EMPAT

Hidup penuh dengan tepian-tepian kasar.

Sasuke tahu hal itu sejak kecil. Hidup ditengah keluarga yang terkenal, kaya raya, tidak lantas menjadikan hidup semudah membalikkan telapak tangan.

Sasuke tidak percaya dengan frasa 'bagaimana jika', karena hidup ini adalah apa yang terjadi saat ini. Saat sesuatu berlalu, memikirkan 'bagaimana jika' tidak akan membuat satu keadaan jadi lebih baik. Begitupun mencemaskan sesuatu yang belum pasti.

Walaupun begitu, kita selalu takut pada apa yang belum kita ketahui. Masa depan. Ketidakpastian. Kita takut pada tepian-tepian kasar itu. Saat berjalan di tepi jalan kita akan tidak merasakan hal yang sama kala berdiri di tepi jurang. Walaupun keduanya sama-sama tepi, namun kita tak bisa melihat menembus kabut. Segala kemungkinan-kemungkinan terbentang tanpa batasan. Dan ketakutan itu berubah menjadi kecemasan bahwa kita tidak akan bergerak. Kita hanya bisa berdiri dan mengira-ngira, apa yang akan terjadi jika kita melakukan ini atau itu.

Dan frasa 'bagaimana jika' sekali lagi akan muncul ke permukaan.

"Aku tidak mau menganggumu, tapi tugas biologi kita harus diselesaikan." Mata hitam Sasuke berpaling dari majalah TIME ke gadis berambut merah jambu yang berdiri di pintu ruang baca.

"Selesaikan saja sendiri." Ujarnya ketus, kembali fokus pada artikel Youth Breakthrough : Itachi Uchiha, dimana foto kakaknya memandangnya dari bawah headline.

Mendengar jawaban itu, Sakura berkacak pinggang mengernyit padanya. "tugas ini tanggungjawab berdua." Sasuke berdecak jengkel dan meletakkan majalah di meja samping kursinya.

"Apa gunanya kau jadi murid beasiswa kalau mengerjakan tugas seperti itu saja butuh bantuan?"

"Ini akan jadi tahun terakhir, Sasuke." Sakura berkata pelan. "untuk sekali saja, berhentilah bersikap seenaknya. Lagipula kau kan tidak sedang sibuk." Satu alis mengangkat, menantang ucapan Sakura.

"Aku sibuk."

"Kau hanya membaca."

"Memperluas cakrawala. Kau bukan orang yang harus duduk di belakang meja dan memikirkan rencana kerja perusahaan lima tahun kedepan, jadi berhentilah sok tahu." Sakura mengigit bibir bawahnya, rasa kesal merayapinya.

"Enam tahun sudah cukup, Sasuke. Kita berdua sudah dewasa, kau bukan lagi anak kecil-" Sasuke terkekeh mendengarnya.

"Kau lupa siapa yang menghancurkan masa kecilku?" Ujarnya dingin. Sasuke bangkit dan berhenti di hadapan Sakura, merendahkan suaranya. "jangan bicara seolah-olah kita berdiri di level yang sama."

Mata emerald Sakura menatap langsung pada permata hitam Sasuke, mencoba mencari sisa-sisa dari pria yang dulu dikenalnya saat kecil. Pria yang membuatnya tahu rasanya jatuh cinta.

Tapi mata yang balik menatapnya itu dingin, seakan tanpa jiwa.

"…kenapa kau begitu membenciku?" Sakura berkata lirih. Pandangan Sasuke menyesakkan, membuat kata-katanya tercekat dalam tenggorokan. "bukan hanya kau yang merasa sakit karena kecelakaan itu. Bukan hanya kau yang merasa kehilangan dan kesepian…"

Tinju Sasuke yang mengepal menghantam dinding disamping kepala Sakura. Sakura menutup matanya rapat-rapat, jantungnya berpacu. Satu sisi dalam dirinya berteriak untuk segera minta maaf dan lari sebelum Tuan Mudanya melayangkan tangan padanya, tapi satu sisinya memberontak, ingin menghentikan semua sikap seenaknya Sasuke padanya selama enam tahun ini. Membawa-bawa tentang masalah sensitive itu sama saja mengumpankan dirinya pada singa lapar.

