"That's the thing about pain. It demands to be felt."
-The Fault in Our Stars, by John Green
-.-.-
ENAM
"Tou-san, lihat, lihat!" Seorang anak laki-laki berumur 6 tahun berteriak sambil berlari sepanjang koridor rumah. Dengan tergesa dibukanya pintu geser di ujung ruangan dengan hentakan yang cukup keras. Dua pasang mata menatapnya balik dari dalam ruangan, namun anak itu tidak berhenti berteriak, alih-alih makin bertambah semangatnya. "Itachi-nii!"
Ia segera menghambur dan berdiri di samping pria yang lebih muda, hanya lebih tua empat tahun dari anak laki-laki itu sendiri. Pemuda yang dipanggil Itachi itu membalas sapaan adiknya dengan senyuman yang khas, tangannya terangkat untuk menjentikkan jarinya di dahi si anak lelaki. Terang saja anak lelaki itu segera mengaduh.
"Sakit, aniki! Kenapa kau selalu lakukan itu?"
"Tidak baik berteriak dalam rumah, Sasuke."
Pria yang duduk di hadapan Itachi berdehem, Sasuke segera menoleh padanya.
"Tou-san! Lihat apa yang kubuat!" Sasuke memamerkan sebuah miniatur pesawat dengan detail yang cukup rumit. "aku membuatnya sendiri dari bahan-bahan bekas! Lihat, ini persis seperti yang sering kita gunakan saat bepergian!" jari telunjuk kecilnya menekan lambang Uchiha di ekor pesawat yang terlihat jelas.
Mata Fugaku Uchiha memandangi benda di tangan Sasuke, menelusuri dari kepala hingga ekor pesawat. Sasuke menahan nafas menunggu komentar ayahnya. Pesawat ini sudah dikerjakannya selama seminggu, walaupun ibunya melarangnya mendekati alat-alat tajam seperti gunting, Sasuke tetap bandel dan mengerjakan miniatur ini dengan kedua tangan kecilnya sendiri. Cat air untuk melukis lambang keluarganya dan badan pesawat dibelinya dengan uangnya sendiri, uang yang selalu diam-diam Itachi berikan pada Sasuke untuk mengajarkannya menabung, bukan meminta pada orang tua mereka.
"…buang sampah itu, Sasuke."
Deg.
"Kalau kau mau mainan baru kau tinggal meminta, tak perlu memunguti sampah untuk membuat sampah."
Deg.
Miniatur pesawat itu terjatuh dari genggaman Sasuke. Sebelum menghantam lantai, Itachi menangkapnya dan mengirim pandangan dingin pada ayahnya, lalu berdiri dan menarik tangan Sasuke yang terdiam.
"Ayo pergi, Sasuke."
"Kita belum selesai dengan ini semua, Itachi." Suara Fugaku terdengar di balik punggung kedua anak lelakinya.
Tangan Itachi yang memeluk bahu Sasuke mengerat. Pria muda yang baru berumur 10 tahun itu menatap ayahnya dari balik punggungnya. "Tapi aku sudah selesai."
Dan pintu ditutup dengan sangat lembut.
Tubuh Sasuke bergetar di bawah tangan kakaknya. Itachi berjongkok di depan adik lelaki kesayangannya. Tangannya mengacak lembut rambut Sasuke.
"Kau anak yang baik…" ujar Itachi. Sasuke tidak bisa berkata apa-apa, perasaan anak kecilnya terluka dengan kata-kata dan tatapan dingin ayahnya. Tapi anak kecil bisa apa?
"Ayo, kita buat landasan pesawatnya, dan juga bandara." Itachi masih menepuk kepala Sasuke, berusaha menghentikan diamnya Sasuke yang tak pernah berarti baik. Mata hitam adiknya mulai berkaca-kaca, sebutir air mata jatuh dari mata kanannya. Sasuke menghapus air mata itu dengan kasar, tahu bahwa ayahnya tidak pernah suka sikap cengeng. Ayahnya selalu memandang sebelah mata anak-anak kecil yang menangis, tak peduli apa sebabnya.
"Sasuke-"
"Aku tahu, aku tahu! Menangis itu lemah, dan Uchiha tidak lemah-" Itachi tertawa mendengarnya. Tangis Sasuke berhenti sebentar menatap kakaknya. Bahu Itachi berguncang karena tawanya, tidak seperti tawa kaku yang biasa dilakukannya di hadapan relasi bisnis ayah mereka. Itachi mengusap kepala Sasuke dengan gemas.
"Setiap orang punya kelemahan. Semua orang punya hak untuk menangis."
"Tou-san bilang-"
"Sasuke, hanya karena kita Uchiha bukan berarti kita tidak boleh punya kelemahan. Kita seorang Uchiha, tapi kita punya perasaan." Itachi berdiri, menggandeng adik lelakinya. "ayo kita buat bandara yang cukup besar untuk menampung pesawat itu."
Sasuke kecilpun tersenyum.
.
.
