"Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk menyatakan sesuatu yang tidak
disukainya sebagai sesuatu yang tidak benar,
dan tanpa kesulitan mencari argumen-argumen untuk menentangnya…"
-Sigmund Freud, Teori Dasar Psikoanalisis
-.-.-.-
SEPULUH
Boston, Amerika. Pukul 05.00 dini hari waktu setempat
Seorang gadis berambut biru sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Sebuah buku terbuka di sampingnya, penuh dengan tulisan dan angka-angka. Prinsip ketidakpastian Heisenberg diberi kotak berwarna biru dengan sedikit catatan tangan di bawahnya; Semua itu relatif. Simultan.
Alisnya mengkerut sedikit membaca kata-kata yang tertulis di layar notebooknya. Tawa kecil keluar dari bibrnya, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku tak pernah meminta mereka untuk menyukai karyaku." Ujarnya pelan, logat Jepang sudah hilang sama sekali, mengaburkan identitas kewarganegaraannya. "love me or hate me, as simple as that. Why still bother to complain?"
Jari-jemarinya menari di atas keyboard, matanya terfokus pada layar. Adat ketimuran mengajarkannya untuk menjaga sopan santun, meminta maaf saat ada keluhan, benar atau salahnya sesuatu itu urusan nanti. Yang penting mematuhi adat. Lucu memang, tapi beginilah dunia bekerja.
"Hak-hak individu hanya jadi omong kosong." Gumamnya lagi. "sosialis berkedok demokrasi. Hmph. Dunia penuh dengan orang-orang yang mencari pembenaran."
Dan aku juga, tentu. Aku tidak munafik. Aku liberalis bertanggung jawab dan aku tidak menyinggung hak-hak individu lain selama mereka tak menyentuh batasanku. Ha, aku jadi ingat seseorang pernah mengatakan itu juga. Apa kabarnya si kepala merah itu? Masih berkutat di arena liga champion itu kah?
Gadis itu tertawa sendiri mengingat sebuah instansi formal yang tak ubahnya medan perang prestasi. Makanya ia menyebut KHS sebagai liga para juara. Medali dan penghargaan tak ubahnya kacang goreng di sana. Mungkin berlebihan, tapi percayalah memang ada tempat seperti itu di dunia ini. Tempat di mana kamu tidak dihargai lebih dari apa yang ada di kepalamu. KHS punya cara tersendiri memaksa anak-anak muda untuk menghadapi kerasnya hidup di balik dinding mereka. Ada dunia yang tidak diketahui orang-orang dewasa di balik pintu gerbang sekolah.
Ponselnya berbunyi, gadis itu melirik sebentar pada pesan yang masuk. Patricia, teman satu timnya di kelas Biologi mengirimkan ide untuk Proyek Sains mereka yang akan dilombakan minggu depan. Bibirnya melengkung ke bawah, mengingat minggu depan jadwalnya sudah cukup penuh dengan agenda seminar. Dia mencintai sains, tentu saja. Dunia yang penuh fakta dan kepastian itu memberinya ruang untuk menjejak ke bumi sebentar setelah pikirannya penuh dengan teorema-teorema filsafat yang abu-abu. Dia manusia logika yang butuh angka-angka pasti, namun ambiguitas manusia dan dunia yang mengalahkan dualisme elektron membuatnya bertekuk lutut.
Ia jatuh cinta pada ketidakpastian. Pada kemungkinan-kemungkinan tak terbatas yang tersimpan dalam diri setiap individu.
Jari telunjuknya menekan tombol enter. Kata-kata yang terangkai di layarnya hanya manifestasi dari buruknya cuaca yang menghantui hatinya belakangan ini. Give me a break, people! One can only hold on for so long. Makinya dalam hati. Kalau suasana hatinya sedang tidak enak dia lebih memilih menggunakan bahasa tempat ia berada sekarang daripada bahasa ibunya. Hei, semua orang punya self-defense mechanismnya masing-masing kan?
Nah, lagi-lagi dia menyinggung titik radioaktif itu. Ada hal-hal di dunia ini yang lebih baik tak diganggu. Bahasa mungkin salah satunya. Tapi bukankah itu hal paling mendasar untuk hidup berdampingan? Komunikasi antar bangsa? Makanya di kurikulum sekarang ditanamkan pelajaran yang menuntut lidah seseorang berputar tak keruan itu.
Bibirnya berdecak, menutup aplikasi yang sedang digunakannya. Ia tahu ia berhadapan dengan media. Dengan jaringan tak terbatas dimana kita bisa saling melukai tanpa harus menanggung akibatnya. Identitas bukan hal yang dipertanyakan di dunia maya. Di balik rumitnya sistem pascal dan kode biner yang berkeliaran di balik sistem informasi, segalanya mungkin. Anak jalanan bisa tiba-tiba menjadi artis ibukota, dan anak menteri bisa jadi gunjingan publik berbulan-bulan, hanya dari beberapa baris kalimat di internet.
Kupikir aku akhirnya menemukan tempat di mana aku bisa bebas jadi apapun. Menulis apapun yang aku mau, di jaringan tanpa batas. Matanya memandang kaku pada kumpulan komentar di layar itu. Tapi tuntutan ada di mana-mana. Oh grow up already, girl! This world isnt as nice as you want it to be.
"Dear, have you awake yet?" Matanya berpindah dari layar yang menerangi kamarnya yang masih gelap beberapa candela ke pintu yang diketuk pelan.
"Already, mom." Jawabnya. Di belahan bumi yang ini, kita tidak dipaksa untuk bangun pagi setelah matahari terbit dan memasok ilmu-ilmu itu ke otak kita yang masih tertidur. Semuanya sudah diperhitungkan baik-baik dengan sistem. Kami belajar untuk hidup, bukan hidup untuk belajar.
Negara utopia yang menjunjung tinggi kebebasan tiap individu. Kebebasan untuk hidup dan berpikir. Merdeka dalam artian sebenar-benarnya. Ada bagusnya juga aku hidup di mana liberty berdiri menantang dunia. Gadis itu menyingkirkan laptopnya, mengambil ponselnya dan mulai mengetik.
Hi, how r u there? Life's getting suck here.
Dihapusnya lagi. Terdengar terlalu mengeluhkan keadaan. Si penerima pasti akan mengangkat satu alis dan berpikir dua kali, tiga kali mungkin, saat menerima pesannya. Ia butuh reaksi seorang sahabat, reaksi yang alami bukan hasil pemikiran lama.
Sasori, suntuk nih. Have you read my last story yet? Yes, I'm still that pathetic girl who shout my thought to the world, expecting more than I should be.But really, this one is getting on my nerve.
Lagi-lagi dihapusnya. Yang ini terlalu curhat. Dipandanginya baik-baik layar itu, tak peduli cahayanya menyakiti matanya yang lelah.