"Katakan itu sekali lagi." Sakura menelan ludah mendengarnya. Dikumpulkannya keberanian yang masih tersisa dalam dirinya.

Enam tahun sudah cukup.

"Aku juga merasakan apa yang kau rasakan-" Sakura berhenti, bibir Sasuke melumatnya dalam satu ciuman kasar. Bola mata Sakura membesar menyadari keadaan ini. Tangannya refleks mendorong Sasuke, tapi pria itu tidak bergeming. Tangan Sasuke mencengkram bahunya dan mendorongnya ke dinding terdekat, menghimpitnya. Sakura membuka mulut untuk berteriak, tapi kesempatan itu dimanfaatkan Sasuke untuk memasukkan lidahnya, memadamkan kata-kata dalam rongga mulut gadis itu.

Sakura mengerang saat dirasanya tangan Sasuke mulai menyelusup dalam piyamanya, meremas bagian intim tubuhnya. "Sasuke!" pekiknya saat bibir Sasuke mengigit lehernya. Segala kecemasan dan ketakutan Sakura berkumpul jadi satu, menjadi perasaan yang menyesakkan.

Pikiran Sasuke berkabut, seolah-olah kehadiran Sakura membaurkan semua garis batas tepian dan jurang itu. Bibirnya bisa merasakan lembutnya kulit gadis itu, tangannya menyimpan semua lekukan pada tubuh Sakura. Hormonnya bergejolak. Akhir-akhir ini ia jadi kepikiran tentang gadis itu, tanpa sebab. Bagaimana jika kecelakaan itu tak pernah terjadi? Bagaimana jika mereka hanya dua orang yang saling kenal? Bagaimana jika…

Sasuke mengutuk dalam hati karena membiarkan pikirannya diinvasi segala 'bagaimana jika' tentang Sakura. Dengan self-control yang masih tersisa Sasuke melepaskan gigitannya pada leher Sakura.

"Kau tidak tahu apa-apa." Nafas gadis di bawahnya memburu, terengah-engah. Sasuke membuat jarak diantara mereka, matanya menginspeksi hasil kerjanya pada leher gadis itu. "kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang kurasakan." 'Bagaimana jika' adalah frasa yang menyebalkan, pikir Sasuke, meninggalkannya sendirian di ruang baca.

Sakura memeluk dirinya sendiri, masih bisa merasakan sentuhan-sentuhan Sasuke di kulitnya. Salah, ia bisa merasakan apa yang Sasuke rasakan. Sakura bisa merasakan kemarahan Sasuke dari semua sentuhan–sentuhan itu. Kali ini Sasuke menciumnya dalam keadaan sadar. Dalam kemarahan pria itu. Jika ciuman kemarin sanggup menghadirkan kenangannya tentang pria itu, ciuman kali ini sanggup mengangkat perasaan-perasaan yang telah lama terkubur itu kembali ke permukaan.

Sakura hanya ingin Sasuke kembali seperti dulu.


Hari ini pelajaran olahraga adalah berenang bagi cewek dan futsal bagi cowok. Sakura mengeluh jengkel, berenang sama sekali bukan keahliannya. Ia lebih memilih mengelilingi lapangan daripada kolam renang. Berlari adalah kegiatan yang paling disukai Sakura. Karena saat berlari, semua hal berat di punggungnya serasa lenyap entah kemana. Semakin cepat ia berlari, semakin ringan rasanya, seakan ia terbang tanpa sayap. Dan hanya saat di sekola lah ia punya kesempatan untuk berlari karena Sasuke tak pernah memperbolehkannya keluar.

"Sakura aku duluan ya. Hari ini ada les," ujar Ino melambai pada gadis berambut pink itu. Sakura membalas lambaiannya dan melanjutkan merapikan isi lokernya. Selesai meletakkan barang-barangnya Sakura beranjak dari loker untuk pulang. Biasanya kalau ada pelajaran olahraga mereka bertemu di jalan, lebih tepatnya Sasuke melewati Sakura dengan mobil mahalnya mengabaikan Sakura dengan sepedanya.

