"Aku membacanya." matanya takut-takut menatapku, "Gomen. Hontouni Gomenasai." suaranya bergetar.

Seharusnya aku langsung membenci siapapun yang membaca buku itu. Buku itu sudah jelas-jelas kutandai bahwa itu privasi. Tapi tidak-

Tidak untuk pemilik manik hijau ini.

Tidak untuk orang yang ada di dalam buku itu.

.

.

.

.

.

Secret.

SnK © Hajime Isayama

Genre : Romance/Drama

Saya jelaskan lagi, pairing akan muncul seiring berjalannya cerita. Janji :'3

Dan lagi, ini bukan yaoi.

Pairing : Levi x Petra

Warning! : AU, OOC, Typo (?), dan mungkin banyak kesalahan.


"Kau membacanya?"

Anggukan kecil darinya sudah cukup menjadi jawaban. Jawaban itu bukanlah yang kuharapkan. Namun aku tetap tidak mengerti, apakah ini yang kuharapkan atau tidak? Aku tidak pernah mengira buku itu akan lepas dari penjagaanku. Sekalipun dia yang menemukannya, aku tidak pernah mengira.

"Kau tahu itu privasi?"

"Aku tahu." suaranya masih bergetar.

"Kenapa kau-

"T-tidak." perkataanku disela, "Awalnya aku tidak bermaksud untuk membukanya, apalagi membacanya."

Eren terdiam, ia menggigit bibir bawahnya. Aku masih menunggu ia melanjutkan kalimatnya.

"Jika bukan karena tidak sengaja aku melihat namaku di buku itu, aku tidak akan membacanya. Sungguh."

Percayakah aku padanya?

"..."

"Senpai.."

Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku sudah melangkahkan kaki hendak meninggalkannya.

"Kenapa?" suaranya begitu pelan, namun aku masih bisa mendengarkannya.

Aku menghentikan langkahku. Namun posisiku sekarang membelakanginya.

"Kenapa-" sepertinya ia menahan napas, "Kau menyukaiku, kan? Kenapa?"

Aku sebetulnya tetap ingin langsung pergi tidak peduli,

namun sepertinya ia butuh penjelasan.

Tanpa pikir panjang, aku membalikkan badanku, berhadapan dengannya lagi. Aku mengeluarkan sesuatu dari saku celanaku, kemudian ku tunjukkan padanya.

"Itu.." manik hijau itu melebar.

"Ho, kau masih ingat?"

"Karena aku telah menemukan liontin itu?" berusaha menebak.

"Hm."

"Hanya itu?"

'Memangnya tidak boleh sesederhana itu?' protesku dalam hati. Keningku berkerut tidak suka.

"Dengar. Kalau kau ingin penjelasan, nanti di jam istirahat akan ku jelaskan padamu. Dan ingat, semua yang kau baca-

itu privasi."

.

.

.

.

.

Semilir angin menerpa rambutku. Aku selalu menikmati tiap hembusannya, karena ini menenangkan. Dan lagi, atap sekolah memang jarang dikunjungi murid lain.

Aku menghela napas. Sudah lima menit dari kedatanganku di tempat ini, 'Apa ia datang?'

Tepat setelah berpikir begitu, pintu di belakangku terbuka. Aku mendengar langkah kaki mendekat.

"Aku kemari." aku mendengarkannya, namun tak berniat untuk berbalik badan, "Aku tidak butuh penjelasanmu atau semacamnya, aku hanya ingin mengatakan- satu hal padamu."

Satu alisku terangkat, walau ia tidak dapat melihatnya.

"Kau menyukaiku dan-" ada jeda pada kalimatnya, "itu salah."

Aku langsung mendengus mendengarnya.

"Tapi tenang saja. Aku akan menjaga rahasiamu."

Aku memilih tetap diam.

"Aku akan membantumu normal kembali-" menyadari kalimatnya salah,

"Uh, itu- aku akan membuatmu melupakanku."

Aku tidak mengerti, apa perkataannya sungguhan atau tidak.

Yang jelas aku memutuskan untuk tetap tidak peduli.

Namun di luar itu semua, aku lega.

Kenyataannya tidak seburuk yang kuduga.

'Melupakanmu, eh?'

.

.

.

.

.

Aku pulang lebih awal. Bahkan tadi Petra masih menunggu mobil datang menjemput.

