"And you think that love is only for the lucky and the strong?"
-Bette Midler, The Rose
-.-.-.-
TUJUH
Ini ga lucu.
Itu kalimat pertama yang terlintas di kepala Sasuke saat mendongak dari tabletnya yang tengah mengirimkan sinyal-sinyal magnetik yang berubah jadi alunan lagu di kedua pasang telinganya.
Si pemilik mata emerald itu tidak menjawab pertanyaannya, kedua mata besar yang terus menerus menghantui Sasuke itu tidak sekalipun mengalihkan pandangannya. Demi Neptunus, tak ada satu halpun yang Sasuke inginkan selain menarik gadis itu ke pangkuannya dan menciumnya saat itu juga.
Takdir benar-benar punya cara yang lucu untuk mengagetkan kita. Pikir pemuda berambut raven itu.
"Tempat dudukku di sini," Sakura menyodorkan kertas bertuliskan angka. "jadi… bisa minggir sebentar? Aku mau duduk."
"Duduklah." Sakura memandangnya seolah Sasuke baru menumbuhkan satu kepala tambahan. Pasalnya pria itu tidak bergeser sesenti pun dari tempatnya yang notabene menghalangi Sakura untuk duduk.
"Apa kita akan memulai argumentasi lain di sini, Sasuke?"
"Kalau tidak suka pindah tempat sana." Sakura mengirim pandangan kesal pada Sasuke, melempar tasnya dengan asal ke samping Sasuke.
"Kalau kau tidak bergeser sekarang, kupanggil Kurenai-sensei." Sasuke berdecak kesal, akhirnya berdiri dan membiarkan Sakura duduk di samping jendela. Sejak kapan aku jadi lemah menghadapinya begini? Sasuke duduk kembali, mengeraskan volume di kedua earphonenya, mengunci diri dari dunia. Kadang, lagu yang kita suka menggambarkan lebih jelas tentang kita, lirik-lirik itu menyampaikan kata-kata yang tak bisa kita katakan.
Di lain pihak, Sakura tidak tahu sama sekali kalau duduk di sampingnya saja sudah membuat pikiran Sasuke terinvasi olehnya. Sasuke menutup matanya, memfokuskan diri pada lagu-lagu yang berputar secara random, berusaha mengabaikan bahwa ia sedang duduk di samping gadis yang belakang ini jadi objek pikirannya. Begitu dekat, hingga Sasuke bisa merasakan friksi antara baju mereka seakan mengaktifkan kepekaan semua inderanya beberapa derajat. Mati-matian ia berusaha menghindari gadis itu selama ini. Tapi selalu saja ada benang tak kasat mata yang terus-terusan mengikatnya.
Rasanya mereka belum pernah sedekat ini, kecuali pada saat itu.
Sasuke membiarkan sekali lagi pikiran nakalnya kembali pada malam itu. Sial. Pikirnya. Kenapa tubuhku rasanya jadi ga keruan begini? Ada keinginan untuk terus menoleh pada gadis disebelahnya, mencuri pandang padanya, menatapnya lama-lama… Cukup. Cukup dengan bisa membayangkannya saja.
Lagu yang mengalun di telinganya mengiringi pikirannya memainkan fragmen wajah Sakura. Sakura yang serius mengerjakan tugas-tugas di kelas. Sakura yang tertawa saat bicara dengan Ino. Sakura yang tertidur di meja belajar dengan buku yang berserakan. Sakura yang menatapnya dengan kedua mata hijaunya saat ia setengah sadar dari mabuknya…
Tell me I'm not on my own
Tell me I wont be alone
Tell me what I'm feeling isnt some mistake
Gadis bodoh itu tak pernah tahu bahwa dialah yang menghantui pikiran-pikiran Sasuke saat mabuk. Orang bilang, in wine lies truth. Sasuke berulang kali memaksa dirinya menghentikan menghubungi Sakura saat mabuk. Tapi kenapa saat dirinya paling lemah dan tak mampu berpikir logis, Sakura lah yang diinginkannya? Saat dunia berputar, saat semua orang berubah jadi pusaran warna… Ia ingin bersandar pada seseorang. Sasuke mulai menyadari ada yang salah sejak pertama kalinya ia bersandar pada gadis itu saat mabuk.
Cause if anyone can make me fall in love…
Sasuke membuka matanya tiba-tiba, tersadar dari lamunannya. Ia menoleh pada sesuatu yang menyentuh bahunya. Kepala bersurai merah jambu terkulai di bahunya. Mata emerald gadis itu tertutup. Bibirnya terbuka sedikit. Wajahnya pias, tampaknya sudah cukup lama gadis itu tertidur.
Demi bunga Sakura, Sasuke belum pernah melihat sesuatu sedemikian cantik.
…you can
Salah. Ini salah. Sesuatu terasa tidak berjalan seperti biasanya. Semuanya. Wajahnya memanas, jantungnya tidak berdetak dengan irama yang biasa. Tangannya bergerak tanpa kendalinya, merengkuh bahu Sakura agar merapat padanya. Kepala gadis itu terkulai mengikuti arah dorongan Sasuke. Tanpa sadar tangan Sasuke sudah berada di kepala Sakura, merasakan lembutnya rambut gadis itu.
Baby when you look at me
Tell me what do you think
Are these the eyes of someone you could love?
Jantung Sasuke berdetak makin kencang saat ia menatap wajah Sakura baik-baik. Dahinya tidak terlalu lebar seperti kata orang. Rambutnya memang berwarna tidak lazim, tapi itu cocok untuknya. Bulu matanya panjang, kontras dengan kulitnya yang putih.
Save me from myself, you can
And it's you and noone else
Tak pernah sekalipun ia merasakan kedekatan yang bukan intimasi dengan seorang perempuan. Perempuan di bar tempatnya minum hanya cukup baik untuk disentuh. Perempuan di KHS yang mengejar-ngejarnya semua menyebalkan, terutama Karin. Memang ia dan Sakura serumah, tapi bertukar sapa saja jarang. Interaksi yang paling sering mereka lakukan hanya perintah darinya dan beberapa hari ini, keluhan Sakura soal hubungan mereka selama enam tahun yang stagnan.
Kenapa baru sekarang ia sadar betapa dirinya begitu menginginkan kedekatan ini? Begitu nyaman. Menimbulkan perasaan aneh yang… menyenangkan.
Only you can take me sailing in your deepest eyes
Jari Sasuke mengusap lembut kedua mata Sakura. Matanya yang sehijau rumput di musim semi. Bening, dan tak pernah berbohong. Saat mata itu menatapnya, Sasuke merasa sebagian otaknya tak berfungsi lagi dengan baik. Ia ingin mata itu jadi yang pertama dilihatnya saat memulai dan mengakhiri hari. Kenapa rasanya tubuhnya takluk pada gadis itu? Saat konfrontasi terakhir mereka, Sakura mampu membuatnya kehilangan kendali…
Bring me to my knees and make me cry
Dan kemarin Sasuke nyaris menenggelamkan diri dalam alkohol lagi, kalau saja Itachi tidak tiba-tiba menelepon dan menginterogasi kenapa Sakura tidak menjawab telepon. Sasuke baru ingat handphone gadis itu tenggelam di kolam beberapa hari yang lalu. Pada akhirnya seharian Sasuke menghabiskan waktu mencari handphone yang sama untuk gadis itu.
Seharian, hanya untuk mengalihkan perhatiannya dari apa yang dilihatnya siang itu. Sakura dan Sasori. Sasori mengandeng Sakura. Sasori menyentuh pipi Sakura. Sasori membuatnya tertawa… Kenapa bukan dia? Kenapa Sakura tak pernah tertawa seperti itu padanya?
Kenapa Sasuke merasakan sesuatu dalam dirinya seakan direbut darinya?
