"Who am I to say you love me? I don't know anything at all…"

-Hope, who I am to say

-.-.-.-

EMPAT BELAS

Cukup.

Tsunade memutuskan, menyudahi susunan pendataan di hadapannya. Kertas-kertas berserakan di meja pemegang kekuasaan tertinggi KHS itu. Semua data dari sejak mereka masuk hingga tinggal menunggu pengumuman kelulusan dari pemerintah pusat sudah terhimpun. Jurusan yang mereka inginkan, Universitas yang mereka tuju…

Tsunade mengernyit menatap tabel di hadapannya. Beberapa siswa KHS pintar mendekati jenius. Beberapa siswa jenius mendekati gila. Dulu sekali, saat kakeknya Hashirama memimpin KHS, teman seangkatan Tsunade, Orochimaru adalah siswa paling pandai saat itu. Namun ia memilih jalan yang salah, membantu teroris dalam peledakan bom yang tak ayal menggiringnya masuk penjara hingga saat ini.

Tsunade paham siswa-siswanya unik. Terutama kelas akselerasi angkatan yang baru ini. Rookie nine, para guru menyebutnya. Kumpulan anak-anak unik berbakat yang tingkah polahnya bisa dibilang tidak normal. Contohnya Naruto yang menyabet berbagai kejuaraan altetik maupun permainan bola sama seringnya dengan frekuensinya remedial ulangan fisika. Shikamaru, pemegang tunggal peringkat satu KHS, absensinya nyaris kosong. Entah dia memang malas masuk atau ketiduran saat absensi, Tsunade tidak tahu. Ino, si cantik yang relatif stabil nilai-nilainya. Tapi frekuensinya keluar masuk ruang BK karena kedapatan membawa make-up berlebihan patut dikhawatirkan.

Tarikan nafas panjang keluar dari bibir Tsunade saat menatap dua data di hadapannya. Sasuke Uchiha dan Sakura Haruno. Tsunade tahu betul apa yang terjadi dengan orang tua mereka. Belakangan ini, Itachi sama sekali tak bisa dihubungi. Padahal Universitas besar di Tokyo sudah membuka gerbangnya untuk para freshgraduate. Sasuke jelas sudah menentukan minatnya di bisnis, dan Tsunade yakin tak ada satu hal pun yang bisa menghalanginya masuk Universitas bisnis ternama dimanapun. Kepandaian dan kekuasaan Uchiha yang dimilki pria muda itu tak terbatas.

Sakura-lah yang dikhawatirkannya. Jurusan yang ditulis, dan nama Universitas yang ditujunya membuat Tsunade mengerutkan kening. Sudahkan Sakura bicara dengan wali-nya, Itachi Uchiha? Karena pria itu seperti menghilang di telan bumi.

"Tsunade-sama, ada tamu, ini mendesak…" Shizune mengetuk pintu ruang kerjanya. Mata sewarna madu Tsunade menatap jam dinding di seberang meja. Pukul 5 pagi. Hanya Shizune, si asisten yang setia yang bangun dan bekerja sepagi ini. Siapa pula yang punya urusan mendesak jam segini?

"Hm, biarkan dia masuk." Tsunade menumpuk berkas-berkas, meletakkan data Sakura paling atas di sudut mejanya. Tsunade memandang sekilas form data tersebut, berharap ada waktu secepatnya untuk mengurusnya. Matanya menyisir tulisan tangan Sakura pada form data tersebut, disamping nilai-nilai istimewa yang sudah diperolehnya;

Jurusan yang dituju : Pendidikan Dokter

Universitas yang dituju : Universitas Tokyo

Butuh lebih dari sekedar kepandaian dan keberuntungan untuk bisa masuk ke sana. Tsunade mendesah. Semoga Itachi segera bisa dihubungi…

-.-.-.-

"Naruto-kun!" Hinata berseru pelan, antara panik dan geli.

Naruto susah payah berjalan dengan dua kaki disepanjang koridor Rumah Sakit. Barusan pria itu limbung dan Hinata segera menangkapnya, namun dengan isengnya Naruto mengambil kesempatan itu untuk mencium pipi kekasihnya. Kontan saja Hinata melepaskan pegangannya dan Naruto benar-benar terjatuh.

Pria muda berambut pirang itu hanya terkekeh, mencoba bangun dengan susah payah. Seharusnya kakinya masih harus diistirahatkan, tapi pemuda hiperaktif itu sudah merasa terlalu lama terkungkung di kamarnya dan memaksa untuk jalan-jalan keluar. Pagi ini Hinata datang untuk menemaninya terapi di sayap kanan rumah sakit.

"J-jangan memaksakan diri…" Hinata berseru khawatir, menilik dari cedera kaki yang dialami Naruto. Pria itu baru bed rest dua hari, kalau ketahuan Tsunade, pasti Naruto kena marah lagi.

"Lebih lama lagi aku di kamar, bisa-bisa aku karatan Hinata-chan."

"K-kuambilkan kursi roda-" Tangan Naruto menggenggam Hinata, melarangnya untuk pergi.

"Sudah, di sini saja. Temani aku berjalan." Senyum yang sehangat matahari itu selalu mampu melelehkan hati Hinata. "lagipula sudah lama kan kita tidak jalan bersama? Uhm… terakhir kali sebelum ujian akhir?"

Wajah Hinata memerah. Belakangan ini banyak yang terjadi, sejak kedatangan Itachi itu, rasanya seperti ada jarak diantara dirinya dan Naruto. Hinata jadi sering melewatkan latihan Naruto, tak bisa menemaninya pulang bersama, atau hanya sekedar jalan-jalan. Karena setiap pamit pada Hiashi, Hinata bilang ia akan menemui Naruto. Kuping Hinata semakin panas mengingat kebohongan-kebohongan yang selama ini dilakukannya.