Tumpukan lembaran-lembaran baru saja diberikan padaku, tadi Erwin mengabari. Namun aku menolak datang beralasan sedang ada urusan.

Entahlah. Aku malas berada disana, untuk saat ini malas berurusan dengannya.

'Malas?' Seperti bukan diriku saja.

Bila kemarin hariku dipenuhi namanya, saat ini pikiranku sibuk berkecamuk tentang masa lalu.

Aku dari tadi terdiam duduk di pinggir kasur, mataku tak lepas menatap liontin itu, seakan takut benda itu hilang.

.

.

.

Flashback.

Sidang itu sudah selesai dari setengah jam yang lalu. Namun aku masih duduk disini, di kursi tempatku sedari tadi. Jujur, aku tidak tahu akan pulang dengan siapa. Keluarga yang akan mengasuhku atau-

"Levi." aku menoleh ketika mendengar suara itu.

Tiba-tiba saja aku langsung dipeluk, pelukan yang-

menenangkan?

Tidak begitu lama, pelukan itu sudah dilepaskan.

"Ini." aku heran menatap liontin ukiran kayu yang diulurkan padaku, "Ibu hanya punya ini untukmu."

Aku menatap manik hitam yang sama denganku, entah kenapa aku suka tatapan itu.

Aku merindukan tatapan itu.

Aku masih terdiam menatap ibuku, ibu yang telah melahirkanku, ibu yang telah merawatku sedari kecil, ibu yang telah-

"Maaf. Ibu telah memilih orang yang salah." suaranya bergetar.

Entah kenapa, kalimat itu terdengar menyakitkan bagiku. Tanganku langsung terulur untuk menghapus air mata ibu ketika ia mulai menangis.

"Kau lihat?" liontin yang berbentuk persegi itu dibuka, ibu sedikit memaksakan senyum padaku. Di dalam liontin itu ada sebuah foto.

Foto ibu yang menggendongku ketika masih bayi, juga ayah-

ayah kandungku.

"Seharusnya ibu tidak menikah lagi." ibu menghapus air matanya, "Mungkin setelah ini kita tidak bisa bertemu."

Aku menatap ibu heran sekaligus tidak percaya.

"Levi, dengarkan ibu. Tolong kau jaga liontin ini, ya?" tangan ibu mengelus pipiku lembut, "Aku selalu menyayangimu."

Kemudian keningku dicium dan ibu langsung pergi meninggalkanku.

Itu pertemuan terakhir kami.

Bulan depannya aku mendapat kabar ibuku meninggal dalam kecelakaan beruntun di luar kota.

.

.

.

Flashback end.

Aku masih terdiam. Menangis? Tidak, aku tidak menangis sama sekali. Kapan terakhir kali menangis aku pun tidak ingat.

Aku sudah lupa rasanya.

Bahkan sama sekali tidak ingat.

.

.

.

.

.

"Senpai, tunggu."

Aku berdecak kesal, sudah dua hari ini dia terus mengikutiku. Aku menghentikan langkahku. Dan karena tiba-tiba, Eren yang dari tadi mengejarku harus 'rela' menabrak punggungku.

"Agh, ittai." keluhnya.

"Sudah kubilang berapa kali?" aku menatapnya, "Berhenti mengikutiku."

"Kan aku hanya ingin membantu."

'Ck. Anak ini memang keras kepala.'

Aku berjalan mendekatinya, "Kau bilang membantu?"

Jarak kami tinggal selangkah lagi,

aku tetap melangkah mendekat.

"Um, senpai?" dia mengisyaratkanku untuk mundur menjauh.

Aku menghapus jarak di antara kami.

Ekspresi wajahnya dari sedekat ini dapat kulihat jelas.

Aku menarik dagunya,

"Hentikan." tanganku langsung ditepis olehnya. Ia mundur selangkah.

Dadanya naik turun. Matanya awas menatapku.

Aku mendengus melihatnya, "Kau takut, hm?"

Takut. Benar-benar takut.

Dan tanpa berkata apapun, dia langsung berlari meninggalkanku.

Lihat? Sedari awal sudah kuperingatkan padanya untuk tidak 'mengganggu'.

.

.

.

.

.

Ini sudah hari kelima. Kelima apa?

Tentu saja. Hari kelima sejak kejadian itu.

Dia sudah tidak berani muncul di hadapanku lagi. Kalau tidak sengaja berpapasan pun, dia langsung memalingkan muka dan mempercepat langkahnya, cepat-cepat menjauh dariku.