Aku tak pernah meminta mereka untuk menyukai karyaku. Diucapkannya kata-kata itu lagi, ada rasa pahit di lidahnya yang masih memegang adat ketimuran baik-baik. Di dunia parallel ini, aku bukan siapa-siapa. Dan aku tidak ingin menjadi siapa-siapa. Matanya berpindah ke ujung ruangan, di mana piala-piala bertorehkan namanya berdiri di balik lemari kaca dengan angkuhnya. Bukan mesin brutal pengejar prestasi. Bukan anak sma yang mempertanyakan dunia. Aku hanya seseorang yang suka menulis. Untuk sekali saja hidup bukan sebagai seorang 'aku'.
Gadis itu menarik nafas panjang, tak jadi mengirim pesan ke sahabat kecilnya yang selalu tahu apa yang harus dilakukan saat badai mood menerjang. Sasori, aku suntuk. Sudah di amerika pun tetap saja terikat tradisi ketimuran itu untuk menjaga perasaan para pemberi komentar. Bah, memangnya mereka memikirkan perasaanku? Itu kata-kata yang tidak bisa diucapkannya. Rasanya ada keinginan besar untuk menghapus semua data di kotak persegi itu untuk membawa konsentrasinya kembali ke dunia nyata. Toh para pembaca baik hati itu tak akan merindukannya. Jari-jarinya menari sekali lagi di atas keyboard. Di layar terbaca jelas hasil ketikan akhirnya;
Salam,
-K.
Ia selalu menandai setiap akhir kisahnya dengan identitas itu. Sebuah cerita. Hanya rangkaian kata-kata yang keluar dari lobus temporalnya. Ia memandang ketikan di bagian akhir itu dengan mata yang masih menerawang. Dengan cepat diuploadnya data itu, dalam beberapa menit jaringan akan memunculkan apa yang baru diketiknya di layar setiap orang yang penasaran. Orang-orang yang hanya mencari hiburan dari kejenuhan, atau yang telah siap bersilat lidah menilainya. Gadis itu hampir-hampir dapat membayangkan bagaimana reaksi para pemberi komentar itu. Tentu saja akan ada pro-kontra di layarnya besok malam. Tapi, siapa peduli sih? Mereka juga tidak akan peduli dampak kata-kata mereka padaku. Lalu aku harus? Di sini aku hanya seorang K yang tidak ingin menjadi siapapun. Mereka tidak bisa menilai entitas yang tak berwujud, yang bukan manusia utuh untuk dihakimi.
…lagipula para pemberi komentar itu sudah cukup dewasa untuk mengerti, ini hanya dunia parallel yang tidak cukup pantas diperdebatkan.
Gadis itu mengatupkan bibirnya, rahangnya mengeras. Saat seperti ini nada-nada sarkas mengancam melewati bibirnya. Ia bisa saja meneriakkan uneg-unegnya. Tapi kata-kata sakti itu; 'kita sudah dewasa' selalu mampu membuatnya berpikir berkali-kali sebelum bertindak.
Kaum terpelajar sudah harus adil sejak masih dalam pikiran. Penulis kaliber dunia itu selalu tahu bagaimana menyentil tata karma yang sudah terhapuskan di kepala para pelajar. Gadis itu menghela nafas, mematikan laptopnya, menyudahi acara begadang yang sudah jadi teman hidupnya sejak beranjak remaja. Mungkin ibunya, seperti sebagainya orang tua perhatian lainnya sering membangunkan anaknya pagi-pagi, tak pernah tahu bagaimana insomnia merasuki kaum remaja saat ini. Ia sudah bangun bahkan sebelum orang tuanya tertidur.
Aku hanya anak sma biasa dengan idealisme yang meledak-ledak. Yang mempertanyakan keabsahan dunia. Yang berteriak lewat tulisan. Aku tidak berniat untuk menggurui siapapun dalam setiap kata yang kutulis.
Ia tersenyum getir pada pertanyaan mendasar yang mengawali malam ini;
Apakah merasa benar itu sebuah kesalahan?
Gadis itu menutup buku-buku pelajarannya, bersiap menjalani kehidupan nyatanya. Hanya satu kalimat yang cocok dengan mendungnya cuaca hatinya saat ini, disadur dari penulis kesayangannya yang menjadikan Supernova lebih dari sekadar teori ilmiah.
Dalam pikiran Konan si penulis amatir sekaligus pengejar prestasi─dua kepribadian yang seharusnya tak jadi satu─kata-kata itu mengakar dalam benaknya.
Kegelapan itu hidup. Dia punya wajah.
Menghujam tajam ke pikirannya, mengusik belantara emosinya.
-.-.-.-
"…Kami-sama, kenapa mesti masuk di saat seperti ini sih?" Ino menggerutu tak jelas, kesal karena Kakashi sensei yang kehadirannya di kelas selama satu semester bisa dihitung jari tiba-tiba muncul saat jam tambahan. "kelas lain sudah pulang! Mentang-mentang ujian akhir di depan mata… huwaaa, kenapa~"
Di saat Ino kesal karena Kakashi-sensei masuk, Sasuke bernafas lega. Dengan adanya jam tambahan, Naruto tidak akan bisa memaksanya latihan hari ini. Satu hari terbebas dari bola bundar itu.
"Dobe, latihan hari ini-"
"Tetap berjalan! Aku akan meminjam lapangan lebih sore ke Guy-sensei!" Naruto kabur begitu saja tanpa mendengar jawaban Sasuke. Dalam hati, Sasuke berjanji besok ia akan pura-pura sakit untuk menghindari latihan gila-gilaan ini.
"Hm… kerjakan latihan 5, kumpulkan sebelum pulang." Ino mengernyit mendengar ucapan guru berambut abu-abu itu.
"Memang sensei mau kemana?"
"Saya ada urusan."
Kelas pun bersorak gembira. Tanpa pengawasan, hampir bisa dipastikan tak ada yang mengerjakan tugas itu. Kakashi keluar kelas, dan penghuni kelas kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Naruto baru muncul lagi, dengan senyum sumringah membawa surat izin meminjam lapangan sore ini. Sasuke diam-diam berniat untuk mengenyahkan surat izin itu, bagaimanapun caranya.
"Sakura, kau mengerjakan tugas?" celetuk seorang gadis berambut cokelat. Sakura mendongak dari pekerjaannya.
"Eh… iya…"
"Ayolah, tanpa belajarpun kau sudah pintar!" anak itu tertawa dengan leluconnya sendiri dan berlalu.
Sebenarnya, Sakura mulai mempertanyakan dimana lucunya. Mungkin karena sirkum sirkandiannya terganggu, kondisi pikirannya yang lelah menjadikan batas humornya terkikis akhir-akhir ini. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, ia harus berhadapan dengan labeling. Bilangnya sih bercanda, tapi dimana batas bercanda dan 'pura-pura bercanda' sih? Intinya, kalau bikin ga enak orang ya ga enak, apapun alasannya.