And noone ever done this
Saat itu yang Sasuke rasakan hanya keinginan besar untuk menyeret si kepala merah itu menjauh dari Sakura. Ia tak dapat memikirkan alasannya kenapa. Yang ia tahu hanya hal itu menyakitkan untuk dilihat. Dan bagi Sasuke itu sudah cukup. Seruan Naruto saat itu membawanya kembali ke bumi, dan saat matanya menatap mata Sakura, Sasuke merasakan perasaan yang tak pernah dikenalnya. Ia tak bisa berdiri diam di sana lebih lama. Ia tidak bisa menatap Sakura saat gadis itu sedang bersama pria lain…
This is where it all begins
Tapi Sakura sekarang ada di sampingnya. Sakura yang nyata, bukan hanya fragmen-fragmen kabur yang menghantui mimpinya kini ada di sampingnya. Sasuke bisa merasakan hangatnya tubuh gadis itu menyentuh bagian samping tubuhnya. Sasuke bisa menyentuh apa yang Sasori sentuh, bisa merasakan apa yang si kepala merah itu tidak bisa rasakan. Harga diri Sasuke seolah dibangun kembali dengan kenyataan bahwa ia memiliki sesuatu dari Sakura yang tak akan bisa diambil pria lain.
Bahwa Sakura miliknya.
So tell me it would never end
Sasuke menatap jauh ke pemandangan di luar jendela. Dia sudah dewasa, dia tahu betul bagaimana orang lain menyebut perasaan asing ini. Sebagaimanapun ia menolak untuk mengakui adanya rasa ini. Sasuke mengerutkan keningnya pada pemikiran pesimis bahwa perasaan ini tak mungkin diwujudkan, mengingat enam tahun yang cukup untuk membuat gadis itu tak akan pernah menyukainya. Sudah terlalu banyak luka yang dia berikan pada gadis itu. Kebersamaan mereka berdua hanya akan menyakiti satu sama lain.
Sakura mengerang dalam tidurnya, mendekatkan diri lebih dalam ke pelukan Sasuke. Sasuke menatap gadis itu dalam-dalam. Untuk sekali ini saja, Sasuke ingin melepaskan nama keluarganya, mengesampingkan semua rasa kehilangannya malam itu, melupakan enam tahun yang mereka lewati, dan merengkuh Sakura seakan semua perasaan itu mungkin diwujudkan diantara mereka. Untuk sehari saja melepaskan semua beban itu dan jujur pada dirinya sendiri.
And I cant fool myself
If anyone can make me fall in love, you can.
-.-.-.-
Penginapan Kichi, gunung Senju.
"Berhenti melipat wajahmu Sasori, kau membuat ikan enak ini terasa jadi lebih pahit." Ujar Karin pada teman sekelasnya. Sasori yang duduk di hadapannya balas menatap jengkel pada Karin. Bis mereka baru sampai, dan sambil menunggu bis lainnya para peserta dipersilahkan menikmati makan siang.
"Aku setuju, kau harus rasakan kue ini, pasti ga sedih lagi." Deidara berusaha memasukkan sepotong kue cokelat pada Sasori yang segera dielaknya.
"Kenapa sih kau ini?" Karin menaikkan satu alisnya.
"Dia sedang kesal karena ga bisa satu bis dengan Sakura." Jawab Deidara, meneruskan memakan kuenya dengan lahap. "padahal gadis itu tadinya setuju mau duduk dengannya di bis panitia."
"Jadi itu sebabnya kau kemarin tidak setuju pada usulku?" Karin meletakkan sumpitnya, tiba-tiba tertarik dengan ucapan Deidara. Sasori hanya mendengus menjawabnya. "Sakura… Sakura Haruno?"
"Memangnya ada berapa Sakura di sekolah kita?" Karin melempar pandangan 'diamlah-atau-kusumpal-mulutmu-dengan-kue' pada Deidara.
"Kau… menyukainya?" Sasori menatap Karin, lalu mengangguk pelan. Karin meremas sumpitnya, tapi kedua pria di hadapannya tidak menyadarinya.
"Kau baru tahu? Makanya jangan keseringan liburan ke luar negeri! Kemarin akhirnya Sasori berhasil mengajaknya kencan."
"Berhentilah menceritakan kisah cintaku pada semua orang yang kau temui, Deidara." Sahut Sasori kesal, menyeruput ocha-nya hingga habis. Karin menatap Sasori dan Deidara bergantian. Jadi Sasori menyukai Sakura? Dan berhasil mengajaknya kencan? Ha… ini lebih bagus lagi.
"Huh… lalu kalian sudah jadian?" Deidara tergelak mendengar pertanyaan Karin, menepuk keras bahu Sasori yang mendelik marah padanya.
"Kau dengar itu Sasori? Sudah berapa yang bertanya begitu? Hahaha. Tampaknya kencan pertama mereka tidak berakhir menyenangkan." Remasan Karin pada sumpitnya perlahan melonggar. Akan kubuat ini jadi lebih menarik. Mungkin lebih menyenangkan jika Sasori ikut dalam permainan ini…
"Oh. Baguslah. Aku takut kau sakit hati, Sasori." Deidara berhenti tergelak dan melupakan kue di depannya untuk pertama kalinya. Perhatian Sasori sepenuhnya terpusat pada Karin. Menyadari efek kalimatnya pada pria di hadapannya, Karin tersenyum licik. Jika harus memilih, siapa yang akan kau pilih, Sakura? Memilih Sasori dengan mengabaikan peristirahatan terakhir orang tuamu, atau memilih Sasuke yang berarti melukai senior yang menyayangimu?
"Maksudmu?" ujar Sasori pelan. Tiba-tiba Deidara menepuk bahunya lagi.
"Oi, itu gadis pujaanmu, bisnya baru tiba." Sontak Sasori menoleh pada segerombolan anak yang baru memasuki ruang makan. Sakura melambai pada Ino yang menghilang ke lorong lain, sementara dirinya celingukan.
"Pasti dia bingung panitia kumpul dimana. Di kelasnya panitianya cuma dia kan? Gara-gara ga ikut rapat kemarin sih." Ujar Deidara prihatin.
"Akan kutemui dia," Sasori siap beranjak tapi Karin menahan tangannya. Sasori memandang si mata empat dengan pandangan bertanya.
"Lihat." Sasori mengikuti arah pandangan Karin. Di tengah keramaian, Sakura sudah beranjak ke lorong lain saat ia nyaris terjatuh karena tersandung tangga. Sasori bergerak sesuai insting, tak peduli mereka berjarak sedemikian jauh, tapi pegangan Karin mencegahnya. Sebelum ia sempat menepis, matanya menangkap sosok yang familiar. Pemuda berambut hitam menangkap Sakura, mencegahnya terjatuh. Saat Sakura sudah bisa berdiri tegak, pemuda itu tidak melepaskan pegangannya pada Sakura. Dan Sakura tampak salah tingkah dengan itu. Mereka menghilang di lorong lainnya.
"Uhm… guys, apa itu tadi Uchiha Sasuke? Karena tidak ada cowok berambut hitam jabrik lain yang kukenal di KHS." Karin mengabaikan pertanyaan konyol Deidara.
"Kau lihat itu kan?"
"Apa maksudmu, Karin?" seru Sasori dingin. Ada sesuatu yang tidak enak pada dirinya setelah melihat kejadian tadi. Ia sering melihat Sakura berbincang dengan pria lain. Tapi dengan pria itu? Nyaris tidak pernah. Hatinya mencelos mengingat kejadian canggung kemarin.
"Oh ayolah. Kupikir semua orang juga bisa merasakan itu."
"Itu?" Deidara menaikkan satu alisnya. Karin tertawa kecil, menikmati atmosfir tegang yang menguar dari diri Sasori.
"Kalian tak tahu? Sakura suka pada Sasuke sejak dulu."
Sasori menatap tak percaya pada Karin. Sakura menyukai Sasuke?
-.-.-.-
"Terimakasih." Wajah Sakura bersemu merah. "k-kau bisa lepaskan aku."
