"Honesty is the first chapter in the book of wisdom."

-Anonim

-.-.-.-

TIGA BELAS

Tidak ada penundaan yang lebih Ino sukai dari ini. Japan Haute Couture Festival diundur seminggu setelah Ujian Nasional…ah, Kami-sama, Kau memang pengertian. Meski Konoha sedang dirundung demam Liga terakhir sepakbola dibawah Kapten Uzumaki, Ino sedari pagi sudah berkeliling Tokyo memantau runway yang akan dilaksanakan malam hari. Sebenarnya ia merasa tidak enak juga karena tidak jadi menemani Sakura menonton pertandingan (lagipula dia kan punya Sasuke, kapan sih dua orang itu akan berangkat bareng seperti normalnya kekasih? Ino tak habis pikir) tapi demi acara sekali seumur hidup… (semoga ada yang kedua dan ketiga, Kami-sama!) memaafkan Deidara sehari saja Ino bisa.

Bicara soal si pria berambut pirang itu… Ino melirik ke ujung panggung, dimana Deidara tengah duduk berbincang dengan anggota Japan Phillharmonic lainnya. Ino ingat, dulu, setiap Deidara dipanggil untuk menunjukkan bakat musiknya di khayalak ramai, ia selalu diundang. Selalu duduk di barisan terdepan. Menemaninya mengontrol panggung, mendengarkannya berlatih…

Ino menggigit bibir. Kenangan itu mulai menyeruak lagi. Kesal pada dirinya sendiri, Ino bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan arena panggung. Entah mengapa, separo dari dirinya yang tidak ingin ia akui, ia merindukan masa-masa itu. Masa dimana keindahan melodi dari piano Deidara hanya untuknya seorang…

Lagi-lagi Ino menggeleng. Tenggelam dalam kenangan tidak akan membuahkan hasil baik apapun. Biarpun dari luar ia terlihat baik-baik saja, tetap saja Deidara meninggalkan luka dalam dirinya. Luka yang butuh waktu lama untuk sembuh…

Pikiran Ino mengelana jauh ke masa SMPnya.

"Dei!" gadis berambut pirang panjang bermata biru muda berlari-lari ke arah ruang musik dengan bersemangat. Besok hari ulang tahunnya, sekaligus peringatan dua tahun hari jadi ia dan Deidara. Ino tak sabra ingin menggoda pria itu, mencari tahu apa yang akan diberikan Deidara padanya tahun ini. Ini tahun terakhir mereka di SMP, Deidara pasti akan memberikan sesuatu yang menarik padanya!

Ruang musik terbuka dan dua kepala menoleh pada Ino.

"Eh… konnichiwa, Hikaru sensei." Ino menunduk, memberi hormat pada guru musik mereka. Hikaru sensei, pemuda setengah baya murah senyum itu tersenyum balik pada Ino dan berpamitan pada keduanya. Deidara menutup Grand piano-nya, wajahnya tampak lesu.

"Ada apa? Kau berlatih terlalu keras untuk Hari Perpisahan?" Tanya Ino khawatir. Deidara hanya menggeleng pelan dan tersenyum padanya.

"Tidak ada apa-apa. Kau mencariku?"

"Iya! Soal besok-" Deidara menyentuh tangan Ino, menggenggamnya dengan erat dan memotong ucapan Ino.

"Apapun yang terjadi, kau tahu aku benar-benar menyukaimu, kan?" Ino mengerjap, bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu.

"Tentu saja. Kita akan terus bersama, kau menerima beasiswa musik dari KHS dan aku lewat seni, tidakkah kita terdengar seperti pasangan ideal?" ujarnya bangga. Deidara mengulum senyum tertahan, matanya menatap Ino dengan sungguh-sungguh.

"…iya."

Saat itu, Ino percaya bahwa kejujuran adalah dasar dari segala hubungan, dan Deidara tak mungkin berbohong padanya.

Keesokan harinya, Ino terbangun dengan semangat menggebu-gebu. Hari ulang tahun dan hari jadi adalah dua hal yang ditunggu-tunggu remaja perempuan dimanapun. Tanpa menghiraukan panggilan Ibunya untuk makan pagi di ruang makan, Ino langsung berlari ke sekolah, tak sabra rasanya menunggu kejutan apa yang disiapkan Deidara di sekolah. Biasanya pria itu suka memberi kejutan-kejutan kecil; entah surat di kotak sepatu, cokelat di lokernya…

Deidara adalah pria yang sangat manis bagi Ino.

Apalagi keluarga Ino dan Deidara dekat. Rasanya kalau sudah lulus SMA Ino yakin ia sudah menemukan calon suami idamannya. Deidara adalah segala yang bisa ia inginkan dari seorang lelaki. Maka dengan hati berdebar, Ino membuka lokernya untuk melihat kejutan apa kali ini.

