"Maybe we like the pain. Maybe we're wired that way.

Because without it, I don't know; maybe we just wouldn't feel real."

-Meredith Grey, Grey's Anatomy

-.-.-.-

SEBELAS

Apa kupu-kupu tanpa sayap tetap disebut kupu-kupu?

Itachi membiarkan seekor kupu-kupu hinggap di jari telunjuknya yang terbujur di pegangan kursi. Hitam kebiruan, warna corak kupu-kupu itu. Di Birmingham, kawasan industrial Inggris dimana James Watt membuat mesin uap untuk pertama kalinya, mungkin hewan bersayap hitam macam ngengat Biston betularia banyak berkeliaran setelah revolusi industri. Tapi di Konoha yang masih asri, baru kali ini Itachi melihat kupu-kupu bersayap hitam.

Sejujurnya, kupu-kupu bersayap suram ini tidak indah untuk dilihat. Baik corak maupun paduan warnanya semua terasa suram. Tidak ada bagian yang cukup cantik untuk dikagumi dari makhluk bersayap ini.

"Bagaimana rasanya jadi kupu-kupu bersayap hitam…?" Itachi menatap kupu-kupu itu baik-baik, seolah hewan kecil itu mengerti pertanyaannya.

Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya sekali seakan menjawab pria itu, lalu diam di jarinya. Itachi tidak bisa dibilang menyukai hewan. Ataupun membenci mereka. Dia hanya menganggap mereka seperti makhluk hidup lain, tak ubahnya manusia, yang lalu lalang di hadapannya. Sosok-sosok yang tidak harus dibenci atau disukai olehnya, namun tetap hidup dan bernafas. Sesederhana itu.

Dulu sekali Itachi ingin memelihara seekor gagak yang ditemukannya di menara asrama. Di Eropa, sama seperti di belahan dunia lainnya, gagak dianggap makhluk pembawa sial, pembawa berita kematian.

Itachi kecil menghabiskan waktu luangnya di menara lonceng asrama yang berdentang tiap jam 6 sore. Ia bisa melihat seluruh kota Munich dari sana, dan menikmati kesendiriannya untuk berpikir. Udara German yang sejuk, dengan angka natalitas mendekati minus, Itachi selalu suka menghabiskan waktu memandangi kota pembatas itu.

Hari itu, seekor gagak terbujur di lantai menara, sayapnya berdarah dan ada luka terbuka di pangkal sayapnya. Mungkin karena senapan angin pemburu atau ketapel iseng anak-anak tak tahu diri yang sering berkeliaran. Tanpa pikir panjang Itachi segera membawa si gagak ke kamarnya, mengobati lukanya, dan dengan sabar setiap hari menunggui gagak.

Hari kedua, binatang itu mulai bergerak. Itachi dikagetkan dengan kepakan sayap hitam di kamarnya pada dini hari. Burung itu mulai berkoak dan Itachi takut kalau penghuni asrama lain mendengar, mereka bisa datang ke kamarnya. Memelihara burung gagak saja sudah dianggap aneh, apalagi memeliharanya di dalam kamar asrama yang notabene melarang adanya binatang.

"Aku tidak akan menyakitimu. Tapi kau tak boleh ada di sini," Itachi mengulurkan tangannya untuk meraih si burung yang bertengger di puncak lemari bajunya, berpikir untuk mengeluarkan burung itu. Burung hitam itu memiringkan kepalanya, dan terbang lagi. Tapi kali ini, burung itu hinggap di bahunya.

Itachi tahu bahwa ia baru saja punya teman baru.

Itachi diam-diam keluar kamar, menyusuri lorong yang sunyi senyap pada jam 2 pagi, membuka pintu menara asrama yang tak pernah dikunci. Angin malam menderu, tapi gagak itu dengan mantap menancapkan kakinya di bahu Itachi hingga terasa sakit.

"Kau tidak bisa terus di sini. Tidak ada tempat yang cukup ramah untuk seekor gagak di sini." Ujarnya, menyentuh kepala burung itu. "jangkan seekor burung. Manusia saja sulit menemukan tempat untuk individu yang berbeda dari kebanyakan mereka." Itachi mencoba mengangkat si gagak dari bahunya, tapi burung itu tidak mau lepas darinya.

"Kau dan aku bisa kena masalah kalau tertangkap jam segini ada di menara." Ujar Itachi lagi. Sejujurnya, ia tak mau gagak itu pergi. Tapi menahannya di sini hanya akan menimbulkan masalah. Gagak itu berkoak, memecah keheningan malam. Pada akhirnya, Itachi membiarkan cakar itu tetap ada di bahunya hingga matahari menampakkan wujudnya.

"Besok aku akan pindah sekolah, dan tidak akan ada yang merawatmu di sini. Kau lebih baik cari tempatmu sendiri." Burung gagak itu berputar, matanya yang hitam pekat memantulkan bayangan Itachi kecil yang lelah pada dunia. Setelah saling pandang seolah mengerti, ia mengepakkan sayapnya lalu terbang. Gagak itu hinggap di ujung lonceng, memandang Itachi sekali lagi.

"Aufwiedersehen, mein freund. Hati-hatilah."

Itachi membalas tatapannya, mengamati si gagak mengepakkan sayap, lalu berbalik untuk kembali ke kamarnya. Frau Jen bisa menceramahinya sepanjang hari kalau lagi-lagi Itachi ketahuan keluyuran sepagi ini. Baru saja tangan Itachi menyentuh pintu, suara tembakan terdengar. Ia menoleh, tepat saat sesosok hitam jatuh dari langit.

burung gagak yang dirawatnya itu hidup hanya untuk mati di lain hari…

"I-Itachi?" mata hitam Itachi beranjak dari kupu-kupu yang masih bertengger di jarinya pada seorang gadis berambut indigo yang berdiri di pintunya. "boleh masuk?"

