-tapi."
"Aku tidak mungkin meninggalkan anak perempuam terluka sendirian di sini tahu." Ujarnya lagi.
Entah mengapa, Sakura senang mendengarnya. Anak itu walaupun kasar itu ternyata baik juga. Pelan-pelan Sakura naik ke atas punggungnya. Anak laki-laki itu bangun dengan susah payah, membuat Sakura semakin cemas.
"Kau yakin kau bisa mendaki bukit sambil menggendongku?"
"Berisik. Kau ini menyebalkan sekali." Kali ini giliran Sakura yang mendengus jengkel. Tou-san dan okaa-san selalu mengajarkannya untuk tidak berkata kasar pada orang lain, tapi hei, pria ini kasar sekali!
Anak itu mulai mendaki, dan setiap kali ia harus mengingatkan Sakura untuk memegangnya dengan kencang kalau tidak mau mencelakakan mereka berdua. Sakura menutup matanya rapat-rapat, menyadarkan kepalanya pada bahu anak itu. Rambutnya yang hitam yang mencuat di belakang mengelitik pipi Sakura. Rasanya aneh, ini pertama kalinya Sakura berada sedekat ini dengan seorang anak laki-laki.
"Buka matamu hei, jangan tidur di punggungku." Katanya lagi. Sakura membuka matanya dan melihat mereka sudah berhenti menanjak. Sakura mendesah lega. Dipikirnya anak itu akan menurunkannya begitu mereka sampai ke atas, tapi ia malah terus berjalan.
"Eh, kau bisa menurunkanku di sini."
"Memangnya kau bisa jalan."
"B-bisa." Sasuke menoleh padanya.
"Memangnya kau tahu jalan? Kalau kau tahu kau tidak mungkin terperosok ke sana." Cemoohnya. Wajah Sakura memerah karena malu. Sasuke terus menggendongnya sampai ke tepi lain hutan.
Di balik semak-semak ada bukaan yang sangat luas. Sakura memandang takjub pada rumah besar jauh di depannya.
"I-ini bukan rumahku!"
Mendengar ucapannya, anak lelaki itu terkekeh. "Tentu saja bodoh. Ini rumahku."
"Tapi aku harus pulang, orang tuaku akan khawatir!" Anak laki-laki itu menurunkan Sakura di pekarangannya yang hijau dan memandanginya, seakan Sakura baru menumbuhkan kepala ketiga.
"Sebenarnya kau ini siapa sih? Aku belum pernah melihatmu."
"Aku juga belum pernah melihatmu." Si anak lelaki menghela nafas jengkel pada gadis di hadapannya.
"Aku Sasuke. Uchiha Sasuke. Kau siapa?" Sasuke mengulurkan tangannya.
Sasuke. Uchiha Sasuke. Sakura mengulang-ulang nama itu di kepalanya.
"Haruno… Haruno Sakura." Sakura menjabat tangan anak itu. Di luar dugaannya, Sasuke tersenyum padanya.
"Aku baru melihatmu. Tapi tampaknya kau menyenangkan untuk diajak bermain, walaupun bodoh."
"Enak saja, aku tidak bodoh tahu." Sasuke tertawa mendengarnya. Baru Sakura sadari betapa tampan anak laki-laki di hadapannya itu. Kulitnya pucat terkena sinar matahari, elok wajahnya, dan rambut serta mata hitamnya menambah kontras penampilannya. Tiba-tiba wajah Sakura memerah.
Ia tak pernah berpikiran seperti ini pada anak laki-laki lain selama ini.
"Tuan Sasuke?" seorang pria tua tiba-tiba mendatangi mereka dengan tergopoh-gopoh. "saya mencari Tuan Sasuke kemana-mana!"
"Kan sudah kubilang aku bermain di hutan."
"Tapi hutan itu berbahaya, bagaimana jika tuan tersesat…"
"Ah, aku tumbuh bersama hutan itu. Ngomong-ngomong tolong bantu dia. Dia terjatuh di hutan." Pria tua itu mengamati Sakura.
"Siapa dia, Tuan?"
"Teman baruku." Pria tua itu mengernyit pada Sakura. Tapi ia mematuhi kata-kata Tuan Mudanya lalu menggendong Sakura. Sasuke mengikuti mereka menuju rumah besar bak istana bagi Sakura.
Di sana luka-luka Sakura segera dibersihkan oleh wanita-wanita yang hilir mudik. Sasuke duduk di sampingnya, sibuk membaca sebuah buku yang diambilnya dari rak besar di ujung ruangan. Jika luarnya saja sudah hebat, Sakura lebih takjub lagi berada di rumah besar itu. Mereka membawanya ke ruang di mana banyak sekali buku-buku dan rak-rak tinggi besar menjulang di sekeliling mereka.
