"I give you my heart on a string…"

-Awake, song by Secondhand Serenade

-.-.-.-

DELAPAN

Dalam satu detik, atom Cesium-133 bisa bergetar sebanyak kali. Bilangan sepanjang nomor IP address itu menyiratkan betapa berartinya satu detik sebenarnya. Satu detik cukup untuk mengirimkan sinyal listrik ke amigdala seseorang, dan menimbulkan jutaan emosi yang berbeda.

Mata hijaunya mengerjap dua kali, separuh bibirnya masih terbuka, nafas hangat mengalir perlahan. Pria di hadapannya sudah melepaskan bibirnnya mereka yang bertautan sebelumnya, menyisakan ruang diantara mereka, menghujamkan pandangannya pada Sakura.

Tiba-tiba Sakura merasa penjelasan sudah tidak penting lagi. Bumi boleh berguling ke galaksi andromeda, malam boleh jadi lebih panjang, dan Sasuke Uchiha boleh saja melakukan apa yang diinginkannya, selama mata hitam itu menatapnya seorang. Selama mata itu hanya merefleksikan dirinya seorang.

"Sasuke," nama itu terasa berbeda kini di lidahnya. Indera pengecapnya masih mati rasa. Kejutan listrik masih membanjiri sekujur tubuh Sakura. Mimpikah dia? Apa yang baru saja terjadi?

Apa dia baru saja mendengar ungkapan ambigu yang secara tak langsung menyatakan status hubungan mereka berubah 180 derajat?

Tapi perempuan mana sih yang mampu berpikir jernih kalau sudah menyangkut pria yang dicintainya?

Dan tepat saat itu bumi menarik Sakura kembali dari negeri impian. Sakura sontak mendorong Sasuke menjauh saat ia mulai terbatuk-batuk hebat. Sasuke tidak melepaskan tangannya, memandangnya dengan raut heran. Seburuk itukah ciumannya sampai gadis ini batuk-batuk seperti itu?

"Ugh… maaf." Ujar Sakura pelan, tahu bahwa episode saling tatap dengan alunan musik yang biasa ada di sinetron sudah berlalu di antara mereka, thanks to urgensi mengeluarkan virus dari tenggorokannya. "aku lupa minum obat malam ini." Jelasnya menjawab pandangan bingung pemuda berambut hitam itu.

"Kau sakit?" Sakura menimbang-nimbang kemungkinan dalam menjawab pertanyaan itu.

"Pneumonia," jawabnya hati-hati. Hanya satu kata dari Sakura, dan otak jenius Sasuke mampu menjalankan impuls membentuk korelasi dari berbagai hal. Pria itu terdiam.

"Sasuke?" tanya Sakura khawatir. Semua yang mengenal pria itu tahu, diamnya Sasuke menyimpan sejuta makna.

"Gara-gara aku sering mengurungmu di luar," ujarnya pelan. Mata hitam itu memutus kontak dengan bola mata hijau Sakura. Sakura bertanya-tanya dalam hati; apa sekarang saat yang tepat untuk membereskan masa lalu mereka? Mulai merapikan sampah yang berserakan dan membangun fondasi baru?

Tapi sungguh, dalam keadaan seperti ini, seorang Sakura Haruno pun tak mampu berkata-kata. Jadi hanya satu yang dia lakukan; menarik Sasuke kembali ke pelukannya. Saat kata-kata tak mampu mengungkapkan apa yang kita pikirkan, biarkan tubuh yang bicara.

"Lupakan masa lalu." Bisik Sakura pada pemuda yang masih tak bergeming itu. "Sasuke, aku kedinginan. Tak bisakah setidaknya kau memelukku?" Sakura bersumpah wajahnya memanas karena keberaniannya mengucapkan kata-kata itu. Tapi dia butuh reaksi dari si manusia balok es ini. Reaksi yang menunjukkan bahwa apa yang barusa terjadi bukan salah satu mimpinya di siang bolong.

"Salahmu tidak pakai jaket malam-malam," akhirnya, sebuah respon. Sakura tak pernah sesenang ini mendengar ucapan sarkas Sasuke. Jika Sasuke sudah bisa meresponnya dengan dingin seperti biasa, artinya mereka akan baik-baik saja.

"Yang kau katakan tadi… apa kau serius?" Sakura kembali menggelindingkan dadu, menguji peruntungannya.

"Hn," balas Sasuke tak jelas. Jantung Sakura masih berdegup kencang. Jika tidak segera minum obatnya bisa-bisa dia berakhir pingsan karena tekanan emosi yang berlebihan. Sasuke mengendurkan pelukannya, menyandarkan kepalanya di bahu Sakura.

"…aku mengantuk."

Dari sejuta buku romansa yang pernah dibaca Sakura, baru kali ini ia menemukan frasa yang sangat tidak tepat digunakan dalam keadaan ini. Tapi mau tak mau Sakura tertawa kecil, bahunya berguncang pelan.

"Kau sangat tidak romantis untuk ukuran seorang pria, Sasuke."

"Terserahlah," balas pemuda itu. "aku butuh tidur setelah seharian denganmu." Ujarnya. Dikepalanya lalu lalang semua emosi dan perasaan yang meluap-luap. Ya, ia merasa bersalah karena jadi penyebab sakitnya Sakura. Ya, ia merasa senang karena bisa mendapatkan gadis itu seutuhnya, setidaknya jujur pada perasaan sendiri.

Ya, dia pusing dengan segala kemungkinan yang ditawarkan hari esok. Bahkan seorang Uchiha Sasuke pun boleh lelah menghadapi fluktuasi emosi kan?

"Ayo kembali ke penginapan," Sakura menepuk bahu Sasuke. "banyak hal yang harus disiapkan untuk besok pulang," ujarnya mencoba mempertahankan intonasi sewajarnya. Padahal hatinya bergemuruh; apa yang akan terjadi besok pagi saat mereka berdua bangun dan membuka mata? Apa semuanya akan berbeda?

