"…I'm praying that your heart will just turn around

Cause I can love you more than this."

-More than this, One Direction

-.-.-.-

DUA BELAS

Apa yang menjadikan seorang pemenang?

kerja keras. Kesungguhan. Keinginan yang kuat. Pantang menyerah…

Uzumaki Naruto menatap jauh ke lapangan di depannya. Tribun dipenuhi sorak-sorai penonton yang membahana. Matahari bersinar terik, menyilaukan padang rumput hijau itu.Mata biru cerulean itu berkilat terkena pantulan cahaya, di bibirnya tersungging senyum lebar seperti biasa.

dan keyakinan pada diri sendiri.

"Kau siap?" Naruto mengangguk pada pertanyaan Sasuke di belakangnya. Pria berambut pirang itu mengencangkan ban merah bertuliskan captain di lengan atasnya.

"Siap."

Naruto siap melangkah ke lapangan sebagai seorang pemenang di pertandingan kali ini bersama timnya.

-.-.-.-

Hinata Hyuuga nyaris tidak pernah melewatkan kewajibannya, termasuk bangun tepat waktu. Kali ini, ia benar-benar panik karena jam biologisnya tega mengkhianati dirinya. Hinata tak menghiraukan pandangan para pelayan yang menaikkan satu alis karena tidak biasa melihat pewaris Hyuuga itu lari-lari di koridor.

Baru beberapa menit pintu depan ditutup dengan terburu-buru oleh Hinata, sesaat kemudian gadis itu kembali dengan terengah-tengah.

"Aku lupa ponselku." Ujarnya setengah tersenyum pada pelayan yang tampak kasihan nona mudanya terengah-engah seperti itu. Sepanjang sejarah, Hinata selalu jadi yang paling tenang dan terkontrol, tidak seperti Hanabi yang ceroboh. Pagi ini benar-benar perkecualian. Dengan cepat Hinata menghilang lagi di pintu depan.

"Mana Hinata?" Hanabi muncul dari ruang makan, rambut panjangnya masih kusut baru bangun tidur.

"Sudah berangkat, Nona Hanabi…"

"Dia melupakan bekalnya. Yasudah kumakan saja." Hanabi membuka bento di tangannya, jika Hinata membuat telur gulung kesukaannya ia akan segera memakannya. Lagipula kakak perempuannya itu selalu mengalah pada dirinya. Hanabi selalu suka bekal yang dibuat Hinata daripada yang dibuat pelayan.

Hanabi mengernyit memandangi isi bekalnya. Diserahkannya bekal itu pada pelayannya dan berbalik siap tidur lagi. Pergi ke sekolah tepat waktu bukan kegiatan rutin yang disukai Hanabi.

"Nona tidak jadi memakannya?" Hanabi berbalik memandang si pelayan dengan wajah bosan.

"Bekal itu untuk orang yang spesial."

Pelayan itu menatap bekal yang setengah terbuka, melihat onigiri berbentuk bolak sepak. Penasaran, digesernya tutup bekal hingga menunjukkan bento yang disusun rapi dengan tulisan dari saus mustard; Ganbatte, Naruto-kun!

Tidak heran Nona Hinata bergadang sampai malam membuat bekal ini hingga bangun terlambat.

-.-.-.-

Sakura bersungut-sungut, kesal karena Sasuke─seperti biasa─bangun pagi tanpa membangunkannya. Oh, salahkan alarm yang sudah dimakan zaman di kamar Sakura. Sebenarnya Sasuke mengizinkannya tidur di kamarnya, tapi… Sakura belum siap berada satu ranjang dengan Sasuke terus-terusan.

Astaga, mereka kan belum menikah.

Tapi di saat seperti ini Sakura berharap hal itu cepat terwujud, karena ia butuh jam weker baru. Entah mengapa sejak beberapa minggu yang lalu aliran dana dari Itachi berhenti. Biasanya Itachi mengirimkan uang untuk uang saku Sakura. Kini, tanpa dana, Sakura harus menahan diri agar tidak bergantung pada Sasuke. Ia tak sampai nyali meminta dibelikan ini-itu pada kekasih barunya.

Hari ini pertandingan terakhir tim sepak bola KHS. Terang saja Sasuke bangun lebih pagi dari dirinya. Lagipula pria itu punya jam biologis seperti makhluk nocturnal. Sakura memasukkan botol minumnya dengan kasar ke dalam tas. Tapi kan bukan berarti dia bisa seenaknya bersikap. Aku ini dianggap apa sih olehnya?

Sasuke tidak banyak berubah, sikapnya masih dingin dan menjengkelkan kadang-kadang. Sakura tidak berharap Sasuke akan berubah jadi pangeran berkuda putih yang senantiasa memberikan ciuman selamat pagi dan mengantarkannya ke sekolah. Sasuke yang ini tetap berkata sepatah-dua patah kata padanya sehari, tidak banyak bicara dan astaga, kencan mereka hanya sekali. Bedanya Sasuke yang ini sering tiba-tiba menciumnya tanpa tedeng aling-aling. Lihat kan, sikapnya yang suka seenaknya saja belum berubah?

Di lain pihak, justru Sasori yang berubah. Seniornya itu tiba-tiba memberikan perhatian berlebihan padanya. Ucapan selamat pagi, selamat malam, pertanyaan standar sudah makan atau belum…

Diam-diam Sakura bertanya-tanya sebenarnya pacarnya itu Sasuke apa Sasori sih?

Sakura sering mendengar kabar angina bahwa seniornya itu punya perasaan lebih padanya, tapi baru kali ini Sasori menunjukkan terang-terangan. Seperti pagi ini…

Sakura beranjak keluar begitu bel di rumahnya berbunyi. Sasori berdiri di depan pintu, dengan buket bunga di tangannya. Senyum ramahnya tidak luntur dari wajahnya yang tampan.

"Ohayou, Sakura."

"Ohayou, Sasori-senpai…" Sakura tersenyum, merasakan rasa nyaman yang dulu selalu ada setiap ia bersama senpainya kembali melingkupinya. Sudah berapa lama mereka tidak saling bicara berdua?

