LIMA

Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada.

Filsafat terkenal Descartes melayang-layang dalam ruang hampa di pikiran Sakura. Gadis itu memainkan pulpennya di atas buku catatan sastranya. Jam pelajaran sudah berganti, namun masih jelas ingatannya akan materi abad pertengahan yang dibahas Kurenai-sensei dengan amat puitis itu. Jaman kebangkitan pemikiran, seni, dan ilmu-ilmu terapan.

Kisah-kisah klasik berkembang. Masa-masa Shakespeare, Victor Hugo, Jane Austen… cinta egosentris. Sederhana, tapi pada saat yang sama begitu rumit. Sakura menulis sebuah nama di bukunya;

Sasuke Uchiha

Mau dipikir bagaimanapun, dari jaman filsafat klasik aristoteles hingga filsafat modern Descartes, tetap saja pria itu sebuah misteri. Romeo dan Juliet, cinta yang tragis. Layla Majnun─karya sastra terkenal dari timur─cinta yang memilukan, dan…

Sakura mengernyit. Ia tidak dapat menggolongkan dirinya dan Sasuke dalam satu kategori. Seolah-olah segala macam kegilaan emosi berpotongan dalam diagram venn, sementara mereka tak pernah berada dalam irisan itu.

Cinta yang tidak berada dalam dimensi eksistensial yang utuh, Sakura berpikir. Kami tidak punya awal…dan mungkin juga akhir.

"Ugh." Sakura menggerutu. Apa susahnya sih menyukai seseorang? Tidak ada. Ya, tidak ada. Kecuali jika kau tinggal serumah dengan pria itu, tumbuh besar dengannya, dan seumur-umur dia membencimu karena satu hal yang tidak akan pernah bisa kau ubah.

Menyukai pria itu tidak akan membawa akhir bahagia. Tapi ia butuh penjelasan. Ia butuh alasan kenapa Sasuke menciumnya dan melakukan itu padanya. Sakura butuh penjelasan mengapa tangan-tangan kuatnya merengkuhnya dengan hati-hati, tidak dengan kasar seperti yang selama ini dilakukan pria itu.

Kenapa?

Nama Uchiha Sasuke di bukunya dilingkari oleh lingkaran merah. Lingkaran tak berujung. Lagi-lagi Sakura dihadapkan pada pemikiran dilematis tentang betapa rumitnya keadaan dia dan Sasuke.

Tidak ada penjelasan yang cukup logis untuk menggambarkan perasaan ini.


Uchiha_Itachi is sign on

Uchiha_Sasuke is sign on

Uchiha_Itachi : ada apa? Tak biasanya kau memintaku online malam-malam begini. Ada rapat habis ini, kalau butuh bicara lewat sms saja ya.

Uchiha_Sasuke : kenapa dulu kau membawa Sakura ke rumah?

Itachi mengernyit memandang layar tabletnya. Malam di Amerika berarti pagi hari di Konoha, dan sepanjang Itachi tahu pagi hari adalah waktunya Sasuke sekolah. Tapi adiknya itu tiba-tiba mendesaknya untuk online, ada hal penting katanya. Terang saja Itachi heran kalau yang dimaksud 'hal penting' adalah bicara tentang Sakura.

Uchiha_Itachi : apa kalian sedang bertengkar?

Uchiha_Sasuke : jawab saja

Uchiha_Itachi : kurasa Sakura pantas mendapatkan keluarga.

Uchiha_Itachi : ada apa Sasuke? Tak mungkin tak ada apa-apa.

Uchiha_Sasuke : apa kau menyukainya?

Itachi mulai berpikir memang ada 'hal penting' yang ingin dibicarakan Sasuke. Sudah bertahun-tahun adiknya itu tak pernah bicara tentang gadis kecil yang diadopsi keluarga Uchiha.

Uchiha_Itachi : ya, aku menyukainya.