Sakura jelas tidak suka dengan salah satu cara kontrol sosial yang disinggung Shizune-sensei di pelajaran Sosiologi waktu kelas satu dulu. Label hanya untuk kaleng, bukan manusia, tahu! Tapi apa lagi sih yang membedakan manusia dan barang mati dewasa ini? Perusahaan-perusahaan raksasa multinasional yang kerjanya mengeruk sumber daya alam itu bukan hanya memperdagangkan produk fisik. Tapi juga komoditas manusia. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk suatu negeri, jika tak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia, semakin murah pula harga manusianya.
Sejak duduk di kelas akselerasi Sakura sudah berdamai dengan kenyataan mau tak mau ia harus rela dipasangi label. Sekolah mungkin kontrol sosial yang paling keras dalam masyarakat. Label 'anak aksel', 'anak olimpiade', 'anak organisasi', seolah mengkotak-kotakan kita dalam batas perilaku. Melenceng sedikit, sudah ada para 'polisi perilaku' yang siap bergunjing. Siapa? Tentu saja mereka yang dengan rendah hati kita sebut teman. Pernah membayangkan seperti apa beban yang ditanggung anak-anak yang dilabeli itu?
Sakura menggambar lingkaran yang didalamnya terdapat lingkaran-lingkaran kecil yang saling berpotongan. Lingkaran bersub-sub lingkaran. Apa yang disebut kebebasan itu lambat laun tergerus jaman. Sakura membayangkan bagaimana rasanya jika dia bukan Haruno Sakura, tapi seorang Yamanaka. Atau Hyuuga. Atau bahkan Uzumaki. Apa orang-orang akan tetap melabelinya juga?
Mungkin di suatu saat di masa depan orang akan berjalan-jalan dengan label yang tertera di punggung mereka. Lingkungan memaksa kita untuk mendefinisikan diri kita sendiri. Padahal dalam satu individu saja terdapat kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas…
Sakura melirik dari sudut matanya. Sasuke masih sibuk mencatat sesuatu di buku, sementara di sebelahnya Naruto sudah melanglang ke dunia mimpi. Sakura tesenyum dalam diam. Jikapun ia terlahir sebagai orang yang sama sekali lain, ia akan tetap jatuh cinta pada Sasuke Uchiha.
Ya, sesederhana itu perasaan cinta ini.
-.-.-.-
Saat kita beranjak dewasa, kita harus memilih mana hal yang pantas untuk diperjuangkan, dan mana yang lebih baik dilepas. Tapi kita selalu dan akan selalu dihadapkan pada persoalan bertahan atau menyerah. Dalam 18 tahun hidupnya, Deidara sudah dihadapkan pada berbagai macam pilihan, dan tak ada yang disesalinya kecuali satu.
Hari dimana ia memilih untuk meninggalkan Yamanaka Ino.
"Lagi? Dei, ini namanya bukan cinta lama bersemi kembali, tapi cinta lama belum kelar." Sasori menggaris bawahi postulat relativitas Einstein, melempar pandangan setengah kesal pada pria berambut pirang di hadapannya.
Mimpi apa aku mau-maunya menemani Deidara belajar saat bisa tidur enak-enak di rumah? Sudah kemarin aku dipaksa menemaninya di pameran membosankan dan ditinggal pergi begitu saja lagi. Sasori menduga, si pirang ini pasti punya semacam jimat yang membuatku mau menurutinya.
"Kau pikir mudah melupakan seseorang begitu saja? Setahun aku mencoba dan cukup satu malam baginya untuk membangkitkan rasa itu lagi." Balas Deidara, meletakkan pensilnya, jelas-jelas menyerah pada buku fisika yang terbuka lebar di hadapannya.
"Kau lupa siapa yang meneleponku tengah malam tahun lalu dan menumpahkan isi hatinya seperti isi novel picisan gara-gara seorang cewek." Sasori memutar bola matanya, bosan pada cerita cinta Deidara dan Ino yang seakan tak ada habisnya. "perjelas apa yang kau inginkan dong. Jangan hari ini suka, besok engga, lusa suka lagi. Love when you're ready, not when you're lonely."
"Bisa-bisanya kau menceramahiku sementara kau diam saja menyukai seorang gadis selama dua tahun." Kali ini giliran Sasori yang kehabisan kata-kata.
"Setidaknya aku konsisten dalam mengejar sesuatu," Deidara mencibir pada pembelaan mantan ketua osis itu. "aku serius. Usaha yang setengah-setengah ya hasilnya hanya setengah-setengah."
"Jangan bicara soal usaha denganku, Sasori. Kita berdua tahu bahkan kadang usaha terbaik dengan niat paling baik sekalipun masih tidak cukup." Sasori menggedikkan bahu, beradu argumentasi macam ini dengan Deidara bisa memakan waktu berjam-jam, terutama jika mood si pianis itu sedang buruk.
"Sudah usaha saja dapatnya masih belum maksimal, apalagi jika tak berusaha. Intinya lebih baik kau lepaskan saja, toh kalian berdua kan waktu itu sudah setuju untuk berpisah baik-baik?"
"Coba saja kau ungkapkan perasaanmu pada Sakura, tunggu penolakan halusnya, dan katakan padaku hal yang sama barusan." Sasori terdiam, meletakkan pensilnya juga. Sebagian dari dirinya tidak mau mengakui bahwa Deidara benar.
"Nah kan, kau masih tidak mau menyerah juga, kan? Seperti itulah perasaanku padanya, Sasori!" Deidara mendengus, menutup buku fisikanya. "ngomong-ngomong seperti yang kemarin kukatakan, aku akan membantumu dengan si Sakura itu. Jadi, Karin bilang padaku-"
"Kau benar." Sasori memotong ucapan sahabatnya. "mungkin sebaiknya aku menuntaskan hal ini." Pria berambut merah itu bangun dari kursinya.
"H-hei! Sasori kau tidak bermaksud untuk menyerah begitu saja, kan?"
Sasori mengabaikan pertanyaan Deidara dan berjalan keluar ruang baca rumah Deidara. Ia butuh udara segar. Ia butuh air dingin untuk mencuci kepalanya dari semua bayangan tentang gadis cantik berambut merah jambu itu. Semua perasaan ini semakin lama terasa makin menyesakkan...
Sesak dan sakit.
-.-.-.-
Pembenaran.
Kita semua mencari pembenaran pada setiap hal yang kita percayai. Saat kita meyakini sesuatu, segala hal yang tidak termasuk dalam lingkaran, dengan mudah kita nyatakan salah. Masalahnya kini, kita hidup di dunia yang serba abu-abu. Garis batas itu bukan lagi pengkotak-kotakan yang jelas. Baik dan buruknya sesuatu kini tergantung dari sisi kita melihatnya.
Orang bilang hal yang paling sulit bukanlah melakukan hal yang benar, tapi menentukan hal yang benar.
"Sakura," pena hitam berhenti menulis di kertas, si pemilik nama segera bangun dari kegiatan menulis essay literaturenya saat mendengar ketukan di pintu.