"Tentu," jawab Itachi sekadarnya, menggerakkan jarinya agar si kupu-kupu hitam terbang. Hinata melihat makhluk bersayap itu terbang mengintari kamar, lalu pergi dari jendela yang terbuka.

"W-warnanya tidak biasa," komentar Hinata. Itachi mengangguk. "t-tapi dia tetap seekor kupu-kupu yang cantik." Itachi mendongak dari kursinya, menatap Hinata.

"Kau berpikir begitu?" Hinata mengangguk. "hanya sebagian kecil orang yang bilang kupu-kupu hitam itu cantik." Itachi berkomentar, bangkit dari kursinya dan menyeret infusnya. Hinata duduk di sofa seberang tempat tidurnya, menunggu pria itu menyeret infusnya dan bergabung di sampingnya.

"B-bagaimana keadaanmu?"

"Sebaik yang kau lihat. Mungkin sore ini aku akan pergi."

"P-pergi?"

"Ya, keluar dari rumah sakit." Hinata menghela nafas, tadinya dia pikir pria itu akan menghilang lagi seperti yang biasa ia lakukan. Sejak kecil Hinata banyak mendengar mengenai Itachi Uchiha, yang konon kesibukannya mengalahkan PM Jepang. Bukan hal mudah untuk bisa duduk dan bicara dengan si pemimpin kerajaan bisnis Uchiha ini.

"Bagaimana Naruto?" tanya Itachi tiba-tiba. Wajah Hinata memerah. "kalian pacaran kan? Dia tak apa kau mengunjungiku terus selama tiga hari ini?" Itachi tahu hubungan mereka dari Naruto, karena terakhir kali ia melakukan teleconference dengan Sasuke di kantor, Naruto tanpa diundang ikut mengganggu dan mengabari bahwa kini dia dan Hinata resmi pacaran.

"B-baik," jawab Hinata pelan.

Dia selalu salah tingkah jika seseorang bertanya tentang hubungannya dengan si pirang energik itu. Besok adalah pertandingan terakhir Naruto sebagai kapten sebelum mereka semua lulus. Terang saja Naruto mencurahkan semua perhatiannya pada pertandingan itu. Mereka jadi jarang bertemu, jarang bicara, rasanya ada jarak diantara mereka.

Itachi menangkap kilatan kegelisahan dalam suara Hinata, dan cara gadis itu menunduk jelas menyatakan kontradiksi dari jawabannya. Itachi diam saja, menatap jauh ke luar jendela. Hari ini, seperti hari-hari yang dilewati Hinata di kamar tempatnya dirawat, mereka lewati dengan diam.

Kadang, kita hanya butuh untuk dipahami, tanpa dihakimi. Kata-kata bukan yang seseorang inginkan saat jenuh. Kadang kita hanya butuh ditemani. Tanpa kata. Hanya sebuah eksistensi.

Eksistensi. Ya, kata kunci yang dicari-cari manusia sampai-sampai Abraham Maslow disebut-sebut menjungkirbalikkan piramidanya di akhir hayat. Karena kebutuhan aktualisasi diri yang menyebutkan pengakuan eksistensi individu dikatakan sebagai kebutuhan dasar. Bukan lagi sandang pangan dan papan seperti yang diajarkan guru SD. Apapun itu, setiap disiplin ilmu punya definisinya masing-masing…

Teringat kupu-kupu tadi, Itachi tersenyum tipis. Jika penguin yang tak bisa terbang tetap disebut unggas, mungkin kupu-kupu tanpa sayap tetap disebut kupu-kupu.

Tapi disebut apa manusia tanpa cita-citanya? Manusia yang hidupkah atau hanya sekedar numpang nafas?

Hinata bergerak sedikit di sebelahnya, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak. Gadis itu mengeluarkan buku pelajarannya dan mulai membaca dalam diam disamping Itachi. Entah kenapa, Itachi merasa lebih nyaman ditemani dalam diam. Sebagai pewaris bisnis keluarga sekaligus anak tertua, Itachi merasa dalam beberapa hal Hinata mengerti apa yang tidak dikatakannya. Orang hanya menilai dari apa yang ditunjukkan. Tak ada yang repot-repot menggali lebih dalam.

Dunia yang dangkal.

-.-.-.-

Suigetsu menyesal kenapa dia meninggalkan selimutnya yang hangat di rumah hanya untuk tertangkap oleh Guy-sensei hari ini. Sejak kompetisi kemarin, dia mati-matian menghindari guru maniak olahraga itu, tapi dunia ini terasa saat kecil saat kita menghindari sesuatu. Di sinilah dia sekarang, di ruang Kepala Sekolah Tsunade, duduk di kursi dihadapan Guy-sensei dan Tsunade-sama seperti seorang terdakwa.

"Kenapa tidak? Kau masih sangat muda dengan masa depan cerah gemilang!" Suigetsu selalu kagum pada semangat yang seakan tak ada habisnya pada guru pecinta jumpsuit hijau itu. Andai semangat sebesar itu dibagikan untuk sepersekian anak negeri yang semangatnya luntur terkena badai kehidupan…

"Yah… tapi aku tidak tertarik, sensei."