Sasuke menatap Sakura tepat di matanya. Tahun-tahun yang sebelumnya berlalu di antara mereka berlalu dalam kilasan emosi yang tergurat di mata hijau itu. Sakit yang diderita gadis itu bukan satu-satunya akibat dari apa yang terjadi diantara mereka selama ini. Ada tahun-tahun yang harus ditebusnya di sana. Kau tidak bisa memulai suatu hubungan tanpa membereskan puing-puing bangunan sebelumnya, kan.

Banyak pikiran yang berlalu di kepala Sasuke; kini setelah ia mendapatkan apa yang diinginkannya di tangannya, lalu apa? Apa ada batas akhir dari sebuah euphoria saat kita menyukai seseorang? Jangankan batas akhirnya, batas bawahnya saja Sasuke tidak tahu. Memangnya ada batas baku dimana kita bisa menyimpulkan bahwa kita menyukai seseorang?

"Sasuke?" tanpa disadarinya pandangannya yang menerawang jadi tontonan bagi Sakura. "kau benar-benar mengantuk sepertinya."

Lagipula satu pertanyaan krusial masih menggelayut di benaknya. Beranikah ia sekali lagi mencintai sesuatu? Bagaimana jika Sakura tidak merasakan apa yang dia rasakan? Bagaimana jika dia salah mengartikan semua rasa ini? Bagaimana jika ini adalah sebuah kesalahan?

Kenapa semua pertanyaan yang berawalan 'bagaimana' itu menyebalkan sih?

"Sasuke?" Sakura bertanya sekali lagi, khawatir dengan eskpresi pias Sasuke.

Peduli apa dengan itu. Aku hidup detik ini jadi lebih baik kunikmati saja apa yang detik ini berikan.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyanya pada Sakura.

Sakura terdiam, berpikir. Apa mereka akan berjalan bergandengan tangan kembali ke penginapan, membenarkan semua kasak-kusuk tentang mereka? Atau pura-pura hal ini tak pernah terjadi, hanya jadi rahasia kecil diantara mereka? Segala hal dengan Sasuke Uchiha akan jadi berlipat kali lebih rumit dibandingkan dengan orang biasa. Banyak hal yang harus diluruskan diantara mereka.

"…aku tidak tahu." Jawab Sakura jujur. "tapi saat ini aku ingin menghabiskan waktu bersamamu." Senyum tipis Sasuke mengembang mendengar penuturan gadis itu.

"Kalau begitu biarkan saja seperti ini." Sakura mengangguk pelan, memejamkan matanya.

Pulang ke penginapan jadi terlupakan. Sakura kembali menyandarkan kepalanya di pelukan Sasuke. Untuk saat ini saja, menikmati waktu yang membeku diantara mereka jadi pilihan terbaik.

Butuh waktu untuk menata semua ini.

Waktu, ya waktu yang akan menjawab semuanya.

-.-.-.-

Sinar matahari menembus masuk ke jendela paling kanan Hotel Kichi, penginapan di lereng gunung Senju. Uzumaki Naruto menggeliat dalam tidurnya, berguling ke kanan, dan matanya sedikit membuka merasakan kasurnya menghilang.

"Aduh!" kontan mata cerulean itu segera membuka kaget. "bangun dobe!" Naruto buru-buru bangkit saat dirasakan ia menimpa sesuatu yang empuk.

"Sasuke? Kenapa pula kau tidur di lantai?" untung saja Naruto jatuh menimpa kaki Sasuke, kalau kepalanya, bisa gawat…

"Kakimu itu menendangku terus. Dari awal juga aku tidak mau tidur satu kasur denganmu." Gerutu Sasuke kesal, bangun dari posisi tidurnya. Matanya menyipit terkena sinar matahari pagi yang menerobos dari jendela.

Naruto menguap, memanjat kembali ke tempat tidur. Selang beberapa detik suara dengkurannya kembali memenuhi ruangan. Yang benar saja, pikir Sasuke dalam hati. Sudah jam 6 dan si bodoh itu masih tidur.

"Naruto, Sasuke, satu jam lagi berangkat." Terdengar suara bosan Shikamaru di pintu mereka. Naruto yang masih tertidur pulas tampak tak mendengar. Kubiarkan saja kali ya, biar ditinggal bis dia.

Tapi niat itu diurungkannya, seiseng-isengnya Sasuke pada sahabatnya itu, rasanya keterlaluan kalau sampai membiarkan Naruto terdampar sendirian di gunung ini. Sasuke bangun dari duduknya, membuka jendela agar udara pagi masuk. Naruto merapatkan selimutnya sambil bergumam sesuatu tentang ramen yang terlalu dingin.

"Bangun, satu jam lagi berangkat." Sasuke menarik bantalnya hingga pria berambut pirang itu terkejut dan terbangun.

"Ini baru jam enam, teme… masih lama…" satu detik. Dua detik. Tiga detik. "JAM ENAM? ASTAGA, AKU ADA JANJI DENGAN HINATA MELIHAT SUNRISE!"

Empat detik. Reaksi yang cukup cepat dari seorang Naruto. Sasuke menikmati melihat Naruto yang melompat bangun dan segera berganti pakaian tanpa peduli ia memakai kemeja di atas piyama. Sambil memakai celana diatas boxernya, Naruto memasukkan sikat gigi ke dalam mulutnya. Sasuke hanya memandangnya, terhibur melihat polah tingkah sahabatnya yang konyol itu.

"Aku pergi!"

"Naruto…"

"Apa?!"

"Resleting belum ditarik." Naruto mengeluarkan gumaman kesal dan segera menarik restletingnya. Sayangnya di keadaan yang serba buru-buru itu ia mematahkan restletingnya. Sasuke berdehem pelan.

"…jangan bilang kau hanya membawa satu celana."