Sasuke di ruang kerjanya menarik nafas cepat, tak menyukai ke mana arah pembicaraan ini. Sejak kemarin ia menginap di kantor, selain karena urusan bisnis yang tiba-tiba meminta perhatian juga karena pikirannya penuh dengan gadis berambut pink. Ia butuh penjelasan, jawaban, atas segala kebingungan ini. Jadi Itachi memang menyukai Sakura… Namun tiba-tiba Itachi menulis lagi.

Uchiha_Itachi : jika maksudmu secara romantis, kurasa tidak. Dia sudah seperti adik perempuan yang tak pernah kupunya.

Uchiha_Itachi : tapi kau tetap adik laki-laki yang paling kusayang 3

Itachi terkekeh, ia tahu Sasuke paling tak suka diledek.

Uchiha_Sasuke : berhenti meledekku, baka nii-san.

Itachi memutuskan untuk meledek adik laki-lakinya lebih jauh.

Uchiha_Itachi : jangan memanggilku begitu, Sasu-cakes.

Uchiha_Sasuke : kau juga!

Uchiha_Itachi : memangnya ada apa sih kau tiba-tiba nanya tentang Sakura?

Uchiha_Itachi : jangan bilang… kau jatuh cinta padanya.

Uchiha_Sasuke is sign off.

Itachi membelalak. Yang benar saja! Adik bodohnya itu kabur saat ditanya begini? Itachi terkekeh. Dia sudah bisa menyimpulkan apa 'hal penting' yang ingin dikatakan Sasuke.

Uchiha_Itachi : jadi kau memang suka padanya…

Uchiha_Sasuke is sign on

Uchiha_Sasuke : dalam mimpi terliarmu!

Uchiha_Itachi : terus kenapa tadi invisible segala hayo?

Uchiha_Sasuke : aku sibuk! Sudah, aku harus belajar lagi!

Uchiha_Sasuke is sign off.

Itachi geleng-geleng kepala. Sasuke? Belajar? Dia hanya akan melakukan hal yang dibencinya saat hal yang disukainya direbut darinya. Itachi hanya bisa berdoa semoga kedua adik yang disayanginya itu baik-baik saja.


Sasuke baru masuk saat pelajaran keempat. Ebisu-sensei hanya menaikkan satu alis memandangnya tanpa berkata apa-apa. Pemuda itu mengabaikan pandangan heran seisi kelas termasuk mata hijau yang mengikuti gerak-geriknya, meletakkan tasnya dibangku kosong samping Naruto.

Ebisu berkoar-koar tentang revolusi prancis, dan kebebasan untuk menentukan nasib. Sasuke sedikit-banyak menyimak beberapa kata lantaran mati-matian untuk tidak terus-terusan menatap gadis berambut merah jambu beberapa bangku di depannya.

"Hoi teme." Sasuke mengabaikan panggilan kawan pirangnya, menyibukkan diri berpura-pura mencatat.

Ebisu sensei membuka buku di meja guru, mulai membaca sesuatu dari sana. "Masa ini merubah cara pandang dunia, mengumandangkan idealisme untuk berubah dan menentukan nasib sendiri…"

Menentukan nasib sendiri? Kebebasan semu. Pikir Sasuke sarkastik, matanya menerawang menatap Ebisu-sensei di depan kelas. Kebebasan menentukan nasib itu pada akhirnya akan dibatasi toleransi kita terhadap hak milik orang lain. Akan selalu berbenturan, sampai salah satu atau keduanya berhenti memberikan gaya dorong. Area perhentian itu akan selalu jadi area abu-abu.

Matanya lagi-lagi tak mau diatur, bola mata kehitaman itu bergerak menatap gadis bermata hijau yang tengah sibuk menyimak pelajaran Sejarah. Seperti sebuah magnet. Bagaimanapun Sasuke berusaha menyetrum dirinya dengan tegangan tinggi untuk mengacaukan garis gaya, tetap saja dirinya akan selalu terarik pada kutub gadis itu.

