Kapan terakhir kali aku menangis?

Potongan-potongan masa lalu langsung berseliweran, satu persatu seakan diputar kembali di hadapanku.

Dan tiba-tiba saja satu tepukan di bahu menyadarkanku.

Mengembalikanku pada kenyataan.

Kenyataan yang pahit.

"Rivaille."

Aku tidak pernah berpikir dialah yang datang.

.

.

.

.

.

Secret.

SnK © Hajime Isayama

Genre : Romance/Drama

Saya jelaskan lagi, pairing akan muncul seiring berjalannya cerita. Janji :'3

Dan lagi, ini bukan yaoi.

Pairing : Levi x Petra

Warning! : AU, OOC, Typo (?), dan mungkin banyak kesalahan.


Aku tidak bersuara, apalagi berbalik badan.

Aku takut bersuara, takut jika ia mengetahuinya, tahu kalau aku menangis.

Kapan terakhir kali aku menangis? Ck. Seharusnya aku menertawakan diri sendiri sekarang.

Meski tak kupungkiri, bulir-bulir air mata mengalir begitu saja tak tertahankan. Dan aku masih bertahan dengan posisiku sekarang. Biarlah langit biru di atas sana membisu menyaksikan manik hitam ini berurai air mata.

Cukup langit yang tahu.

"Aku tahu."

'Eh? Apa katanya?'

Posisinya kini berpindah di sampingku. "Dari dulu kau selalu begitu. Menangis tanpa isakan." ia menoleh padaku, menampilkan senyum cerahnya, "Bagaimana kau melakukannya?" entah pertanyaannya membutuhkan jawaban atau tidak.

"Rivaille, aku sudah lima tahun tinggal bersamamu. Jadi-

"Kau tahu apa, Petra?" aku langsung menyela perkataannya. Namun bukan nada tegas yang keluar dari mulutku.

Mata karamelnya menatapku. Menyelami manik hitam yang kini kosong, tidak berarti apa-apa.

Tak lama kemudian, ia langsung menunduk. "Kau benar, aku tidak tahu apa-apa."

Aku tidak mengerti, sebenarnya apa tujuannya datang kesini? Ingin mengolokku seperti yang lain, mendukungku atau- menemaniku? Ah, untuk yang terakhir tidak mungkin. 'Memangnya siapa aku?' aku benar-benar ingin menertawai diri sendiri.

"Tapi.. salahkah aku menemanimu?"

'Eh?'

Aku yakin, pendengaranku masih normal.

Perlahan kuhapus sisa air mata di pelupuk mata, "Apa katamu?" tanyaku memastikan. Tidak langsung menjawab, gadis itu malah melemparkan pandangannya kebawah, dimana bangunan-bangunan tampak seperti miniatur kecil dari atas sini. Dan jujur, itu terlihat begitu indah. Bukan, bukan bangunan-bangunan yang kumaksud. Aku suka bagaimana karamel itu terpaku.

Suka? Jangan kau bayangkan itu adalah definisi 'cinta' dalam kamusku, bukan, tentu bukan. Jika memang sedang mengagumi seseorang dalam artian 'sebenarnya', maka aku akan jujur mengatakan 'Aku mencintainya.' Kau tahu sendiri seberapa frontal diriku. Begitu pula aku menceritakan sosok Eren dalam buku cokelatku.

Ah, mengingat hal itu membuat dadaku terasa sesak. Saat ini, cerita itu pasti sudah tersebar. Tidak ada lagi cerita aku mengagumi seseorang 'diam-diam'.

"Aku akan disini." ujar Petra tiba-tiba.

"Hn." biarlah, ia akan sedikit membantuku menahan air mata yang sengaja tak kubebaskan.

"Kalau kau pulang, aku ikut."

Keningku langsut berkerut mendengarnya, "Bodoh." beberapa saat kemudian wajahku langsung mengeras, "Kau pikir dengan seperti itu aku akan baik-baik saja? Setelah namaku tercemari, mereka tak akan berhenti mencemooh. Kau akan terkena imbasnya. Bisa jadi besok pagi kau dibilang sama denganku, kau akan dikabarkan menyukai sejenis, kau mau, hah?!"

For your info, itu kalimat terpanjang pertama yang pernah ku katakan selama lima tahun tinggal bersamanya.

Matanya mengerjap-erjap menatapku, seakan bertanya 'Sudah selesai bicaranya?'

Aku langsung memalingkan muka, mendengus keras, sengaja kukeraskan.

"Tak apa, biarkan saja." ujarnya kemudian, begitu enteng mengatakannya.

"Kau pikir-

"Sshh." jari telunjuknya ditempelkan di bibir, mengisyaratkanku untuk diam.

"Seharusnya itulah yang kau katakan." ujarnya lagi.