Ya, Sasori meneleponnya pagi ini, menanyakan apa ia sudah berangkat apa belum. Lantas seniornya itu menawarkan diri mengantar Sakura ke pertandingan, kalau Sasuke tidak keberatan. Sakura mana sempat menanyakan pendapat Sasuke. Tapi Sasori kan hanya mengantarkannya…

Sasuke tidak akan keberatan kan?

-.-.-.-

Ceroboh!

Hinata meruntuki kecerobohannya sendiri dengan bibir melengkung ke bawah.

Begitu sampai gerbang lapangan tempat pertandingan, peluit wasit sudah berkumandang, menyatakan pertandingan sudah dibuka. Ah, sia-sia dia membuatkan Naruto bekal makan pagi. Kalau diberikan saat pergantian babak kedua mana sempat…

Hinata menghela nafas, berjalan gontai ke tribun terdekat. Ia tak sempat mengirimi Naruto ucapan selamat pagi atau selamat berjuang gara-gara telat bangun. Terlambat datang ke pertandingan besar terakhir Naruto pula. Kini yang bisa dilakukannya hanya menonton pertandingan berharap Naruto dan timnya memenangkan pertandingan.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi di kantong roknya. Hinata melihat pesan yang masuk. Dari Itachi.

Sudah membaik. Terimakasih.

Sebelum sampai sekolah tadi Hinata sempat mengiriminya pesan menanyakan keadannya. Kemarin malam pria itu menjalani serangkaian tes dan sempat mengalami kemunduran kondisi lagi. Untuk memantaunya, Hinata selalu mengingatkan diri untuk membawa ponsel. Dan seperti biasa, Itachi masih belum mau memberikan penjelasan eksplisit pada Hinata.

Hinata toh bukan pacarnya, Hinata tak merasa punya hak untuk memaksa Itachi mengatakan yang sebenarnya padanya. Hinata hanya orang asing yang peduli padanya yang sedang sakit dan sendirian…

Peluit berkumandang sekali lagi, mengalihkan perhatian Hinata. Di area penalti, seseorang tengah berbaring memegangi kakinya. Rambut kuning dan ban merah di lengannya menangkap perhatian Hinata. Tanpa pikir panjang Hinata langsung turun dari tempat duduknya, berlari ke tepi lapangan. Jantungnya berdegup tak keruan.

Sasuke berjongkok di samping Naruto, tampaknya menanyakan bagaimana keadaannya. Naruto masih meringis memegangi kakinya. Petugas medis segera datang, membawa tandu dan segera memindahkan Naruto dari lapangan. Sorak-sorai marah terdengar di sekeliling tribun. Sebelum keluar lapangan Naruto memberikan ban captain pada Sasuke, yang menerimanya dengan eskpresi tak dapat dibaca.

Mata gelap pria itu memandangi pemain lawan yang terkekeh melihat Naruto dibawa keluar lapangan. Seorang pemain baru masuk menggantikan Naruto. Sasuke memakai ban captain itu, dan pertandingan kembali di lanjutkan. Tendangan penalti untuk KHS. Sasuke bersiap di tempat, mengambil ancang-ancang.

Sayangnya Hinata terlalu sibuk berlari ke arah paramedis untuk melihat keadaan Naruto. Naruto dibawa masuk ke gedung, Hinata bisa mendengar sorak-sorai di belakangnya, berharap Sasuke berhasil menjebol gawang lawan.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Hinata panik. Salah satu paramedis yang Hinata kenal dekat adalah penjaga UKS; Shizune. Naruto mengatupkan giginya, orang-orang melepas sepatu bolanya dan melihat memar biru pada tulang keringnya.

"Tidak begitu baik," Shizune menjawab, sibuk memeras kompres untuk meringankan sakitnya. Kedua sepatu dilepas, dan orang-orang bisa melihat memar-memar di kedua kaki sang kapten. "sudah kubilang jangan berlatih terlalu keras kan, Naruto!" seru Shizune gemas.

"Beri balsam saja… sebentar lagi juga membaik…" gumam Naruto, masih bisa tersenyum lebar. "oh, halo, Hinata-chan…" Hinata jelas-jelas merasa bersalah. Karena selama ini ke rumah sakit menemani Itachi, Hinata tak tahu keadaan Naruto sampai separah ini. Ia tahu dari Sakura bahwa Naruto berlatih keras. Tapi karena tak pernah ada saat latihan, ia tak tahu Naruto sampai seperti ini…

Naruto selalu tersenyum, tertawa padanya. Tak pernah mengeluh. Tak pernah membuatnya khawatir.

"Kau belum makan pagi?!" Shizune berseru lagi, setelah menekan perut Naruto dan pria itu menggertakkan gigi menahan sakit. "astaga Naruto, di pertandingan sepak bola kau tidak makan pagi? Kau ini apa, semacam robot? Sudah, kupanggil Tsunade-sama!" Naruto hanya bisa meringis menanggapi ceramah Shizune.

Paramedis membubarkan diri setelah mengompres dan membebat memar Naruto. Mereka menunggu Shizune datang membawa Tsunade, karena tampaknya keadaan kaki Naruto tidak begitu baik. Hinata mendekat, duduk di samping pria yang sangat dicintainya itu.

"Gomen… aku datang terlambat…" Naruto tertawa ramah seperti biasa.

"Kau datang saja aku sudah senang."

"Aku membuatkanmu bekal…" Naruto tersenyum lebar.

"Aku tahu! Berapa kalipun teme bilang tindakanku bodoh, aku tahu kau akan membawa bekal untukku seperti dulu. Jadi aku tidak makan pagi ini…" Hinata tertegun. Terakhir kali Naruto menghadapi pertandingan besar, memang Hinata sengaja membuatkannya bekal. Naruto masih mengingatnya? Itu sudah berbulan-bulan lalu… Naruto sengaja tidak makan karena percaya ia pasti membawakannya bekal?

Hinata menggenggam tangan Naruto, meremasnya. Naruto agak terkejut, tak biasanya Hinata berani menyentuhnya duluan. Tapi pria itu balik menggengamnya, melingkupi tangan kecil Hinata dengan miliknya yang lebih besar. Naruto, hangat seperti biasa. Pikir Hinata nyaman.