Sepucuk surat. Tanpa amplop, tampaknya terburu-buru diselipkan di sana. Ino membukanya dan membacanya cepat. Jarinya yang menggenggam pinggiran surat itu gemetar. Dalam sekejap, surat itu basah oleh tetesan air mata. Ino tak menghiraukan siswa-siswa yang hilir mudik di dekatnya. Saat ini, dunia mengkhianatinya.

Ino, maaf aku tak punya keberanian untuk mengatakan ini. Tapi hari ini aku pergi ke Itali untuk meneruskan belajar musik. Aku sudah memikirkan ini berminggu-minggu dan tidak sanggup menghancurkan harapanmu untuk masa depan kita. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali ke Jepang. Dan aku juga tidak ingin menjalin hubungan jarak jauh. Jadi… kau tak perlu menungguku.

Maaf… tapi aku tak bisa melepaskan kesempatan ini.

Surat itu terjatuh ke lantai, surat yang basah oleh titik-titik air mata.

Getaran di kantungnya menyadarkan Ino kembali ke alam nyata. Ia buru-buru menghapus air mata yang menggenang, menarik diri kembali dari rasa sakit bertahun-tahun yang lalu itu. Seandainya saat itu Deidara memilih untuk jujur padanya… Ino bisa merasakan itu hanya satu dari sekian alasan Deidara pergi. Bukan hanya mengejar mimpinya. Tapi mungkin juga karena pria itu bosan dengannya. Karena bahkan setelah berhari-hari kepergiannya, tiap kali Ino menelepon, pria itu tak pernah menjawab. Sepertinya Deidara menghapuskan jejaknya di kehidupan Ino sendiri.

Apapun alasannya, Ino tak bisa memaafkan pria yang pergi begitu saja. Deidara sudah memutuskan untuk pergi dari hidup Ino saat itu, dan dia tak punya hak untuk kembali lagi.

Ino menjawab panggilan itu tanpa melihat nomornya di caller ID, dan serta merta terkejut dengan suara yang menjawabnya di ujung.

"…Shikamaru?"

-.-.-.-

Sasori diam-diam selalu berpikir kalau Nenek Chiyo punya semacam indera keenam; buktinya bahkan kali ini setelah ia bersusah payah mengajak Sakura berkencan, Nenek Chiyo meneleponnya dan memintanya segera pulang. Entah ini hukuman dari Kami-sama karena ia sudah mengambil pacar orang tanpa izin…

"Uh… Sakura, apa kau ada waktu kosong lain kali?" Sakura mendongak dari es krimnya cone-nya, menatap Sasori dengan dua mata emeraldnya yang indah itu.

Karena kehabisan ide mau mengajaknya kemana, Sasori mengajaknya ke tempat es krim saat pertama kali mereka pergi berdua. Lucu, mengingat itu tempat dimana Uchiha Sasuke menemukan mereka. Sasori harap ia tidak terlalu bodoh dengan memilih tempat ini. Hei, jalan berdua dengan orang yang disukai itu terbukti bisa mengalahkan rasionalitas seseorang tahu.

"Senpai janji ini yang terakhir kali."

Nah loh, sekarang gimana hayo? Bisik setan dalam kepala Sasori. Nyatakan sekarang! Buat dia tahu perasaanmu selama tiga tahun ini! Ayolah, masa kau mau berpisah tanpa dia tahu bagaimana perasaanmu? Kau lebih pantas dari si Uchiha itu!

Sayangnya, lidah Sasori kelu walaupun kali ini ia membiarkan setan di kepalanya menang. Tangan Sasori mengepal, berusaha mencari cara terbaik menunjukkan perasaannya pada Sakura. Bagaimana caranya mengumpulkan perasaan selama tiga tahun dalam satu hari? Ini semua gara-gara Karin. Kalau Deidara dan mulut besarnya itu tidak minta bantuan ke Karin… mana bisa Sasori terpikir rencana gila untuk memberi perhatian lebih, mengantar Sakura kesana-kemari.

Ya, salahkan si rambut merah berkacamata itu.

Sasori hanya ingin menuntaskan perasaannya… agar rasa tidak lagi menganggunya, memikirkan apa jadinya kalau Sakura tahu perasaannya. Tapi sekarang ia mengalamai masalah klise yang dialami semua orang yang jatuh cinta; mati kutu.

Sakura mengejek arlojinya dan Sasori segera tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sakura akan pamit. Dan sudah, semuanya selesai. Ia akan mengenang tiga tahun masa SMAnya sebagai pengecut. Bagus banget. Keluh Sasori.

Apa susahnya sih merangkai kata? "AkusukakamulupakansiUchihakarnaakubenar-benarsaya ngpadamudanakuinginkautahuhalitu."