Ia merasa bersalah, tentu saja. Rasa bersalah itu sampai pada puncaknya saat Naruto cedera di pertandingan lalu. Hinata Hyuuga berjanji untuk menebus kesalahan-kesalahannya.

"Maaf ya, aku tak sempat mengajakmu kemana-mana karena sibuk latihan dan belajar… kau tahu aku tidak sepintar kau, Hinata-chan." Hinata menggeleng cepat. Ia senang sebetulnya, karena tidak harus membohongi Naruto jika Naruto mengajaknya kencan saat ia harus menemani Itachi. Cukup hanya berbohong pada Hiashi. Mana mampu Hinata berbohong pada Naruto?

"Tidak apa."

Naruto tampak berpikir sebentar, menatap langit-langit lalu berpaling pada Hinata. "Kau benar-benar akan meneruskan ke Universitas Tokyo bersamaku? Yah… kau tahu, kau bisa lebih berkembang di luar negeri sana…"

Hinata menatap mata biru cerulean Naruto. "Aku yakin." Jawabnya lembut, nyaris berbisik. Sejujurnya, ini adalah keputusan ayahnya. Hinata tahu diri, tak sepantasnya ia mempertanyakan keputusan ayahnya. Sudah saatnya ia mengemban tanggungjawab sebagai penerus klan Hyuuga.

"Yah, aku heran saja. Kau memilih bisnis, padahal kau menyukai bidang yang lain…" Naruto berhenti berjalan, menatapnya. "kau yang memutuskan ini sendiri kan, Hinata-chan, bukan ayahmu?"

Kini pandangan Naruto terasa menyelidik, menatap jauh ke dalam diri Hinata. Pertanyaan itu mengusik Hinata lagi; bisakah ia berbohong demi kebaikan pada pria yang amat dicintainya ini?

"Aku-"

"Naruto? Hinata?" keduanya menoleh pada sosok yang baru saja menyambangi mereka. Tinggi, kurus dan selalu tampak lelah, Itachi Uchiha tersenyum pada keduanya. "selamat pagi."

"Yo, Itachi-nii! Tak kukira bertemu lagi di sini. Ada urusan apa?" Tanya Naruto bersemangat. Hinata menghela nafas lega, merasa tertolong dengan kedatangan Itachi. Itachi menatap ke langit-langit, tampak berpikir sebentar lalu tersenyum.

"Menjenguk teman lama. Bagaimana kakimu, Naruto?"

"Sebaik yang kau lihat, hehe. Tsunade-baachan terlalu membesarkan masalah," cibir Naruto. "aku mau ke klinik terapi di pojok sana, kau ikut?" Pandangan Itachi berlabuh ke Hinata, yang secara reflek menunduk. Ia masih tak terbiasa ditatap pria lain selain Naruto.

"Waktuku luang. Aku ikut." Suara baritone khas Itachi menjawab perlahan. Ketiganya berjalan dalam diam menuju pojok koridor.

"Tunggu saja di luar, hanya sebentar kok." Naruto melempar senyum khasnya dan menutup pintu bangsal terapi. Angin pagi yang dingin menyelinap dari jendela di koridor, membuat Hinata harus memegang rambut panjangnya agar tidak berantakan tertiup angin.

"…itu bukan pilihanmu, kan?" Hinata mendongak, menatap Itachi di seberangnya. Senyum getir menghiasi wajah pemilik mata lavender itu, lalu menggeleng pelan. "kenapa?"

Hinata berjalan ke jendela yang terbuka, membiarkan angin meniup rambutnya. Di bawah sana, anak-anak kecil sedang bermain di taman rumah sakit. Orang tuanya duduk di bawah pohon rindang, saling bertukar kabar tentang keluarga mereka yang dirawat.

"Aku ingin jadi guru." Ucapnya pelan. "memperbaiki sistem pendidikan yang bermasalah… melihat anak-anak itu tumbuh besar." Itachi mengamatinya dalam diam.

"Tapi tidak selalu apa yang kita inginkan adalah yang terbaik untuk kita." Itachi mendekatinya, berdiri di belakang Hinata. "Itu kan yang ingin kau tekankan?" Hinata mengangguk tanpa menoleh.

"Ilmu tetap ilmu, dimanapun itu." Ujar Hinata pelan, meyakinkan dirinya sendiri. "lagipula aku tetap bisa mengejar impian itu, suatu saat nanti..."

"Aku bisa meyakinkan Hiashi untuk mengizinkanmu mengejar impianmu." Bisik Itachi, di samping telinga Hinata. Hinata berputar sangat cepat, baru menyadari kalau rambutnya tersangkut di kancing Itachi. Kami-sama, sedekat itukah tadi mereka? Wajah Hinata memerah, berusaha menarik rambutnya.

Itachi menyentuh bahunya, menenangkan usaha gadis itu. Tangannya menyentuh tangan Hinata yang sedang berkutat, perlahan membantu melepaskan untaian rambutnya yang tersangkut.

"Hinata..." Hinata merasakan kejutan listrik yang asing saat tangan dingin Itachi menyentuh tangannya. "…ikutlah denganku ke Amerika." Angin sekali lagi berhembus, membuat rambut panjang indigo Hinata berantakan tertiup angin, seperti tirai ungu di sekeliling Itachi.

"Maaf lama." Hinata tersentak, serta merta mendorong Itachi menjauh. Hinata menunduk, menyembunyikan rona merah agar tak terlihat Naruto.

"Aku ke toilet dulu. Sampai jumpa di kamarmu, Naruto-kun!" serunya cepat, langsung berlari pergi tanpa menoleh sekalipun. Itachi menatap punggungnya sampai menghilang di belokan.