Hinata merogoh tasnya dengan satu tangan lainnya, mencari-cari bekal Naruto. Wajahnya memucat saat tidak menemukannya.

"Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto penasaran dengan perubahan mimik pacarnya.

Astaga, Ia ingat membawa ponsel untuk memantau keadaan Itachi… tapi lupa membawa bekal yang sudah dibuatnya untuk Naruto?

pacar macam apa dia?

-.-.-.-

"Terimakasih Sasori-senpai," Sakura menahan rasa geli karena Sasori membantu membukakan helm untuknya. Rasanya benar-benar dimanja. "terimakasih juga untuk bunganya…"

"Kau sudah bilang itu tadi di rumah, Sakura. Jangan-jangan kau akan berterimakasih padaku lagi saat pulang." Ujar Sasori meletakkan helm di stang motornya. Motor sport itu terlihat gagah dan keren di antara motor-motor lainnya di parkiran. Sakura jarang memperhatikan kalau ternyata Sasori membawa motor sekeren itu selama ini ke sekolah. Pantas saja banyak gadis yang jatuh cinta setengah mati dengannya.

"Senpai akan mengantarku pulang?" Sakura pikir ia akan pulang dengan Sasuke sehabis pertandingan ini, sama sekali tak berpikir Sasori mau menawarkan diri sejauh ini.

"Kau keberatan?" Mata Sakura mengerjap. Entah kenapa rasanya Sasuke juga pernah menanyakan hal yang sama padanya. Sejujurnya? Ia tidak keberatan. Lagipula Sasuke jarang menawarkan diri mengantarnya pulang. Malah tak pernah kecuali waktu kencan kemarin. Mungkin sehabis pertandingan, biasanya Sasuke menghabiskan waktu dengan rekan-rekan setimnya…

"Tidak." Jawab Sakura ragu-ragu. "hanya saja─"

"Kalau begitu ayo," Sasori melangkah duluan menuju gerbang lapangan. Sakura meyakinkan diri bahwa apa yang ia dan Sasori lakukan saat ini sama seperti yang biasa dilakukan Naruto padanya. Mereka teman. Hanya teman. Sasuke tidak mungkin keberatan kan…

Mungkin juga Sasuke tak peduli sama sekali padanya.

"Sakura!" dalam sekejap Sakura ditarik ke arah Sasori, momentumnya menyebabkan ia terhempas ke dada bidang Sasori. Di tempatnya tadi berdiri, motor lewat dengan kecepatan tinggi. Si pemilik mengerem, membuka helmnya.

"Oh maaf, Sakura, Sasori." Suigetsu melepas earphone dan kacamata hitamnya, menyeringai. "terlalu sibuk mendengarkan musik dan melihat kegelapan."

"Kau mengendarai motor dengan earphone dan kacamata hitam?" tanya Sasori setengah geli-setengah jengkel. Siapa pula pengemudi yang cukup gila melakukan hal semacam itu.

Di lain pihak, jantung Sakura melompati satu ketukan. Ini bukan hal yang sama yang dilakukan Naruto padaku. Tangan Sasori masih melingkari pinganggnya, belum melepaskannya dari pelukan. Naruto tidak pernah memelukku seperti ini.

"Yah daripada mengendarai dengan mata tertutup? Sudah ya." Suigetsu melambai asal-asalan dan memacu motornya lagi, mencari parkiran kosong. Karena ujian akhir sudah lewat, hampir semua warga KHS datang untuk menonton pertandingan akbar terakhir ini.

Sakura terbatuk-batuk kecil, mengingatkan Sasori ia masih berada dalam pelukannya. Sasori melonggarkan pelukannya, menatap Sakura.

"Kau tak apa-apa?" Sakura menggeleng pelan. Rasanya ia tak nyaman dengan keadaan ini. Sasori bersikap seolah-olah… mereka sepasang kekasih. "ayo, pertandingan sudah berjalan setengah."

Sasori mengulurkan tangan, namun Sakura tidak menyambutnya. Sasori menatapnya, campuran bingung dan spekulasi.

"…aku harus ke toilet dulu. Sampai jumpa di tribun, senpai." Sakura mencoba tersenyum, tidak ingin melukai perasaan pria yang bersikap sangat baik padanya ini. Sasori mengangguk, senang karena Sakura tidak benar-benar menolak uluran tangannya.

Setidaknya untuk saat ini. Sasori tahu yang dilakukannya salah. Ia mendekati gadis yang sudah punya pacar, bersikap seperti pacarnya pula. Tapi ia rela merendahkan dirinya hanya untuk menghabiskan waktu dengan gadis berambut merah jambu ini.

-.-.-.-

Tsunade kehabisan kata-kata menghadapi pemuda di hadapannya ini. Rasanya tangannya gatal ingin menjewer Naruto karena keras kepala pemuda itu mengalahkan batu karang. Tapi ia kasihan juga, melihat bagaimana kerasnya Naruto berusaha selama ini.

"Ayolah Baa-chan! Beri obat pegal sedikit saja, aku bisa bertanding lagi!" serunya berapi-api.

"Berapa kali kubilang jangan panggil aku baa-chan?! Hanya karena Minato dan Kushina murid terbaikku bukan berarti kau boleh memanggilku seenaknya!" balas sang kepala sekolah.

"Ngomong-ngomong mana Hinata?" Shizune melepas bebatan pada kaki Naruto dan mengganti kompresnya. Naruto meringis menahan sakit.

"Pulang ke rumah, mengambil bekal." Shizune menatap bingung pada Naruto.

"Bekal? Jadi karena itu kau tidak makan pagi?" Naruto tersenyum tipis.

"Tak heran Uchiha memakimu bodoh sepanjang pagi tadi," gumam Tsunade, menginspeksi memar-memar di sekuju kaki Naruto. Jika perkiraannya benar, bisa sampai seminggu kaki ini bisa dipakai berlari lagi.

Pria itu tersenyum lebar. "Di pertandingan sebelumnya aku janji pada Hinata aku akan makan bekalnya untuk pertandingan berikutnya… Aku pria yang menepati janji, Shizune-san, Tsunade-sama."