Sakura mendecak kesal saat melihat roda sepedanya kempes. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 6 sore, hampir pasti ruang OSIS sudah dikunci. Sekolah sudah sepi, dan tidak mungkin ia meminta Sasori-senpai untuk datang kembali ke sekolah hanya untuk pinjam kunci ruang OSIS untuk mengambil pompa. Sakura baru saja ingin menelpon Ino siapa tahu ia belum jauh karena Ino membawa mobil. Saat membuka tas Sakura baru sadar bahwa handphonenya tertinggal. Gadis itu buru-buru kembali ke kolam renang sebelum petugas kebersihan malam datang dan mengunci kolam indoor.

Matanya menjelajahi tiap sudut, mencari handphonenya. Kalau hilang matilah ia, tidak mungkin membeli yang baru. Handphone itu hadiah kelulusan smp dari itachi-nii, dan satu-satunya barang paling mahal yang Sakura miliki. Walaupun computer sudah disegel, tapi Sasuke tidak tahu bahwa Sakura punya handphone. Kemarin Sakura belum mampu menceritakan pada Itachi bahwa Sasuke menyerangnya. Ia hanya bilang beberapa minggu ke depan tidak akan online karena sibuk belajar untuk ulangan, dan Itachi maklum.

"Mencari ini?" Sakura berputar mendengar suara yang tidak asing lagi. Seorang gadis berambut merah menyala dengan tangan di pinggang memanikan handphone Sakura di tangannya.

"Karin-senpai…" Sakura berbisik kesal, mengertakkan giginya. "sudah pulang dari liburan rupanya?"

Sudah bukan rahasia bahwa Karin si gadis terkaya dan popular di Konoha High School membenci Sakura sampai ke ubun-ubun. Alasannya banyak, mulai dari warna rambut Sakura yang dianggap gagal mengikutinya, kedekatannya dengan Sasori, hingga spekulasi bahwa ia menyukai Sasuke. Demi saus tartar, bisa-bisanya Karin berspekulasi seperti itu?

"Baru tiba." Jawabnya pendek.

Karin baru saja menghabiskan cuti summer-breaknya di New Zealand. Saking kayanya, gadis itu tidak merasa ia harus sekolah untuk bekerja. Jadi hampir selalu ia bolos untuk liburan entah kemana. Tak peduli nilai-nilainya. Tanpa bekerja keraspun ia sudah kaya tujuh turunan. Satu-satunya alasan ia sekolah adalah karena obsesinya pada Sasuke. Tidak tahu malu, gerutu Sakura. Seluruh sekolah tahu Sasuke tidak suka pada Karin, si senior yang selalu kekeuh mengejarnya kemana-mana. Tapi wanita itu tetap saja mengejarnya.

Sakura mendekatinya, mengulurkan tangan untuk meminta handphonenya tapi Karin tersenyum licik.

"Kau pikir aku akan memberikannya begitu saja?" Sakura menaikkan satu alisnya. Seingatnya ia tak pernah melawan walau bagaimanapun gossip menyebalkan yang diberikan Karin padanya. Kenapa wanita itu masih juga membencinya?

"Jangan berlagak bodoh. Aku tahu kau tinggal dengan Sasuke." Pernyataan Karin membuat Sakura mebelalak kaget. Darimana…? "aku sudah lama mengamati kalian. Kupikir kalian pacaran, ternyata kau hanya pembantu di sana, hahaha" tawanya menggema di ruangan indoor itu.

"Lalu?" jawab Sakura enteng. Mau Karin mengatakan pada seisi sekolahpun tidak aka nada yang percaya, karena semua gossip yang dilontarkan Karin tentangnya adalah bohong. Kasihan gadis kaya itu, tidak akan ada yang mempercayainya.

"Kau pikir kau begitu pintar?" Tanya Karin dengan nada mencemooh. "kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi dengan orang tua Sasuke dan orang tuamu?"

Deg. Jantung Sakura berdetak makin cepat. Sebanyak apa yang diketahui wanita menyebalkan ini?

"Mungkin orang-orang tidak akan percaya kalau kau pembantu Sasuke… tapi coba tebak apa yang akan terjadi padamu jika kuberitahu pihak sekolah rahasiamu. Apa kau masih berpikir mereka tidak akan percaya? Bahwa mereka tidak akan mengeluarkanmu?"

