"I'm just a girl, standing in front of a boy, asking him to love her."

-Notting Hill

-.-.-.-

SEMBILAN

Rambut pirang panjang melambai tertiup angin.

"Ino, kalau kau tidak tutup pintunya nanti masuk angin," si pemilik rambut emas itu mendongak dari tugas biologinya.

Hampir saja ia ketiduran karena angin sepoi-sepoi masuk dari pintu kamar di beranda kamarnya yang terbuka lebar membuainya. Ino menguap, mematikan Ipodnya yang masih menyenandungkan lagu instrumental When the Love Falls karya pianis bertanagan dingin Jepang, Yiruma. Pria itu memang mampu menyulap tekanan tuts-tuts piano jadi sebuah untaian nada yang merasuk ke pikiran. Salah memang kalau mengerjakan tugas biologi sambil mendengarkan lagu instrumental mellow saat cuaca sedang asik-asiknya untuk tidur.

"Biarkan saja…" Ino mengucek matanya, melihat bayangan Ibunya menutup pintu beranda. "Ibu, anginnya sedang enak, biarkan saja masuk." Protesnya.

"Kau ini, bukannya belajar malah ketiduran." Ino membalas gumaman Ibunya dengan seringai yang biasa. Nyonya Yamanaka tahu betul sifat putrinya. Jadi kalau mood putri semata wayangnya itu sedang tidak enak untuk belajar ya dia akan mengerjakan tugasnya seadanya. Tipikal anak jaman sekarang, pikir Ibunya sambil berlalu keluar kamar Ino.

Mata baby blue mengerjap beberapa kali, sepenuhnya sadar dari keadaan setengah tidurnya barusan. Paper biologi harus selesai besok, dan itu berarti…

Tak ada lagi pertemuan-pertemuan rahasia di atap sekolah atau tangga darurat.

Ino cemberut, duduk di pojok berandanya, memandang jauh ke langit sore. Awan-awan sudah mulai menghilang jadi garis-garis tipis di langit yang kemerahan. Apa yang Shikamaru lakukan kalau tidak ada awan untuk diamati? Apa kalau sore pria itu hanya akan tidur di atap rumah, memandang langit tanpa awan?

Di pasangnya lagi alunan nada itu. Dulu, ada seseorang yang dikenalnya yang pandai memainkan alunan nada seindah ini. Sejak dulu Ino memang tertarik dengan pria yang pandai di bidang seni. Sai-senpai si juara melukis tingkat internasional yang disebut-sebut sebagai calon pelukis tingkat dunia tentu masuk dalam daftarnya. Masih banyak lagi daftar pemenang bidang seni lainnya yang sebenarnya selama ini dapat perhatian dari Ino. Tapi ada satu yang tak terlupakan…

Mata baby blue setengah terbuka, menerawang jauh ke masa lalu.

Rambut pirang panjang memunggungi pintu ruang musik. Alunan nada tak putus-putusnya menghiasi ruang yang didesain untuk menghasilkan suara tanpa gema itu. Ino tengah berlari di koridor karena lupa bekal makan siangnya di loker. Semua murid smp Konoha sudah pulang, jadi ia berhenti dan bertanya-tanya di depan ruang musik. Siapa gerangan yang memiliki rambut pirang sepertinya yang punya talent yang jauh berbeda darinya? Ino nyaris dikatakan tak punya bakat sama sekali dengan alat musik.

Begitu anak itu selesai memainkan, Ino bertepuk tangan gembira. Ia dibesarkan di keluarga yang membawahi bisnis budidaya tanaman, dan tahu betul bagaimana menghargai sesuatu yang menurutnya indah. Si rambut pirang yang baru selesai memainkan lagu itu kaget dan segera menoleh. Mata mereka bertatapan.

Seperti kaset rusak, memori Ino mengulang-ulang masa itu setiap kali nada-nada musik menyentuhnya.

Rambut pirang. Tangan terulur. Seringai yang khas.

"Namaku Deidara."

Ino menutup mata, memblokir ingatan-ingatan yang mulai menyeruak ke permukaan. Ia tidak ingin masa lalu membayanginya terus. Apalagi saat ini, saat ia percaya akhirnya ia menemukan seseorang untuk mengisi kekosongan itu. Jarinya tertahan untuk menekan tombol berhenti.

Tapi nada-nada itu terus mengalun dalam benaknya. Ia menyukai musik. Masih, masih menyukai musik sama besarnya seperti orang itu mempengaruhinya hingga kini.

Memori itu seperti kaset rusak bersuara sumbang.

-.-.-.-

"…but I'm not the man your heart is missing… that's why you go away, I know-" Suigetsu berhenti bernyanyi saat earphone-nya ditarik paksa dari telinganya. Karin berdiri bersungut-sungut di depannya.

"Berhenti menyanyikan lagu cengeng, bodoh!" Suigetsu menaikkan satu alisnya. Seingatnya sedari tadi dia tidur-tiduran sendirian di bawah pohon halaman Konoha, dan tak ada satu spesies pun dalam jarak pendengaran aman yang akan terganggu oleh nyanyiannya.

"Darimana-"

"Mulai sekarang aku duduk di sini tiap istirahat!" seru Karin menghempaskan kotak bekalnya di samping Suigetsu. Terang saja Suigetsu segera berkeringat dingin. Satu-satunya tempat aman yang tak terjamah Karin yang senantiasa menganggu waktu tidur siangnya kini sudah dijajah. Percaya deh, Suigetsu sudah mencoba semua tempat. Tidur di perpustakaan saja masih didatangi Karin. Atap? Tangga darurat? Puh, semua sudah ada penghuninya. Gara-gara baru masuk semester kemarin karena ada pelatihan nasional kendo di Korea, Suigetsu jadi harus puas tempat-tempat tidur strategis di KHS sudah dikuasai orang lain.

Kenapa banyak siswa yang tidur saat jam pelajaran di KHS? Well, salahkan sistem pendidikan yang tak pernah berubah sejak jaman kuda gigit besi.

"Kau kan bisa makan dimana saja," tukas Suigetsu merebut balik earphone-nya. Lagu MLTR yang dikatakan Karin cengeng itu kembali mengalun. "Lagipula ada batas antara cengeng dan romantis tahu. Kalau lagu ini, romantis namanya."