Kedua wanita itu tertegun.

"Karena itu, aku harus bertanding. Aku janji aku akan memimpin kemenangan untuk timku. Seorang kapten tidak bisa hanya diam dan menonton timnya berjuang, Tsunade-sama…" Naruto menatap lekat-lekat kepala sekolahnya itu. "Semua memar ini hanya untuk kemenangan hari ini. Kalau aku tidak bertanding, memar-memar akibat latihan ini akan sia-sia…"

Tangan Shizune berhenti mengompres memar Naruto, mendengarkan baik-baik setiap patah kata yang diucapkan pemuda yang terbaring di hadapannya. Mata cokelat Tsunade beradu dengan biru cerulean Naruto.

"Bolehkan aku menepati janji pada timku?"

Tsuande menghela nafas panjang. Ekspresinya keras dan jengkel pada anak muridnya ini. Namun sesaat kemudia bibirnya yang tersapu lipstick merah menyala itu membentuk senyum tipis.

"Kau pemuda ceroboh paling keras kepala yang kukenal, Naruto..." Naruto tersenyum lebar mendengarnya. "…berjanjilah kau tidak akan mematahkan kakimu selama pertandingan."

Naruto tergelak, rasa sakit di kedua kakinya terlupakan begitu bayangan dirinya memimpin timnya menuju kemenangan terlintas di benaknya.

-.-.-.-

Hinata mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ponselnya bergetar di sakunya, membuatnya harus berhenti dari berlari. Tinggal membelok ke gang depan, dan dia sampai di distrik Hyuuga. Tapi ponselnya berbunyi terus sedari tadi, mau tak mau Hinata harus menjawab, kalau-kalau ini panggilan penting.

Di layar tertera nama; Itachi Uchiha.

Itachi tak pernah menelepon. Tak pernah memulai percakapan duluan. Selama ini mereka hanya melalui percakapan pasif. Tanpa pikir panjang Hinata langsung mengangkatnya, tahu bahwa ini urusan penting jika Itachi sampai meneleponnya duluan.

"Hinata Hyuuga?" suara yang menjawab di seberang sana sama sekali bukan suara Itachi, melainkan suara perempuan. "saya Akane, perawat yang ditugaskan menjaga Itachi Uchiha. Keadaaan Tuan Uchiha baru saja memburuk dan dilarikan ke UGD, dokter meminta saya menelepon keluarganya jika terjadi hal buruk… tapi hanya nomor telepon anda yang ada di ponsel Tuan Uchiha." Jelas perempuan itu panjang lebar.

Hinata butuh beberapa menit untuk menangkap apa yang baru saja dibicarakan sang perawat di telepon. Itachi. Memburuk. Ponselnya bersih dari semua nomor. Kecuali Hinata.

Ini jelas bukan keadaan yang baik.

Kenapa Itachi menghapus semua nomor di ponselnya? Apa sebegitu tak ingin ditemukannya? Ada apa dengan Itachi Uchiha sebenarnya?

Beribu pertanyaan mendesak di kepala Hinata; sampai Akane memanggilnya sekali lagi.

"Y-ya, saya akan segera ke sana." Jawab Hinata, menutup telepon. Di depannya, tak kurang dari lima meter, ada belokan menuju kediaman Hyuuga, alasan mengapa ia berlari. Demi menepati janji pada Naruto.

Di tangannya, tergenggam ponsel yang baru saja mengabarkan Itachi baru saja dilarikan ke UGD lagi, dan dokter meminta kehadiran keluarga. Itu tak pernah jadi kabar yang baik. Seharusnya Hinata menghubungi Sasuke kalau-kalau terjadi hal buruk pada Itachi. Tapi Itachi sudah memintanya berjanji. Tidak ada yang boleh tahu dia sudah pulang.

Kami-sama, apa yang harus kulakukan?

Itachi sakit. Itachi menyimpan banyak rahasia. Itachi mungkin tak membutuhkannya, tapi Hinata peduli padanya. Dan jika Itachi memilih untuk mengusir semua orang dalam hidupnya, Hinata tidak akan membiarkannya.

Hinata menarik satu nafas panjang dan berbalik arah.

Maafkan aku, Naruto-kun.

-.-.-.-

"Kau bodoh." Entah sudah berapa kali Sasuke melontarkan kalimat itu pada sahabat karibnya yang berambut pirang selama mereka saling kenal.

"Tapi aku hebat." Balas Naruto, senyum lebarnya menunjukkan deretan gigi-gigi putih. Mau tak mau Sasuke tersenyum tipis menanggapi sahabatnya. Peluit terakhir sudah dibunyikan. Kemenangan ada di tangan kapten Uzumaki. Dengan kaki goyah, pria muda itu tetap berlari meski terjatuh berkali-kali dan menolak di bawa keluar lapangan.

Dalam menit-menit terakhir kedudukan mereka masih imbang, dan Sasuke nyaris menarik Naruto keluar lapangan karena pria itu jelas akan mematahkan kakinya sendiri jika ini terus berjalan.

"Hentikan Naruto. Ini hanya pertandingan biasa." Sasuke menarik bangun Naruto yang baru jatuh untuk keempat kalinya.

"Kau pikir kenapa aku yang jadi kapten dan bukan kau?" Naruto menunjukkan cengiran jahilnya pada Sasuke. "karena kau selalu mengganggap semua pertandingan 'hanya pertandingan biasa', Sasuke."

"Apa gunanya menang kalau kau tak bisa berjalan lagi?" gerutu Sasuke. Naruto tetawa lepas mendengarnya.

"Kalau suatu saat kau punya sesuatu yang benar-benar ingin kau perjuangkan, kau akan mengerti."

"…terserahlah," gumam Sasuke, menatap temannya itu bersiap untuk berlari lagi.

Dan seperti yang dikatakannya, Naruto benar-benar membawa kemenangan. Detik-detik sebelum peluit tanda berakhir berbunyi, pria itu menendang bola sekuat tenaga, menjebol gawang lawan dan peluit tanda pertandingan berakhir berbunyi. Lapangan menggelora, pendukung sekolah lawan segera pergi karena kecewa. Tribun membentuk aliran ombak yang meneriakan nama kapten KHS kesayangan mereka.