"…senpai?" Sasori mengerjapkan mata, menyadari sisi bodohnya keluar lagi. "aku… tidak mengerti maksud senpai." Sakura menatapnya seperti orang yang baru saja meracau. Yang pada kenyataannya, Sasori memang melakukan itu.

Sasori menelan ludah, mengepalkan tangannya. Ia menarik nafas panjang dan maju selangkah, untuk menunjukkan pada Sakura bahwa kali ini ia bisa menyatakannya dengan lebih percaya diri.

"Aku-"

Demi Kami-sama, Sasori bersumpah ia tak sengaja tergelincir. Ia sama sekali tak merencanakan adegan jatuh menimpa gadis yang disukainya setengah mati itu. Hal pertama yang seharusnya ia pikirkan adalah keselamatan Sakura dan terjatuh ke lantai dan ia menimpanya; hal kedua adalah bagaimana reaksi orang-orang di toko itu. Tapi hal pertama yang terlintas di kepala Sasori adalah; manis. Ia bisa merasakan rasa manis di ujung lidahnya.

Dan hal kedua adalah saat ia membuka mata dan menyadari apa yang terjadi;

Ya ampun…

Hanya itu kata yang terlintas di kepala Sasori sebelum yang lainnya menyusul;

aku menciumnya.

-.-.-.-

Sasuke mondar-mandir di kantornya. Ia sudah biasa tak bertemu dengan Sakura di rumah, dan mereka juga jarang bercakap-cakap. Tapi saat ini Sasuke merasakan urgensi yang tinggi untuk mengetahui dimana keberadaan gadis itu. Ponselnya tidak diangkat, dan itu hanya membuat Sasuke makin khawatir.

Sore ini, setelah pertandingan berakhir, penelepon sialan itu menghubungi Sasuke lagi;

"Gudang tua pinggir kota, temui aku malam ini." Suara serak yang sama, dengan kata-kata yang diseret setiap kalinya. Ini bukan telepon iseng, karena Sasuke sudah meminta untuk melacak panggilan pertama dan menemukan ponsel usang di tempat sampah kota. Kalau ia melacak panggilan ini, Sasuke yakin ia akan menemukan hasil yang sama. Si penelepon tidak ingin diketahui identitasnya.

Bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis menjadikan Sasuke awas dengan segala tindakan mencurigakan. Kali ini, instingnya mengatakan ada yang salah. Ada yang tidak menyenangkan dari kejadian belakangan ini; panggilan-panggilan misterius, Sakura yang tidak bisa dihubungi dan…

"Sialan…" Sasuke memukul meja kerjanya.

Dan Itachi yang menghilang.

-.-.-.-

Sakura bahkan menolak bicara dengannya lagi. Gadis itu segera bangun begitu bibir mereka berhenti bersinggungan. Sasori hanya bisa diam terpaku melihat Sakura mengambil tasnya dan segera pergi dari tempat itu. Sungguh, Sasori merasa bukan hanya jadi pengecut, tapi juga pecundang sedunia.

Saat ia mengejar gadis itu, Sakura sudah keburu pergi naik taksi, tanpa peduli Sasori mengetuk jendelanya. Kali ini Sasori akan berpikir dua kali sebelum mencemooh adegan-adegan sinetron yang memuat kejadian yang barusan ia lakukan. Saat kembali ke toko, ia baru menyadari ponsel gadis itu tertinggal. Sekarang jelas Sasori tak bisa menghubunginya lagi, apalagi menemuinya. Tahu rumahnya saja tidak.

"Aku pulang." Sasori berkata lesu, membuka pintu geser tradisional di rumahnya. Akhirnya ia pulang sendirian memenuhi tuntutan Nenek Chiyo. Di hadapannya, Nenek Chiyo tengah menyiapkan acara minum teh sore hari, kebiasaan Beliau selama bertahun-tahun.

"Selamat datang," jawab wanita berumur itu dengan tenang.

"Nenek memanggilku pulang hanya untuk menemani Nenek minum teh?" Sasori tidak dapat menyembunyikan kegusarannya. Walau bagaimanapun, ia menurut dan duduk di hadapan Neneknya.

Nenek Chiyo tidak menjawab, alih-alih menuangkan teh yang sudah dibuatnya. Sasori baru menyadari, ada tiga gelas dalam ruangan itu. Tidak biasanya Nenek Chiyo mengundang orang asing dalam acara minum tehnya. Wanita berumur itu sangat pemilih dalam menentukan siapa-siapa yang boleh ikut dalam acara minum tehnya.