"Nii-san benar-benar akan pergi? Tapi kau kan baru pulang? kenapa harus sekolah di luar negeri lagi? Kan kemarin-kemarin sudah?" rengek Sasuke kecil sambil menarik-narik tangan Itachi, setengah memaksa pemuda itu menghentikan kegiatan mengepak baju.
"Aku akan menyelesaikannya dengan cepat, aku akan pulang sebelum kau menyadarinya." Balas Itachi sambil tersenyum, melepaskan pegangan adiknya dari lengannya.
"Tapi nii-san janji akan menemaniku bermain setiap hari!"
"Kudengar kau sudah punya teman baru. Siapa namanya? Sakura?"
"Tapi Sakura itu cewek, dia ga bisa main bola." Gerutu Sasuke, cemberut karena kakaknya kembali mengisi koper dengan baju-baju.
"Kan bisa bermain hal lain. Bukannya kalian sama-sama suka buku?" Tanya Itachi, teringat kata-kata ibu mereka, Mikoto tentang perempuan kecil anak pelayan mereka yang jadi teman Sasuke beberapa minggu ini.
"Aku mau main sama nii-san!" pekik Sasuke. Itachi berhenti merapikan kopernya, menjentikkan jarinya sekali lagi di dahi Sasuke. Sejak dulu ini sudah jadi kebiasaan Itachi untuk terus menyadarkan Sasuke untuk bersikap lebih baik. Tapi kali ini bukan nasihat yang keluar dari mulut Itachi, melainkan senyuman sedih.
"Maaf, Sasuke… lain kali ya?"
Mata hitam besar Sasuke menatap sedih kakak lelaki yang paling disayanginya. Sore itu, Sasuke kehilangan Itachi sekali lagi.
.
.
"Sasuke, lihat! Itachi ada di koran!" Sasuke menoleh pada ibunya yang tengah duduk di sofa sambil membuka koran lebar-lebar. Sasuke menatap wajah kakak yang dirindukannya setelah tiga tahun itu di koran berbahasa inggris, dengan sederet prestasi membanggakan dan kutipan-kutipan dari guru-guru Itachi di Eropa tentang kemahiran bocah Jepang itu.
"Kapan nii-san akan pulang, kaa-san?" Mikoto berpikir sebentar, mengkalkulasi berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang Itachi untuk menamatkan pendidikan dasarnya di negeri awal peradaban.
"Mungkin setahun atau dua tahun lagi, Sasuke…" Wajah Sasuke berubah muram lagi.
"Anak itu, kalau dia serius seharusnya sudah pulang tahun ini." Fugaku muncul dari pintu depan, melonggarkan dasinya yang mencekik leher.
"Itachi melakukan yang terbaik," jawab Mikoto, sedikit keras.
"Hn," Fugaku meletakkan tas kerjanya, menatap foto Itachi di koran. "kau seharusnya belajar lebih keras lagi, Sasuke, agar bisa seperti Itachi."
Deg.
Mikoto memeluk anak bungsunya, alisnya mengernyit marah pada suaminya. Tapi yang Sasuke bisa lihat hanya wajah kecewa ayahnya padanya. Seolah…
"…kau seperti bukan Uchiha saja."
…seolah dia tidak pantas menyandang nama keluarganya sendiri.
"Fugaku!" seru Mikoto marah. "berhenti terus-terusan membandingkan Itachi dengan Sasuke! Kita sudah sepakat untuk tidak mengirim Sasuke ke luar negeri-"
"-yang mana adalah keputusan yang salah. Itachi akan lulus sma di umurnya yang ke-15, dan gara-gara keputusanmu untuk menyekolahkan Sasuke di Jepang dengan mengabaikan semua kelas akselerasi yang tak ada gunanya itu, Sasuke baru akan lulus umur 17 tahun, nyaris sama seperti semua orang lainnya!"
"Lalu kenapa? Dia anak kita, bukan mesin brutal pengejar prestasi!" balas Mikoto, dia mati-matian berusaha menyekolahkan Sasuke seperti anak normal lainnya, karena ia ingin anak bungsunya itu hidup normal seperti anak lainnya. Hatinya sebagai seorang Ibu tak tahan melihat beratnya beban yang dipikul Itachi sebagai penerus perusahaan keluarga. Cukup sudah ia mengalah soal Itachi, tapi ia akan membela hak-hak Sasuke mati-matian.
Deg. Deg.
Jantung Sasuke berpacu cepat di tengah adu mulut kedua orang tuanya. Fugaku menunduk menatap anak lelaki terakhirnya. Sasuke bisa melihat dirinya di mata ayahnya. Begitu kecil. Begitu tak berarti.
"Kau seharusnya bisa seperti Itachi."
Mikoto baru akan berseru nyaring lagi, saat anak lelaki dalam pelukannya mengangguk pelan. Mikoto terdiam melihat bendera putih itu. Bagaimanapun ia berusaha melindungi Sasuke agar tidak terbebani seperti Itachi, tampaknya kasih sayangnya belum cukup untuk melindungi Sasuke dari beratnya nama Uchiha. Pelukannya pada Sasuke mengerat, Mikoto merasa gagal melindungi anak-anaknya sendiri dari rasa sakit.