"Cih, terserahlah. Aku mau makan di sini." Suigetsu mencibir, tahu betul alasan Karin ke sini pasti mau menumpahkan uneg-unegnya tentang si Uchiha itu padanya lagi. Lama-lama Suigetsu harus membuat semacam kotak penjawab otomatis sebagai pengganti dirinya.

"Kau tahu, tadi kulihat Sasuke-" tuh kan, kubilang juga apa. Karin mulai membuka bekalnya, memakan bentonya dengan eskpresi kesal.

"Biarkan sajalah, sekali-kali dia hidup tentang tanpa kau usik," ujar Suigetsu menekan lagu She Will be Loved di deretan playlist-nya. Suara Adam Levine sedikit banyak mengaburkan ceramah Karin yang timbul tenggelam di telinganya.

I don't mind spending spending everyday

Out in the corner in the pouring rain

"Kau tak tahu apa-apa jadi diamlah." Seru Karin kesal, mengunyah onigiri sambil merengut.

Look for the girl with the broken smile

"Masa sma akan segera berakhir. Kau mau mengejarnya sampai kapan?" Suigetsu berguling dari posisi tidurannya, menatap Karin dengan pandangan jahilnya yang biasa. "lagipula kau tak akan bisa mendapatkannya."

Komentar terakhir Suigetsu mendapat pukulan di kepala dari Karin.

"Aku masih punya kartu AS." Seru gadis itu sambil meletakkan bentonya dan tersenyum licik. "sesuatu yang pasti akan memisahkan mereka."

Suigetsu bangun, duduk menyandar pada batang pohon, menatap ke gedung KHS di seberang sana.

"Apa asiknya sih ngotot mengejar sesuatu…"

Ask her if she wants to stay a while

"Kau bilang begitu karena kau tak pernah serius mengejar sesuatu."

"Masa muda cuma sekali, untuk apa menjalaninya begitu serius?" Suigetsu menyeringai sambil iseng mencomot sosis dalam bento. Karin segera memukul tangannya dengan sumpit. "Itai, aku minta sedikit saja tak boleh? Dasar pelit." ringisnya dengan mimik kekanakan yang biasa.

"Bukan. Kalau kau mau minta kau harus cuci tangan dulu." Tukas Karin. Suigetsu melongo takjub. Biasanya kalau dirinya mencomot sesuatu dari si rambut merah, pasti kena marah. Baru sekali ini Karin memperbolehkannya makan bekalnya, setelah bertahun-tahun mereka saling kenal.

And she will be loved…

"Kau barusan kebentur apa?" tangannya menyentil dahi Karin yang segera dibalas pukulan lain oleh si rambut merah.

-.-.-.-

"Sasuke-teme! Konsentrasi!" Naruto berseru pada rekannya yang sama ngos-ngosannya seperti dirinya. Pria bermata onyx itu tidak menjawab, menyeka keringatnya dan para penonton perempuan di pinggir lapangan mulai berteriak-teriak kagum. Kalau bukan karena beberapa hari lagi ada pertandingan, Sasuke mana mau disuruh latihan di lapangan terbuka KHS di tengah jam istirahat, dimana para fangirlsnya membanjiri tepi lapangan mengirimkan jeritan-jeritan yang jelas-jelas menganggu konsentrasi.

"Bagaimana aku bisa konsentrasi kalau mereka menjerit terus," ujar Sasuke, berlari bersisian dengan Naruto.

"Lempar saja kausmu ke mereka, pasti diam." Detik berikutnya Naruto meringis memegangi kepalanya yang sakit gara-gara dipukul Sasuke. "sakit tahu! Kalau kepala gantengku ini kenapa-kenapa kau mau tanggungjawab menggantikanku jadi kapten?"

"Bagaimana kalau kau saja yang kulempar?" ujarnya sarkas, mengabaikan keluhan kapten tim sepak bola junior KHS itu. Peluit berbunyi, tanda latihan hari ini selesai sudah. Sasuke mengatur nafasnya, matanya menjelajahi tepian lapangan mencari sesosok rambut berwarna pink.

Seperti biasa, Sasuke tahu Sakura selalu menonton pertandingannya bahkan sejak sebelum kejadian itu. Gadis itu tampak salah tingkah bertatapan dengannya, lalu buru-buru menenggelamnkan diri di buku tebalnya.

"Kau belum cerita apa yang terjadi saat study tur," Naruto menyeringai melihat arah pandangan Sasuke.

"Tak usah kuceritakan juga kau sudah tahu," Naruto tertawa sambil menepuk punggung Sasuke.

"Kau tetap berhutang cerita padaku, sobat."

"Hn," Sasuke beranjak dari lapangan ke tribun, mengabaikan fansnya yang mulai menjerit-jerit lagi.

"Hei," Sakura mengalihkan pandangan dari Campbellnya.

Sekeras apapun ia mencoba membaca kata-kata di bukunya, tetap saja sedari tadi ia sepenuhnya sadar pada keberadaan Sasuke. Tidak mungkin ada gadis waras yang mampu tidak peduli pada makhluk adam satu ini. Sosok Sasuke yang berkeringat, dengan rambut hitam menempel di dahinya, dan nafas yang naik-turun mampu mengalihkan dunia gadis waras manapun. Sasuke mengabaikan tatapan bengong Sakura dan duduk di sampingnya, tanpa tedeng aling-aling mengambil minuman gadis itu.

"Kopi lagi? Kau tidak tidur berapa hari sih?" komentarnya, meletakkan kembali minuman Sakura yang tadinya dikira susu cokelat. Di bawah sana, puluhan pasang mata mengamati mereka.

"Uh…" dan lagi-lagi, Sakura selalu salah tingkah kalau bicara dengan Sasuke di depan umum. Di rumahpun keadaan serba canggung sejak pulang dari study tur, hingga pada akhirnya Sasuke kembali menekuni kerjaannya di depan komputer yang menyala 24 jam di kamarnya yang tertutup dan Sakura hanya bisa meruntuki kebodohannya karena tak berusaha mendekati pria itu.

"Abaikan mereka," Sasuke menyandarkan kepalanya, menatap ke langit luas, seolah tahu apa yang ada di pikiran Sakura tentang puluhan pasang mata yang mengamati mereka. Sakura ikut bersandar ke belakang, memperhatikan burung yang terbang bebas.