Suara nyanyian burung terdengar merdu di jendela kamar mereka sebelum teriakan Naruto mengubahnya.

"GAAAH!"

-.-.-.-

Teras penginapan Kichi, pukul 07.00 pagi.

Sasori pov

Namaku Sasori.

Aku tak perlu memberitahumu nama belakangku karena itu tidak penting. Shakespeare sendiri pernah berkata; apalah arti sebuah nama? Well, aku tidak sepenuhnya setuju dengan alegori itu karena kupikir tidak ada orang yang mau diberi nama 'tahi ayam' sekaya apapun orang itu. Nama tidak penting bagiku. Namun saat pertama kali menginjakkan kaki di Konoha High School, aku mulai mengubah paradigma itu.

Sebuah nama, sebuah arti.

Jika perempuan berambut merah menyala yang sekelas denganku tidak menyandang nama besar keluarga penghasil meubel terkemuka, dia tidak mungkin bisa masuk ke sekolah presticious ini. Aku tidak suka menilai orang, tapi…

"Minggir, kau duduk di tempatku!" Karin mengusir anak kelas satu yang ketakutan dan segera pergi dari tempat duduk di pojok ruang makan.

Terkadang hidup mengharuskan kita untuk menilai, untuk mengetahui mana yang buruk dan yang tidak. Tapi euh, siapa aku berhak menghakimi orang? Mungkin Karin punya alasan tersendiri kenapa sikapnya tidak masuk dalam buku 'Pedoman Etika dalam Pergaulan'. Duh, aku bahkan ragu jika buku semacam itu ada. Kita memang terlahir di dunia ini tanpa buku panduan tata cara bersikap yang baku bagi setiap orang. Tapi kita hidup dalam batasan peraturan tak terlihat yang aku yakin─semestinya─semua orang tahu.

Apapun alasan Karin bersikap seperti itu, sebagai sesama makhluk sosial yang hidup berbagi udara di dunia ini, kurasa aku harus tetap objektif dalam menilainya.

Oke, kembali ke topik. Nyaris dua tahun yang lalu aku menginjakkan kaki di Konoha High School, dan seperti semua anak baru lainnya, aku berharap banyak pada sekolah ini. Nyaris tiga tahun aku mengikuti kegiatan organisasi yang menggerakkan generasi muda di sekolah ini untuk tidak hanya mengasah academic skill mereka. Saat kau benar-benar peduli pada sesuatu, kau harus siap akan segala hal. Sibuk berkarya di masa muda itu menyenangkan, sampai kau lupa bahwa kau hanya punya waktu 24 jam dalam sehari. Kita tidak bisa meminta lebih, karena waktu tidak menunggu untuk siapapun, sebaik apapun alasanmu.

"Kau melamun lagi," Deidara menepuk bahuku pelan, tapi aku tak bergeming. Hei, setiap orang punya waktu privatnya masing-masing kan. Aku lebih suka duduk, berpikir dan mengamati ketimbang main futsal.

Bukan salahku kalau aku terlahir sebagai pengamat.

Mataku tak henti menatap ke seberang, dimana seorang gadis berambut merah jambu tengah berbincang dengan gadis berambut pirang. Jika nama memang mempunyai arti, aku tak tahu contoh apalagi yang lebih tepat dibanding dia.

Haruno Sakura.

Aku mengenalnya sejak pertama ia masuk KHS. Sekali lihat saja kau akan tahu dia cantik. Dua kali lihat, kau akan tahu dia orang yang baik. Tiga kali lihat, dan kau akan jatuh cinta padanya.

Klise memang, tapi ayolah, siapa sih yang tidak pernah jatuh cinta pada pandangan pertama? Fine, tiga kali pandangan pertama.

Di panggung organisasi dengan siswa heterogen dan beribu pola pikir yang berbeda, aku belajar untuk mengulurkan toleransi lebih jauh dari yang pernah kubayangkan. Beberapa siswa yang kelewat pintar mengabaikan segala hal saat pilihan datang kepada mereka. Bukan sekali dua kali aku mendongkol karena teman sekelompokku mengabaikan tugas kelompok karena alasan belajar untuk besok ulangan. Hei, kami di kelas yang sama, kami menghadapi ulangan yang sama. But in the end I always be the single fighter who did almost all the works.

Dalam bahasa yang lebih kasar, beberapa orang tak peduli siapa yang mereka injak demi apa yang mereka inginkan. Aku sadar masa transisi menuntut kita untuk jadi dewasa, dan itu berarti mengembangkan toleransi kita. Dalam kamusku orang-orang itu memang egois karena tidak peduli perasaan orang lain…

Mata Sasori memandangi lekat-lekat gadis berambut merah jambu di seberangnya.

Tapi kurasa setiap orang punya hak untuk jadi egois saat menyangkut apa yang benar-benar dipedulikannya.

Aku hanya berharap orang-orang itu tahu resiko dari keputusan-keputusan yang mereka ambil. Oke mereka mengabaikan skill lainnya demi academic result yang gilang gemilang, tapi apa ijazahmu itu akan benar-benar membantumu saat kamu harus memimpin suatu rapat akbar? Karena apa yang kita lakukan saat kita muda, adalah apa yang akan membentuk kita di hari tua nanti.

Orang bilang masa sma adalah masa dimana mimpi-mimpi idealis kita terbentur dengan kenyataan yang pada akhirnya memaksa kita untuk bersikap realistis. Aku mungkin memang idealis, tapi aku idealis bertanggungjawab. Setidaknya aku tidak berkoar-koar tanpa tindakan nyata. Aku tetap memenuhi kewajibanku sebagai seorang pelajar yang tugas utamanya belajar. Apa itu lantas menjadikanku seorang realis? Terserah bagaimana kau mendefinisikannya. Mungkin aku seorang idealis dengan aksi nyata atau seorang realis yang pandai bermimpi. Keduanya pun tak apa.