Tak pernah sekalipun Sakura menyaksikan hal sehebat ini.
"Kau suka baca?" Tanya Sasuke padanya, membuyarkan lamunannya saat lukanya sudah selesai dibersihkan. Sakura mengangguk canggung. "bagus, kalau begitu kau bisa menemaniku di sini. Itachi-niisan selalu sibuk."
"Itachi?" nama itu terdengar lucu bagi Sakura. Itachi berarti weasel. Hewan yang jadi penyebab ia terjatuh tadi. Sasuke menggedikkan kepalanya.
"Kakakku. Tapi dia sedang sekolah di Eropa."
"Eropa? Tapi itu kan jauh sekali!" Sakura membelalak kaget. Itu kan benua yang terletak jauh sekali dari Jepang. Sudah seperti negeri antah berantah bagi Sakura.
Sasuke tertawa melihat tingkah kagetnya. Gadis ini lucu, pikirnya. Itachi jarang sekali bercanda dengannya dan ini pertama kalinya Sasuke melihat anak kecil seumuran dengannya. Walaupun warna rambutnya aneh dan dia cerewet, tapi anak ini menyenangkan. Pikirnya.
Sasuke memandanginya, melihat baju terusan warna merah merah jambunya yang robek-robek, terutama di bagian lengannya. Sayang, padahal baju itu terlihat bagus.
"Aku tidak punya baju perempuan, jadi…" Sasuke membuka jaketnya yang berwarna biru tua dan memakaikannya pada bahu Sakura. "…pakailah ini."
"Tidak usah," ujar Sakura mencoba melepaskannya. Tidak mungkin ia menerima jaket tebal yang terlihat sangat mahal itu, walaupun ia menginginkannya.
"Pakai saja. Kau terlihat jelek memakai baju sobek." Katanya sambil tertawa. Sakura cemberut mendengarnya, tapi dipakainya juga jaket itu. Saat Sakura sudah memakainya dan mengancingkan jaket itu, Sasuke tersenyum padanya. "nah, kau milikku sekarang."
"Milikmu?" mata emerald Sakura menatap dalam pada mata hitam Sasuke.
"Jaket itu untukmu. Tanda bahwa kau milikku. Kalau kau ke sini lagi, pakai saja, semua orang akan tahu kau milikku."
"Apa yang harus kulakukan kalau aku sudah jadi milikmu?"
"Kau harus menemaniku di sini." Sakura mengangguk-angguk mendengarnya. Kedengarannya tidak buruk menjadi milik Sasuke. Ia bisa mendapatkan jaket tebal bagus dan bisa bermain di rumah besar ini. Membaca beribu buku yang tak pernah diketahuinya.
"Tuan Muda, ada yang mencari teman anda." Pria tua tadi masuk dan membungkuk pada Sasuke. Di belakangnya dari pintu yang terbuka Sakura bisa melihat wajah cemas kedua orang tuanya.
"Kaa-san! Tou-san!" Sakura berlari memeluk kedua orang tuanya yang segera mendekapnya erat.
"Kau ini, Sakura… baru hari pertama sudah membuat masalah." Sakura menunduk minta maaf pada ayahnya.
"Terimakasih banyak Tuan Muda Sasuke, kau sudah menyelamatkan putri kami…" Ibunya segera menunduk dalam-dalam pada pria kecil berumur 7 tahun itu.
"Hn."
"Okaa-san kenal Sasuke?" ayahnya buru-buru menarik Sakura ke pelukannya.
"Sakura, mulai sekarang kau harus memanggilnya 'Tuan Muda Sasuke'. Karena kita akan melayani keluarga Uchiha." Sakura baru mengerti sekarang. Sebelum pindah orang tuanya sudah bilang bahwa mereka akan melayani seorang kaya terpandang, namun Sakura lupa namanya. Rumah yang kini mereka tempati juga adalah rumah pelayan yang dengan baik hati diberikan Tuan Besar.
"Terimakasih, Tuan Muda Sasuke!" Sakura menunduk dalam padanya.
"Hn…"
"Kami pamit dulu. Sekali lagi terimakasih." Mebuki Haruno menggandeng putri kecilnya pergi dari rumah besar itu. Di jalan baru disadarinya Sakura mengenakan jaket biru tebal dengan emblem Uchiha di punggungnya.
"Sakura? Jaket siapa itu?" ayahnya ikut berhenti memandanginya.
"Ini? Punya Tuan Muda Sasuke."
"Ia memberikannya padamu? Kenapa?"