"Aku minta maaf."

Sakura bangun dengan sangat tiba-tiba dari posisinya, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Tujuh tahun sejak kejadian itu dan baru kali ini ada kata sakral yang melewati mulut Tuan Mudanya. Sasuke menoleh padanya, eskpresinya datar seperti biasa.

"Maaf untuk?" Tanya Sakura hati-hati.

"Semuanya."

Dan tiba-tiba semua kasak-kusuk di sekitar mereka, semua pandangan itu terasa tak begitu berharga untuk dipedulikan. Jantung Sakura berdegup dengan irama yang tidak biasa. Sasuke bangkit dari posisinya, menyentuh tangan Sakura yang masih termanggu. Sentuhan yang hangat.

"Istirahatlah. Jangan kebanyakan minum kopi."

Secepat datangnya, pria itu sudah berlalu lagi. Hanya sebentar saja mereka bicara, Sasuke Uchiha sudah mampu menjungkirbalikkan dunia Haruno Sakura.

Apa seseorang bisa mencintai sampai seperti ini?

Sakura menutup mata, berusaha sebisa mungkin mengingat apa yang baru saja dibacanya tentang dua belas saraf kranial untuk menghentikan dirinya memikirkan pria itu.

Hasilnya? Nihil.

-.-.-.-

Mata lavender mengerjap beberapa kali.

Apa aku tak salah dengar?

"Uh… tapi kenapa, Itachi-san?" Pria yang ditatap Hinata di seberang meja makan menyeruput kopinya dengan tenang.

"Tidak kenapa-kenapa." Jawab Itachi datar. Hinata menautkan jari jemarinya dengan gelisah di pangkuannya. Orang-orang berlalu lalang di sekitar mereka. Baru jam 10 pagi, tapi kafetaria di Rumah Sakit Konoha sudah cukup ramai.

"Tapi kenapa harus merahasiakannya dari Sasuke?" tanya Hinata sekali lagi. Di hadapannya, wafel cokelat masih belum tersentuh. Hinata sebenarnya tidak merasa lapar, lebih karena semalaman dan sepagian ini ia dibuat bingung oleh kakak Sasuke di depannya. Itachi meletakkan gelas kopinya, memandang ke piring Hinata yang belum tersentuh.

"Makanlah. Kau sedari malam belum makan kan." Ujarnya mengabaikan pertanyaan Hinata. Hinata menunduk, berusaha menyembunyikan wajah merahnya. Tapi dia tidak lapar. Bukan salahnya kalau dia tidak merasa lapar setelah apa yang terjadi.

Flashback

Selepas kejadian nyaris tertabrak itu, Itachi menawarkan mengantarkannya ke rumah. Baru di tengah jalan tangan pria itu tiba-tiba lumpuh. Kalau Hinata tidak segera menarik rem tangan, mereka berdua pasti sudah tenggelam di danau seberang rumah Hyuuga. Itachi mengatur nafasnya yang tak beraturan, dan Hinata bisa melihat betapa pucat wajah putra tertua Uchiha itu.

"K-kau tidak apa-apa?"tanya Hinata cemas. Hari ini sudah dua kali ia berhadapan dengan maut.

"Maaf tampaknya aku tak bisa mengantarkanmu sampai rumah." Bisa-bisanya pria ini tetap bersikap seakan mereka dalam pertemuan formal?

"A-akan kupanggil bantuan." Itachi menggeleng.

"Aku akan baik-baik saja."

"T-tapi… Tousan pasti punya obat, tunggu-" Itachi menggenggam tangan Hinata.

"Jangan." Hinata menatap langsung ke mata hitam Itachi. "tidak ada yang boleh tahu aku sudah pulang ke Konoha."

"Tapi-"

"Hinata." Hinata bisa melihat laki-laki kebanggan keluarga Uchiha kini terlihat begitu rapuh didepannya. "kalau kau ingin menolongku, sekarang juga antarkan aku ke Rumah Sakit Konoha."

Hyuuga Hinata dididik untuk berpikir secara sistemis, logis, dan patuh kepada tradisi yang mengikatnya selama 17 tahun hidupnya. Jangankan SIM mobil, Hiashi saja belum mempercayakan hubungannya dengan Naruto. Malam ini ia pulang terlambat, dan sekarang terjebak dengan pria yang tidak begitu dekat dengannya.

"Baiklah," Hinata menyerah.

Sudah berapa banyak larangan dan peraturan yang dilanggarnya dalam satu malam?

Setibanya di Rumah Sakit, Itachi segera mendapatkan perawatan. Begitu banyak pertanyaan di kepala Hinata; kenapa tak boleh ada yang tahu kepulangan pria itu? Bahkan keluarga Hyuuga sekalipun yang sama sekali jarang berhubungan dengan keluarga Uchiha? Sebegitu rahasianya kah urusan Itachi?

Hinata menatap Itachi yang duduk di kursi roda dan tengah bicara serius dengan beberapa petugas medis. Mungkin merahasiakan identitasnya atau apa. Rasanya Hinata seperti dilempar dalam film-film action tentang agen rahasia.

"A-anu," Hinata menghampirinya saat petugas medis itu pergi. "aku harus pulang."

"Sudah malam. Bermalamlah di sini."jawab pria itu, rona wajahnya masih pucat. Petugas medis yang tadi bicara dengannya sudah kembali lagi. "tunggu aku di kamar 206, Hinata."

Bagai robot, Hinata patuh pada pria yang lebih tua darinya itu. Ia tak mengerti kenapa, tapi instingnya percaya pada Itachi Uchiha. Lagipula toh pulang sekarang atau besok pagi akan sama saja… Hinata menungguinya hingga tertidur di sofa, dan pagi-pagi sekali dibangunkan oleh wangi wafel. Duduk di sampingnya, Itachi Uchiha tengah membaca koran pagi.

"Itachi-san?" Hinata bangun dengan gelagapan, malu karena tertidur di depan orang lain. Bahkan Naruto pun belum pernah melihatnya jatuh tertidur saking lelahnya. Sebuah selimut jatuh dari pundaknya. Itachi kah yang menyelimutinya?

