Secret.

SnK © Hajime Isayama

Genre : Romance/Drama

Pairing : Levi x Petra akan muncul seiring berjalannya cerita

Warning! : AU, OOC, Typo (?), dan mungkin banyak kesalahan.


"Ini." tangannya mengulurkan liontin dari ukiran kayu. "Kau menjatuhkannya."

Manik hijau itu seakan berbinar mengatakannya, membuat lawan bicara larut dalam ketenangan yang terpancar dari kedua bola matanya.

"Eh?" suaranya menyadarkan dari lamunan.

"Hn. Arigatou."

"Ri-va-" mulutnya mengeja nama pada nametag yang tersemat di saku, namun tiba-tiba ia berhenti. "Sepertinya teman-temanku sudah menunggu." menoleh sebentar, "Aku pulang dulu, Rivaille." kemudian berlari meninggalkan seseorang yang masih mematung menatap kepergiannya.

"Siapa namamu?" sadar pertanyaannya percuma.

Semilir angin menerpa lembut, membawa pergi pertanyaan yang belum terjawab.

.

.

.

Pukul 00.00 dini hari.

Mataku terbuka, aku terbangun sepenuhnya. Jantungku berdebar.

'Mimpi itu lagi.'

Sudah dari tiga hari terakhir mimpi itu datang mengusik. Mimpi yang sebetulnya berasal dari kejadian yang pernah kualami, kejadian bertahun-tahun lalu.

Aku sudah bangkit dari posisi tidurku, peluh di dahi kubiarkan. Tangan kananku meraih buku di atas meja, kemudian membuka halaman pertama.

Aku masih ingat ketika menulis kalimat di baris terakhir catatan hari 'itu'.

Terima kasih untuk temanmu yang telah menjawab pertanyaanku.

.

.

.

.

.

"Levi! Mana dia?"

"Hm?" aku menghampirinya.

"Ikut aku, banyak sekali yang terlambat hari ini." Erwin berujar kemudian pergi mendahuluiku.

"Ck. Merepotkan." aku bergegas menyusul Erwin yang sudah jauh di depan, 'Cepat sekali dia.'

"Siapa namamu? Kenapa kau terlambat?" dari sini sudah terdengar Erwin sedang meng'interogasi'.

Aku langsung mempercepat langkah seraya membuka catatan kecil di saku. Mataku fokus mencatat sementara telinga kutajamkan untuk mendengar jawaban dari mereka, para pelanggar.

"Kenapa kau terlambat?"

"Oh, ayolah. Aku begadang hanya untuk mengerjakan tugas, kau tahu?" berusaha mengelak.

"Kau terlambat bangun pagi. Catat. Connie Springer, kelas 1."

"Kau merusak pagiku, senpai." mendengus kesal kemudian pergi.

"Ano- Tadi aku menemui temanku sebentar, kemudian bel berbunyi dan aku berlari. Aku sudah berlari kencang kok, sungguh."

"Tidak. Kau membeli kentang rebus di depan. Catat. Sasha Braus, kelas 1."

"Ehh?!" gadis itu merengut kesal.

Lagipula, kentang rebus sebanyak itu tidak mungkin dapat ia sembunyikan di balik baju, kan?

Masih ada sekitar tiga-empat orang lagi. Tanganku makin cepat mencatat.

"Mike dari kelas 2. Catat."

"Jean, cobalah untuk disiplin. Aku bosan melihatmu. "

Dan seterusnya, sampai tersisa satu orang. Tanganku sedikit pegal karena harus mencatat cepat.

"Dari kelas 1- Jaeger?" Erwin terdiam sebentar, "Kau terlambat?"

Aku menghentikan catatanku untuk melihat siapa orangnya.

"Um, yah. Jam bekerku rusak, aku lupa memperbaikinya." ujarnya seraya menggaruk pipi yang tidak gatal.

Mata hijau itu.

"Aku tahu kau selalu disiplin. Nanti siang, temui aku. Yang melanggar tetap harus dihukum.

Catat. Eren Jaeger."

.

.

.

.

.

Pelajaran pertama adalah kimia. Kelas kami disuruh membuat percobaan, yeah, entah apa itu. Aku tidak terlalu memperhatikan dari awal pelajaran dimulai. Pikiranku melayang kemana-mana. Aku tidak bisa fokus.

'Sial.' aku memijit keningku.

Untung saja ini tugas kelompok. Sama seperti biasanya, Hanji dan Erwin yang bergabung denganku. Mereka sibuk berdiskusi dari tadi, sementara aku datar menatap mereka.

Mereka tahu ada saat-saat dimana aku tidak ingin bicara satu patah kata pun. Jadi, dalam kondisi seperti saat ini, aku hanya perlu diam tidak peduli.