"Berdiri saja jatuh, mana bisa dipercaya." Sahut Sasuke.
"T-tapi semua orang melihat." Sakura menunduk, menghindari tatapan murid-murid KHS yang terpusat pada tangan mereka. Sejak tadi Sasuke tidak berhenti menggandengnya sejak ia nyaris terjatuh di ruang makan.
"Biar saja." Sakura bisa merasakan wajahnya makin memanas. Tangannya mati rasa dalam genggaman Sasuke. Di depan sana, Naruto dan Hinata tengah bicara di samping pintu. Sakura berhenti mendadak, membuat Sasuke jadi terpaksa berhenti juga.
"Kenapa-"
"Lepaskan aku! Kau tidak lihat ada Naruto dan Hinata di depan?!"
"Lalu-"
"Sasuke aku serius! Kau pikir apa yang akan orang pikirkan? Kita nyaris tak pernah saling bicara, dan tiba-tiba saja kau menggandengku sepanjang jalan!" bisik Sakura dari sudut mulutnya. Sasuke menghela nafas.
"Untuk sehari saja, apa kau tidak bisa tidak memikirkan apa yang orang akan pikirkan tentangmu?"
"Ugh." Sakura menggertakan gigi kesal, memang apa yang dikatakan pria itu benar.
Tapi hari ini Sasuke benar-benar berbeda. Tadi di bis Sakura terbangun dengan kaget di bahu pria itu. Ia minta maaf tapi Sasuke tidak berkata apa-apa. Sepanjang sisa perjalanan mereka terdiam. Lalu tadi Sasuke tiba-tiba muncul entah dari mana saat ia nyaris terjatuh. Dan sekarang menggandengnya tanpa peduli apa yang orang lain pikirkan. Seakan kehadiran pria itu belum cukup untuk membuatnya gila.
"Memang kau tidak memikirkannya?" balas Sakura, kupingnya memanas mengantisipasi jawaban Sasuke.
"Aku tidak peduli apa yang orang pikirkan tentang aku." Jawab Sasuke acuh, menarik Sakura untuk terus berjalan. "mereka tidak pernah berada di posisiku, mereka tidak akan mengerti, dan mereka tidak punya hak untuk menilaiku."
Sakura terdiam, membiarkan dirinya ditarik oleh Sasuke. "Tapi… orang akan mengira ada sesuatu di antara kita."
"Lalu?" Sasuke tidak menoleh padanya. Sakura menarik tangan Sasuke berhenti sekali lagi. Sasuke menoleh pada gadis dibelakangnya.
"Lalu bagaimana denganku?"
Rasanya lagi-lagi tubuh Sasuke terbius oleh mata hijau cerah Sakura. Sakura mengigit bibirnya, tapi matanya tidak lepas dari onyx hitam Sasuke. "Jika orang mengira kita pacaran dan kau tidak peduli… lalu bagaimana denganku?" Sakura mengulangi pertanyaannya dengan suara pelan.
Sasuke nyaris bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Begitu dekat, seolah ada di samping telinganya. Rasanya ada lintasan listrik yang mengalir dari tangannya yang menggengam tangan Sakura ke kepalanya, mengacaukan sistem sarafnya.
"Aku-"
"Sakura!" Sakura menoleh, mendapati Sasori berlari kearahnya. Sontak tangannya menepis genggaman Sasuke. Dan bodohnya, Sasuke membiarkan hal itu terjadi.
"Sasori-senpai," sapa Sakura pada pemuda yang tengah mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Aku… lupa memberitahu… panitia ada briefing sebentar di front office." Mata aqumarines Sasori bertatapan dengan onyx hitam Sasuke. "sekarang."
Sakura mengangguk, memaksakan senyum kaku pada Sasuke. "sampai jumpa, Uchiha."
Sasori meletakkan tangannya di bahu Sakura dan mengajaknya pergi. Dalam diri Sasuke sesuatu berteriak untuk segera menarik tangan Sasori menjauh dari gadisnya. Tapi kenyataan bahwa Sasuke tidak punya hak untuk melarang Sasori menyentuh Sakura membuatnya hanya bisa mengepalkan tinjunya. Pemuda berambut merah itu mengirimkan satu pandangan terakhir pada Sasuke sambil tersenyum.
Sasuke tahu si kepala merah itu baru saja mengibarkan bendera perang di hadapannya.
-.-.-
Hiking seharusnya bisa jadi kegiatan yang menyenangkan. Tapi kali ini tidak bagi sebagian orang. Ino lebih memilih tetap di hotel dan menikmati air hangat, sementara Hinata terkilir di kaki gunung hingga Naruto harus menemaninya sampai membaik. Sakura terpaksa harus melewati detik-detik hiking yang terasa berjam-jam tanpa kawan-kawan terbaiknya.
Bukan masalah mendakinya yang berat. Tapi…
"Kudengar tadi Sasuke menggandengnya."
"Masa? Yang kudengar malah tadi mereka berciuman di bis."
Jika ini komik, perempat mungil sudah muncul berkali-kali di dahi Sakura. Sakura tahu Sasuke punya segudang fans di KHS, tapi ia tak pernah benar-benar mempermasalahkan fakta itu sebelum ini. Sakula mendelik jengkel pada gadis-gadis dibelakangnya. Mereka berhenti, kaget karena objek pembicaraan mereka mendengarnya.
"S-sakura-senpai tidak jalan?" anak kelas satu. Sementara dirinya di tahun terakhir kelas akselerasi, kira-kira hampir sama dengan anak kelas dua.
"Kalian bisa jalan duluan." Sahutnya ketus. Sudah kesekian kalinya ia mendengar gunjingan tentang kejadian tadi. Awalnya Sakura diam saja. Lalu menanggapinya dengan manis bahwa itu bukan apa-apa. Tapi makin ke sini ia makin lelah dan kesal.
Apa mereka tidak punya kehidupan sendiri untuk diurusi?
Kedua anak kelas satu itu cepat-cepat melewati Sakura. Sakura mendengus kesal. Gara-gara sikap aneh Sasuke hari ini, study tur yang harusnya jadi pelepas penat malah menambah beban pikiran. Sebenarnya belakangan ini pria itu kenapa sih? Tiba-tiba baik, tiba-tiba menghilang, tiba-tiba jadi kasar… pikiran Sakura kembali pada malam itu, saat tangan Sasuke merengkuhnya dan menciumnya dengan kasar.
Wajah Sakura memerah. Mau sampai kapan ia kepikiran itu terus? Sampai… sampai Sasuke menjelaskannya. Ya, sampai Sakura tahu alasan dibalik itu semua.
"Kau kenapa?" Sakura nyaris melonjak kaget saat bahunya ditepuk dari belakang. Ia menoleh, mendapati pemuda berambut raven berdiri di hadapannya. Matahari bersinar di belakang pemuda itu, membuatnya seperti siluet malaikat yang sangat tampan.
"Tidak kenapa-kenapa." Beberapa murid KHS yang melewati mereka berbisik-bisik. Tanpa pendengaran super pun Sakura tahu apa topik yang mereka perbincangkan.
"Kau sakit? Wajahmu merah." Sasuke mendekat padanya. Sakura kehabisan jawaban. Tenggorokannya rasanya tercekit karena jarak yang memisahkan mereka hanya beberapa centi.
"A-aku tidak apa-apa."
"Kau yakin?" tangan Sasuke terjulur, merengkuh leher Sakura dan mendekatkan wajahnya. Deg. Deg. Deg. Apa yang pria ini mau lakukan?! Jerit Sakura dalam hati. Sakura menutup matanya rapat-rapat. Jangan bilang dia mau…
"Dahimu panas."
Sakura membuka matanya, merasakan dahinya beradu dengan milik Sasuke. Nafas Sakura berhenti.