Sakura tersenyum sumringah pada kedua orang tuanya. "Karena ini tanda bahwa aku milik Tuan Muda Sasuke sekarang!"
Kedua orang tuanya hanya bisa melongo mendengarnya.
Sakura terbangun dengan kaget. Apa yang barusan? Ia memegangi keningnya, memijatnya untuk menghentikan pening tiba-tiba. Masa lalunya… kenangan saat pertama kalinya ia bertemu dengan Sasuke. Cinta pertamanya.
Sakura menghela nafas, bangun dari tempat tidur. Waktu masih menunjukkan pukul 4 dini hari. Biasanya ia bangun pukul 5 untuk menyiapkan segala keperluannya dan Sasuke. Di raihnya kenop pintu kamarnya untuk mencari air. Mimpi itu terasa seperti baru kemarin saja. Sakura masih menyimpan jaket itu, diletakkannya dengan hati-hati di tumpukan bajunya. Mungkin Sasuke sendiri sudah lupa akan hal itu. Mereka hanya bisa bermain sebentar, karena setahun kemudian Sasuke harus belajar untuk persiapan masuk sekolah. Sakura tak bisa menemuinya lagi seperti dulu.
Dan sejak saat itu tingkah Sasuke berubah padanya, ia selalu sibuk dengan urusannya.
Hingga peristiwa itu terjadi… dan Sasuke berubah total padanya. Sakura menegak gelas air putih dan menyadarkan kepalanya di tangannya yang letih. Masih teringat jelas malam saat Sasuke membentaknya dan menyalahkannya sebagai anak dari pembunuh orang tuanya. Hujan malam itu… Sakura menutup matanya, menghentikan memori yang masih terekam jelas di kepalanya.
Kenapa pula aku memimpikan kenangan lama? Apa… Sakura menyentuh bibirnya. Apa karena ciuman kemarin?
Sakura terlonjak saat seseorang mengambil gelas dibelakangnya.
"Sasuke?" pria itu tidak menjawabnya, alih-alih menuangkan air putih ke dalam tenggorokannya snediri. "kau sudah sadar?"
"Memangnya berapa lama biasanya aku mabuk?" Ujarnya lalu meninggalkan dapur. Jengkel, Sakura menghabiskan minumnya sendiri.
"Hei." Sasuke kembali berdiri di dekat pintu dapur.
"Apa?" jawab Sakura sekenanya. Jika pria itu mau dibuatkan pr sepagi ini, Sakura sudah siap untuk membentaknya dengan keras.
"Apa kemarin aku membawa pulang seorang gadis?" Sakura mengernyikan kening pada pertayaan Sasuke.
"Tidak. Kenapa?"
"Rasanya aku ingat aku mencium seseorang di kamar... Hm, yasudah kalau begitu." Tanpa sadar Sakura mengigit bibirnya sendiri.
"Sakura!" Sasori melambai padanya dari kejauhan. Sakura menghentikan sepedanya. "kau mau ke sekolah? Ini kan hari sabtu." Sasori menghentikan sepedanya juga di samping Sakura.
"Iya, aku ada janji dengan Ino untuk belajar bareng." Keduanya menjinjing sepeda mereka berdampingan.
"Tugas kelompok?"
"Mendiskusikan materi biologi…"
"Loh, memang kau partner Yamanaka? Bukankah kelompoknya mesti cewek-cowok?" Sakura tersenyum pada kakak kelasnya itu.
"Iya, tapi tampaknya partnerku dan partner Ino sibuk dengan agenda mereka masing-masing."
"Wah, sayang sekali. Tugas itu lumayan berat loh untuk dikerjakan sendiri." Sakura tertawa mendengarnya.
"Tidak sendiri kok, Senpai. Kan ada Ino." Kali ini giliran Sasori yang tertawa. "Senpai sendiri? Mau ke sekolah juga?"
"Tidak, aku mau ke rumah Uchiha. Kalau selama di sekolah dia menghindariku siapa tahu aku bisa menemuinya langsung di rumahnya."
"Sasuke sedang keluar." Tanpa sadar Sakura berucap. Dan ia langsung terdiam begitu disadarinya pandangan Sasori padanya.
"Kau tahu darimana?"
"Aku… bertemu dengannya tadi di jalan." Sasori mengangguk-angguk mendengarnya. Dalam hati Sakura meruntuki kebodohannya, bagaimana bisa dia nyaris membongkar rahasianya dan Sasuke? "memang acara study turnya kapan?" ujarnya mengalihkan pembicaraan.
"Oh, kira-kira tiga minggu lagi. Tapi panitia kan sudah harus siap secepatnya."