Membaca buku-buku yang ditugaskan Kurenai-sensei membuat kepalanya disesaki pemikiran-pemikiran berat yang sebenarnya menarik untuk ditelusuri, kalau saja ia tak sedang diburu deadline tugas. Yah, masa sma, kita dituntut untuk menyukai apa yang kita benci dan mengabaikan apa yang kita suka.
"Ya?" Sakura membuka pintu dan menyapa pria yang berdiri di depannya. Sakura membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan Sasuke masuk. "hei, baru pulang?" Sakura duduk di tepi kasur, membiarkan Sasuke membaca sebagian essaynya. Hari ini Sakura pulang duluan karena Sasuke masih latihan sampai sore.
"Naruto nyaris mengurungku seharian di lapangan." Sahut Sasuke, meletakkan kembali essay setengah jadi, dan diam-diam membuat mental note untuk dirinya sendiri agar segera mengerjakan tugasnya sebelum membusuk di lantai kamar.
"Tinggal beberapa hari lagi pertandingan, bukan? Jelas saja dia semangat sekali hari ini."
"Semangat dan keterlaluan berdiri di dua tempat yang berbeda." Gerutu Sasuke, masih ingat bagaimana sulitnya kabur dari latihan hari ini. Naruto sudah seperti Guy-sensei kalau sudah menyangkut pertandingan; badai es menerjang pun tidak akan menyurutkan semangat mereka. "kau sudah makan?"
Sakura mengeluarkan desahan kaget, saking sibuknya mengerjakan tugas dia lupa membuat makan siang seperti biasa. Lagipula belakangan ini sebelum serentetan kejadian sebelum study tur Sasuke jarang di rumah, jadi Sakura nyaris tidak membuat makan siang selama ini.
"Maaf Sasuke, aku-"
"Hn, lupakan." Sasuke mengibaskan tangannya, keluar kamar. "kau sudah mengerjakan essay Kurenai-sensei sebanyak ini?"
"Masih jauh dari kata selesai. Aku butuh beberapa referensi la-"
"Buku?"
"Ya, kurasa sore ini aku mau ke rumah Ino untuk pin-"
"Memangnya tak ada di perpustakaan?"
"Sampai kapan kau mau memotongku?" tanya Sakura, setengah geli setengah kesal. Biar sudah berganti status tetap saja sikap arogan Sasuke tak akan hilang. "tidak ada di sini, di sekolah juga. Sastra populer, keluaran baru, wajar kalau tak ada."
Sasuke berputar, bersandar pada meja belajar menatap Sakura.
"Kau mau beli?" Sakura mengerjapkan mata. Mengingat keuangannya yang kosong melompong bertahun-tahun, pertanyaan itu terdengar seperti sebuah sindiran. Tapi Sasuke yang kemarin menciumnya semanis itu tidak mungkin menyindirnya di saat seperti ini, kan?
"Eh…" Sakura baru mau menjawab saat pria itu beranjak pergi.
"Ganti bajumu. Kutunggu di teras." Ujarnya di pintu, sebelum menutupnya. Butuh beberapa menit bagi Sakura untuk sadar apa maksud Sasuke. Pria itu tak pernah bertanya; ia memerintah. Tapi bagaimanapun, ini pertama kalinya Uchiha Sasuke mengajak kencan seorang gadis.
Benar-benar deh, Uchiha akan tetap jadi seorang Uchiha, pikir Sakura.
-.-.-.-
Malam, Konoha Grand Hotel
Deidara masih misuh-misuh selepas mengisi pertunjukan musik di ballroom hotel. Dan seperti yang selalu terjadi, Sasori yang kena getahnya. Kalau bukan karena disuruh Tuan Akasuna, ayahnya, mengantikan beliau di acara Charity Konoha malam apresiasi seni itu, Sasori sudah ambil langkah seribu. Segala hal yang berhubungan dengan seni adalah mimpi buruknya, karena satu mata pelajaran itu selalu membuatnya dipanggil ke ruang Kepala Sekolah Tsunade gara-gara kesenjangan nilai pelajaran seni nya dengan pelajaran lain.
Sepandai apapun Sasori dalam urusan politik dan organisasi, sampai umurnya menginjak 18 tahun pun dia masih buta not balok. Jangankan memainkan alat musik, menyentuhnya saja Sasori sudah enggan. "Alat musik itu memilih yang memainkan." Begitulah kata Deidara dengan bangganya setiap Sasori gagal dalam pelajaran musik. Mungkin itu sebabnya mereka berteman dekat. Yah, karena saling melengkapi.
Tapi bisa gila aku kalau seharian bertemu dengan Deidara terus, pikir Sasori menyeruput Apple Martininya dengan pasrah.
"Kecuali mereka bisa melakukannya lebih baik dariku, mereka tidak punya hak untuk berkomentar seperti itu," ucap Deidara geram. "mereka tahu apa itu prelude saja tidak, bisa-bisanya bilang permainanku tak lebih baik dari bocah di perempatan? Mengomentari penampilanku pula!"
Yah, memang jelas ada yang salah dengan rambut pirang panjang dipadukan dengan jas hitam. Pikir Sasori. Seburuk-buruknya selera fashionnya, setidaknya Sasori tahu selalu ada yang salah menggunakan jas dengan rambut pirang panjang.
Sasori menghela nafas panjang. Begini ini nih kalau harga diri setinggi pianis tingkat internasional itu sudah tersinggung, bisa semalaman Deidara berceloteh sendiri. Apa mau dikata, sumber daya manusia di Negara ini saja belum mumpuni, kau berharap untuk menemukan orang yang bisa terus menghargaimu di pelosok negeri? Jangankan menghargai pianis handal, menghargai manusia antar manusia pribadi saja banyak yang belum bisa. Pikir Sasori.
Di Grand Hall kembali terdengar sayup-sayup suara solo violin. Deidara kembali menggerutu sepanjang perjalanan melintasi koridor lukisan. Sasori hanya bisa mengikuti dalam diam, memotong keluhan sahabat karibnya itu bisa berarti satu jam tambahan keluhan. Dan dia sudah cukup capek berpura-pura tertawa dengan rekan bisnis ayahnya, menggantikan posisi ayahnya semalaman ini. Pencitraan adalah satu hal yang tak bisa lepas dari publik figure sekarang ini.
"Bah! Kau dengar itu? Menggesek dengan benar saja belum bisa, tapi lihat apresiasi mereka! Hanya karena bocah itu memainkan Antonio Vivaldi, The Four Seasons sekaligus! Coba kalau sudah di atas panggung di depan kritikus ternama, aku mau lihat apa lututnya tidak gemetaran." Dasi panjang Deidara bergoyang saking cepatnya pria itu berputar dalam kemarahannya.
"Ini Charity Event tempat para penikmat seni, bukan kritiskus sejati, Deidara. Tidak ada pemusik handal ataupun orang yang mengerti musik di sini. Itu hanya masalah selera."