"Ada siapa, Nek?" Tanya Sasori penasaran. Nenek Chiyo masih tak menjawab, kali ini mengaduk pelan teh dalam gelasnya sendiri. Pintu geser terbuka lagi, kali ini pertanyaan Sasori terjawab. Seorang gadis dengan koper di tangannya melambai penuh semangat pada keduanya, senyumnya mengembang.

"Aku pulang!" Sasori tidak mungkin melupakan rambut biru dan hiasan bunga mawar yang senantiasa tersemat di rambut gadis itu, walau bagaimanapun bajunya menunjukkan ia turis dari barat.

"…KONAN?!"

-.-.-.-

Sakura pulang dengan perasaan tak keruan. Di bibirnya masih terasa sentuhan bibir Sasori, dan tidak mudah melupakan rasa itu. Saat ia sampai di gerbang Uchiha mansion, malam sudah turun. Ia jelas terlambat pulang, Saat di taksi tadi ia baru menyadari ponselnya tidak ada lagi, mungkin tertinggal. Sasuke pasti akan marah padanya…

"Aku pulang…" dengan hati-hati Sakura membuka pintu depan, menunggu kemarahan Sasuke datang.

"…dari mana saja kau?" Sakura tidak berani mendongak saat mendengar suara itu. Ada sisa-sisa kemarahan dalam nada yang selalu monoton itu. "Kau tahu ini jam berapa?" jantung Sakura berdegup kencang saat suara itu semakin mendekat. Apa Sasuke akan marah padanya seperti dulu, saat Sasuke masih membencinya?

"Sakura-" sebelum Sasuke sempat mengatakan apapun lagi, Sakura melompat memeluknya. Kontan saja Sasuke terjatuh, dengan gadis itu diatasnya, memeluknya seakan hidupnya tergantung pada Sasuke.

"Jangan marah padaku." Bisik Sakura setengah terisak, menenggelamkan kepalanya di dada pria itu. Sasuke tidak menjawabnya, tangannya bergerak ke punggung Sakura, mengelusnya dengan canggung.

"Aku tidak marah…" Sakura mengeratkan pelukannya pada Sasuke, berusaha sekuat tenaga melupakan apa yang terjadi hari ini. "kau… membuatku khawatir."

Sakura bangun dari posisinya, menatap tak percaya pada Sasuke yang memalingkan wajah. Rona kemerahan terlihat sejenak di wajah tampan pria itu. Sakura tidak tahu apa yang merasukinya, tapi saat ia sadar, tangannya sudah bergerak meraih wajah Sasuke; dan detik berikutnya bibir mereka bersentuhan.

"…kau habis makan es krim?" Tanya Sasuke pelan, menyisakan jarak antara mereka. Sakura mengangguk, mencoba mencium Sasuke lagi, tapi pria itu memegang bahunya dengan tegas. "kau tahu aku tidak suka makanan manis."

Sakura tahu. Tapi penolakan itu terdengar seolah-olah Sasuke baru saja mengetahui bahwa ia berciuman dengan pria lain. Ciuman. Dengan pria lain. Pikiran itu membuat Sakura semakin marah dengan dirinya sendiri.

"Ada yang ingin kubicarakan-" lagi-lagi Sakura memutus ucapan Sasuke, mendorong pria itu dalam sebuah ciuman yang panjang dan menuntut. Yang ada dipikiran Sakura cuma satu; mengenyahkan ingatan dan rasa saat bibir Sasori menciumnya, saat lidah Sasorinya menyentuhnya…

"Sakura-" Sakura tidak menghiraukan panggilan tegas Sasuke. Untuk sekali saja ia yang memegang kendali. Untuk sekali saja… Sakura meringis dalam hatinya. Kenapa ia masih bisa merasakan manisnya es krim cokelat yang dimakan Sasori? Kenapa rekam mata Sasori yang besar menatapnya, lekukan bibirnya, masih terpatri dalam ingatannya?

"Sakura." Sasuke mendorongnya sekali lagi, benang saliva tercipta diantara keduanya. Sakura tidak menyadari ia sudah kehabisan nafas karena tak mau melepaskan bibri mereka. Mata hitam Sasuke menyelusuk jauh ke dalam pikiran Sakura. "ada apa denganmu?"

Sakura ingin menjawab. Ia ingin berkata jujur, ia ingin Sasuke menghapuskan memori itu dalam ingatannya. Ia ingin mengingat pria dihadapannya. Ia ingin mengingat ciumannya dengan Sasuke. Walaupun ciumannya dengan Sasori hanya sebuah ketidaksengajaan… tapi ia tak bisa melupakannya. Rasa bersalah yang luar biasa menusuk hatinya, detik berikutnya Sakura bisa merasakan air mata jatuh di pipinya.