"Kau…" Karin tertawa sekali lagi melihat ekspresi pucat Sakura.

"Kau murid beasiswa. Kau bukan apa-apa tanpa prestasimu. Dan dari sikap Sasuke padamu aku tahu ia tidak akan peduli pada pembantunya." Keringat dingin membasahi Sakura. Ia tahu Karin dengan segala kekuasaannya bisa mendepak Sakura dengan mudah dari sekolah. Dan tidak akan ada lagi sekolah yang mau menampungnya jika Karin menyebarkan berita tentang kematian orang tuanya dan orang tua Sasuke di depan pihak sekolah. Ia akan jadi anak terlantar tanpa masa depan.

"Kumohon," ujar Sakura akhirnya. "kumohon jangan katakan pada siapapun tentang itu." Walau bagaimanapun Sakura percaya bukan orang tuanya penyebab kematian orang tua Sasuke, tapi tidak akan ada yang percaya. Sasuke sendiripun tidak akan membelanya. Jika rahasia ini sampai terbongkar, bukan hanya ia yang terancam, tapi juga Sasuke dan rahasia perusahaannya. Nama baik keluarga Uchiha bisa tercemar jika semua orang tahu putra Uchiha group menyelamatkan gadis yang orang tuanya terbilang membunuh orang tua mereka.

Sasuke bisa membunuhnya kalau hal itu sampai terjadi.

Karin tersenyum penuh kemenangan mendengarnya. Kacamatanya yang tebal sepintas tampak berkilat.

"Buat Sasuke jatuh cinta padamu lalu kau campakkan dia." Nafas Sakura tertahan. Ia terjebak antara ingin tertawa atau mencemooh. "pria itu selalu menolakku… dan aku ingin mempermalukannya."

"Jika kau membencinya kenapa kau tak buat ia jatuh cinta padamu sendiri lalu mencampakkannya?" Tanya Sakura.

"Niatku begitu, setelah kau mencampakkannya aku akan datang dan membantunya, lalu ia akan jatuh cinta padaku dan aku akan memiliki hatinya…"

"Um… kenapa harus aku?" mata Karin menatapnya dingin.

"Karena cuma kau yang punya kesempatan untuk membuatnya jatuh cinta. Sasuke tak pernah membiarkan gadis lain mendekatinya. Begitu kau melukai hatinya, akan mudah bagiku untuk mendekatinya." Sakura ingin tertawa mendengarnya.

"Kurasa itu tidak akan berhasil…"

"Harus berhasil." Sakura berdecak jengkel.

"Dengar senpai. Jika kau ingin mempermalukan Sasuke dan memilikinya, kenapa tak kau beberkan saja rahasia tentang orang tuanya?"

"Lebih mudah begini. Kau bisa tetap sekolah dan Sasuke jadi milikku. Tidak akan ada yang berubah." Sakura diam-diam berpikir; tentu saja akan ada yang berubah. Sasuke akan membenciku dua kali lipat jika rencana bodoh ini berhasil. Tapi tunggu… toh rencana ini tidak akan berhasil. Sasuke tidak mungkin menyukaiku.

"Dan jika aku gagal…?"

"Kau tidak akan mau tahu apa yang akan terjadi padamu." Sakura mematung mendengarnya. "bukan hanya kau… tapi juga orang tuamu yang terbaring itu akan terusik."

"Kau!" pekik Sakura jengkel. Jika berani-beraninya Karin menganggung peristirahatan terakhir orang tuanya… Karin tersenyum licik menatap Sakura.

"Sekarang kau tahu kau tidak boleh gagal." Gadis berambut merah itu melempar handphone Sakura ke kolam dan tertawa. Sakura buru-buru melompat sebelum handphone itu tenggelam jauh ke dasar kolam dan tak berfungsi lagi. Nafasnya tercekat. Baju seragam yang menempel di badannya membuat tubuhnya semakin berat. Matanya nyalang mencari benda kecil itu di dasar kolam.