"Menjauh dariku!" Didorongnya pemuda itu menjauh dengan keras. Sasuke kaget, untung ia masih bisa mempertahankan keseimbangan. Sakura sendiri kaget dengan itu. Ia refleks mendorong Sasuke saat disadarinya betapa dekat wajah mereka. Ia sama sekali tak berpikir apa-apa.
Murid-murid yang lewat berhenti, puluhan pasang mata dari atas hingga bawah jalur pendakian menatap mereka.
"Mereka bertengkar?"
"Apa tadi Sasuke menciumnya?"
"Bukannya barusan Sakura menamparnya?"
Silih berganti Sakura bisa mendengar bisik-bisik itu makin intense. Sasuke menatap bingung didepannya. Wajah dingin pria itu berubah seperti pria normal yang kebingungan.
"M-maaf!" Sakura menunduk pada Sasuke dan cepat-cepat pergi dari tempat itu. Pendakian yang sempat terhenti kembali berjalan. Sasuke memandangi punggung Sakura hingga gadis itu lenyap diantara pohon.
Beberapa undakan di bawah tempat Sasuke berdiri, sepasang mata aqumarines menatap itu semua.
-.-.-.-
Kenapa sih dia? Aku bersikap peduli malah disuruh menjauh. Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya, berjalan dengan kesal. Sesekali ia menendang batu ke tepian jurang, tak peduli sikap kasarnya membuat sebagian anak kelas satu jadi ketakutan.
"Kau keluar jalur, Sasuke." Matanya bertemu tatap dengan sepasang aqumarines. "kau bisa tersesat."
Yang benar saja, aku hapal gunung sama sama seperti punggung tanganku sendiri. "Tak perlu kau ingatkan." Jawabnya ketus.
Sasori duduk di batu samping jurang, memandang jauh ke lembah yang terbentang di kaki gunung. Matahari akan turun beberapa saat ini, dan seharusnya mereka sudah sampai puncak sebelum matahari terbenam. Sasuke tak mau berlama-lama di dekat Sasori, tapi baru ia memutuskan untuk pergi suara Sasori mengalihkan perhatiannya.
"Kau kenal Sakura?" suara yang tenang, setenang biasanya. Dari sejak mengenal Sasori di kepengurusan panitia tahun lalu, Sasuke bisa menilai Sasori adalah pria yang tenang dan tak mudah terbawa suasana.
Kali ini suaranya setenang malam sebelum badai.
Sasuke tahu maksud pertanyaan Sasori jelas bukan hanya ingin tahu apakah ia mengenal Sakura. Toh tadi dia melihat mereka berdua, jadi tak mungkin Sasori tidak tahu ada sesuatu di antara mereka.
"Aku tahu kau mengerti maksudku… kalau kau tidak keberatan, bisakah kau menjauhinya?" Sasori menoleh, menatap Sasuke dengan pandangan tegasnya. Pandangan yang jelas-jelas menggambarkan garis yang menantang Sasuke untuk melewatinya.
Sasuke membalas pandangannya.
"Kau tahu jawabanku," Sasuke baru saja menginjak garis batas itu, dan menunggu badai itu menghampirinya.
Sasori tersenyum kecut, meremas botol mineralnya.
"Kau tidak serius padanya." Kali ini giliran Sasuke yang terkekeh.
"Kau tidak punya hak untuk menilaiku. Lagipula kau bukan pacarnya." Sasori berjalan mendekatinya, berdiri di hadapannya. "…dan kutegaskan padamu, Sakura milikku." Walau Sasuke masih lebih tinggi dari seniornya, tetap saja Sasori mengeluarkan aura yang bisa membuat pria manapun gentar.
Udara terasa semakin dingin diantara mereka.
"Kuperingatkan kau, Uchiha." Sasori berkata pelan. "dia bukan milikmu." beberapa anak kelas satu melintas di dekat mereka, memandang penasaran pada dua pemuda yang paling disegani di KHS.
Sasori menepuk pundak Sasuke, berbisik pelan saat melewatinya;
"Milikmu hanyalah apa yang bisa kau lindungi,"
-.-.-.-
Matahari terbenam dan Sakura masih bersandar di pohon jati. Gara-gara si Uchiha yang kelakuannya serba tak bisa ditebak itu, Sakura jadi kepikiran terus dan tak sadar bahwa ia berjalan tanpa arah.
Dalam kata lain, ia tersesat.
Orang bilang esensi dari sebuah perjalanan baru terasa saat kau tersesat. Dalam keadaan lain mungkin Sakura setuju, tapi dalam kondisi nyata seperti ini… ugh, rasanya Sakura ingin menggigit orang yang mencetuskan metafora itu. Seharusnya pagi ini ia tak meninggalkan hangatnya selimutnya. Harusnya hari ini ia memaksa Naruto untuk tukar tempat duduk saja.
Harusnya hari ini si Uchiha itu tak usah masuk.
Sakura merapatkan kakinya ke tubuhnya, memeluk kakinya, menyandarkan dagunya di lututnya. Dalam pikirannya masih terbayang jelas mata Sasuke yang memandangnya saat ia terbangun. Mata yang begitu hitam dan dalam. Pandangan yang sama yang diberikannya saat malam itu di koridor.
Sakura butuh jawaban dari semua kelakuan Sasuke, tapi jauh di lubuk hatinya, ia takut akan jawaban itu. Bagaimana jika Sasuke tidak menggubris hal itu sama sekali? Bagaimana jika hal itu hanya kebetulan? Bagaimana…
Sakura masih bisa merasakan hangatnya tangan Sasuke menyentuhnya. Memeluknya, merengkuhnya. Apa pria itu masih membencinya? Kenapa hari ini Sasuke bersikap berbeda? Apa ada hubungannya dengan kemarin?
Rasanya Sakura lebih baik dihadapkan pada persoalan teorema ruang lengkung Euclidean daripada meneruskan memikirkan segala kemungkinan jawaban pertanyaan yang melayang-layang di kepalanya. Mekanika kuantum memang mengajarkannya mengubah ketidakpastian menjadi kebolehjadian, tapi hei, ini Uchiha Sasuke. Pria itu menyalahi hukum sains manapun! Sasuke seperti sebuah puzzle dengan bagian yang hilang, dan beberapa potongan tak dapat disatukan karena sudah tidak cocok satu sama lain. Puzzle yang seakan tak kan pernah selesai.
Sakura terbiasa didiamkan, dianggap tak ada olehnya. Biasa disuruh untuk mengerjakan tugas-tugasnya dan jadi sasaran kemarahan Sasuke gara-gara kecelakaan orang tua mereka. Sakura tak biasa dengan sentuhan-sentuhan intim itu, dengan ciuman-ciuman itu. Tapi tubuhnya seakan berkata lain. Berada di dekat Sasuke, haus akan sentuhannya… Sakura menggelengkan kepalanya, mukanya terasa panas. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu!
"Lebih baik aku cari jalan pulang." Sakura bediri dan mulai mengikuti jalan setapak yang tadi dilaluinya. Jalan ini pasti dibuat untuk sesuatu, mungkin untuk para petani atau penebang pohon. Karena tak mungkin ada jalan tanpa arah.
Sakura menatap jauh ke langit yang berwarna kemerahan. Apa salah jika ia menyukai pemuda itu, bahkan setelah semua yang terjadi di antara mereka?
Sasuke… dimana batas mencintai?
"Sakura?" Sakura berjengit kaget, serta merta menepis tangan yang menyentuh bahunya. Lagi-lagi, Sasuke Uchiha memandangnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Berhentilah mengagetkanku, Sasuke!"
"Berhentilah melamun seperti orang bodoh." Aku memang bodoh, orang mana yang tidak bodoh, menyukai pria yang senantiasa menyebutmu bodoh? Argh! Sakura berpikir kesal.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tersesat?" Tanya Sakura, baru menyadari Sasuke sendirian. Sasuke menggelengkan kepala pelan, masih setenang biasanya.