"Tapi ini beasiswa penuh! Dengan semua prestasi dan medalimu-"

"Kapan terakhir kali kau menginginkan sesuatu?" potong wanita bermata cokelat itu dengan tajam. Suigetsu tak pernah suka jika dipaksa berhadapan dengan wanita paling berkuasa di seantero KHS ini. Rasanya ia bisa mencair kalau sudah dipandang sedemikian tajam oleh Tsunade-sama.

Tapi mau tak mau pertanyaan itu menggema di kepala kosongnya.

"Aku tidak yakin," jawabnya jujur. "tapi jika ada yang menginginkannya lebih dariku mungkin orang itu lebih pantas menerimanya."

Ruangan hening. Suigetsu menghitung detik, berapa lama lagi dia bisa bertahan di ruang yang menyesakkan ini. Satu… dua… tiga…

Empat…

Lima…

Suigetsu berharap Kami-sama memberikan seseorang─siapapun itu─sekarang juga masuk dan membebaskannya dari kursi panas ini sebelum dia sendiri mencair jadi sekumpulan materi penyusun dasar makhluk hidup hasil percobaan Stanley Miller itu.

"Tidak semua yang berkeinginan lebih, pantas menerima lebih." Akhirnya Tsunade-sama memecah keheningan. "kau pernah berpikir mau kemana setelah SMA?"

"Ya… seperti ayah, jadi pelatih kendo. Orang sepertiku lebih suka mengikuti air yang mengalir daripada berdebat untuk mengubah dunia yang sudah terlalu hancur untuk diperbaiki."

Lagi-lagi ruangan jadi sunyi.

Suigetsu sudah malas menghitung detik, mau dihitung berkali-kali pun kecepatan satu detik tetap sama dengan atom cesium-12 yang bergetar. Bukan hidrogen. Bukan oksigen. Dilatasi waktu itu tak ada faedahnya di saat seperti ini.

"Kau boleh pergi."

Tanpa disuruh dua kali Suigetsu langsung bangkit dari kursi dan pergi sejauh mungkin dari ruang kepala sekolah. Koridor lantai tiga sepi, anak kelas satu sudah pulang sejak jam tiga tadi. Kembali ke kelas tambahan tidak akan membantu otak kosongnya untuk berpikir. Kata-kata Tsunade-sama kembali menggema;

Kapan terakhir kalinya kau menginginkan sesuatu?

"Masa depan, ya…" Suigetsu menatap ke luar jendela, jauh ke kaki langit. Masa depannya sudah jelas. Mengikuti ayah. Lalu kenapa harus berusaha lebih?

Apa asiknya sih serius mengejar sesuatu?

Tangannya mengetuk-ketuk pelan jendela kaca itu. Kendo, olahraga dengan pedang kayu itu jadi pelariannya selama bertahun-tahun. Bukan hanya karena sering melihat ayahnya mengajari anak ingusan memegang pedang kayu dengan benar, tapi karena ia bisa bebas menyalurkan keinginnannya untuk menusuk seseorang tanpa benar-benar melukai.

Ada saat dimana hewan buas yang kita kurung dalam diri kita merangsek maju, mengeluarkan amarahnya pada dunia. Semua orang punya batasannya masing-masing kan? Suigetsu mencibir, meninggalkan koridor. Langkahnya tak tentu, tapi saat ini yang ia tahu hanya ia butuh pedang kayunya untuk memukul sesuatu.

Atau seseorang. Yah, apapun itu.

-.-.-.-

"Ibuuu!"

Ino segera berlari keluar kamar menuju dapur─tempat Ibunya biasanya berada─sambil membawa tabletnya dalam pelukannya. Sejak pulang sekolah tadi sir abut pirang panjang itu sudah menekuni artikel terbaru di media elektroniknya.

Nyonya Yamanaka tidak menyahut teriakan anaknya, sudah terbiasa dengan tingkah polah Ino yang seolah-olah tinggal di hutan. Ayolah, anak itu tahu bahwa dirinya sedang membuat kue, apa perlu pakai berteriak dari lantai dua segala, seolah-olah mereka terpisah dua lapangan bola?

"Ini… ini!" Ino tergopoh-gopoh mendatanginya sambil mengangsurkan tabletnya di bawah hidung Ibunya.

"Ibu sedang membuat adonan, Ino, tak bisa membaca tulisan sekecil itu."

"Aku bacakan ya! Judulnya Renewal event: Avant Garde in Japan? The infamous desainer─"

"Tak adakah Teen Vogue eletronik versi bahasa Jepang? Kau tahu Ibu tak terlalu suka berbahasa asing." Ibunya menaburkan segenggam garam dan mulai menggiling lagi, nyaris tak mengindahkan semangat anaknya yang berapi-api.

"Ada sih ada, tapi kalau mau baca yang beritanya cepat update, ya pakai bahasa aslinya. Jaman sekarang semua media bicara dengan bahasa Inggris, Spanyol, Prancis…" Ino baru sadar dirinya teralihkan. "iih, Ibu jangan ngalihin konsentrasi! Jadi, tahun ini, bulan ini, seorang desainer ternama akan memamerkan rancangannya di panggung runway Jepang…"

"Dan…?" Ibunya selesai membentuk adonan, siap mencetaknya ke cetakan pai.

"Dan ini akan spektakuler! lompatan besar dalam dunia fashion Jepang!"

"Ibu masih belum mengerti apa bedanya dengan jalanan Shibuya atau Harajuku… Ino, bisa tolong ambil daging itu?" Ino menarik semangkuk besar daging masak berwarna kecokelatan yang siap mengisi kulit pai.