Semuanya terasa berat bagi Sakura. Dalam beberapa hari hidupnya jungkir balik. Kami, apa salahnya? Nafas Sakura tercekat, ia tak dapat menemukan handphone itu. Semakin lama kepalanya makin pening dan dadanya sesak. Ia berenang ke permukaan untuk menarik nafas, namun tiba-tiba kakinya mati rasa.

Sialan!

Sakura mengepak-kepakkan tangannya, mencoba menarik tubuhnya ke atas. Tapi tanpa gerakan kakinya, ia sama sekali tak bisa mengapung. Nafasnya semakin habis. Kami, apa ini akhir hidupnya? Kenapa Karin tak menolong? Apa wanita jahat itu pergi begitu saja setelah melempar handphonenya?

Matanya berkunang-kunang. Semuanya terasa menyesakkan…

Sakura menutup matanya, membiarkan tubuhnya mengambang lemas.

Tou-san…Kaa-san…apa aku akhirnya bisa bertemu kalian lagi?

Kesadarannya makin menghilang. Sebelum benar-benar menghilang, Sakura merasakan tubuhnya ditarik dengan kasar.

Semuanya jadi gelap.


Sasuke baru mau pulang saat Karin menganggunya di parkiran sekolah.

"Sasuke-kuun!" si kepala merah menggelayut manja di tangan Sasuke.

"Lepaskan aku." Geram Sasuke. "dan berhenti memanggilku seperti itu."

"Sasuke-kun jahat, padahal kan aku kangen…" Karin cemberut mendengarnya. Tahu kau pergi saja tidak, kalau aku tahu mungkin aku akan berusaha menahanmu agar tidak pulang dan mengangguku, pikir Sasuke.

"Sasuke-kun mau pulang? Aku iku-"

"Tidak. Jangan macam-macam."

"Tapii…" Sasuke menatap jengkel gadis itu hingga Karin melepaskan pegangannya. "cih. Yasudahlah. Oh iya, masa tadi aku ketemu gadis aneh berambut pink…" tanpa sadar Sasuke mendengarkan Karin. Kacamata Karin berkilat menatap perubahan sikap Sasuke.

"Dia berjalan sendirian ke kolam indoor, padahal kan sekolah sudah tutup. Kudengar banyak yang bunuh diri di sana…loh, Sasuke-kun?" Tanpa menunggu Karin menyelesaikan cerita, Sasuke pergi dari parkiran. Seringai Karin melebar melihatnya.

Kolam renang indoor memang dikunci. Penjaga sekolah tak ada dimanapun. Sasuke menggedornya, memanggil-manggil Sakura. Tak ada jawaban. Didobraknya pintu itu, tak peduli bahwa tangannya terluka dan berdarah. Seseorang memang tengg elam di kolam. Dan rambut pink segera menarik perhatiannya. Sasuke menarik Sakura ke tepian, membaringkannya di tepi kolam. Nafasnya memburu, diguncangkannya tubuh Sakura. Tak ada respon. Dengan pengetahuan CPR yang dimilikinya, Sasuke mulai melakukan nafas buatan dan menggenjot denyut jantung Sakura.

Apa yang dipikirkan si bodoh itu? Kenapa bisa-bisanya ia menenggelamkan diri di sekolah? Bibirnya bergerak menekan bibir Sakura lebih keras lagi. Sesuatu dalam dirinya terasa sakit memikirkan segala kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Saat melepaskan bibir Sakura dan memusatkan pada upaya menggenjot jantungnya, tiba-tiba Sakura terbatuk. Gadis itu perlahan membuka matanya, mencoba bangun dari posisinya.

"Sasu…ke?" tanyanya. Matanya mengerjap tidak yakin pada pemandangan di sampingnya. "apa yang terjadi?"

Sasuke menghela nafas, merilekskan tubuhnya yang menegang.

"Kau tenggelam, bodoh." Sakura mengerjap sekali lagi, menyadari bahwa baju Sasuke basah, dan juga rambut hitam pria itu.

"Kau… menolongku?" Sasuke tiba melepaskan pandangannya dari gadis itu, hanya menggumam pelan menjawabnya. Sakura jadi salah tingkah, ia segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sakura melepaskan sepatu dan kaus kakinya yang basah, dan segera sadar bahwa karena seluruh tubuhnya basah maka seragam yang dikenakannya menempel pada lekukan tubuhnya. Wajahnya semakin memerah saat disadarinya Sasuke masih menatapnya.