Bagi Sasuke, perasaannya sudah mati saat itu juga.
.
.
"Tuan Sasuke, teman anda mencari anda lagi." Seorang pelayan paruh baya mengetuk pintu pelan. Tak ada jawaban. "dia bersikeras menemui anda, sudah seminggu…"
Sesuatu menghantam pintu, membuat pelayan itu berjengit menjauhi pintu. Ia nyaris yakin Tuan Mudanya baru saja melempar buku, seperti yang belakangan dilakukan Sasuke jika ada yang mengusiknya untuk hal remeh-temen seperti makan malam. Anak muda itu mengurung dirinya sendiri dalam kamar berhari-hari, hanya keluar tanpa bicara untuk makan dan minum. Seisi rumah dibuat bingung olehnya.
"Bilang padanya aku sibuk!" bentak Sasuke dari dalam.
"Tapi… Haruno Sakura terus menunggu semalaman dari kemarin…" pintu terbuka, pelayan itu bisa melihat separuh isi kamar yang dipenuhi buku-buku terbuka, berbagai hitungan matematis memenuhi white board di sisi meja belajar Sasuke yang dipenuhi kertas-kertas.
"Aku tidak punya waktu untuknya." Yang lebih mengejutkan pelayannya itu, Tuan Mudanya yang selalu ceria dan sempurna kini tampak lebih tua bertahun-tahun dari usia aslinya. Wajah tampannya tirus, matanya dikelilingi lingkaran hitam.
"Tuan muda-"
"Bilang padanya-"
"Apa anda baik-baik sa-"
"-aku tidak mau melihatnya lagi."
Pintu dibanting tertutup. Sasuke Uchiha officially memutus hubungannya dengan semua orang, membangun dinding tak kasat mata di balik rumus-rumus dan buku-buku pelajarannya, untuk melindungi hatinya.
Hatinya yang remuk redam karena ucapan ayahnya.
Hari itu terakhir kalinya Sakura datang ke rumah keluarga besar Uchiha, meneguk kekecewaan bahwa Tuan Mudanya mengunci diri dalam bentengnya, tanpa pernah tahu kenapa Sasuke berubah sedemikian dingin.
.
.
Sasuke menghapus memori itu bertahun-tahun lalu. Tapi sebagian dari dirinya tetap berpegang pada dinding bentengnya, melindungi mati-matian perasaan yang sudah hancur lebur. Hanya ibunya, Mikoto, yang terus-terusan ada di saat-saat terberat. Tapi bahkan ibunya pun tidak mampu menyembuhkan rasa sakit itu.
Sasuke tidak membenci keluarganya. Tidak membenci Itachi karena selalu dan akan selalu lebih baik darinya. Tidak membenci ayahnya. Sebaliknya, karena Sasuke begitu sayang pada mereka, ia mati-matian mengabaikan kesehatannya sendiri untuk jadi yang ayahnya inginkan; mesin brutal pengejar prestasi.
Hari itu, untuk pertama kalinya Sasuke menerima penghargaan untuk prestasinya dalam memenangkan lomba tingkat smp di umur 10 tahun, Fugaku Uchiha untuk pertama kalinya hadir di sekolahnya, menyempatkan diri menatap anaknya di atas podium.
Bukan tepuk tangan. Bukan penghargaan. Bukan sertifikat ataupun hadiah yang Sasuke inginkan selama ini. Hanya kehadiran ayahnya, tatapan ayahnya yang tidak sedingin dulu padanya. Hanya itu.
"Ayah bangga padamu," hanya tiga patah kata, dan luka di hati Sasuke perlahan membeku, merapatkan celah-celahnya, menjahit luka terbuka itu. Tak ada pelukan, tak ada senyuman, hanya uluran tangan.
Sasuke menjabatnya dengan canggung, dan untuk pertama kalinya mengabaikan peraturan bodoh di rumahnya. Ia melompat memeluk ayahnya di parkiran, tak peduli tatapan orang padanya. Fugaku terkejut, namun tidak menolaknya. Ditepuknya punggung Sasuke dua kali, tanda bahwa anak itu sudah harus melepaskannya.
Untuk pertama kalinya, Sasuke tahu hangatnya seorang ayah.
"Hari ini aku dan ibumu akan ke villa, jika Itachi pulang suruh langsung ke kantor."
"Nii-san pulang hari ini?" seru Sasuke tak percaya. Lengkap sudah kebahagiaannya. Fugaku mengangguk dan menyalakan mobil. Di rumah, Mikoto sudah bersiap memeluk anak lelakinya yang berkalung medali itu.
"Kau hebat, Sasuke! Malam ini Itachi pulang, dan kita akan merayakan keberhasilanmu bersama-sama."
Hari itu, tak ada satu halpun yang Sasuke tunggu selain deru mobil yang menandakan kedatangan Itachi ataupun orang tuanya.