Kebebasan menentukan nasib? Jika ada, dia tidak akan duduk di sini dan memandangi seorang gadis seperti orang bodoh yang baru pertama kali jatuh cinta. Tunggu, jatuh cinta? Yang benar saja!

Menyebalkan, pikir Sasuke. Semenjak kejadian di koridor, perasaannya makin tak tentu. Ada keinginan tak wajar untuk selalu melihat Sakura. Untuk tahu keadaannya. Tidak wajar, aneh, tidak seharusnya ada.

"Kau memperhatikan Sakura-chan terus." Mau tidak mau Sasuke menoleh pada komentar kawan sebangkunya yang menyeringai.

"Sejak kapan kau perhatian pada apa yang kuperhatikan, dobe?"

"Yah, sejak kau memperhatikannya." Sasuke memutar mata mendengar jawaban polos teman sekelasnya sejak smp itu.

Kepolosan dan keluguan Naruto adalah daya tarik utama pria berambut kuning jabrik itu. Jika bukan karena tingkahnya yang polos dan celetukan-celetukan konyolnya, Sasuke mungkin tidak mau bergaul dengannya. Tapi seperti sebuah pepatah lama; opposite did attract, Sasuke menemukan dirinya merasa nyaman berbicara santai dengan Naruto. Seperti layaknya sahabat.

"Kau menyukainya ya, teme?" Naruto menyikutnya, seringai jahil tak lepas dari wajah kekanakannya.

"Hn, bukan urusanmu." Sasuke membuka-buka bukunya, mengalihkan perhatian dari pertanyaan Naruto yang sejujurnya membuatnya gelagapan.

"Ayolah, kita ini kan saha-"

"Naruto, bisa kau simpulkan mengenai revolusi prancis?" Sasuke tersenyum kecil melihat sahabatnya itu hanya bisa melongo bingung menjawab pertanyaan Ebisu-sensei.


Sakura jengah jika harus terus-terusan berdiam diri dan menatap Sasuke diam-diam. Berada di dekatnya saja sudah membuat suasana jadi canggung, apalagi mencoba bicara dengannya. Memang sejak kejadian itu mereka jarang bertemu. Sasuke akan pergi sebelum Sakura membuka mata dan baru pulang setelah ia tertidur. Beberapa hari ini belum sekalipun Sakura berbicara dengan pemuda itu, walau kadang mereka saling bertatapan, baik di rumah maupun di sekolah. Tak ada tukar sapa. Konfrontasi hanya membuat keduanya makin menjauh.

"Sakura?" Sakura mengerjapkan mata, menyadari sentuhan lembut di bahunya. Sasori menatapnya bingung di sebelahnya.

"Y-ya?"

"Kau melamun lagi. Apa kau kecapekan?" Sakura buru-buru menggeleng. Bisa-bisanya dia melamun lagi, di tengah-tengah rapat panitia study tur seperti ini. Jangan bawa-bawa masalah pribadi di organisasi dong, dimana kau letakkan kode etik profesionalitas? Gerutu inner Sakura. Pikirannya makin pusing menyadari study tur hanya tinggal hitungan hari. Mencari kesibukan bukannya mengalihkannya dari pikiran tentang si Uchiha itu, justru malah sebaliknya.

Sakura menghela nafas kesal.

Sasori menatap gadis di sampingnya. Sudah beberapa kali pertemuan ini Sakura sering melamun dan menghela nafas panjang. Apa gadis itu punya masalah? Ah, mungkin dia kecapekan dengan segala kesibukan ini…

"Sakura," Sasori berdehem, membuat gadis itu berpaling menatapnya. Untung rapat sudah selesai, jadi orang-orang tidak terlalu memperhatikan mereka. "kau… uh, punya acara hari ini?"