"Dia pacarku." Itachi menoleh, mendapati Naruto menatapnya dengan kemarahan yang belum pernah Itachi lihat. "aku yakin kau seharusnya tahu batasnya, Itachi-nii."

Tanpa mendengar jawaban Itachi, Naruto melengos pergi. Itachi bisa melihat gips yang disembunyikan Naruto di bawah piyamanya yang menggelembung. Dokter di terapi tidak melihat perkembangan, malah memberikan gips baru. Artinya, keadaan pemuda itu memburuk dan ia berusaha untuk menyembunyikannya.

-.-.-.-

Sasuke tidak pulang. Lagi.

Setiap kali Sasuke tidak pulang, itu menambah kecemasan Sakura. Rasanya hatinya tidak tentram sejak kejadian kemarin, sejak ciuman dengan Sasori itu. Sudah dua hari berturut-turut, tidak ada kabar darinya. Handphone Sasuke aktif, tapi panggilan Sakura tidak dijawab. Juga pesan singkat yang dikirimnya tidak dibalas. Gara-gara handphonenya ketinggalan entah dimana, Sakura jadi harus membeli ponsel baru yang murah, untuk sekedar mengirim pesan singkat pada Sasuke.

Apa Sasuke tahu ia berbohong? Apa Sasuke marah padanya? Apa Sasuke meninggalkannya? Terlalu banyak pikiran negative yang berenang di kepala Sakura. Sakura menghela nafas lesu di meja perpustakaan Uchiha Mansion. Matanya bergerak malas di formulir di sudut meja. Lambang Universitas Tokyo terpampang jelas di kop suratnya. Formulir pendaftaran sudah ada. Sakura menutup matanya lagi, membaringkan kepalanya yang lelah diatas tumpukan bukunya.

Formulir beasiswa juga disertakan, tapi ia tetap butuh tandatangan wali. Itachi masih tak bisa dihubungi. Tadinya Sakura mau minta tolong Sasuke untuk menghubungi ke kantornya di Amerika, karena Sakura tak tahu nomornya. Formulir itu harus dikumpulkan dalam tiga hari. Terhitung dari kemarin. Berarti tinggal dua hari lagi, atau selamat tinggal Universitas Tokyo.

Sakura menghela nafas panjang sekali lagi.

Ujian akhir telah usai, selamat datang hari-hari sibuk mengejar Universitas impian. Sasuke tanpa mendaftarpun, formulir sudah berdatangan memenuhi kotak pos. Institusi ternama berlomba-lomba memiliki penerus kerajaan bisnis Uchiha, setelah prestasi gemilang yang ditorehkan Itachi di Universitas nomor satu dunia.

Gusar dengan keadaannya, Sakura beranjak dari kursinya dan meninggalkan formulir yang belum diisi sama sekali itu, bersama tumpukan buku soal yang belum disentuhnya sama sekali.

Kalau Sasuke marah padanya, kalau Sasuke menjauhinya, Sakura lah yang akan menemuinya.

-.-.-.-

Derit-derit sepatu boots beralas besi yang diseret memenuhi koridor. Ruangan yang tadinya penuh celotehan berbagai narapidana kini sunyi senyap saat Morino Ibiki menyeret tubuh besarnya sepanjang koridor. Para narapidana menahan nafas, mata mereka nyalang menatap pria yang berjalan di sebelah Ibiki. Sudah bukan rahasia, jika Ibiki sampai datang ke sel bawah tanah Konoha, bisa dipastikan ada narapidana tidak beruntung yang akan berpamitan pada dunia.

Anak muda di samping Ibiki itu keras pandangannya. Matanya hitam legam, rambutnya mencuat di belakang. Beberapa narapidana menarik nafas kaget. Itu putra bungsu klan Uchiha yang terkenal. Semua orang di Konoha tahu tentang keluarga naas itu. Beberapa orang kasihan, beberapa orang menghujat. Kematian Nyonya dan Tuan Uchiha selamanya misteri, namun persepsi orang berubah seiring masa.

Bukan hal yang baik kalau sampai putra pewaris kerajaan raksasa bisnis itu berjalan berdampingan dengan komandan pasukan ANBU yang terkenal tanpa belas kasihan. Sekali penjahat, selamanya penjahat. Begitulah hitam putih dunia di mata Morino Ibiki. Mata Ibiki yang tanpa bekas luka melirik sekilas pada pemuda di sampingnya. Tiba-tiba saja Namikaze Minato, rekan sekaligus pemimpinnya saat ini, mengirimkan surat tugas yang menyatakan Uchiha Sasuke berhak untuk menginterogasi seorang narapidana.

Ibiki mengenal Sasuke, tentu saja. Juga pengaruh kuasa anak muda itu. Tapi ada apakah tiba-tiba ia tertarik pada penginterogasian? Narapidana yang dicari juga bukan narapidana berat. Hanya seorang pengacara yang terlibar kasus penipuan dan suap bertahun-tahun lalu. Ibiki sudah bertanya pada Minato, tapi pria itu hanya menjawabnya dengan senyum. Penuh misteri, pikir Ibiki.

"Lima belas menit." Ibiki membuka pintu penjaga, Sasuke melangkah masuk bersama dua penjaga. "kau tahu batasan dalam penginterogasian-"

"Aku tahu." Potong Sasuke pendek. Ibiki hanya menatapnya, mengangguk lalu menutup pintu. Apa yang terjadi di balik pintu sudah bukan urusannya. Yang menjadi urusannya nanti apabila narapidana itu tetap hidup saat Sasuke meninggalkannya atau tidak.

Begitu pintu ditutup, sesosok pria separuh baya menatap dari tempat tidurnya. Ia duduk, membetulkan kacamatanya. Matanya terfokus pada Sasuke.