"Berpisah dari rombongan. Ketua OSIS itu terus menggentayangiku." Jika dia tidak sedang tersesat, Sakura mungkin tertawa dengan kata yang digunakan Sasuke. "kau pasti tersesat." Wajah Sakura memerah mendengar dengan mudahnya Sasuke menyimpulkan keadaannya.
"M-memangnya kau tahu jalan?!"
"Aku tahu."
"Kalau begitu antar aku-"
"Aku tidak ingin bergabung dengan rombongan." Sakura menghela nafas kesal.
"Kalau begitu tunjukkan saja Sasuke, dan kau bisa menikmati waktu sendirianmu di sini." Sasuke terdiam, lalu berbalik pergi. Sakura mengikutinya dari belakang.
Suara desiran angin menemani mereka sepanjang jalan, tapi tak sekalipun Sasuke menoleh ke belakang. Sakura memandang lekat-lekat punggung pria di hadapannya. Apa selamanya mereka akan terus seperti ini, tak pernah berdiri sejajar? Apa selamanya Sakura hanya bisa memandang punggung Sasuke?
Sakura berhenti. Di depan mereka ada jembatan gantung yang sudah tua, bergoyang ditiup angin.
"Kita tidak akan menyebrang itu." Sakura berkata tegas.
Tadi Sasuke lewat jembatan ini dan tak terjadi apapun, hanya goncangan yang cukup keras. Lagipula ia tidak berpikir akan bertemu gadis yang takut ketinggian ini. Bukan rahasia kalau Sakura takut ketinggian, dari dulu Sasuke selalu suka mengunci Sakura kalau Itachi membawa mereka jalan-jalan ke gedung tinggi.
"Tak ada jalan lain," Sasuke mengetuk-ketuk pelan pegangan yang terbuat dari jalinan tali dan kawat itu. Sakura menggeleng keras, mukanya berubah pucat. Sasuke menghela nafas kesal. Ditariknya tangan Sakura, tapi gadis itu berjengit.
"Kau boleh membenciku seumur hidup Sasuke, tapi tidak ini!" pekiknya panik.
"Cerewet," Sasuke menariknya ke tepi jembatan. "tak ada yang perlu ditakuti. Aku akan memegangmu."
Sakura menatap kedua mata Sasuke ragu-ragu. Sasuke yang selalu mengerjainya, akan membantunya melewati ketakutan terbesarnya? Sama saja percaya Naruto mampu tidak makan ramen selama satu bulan. Sakura menggeleng.
Sasuke menariknya mendekat, hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
"Percayalah padaku."
Jantung Sakura berdegup kian kencang, seakan melompati satu ketukan setiap ia menatap kedua mata itu. Pelan-pelan ia menganggukkan kepala.
Jari jemari Sasuke meremas miliknya, menggenggamnya dengan erat. Rasanya berbeda dari genggaman Sasuke tadi, karena saat ini mereka hanya berdua. Jembatan itu bergoyang mengerikan, dalam setiap langkah mereka, Sakura merasa jantungnya siap melompat keluar. Sakura tak berani membuka matanya untuk melihat seberapa jauh lagi mereka harus berjalan untuk sampai ke tepian, ia hanya berjalan mengikuti panduan tangan Sasuke. Seperti berjalan dalam gelap, hanya hangatnya tangan Sasuke yang jadi petunjuknya.
"Sakura." Sakura membuka matanya, merasakan Sasuke berhenti. Tapi goncangan di pijakannya belum berhenti. Tepian tinggal beberapa langkah lagi, tapi Sasuke berhenti. Sakura baru mau bertanya saat dilihatnya ada pijakan yang hilang di depan mereka. Sebuah lubang menganga menunjukkan jurang di bawah mereka.
Kontan Sakura mengeratkan genggamannya, nyaris meremukkan jari jemari Sasuke. Nafasnya memburu, ia sudah tak dapat berpikir jernih kalau sudah melihat ketinggian.
"Kita harus melompat ke tepian."
Sakura bisa mendengar degup jantungnya sendiri, seakan itu berada di samping telinganya. "kau… menyuruhku… melompati lubang itu…?"
Saat Sasuke mengangguk, kaki Sakura mati rasa. Rasanya ia siap pingsan kapan saja. Sasuke menyadari Sakura yang berdiri membeku di belakangnya, tangan gadis itu terasa dingin.
"Aku akan menunggumu di tepian. Kita tak bisa melompat bersamaan." Belum sempat Sakura berkata apa-apa, Sasuke melepaskan genggamannya dan melompat. Seperti film yang dipercepat, Sakura tak tahu bagaimana Sasuke melakukannya. Kini pria itu berdiri di tepian, menatapnya, menunggunya.
"Sakura, jangan pandangi lubang itu terus." Bagaimana aku bisa kalau lubang itu jelas-jelas di depan kakiku?!
"Lihat aku." Sakura susah payah mengalihkan perhatiannya pada Sasuke. Pada mata yang menyihirnya sejak bertahun-tahun lalu.
"Kau bisa merasakan kakimu lagi? Hanya satu lompatan. Aku akan menangkapmu." Saat ini, lucu rasanya seolah-olah mereka hanya dua orang yang saling kenal dan saling peduli. Seolah-olah Sasuke tidak menyalahkannya dan tak pernah membencinya.
Seolah dia peduli.
Sakura menelan ludah, menggerakkan anggota tubuhnya yang kaku. Hanya satu lompatan, Sakura. Kau tidak mau berdiri diam di sini selamanya, memandangi lubang itu menunggu kapan jatuh kan? Ujarnya dalam hati, meyakinkan diri sendiri.
"Lompat."
Segalanya terjadi begitu cepat. Sakura melompat dan saat satu kakinya berpijak pada tepian, satu kakinya tidak. Tangannya refleks mencoba meraih ke depan, Sasuke bergerak menangkapnya, tapi hanya satu tangannya yang bisa diraihnya. Sakura terperosok, satu papan pijakan jatuh di jurang tanpa dasar itu, membuat kakinya bergantung di udara. Lutut Sakura menggeser tepian kasar, mengikis kulitnya. Sakura tak bisa merasakan perih di lututnya karena saat ini bergelantungan tanpa pijakan membuat darahnya berdesir di kepalanya.
"Sakura! Berikan tanganmu yang satu lagi!" seru Sasuke di atasnya, mempertahankan tangannya. Pria itu nyaris kehilangan semua sikap tenangnya saat ini. Sakura tak bisa bergerak. Tak bisa bicara. Tak bisa merespon pemuda itu.
Ia takut. Ia sangat takut.
Kematian hanya sejarak satu tarikan tangan.
Satu sepatunya terlepas dari kakinya yang menggantung, membuat nafas Sakura tercekat. Pegangan Sasuke mulai terasa licin karena keringat, pelan-pelan menggelincirkan pegangannya. Sasuke menggeram melihat ketidakberdayaan Sakura. Kami-sama… mana mungkin ia membiarkan gadis itu terjatuh di hadapannya!
"Jangan…" Sasuke mendengar suara lirih Sakura. Bibir gadis itu bergetar, rona merah mulai tampak di wajahnya yang pucat. "jangan lepaskan, Sasuke…"
"Bodoh." Sasuke berkata pelan. Ia menarik tangan Sakura dengan susah payah, mengulurkan satu tangannya pada Sakura. "aku tak akan pernah melepaskanmu."
Untuk sekali saja setelah 6 tahun ini, Sakura ingin percaya sepenuhnya pada Sasuke.
Pelan-pelan, tangan Sakura yang sempat kaku terangkat dari sisinya, dan Sasuke segera menangkapnya, menarik Sakura ke pelukannya. Begitu gadis itu terjatuh di atas pemuda itu, tubuhnya masih gemetaran, tangannya menarik bagian depan kaus Sasuke, mencoba mencari pegangan. Kepalanya bersandar pada dada bidang Sasuke. Sasuke mengeratkan pelukannya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih ketakutan akan kejadian tadi.