Dan malam itu, deru mobil datang pukul 11 malam. Deru mobil yang tidak biasa. Yang membangunkan Sasuke dengan tiba-tiba. Di ujung tangga, sebelum berlari ke pintu depan, ia bisa melihat dua orang berseragam polisi bicara dengan pelayan kepala.
Tiga pasang mata menatapnya.
Dan Sasukekecil tahu kebahagiaan sudah direngut paksa dari hidupnya, hari itu juga, saat untuk pertama kalinya ia tahu seperti apa rasanya bahagia.
-.-.-.-
Besok saatnya berangkat tapi Sasuke masih belum mau bicara sepatah katapun dengan Sakura. Kemarin, setelah mereka semua bertemu di tempat yang sama, Sasuke langsung berbalik pergi tanpa meninggalkan kata-kata. Naruto yang serba bingung langsung mengejar sahabatnya, dan Hinata pamit menyusul kekasihnya. Dan sesampainya di rumah─tepat seperti tebakan Sakura─mobil sport Sasuke belum terpakir. Pria itu entah mangkir di mana lagi.
Beribu pertanyaan mendesak dalam kepala Sakura. Mengenai malam itu. Mengenai apa yang mereka lakukan, sikap-sikap Sasuke, dan misteri lain tentang pria itu. Sakura selalu merasa Sasuke seperti garis finish berjalannya. Selalu, dan akan selalu ada jarak diantara mereka.
Sakura sadar akan perasaanya pada Tuan Mudanya. Ya, Ia menyukai Sasuke. Bermimpi untuk jadi kekasihnya. Menginginkan pria itu membalas perasaannya. Namun di satu sisi, Ia senang menghabiskan waktu dengan seniornya. Setiap usaha Sasori membuatnya tertawa terasa begitu hangat dan romantis. Sakura tidak dapat membohongi sebagian dari dirinya ingin terus berada di dekat Sasori. Ingin dicintai olehnya… dan ingin mencintainya.
Pertanyaannya, seberapa besar bagian itu?
"Oi, Sakura-chan!" Naruto melambai dari ujung lapangan, membuyarkan lamunannya. "minta minum dong!"
Dengan sekali lempar, si kapten klub sepak bola Konoha High School itu menangkap botol minuman dari Sakura. Sebenarnya Sakura bukan manager klub, Hinata-lah sang manager merangkap pacar sang kapten. Tapi berhubung Hinata harus pulang cepat hari ini, jadi Sakura yang dimintai tolong untuk mengawasi latihan sebentar.
Sebentar. Ya, 'sebentar' bagi cowok-cowok yang sibuk mengejar bola itu.
Sudah dua jam Sakura duduk sambil mengerjakan tugas-tugas dan sepertinya dilatasi waktu mulai menyalahi postulat relativitas khusus Einstein. Mungkin Chronos menghentikan waktu saat pria-pria muda itu sibuk mengejar bola pejal di tengah lapangan.
"Naruto, udahan deh latihannya. Langit mendung tuh." Pemilik rambut kuning jabrik menengadah ke langit, mengonfirmasi kata-kata teman sekelasnya.
"Latihan cukup hari ini! Bubar!" dan tim junior itu pun mulai berpencar menghilang dari lapangan. Naruto mengambil tempat di samping Sakura, menggeser segala peralatan tulis dan buku-buku gadis itu.
"Oi Sakura-chan, kau ini sudah pintar, tarik nafaslah sebentar dan nikmati hidup."
"Aku menikmati hidup, Naruto." Jawab Sakura santai sambil merapikan buku-bukunya. Melihat bagaimana pandangan Naruto yang ngeri melihat buku-bukunya Sakura tergelak. "senang itu relatif. Tergantung bagaimana kau memandangnya." Naruto hanya mengangguk-angguk mendengarnya.
"Aku tak mengerti." Ujar Naruto tiba-tiba, meletakkan botol minum diantara mereka dan memandang Sakura pensaran. "kenapa sih dia? Kemarin kukejar sudah keburu masuk mobil. Telepon tidak diangkat. Hari ini bolos lagi. Habis study tur kan ada pertandingan…" tanpa bertanya pun Sakura tahu siapa subjek pembicaraan mereka.
"…entah." Sakura menatap ke lapangan yang mulai kosong. Melihat Sakura mengalihkan pandangan membuat Naruto semakin penasaran.
"Ada apa sih diantara kalian?" Sakura buru-buru menoleh pada lelaki disampingnya. Wajahnya memanas, tapi tampaknya Naruto tidak menyadari hal itu. Mata cerulean pria itu menatap Sakura lagi. "teme belum pernah bersikap seperti ini,"
Naruto bersikap seolah-olah dia mampu menemukan korelasi antara sikap aneh Sasuke dengan Sakura. Bisa gawat kalau Naruto sampai tahu ada apa diantara mereka. Jika Sasuke tidak memberitahu sahabat karibnya itu, berarti Sakura tidak punya hak untuk memberitahu apa-apa tentang mereka.