"Lama tak jumpa, Sasuke." Sasuke tak menjawab, dua penjaga di sampingnya segera mengambil tempat diantara pria paruh baya itu. Mereka menariknya berdiri, membawanya ke hadapan Sasuke. Sasuke menatap pria yang dikenalnya itu.

Pengacara yang mengurus kecelakaan kedua orang tuanya.

"Tujuh tahun yang lalu." Sasuke merogoh kantong jasnya, menarik surat yang diberikan Karin padanya, mengangsurkannya ke depan wajah mantan pengacarannya. "kau berbohong saat menangani kasus kematian orang tuaku."

Sasuke meremas surat itu di hadapannya. Mata hitamnya berkilat mengerikan dalam redupnya ruangan. Suaranya dalam, sinis, seperti kemarahan yang ditahan bertahun-tahun.

"Aku mau tahu alasannya, Kabuto."

Kabuto bisa merasakan bulu kuduknya meremang, begitu mengingat ruangan ini kedap suara.

-.-.-.-

Ino menyeruput kopi latte-nya, majalah remaja perempuan terbuka di hadapannya. Sejak ujian akhir sudah berakhir, Ino jadi punya banyak sekali waktu luang. Belajar untuk masuk Universitas yang diinginkannya tentu jadi prioritas utama. Tapi Ino tahu bagaimana menyeimbangkan antara belajar dan hiburan. Salah satu spot faforitnya adalah café ini. Belajar bisa, duduk-duduk santai pun bisa. Setelah semalaman membabat habis soal-soal, hari ini ia berniat memanjakan diri dengan santai seharian.

"Permisi nona. Ini dari Tuan yang disana," Ino menoleh, melihat pelayan mengantarkan segelas teh hangat. Ino mengernyit, mencoba melihat dari balik tubuh si pelayan, tapi tak menemukan orang yang dikenal.

"Dari siapa?" pelayan wanita itu tersenyum-senyum sendiri.

"Dia bilang anda tahu siapa dia. Permisi." Ino semaki bingung. Secarik kertas terjepit di bawah gelas, bertuliskan; jangan minum kopi terus, tidak baik untuk kesehatan. Ino meraba-raba pikiran, tulisan siapakah ini?

"Hei," Ino mendongak, menyadari suara itu. Deidara berdiri di hadapannya, mengulurkan bunga dari punggungnya. "kupikir tidak baik menemui seorang gadis tanpa membawa hadiah." Ujarnya sambil tersenyum.

Ino mau tak mau tersenyum geli. Tadi teh, sekarang bunga? Ada-ada saja pria ini. "Ada apa ingin menemuiku hari ini?"

Deidara duduk di seberangnya, meletakkan bunga di meja Ino. Bunga krisan. Ino mengenali bunga itu dan artinya. Ketulusan. Krisan putih. Sedikit mengernyit, Ino menatap Deidara. Ino tahu betul Deidara tahu makna bunga, mengingat berapa lama mereka pernah pacaran.

"Kau sudah memutuskan mau kuliah dimana?" Tanya Deidara. Ino mengangguk, menyingkirkan gelas kopinya yang sudah kosong dan menatap gelas teh hangat yang baru diantarkan.

"Desain. Universitas Tokyo. Kenapa?" mata baby blue-nya beradu dengan Deidara. Ada sesuatu yang tidak biasa di sana hari ini.

"…aku akan kembali ke Eropa. Aku berpikir… jika kau mau ikut denganku." Ino mengedipkan mata, meyakinkan dirinya ini bukan mimpi. Sesaat kemudian tawa getir keluar dari bibir manisnya.

"Dua tahun yang lalu kau pergi begitu saja, bahkan tanpa pamit. Apa yang membuatmu ingin mengajakku kali ini?"

Tangan Deidara menyentuh tangannya diatas meja. Ino reflex ingin menariknya, tapi mata Deidara menatapnya, memohon untuk mendengarkan. Ino menyerah. Untuk kali ini saja mungkin ia mau mendengar.

"Aku ingin memperbaiki masa lalu, Ino. Semua orang berbuat salah. Aku berbuat salah." Tangan itu menggenggamnya, mengirimka sensasi yang dulu dikenal Ino dengan sangat baik. "tak bisakah kita memperbaikinya? Kau dan aku, sekali lagi?"

Kau dan aku, sekali lagi.

Ino menatap baik-baik pria dihadapannya. Rasa itu masih ada. Pria ini membuatnya tak mampu berpaling sampai bertahun-tahun. Pria ini yang membuatnya mengenal cinta. Dan yang membuatnya sakit hati.

Ino menepis tangan Deidara. "Aku butuh waktu. Kau tidak bisa tiba-tiba datang setelah menghilang dua tahun yang minta maaf begitu saja, Dei."

Deidara menghela nafas panjang. Ia mengeluarkan tiket dari sakunya.

"Aku harus ke sana lusa untuk mengurus kuliahku… aku akan menunggumu di sana." Ino terdiam. Itu tiket pesawat. Deidara benar-benar serius membelikannya tiket pesawat?

"Aku bisa membayar tiketku sendiri, kau tahu-"

"Ino. Aku…" Deidara menggaruk belakang kepalanya. "aku banyak berpikir, sejak aku… pergi. Dan aku tidak bisa mengalihkan pikiranku darimu. Aku ingin…" Deidara menelan ludah, wajahnya bersemu. "…kita bisa ke level selanjutnya."

Jangan bilang pria ini baru saja melamarku.

"Aku harap kau tidak salah mengartikan. Aku hanya… ingin kita lebih serius." Tambah Deidara cepat-cepat. Ino mendesah lega. Baguslah, aku tak perlu menolak lamaran seseorang di café langgananku.

"Uh… aku benar-benar butuh waktu." Ino juga jadi salah tingkat mendengarnya. Ino segera meneguk teh hangat itu, membiarkan kehangatannya melingkupi tenggorokkannya. The earl grey, pilihan yang bagus. "Aku harus pergi sekarang."