Sakura menggeleng pelan. Sasori menyilangkan jarinya, berharap kali ini Kami-sama memberinya kesempatan untuk membuat kemajuan pada hubungannya yang stagnan dengan adik kelas kesayangannya ini. Tahun depan mereka akan lulus bersama-sama, dan itu berarti ini akan jadi tahun terakhirnya untuk berusaha mendapatkan hati si pemilik mata hijau cerah itu.

"Mau jalan-jalan?" Sakura menatapnya agak lama, wajah gadis itu sontak memerah. "uh, untuk refreshing sebelum persiapan final besok. Kau terlihat capek dan suntuk. Ya… ehm, jalan-jalan sebagai teman?" tambah Sasori buru-buru.

Detik demi detik menunggu jawaban Sakura terasa seperti satu jam bagi Sasori. Ini pertama kalinya ia mengajak kencan seseorang.

"Tentu," jawab Sakura pada akhirnya, tersenyum pada pemuda berambut merah itu. Senyum Sasori mengembang. Well, detik-detik menjemukan itu ternyata memang pantas untuk ditunggu.


"Ugh. Lagi-lagi." Ino berseru kesal, mengaduk-aduk isi tasnya. "lain kali setiap buku kupasang reminder saja biar tidak ketinggalan terus." Gerutu gadis berambut pirang itu.

Sambil bersungut-sungut, Ino memutar langkahnya kembali ke gedung sekolah. Dibantingnya pintu mobilnya keras. Sudah mau pulang, sudah starter mobil, eh baru ingat buku Kimia ketinggalan. Kalau bukan karena besok ada ujian dan nilai semester ini dipertaruhkan, sudah dari tadi Ino memacu mobilnya.

Koridor lantai dua sudah lebih sepi, hanya anak-anak yang kerja kelompok atau kegiatan organisasi yang masih mondar-mandir di ruang ekstrakulikuler mereka. Ino sendiri adalah pengurus OSIS, tapi sebagai anggota sekbid seni, ia tidak banyak berkiprah di panggung organisasi KHS. Lagipula dulu alasannya masuk OSIS hanya supaya bisa dekat dengan Sai-senpai, seniornya yang jago melukis itu. Tapi sudah setahun berusaha, masih saja pria yang selalu tersenyum itu tak memberikan lampu hijau bagi hubungan mereka. Seperti air yang hanya mengalir ke bawah.

Ino membuka pintu kelas dengan kasar, menghentak kursi yang sudah disusun rapi. Diambilnya buku dari kolong meja, dan sekali lagi menghempaskan kursi sampai menabrak meja.

"Berisik sekali." Ino nyaris melonjak saking kagetnya. Bulu kuduknya meremang, ini masih jam 4 sore, masa iya sudah ada hantu di kelas? Pelan-pelan ia berputar, menatap bagian belakang kelas yang remang-remang. Cahaya matahari sore menyinari sepotong wajah yang dikenalnya.

"Nara?" Mata hitam sipit pria itu membuka, menatap Ino tanpa ketertarikan.

"Oh, kau Yamanaka. Pantas ribut." Kesal dan penasaran bercampur jadi satu dalam diri Ino. Didekatinya pemuda yang menyandarkan kepalanya di atas meja itu, matanya terpejam.

"Kenapa kau masih di sini?"

"Ketiduran." Jawab pria berkuncir itu pendek. Ino menaikkan satu alisnya, kali ini ia benar-benar penasaran.

"Ketiduran? Di jam terakhir? Ini sudah pulang sekolah, Nara."

"Aku tahu." Mata Shikamaru membuka sedikit, menatapnya. "panggil aku Shikamaru saja. Tak enak dipanggil dengan nama belakang oleh teman sekelas." Memang Ino tahu akan hal itu, Sakura sendiri memanggilnya Shikamaru, tapi Ino yang sejak tugas biologi baru dekat dengan pria itu, masih merasa canggung untuk memanggilnya dengan nama depan. Sudah setahun sekelas di kelas akselerasi, tapi diantara dirinya dan Nara Shikamaru terasa seperti ada jarak yang membentang. Pria ini hampir selalu tertidur di kelas, di lapangan, nyaris di segala event sekolah. Mereka juga jarang bicara.