Aku hanya diam menatapnya, 'Apa?'

"Rivaille yang ku kenal bukan orang yang peduli. Bisa jadi kau tidak pernah tau siapa saja teman sekelasmu, siapa saja yang pernah mengajarmu, atau bahkan nama pelayan yang bekerja melayani keluarga kita—uhm, maksudku keluarga- "

Dia berdehem sekali lagi, sedikit salah tingkah. Ketika hendak membetulkan kalimatnya, aku sudah acuh tidak peduli.

"Um, ya! Seperti itu. Harusnya begitu." karamel itu langsung berbinar-binar, "Ekspresi itu yang harusnya kau tunjukkan pada mereka. Kau tidak pernah peduli dengan tanggapan orang lain terhadapmu, kau harusnya bersikap acuh seperti tadi, kau biasanya- bla bla bla.

Kau tahu? Aku belum pernah bertemu dengan gadis yang selalu ceria, heboh, hyperaktif, eksentrik, dengan segala keanehannya selain yang bernama Hanji. Namun sepertinya, aku baru saja melihat yang mendekati ciri-ciri seperti diatas.

Sejenis? 11-12? Entah apalah itu kau menyebutnya.

Belum sepuluh menit dia disini, aku sudah tidak tahan mendengar ocehannya. Ingin rasanya aku menyumpal mulut kecilnya itu. Dan tanpa sadar, tangan kananku langsung melakukannya. Kedua mataku menatapnya datar berharap ia mengerti arti tatapanku. 'Diam.' begitulah sekiranya arti tatapanku.

"Hmpph-" bekapanku berhasil dilepas, "Apa-apaan kau ini?- bla bla bla.

Apa semua gadis seperti ini? Jika benar, aku tidak akan menyesali kekagumanku pada siswa kelas 1 bermanik hijau itu.

"Ck. Mengganggu." tepat setelah aku berujar, manik karamel itu melebar.

Entah kenapa dia langsung menunduk, "Meng- ganggu, ya?" dilihat dari ekspresi wajahnya,

ia menyesal?

"Aku hanya ingin membantumu." warna karamel itu tidak dapat kulihat di saat wajahnya tertunduk.

"Membantu?" aku sedikit menunduk untuk menatap wajahnya, dan sedetik kemudian dia membalas tatapanku seraya mengangguk pelan.

"Mungkin kita bisa berpura-pura pacaran untuk mengabarkan apa yang ada di buku tidak benar, mengatakan pada mereka semua itu bukan tulisanku, atau bisa jadi hanya karang-karanganku saja, aku tidak gay, dan semua akan percaya bahwa kita saling mencintai. Begitu?" jelasku panjang lebar.

Mungkin dia sedang mencatat dalam otaknya kalimat panjangku yang kedua.

Atau malah memikirkan yang lain?

"Begitukah?" tanyanya padaku, dan sayangnya aku bukan orang yang dengan mudah mengangguk atau menggeleng sebagai jawaban.

"Kalau begitu, baiklah. Kita lakukan." ujarnya lagi. Sangat yakin.

Dia menganggap kalimatku tadi serius? Oh kau harus tau, aku mulai tidak bisa mengerti bagaimana pemikiran wanita. Dan sejak kapan pula aku mampu memahami pemikiran mereka? Ck. Yang benar saja, mustahil untuk spesies semacam diriku. Dan kau pasti setuju dengan kalimatku yang terakhir.

Sebenarnya bisa saja aku setuju dan kami berpura-pura pacaran, toh itu akan menguntungkan.

Menguntungkan diriku tentunya.

Namun entah kenapa, aku takut kalau harus berpura-pura. Lagipula, aku sama sekali tidak tertarik akan hal ini.

Merasa setuju dengan pemikiranku, aku kembali angkat suara, "Kau tahu? Aku sedang tidak ingin bermain-main."

"E-eh? Aku- aku serius." tak terima dianggap sedang main-main.

"Ck. Sudahlah." pembicaraan ini sama sekali tidak bermanfaat, tidak ada untungnya aku membuang waktu.

"H-hey, Levi."

Brak! Pintu besi itu kututup.

Lebih tepatnya, kubanting.

.

.

.

.

.

"Erwin?" aku menatap heran temanku yang sedang duduk di tempat yang- bukan seharusnya?

Oh mungkin itu bahasa yang terlalu kasar. Erwin temanku ini sedang duduk di tempat yang tidak biasanya. Begitulah maksudku.

Anehnya, dia sama sekali tidak mengalihkan tatapan dari kertas-kertas di bawah tangannya. Hari ini memang jadwal kami mengecek segala pelanggaran.

Daripada harus bertanya-tanya, aku memilih langsung menuju tempatku, tempat yang tersisa.