"Kenapa kau berpikir ada sesuatu diantara kami? Ngobrol saja jarang." Sakura memaksakan diri tertawa. Naruto mengernyit sebentar, berpikir. Lalu wajahnya kembali seperti biasa, mengabaikan pikiran-pikiran yang tadi sempat lewat di otak.
"Ngomong-ngomong kemarin kau dan Sasori-senpai benar-benar kencan? Wah kupikir sampai lulus nanti ketos kita itu tidak akan mengambil langkah apapun." Kontan wajah Sakura memerah.
"Jalan berdua tidak selalu kencan." Jawabnya pelan. Naruto tertawa mendengarnya.
"Oh ayolah, Sakura-chan. Semua orang tahu dia menyukaimu." Semua? Apa Sasuke juga? Sakura buru-buru menghalau pikiran yang tiba-tiba mengintervensi itu.
"Hei, Naruto…" Sakura menengadah menatap langit yang kelabu di depan mereka. "kalau kau harus memilih, lebih baik bersama orang yang kausukai atau yang menyukaimu?"
Rintik-rintik hujan mulai membasahi tanah, mengirimkan aroma debu yang tidak menggenakkan di sekeliling mereka.
"Keduanya, Sakura-chan. Aku akan berusaha untuk mendapatkan keduanya."
Hujan turun, mengaburkan panas yang sedari tadi melingkupi KHS.
-.-.-.-
I found you, something told me to stay
I gave in to selfish way
And how I miss someone to hold
When hope begins to fade…
"Hoi!" mata aquamarines sontak terbuka akibat tepukan keras di punggung si pemilik. Sasori menoleh jengkel pada pria berambut kuning panjang yang terkekeh geli padanya.
"Berhenti mengusik tidur siangku, Deidara." Geram Sasori kesal. Untuk kesekian kalinya mimpi-mimpi indahnya terancam terputus akibat ulah iseng sahabatnya itu.
"Jangan tidur sambil dengerin musik makanya, orang udah dipanggil dari tadi." Deidara menarik satu earphone dari telinga Sasori dan menempelkannya pada telinganya sendiri. "sambil dengerin lagu kaya gini pula. Terang aja ga denger."
"Berisik. Ganggu orang lain aja sana!" Sasori merebut lagi earphonenya, menghela nafas panjang. Untung jam pelajaran terakhir guru tidak ada, jadi dia masih sempat istirahat sebentar. Matanya menangkap jarum pendek jam dinding di antara whiteboard berhenti pada angka tiga. Dalam 15 menit lagi ia sudah harus sadar dari keadaan-setengah tidur-nya dan bersiap untuk rapat terakhir panitia untuk study tur besok.
Padahal dia belum tidur selama 2 hari ini.
"Terjaga selama 56 jam dengan asupan kafein berlebihan mengikis sebagian besar sisi humorismu, kawan. Loosen up a little bit, wont you? Futsal hari ini?" Deidara duduk di hadapan Sasori, menatap penuh harapan pada kawan mainnya.
Punya waktu untuk tidur saja tidak, apalagi main bola. Pikir Sasori. Tapi tatapan Deidara membuatnya luluh juga. Toh sahabat karibnya itu sama-sama menanggung beban sebagai panitia, tidak ada salahnya melemaskan otot-otot yang tegang sedari kemarin.
"Jam 5 ya." Deidara tertawa dan memukul pelan bahu Sasori.
"Nah gitu dong!"
"Sudah sana pergi. Aku mau tidur lagi." Deidara menatap sahabat berambut merahnya itu dengan raut penasaran.
"Hei, kudengar kau akhirnya berhasil mengajak anak aksel itu kencan kemarin?" pertanyaan itu sukses membuat mata Sasori terbuka lagi. Sejak pertama kali ia melabuhkan hatinya pada Sakura, sahabat karibnya sejak kecil ini hampir tahu segala yang terjadi antara dirinya dan adik kelas mereka itu.
Deidara lebih suka menyebut Sakura 'anak aksel' karena suatu alasan ia kurang menyukai anak-anak kelas akselerasi, jadi dia menyebutnya untuk sekedar mencemooh pilihan Sasori. Tapi namanya juga sahabat, Deidara tak pernah sekalipun mempertanyakan pilihan Sasori. Kalau sahabatnya itu memang suka ya sudah, asal si kepala merah itu senang dengan pilihannya.
"Dari tadi anak-anak ngomongin itu… siapa namanya? Mawar?"
"Namanya Sakura, bodoh."
"Ah ya, sejenis lah." Darimana sakura dan mawar bisa sejenis? Pikir Sasori. "lalu bagaimana? Udah jadian?"
Sasori mendengus mendengar pertanyaan itu. "kau bukan orang pertama yang bertanya padaku tentang itu hari ini. Jangankan jadian, kemarin cuma makan es krim dan dia langsung minta pulang." Jawab Sasori sedikit sinis. Mulut Deidara membentuk huruf 'o'.
"Kau apakan dia? Cewek kalau minta pulang secepat itu dalam kencan pertama pasti ada apa-apanya." Sasori memukul kepala Deidara, kesal pada pertanyaan dan asumsinya. "itai… tak perlu jahat begitu dong, Sasori!"