Sasuke bingung, tentu saja. Gadis itu pulang terlambat, tak bisa dihubungi, dan tiba-tiba saja menyerangnya seperti ini. Saat ia menghentikan ciuman-ciuman yang sejujurnya membuatnya menggila itu, Sakura malah menangis. Padahal ia ingin bicara dengan Sakura mengenai telepon-telepon sialan itu, mengenai Itachi yang menghilang tanpa kabar… dan perihal ia harus pergi malam ini.

Tapi melihat gadis itu terisak di hadapannya, Sasuke mengurungkan niatnya. Dengan perlahan, Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya. Isakan Sakura semakin kencang, gadis itu menarik kausnya, seolah-olah kedekatan mereka belum cukup. Sasuke khawatir, banyak pikiran yang lalu lalang di kepalanya saat ini. Bukan hal yang biasa menemukan Sakura menangis begitu saja di pelukannya. Apa hal buruk terjadi padanya?

Jika memang Sakura tak ingin mengatakan apa yang terjadi… mungkin memang hal itu lebih baik tidak kuketahui, pikir Sasuke mencoba bijaksana. Ia membiarkan Sakura menangis di pelukannya, mengelus punggungnya dengan hati-hati sebagai upaya untuk menenangkannya.

"Kau baik-baik saja?" Sakura mengangguk lemah setelah tangisnya berhenti. Ia menarik nafas panjang, menatap pria di hadapannya yang selama beberapa menit terakhir sudah berusaha menenangkannya. Jauh di lubuk hatinya, rasa bersalah itu makin kentara. Sasuke yang selama ini dipikirnya dingin, ternyata mampu meperlakukan seseorang sehangat ini.

"Maaf." Gumam Sakura pelan, saat ini pasti ia terlihat sangat jelek di mata Sasuke. Sakura tahu, menangis di depan seorang pria, terutama pria yang setengah mati kau sukai, bukankah hal yang pantas dicoba oleh perempuan manapun.

Sasuke menatapnya lamat-lamat, semakin lama Sakura semakin merasa bersalah. Sesaat kemudian Sasuke bangkit, mengulurkan tangan padanya.

"Kau belum makan malam, kan? Aku akan pesan sesuatu," alih-alih menjabat uluran tangan Sasuke, Sakura bangun dan memeluknya.

"Sasuke… kau tahu aku menyukaimu, kan?" bisik Sakura lirih. Sasuke, masih belum terbiasa kalau ada gadis yang memeluknya duluan, menjawab sama lirihnya.

"Kenapa kau tanyakan hal itu…" bagi Sakura yang sudah mengenal Sasuke sejak lama, jawaban itu sudah cukup untuk mengatakan 'ya'. Sakura meletakkan kepalanya yang berat di bahu Sasuke, menghirup dalam-dalam wangi maskulin pria itu. Kami-sama… jika Sasuke sampai tahu dan meninggalkanku… aku tak tahu apa aku bisa hidup tanpa pria ini.

"Dan kau janji tidak akan meninggalkanku…?" Kali ini Sasuke terdiam, tangannya memeluk Sakura, membisikkan pertanyaan yang sama;

"Menurutmu?" pertanyaan itu menggelitik telinga Sakura.

"Tidak akan pernah." Jawab Sakura, setengah berharap.

"Hn. Kau aneh hari ini," gumam Sasuke dengan nada sarkasnya yang sama. Sakura tersenyum kecil. Ya, aku tak mungkin sanggup kehilangan pria ini. Apapun yang terjadi.

"…Itu karena aku benar-benar sayang padamu."

Dan karena aku berbohong padamu.

Oh Kami-sama, maafkan aku.

-.-.-.-

Ino tidak seutuhnya menikmati runway kali ini. Gara-gara si Nara itu, seenaknya menghilang berhari-hari sekarang meneleponnya. Memangnya dia ini tukang pizza yang bisa dihubungi saat butuh saja?

Ino masih ingat percakapan tadi;

"…Shikamaru?"

"Ya, ini aku… memangnya kau mengangkat telepon tanpa melihat caller ID?" selalu saja, si jenius Nara itu seenaknya menyimpulkan, pikir Ino gemas.

"A-ada apa kau meneleponku? Selama ini kau tak pernah menjawab teleponku." Ada hening sebentar, lalu Shikamaru berdehem

"Hm… ada hal-hal yang tidak bisa dimengerti, oleh jenius sekalipun." Ino mengernyitkan dahi, apa dia repot-repot menelepon hanya untuk menguliahi tentang biologi molecular? "dan karenanya… aku minta maaf."

Ino tertegun. Lalu buru-buru menjawab. "Minta maaf untuk apa? Kau tahu… kau tak punya kewajiban untuk menjawab teleponku." Ino menelan ludah.