"Pagi, Hinata." Hinata bisa melihat selang infuse yang dipasang di tiang samping Itachi, yang harus dibawanya setiap ia bergerak. Karena tertidur, Hinata jadi tak tahu apa yang terjadi dengan Itachi sebenarnya. Itachi tahu pertanyaan yang ada dikepala Hinata saat gadis itu menatapnya.

"Hanya kecapekan. Butuh asupan nutrisi lebih dan istirahat," ujarnya meyakinkan. Hinata mengangguk pelan, kagum pada bakat alami pria itu untuk membaca situasi. "terimakasih sudah menolongku."

"B-bukan apa-apa." Sebenarnya Hinata sudah melewati masa gagap sejak ciuman pertamanya dengan Naruto, lantas kenapa seharian kemarin tiba-tiba muncul lagi?

"Aku sudah menelepon rumahmu. Kau bebas untuk hari ini." Mata lavender Hinata membesar.

"T-Tousan…?"

"Hiashi tidak tahu kau tidak pulang. Aku meyakinkan pelayanmu kau pulang tanpa bertemu mereka dan berangkat pagi-pagi sekali." Jika ada satu orang yang bisa mengakali Hiashi Hyuuga, mungkin orang itu hanyalah Itachi Uchiha. Sekarang Hinata tidak heran bagaimana Uchiha corp bisa melebarkan sayapnya menembus batas benua.

"Terimakasih." Hinata berdiri, menunduk dalam pada Itachi. "aku harus ke sekolah."

"Kau bisa pakai mobilku." Hinata menerima kunci dari Itachi. "hati-hati. Aku berhutang banyak padamu." Hinata membalas tatapan dalam itu, mengangguk dan siap pergi. Di belakangnya, Hinata bisa mendengar suara Itachi bangkit dari sofa, menyeret infusnya.

Tiba-tiba saja Hinata urung memutar handle pintu.

"Hinata?" Itachi menatap bingung pada gadis berambut indigo yang malah duduk di samping tempat tidurnya.

"A-aku bisa menemani sebentar lagi." Jawabnya pelan. Itachi pulang tanpa memberitahu siapapun, dengan keadaan yang masih lemah, wajar saja kalau insting keibuan Hinata merasa ia masih harus menemani pria itu. Itachi tersenyum tipis mendengarnya.

"Kalau begitu ayo ke kafetaria. Bawa saja wafel itu, aku tidak makan makanan manis."

End flashback

Dan di sinilah mereka berada sekarang. Baru beberapa detik yang lalu Hinata bertanya kenapa Itachi tidak menelepon Sasuke, dan pria itu memintanya merahasiakan hal ini dari Sasuke. Itachi Uchiha selalu dan akan selalu jadi pria yang misterius di mata Hinata.

"Hinata."

"Ya, Itachi-san?" Hinata mendongak dari pemikirannya sedari tadi sambil menatap wafel.

"Panggil aku Itachi saja." Hinata merasa ada kepingan puzzle yang hilang, tapi cara Itachi memandangnya membuatnya melupakan hal itu.

-.-.-.-

"Berapa kali kubilang aku tak mau?" gerutu Sasori. Deidara meletakkan satu jarinya didepan bibir, memandang tepat ke penjaga perpustakaan yang mendongak dari tumpukan buku di meja seberang mereka.

"Pelankan suaramu, bodoh. Setidaknya sampai bertemu orang tuaku," ujar Deidara memohon.

Sasori mendengus. Yang benar saja, dia tak mengerti apapun tentang seni tapi dipaksa datang ke pameran seni? Deidara si pianis mahir itu dipaksa orang tuanya ikut ambil bagian dalam salah satu acara pameran seni di Konoha. Dan Deidara diharuskan tetap di sana sampai malam kecuali ada urusan yang benar-benar mendesak. Berhubung Sasori satu-satunya sumber yang dipercaya orang tuanya karena mereka bersahabat sejak kecil, Deidara memaksanya untuk berbohong supaya bisa kabur.

"Kalau hanya lewat telepon mereka tak akan percaya," kata Deidara sekali lagi. "ayolah Sasori, kau mau melihatku mati bosan di pameran itu? Orang tuaku hanya akan menarikku ke sana kemari mengenalkanku pada calon-calon menantu mereka." Deidara memutar mata.

"Salahmu sendiri, patahkan saja jarimu biar tak usah ikut." Pernyataan Sasori disambut tatapan kesal dari Deidara.

"Yasudah kalau begitu kau tak kan kubantu dengan si Sakura itu." Nama itu sontak mendapat perhatian penuh Sasori.

"Maksudmu?"

"Aku bisa membantumu supaya bisa dekat dengan si anak aksel itu."

"Caranya?" Deidara menyeringai.

"Bantu aku dulu."

"Sialan kau."

"All is fair in love and war, my friend."

Novel War and Peace mahakarya Leo Tolsloy yang sedari tadi dibaca Sasori sukses mendarat di wajah Deidara.

-.-.-.-

"Kumpulkan essay kalian besok ya." Wanita berambut hitam bergelombang dengan mata tajam dan pembawaan yang tenang memutar sepatu highheels-nya di depan kelas. Berbalut blus merah dan rok pensil hitam selutut, Kurenai-sensei selalu tahu bagaimana cara menimbulkan efek dramatis sehabis memberikan tugas.

Sakura menatap kertas di hadapannya, TO KILL A MOCKINGBIRD tercetak jelas dengan huruf kapital miring sebagai judul buku yang jadi topik utama tugas kali ini. Sementara Ebisu-sensei masih bicara tentang sejarah politik apartheid yang mengepalai rasisme di dunia, Kurenai-sensei sudah bergerak ke sastra modern pemenang Pulitzer Prize yang membahas rasisme. Bicara tentang dunia yang tak selamanya hitam putih…

"Di saat di belahan dunia lain seseorang sudah kuliah hanya lewat skype, kita masih menulis menggunakan kertas dan pena." Ino memutar bangkunya ke belakang, menatap Sakura dengan pandangan-aku-butuh-liburan.

"Setidaknya buku kali ini hanya 300 halaman dan tidak menggunakan bahasa sesulit jaman Pride and Prejudice," Sakura melipat kertas tugas itu dan menyelipkannya ke buku sastranya. "untung paper biologi sudah selesai. Hoaem, tugas mati satu tumbuh seribu…" Sakura menguap, memandang putus asa pada jam dinding yang tak pernah bergerak cepat kalau sudah jam pelajaran terakhir.