"Apa kau selalu tidur di kelas?" Tanya Ino penasaran.

"Tidak juga. Kadang-kadang aku tidur di atap sekolah atau tangga darurat."

"Tangga darurat?"

"Tidak ada yang mengganggu."

"Uh… apa aku menganggumu?" Mata Shikamaru membuka lagi, pria itu menegakkan tubuhnya.

"Tidak juga. Aku sudah bangun sejak kau masuk kelas."

"Maaf," ujar Ino pelan.

"Tak apa. Aku juga sudah mau pulang." Shikamaru mengambil tasnya dan beranjak pergi.

"Shika?" yang dipanggil menghentikan langkahnya dan berbalik sebelum keluar kelas. "apa aku boleh mengunjungimu kalau kau tidur di atap atau tangga darurat?" Shikamaru menatap gadis bermata biru itu, heran.

"Kalau kau mau bicara denganku, bicara saja. Aku pasti bangun kalau ada urusan penting."

"Aku… cuma ingin ngobrol." Jawab Ino, merasakan wajahnya memerah. Tak diduganya, Shikamaru terkekeh mendengarnya.

"Terserah kau sajalah." Shikamaru melambaikan tangannya tanpa memandang Ino. Langit di luar sudah menunjukkan rona jingga. Matahari sudah hampir terbenam. Cukup lama juga ia tertidur di kelas. Pikirannya tertuju pada gadis berambut pirang yang baru saja ditemuinya tadi.

"Dasar cewek aneh…" Shikamaru tersenyum di koridor.


Sasuke tidak suka segala hal yang merepotkan. Termasuk perasaannya saat ini. Ia tidak mau berspekulasi akan apa yang dirasakannya terhadap Sakura. Sasuke tidak mau jatuh cinta. Karena kali terakhir ia mencintai sesuatu, hal itu direnggut darinya. Masih jelas terbayang di hatinya bagaimana rasanya saat mendapat kabar kedua orang tuanya meninggal. Tidak lagi-lagi Sasuke mau merasakan rasa sakit seperti itu.

Lebih baik tidak usah jatuh cinta daripada merasakan kehilangan yang sama.

Sakura, meski kehilangan orang tuanya, sama sekali kasus yang berbeda dari Sasuke. Sakura tidak tahu apa-apa tentang rasa sakit, karena sepanjang hidupnya ia dicintai tanpa syarat oleh kedua orang tuanya. Dicari jika menghilang, ditemani saat sakit…

Sasuke mengenyahkan pikiran itu. Masa lalu ya masa lalu, tegasnya getir. Sampai kapanpun Sakura tidak akan pernah mengerti perasaannya, karena gadis itu tidak pernah merasakannya. Meski begitu, masih jelas di ingatan Sasuke ucapan Sakura saat mereka melakukannya beberapa hari yang lalu.

"Berhentilah membenciku, Sasuke… jika kau pikir aku tidak tahu apa yang kaurasakan, beri aku kesempatan untuk mengerti. Jangan terus-terusan diam dan bersikap seolah aku tak pernah ada dalam hidupmu."

Tidak semudah itu bagi Sasuke untuk membiarkan seseorang masuk dalam dinding perlindungannya. Manusia pada dasarnya adalah makhluk egois, dan naluri primitif dalam diri Sasuke membuatnya tak percaya pada siapapun. Untuk sampai pada titik dimana ia berada sekarang, bukan perkara mudah. Ia tidak sampai di sini tanpa 'luka'. Behind every scars there's a story. A story that sometimes we do not want to talk about it.

Sasuke memacu kendaraannya lebih cepat, meningkatkan deru mesin mobil sportnya di jalan raya. Orang-orang yang melintas di pinggir jalan hanya seperti kilatan cahaya yang berbaur dengan kecepatan. Semua orang punya kisah yang tak diceritakan. Jadi apa bedanya kalau Sasuke menyimpan semua beban di pundaknya tanpa memberitahu Sakura? Toh gadis itu juga tidak akan peduli.