"Yah, aku berpikir siapa tahu kau mau pergi denganku membeli papan shogi lain… papan shogiku diambil ayah." Jawab Shikamaru jujur. "dan tampaknya beliau ingin aku mengajakmu ke pameran lagi." Di belakang Shikamaru, Ino bisa mendengar Shikaku berbisik agar namanya tidak disebutkan.

Ino baru saja akan menjawab saat Deidara memanggilnya.

"Akan kuhubungi nanti, Nara. Sampai jumpa." Ino memutuskan panggilan tepat saat Deidara berada di sampingnya.

Satu-dua jam berlalu dan pikiran Ino masih melonjak dengan senang atas ajakan kencan Shikamaru. Ia tak sabar menceritakan ini ke Sakura. Biarpun hanya jalan sebagai teman… tetap saja ini sebuah langkah awal!

"Ino, kau melamun," Ino kaget, baru menyadari Deidara sudah duduk di sampingnya lagi. "kau mau ke backstage?" pertunjukan sudah usai dan biasanya Ino langsung lari ke belakang panggung mengejar para desainer ternama itu. Ino yakin ia akan berkiprah di bidang seni, dan ia ingin meluaskan jaringan seluas mungkin. Para desainer Jepang sudah mengenal si cantik berambut pirang itu.

"Entahlah… ini sudah malam, kurasa aku akan pulang," jawab Ino sopan. Backstage tentu kesempatan besar, tapi entah mengapa pikiran menghabiskan malam lebih lama dengan Deidara tidak terasa menyenangkan.

"Kau mau kuantar?"

"Tidak, terimakasih." Deidara menatap gadis berambut pirang panjang itu, sesaat kemudian mengejarnya.

"Ino!" Ino menoleh, di bawah lampu yang menerangi mereka, mata hitam Deidara tampak berkilat karena cahaya. Ino baru menyadari, di bawah lampu, betapa ia merindukan sosok berbalut jas itu. Terakhir kali ia menatap Deidara seperti ini, itu dua tahun yang lalu, saat symposium malam penganugerahan SMP. Pria itu memainkan lagu yang digubahnya untuk Ino sepanjang malam… rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu.

"Terimakasih sudah datang." Ino membalasnya dengan anggukan kecil. "Walaupun kau tidak menikmatinya…" Deidara mengepalkan tangannya, berusaha tersenyum. "Aku senang kau tidak mengacuhkanku lagi."

Ino terdiam. Pria ini, sudah susah payah meminta maaf padanya. Sudah susah payah membuatnya tersenyum. Ino tahu, tiket pertunjukan akbar ini tentu tidak murah, walau sebagai pengisi acara sekalipun.

Tapi kini pertanyaannya, siapkan ia membuka kembali buku yang telah ditutupnya?

Sebuah pesan teks masuk ke ponselnya yang bergetar dalam genggamannya. Ino membacanya dengan cepat;

Tampaknya rencana kita tak jadi. Maaf.

-Shikamaru

Ino menggigit bibir, mencoba mengendalikan kekecewaannya. Ia berpaling menatap Deidara. "Aku berubah pikiran. Kau masih mau mengantarkanku pulang?"

Di pojok panggung, di tempat yang tak terlihat mereka berdua, Shikamaru Nara menggenggam ponselnya. Matanya menatap tajam keduanya.

"Bodoh. Sekali lihat juga tahu… kalian masih saling mencintai." Gumamnya, memasukkan ponsel ke kantungnya dan menghela nafas panjnag. Padahal ia jauh-jauh ke sini untuk mengantarkan Ino pulang, setelah mencari informasi tentang keberadaan gadis itu.

Yah, Shikamaru Nara bukan petaruh. Ia tak tahu apa yang dirasakannya pada gadis itu… tapi jika ada pria lain yang lebih yakin akan perasaannya pada Ino, maka sudah saatnya bagi Shikamaru untuk mundur teratur.

"Perasaan yang menyebalkan…" gumamnya lirih sebelum beranjak pergi.

-.-.-.-

"Kau tampak seperti cowok yang ditolak habis-habisan." Sasori melempar pandangan kesal pada sahabat sedari kecilnya di pojok ruangan.

"Kau ini… kemarin kirim sms keluhan soal cyber bullying, sekarang sudah tiba di Jepang. Sesekali bersikap seperti orang normal apa susahnya sih?" gerutunya sambil berbalik. Saking dekatnya mereka, Nenek Chiyo tak masalah (memaksa) menempatkan Konan di kamar Sasori. Karena keluarga Akasuna benar-benar tradisionil, mereka masih menggunakan kasur lipat yang digelar diatas tatami.

"Kalau semua orang jadi normal, nanti dunia jadi membosankan." Balas Konan. Sasori menghela nafas dan bangun dari kasurnya, menghadap Konan yang asik mengupload artikel terbaru ke blognya.