Bisa bersama Sakura masuk dalam daftar mimpiku. Aku tak akan memberitahu detail daftar mimpiku itu karena aku yakin kalian tak mau tahu, tapi bisa bersamanya dalam bentuk nyata apapun sudah cukup bagiku. Bicara dengannya, menatapnya, ada dalam jarak sekian meter darinya, itu sudah cukup. Terdengar melankolis dan menyedihkan, tapi mana ada orang jatuh cinta yang bisa berpikiran jernih?

Seorang pria berambut hitam menghampiri Sakura dan Ino. Ino melambai pergi meninggalkan keduanya. Pria berambut hitam jabrik itu berbincang dengan Sakura.

Sasuke Uchiha. Sebuah nama dengan sejuta arti. Aku tak suka menjabarkannya satu persatu, itu hanya mengingatkanku pada betapa sebalnya aku pada pria itu. Kupikir akhirnya aku menemukan pemuda harapan bangsa yang bisa merubah dunia, separuhnya memang benar, dia merubah duniaku. Berlebihan memang, tapi rasanya seperti baru dihantam bola basket saat tahu gadis pujaanku menyukai pria seperti Uchiha.

Orang bilang apa yang seorang Uchiha inginkan, Uchiha dapatkan. Dalam satu jentikan jari, dia mampu menghandle sebuah acara besar. Aku tidak meragukan kualitas-kualitas yang ada dalam dirinya. Tapi ayolah, setiap orang punya perasaan, dan setiap orang akan merasa sakit saat perasaan itu terluka.

Seperti melihat gadis yang kau suka jalan berdua dengan pria lain.

Terdengar mustahil memang bersaing dengan seorang Uchiha untuk mendapatkan seorang gadis. Tapi bukankah mimpi-mimpi yang terbilang mustahil itu yang membuat kita terus maju dan berusaha? Justru rasa sakit saat terjatuh, debaran jantung, dan pahitnya kekecewaan, emosi-emosi macam itu yang membuat kita tahu bahwa kita masih hidup, karena kita dapat merasakannya. Orang bilang; hanya orang mati yang tidak merasa sakit.

Rasa sakit itulah yang menjadikan kita seorang manusia.

Sasori berdiri, berjalan kearah dua pasang anak muda yang tengah bicara di seberangnya itu.

Aku tidak akan berceloteh panjang lebar mengenai sudut pandangku. Aku hanya ingin menegaskan beberapa hal; pertama, aku sama seperti pemuda biasa lainnya yang sedang menjalani masa smanya yang penuh lonjakan emosi jadi berdamailah dengan segala pemikiran anehku yang kadang senewen. Kedua, lagi-lagi seperti pemuda biasa lainnya, aku jatuh cinta pada seorang gadis yang sialnya, menyukai pria lain.

"Sakura," si pemilik nama menghentikan tawanya di depan pemuda berambut hitam, dan memberikan senyum manisnya yang biasa pada Sasori.

Ketiga, aku ingin menyatakan; Aku mungkin salah menginginkan sesuatu yang tak bisa kudapatkan, tapi hey, semua orang punya hak untuk bermimpi, kan? jikapun beberapa mimpi memang terdengar mustahil untuk diwujudkan…

"Ohayou, Sasori-senpai."

masih bolehkan aku berusaha?

End of Sasori pov

-.-.-.-

Sasuke jelas tidak suka dengan segala usaha yang dilancarkan senior mereka itu pada Sakura. Apalagi kalau usaha itu jelas-jelas dilakukan di bawah hidungnya. Koreksi, mungkin dia akan lebih tidak suka pada usaha yang dilakukan di belakang punggungnya. Ah, peduli apa dengan itu, intinya, ia tidak suka!

Jadi jangan salahkan Sasuke kalau ia mengirim pandangan dingin saat pria berambut merah itu menghampiri mereka.

"Sakura," sapa Sasori sambil tersenyum. Sakura membalas senyumannya.

"Ohayou, Sasori-senpai."

"Hn," Sasuke menganggukkan kepala menyapa Sasori. Setidaknya kalau mereka mau bersaing secara sehat Sasuke masih mau menunjukkan beberapa respek pada seniornya itu. Sapaan Sasuke dibalas Sasori dengan senyuman khasnya, senyuman yang selalu diwaspadai Sasuke.

"Sudah mengepak barang? Lima belas menit lagi berangkat."

"Sudah. Apa panitia harus briefing dulu untuk terakhir kali?" tanya Sakura. Sasuke diam-diam merasa menang, selepas semua urusan study tur ini Sakura tidak terikat lagi dengan urusan kepanitiaan konyol yang selama ini jadi alasan Sasori mendekatinya.

"Sebenarnya masih ada evaluasi setibanya kita di sana, kalau kau tidak sibuk sekarang mungkin kau bisa membantuku-" Sasuke baru mau mengatakan 'dia sibuk' saat teriakan dari belakangnya memaksanya untuk menoleh.

"TEME! Kau kemanakan bola basketku?! Aku tidak dapat menemukannya di kamar~" seorang pria berambut kuning berlari dari ujung koridor menghampiri mereka. Sasori terdiam menatapnya dan Sakura menahan tawa melihat penampilan Naruto.

Sebagai pengganti celana yang tak bisa dipakai, Naruto menggunakan sarung yang menutupi boxer yang dipakainya untuk tidur. Hei, lebih baik daripada berjalan-jalan di gunung hanya menggunakan boxer kan? Atau daripada pakai celana yang tak bisa direstleting, mending sekalian ga usah pakai. Naruto hanya pria muda yang berpikiran sesimpel itu.

"…aku tak tahu," jawab Sasuke asal. Sakura tahu betul dimana bola itu basket itu. Kemarin malam mereka meninggalkannya di lapangan, saat malam semakin larut Sasuke melepaskan pelukan mereka dan kembali ke penginapan menggandeng Sakura. Peduli apa dengan semua tatapan dan kasak-kusuk, Sasuke terlalu ngantuk untuk memikirkan apapun lagi malam itu.