Lantas kenapa ia kepikiran gadis itu terus?

Kenapa tubuhnya menginginkan kehangat Sakura lagi, tangannya ingin merengkuh tubuh mungil itu, dan sekali lagi merasakan kelembutan bibir merah mudanya?

Yang terjadi kemarin hanya kebodohan sesaat. Pure lust. Sasuke tidak dapat mengontrol dirinya melihat tubuh Sakura dan cara gadis itu menyampaikan perasaannya. Sesuatu dalam dirinya merangsek maju menguasai akal sehatnya, dan memiliki Sakura saat itu juga menjadi misi nomor satu. Setelah kegiatan mereka malam itu, Sasuke menggendong Sakura yang tertidur dalam pelukannya dan baru menyadari; kejadian tadi adalah sebuah kesalahan fatal.

Mereka berdua tidak saling menyukai (setidaknya itu yang Sasuke pikir) dan masa lalu diantara mereka tidak akan bisa dihapuskan. Tidak mungkin Sakura bisa menyukainya yang notabene selalu kasar dan Sasuke sendiri melarang dirinya untuk jatuh cinta lagi, setelah kehilangan orang tuanya.

Namun bagaimanapun Sasuke berusaha menghindar, tetap saja Sakura memenuhi pikirannya, membayangi malam-malam tanpa tidur nyenyaknya. Mereka tinggal satu atap, hanya sejarak satu tangga. Tapi seolah-olah ada jurang besar, dinding tak kasat mata diantara mereka.

Begitu dekat, tapi terasa begitu jauh.

Sasuke menginjak rem mendadak saat sekumpulan orang menyebrang jalan, membuyarkan lamunannya. Mobil dan kecepatan adalah salah satu penyebab kematian orang tuanya. Tapi saat memacu kecepatan dan merasakan dunia berubah jadi bauran warna di sekitarnya, saat itulah Sasuke merasa dekat dengan orang tuanya.

Dipukulnya klakson mobil dengan kesal. Matanya membesar menangkap dua sosok yang dikenalnya;

Sasori menggandeng Sakura menyebrang jalan, tidak menyadari siapa dibalik kemudi mobil merah yang baru saja mereka lewati.


"Tidak bisa?" Naruto menatap gadis di hadapannya dengan tatapan memohon.

"M-maaf Naruto-kun…" Hinata balik menatap kekasihnya, tangannya menyatu di depan wajahnya, sungguh-sungguh minta maaf pada pemuda dihadapannya.

"Uurgh, tapi…" Naruto menggelembungkan pipinya, tak jadi melanjutkan ucapannya. Ia menghela nafas dan menyandarkan tubuh pada sandaran kursi. Dicomotnya kentang goreng dihadapan mereka dan ditelannya bulat-bulat, seperti ia menelan kesedihannya.

"Gomen, tapi ayah tidak memperbolehkan…"

"Kita sudah pacaran setengah tahun, masa mengajakmu makan malam masih juga tidak boleh?" gerutu Naruto. "hanya bisa kencan pulang sekolah. Tak pernah boleh lebih dari jam 5…" lanjutnya sambil meminum soda sambil cemberut. "padahal sekolah pulang jam 4! Nonton tidak bisa, makan paling hanya bisa di tempat dekat rumahmu, huaaah~" lelaki bermata cerulean itu menghela nafas panjang.