"Kenapa kau menolongku?" Sakura menatap ubin, menghindari mata Sasuke.

"Kau mau mati tenggelam?"

"Kau ini…" Sakura berhenti, kepala pusing karena semua kejadian ini. "kemarin kau marah padaku dan sekarang kau menolongku? Kau-"

"Kau pikir aku menciummu karena marah?" mata Sakura beradu pandang dengan Sasuke.

Suasan jadi hening. Sakura bisa mendengar jantungnya sendiri berdetak tak karuan. Apa yang baru saja pria itu katakan? Kenapa diam-diam Sakura berharap lebih pada kalimat ambigu itu? Kata-kata Karin terngiang di pikirannya. Kami… apa yang harus kulakukan?

"Ayo pulang." Sasuke memecah keheningan, membawa Sakura kembali dari alam pikirannya. Sakura hanya bisa mengangguk dan mengikutinya berjalan keluar kolam. Sekolah sudah benar-benar sepi. Bahkan penjaga sekolah yang biasanya keliling membersihkanpun sudah pulang.

"Um, Sasuke?" Sakura memberanikan diri memulai percapakan saat mereka melintasi koridor. Pria yang berjalan di depannya tidak menjawabnya. "kenapa… kau menciumku kemarin?"

Di luar dugaan, Sasuke menghentikan langkahnya. Sakura bernafas pelan, takut akan segala kemungkinan saat pria itu berbalik menatapnya. Mereka sering berpapasan di koridor. Tapi tak pernah sekalipun mereka bertatapan seperti dua orang yang saling kenal. Dua orang yang tinggal serumah. Dua orang yang mempunyai masa lalu yang sama.

Maka saat Sasuke berdiri di depannya, di tengah koridor menatapnya, semua itu terasa baru dan berbeda.

"Kenapa kau ingin tahu?" urgh, kenapa pria ini tidak peka sekali sih? Gerutu Sakura kesal.

"Karena orang tidak tiba-tiba mencium tanpa sebab." Gumam Sakura jengkel. Walaupun begitu telinganya terasa panas karena mereka memperbincangkan hal personal seperti ini seakan hal ini hanya obrolan tentang cuaca. "aku tahu kau marah padaku karena hal itu. Tapi… tidak bisakah kita jadi teman?" ujar Sakura hati-hati menyebutkan kecelakaan orang tua mereka.

Sasuke terdiam, berbalik memunggunginya. Suaranya bergema di koridor yang sepi.

"Aku tidak butuh teman." Pria itu mulai berjalan meninggalkan Sakura.

"Tunggu!" Sakura memekik. "kau tidak butuh teman, tapi aku membutuhkanmu sebagai temanku." Sakura mengepalkan tangannya erat.

Kenapa disaat ia memutuskan untuk memberi Sasori-senpai kesempatan, pikirannya malah dipenuhi pria lain? Kenapa ia tak bisa memikirkan Sasori-senpai? Kenapa ia tak bisa berkata jujur pada Itachi? Kenapa ia menunjukan semua sisi lemahnya, semua pikiran-pikirannya pada Sasuke, hanya pada Sasuke?

Kenapa pria itu tak mau pergi dari pikirannya?

"Berhentilah membenciku, Sasuke… jika kau pikir aku tidak tahu apa yang kaurasakan, beri aku kesempatan untuk mengerti. Jangan terus-terusan diam dan bersikap seolah aku─" air mata Sakura mengalir turun. Sakura menyeka air matanya dengan punggung tangannya kasar.

Enam tahun ia tak pernah menangis di depan Sasuke lagi. Bukan, bukan karena ia membenci perlakuan pria itu padanya. Sakura tak pernah sungguh-sungguh membenci Tuan Mudanya. Sebagian dari dirinya malah kasihan pada Sasuke.

"─seolah aku tak pernah ada dalam hidupmu."

Dan sebagian dirinya diam-diam selalu mengharapkan pria itu.