"Kau akan pulang ke Konoha menggunakan sarung?" Sasori menaikkan satu alis memandang Naruto. Apa kata guru-guru nanti?

"Uh… ada 'kecelakaan' yang tak bisa dihindari, senpai. Lagipula aku pakai boxer kok, tak masalah kalau cuaca panas tinggal dilepas." Yang jadi masalah itu orang yang melihatnya nanti, pikir Sasori. Ada-ada saja anak-anak aksel ini.

"Kenapa tak pinjam…?" Sakura mengarahkan pandangannya pada si pemuda berambut hitam.

"Jangan menatapku." Tukas Sasuke.

"Teme juga cuma bawa satu. Hanya Choji yang bawa dua, tapi itu piyamanya. Kebesaran pula. Pinjam punya Choji tak ubahnya pakai sarung, jadi ya mending begini." Cerocos Naruto panjang lebar. "ngomong-ngomong aku butuh bantuan mengangkat kasur, Sasuke. Handphoneku terjepit."

Sasuke menghela nafas sambil memutar mata. Bersahabat dengan Naruto berarti harus siap dengan segala keanehan yang tumpang tindih dalam hidup si rambut jagung ini.

"Sampai jumpa di bis." Sasuke menyentuh bahu Sakura ringan, lalu berbalik mengikuti Naruto yang mendapat pandangan aneh dari anak-anak kelas satu yang kebingungan. Sasori tidak berkata apa-apa melihat pemandangan itu. Instingnya sadar ada yang berubah; ada yang tidak menyenangkan dari cara Sasuke dan Sakura berinteraksi pagi ini.

Sesuatu jelas telah terjadi.

"Senpai butuh bantuan mengumpulkan panitia?" Sasori menoleh pada pertanyaan Sakura. Ia menggeleng pelan. Matanya masih mengikuti Sasuke yang tengah bicara dengan Naruto di ujung teras.

"Aku tidak tahu dia dan Naruto dekat sekali," ujar Sasori basa-basi. "kupikir pria sepertinya lebih suka tenggelam dalam dunianya sendiri." Sakura tertawa mendengarnya.

"Tidak ada yang bisa mengerti jalan pikirannya," Sasori menatap Sakura lamat-lamat.

"Kau… menyukainya?" Sakura terdiam. Dari diamnya gadis itu saja Sasori sudah tahu jawabannya. Sakura hanya tersenyum pada seniornya itu. Matanya menatap punggung Sasuke yang menghilang di balik pintu. Sasori terdiam sekali lagi. Rasa tak enak merayapinya.

"Sakura! Karin mencarimu," seorang siswi kelas dua menghampiri mereka. "katanya penting," Sakura mengangguk pamit pada Sasori, dan mengikuti gadis itu ke sisi lain dari teras.

Sasori menghembuskan nafas panjang, memenuhi paru-parunya yang sesak dengan udara gunung yang sejuk. Sejak kemarin banyak desas-desus tentang Sasuke dan Sakura. Seluruh KHS penasaran ada apa diantara dua pentolan sekolah itu. Bukan satu dua kali Sasori mendengar selentingan kabar mereka pacaran. Rasanya apa yang terjadi pagi ini membenarkan berita itu. Jika mereka benar-benar pacaran, rasanya sudah tidak etis bersaing dengan Sasuke.

Kami-sama… sejauh apa dia masih boleh berharap?

-.-.-.-

"Kau berhutang penjelasan." Karin berdiri dengan tangan terlipat di dadanya, wajahnya sama terlipatnya dengan tangannya. Sakura menutup pintu dibelakangnya, ruangan itu sunyi senyap. Ruangan yang biasanya dipakai untung meeting, hanya ada Karin di ujung ruangan dengan wajah masam.

"Aku tidak bisa melakukannya," mata hitam Karin yang dibingkai kacamata berframe merah menyala itu membesar. Gadis itu berjalan kea rah Sakura dan satu jari telunjuk menunjuk langsung ke wajah Sakura.

"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?!" bentaknya dingin. Sakura diam ditempat, menunggu kuku berkuteks merah itu menancap ke wajahnya. Karin terlihat seperti singa betina lapar yang siap menghujamkan kuku-kuku merah itu padanya.

"Maaf," Sakura berucap pelan. "tapi aku-" tiba-tiba saja jari itu ditarik kembali oleh pemiliknya yang berdiri tegak. Mata hitamnya masih mebelalak.

"Sialan," desah Karin. "kau benar-benar jatuh cinta padanya."

Ruangan sunyi senyap sekali lagi.

"Aku tidak ingin menyakitinya,"

Karin bersumpah satu kalimat lagi dari Sakura dan dia siap menggores wajah cantik di hadapannya itu. Kemarin malam dia mendengar kasak-kusuk yang mengatakan mereka berdua pacaran. Dilihat dari cara Sasuke memperlakukan Sakura seharian kemarin, Karin bisa bilang bahwa pria itu melabuhkan rasa pada Sakura. Dan sialnya si bodoh Sasori itu tidak melakukan apapun.

"Tidak kau usahakan pun kau pasti akan menyakitinya suatu saat nanti. Masa lalu kalian tak bisa diubah. Kau selamanya anak pembunuh orang tuanya." Ejek Karin.

"Itu tidak benar," tangan Sakura mengepal pada kedua sisi tubuhnya. "tidak ada yang bisa membuktikan hal itu. Suatu hari nanti Sasuke pasti akan melupakannya." Dan kami akan membangun hubungan yang baru, pikir Sakura optimis.

"Kau tahu kau berurusan dengan siapa, Sakura…" Karin mendekat, mengirimkan pandangan dingin padanya.

"Ino tahu masa laluku. Aku tidak takut padamu."