Naruto tahu ayah Hinata memang serba strict atas segala hal yang dilakukan putri tertuanya. Hinata dididik untuk jadi penerus perusahaan besar Hyuuga, dan betapapaun Hiashi percaya pada putra Minato dan Kushina yang juga teman kecilnya, tetap saja Hiashi menerapkan peraturan yang tegas bagi Naruto. Syukur-syukur masih dibolehin pacaran sama Hinata, pikir Naruto getir. Meminta izin ayahnya untuk pacaran saja susahnya hampir sama seperti meminta izin menikah. Mau backstreet? Jangan harap! Hiashi punya mata dimana-mana, belum lagi kakak Hinata, Neji yang satu tahun lebih tua dari Naruto, hampir selalu membuntuti kemanapun Naruto membawa Hinata.

Begini nasib punya pacar anak milyuner…

Bukannya Naruto tidak cukup kaya, tapi Minato sebagai pejabat daerah di Konohagakure lebih banyak memberi daripada menerima. Sementara asset, saham dan kekayaan keluarga Hyuuga hampir selalu bersaing dengan kerajaan bisnis Uchiha. Naruto diam-diam kagum sahabatnya si emo Sasuke bisa mempertahankan eksistensi bisnis keluarganya berdua saja dengan Itachi.

"Lain kali ya… Naruto-kun?" Naruto mengalihkan matanya pada si cantik Hinata. Sinar matahari sore yang menerobos dari jendela café membuat gadis itu seolah-olah bercahaya. Untukmu apa sih yang tidak, Hinata-chan? Naruto berkata dalam hati.

"Baiklah. Besok aku main ke rumahmu deh, siapa tahu dapat izin kencan sampai jam 7," Naruto mengedipkan matanya. Hinata tersipu malu mendengarnya. Hinata sudah menyukai pemuda di hadapannya sejak umur 7 tahun, maka saat Naruto mulai memperhatikannya, rasanya semua peraturan dan didikan tegas ayahnya tidak ada artinya ketimbang menghabiskan waktu satu jam dengan pria pujaannya.

Saat Naruto beringsut maju dari tempat duduknya untuk meraih tangan Hinata di meja, matanya menangkap sosok yang tidak asing.

"Loh, Hinata-chan? Itu Sasuke bukan?" Hinata menoleh pada arah pandang Naruto.

"Iya, itu Sasuke."

"Apa yang teme lakukan di sini? Pakai jaket dan kacamata hitam segala…" Naruto mengernyit melihat penampilan tidak biasa teman sebangkunya itu.

"Uhm… kenapa tak kau tanyakan saja?"

"Ide bagus. Ayo kita sapa dia." Naruto menarik tangan Hinata berdiri, keluar toko untuk menghampiri pemuda berambut hitam di seberang jalan.


Sasori benar-benar mendeskripsikan kata 'refreshing' dengan sangat tepat. Sakura berkali-kali terpingkal-pingkal dibuatnya. Tadinya Sakura pikir Ketua OSIS mereka agak sedikit pemalu, tapi ternyata dia pria yang sangat menyenangkan.

"Wah, makasih banyak untuk hari ini, senpai." Sakura menghentikan tawanya, perutnya sakit mendengar lelucon dan cerita-cerita lucu Sasori tentang apa yang terjadi di KHS.

"Sama-sama. Ga suntuk lagi kan?" mau tak mau Sakura tersenyum mendengarnya. Sejenak ia tidak lagi dihantui bayangan tentang Tuan Mudanya. Dihadapannya ada pemuda yang senantiasa membuatnya tersenyum, dan Sakura tidak mau pikiran tentang Sasuke dan segala ketidakjelasannya menghancurkan momen menyenangkan ini.

"Lusa kita berangk at. Panitia di bus khusus panitia…"

"Boleh aku duduk sama senpai?" kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sakura. Gadis itu baru sadar saat Sasori menatapnya lama. "maaf, aku tidak bermaksud-"

"Tidak apa-apa. Boleh, silahkan saja." Wajah Sakura tersipu merah. Gara-gara menghabiskan waktu menyenangkan dengan Sasori, Sakura jadi ingin terus bersama pria itu.