"Bawa ini." Deidara mengangsurkan bunga dan tiketnya. Ino mengambilnya dengan ragu-ragu, memasukkan tiketnya dalam tas.

"Terimakasih. Dan juga tehnya." Deidara menatapnya bingung.

"Teh? Bukannya itu pesananmu?" Ino terdiam. Orang lain membelikannya? Orang yang tahu kesukaannya terhadap earl grey? Orang yang tahu ia minum kopi terus belakangan ini? "Ino?"

Ino tersenyum, menepuk dahinya. "Betul. Itu pesananku. Aku lupa. Well, thanks for everything. I… should go now. Talk to you later. Bye."

Ino melambai dan cepat-cepat pergi dari café itu, kakinya berlari ke satu rumah yang dikenalnya. Hanya ada satu pemuda jenius yang tahu jawaban semua pertanyaan tadi.

-.-.-.-

"Naruto-kun?" Hinata melompat dari sofa tempatnya menunggu sedari tadi begitu pintu kamar dibuka. Naruto masuk dan menutup pintu lagi, sedikit tertatih-tatih. Hinata membantunya, tapi ia hanya tersenyum dan menolak bantuan. "bagaimana terapinya? Apa kakimu masih sakit?"

Naruto duduk di tempat tidurnya. Hinata menarik kursi untuk duduk di hadapannya, cemas melihat Naruto yang tidak banyak bicara.

"Hanya terkilir lagi. Makanya diberi gips," ujar Naruto.

"Apakah semakin parah?" Naruto menggeleng. "syukurlah…"

Ada keheningan yang menyusul setelahnya. Hinata merasa canggung. Ia sudah meninggalkan Naruto sendirian dari ruang terapi tadi, karena tidak tahu bagaimana bersikap di dekat Itachi. Wajahnya kembali memanas mengingat tawaran yang tadi diajukan pria yang lebih tua itu. Keheningan diantara mereka terasa tidak enak. Keduanya saling menunduk, tidak saling menatap. Hinata membuka mulut, ingin memecah ketidakenakan ini, namun suara Naruto mendahuluinya.

"Kau memikirkannya?" Hinata mendongak, mata biru Naruto balik menatapnya. Ada emosi tersamarkan di sana. Tidak dapat ditebak. "tawaran Itachi tadi."

Naruto mendengar yang tadi? Mata Hinata membulat. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Hinata mengigit bibirnya, tak yakin mau menjawab apa. Ia menggeleng pelan. Hinata mendengar tarikan nafas dari Naruto.

"Aku tahu semuanya." Hinata mengepalkan tangan di rok panjang birunya. "aku tahu Itachi menghilang dan Sasuke mencarinya. Aku tahu… kamu menungguinya di rumah sakit."

Deg. Seberapa banyak yang Naruto tahu?

"Aku tidak bilang apapun pada Sasuke… Aku tahu kau tahu apa yang terbaik yang harus dilakukan."

Deg. Deg. Rasa panas membanjiri mata Hinata. Hinata menutup matanya, dan air mata jatuh ke pipinya. Ia masih menunduk, belum berani menatap Naruto saat ini.

"Maaf… aku tidak bermaksud-" Naruto menyentuh pipi Hinata, pelan-pelan membawa wajah gadis itu mendekatinya. Diusapnya kedua pipi Hinata, dan perlahan ia menutup jarak diantara mereka.

Bisa dihitung dengan ibu jari berapa kali Naruto pernah menciumnya. Walaupun pacaran sejak masuk SMA, ini ciuman kedua mereka. Hinata menutup matanya, membiarkan sebutir air mata jatuh lagi. Naruto melepaskan pagutan bibir mereka, menatapnya.

Hinata membiarkan kening mereka beradu. Tangannya berpegangan pada kaus Naruto. Hangat nafas mereka saling beradu. Ada emosi tak kasat mata pada ciumannya. Ada yang tidak terkatakan dari caranya memeluk Hinata. Saat Hinata mendekatkan diri padanya, Naruto memberi jarak. Pegangannya pada bahu Hinata menjauhkan gadis itu darinya. Hinata menatapnya bingung. Naruto masih menunduk, menghindari menatap mata Hinata.

"Itachi bisa memberikan lebih dari ini. Aku… tidak bisa." Ujarnya tertahan. "mungkin lebih baik kau menerima tawarannya."

Hinata terdiam. Apa Naruto baru saja mengusirnya?

"Naruto-kun… aku mau bersamamu," ujar Hinata lirih. "gomen-"

Naruto berdiri, menatap ke luar jendela, memunggungi Hinata. Ini pertama kalinya mereka bertengkar tentang sesuatu. "Kalau kau mau putus, kau bisa bilang padaku, kenapa harus menyembunyikannya?"

Naruto berkata begitu mudah, seakan hubungan mereka sebuah benang yang bisa diputus kapanpun. Hinata merasa matanya memanas lagi. Air mata mendesak dari ujung matanya. Hinata menarik nafas panjang. Tangannya yang gemetar mengepal erat.

"Naruto-kun… mencurigai perasaanku." Air mata menetes di pipinya. "sejak kecil… aku selalu mengamatimu… dari jauh… tapi sejak SMP… selalu dan selalu Sakura-chan…"

Naruto menoleh. Hinata, gemetaran, air matanya mengalir di pipinya.

"Kau baru mau menoleh padaku… setelah sekian lama…" Hinata menarik nafas. "tidak ada kata yang bisa kusampaikan padamu selama itu… dan kini Naruto-kun mencurigai perasaanku?"