Gara-gara si kepala pirang ini, Sasori jadi kepikiran lagi. Normalnya sehabis jalan cewek biasanya mengirim pesan singkat atau apa, tapi Sakura tidak. Kemarin setelah ucapan Naruto yang membuat semuanya terdiam, Sasuke Uchiha berbalik pergi tanpa mengatakan apapun. Naruto bingung dan memutuskan mengejar sahabatnya itu. Suasana berubah jadi canggung. Pada akhirnya Sakura pamit pulang dan bagaimanapun Sasori menawarkan untuk mengantar, gadis itu tetap menolak. Hanya lambaian tangan dan terimakasih. Tak ada kata-kata manis. Tak ada pesan singkat.
"Sasoriiii? Kau tidur dengan mata terbuka?" sebuah tangan melambai-lambai di mukanya. Tangan penuh coretan dan gambar mulut dengan lidah menjulur di tengah telapaknya. Sasori menepis jengkel tangan Deidara dari wajahnya.
"Sudah kubilang ganggung orang lain saja sana!" Deidara terkekeh melihat reaksi kesal sahabatnya. Lagu masih mengalun di telinga Sasori, pikirannya melayang pada seseorang.
Dear God, the only thing I ask of You
Is to hold her when I'm not around
When I'm much too far away…
Sasori berharap seandainya saja dia yang duduk di kelas yang sama dengan Sakura, mungkin dia bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Sakura dengan Sasuke.
-.-.-.-
"Shikamaru?"
Si pemilik nama membuka satu matanya ogah-ogahan. Terik matahari membuatnya memicingkan mata dalam upaya membuat sosok yang berjongkok di sampingnya lebih jelas.
"Ada apa?" Shikamaru bangun dari tidur siangnya di atap sekolah. Matanya beradu pandang dengan si pemanggil.
"Sudah bel masuk." Ino menyibakkan poni pirang panjangnya, menunjukkan kedua mata biru mudanya. "habis ini ada praktikum fisika, kalau kau absen lagi bisa-bisa dikeluarkan."
Shikamaru mengeluh pelan, lupa bahwa ia nyaris tak pernah hadir dalam praktikum fisika semester ini. Kakashi-sensei sendiri acuh tak acuh pada absensi muridnya, tapi lain lagi dengan kepala sekolah Tsunade. Shikamaru tak mau lagi kena marah ibunya gara-gara Tsunade memberitahu absensinya yang nihil.
"Masa depan diraih dengan banyak cara… tapi ada tata caranya. Kau tidak bisa mengesampingkan segala hal kecil yang kauanggap tidak penting." Kata ayahnya setelah Shikamaru dimarahi habis-habisan oleh ibunya.
"Tapi mengulang hal yang sama itu membosankan, ayah. Lebih menarik jika kita mempelajari hal-hal baru, hal-hal yang lebih besar." Jawabnya bosan, memindahkan satu bidak di papan caturnya. "skak mat."
Shikaku memandangi lama-lama anak semata wayangnya itu. Ia menghela nafas panjang.
"Kau melupakan bentengku di sini." Mata hitam Shikamaru mengikuti gerakan ayahnya yang dengan mudah menggeser ratunya pergi dari arena.
"Jangan melupakan hal-hal kecil… karena semua hal-hal besar itu terdiri dari hal-hal kecil yang saling berkaitan."
"Aku tidak melupakannya." Shikamaru berkata pelan. Tangannya menggerakkan pion terlupakan mendekati raja ayahnya lagi, mengisi kekosongan yang ditinggalkan sang ratu. "tapi semua orang melupakan pion, dan segala kemungkinan-kemungkinan tak terbatas yang ada dalam dirinya."
"Adu mulut denganmu tak ada hentinya." Ayahnya berkata tegas. "kau sudah tahu semua yang bisa kuajarkan, yang kurang hanya satu."
Wajah Shikamaru terangkat untuk mendengar kata-kata ayahnya.
"Pengalaman."
Shikamaru menunduk lagi. Jika sudah bicara satu kata pamungkas ini, beribu alasan untuk mendebat ayahnya pun kandas di bibirnya. Shikamaru hanya bosan. Kesal dengan sistem yang melarang pikiran-pikiran bebas untuk maju. Berapa sering kita dipaksa untuk mempelajari hal-hal remeh temeh yang kita benci, padahal kita dapat menghabiskan waktu melakukan hal yang kita sukai, demi kemajuan ilmu pengetahuan?
Toh niatnya baik, cara-caranya baik. Shikamaru tidak merasa merugikan siapapun dengan sikap malasnya itu. Dia tidak masuk sehari dua hari, tidak mengerjakan pr dan ulangan, tidak aka nada yang terluka. Sekolah hanya instansi formal yang mengeluarkan ijazahnya.
Ya, hanya itu. Sekian tahun mengenyam segala kebosanan hanya untuk selembar kertas.
"Kau tahu bagaimana membangun rumah ini?"
"Fondasi. Rangka beton. Semen. Batu bata." Jawabnya asal. Dia tidak tertarik sama sekali dalam hal bangun-membangun.