"Tetap saja. Kalau memang musik bukan bidang mereka, mereka tak punya hak untuk berkomentar seenaknya." Sasori menyerah. Ia meletakkan Apple Martini-nya di meja terdekat dan menatap sahabat karibnya itu.
"Ayolah, kau terlalu pintar untuk hal semacam ini."
"Maksudmu?" Deidara ikut berhenti, mukanya masih terlipat.
"Ini yang kusebut debat kusir." Gumam Sasori. "Dei, kau dikritik oleh orang-orang yang tak mengerti musik. Jangan pikirkan terlalu dalam, lah. Kau pikir apa gunanya kita sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya masih berdebat soal tarif dengan kusir? Memangnya para pejabat itu bisa memperdebatkan fluktuasi ekonomi dunia dengan orang yang sama sekali tak punya background ekonomi di warung kopi? Jelas aja ga akan selesai, dasarnya aja udah beda." Deidara terdiam.
"Jadi aku biarkan saja orang-orang tak mengerti seni itu menilaiku sesuka hati mereka?" nada suara Deidara meninggi.
"Terima sajalah, jangan masukkan ke hati. Mereka juga punya hak untuk menilai kok. Lagipula kau mau ceramah sampai berbusa pun mereka akan tetap menilai permainanmu seperti anak kecil."
"Tapi kalau kau sendiri disalahkan oleh anak buahmu atas apa yang kau yakini benar, kau mau?" Sasori berdecak. Begini nih, kalau sudah berdebat pasti Deidara mulai bawa-bawa jabatan. Selama di KHS Sasori sudah menelan asam garam duduk di kursi Volkstaard itu. Beberapa adu argument mau tak mau pasti menyinggung posisinya. Yah, resiko jadi pemimpin.
"Biarkan sajalah. Mereka punya hak menentukan benar atau salahnya sesuatu sesuai kapasitas pengetahuannya, dan begitu juga aku. Bukan kewajibanku untuk membenarkan atau menyalahkan sesuatu. Semua manusia punya batasan benar atau salahnya masing-masing kan. Tugas kita hanya saling bertoleransi terhadap batasan itu. Hm, lagipula kalau dua dari sepuluh orang bilang aku salah, berarti yang salah tetap aku atau dua orang itu?" Deidara diam saja. Pria berambut pirang panjang itu mengeluarkan nafas panjang.
"Hm, politikus dunia seharusnya mulai ambil ancang-ancang seribu kalau kau mulai kuliah di jurusan politik." Kali ini Sasori tertawa.
"Yah, didikan nenek Chiyo bertahun-tahun. Kalau sudah bicara politik beliau tak ubahnya Margaret Tatcher."
Deidara ingat betul nenek Sasori yang selalu mengomentari penampilannya tiap ia berkunjung ke rumah Sasori. Bagi nenek Chiyo, pemuda dengan rambut gondrong patut diberantas dari dunia. Terakhir kali berkunjung Deidara harus rela menerima ceramah sehari semalam tentang pemuda harapan bangsa yang seharusnya. Dalam sehari saja Deidara bisa hapal 44 Presiden Amerika kalau terus-terusan dicecoki seperti itu.
Kedua sahabat itu berjalan menelusuri koridor lukisan. Replika-replika lukisan terkenal dipajang untuk malam apresiasi seni. Dari tanda tangan yang tertera di sana, Deidara segera tahu siapa dalang dibalik replika ini. S untuk Arisugawa Sai. Setahun tak bertemu, sudah sejauh ini si-muka-senyum-menakutkan itu berkembang? Wah, apa lagi yang sudah aku lewatkan di KHS? Pikir Deidara dalam hati. Di ujung ruangan pameran, replika lukisan Van Gogh terpajang rapi.
"Pelukis bertelinga satu," celetuk Sasori, setelah menggali ingatannya tentang si pelukis asli.
"Rasanya semua pelukis kontroversial pasti punya masa gelapnya masing-masing…" Deidara ikut berdiri di samping Sasori, mengamati Starry Night. Lukisan malam hari yang artistik itu mengimpresi imaginasi si pengamatnya, melewati batas kabut. "semua masterpiece ada harganya masing-masing kan." Van Gogh memang terkenal sebagai pelukis yang mengalami depresi yang kemudian menggerogoti mentalnya.
"Komentari lukisannya, cara pelukis melukisnya, bukan si pelukisnya sendiri." Sasori dan Deidara menoleh pada kehadiran suara lain. Pemuda berambut hitam pendek dengan senyuman khasnya berdiri di belakang mereka. Berbalut jas biru tua, Shimura Sai terlihat seperti calon pelukis yang siap dibeli karyanya dengan harga milyaran.
"Berhenti menakuti orang, Sai. Setidaknya, berhenti tersenyum seperti itu. Kau ini tak pernah berubah ya?" Deidara menghela nafas, jantungnya makin lemah setelah tiga tahun satu pengurusan di Sekbid seni OSIS KHS bersama Sai. Untung setahun kemarin dia mengambil semester pendek di luar negeri untuk memantapkan karir pianisnya.
"Lukisan bukan selalu refleksi diri si pelukis." Ujar Sai lagi, masih dengan senyumannya. "kurasa kurang etis kalau mengkritik pelukis hanya berdasarkan kisah hidupnya. Yang dipamerkan lukisannya kan, bukan kehidupan pribadi si pelukis." Sasori tahu celetukkan mereka berdua tentang Van Gogh sudah menyinggung Sai.
"Wow, oke, oke. No offense man, maaf kalau belum jadi kritikus seni yang baik. Kau tahu aku tak pernah mengerti dunia itu." Sasori segera menyambung, tak mau menambah deretan argumentasi hari ini. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan si pelukis handal Sai, pasti mati kutu dia kalau mulai berdebat soal seni.
"Orang hanya bisa menuntut lebih dari yang bisa diberikan." Pandangan Sai mengawang-awang. "apresiasi seni hanya jadi tempelan manis belaka. Sastra, lukisan, drama, bahkan musik pun sudah kehilangan sentuhannya. Padahal mereka mengerti isinya seutuhnya saja tidak, hanya bisa menilai permukaannya. Apalagi mengomentari si seniman. Omong kosong di mana-mana, seolah orang-orang awam itu lebih tahu, lebih merasa, dan bisa melakukannya lebih baik dari si seniman itu sendiri. Budaya populer yang melenceng dari kodrat awal kritik. Jaman sekarang kritik hanya untuk menyalahkan, meminta lebih, bukannya membangun."
"Uhm, tapi pada dasarnya kritikan itu ada untuk membuat senimannya jadi lebih baik kan?" Sasori coba-coba ikut ambil bagian dari debat panas ini. Mata hitam Sai berpindah dari lukisan menatapnya. Rasanya bulu kuduk Sasori jadi meremang kalau ditatap seperti itu oleh Sai. Sasori baru berpikir jika dia baru saja memasuki zona merah.
Di luar perkiraannya, Sai tersenyum.