"Sasori-senpai masih ingin Sasuke bergabung?"
"Tentu saja. Dan kau juga, Sakura."
"Aku?" Sasori menghentikan sepedanya dan menatapnya dalam-dalam.
"Akan sangat menyenangkan bisa bersama denganmu." Lalu buru-buru ditambahkannya. "bekerja sama denganmu. Ya bekerja sama." Ujarnya cepat-cepat.
Sakura tersenyum mendengarnya. Sejak pertama bertemu memang Sasori ramah sekali padanya. Bukan cuma sekali dua kali Sakura menyatakan pada Ino, mungkin ia menyukai pemuda itu.
Mereka sampai di persimpangan dan Sasori melambai pada Sakura. Sakura memandanginya hingga punggung pria itu menjauh. Bagaimana jika ia mencoba saja? Apapun… untuk membuat si Uchiha itu menghilang dari pikirannya.
Sakura mengetik pada layar hpnya:
Ino maaf tak bisa datang hari ini. Aku akan mendaftar sebagai panitia study tur. Kurasa mungkin ini saatnya aku melakukan sesuatu untuk Sasori-senpai.
Sakura tak harus menunggu jawaban dari Ino untuk tahu teman pirangnya itu akan sangat senang mendengarnya akhirnya membalas perasaan Ketua Osis berambut merah itu.
A/N : Yap, Itachi means weasel. Belum menemukan padanan katanya dalam bahasa indonesia. Semoga readers mulai bisa melihat perbedaan fic ini ya... ^^
Banyak yang manggil senpai? Haha saya tidak lebih tua ataupun lebih berpengalaman dibandingkan rata-rata author di sini ^^ Terimakasih banyak untuk yang sudah memberi masukan untuk cara penulisan dan pendeskripsian saya, dan juga yang nge-review. Memang penggambarannya masih kaku, ini karya pertama soalnya, mohon masukannya lagi, semua readers!
Kalau ada yang suka baca fic english, boleh kasih masukan juga utk fic yang sedang saya kerjakan; Aftermath. Ditunggu masukannya...
Bales review yang tidak log in, yang log in baca di PMnya yah...
Mewmewmeoong : haha maaf ya Sasukenya jaim, habisnya saya suka Sasuke yang begitu, susah membayangkan dia jadi tipe lovey-dovey atau pria normal :p tapi masukan akan dipertimbangkan, hehe
tdk bisa log in : sudah bisa log in kah? :3 iya, kebiasaan pakai bahasa formal #anakorganisasi. Akan dibenahi lagi penggambarannya. Saya suka deskripsi yang smooth, suka banget sama fic Quietus, penokohan di sana dan penggambaran suasana asli keren banget! Kudu banyak latihan untuk bisa memenuhi harapan readers semua... T_T
mimia : siap! Memang itu inti fic ini hehe ^^
hankira : soalnya Sasuke kecil masih emosional, dan kehilangan orang tuanya pukulan yang cukup berat baginya, jadi begitu deh. Semoga dia cepat sadar ya...
sasusaku kira : *namanya familiar* mungkin? Hahaha masashi kishimoto bilang 'Sasuke is a man read beneath the underneath' jadi silahkan ditebak sendiri ;)
Shichi Hzr : *takut* *lari* siap! Akan diupdate secepatnya! o.O terimakasih, memang agak lambat ya alurnya, soalnya susah membayangkan pria seperti Sasuke bisa dengan mudah jatuh cinta, hehe. Jadi dicoba dibuat sehalus mungkin prosesnya
pembaca : oke! Akan dilanjutkan selama masih ada yang baca dan review! ^^
dinosaurus : penasaran aja apa penasaran banget? #plak
feraz : bakal beda kok haha tunggu chap selanjutnya, baru kelihatan bedanya *kaya slogan iklan*
Sakusasu 4ever : sudah update nih ^^
Rinsakurachi : terimakasih, akan berusaha keras supaya tidak mengecewakan ^^
my : saran diterima!
mako-chan : nanti Sasukenya kasihan... =.=
cercherry : terimakasih sudah menunggu! ^^
Momo kuro : apa kita sama-sama masochist? Haha tapi siksaan Sasuke bersifat psikis, kecuekannya dan ketidakpekaannya terhadap Sakura juga salah satu siksaannya (atau memang sifatnya sudah seperti itu?) terimakasih sudah mereview dua chapter sekaligus! *angkat 2 jempol sambil senyum kaya Lee*
Lulu : tunggu chapter selanjutnya... *evil smirk* this is just the beginning ;)
Terimakasih untuk semua yang sudah membaca!
xoxo, Phylaphy