"Beda, Bu. Ini Haute Couture, bukan street style. Berapa sering kita ketemu Haute Couture in runway Jepang?"

"Ooh, jelas Ibu tak bisa menjawab pertanyaan itu. Kau yang lebih sering nonton acara macam itu," Ino cemberut melihat Ibunya lebih tertarik pada kue pai daripada berita yang mengguncang ini.

"Ini pertama kalinya kumpulan desainer elit itu menggelar fashion show in our very own Japan. Setelah sebelumnya menjelajah Milan, Madrid, Paris… bayangkan bulu-bulu tebal itu menghilang, diganti entah apa. Jelas cuaca di sini tak seperti di Eropa sana. Aku penasaran Bu, bolehkan aku datang?"

Nyonya Yamanaka menghentikan kegiatan menggulung pingiran pai dan menatap putrinya. "kapan?"

"Uhm… minggu depan. Yah, aku tahu kalau-"

"Minggu depan? Minggu depan sebelum ujian nasional?" suara Ibunya mulai menunjukkan tanda-tanda tidak mengenakan. "sebaiknya aku tidak lupa kewajibanmu adalah belajar, Nona Yamanaka, bukan pengamat fashion dunia."

Ino cemberut. Gadis berambut pirang itu menghela nafas dan keluar dari dapur dengan wajah tertekuk.

"Ino, kemarin Ibu bertemu Deidara di Toko. Kenapa kau tak bilang dia sudah pulang?" Ino tidak berbalik, hanya menggumam;

"Karena aku juga tidak tahu." dan tak mau tahu, pikirnya dalam hati.

"Dia menanyakanmu. Mungkin hari ini akan kembali lagi. Kau pergilah ke toko, tinggalkan tabletmu dan fashion show itu. Belajarlah." Ibunya menekankan kata terakhir. Ino mendengus, menaiki tangga ke kamarnya untuk membawa buku-bukunya ke Toko, memainkan peran 'anak patuh dan baik-baik' bagi Ibundanya tersayang sekali lagi.

Kejenuhannya sudah mengalahkan gugus fungsi alkana. Masa bersantai sedikit tak boleh? Ini hanya sebuah acara… tak lebih dari makan malam perusahaan atau Charity Event blah-blah-blah yang selalu orang tuanya paksakan untuk hadir. Ino hanya ini bermain sebentar, menghirup nafas sehari sebelum tenggelam dalam tumpukan buku.

Sebenarnya hidupnya milik siapa sih? Dia, atau orang tuanya?

Dan si Nara pemalas itu─satu-satunya penghiburnya saat seperti ini─tak pernah bisa dihubungi. Lengkap sudah penderitaan Ino.

-.-.-.-

"Shika? Ada telepon dari Ino."

Shikamaru berguling dari posisi tidur-tidurannya. Mendekati ujian akhir, Shikamaru malah menambah jam istirahatnya. Saat kondisi setengah jadi seperti ini, tidur segan bangun pun tak mau. Pada akhirnya ia menutup matanya, tidak menjawab panggilan Ibunya di luar kamarnya. Terdengar langkah kaki menjauh, dan Shikamaru tahu bahwa untuk kesekian kalinya Ibunya menyampaikan si penelepon bahwa dia sedang tidur dan tak dapat menerima telepon.

Sekali lagi, dunia Shikamaru yang dipenuhi awan kembali tenang.

T-e-n-a-n-g…

"Pura-pura tidur lagi." Shikamaru berjengit kaget.

Tidak mudah untuk mengagetkan seorang Shikamaru Nara, kecuali oleh ayahnya sendiri. Shikamaru mendengus, bangkit dari posisi tidurannya. Shikaku terkekeh di jendela yang sengaja di buka Shikamaru untuk pergantian udara. Umumnya orang normal akan bertanya apa yang dilakukan pria paruh baya di atap, karena kamar Shikamaru di lantai dua, di tengah siang hari terik. Tapi Shikamaru sudah melewati tahap itu, tanpa bertanya pun ia bisa menyimpulkan apa yang terjadi.

"Tak bisakah ayah mengambil pakai jaring saja?" Shikaku melompat masuk ke kamar Shikamaru, di tangannya tergenggam bola baseball.

"Ibumu bisa marah-marah kalau tahu ayah masih bermain baseball dekat rumah." Shikamaru masih ingat bagaimana kaca dapur pecah gara-gara kegemaran iseng ayahnya itu. Sejak itu Shikaku lebih hati-hati, dan bolanya biasanya terlempar ke atap dekat jendela Shikamaru.

"Ayah kan bisa lewat kamarku," Shikamaru menegaskan pernyataan sebelumnya. Lebih mudah begitu, masuk dan mengambil dengan jaring, daripada memanjat atap rumah sendiri diam-diam seperti maling di siang bolong.

"Kau sedang pura-pura tidur, kalau ayah masuk nanti ibumu tahu." Shikamaru tak pernah ragu bahwa bakatnya otaknya turun alami dari sang ayah. Kalau saja Shikaku sedikit lebih bersemangat, dia pasti mau menerima jabatan dari Minato─ayah Naruto─untuk bekerja di pemerintahan. Atau bergabung dengan perusahaan multi-nasional seperti Uchiha atau Hyuuga itu.

Pasti sekarang kami sudah kaya raya. Ah, tapi apa asiknya jadi kaya? Awan tetap putih dan langit tetap biru. Pikir Shikamaru cepat. Yang penting aku masih bisa tidur nyenyak, beralaskan tanah beratapkan langit pun tak masalah.