Kedua pandangan mereka beradu, tapi Hinata sudah tak bisa melihat apa-apa lagi selain sosok pria yang dicintainya menghablur dalam air mata yang memenuhi matanya. Naruto berusaha menggapainya, tapi Hinata sudah berbalik dan menutup pintu dengan cepat. Naruto menunduk, tahu hubungannya dengan Hinata sedang di ujung tanduk.

Satu langkah lagi, semua yang mereka bangun akan jatuh berantakan.

-.-.-.-

Sasuke menuju kantornya dengan cepat, tekanan emosi yang menghimpit di kepalanya masih begitu kentara. Ia merapatkan jasnya, tak peduli staff nya menatapnya dengan tatapan ngeri. Noda darah mengotori bagian depan kemeja putihnya, dengan kepalan tangan kanannya yang masih berbecak darah. Sasuke sendiri tak peduli, darahnya atau darah si bajingan itu. Jaring laba-laba kusut ini perlahan mulai membuka, dan Sasuke tidak yakin ia menyukai apa yang akan ditemukannya.

Bukan suatu kenyataan yang indah.

Sasuke membuka pintu kantornya dengan keras, mengagetkan seorang gadis yang tengah duduk santai di kursi meja kerjanya.

"Sasuke-kun! Kau mengagetkanku," Karin berdiri dan buru-buru menghampiri Sasuke, berjengit setelah melihat noda darah. "kau berdarah?"

"Siapa informanmu?" Tanya Sasuke tanpa basa-basi. Karin memainkan jarinya, tersenyum licik seperti rubah betina.

"Kau sudah menemui mantan pengacaramu? Surat itu menyatakan kebenaran, kan? Hmm?" Sasuke menarik lengan Karin, memaksanya menatap Sasuke.

"Aku tidak akan mengulang pertanyaanku, Karin." Ujung bibi Karin yang dipoles lipstick merah menyala tersenyum melihat emosi yang menguasai Sasuke.

"Sasuke-kun…" suara Karin berubah manja, mendayu-dayu. Jarinya yang dipenuhi kuku bercat merah meraba bagian depan kemeja Sasuke, melonggarkan dasinya. "akan kuberitahu kalau kau mau melakukan pertukaran denganku…"

Sasuke berubah jadi kaku. Segala macam bentuk negoisasi dengan Karin pasti berakhir dengan ketidakbahagiaannya, atau ketidaknyamanannya. Pasti. Gadis berambut merah ini selalu tahu cara membuat Sasuke merasa tidak suka.

Tapi ini tentang masa lalunya. Tentang kecelakaan yang merenggut kedua orang tuanya.

Tentang Sakura.

"Pertukaran apa?" tanpa aba-aba, Karin menarik dasi Sasuke, membuat pemuda itu menunduk dan Karin memanfaatkan itu untuk berjingkat menciumnya.

"…aku mengganggu rupanya." Sasuke kenal suara itu. Ia kontan mundur, mendorong perempuan itu menjauh. Rasanya seperti bibirnya baru ditabrakan dengan bantalan silicon, Sasuke tidak menikmatinya sama sekali. Ia bisa melihat Sakura berdiri di pintu, wajahnya memuucat. "maaf."

Pintu ruangan tertutup, nyaris dibanting. Sasuke bisa merasakan jaring laba-laba itu terjalin lagi, menjadi semakin rumit.

-.-.-.-

Dia menciumnya.

Sasuke mencium Karin.

Kenyataan sialan itu menggema dalam kepala Sakura. Selepas membanting pintu dan berlari ke luar gedung, Sakura masih terus berlari, tidak peduli arahnya kemana.

Sasuke mencium Karin.

Kata-kata itu tak mau berhenti berteriak dalam kepalanya. Terlebih lagi gambaran bagaimana Karin menyentuhnya, menyentuh pria yang dua hari lalu mencium Sakura. Sakura berhenti, mengatur nafas di dadanya yang terasa sesak.

Sasuke mencium Karin!

Sakura terisak, rasanya sesuatu sangat sakit di dalam dadanya. Hujan perlahan turun, gerimis membasahi jalanan. Orang-orang melewatinya, mencari tempat berteduh. Sakura terdiam, menutup mata, membiarkan hujan membaur dengan air matanya. Ia berciuman dengan Sasori kemarin. Mungkin ini cara Sasuke membalasnya.

"Sakura? Kenapa hujan-hujanan?" Sakura membuka mata, melihat Ino menghampirinya dan mengulurkan payungnya. "kau… menangis?"

"…dia menciumnya." Sakura berkata pelan.

"Dia? Siapa?"

"Sasuke mencium Karin." Ino mengerjapkan mata mendengarnya. Ekspresinya tampak seperti campuran antara jengkel dan tidak percaya.

"Oke, aku bisa menemanimu memaki perempuan gatal dan es balok itu sampai hujan reda dan kita berdua sakit, atau kau ke rumahku sekarang dan kita tetap bisa memaki mereka sampai puas ditemani cokelat panas, bagaimana?"

Sakura hanya mengangguk lemah.

"Uhm, Ino…" Sakura berhenti berjalan, rasa sakit memukul-mukul dadanya.

"Ya?" Sakura memegang lengan sahabatnya itu, menahan nafas. Sakura kenal situasi ini. Kondisinya memburuk. Sakitnya kambuh.

"Rumah…sakit."

Dan semua jadi gelap.

-.-.-.-

Sasuke berusaha mengejar Sakura, tapi gadis itu menghilang dengan cepat. Dia dalam situasi yang tidak menguntungkan. Sudah dua hari ini mengurusi masalah tentang misteri kematian orang tuanya, Sasuke lupa meletakkan ponselnya dimana. Karena terlalu sibuk untuk mencari, Sasuke lebih mudah membeli ponsel baru. Untung saja ia hapal nomor Sakura, dengan cepat Sasuke mendial nomor ponsel gadis itu.