"Ya, fondasi adalah landasan pertamanya. Kau menguasai hampir semua hal yang diperlukan seseorang untuk bertahan hidup." Shikaku membereskan papan catur mereka, memasukkan semua bidak-bidak analogi dalam kotaknya. "apa yang terjadi jika satu bata saja hilang?"
"Rumah ini akan tetap berdiri," jawab Shikamaru pendek.
"Benar. Satu atau dua tidak akan banyak membuat perbedaan. Tapi bagaimana jika hilangnya satu bata itu terjadi terus-menerus? Apa rumah ini akan tetap berdiri?"
"Runtuh. Aku mengerti maksud ayah, tapi aku tidak akan membiarkan batu-batu bata itu hilang sampai banyak. Aku akan menambalnya suatu saat nanti, tapi tidak sekarang." Sergahnya.
"Kau tahu kenapa aku membicarakan fondasi?"
"Karena itu landasan."
"Ya, dan itu tidak kasat mata. Satu dua bata di dinding hilang tentu kita sadar. Tapi satu dua bata hilang di fondasi… entah karena kelalaian kita atau karna perbuatan alam seperti akar yang menembusnya atau apa, kita tidak akan sadar."
Keduanya terdiam. Shikamaru memandangi serambi rumahnya, menatap jauh ke atas langit dimana awan-awan bergerak bebas tanpa tuntutan untuk peduli kemana mereka pergi.
Shikamaru menutup matanya, menoleh kembali pada ayahnya.
"Menurut ayah… sudah berapa banyak bata yang kuhilangkan?"
Shikaku tidak menjawabnya.
Shikamaru menghela nafas lagi, berdiri dari posisinya. Ino bergeser ke samping, mengamati pria itu menepuk-nepuk debu yang menempel di seragamnya gara-gara tidur di lantai.
"Ayo ke kelas." Ujarnya menatap Ino. Gadis berambut pirang itu tersenyum membalas ajakannya, dan mengikutinya berjalan ke pintu.
Batu-batu fondasi yang hilang itu tidak akan kembali dengan sendirinya. Harus ada usaha yang mengikuti. Bahkan dengan idealisme masa remajanya, Shikamaru harus setuju dengan ungkapan ayahnya itu. Matanya menatap punggung Ino di depannya, rambut pirang panjang gadis itu berayun seiring dengan gerakan tubuhnya.
Mungkin, sekolah bukan hanya instansi formal yang membosankan. Mungkin seseorang dituntut untuk berdamai sekian tahun dengan kebosanan… untuk belajar tentang kehidupan.
-.-.-.-
Sakura masih mengantuk saat Ino menubruknya pagi ini hingga nyaris terjatuh.
"Ino, apa-apaan sih?! Apa kau tidak bisa menyapa dengan lebih lembut?" gerutu Sakura kesal, setengah bersyukur karena jika temannya itu tidak menahannya mungkin sekarang ia sudah merasakan 'lembut'nya konblok.
"Hehehe, maaf, habisnya aku semangat sekali ikut study tur." Sakura mengenyit, mengirim pandangan bertanya pada sahabatnya. "oh, kau tidak tahu? Tempat duduknya diundi… dan aku baru menarik undian. Tebak siapa teman sebangkuku?"
"Uhm… Hinata?" jawab Sakura asal. Padahal Hinata berada di kelas aksel yang satunya. Dan seharusnya bis dibagi per kelas.
"Ck, Naruto berhasil menukar dengan anak kelas sebelah dan Hinata duduk di sampingnya. Tebak lagi!" Ino memutar mata bosan.
"Siapa? Kau sedang dekat dengan cowok lain?" Tanya Sakura penasaran. Wajah Ino berubah jadi merah, namun senyum tak hilang dari pemilik mata baby blue itu.
"Psst, ini rahasia ya…" Ino mengulurkan jari kelingkingnya yang disambut Sakura, cara mereka sejak kecil saling berbagi. "…aku duduk dengan Shika!"
Mata Sakura mengerjap beberapa kali. "Shika… Shikamaru Nara? Si jenius itu? Kupikir kau selalu mengeluhkan kemalasannya dalam praktek biologi kalian-" Ino melambaikan tangan menyetop kalimat Sakura.
"Itu masa lalu. Aku baru sadar ternyata dia keren juga." Dunia benar-benar sudah terbalik. Pikir Sakura. Kalau Ino yang serba complicated bisa suka dengan pria sesederhana Shikamaru, jangan-jangan Karin akan berubah jadi malaikat yang membagikan uang?
"Kau sendiri sudah ambil undian belum?" Tanya Ino. Sakura menggeleng.
"Aku panitia, duduk di bus panitia." Kali ini giliran alis Ino yang naik.
"Kau bolos rapat ya kemarin? Karin menghimbau semua disamaratakan, tidak ada bus khusus panitia supaya kita lebih dekat dengan teman sekelas. Jadi ya kau akan duduk dengan anak kelas kita."