"Tempatku." aku langsung menoleh ke sumber suara, kemudian menaikkan satu alisku.

"Itu tempatku." tatapannya masih belum teralihkan.

"Oh? Kalau begitu, tempat yang kau duduki-

"Tempatku." manik biru itu akhirnya menatap manik hitamku. Tatapannya seperti- menantang?

Tatapan itu bukan tatapan yang biasa ku lihat.

Belum sempat aku berkata, suaranya kembali terdengar, "Dari awal kau langkahkan kakimu masuk kesini, bahkan lantai keramik yang kau pijaki, itu semua tempatku."

Aku menahan napas, berusaha sebisanya agar wajahku terlihat datar. Mulai mengerti kemana arah pembicaraan.

"Oh ayolah, aku tahu kau paham maksudku, bukan? Kau turun pangkat, jadi mulai sekarang tempatmu kuambil alih. Dan besok- oh maaf, kau bukan sekedar turun pangkat, maaf sudah memberi sedikit harapan padamu, aku tidak bermaksud begitu, teman. Kau kehilangan jabatanmu, kabar baiknya, besok kita akan melantik wakil ketua yang baru, jadi kau tidak perlu repot-repot untuk memikirkan tugas kita. Bonus kabar bahagia, akulah yang mengusulkan pelantikan itu. Aku tidak ingin merepotkanmu, huh? Berterima kasihlah padaku, Rivaille." kemudian tersenyum cerah padaku.

Namun bagiku, manik biru itu seakan lautan dengan gelombang besar yang siap menelanku kapan saja.

Kau menganggap istilahku berlebihan? Tidak menurutku. Itu benar sebenar-benarnya. Kau pernah mendengar fakta bahwa orang yang sering sabar jika marah akan 'sangat' mengerikan? Begitu pula dengan spesies di depanku. Kami berbeda spesies, tentu saja.

Aku spesies yang—terserah bagaimana pendapat kalian tentangku—. Sementara dia spesies berlawanan yang selalu bersikap dan bertutur kata lemah lembut sesuai etika.

Itulah yang kubicarakan tadi. Kau paham maksudku?

Kalau dia yang notabene selalu berkata lembut, maka ketika bersikap frontal seperti tadi, begitulah kalimat yang meluncur dari mulutnya. Keluar begitu saja. Bahkan sang empunya mulut tidak akan berpikir apakah itu akan menyakiti lawan bicara atau tidak.

Toh kalaupun sadar, ia tak akan peduli.

Baginya aku adalah spesies yang berlawanan, bertentangan bahkan.

Tak lebih tak kurang.

Bukan teman, bukan kawan.

.

.

.

Lalu siapa aku baginya?

Bagi mereka?

.

.

.

Homo menjijikkan.

Begitu terus suara itu terngiang-ngiang di telinga.

.

.

.

Petra's POV.

"Kau ingat tugasmu, kan?"

"Haha, tentu." aku berujar seraya mengambil kotak penuh kunci.

"Kau yang terbaik, Petra."

Aku hanya tersenyum membalasnya, kemudian berlalu pergi.

.

.

.

"Kelas 1, semuanya sudah. Kelas 2, kelas B masih ada rapat kelas. Kelas C-" aku bergumam sendiri sambil menghitung kunci yang harus kupastikan lengkap ketika mengembalikannya nanti.

Sebetulnya ini bukan tugasku, aku sama sekali tidak ikut andil dalam tugas ini. Tapi apa boleh buat? Mina yang bertugas sedang sakit, jadilah aku dimintai tolong untuk memastikan seluruh kelas terkunci. Alasan mereka entah benar entah tidak, 'katanya' semua anggota bagian keamanan sedang sibuk.

Tak apalah, berbuat baik itu menyenangkan. Begitu yang sering ibuku katakan.

Aku tersenyum dan kembali berjalan menelusuri koridor kelas A. ''Dua kelas lagi, selesai. Ini mudah.'' Diam-diam aku bersyukur tidak perlu melangkah lebih jauh ke koridor kelas 3, karena mereka semua sedang ada jam tambahan.

Aku menghentikan gerakan tanganku yang akan menutup pintu ketika mataku menangkap sosok yang sedang duduk di pinggir jendela. 'Sedang apa dia?'

Aku melangkahkan kakiku hati-hati, berusaha tidak membunyikan langkah kaki. Niat awalku, ketika sudah sampai di belakangnya akan menepuk bahunya tiba-tiba agar dia terkejut. Namun ketika menyadari tatapannya begitu sendu, aku mengurungkan niat. Memilih membiarkan kaki ini melangkah maju, kemudian duduk di kursi tepat di sampingnya.

"Levi?" ujarku pelan.

Ia tak bergeming. Matanya menatap jauh keluar jendela.