Ino memutar seluruh badannya ke belakang, ekspresinya seperti pembawa acara gossip pagi hari yang siap meluluhlantakkan dunia ibu-ibu dengan gaya bicaranya.

"Hari ini aku mau jalan dengan Shika," bisiknya bersemangat, meskipun Sakura tahu di tengah pergantian jam begini tidak ada yang cukup iseng mau menguping pembicaraan mereka. Belum Sakura sempat merespon, seseorang meletakkan sesuatu sambil lalu di mejanya. Pria berambut hitam yang menghantui pikirannya itu berlalu begitu saja keluar kelas tanpa menoleh sedikit pun.

Sebuah handphone.

"Kenapa handphonemu ada padanya?" Sakura mengerjapkan mata, melupakan pertanyaan Ino. Handphone yang sama yang menemui nasib naas tenggelam di kolam minggu lalu kini ada di hadapannya. Tidak mungkin! Pembersih kolam sudah bilang handphone itu sudah dibuang dan tak mungkin berfungsi lagi.

Masa… Sasuke sengaja mencari yang persis sama untuknya?

"Bumi pada Sakura, halooo?" Ino menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah Sakura. "ya ampun, Sasuke cuma lewat aja kau sampai bengong gitu. Ga kebayang apa yang kalian lakukan kalau lagi berduaan di rumah…"

Wajah Sakura kontan berubah jadi merah. Semenjak cerita kepada Ino soal kejadian 'itu' Sakura jadi salah tingkah terus kalau sedang berduaan di rumah dengan Sasuke. Meski pria itu sendiri tampaknya sama sekali tidak terganggu dengan kenyataan hubungan mereka yang sudah menapaki tingkat yang jauh berbeda dengan sebelumnya.

Apa sebenarnya Sasuke tidak merasa apa yang kurasakan? Apa selama ini cuma aku yang kepikiran terus?

Habisnya pria itu tak pernah jelas…

"Sakura, kau punya banyak waktu melamunkan Sasuke di rumah. Fokus atau Anko-sensei mungkin menunjukmu ke depan." Ino menjentikkan jarinya dan berbalik, membuat Sakura sadar wanita berambut ungu sebahu sudah duduk di kursi guru, siap mengeluarkan soal-soal matematika yang mampu merontokkan rambut. Sakura mencuri pandang ke belakang, di sudut kelas di samping Naruto yang mati-matian memaksa diri agar tak tertidur, Sasuke Uchiha balik menatapnya.

Sakura tahu dia tak akan konsentrasi sepanjang pelajaran kali ini.

-.-.-.-

"Shika!" Shikamaru menoleh pada gadis yang tengah berlari-lari kecil ke tempatnya. "huft, kukira aku terlambat." Ino mengatur nafas, tersenyum pada pria bermata hitam itu.

"Kenapa kau harus memaksaku ke sini sih…" Shikamaru menghela nafas bosan.

"Kau sendiri yang butuh papan shogi baru, sekalian saja kuajak ke pameran biar bisa melihat permainan tradisional lainnya!"

"Papan shogi kan bisa dibeli dimana saja…" Ino sudah keburu menarik Shikamaru, mengabaikan keluhan pria itu. Kemarin Ino ngotot datang ke rumahnya untuk mengerjakan tugas biologi mereka, dan kebetulan Shikaku masuk untuk mengingatkan bahwa papan shogi mereka sudah rusak. Ino lantas menyebutkan soal pameran dan Shikaku tiba-tiba saja menyuruh mereka berdua mengikutinya.

Tanpa dikatakan dengan keras pun Shikamaru sudah tahu, ayahnya berencana menjodohkannya dengan si gadis berambut pirang ini. Shikamaru tak habis pikir, baru sekali bertandang ke rumah Ino sudah mengambil hati kedua orang tuanya. Jangan-jangan bulan depan aku disuruh menikah, lagi. Pikir Shikamaru bergidik.

Bukannya tak suka, tapi tetap saja hal-hal semacam ini tak menarik untuk seorang Nara Shikamaru. Berurusan dengan perempuan dan segala macam drama yang terlibat di dalamnya jelas bukan bidang Shikamaru. Seumur-umur baru kali ini dia jalan berdua dengan seorang perempuan. Shikamaru membiarkan dirinya ditarik kesana-kemari mengikuti semangat Ino. Yah, selalu ada yang pertama untuk segala hal, kan. Pikirnya pada akhirnya.

Tahu-tahu saja Shikamaru menemukan dirinya di tengah aula besar dengan musik yang mengalun lembut.

"Ino, aku ke sini hanya untuk beli papan shogi."

"Sebentar saja, kedengarannya yang bermain itu musisi ternama. Siapa tahu bisa dapat tanda tangannya?" ujar Ino bersemangat. Lagi-lagi Shikamaru pasrah ditarik ke tengah kerumunan. Hm, Johann Pachebel, Canon In D versi piano dan flute. Kombinasi yang menarik. Shikamaru mungkin tak tertarik dengan seni, tapi dia cukup mengetahui banyak hal tentang berbagai bidang. Pasti musisi yang berbakat kalau yang menonton sampai sebegini banyaknya.

Bukan Ino namanya kalau menyerah di tengah jalan. Para penyenandung alunan musik itu tidak berada di podium, jadi susah melihat siapa yang cukup berbakat untuk mengundang keingintahuan ratusan orang yang memadati aula ini.

"Aku menunggu di sini saja,"

"Kau harus ikut! Bagaimana jika aku tersesat?" dengan kemampuan sebaik Ino, Shikamaru yakin itu hal yang sangat tak mungkin terjadi. Apa daya, Shikamaru mau tak mau menuruti kemauan gadis cantik itu.

"Shika?" Ino mengulurkan tangannya yang akhirnya disambut Shikamaru. Ada sesuatu tentang Yamanaka Ino yang mampu membuatnya berhenti bersikap malas terhadap segala sesuatu.

Baru saja mereka setengah jalan, suara musik itu berhenti. Perlahan-lahan kerumunan mulai bergerak dan Ino tak menyia-nyiakan hal itu untuk segera merangsek maju.

Langkah kecilnya terhenti.

Tepukan yang membahana memenuhi aula itu sebagai bentuk apresiasi penuh pada pemusik yang ada di hadapan Ino dan Shikamaru.