"Tentu. Tapi ada batasannya. Mengkritik dan menjatuhkan kadang hanya setipis tali pendulum. Kalian tentu ingat Teori Chaos kan? Efek kupu-kupu?"
Deidara bengong sementara Sasori berusaha mengingat apa yang Kakashi-sensei pernah ajarkan tentang itu. Sai mengabaikan diamnya kedua temannya itu dan melanjutkan.
"Kecil efeknya saat ini, tapi brutal jika dibiarkan lama-lama. Secara linear semua sistem punya entropinya masing-masing. Bahkan yang sekecil skala gelombang mikron sekalipun. Kata-kata─gelombang longitudinal itu─adalah pedang bermata dua. Satu mengubah dunia jadi lebih baik, satu menjerumuskannya." Sai menatap Starry Night, tangannya terulur hati-hati menyentuh pinggiran lukisan itu. "bayangkan berapa besar kerusakan yang bisa terjadi hanya dari satu kritikan yang tidak pada tempatnya."
Wow. Hanya itu kata yang terbentuk di kepala Sasori. Harusnya ia mendengarkan Kakashi-sensei lebih baik lagi tentang fisika tingkat lanjut itu. Deidara menyenggol Sasori, berbisik pelan;
"Ini jelas bukan debat kusir. Pria ini tahu apa dia lakukan."
"Terserah kau sajalah," Sasori memutar mata, bosan beradu argumentasi dengan Deidara. Bisa makin merah rambutnya nanti.
"Jadi yang harus di kritik itu karyanya, bukan si pembuat, terlepas dari sudut pandang si pembuat itu sendiri." Ucap Deidara. "aku jadi ingat The Great Gasby."
"Tugas Kurenai-sensei waktu kita kelas satu?" tanya Sasori, mencoba mencari korelasi perbincangan mereka dengan karya klasik itu.
"Ya, penulisnya mengalami masa yang tidak menyenangkan. Karyanya jadi dikait-kaitnya dengan masalah personalnya. Kasihan. Padahal setelah ia berkalang tanah karyanya jadi terkenal."
"Hm… seharusnya orang-orang lebih berhati-hati dalam menyusun kata dalam mengkritik." Ujar Sasori pelan, menanggapi jawaban Deidara. "rasanya prinsip 'hargai orang jika kau ingin dihargai' sudah jadi slogan basi saat ini."
"Ah… itu kesimpulannya," Sai tersenyum lagi. "batasan tiap orang relatif. Tergantung batas rasa toleransinya... dan kacamata yang digunakannya. Sesuatu yang kita yakini benar kan bisa salah di mata orang lain. "
Sasori jadi berpikir mendalam mengenai hal ini. Kalau seseorang bisa menyatakan sesuatu benar-benar salah atau benar-benar betul, dua Negara timur tengah yang sedang berkonflik itu pasti sudah duduk satu meja makan saat ini. PBB hanya akan jadi kakek tua pemegang buku perjanjian internasional. Dan tidak ada lagi penulis lepas amatir yang dihantam komentar tidak pada tempatnya hanya karena salah pengertian antara pembaca dan penulis, pikirnya.
Faktor budaya juga sama pentingnya. Karya pemenang Pulitzer Prize saja belum tentu cocok dengan state of mind penduduk Negara yang lebih sering digerecoki berita korupsi. Para penulis itu sebelumnya hanya orang biasa yang menyalurkan pikirannya, berteriak lewat tulisan. Bukan penulis handal yang digaji tetap untuk memuaskan rekan-rekannya, saat itu mereka menulis untuk idealismenya sendiri.
Untuk kebahagiaannya sendiri, untuk kenyamannya sendiri.
Orang-orang terbiasa mempermasalahkan yang tidak biasa. Padahal kalau tidak suka ngapain dibaca? Tuh, ada masalah perdamaian dunia dan perang nuklir yang lebih penting untuk dipermasalahkan.
Orang selalu membenci hal yang berbeda dari kebanyakan mereka. Unfortunately, people throw rocks at things that shine. Itulah sebabnya semua orang mati-matian mencoba berbaur, menjadi sama, dan tidak ada yang berani berdiri sendiri.
Manusia-manusia yang cari aman.
Sasori tanpa sadar menggelengkan kepalanya, menurunkan bahunya yang tegang. Berhentilah menghakimi sesuatu terlalu keras. Tuh kan, ujung-ujungnya kau juga debat kusir dengan diri sendiri. Sampai nenek Chiyo berubah jadi muda lagi, masalah macam ini tidak akan pernah selesai. Sasori menghela nafas, sampai pada titik ekuilibriumnya pada pemikiran malam ini;
Baik buruk sesuatu itu relative. Mungkin, kita hanya harus belajar untuk menghargai satu sama lain lebih baik.
Ah, dan diskusi mengenai kritik dari Sai sedikit banyak membuka matanya. Sekurang-kurangnya malam ini ia jadi lebih hati-hati dalam mengomentari karya orang. Lebih baik diam darpada mengkritik tanpa tedeng aling-aling. Win-win solution kan?
Ada pepatah lama yang bilang;
Jika tak bisa mengatakan hal yang baik, lebih baik diam.
Yah, selain karena kata-kata itu akan dipertanggungjawabkan nanti di hadapan Kami-sama, Sasori juga tidak mau terkena imbas efek kupu-kupu yang baru dinyatakan Sai.
"Well, sudah kodratnya manusia selalu jadi makhluk yang paling bisa menuntut, apalagi kalau menyangkut hal yang tidak mereka sukai…" Sasori teringat teori lain.
"Tapi kita tak bisa menghakimi tanpa melukai kan?" celetuk Sai tiba-tiba. Deidara menggeleng pelan, bingung bagaimana cara kerja kedua otak sahabatnya itu.
"Ya. Sigmund Freud bilang…" ucapan Sasori segera dipotong Deidara.
"Stop. Ini pameran seni bukan kuliah psikoanalisis, Sasori. Coba semua orang menghargai seni sepertimu, Sai! Gimana kalau kita mulai bikin grup? Kaya three musketeers gitu? Pemikir futuristik-" Deidara menarik Sasori. "-pelukis idealis-" satu tangannya menarik Sai. "-dan pemain musik! Bersama kita ubah cara pandang dunia terhadap seni!"
Hening.
"…kalau sama kalian, ini terasa kaya trio kwek-kwek…" celetukan Sasori kontan mendapat satu pukulan di kepala dari Deidara.
Malam itu di lorong penuh lukisan, untuk pertama kalinya kepala Sasori berhenti dipenuhi gadis berambut merah jambu.
-.-.-.-
Malam, fast food, Tokyo
"Kenapa tertawa?" Sasuke mengernyit pada gadis di hadapannya.
Setelah sesorean menemani gadis itu berputar-putar di toko buku, akhirnya perutnya bisa terisi juga. Gairah belanja buku Sakura sama saja seperti perempuan lain saat melihat diskon baju besar-besaran. Mungkin yang dikatakan buku-buku itu benar, bahwa perempuan menyembuhkan stress mereka lewat belanja.