"Permainan yang hebat, Kapten! Aku akan merindukanmu nanti!" seru Kiba sambil menepuk punggung Naruto dengan bersemangat. Cengiran khas Naruto terpampang di wajahnya, dalam sekejap ia dikerubungi oleh massa yang membanjir menuruni tribun masuk ke lapangan.

Naruto diarak, karena selain pertandingan akbar terakhirnya, ini juga mengukukhkan piala penghargaan KHS sebagai juara liga Konoha selama tiga tahun Naruto memimpin. Putra kepala daerah Minato itu benar-benar mengharumkan nama sekolah.

Di tengah hiruk pikuk, mata Sasuke menyisir pinggir lapangan dan tribun, mencari rambut pink yang mencolok. Sasuke menghela nafas dan mengalihkan pandangan kembali pada sahabatnya yang diarak keliling lapangan. Mungkin Sakura tidak datang. Mungkin gadis itu sibuk dengan tugas-tugasnya lagi. Belakangan ini mereka tidak saling bicara, karena Sasuke sendiri sibuk mengurus sesuatu. Sesuatu yang penting. Dan di saat seperti inilah ia ingin mendapatkan kenyaman bersama gadis berambut merah jambu itu.

Mungkin sebaiknya ia tidak berharap banyak.

Tepat pada saat itu juga, dari arak-arakan terdengar suara pekikan. Sasuke menoleh, menerobos kerumuman, dan menemukan Naruto terbaring di rumput lagi, memegangi kakinya sambil meringis menahan sakit.

Kali ini Sasuke benar-benar menarik Naruto ke luar lapangan.

-.-.-.-

Sebenarnya apa yang kulakukan?

Sakura mereka ulang apa yang baru saja terjadi. Di tengah hiruk-pikuk kemenangan, saat Sakura ingin turun berbaur dengan massa di lapangan, Sasori mencegahnya.

"Kau bisa terluka. Banyak orang di sana yang terlalu bersemangat."

"Tapi-"

"Kau bisa menemui Sasuke nanti, kan. Atau besok." Yah, tentu saja Sasori belum tahu kalau mereka tinggal serumah. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."

Sakura termenung. Sasori baru saja mengajaknya kencan. Tapi… bagaimana mungkin? Seniornya itu tahu kan kalau dia dan Sasuke pacaran? Kenapa Sasori melakukan ini?

"Senpai, apa yang senpai lakukan?" tanya Sakura pelan. Suaranya yang lembut nyaris hilang ditelan hiruk pikuk di bawah. "apa senpai baru saja-"

"Mengajakmu kencan. Ya." Sasori menatap dalam-dalam emerald Sakura. Sakura menunduk, tidak ingin membalas tatapan Sasori.

"Tapi senpai tahu kan kalau Sasuke dan aku-"

"Aku tahu." Potong Sasori cepat. "Akan kuberitahu nanti kenapa aku melakukan ini."

"Nanti?" Sakura menengadah menatap Sasori. "Kenapa nanti?"

"Kalau kuberitahu sekarang kau akan menolak kencan denganku."

"T-tapi-" Sasori merengkuh tangan Sakura, menahannya dalam genggamannya.

"Untuk yang pertama dan terakhir kali, Sakura." Sasori berkata sungguh-sungguh. Si tampan berambut merah itu menatap serius pada Sakura. "aku mau menutaskan perasaan ini. Kurasa… kau harus tahu bagaimana perasaanku padamu."

Sakura menelan nafas. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.

"Aku tidak memintamu memilihku daripada Sasuke, Sakura. Aku hanya memintamu memperbolehkanku menuntaskan perasaan ini." Gumamnya pelan. "dan aku-"

"Sekali ini saja, senpai." Jawab Sakura cepat, menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Kita pulang sebelum jam 5."

Dan tiba-tiba saja, Sasori menariknya turun. Sakura mau tak mau mengikuti pria itu kembali ke parkiran, karena Sasori menggenggam tangannya. Sakura berulang-ulang meyakinkan diri bahwa hal ini terjadi hanya untuk sehari. Besok-besok ia tidak akan menanggapi…

"Pegang yang erat, Sakura." Lantas kenapa ia mematuhi ucapan Sasori? Karena pria itu mengemudi seperti pembalap pro. Karena Sakura tak mau terjatuh dari motor sport itu…

Karena Sakura merasa nyaman memeluknya.

Sakura bisa merasakan hangat tubuh Sasori di depannya. Rasa nyaman yang ditimbulkan pria itu sejak dulu dalam dirinya membuncah keluar. Dulu ia sempat tertarik pada senior yang selalu membantunya itu. Tapi kan sekarang ia sudah bersama Sasuke?

Mungkin karena Sasori menunjukkan sisi-sisi lembut yang takkan pernah Sasuke tunjukkan padanya…

Tanpa sadar Sakura mengeratkan pelukannya dan menyandarkan dirinya pada punggung Sasori, diam-diam berharap yang dipeluknya saat ini adalah Sasuke.

-.-.-.-

Hinata mengetuk pintu kamar setelah sebelumnya bertanya di mana Itachi dirawat. Tidak ada jawaban dari dalam, jadi Hinata memutuskan untuk mengintip masuk. Kamar itu kosong, walaupun tempat tidurnya tampak seperti habis ditiduri. Hinata memandangi isi kamar, mencari sesuatu yang dapat mengonfirmasi ia tidak salah kamar.

Pintu yang tadi dimasukinya membuka, dua orang tampak sedang beradu argument.

"Tuan belum boleh berjalan-jalan sendiri!" seru wanita separuh baya berambut cokelat. Itachi tak menghiraukan dan tetap berjalan. Matanya bertemu pandang dengan Hinata.

"K-konichiwa, Itachi." Hinata membungkuk memberi salam seperti biasa.

"Apa anda keluarganya?" tanya si perawat.