Sehari ini dengan Sakura rasanya Sasuke mengalami roller coaster emosi.
"Aku takut… " Sakura berkata pelan, menelusupkan kepalanya ke leher Sasuke, memeluk pria itu erat. "kupikir aku akan mati." Sakura terisak di pelukan Sasuke.
Sasuke, tak terbiasa menghadapi gadis yang menangis, hanya bisa menepuk-nepuk pelan bahu gadis itu dengan canggung. Setidaknya untuk pertama kalinya ia tidak menjadi alasan Sakura untuk menangis, tapi jadi orang yang menenangkannya.
"Terimakasih…" Sasuke berkata pelan. "…sudah mempercayaiku."
Sakura mengangguk mendengarnya. Selepas menenangkan diri, Sakura melepas pelukannya dan menginspeksi keadaannya. Kakinya cedera karena saat jatuh menghantam tepian yang kasar. Sakura berusaha berdiri, tapi dengan cederanya ia jadi limbung dan nyaris jatuh.
"Kemarilah." Sasuke berjongkok dan menunjuk punggungnya.
"Kau… menggendongku?" ini terasa familiar. Sangat familiar. Bertahun-tahun yang lalu…
"Aku tidak mungkin meninggalkan anak perempuam terluka sendirian di sini tahu."
Ya, beberapa tahun yang lalu, Sasuke mengatakan hal itu padanya.
"Cepat naik, kau membuang waktuku." Seru Sasuke kesal. Bertahun-tahun yang lalu saat ia mengatakan itu ia masih pria yang baik, sekarang seperti malaikat bersayap iblis. Pikir Sakura, akhirnya naik ke punggung Sasuke.
Selama berjalan, mereka tak bertukar sepatah katapun. Sakura menyentuh bahu Sasuke, merasakan kehangat pria itu sekali lagi. Langit yang kemerahan berubah jadi ungu. Malam akan segera turun. Sasuke tiba-tiba berhenti dan menurunkan Sakura. Sakura kebingungan, terlebih lagi saat Sasuke melepas jaketnya dan melampirkannya pada Sakura.
"Apa-"
"Pakailah."
"Tapi-"
"Tak ada tapi-tapian. Apa perlu aku yang pakaikan?" wajah Sakura berubah merah mendengar ucapan Sasuke. Dipakainya jaket hitam yang kebesaran itu. Harum sabun yang digunakan Sasuke memenuhi indera penciumannya. Aroma menthol yang dingin. Memakai jaket Sasuke rasanya seperti dipeluk pria itu.
Sakura tertawa pelan saat Sasuke mulai menggendongnya lagi.
"Apa?" tanya Sasuke penasaran.
"Kau ingat, pertama kali bertemu kau juga menggendongku seperti ini." Sakura menatap punggung di depannya, seakan menatap kembali punggung pria muda berumur 6 tahun yang dulu membantunya.
"…hn,"
"Kau juga memberikan jaketmu. Mengajakku ke perpustakaan… dan menghabiskan waktu membaca setiap harinya." Sasuke terdiam, memori mulai membanjiri ingatannya. Memori masa kecilnya yang disimpannya dalam-dalam, untuk menghindari rasa hampa dari kehilanga kebahagiaan yang menggerogotinya selama ini, Sasuke memendam semua memori itu.
"Masa lalu adalah masa lalu," ujarnya ketus. Sakura tersenyum getir menanggapi reaksi Sasuke yang serba sensitive terhadap masa lalu.
"Kita tak bisa mengubah masa lalu… kita hanya bisa melindungi apa yang tersisa darinya." Sasuke berhenti mendengarnya.
"Memangnya apa yang tersisa dariku untuk dilindungi?" ujarnya dingin tanpa menoleh. Sakura terdiam, ragu-ragu menjawabnya.
"Itachi-"
"Kau pikir Itachi butuh perlindunganku? Dia akan baik-baik saja walau aku tidak ada."
"Sasuke!" Sakura berseru keras. Sasuke menoleh memandangnya, raut kesal terlukis jelas di wajahnya. "berhentilah bersikap menye-"
"Kau tidak bisa menjawabnya, kan? Kau sendiri tidak tahu apa-apa tentang itu; kau tidak tahu apa yang masih tersisa dari hidupku untuk kulindungi, jadi berhentilah sok tahu!" untuk beberapa detik, mereka beradu pandang, sama-sama mempertahankan argumentasinya.
"…aku." Sakura akhirnya memecah keheningan. Sorot matanya melembut memandang pria yang tengah menggendongnya. "aku membutuhkanmu."
Hembusan angin gunung menerpa mereka, menggoyangkan ranting-ranting sebagai kanopi di atas mereka. Sasuke membuang pandangan, lebih lama lagi ia menatap gadis itu bisa-bisa kewarasannya benar-benar hilang. Sakura selalu mampu menemukan cara membuatnya kehilangan kontrol diri.
Dengan tergesa Sasuke melanjutkan perjalanan mereka, mengabaikan urgensi liar yang ada di dalam dirinya. Tapi apa dia benar-benar ingin saat-saat ini berakhir? Sasuke bisa merasakan Sakura menyandarkan kepalanya di punggungnya, bagaimanapun Sasuke mencoba mengabaikan hangat nafas gadis itu di lehernya, tetap saja keberadaan gadis itu menguasainya. Gadis bodoh ini… kenapa dia tak pernah sadar apa yang mampu dia akibatkan padaku?
Di bawah mereka, Sasuke bisa melihat penginapan mereka diterangi lampu-lampu. Saat-saat berdua mereka akan segera berakhir.
"Aku membutuhkanmu."
Kata-kata Sakura saat argumentasi mereka barusan membangkitkan sesuatu dalam diri Sasuke. Sesuatu yang telah lama dikuburnya sejak kehilangan kedua orang tuanya.
Perasaan.
"Sakura-" tenggokoran Sasuke tercekat. Kami-sama, beranikah dia?
"Ya?"
Jika kukatakan aku menyukaimu, apa kau janji kau tak akan pergi meninggalkanku? Sasuke menelan ludah, kata-kata itu hilang dalam mulutnya.
"…bukan apa-apa."
-.-.-.-
"Huah, enak sekali berendam di cuaca dingin… loh kau kenapa?" Ino duduk di samping gundukan di tempat tidur. Rambut pink menyembul dari bagian yang tidak tergulung selimut. "hoi, Sakura." Ino memaksa teman sekamarnya itu berbalik.
Ino mengerjapkan mata. Wajah Sakura memerah, rambutnya acak-acakan.
"Kau kenapa?" seru Ino khawatir. Sakura memijit dahinya, duduk menghadap Ino. Pikirannya kembali ke kejadian barusan;
"Kita sampai." Sasuke menurunkan Sakura beberapa meter dari penginapan karena gadis itu bersikeras tak mau digendong masuk.
"Terimakasih, Sasuke." Sakura tersenyum padanya yang dibalas dengan gumamam standar ala Sasuke. "maaf tadi aku bersikap menyebalkan padamu…"
"Ada yang ingin kau sampaikan?"
"Aku… bingung." Sasuke menaikkan satu alisnya.
"Bingung?"
"Kau berbeda hari ini… kau bersikap seakan kau peduli." Sasuke menghela nafas kesal.
"Saku-" mata Sakura membelalak pada sesuatu di belakang Sasuke.
"Oh, aku harus pergi, Sasori-senpai berjalan ke sini," Sasuke mengikuti arah pandangan Sakura dan melihat si ketos itu sedang membawa laporan dan berjalan tanpa melihat mereka.
"Tunggu." Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura. "kau takut kalau si kepala merah itu melihatmu bersamaku?"
"Kau mungkin tak peduli perasaan orang Sasuke, tapi aku-"
"Kau peduli padanya? Begitu?" genggaman tangan Sasuke mengerat, membuat Sakura memekik pelan.
"Sasuke, sakit-"
"Kalau kau peduli pada perasaan orang lain, kau seharusnya juga peduli pada perasaanku."