Dari tadi muncul rencana untuk kabur dari kelas ini.

Dan kau tahu? Ini bukan aku. Sepenat apapun suasana di kelas, aku tidak pernah mencoba untuk kabur. Aku selalu bisa tenang.

Namun mengingat kejadian 15 menit yang lalu, aku kembali frustasi.

'Ck. Sial.' Aku merutuk untuk kesekian kali.

"Erwin. Kelas apa dia?"

Erwin dan Hanji kompak menoleh ke arahku. Wajah mereka menandakan tanda tanya besar.

Aku langsung merutuki diriku yang asal bicara.

"Rivaille?" Erwin bertanya memastikan.

"Heyhey, siapa yang kau maksud?" Hanji langsung heboh bertanya.

"Bukan. Bukan apa-apa." aku masih memasang wajah datar, "Lupakan." tidak berani menatap mereka.

.

.

.

.

.

Aku tidak tahan.

Begitu bel istirahat berbunyi, aku langsung keluar kelas. Bukan menuju ruangan komite kedisiplinan seperti yang biasa kulakukan, aku sedang menuju deretan kelas satu di lantai paling bawah.

Aku sudah sampai disini. Di koridor kelas satu.

Tempat ini ramai, dan keramaian lah yang kubenci. Tapi anehnya, demi menuruti keinginanku, aku hiraukan rasa muak ketika mendengar hiruk pikuk ini.

Dan bodohnya lagi, aku baru sadar.

'Bagaimana caraku menemuinya? Apa alasanku nanti?'

Tepat ketika aku ingin merutuki diri sendiri, suara yang amat familiar terdengar di sampingku.

"Rivaille?" dia sedikit kaget melihatku disini, "Kau sedang apa?"

"Petra." aku lebih terkejut lagi melihatnya, sekaligus bingung menjawab pertanyaannya.

Dan tampaknya, dia masih menungguku untuk menjawab.

"Aku ada perlu." ujarku cepat.

"Oh. Bertemu dengan seseorang?"

"Ya." dan aku tidak mengerti kenapa mulutku menjawab begitu saja.

"Siapa? Apa kau butuh bantuan?"

"Eren Jaeger." sepertinya mulutku tidak menurut untuk diam.

"Oh, haha. Dia adik kelasku di SMP dulu. Dia kelas B." menjelaskan sambil tersenyum.

Aku tidak menyangka akan dibantu oleh Petra.

"Hn. Arigatou."

Gadis itu mengangguk masih dengan senyum cerahnya, "Senang bisa membantumu." kemudian pergi bersama temannya.

Aku masih terdiam di tempat.

Pagi tadi aku dapat nama keluarganya. Barusan aku diberi tahu kelasnya. Keberuntungan, bukan?

Itu sudah cukup bagiku. Lebih dari cukup. Aku langsung berbalik arah, menaiki tangga.

Setidaknya aku tidak perlu repot-repot mencari tahu.

.

.

.

.

.

"Levi?" baru saja aku masuk, suara Erwin sudah menyahut.

"Tidak biasanya kau terlambat datang." ujarnya lagi.

"Hn. Maaf." aku memilih tak peduli, langsung duduk di kursiku.

"Semua yang kita catat sudah kemari."

Merasa tidak tertarik, aku menjawab sekenanya, "Hn."

"Untuk Eren Jaeger-

"Apa?" kepalaku langsung terangkat.

"Untuk dia, hukumannya berbeda."

Aku menaikkan satu alis, "Maksudmu?"

Erwin sedikit bingung dengan responku, "Tentu saja, lebih ringan. Mengingat dia anak yang disiplin, yah, walau dia sering teledor."

"Dia sudah kemari?"

"Ya. Semuanya sudah kemari, Levi." nada bicaranya sedikit kesal.

"Pantas saja tidak ada di kelas."

"Apa?" Erwin sedikit terkejut, "Kau ke kelasnya?"

Aku mendengus kesal —kesal pada diri sendiri.

"Tapi- hey, untuk apa?"

Aku memutar bola mata malas, "Aku ada perlu."

Alasan sama yang kugunakan untuk menjawab pertanyaan yang sama.

Pada hari yang sama pula. Aku bingung, jika ada yang bertanya lagi, apa akan kujawab serupa?

Ah, tentu tidak. Tidak akan kubiarkan mulut ini berbicara sekenanya sehingga akan ada yang bertanya serupa. Tidak. Tidak lagi. Hell no.

"Oh ya, soal Eren, tadi dia mencarimu."

"Mencariku?"

"Dia bilang ada perlu."

'Perlu apa?'

Kebodohanku lagi yang baru kusadari, aku tidak jadi bertemu dengannya karena mengira akan dapat melihat manik hijau itu saat keluar kelas, tapi nyatanya ketika datang kesana, kelas itu kosong. Nihil. Tidak ada siapapun.