"B-bukan, saya H-Hinata-"

"Hinata Hyuuga? Oh, saya Akane. Senang bertemu denganmu. Tolong katakan pada Tuan Uchiha tidak ada pasien yang baru dari UGD boleh berjalan-jalan seenaknya," geruru perawat itu.

"Terimakasih sarannya, Akane. Tapi kurasa aku akan baik-baik saja." Jawab Itachi sekenanya.

"Tuan bahkan menolak diinfus. Tuan kehilangan banyak cairan tubuh dan darah karena operasi kemarin-"

"Operasi?" Hinata menatap bingung Itachi dan Akane.

"Ya, Tuan Uchiha baru menjalani operasi-"

"Cukup, Akane." Itachi tersenyum pada perawat itu, senyum yang mengandung banyak arti. Perawat itu mengangguk merasa ia diusir secara tidak langsung dan menutup pintu, meninggalkan Itachi dan Hinata berdua di kamar.

"K-kemarin malam… itu operasi?" tanya Hinata pelan. Itachi tidak menjawab, melainkan membuka lemarinya dan menarik keluar kaus dan celana. Mengabaikan pertanyaan Hinata, pria yang lebih tua 5 tahun darinya itu masuk ke kamar mandi. Hinata tak tahu apa sebaiknya ia menunggu Itachi atau pergi saja. Karena jelas pria itu tak menghiraukan keberadaannya di sini.

Tapi jika ia sampai masuk UGD dan dokter sampai memanggil keluarga, tentu saja keadaannya buruk kan? Lantas apa yang Itachi lakukan, jalan-jalan seperti orang sehat? Bukankah seharusnya ia beristrahat dan memulihkan keadaannya? Pasca operasi pula.

Pintu kamar mandi terbuka dan Itachi dengan pakaian normal keluar. Ia menarik keluar jaketnya dan membenahi kasurnya. Selepas itu pewaris tahta bisnis Uchiha itu duduk dan menghela nafas. Hinata berdiri di hadapannya, menunggu respon.

"B-bagaimana keaadanmu?" tanya Hinata memecah keheningan. Itachi mengehla nafas, tapi tidak menjawab. "p-perawat meneleponku dan bilang…"

"Kau tidak harus melakukan ini, Hinata." Akhirnya Itachi menjawab. "kau tidak punya kewajiban untuk peduli." Hinata mengerjap beberapa kali. Di hadapannya ada seorang pria yang menolak untuk dipedulikan. Sungguh, apa yang sudah terjadi pada Itachi Uchiha sebenarnya?

"G-gomen ne, Itachi-san." Hinata kembali jadi gadis yang takut untuk bertanya. Ia mungkin sudah melintasi batasan yang Itachi tetapkan. Mungkin ia terlalu ikut campur. Itachi menggeleng perlahan menanggapi permintaan maaf itu.

"Aku tidak punya banyak teman, Hinata." Ujar Itachi perlahan. "Aku tidak terbiasa mempunyai orang yang peduli dan konstan berada di dekatku."

Dalam benak Hinata, ia bisa menyimpulkan Itachi baru saja mengusirnya.

"B-baiklah. A-aku akan pergi." Hinata mengangguk pada Itachi dan berbalik siap pergi.

"Hinata," Hinata berhenti di pintu dan menoleh pada Itachi. "Kau tidak seharusnya peduli pada orang asing seperti ini."

Hinata terdiam, mencerna baik-baik kata-kata Itachi. "Apa peduli pada orang lain itu salah?" jawabnya. Hinata baru menyadari ia mengatakannya tanpa tergagap. "Maaf menganggumu, Itachi." Hinata memutar handle pintu dan keluar ruangan.

Setidaknya ia mengerti satu hal kini; Itachi tidak menyukai keberadaannya. Ia seharusnya tahu batas dalam peduli dengan orang lain. Hinata tersenyum sedih, memikirkan apa yang harus dikatakannya pada Naruto jika ia kembali ke pertandingan dengan tangan kosong.

Matanya menatap jam di ujung lorong. Ah, pertandingan pasti sudah usai. Hinata menghela nafas, bersiap pergi dari rumah sakit.

"Hinata?" lagi-lagi langkahnya terhenti. Itachi berdiri di samping pintu, matanya yang hitam dan dingin menatap padanya. "Mau makan siang bersamaku?"

Kali ini dalam benaknya Hinata tahu, Itachi baru saja minta maaf padanya.

-.-.-.-

Tsunade marah pada Naruto. Itu sudah jelas. Tapi wanita yang masih tampak muda di umurnya yang menginjak kepala lima itu menyimpan baik-baik kegemasannya pada putra Minato dan Kushina.

"Hanya beberapa minggu, Baa-chan…" Naruto merajuk, membujuk kepala sekolah yang sudah dikenalnya sejak ia TK itu. Tsunade dekat dengan keluarga Uzumaki dan kedua orang tua Naruto. Jadi tidak mungkin ia mengambulkan permintaan si rambut kuning ini untuk merahasiakan cedera parah yang dideritanya dari orang tuanya.

"Bagus kalau bisa sembuh. Kalau makin parah?" Tanyanya dengan nada tinggi. "Kubilang jangan patahkan kakimu bukan, Naruto?"

"Yah… kadang hal itu bisa terjadi sendiri," jawab Naruto asal. Yang benar saja patah tulang bisa terjadi sendiri. Orang tidak tiba-tiba patah tulang, tahu. Pikir Tsunade gemas.

"Dan kau Uchiha, sudah tahu dia tak bisa berjalan lagi, kenapa tak kau keluarkan saja dia dari lapangan?!" seru Tsunade berbalik menghadap Sasuke di sisi lain tempat tidur Naruto.

"Hei, aku sudah-" Sasuke membela diri sendiri tapi dipotong Naruto.

"Sasuke-teme tidak salah, Baa-chan… pokoknya rahasiakan dari orang tuaku ya? Bilang saja aku tak sengaja terjatuh dari lantai dua…"

Sasuke, Tsunade, dan Shizune yang berada di kamar itu memiliki satu pemikiran; yang benar saja.