Nada sambung terdengar. Berikutnya terdengar jawaban.

"Sakura?" anehnya, yang menjawab adalah laki-laki.

"Ya, ini ponsel Sakura. Nomor siapa ini ya?" Tanya laki-laki di seberang. Sasuke terdiam. Ada kekhawatiran yang tidak mengenakkan tentang ini.

"…ini Shikamaru." Jawab Sasuke, mengetes si penerima.

"Shika? Kau ganti nomor?"

"Ini siapa?" Tanya Sasuke.

"Ini aku… Sasori." Hati Sasuke benar-benar mencelos.

"…mana Sakura?"

"Oh, itu. Ponselnya tertinggal saat kencan denganku kemarin…"

"Kemarin?"

"Iya, setelah pertandingan. Hei, aku tidak melihatmu di pertandingan ngomong-ngomong…" ucapan Sasori sudah terputus. Sasuke memasukkan ponselnya ke kantung jasnya, siap memacu kendaraannya di jalanan licin.

Jadi itu alasan dia pulang terlambat. Sasuke memasuki mobil sportnya, menekan gas kuat-kuat. Derum mobil mahal itu memenuhi lapangan parkir. Kencan dengan Sasori… Sasuke menarik persneling, memasang gigi berkecepatan penuh.

Jadi itu alasan Sakura bersikap aneh kemarin. Dia… berbohong padaku.

Berbagai macam emosi berbaur dengan kecepatan mobil sport hitam itu dibawah deru hujan. Dan aku di sini mati-matian mencari pembenaran, bahwa sidik jari di mobil ayah bukanlah sidik jari Kizashi Haruno…bahwa orang tua Sakura bukan pembunuh orang tuaku…

Sasuke mengerem mendadak, menyadari lampu baru jadi merah. Ia mendapat teriakan dari supir truk di belakang mobilnya, sesuatu tentang 'orang kaya tak tahu aturan', tapi Sasuke mengabaikannya.

...apa aku membela orang yang salah?

Suara klakson truk menyadarkan Sasuke, segera ia menginjak pedal gas lagi. Sasuke baru saja akan membelok ke kanan saat melihat kerumunan di depan. Sesuatu memanggilnya untuk mendekat. Tanpa pikir panjang, Sasuke memutar setir ke kiri.

Tepat saat itu, sebuah Taxi menabraknya, menyeret mobil sport mewah itu sejauh belasan meter, menyisakan dencit ban dan rem yang memekakkan telinga.

-.-.-.-

Suigetsu baru saja mendapat telepon dari Karin, si rambut merah itu marah-marah karena ditinggal begitu saja oleh Sasuke. Karin mengatakan sesuatu tentang kartu AS nya berhasil… ah, Suigetsu tak pernah mendengarkan setiap patah kata. Mengenal Karin, 80% dari yang diucapkannya pasti dilebih-lebihkan.

Dan kini Suigetsu bingung, kenapa pula ia mau-maunya disuruh menjeput nona obsesif-kompulsif itu. Ah, jangankan itu. Ditanya kenapa Suigetsu mau melanjutkan kuliah saja dia tidak yakin bisa menjawabnya. Hei, setiap orang punya caranya masing-masing dalam menjalani hidup, kan?

Suigetsu memacu motornya lebih cepat karena hujan turun semakin deras. Bisa-bisa dia muncul seperti penyelam yang baru naik saking basah kuyupnya. Suigetsu berhenti mendadak melihat adanya antrean mobil di depan.

"Ada apa ini?" teriaknya para salah satu anak kecil pengojek payung.

"Kecelakaan! Mobil mahal ditabrak Taxi!"

"Sampai seramai ini?"

"Ada perempuan pingsan juga!" Suigetsu geleng-geleng kepala. Tapi ini satu-satunya jalan menuju gedung perkantoran Uchiha tempat Karin, mau tak mau Suigetsu harus melewatinya. Dengan lincah ia mengendarai motornya melewati mobil-mobil dengan supir yang berteriak marah jika bodi mobilnya tergores. Suigetsu hanya bisa menyeringai.

Dan begitu tiba di tempat kejadian, Suigetsu membeku. Mobil sport hitam itu benar-benar dikenalnya. Segera, ia memarkir motornya di pinggir jalan dan berlari ke rongsokan mobil itu. Kecelakaan baru saja terjadi. Orang-orang masih berdiri di pinggir, takut memindahkan apapun. Mungkin karena lambing yang ada di nomor polisi mobil itu. Lambang kecil yang jadi penanda klan bersimbol kipas.

Mobil tidak terbalik, dengan cepat Suigetsu menggulung jaketnya di kepalan tangan dan memecah kaca samping. Ditariknya pintu terbuka, dan Sasuke Uchiha tengah memegang keningnya yang berdarah.

"Sasuke!" Sasuke menoleh, darah segar membasahi wajah tampannya. "astaga, kau tak apa?" Sasuke menganggguk pelan, untung saja bantal safety dan safety belt berfungsi sebagaimana mestinya, kalau tidak pemuda itu pasti menabrak kaca.

Suigetsu membantu Sasuke keluar dari mobil yang separo ringsek. "Kau benar-benar tak apa?" Sasuke hanya mengangguk lagi.

"Sakura…" ujarnya pelan.

"Apa?" Sasuke menunduk, menarik pecahan kaca dari pahanya. Suigetsu ngeri melihatnya, tapi itu belum seberapa. Sasuke berjalan pelan-pelan menuju kerumunan lain, tak mempedulikan tatapan ngeri orang-orang di jalan.

Kerumunan kecil itu membuka dan Suigetsu bisa melihat rambut pirang dan pink yang dikenalnya. Oh astaga, sore ini benar-benar aneh, ujar Suigetsu dalam hati, tak habis pikir. Kadang, Suigetsu merasa bahkan alam semesta pun punya cara yang lucu dalam menyatukan Sasuke dan Sakura.