Bukan masalah, aku bisa tenang karenanya.

Mungkin kau menganggapku aneh. Whatever, aku pun merasa diriku aneh.

Setelah sebelumnya aku terus terobsesi mencari dirinya dan telah mendapati ia memasuki sekolah yang sama, kemudian ia telah mengetahui perasaanku, ia tidak keberatan, ia terus mengganggu dengan alasan 'ingin membantu', dan sekarang?

Entahlah, yang jelas aku memang sengaja melakukan itu padanya. Kalau aku tidak bisa menjauh darinya, aku masih bisa membuatnya menjauh dariku, bukan?

Lagipula jika memang ingin membantu, mana mungkin perasaanku akan hilang begitu saja sementara ia terus berada di dekatku. 'Dasar bodoh.'

Aku baru memasuki gerbang ketika menyadari suasana di sekitar membuatku tidak nyaman. Aku merasa banyak mata memandang aneh ke arahku. Beberapa dari mereka sibuk berbisik.

'Apa yang salah denganku?'

Aku terus berjalan mengabaikan tatapan-tatapan mereka.

Ketika sampai di koridor kelas, aku melihat banyak murid sedang bergerombol di depan kelasku.

"Sudah kubilang berapa kali sih? Kalian selalu tidak percaya padaku." aku kenal perempuan yang berbicara itu.

"Beberapa hari yang lalu aku melihat dia bersama murid kelas 1."

Tiba-tiba keriuhan itu berhenti, mereka serentak menyadari kehadiranku.

"Coba saja lihat di dalam tasnya." ujar salah satu dari mereka. Dan tiba-tiba saja tiga orang langsung menahanku serta merebut tas yang kubawa, mereka mengobrak-abrik seluruh isi tasku.

"Lihat tulisannya di buku itu." titahnya seraya menunjuk buku sampul cokelat tuaku. Aku langsung memberontak, namun ditahan dua orang yang jauh lebih besar dariku.

Tanpa menunggu intruksi dua kali, bukuku langsung dibuka, membalik-balik tiap halaman yang telah kutulis.

"Kau benar." beberapa murid terperangah tidak percaya.

"Dia gay."

"See? Rivaille yang kalian banggakan adalah seorang gay." ada nada puas terdengar dari kalimatnya, dari gadis yang kukenal bernama Ymir itu.

Tanganku langsung mengepal erat.

"Kau makhluk rendahan."

"Homo menjijikkan."

"Enyahlah dari sini."

Kupingku panas mendengarnya. Aku merasa-

sakit?

Namun entah dimana rasa sakit itu.

Tidak tahan mendengar hinaan mereka, aku berhasil lolos dari cengkraman, kemudian langsung berlari menjauh dari mereka.

Aku masih bisa mendengar mereka berseru-seru dengan caci maki dan hinaan. Aku berusaha menghiraukannya, terus berlari menaiki tangga, melewati koridor sepi, tempat-tempat yang sudah sering kulewati, dan berharap tak lama lagi terbangun dari mimpi.

Namun ini nyata.

'Tidak. Tidak mungkin.'

Aku baru sampai di atap sekolah ketika menyadari ada rasa asin yang dicap lidah, juga bulir-bulir bening yang mengalir begitu saja dari sumber penglihatan. Aku mencengkram dadaku, sakit.

'Di dalam sini sakit.'

Pikiranku berkecamuk, semuanya campur aduk. Cacian itu masih terngiang-ngiang di telingaku.

Kapan terakhir kali aku menangis?

Potongan-potongan masa lalu langsung berseliweran, satu persatu seakan diputar kembali di hadapanku.

Dan tiba-tiba saja satu tepukan di bahu menyadarkanku.

Mengembalikanku pada kenyataan.

Kenyataan yang pahit.

"Rivaille."

Aku tidak pernah berpikir dialah yang datang.

.

.

.

.

.

TBC.

Yah, banyak yang ngira ini menjurus ke yaoi ya? :'

Saya sempet ga semangat ngelanjutin karena respon reader ga seantusias di chap pertama :'3 tapi tak apalah, bentar lagi akan jelas peran Petra di fic ini. Bagi Rivaille tentunya, hoho :'D

Mind to review? Kritik dan saran saya terima untuk ide-ide di dalam cerita :')