Sakura bisa mendengar suara gertakan gigi Karin di hadapannya, memendam kekesalan.

"Kau hanya menarik lebih banyak orang dalam masalahmu." Ujar gadis berambut merah itu. "kau seharusnya tidak macam-macam denganku." Sakura menatap seniornya itu, rasa kesal yang sebelumnya ada berubah jadi rasa kasihan.

"Karin, jika kau benar-benar mencintai seseorang, seharusnya kau-" Karin menampar pipi Sakura, memutus ucapan Sakura.

"Kau berani menguliahiku sekali lagi, kurusak wajah cantikmu itu." Sakura tahu, ada lebih dari sekedar obsesi yang membuat Karin melakukan semua ini. Ada sesuatu tentangnya… yang merasa marah dan terluka. Dan Sakura bisa merasakan itu bukan hanya karena cintanya yang ditolak terus-menerus oleh Sasuke.

Apa yang membuat Karin bersikap seperti ini? Karena tidak ada orang yang bersikap menyebalkan kalau tidak ada hal yang tidak menyenangkan yang jadi pemicunya.

"Karin, kau bisa bicara padaku jika ada masalah-" sekali lagi, tamparan mendarat di pipi Sakura. Sakura menelan ludah, ini tak akan mudah. Tapi jika ini bisa membereskan masalahnya dengan Karin… ia bisa menahan beberapa tamparan lagi.

"-masalah pribadi, aku janji akan membantumu dan-" kali ini Karin tidak menamparnya, melainkan mendorongnya hingga jatuh membentur kursi dan terguling. Pintu terbuka tiba-tiba, seorang pria dengan rambut abu-abu muncul di pintu. Matanya berpindah dari Sakura yang tengah mendesah kesakitan di lantai dan kursi yang terguling ke Karin yang berdiri dengan gigi gemeletuk.

"Kau tak apa?" Sakura mendongak, mengenali pria itu sebagai Hoshigaki Suigetsu, atlet kendo nomor satu KHS yang sekelas dengan Karin. Perangainya yang easy going dan humoris membuatnya terkenal di KHS. Sakura menerima uluran Suigetsu yang membantunya bangun.

"Kau bantu dia berdiri maka aku akan hancurkan bisnis keluargamu." Seru Karin dingin. Tapi Suigetsu mengabaikannya.

"Kau selalu bilang begitu sejak bertahun-tahun lalu, Karin. Kali ini kau kelewatan." Suigetsu mempelajari penampilan Sakura. "kau Haruno Sakura kan?" Sakura mengangguk pelan. Kilatan jenakan muncul di mata Suigetsu. "pantas saja." Celetuknya.

Sakura tak mengerti apa-apa, tapi ia merasa bersyukur ada orang lain di sini. Karin sepertinya siap menghujamkan kukunya ke wajah Suigetsu, tapi pria itu keburu menariknya.

"Maafkan dia, ya. Kalau kau kenapa-kenapa hubungi aku saja," Suigetsu mengedipkan sebelah mata dan menarik Karin yang berteriak-teriak jengkel keluar ruangan, menyisakan Sakura termanggu bingung.

-.-.-.-

"Untuk yang kesekian kalinya, kau bisa tidak bersikap tidak merepotkan?"

"Aku?! Kau yang menganggu! Kenapa kau menarikku ke sini?!" Karin menghempaskan tangannya yang ditarik Suigetsu, rasa jengkel kentara sekali di wajahnya karena kata-kata pemuda itu.

"Kalau kubiarkan kau terus diruangan itu, besok aku akan menemukanmu di penjara karena melukai gadis tak bersalah," Suigetsu berkata datar, seolah-olah teriakan Karin sudah biasa ditelinganya.

"Kau tak tahu apa-apa dasar pecinta ikan! Dia…" Karin urung menyampaikan pidato kemarahannya. "ah, bicara denganmu tak ada gunanya! Orang sepertimu tak kan mengerti!"

Suigetsu memandangi gadis yang masih sibuk memaki itu. "Aku tahu kok. Sakura Haruno yang katamu dekat dengan Sasuke itu kan? Kudengar selentingan kemarin katanya sekarang mereka pacaran. Tapi itu bukan alasan kau bisa mendorongnya begitu saja-"

"Kalau kau tidak diam sekarang juga, aku akan mendorongmu dari tepi jurang." Gerutu Karin. Suigetsu tertawa renyah mendengar kalimat yang sama sekali tak bertujuan untuk melucu itu. Karin marah bukan hanya karena selentingan itu. Tapi karena Sakura berani-beraninya menguliahinya tentang bagaimana bersikap. Anak yatim piatu itu tahu apa?

Memangnya dia tahu bagaimana rasanya diabaikan oleh orang tua? Memangnya dia tahu bagaimana rasanya mengemis cinta dari orang tua?

Karin mengepalkan tangan lagi. Hidup sebagai putri tunggal keluarga kaya raya tidak semudah kelihatannya. Sejak kecil Karin harus berdamai dengan kesendirian, dengan orang tua yang super sibuk. Segala hal dengan mudah didapatkannya, semudah membalikkan telapak tangan, kecuali satu hal.

Cinta.

Obsesinya pada Sasuke hanya manifestasi dari kemarahannya karena hidup bersikap tak adil padanya.

"Hoi." Karin merasakan tepukan pada puncak kepalanya. "jangan marah-marah lagi ya?" Suigetsu menyeringai di hadapannya. Teman bermainnya sejak kecil yang menyukai ikan lebih dari apapun itu selalu jadi kantong kemarahannya. Karena Suigetsu tahu 'luka-luka' yang dipendam Karin karena diabaikan orang tuanya. Karena itu pulalah Suigetsu hampir selalu menolong Karin yang terlibat masalah karena perangainya.

Karin masih menggerutu. "Kau berhutang makan siang padaku karena merusak moodku." Ujarnya pada Suigetsu.