Naruto segera dilarikan ke rumah sakit Konoha, dan tepat saja perkiraan Tsunade; anak muda itu mengalami pergeseran sendiri dan hasil x-ray menunjukkan tulangnya mengalami pergeseran. Masih untung tidak patah jadi serpihan.

Akibatnya Naruto harus tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari ke depan. Tapi pemuda itu ngotot agar dokter memberikan obat paling kuat supaya ia bisa keluar rumah sakit malam ini. Kontan dokter memanggil Tsunade dan Shizune karena capek menghadapi keras kepala Naruto.

"Kau tinggal di rumah sakit, keputusan final." Seru Tsunade. Naruto menggumam tentang 'nenek tua yang menyebalkan' dan segera disambut pukulan di kepala oleh Tsunade.

"Sakiiiit, Baa-chan!" seru pemuda itu.

"Bagus untuk melenturkan kepalamu yang keras itu. Ayo pergi, Shizune."

"Tapi kalian tak akan bilang orang tua ku kan?" Naruto tidak mau dihukum seminggu dan diceramahi tiap hari oleh ibunya yang berambut merah tomat itu. Itu mimpi terburuk setiap anak lelaki.

"Kita lihat perkembangannya, Naruto. Kalau kau memburuk aku harus bilang pada Minato dan Kushina." Tsunade menjawab sebelum menutup pintu.

"Kau dengar itu, teme? Aku akan bebas dari hukuman!" Naruto berkata girang.

"Kau memang benar-benar bodoh." Sasuke geleng-geleng kepala.

"Ah, semua orang juga pernah melakukan hal bodoh demi mengejar apa yang diinginkannya…" Sasuke tersenyum tipis menanggapinya. Mungkin dari sederet orang yang dikenalnya, Naruto pantas dikagumi karena kesungguhannya mengejar sesuatu. "Ngomong-ngomong aku lapar, Sasuke. Belikan ramen dua porsi dan bawa ke sini dong…"

Sasuke tidak jadi mengagumi sahabatnya itu.

-.-.-.-

"Halo?" Hinata meletakkan garpu di piring pudingnya, agak terkejut menjawab panggilan dari Sasuke. "…apa?" di hadapannya, Itachi yang tadinya lebih sibuk memandangi Koran hari ini mendongak menatapnya. "ya… terimakasih."

Itachi tidak bertanya, namun dari pandangan-ada-apa? Yang dilontarkannya, Hinata merasa ia harus menjawabnya.

"Naruto...cedera di pertandingan. Dia di rumah sakit sekarang." Itachi tak perlu repot-repot bertanya rumah sakit mana, karena hanya ada satu rumah sakit di daerah Konoha. Tempat mereka berada saat ini. "A-aku harus menemuinya segera." Hinata bangkit dari kursi, khawatir akan keadaan kekasihnya.

Itachi tidak menjawab, alih-alih menatap ke belakang Hinata. Hinata menoleh dan bertemu pandang dengan sepasang mata biru jernih.

"Oh halo, Hinata-chan! Itachi-nii?" Naruto berjalan dari snack bar mendekati tempat duduk mereka, dengan kruk di kedua lengannya. Satu kakinya diberi gips beroda. "apa yang kalian lakukan di sini?"

Hinata diam di tempat. Bukankah Itachi melarang siapapun untuk tahu kehadirannya di Konoha? Lantas bagaimana sekarang?

"Tak kusangka sudah pulang. Apa kabar?" Naruto mengulurkan tangan, masih tersenyum sumringah. Sudah cukup lama sejak terakhir ia bertemu kakak Sasuke. Itachi balik tersenyum, menjabat tangan Naruto.

"Baru saja bertemu di jalan, kebetulan searah. Jadi kuantarkan Hinata dulu ke rumah sakit untuk menjengukmu." Tanpa tedeng aling-aling Naruto memeluk Hinata erat. Hinata merona merah dipeluk seperti itu di depan orang lain.

"Wah, padahal aku belum memberitahumu. Kau benar-benar perhatian, Hianta-chan!" lagi, wajahnya merona semakin merah.

"Pertandingan?" tanya Itachi tiba-tiba, mengisyaratkan cedera kaki Naruto.

"Yah… begitulah. Tapi kami menang lagi hehe. Maaf aku tak sempat menunggumu balik ke pertandingan, Hinata-chan. Sasuke menyeretku ke sini-"

"Ngomong-ngomong mana Sasuke?" Itachi menatap ke belakang Naruto, yang Hinata tahu hanya formalitas karena mereka tahu Sasuke tidak ada di sekitar mereka saat ini.

"Tadi ke taman sebentar, katanya ada urusan. Paling menelepon Sakura-chan… daritadi dia tak bisa dihubungi, si teme itu ketar-ketir." Sahut Naruto tersenyum jahil. "eh, rasanya aku belum dengar dari Sasuke kalau kau sudah pulang, Itachi."

Lagi-lagi Itachi tersenyum misterius.

"Duduklah, Naruto. Kau sudah makan siang?"

"Nah… aku ke sini untuk itu. Sasuke janji mau belikan aku ramen hahaha." Hinata dengan canggung duduk lagi di kursinya, memantau percakapan kedua pria ini.

"Makanlah. Kutraktir. Bilang saja pada kasirnya nanti." Itachi bangkit dan siap pergi.

"Loh? Tapi kau mau kemana?"

"Ada urusan lain. Ah… aku punya kejutan untuk Sasuke. Jadi tolong rahasiakan kalau aku sudah pulang ya. Kau janji kan, Naruto?" Itachi tersenyum tipis. Senyum Naruto berubah jadi cengiran lebar mendengar kata 'kejutan' dan 'Sasuke' dalam satu kalimat. Segala hal tentang membuat sahabat karibnya terkejut adalah rencana yang disukainya. Semua orang tahu betapa susahnya membuat Sasuke terkejut.

"Aku janji, tentu saja Itachi!"

"Apapun yang terjadi?"

"Yap! Kau bisa pegang janjiku!" Itachi melemparkan satu senyum terakhir pada mereka dan lenyap di kerumunan.