"Kau masih marah padaku, ya?"

"..."

'Dia mendengarku tidak, sih?' mulai kesal, aku menyentuh lengannya.

"Rivaille."

"Hn." suaranya begitu pelan, lebih pelan dari suaraku tadi.

"Kau ini orangnya dingin, ya?" aku menggerutu sendiri, kesal tidak dipedulikan. Kemudian memilih posisi duduk dengan kedua tangan menopang dagu.

"Petra.."

Barusan itu, dia memanggilku kan?

Belum sempat aku mengubah posisi, bahu kananku terasa lebih berat. Beberapa helai rambut berwarna hitam menyentuh pipiku.

"Eh?" aku semakin bingung ketika merasa kain seragam bagian bahu mulai basah, "Levi." aku menegakkan posisi duduk dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan.

Aku terperangah.

Sungguh, aku tidak tahan melihatnya. Langsung saja kupeluk erat tubuhnya. Berusaha menenangkan walau hanya lewat bisikan.

"Menangislah. Tak apa." suaraku bergetar membisikkannya.

Aku merasa bahuku semakin basah. Tubuhnya yang kudekap terasa bergetar, bahkan terdengar isakan kecil dalam tangisnya.

'Sebegitu berat kah rasanya?' aku bertanya-tanya dalam hati. Kugigit bibir bawahku, 'Apa yang harus kulakukan?'

Tiba-tiba saja ia menjauh, melepas pelukanku. "Maaf." tangannya berusaha menghapus air mata yang terus mengalir, "Bajumu- basah."

Melihatnya, aku langsung merogoh saku.

Kemudian sadar bahwa hari ini lupa membawa tisu.

Dan tiba-tiba saja tanpa perintah, kedua tanganku terulur menghapus air matanya. "Daijobou." aku berusaha menampilkan senyum cerah.

"Hn." ia masih menggigit bibir, tubuhnya masih bergetar.

Berusaha menyembunyikan isakan.

Aku mengusap pipinya, berusaha meyakinkan 'Semua akan baik-baik saja.' karena justru kalimat itulah yang sulit sekali diucapkan.

"Kenapa?"

Aku menatap dirinya yang mulai menunduk.

"Aku tak pernah memilih- aku tak pernah memilih."

Aku masih terdiam menatapnya, namun tanganku meraih telapak tangannya untuk kugenggam erat. Memastikan bahwa 'Kau tidak sendiri.'

Entahlah, rasanya menyedihkan melihat orang lain sedang bersedih. Kau pernah merasakannya? Seakan-akan ingin sekali ku ambil rasa sakit itu, agar orang lain tak merasakannya sendirian.

.

.

.

Rivaille's POV.

Aku masih menunduk. "Kenapa harus begini?" mungkin suaraku terdengar lirih.

Tanganku membalas genggaman tangannya, "Kau tahu? Masa laluku-

"Ssshh." kepalanya menggeleng pelan, "Jangan kau ceritakan jika hanya untuk mengundang air matamu yang lain."

"Tapi- aku tidak mau begini. Aku tidak pernah memilih menyukai dia, Petra!" tanpa sadar aku membentaknya.

"Levi? Ssh.." dia langsung menoleh ke sekitar, takut-takut kalau ada orang lain selain kami.

Kemudian karamelnya kembali menatapku. "Bagaimana kalau kita pulang? Kau bisa bercerita padaku semuanya." senyum menghiasi wajahnya.

Aku suka bagaimana karamel itu menatapku.

Aku suka.

Aku merindukan tatapan itu.

Kau tau kenapa aku selalu mengingat betul warna mata seseorang? Karena yang paling kuperhatikan adalah tatapan mereka, aku selalu mencari tatapan manik hitam yang sama sepertiku. Tatapan ibuku.

Aku selalu merindukannya.

Tak mudah bagiku untuk percaya pada seseorang, namun jika tatapan mereka mampu menghanyutkanku, membuatku menyelami warna kedua bola mata mereka, aku langsung percaya.

Siapapun itu.

"Petra?" ujarku tiba-tiba.

"Hm?"

"Kau bisa membantuku?"

Tak sampai tiga detik ia langsung mengangguk.

"Kita pakai ide tadi."

"Ide- apa?"

"Ide tadi pagi." ujarku yakin. Sangat yakin.

.

.

.

.

.

TBC.

Hore, selesai juga.. agak maksa sebetulnya :'3

Ini apdetan terakhir di bulan ini, entah kapan saya bisa lanjutin..

Maaf kalo makin kesini alurnya membingungkan.. Saya usahain yang terbaik, ahaha.. /apaansi/

Okesip. Mind to review? Kritik dan saran berguna untuk ide-ide saya di dalam cerita.