"Kau tak jadi meminta tandatangan?" Shikamaru menyenggol Ino yang terdiam. Si pemain flute, pria separuh baya yang Shikamaru kenal sebagai pemain flute terkenal di Konoha tengah menunduk hormat pada audiens. Sedangnya si pianis baru bangkit dari kursinya di belakang Grand Piano, tersenyum pada penonton. Shikamaru mengerutkan dahi, ia rasanya pernah melihat wajah itu…

Kerumunan bergerak pergi, tapi Ino masih terdiam.

"Oi Ino, kau-" ucapan Shikamaru terputus saat pianis itu bertemu mata dengan gadis disampingnya, dan kegiatan membagikan tandatangannya terhenti.

Dalam benakmya─yang saking semrawutnya dia sendiri tak pernah mengerti─Shikamaru mulai dapat melihat korelasi kejadian ini. Sesuatu yang tidak menyenangkan sedang terjadi di sini. Pria itu mendatangi mereka, senyum tak lepas dari wajahnya.

"Lama tak jumpa, Ino."

"…aku tak tahu kau sudah pulang." Ino tampaknya kesulitan mengucapkan kata-kata itu. Ino yang cerewet, bisa kehabisan kata-kata? Shikamaru menatap keduanya.

"Baru masuk dua minggu lalu."

"Oh." Hanya itu yang mampu Ino keluarkan dari tenggorokannya yang mendadak kering. Shikamaru berdehem, menyadarkan keduanya bahwa ia masih di sana. "Dei, ini temanku, Shikamaru." Ino berusaha terdengar wajar saat mengucakan nama yang sudah lama tak keluar dari mulutnya.

"Aku kenal si jenius Nara," ucap si pianis itu datar, menatap Shikamaru tanpa ekspresi berarti. Ino mengigit bibir bawahnya, kentara sekali ia tidak ingin memperkenalkan pria itu pada Shikamaru.

"Shika… ini Deidara." Mata hitam Shikamaru tidak menunjukan sedikitpun ekspresi suka pada si pria berambut pirang panjang. Ino menelan ludah. "…mantanku."

Dan sekali lagi, nada-nada sumbang itu mengancam naik ke permukaan.

-.-.-.-

Tarik nafas, Sakura. Kau bisa melakukan ini.

Sakura menghela nafas panjang, memberanikan diri. Satu tangan terulur ke depan, bersiap mengetuk. Sedikit lagi… Sakura terlonjak kaget saat pintu tiba-tiba dibuka.

"Sakura?" Sasuke tanpa atasan balik memandangnya kaget. Astaga, aku belum siap dengan pemandangan ini! Kaki Sakura terancam untuk menyerah.

"K-kenapa-" bagus, sekarang aku juga jadi terbata-bata seperti Hinata saat dulu dia masih belum jadian dengan Naruto.

"Bajuku ketumpahan kopi." Jawab Sasuke, menunjukkan kaus di tangannya dengan noda kecokelatan. Kopi? Dia memintaku supaya berhenti mengkonsumsi kafein, dia sendiri jangan-jangan minum lebih banyak dariku. Sebentar, ini bukan saatnya mempermasalahkan hal itu!

"Ada apa?" Sakura tak bisa menghentikan matanya menjelajahi dada bidang Sasuke di hadapannya, mengabaikan setiap kata yang keluar dari pria tampan itu. "Sakura?" tangan Sasuke menyentuhnya dan refleks gadis itu berjengit. Sasuke memandangnya dengan satu alis terangkat.

"M-maaf!" Sakura berbalik siap pergi, sungguh-sungguh malu dengan semua tingkahnya.

"Kau kenapa sih?" tangan Sasuke menariknya kembali, memaksa Sakura berputar menatapnya.

"A-aku…" ayolah, Sakura. Jujur tak ada salahnya kan? "…a-aku cuma ingin ngobrol denganmu." Pfuh, akhirnya tersampaikan juga.

"Kau bisa datang ke kamarku kapanpun," ujar Sasuke, masih heran dimana masalahnya. Ugh, kenapa sih pria ini tidak peka sekali? Pikir Sakura jengkel. Tuh kan, selama ini yang deg-degan ga karuan cuma aku sendiri.

"Kau sepertinya sibuk. Lain kali saja."

"Tidak, aku tidak sedang sibuk." Sasuke menariknya masuk ke dalam kamar, mengabaikan protes Sakura. Tak seperti yang Sakura sangka, kamar Sasuke yang biasanya penuh buku berserakan dan file-file perusahaan dan komputer yang menyala 24 jam ternyata tampak normal. Kasurnya agak berantakan, tampaknya pria itu baru bangun tidur.

"Nah, bicaralah." Sasuke melepaskan pegangannya pada tangan Sakura, menutup pintu dibelakang mereka.

Bodoh, kalau begini aku makin tak bisa bicara normal. Wajah Sakura mendadak memanas. Sasuke menangkap ada yang salah pada gadis di hadapannya. Tak biasanya Sakura jadi serba diam begini.

"Terimakasih untuk handphonenya." Ujar Sakura cepat. Sasuke masih memandangnya tak percaya.

"Itu saja?" Sakura buru-buru mengangguk.

"Sakura," tangan Sasuke terlipat sambil menatapnya. "kau berbohong." Akhirnya gadis itu menghela nafas panjang. Siapa pula yang bisa membohongi seorang CEO perusahaan kelas dunia sebaik Sasuke Uchiha?

"Aku kepikiran." Akunya pelan.

"Tentang?"

"Kita." Sakura menatap ke lantai kamar, malu menatap mata Sasuke langsung. "aku ingin bicara denganmu, ingin bersamamu terus. Tapi aku takut kalau hanya aku yang memikirkan hal seperti ini… tuh kan, kau pasti menganggapku aneh." Oh bumi, telan aku, kunyah-kunyah lalu muntahkan. Sakura sudah siap pergi lagi, kalau ia tak mendengar tawa kecil Sasuke.

"Bukan hanya kau yang merasa seperti itu." Tangan Sasuke menyentuh pipinya, menelusuri kulit halus itu.

"Apa… yang kau pikirkan… tentangku…?" Sakura menggenggam tangan Sasuke di pipinya, merasakan kehangatan pria itu.