"Mau sampai kapan?" Shikamaru menaikkan satu alis pada pertanyaan ayahnya. Shikaku jarang menceramahinya kecuali sikapnya sudah keterlaluan. Dan sampai detik ini Shikamaru masih tak merasa ada yang salah.

"Aku tidak menghindarinya." Kalau orang biasa yang tak mengerti keluarga Nara, pasti mereka bingung bagaimana kedua orang ini berinteraksi. Isi pikiran mereka selalu lebih cepat dari mulut.

"Ibumu saja tahu kau menghindarinya. Mau tunggu sampai gadis itu datang sendiri ke sini dan minta penjelasan?"

"Dia bukan pacarku." Shikamaru melipat tangan, bosan entah sudah berapa kali ia menegaskan hal ini. "tidak ada peraturan resmi yang melarangku tidur-tiduran sepanjang hari daripada menjawab telepon darinya."

Shikamaru bersyukur dirinya termasuk segelintir makhluk sosial yang tak memiliki telepon genggam, jadi tak harus berurusan dengan telepon dan pesan singkat yang pasti sudah membanjirinya saat ini. Shikaku mengelap bola yang sedikit kotor sembarangan pada bajunya. Matanya menelusuri tepian lingkaran tiga dimensi itu.

"Yah, kau paling tahu apa yang terbaik bagimu."

Shikaku meletakkan bolanya di meja belajar Shikamaru yang hampir selalu bebas buku. Meja itu sekali-kali hanya berfungsi untuk meletakkan barang daripada teronggok di lantai. Shikaku menggelindingkannya pelan, membiarkan bola itu meluncur di permukaan halus, hingga lama-lama berhenti. Gravitasi, gaya normal, gaya gesek. Shikamaru segera berpikir apalagi analogi yang disiapkan ayahnya kali ini. Hukum Newton, ruang lengkung…

"Lucu ya. Hukum fisika berlaku untuk segala hal." Shikaku mengambil bolanya kembali, memasukkannya ke kantung. "tapi tak ada yang bisa menjelaskan ambiguitas manusia."

Shikamaru mengernyit.

"Dualitas elektron? Relativitas menjelaskan-"

"Titik acuan, ya benar. Pergerakan relatif. Tapi manusia tidak diberi titik acuan universal dalam menetapkan hukum-hukum sosial. Toleransi lah yang mengikat kita hidup berdampingan hingga saat ini."

"…"

"Manusia makhluk yang tak bisa ditebak."

"Ayah bicara soal wanita, kan." Shikaku tergelak pelan. Tak heran anak muda di hadapannya selalu mampu membuat para guru di KHS mati kutu menghadapinya. Bahkan Tsunade-sama saja sering mengurut kening sakit pusingnya menghadapi logika secepat cahaya Shikamaru.

"Ordo ad chao."

"Keteraturan dalam kekacauan?" Shikamaru akui, kali ini ayahnya sukses membuatnya bingung. Jelas tak ada korelasi antara bola menggelinding, hukum fisika, wanita yang ambigu, dan sepotong pepatah latin yang diusung perkumpulan kuno Freemason di belahan bumi Amerika.

"Ambiguitas menimbulkan kekacauan dalam sistem. Ketidakpastian. Masih ingat paradoks Schrodinger's cat?"

"Uhm… tak ada yang tahu keadaan pasti sampai ada yang melihat keadaannya langsung. Tak ada spekulasi. Tak ada keteraturan…?" Shikamaru menjawab pelan.

"Ya. Tapi ingat ada keteraturan dalam setiap kekacauan. Bahkan ada ukuran dalam kekacauan…." Entropi. Shikamaru menjawab dalam hati. Tak sia-sia Ia membuka buku juga kalau Kakashi-sensei sudah menyinggung fisika kuantum. "…kurasa kurang lebih seperti itulah."

Shikamaru diam. Lebih tepatnya menunggu. Tapi Shikaku tak melanjutkan khotbahnya. Demi si kucing dalam box, Shikamaru jadi penasaran.

"Itulah apanya?" tanya Shikamaru akhirnya, mengakui bahwa ia belum mencerna maksud ayahnya baik-baik. Shikaku terkekeh.

"Untuk seorang jenius kau agak lambat mencerna ini."

"Ayah-"

"Cinta." Kata-kata Shikaku kontan membuat anak lelakinya diam. "ambiguitas yang satu itu jika dipadukan dengan manusia, terutama perempuan, tak akan bisa ditelaah lewat otak jeniusmu itu. Kau tidak bisa diam terus mengkalkulasi segala kemungkinan, apa yang harus dilakukan, atau apalah itu yang sedang kau pikirkan. Intinya, ada kekacauan dalam sistemmu saat ini, sebuah keteraturan dalam kekacauan. Jadi berhentilah berdebat tentang kepastian. Jangan berspekulasi pada hal yang melawan hukum fisika. Ambil tindakan sebelum kau terlambat, ingat waktu tidak menunggu untuk siapapun."

Shikamaru mau tak mau mendengarkan ayahnya baik-baik. Shikaku Nara memang ayah nomor satu sedunia baginya. Tapi masalahnya perasaan ini tidak sesederhana itu, Ayah. Shikamaru tersenyum kecut.

-.-.-.-

Ino mengamati artikel-artikel di layar laptopnya. Ibunya pasti marah-marah kalau ia bawa tablet sambil menjaga toko, mencurigainya tidak belajar. Tapi kalau laptop? Berhubung tak ada aliran internet atau modem, jelas Ibunya berpikir Ino hanya akan menggunakan aplikasi standar untuk belajar.