"Kau masih menulis? Tidak bosan dicerca orang-orang itu?"

"Kau tidak bosan ditolak?" Sasori mengirim pandangan membunuh pada Konan yang disambut gelak tawa si penganut liberal. "aku serius soal itu. Kita pasti merasakan ditolak, dicerca, jatuh berulang kali walaupun kita sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi itu tidak lantas menjadikan kita berhenti menyukai atau melakukan sesuatu, bukan?"

Sasori mengangguk-angguk. Seketika ia teringat pada kejadian hari ini dengan Sakura, dan rasa bersalah kembali memenuhi pikirannya. Sasori menghela nafas panjang sekali lagi, menarik perhatian Konan.

"Kau masih dengan gadis itu? Sakura?"

"Makin buruk. Tunggu, sejak kapan aku cerita padamu soal Sakura?" Sasori mengangkat satu alis. Konan terkekeh.

"Anggap saja saat kau mandi tadi aku tak sengaja baca tulisan-tulisanmu di laptop…" satu bantal yang dilempar Sasori ditampik oleh laptop Konan. "eits, bukan salahku membiarkan laptop tanpa password."

"Itu pelanggaran privasi! Astaga, lebih lama lagi kau di sini bisa-bisa aku tidak tenang walau hanya untuk tidur." Walaupun kesal, tetap saja Sasori terkekeh. Teman masa kecil yang pandai ini memang isengnya luar biasa. Biarpun begitu, tidak ada yang bisa mengalahkan idealisme gadis liberal ini. Konan adalah gadis yang menikah dengan kebebasan. Satu hal yang dikagumi Sasori darinya; kemampuannya untuk bicara jujur sesuai waktu dan tempat.

"Tenang, aku cuma sebentar di sini. Besok juga pulang kok."

"Pulang? Kembali ke Amerika?" Tanya Sasori bingung. Baru sampai masa sudah mau pergi lagi? Konan tersenyum tipis dan menutup laptopnya.

"Pulang ke Kyoto… aku akan kembali lagi ke sini." Sudah jelas liburan kali ini akan jadi neraka bagi Sasori.

-.-.-.-

Sasuke terbangun keesokan harinya dengan bau yang sangat dikenalnya; sup tomat. Dengan mata yang masih mengantuk, Sasuke menyibak selimutnya. Tunggu… seingatnya kemarin ia tertidur di kasur sambil membaca laporan proyek… tanpa selimut.

Saat turun ke lantai bawah, Sasuke menemukan Sakura yang sedang sibuk mengaduk panci di depannya. Entah kenapa, pemandangan itu menimbulkan sesuatu yang lain dalam diri Sasuke. Tangannya terulur untuk meraih gadis itu dalam pelukannya, tapi ia menahannya. Sampai masalah telepon sialan dan Itachi selesai, ia baru bisa menikmati hidupnya. Sampai saat itu, semua masih abu-abu. Sesuatu yang tidak menyenangkan mungkin terjadi. Dan ia bisa kehilangan gadis ini.

"Sakura," yang dipanggil menoleh, tersenyum padanya sambil mengucapkan selamat pagi. Sasuke membalas seadanya, mengambil tempat di meja makan. "kau… ke kamarku pagi ini?"

"Hanya sebentar…"

"Kau bisa tidur di kamarku, kau tahu." Sakura menjawab dalam hati; aku tahu, tapi bagaimana aku bisa menatap wajahmu saat tidur kalau tahu aku berbohong padamu? Tanpa menyuarakan isi hatinya, Sakura mulai menuangkan sarapan mereka. Selepas ujian nasional, liburan di depan mata. Kini tinggal berusaha untuk perguruan tinggi yang mereka inginkan. Tapi Sakura butuh uang untuk hal itu, dan Itachi benar-benar menghilang. Ia merindukan sosok kakak yang selalu bisa jadi tempatnya berteduh itu.

"Kau memikirkan sesuatu lagi," Sasuke menyadarkannya dari lamunan. Sakura hanya tertawa hambar, berusaha menyembunyikan semua pikirannya. Tawanya berhenti saat tangan Sasuke menyentuhnya diatas meja.

"Sasuke…?"

"Kau bisa menceritakannya padaku." Sakura tersenyum. Ia masih mengingat hal yang sama yang dikatakannya pada Sasuke saat di bis beberapa waktu lalu. Ia bisa jadi sandaran Sasuke, memangku sebagian beban pria itu. Dan kini, Sasuke menawarkan hal yang sama padanya.

Sakura balik meremas tangan Sasuke, tersenyum dari lubuk hatinya.

"Tentu."

Tapi aku tak bisa kehilanganmu. Tidak, tidak akan pernah bisa.