"Hinata-chan, apa kau tahu kejutannya untuk Sasuke?" tanya Naruto bersemangat. Hinata menanggapinya dengan gelengan kepala. Sejujurnya, ia yakin ada lebih dari sekedar 'kejutan' yang disembunyikan Itachi untuk Sasuke.

"Tidak ada bayangan sama sekali, Naruto-kun. Bagaimana keadaanmu?"

-.-.-.-

Motor sport hitam melaju kencang di jalan, menimbulkan bunyi bising yang mengganggu pendengaran beberapa desibel. Sasori menatap jauh ke depannya. Rasanya baru kemarin ia bertemu Sakura. Rasanya baru kemarin ia melihat gadis itu untuk pertama kalinya…

Sasori mengerjapkan mata, kenangan terbayang jelas di matanya.

Sakura takut ketinggian.

Sasori tahu hal itu sejak dulu, sejak Sakura tidak mau di suruh berdiri di tepi atap lantai tiga oleh Karin saat MOS. Karin tak mempedulikannya dan menariknya, tapi Sakura bertahan di tempat, tak mau disuruh maju lebih dari pijakannya saat ini. Ino berusaha membela Sakura karena mereka berteman sejak hari pertama, namun Karin tak mengindahkannya. Naruto sebagai anak baru berapi-api yang mencolok juga menentang Karin, mengatakan itu membahayakan Sakura. Sebagai calon Ketua OSIS saat itu, Sasori tidak boleh membela anak baru, namun Sakura adalah perkecualiannya. Tepat sebelum Sakura pingsan karena demam ketinggian, Sasori menangkapnya.

Karin mengejeknya 'pilih kasih', tapi Sasori mengabaikan itu dan pandangan anggota OSIS lainnya dan anak-anak baru yang melihat bagaimana Sasori menggendong Sakura ke ruang UKS. Sampai sore Sasori menungguinya sadar, hingga petang berganti dan mau tak mau Sasori menginap di UKS.

Ada sesuatu tentang Sakura yang membuatnya ingin terus melindungi gadis itu.

Saat Sakura sadar, tentu saja ia kaget ada anggota OSIS yang mau mendampinginya. Sasori dengan canggung memperkenalkan diri, dan Sasori ingat saat itu juga Sakura tersenyum dan berkata;

"Aku tahu, Akasuna Sasori-senpai, kan? Senior paling baik selama MOS…"

Sejujurnya, selama MOS, Sasori tidak marah atau iseng memberatkan anak-anak baru, karena ia terlalu sibuk dengan proposal acara bulan depan. Saat itu ia menjabat sebagai Koordinator Acara. Mana ada waktu bagi seorang Sasori untuk menjahili anak baru? Tapi Sasori membiarkan Sakura menganggapnya begitu dan tersenyum balik padanya.

Saat Sasori bertanya bagaimana keadaannya dan apa ia ingin diantar pulang, Sakura buru-buru menggeleng. Malam itu, Sasori tahu bahwa Sakura yatim-piatu dan tinggal di panti asuhan. Selama ini pula Sakura tak pernah membiarkan siapapun ke rumahnya. Sakura memintanya untuk berjanji merahasiakan semua hal ini.

Malam itu juga, Sasori jatuh cinta padanya.

Dan semakin hari, rasa itu semakin menguat. Tapi ia tak punya cukup nyali untuk mengatakannya. Baginya, mencintai dalam diam itu sebuah doa untuk orang yang disayang. Sampai Sasuke Uchiha mulai mengganggu mereka, dan Sasori tahu;

Mencintai dalam diam saja tidak cukup.

"Kau lapar, Sakura?" Sasori menoleh ke belakang saat lampu merah, tapi pertanyaannya tidak di jawab. Terang saja, yang dibonceng ketiduran di punggungnya. Pantas saja daritadi Sakura tidak bersuara dan memeluknya terus.

Sasori menahan senyum di balik helmnya, siap memacu motornya lagi.

"Kau tahu, Sakura?" ucapnya di balik helm, tahu bahwa Sakura takkan bisa mendengarnya. Justru pada saat seperti ini Sasori cukup berani mengutarakan perasaannya. "Aku bisa mencintaimu lebih dari Sasuke."

Sayangnya Sasori tidak tahu, Sakura sudah terbangun dan mendengar itu semua. Jari-jemarinya mencengkram erat jaket kulit Sasori. Ia bisa mendengar hatinya berbisik pelan;

Aku tahu, senpai.

-.-.-.-

A/N : cliffhanger!

Author suka ngegambarin sudut pandang Naruto yang optimis dibanding chara lainnya di sini hehe. Nah, udah keliatan kan gimana warna masing-masing karakter? Oh iya, Itachi itu realistis, chara yang lain hampir semuanya idealis. Soalnya Itachi udah dewasa, jadi dia udah berhenti menuntut dan berkompromi dengan keadaan dunia apa adanya.

Ada yang mau kasih saran gimana kencannya Saso-Saku? Ah ya, mungkin lagu One Direction-More than this bisa ngegambarin perasaannya Sasori. Karena ia merasa ia bisa mencintai Sakura lebih dari ini.

R.E.V.I.E.W please? Please please pretty please? *give away cookies*

Terimakasih untuk semua yang review!

sasusaku kira : iyaa ini udah dimunculin sasusakusaso-nya hehe

Scara : gomen baru updateee . nanti akan dikasih tahu kok ada apa dengan Itachi hehe

Putri Hassbrina : makasih udah ngikutin dari awal :D ketemu lagi di review chap depan ya hehe

Farhan UzuZaki : iyaa gpp, makasih juga udah review

Franceour : makasih reviewnya, ditunggu review selanjutnya hehe

Arakafsya uchiha : apa kabar nih, teman seperjuangan? semoga dapat berita baik juga yaa tapi EYD saya masih kacau kayanya haha, masih butuh belajar banyak untuk menulis dengan baik

Aoi : semoga chap ini juga berasa ya hehe

Selaladrews : waa, senangnya kalau ada yang suka cerita ini makasih ya reviewnya!

Haekal Uchiha : gomeen . semoga ending chap kali ini lebih keren ya!

Signed,

A doctor soon to be

-phylaphy