Nyatanya? Ha, Ino cukup pintar untuk menyimpan beberapa bahan bacaan di laptopnya. Meskipun dunia fashion bergerak secepat roda perekonomian, membaca artikel bulan lalu pun tak jadi masalah baginya. Yang penting tak ketinggalan berita terlalu lama. Ino menscroll down artikel terbaru yang dipindahkannya dari Harper's Bazaar minggu kemarin, yang mengupas dandanan prom.

Pumps by Christian Louboutin are driving me nuts, for Kami's sake! Sayang Sakura bukan teman yang asik diajak belanja. Oh, tentu saja Ino suka dengannya, tapi hobi Sakura lebih cocok dilakukan dengan Hinata, keduanya sama-sama craving for books. Selama ini Ino cukup senang berbelanja lewat online shop atau saat Ibunya mencarikan gaun yang harus dikenakannya untuk acara blah-blah-blah…

Lama-lama Ino merasa dirinya tak ubahnya manekin yang ditarik sana-sini untuk sekedar dipamerkan.

Karena malas mensortir artikel, Ino mengkopi semuanya, dari blog-blog fashion yang sering dikunjungi sampai ulasan-ulasan kecil tentang fashion items yang sedang digandrunginya. Setumpuk buku teronggok terlupakan di ujung meja, menunggu jatuh terkena sikunya. Dari sejak musim dingin kemarin Ino menginginkan trench coat untuk melindungi dirinya dari dinginnya cuaca Konoha. Tapi Ibunya bersikeras membelikannya mantel bulu panjang yang membuatnya seperti Cruella de Vil kedua yang siap menangkapi anak-anak anjing dalmations.

Sebuah artikel menangkap minatnya. Seseorang menulis tentang artikel trench coat, namun di postingan selanjutnya tentang fakta dibalik animal abuse untuk fashion industry. Jari-jari Ino bergetar sedikit memegang mouse, semua yang dituliskan di sana benar-benar blantantly honest. Apa si penulis tidak takut dituntut karena mencemarkan beberapa nama rumah mode internasional? Ino terus membaca semua artikelnya, dan menyimpulkan si penulis adalah seorang yang berkepala panas, kritis, dan… kecewa pada dunia.

Ino mengecek dari mana ia mengkopi artikel itu, dan tak ada nama penulisnya. Setiap artikel hanya diakhiri insial yang sama sekali tak membantu. K.

K, inisial macam apa itu? Jutaan, ratusan orang bisa punya inisial itu. Si penulis menggambarkan seolah-olah ia tak ingin diketahui identitasnya…

Bunyi lonceng yang menandakan pintu Toko dibuka mengalihkan perhatiannya. Di ujung pintu, dengan setangkai bunga mawar yang tergenggam di tangannya, seorang pria tersenyum pada Ino.

"Apa maumu?" dari segi manapun semua orang juga tahu pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menerima dengan ramah. Tapi Deidara tidak gentar, ia membuka jaket tebalnya yang basah dan melampirkannya di tangan. Ino bisa melihat bagaimana tubuh atletisnya di bungkus kemeja casual biru.

"Kau menjauhiku beberapa hari ini." Deidara berdiri di depan meja kasir, matanya menatap Ino.

"Bagus kau sadar," Ino mematikan laptopnya, siap menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran jika Deidara mulai menganggunya.

"Kau marah padaku?" Ino menutup laptopnya dengan kasar, menatap langsung ke mata Deidara.

"Would be an understatement if I said yes. Menjauhlah dariku Deidara." Deidara menggerakan tangannya yang menggenggam bunga mawar dengan canggung, tapi Ino segera melanjutkan kata-katanya. "jangan coba-coba memberiku bunga itu. Aku sudah punya banyak di sini."

"Tidakkah ini mengingatkanmu pada-"

"Tidak. Aku tidak ingat apapun." Deidara menarik nafas panjang, meletakkan bunga itu di meja, disamping tangan Ino.

"Aku tahu aku salah." Deidara memulai lagi, lebih pelan kali ini. "aku pulang untuk menebus semua kesalahanku."

"…" Ino diam saja. Deidara menyerah, memakai kembali jaketnya yang basah. Ino baru sadar cuaca tengah hujan di luar. Pria ini hujan-hujanan?

"Tadi Nyonya Yamanaka bilang kau ingin datang ke acara fashion minggu depan…" bagus, untuk apa Ibu masih cerita hal-hal kecil macam begitu padanya? Bagian mana dari 'kami sudah putus' yang Ibu tidak mengerti? "…kebetulan aku ingin mengajakmu ke sana."

Ino mendongak menatap Deidara.

"Yah… tapi itu jika kau mau…"

"Bagaiamana kau bisa…?"

"Aku akan mengiringi selama fashion show. Kau tahu mereka meminta Japan Philharmonic, kan?" Deidara menatap Ino balik, kaget karena gadis itu melupakan keberadaannya sama sekali.

Ino baru sadar betapa bodohnya ia, di event sebesar itu tentu saja pengiring musiknya haruslah yang terbaik. Kenapa tadi saat membaca partisipan ia melupakan siapa pemain musiknya? Japan Philharmonic dikonduktori oleh ayah Deidara, tentu saja dia pasti ikut bermain.

"Kalau kau tidak mau tidak apa," Deidara menutup perbincangan, tersenyum sedih pada Ino sekali lagi dan membuka pintu. Ia berbalik sebelum pergi, menatap Ino dalam-dalam. "aku sungguh minta maaf, Ino."