"Percayalah kau tidak ingin tahu apa saja yang kupikirkan tentangmu." Sakura tak tahu apa wajahnya bisa jadi lebih panas lagi mendengar komentar ambigu Sasuke. Sakura menutup matanya, merasakan indera perasanya bertambah kepekaan beberapa derajat.

"Sasuke,"

"Hn?"

"Boleh aku menyentuhmu?" Sasuke terdiam dengan pertanyaan aneh itu. Otak prianya membayangkan bermacam-macam makna, tapi menilik dari keluguan gadis dihadapannya, pasti maksudnya berbeda.

"Silahkan." Sakura membuka mata, pelan-pelan beranjak dari tempatnya mendekati Sasuke.

"Aku memikirkanmu terus," ujar Sakura pelan, hangat nafas mereka beradu. Wajahnya memerah mengakui gejolak yang ada dalam dirinya. Tangan kecilnya menyentuh dada bidang Sasuke.

Dengan tiba-tiba pria itu menutup jarak diantara mereka dengan satu ciuman yang menuntut. Tangannya menelusuri pipi Sakura, turun ke lehernya, menariknya lebih dekat lagi. Seakan dirinya tak kan pernah merasa cukup dekat dengan gadis berambut merah jambu itu. Kata-kata tak akan pernah cukup untuk mengekpresikan rasa ini.

"Aku menginginkanmu," ujar pemuda itu, membiarkan gadis di hadapannya menarik nafas terengah-engah di tengah ciuman mereka. Tangan Sasuke dengan lihai membuka kancing-kancing piyama Sakura, menariknya lepas dari tubuh gadis itu.

Satu ciuman yang dalam, panjang, memagut bibir Sakura. Seolah-olah Sasuke baru saja mengambil kembali nafasnya yang dicuri Sakura beberapa hari ini. Merasa bra yang menutupi dada Sakura yang menyentuhnya menganggu, Sasuke membukanya dengan cepat. Sakura mencengkram erat bagian belakang kepala Sasuke, mendorong rambut jabrik itu untuk memperdalam ciuman yang seharusnya sudah tak mungkin bisa lebih dekat lagi. Dalam detik-detik itu Sasuke bisa saja melepas seluruh bajunya, dan baju pria itu sendiri bahkan tanpa Sakura sadari. Sakura tak tahu bagaimana pria itu melakukannya, tahu-tahu saja punggungnya sudah membentur dinding yang dingin.

"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan padaku." Begitu bibir mereka terlepas, dahi Sasuke menyandar padanya. Tangannya mencengkeram erat kedua pinggang Sakura, siap menelusuri bagian lainnya. "kau membuatku gila."

Ternyata bukan hanya dia sendirian yang merasakan ini.

"Sasuke…" seakan tak cukup kehadiran gadis itu memenuhi pikirannya, nada suara Sakura dan cara gadis itu memanggilnya membuatnya gila. Mata hijau Sakura menatapnya, bibir merah jambunya terbuka sedikit, pipinya merah karena kehabisan nafas.

Bohong kalau ada pria waras yang mampu menolak ini.

Sakura mengeluarkan desahan tertahan saat tangan Sasuke meremas dadanya, memainkan putingnya diantara jarinya. Bibirnya mencecapi leher Sakura, meninggalkan bekas gigitan di sana. Satu tangannya lagi menarik celana Sakura turun perlahan-lahan. Sakura mengigit bibirnya pada sensasi saat jari-jari panjang itu menyentuh area privatnya yang sudah basah. Kaki dan tangannya serasa lunglai.

"Kau milikku," bisik Sasuke di telinga Sakura, mengirim rasa geli ke seluruh tubuh. Sakura hanya bisa menjawab dengan erangan saat jari-jari itu bergerak di dalam kewanitaannya.

"U-ugh… Sa-sasuke…" Sakura mengeratkan pelukannya pada pria itu, buncahan rasa geli menggelora di perutnya. Nafasnya pendek-pendek tak beraturan, suhu tubuhnya serasa terbakar. Sasuke selalu mampu menggiringnya melewati batasnya.

Wajah Sakura memerah melihat seringai khas Sasuke yang merasa bangga mampu membuat gadis itu mencapai puncaknya.

"Dasar menyebalkan." Bisik Sakura tertahan. Sasuke mencium dadanya, lidahnya memainkan puncak payudara Sakura dalam mulutnya. "Sasuke!" pekik Sakura, kesal karena digoda terus.

"Seseorang tidak sabaran," goda Sasuke. Ugh, Sakura benar-benar ingin menghapus seringai itu dari wajah tampan kekasihnya. Tahu Sasuke mungkin akan membuat permainan ini semakin panjang karena senang menggodanya, Sakura mengambil langkah duluan. Ia menarik pria itu dalam satu ciuman panjang, yang jelas membuat Sasuke kaget. Sakura yang submissive selama ini punya keberanian untuk menciumnya duluan?

"Aku menunggumu selama 6 tahun, kau pikir aku bisa lebih sabar dari ini?" Sakura menatapnya dengan wajah memerah menahan malu.

Senyum tipis terbentuk di sudut bibir Sasuke. Dalam satu tarikan, ia memasukkan kejantanannya sedalam mungkin. Sakura mengerang, kuku-kukunya menancap di punggung sempurna pria itu. Satu kakinya melingkar di pinggang Sasuke, mencari pegangan. Dunianya serasa berputar, terguling, menggelinding ke ujung perbatasan.

hei Sasuke, bisakah kau merasakannya?

"Sasuke, Sasuke, Sasuke," nama itu seolah terdengar seperti sebuah mantra yang diulang terus-menerus untuk menjaga kewarasannya. Pria di depannya tidak menjawab, hanya gumaman tak jelas yang keluar dari bibirnya. Seiring dengan gerakan keluar masuk yang mengguncangkan tubuhnya, Sakura merasa makin lama ia makin tak dapat berpikir jernih.

Bisakah kau merasakan perasaan ini?

Siapa peduli apa yang sudah terjadi pada mereka atau bagaimana Sasuke memperlakukannya dulu, yang penting sekarang adalah pria itu di hadapannya. Pria itu menatapnya. Menciumnya.