"Sasu-" Sasuke tidak membuang waktu menunggu kalimat Sakura selesai, diciumnya Sakura dengan kasar, dengan penuh tekanan dan kemarahan. Mata Sakura membelalak, dan secepat ciuman itu terjadi, Sasuke melepaskannya. Pria itu berbalik pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Untungnya Sasori tidak melihat kejadian itu.
"Aku tidak tahu… dari tadi kepalaku pusing, dan… dan pikiran ini tak mau hilang." Ujarnya lirih.
"Pikiran? Pikiran apa?" Sakura menatap ke mata biru sahabatnya.
"Berjanjilah kau tidak akan katakan pada siapapun."
"Janji."
"Aku… kurasa aku jatuh cinta pada Uchiha Sasuke." Tak seperti dugaan Sakura, Ino hanya diam dan menghela nafas.
"Tak perlu kau bilang juga aku tahu. Ada sesuatu kan antara kalian? Uhm…" Ino menggenggam tangan Sakura. "…aku tahu tentang orang tua kalian." Mata Sakura membelalak.
"B-bagaimana-"
"Ayolah, Yamanaka entrepreneur itu berkawan baik dengan Uchiha corp. Dan… sebetulnya Hinata dan Naruto juga tahu." Sakura tak percaya, selama ini kawan-kawan baiknya tahu dan mereka tak menjauhinya? Mereka tak menganggapnya anak pembunuh?
"Kalau Itachi saja percaya padamu, masa kami tidak? Lagipula semakin maki mengenalmu, semakin kami percaya padamu. Maaf kami menyembunyikannya darimu Sakura… kami pikir jika kau dan Sasuke tidak ingin membicarakannya, maka kami harus menghargai privasi kalian." Ino tersenyum.
"Ino…"
"Bukankah itu gunanya sahabat?" Sakura tidak menjawab, alih-laih merangkul sahabatnya erat. Air matanya turun sekali lagi di pipinya. Selama ini ia takut berbagi rahasia dengan sahabat-sahabatnya karena tak mau dibenci seperti Sasuke membencinya. Tapi kini ia tahu, seburuk apapun keadaannya. Ada orang-orang yang mau menerimanya. Apa adanya.
"Terimakasih. Terimakasih kalian semua mau mengerti," Ino menepuk-nepuk punggung Sakura.
"Anytime, Sakura." Jawabnya. "nah sekarang kau harus cerita kenapa kau menangis seperti ini. Tahun kemarin Naruto dan aku bertaruh bahwa pada akhirnya kau dan Sasuke pasti jatuh cinta…" wajah Sakura memerah, menghindari pandangan selidik Ino.
"Kami… yah, kau tahu bagaimana perlakuan dia padaku." Ino menatapnya, prihatin.
"Tapi dia tak pernah melukaimu, kan?" secara fisik tidak. Secara emosional, mungkin iya. Jawab Sakura dalam hati. "aku kenal Sasuke sejak kecil… cowok emo itu memang anti sosial, dingin, dan menyebalkan." Ino mengernyit pada ingatan masa kecilnya tentang Uchiha bungsu. Sakura tersenyum tipis mendengarnya.
"Tapi walau bagaimanapun dia membencimu, dia tetap menjagamu, kan?" Sakura terdiam mendengarnya. "Sasuke mau menerimamu. Itu bukan hal yang biasa baginya. Selama aku mengenalnya aku tak pernah melihatnya dekat dengan cewek lain selain denganmu."
Sakura tergelak. "Dia terpaksa menjagaku karena janjinya pada Itachi." Ino menatapnya dengan pandangan lain. Belum pernah Sakura melihat Ino seserius ini.
"Kau tahu, Sakura… kurasa, Sasuke peduli padamu."
Kamar terasa lebih sunyi, langkah-langkah kaki di luar yang sedari tadi lalu lalang nyaris tak terdengar.
"Tapi dia membenciku…" ujar Sakura lirih. "aku tidak akan pernah bisa merubah masa lalu." Ino mengehela nafas, tapi senyum tipis menghiasi wajah si pemilik rambut pirang panjang itu.
"Tapi kau mencintainya, bukan?" sejenak, Sakura terpaku pada pertanyaan itu. Sekelebat banyangan Sasori melintas di kepalanya. Sasori yang hangat. Yang berusaha membuatnya tertawa. Lalu digantikan oleh pandangan dingin Sasuke padanya. Lalu pada hangatnya tangan Sasuke saat menggengamnya…
"Pasti mikirin Sasori-senpai deh." Ino mencubit lengan Sakura, menyadarkannya dari lamunanya.
"Aduh! Kau kan tidak perlu mencubit sedemikian keras!" seru Sakura, melempar bantal pada Ino.
"Kau ini ya. Aku mendukungmu dengan Sasori karena dia selalu baik padamu, sementara Sasuke itu seperti balok es. Tapi sejak kemarin kau dekat dengan Sasori, aku tak melihatmu bahagia. Malah jadi sering melamun di kelas. Kau sebenarnya suka dengan siapa sih?"
"Aku…" Sakura mengigit bibirnya, tak tahu harus menjawab apa. Yang satu bisa membuatnya tertawa, dan yang satunya mampu membuatnya menangis. "aku kepikiran Sasuke terus." Akunya pada Ino.
"Lalu kenapa tak kau kejar saja si balok es itu? Jangan menyerah hanya karena masalah kecelakaan itu. Kau mau terus-terusan melamunkan Sasuke menjadi pangeran berkuda putih?"
Satu bantal lagi melayang ke Ino. Sakura tergelak melihat rambut Ino jadi kusut gara-gara amukan bantal dari Sakura.
"Tidak semudah itu, Ino. Kau tahu Karin-senpai?"
"Cih, si rambut terbakar itu. Gerah aku melihatnya." Gerutu Ino. Selama di OSIS dulu, kalau Ino bertingkah sedikit saja mencari perhatian Sai-senpai, Karin serta merta langsung memblokirnya. Seolah-olah semua cowok ganteng di KHS itu miliknya.
Sakura menghela nafas dan menceritakan semuanya. Seusai bercerita, Ino terdiam seperti patung. Dan tiba-tiba saja berdiri.
"Ino? Mau kemana?"
"Apalagi? Ya melempar si mata empat itu ke kolam, biar otaknya dicuci bersih!" seru Ino berapi-api. Sakura buru-buru menahan temannya, karena Sakura tahu Ino bisa benar-benar melakukan apa yang dikatakannya.
"Sudahlah. Biarkan saja dia dengan permainannya. Sekarang aku sudah lega, setidaknya kalau dia benar-benar melakukan ancamannya…"
"Aku pasti akan membantumu." Sakura tersenyum pada sahabatnya itu. Rasanya seperti sebuah beban diangkat dari bahunya. "oh ngomong-ngomong, kau belum makan kan? Ruang makan masih buka. Mau kutemani?"
Sakura menggeleng. Tiba-tiba terlintas dipikirannya untuk menggoda Ino. Sahabat karibnya itu paling tak tahan kalau Sakura menyembunyikan rahasia. Makanya Sakura tak pernah berhasil membuat surprise party untuk Ino. "Kau tahu Ino… aku pernah melakukan itu dengan Sasuke."
Kali ini giliran mata Ino yang mebelalak. "Kau jahat! Kenapa tak cerita! Kapan? Bagaimana? Aku saja bercerita padamu saat aku melakukan itu pertama kali! Kau harus cerita!"
Sakura keburu meraih pegangan pintu.
"Mau kemana kau Sakura? Pokoknya kau harus ceritaaaaaaa!" Sakura menutup dan mengunci pintu, membawa serta kuncinya. "keluarkan aku Sakura!" pekik Ino dari balik pintu. Sakura tertawa di koridor.