Pintu tertutup. Ino menutup matanya, membiarkan hatinya bergemuruh sekali lagi.

-.-.-.-

Sasuke menghela nafas panjang.

Derit-derit kursi rasanya jauh lebih berisik kali ini. Pria terakhir keluar dari pintu, dan akhirnya Sasuke bisa melonggarkan dasi yang mencekiknya itu. Rapat dengan Dewan Perusahaan tak pernah sesesak ini. Di hadapannya, terkapar kaku di meja, proposal yang masih belum disetujui. Umurnya yang baru 18 tahun masih belum menjadikannya legal dalam memimpin perusahaan di Jepang seutuhnya, oleh karena itu Dewan Perusahaan masih ikut andil 40% dari keseluruhan mobilitas saham Uchiha corporation di bawah tangan Sasuke.

Dan apalagi ini, Itachi tak bisa dihubungi. Baik hotel tempat dia sering menginap maupun apartemennya di Manhattan tak ada yang di jawab. Tidak ada yang tahu dia kemana, bahkan sekretarisnya di perusahaan induk sekalipun. Sasuke makin uring-uringan mengingat rencana ini harus segera diproses jika ingin ikut ambil bagian dalam tender proyek raksasa baru. Riskan sekali untuk melakukan kesalahan di saat sepenting ini. Satu saja perhitungannya meleset, ratusan juta dollar amerika jadi taruhannya. Kepercayaan board akan kepemimpinannya jadi taruhan di ujung lainnya.

Ini salah, itu salah. Maunya mereka apa sih?

Sasuke membuka-buka cepat laporan keuangan yang sudah diketiknya. Tak ada kesalahan. Prosedur sesuai dengan protokol. Tapi masih saja bisa-bisanya mereka mengeluarkan pernyataan proposal ini belum memadai untuk diterima? Memang proyek kali ini lebih besar dari yang lain, tapi masa mereka belum mempercayainya setelah memegang kendali bertahun-tahun?

Sasuke membanting laporan itu ke meja, menatap jauh jendela. Di luar sana, seluruh negeri sedang membangun. Semua Negara berlomba dalam mengejar kemakmuran di era tanpa batas. Pembaharuan dimana-mana. Perubahan jadi sesuatu yang pasti di era ini. Tapi mau sampai kapan pria-pria tua kelebihan uang itu memandangku sebelah mata?

Sasuke bisa saja menjalankan proyek diam-diam tanpa persetujuan Dewan. Jika ia berhasil, jelas ia akan mendapat respek yang luar biasa. Masalahnya jika ia gagal, bukan hanya dituduh menggelapkan proyek, tapi juga tidak menghormati keputusan Dewan. Persekutuan terancam dibatalkan. Perjanjian ekonomi terancam ditarik mundur. Efek domino terpapar nyata di depan matanya.

Imbas globalisasi; semua hal terkait dalam satu jaring laba-laba raksasa. Satu jatuh, yang lain menyusul. Sasuke lebih suka mengungkapkan keadaan ini dalam satu frasa yang mencakup semuanya;

Lingkaran setan.

Traktat independence─kemandirian─sudah basi saat ini. Stephen R. Covey mengungkapkan dalam bukunya─yang disebut-sebut pengubah haluan kebiasaan bersikap manusia modern─sebuah aturan main baru dalam masyarakat: interdependence. Kesalingtergantungan. Sudah terlalu jauh untuk menutup layar sebuah perahu yang dikemudikan arus dinamisme masyarakat seperti ini.

Mau tidak mau para pemegang surat berharga itu harus tahu posisi mereka dalam rantai ekonomi. Yang besar patut menghormati yang kecil, begitu pula sebaliknya. Bicara bisnis tidak bisa hanya mementingkan etika ekonomi, kaum gentlemen Inggris penganut ekonomi modern Adam Smith boleh berkoar-koar soal efisiensi mereka, tapi toh raksasa sosialis China masih tetap pemegang utama arus perdagangan dunia.

Sebentar lagi kemajuan para macan Asia tidak terbendung, membuat Negara kreditor terbesar Amerika Serikat kocar-kacir. Sedikit saja fluktuasi pasar ekonomi dari barang-barang pasar konsumsi utama Negara berkembang, Negara adidaya harus memantau mimpi buruk dari chart Dow Jones berhari-hari.

Mata Sasuke memandangi orang-orang berjas yang masuk ke mobil yang terparkir di depan hall, menunggu sopir mereka menjemput. Dulu, mereka adalah pria-pria muda yang berapi-api seperti dirinya.

Dalam bisnis ada yang disebut beginner's luck, keberuntungan pemula. Sebuah ungkapan bahwa yang muda, para pemula, lebih bisa melihat kesempatan dibandingkan kaum tua. Kenapa? Karena kaum muda yang belum kaya pengalaman 'terjatuh' akan lebih optimis dalam menghadapi hal-hal baru, melihat segala kemungkinan yang terbentang di depan mereka. Sementara kaum tua yang sudah kaya pengalaman 'terjatuh' akan lebih pesimis, merasa dirinya lebih tahu bahwa dan pada akhirnya membatasi kesempatan yang ada.

Sasuke tersenyum miris. Ya, dulu mereka sama seperti diriku, sebelum mereka menyerah pada kungkungan waktu dan asam garam kehidupan. Api itu telah padam dan membuat mereka tak lebih dari sekelompok penakut yang selalu gelisah pada kemungkinan-kemungkinan baru.