Bukannya Sasuke pelit, tapi belanjaan buku Sakura seperti persiapan hibernasi selama setahun. Rak buku di perpustakaan pasti penuh. Apa daya, pria itu tak mampu berkata tidak saat Sakura menatapnya dengan puppy eyes dan menarik kemejanya seperti anak kecil yang kehilangan pegangan.
Gadis itu tahu titik lemahnya. Sasuke hanya berharap semoga saja mempercayakan hatinya pada Sakura akan berakhir baik-baik saja.
"Aku hanya tak mengira seorang CEO perusahaan kelas dunia bisa makan di tempat normal," ujar Sakura meletakkan sendok sup krimnya yang sudah habis.
"Aku juga manusia," Sasuke mendengus mendengar kata-kata klise itu, meminum sodanya hingga separuh.
Memangnya seorang CEO harus selalu makan di tempat mahal dan serba berkelas? Bah, menunggu menu utamanya datang saja sudah menghabiskan tiga puluh menit lebih. Bagi Sasuke Uchiha, waktu adalah uang. Fast food memang tidak sehat, tapi di jaman orang berkejaran dengan waktu ini, sedikit sekali yang masih peduli apa mereka masih hidup sehat sepuluh tahun ke depan.
Beberapa bahkan tak peduli jika mereka masih hidup besok. Sasuke mengenal para pebisnis workaholic yang bekerja seakan mereka mati besok. Apa gunanya bekerja keras hari ini kalau tak bisa hidup besok untuk menikmatinya…pikir Sasuke. Pebisnis sejati tahu kapan harus berhenti dan kapan harus bertarung mati-matian di meja judi pasar modal.
"Apa kau sudah memutuskannya?" celetuk Sakura tiba-tiba, membuyarkan pikiran Sasuke.
"Apa?"
"Masa depan." Sasuke mengerutkan kening.
Satu-satunya masa depan yang berkeliaran di kepalanya hari-hari belakang ini adalah proposal rencana kerja perusahaan lima tahun ke depan yang masih belum dieditnya. Rasanya 24 jam tak pernah cukup saat kau sibuk berkarya. Tapi kita diberikan waktu yang sama persis seperti yang dimilki Albert Einstein dan Thomas Alva Edison, kan?
"Maksudku… setelah lulus. Tinggal beberapa bulan lagi." Sakura buru-buru menambahkan, melihat kerutan di kening Sasuke.
"Oh. Bisnis kurasa."
"Tidak mempertimbangkan yang lain?"
"Apa kau pikir orang sepertiku cocok jadi pemain sepak bola?" tanya Sasuke balik. Sakura tersenyum simpul.
"Tidak ada yang tidak mungkin, kan."
Ya, tidak ada yang tidak mungkin. Tapi sejujurnya Sasuke agak susah membayangkan seorang Naruto tinggal di laboratorium, dengan wajah serius dan kacamata bulat, mengeliminasi X dan Y di tengah-tengah belasan tabung kimia yang saling terhubung. Bayangan seperti itu saja sudah cukup membuat Sasuke kehilangan nafsu makan.
"Hn. Mendiskon mimpi memang tidak boleh, tapi kadang kita harus berdamai dengan kenyataan." Sasuke meletakkan gelas sodanya. "ada apa tiba-tiba bertanya?"
"Hanya penasaran. Kau tahu, bisa dihitung dengan ibu jari berapa sering kita bicara normal seperti ini." Sakura memainkan es batu yang ada di gelas sodanya dengan sedotan. "kadang aku takut ini hanya mimpi, dan suatu saat aku akan terbangun."
Sasuke menatap gadis di hadapannya. Mata Sakura menatap ke gelas sodanya, seakan gadis itu menemukan batu es yang berenang di soda biru lebih menarik dari Sasuke. Sakura mendongak menatap Sasuke begitu tangan Sasuke menyentuhnya di atas meja.
"Jika ini memang mimpi, aku juga tak mau terbangun."
Jari-jari Sakura di bawah tangan Sasuke menegang. Sakura menelan ludah, berusaha menenangkan jantungnya yang mulai bertingkah lagi. Sasuke mungkin belum pernah mengucapkan tiga kata itu. Tapi semua sikapnya, kata-kata spontannya, mau tak mau membuat Sakura seakan berada di roller coaster yang menunggu saat turun. Saat tak ada yang pasti, segala hal jadi mungkin.
Saat ini, dengan pria itu di hadapannya, Sakura merasa akhir yang bahagia memang bukan hanya kisah palsu belaka. Happy ever after did exist.
"Sasuke," Sakura membalas genggaman pria itu. "kau percaya padaku?" lompatan kuantum yang tak pernah Sakura mengerti itu seperti pendulum yang bergerak konstan dalam detik-detik yang memacu adrenalinnya ini.
"Kau tak butuh jawaban untuk itu."
Satu tangan Sasuke terangkat, jari-jarinya bergerak menyentuh pipi Sakura, memasukkan anak rambut ke belakang telinga gadis itu. Sasuke mungkin bukan pria sejuta kata, bukan pujangga romantis yang mampu meracik kata-kata indah. Dia pria biasa, yang saat ini ingin menghabiskan waktu dengan seseorang yang bisa membuatnya nyaman.
Mungkin dia memang arogan dan egois. Melakukan segala hal sesuai keinginannya. Tapi di balik sikapnya yang seenaknya itu, Sakura bisa melihat dia masih Sasuke yang sama, yang dulu menolongnya saat pertama kali mereka bertemu. Sakura benar-benar berharap ini semua bukan mimpi yang bisa hilang begitu saja. Sakura menarik tangan Sasuke dari pipinya, menggenggamnya.
"Sasuke, boleh aku bertanya?"
"Hn."
"Kenapa kau… memilihku?" Sasuke diam saja. Pria itu menarik tangannya dari genggaman Sakura.
"Sudah malam. Ayo pulang."
Sejenak, Sakura merasa ada bagian dari dirinya yang merasa sedih dengan ucapan itu. Seharusnya ia tak usah bertanya, biar mereka menghabiskan waktu berdua lebih lama. Bicara hal-hal normal seperti layaknya dua orang yang saling menyukai.
Beberapa hal seharusnya lebih baik tidak usah dikatakan.
-.-.-.-
Mobil sport itu terparkir rapi di kediaman Uchiha. Sasuke mematikan lampu mobil, memastikan alarm mobilnya menyala. Sakura berjalan gontai ke rumah, melewati halaman tempat ia biasa menghabiskan waktu kalau sedang dikunci di luar.
"Kau masih memikirkan hal itu," Sakura berhenti, berbalik menatap Sasuke yang berjalan di belakangnya. Langit cerah, biasanya di malam secerah ini Sakura tak keberatan menghabiskan waktu di luar.