Sakura mengambil langkah seribu ke bus panitia seusai mendengar penjelasan itu dan menemukan Karin duduk dengan manis di kursi paling depan. Kuku-kuku panjang berkuteks merah menyala tersampir rapi di pangkuan si mata empat. Gadis itu sama sekali tak terkejut melihat kedatangan Sakura, bahwa mungkin ia menunggunya.
"Ohayou, Sakura."
"Kenapa-"
"Salah sendiri tidak ikut rapat."
"Tapi aku-"
"Oh, aku lupa kau sibuk sebagai pembantu." Karin mendesiskan kalimat terakhirnya, menyamarkan kata itu. "nah, tapi itu sudah jadi keputusan bersama. Sekarang pergilah, kau menganggu pemandangan."
Sakura menggertakkan gigi kesal. Padahal ia sudah membayangkan perjalanan di samping Sasori bisa melenyapkan pikiran tentang Sasuke, sekarang ia harus puas satu bis dengan si rambut raven itu. Ia hanya bisa berharap Sasuke terlalu angkuh untuk ikut study tur dengan anak-anak sekolah yang dianggapnya remeh.
"Sakura, undian." Hinata menyodorkan kotak yang berisi kertas-kertas gulung, disampingnya Naruto melambai sambil menyeringai senang. Sakura menghela nafas, betapa senangnya kedua sahabatnya itu, Ino dan Naruto, bisa duduk di samping orang yang mereka suka. Karena jelas Sakura tak bisa tukar tempat dengan senior, entah apa tanggapan mereka jika Sakura terang-terangan ingin duduk dengan Sasori.
Lagipula Sasori sekelas dengan Karin. Sudah cukup Sakura berurusan dengan medusa berambut merah itu.
Tangan Sakura membuka perlahan kertasnya. Hanya ada nomor bangku. Perlahan Sakura menyeret tasnya ke bangku belakang. Ia sudah melewati beberapa teman yang cukup dekat dengannya di kelas. Beberapa bangku di depan masih kosong. Semoga saja Uchiha itu duduk di bangku-bangku kosong yang dilewatinya…
Sakura berhenti di ujung bis. Hidup punya cara yang lucu untuk bersembunyi di belakangmu dan mengagetkanmu, seperti Hades yang bertanya pada orang hidup yang muncul di hadapannya, di kerajaan orang-orang mati miliknya;
"…apa yang kau lakukan di sini?"
Tenggorokan Sakura tercekat, ia memaksakan diri menelan ludah memandang teman sebangkunya selama perjalanan. Uchiha Sasuke balik menatapnya dengan pandangan yang tak dapat diartikan.
-.-.-.-
Chap depan akan full study tur mereka, apa yang akan terjadi pada mereka semua? Chap ini full flashback Sasuke, utk menjelaskan bahwa Sasuke punya hak untuk jadi menyebalkan begitu karena masa kecilnya yang berat.
Maaf ya chapter ini bitter... Authornya lagi down -_- *pray for a better tomorrow* *menumpuk sisa-sisa semangat yang tersapu hujan*
Review...? #kasihaniauthor
Ayo review utk yang mau sasusaku momen atau sasosaku momen :)
Terimakasih untuk semua yang sudah baca dan review (^_^)b
sasusaku kira : Sasuke bakal 'panas' kok di chapter selanjutnya :)
mimia : chapter depan ya, kita eksplore apa yang berlangsung di balik rambut pantat ayamnya itu ;)
hankira : siiip, chap depan ya hehe
QRen : that's the thing about highschool, kan? Drama everywhere ;)
Rinsakurauchi : sebenernya ga rumit kok, cuma nunjukin sisi-sisi lain dari karakter di sini. Everyone struggle in highshcool, everyone fight for their own happiness.
Koibito chrry : nah, udah kejawab kan? Hehe di sini memang belum diceritain gimana perasaan Sasuke saat ngeliat Sakura sama Sasori, tunggu chapter depan ya :)
Guest : loh kenapa? Soalnya shika itu tokoh yang menarik sih... dia mirip sama temen saya yang idealismenya tinggi, baru kelas 2 sma udh dapet fullbright shcolarship di pitssburgh :)
my : *author gamang* oke, scene romantisnya chap depan ya hehe
stachan : sudah update \(^o^)/
Guest : sudaaah ^^
Sakusasu 4ever : *evil smirk* khu khu khu chap depan bikin cliffhanger lagi ah biar penasaran...
feraz : chap depan ada sasusaku momen ya kok :)
707rs : waduh? Hahaha akan dicoba
Shich Hzr : hahaha pertanyaan saya, kalau Shich suruh milih mending sama orang yang disukai atau yang menyukai kita? That's what happen to most of the girls in highschool :) ngomong-ngomong ga usah pake suffix –san kok, saya (mungkin) seumuran dengan anda... hehe
puihyuuchan : maaf ya, authornya masih baru nulis yg begini T_T ok, terimakasih masukannya! :)
...
Gloom, they will come. But I know the sun will shine again.
Author yang lagi suntuk,
Phylaphy.