Sasuke tidak suka didiskriminasi, terutama oleh orang-orang yang selalu merasa dunia dalam genggaman mereka. Itachi dulu selalu mengingatkannya; semua ada tata caranya, Sasuke. Membuktikan kapabilitas kamu pada mereka bukan dengan cara membanting habis-habisnya pendapat mereka. Mereka bisa salah, tapi kita juga. Bisnis adalah satu hal yang tak dapat diprediksi. Hari ini untung sejuta besok bisa merugi triliyunan.

Bisnis adalah judi kehidupan, dimana bukan hanya uang yang jadi taruhannya.

Kata-kata itu, selalu Sasuke camkan baik-baik. Pengingatnya terhadap apa yang ada dalam genggamannya saat ini. Sasuke diam dan merenung. Saat seperti ini biasanya ia bicara dengan Itachi, entah lewat teleconference atau sekedar chatting. Tapi untuk kali ini, ia merasa memiliki tanggungjawab untuk membuktikan pada Itachi, pada dunia, ia tak gentar pada kemungkinan-kemungkinan itu.

Pada suatu titik ia harus melawan batasan itu. Keluar dari cangkangnya sendiri.

Di tengah kabut pemikirannya, sesuatu bergetar pada kantong jas Sasuke. Mendengus karena yakin panggilan ini tak lebih dari janji meeting lainnya, Sasuke mengabaikan nomor tak dikenal di layar handphonenya.

"Uchiha di sini." Hanya suara angin terdengar di ujung sana. Telepon iseng lagi? Lain kali sekretarisku harus lebih hati-hati memberikan nomor. Sasuke siap menutup telepon saat akhirnya ada suara di ujung telepon. Suara yang berat, seperti diseret pada setiap patah kata yang diucapkannya;

"…aku tahu apa yang terjadi tujuh tahun yang lalu."

Genggaman tangan Sasuke di ponsel refleks mengencang.

Saat semuanya terasa semakin sulit, hantu dari masa lalu mengetuk pintu mimpi buruknya sekali lagi.

-.-.-.-

A/N : aaaand…that's chapter 11th for you :)

Sebenernya udah selesai dari sebelum UN, tapi saya baru bisa posting sekarang hehe. Konflik Sasu-Saku-Saso ditahan dulu, chapter ini mengulas tentang Ino. Kita sudah lihat sudut pandang Sasuke, Sakura, Sasori, Konan, Itachi yang kritis dan kini Ino yang terkesan 'anak gaul' hehe. Nanti akan dijelaskan kenapa Deidara putus dengan Ino. Chap depan mungkin akan membahas tentang hubungan Itachi-Hinata-Naruto dan kita lihat bagaimana kelanjutan Sasusaku ;)

Dan ya, Konan is a blogger. Dia penulis yang blak-blakan dan brutal dalam menyampaikan kemarahannya pada isu dunia dan karenanya sering dicerca cyber bullying. Makanya dia pakai nama samaran K doang. Author pikir Sasori butuh seorang counterpart yang sama kritisnya kaya dia, jadi author munculkan karakter Konan.

Review please?

Hatake No Mirru : iyaa ini udah update

Atsuka : hohoho makasih banyak! ditunggu reviewnya lagi hehe

kaito-vocaloid : cerita ini multipairing, jadi ga ngebahas sasu-saku full terus hehe. Tapi mereka tetap tokoh utama kok XD semoga ga cepat bosan yaa...

Subin haruno : waduh? Haha okelah akan dicoba ;) makasih udah review!

Guest : oke, makasih dukungannya hihi :D

Hany : hei, terimakasih banyak reviewnya! Saya baru akan kuliah pertengahan tahun ini XD Iya, saya berkecimpung di panggung organisasi sekolah.

Sakunan desu : hoho makasih, minna~

Luki-chan : reviewnya juga keren ;')

Arakafsya uchiha : pertama kali baca masih ga nyangka dapet komentar dari author sekaliber Ara hehe. Haha yuk kita anggap aja flames itu sebagai tabungan buat pertarungan kita tahun ini ;) good luck juga utkmu, dan teruslah berkarya! Makasih yaa komennya menghibur banget :')

sasusaku kira : yup, saya juga berharap begitu ._. hehe

someone : ya, terimakasih juga sudah mereview dan tidak menghakimi saya terlalu keras

Ms. Tsurugi : makasih Ka Wulanz! dari sejak chap2 awal, komen kakak selalu jadi penyemangat X) tetap semangat juga dengan fic-fic kakak!

Francoeur : aku juga masih anak sma ._. hehe (ketuaan kah bahasanya?) saya baca semua buku yang tersedia... karena ga punya cukup uang untuk beli yang dimaui hehe

NK : oh dear, if we didnt stand for something then we will fall for everything, kan? I stand of being self-righteous, that's the thing about life, when someone wronged us, we want to be right :') ok, makasih reviewnya, mari galakkan mencintai dalam perbedaan, hidup menyenangkan kok kalau tidak dibikin susah hehe

Dae Uchiha : *author blushing* ...loh yang dipuji cantik bukan authornya ya? Yah ._. makasih juga reviewnya, semoga tetap bisa memberikan hiburan XD

Kirei-chan : belum kok hehe, ganbatte juga para readers!

Dinosaurus : terimakasih reviewnya. Ok!

Anyway, hope Masashi Kishimoto made Sasuke saves Sakura in the battlefield or something like that in the next Naruto manga, I'd be deadly happy!

Sampai jumpa chapter depan,

Phy-la-phy.