-.-.-.-

Biarpun sekolah libur, bisnis tak akan pernah tidur. Tidur sejam dua jam adalah hal yang biasa bagi Sasuke Uchiha. Pagi ini setelah sarapan ia langsung berangkat lagi ke kantor, menyelesaikan tender proyek yang kemarin dibacanya sampai malam. Telepon sial itu tidak bordering sepanjang malam. Ada dua kemungkinan; si penelepon akhirnya berhenti menganggunya atau akan ada kejutan yang jatuh lebih tidak menyenangkan daripada telepon.

Sasuke tidak pernah berpikir ia akan bertemu yang kedua. Ini masih pagi, tapi dunia selalu punya cara yang lucu untuk mengagetkannya.

"Pagi, Sasuke-kun~" baru saja ia membuka pintu, Karin sudah melempar diri ke pelukannya, bergelayut manja. Rasanya kepala Sasuke berdenging karena overdosis kafein dan kehadiran Karin menimbulkan kontraindikasi.

"Aku sudah berusaha menahannya ke sini, tapi kau kan tahu dia bagaimana." Suigetsu terkekeh dari ujung mejanya, tertawa pasrah. Sasuke mengingatkan diri untuk memecat siapapun staff yang mengizinkan mereka memasuki kantornya. Lain kali ia harus membawa pulang kunci seluruh kantor agar tidak lagi kecolongan seperti ini.

"Apa maumu, Karin?" seru Sasuke gusar, berusaha menjauhkan Karin yang menempel padanya.

"Uhm… aku mau banyak hal darimu, Sasuke-kun… tapi saat ini aku hanya ingin satu hal…" Karin melepaskan tangan Sasuke dan merogoh kantung celana pendeknya, mengeluarkana amplop putih.

"Apa ini?" Sasuke menerimanya, tapi tak membukanya.

"Buka saja… kau akan terkejut. Ada hal lain yang harus kuurus, Sasuke-kun… kau tahu nomor teleponku." Karin melambaikan kuku-kuku panjangnya yang dicat merah menyala dan keluar kantor.

"Sekedar pengingat, Sasuke… kau tahu mana yang harus kau percayai." Suigetsu menepuk bahu Sasuke dan ikut keluar. Kantornya sekali lagi jadi tempat yang tenang, tapi dalam diri Sasuke, kekhawatiran berkecamuk.

Sasuke membuka isi amplop itu dan terdiam.

Kekhawatirannya jadi nyata.

-.-.-.-

A/N : ...baru update ._.

Gomen ne, minna… sebulan kemarin menyiapkan masa transisi dari anak SMA ingusan jadi (calon) mahasiswa hehe… sebulannya lagi kena writer block -_- lumayan, chap ini bisa dapet 4000 kata. Okee di chapter ini dijelasin masalah Ino-Deidara. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa isi amplopnya? Gimana Sasu-saku-saso? Apa yang sebenanya terjadi dengan Itachi? Tunggu (dan review dulu biar dapet) chapter selanjutnya~

Mari balas review untuk para reviewer yang baik!

sasusaku kira : iya rumit, saya sendiri kena writer block kayanya ._. tapi outlinenya cerita ini udah selesai kok hehe bersabar beberapa chapter lagi ya, nanti kejawab semua hehe

chibiusa : di chap yang ini sudah ada kok hehe

Lhylia Kiryu : iya, kadang saya juga malas log in kalau lg baca lewat hp hehe… penasaran? Tunggu chap selanjutnya… ada Itachi disana XD

Uchiha Karen : uwaaa iya Itachi dan Hinata sikapnya bikin greget haha makasih ya, ini sudah update XD

Beky : loh memang hinatanya kenapa? iyaa, Sakuranya gay akin sama Sasuke, soalnya Sasukenya dingin sih hihihi, tapi di chap ini udah ditunjukin kok kalau Sasuke sebenernya peduli

Login 2 post as urself : makasih, reviewnya dapet cendol deh hehe. Semoga ga bosen yaa

NE : iya nih, Sakuranya ga yakin sama Sasuke gitu… tapi di sini dia udah yakin lagi kok hehe. Iya makasih reviewnya ya

Harmony-chan : gomen baru update T_T makasih banyak ya reviewnya hehe

Summer : iyaa, gomen ya baru update

Sakunan desu : *gulingguling juga* uwaa suka sama reviewmu makasih yaa wah asik, banyak yang penasaran sama Itachi hehe

Kyky : iyaa, di chap ini Sakura udah nyesel kok hehe

Sebagai ganti telat update, saya akan coba bikin chap berikutnya dalam waktu dekat. Mohon reviewnya ya… Terimakasih banyak!

Salam sayang, author yang lagi deg-degan nunggu ospek

-Phy