-.-.-.-
Ruang makan masih buka, padahal ini pukul 11 malam. Murid-murid masih berkumpul di meja, dan mereka terdiam begitu Sakura muncul di pintu. Menghela nafas dan mengabaikan pandangan mereka, Sakura mengambil makannya sendiri dan segera berlalu dari ruangan itu. Daripada menghabiskan waktu di ruang makan ditemani bisik-bisik dan pandangan ingin tahu orang-orang, lebih baik Sakura menghabiskan malam di luar.
Memang anak jaman sekarang senangnya tidur subuh-subuh, di luarpun masih banyak anak yang berkumpul. Setengah kesal, Sakura memutuskan berjalan lebih jauh. Beberapa meter di balik taman yang luas ada lapangan basket. Sejauh mata memandang tak ada yang mengganggu. Sakura duduk di pos satpam sebelah lapangan basket itu, menghindari dinginnya udara pegunungan.
Saat makannya mau habis, Sakura baru sadar ia lupa membawa obat. Kalau tidak diminum bisa-bisa pneumonianya kambuh di udara sedingin ini. Menghela nafas kesal, Sakura menghabiskan makannya dan bersiap kembali ke penginapan.
Suara pantulan bola bergema dalam sunyinya malam. Sakura berhenti di depan pintu pos, dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat silet seseorang mendribel bola basket di lapangan. Sakura menajamkan pandangannya. Siapa orang bodoh yang bermain basket malam-malam di dinginnya cuaca pegunungan? Sehat engga, sakit iya.
Pasti orang yang sedang mengalami malam yang suntuk sepertiku.
Siluet itu mendribel bola ke tiang, dan saat melepas shoot, cahaya lampu temaram di pinggir lapangan menyinari wajahnya. Satu bola basket masuk dengan mulus ke ring. Sasuke Uchiha mengatur nafasnya, memungut bola itu dan mendribel sekali lagi.
"Hey." Sakura tak tahu bagaimana kakinya membawanya ke dekat pria itu. Sasuke kaget, bola terlepas dari pegangannya, memantul ke kaki Sakura. "apa yang kau lakukan di sini?" Sakura meraih bola basketnya, melemparkannya kembali pada si pemilik.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Sasuke meniru ucapan Sakura dengan penekanan, menangkap bola basketnya.
"Hanya cari angin." Dalih Sakura. "kau sendiri?" Sasuke melempar bola basketnya sekali lagi, tembakan three point, dan masuk dengan mulus. Bola menggelinding ke luar lapangan dan Sasuke mengabaikannya.
"Suntuk." Jawabnya pendek. Nah kan kubilang juga apa, yang keluar malam hari di cuaca sedingin ini cuma orang suntuk. Pikir Sakura.
"Ada apa memang?" Tanya Sakura penasaran. Sasuke menoleh padanya, menaikkan satu alis.
"Sejak kapan kau peduli padaku?" ujarnya dingin. Sakura mengepalkan tangan mendengar Sasuke yang dia kenal sudah kembali lagi.
"Kau ini kenapa sih? Dari tadi pagi bersikap aneh, lalu tiba-tiba kembali menyebalkan lagi! Kemana kau selama beberapa hari ini? Aku ingin bicara tapi kau tak pernah di rumah!" seru Sakura, mengeluarkan semua uneg-unegnya. "kau pikir enak menyimpan semua pertanyaan-pertanyaan itu sendiri?! Kau, Sasuke Uchiha, makhluk paling aneh dan egois yang pernah kukenal!"
Sejujurnya Sasuke terperanjat dengan seruan Sakura. Selama enam tahum ini gadis itu tak pernah menyuarakan isi kepalanya sekeras ini.
"…kau marah?"
"Sejak kapan kau peduli padaku?!" balas Sakura jengkel, meniru ucapan Sasuke sebelumnya. "tiba-tiba mencium orang tanpa sebab, tiba-tiba melakukan itu, dan menghilang tiba-tiba…" air mata menggenang di pelupuk mata Sakura. "lalu hari ini kau bersikap perhatian seolah peduli, menyelamatkanku dan tiba-tiba menciumku lagi. Kau membuatku gila…"
Sasuke mendekat, satu tangan meraih pipi Sakura, ibu jarinya mengelus lembut pipi gadis itu.
"Memangnya aku tak boleh menciummu?" Sakura diam saja, matanya terhisap ke dalam mata hitam Sasuke. Ia bisa melihat dirinya terpantul di sana. Hanya dirinya seorang, di mata Sasuke.
"Memangnya aku tak boleh peduli padamu?" satu lagi tangannya terangkat, menyentuh pipi Sakura yang satu lagi, memerangkap wajah cantik itu dalam kedua tangannya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya…" ujar Sakura lirih, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasannya sebelum terhisap sepenuhnya ke dalam mata hitam itu. "kau tidak peduli pada asumsi orang lain… lalu bagaimana denganku?"
"Kalau orang mengira kita pacaran…" Sasuke mendekatkan wajah mereka, dahi mereka saling bersentuhan. "apa kau keberatan…?"
Langit berbintang di atas mereka, menyinari malam yang merengkuh kedua anak muda itu. Sakura menatap dalam-dalam mata hitam Sasuke, mencoba mencari arti dibalik berlapis makna dari kalimat yang diucapkan Sasuke.
"Aku keberatan… jika itu bukan kenyataan."
Mata hitam beradu dengan mata hijau cerah. Jari jemari Sasuke turun ke bibir Sakura, mengusap lebut bibir bawah yang sering digigit Sakura kalau sedang nervous.
"Kalau begitu kita buat itu jadi kenyataan."
Sasuke menunduk, dan Sakura bisa merasakan sekali lagi lembutnya bibir pria itu melumatnya. Ciuman Sasuke kali ini tidak terasa marah seperti sebelumnya. Atau penuh dengan emosi dan hasrat. Ada sesuatu yang lebih dalam pada ciuman kali ini.
Sasuke tidak dapat merasakan apapun lagi, selain tubuh gadis itu dalam pelukannya. Banjir emosi meluap-luap dalam dirinya;
Bisakah seseorang mencintai lebih dari 5 huruf?
-.-.-.-
A/N : another cliffhanger…and the story starts to take a turn.
Di chap kemarin lagunya Avenged Sevenfold-Dear God jadi latar buat scene Sasori. Waktu di bis Sasuke pov, itu lagunya David Archuleta-You Can. Nah udah kebayang kan isi kepala Sasuke yang belibet itu? Author pikir untuk Sasuke cara kaya gini yang cocok, soalnya di fic ini karakter Sasuke dingin, cuek dan seenaknya sih. Dia ga mudah mengungkapkan perasaannya. Lagipula Sasuke belum menyatakan perasaannya sama Sakura di sini.
Shich Hzr : *author mesam mesem baca reviewnya* yap, tebakan anda benar :) berarti saya panggilnya Shich-chan ya? Coba tebak gender saya apa... dari penggambaran karakter di sini pasti udah ketebak
dinosaurus : hahaha yang ini udah romantis belum?
Koibito cherry : sasosaku momennya disimpan dulu ya hehe
sasusaku kira : udah banyak nih sasusakunya :)
hankira : iya, author coba transisikan kondisi sasuke di manga yang sering diabaikan ayahnya supaya pas sama cerita ini biar ga terlalu OOC :)
mimia : saya juga kangen sama readers sekalian haha. Chap ini khusus membahas perkembangan hubungan mereka
Rinsakurauchi : *terharu ditungguin* sudah update nih, ditunggu tanggapannya ya :)
NN : sudah banyak sasusaku momennya nih :)
gr gtrf : nantiiii *perlu dibales pake caps lock juga ga?*
.
Terimakasih untuk semua yang baca, reviews, fav & follow. I can never thank you enough for making my day. Ditunggu feedbacknya
.
Review ya? Semoga bisa tembus 222 reviews ,
Thinking too much wont get you anywhere, at one point you just have to jump and live the moment.
Author yang horizonnya kelabu;
Phylaphy.