Sasuke seperti sebuah paradoks, dengan mata hitamnya sebagai kotak Pandora. Semua emosinya terkunci dalam di pelupuk mata kehitaman itu. Sekali waktu, Sakura berharap ia dapat membuka kuncinya, meski tidak tahu apa yang akan ditemukannya di sana.

Tapi ia sungguh-sungguh ingin semua perkataan dan perlakuan dingin Sasuke padanya berhenti. Ia ingin bicara dengan pria itu, berbincang, seperti dulu. Melihat senyumnya, menatap wajah tampannya…

Sakura tidak menyadari pergerakan Sasuke di hadapannya. Tubuh Sasuke bergerak tanpa komando. Jari-jarinya menyentuh dagu Sakura, membuat gadis itu mendongak menatapnya.

"Kau tahu apa yang kau lakukan padaku?" tanpa menunggu jawaban Sakura, Sasuke menciumnya.

Penrose stairs, tangga tak berujung, adalah sebuah karya paradoks yang paling terkenal. Sakura merasa seolah-olah ia baru saja menapaki satu anak tangganya, dan hilang dalam putarannya. Tangannya menyelusup ke leher Sasuke, tanpa sadar menarik pria itu lebih dekat dengannya. Pikirannya berkecamuk; apa yang akan terjadi jika ia membiarkan nalurinya mengambil alih? Jika ia mempebolehkan keinginan-keinginan terdalamnya untuk bebas, dan menyerahkan diri seutuhnya pada sentuhan Sasuke?

"Sasuke…Sasuke-kun." Sakura tanpa sadar memanggil nama kecil Sasuke. Pikirannya dipenuhi aroma tubuh pria itu, kehangat yang menguar dari baju basah mereka, dan nafas yang saling beradu.

Sasuke tidak menjawabnya, alih-alih mengigiti leher Sakura. Lidahnya menjilati bekas gigitan sensual itu, membuai Sakura. Sentuhan Sasuke kali ini kontradiktif dengan segala sikapnya pada Sakura selama enam tahun ini. Pertanyaan-pertanyaan kembali mengusik Sakura.

Kenapa Sasuke menciumnya? Kenapa ia memperlakukannya seperti ini sekarang? Kenapa…

Pertanyaan itu terhapus saat tangan Sasuke meremas dadanya. Sakura mengerang saat pria itu mengulum buah dadanya. Kecemasan dan kenikmatan bercampur aduk, menciptakan sensasi yang sama sekali baru bagi Sakura. Jantung sakura berdegup demikian kencang saat dirasanya sesuatu menyentuh bagian bawahnya.

Darah Sasuke berdesir merasakan lembutnya kulit Sakura di lidahnya. Segala sesuatu tentang gadis itu membuatnya kehilangan kontrol. Cara Sakura memanggilnya barusan membuat Sasuke tenggelam dalam labirin pikirannya. Mereka sudah dewasa, Sasuke teringat kata-kata Sakura kemarin, tapi enam tahun tidak cukup untuk menyembuhkan luka karena kehilangan.

Beberapa luka tak akan pernah bisa sembuh.

Sakura memekik saat Sasuke memasukkan jari ke vaginanya. Ia sendiri tidak sadar kapan ia melepas celana dalam gadis itu. Yang bisa dirasakannya hanyalah tangan Sakura mendekapnya erat, seolah-olah hidup gadis itu tergantung padanya. Garis batas hanya sebuah warna abu-abu kabur dalam pikiran Sasuke saat ini. Apa yang dilakukannya dan atas dasar apa, Sasuke tidak peduli. Ia mencium Sakura karena ia menginginkannya. Ia mendekap gadis itu saat ini karena tubuhnya haus akan kehangatan gadis itu.

Saat ini yang penting hanya keberadaan gadis yang terengah-tengah dihadapannya. Self-control can wait. Penjelasan bisa menyusul nanti. Yang penting sekarang hanyalah memiliki Sakura seutuhnya.

Memilikinya. Ya.

Sasuke melenguh, menutup jeritan Sakura saat mendorong kejantanannya masuk.

"Sasuke-kun…" lagi, Sakura memanggil namanya tanpa sadar. Kesadarannya nyaris meninggalkannya. Ia memeluk Sasuke lebih erat lagi, rasa sakit di bagian tubuhnya serasa mematikan seluruh inderanya.