Aku tidak peduli siapa dirimu, atau apa yang sudah kau lakukan…

Satu hempasan yang dalam dan Sakura memecah keheningan malam dengan erangannya. Sakura menutup matanya, membiarkan dirinya dikuasai perasaan yang memabukkan ini. Pelan-pelan Sasuke menarik miliknya keluar dari liang Sakura, tangannya bersandar pada dinding di samping kepala Sakura. Nafasnyapun terengah.

Sasuke, perasaan ini meluap-luap…

Begitu mata Sakura membuka, mata hitam dalam balik menatapnya. Orang bilang mata adalah jendela hati. Dan mungkin, Sakura tahu apa yang tersimpan di balik mata hitam itu. Berjuta emosi, perasaan yang dikubur dalam-dalam. Sasuke juga manusia biasa yang bisa salah. Manusia dengan sisi baik dan buruk, dengan masa lalu dan masa depan.

Manusia biasa.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

"Sasuke," tangan Sakura menyentuh rahang kuat Sasuke, menelusuri wajah pria itu. "aku mencintaimu." Bisiknya pelan.

Seutuhnya. Apa adanya.

bolehkan?

-.-.-.-

A/N : Our favourite weasel boy is back!

Author selalu suka Itachi :)

Apakah cerita ini mulai membosankan? Author minta maaf kalau masih belum dapat memenuhi harapan readers semua, baik plot, karakter, maupun konflik yang ada di sini. Saya bukan siapa-siapa, bukan penulis mahir berpengalaman yang digaji tetap untuk menuliskan cerita sesuai yang semua orang inginkan. Saya hanya suka menulis, dan saya harap dengan tulisan saya orang dapat terhibur dan melihat dunia dari sudut-sudut yang belum terjamah...

Anyway! Chap selanjutnya mungkin telat, berhubung minggu depan author ada ujian. Tapi kalau bisa sampai 350 reviews sebelum semingguan, author akan post chap 10 secepatnya.

...

To all my dearest readers; you all are the reason I love losing sleep.

Rinsakurauchi : kalau dikasih tahu sekarang nanti ga seru dong :) good things come to those who wait. Ceritanya sudah membosankan ya? Wah...

Hima : haha bagian sweetnya utk chap depan ya, chap ini bagian lemon soalnya :D

Chibiusa : sudaah :) makasih ya udah review

L : kayanya banyak itu relatif ya... haha tergantung dimana titik acuannya

Dinosaurus : iya, author juga pingin bikin gitu hihi. Tapi belum sempat sampai rumah Itachinya sakit -.-

Boooo : akan dibuat happy ending kok, hehe

Kiriyu Hime : makasiiiih banyak {bighug} tidak ada kata terlambat utk segala hal yang baik, termasuk review hehe. Authornya masih kaku kalau bikin lemon haha, soalnya lebih terbiasa ngegambarin interaksi feeling mereka daripada fisik. Tapi akan selalu dicoba untuk lebih baik lagi :) A special thanks for you, Hime, udah ngasih review beberapa chapter sekaligus... sikap teladan utk para readers tuh haha

Hattori Mici : nanti akan ada lagi kok chapter khusus mereka :)

Mashiro : waah Sasukenya udah menderita sejak kecil, kali ini biar dia ngerasain bahagia dulu ya hehe

Tiffanyyuki : mungkin belasan... tapi ga sampai dua puluhan. Yang keren itu readers yang seperti kamu, tanpa kalian saya bukan apa-apa :)

sasusaku kira : hehe, Karin masih punya 'senjata rahasia' *evil smirk*

hankira : engga kok, Author punya posisi lain untuk Itachi. Dia tokoh kunci di sini. Keep reading, pelan-pelan nanti pasti mulai kelihatan warna-warna karakter di sini :)

Batman : bagian yang manis-manisnya ditahan dulu, kebanyakan makan manis nanti menurunkan toleransi rasa hehe. All good things worth the wait, rite?

soee intana : iyaaa udah update kilat nih dalam 5 hari (o.O)

Guest : ok, semoga chap ini kebaca semua ya... makasih review dan semangatnya :D

Me : ho... terimakasih banyak! Tadinya mau dibikin rated T, tapi kayanya isi pikiran mereka juga cocoknya M haha. Kira-kira belasan, ini udah ditengah soalnya. Kenapa, mulai membosankan kah ceritanya? Haha kalau saya nulis novel nanti ga ada yang beli, genre saya belum sesuai selera pasar soalnya haha

Shich Hzr : oke, bahasa daerah author standar tapi author selalu kagum sama orang yang bisa bahasa daerah, karena author sendiri patah-patah ngomongnya haha. Suigetsu belum jelas kok perasaannya gimana, yang jelas mereka emang saling melengkapi. Iya, author banyak kekurangan soal pendekripsian -.- (jarang nonton versi animenya sih) makasih banyak ya utk semua readers yang udah ngingetin :)

Maturnuwun reviewnya yo nduk...

Yui Koura : iya, udah update kilat nih dalam 5 hari. Haha makasih banyak, pembaca seperti anda itu harta karun bagi setiap author. Saya masih jauh dari kata cukup baik sebenarnya :)

Noritaa : udaaah :) maaf ya kalau masih belum memenuhi harapan...

Sakunan desu : wb itu apa ya? Aku juga suka review panjang yang seperti ini :) Author juga suka kata-kata baku. Biasanya ada di novel-novel klasik, wuih bahasanya indah sekali. Sepanjang fic ini nyebar kok buku-buku bagus untuk dibaca para pecinta bahasa sepertimu *promosi* terimakasiiiih, kemarin saya lihat ada pelangi kembar, tapi kemudian hujan lagi seharian... -.-

Mimia : hoho di chap ini author coba eksplore perasaan sweet Sakura ke Sasuke lebih dalam. Sayangnya Karin ga semudah itu menyerah...Sasuke itu udah kaya obsesinya haha

Francoeur : salam kenal juga~ gapapa terlambat, asalkan kontinu (?) haha terimakasih, semoga fic ini memenuhi harapanmu ya :)

Pichi : iya, Itachi udah pulang membawa misteri (?) hehe makasih banyak ya, sebenernya typo ada (dan suka ada bagian yang ngilang tiba-tiba kalo udah dipost di ff) author akan coba terus tingkatkan.

You'll never know how strong you are until being strong is the only choice you have.

Author yang sedang merakit tangga mimpinya satu persatu,

Phylaphy