"Tidak. Tidak apa-apa kok kalau kau tidak menjawab." Senyuman yang sudah biasa dipaksakan muncul di bibir Sakura. Ia butuh tidur, kalau perlu membabat habis soal-soal matematika malam ini agar bisa mengalihkan pikirannya dari Sasuke.
Saat Sakura berbalik lagi, tangan Sasuke menariknya untuk berhenti.
"Memangnya butuh alasan untuk menyukai seseorang?"
Deg. Deg.
Sakura berputar, sekali lagi menatap mata sehitam langit di belakangnya. Ya. Kenapa ia harus mempertanyakan segala hal sih? Karena ia jatuh cinta setengah mati pada Sasuke Uchiha. Dan ketakutan akan semua ini hanya mimpi semakin lama semakin menggerogoti akal sehatnya.
"Setiap orang mencari alasan untuk bangun pagi kan?" ujar Sakura pelan, mencoba mencairkan suasana yang sedikit menegang. "lupakan, Sasuke. Sungguh."
Sasuke tidak melepaskan tangannya, alih-alih memeluknya. Sesuatu yang belakangan ini sering dilakukannya. Sasuke tidak bisa menyalurkan apa yang dirasakannya lewat kata-kata. Hanya seperti inilah ia bisa menyampaikan isi hatinya pada Sakura. Sakura menenggelamkan kepalanya di dada Sasuke, membiarkan dirinya larut pada pesona pria itu.
"…kau merasakan itu?" bisik Sasuke pelan.
"Apa?" tanya Sakura bingung. Tangan Sasuke menarik lengan Sakura, dan pelan-pelan meletakkannya di dada bidangnya. Sakura termanggung. Ia bisa merasakan organ paling penting itu berdetak di bawah jari-jarinya. Seirama dengan miliknya yang selalu bertambah cepat setiap kali berada di dekat Sasuke. Sasuke memandangnya sebentar, lalu mengalihkan pandangannya.
"Kau sudah punya alasannya kan?" Sakura masih memandang bingung. "dasar bodoh. Masa kau tidak bisa merasakannya?" Sasuke bergumam. Tangannya mengepal, rambut hitamnya menutupi wajahnya dari pandangan. Sasuke menekankan tangan Sakura lebih dekat ke jantungnya.
"…hanya kau yang bisa membuatnya jadi begini." Bisik Sasuke di tengah keheningan malam.
Baru kali ini Sakura melihat seorang Uchiha tersipu.
Sakura mengerjapkan mata, baru mengerti. Kontan wajahnya juga memerah. Ia mencoba menarik tangannya tapi Sasuke tidak mengindahkannya. Di bawah telapak tangan Sakura, jantung Sasuke berdetak sama cepatnya seperti miliknya.
Ini cukup, Sasuke. Ini sudah lebih cukup untuk jadi sebuah alasan. Sakura bertanya-tanya apa ia akan pernah menemukan batas dalam mencintai seorang Uchiha Sasuke.
Mungkin mereka tidak bisa seperti pasangan normal lainnya. Mungkin Sasuke masih terlampau kaku dalam mengekspresikan perasaannya dan Sakura berpikir terlalu banyak tentang hubungan mereka. Masa depan adalah misteri. Takut pada kemungkinan hari esok tidak akan membawa perubahan. Hanya menambah kecemasan. Malam ini, di bawah langit berbintang, Sakura tahu.
Mereka masih muda. Masih banyak waktu untuk saling mengerti.
Sakura menghela nafas. Sejujurnya sejak ujian akhir di depan mata, pikirannya terbebani dengan berbagai hal. Masa depannya. Hubungannya dengan Sasuke. Segala hal rasanya jadi bersangkut-paut dalam jaring laba-laba tak terlihat. Masalah tumpang tindih, sementara waktu terus mengejar.
Semua orang rasanya meneriakinya untuk bertindak. Tapi bertindak apa?
Sakura tahu, semua orang di KHS merasakan beban yang sama. Pria yang hidupnya terjamin tujuh turunan di hadapannya pun pasti merasakan beban itu. Semua orang berusaha dengan caranya masing-masing.
"Banyak hal yang tak bisa kukatakan padamu," bisik Sakura. "tapi untuk saat ini, kau di sampingku saja sudah cukup."
"Hn," jawab Sasuke. Sakura tersenyum mendengar jawaban khas itu. Pria dan harga diri mereka… butuh bertahun-tahun mungkin bagi Sasuke untuk bisa mengeskpresikan perasaannya lebih dari sepatah dua patah kata.
"Besok kita ulangan Matematika," bisik Sakura lagi. "lebih lama di sini kita berdua bisa masuk angin."
"Tarik nafaslah sebentar dari tumpukan bukumu," ujar Sasuke. Sakura tertawa mengingat Naruto juga pernah mengatakan hal yang sama. Lama bergaul dengan Naruto mungkin membuat Sasuke tertular sifat si pirang itu.
"Aku punya masa depan yang harus dikejar 24 jam, Sasuke." Pria itu menatapnya dalam-dalam.
"Kalau begitu aku akan membekukan waktu sebentar." Tanpa peringatan apa-apa Sasuke menunduk, menciumnya. Sakura masih berupaya membiasakan diri dengan kelakuan Sasuke yang serba tiba-tiba. Tapi dia akan selalu menikmati cara Sasuke menciumnya.
Tangan Sakura menarik pria itu lebih dekat, membiarkan pangeran berambut hitamnnya membekukan waktu selama mungkin diantara mereka.
Sakura tidak meminta Kami-sama untuk meringankan beban itu. Ia hanya meminta untuk diberikan punggung yang lebih kuat untuk menanggungnya, dan untuk lebih lama merindukan bulan.
…
Karena semua orang tahu, setiap mimpi yang terwujud punya harga yang harus dibayar.
-.-.-.-
A/N : sesuai saran Madge Undersee, saya replace chap 10 yang kemarin. Makasih udah ngingetin. Saya upload chap tak dapat diprediksi. Saya sebuah anomali.
…
"Aku tahu kau tak kan patah. Hanya ranting tua yang patah. Batang muda tetap meliuk kena terjang angin badai. Karena hanya si pandir melawannya."
-Jejak Langkah, Pramoedya Ananta Toer
…
Untuk kalian, para pemimpin, para perintis, para pendobrak, para pengejar mimpi yang sedang berjuang dalam hidup dan membaca cerita ini.
Saya tidak tahu apa yang sedang kalian hadapi di kehidupan nyata, begitu juga kalian tidak tahu apa yang sedang saya hadapi saat ini. Tapi kita makhluk sosial yang berusaha untuk saling peduli, kan? Jadi, terimakasih untuk semangatnya. Hanya ini yang bisa saya sampaikan;
Ayo kita sama-sama berjuang.
...
Hei anak-anak bangsa, calon tokoh-tokoh dunia.
Apapun yang terjadi, jangan biarkan kerasnya dunia mengubah senyuman kalian.
Semangat. Semangat yang sebenar-benarnya.
-P.