"Hn," Sasuke menjawab panggilannya, memagut bibir Sakura lagi. Ada rasa posesif yang kuat dalam diri Sasuke setiap mendengar cara Sakura memanggilnya. Keduanya tidak dapat berpikir jernih, terlalu sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan jawaban pertanyaan yang menggantung dalam pikiran masing-masing.

Dalam sekali tarikan, Sasuke memasukkan kejantanannya lebih dalam, membuat Sakura mengerang dalam sesansinya. Sensasi itu makin intense sejalan dengan semakin cepatnya gerakan Sasuke. Sakura memekik, mengerang, merasakan tali-temali dalam perutnya mengencang dan terlepas. Perasaan ini memabukkan. Mengaburkan semua rasionalitas yang tersisa padanya.

"Aku-" Sasuke memutus ucapan Sakura, menciumnya sebelum akhirnya mencapai puncaknya. Bibir Sasuke melepaskannya, membiarkan keduanya menarik nafas terengah-engah. Sasuke memeluk pinganggnya, mencegah Sakura terjatuh ke lantai. Dahi keduanya bertemu.

"Jangan membenciku lagi…" ujar Sakura lirih, air mata turun di pipinya. "aku juga kesepian, Sasuke…" Sakura tidak tahu berapa lama mereka terdiam, saat dirasanya Sasuke menggendong tubuhnya yang lemas.

"Tidurlah." Ujar pria itu pendek. Sakura menyandarkan tubuhnya di dada Sasuke. Apa yang terjadi malam ini terlalu baik untuk jadi sebuah kenyataan. Sakura berharap jika apa yang terjadi malam ini hanyalah mimpi, ia tidak ingin bangun lagi.


A/N : ...and yap, here comes the conflict! Kenapa Sasuke mencium Sakura? Kenapa Sasuke berbuat begitu? Kenapa Sasuke, kenapa? *author gigit jari*

maaf kalau masih belum memenuhi keinginan readers sekalian T_T fic ini rate M bukan hanya karena adegan fisik, tapi juga plot dan jalan pikir para tokohnya (dan pikiran author yang lagi suram). Saya suka mengeskplor sisi lain dari mereka, karena setiap orang punya sisi yang tidak diceritakannya. Maaf kalau chapter ini terkesan 'berat'. Oh ya ngomong-ngomong sebenarnya ini fic tak terencana, manifestasi dari kesuntukan saya saat mengerjakan Aftermath. I dont know how I end up here this far o.O

Bales review untuk readers yang baik ^^ :

Shichi Hzr : uwaaa author selalu suka review yang panjang {hug}. Salam kenal juga, Shichi-chan. Ga usah pake –san gapapa kok, saya belum setua itu -.- akan diusahakan update seminggu sekali, tapi mungkin tergantung sikon juga ya, hahaha.

mimia : udah update kilat nih ^^ waduh jangan, nanti Sasu nya sedih...

hankira : *pesanannya dicatat*

sasusaku kira : setuju, tunggu chapter selanjutnya ya *evil smirk*

mako-chan : Sasori bakal seneng ada yang ngedukung tuh tunggu chapter depan ya

Sakusasu 4ever : haha maafnya pendek, ini udah dipanjangin ^^

nerd94 : tebakannya bener ga ya? Tunggu saja beberapa chapter ke depan

Rinsakurachi : waaah, author sebenarnya suka yang konfliknya berat, tapi bukan seperti sinetron. Lagi berencana bikin fic T nih, dengan konfik yang ringan. Berminat baca?

tdk bisa log in : hohoho, man and woman falls in love, having heartbreak but eventually get happily ever after. It's cliche, but we love it nevertheless, ya kan? Soal itu tenang saja, saya pribadi menganggap flame is another way of expressing love... for those who do not know how to love. *hap hap*

silentre : sudah banyak nih sasusaku momennya

Guest : terimakasih banyak

farberawz : hohoho, makasih. Tapi banyak yang request supaya jangan terlalu panjang, jadi akan dipadatkan ceritanya.

Kalau banyak review akan update kilat :)

...

Thankyou for all the readers, and also the silent readers.

Sincerely, Phylaphy.