"Duh, tapi kalau kau kutraktir lauknya ikan." Karin memukul kepala Suigetsu, tapi setidaknya ia tidak menggerutu lagi.

-.-.-.-

"Kau kenapa?" Sasuke memandang bingung pada Sakura di bis. Gadis itu sedari tadi diam saja memandang ke jendela.

"Tidak kenapa-kenapa." Jawab Sakura, masih tidak memandang Sasuke. Sasuke menyerah, jika gadis itu sedang tidak ingin bicara ya sudah. Lagipula dia sendiri juga bukan tipe pria yang mudah terlibat komunikasi dua arah.

"Sasuke," Sakura akhirnya berputar menatapnya. "apa kau masih membenciku karena masa lalu?" Sasuke berpikir sejenak. Suara dengkuran Naruto beberapa kursi di depannya terdengar sayup-sayup di bis yang melaju kencang.

"Aku tidak membencimu," Sasuke menjawab pelan. "tapi aku tidak ingin membicarakan masa lalu,"

"Kau sadar kalau kita ingin memulai, kita harus mulai membereskan masalah… itu?" Sebagian dari diri Sasuke masih kesal jika harus bicara tentang bagian yang sensitive itu. Tapi kalau dipikir-pikir, bukan salah Sakura kalau dia tidak tahu bagian kelam dari keluarga Uchiha yang serba penuh tuntutan itu.

Mungkin, Sasuke harus belajar membuka pintu bentengnya dan percaya pada orang lain.

Sasuke menghela nafas. "Tidak sekarang, Sakura."

Sakura mengamati pandangan Sasuke yang tiba-tiba jadi dingin dan hampa. Sakura tak tahu apa-apa soal masa kecil Tuan Mudanya, yang ia tahu hanya Sasuke menjauhinya dan membencinya sejak kecelakaan itu. Tapi mata hitam itu tampak lelah. Jika Sasuke tidak ingin membicarakan hal itu, ia tidak akan memaksa. Toh mereka butuh waktu untuk terbiasa dengan keadaan baru ini.

"Sasuke…" jari jemari Sakura menelusup ke dalam genggaman Sasuke, membuat pria itu menoleh padanya. "kau bisa bersandar padaku. Aku janji akan selalu ada untukmu."

Entah darimana, tapi Sakura tahu itu hal yang selalu ingin disampaikannya pada pemuda itu. Sakura meremas jari jemari Sasuke yang bertaut dengannya. Dia tak pernah punya apa-apa untuk ditawarkan pada Sasuke. Karena pria itu sudah mempunyai hampir segalanya.

Dia hanya punya cinta untuk diberikan pada Sasuke.

Cinta. Keberanian. Kekuatan.

"Kau tidak sendirian," ujar Sakura pelan, menatap dalam-dalam mata hitam Sasuke. Sakura tahu ia akan melakukan apa saja untuk membahagiakan pemilik mata sehitam malam itu.

Untuk sedetik keduanya terdiam. Senyum tipis terbentuk di wajah tampan Sasuke. Sesaat kemudian pria itu tertawa kecil. Sakura mengernyit heran.

"Kau tahu, kata-kata itu seperti baru kau kutip dari buku novel picisan," Sasuke terkekeh. Yah, kembali lagi deh Sasuke si malaikat bersayap iblis. Pikir Sakura kesal. Tapi toh aku tetap menyukainya. Sakura pelan-pelan kepalanya menutup mata, menyandarkan kepalanya dengan hati-hati ke dada Sasuke.

Pria itu tidak bergeming. Menganggap itu sebagai tanda penerimaan, Sakura menutup matanya, mendengarkan irama detak jantung Sasuke.

Suatu hari nanti, kau akan menemukan seseorang yang kau tahu untuknya lah jantung ini berdetak.

Kutipan entah dimana itu menyelusup dalam pikiran Sakura. Kenapa tiba-tiba dia berubah jadi semelankolis ini?

"Sakura,"

"...ya?" satu tangan Sasuke merengkuh bahunya, membuat jarak diantara mereka semakin dekat.

"Belum terlambat kan untuk memulai semuanya dari awal?"

Sakura bangun dari tidurnya di dada Sasuke, menatapnya nanar. Sasuke, merasa risih dipandangi seperti itu. Butuh banyak keberanian mengutarakan hal semacam itu bagi seorang Uchiha.

Perasaan asing yang meluap-luap ini tak mau dikompromikan. Jauh di dalam hatinya ia tahu perasaan ini pantas untuk diperjuangkan. Dia tak bisa selamanya berdiri di tepi jurang dan diam kan? Pada suatu titik dia harus mengambil keputusan; terjun bebas atau menunggu kematian menghampirinya dalam diam.

"Bodoh." Sakura tersenyum. "kita belum pernah berakhir. Untuk apa memulai dari awal?"

Sasuke tertegun mendengarnya. Tangannya menyentuh pipi gadis itu, memandang jauh ke dalam iris emeraldnya. Kita belum pernah berakhir. Aku peduli padamu. Aku membutuhkanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Kata-kata Sakura sebelumnya bergema dalam rongga kepalanya. Dahi Sasuke beradu dengan Sakura, ia bisa melihat jelas bulu mata lentik Sakura setiap gadis itu berkedip. Di tengah keheningan bis yang hanya diisi dengkuran halus Naruto, Sasuke memejamkan matanya, mengabsorpsi setiap detik percikan perasaan ini.

"Terimakasih,"

Kau tahu bagaimana rasanya dicintai sedalam itu?

Hangat nafas Sakura beradu dengannya, wangi strawberry gadis itu menyeruak memenuhi organ kortinya. Sasuke belum mampu menemukan padanan kata untuk mengeskpresikan rasa ini. Perasaan adalah hal yang sudah sejak lama dikubur dalam-dalam seorang Sasuke sejak malam ayahnya mematikan hatinya. Hatinya yang dijaganya baik-baik kini jadi taruhan.