Dan ternyata dia kemari sekaligus mencariku, dan aku sama dengan kelasnya. Nihil.

Kesempatan tidak datang dua kali, kan?

Namun nyatanya, aku tetap mengharapkan kesempatan itu datang lagi.

.

.

.

.

.

Aku sampai di rumah tepat waktu. Tadi kami pulang bersama. Aku dan Petra.

Karena tidak ada tugas yang harus ku kerjakan, tidak ada alasan pulang terlambat. Dan entah kebetulan apa, Petra baru saja akan masuk mobil dan mengajakku pulang bersama. Untung saja sekitar kami sepi, apa salahnya pulang bersama?

Dan terima kasih untuk kebodohanku yang sudah keberapa kalinya kulakukan hari ini, aku lupa harus membaca buku untuk menghindari pembicaraan.

Alhasil? Petra mengajakku berbincang tentang adik kelasnya itu.

Ah, rasanya hari ini dipenuhi dengan nama itu. Baru saja tadi pagi aku mengetahui bahwa dia sekolah di tempat yang sama, dan ternyata dia adik kelas Petra, aku sempat lupa bahwa dia dihukum, dan dia datang ke ruangan kami (aku dan Erwin) sekaligus mencariku, sementara aku malah ke arah berlawanan mencari dirinya di kelasnya.

Aku kesal sekali mengingat yang terakhir.

Aku sudah berada di kamar, dan langsung menghempaskan tubuhku ke kasur. Kemudian aku sadar, kejadian-kejadian tak terduga datang sedari pagi. Semuanya berkesinambungan dengan mimpi tiga hari terakhir, bukan?

Aku ingin menuliskannya. Tempat satu-satunya aku dapat bercerita. Dan saking berharganya cerita itu, aku selalu membawanya bersamaku. Kemanapun.

'Eh?'

Aku mengecek seluruh isi tasku. Kuulangi sekali lagi, lebih detail memeriksa.

Tidak ada.

Aku membongkar isi laci mejaku, siapa tahu ia tertinggal. Tidak ada. Aku masih ingat tadi pagi aku memasukkannya ke dalam tas. Aku selalu ingat itu.

'Sial. Dimana buku itu?'

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, air hangat tidak cukup menghilangkan penat. Aku frustasi —sangat frustasi.

Dan malam ini, tidak ada kebiasaan yang kulakukan seperti biasanya.

'Buku itu, rahasiaku, dan-

dirinya.'

.

.

.

.

.

Pagiku kacau. Semalam baru bisa tidur ketika jarum jam menunjuk di angka dua.

Aku baru bangun terlambat 10 menit dari biasanya. 10 menit saja, namun cukup untuk membuatku semakin kacau ketika menyadari belum menyiapkan perlengkapanku untuk hari ini.

Menghilangnya buku itu berdampak besar sekali bagiku. Lihat saja aku sekarang, kantung mataku terlihat menghitam, pakaianku tidak serapi biasanya, bahkan isi tasku sangat berantakan.

Aku sudah berniat akan memaki seseorang yang mengajakku berbicara pagi ini, dalam kondisi moodku yang 'sangat-sangat' buruk. Namun niatku kuhentikan melihat siapa yang akan mengajakku berbicara.

"Senpai."

Eren Jaeger, dari kelas 1-B.

Aku menghentikan langkahku, menatap dia yang melangkah mendekat. Entah kenapa, atau hanya perasaanku saja?

Dia terlihat takut.

Pertanyaanku terjawab, dugaanku buyar sudah. Ketika kulihat ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

"Ini." diulurkannya buku sampul cokelat tua itu, "Sepertinya terjatuh."

Entah takdir atau apa, dia 'lagi' yang menemukan benda berhargaku?

Aku baru akan mengambil buku itu ketika dia berkata,

"Aku membacanya." matanya takut-takut menatapku, "Gomen. Hontouni Gomenasai." suaranya bergetar.

Seharusnya aku langsung membenci siapapun yang membaca buku itu. Buku itu sudah jelas-jelas kutandai bahwa itu privasi. Tapi tidak-

Tidak untuk pemilik manik hijau ini.

Tidak untuk orang yang ada di dalam buku itu.

.

.

.

.

.

TBC.

Hwah, alurnya kecepetan nggak nih? D':

Saya takut kalau harus banyak-banyakin chapter, takutnya malah ga ketemu sama endingnya:"

Sayang banget kalau cerita ini harus saya delete, entar senasib kaya cerita saya sebelumnya T_T

Gimana gimana? Udah ketemu nih, siapa yang ditulis Rivaille dalam bukunya.

Untuk kritik dan saran, sangat berguna buat ide-ide saya dalam cerita :'3