Sasuke berusaha menggendong Sakura sementara Ino berusaha mencari Taxi kosong. Suigetsu segera mendekati mereka.

"Aku saja yang menggendongnya. Kau baru… euh, menarik potongan kaca dari kakimu. Dan demi Kami-sama! Kau baru saja ditabrak, Sasuke!" Sasuke menggeleng, membiarkan kepala Sakura beristirahat di kemeja berdarah Sasuke. "kau berdarah,"

"Bukan darahku." Ujar Sasuke ketus. "buat dirimu lebih berguna."

"Makanya aku menawarkan-"

"Suigetsu." Suara Sasuke serak, Suigetsu harap dia tidak menelan potongan kaca juga. "aku berhutang banyak pada Sakura." Suigetsu mengerti, Sasuke tidak ingin dibantu siapapun dalam menolong gadisnya.

Taxi datang, Sasuke meletakkan Sakura di dalam bersama Ino. Sasuke menarik nafas panjang, mendekati Suigetsu. "Kau bisa menggantikanku membereskan kekacauan ini?"

Oke, bisakah sore ini jadi lebih ajaib?

-.-.-.-

Naruto baru berjalan-jalan keluar lagi dengan kruk dan gips saat melihat pemandangan tak biasa di front office. Seorang pria berlumuran darah menggendong seorang gadis berambut pink…

Baru saat seorang gadis berambut pirang bossy datang, pemandangan itu terlihat masuk akal. Naruto segera berlari dengan kruknya menuju kerumunan aneh itu.

"Teme? Sakura-chan? Astaga-" paramedis datang membawa Sakura dari pelukan Sasuke, dan pria itu bersandar ke meja untuk mempertahankan posisinya. Ino segera mengikuti kemana Sakura dibawa.

"Kau mau jelaskan sekarang atau nanti?" Naruto segera menginstruksi petugas lain untuk membawa kursi roda. Sahabatnya tampak siap jatuh kapan saja.

"Nanti," ujar Sasuke, nafasnya terengah. "…rasanya igaku patah sebagian."

"Kadang-kadang itu disebut patah hati, Sasuke." Ujar Naruto, mencoba mencairkan suasana. "kau berdarah…"

"Kau orang ketiga yang mengatakannya." Naruto mengiringi paramedic yang mendorong sahabatnya. Rasanya hari ini semua emosi, semua keajaiban dan keanehan tumpah ruah jadi satu.

"Sasuke…"

"Hn?" pintu ruang ICU sudah di depan mata. Begitu Sasuke masuk, dia akan menjalani operasi darurat dan Naruto tidak akan menemuinya sampai pria itu siap ditemui. Naruto menelan ludah, mungkin sudah saatnya…

"Itachi ada di sini. Di Konoha."

Naruto masih sempat melihat sorot mata kaget Sasuke memandangnya tak percaya sebelum pintu ruang ICU mengayun tertutup.

-.-.-.-

A/N : I'm officially medical student! Yeay!

Oke, di chap yang telat banget ini (dan kena writer block berbulan-bulan) saya coba bikin request yang minta Naruhina fluffiness. Karena saya lagi suka rumah sakit (dan lagi sering praktik di sana) jadi banyak chara yang saya masukin ke sana mwuahaha *evil laugh* #abaikan

Kita tiba di klimaks, dimana semua masalah overthrown jadi satu chapter di sini hohoho. Apa yang akan terjadi berikutnya? Tunggu chapter selanjutnya…

Kalian para pembaca baik, terimakasih untuk reviewnya!

Natsumo Kagerou : terimakasih banyak! Tampaknya di chap ini saya membuat mereka agak ooc… semoga saja tidak terlalu buruk

Just Me Nato : oke, point taken. Terimakasih sudah membaca dan mereview!

NE : gimana yaaa *sok misterius* hahaha udah tahu kan skrg isi amplopnya apa

My : masalah selera, memang tak bisa dipaksa. Terimakasih ya sudah membaca dan mereview!

Guest : sip sip, Aftermath sudah update tuh kemarin hehe

Miharu : yaaap, anda benaaar! Keren ih bisa nebak gitu hahaha. Iya, udah tua ya? ._.

Kyky : iyaap, tapi ospek univ beda sama ospek SMA haha di sini bukan dimarahin yang kerasa, tapi tugasnya itu ._. *palm face

BC : hihihi makasih banyaaak *peluk* tapi skrg teorinya ditipisin ya, udah mulai banyak textbook wajibnya hehe. Reviewnya keren!

nuri : hahaha iya, kira-kira begitulah. Pengen nge-share aja sih, 'sampaikanlah ilmu walau hanya satu kata.' Kebetulan saya punya sudut pandang terhadap dunia seperti d cerita ini, jdi pengen membagi dengan yang lain. Kan asik kalau bisa saling share haha

Sakunan desu : iya, itu kesalahan EYD *dan penulis tentu saja. Terimakasih yaa udah diingetin hehe

yuka-chan : halo yuka! Penelepon misterius… tunggu chapter selanjutnya hehe

ya-channs : terimakasih banyaaaak T_T *terharu

Sasusaku kira : iya, makasih banyak ya. Duh, dari sejak chap-chap awal review kamu itu bikin semangat. Penulis lain butuh lebih banyak pembaca sepertimu…

Bebeth : siaaaap!

Guest : siap, sudah update komandan!

ya-chan : terimakasih semangatnya! Ini sudah update hehe

PS : sudah tahu kampus salemba mau dipindah ke depok? Belum? Saya juga. *terus?

Salam sayang dari kampus biru di jogja, viva medika!

Signed,

Phylaphy