Menggabaikan rasa malunya, Sakura mencicipi es krim yang tengah dinikmatinya dengan Sasori di sebuah toko. Rasa strawberry, faforitnya. Ditengah hari yang menjemukan seperti ini, rasa manis es krim di lidahnya itu seakan mengangkat beban pikirannya.

"Eh, Sakura…" jantung Sakura berdegup kencang saat Sasori mendekatkan wajahnya. Apa yang terjadi? Kenapa senpai tiba-tiba mendekat? Apa... "ada es krim di pipimu." Ibu jari Sasori menyeka pipi Sakura lembut.

Fakta bahwa Sasori hanya menyeka pipinya tidak membuat Sakura lega, malah semakin berdebar. Sasori dan kelembutannya. Kesederhanaannya. Sasori yang selalu berusaha membuatnya tertawa…

Apa aku tak sadar tengah jatuh cinta pada pemuda berambut merah ini?

"Oooi, Sasuke! Ngapain di belakang pintu?" kontan Sakura menoleh, mendapati Naruto, Hinata, dan… Sasuke balas memandangnya dari pintu toko. Naruto melambai girang padanya. "oh halo, Sakura-chan, Sasori-senpai! Lagi kencan?"

Saat mata emeraldnya bertemu dengan onyx hitam Sasuke, rasa manis es krim itu sudah tidak terasa manis lagi di lidahnya.


A/N : Hayoloh Sakura digerebek (?)

Bales review yang tidak log in:

Shich Hzr : update kilat nih dalam 6 hari ^^ mungkin kedepannya akan jadi dua minggu sekali, tidak apa-apa kan? Itu juga pertama kalinya bikin lemon, jadi masih benar-benar 'apa adanya' hehe

Rinsakurachi : awalnya fic ini mau di bikin angst utk beberapa chapter aja, eh malah keterusan bikin highschool -.- apa ratednya diubah jadi T aja ya? Lemonnya dihapus. Ada saran?

Sakusasu 4ever : banyak pesanan nih, ditampung dulu ya :)

tdk bisa log in : dear maybe you should make a new account? Are you okay with not having log in all these times? Waaa alurnya kecepetan ya? Apa chap 4 nya rewrite aja? Ada saran?

sasusaku kira : sudah update kilat \(^.^)/

mimia : semoga saja ya... :)

hankira : karin memang selalu jadi ancaman dimana-mana -.-

feraz : hahaha iya, biar thrilling. Sasukenya ga pake mikir sih. But admit it, who doesnt want to be shoved to the nearest wall by the mighty Uchiha Sasuke? *evil smirk*

my : iya, author memang rencananya bikin di chapter tiga, tapi rencana berubah dan harus rombak total. Kecepetan ya? Apa baiknya dihapus saja? Ada saran?

Tiffany yuki : TERIMAKASIH! *pake capslock saking senangnya* you dont know how much it means for the author to be praised like that {hug&kisses}

Me sasusaku : {big hug} THANKS A LOT, dear :) author mana yang ga senang kalau ada yang menghargai karyanya, hehehe. Sudah update kilat nih, semoga cerita ini tidak membosankan ya.

Untuk yang tanya, Sasuke belum suka Sakura. Tapi kenapa dia melakukan 'itu'? Well, he's a man read beneath the underneath, it's almost impossible to understand what's going on in his head. Tidak mudah bagi Sasuke untuk menyembuhkan 'luka' di hatinya akibat kehilangan. Fic ini temanya highschool perjalanan mereka untuk jadi dewasa, jadi idealisme mereka masih meledak-ledak dan banyak pertentangan dalam pikiran. Baiknya dilanjutkan atau disudahi saja ya? Takut ceritanya dianggap terlalu 'berat' atau muter-muter malah readers ga suka *takut didemo*

Mengenai scene revolusi prancis, itu saya ambil dari salah satu adegan di buku Pramoedya Ananta Toer "Jejak Langkah". He's one of Indonesian brilliant authors. Anyone love classic like me?

.

.

.

Review? *Phylaphy puppy eyes mode on*