Dan Sasuke sudah memilih.

Dia baru saja meletakkan hati itu di atas seuntai benang rapuh.

Seutas benang rapuh yang dipegang oleh Haruno Sakura. Sasuke Uchiha, pewaris kerajaan bisnis Uchiha yang arogan, mempercayakan hatinya pada seorang gadis. Ia baru saja memberikan Sakura hak untuk melukainya. Sasuke belum pernah mempercayakan bagian terpentingnya seperti ini. Rasanya seperti baru saja membagi sebagian nafasnya.

Aku bukan manusia utuh. Sebagian dari diriku sudah rusak sejak 'saat itu'...

Sasuke baru saja mengakui kelemahannya. Sakura orang pertama yang membuatnya membuka pintu benteng itu. Bibirnya bergerak pelan menyentuh milik Sakura, menggumamkan kata-kata yang tak kan pernah bisa diucapkannya keras-keras;

...tolong jangan patahkan apa yang masih tersisa dariku untuk mencintaimu.

-.-.-.-

Hinata berlari-lari kecil ke rumahnya. Gara-gara sepanjang perjalanan Naruto tidur menyandar padanya, Hinata yang berdebar terus sepanjang perjalanan jadi tidak bisa istirahat sama sekali. Matanya terasa berat dan ketiduran di kereta pulang dari KHS. Untung saja tidak kelewatan jauh, bisa gawat nanti kalau pulang terlalu larut. Bisa-bisa Naruto yang jadi sasaran amukan Hiashi.

Jam ditangan sudah menunjukkan pukul 7 malam lewat sedikit. Bagi Hiashi Hyuuga, terlambat satu menit atau satu jam tetap saja terlambat. Melanggar jam malam berarti siap diceramahi berjam-jam. Dan saat ini Hinata sudah sangat lelah untuk hal-hal semacam itu. Ia memacu kakinya berlari lebih cepat lagi, berbelok di perempatan.

"Akh!" Hinata berteriak nyaring.

Jantungnya nyaris saja copot. Beberapa senti darinya, mobil sport hitam mengerem dengan suara ban berdencit. Akibat tenaga yang digunakan untuk mengerem itu bagian depan mobil segera berasap. Hinata merasakan lututnya lemas dan terjatuh di jalan. Keringat dingin masih membasahinya.

Dia baru saja lolos dari maut.

"Hinata?" Mata lavendernya beranjak dari moncong mobil yang masih mengepulkan asap ke pemuda tinggi tegap yang mengulurkan tangan di depannya. "astaga, kau baik-baik saja?" Pemuda itu melepaskan jasnya untuk segera melampirkannya ke gadis yang masih shock di depannya.

Hinata terkesiap beberapa detik. Mata hitam legam, rambut kecokelatan, raut wajah lelah yang lebih dewasa dari umurnya…

"Itachi-san?"

-.-.-.-

A/N : Sorry for late update. Jadwal update yang tadinya weekend jadi bergeser karena satu dan lain hal, sesuai jadwal tidur author #plak

Urusan sekolah mulai mengubah titik equilibrium sirkum sirkadian saya.

Author bikin chap ini sambi ditemani lagu-lagunya Secondhand Serenade. Coba dengerin Awake pas di scene sasusaku deh, terutama pas di bis pulang. Kira-kira seperti itulah perasaan Sasuke. Chap ini masih awal hub mereka jadi memang dibuat agak canggung supaya ga kecepetan alurnya. Biar sikap Sasuke ga berubah 180 derajat dari sebelumnya. Author ingin mengeksplor sudut pandang Sasori dan sepintas tentang Karin di sini. Maaf kalau sasusaku momennya sedikit hehe. Maaf juga kalau chapter ini ga seromantis sebelumnya, cakrawala author masih mendung :( semoga chap ini tidak mengecewakan ya...

Di chap sebelumnya memang ada typo tentang mata Sasori, saat ngetik author kepikiran Gaara soalnya *akibat berjam-jam di depan komputer* terimakasih untuk yang udah ngingetin :)

...

Karya seorang penulis hanya sebagus pembacanya.

I am nothing without my readers, silent or the spoken ones.

Kalau bisa tembus 250an reviews akan update kilat :)

Hima : terimakasih reviewnya :) semoga bisa bikin chap sweet lagi ya hehe

Dinosaurus : *peluk juga* lemonnya nanti ya, biar pas sama alur hehe. Makasih banyak loh sampai review dua kali haha

Mysticious : stagnan itu statis, tak bergerak. Terimakasih, semoga fic ini bisa memenuhi harapanmu hehe :)

Shich Hzr : dear, I really dont know how to thank you. Makasih ya review-reviewmu itu selalu bikin senyam-senyum sendiri loh haha. Bener kok tebakannya. Saya hanya anak sma biasa yang berharap punya kehidupan yang luar biasa :)

Chibiusa : saya juga senang baca review ini :D tuh Itachi udah pulang... tapi alasannya apa disimpan untuk chapter depan ya hehe

Rinsakurauchi : iya maaf ya updatenya juga telat T_T tapi untuk chap selanjutnya akan diusahakan supaya kilat hehe. Makasih ya udah ngikutin cerita ini dari awal hehe

kimya chan : makasih hehe semoga author bisa bikin chap full sasusaku lagi...

sasusaku kira : makasih hehe maaf ya kalau chap ini ga semanis sebelumnya

mimia : kalau Karin ga macam-macam nanti ga seru dong :p

hankira : kayanya semua orang mengalami penderitaan yang sama saat sma :)

uchiharuno phorepeerr : makasih reviewnya ya :) semoga author bisa bikin chap-chap lain yang kamu suka hehe

Guest : makasih reviewnya :)

Yuyu : siiip

Batman : ini baru update hoho

...

Until next chapter,

Realis yang pandai bermimpi,

Phylaphy.